Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Leverage, Faktor Intern Dan Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan

					BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Struktur modal atau keputusan pendanaan akan sangat berpengaruh pada kinerja perusahaan. Keputusan apakah dana yang akan digunakan oleh perusahaan dengan hutang atau dengan penjualan saham akan sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan khususnya dalam rangka memaksimalkan kemakmuran atau kekayaan para pemegang saham atau pemilik yang akan tercermin melalui harga saham perusahaan. Dengan demikian perusahaan perlu mengusahakan suatu keseimbangan yang optimal dalam menggunakan kedua sumber tersebut sehingga dapat memaksimalkan nilai perusahaan. Perusahaan bertujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan pemilik melalui keputusan atau kebijakan investasi, keputusan pendanaan dan keputusan dividen yang tercermin dalam harga saham di pasar modal, demikian jika dilihat berdasarkan sudut pandang manajemen keuangan. Tujuan ini sering diterjemahkan sebagai suatu usaha untuk

memaksimumkan nilai perusahaan. Dalam mencapai tujuan tersebut, banyak shareholder yang menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada para profesional yang bertanggung jawab mengelola perusahaan, yang disebut manajer. Para manajer yang diangkat oleh shareholder diharapkan akan bertindak atas nama shareholder tersebut, yakni memaksimumkan nilai perusahaan sehingga kemakmuran shareholder akan dapat tercapai. 1

Para manajer dalam menjalankan operasi perusahaan, sering kali tindakannya bukan memaksimumkan shareholder, melainkan justru tergoda untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri. Kondisi ini akan mengakibatkan munculnya perbedaan kepentingan antara external shareholder dengan manajer. Konflik yang disebabkan oleh pemisahan antara kepemilikan dan fungsi pengelolaan dalam teori keuangan disebut konflik keagenaan atau Agency conflik. Peningkatan kepemilikan manajerial dapat digunakan sebagai cara untuk mengurangi konflik keagenan (Crutchley dan hansen: 1989, Jensen, Solberg dan Zorn: 1992). Perusahaan meningkatkan kepemilikan manajerial untuk mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang saham sehingga bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham. Dengan meningkatnya persentase kepemilikan, manajer termotivasi untuk meningkatkan kinerja dan bertanggung jawab meningkatkan kemakmuran pemegang saham. Pada kepemilikan yang menyebar, masalah keagenan terjadi antara pihak manajemen dengan pemegang saham. Hal ini menyebabkan kekuasaan pemegang saham dan menyerahkan kepada manajer. Sebagai konsekuensinya, manajer menuntut kompensasi yang tinggi sehingga meningkatkan biaya keagenan. Pada kondisi ini, konflik keagenan diatasi dengan meningkatkan kepemilikan manajerial.

Sebaliknya pada kepemilikan yang berkonsentrasi masalah keagenan disebabkan oleh hubungan antara pemegang saham dan kreditor. Masalah ini dijumpai pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. Pada kepemilikan 2

terpusat terdapat dua kelompok pemegang saham, yaitu controlling mayority stockholder dan minority stockholder. Manajer diangkat dan diberhentikan oleh controlling mayority stockholder sehingga

menunjukkan kinerja baik dihadapkan pemegang saham. Kondisi ini memperkecil biaya keagenan ekuitas tetapi menimbulkan biaya keagenan baru yaitu biaya keagenan hutang ( Husnan : 2000). Peningkatan dividen diharapkan dapat mengurangi biaya keagenan. Hal ini disebabkan dimana dividen yang besar menyebabkan rasio laba ditahan akan kecil sehingga perusahaan membutuhkan tambahan dana dari sumber eksternal, seperti emisi saham baru. Penambahan dana menyebabkan kinerja manajer dimonitor oleh bursa dan penyediaan dana baru. Pengawasan kinerja menyebabkan manajer bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham sehingga mengurangi biaya yang berkaitan dengan emisi saham baru (floating cost). (Crutchley dan Hansen : 1989). Perkembangan riset pasar modal telah memotivasi penulis untuk melakukan penelitian bidang keuangan. Beberapa penelitian tentang struktur modal terhadap nilai perusahaan telah banyak dilakukan oleh peneliti dan hasilnya saling kontradiksi. Jensen dan Meckling (1976) beragumentasi bahwa konflik keagenan terjadi karena adanya pemisahan kepemilikan penurunan dan nilai pengendalian. perusahaan. Konflik keagenan nilai menyebabkan akan

Penurunan

perusahaan

mempengaruhi kekayaan dari pemegang saham sehingga pemegang saham akan melakukan tindakan pengawasan terhadap perilaku manajemen. 3

Dalam teori keagenan dijelaskan bahwa kepentingan manajemen dan kepentingan pemegang saham mungkin bertentangan. Hal tersebut disebabkan manajer mengutamakan kepentingan pribadi, sebaliknya pemegang saham tidak menyukai kepentingan pribadi manajer tersebut, karena pengeluaran tersebut akan menambah kos perusahaan yang menyebabkan penurunan keuntungan perusahaan dan penurunan dividen yang akan diterima. Pemegang saham menginginkan agar kos tersebut dibiayai oleh utang, tetapi manajer tidak menyukai dengan alasan bahwa utang mengandung risiko yang tinggi. Perbedaan kepentingan itu menimbulkan konflik yaag biasa disebut konflik agensi. Konflik kepentingan dapat diminimumkan dengan suatu mekanisme pengawasan yang dapat mensejajarkan kepentingan-kepentingan yang terkait tersebut. Akibat dari munculnya mekanisme pengawasan tersebut menyebabkan timbulnya suatu kos yang disebut agency cost. Ada beberapa alternatif untuk mengurangi kos keagenan tersebut yaitu : pertama, dengan meningkatkan kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen (Jensen dan Meckling 1976). Analisisnya menyatakan bahwa proporsi kepemilikan saham dikontrol manajer dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan perusahaan. Selain itu kepemilikan manajerial akan mensejajarkan kepentingan manajemen dan pemegang saham, sehingga manajer akan merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil dengan benar dan akan merasakan kerugian sebagai konsekwensi dari pengambilan keputusan yang salah. Kedua, dengan meningkatkan dividen 4

payout ratio (Crutley dan Hansen, 1989; Easterbrook, 1989; Leland dan Pyle, 1977). Penelitian mereka menyatakan bahwa pembayaran dividen akan mempengaruhi kebijakan pendanaan, karena dengan pembayaran dividen akan mengurangi cash flow perusahaan akibatnya perusahaan dalam memenuhi kebutuhan operasinya akan mencari alternatif sumber pendanaan yang relevan, Ketiga, meningkatkan pendanaan dengan utang. Penurunan utang akan menurunkan besarnya konflik antara pemegang saham dengan manajemen. Disamping itu utang akan menurunkan exess cash flow yang ada dalam perusahaan, sehingga akan menurunkan kemungkinan pemborosan yang dilakukan oleh manajemen. Keempat, institusional investor sebagai pihak yang memonitor agen, Moh’d et al. (1998) menyatakan bahwa distribusi saham antara pemegang saham dari luar seperti institusional investor dapat mengurangi agency cost. Hal ini disebabkan karena kepemilikan mewakili sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap keberadaan manajemen. Jadi dengan adanya investor institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen. Ada dua pandangan yang terus diperdebatkan oleh ahli-ahli keuangan di dunia. Pandangan pertama dikenal dengan pandangan tradisional yang menyatakan bahwa struktur modal mempengaruhi nilai perusahaan. Pandangan tradisional diwakili oleh dua teori yaitu Trade off Theory dan Pecking Order Theory, Myers (1984). Pandangan kedua dikemukakan oleh Modigliani dan Miller yang menyatakan bahwa struktur 5

modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Myers dan Majluf (1984), menyatakan bahwa perusahaan cenderung mempergunakan internal equity terlebih dahulu, dan apabila memerlukan external financing, maka perusahaan akan mengeluarkan debt sebelum menggunakan external equity. Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada perusahaanperusahaan di Indonesia ditemukan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia cenderung mengikuti pecking order theory. Santoso (2001) telah menemukan bahwa pada umumnya para manajer perusahaan di Indonesia cenderung mengikuti hirarki pendanaan (pecking order theory). Struktur modal perusahaan diprediksi juga dipengaruhi oleh faktor ekstern dan faktor intern perusahaan. Struktur kepemilikan menjadi penting dalam teori keagenan karena sebagian besar argumentasi konflik keagenan disebabkan oleh adanya pemisahan kepemilikan dan pengelolaan. Konflik keagenan tidak terjadi pada perusahaan dengan kepemilikan seratus persen oleh manajemen (Jensen dan Meckling, 1976). Struktur kepemilikan saham diprediksi berpengaruh dalam penentuan struktur modal. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham perusahaan cenderung akan mengurangi utang. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham, maka akan terjadi pengawasan yang efektif terhadap manjemen. Manajemen akan semakin berhati-hati dalam melakukan peminjaman, sebab jumlah utang yang terlalu tinggi akan menimbulkan risiko financial distress sehingga nilai perusahaan akan menurun. Jumlah utang yang melewati titik optimalnya 6

akan membuat penghematan pajak dari penggunaan utang lebih rendah dari pada nilai sekarang dari financial distress dan agency cost (model trade off). Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham perusahaan juga diprediksi akan menigkatkan nilai perusahaan. Pentingnya penelitian ini dari jurnal sebelumnya penelitian ini menggunakan bantuan software Lisrel 8.54, sedangkan dalam jurnal sebelumnya menggunakan bantuan software Amos 4.0 dan juga dalam penelitian ini menambahkan dua variabel manifest yaitu DAR (Debt to Asset Ratio) dan PER (Price Earning Ratio). Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan dan evaluasi peneliti sebelumnya maka penulis tertarik mengadakan penelitian mengenai “Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Leverage, Faktor Intern Dan Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan”. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut peneliti mengidentifikasi sebagai berikut : 1. Pengaruh kepemilikan saham, faktor ekstern dan faktor intern terhadap leverage. 2. Pengaruh kepemilikan saham, faktor ekstern, faktor intern dan leverage terhadap nilai perusahaan.

7

C. Pembatasan Masalah Untuk membatasi masalah agar tidak terlalu meluas pembahasannya maka penulis membatasi masalah sebagai berikut : 1. Penelitian ini menggunakan variabel endogen dan eksogen. 2. Peneliti dilakukan pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI. Periode penelitian per 31 Desember 2003 sampai 31 Desember 2006. D. Perumusan Masalah 1. Apakah struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap leverage? 2. Apakah faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap leverage? 3. Apakah faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage? 4. Apakah struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan? 5. Apakah faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap nilai

perusahaan? 6. Apakah faktor intern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan? 7. Apakah leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan?

8

E. Tujuan Dan Manfaat Penelitian E.1 Tujuan Penelitian Tujuan utama dari studi ini adalah untuk menguji pengaruh struktur kepemilikan, leverage, faktor ekstern, dan faktor intern terhadap perusahaan di Bursa Efek Jakarta. 1 Untuk menganalisis pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap leverage. 2 3 4 Untuk menganalisis pengaruh faktor ekstern terhadap leverage. Untuk menganalisis pengaruh faktor intern terhadap leverage. Untuk menganalisis pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap nilai perusahaan. 5 6 7 Untuk menganalisis pengaruh faktor eksren terhadap nilai perusahaan. Untuk menganalisis pengaruh faktor intern terhadap nilai perusahaan. Untuk menganalisis pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan.

E.2 Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis Dapat menerapkan Ilmu Ekonomi, khususnya dlam Manajemen Keuangan dan Pasar Modal yang telah diperoleh selama masa perkuliahan. 2. Bagi Investor Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi untuk mengetahui keadaan keuangan perusahaan sehingga dapat

9

dimanfaatkan oleh para investor dalam pengambilan keputusan investor dari pasar modal. 3. Bagi Perusahaan Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan publik dalam hal pengambilan keputusan keuangannya terutama dalam menentukan berapa besar proporsi sumber pembiayaan struktur modalnya, dimana diharapkan dengan proporsi struktur modal tersebut perusahaan dapat meningkatkan harga sahamnya. 4. Bagi Akademisi Sebagai penambah kepustakaan dibidang keuangan dan pasar modal.

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Leverage (Struktur Modal) Struktur modal / capital structure : berkaitan dengan struktur

pembelanjaan permanen perusahaan yang terdiri dari hutang jangka panjang dan modal sendiri. Ahmad Rodoni dan Indo Yama Nasaruddin (2007). Struktur modal adalah perbandingan nilai hutang dengan nilai modal sendiri yang tercermin pada laporan keuangan akhir tahun. Struktur modal merupakan perimbangan antara utang dengan modal yang dimiliki perusahaan. Salah satu isi penting yang sering dihadapi oleh manajer suatu perusahaan adalah menentukan perimbangan yang tepat antara utang dengan modal. Terdapat tiga teori utama dalam menjelaskan tujuan perusahaan dalam memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham. Ketiga teori tersebut berusaha menjelaskan bagaimana struktur modal dapat memaksimumkan nilai perusahaan. Ketiga teori tersebut adalah : a) Teori Tradisional atau Teori Klasik Menyatakan bahwa struktur modal yang optimal yang dapat memaksimumkan nilai perusahaan adalah dengan cara

meminimumkan biaya modal rata-rata (average cost of capital). Salah satu versi teori ini dikembangkan oleh Ezra Solomon yang menyatakan bahwa struktur modal yang optimal terjadi apabila

11

terdapat kelebihan antara debt equity ratio dengan average cost of capital. b) Teori yang dikembangkan oleh Miller dan Modigliani Menyatakan bahwa pasar modal itu adalah sempurna dan tidak ada pajak. Mereka menyatakan nilai perusahaan tidak dipengaruhi oleh struktur modal. c) Teori yang juga dikembangkan oleh Miller dan Modigliani. Dengan memperhatikan tingkat pajak mereka menyatakan bahwa penggunaan utang dapat memaksimumkan nilai perusahaan dan kemakmuran pemegang saham. Weston (1963) dalam Napa (1999), menggunakan analisis regresi berganda untuk menguji leverage. Hasilnya mendukung teori leverage tradisional. Barger (1963) dalam Napa (1999) menggunakan fungsi kuadrat untuk mempelajari pengaruh perubahan leverage terhadap nilai pasar perusahaan .hasilnya mendukung teori tradisional Myers (1984) dalam

penelitiannya menemukan bahwa profitabilitas perusahaan mempunyai hubungan yang positif secara signifikan dengan utang perusahaan. Myers dalam Sutiati (2001) menunjukan bahwa perusahaan yang profitabilitas tinggi lebih dipercaya untuk memperoleh utang. Myers juga berpendapat bahwa apabila harga saham dipasaran terlalu mahal maka perusahaan harus menolak menerbitkan saham baru karena harga saham tersebut akan turun melalui proses penilaian.

12

1. Pengertian Struktur Modal Struktur modal merupakan komposisi pendanaan ekuitas (modal sendiri) dan utang pada suatu perusahaan (Wild et al., 2005). Struktur modal sering kali dihitung berdasarkan besaran relatif berbagai sumber pendanaan. Stabilitas keuangan perusahaan serta risiko gagal melunasi utang tergantung pada sumber pendanaan serta jenis dan jumlah berbagai aktiva yang dimiliki perusahaan. Struktur modal dapat diartikan sebagai paduan sumber dana jangka panjang yang digunakan oleh perusahaan (Keown et al., 2000). Sedangkan menurut Awat (1999) struktur modal adalah proporsi antara utang jangka panjang dan modal sendiri. Demikian pula menurut Riyanto (2001) bahwa struktur modal adalah perimbangan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal Menurut Riyanto (2001) besar kecilnya struktur modal yang digunakan perusahaan dipengaruhi oleh banyak faktor. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain: a) Tingkat bunga Tingkat bunga yang berlaku saat manajemen akan menentukan struktur modal akan mempengaruhi jenis modal apa yang akan digunakan, apakah menggunakan saham atau obligasi. Penggunaan obligasi hanya dibenarkan jika tingkat bunga obligasi lebih rendah daripada earning power dari tambahan modal tersebut.

13

b) Stabilitas earning Stabilitas dan besarnya earning yang diperoleh perusahaan akan menentukan apakah perusahan dibenarkan untuk menggunakan modal dengan beban tetap (utang) atau tidak. Jika perusahaan memiliki earning yang stabil maka perusahaan akan mampu memenuhi kewajiban finansialnya, sebaliknya perusahaan yang memiliki earning tidak stabil akan menghadapi risiko tidak dapat membayar beban bunga atau angsuran utangnya pada tahun-tahun atau kondisi yang buruk. c) Susunan aktiva Pada kebanyakan perusahaan industri atau manufaktur di mana sebagian besar dari modalnya tertanam dalam aktiva tetap, akan cenderung mengutamakan penggunaan modal sendiri sedang modal asing atau utang hanya sebagai pelengkap. Sedangkan perusahaan yang sebagian besar aktivanya terdiri atas aktiva lancar akan menggutamakan pemenuhan kebutuhan dananya dengan utang jangka pendek. d) Risiko aktiva Risiko yang melekat pada setiap aktiva perusahaan belum tentu sama. Semakin panjang jangka waktu penggunaannya maka risikonya semakin besar. Jika perusahaan memiliki aktiva yang peka terhadap risiko maka perusahaan harus memilih banyak menggunakan modal sendiri yang relatif tahan risiko, dan sedapat mungkin mengurangi penggunaan modal asing (utang) yang memiliki risiko lebih tinggi dibanding modal sendiri.

14

e) Jumlah modal yang dibutuhkan Jumlah modal yang dibutuhkan atau diperlukan dapat mempengaruhi struktur modal. Jika modal yang dibutuhkan sangat besar maka dirasakan perlu bagi perusahaan untuk menggunakan beberapa sekuritas secara bersamaan, misalnya mengeluarkan saham dan obligasi secara bersamaan. f) Keadaan pasar modal Kondisi pasar sering mengalami perubahan yang disebabkan oleh banyak faktor. Oleh karena itu, dalam rangka memperoleh dana melalui penjualan sekuritas perusahaan harus memperhatikan kondisi pasar modal. Ketika investor menyukai menanamkan dananya dalam pembelian saham, maka pada waktu itu perusahaan lebih baik melakukan penerbitan saham. g) Sifat manajemen Bagi manajemen yang optimis terhadap masa depan perusahaan, umumnya akan berani menangung risiko yang besar (risk seeker), sehingga akan lebih berani menggunakan utang untuk memenuhi kebutuhan dana perusahaan. Sebaliknya manajer yang bersifat pesimis dan tidak menyenangi risiko (risk averter) akan lebih suka menggunakan sumber dana intern untuk memenuhi kebutuhan dananya. h) Besarnya perusahaan Suatu perusahaan yang tergolong besar di mana sahamnya tersebar sangat luas, penambahan saham untuk memenuhi kebutuhan dana tidak banyak mempengaruhi kekuasan atau pengendalian pemegang saham mayoritas. Oleh karena itu, perusahaan besar umumnya lebih menyukai 15

melakukan penerbitan saham baru untuk memenuhi kebutuhan dananya. Sedangkan menurut Brigham dan Houston (2001) besarnya kecilnya struktur modal atau utang suatu perusahaan ditentukan oleh empat faktor berikut : a. Risiko bisnis Risiko bisnis atau tingkat risiko yang terkandung dalam operasi perusahaan apabila perusahaan tersebut menggunakan utang. Makin besar atau makin tinggi risiko perusahaan, maka perusahaan akan cenderung menggunakan utang yang rendah. b. Pajak perusahaan Alasan utama penggunaan utang oleh perusahaan adalah karena biaya bunga dapat dikurangkan dalam perhitungan pajak. c. Fleksibilitas keuangan Fleksibilitas keuangan atau kemampuan perusahaan untuk menambah modal dengan persyaratan yang wajar dalam keadaan yang memburuk. Ketersediaan modal yang cukup merupakan hal yang penting guna mendukung operasi perusahaan yang stabil serta menentukan keberhasilan perusahan dalam jangka panjang. Oleh karena itu dalam kondisi perekonomian yang sulit, atau apabila perusahaan mengalami kesulitan operasi maka kemungkinan perusahaan tersebut memperoleh pinjaman dari investor relatif kecil, sehingga kondisi tersebut akan mempengaruhi struktur modal atau utang perusahaan. 16

d. Agresivitas manajemen Pada perusahaan-perusahaan dengan manajer yang agresif pada umumnya lebih cenderung menggunakan utang untuk meningkatkan laba. 3. Utang 1) Pengertian utang Utang atau sering disebut dengan istilah kewajiban adalah "tuntutantuntutan dari pihak luar", yaitu kewajiban ekonomis yang harus dibayar kepada pihak luar. Pihak-pihak di luar perusahaan tersebut disebut kreditur (Horngren et al., 1997). Sedangkan menurut Munawir (2001), utang adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, di mana utang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditur. 2) Jenis utang Utang atau kewajiban perusahaan dapat dikelompokkan menjadi utang jangka pendek (utang lancar) dan utang jangka panjang. 2a) Utang jangka pendek atau utang lancar Utang jangka pendek atau utang lancar adalah utang perusahaan yang pelunasannya atau pembayarannya akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan (Munawir, 2001). Utang lancar tersebut meliputi beberapa utang sebagai berikut : (a) Utang dagang, yaitu utang yang timbul karena adanya pembelian 17

barang dagangan secara kredit. (b) Utang wesel, yaitu utang yang disertai dengan janji tertulis untuk melakukan pembayaran sejumlah tertentu pada waktu tertentu di masa yang akan datang. (c) Utang pajak, yaitu utang pajak yang belum disetorkan ke kas negara. (d) Biaya yang masih harus dibayar, yaitu biaya-biaya yang sudah terjadi tetapi belum dilakukan pembayarannya. (e) Utang jangka panjang yang segera jatuh tempo, yaitu sebagian (seluruh) utang jangka panjang yang sudah mejadi utang jangka pendek, karena harus segera dilakukan pembayarannya. (f) Penghasilan yang diterima di muka (deferred revenue), yaitu Penerimaan uang untuk penjualan barang/jasa yang belum di realisir. 2b) Utang jangka panjang Utang jangka panjang adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih jangka panjang (lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca) (Munawir, 2001). Utang jangka panjang tersebut meliputi: a. Utang obligasi b. Utang hipotik yaitu utang yang dijamin dengan aktiva tetap tertentu. c. Pinjaman jangka panjang yang lain. 18

4.

Modal Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik Perusahaan yang ditunjukkan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba yang ditahan. Atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap seluruh utang-utangnya (Munawir, 2001). Dalam praktek kadang-kadang nampak adanya suatu klasifikasi di dalam neraca yang pada umumnya membingungkan pembaca (sulit untuk ditafsirkan) dengan nama reserve (cadangan). Seharusnya cadangan ini diklasifikasikan sesuai dengan klasifikasi neraca yaitu aktiva, utang dan milik sendiri (modal) sehingga cadangan pada prinsipnya juga terdiri dari tiga golongan yaitu: (Munawir, 2001). 1. Cadangan sebagai pengurang aktiva (reserve that offseting assets). Misalnya cadangan penyusutan (reserve for depreciation), cadangan ini meupakan pengurangan terhadap aktiva yang disusut, sehingga dalam neraca nampak di sebelah debet mengurangi aktiva yang bersangkutan. Cadangan penyusutan itu akan lebih tepat bila diberi nama lain yaitu akumulasi penyusutan, atau akumulasi depresiasi (Munawir, 2001). 2. Cadangan sebagai utang (liability reserve), misalnya reserve for taxes (cadangan untuk pajak) merupakan suatu utang yang dicatat sebagai cadangan, ini tidak benar, seharusnya cadangan untuk pajak ini dimasukkan dalam utang lancar (current liability), yaitu Utang Pajak atau Taksiran Utang Pajak.

19

3. Cadangan yang merupakan surplus, yang betul-betul merupakan hak para pemilik perusahaan, misalnya cadangan untuk ekspansi adalah merupakan pemisahan sebagian dari laba yang ditahan (retained earning), dan dalam neraca masuk dalam klasifikasi modal (appropriated surplus). B. Nilai Perusahaan Nilai perusahaan adalah sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham (Bringham Gapensi, 1996). Semakin tinggi harga saham semakin tinggi nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukan kemakmuran pemegang saham juga tinggi. Kekayaan pemegang saham dan perusahaan dipresentasikan oleh harga pasar dari saham yang merupakan cerminan dari keputusan investasi, pendanaan (financing), dan manajemen asset. Menurut Fama (1978) dalam Untung wahyudi et.al , nilai perusahaan akan tercermin dari harga sahamnya. Harga pasar dari saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan dari nilai asset perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Adanya peluang investasi dapat memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga akan meningkatkan harga saham, dengan meningkatnya harga saham maka nilai perusahaan pun akan meningkat. 20

Indikator- indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan diantaranya adalah : 1. PER (Price Earning Ratio) PER yaitu rasio yang mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh para pemegang saham. ( Sutrisno, 2000 dalam Mohammad Usman,2001 dalam Malla Bahagia,2008). Rumus yang digunakan adalah :

Harga Pasar Saham PER= ------------------------------Laba per Lembar Saham Faktor-faktor yang mempengaruhi PER adalah :    Tingkat pertumbuhan laba Dividend Payout Ratio Tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemodal.

Menurut Basuku Yusuf, 2005 dalam Malla Bahagia, 2008, hubungan faktorfaktor tersebut terhadap PER dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Semakin tinggi Pertumbuhan laba semakin tinggi PER nya, dengan kata lain hubungan antara pertumbuhan laba dengan PER nya bersifat positif. Hal ini dikarenakan bahwa prospek perusahaan dimasa yang akan datang dilihat dari pertumbuhan laba, dengan laba perusahaan yang tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya yang dikeluarkan secara efisien. Laba bersih yang tinggi menunjukkan earning per share yang tinggi, yang berarti perusahaan mempunyai tingkat 21

profitabilitas yang baik, dengan tingkat profitabilitas yang tinggi dapat meningkatkan kepercayaan pemodal untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut sehingga saham-saham dari perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas dan pertumbuhan laba yang tinggi akan memiliki PER yang tinggi pula, karena saham-saham akan lebih diminati di bursa sehingga kecenderungan harganya meningkat lebih besar. 2. Semakin tinggi Dividend Payout Ratio (DPR), semakin tinggi PER nya. DPR memiliki hubungan positif dengan PER, dimana DPR menentukan besarnya dividen yang diterima oleh pemilik saham dan besarnya dividen ini secara positif dapat mempengaruhi harga saham terutama pada pasar modal didominasi yang mempunyai strategi mangejar dividen sebagai target utama, maka semakin tinggi dividen semakin tinggi PER. 3. Semakin tinggi required rate of return (r) semakin rendah PER, r merupakan tingkat keuntungan yang dianggap layak bagi investasi saham, atau disebut juga sebagai tingkat keuntungan yang disyaratkan. Jika keuntungan yang diperoleh dari investasi tersebut ternyata lebih kecil dari tingkat keuntungan yang disyaratkan, berarti hal ini menunjukkan investasi tersebut kurang menarik, sehingga dapat menyebabkan turunnya harga saham tersebut dan sebaliknya. Dengan begitu r memiliki hubungan yang negatif dengan PER, semakin tinggi tingkat keuntungan yang diisyaratkan semakin rendah nilai PER nya. PER adalah fungsi dari perubahan kemampuan laba yang diharapkan di masa yang akan datang. Semakin besar PER, maka semakin 22

besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan. 2. PBV (Price Book Value) Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh (Brigham, 1999: 92). Rumus yang digunakan adalah :

Harga Pasar per Lembar Saham PBV = --------------------------------------Nilai Buku per Lembar Saham

C. Struktur Kepemilikan Saham Struktur kepemilikan saham adalah proporsi kepemilikan institusional dan manjemen dalam kepemilikan saham perusahaan. 1. Kepemilikan Manajerial Shleifer dan Vishny (1986) dalam Theresia (2002) menemukan kepemilikan institusional secara positif terhadap kepemilikan manajerial. Kepemilikan institusional secara mayoritas akan mengurangi kemungkinan perusahaan untuk diakuisisi, sehingga meningkatkan keinginan manajer untuk memperbasar kepemilikan pada perusahaan. Namun sebaliknya, menurut Fitri dan Manduh (2003) semakin tinggi kepemilikan institusioanal maka akan semakin meningkatkan kepengawasan pihak eksternal terhadap perusahaan. 23

Proporsi hutang yang besar akan menempatkan manajer di bawah pengawasan debtholders dan manajer cenderung tidak menyukai pengawasan oleh debtholders tersebut, sehingga pengaruh kebijakan hutang terhadap kepemilikan manajerial adalah negatif. Kontras dengan pernyataan diatas, Fitri dan Mamduh (2003) menyatakan adanya pengaruh positif. Pernyataan ini berdasarkan pada asumsi bahwa penggunaan hutang akan mengurangi kebutuhan penerbitan saham baru sehingga meningkatkan proporsi

kepemilikan manajerial. Hubungan antara dividend dan kepemilikan manajerial dapat dijelaskan melalui free cash flow hypothesis (FCF) (Jensen, 1986). Melalui hipotesis ini kebijakan dividen digunakan untuk mempengaruhi kepemilikan manajerial sehingga mengurangi biaya keagenan yang berkaitan dengan FCF. Penelitian tersebut membuktikan bahwa terdapat hubungan subtitusi antara kebijakan dividend dan kepemilikan manajerial. 2. Kepemilikan Institusional Dengan tingginya kepemilikan manajerial, para investor institusional akan mendapatkan kesempatan kontrol perusahaan yang lebih sedikit. Ini berarti bahwa hubungan antara kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional adalah negatif. Hubungan ini sesuai dengan penelitian Fitri dan Mamduh (2003). Risiko mempunyai hubungan negatif dan signifikan terhadap

kepemilikan institusional. Tingginya risiko yang dihadapi perusahaan meningkatkan risiko kebangkrutan dan volatilitas dari pendapatan, hal ini 24

akan mengurangi minat institusi untuk melakukan investasi pada saham perusahaan itu karena institusi lebih mementingkan pada stabilitas pendapatan (Fitri dan Mamduh,2003). Menurut Crutchley et al (1999), pengaruh kebijakan hutang terhadap kepemilikan institusional adalah positif. Kebijakan hutang yang tinggi menyebabkan perusahaan dimonitor oleh pihak debtholders, karena monitoring dalam perusahaan yang ketat tadi menyebab manajer akan bertindak sesuai dengan kepentingan debtholders dan shareholders, sehingga kondisi ini akan menarik masuknya kepemilikan institusional. Kebijakan dividen mempunyai pengaruh positif terhadap kepemilikan institusional. Dari sudut pandang investor, investor institusional mungkin akan lebih tertarik untuk berinvestasi pada saham dengan dividen yang tinggi dan mekanisme yang ketat. Semakin banyak saham yang dimiliki manajer akan semakin menurunkan masalah keagenan sehingga membuat dividen tidak perlu dibayarkan pada risiko yang tinggi dalam hal ini berarti kepemilikan manajerial mempengaruhi kebijakan dividen secara negatif. Dengan jumlah investasi yang tinggi, investor institusional melakukan monitoring yang semakin ketat dan menghalangi perilaku oportunis manajer. Monitoring oleh investor institusional ini dapat mengurangi agency cost dalam hal ini yaitu biaya yang ditanggung pemilik untuk mengawasi agen seperti biaya audit, sehingga dividen yang dibayarkan juga menurun.

25

Kehadiran kepemilikan institusional memiliki efek subtitusi bagi pembayaran dividen untuk mengurangi biaya keagenan. Menurut Chen dan Steiner (1999), variabe risiko mempunyai hubungan negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Dengan tingginya risiko bisnis yang dihadapi perusahaan akan diantisipasi dengan kebijakan pembayaran dividen yang rendah. Dividen yang rendah dapat digunakan untuk menghindari pemotongan dividen dimasa mendatang sehingga penalokasian sebagian keuntungan pada laba ditahan dapat digunakan untuk investasi lebih lanjut. Malalui penjelasan balancing model of agency cost, Megginson (1997) dalam Mahadwarta (2002) menyatakan bahwa kebijakan hutang

mempengaruhi kebijakan dividen dengan hubungan yang negatif. Perusahaan dengan tingkat hutang yang tinggi akan berusaha untuk mengurangi agency cost of debt-nya dengan mengurangi hutang, sehingga untuk membiayai investasinya digunakan pendanaan dari aliran cost internal. Pemegang saham akan merelakan aliran kas internal yang sebelumnya dapat digunakan untuk pembayaran dividen untuk membiayai investasi

26

D. Faktor Ekstern Faktor ekstern merupakan pengelompokan dari variablel-variabel yang tidak dapat dikendalikan perusahaan. Variabel yang termasuk faktor ekstern adalah : 1. Tingkat suku bunga Pengertian operasional variabel tingkat suku bunga adalah tingkat bunga kredit investasi dan tingkat bunga kredit modal kerja Bank Umum rata-rata pertahun yang dibebankan kepada perusahaan atas penggunaan modal kerja dalam bentuk utang jangka pendek dan dana investasi dalam bentuk hutang jangka panjang pada akhir tahun. Suku bunga merupakan biaya modal bagi perusahaan suku bunga yang tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage akan menurun. 2. Keadaan Pasar Modal Keadaan pasar modal semakin bergairah akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun. Keadaan pasar modal merupakan besarnya nilai transaksi perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI. Variabel pasar modal diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di BEI pada akhir tahun.

27

3. Pertumbuhan Pasar Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada tahun t-1. Pertunbuhan pasar menunjukan kinerja perusahaan membaik sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahan akan meningkat. Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat.

E. Faktor Intern Faktor intern merupakan variabel-variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk variabel faktor intern adalah : 1. Profitabilitas Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dengan rasio laba operasi dengan penjualan dari data laporan labarugi akhir tahun. Rasio profitabilitas dapat diukur dari dua pendekatan yakni pendekatan penjualan dan pendekatan investasi (Horne 1992). Ukuran yang banyak digunakan adalah return on assets (ROA) dan return on equity (ROE). 28

Tingkat profitabilitas masa lalu di suatu perusahaan harus merupakan pene tu atau determinan penting atas struktur modal perusahaan yang bersangkutan dengan besarnya jumlah laba ditahan, suatu perusahaan mungkin cenderung memilih pendanaan dari sunber tersebut dari pada peminjaman. Hal ini sejalan dengan hipotesa pecking order theory yang digunakan oleh Myers, yang menyatakan bahwa cara-cara yang dipergunakan oleh perusahaan dalam

memperoleh dana adalah dengan urutan sebagai berikut : Pertama, dari laba di tahan. Kedua, dari pendanaan hutang dan Ketiga, dari ekuitas baru. Profitabilitas yang mempunyai pengaruh penting pada kebijakan dividen perusahaan. Perusahaan yang memiliki tingkat keuntungan yang tinggi cenderung akan membayarkan sebagai besar hasil keuntungan tersebut dalam bentuk dividen. Untuk menilai tingkat profit ini digunakan perhitungan tingkat rata-rata atas asset (ROA) (Hang and Rhee, 1990. Hal 2a). Dengan formula : Laba Bersih yg Tersedia bagi Pemegang Saham Biasa ROA = ------------------------------------------------------------------Rata-rata Total Aktiva sumber. Brigham Gapenski dan Daves (1999, hal. 77).

29

2. Pembayaran dividen 1.) Definisi kebijakan dividen Kebijakan dividen adalah kebijakan dalam menentukan pembagian laba antara pembayaran kepada pemegang saham dan investasi kembali ke perusahaan (Copeland, 1997 : 125). Kebijakan dividen mempengaruhi baik pembelajaan jangka panjang ataupun penghasilan yang dibagikan kepada pemegang saham, maka perusahaan memiliki dua kemungkinan sudut pandang untuk membayar dividen : a. Sebagai keputusan pembelanjaan jangka panjang dengan pendekatan ini, semua laba sesudah pajak yang diperoleh perusahaan dapat dipandang sebagai sumber dana jangka panjang. Suatu pengumpulan dividen kas mengurangi jumlah dana yang tersedia untuk membelanjai pertumbuhan, membatasi pertumbuhan, atau memaksa perusahaan memperoleh sumber dana yang lain. Perusahaan akan menahan pendapatanya, bila : a) tersedia proyek-proyek yang menguntungkan, b) struktur modal membutuhkan modal sendiri. b. Sebagai suatu keputusan kesejahteraan maksimum dengan pendekatan ini perusahaan mengakui bahwa pembayaran dividen mempunyai pengaruh terhadap harga pasar saham biasa. Perusahaan harus memaksimumkan rasa kesejahteraan dengan mendeklarasikan dividen yang cukup untuk memenuhi harapan investor dan pemegang saham. (Sarwoko, 1995 : 206) kebijakan dividen yang optimal adalah kebijakan yang menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini 30

dan pertumbuhan dimasa mendatang sehingga memaksimumkan harga saham (Brigham, 1994 : 198). 2.) Jenis-jenis dividen Jenis-jenis dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham adalah : a. Cash dividend, yaitu dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam bentuk tunai atau kas. b. Property dividend, dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam bentuk aktiva selain kas, misalnya mesin, inventory, dll. c. Script dividend, yaitu dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam dua kali pembayaran atau lebih karena perusahaan dalam kesulitan likuiditas. d. Liquidating dividend, yaitu dividen dibagikan dengan tidak

berdasarkan keuntungan yang diperoleh perusahaan tetapi merupakan pengurangan modal perusahan. Stock dividend, yaitu dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam bentuk sham. Hal ini dimaksudkan untuk mengkapitalisasi pendapatan perusahaan sehingga tidak ada aset yang diberikan. 3.) Jenis kebijakan dividen a. kebijakan dividen yang stabil jumlah dividen per lembar yang dibayarkan setiap tahunnya relatif tetap selama jangka waktu tertentu meskipun pendapatan per lembar saham pertahunnya berfluktuasi. 31

b. kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus jumlah ekstra tertentu. Kebijakan ini menetapkan jumlah rupiah minimal dividen per lembar saham tiap tahunnya. Dalam keadaan keuangan yang lebih baik perusahaan akan membayarkan dividen ekstra diatas jumlah minimal tersebut. c. kebijakan dividen dengan penetapan dividend payout ratio yang konstan. Kebijakan ini membayarkan dividen berdasarkan persentase tertentu dari laba. Ini berarti bahwa jumlah dividen per lembar saham yang dibayarkan setiap tahunnya akan berfluktuasi sesuai dengan

perkembangan keuntungan neto yang diperoleh setiap tahunnya. d. kebijakan dividen fleksibel. Pembayaran besarnya dividen setiap tahunnya disesuaikan dengan posisi financial dan kebijakan financial perusahan tersebut.

3. Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva. Ukuran perusahaan menunjukan aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan berarti semakin besar 32

aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk memperoleh hutang sehingga leverage akan meningkat. Sebuah perusahaan yang besar dan mampu mempertahankan keberadaannya dengan baik akan memiliki akses yang mudah pada pasar modal bila dibandingkan dengan perusahaan yang kecil. Karena aksebilitas yang mudah terhadap pasar modal berarti memiliki fleksibilitas yang besar dan kemampuan untuk mengumpulkan dana dalam waktu singkat, dengan demikian perusahaan besar biasanya mampu membayarkan rasio dividen yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan kecil.

F. Peneliti Sebelumnya

Peneliti sebelumnya telah dilakukan oleh Sujoko dan Ugy Soebiantoro (2007) yang menguji tentang pengaruh struktur kepemilikan, leverage, faktor ekstern dan faktor intern terhadap nilai perusahaan di Bursa Efek Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis apakah ada pengaruh struktur kepemilikan, faktor ekstern, dan faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage, dan untuk mengetahui serta menganalisis apakah ada strukrur kepemilikan, faktor ekstern,faktor intern dan leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahan. Populasi dalam studi ini adalah perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Sebanyak 134 perusahaan diambil sebagai sampel dengan menggunakan purposive sampling. Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini 33

adalah dengan menggunakan analisis Structural Equation Modeling. Hasil studi ini menunjukan bahwa struktur kepemilikan, faktor ekstern dan faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage. Struktur kepemilikan, faktor ekstern, faktor intern dan leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Studi ini menguji teori keagenan Jensen dan Meckling (1971). Pecking Order Theory Myers (1984), Trade Off Model dan Signaling Theory, Bhattacarya (1979).

Peneliti lainnya dilakukan oleh Siti Khodijah (2006) analisa faktorfaktor determinan struktur modal dan price earning ratio serta pengujian terhadap harga saham studi empiris perusahaan Jakarta Islamic Index dengan pendekatan Path Analysis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi struktur modal baik secara langsung dan tidak tidak langsung dalam hal struktur aktiva, operating leverage (DOL), total leverage (DCC), profitabilitas (ROI), penjualan (sales) dan tingkat pertumbuhan (grow rates), untuk menganalisa dari variabel-variabel tersebut. Variabel apa saja yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap struktur modal perusahaan,untuk memperoleh bukti empiris tentang faktorfaktor apa saja yang memperngaruhi price earning ratio (PER) , seperti total leverage (DCL), profitabilitas (ROI), penjualan (sales), dan tingkat pertumbuhan (grow rates), baik secara langsung dan tidak langsung, untuk menganalisa dari keempat variabel tersebut, variabel apa saja yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap price earning ratio (PER) dan untuk memperoleh bukti empiris tentang faktor apa saja dari kedua faktor, 34

yakni struktur modal dan price earning ratio (PER) yang mempengaruhi harga saham, serta mencari faktor apa yang dimiliki pengaruh paling dominan. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis Path Analysis. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahan-perusahaan yang terdaftar dalam JII di BEJ dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil studi ini menunjukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal adalah struktur aktiva dan profitabilitas yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap struktur modal ialah profitabilitasnya, total pengaruh dari total leverage dan penjualan maka total leverage mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap PER dan hasil penelitian selanjutnya yakni antara pengaruh struktur modal dan PER terhadap harga saham hasil menunjukan bahwa kedua variabel tersebut mempunyai pengaruh.

Peneliti lainnya dilakukan oleh Cyrillius Martono (2002). Analisa pengaruh profitabilitas industri, rasio leverage keuangan tertimbang dan itensitas modal tertimbang serta pangsa pasar terhadap ROA dan ROE perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia. Studi ini meneliti empat proksi rasio-rasio persaingan yang mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Proksi tersebut meliputi profitabilitas industry, rasio leverage keuangan tertimbang dan pangsa pasar. Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia sejak 19941997 dengan total sampel per tahun sebanyak 41 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan menggunakan pooling data. Uji t dan uji F digunakan untuk 35

menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa : pertama, tiga variabel, yaitu ROA industri, intensitas modal tertimbang, dan leverage keuangan tertimbang terbukti berpengaruh signifikan terhadap ROA perusahaan. Kedua, tiga variabel, yaitu ROE industri, leverage keuangan tertimbang, dan pangsa pasar terbukti berpengaruh signifikan terhadap ROE. Ketiga, berdasarkan nilai R2, hasil analisis regresi ROE. Keempat,

profitabilitas industri, terbukti superior dalam menjelaskan ROA, sedangkan variabel yang superior dalam menjelaskan ROE adalah rasio leverage keuangan tertimbang.

Peneliti lainnya dilakukan oleh Ardi Murdoko Sudarmadji dan Lana Sularto (2007). Pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, dan tipe kepemilikan perusahaan terhadap luas voluntary disclosure aporan keuangan tahunan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah variabel ukuran perusahaan, profitabilitas dan tipe kepemilikan perusahaan berpengaruh terhadap luas voluntary disclosure laporan tahuanan. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu terdiri dari 8 perusahaan yang bergerak dalam manufaktur. Pengolahan dan analisis data menggunakan regeresi linier berganda dengan bantuan program SPSS. Pengujian data digunakan untuk regresi linier berganda yaitu uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini didapat bahwa variabel ukuran perusahaan, profitabilitas dan tipe kepemilikan perusahaan tidak berpengaruh terhadap luas voluntary disclosure laporan tahunan.

36

Peneliti lainnya dilakukan oleh Etty M. Nasser dan Fielyandi F. (2006) meneliti tentang pengaruh kepemilikan institusional, ukuran perusahaan, profitabilitas, dan hutang sebagai variabel intervening terhadap nilai perusahaan. Pengujian hipotesis menggunakan path analysis (structural equation model) dengan bantuan software Amos 4.0. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada pengaruh ukuran perusahaan dan kepemilikan institusional terhadap kebijakan hutang dan menguji apakah ada pengaruh ukuran perusahaan, kepemilikan institusional, profitabilitas dan kebijakan hutang terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini didapat bahwa variabel ukuran perusahaan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kebijakan hutang. Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan hutang. Hasil analisa pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan ditemukan bahwa size mempunyai pengaruh yang positif signifikan terhadap nilai perusahaan, variabel profitabilitas juga memiliki pengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan.

37

G. Kerangka pemikiran Struktur kepemilikan secara teoritis mempunyai hubungan dengan leverage. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham maka pengawasan pemilik terhadap manjemen akan semakin efektif. Manajemen akan semakin berhati-hati dalam memperoleh pinjaman sebab jumlah utang yang semakin meningkat akan menimbulkan financial distress. Terjadinya financial distress akan mengakibatkan nilai perusahaan akan mengalami penurunan sehingga mengurangi kemakmuran pemilik. Suku bunga merupakan biaya modal bagi perusahaan suku bunga yang tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi dehingga perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage akan menurun. Keadaan pasar modal semakin bergairah akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun. Pertumbuhan pasar yang tinggi menunjukan peluang pasar yang bagus sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan peminjaman sehingga leverage akan meningkat. Profitabilitas yang meningkat akan meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Pembayaran dividen yang meningkat akan mengurangi laba yang ditahan sehingga sumber dana intern akan menurun dan perusahaan akan tertarik melakukan peminjaman dan leverage akan meningkat. Ukuran perusahaan menunjukan aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ukuran 38

perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk memperoleh hutang sehingga leverage akan meningkat. Kepemilikan institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman kepada manajemen sehingga manajemen terdorong untuk meningkatkan kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Kepemilikan manajerial akan mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja perusahaan, karena mereka juga memiliki perusahaan. Kinerja perusahaan yang meningkat akan meningkatkan nilai perusahaan. Suku bunga yang tinggi akan mengurangi minat investor untuk menginvestasikan dananya kepasar modal sehingga aktifitas perdagangan akan menurun dan nilai perusahaan akan menurun. Pertunbuhan pasar menunjukan kinerja perusahaan membaik sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahan akan meningkat. Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat. Singnally theory, Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa

profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Investor akan merespon positif sehingga perusahaan akan meningkat. Leverage yang 39

semakin tinggi menimbulkan financial distress sehingga nilai perusahaan akan menurun. Balancing theory (1976), Stigliz (1976) menyatakan bahwa ada keseimbangan antara manfaat dan pengorbanan dalam kaitannya dengan utang. Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian yang disesuaikan dengan konsep jalur, maka secara sistematis dapat dibuat kerangka pemikiran sebagai berikut :

e1 e2

X.1 1 X.2 1
Struktur Kepemilikan Saham (X 1)
J Cru e nsen 1 t ch , e ta iey , e t ll (19 all 92) (1 9 , (92) ) , ()

1
Struktur Modal (Leverage) (Y1) Y1.1 Y1.2

in Ste er

2 3) (-)nz (200 0 2 0 Sa a( & rm rig a da Su , Ittu 96 19

e9 e10

e3 e4 e5

X.1 2 X.2 2 X.3 2
Faktor Ekstern (X2)

(+ ) ) 3) 200 001) ( ri ( a st ati (2 Sul aw tn Ra

3

1) (+)

Su la

st r i

Jen Pe sen,S ck i ng olber Or g & 5 d er Z o Th rn (1 eo ry 992) (M (-) ye rs) (1

98 4)

) (+ )

(+)

(2 0 03

4

Trade off Theory (Rubenstein)(1973) Pecking Order Theory (Myers)(1984)(-) Steiner (2004)(+)

e6 e7 e8

X.1 3 X.2 3 X.3 3
Faktor Intern (X3)

S ig

in nal

) (+) 979 99) (1 (19 ry a ko ttacha jo S u Ba ry heo gT

6

(+ )

Nilai Perusahaan (Y2)

Y2.1 Y2.2

e11 e12

2

Keterangan : X1.1 X1.2 X2.1 X2.2 : Kepemilikan Manajerial : Kepemilikan Institusional : Tingkat Suku Bunga : Keadaaan Pasar Modal

40

X2.3 X3.1 X3.2 X3.3 Y1.1 Y1.2 Y2.1 Y2.2 β

: Pertumbuhan Pasar : Profitabilitas : Pembayaran Dividen : Ukuran Perusahaan : DER (Debt to Equity Ratio) : DAR (Debt to asset Ratio) : PER (Price Earning Ratio) : PBV (Price Book Value) : (beta) koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel endogen ke variabel endogen

γ

: (gama) koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel eksogen
ke variabel endogen

ε

: (error) error term yang berkaitan dengan latent variabel endogen

Bentuk persamaan struktural sebagai berikut : Y1 Y2 Y2 : γ1 X1 + γ3X2+ γ5 X3+ε1 : γ2 X1 + γ4X2+ γ6 X3+ε2 : βY1+ε2 Pada persamaan struktural pertama, X1 (Struktur Kepemilikan Saham), X2 ( Faktor Ekstern) dan X3 ( Faktor Intern) merupakan variabel eksogen, Y1 (Struktur Modal) sebagai variabel endogen, ε1 merupakan residual variabel yang berkaitan dengan variabel endogen, dan γ1,γ3,dan γ5 koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel eksogen ke variabel endogen. Pada persamaan 41

struktural kedua X1 (Struktur Kepemilikan Saham), X2 ( Faktor Ekstern) dan X3 ( Faktor Intern) merupakan variabel eksogen, Y2 ( Nilai Perusahaan) sebagai variabel endogen, ε2 merupakan residual variabel yang berkaitan dengan variabel endogen, dan γ2,γ4,dan γ6 koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel eksogen ke variable endogen. Pada persamaan struktural ketiga Y1 (Struktur Modal) dan Y2 (Nilai Perusahaan) sebagai variabel endogen, β (beta) yaitu koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel endogen (Y2)( Nilai Perusahaan) ke variabel endogen lainnya (Y1)(Nilai Perusahaan. Sedangkan ε2 merupakan residual variabel yang berkaitan dengan variabel endogen. Awal penelitian ini dilakukan dengan mengamati perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Bursa Efek Indonesia dan menyeleksi perusahanperusahaan yang secara terus menerus membagikan dividen masuk didalamnya selama empat periode yaitu tahun 2003 sampai dengan tahun 2006. Selanjutnya dari perusahaan tersebut peneliti mengambil data laporan keuangan akhir tahun per 31 Desember yang berupa modal saham (share capital), nilai perdagangan saham (value trade), total sales industry, ROA, DPR, total asset, DER, DAR, PER dan PBV. Data tersebut akan diolah untuk mendapatkan variabel-variabel yang diperlukan dalam penelitian. Dalam penelitian ini melibatkan variabel latent dan beberapa indikator sebagai variabel manifest. variabel latent yaitu variabel yang tidak bisa diukur secara langsung dan memerlukan beberapa indikator sebagai proksi dan variabel manifest adalah variabel yang secara langsung daoat diukur.

42

Variabel latent terdiri dari variabel endogen dan variabel eksogen. Variabel endogen dalam penelitian ini diantaranya adalah Struktur Modal (Leverage) (Y1), dan Nilai Perusahaan (Y2), dan variabel eksogennya diantaranya Struktur Kepemilikan Saham (X1), Faktor Ekstern (X2), Faktor Intern (X2). Setelah variabel manifest/indikator tersebut diperoleh maka dilakukan pengujian dengan menggunakan metode structural equation modeling (SEM), metode ini dibantu dengan menggunakan program Lisrel (Linear Structural Relationships) 8.54.

H. Rumusan Hipotesis Secara teoritis, pembiayaan perusahaan dihadapkan oleh berbagai macam pertimbangan. Salah satu teori yang mendasari keputusan pendanaan perusahaan adalah pecking order theory, Myers (1984) yang mengemukakan adanya kecenderungan perusahaan untuk menentukan pemilihan sumber pendanaan atas dasar hirarki risiko (pecking order theory). Pecking Order Theory adalah salah satu teori yang mendasarakan pada asimetri informasi. Asimetri informasi akan mempengaruhi struktur modal perusahaan dengan cara membatasi akses pada sumber pendanaan dari luar. Myers dan Majluf (1984) menunjukan bahwa dengan adanya asimetri informasi investor biasanya akan menginterpretasikan sebagai berita buruk apabila perusahaan mendanai investasinya dengan menerbitkan equitas. Dengan demikian, perusahaan akan lebih memilih mendanai investasinya berdasarkan urutan resiko. Bayless dan Diltz (1994) mengemukakan bahwa pecking order theory 43

cenderung akan memilih internal fund, riskless debt, risky debt dan equity. Myers dan Majluf (1984), dan Myers (1984) mengacu terhadap masalah ini sebagai hipotesis pecking order yang menyatakan bahwa perusahaan cenderung menggunakan internal equity terlebih dahulu, dan apabila memerlukan external finance, maka perusahaan akan mengeluarkan debt sebelum menggunakan external equity. Struktur kepemilikan secara teoritis mempunyai hubungan dengan leverage. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham maka pengawasan pemilik terhadap manjemen akan semakin efektif. Manajemen akan semakin berhati-hati dalam memperoleh pinjaman sebab jumlah utang yang semakin meningkat akan menimbulkan financial distress. Terjadinya financial distress akan mengakibatkan nilai perusahaan akan mengalami penurunan sehingga mengurangi kemakmuran pemilik. Suku bunga merupakan biaya modal bagi perusahaan suku bunga yang tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi dehingga perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage akan menurun. Keadaan pasar modal semakin bergairah akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun. Pertumbuhan pasar yang tinggi menunjukan peluang pasar yang bagus sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan peminjaman sehingga leverage akan meningkat. Profitabilitas yang meningkat akan meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan 44

untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Pembayaran dividen yang meningkat akan mengurangi laba yang ditahan sehingga sumber dana intern akan menurun dan perusahaan akan tertarik melakukan peminjaman dan leverage akan meningkat. Ukuran perusahaan menunjukan aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk memperoleh hutang sehingga leverage akan meningkat. Kepemilikan institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman kepada manajemen sehingga manajemen terdorong untuk meningkatkan kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Kepemilikan manajerial akan mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja perusahaan, karena mereka juga memiliki perusahaan. Kinerja perusahaan yang meningkat akan meningkatkan nilai perusahaan. Suku bunga yang tinggi akan mengurangi minat investor untuk menginvestasikan dananya kepasar modal sehingga aktifitas perdagangan akan menurun dan nilai perusahaan akan menurun. Pertunbuhan pasar menunjukan kinerja perusahaan membaik sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahan akan meningkat. Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat. Singnally theory, Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa

profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan 45

prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Investor akan merespon positif sehingga perusahaan akan meningkat. Leverage yang semakin tinggi menimbulkan financial distress sehingga nilai perusahaan akan menurun. Balancing theory (1976), Stigliz (1976) menyatakan bahwa ada keseimbangan antara manfaat dan pengorbanan dalam kaitannya dengan utang. Hipotesis penelitian H1= Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap leverage H2= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap leverage H3= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage H4= Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan H5= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan H6= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan H7= Leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

46

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2003 sampai dengan tahun 2006. Ditetapkan penelitian dimulai tahun 2003 karena pada tahun 2003 keadaan perekonomian mulai pulih kembali setelah terjadi krisis. Ditetapkan BEI sebagai tempat penelitian karena BEI penulis anggap sebagai tempat untuk memperoleh data yang diperlukan berupa laporan keuangan dan harga saham yang dijadikan sampel dalam penelitian ini. Adapun variabel yang diteliti adalah struktur kepemilikan saham, struktur modal (leverage), faktor ekstern, faktor intern, dan nilai perusahaan. B. Metode Penentuan Sampel 1. Populasi Penelitian ini mengambil populasi perusahaan-perusahaan go public yang terdaftar di BEI tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 melalui proses screaning. 2. Sampel Metode penentuan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu sampel yang memiliki kriteria sebagai berikut : a. b. Perusahaan tercatat di BEI tahun 2003 sampai dengan tahun 2006. Data laporan keuangan tersedia berturut-turut untuk laporan tahun 2003 sampai dengan tahun 2006. 47

c.

Perusahaan mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit dengan menggunakan tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember.

d.

Perusahaan harus membagikan dividen pada tahun 2003, 2004, 2005, dan 2006 secara terus menerus.

C. Metode Pengumpulan Data Untuk memperoleh hasil penelitian yang diharapkan, dibutuhkan data dan informasi yang mendukung penelitian ini. Data sekunder dan informasi yang dibutuhkan penulis diperoleh dari : a). Penelitian Laporan 1. Laporan keuangan 31 Desember 2003, 31 Desember 2004, 31 Desember 2005, 31 Desember 2006. 2. Harga saham akhir tahun pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2006. 3. Rata-rata tingkat suku bunga modal kerja akhir bulan dan ratarata tingkat suku bunga investor akhir bulan dari Bank Umum untuk tahun 2003 sampai dengan tahun 2006. b). Metode Kepustakaan Penelitian ini juga dilakukan melalui studi kepustakaan seperti jurnal, literature, buku, website dan lain-lain yang behubungan dengan penelitian ini.

48

D. Metode Analisis Rancangan penelitian yang dipilih berupa model persamaan struktural atau structural equation modeling (SEM) dan untuk pengujian hipotesis menggunakan path analysis. Path analysis digunakan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing variabel.  Identifikasi Variabel Terdapat dua variabel yaitu : a. Variabel Endogen Variabel endogen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel eksogen dan merupakan variabel antara. Ada dua variabel endogen dalam penelitian yaitu : Leverage (Y1) dan Nilai Perusahaan (Y2). b. Variabel Eksogen Variabel Eksogen adalah variabel yang diduga secara bebas berpengaruh terhadap variabel endogen yaitu : struktur kepemilikan saham (X1), factor ekstern (X2), dan faktor intern (X3). c. Variabel Manifest (variabel observed /indikator) Variabel Manifest (variabel observed /indikator) adalah variabel yang dapat diukur secara langsung. variabel manifest dalam penelitian ini meliputi struktur kepemilikan saham manajerial (X1.1), struktur kepemilikan institusional (X1.2), tingkat suku bunga (X2.1), keadaan pasar modal (X2.2), pertumbuhan pasar (X2.3), profitabilitas (X3.1), pembayaran dividen (X3.2), ukuran perusahaan (X3.3), debt to

49

equity ratio (DER) (Y1.1), debt to asset ratio (DAR) (Y1.2), price earning ratio (PER) (Y2.1), dan price book value (PBV) (Y2.2).  Structural Equation Modeling (SEM) Model persamaan struktural (structural equation modeling) adalah generasi kedua teknik analisis multivariate (Bagozzi dan Fornell 1982) yang memungkinkan peneliti untuk menguji hubungan antara variabel yang kompleks baik recursive maupun non recursive untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai keseluruhan model. Selain itu menurut Bollen (1989), SEM juga dapat menguji secara bersama-sama : 1. Model struktural. Yaitu hubungan antara variabel laten baik variabel laten endogen maupun eksogen. 2. Model measurement. Yaitu hubungan (nilai loading) antar indikator dengan variabel latennya. Dengan adanya pengujian model struktural dan pengukuran memungkinkan peneliti untuk menguji kesalahan pengukuran

(measurement error) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Structural Equation Modeling dan melakukan analisis faktor bersamaan dengan pengujian hipotesis. Proses Structural Equation Modeling mencakup beberapa langkah yang harus dilakukan antaranya adalah :

50

1 . Konseptualisasi Model Tahap ini berhubungan dengan pengembangan hipotesis

berdasarkan teori sebagai dasar dalam menghubungkan variabel laten dengan variabel laten lainnya, dan juga dengan indikator-indikatornya. Teori dalam konseptualisasi model bukan hanya berasal dari para akademisi, tetapi juga dapat berasal pengalaman dan praktek yang diperoleh dari para praktisi. Selain itu konseptualisasi model juga harus merefleksikan pengukuran variabel laten melalui berbagai indikator yang dapat diukur. 2. Penyusunan Diagram Jalur Tahap ini akan memudahkan kita dalam memvisualisasikan hipotesis yang telah diajukan dalam konseptualisasi model. Path diagram merupakan representasi grafis mengenai bagaimana beberapa variabel pada suatu model berhubungan satu sama lain, yang memberikan suatu pandangan menyeluruh mengenai struktur model 3. Spesifikasi Model Tahap ketiga ini memungkinkan kita untuk menggambarkan sifat dan jumlah parameter yang diestimasi 4. Identifikasi Model Informasi yang diperoleh dari data yang diuji untuk menentukan apakah cukup untuk mengestimasi parameter dalam model, disini kita dapat memperoleh nilai yang unik untuk seluruh parameter dari data yang telah kita peroleh. 51

Untuk menentukan apakah model kita mengandung atau tidak masalah identifikasi, maka harus dipenuhi keadaan berikut : t < s/2 dimana : t : jumlah parameter yang diestimasi s : jumlah varians dan kovarians antara variable manifest (observed/manifest) : yang merupakan (p+q) (p+q+1) p : jumlah variabel y (indikator variabel endogen) q : jumlah variabel x (indikator variabel eksogen) Jika t > 2, maka model tersebut adalah unidentified. Masalah ini dapat terjadi pada SEM, dimana informasi yang terdapat pada data empiris (varians dan kovarians variabel manifest) tidak cukup untuk menghasilkan solusi yang unik untuk memperoleh parameter model. Masalah unidentifest tersebut dapat diatasi dengan mengkonstraint model dengan cara menambah indikator (variabel manifest) ke dalam model, menentukan (fix) parameter tambahan menjadi 0 dan mengasumsikan bahwa parameter yang satu dengan parameter yang lain sama.

Jika t = s/2, maka model disebut just-identified, sehingga solusi yang unik, tunggal, dapat diestimasi untuk megestimasi parameter. Model yang just-identified, seluruh informasi yang tersedia telah digunakan untuk mengestimasi parameter, sehinggga tidak ada 52

informasi yang tersisa untuk menguji model ( derajat kepercayaan adalah 0). Jika t < s/2, maka model tersebut adalah over-identified. Dalam hal ini lebih dari satu estimasi masing-masing dapat diperoleh (karena jumlah persamaan yang tersedia melebihi jumlah parameter yang diestimasi). 5. Estimasi Parameter Tahap ini, kita melakukan pengujian signifikansi yaitu menentukan apakah parameter yang dihasilkan secara signifikan berbeda dari nol. Estimasi parameter dalam LISREL mempunyai tiga informasi yang berguna yaitu koefisien regresi standar error dan nilai t. Standar error yang digunakan untuk mengukur ketepatan dari setiap estimasi parameter. Untuk mengetahui signifikan tidaknya hubungan antara variabel laten maupun antara variabel laten dengan indikatornya, maka nilai t harus lebih besar dari nilai t-tabel pada level tertentu yang tergantung dari ukuran sampel dan level signifikan tersebut. 6. Penilaian Model Fit  Uji Keseluruhan Salah satu tujuan dari Structural Equation Modeling adalah menentukan apakah model plausible (masuk akal) atau fit. Suatu model penelitian dikatakan baik, apaabila memiliki model fit yang baik pula. Tingkat kesesuaian model secara keseluruhan terdiri dari:

53

 Absolute Fit Measures Absolut fit Measures digunakan untuk memiliki kesesuaian model secara keseluruhan (baik model pengukuran maupun model

struktural), tanpa menyesuaikan kepada degree of freedom-nya. Indikator-indikator dalam absolut fit Measures adalah sebagai berikut: a. Chi-Square dan Probabilitas Chi-square merupakan ukuran mengenai buruknya fit suatu model. Nilai Chi-square sebesar nol menunjukkan bahwa model memiliki fit yang sempurna (perfect fit). Nilai chi-square yang signifikan (kurang dari 0.05) menunjukkan bahwa data empiris yang diperoleh memiliki perbedaan dengan teori yang telah dibangun berdasarkan struktural equation modeling. Sedangkan probabilitas adalah untuk memperoleh penyimpangan (deviasi) besar yang ditunjukkan oleh chi-square. Nilai probabilitas yang tidak signifikan (p≥0) adalah yang diharapkan, yang menunjukkan bahwa data empiris sesuai dengan model. Nilai probabilitas chi-square memiliki permasalahan yang fundamental dalam validitasnya. Menurut Cochran (1952) dalam Imam Ghozali (2005) probabilitas ini sangat sensitif dimana ketidaksesuaian antara data dengan teori (model) sangat

dipengaruhi oleh besarnya ukuran sampel. Jika ukuran sampel kecil, maka chi-square ini akan menunjukkan data secara signifikan tidak berbeda dengan model dan teori-teori yang mendasarinya. 54

Sedangkan jika ukuran sampel adalah besar, maka uji chi-square akan menunjukkan bahwa data secara signifikan berbeda dengan teori, meskipun perbedaan tersebut adalah sangat kecil b. Goodness of Fit Indices (GFI) Goodness of Fit Indices (GFI) merupakan suatu ukuran mengenai ketepatan model dalam menghasilkan observed matriks kovarians. Nilai GFI ini harus berkisar antara 0 dan 1. Menurut Diamantopaulus dan Siguaw (2000) dalam Imam Ghozali (2005), nilai GFI yang lebih besar dari 0,9 menunjukkan fit suatu model yang baik. c. Adjusted Goodness of Fit Index Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI) adalah sama dengan GFI, tetapi telah menyesuaikan pengaruh degress of freedom pada suatu model. Model yang fit adalah yang memiliki nilai AGFI 0.9 (Diamantopaulus dan Sigauw (2000) dalam Imam Ghozali (2005),. Ukuran yang hampir sama dengan GFI dan AGFI adalah Parsimony goodness of fit indexs (PGFI) yang diperkenalkan oleh Mulaik et.al (1989), yang juga telah menyesuaikan adanya dampak dari degree of freedom dan kompleksitas model. Model yang baik apabila memiliki nilai PGFI jauh lebih besar daripada 0.6 (Byrne, 1998 dalam Imam Ghozali, 2005).

55

d.

Root Mean Square Errors of Approximation (RMSEA) Ukuran model fit telah lama diperkenalkan oleh Steiger dan

Lind pada tahun 1980. Nilai RMSEA yang kurang daripada 0.05 mengindikasikan adanya model fit, dan nilai RMSEA yang berkisar antara 0.08 menyatakan bahwa model memiliki perkiraan permasalahan yang reasonable (Byrne, 1998 dalam Imam Ghozali, 2005). Sedangkan menurut Maccallum et.al (1996) dalam Imam Ghozali (2005) menyatakan bahwa model memiliki nilai yang cukup fit jika RMSEA berkisar 0.08 sampai dengan 0.1 dan jika RMSEA lebih besar dari 0.1 mengindikasikan model memiliki nilai fit yang jelek. P-value for test of Close juga merupakan indikator yang menilai fit aatau tidaknya suatu model yang dapat dilihat dari kedekatannya terhadap model fit. Joreskog (1996) dalam Imam Ghozali (2005) menganjurkan bahwa P-value for test of Close (RMSEA < 0.05) haruslah lebih besar daripada 0.5 sehingga mengindikasikan bahwa model adalah fit. e. Normed Chi-Square (X2 /df) Normed Chi-Square (X2 /df) merupakan indikator goodness of fit adalah rasio perbandingan antara nilai chi-square dengan degrees of freedom. Menurut Wheaton (1977) dalam Imam Ghozali (2005) cut-off model fit sebesar 5 dan sedikit lebih tinggi daripada

56

yang dianjurkan oleh Carmines dan Melver (1981) dalam Imam Ghozali (2005) yaitu sebesar 2).  Comparative Fit Measures Comparative fit Measures berkaitan dengan pertanyaan seberapa baikkah kesesuaian model yang dibuat dibandingkan dengan beberapa model alternatif. Indikator-indikator dari

comparative fit Measures dianataranya adalah: a. Normed Fit Index (NFI) Normed Fit Index (NFI) yang ditemukan oleh Bentler dan Bonetts (1980), merupakan salah satu alternatif untuk menentukan model fit. Namun, karena NFI memiliki tendensi untuk merendahkan fit dalam sampel yang kecil, sehingga merevisi index ini dengan nama Comparative Fit Index (CFI). Nilai NFI dan CFI berkisar antara 0 dan 1. Tetapi suatu model dikatakan fit apabila memiliki nilai NFI dan CFI lebih besar dari 0.9 (Bentler,1992). b. Non-Normed Fit Index (NNFI) Non-Normed Fit Index (NNFI) digunakan untuk mengatasi permasalahan yang timbul akibat kompleksitas model. Menurut Kelloway (1998) dalam Didi Achjari (2003) dalam Malla Bahagia (2008) menyatakan bahwa model dikatakan fit jika nilai NNFI 0.90. c. Relative Fit Index (RFI)

57

Relative Fit Index (RFI) digunakan untuk mengukur fit dimana nilainya 0 sampai 1, nilai yang lebih besar menunjukkan adanya superior fit. Menurut Kelloway (1998) menyatakan bahwa model dikatakan fit jika nilai NNFI 0.90. d. Comparative Fit Index (CFI) Comparative Fit Index (CFI) suatu model dikatakan fit apabila memiliki Comparative Fit Index (CFI) lebih besar dari 0.90. (Bentler, 1992 dalam Imam Ghozali,205).  Parsimonius Fit Measures a. Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI) Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI) yang diperkenalkan oleh Mulaik et.al. (1998) dalam Imam Ghozali (2005). PGFI telah menyesuaikan adanya dampak dari degree of freedom dan kompleksitas model. Model yang baik apabila memiliki nilai PGFI jauh lebih besar daripada 0.6. (Byrne,1998 dalam Imam Ghozali, 2005). Lain halnya menurut Kelloway (1998) nilai PGFI berkisar antara 0-1, dimana lebih besar nilai tersebut lebih baik. b. Parsimony Normed Fit Index (PNFI) Menurut Kelloway (1998) nilai PNFI berkisar antara 0-1, dimana lebih besar nilai tersebut lebih baik.

58

Tabel 3.1 Standar Penilaian Kesesuaian (Fit )
Laporan Statistik Absolut Fit χ² Normed Chi-Square (χ²⁄df) p > 0.05 1<χ²⁄df<2 Nilai 2-3 →reasonable good fit Nilai < 1 →overfit RMR RMSEA < 0.05 < 0.05 0.05-0.08→reasonable fit GFI AGFI Comparative Fit NFI NNFI >0.95 >0.90 →reasonable fit >1 → lack of parsimony CFI RFI Parsimonious Fit PNFI PGFI AIC CAIC Nilai sekecil mungkin Nilai sekecil mungkin 0-1 (lebih besar lebih baik) 0-1 (lebih besar lebih baik) 0-1 (lebih besar lebih baik) 0-1 (lebih besar lebih baik) >0.95 >0.90 →reasonable fit 0.9 → good fit 0.9 → good fit 0.9 → good fit 0.9 → good fit > 0.95 > 0.90 →reasonable fit >0.95 >0.90 →reasonable fit >0.90→ good fit < 0.05 < 0.10 → good fit <0.05 → very good fit < 0.01 →outstanding fit >0.90→ good fit Tidak Signifikan 2<χ²⁄df<5 < 2 → over fitting Nilai Yang Direkomendasikan Holmes- Smith (2002) Kelloway (1998)

 Uji Individual Measurement Model Bila Kecocokan model secara keseluruhan telah terpenuhi, selanjutnya adalah memperhatikan kecocokan measurement model untuk setiap model. Bila model telah memenuhi criteria yang ditetapkan pada uji keseluruhan, maka langkah selanjutnya menguji 59

setiap construct secara terpisah , dengan Uji signifiakansi setiap indikator dengan uji – t, variabel indikator diaktakan signifikan apabila nilai t yang diperoleh minimal sebesar 1.96 untuk taraf α = 5%, dan 2.58 untuk taraf α = 1% .  Uji Individual Struktural Model Langkah selanjutnya adalah menguji structural model. Pada pengujian ini terdapat dual hal yang harus dilakukan , yaitu : a. Uji koefisien gamma dan beta Seperti halnya uji signifikansi untuk indikator, parameter Gamma atau Beta dikatakan diaktakan signifikan apabila nilai t yang diperoleh minimal sebesar 1.96 untuk taraf α = 5%, dan 2.58 untuk taraf α = 1% . b. Uji keseluruhan structural model Untuk menilai kebaikan dari keseluruhan structural model, perhatikanlah nilai Squared Multiple Correlation (R²). Semakin besar nilai tersebut semakin baik model yang dihasilkan. 7. Modifikai Model Modifikasi model dilakukan jika hasil yang diperoleh tidak fit. Model yang tidak fit dapat dilihat dari beberapa indikator goodness of fit yang tidak menunjukan batas dan syarat tertentu misalkan nilai p yang lebih kecil dari 0.05 sehingga menunjukkan model tidak fit padahal model dikatakan fit apabila memiliki p yang tidak signifikan (lebih besar dari 0.05). dalam Lisrel, terdapat modification index yang merupakan 60

salah satu alternatif terbaik untuk memodifikasi model. Namun harus diperhatikan juga bahwa segala modifikasi (walaupun sangat sedikit), harus berdasarkan teori yang mendukung. Beberapa modifikasi model dapat dilakukan dengan cara : 1. Mengkorelasikan antara dua indikator. 2. Menambah hubungan (path) antara indikator dan variabel laten. 3. Merubah indikator dari suatu variabel. Setelah melakukan modifikasi tersebut, maka yang seharusnya kita lakukan adalah mempertimbangkan dan mencari justifikasi teori yang kuat terhadap dilakukannya modifikasi tersebut. 8. Validasi Silang Model Validasi silang model merupakan tahap terakhir dari analisis SEM yaitu menguji fit tidaknya model terhadap suatu data baru (validasi subsampel yang diperoleh melalui pemecahan sampel). Validasi silang ini penting apabila terdapat modifikasi yang substansial yang dilakukan terhadap model asli yang dilakukan pada tahap sebelumnya.

 Uji Hipotesis Pengujian hipotesis pada SEM dimulai dengan penyusunan hipotesa berdasarkan kajian pustaka dan hasil penelitian terdahulu, sehingga dapat ditarik inferensi terhadap masalah penelitian dalam bentuk hipotesis alternatif sebgai jawaban sementara penelitian sebagai berikut :

61

H1= Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap leverage H2= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap leverage H3= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage H4=Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan H5= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan H6= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan H7= Leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

 Uji Signifikan Uji signifikan dapat dilakukan dengan cara melihat jalur-jalur pada model pengukuran dan model struktural yamg signifikan. Pada model pengukuran, jalur–jalur (pengaruh) yang dapat dilihat adalah pengaruh yang

menghubungkan antara variabel laten dan indikatornya, apakah mempunyai tingkat signifikan terhadap variabel latennya atau tidak. Uji signifikan pada model pengukuran bertujuan untuk menentukan kemampuan suatu indikator dalam mengukur variabel latennya. Pada model struktural pengaruh dapat dilihat dari pengaruh yang menghubungkan antara variabel eksogen dengan variabel endogen dan antara variabel endogen dengan variabel endogen. Untuk mengetahui jalur-jalur hubungan dapat dilihat uji koefisien secara parsial. Uji secara parsial terhadap koefisien path pada setiap jalur model pengukuran maupun struktural dapat ditunjukkan dari t-value (nilai t) sebagai berikut : 62

Jika t-hitung > t-tabel, maka terdapat koefisien jalur yang signifikan. Jika t-hitung < t-tabel, maka tidak terdapat koefisien jalur yang tidak signifikan.

E. Definisi Operasional Variabel 1. Variabel Endogen a. Leverage ( Struktur Modal ) Indikator-indikator adalah : 1. DER (Debt to Equity Ratio) DER yaitu rasio yang mencerminkan besarnya modal sendiri dijadikan jaminan utang, yang diukur dengan formulasi sebagai berikut : Hutang Jangka Panjang DER = --------------------------------------Modal Sendiri yang mempengaruhi leverage diantaranya

2.

DAR (Debt to Asset Ratio) DAR yaitu perbandingan antara utang jangka panjang dengan total aktiva. Hutang Jangka Panjang DAR = --------------------------------------Total Aktiva

b. Nilai Perusahaan Indikator-indikator diantaranya adalah : 63 yang mempengaruhi nilai perusahaan

1. PER (Price Earning Ratio) PER yaitu rasio yang mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh para pemegang saham. ( sutrisno,2000 dalam Mohammad Usman,2001 dalam Malla Bahagia,2008). Rumus yang digunakan adalah :

Harga Pasar Saham PER= ------------------------------Laba per Lembar Saham

2. PBV(Price Book Value) Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh (Brigham, 1999: 92).

Harga Pasar per Lembar Saham PBV = --------------------------------------Nilai Buku per Lembar Saham 2. Variabel Eksogen a. Struktur kepemilikan saham Struktur kepemilikan saham adalah proporsi kepemilikan institusional dan manjemen dalam kepemilikan saham perusahaan. 1) Kepemilikan Istitusional Kepemilikan Institusional merupakan proporsi kepemilikan saham oleh institusi dalam hal ini institusi pendiri perusahaan, bukan 64

institusi pemegang saham publik yang diukur dengan prosentase jumlah saham yang dimiliki oleh investor institusi intern. Pengukuran ini mengacu dari penelitian Sudarma (2003) dalam Sujoko (2007). Inst Shrs it --------------------------Total Shrs it

Institusional (X ) = Keterangan :

Inst Shrs it=Saham yang dimiliki oleh institusi pada perusahaan i periode t. Total Shrs it= Jumlah total saham beredar perusahaan I periode t

2) Kepemilikan Manjerial Kepemilikan Manajerial merupakan kepemilikan terbesar oleh manjemen perusahaan yang diukur dengan prosentase jumlah saham yang dimiliki manajemen. Pengukuran ini mengaju dari Sudarma (2003) dalam Sujoko (2007). D + C Shrs it ------------------------Total Shrs it

Managerial Ownership (X ) =

Keterangan : D & C Shrs it = Saham yang dimiliki perusahaan I pada periode t Total Shrs it = Jumlah total saham beredar perusahaan I pada periode t

65

b. Faktor Ekstern Faktor Ekstern merupakan pengelompokan dari variabel-variabel yang tidak dapat dikendalikan perusahaan. Variabel yang termasuk faktor ekstern adalah: 1) Tingkat Suku Bunga Pengertian operasional variabel tingkat suku bunga adalah tingkat bunga kredit investasi dan tingkat bunga kredit modal kerja Bank Umum rata-rata pertahun yang dibebankan kepada perusahaan atas penggunaan modal kerja dalam bentuk utang jangka pendek dan dana investasi dalam bentuk hutang jangka panjang pada akhir tahun. 2) Keadaan Pasar Modal Keadaan pasar modal merupakan besarnya nilai transaksi perdagangan di BEI pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI. Variabel pasar modal diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di BEI pada akhir tahun. 3) Pertumbuhan Pasar Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada tahun t-1. vol penj pada th t – volpenj pada th t-1 Pertum pasar = --------------------------------------volume penjualan pada tahun t-1 66

c.

Faktor Intern Faktor intern merupakan variabel-variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk variabel faktor intern adalah : 1) Profitabilitas Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dengan rasio laba operasi dengan penjualan dari data laporan labarugi akhir tahun. 2) Pembayaran Dividen Pembayaran dividen merupakan besarnya laba yang dibagikan kepada pemegang saham pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan besarnya laba yang akan ditanamkan pada laba ditahan akhir tahun. Variabel ini dinyatakan dengan rasio dividen perlembar saham dengan laba perlembar saham akhir rahun. Dividen per lembar saham DPR = ------------------------------------------Laba per lembar saham

3)

Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva. SIZE = Ln Total Assets it Keterangan : Total Assets it = Total assets yang dimiliki perusahaan i periode t 67

BAB IV PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian A.1 Pasar Modal Pasar modal adalah pasar yang memperjualbelikan instrument keuangan jangka panjang baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang dibentuk oleh pemerintah, public authorities maupun perusahaan swasta,artinya pasar modal bertindak sebagai penghubung antara para investor dengan perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan instrument keuangan jangka panjang seperti obligasi, saham dan lainnya. Selain itu pasar modal memiliki peran dan manfaat diantaranya : 1. Pasar modal merupakan wahana pengalokasian dana secara efisien. Artinya investor dapat melakukan investasi pada perusahaan melalui pembelian efek-efek baru yang ditawarkan/diperdagangkan pasar modal, dan sebaliknya perusahaan dapat memperoleh dana yang dibutuhkan dengan menawarkan instrument keuangan melalui pasar modal tersebut. 2. Pasar modal sebagai alternative investasi. Yaitu pasar modal memudahkan alternatif investasi untuk memperoleh keuntungan dengan risiko tertentu. 3. Memungkinkan para investor untuk memiliki perusahaan yang sehat dan berprospek baik.

68

Hal ini dikarenakan penyebaran kepemilikan secara luas (tidak hanya dimiliki oleh sejumlah orang tertentu saja) akan mendorong perkembambangan perusahaan menjadi transparan. 4. Pelaksanaan manejemen perusahaan secara profesional dan transfaran 5. Peningkatan aktivitas ekonomi nasional. Dengan keberadaan pasar modal perusahaan akan lebih mudah memperoleh dana sehingga akan mendorong perekonomian nasional menjadi lebih maju, terciptanya kesempatan kerja yang luas dan meningkatkan pendapatan pajak bagi pemerintah.

A.2 Organisasi Yang Terkait di Pasar Modal. 1. Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). BAPEPAM melakukan kewenangan untuk melakukan pembinaan, pengaturan, pengawasan pasar modal, di Indonesia dan keberadaan BAPEPAM dibawah Menteri Keuangan sekaligus bertanggung jawab kepadanya 2.Perusahaan (Emiten). Memperoleh dana di pasar modal dengan melaksanakan penawaran umum atau investasi langsung. 3.Self Regulatory Organization (SRO). SRO adalah organisasi yang mewakili kewenangan untuk membuat peraturan yang berhubungan dengan aktivitas usahanya. SRO terdiri dari :

69



Burasa Efek. Adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan system dan sarana mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek antara mereka.



Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP). Adalah pihak yang menyelenggarakan jasa kliring dan penjaminana trqansaksi bursa agar terlaksana secara teratur, wajar, dan efisien. Setiap trnasaksi akan melewati lembaga ini untuk diselesaikan transaksinya, apakah seorang pemodal akan bertambah jumlah saham yang dimilikinya karena menjual saham yang dimilikinya dan menerima pembayaran. Lembaga yang telah memperoleh izin usaha sebagai LKP oleh BAPEPAM adalah PT.KPEI (PT. Kliring Penjaminan Efek Indonesia).



Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaiana (LPP). Adalah pihak yang menyelenggarakan kegiatan custodian sentral (penyimpanan efek) bagi Bank custodian, perusahaan efek dan lainnya. Lembaga yang telah memperoleh izin usaha sebagai (LPP) oleh BAPEPAM adalah PT. KSEI (PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia).

4. Perusahaan Efek. Perusahaan efek adalah yang mempunyai aktivitas sebagai perantara pedagang efek yaitu bahwa perusahaan efek melakukan jual beli saham atas kepentingan pihak lain, atau dirinya sendiri, sebagai penjamin emisi efek yaitu menjamin agar penerbitan emisi sekuritas yang dilakukan oleh suatu perusahaan dapat terjual smua, dan sebagai manajer iivestasi 70

yaitu mengelola dana nasabah untuk diinvestasikan keberbagai sekuritas atau gabungan dari ketiga tersebut. 5. Penasehat Investasi Penasihat investasi yaitu pihak yang member nasihat kepada pihak lain mengenai penjualan dan pembelian efek.

A.3 Sejarah Pasar Modal di Indonesia Kegiatan jual beli saham dan obligasi sebenarnya telah dimulai pada abad XIX. Pada tanggal 14 Desember 1912, Amserdamse Effectenbueurs mendirikan cabang bursa di Batavia. Bursa ini merupakan bursa tertua keempat di Asia, setelah Bombay, Hongkong dan Tokyo. Bursa yang dinamakan Vereniging voor de Effectenhandel, memperjualbelikan saham dan obligasi perusahaan/perkebunan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah (propinsi dan kotapraja), sertifikat saham perusahaan-perusahaan Amerika yang diterbitkan oleh kantor administrasi di negeri Belanda serta efek perusahaan Belanda lainnya (Rusdin, Pasar Modal, Bandung; Alfabeta, 2006, hal 4). Minat masyarakat terhadap pasar modal mendorong didirikannya bursa di kota Surabaya (11 Juni 1925) dan Semarang (1 Agustus 1925). Perkembangan pasar modal pada saat itu, terlihat dari nilai efek yang mencapai NIF 1,4 milyar, pun demikian perkembangan pasar modal ini mengalami penyurutan akibat Perang Dunia II. Akibatnya, pemerintah Hindia Belanda mengambil kebijakan untuk memusatkan perdagangan efeknya di Batavia dan menutup bursa efek di 71

Semarang dan Surabaya. Pada tanggal 17 Mei 1940, secara keseluruhan kegiatan perdagangan efek ditutup. Di masa kemerdekaan, pada tahun 1950, pemerintah mengeluarkan obligasi Republik Indonesia, yang menandakan mulai aktifnya Pasar Modal Indonesia. Pada tanggal 31 Juni 1952, Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali. Penyelenggaraan tersebut kemudian diserahkan kepada Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek-efeknya (PPUE). Namun pada tahun 1958, terjadi kelesuan dan kemunduran perdagangan di Bursa, akibat konfrontasi pemerintah dengan Belanda. Pemerintah di masa Orde Baru, berusaha untuk mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap nilai mata uang Rupiah. Pemerintah melakukan persiapan khusus untuk membentuk pasar modal. Pada tahun 1976, pemerintah membentuk Bapepam (Badan Pembina Pasar Modal) dan PT Danareksa. Hal tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah untuk membentuk Pasar Uang dan Pasar Modal. Pada tanggal 10 Agustus 1977, berdasarkan Keppres RI No 52/ 1976, pasar modal diaktifkan kembali. Perkembangan pasar modal selama tahun 1977–1987, mengalami kelesuan. Pada tahun 1987-1988, pemerintah menerbitkan paket-paket deregulasi. Paket deregulasi ini adalah: Paket Desember 1987 (Pakdes 87), Paket Desember 1988 (Pakto 88), dan Paket Desember 1988 (Pakdes 88). Penerbitan paket deregulasi ini menandai liberalisasi ekonomi Indonesia. Dampak dari adanya ketiga kebijakan tersebut, pasar modal Indonesia menjadi aktif hingga sekarang.

72

Pakdes 1987 . Pakdes 1987 merupakan penyederhanaan persyaratan proses emisi saham dan obligasi, dihapuskannya biaya yang sebelumnya dipungut oleh Bapepam, seperti biaya pendaftaran emisi efek. Selain itu dibuka pula kesempatan bagi pemodal asing untuk membeli efek maksimal 49% dari total emisi. Pakdes 87 juga menghapus batasan fluktuasi harga saham di bursa efek dan memperkenalkan bursa paralel. Sebagai pilihan bagi emiten yang belum memenuhi syarat untuk memasuki bursa efek. Pakto 88 Pakto 88 ditujukan pada sektor perbankkan, namun mempunyai dampak terhadap perkembangan pasar modal. Pakto 88 berisikan tentang ketentuan 3 L (Legal, Lending, Limit), dan pengenaan pajak atas bunga deposito. Pengenaan pajak ini berdampak positif terhadap perkembangan pasar modal. Sebab dengan keluarnya kebijaksanaan ini berarti pemerintah memberi perlakuan yang sama antara sektor perbankan dan sektor pasar modal. Pakdes 88 Pakdes 88 pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih jauh pada pasar modal dengan membuka peluang bagi swasta untuk menyelenggarakan bursa.

73

A.4 Perkembangan Pasar Modal Minggu keempat Februari 2006, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) cenderung menurun. Indeks ditutup pada level 1.216,140 atau turun 27,335 poin (2,19%) dibandingkan akhir minggu sebelumnya yang mencapai level 1.243,475. Pada perdagangan saham hari pertama, indeks mengalami peningkatan sebesar 3,939 poin (0,32%) ke posisi 1.247,414. Peningkatan indeks ini antara lain didorong oleh adanya aksi beli para pemodal atas saham PT Semen Gresik. Hal ini juga dipengaruhi oleh adanya sentimen positif pasar atas pernyataan dari Bank Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi akan tumbuh secara cepat dalam semester pertama tahun 2006 ini, dan pertumbuhan PDB tahun 2006 diperkirakan akan mencapai antara 5% dan 5,7%. Pada perdagangan saham hari berikutnya indeks melemah 11,325 poin (0,91%) ke level 1.236,089. Para pemodal cenderung melakukan aksi jual atas saham-saham unggulan seperti saham PT. Astra Int, PT Bank BRI dan PT. Bank Mandiri berkenaan dengan kekhawatiran akan kembali naiknya tingkat suku bunga perbankan. Kondisi tersebut tidak terlepas dari rencana pemerintah yang akan menaikkan tariff dasar listrik yang akan berdampak pada naiknya tingkat inflasi. Aksi jual juga terjadi pada saham PT. Indosat dan PT. Telkom berkenaan dengan adanya laporan dari Morgan Stanley yang memberikan rekomendasi industri telekomunikasi di Indonesia dari “attractive” menjadi “cautious” seiring dengan semakin ketatnya persaingan di industri telekomunikasi. Penurunan indeks terus berlanjut pada pertengahan minggu, dimana indeks ditutup pada posisi 1.231,250 atau turun 4,839 poin (0,39%). Para pemodal 74

cenderung melakukan aksi jual atas saham-saham perbankan seiring dengan adanya pernyataan dari US Federal Reserve yang mengindikasikan akan melanjutkan menaikkan tingkat suku bunga. Tingginya tingkat suku bunga di Amerika Serikat akan mendorong Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga sebagai upaya mencegah penurunan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut masih berlanjut pada perdagangan saham hari Kamis, dimana indeks mengalami penurunan sebesar 7,086 poin (0,58%) menjadi 1.224,164. Pada akhir pekan indeks turun 8, 024 poin ke level 1.215,140 yang dipicu oleh aksi jual saham PNG yang dinilai harga sahamnya naik terlalu cepat, disamping adanya kekhawatiran investor terhadap laporan keuangan emiten tahun 2005 yang diprediksi belum menunjukan perbaikan, terutama emiten

perbankan. Nilai rata-rata perdagangan saham perhari di BEJ pada minggu ini Rp. 1.045,99 miliar, turun 23,64% dibandingkan minggu sebelumnya Rp. 1.369,78 miliar. Sementara itu, proporsi perdagangan lebih didominasi oleh pemodal domestik yang mencapai 73, 60% dibandingkan dengan pemodal asing 26,40% dari total perdagangan saham. Pemodal asing lebih banyak melakukan penjualan, terlihat dari total posisi jual yang lebih besar daripada posisi belinya sehingga terjadi aliran dana keluar sekitar Rp. 311.812 miliar. (Sumber:Bapepam).

75

B.

Deskriptif Analisis

B.1 Deskripsi Data Sampel Berdasarkan pengambilan sampel secara Purposive Sampling maka dapat diperoleh sebagai berikut :  Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (Bursa Efek Indonesia) dan mengeluarkan laporan keuangan per 31 desember pada tahun 2003-2006 berjumlah 389 perusahaan.  Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (Bursa Efek Indonesia) listing sebelum tahun 2003 berjumlah 318 perusahaan.  Perusahaan yang membagikan dividen secara terus-menerus selama tahun 2003-2006 berjumlah 58 perusahaan.  Perusahaan yang tidak memiliki struktur kepemilikan baik kepemilikan manajerial maupun kepemilikan institusional berjumlah 40 perusahaan. Dari keterangan-keterangan tersebut, maka dapat diperoleh sampel penelitian yaitu 24 perusahaan dengan nama perusahaan sebagai berikut :

76

Tabel 4.1 Sampel Data Penelitian No Nama Perusahaan 1 AKR Corporatian Tbk. 2 Asuransi Bintang Tbk. 3 Asuransi International Tbk. 4 Astra Graphia Tbk. 5 Astra Otoparts Tbk. 6 Berlian Laju Tanker Tbk. 7 Bank UOB Buana Tbk. 8 Ekhadarma International Tbk. 9 Gudang Garam Tbk. 10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 11 Indorama Sythentic Tbk. 12 Indosat Tbk. 13 Intel Nickel Indonesia Tbk. 14 Kimia Farma Tbk. 15 Lautan Luas Tbk. 16 Panin Sekuritas Tbk. 17 Ramayana Lestari Tbk. 18 Rig Tenders Tbk. 19 Selamat Sempurna Tbk. 20 Sorini Corporation Tbk. 21 Sepatu Bata Tbk. 22 Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk. 23 Tempo Scan Pasific Tbk. 24 Tunas Baru Lampung Tbk. Sumber : Bursa Efek Indonesia

B.2 Deskripsi Analisis Data Perolehan data-data dari variabel observed/indicator yang diteliti, diantaranya adalah : a. Struktur Kepemilikan Saham Struktur kepemilikan saham (X1) merupakan distribusi saham antara pihak manjemen perusahaan (manajer dan staf) (X1.1), dan kepemilikan institusional (X1.2). Manajer Ownership (X1.1) menggambarkan 77

kepemilikan saham oleh manajemen perusahaan yang diukur dengan persentase jumlah saham yang dimiliki manajemen. Rasio ini digunakan untuk mengetahui proporsi kepemilikan saham oleh manajer terhadap total saham beredar. Institusioanl Ownership (X1.2) menggambarkan

kepemilikan saham oleh investor institusi yang diukur dengan persentase jumlah saham yang dimiliki investor institusi, adapun rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang diteliti dapat dilihat dari table yaitu sebagai berikut :

78

Tabel 4.2 Struktur Kepemilikan Saham (X1).
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama Perusahaan 2003 AKR Corporatian Tbk. Asuransi Bintang Tbk. Asuransi International Tbk. Astra Graphia Tbk. Astra Otoparts Tbk. Berlian Laju Tanker Tbk. Bank UOB Buana Tbk. Ekhadarma International Tbk. Gudang Garam Tbk. Hexindo Adiperkasa Tbk. Indorama Sythentic Tbk. Indosat Tbk. Intel Nickel Indonesia Tbk. Kimia Farma Tbk. Lautan Luas Tbk. Panin Sekuritas Tbk. Ramayana Lestari Tbk. Rig Tenders Tbk. Selamat Sempurna Tbk. Sorini Corporation Tbk. Sepatu Bata Tbk. Tambang Batu Bara Bukit Tbk Tempo Scan Pasific Tbk. Tunas Baru Lampung Tbk. Rata-rata per tahun 0,0048 0,0448 0,0009 0,0001 0,0001 0,0006 0,0066 0,0505 0,0174 0,0021 0,1318 0,0002 0,0122 0,0097 0,0364 0,0400 0,0371 0,0011 0,0448 0,0005 0,0011 0,0122 0,0006 0,0010 0,0190 Mjr. Own 2004 0,0014 0,0717 0,0009 0,0001 0,0004 0,0006 0,0065 0,0549 0,0174 0,0021 0,1318 0,0002 0,0004 0,0097 0,0364 0,0400 0,0371 0,0011 0,0649 0,0005 0,0001 0,0125 0,0010 0,0010 0,0205 2005 0,0014 0,0800 0,0044 0,0001 0,0009 0,0006 0,0061 0,0638 0,0206 0,0508 0,1318 0,0002 0,0004 0,0040 0,0364 0,0400 0,0370 0,0011 0,0666 0,0005 0,0001 0,0070 0,0011 0,0010 0,0232 2006 0,0014 0,0950 0,0002 0,0001 0,0005 0,0006 0,0061 0,0588 0,0206 0,0001 0,1937 0,0003 0,0004 0,0039 0,0364 0,0400 0,0368 0,0011 0,0822 0,0005 0,0001 0,0035 0,0010 0,0010 0,0243 2003 0,7335 0,6146 0,4755 0,7695 0,8731 0,6325 0,6814 0,7282 0,7212 0,7624 0,4516 0,5694 0,7882 0,9003 0,6303 0,3344 0,6407 0,7746 0,6802 0,6462 0,8420 0,8374 0,7656 0,8269 0,6950 Inst. Own 2004 0,7124 0,8128 0,4755 0,7687 0,8504 0,5228 0,7185 0,7282 0,7212 0,8131 0,4516 0,5577 0,8207 0,9003 0,6303 0,3344 0,6407 0,7747 0,6802 0,6462 0,7880 0,7019 0,6628 0,7820 0,6873 2005 0,7124 0,8613 0,5011 0,7687 0,8672 0,4541 0,8785 0,7326 0,7212 0,1721 0,4516 0,5504 0,8207 0,9003 0,6303 0,3344 0,6378 0,9685 0,6802 0,6462 0,8410 0,6502 0,6633 0,7820 0,6761 2006 0,7124 0,8648 0,5011 0,7687 0,8672 0,4542 0,8788 0,7437 0,7212 0,7621 0,5379 0,5510 0,8207 0,9003 0,6818 0,3344 0,5755 0,9684 0,6136 0,6462 0,8390 0,6502 0,1413 0,5957 0,6721

Sumber : Laporan Keuangan Tiap Perusahaan BEI

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hampir sebagian besar perusahaan memiliki nilai struktur kepemilikan institusional dari tahun ketahun selama periode 2003-2006 yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai struktur kepemilikan saham manajerial.

79

Rata-rata struktur kepemilikan saham manajerial pada tabel tersebut menunjukan jumlah kecil yaitu sekitar 0.0190 (1.90%) pada tahun 2003, 0.0205 (2.05%) pada tahun 2004, 0.0232 (2.32%) pada tahun 2005, dan 0.0243 (2.43%) pada tahun 2006, dimana struktur kepemilikan saham manajerial tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indorama Synthetic Tbk. yaitu sebesar 0.1937 (19.37%) dan 0.0950 (9.50%) oleh perusahaan Asuransi Bintang Tbk. Tetapi tidak hanya pada tahun 2006, perusahaan Indorama Synthetic Tbk. dan Perusahaan Asuransi Bintang Tbk. mempunyai struktur saham manajerial yang sama besar pada tahun 2003, 2004, dan 2005 yaitu 0.1318 (13.18%) yang dimiliki perusahaan IndoramaSynthetic Tbk. dan 0.08 (8%) yang dimiliki oleh perusahaan Asuransi Bintang Tbk. Sementara itu perusahaan yang memiliki struktur kepemilikan saham manajerial terendah pada tahun 2003 adalah perusahaan astra Graphia Tbk. dan Astra Otoparts Tbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%). Selanjutnya tahun 2004 struktur kepemilikan saham manajerial terendah dimiliki oleh perusahaan Astra graphia Tbk. dan Sepatu BataTbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%). Selanjutnya tahun 2005 yang memiliki struktur kepemilikan saham manajerial terendah adalah perusahaan Astra Graphia Tbk. dan Sepatu Bata Tbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%), dan tahun 2006 yang memiliki struktur kepemilikan saham manajerial terendah adalah perusahaan Perusahaaan Astra Graphia Tbk., perusahaan Hexindo Adiperkasa Tbk., dan perusahaan Sepatu bata Tbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%). Rata-rata struktur kepemilikan saham Institusional pada tabel tersebut menunjukan jumlah yang besar yaitu sekitar 0.6950 (69.5%) pada tahun 2003, 80

0.6873 (68.73%) pada tahun 2004, 0.6761 (67.61%) pada tahun 2005, dan 0.6721 (67.21%) pada tahun 2006. Dimana struktur kepemilikan saham institusi tertinggi dmiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk. yaitu sebesar 0.9685 (96,85%) pada tahun 2005, dan perusahaan Kimia Farma Tbk. yaitu sebesar 0.9003 (90.03%). Sementara itu perusahaan yang memiliki struktur kepemilikan saham institusional terendah pada tahun 2003, 2004, dan 2005 adalah perusahaan panin Sekuritas Tbk. yaitu sebesar 0.3344 (33.44%), selanjutnya pada tahun 2006 struktur kepemilikan saham institusional terendah dimiliki oleh perusahaan Tempo Scan Pasific Tbk. yaitu sebesar 0.1413 (14.13%). Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar (bahkan seluruh) perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia periode 20032006 mempunyai jumlah kepemilikan saham manajerial yang kecil atau kurang dari 5%, ini menunjukan bahwa dengan kepemilikan manajerial yang rendah, kekuasaan yang dimiliki oleh pihak manajemen atas perusahaan yang semakin rendah. Hal ini juga menyebabkan segala tindakan dan keputusan yang dilakukan oleh manajer diawasi oleh pihak institusi. Dengan kepemilikan saham Institusioanal yang besar akan menimbulkan usaha pengawasan dan kontrol yang lebih besar oleh pihak investor Institusi terhadap opportunistic manajer sehingga pemanfaatan akan aktiva perusahaan semakin besar.

81

b. Faktor Ekstern Faktor ekstern (X2), yaitu merupakan pengelompokan dari variabelvariabel yang tidak dapat dikendalikan perusahaan. Variabel yang termasuk dalam faktor ekstern adalah tingkat suku bunga, keadaan pasar modal, dan pertumbuhan pasar. 1) Tingkat Suku Bunga (X2.1) Pengertian operasional variabel tingkat suku bunga adalah tingkat bunga kredit investasi dan tingkat bunga kredit modal kerja Bank Umum rata-rata pertahun yang dibebankan kepada perusahaan atas penggunaan modal kerja dalam bentuk utang jangka pendek dan dana investasi dalam bentuk hutang jangka panjang pada akhir tahun. 2) Keadaan Pasar Modal (X2.2) Keadaan pasar modal merupakan besarnya nilai transaksi perdagangan di BEI pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI. Variabel pasar modal diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di BEI pada akhir tahun. 3) Pertumbuhan Pasar (X2.3) Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada tahun t-1.

82

Adapun rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang diteliti dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut : Tabel 4.3 Faktor Ekstern (X2).
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama Perusahaan 2003 AKR Corporatian Tbk. Asuransi Bintang Tbk. Asuransi International Tbk. Astra Graphia Tbk. Astra Otoparts Tbk. Berlian Laju Tanker Tbk. Bank UOB Buana Tbk. Ekhadarma International Tbk. Gudang Garam Tbk. Hexindo Adiperkasa Tbk. Indorama Sythentic Tbk. Indosat Tbk. Intel Nickel Indonesia Tbk. Kimia Farma Tbk. Lautan Luas Tbk. Panin Sekuritas Tbk. Ramayana Lestari Tbk. Rig Tenders Tbk. Selamat Sempurna Tbk. Sorini Corporation Tbk. Sepatu Bata Tbk. Tambang Batu Bara Bukit Tbk Tempo Scan Pasific Tbk. Tunas Baru Lampung Tbk. Rata-rata per tahun 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 0,1699 Tingkat Suku Bunga 2004 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 0,1440 2005 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 0,1413 2006 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585 0,1585

Sumber : Data diolah Dari tabel 4.3 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata tingkat suku bunga per tahun yaitu pada tahun 2003 tingkat suku bunga sebesar 0.1699 (16.99%), pada tahun 2004 sebesar 0.1440 (14.4%), pada tahun 2005

83

sebesar 0.1413 (14.13%), dan pada tahun 2006 sebesar 0.1585 (15.85%). Dimana tingkat suku bunga tertinggi yaitu pada tahun 2003 sebesar 0.1699 (16.99%), dan tingkat suku bunga terendah yaitu pada tahun 2005 sebesar 0.1413 (14.13%). Semakin tinggi suku bunga berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutunya leverage akan menurun, dan sebaliknya semakin rendah suku bunga berarti biaya penggunaan dana semakin rendah sehingga perusahaan melakukan peminjaman yang tinggi dan selanjutunya leverage akan meningkat. Semakin tinggi suku bunga akan mengurangi minat investor untuk menginvestasikan dananya ke pasar modal sehingga aktivitas perdagangan akan menurun dan nilai perusahaan akan menurun, begitu juga sebaliknya semakin rendah suku bunga akan menambah minat investor untuk menginvestasikan dananya ke pasar modal sehingga aktivitas perdagangan akan meningkat dan nilai perusahaan akan meningkat. Selanjutnya adalah tabel 4.4 keadaan pasar modal (X2.2) yang merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X2) yang merupakan besarnya nilai transaksi perdagangan di Bursa Efek Indonesia , yang diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun 2003-2006.

84

Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.4 Faktor Ekstern (X2).
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama Perusahaan 2003 AKR Corporatian Tbk. Asuransi Bintang Tbk. Asuransi International Tbk. Astra Graphia Tbk. Astra Otoparts Tbk. Berlian Laju Tanker Tbk. Bank UOB Buana Tbk. Ekhadarma International Tbk. Gudang Garam Tbk. Hexindo Adiperkasa Tbk. Indorama Sythentic Tbk. Indosat Tbk. Intel Nickel Indonesia Tbk. Kimia Farma Tbk. Lautan Luas Tbk. Panin Sekuritas Tbk. Ramayana Lestari Tbk. Rig Tenders Tbk. Selamat Sempurna Tbk. Sorini Corporation Tbk. Sepatu Bata Tbk. Tambang Batu Bara Bukit Tbk Tempo Scan Pasific Tbk. Tunas Baru Lampung Tbk. Rata-rata per tahun 1,0986 1,7579 9,3304 6,0210 5,8230 5,3279 4,7791 1,6094 1,6094 3,2581 5,1475 8,7407 5,8861 5,4337 4,6444 3,0910 7,0842 4,2767 3,8501 1,7918 2,8285 4,1109 6,3509 4,1109 4,4984 Value Trade 2004 5,1417 2,3514 9,7491 5,3660 6,4968 6,9147 7,0792 2,5649 2,5649 5,7683 5,3033 9,3927 7,8002 4,9488 5,0814 2,1972 7,2392 3,4340 1,9459 3,8501 2,2439 4,9345 6,5425 4,9345 5,1602 2005 6,1356 0,6931 9,9166 6,2005 5,6312 8,4451 7,8120 1,6094 1,6094 5,0626 4,4659 9,6366 7,8364 4,7362 6,3613 2,0794 7,2004 6,2558 1,9459 2,8904 2,1211 4,3438 5,6168 4,3438 5,1229 2006 6,6606 0,1823 10,1628 5,5053 5,1874 9,6346 3,8286 0,6931 0,6931 5,3799 3,2958 9,9426 8,4002 4,2195 4,4998 2,4849 7,5501 0,6931 1,3863 1,9459 2,5321 6,4135 7,3415 6,4135 4,7936

Sumber : Data diolah Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata per tahun keadaan pasar modal yang diukur dari besarnya nilai transaksi perdagangan di BEI pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI. Variabel pasar modal 85

diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di BEI pada akhir tahun, pada tahun 2003 sebesar 4.4984, pada tahun 2004 rata-rata per tahun sebesar 5.1602, pada tahun 2005 rata-rata per tahun sebesar 5.1229, dan pada tahun 2006 rata-rata per tahun 4.7936. Dimana rata-rata pertahun tertinggi yaitu pada tahun 2004 sebesar 5.1602, dan rata-rata pertahun terendah yaitu pada tahun 2003 sebesar 4.4984. Semakin tinggi keadaan pasar modal akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun Selanjutnya adalah table 4.5 Pertumbuhan pasar (X2.3) yang merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X2), Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada tahun t-1.

86

Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut : Tabel 4.5 Faktor Ekstern (X2).
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama Perusahaan 2003 AKR Corporatian Tbk. Asuransi Bintang Tbk. Asuransi International Tbk. Astra Graphia Tbk. Astra Otoparts Tbk. Berlian Laju Tanker Tbk. Bank UOB Buana Tbk. Ekhadarma International Tbk. Gudang Garam Tbk. Hexindo Adiperkasa Tbk. Indorama Sythentic Tbk. Indosat Tbk. Intel Nickel Indonesia Tbk. Kimia Farma Tbk. Lautan Luas Tbk. Panin Sekuritas Tbk. Ramayana Lestari Tbk. Rig Tenders Tbk. Selamat Sempurna Tbk. Sorini Corporation Tbk. Sepatu Bata Tbk. Tambang Batu Bara Bukit Tbk Tempo Scan Pasific Tbk. Tunas Baru Lampung Tbk. Rata-rata per tahun 10,5443 11,1794 10,8190 10,5443 10,8190 10,3866 11,1794 10,9804 10,9804 10,5443 10,8190 10,3866 9,4212 10,7649 10,5443 11,1794 10,5443 10,3866 10,8190 10,9804 10,8190 10,7649 10,5443 10,7649 10,6965 Pertumbuhan Pasar 2004 10,7099 11,2488 11,0566 10,7099 11,0566 10,6470 11,2488 10,8946 10,8946 10,7099 11,0566 10,6470 10,0330 11,2274 10,7099 11,2488 10,7099 10,6470 11,0566 10,8946 11,0566 11,2274 10,7099 11,2274 10,9012 2005 11,0115 11,1087 11,3526 11,0115 11,3526 10,9090 11,1087 11,0418 11,0418 11,0115 11,3526 10,9090 10,3686 11,3093 11,0115 11,1087 11,0115 10,9090 11,3526 11,0418 11,3526 11,3093 11,0115 11,3093 11,0961 2006 11,1590 11,6630 11,2377 11,1590 11,2377 11,0771 11,6630 11,0747 11,0747 11,1590 11,2377 11,0771 10,4873 11,4582 11,1590 11,6630 11,1590 11,0771 11,2377 11,0747 11,2377 11,4582 11,1590 11,4582 11,2270

Sumber : Data diolah Dari tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan pasar tertinggi pada tahun 2006 sebesar 11.2270 dan rata-rata pertumbuhan pasar terendah adalah pada tahun 2003 yaitu sebesar 10.6965, dimana pertumbuhan pasar yang tinggi menunjukan peluang 87

pasar bagus sehingga akan mendorong perusahaan untuk melakukan pinjaman sehingga leverage akan meningkat, pertumbuhan pasar

menunjukan kinerja perusahaan menbaiksehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat.

c. Faktor Intern Faktor intern (X3) merupakan variabel-variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk variabel faktor intern adalah : a. Profitabilitas (X3.1) Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dengan rasio laba operasi dengan penjualan dari data laporan labarugi akhir tahun. b. Pembayaran Dividen (X3.2) Pembayaran dividen merupakan besarnya laba yang dibagikan kepada pemegang saham pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan besarnya laba yang akan ditanamkan pada laba ditahan akhir tahun. Variabel ini dinyatakan dengan rasio dividen perlembar saham dengan laba perlembar saham akhir rahun. c. Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva. 88

SIZE = Ln Total Assets it. Adapun rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang diteliti dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut : Tabel Faktor Intern 4.6
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama Perusahaan 2003 AKR Corporatian Tbk. Asuransi Bintang Tbk. Asuransi International Tbk. Astra Graphia Tbk. Astra Otoparts Tbk. Berlian Laju Tanker Tbk. Bank UOB Buana Tbk. Ekhadarma International Tbk. Gudang Garam Tbk. Hexindo Adiperkasa Tbk. Indorama Sythentic Tbk. Indosat Tbk. Intel Nickel Indonesia Tbk. Kimia Farma Tbk. Lautan Luas Tbk. Panin Sekuritas Tbk. Ramayana Lestari Tbk. Rig Tenders Tbk. Selamat Sempurna Tbk. Sorini Corporation Tbk. Sepatu Bata Tbk. Tambang Batu Bara Bukit Tbk Tempo Scan Pasific Tbk. Tunas Baru Lampung Tbk. Rata-rata per tahun 0,0880 0,0304 0,2569 0,0367 0,1512 0,0513 0,0223 0,0887 0,1516 0,1075 0,0132 0,0600 0,1151 0,0560 0,0195 0,0693 0,1603 0,0697 0,1299 0,0952 0,2339 0,1553 0,2236 0,0407 0,1011 ROA(Return On Asset) 2004 0,0975 0,0198 0,2046 0,1040 0,1351 0,0568 0,0255 0,0989 0,1248 0,2077 0,0130 0,0855 0,2522 0,1053 0,0604 0,0859 0,1618 0,1034 0,1506 0,1172 0,2019 0,2419 0,2035 0,0217 0,1200 2005 0,0925 0,0127 0,1746 0,1054 0,1416 0,0826 0,0308 0,0862 0,1225 0,1325 0,0050 0,0718 0,2341 0,0700 0,0518 0,0696 0,1677 0,0896 0,1539 0,0999 0,1258 0,2300 0,1726 0,0128 0,1057 2006 0,0796 0,0031 0,1014 0,1395 0,1278 0,1479 0,0348 0,0862 0,0738 0,0481 0,0049 0,0591 0,3509 0,0536 0,0344 0,0834 0,1584 0,0242 0,1470 0,0694 0,1194 0,2153 0,1475 0,0386 0,0978

Sumber : data diolah Dari tabel 4.6 tersebut dapat kita lihat bahwa rata-rata pertahun ROA pada tahun 2003 sebesar 0.1011 (10.11%), pada tahun 2004 sebesar 0.1200 (12%), pada tahun 2005 0.1057 (10.57%), dan pada tahun 2006 89

sebesar 0.0978 (9.78%). Dimana rata-rata pertahun tertingggi yaitu pada tahun 2004 sebesar 0.1200 (12%),dan rata-rata pertahun terendah yaitu pada tahun 2006 sebesar 0.0978 (9.78%). Pada tahun 2003 ROA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Asuransi Internasional Tbk. yaitu sebesar 0.2569 (25.69%), untuk tahun 2004, 2005, dan 2006 ROA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Intel Nickel Indonesia Tbk. yaitu masing-masing sebesar 0.2522 (25.22%) untuk tahun 2004, 0.2341 (23.41%) untuk tahun 2005, dan 0.3509 (35.09%) untuk tahun 2006. Pada tahun 2003, 2004, dan 2005 ROA terendah dimiliki perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.0132 (1.32%) untuk tahun 2003, 0.0130 (1.3%) untuk tahun 2004, dan 0.0050 (0.5%) untuk tahun 2005. Pada tahun 2006 ROA terendah dimiliki oleh perusahaan Asuransi Bintang Tbk. yaitu sebesar 0.0031 (0.31%). Profitabilitas yang meningkat akan meningkatkan laba ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan pinjaman dan leverage akan menurun. Probabilitas yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat. Selanjutnya adalah tabel 4.7 dividen payout ratio (X3.2) yang merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X3). Pembayaran dividen merupakan besarnya laba yang dibagikan kepada pemegang saham pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan besarnya laba yang akan ditanamkan pada laba ditahan akhir tahun.

90

Variabel ini dinyatakan dengan rasio dividen perlembar saham dengan laba perlembar saham akhir tahun. Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut : Tabel 4.7 Faktor Intern (X3)
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama Perusahaan AKR Corporatian Tbk. Asuransi Bintang Tbk. Asuransi International Tbk. Astra Graphia Tbk. Astra Otoparts Tbk. Berlian Laju Tanker Tbk. Bank UOB Buana Tbk. Ekhadarma International Tbk. Gudang Garam Tbk. Hexindo Adiperkasa Tbk. Indorama Sythentic Tbk. Indosat Tbk. Intel Nickel Indonesia Tbk. Kimia Farma Tbk. Lautan Luas Tbk. Panin Sekuritas Tbk. Ramayana Lestari Tbk. Rig Tenders Tbk. Selamat Sempurna Tbk. Sorini Corporation Tbk. Sepatu Bata Tbk. Tambang Batu Bara Bukit Tbk Tempo Scan Pasific Tbk. Tunas Baru Lampung Tbk. Rata-rata per tahun DPR(Dividen Payout Ratio) 2003 0,1931 0,4083 0,0051 0,7550 0,1830 0,2080 0,3649 0,1030 0,3139 0,3556 0,2561 0,0953 0,3576 0,4000 0,2040 0,1856 0,5553 1,0504 0,9490 0,1361 0,5427 0,5032 0,5578 0,3194 0,3751 2004 0,3279 0,8328 0,0050 2,8179 0,2065 0,1278 0,3001 0,5001 0,5374 0,3951 0,2560 0,4991 0,4123 0,2982 0,2554 0,1469 0,1347 0,5286 0,4527 0,2052 0,5561 0,4742 0,5548 0,2945 0,4633 2005 0,3139 0,5022 0,0048 0,9349 0,2764 0,1289 0,3002 0,5391 0,5091 0,3952 0,4810 0,4926 0,3725 0,3000 0,2529 0,1713 0,5117 0,6755 0,8638 0,3035 0,5182 0,5009 0,4548 0,2025 0,4169 2006 0,3167 0,6760 0,0054 1,1651 0,2051 0,1380 0,3000 0,2910 0,4773 0,3622 0,5068 0,5000 1,0231 0,2992 0,2103 0,1729 0,4950 0,7866 3,2163 0,3887 0,4997 0,5000 0,0413 0,2981 0,5365

Sumber : data diolah Pada tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa rata-rata rasio pembayaran dividen yang dilakukan perusahaan pada tahun 2003 sebesar 91

0.3751 (37.51%), pada tahun 2004 sebesar 0.4633 (46.33%), pada tahun 2005 sebesar 0.4169 (41.69%), dan pada tahun 2006 sebesar 0.5365 (53.65%). Rata-rata rasio pembayaran dividen tertinggi pada tahun 2006 sebesar 0.5365 (53.65%), dan rata-rata rasio pembayaran dividen terendah pada tahun 2003 sebesar 0.3751 (37.51%). Pada tahun 2003 rasio pembayaran dividen (dividen payout ratio) tertinggi dimiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk. yaitu sebesar 1.0504 (105.04%), untuk tahun 2004 DPR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra Graphia Tbk. yaitu sebesar 2.8179 (281.79%), untuk tahun 2005 DPR tertinggi

dimiliki oleg perusahaan Astra Graphia Tbk. yaitu sebesar 0.9349 (93.49%), dan DPR tertinggi untuk tahun 2006 dimiliki oleh perusahaan Selamat Sempurna Tbk. yaitu sebesar 3.2163 (321.63%). Ini dapat dibuktikan bahwa hampir atau lebih dari 100% keuntungan yang diperoleh perusahaan dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen, sementara itu DPR terendah yang dibayarkan perusahaan kepada pemegang saham adalah Asuransi Internasional Tbk. pada tahun 2003 yaitu sebesar 0.0051 (0.51%), tahun 2004 sebesar 0.0050 (0.5%), tahun 2005 sebesar 0.0048 (0.48%), dan pada tahun 2006 sebesar 0.0054 (0.54%). Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaanperusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia selama 2003 sampai dengan 2006 memiliki rata-rata DPR yang cukup tinggi sekitar (44.7%). Ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari keuntungan yang diperoleh 92

perusahaan digunakan untuk membayar dividen kepada pemegang saham dan sisanya akan diinvestasikan kembali kedalam perusahaan dalam bentuk laba ditahan. Peningkatan pembayaran dividen akan mengurangi laba yang ditahan sehingga sumber dana intern akan menurun dan

perusahaan akan tertarik untuk melakukan pinjaman sehingga leverage akan meningkat, dan pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukkan prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan meningkat. Selanjutnya adalah tabel 4.8 ukuran perusahaan (X3.3) yang merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X3). Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva.

93

Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut : Tabel 4.8 Faktor Intern (X3).
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama Perusahaan 2003 AKR Corporatian Tbk. Asuransi Bintang Tbk. Asuransi International Tbk. Astra Graphia Tbk. Astra Otoparts Tbk. Berlian Laju Tanker Tbk. Bank UOB Buana Tbk. Ekhadarma International Tbk. Gudang Garam Tbk. Hexindo Adiperkasa Tbk. Indorama Sythentic Tbk. Indosat Tbk. Intel Nickel Indonesia Tbk. Kimia Farma Tbk. Lautan Luas Tbk. Panin Sekuritas Tbk. Ramayana Lestari Tbk. Rig Tenders Tbk. Selamat Sempurna Tbk. Sorini Corporation Tbk. Sepatu Bata Tbk. Tambang Batu Bara Bukit Tbk Tempo Scan Pasific Tbk. Tunas Baru Lampung Tbk. Rata-rata per tahun 13,4477 12,1635 17,1262 13,4655 14,4871 14,9176 16,4782 11,0158 16,6685 13,2785 15,3263 17,0795 16,2075 14,1280 14,0215 12,6169 14,7367 13,0293 13,3576 13,1825 12,3556 14,5236 14,4799 13,9564 14,2521 Total Asset 2004 14,3404 12,0191 17,4828 13,2552 14,7061 15,2884 16,6100 11,0523 16,8404 13,3631 15,4124 17,1431 16,4592 13,9754 14,1697 12,6115 14,7550 13,3254 13,3862 13,1872 12,4781 14,6848 14,5770 14,1172 14,3850 2005 14,4985 12,0707 17,4828 13,1593 14,9236 15,8835 16,5881 11,2274 16,9124 13,8827 15,5209 17,3055 16,5980 13,9754 14,2910 13,0815 14,6649 13,4156 13,4047 13,3728 12,6306 14,8592 14,6681 14,1881 14,5252 2006 14,6815 12,1147 17,6654 13,2791 14,9235 15,8835 16,6402 11,2205 16,8943 14,0012 15,4930 17,3486 16,7682 13,9790 14,4201 13,5689 14,7429 13,7586 13,4824 12,3556 12,5116 14,9494 14,7235 14,5329 14,5808

Sumber : data diolah Pada tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa rata-rata pertahun total asset pada tahun 2003 sebesar 14.2521, pada tahun 2004 sebesar 14.3850, tahun 2005 sebesar 14.5252, dan tahun 2006 sebesar 14.5808. Rata-rata total asset tertinggi pada tahun 2006 yaitu sebesar 14.5808, dan rata-rata 94

terendah pada tahun 2003 yaitu sebesar 14.2521. Pada tahun 2003, 2004, 2005, dan 2006 total asset tertinggi dimiliki oleh perusahaan Asuransi International Tbk. yaitu sebesar 17,1262, untuk tahun 2003, sebesar 17.4828 untuk tahun 2004 dan 2005, dan sebesar 17.6654 untuk tahun 2006. Pada tahun 2003, 2004, 2005, dan 2006 total asset terendah dimiliki oleh perusahaan Ekhadarma International Tbk. yaitu sebesar 11,0158 untuk tahun 2003, sebesar 11,0523 untuk tahun 2004, sebesar 11,2274 untuk tahun 2005, dan sebesar 11,2205 untuk tahun 2006. Ukuran perusahaan menunjukan aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk memperoleh hutang sehingga leverage akan meningkat. Ukuran perusahaan yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat.

d. Struktur Modal (leverage) Struktur modal dapat diukur melalui beberapa indikator

diantaranya Debt to Equity Ratio (DER), dan Debt to Asset Ratio (DAR). Adapun rasio-rasio yang diperoleh dari beberapa indikator tersebut dapat ditunjukkan pada tabel 4.9 sebagai berikut :

95

Tabel Leverage 4.9
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama Perusahaan 2003 AKR Corporatian Tbk. Asuransi Bintang Tbk. Asuransi International Tbk. Astra Graphia Tbk. Astra Otoparts Tbk. Berlian Laju Tanker Tbk. Bank UOB Buana Tbk. Ekhadarma International Tbk. Gudang Garam Tbk. Hexindo Adiperkasa Tbk. Indorama Sythentic Tbk. Indosat Tbk. Intel Nickel Indonesia Tbk. Kimia Farma Tbk. Lautan Luas Tbk. Panin Sekuritas Tbk. Ramayana Lestari Tbk. Rig Tenders Tbk. Selamat Sempurna Tbk. Sorini Corporation Tbk. Sepatu Bata Tbk. Tambang Batu Bara Bukit Tbk Tempo Scan Pasific Tbk. Tunas Baru Lampung Tbk. Rata-rata per tahun
0,4500 1,3800 1,1900 1,1200 0,5200 1,7800 7,5200 0,2200 0,5800 1,8300 25,6100 1,1300 0,5000 0,8100 1,9400 1,9300 0,6500 0,0400 0,5900 0,7100 0,4700 0,3400 0,1900 1,2800 2,1992

DER 2004
0,7800 1,1300 1,1800 0,7200 0,6200 1,6200 7,6000 0,1800 0,6900 1,2500 25,6000 1,1000 0,4000 0,4400 1,9700 1,4200 0,5400 0,0400 0,7100 0,6000 0,5000 0,4100 0,2000 1,6500 2,1396

2005
0,8600 1,3500 1,1100 0,8200 0,7100 2,9400 6,3800 0,3700 0,6900 2,1000 48,1000 1,2800 0,2700 0,3900 2,1000 2,1500 0,3300 0,0400 0,6100 0,6700 0,7300 0,3800 0,2600 1,8300 3,1863

2006
1,0900 1,1100 1,4100 0,9800 0,5700 1,6200 4,1600 0,2900 0,6500 2,4800 50,6800 1,2400 0,2600 0,4500 2,4300 2,7300 0,3000 0,6600 0,5300 0,7200 0,4300 0,3500 0,2300 1,3700 3,1975

Sumber : data diolah Dari tabel 4.9 diatas menunjukkan bahwa rata-rata debt to equity ratio (DER) pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2003, 2004, dan 2005. Tahun 2003 rata-rata debt to equity ratio (DER) mencapai 2.1992 dimana nilai DER tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 25.6100 dan terendah dimiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2004 96

rata-rata debt to equity ratio (DER) mencapai 2.1396 dimana nilai DER tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 25.6000 dan terendah dimiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2005 rata-rata debt to equity ratio (DER) mencapai 3.1863, dimana nilai DER tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 48.1000, dan terendah dimiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400,dan tahun 2006 rata-rata debt to equity ratio (DER) mencapai 3.1975, dimana nilai DER tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 50.6800, dan terendah dimiliki oleh perusahaan Tempo Scan Pasific Tbk. yaitu sebesar 0.2300. Dari uraian diatas menunjukkan bahwa dalam membiayai hutang jangka panjang perusahaan-perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia selama periode 2003-2006 menggunakan equity yang dimiliki. Selanjutnya adalah tabel 4.10 Debt to Asset Ratio (DAR) (Y1.2) yang merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi struktur modal (leverage) (Y1). Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

97

Tabel Leverage 4.10
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama Perusahaan 2003 AKR Corporatian Tbk. Asuransi Bintang Tbk. Asuransi International Tbk. Astra Graphia Tbk. Astra Otoparts Tbk. Berlian Laju Tanker Tbk. Bank UOB Buana Tbk. Ekhadarma International Tbk. Gudang Garam Tbk. Hexindo Adiperkasa Tbk. Indorama Sythentic Tbk. Indosat Tbk. Intel Nickel Indonesia Tbk. Kimia Farma Tbk. Lautan Luas Tbk. Panin Sekuritas Tbk. Ramayana Lestari Tbk. Rig Tenders Tbk. Selamat Sempurna Tbk. Sorini Corporation Tbk. Sepatu Bata Tbk. Tambang Batu Bara Bukit Tbk Tempo Scan Pasific Tbk. Tunas Baru Lampung Tbk. Rata-rata per tahun
0,3000 0,5700 0,5100 0,5300 0,5700 0,6400 0,8800 0,1800 0,3700 0,6500 0,5700 0,5300 0,3300 0,4500 0,6300 0,6600 0,3900 0,0400 0,3400 0,3800 0,3200 0,2500 0,1600 0,5600 0,4504

DAR 2004
0,4000 0,5300 0,5000 0,4200 0,5300 0,6200 0,8800 0,1500 0,4100 0,5500 0,5600 0,5200 0,2900 0,3100 0,6300 0,5900 0,3500 0,0400 0,3800 0,3600 0,3300 0,2900 0,1600 0,6200 0,4342

2005
0,4200 0,5700 0,4800 0,4500 0,5700 0,7500 0,8600 0,2700 0,4100 0,6800 0,5800 0,5600 0,2200 0,2800 0,6500 0,6800 0,2500 0,0400 0,3400 0,3800 0,4200 0,2700 0,2000 0,6500 0,4575

2006
0,4800 0,5300 0,5400 0,4900 0,5300 0,6200 0,8100 0,2200 0,3900 0,7100 0,6000 0,5500 0,2100 0,3100 0,6700 0,7300 0,2300 0,4000 0,3300 0,4000 0,3000 0,2600 0,1800 0,5800 0,4613

Sumber : data diolah

Dari tabel 4.10 diatas menunjukkan bahwa rata-rata debt to asset ratio (DAR) pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2003, 2004, dan 2005. Tahun 2003 rata-rata debt to asset ratio (DAR) mencapai 0.4504 dimana nilai DAR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8800 dan terendah dimiliki oleh 98

perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2004 rata-rata debt to asset ratio (DAR) mencapai 0.4342 dimana nilai DAR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8800 dan terendah dimiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2005 rata-rata debt to asset ratio (DAR) mencapai 0.4575, dimana nilai DAR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8600, dan terendah dimiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400,dan tahun 2006 rata-rata debt to asset ratio (DAR) mencapai 0.4613, dimana nilai DAR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8100, dan terendah dimiliki oleh perusahaan Tempo Scan Pasific Tbk. yaitu sebesar 0.1800. Dari uraian diatas menunjukkan bahwa dalam membiayai hutang jangka panjang perusahaan-perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia selama periode 2003-2006 menggunakan aktiva yang dimiliki.

e. Nilai Perusahaan Nilai perusahaan dapat diukur dari beberapa indicator diantaranya Price Earning Ratio (PER), dan Price Book Value (PBV). Adapun rasio-rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang diteliti dapat ditunjukkan pada tabel 4.11 sebagai berikut :

99

Tabel Nilai Perusahaan 4.11
No.

Nama Perusahaan
2003

PER
2004 9,4300 19,7800 7,1900 11,5600 6,6200 11,9300 14,5100 12,2500 14,5600 5,6500 8,8900 4,6300 4,6300 14,6400 5,5600 4,7000 17,4000 8,7200 6,5600 5,5100 5,1900 7,7500 10,5400 22,5800 10,0325 2005 7,7400 11,8000 7,5700 11,0300 7,7400 6,7000 15,8400 14,6600 11,8600 8,2500 15,0700 4,9400 4,9400 15,2400 7,1400 3,0300 18,8400 11,1500 6,5900 5,7700 7,5100 8,8800 8,5700 51,9500 11,3671 2006 13,2800 67,6000 17,1200 7,4000 8,0000 6,0000 15,7700 15,5200 19,4700 19,1700 17,3800 6,6500 6,6500 20,8300 10,6400 2,6800 19,6600 39,3300 6,8700 11,6600 9,0300 16,7200 14,8600 18,7200 16,2921 3,4800 5,0400 4,5600 20,7600 5,6700 13,8700 12,3700 9,7800 14,2300 3,6600 8,4000 9,8500 9,8500 27,1700 29,0700 5,1500 20,1300 12,8200 7,1800 4,0800 5,1000 7,5900 8,2300 10,2200 10,7608

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

AKR Corporatian Tbk. Asuransi Bintang Tbk. Asuransi International Tbk. Astra Graphia Tbk. Astra Otoparts Tbk. Berlian Laju Tanker Tbk. Bank UOB Buana Tbk. Ekhadarma International Tbk. Gudang Garam Tbk. Hexindo Adiperkasa Tbk. Indorama Sythentic Tbk. Indosat Tbk. Intel Nickel Indonesia Tbk. Kimia Farma Tbk. Lautan Luas Tbk. Panin Sekuritas Tbk. Ramayana Lestari Tbk. Rig Tenders Tbk. Selamat Sempurna Tbk. Sorini Corporation Tbk. Sepatu Bata Tbk. Tambang Batu Bara Bukit Tbk Tempo Scan Pasific Tbk. Tunas Baru Lampung Tbk. Rata-rata per tahun

Sumber : data diolah Tabel 4.11 menunjukkan bahwa rata-rata PER dari semua industri pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan tahun 2003, 2004, dan 2005. Tahun 2003 rata-rata PER dari semua industri sebesar 10.7608, dimana nilai tertinggi PER dimiliki oleh perusahaan Lautan Luas Tbk. yaitu sebesar 29.0700 sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan AKR Corporation Tbk. yaitu sebesar 3.4800. Sementara itu rata-rata PER tahun 100

2004 rata-rata PER dari semua industri sebesar 10.0325, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tunas Baru Lampung Tbk. yaitu

sebesar 22.5800, sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indosat Tbk. dan Intel Nickel Indonesia Tbk. yaitu sebesar 4.6300. Sementara itu rata-rata PER tahun 2005 rata-rata PER dari semua industri sebesar 11.3671, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tunas Baru

Lampung Tbk. yaitu sebesar 51.9500, sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indosat Tbk. dan Intel Nickel Indonesia Tbk. yaitu sebesar 4.9400. Selanjutnya rata-rata PER tahun 2006 rata-rata PER dari semua industri sebesar 16.2921, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan Asuransi Bintang Tbk. yaitu sebesar 67.6000, sedangkan terendah

dimiliki oleh perusahaan Panin Sekuritas Tbk. yaitu sebesar 2.6800. Dari tabel diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi PER maka semakin tinggi pula prospek pertumbuhan dimasa depan, karena menurut Foster (1986) dalam Yetti Iswahyuni (2002) dalam Malla Bahagia (2008), PER dapat mempresentasikan aliran laba masa depan. Semakin besar PER, maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan. Selanjutnya adalah tabel 4.12 Price Book Value (Y2.2) yang merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan (Y2). Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

101

Tabel Nilai Perusahaan 4.12
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama Perusahaan
2003

PBV
2004 0,8400 0,4900 2,3600 1,3000 1,0600 1,7400 2,1600 1,0200 2,1400 1,8200 0,1900 2,3000 1,1400 1,4000 0,6300 0,9300 3,2700 0,8500 1,1000 0,6200 1,0400 1,9300 2,0000 0,7300 1,3775 2005 0,9500 0,5100 2,0600 1,4000 1,3200 2,1500 2,5300 1,3900 1,7100 2,3400 0,1300 2,0800 1,0300 0,9500 0,7500 0,6300 3,2300 0,9400 1,0700 0,6000 1,0700 2,0200 1,4200 0,6300 1,3713 2006 1,6400 1,0100 2,8400 1,3900 1,2100 2,3100 1,9700 1,5500 1,4900 2,1900 0,1500 2,4100 2,0300 1,0500 0,6200 0,8000 3,1600 1,0700 1,0100 0,9100 0,9600 3,5400 2,0900 1,1500 1,6063 0,4000 0,3700 1,7200 1,3400 0,9800 1,9100 1,6300 0,8500 2,3900 0,7500 0,1800 1,2700 1,1900 1,5500 0,5600 0,9500 3,9900 0,8500 0,9600 0,4800 1,1600 1,2300 1,7000 0,5100 1,2050

AKR Corporatian Tbk. Asuransi Bintang Tbk. Asuransi International Tbk. Astra Graphia Tbk. Astra Otoparts Tbk. Berlian Laju Tanker Tbk. Bank UOB Buana Tbk. Ekhadarma International Tbk. Gudang Garam Tbk. Hexindo Adiperkasa Tbk. Indorama Sythentic Tbk. Indosat Tbk. Intel Nickel Indonesia Tbk. Kimia Farma Tbk. Lautan Luas Tbk. Panin Sekuritas Tbk. Ramayana Lestari Tbk. Rig Tenders Tbk. Selamat Sempurna Tbk. Sorini Corporation Tbk. Sepatu Bata Tbk. Tambang Batu Bara Bukit Tbk Tempo Scan Pasific Tbk. Tunas Baru Lampung Tbk. Rata-rata per tahun

Sumber : data diolah Tabel 4.12 menunjukkan bahwa rata-rata PBV dari semua industri pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan tahun 2003, 2004, dan 2005. Tahun 2003 rata-rata PBV dari semua industri sebesar 1.2050, dimana nilai tertinggi PBV dimiliki oleh perusahaan Ramayana Lestari Tbk. yaitu sebesar 3.9900 sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1800. Sementara itu rata-rata PBV tahun 102

2004 dari semua industri sebesar 1.3775 dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan Ramayana Lestari Tbk. yaitu sebesar 3.2700, sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1900. Sementara itu rata-rata PBV tahun 2005 dari semua industri sebesar 1.3713, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan Ramayana Lestari Tbk. yaitu sebesar 3.2300 sedangkan terendah dimiliki oleh

perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1300. Selanjutnya rata-rata PBV tahun 2006 dari semua industri sebesar 1.6063, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tambang Batu Bara Bukit Tbk. yaitu sebesar 3.5400, sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1500. Dari tabel diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi PBV maka semakin tinggi pula prospek pertumbuhan dimasa depan.

C.

Pengujian dan Pembahasan

1. Pengujian Model Secara Keseluruhan Berdasarkan pada output analisis SEM yang menggunakan software Lisrel diperoleh nilai-nilai yang digunakan sebagai acuan dalam pengujian model secara keseluruhan. Nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut :

103

Tabel 4.13 Uji kecocokan pada beberapa Kriteria Goodness of Fit Index Goodness of Fit Index Degree Of Freedom Normed Chi Square (X²⁄df) RMR RMSEA GFI AGFI NFI NNFI CFI RFI PNFI PGFI Cut Off Value Positif <2 < 0.05 < 0.05 > 0.90 > 0.90 0.9 0.9 0.9 0.9 0-1 0-1 Hasil Penelitian 44 1.25 0.048 0.040 0.92 0.86 0.90 0.97 0.98 0.86 0.60 0.52 Evaluasi Model

Over fitting Good fit Good fit Good fit Cukup fit Good fit Good fit Good fit Good fit Cukup fit Cukup fit

Koefisien Goodness of Fit Index diatas menunjukkan adanya kecocokan model dengan tingkat kecocokan yang baik. Dari beberapa indikator yang digunakan dalam menilai kecocokan model ini, seluruhnya terpenuhi dengan baik. Hal ini dapat ditujukan dari beberapa indikator fit diantaranya adalah :  Normed Chi-Square (X²⁄df) yang mempunyai nilai sebesar 1.25, karena nilai tersebut mendekati nilai yang direkomendasikan yaitu 1 < X²⁄df < 2, maka dapat dikatakan bahwa model tersebut Over fitting. Hal ini disesuaikan dengan standar penilaian kesesuaian yang dilakukan oleh beberapa peneliti yaitu Holmes Smith (2002) dalam Didi Achjari (2003) menyatakan bahwa nilai normed chi-square antara 2-3 merupakan reasonable good fit. Kelloway (1998) menyatakan bahwa model dikatakan fit jika 2 < X²⁄df < 5 dan dikatakan overfitting nilai normed chi-square < 2.

104



RMR ( Root Mean Square Residual ) yang menunjukkan good fit karena RMR mempunyai nilai 0.048, nilai tersebut lebih dari yang

direkomendasikan yaitu 0.050.  RMSEA ( Root Mean Square Error of Appoximation ) yang menunjukkan bahwa model adalah good fit, karena RMSEA mempunyai nilai 0.040 yang mendekati 0.05.  GFI ( Goodness of Fit Index ) yang mempunyai nilai sebesar 0.92, yang menunjukkan bahwa model adalah good fit karena mendekati nilai yang direkomendasikan sebesar 0.90.  AGFI ( Adjusted Goodness of Fit Index ) yang mempunyai nilai sebesar 0.86 lebih kecil dari nilai yang direkomendasikan yaitu 0.90, sehingga dapat dikatakan bahwa model adalah cukup fit.  NFI ( Normed Fit Index ) menunjukkan bahwa model adalah good fit. Ini dapat dilihat dari nilai NFI yaitu sebesar 0.90, nilai tersebut sama dengan nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0.90.  NNFI / Tucker Lewis Index (TLI) yang mempunyai nilai sebesar 0.97, menunjukkan bahwa model adalah good fit, karena nilai tersebut mendekati dari yang direkomendasikan yaitu 0.90.  CFI ( Comparative Fit Index ) mempunyai nilai sebesar 0.98 lebih besar dari nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0.90, sehingga dapat dikatakan bahwa model adalah good fit.

105



RFI ( Relative Fit Index ) mempunyai nilai sebesar 0.86 lebih kecil dari nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0.90, sehingga dapat dikatakan bahwa model adalah good fit.



PNFI ( Parsimony Normed Fit Index ) menunjukkan bahwa model adalah cukup fit, ini dapat dilihat dari nilai PNFI yang sebesar 0.60, nilai tersebut berkisar 0-1 dimana nilai yang mendekati 1 tersebut menunjukkan model cukup fit.



PGFI ( Parsimony Goodness Fit Index ) mempunyai nilai sebesar 0.52 sehingga dikatakan bahwa model cukup fit karena nilai tersebut berkisar 01 dimana nilai yang mendekati 1 tersebut menunjukkan model cukup fit. Berdasarkan pada nilai-nilai koefisien diatas yang memenuhi pesyaratan kecocokan sebuah model, maka dapat disimpulkan bahwa secara umum, model yang diperoleh memiliki tingkat kecocokan yang baik.

2. Pengujian Jalur Individual – Measurement Model Setelah dilakukan pengujian secara keseluruhan, langkah

selanjutnya adalah melakukan pengujian secara individual, yaitu untuk melihat apakah seluruh jalur yang dihipotesiskan memiliki tingkat signifikansi yang baik atau tidak. Untuk mengetahui apakah masingmasing jalur memiliki tingkat signifikansi yang tinggi atau tidak dilakukan dengan melihat nilai t-hitung yang diperoleh. Sebuah jalur dikatakan signifikans jika nilai t-hitung untuk jalur tersebut lebih besar dari 1,96. 106

Berikut diagram yang berisikan nilai-nilai T-Value dan Standardized Solution untuk seluruh koefisien jalur : Gambar 4.1 T-Value

107

Gambar 4.2 Koefisien Path

Dari path diagram diatas dapat menunjukkan hubungan indikator terhadap variabel latennya yaitu sebagai berikut : 1. Kepemilikan Manajerial (X1.1) terhadap Struktur Kepemilikan Saham. Kepemilikan manajerial mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap struktur kepemilikan saham, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.91 dan nilai-t hitung yang sebesar 6.28 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator kepemilikan manajerial mempunyai tingkat 108

signifikan yang baik. Kepemilikan manajerial mempunyai koefisien path sebesar 0.91 (91%) terhadap struktur kepemilikan saham. 2. Kepemilikan Institusional (X1.2) terhadap Struktur Kepemilikan Saham. Kepemilikan institusional mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap struktur kepemilikan saham, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.75 dan nilai-t hitung yang sebesar 5.62 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator kepemilikan institusional mempunyai tingkat signifikan yang baik. Kepemilikan Institusional mempunyai koefisien path sebesar 0.75 (75%) terhadap struktur kepemilikan saham. Kepemilikan Institusional merupkan indikator dari Struktur Kepemilikan Saham dimana indikator ini paling mewakili variabel latennya. Kepemilikan institusional mempunyai koefisien path sebesar 0.75 (75%) terhadap struktur kepemilikan saham.

3. Tingkat Suku Bunga (X2.1) terhadap Faktor Ekstern. Tingkat suku bunga merupakan indikator dari faktor ekstern. Tingkat suku bunga mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap faktor ekstern, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.97 dan nilai-t hitung yang sebesar 12.51 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator tingkat suku bunga mempunyai tingkat signifikan yang baik.

109

Tingkat suku bunga mempunyai koefisien path sebesar 0.97 (97%) terhadap factor ekstern. 4. Keadaan Pasar Modal (X2.2) terhadap faktor Ekstern. Keadaan Pasar Modal merupakan indikator dari Faktor Ekstern, dimana indikator ini paling mewakili variabel latennya. Keadaan pasar modal mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap faktor ekstern, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.94 dan nilai-t hitung yang sebesar 11.99 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator keadaan pasar modal mempunyai tingkat signifikan yang baik. Keadaan pasar modal mempunyai koefisien path sebesar 0.94 (94%) terhadap factor ekstern. 5. Pertumbuhan Pasar (X2.3) terhadap Faktor Ekstern. Pertumbuhan pasar mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap faktor ekstern, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.75 dan nilai-t hitung yang sebesar 8.56 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator pertumbuhan pasar mempunyai tingkat signifikan yang baik. Pertumbuhan pasar mempunyai koefisien path sebesar 0.75 (75%) terhadap factor ekstern. 6. Profitabilitas (X3.1) terhadap Faktor Intern. Profitabilitas merupakan indikator dari Faktor Intern, dimana indikator ini paling mewakili variabel latennya. Profitabilitas mempunyai 110

koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap faktor intern, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.81 dan nilai-t hitung yang sebesar 8.19 yang lebih besar dibandingkan dengan ttabel sebesar 1.96, sehingga indikator probabilitas mempunyai tingkat signifikan yang baik. Profitabilitas mempunyai koefisien path sebesar 0.81 (81%) terhadap factor intern. 7. Pembayaran Dividen (X3.2) terhadap Faktor Intern. Pembayaran dividen mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap faktor intern, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.52 dan nilai-t hitung yang sebesar 5.02 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator pembayaran dividen mempunyai tingkat signifikan yang baik. Pembayaran dividen mempunyai koefisien path sebesar 0.52 (52%) terhadap factor intern. 8. Ukuran Perusahaan (X3.3) terhadap Faktor Intern. Ukuran Perusahaan mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap faktor intern, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.86 dan nilai-t hitung yang sebesar 8.77 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator ukuran perusahaan mempunyai tingkat signifikan yang baik. Ukuran Perusahaan mempunyai koefisien path sebesar 0.88 (86%) terhadap factor intern.

111

9. Debt to Asset Ratio (Y1.2) terhadap Leverage. Debt to Asset Ratio merupakan indikator dari Leverage, dimana indikator ini paling mewakili variabel latennya. Debt to Asset Ratio mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap leverage, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.92 dan nilai-t hitung yang sebesar 5.84 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator Debt to Asset Ratio mempunyai tingkat signifikan yang baik. Debt to Asset Ratio mempunyai koefisien path sebesar 0.92 (92%) terhadap Leverage. 10. Price Book Value (Y2.2) terhadap Nilai Perusahaan. Price Book Value merupakan indikator dari nilai perusahaan, dimana indikator ini paling mewakili variabel latennya. Price Book Value mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap nilai perusahaan, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.87 dan nilai-t hitung yang sebesar 3.32 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator Price Book Value mempunyai tingkat signifikan yang baik. Price Book Value

mempunyai koefisien path sebesar 0.87 (87%) terhadap Nilai Perusahaan. Dari gambar 4.1 diatas terlihat bahwa jalur dari indikator terhadap latennya yang dihipotesiskan nilai t-hitung yang lebih besar dari 1.96 dan dapat disimpulkan bahwa seluruh koefisien jalur tersebut signifikan, kecuali indikator Y1.1 dan Y2.2 tidak memiliki t-value, karena didalam

112

SEM indikator pertama dari variabel endogen tidak memiliki nilai t (tvalue). 3. Pengujian Jalur Individual – Stuctrural Model Langkah berikutnya adalah menguji struktural model. Ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu : 1.Signifikansi koefisien Beta dan Gamma dengan uji t 2.Kecocokan dari model structural dengan memperhatikan nilai R² (Squared Multiple Correlation).

Tabel 4.14 Hubungan Beta dan Gamma
Hipotesis H₁ H₂ H₃ H₄ H₅ H₆ H₇ Variabel indipenden Struktur Kepemilikan Saham Struktur Kepemilikan Saham Faktor Ekstern Faktor Ekstern Faktor Intern Faktor Intern Struktur Modal (leverage) Variabel Dependen Struktur Modal (leverage) Nilai Perusahaan Struktur Modal (leverage) Nilai Perusahaan Struktur Modal (leverage) Nilai Perusahaan Nilai Perusahaan Koefisien Path (t-value) -0.30 (-2.47) 0.12 (0.94) -0.24 (-2.16) 0.05 (0.49) -0.38 (-2.95) 0.18 (1.28) -0.52 (-2.61)

Sumber : data diolah Dari output yang ditampilkan dengan path diagram dan ditunjukkan dengan tabel, maka didapatlah hubungan dan pengaruh sebagai berikut : H₁ Struktur Kepemilikan Saham terhadap Struktur Modal. Dari tabel 4.14 diatas menujukkan adanya koefisien path negatif dan berpengaruh signifikan antara struktur kepemilikan saham terhadap struktur modal, ini dapat dilihat dari koefisien path sebesar -0.30 dan nilai 113

t-hitung sebesar -2.47 lebih besar dari 1.96, hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel struktur kepemilikan saham berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage), artinya semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan, maka pengawasan yang dilakukan pemilik terhadap managemen akan semakin efektif, manajemen akan berhati-hati dalam melakukan pinjaman sehingga leverage akan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa struktur kepemilikan saham mempunyai pengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage). H₂ Struktur Kepemilikan Saham terhadap Nilai Perusahaan. Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path positif dan tidak berpengaruh signifikan antara struktur kepemilikan saham terhadap nilai perusahaan. Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path (pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar 0.12 dan hubungan yamg tidak signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar 0.94 lebih kecil dari 1.96. kepemilikan hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel struktur saham mempunyai pengaruh positif terhadap nilai

perusahaan, artinya semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan maka nilai perusahaan akan meningkat, dengan peningkatan kepemilikan saham institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan

peminjaman kepada manajemen sehingga terdorong untuk meningkatkan kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Dan kepemilikan manajerial akan mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja 114

perusahaan, karena mereka juga memiliki perusahaan, kinerja perusahaan yang meningkat akan meningkatkan perusahaan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel struktur kepemilikan perusahaan. H₃ Faktor Ekstern terhadap Struktur Modal. Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path negatif dan berpengaruh signifikan antara faktor ekstern terhadap struktur modal (leverage). Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path (pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar -0.24 dan hubungan yamg signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar -2.16 lebih besar dari 1.96. Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage), artinya semakin tinggi faktor ekstern maka leverage akan menurun, faktor ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu tingkat suku bunga yang tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage akan menurun, indikator lainnya yaitu keadaan pasar modal yang tinggi, akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage). 115 saham mempunyai pengaruh positif terhadap nilai

H₄ Faktor Ekstern terhadap Nilai Perusahaan. Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path positif dan tidak berpengaruh signifikan antara faktor ekstern terhadap nilai perusahaan. Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path (pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar 0.05 dan hubungan yamg tidak signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar 0.49 lebih besar dari 1.96. Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor ekstern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan artinya semakin tinggi faktor ekstern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu keadaan pasar modal mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa para pemodal secara umum akan mempertimbangkan faktor perkembangan pasar modal dalam membeli saham, indikator lainnya yaitu pertumbuhan pasar mempunyai pengaruh positif terhadap nilai

perusahaan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatnya pertumbuhan pasar akan mempengaruhi earning perusahaan, earning perusahaan yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang bagus dimasa yang akan datang, prospek bagus tersebut akan direspon positif oleh investor, respon positif oleh investor tersebut akan meningkatkan harga sahamuntuk selanjutnya akan meningkatkan nilai perusahaan.

116

H₅ Faktor Intern terhadap Struktur Modal. Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path negatif dan berpengaruh signifikan antara faktor intern terhadap struktur modal (leverage). Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path (pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar -0.38 dan hubungan yamg signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar -2.95 lebih besar dari 1.96. Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage), artinya semakin tinggi faktor intern maka leverage akan menurun, faktor intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang meningkat akan meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage). H₆ Faktor Intern terhadap Nilai Perusahaan. Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path positif dan tidak berpengaruh signifikan antara faktor intern terhadap nilai perusahaan. Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path (pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar 0.18 dan hubungan yamg tidak signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar 1.28 lebih besar dari 1.96.

117

Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor intern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan artinya semakin tinggi faktor intern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat. Singnally theory, Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor intern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. H₇ Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan. Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path negatif dan berpengaruh signifikan antara struktur modal (leverage) terhadap nilai perusahaan. Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path (pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar -0.52 dan hubungan yamg signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar -2.61 lebih besar dari 1.96. hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel struktur modal 118

(leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan artinya, semakin tinggi leverage maka nilai perusahaan akan menurun, karena leverage yang semakin tinggi akan menimbulkan financial distress sehingga nilai perusahaan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel struktur modal (leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Pada tabel 4.14 Gamma di atas, terlihat bahwa pada model yang dihipotesiskan, variabel Struktur Kepemilikan Saham, Faktor Ekstern, dan Faktor Intern mempengaruhi Struktur Modal secara signifikans. Ini ditunjukkan dengan nilai t-hitung nya masing-masing yang lebih besar dari 1,96. Sementara itu, tidak terdapat satupun variabel yang mempengaruhi Nilai Perusahaan, dimana Struktur Kepemilikan Saham, Faktor Ekstern, dan Faktor Iintern tidak mempengaruhi secara signifikans karena memiliki nilai t-hitng yang lebih kecil dari 1,96. Sementara pada tabel Beta terlihat bahwa Struktur Modal secara signifikans mempengaruhi Nilai Perusahaan. Ini diperlihatkan oleh nilai t-hitung yang lebih besar dari 1,96.

119

Selanjutnya,

kecocokan

dari

model

structural

dengan

memperhatikan nilai R² (Squared Multiple Correlation). Tabel 4.15 Squared Multiple Correlations (R²)
Variabel Laten Struktur Kepemilikan Saham Faktor Ekstern Indikator X₁.₁ X₁.₂ X₂.₁ X₂.₂ X₂.₃ X₃.₁ X₃.₂ X₃.₃ Y₁.₁ Y₁.₂ Y₂.₁ Y₂.₂ R² 0.83 0.56 0.93 0.89 0.57 0.65 0.27 0.74 0.52 0.85 0.25 0.76

Faktor Intern Struktur Modal (leverage) Nilai Perusahaan Sumber : data diolah

Dari tabel 4.15 diatas, dapat dilihat bahwa X₂.₁ (tingkat suku bunga) memiliki R² tertinggi yaitu sebesar 0.93, artinya faktor ekstern (variabel laten endogen) berkontribusi besar terhadap varians tingkat suku bunga yaitu sebesar 93% sedangkan sisanya sebesar 7% dijelaskan oleh measurement error, sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat suku bunga merupakan indicator yang paling baik dari variable latennya yaitu factor ekstern, sedangkan Y₂.₁ (price earning ratio) merupakan indiaktor yang paling kurang baik dari variable laten endogennya yaitu nilai perusahaan karena mempunyai nilai R² yang paling kecil dibanding dengan indikator variabel endogen yang lain.

120

D. Interpretasi Berdasarkan pembahasan hipotesis diatas terdapat pengaruh negatif antara struktur kepemilikan saham terhadap struktur modal. Hal ini terjadi karena kepemilikan saham yang tinggi dapat mengurangi penggunaan leverage artinya, kepemilikan institusi yang tinggi akan meningkatkan pengawasan dan kontro lterhadap tindakan dan keputusan yang dibuat oleh pihak manjemen sedangkan jika kepemilikan saham manajerial meningkat maka akan menimbulkan sikap berhati-hati bagi pihak manajemen untuk bertindak dan mengambil keputusan. Variabel struktur kepemilikan saham mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, artinya semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan maka nilai perusahaan akan meningkat, dengan peningkatan kepemilikan saham institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman kepada manajemen sehingga terdorong untuk meningkatkan kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Variabel faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage), artinya semakin tinggi faktor ekstern maka leverage akan menurun, faktor ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu tingkat suku bunga yang tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage akan menurun, indikator lainnya yaitu keadaan pasar modal yang tinggi, akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun.

121

Variabel faktor ekstern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan artinya semakin tinggi faktor ekstern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu keadaan pasar modal mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa para pemodal secara umum akan mempertimbangkan faktor perkembangan pasar modal dalam membeli saham Variabel faktor intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage), artinya semakin tinggi faktor intern maka leverage akan menurun, faktor intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang meningkat akan meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage). Variabel faktor intern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan artinya semakin tinggi faktor intern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat.

122

Variabel struktur modal (leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan artinya, semakin tinggi leverage maka nilai perusahaan akan menurun, karena leverage yang semakin tinggi akan menimbulkan financial distress sehingga nilai perusahaan menurun.

123

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka penelitian ini dapat diambil kesimpulan yaitu sebagai berikut : 1. Struktur Kepemilikan Saham mempunyai koefisien path (jalur) negatif dan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (leverage). Ini menggambarkan semakin tinggi kepemilikan kepemilikan saham baik kepemilikan saham manjerial maupun institusional maka semakin rendah tingkat hutang (leverage) yang digunakan. Hasil penelitian ini sesuai dengan yang dilakukan oleh Sujoko (2007) yang menyatakan bahwa semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan, maka pengawasan yang dilakukan pemilik terhadap managemen akan semakin efektif, manajemen akan berhati-hati dalam melakukan pinjaman sehingga leverage akan menurun. Temuan penelitian ini juga tidak mendukung Agency Theory, Jensen dan Meckling (1979) yang menjelaskan tentang adanya pemisahan yang jelas antara fungsi kepemilikan dengan fungsi pengelolaan. Manajemen tidak mempunyai kendali dalam menentukan hutang karena banyak dikendalikan oleh mayoritas.

124

2. Struktur kepemilikan Saham Struktur kepemilikan saham mempunyai koefisien path (jalur) positif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya, semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan maka nilai perusahaan akan meningkat, dengan peningkatan kepemilikan saham institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman kepada manajemen sehingga terdorong untuk meningkatkan

kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Dan kepemilikan manajerial akan mendorong manajemen untuk

meningkatkan kinerja perusahaan, karena mereka juga memiliki perusahaan, kinerja perusahaan yang meningkat akan meningkatkan perusahaan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel struktur kepemilikan saham mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini sesuai dengan temuan penelitian Sudarma (2003) yang menemukan bahwa Struktur kepemilikan saham tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. 3. Faktor Ekstern mempunyai koefisien path (jalur) negatif dan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (leverage). Artinya, semakin tinggi faktor ekstern maka leverage akan menurun, faktor ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu tingkat suku bunga yang tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya 125

leverage akan menurun, indikator lainnya yaitu keadaan pasar modal yang tinggi, akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage). 4. Faktor Ekstern mempunyai koefisien path (jalur) positif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya, semakin tinggi faktor ekstern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu keadaan pasar modal mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa para pemodal secara umum akan mempertimbangkan faktor perkembangan pasar modaldalam membeli saham, indikator lainnya yaitu pertumbuhan pasar mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatnya pertumbuhan pasar akan

mempengaruhi earning perusahaan, earning perusahaan yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang bagus dimasa yang akan datang, prospek bagus tersebut akan direspon positif oleh investor, respon positif oleh investor tersebut akan meningkatkan harga sahamuntuk selanjutnya akan meningkatkan nilai perusahaan 5. Faktor Intern mempunyai koefisien path (jalur) negatif dan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (leverage). Artinya, 126

semakin tinggi faktor intern maka leverage akan menurun, faktor intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang meningkat akan meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage). Hasil penelitian ini mendukung Pecking Order Theory, Myers (1984) dimana dalam melakukan pembiayaan, perusahaan mendasarkan pada urutan dari laba yang ditahan , kemudian hutang dan yang terakhir adalah emisi saham baru. 6. Faktor Intern mempunyai koefisien path (jalur) positif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya, semakin tinggi faktor intern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat. Singnally theory, Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa

profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran 127

perusahaan

yang

besar

menunjukan

perusahaan

mengalami

perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor intern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. 7. Struktur Modal (leverage) mempunyai koefisien path (jalur) negatif dan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya, semakin tinggi leverage maka nilai perusahaan akan menurun, karena leverage yang semakin tinggi akan menimbulkan financial distress sehingga nilai perusahaan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel struktur modal (leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini mendukung teori struktur modal Trade off Model yang menyatakan bahwa jumlah hutang yang semakin meningkat akan menurunkan nilai perusahaan.

B. Implikasi Penelitian ini belum menggunakan kepemilikan saham public sebagai indikator dari variabel laten eksogen struktur kepemilikan saham, peneliti mendatang perlu memasukan kepemilikan public sebagai dari indicator struktur kepemilikan saham.

128

Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan, maka penulis mencoba mengemukakan implikasi yang mungkin bermanfaat diantaranya : 1. Bagi Perusahaan Adanya pengaruh-pengaruh yang terjadi antara struktur

kepemilikan saham, faktor ekstern, faktor intern terhadap struktur modal (leverage), dan struktur kepemilikan saham, faktor ekstern, faktor intern terhadap nilai perusahaan, dapat membantu pihak perusahaan dalam mengambil keputusan yang amat penting, karena keputusan yang nantinya diambil dapat menentukan kemajuan dan kelangsungan hidup perusahaan. 2. Bagi Investor Dengaan adanya struktur modal (leverage) pengaruh-pengaruh yang terjadi dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan dan memutuskan investasi yang akan dilakukan karena setiap investor menginginkan prospek yang amat baik bagi perusahaan di masa depan. 3. Bagi Akademisi Perlu diadakan penelitian selanjutnya mngenai pengaruh-pengaruh variable endogen dan variable eksogen dengan menambahkan sample yang lebih banyak dan juga menggunakan analisis SEM dengan konseptualisasi model yang berbeda dan menggunakan software lainnya. 129

DAFTAR PUSTAKA

Almilia, Luciana Spica, dan Meliza Silvy, ”Analisis Kebijakan Dividen dan Kebijakan Leverage Terhadap Prediksi Kepemilikan Manajerial Dengan Tehnik Analisis Multinomial logit”, Jurnal Akuntansi dan Bisnis, Vol.6, No. 1, hal. 1 – 19, 2006. Achjari, Didi. “Pelaporan statistic Structural Equation Modeling : Temuan Tiga Jurnal Bisnis”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Volume 6, No. 3,September 2003. Bahagia, Malla, “Analisis Struktur Kepemilikan, Kebijakan Dividen dan Kwbijakan Hutang Terhadap Nilai Perusahaan dengan Pendekatan Structural Equation Modeling (SEM)”, Jakarta: UIN Syarifhidayatullah, 2008. Christianti, Ari, “Penentuan Prilaku Kebijakan Struktural Modal pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta : Hipotesis Static Trade Off atau Pecking Order Theory”, Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang. 2006. Ghozali, Imam. “Structural Equatin Modeling Theory, Konsep n Aplikasi dengan Program Lisrel 8.54”, Semarang : Universitas Diponegoro, 2005. Hamid, Abdul. “Panduan Penulisan Skripsi”. Jakarta : FEIS UIN Syarif Hidayatullah Press, 2007. Muslimin, “Analisis Struktur Kepemilikan, Kebijakan Dividend an kebijakan Utang Terhadap Nilai Perusahaan”, Jurnal Ekonomi dan Manajemen, volume 7, No. 2, Juni, 2006. Nasser, Etty M., dan Fielyandi F., “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan Hutang Sebagai Variabel Intervening Terhadap Nilai Perusahaan”, Jurnal Ekonomi STEI, No.2. 2006. Putra, AA GP Widana, “Pengaruh Free Cash Flows Terhadap Hubungan Antara Struktur Modal dan Kebijakan Dividend an Return Saham” Yogyakarta : Tesis S2, Universitas Gajah Mada, 2003. Putri, Imanda, dan Moh. Nasir, “Analisis Persamaan Simultan Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Risiko, Kebijakan Hutang, dan Kebijakan Dividen Dalam Perpektif Teori Keagenan”, Simposium Nasional Akuntansi, Ikatan Akuntansi Indonesia. 2006.

130

Riyanto, Bambang. “Dasar- Dasar Pembelanjaan Perusahaan”. Yogyakarta : Yayasan Penerbit Gajah Mada, 1998. Rodoni, Ahmad dan Nasaruddin, Indo Yama, “Modul Manajemen Keuangan”, Jakarta : Bab IX Capital Sstructure and Leverage, 2007. Sholihah, Maratush. Engujian Empiris Balance Theory, Pecking Order Theory dan Signaling Theory pada Struktur Modal Perusahaan di Indonesia”. Skripsi S1 FEIS UIN Syarif Hidayatullah. 2006. Sudana, I Made, dan Wiayaningrum, M Enny, “Analisis Kebijakan Investasi Modal Kerja Hubungannya dengan Profitabilitas pada Kondisi Ekonomi SebelumKrisis dan Masa Krisis”, Majalah Ekonomi, Fak. Ekonomi Unair dan Fak. Ekonomi Ubhara, 2003. Sudarmadji, Ardi Murdoko dan Sularto, Lana, “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Leverage, dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap luas Voluntary disclosure laporan Keuangan Tahunan”, Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek dan Sipil), Auditorium Kampus Gunadarma, 2007. Suhartoro, “Pengaruh Insider Ownership Net Organizational Capital dan Risiko Pasar terhadap Kebijakan Dividen”, Yogyakarta : Tesis S2, Universitas Gajah Mada, 2002. Sujoko,”Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Lverage,Faktor Intern dan Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Vol. 9 no. 1, Surabaya : Universitas Kristen petra, 2007. Suranta, Eddy, dan Pratana P. Midiastuti, ”Analisis Hubungan Kepemilikan Manajerial, Nilai Perusahaan, dan Investasi dengan Model Persamaan Linier Simultan”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.6, No.1. 2003. Utami, Sih Widhi. “Asosiasi Investment Opportunity Set dengan Kebijakan Pendanaan, Kebijakan Dividen, dan Implikasinya pada Perubahan Harga Saham”. Simposium Nasional Akuntansi, IAI. 2006. Wahyudi, Untung, dan Hartini P.Pawesti, “Implikasi Struktur Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan : Dengan Keputusan Keuangan Sebagai Variabel Intervening”, Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang. 2006.

131