Docstoc

Pengembangan Pondok Pesantren Berbasis ICT

Document Sample
Pengembangan Pondok Pesantren Berbasis ICT Powered By Docstoc
					Pengembangan Pondok Pesantren Berbasis ICT
Pesan(tren): Sebuah Pengantar
Kesan pertama saat berkunjung di beberapa pondok pesantren tradisional1 di Banten, yang keberadaannya hampir ada di setiap kampung, kesederhanaan dan kemiskinan seolah tidak ada bedanya. Lebih jauh saya berpikir: mustahil mereka akan siap menghadapi jaman yang sedang mengglobal ini. Betapa tidak mustahil, dalam hingarbingar dan hiruk-pikuk manusia yang serba tidak ketinggalan memanfaatkan teknologi terkini di kota-kota besar, para santri berasyik-ria dalam lingkungan yang tidak lagi lebar dan luas. Mereka asyik memasak sambil menghapal. Mereka asyik menyimak dalam pengajian di ruang-ruang yang umurnya tak muda lagi. Dengan kesederhanaan dalam hidup keseharian seolah mereka tidak menggubris perkembangan perangkat lunak dan perangkat lunak untuk membantu manusia yang sedang berubah. Namun, hidup dalam lingkungan pesantren tradisional yang sekarang ini terasa tertinggal oleh jaman adalah pilihan yang sangat memungkinkan dipilih oleh sebagian masyarakat Indonesia yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat dan sebagian besar adalah masyarakat miskin. Sebagai lembaga pendidikan yang berada di lingkungan yang khusus, Abdurrahman Wahid meringkas nilai-nilai yang berlaku di dalamnya: hidup sebagai ibadah, ajaran guru agama tidak dapat dibantah karena merupakan ajaran agama; cinta terhadap ajaran Islam; dedikasi pada masalah-masalah agama dan kesinambungan para santri (Wahid, 1985:45). Jadi selain alasan beragama, ekonomi menjadi alasan utama para santri memilih pesantren sebagai tempat belajarnya. Asal kata pondok pesantren menurut Muh Daud Ali & Habibah Daud Ali (1995:240) berasal dari kata funduq (bahasa Arab) yang artinya tempat inap/asrama, dan pesantren dari kata santri. Jadi pondok pesantren adalah tempat inap para santri yang belajar ilmu pada seorang/beberapa pakar agama. Djalludin Abdullah Ali (1999:90) mendefinisikan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang tumbuh dan diakui oleh masyarakat sekitar, dengan sistem asrama, yang santrinya menerima pendidikan melalui sistem pengajian/madrasah yang sepenuhnya di bawah kedaulatan seseorang/beberapa orang ciri khas dan indenpenden dalam segala hal. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Sehingga, pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berakhlaq (Agil, 1999:251). Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Dhofier menyatakan bahwa unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok
Istilah tradisional di sini dugunakan bukan untuk menjelaskan sesuatu yang belum maju, dengan ditandai cara berpikir irasional dan cara kerja yang tidak efisien, maupun mempertentangkan dengan istilah modern, yang diartikan sebagai simbol kemajuan, pemikiran rasional, cara kerja efisien dan merupakan ciri masyarakat maju. Tradisional di sini dimaksudkan untuk menjelaskan pesantren yang masih mempraktikkan tradisi pendahulunya, dan belum mempunyai fasilitas yang memadai sebagai tempat belajar mengajar. “Pondok pesantren” selanjutnya penulis tulis “pesantren” saja.
1

1

pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Unsur-unsur tersebut dapat menjadi ciri khas pesantren dengan pesantren, maupun dengan lembaga pendidikan lain secara fisik (Dhofier, 1982:44-60, dalam Sukamto, 1999:1). Unsur-unsur pondok pesantren berkembang sangat variatif tatkala kiai mengeluarkan kebijakan. Penggabungan unsur-unsur yang kemudian menjadi cirikhas pesantren itu dapat dikelompokkan menjadi pola-pola yang khas. Prasodjo (1986:104-109 dalam Sukamto 1999:3) mengemukakan, pola-pola pondok pesantren terdiri dari lima pola, yang secara berurutan unsur-unsurnya berkembang dari sederhana ke kompleks. Pola I terdiri dari bangunan masjid dan kiai; pola II terdiri dari bangunan masjid, rumah kiai, dan pondok; pola III terdiri dari masjid, rumah kiai, pondok, madrasah, tempat ketrampilan; dan pola V terdiri dari masjid, rumah kiai, pondok, madrasah, tempat ketrampilan, universitas, dan gedung perkantoran. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre) (Arifin, 1995:241). Pendidikan pesantren berhasil menciptakan jenis kepribadian tersendiri. Kata-kata seperti tawadu, ikhlas, sabar, telah memenuhi etika santri sehari-hari. Gambaran-gambaran yang jelas tentang kepribadian seseorang diambil dari perwatakan para nabi atau orang suci lainnya. Upacara-upacara siklus kehidupan dipadukan dengan praktik beragama. Di pesantren, pendidikan humaniora telah diterapkan dan memunyai sejarah yang panjang (Kuntowijoyo, 1999:46). Pesantren sebagai pusat kebudayaan, Abdurrahman Wahid (1998) menyatakan bahwa unsurunsur penting dalam pesantren tersebut berperan sebagai sarana pendidikan dan membentuk perilaku sosial budaya santri. Masyarakat pesantren dalam menjaga tradisi keagamaan membentuk subkultur pesantren, gerakan sosial-budaya yang dilakukan masyarakat pesantren dengan karakter keagamaan dalam kurun waktu yang lama (hal. 40-47). Sejarah menjelaskan bahwa pesantren telah mengambil peran penting bagi kehidupan masyarakat di Indonesia, dan bahkan, pesantren berhasil menciptakan jenis kepribadian tersendiri. Usia tradisi pesantren dapat dipastikan sama dengan usia masuknya Islam di Indonesia, sehingga tradisi ini memunyai sumber-sumber klasik yang kaya. Selain itu, pesantren menjadi bagian dari matarantai pendidikan Islam universal, sehingga selain sumber-sumber lokal, pesantren juga mendapat masukan dari luar/asing. Dalam masyarakat yang mengalami pertumbuhan dan pembentukan Islamnya, dan sedang mengecap hasil perjuangannya selama bertahun-tahun melawan penjajah Hindia Belanda, boleh dikatakan sekarang ini masyarakat sedang meyiapkan masa depannya yang sangat menentukan (Madjid, 1997:20). Dalam perjalanan panjangnya itu, pesan-pesan (informasi) dari pesantren (basis Islam) yang diterima masyarakat luas telah menjadi sebuah pola pikir dan pola tindak masyarakat. Saat para penjarah Barat masih kuat mencekeram bumi pertiwi, suara-suara dari

2

pesantren menjadi acuan langkah masyarakat. Di awal berdiri sebagai sebuah bangsa, masa revolusi (1945-1950), untuk mempertahankan kemerdekaan pesan dari Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari, atas nama para ulama seluruh Indonesia, mengeluarkan fatwa bahwa membela dan mempertahankan Republik Indonesia adalah perang di jalan Allah SWT, dan mati di dalamnya adalah kesyahidan. Fatwa inilah yang sangat membantu peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Masyarakat Surabaya dan sekitarnya (kebanyakan adalah santri dari pondok pesantren) dengan penuh semangat berjuang membela tanah air, dan tidak sedikit yang gugur, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan (Madjid, 1997:20). Peristiwa Surabaya November 1945 ini bukan satu-satunya. Peristiwa Ambarawa 15 Desember 1945 para kiai dan pasukan santri merupakan pasukan inti pemukul kekuatan pasukan Inggris, wakil dari pasukan Sekutu. Walau dalam museum dan dalam sejarah peran sentral dari pesantren ini jarang mendapat tempat. (http://estawar.wordpress.com/2007/05/29/potret-islam-di-museum-kita bag1/). Namun demikian, dalam perjalanan bangsa ini selanjutnya, pesan-pesan dari pesantren tetap menjadi wacana utama (tren) masyarakat Islam di Indonesia. Sekarang ini, di jaman dunia yang telah mengglobal (karena peran teknologi), informasi telah menjadi kebutuhan utama masyarakat. Contohnya, penelitian yang dilakukan oleh lembaga pendidikan maupun lembaga lain adalah kegiatan dalam rangka mencari informasi. Program studi banding yang dilakukan DPR beberapa waktu yang lalu di Belanda merupakan dalam rangka mencari informasi, walau pada praktiknya mereka malah jalan-jalan. Bahkan, informasi telah menjadi komoditi bisnis yang harganya tidak murah lagi. Misalnya, bisnis mass media semakin banyak, baik media cetak maupun media elektronik. Jaman sekarang ini dikenal sebagai era globalisasi, yang disandingkan dengan revolusi industri dan teknologi, modernitas, dan desa tanpa batas (McLuhan, 1964 dalam W. Apple, 2005:173). James Burke (1978:7 dalam W. Apple, 2005:173) menjelaskan bahwa era globalisasi dengan pesatnya perkembangan teknologi berdampak pada perubahan di segala bidang, yang kita mau tak mau harus menerimanya. Sehingga, sekarang ini, informasi (pesan) sebagai dianggap sebagai sesuatu yang mahal, dan orang berlomba untuk mendapatkannya lebih dulu. Untuk mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan padat telah diciptakan teknologi yang dapat membantu mengaksesnya. Teknologi ini kemudian dikenal dengan teknologi informasi (information technology), dan ilmu yang mempelajarinya disebut ilmu (teknologi) informasi. Dalam 40 tahun terakhir ini perkembangan teknologi informasi berjalan sangat pesat, khususunya 15 tahun terakhir. Salah satu mahakarya dari ilmu teknologi informasi adalah internet. Internet dimulai pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika membuat program ARPANET, yang setahun kemudian berhasil membuat 10 komputer yang saling dihubungkan, membentuk sebuah jaringan. Tahun 1972, Roy Tomlinson berhasil menyempurnakan program email yang ia ciptakan setahun yang lalu untuk ARPANET, dan sejak itu progam ini diperluas di beberapa universitas di Amerika Serikat. 26 Maret 1976, Ratu Inggris berhasil mengirimkan e-mail dari Royal Signals and Radar Establishment di Malvern.

3

Setahun kemudian, lebih dari 100 komputer yang bergabung di ARPANET membentuk sebuah jaringan atau network. Tahun 1992, komputer yang saling tersambung membentuk jaringan sudah melampaui sejuta komputer, dan di tahun yang sama muncul istilah “surfing the internetâ€. Tahun 1994, situs internet telah tumbuh menjadi 3.000 alamat halaman, dan untuk pertama kalinya virtual-shopping atau e-retail muncul di internet. Dunia telah merasakan pengaruh langsungdari internet. Di tahun yang sama Yahoo didirikan, yang juga sekaligus tahun kelahiran Netscape Navigator 1.0. Selain itu, Pizza Hut tercatat sebagai pionir yang menerima order pizza online. 1995 internet sudah menjadi jalur suara, gambar, bisa streaming sekaligus. Tahun 1996 transaksi perdagangan di internet sudah mencapai satu milyar dollar AS. Tahun 1997 situs internet sudah melewati 1,2 juta. Nama domain business.com mencapai rekor penjualan 150.000 dollar AS. Tahun 1998, situs internet tumbuh menjadi 4,2 juta, dan nama domain yang terdaftar sudah melewati angka dua juta. Tahun 1999 nama domain business.com terjual kembali 7,5 juta dollar AS. Tahun 2000 situs internet sudah melewati 21,1 juta (www.kompas.co.id). Di Indonesia, sejarah internet dimulai pada awal tahun 1990-an dengan jaringan internet yang lebih dikenal sebagai paguyuban network. Semangat kerjasama, kekeluargaan dan gotong royong sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya. Agak berbeda dengan suasana internet Indonesia hari ini yang terasa lebih komersial dan individual di sebagian aktifitasnya, terutama yang melibatkan perdagangan internet.2 RMS Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto merupakan beberapa nama-nama legendaris di awal pembangunan internet Indonesia (W. Purbo dalam http://gonti.bravehost.com). Sejarah internet identik dengan pendidikan, riset. Namun di Indonesia, sampai sekarang, internet identik dengan bisnis dan hiburan. Jadi, internet sebagai teknologi dapat digunakan sesuai kepentingan penggunanya. Budi Raharjo, pakar telematika dari ITB, dalam sebuah makalah diskusi (2001) memaparkan paling tidak ada tiga manfaat internet bagi pendidikan, yaitu: 1. Sebagai alat untuk mengakses ke sumber informasi. Sebelum adanya internet, masalah utama yang dihadapi oleh pendidikan (di seluruh dunia) adalah akses ke sumber informasi. Perpustakaan yang merupakan sumber informasi yang sayangnya dirasa tidak murah. Membeli buku dan jurnal harganya mahal. Adanya Internet memungkinkan mengakses kepada sumber informasi yang mulai tersedia banyak. Internet dapat dianggap sebagai sumber informasi yang sangat besar. Bidang apa pun yang Anda minati, pasti ada informasi di Internet. Contoh-contoh sumber informasi yang tersedia secara online antara lain: perpustakaan online, jurnal ilmiah online, dan kursus online.
Tulisan-tulisan tentang keberadaan jaringan Internet di Indonesia dapat di lihat di beberapa artikel di media cetak seperti KOMPAS berjudul "jaringan komputer biaya murah menggunakan radio" di akhir tahun 1990/awal 1991-an. Juga beberapa artikel pendek di Majalah Elektron Himpunan Mahsiswa Elektro ITB di tahun 1989-an.
2

4

2. Sebagai alat untuk mengakses ke pakar, Internet menghilangkan batas ruang dan waktu, sehingga memungkinan seorang siswa berkomunikasi dengan pakar di tempat lain. Seorang mahasiswa di Jakarta dapat berkonsultasi dengan dosen di Sydney, Australia atau di belehan dunia lain. 3. Sebagai media kerjasama. Kerjasama antara pihak-pihak yang terlibat dalam bidang pendidikan dapat terjadi dengan lebih mudah, efisien, dan lebih murah. Internet merupakan salah satu produk teknologi informasi yang dapat membantu kita meningkatkan taraf hidup melalui pendidikan. Peran sentral pendidikan telah dilakukan pesantren sejak lembaga ini didirikan, dengan menyampaikan pesan-pesan yang dapat menjadi tuntunan masyarakat. Kehadiran internet dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendukung pelaksanaan kegiatan di pesantren, dalam menyampaikan pesan-pesan mulianya. Sehingga, dalam masyarakat Indonesia yang sedang menikmati mahakarya teknologi informasi dan komunikasi ini (yang masih difungsikan sebagai hiburan ataupun bisnis), internet (dengan keterlibatan pesantren) menjadi sarana belajar, kembali kepada fungsi awalnya. Pesantren mau tak mau harus mengikuti perkembangan teknologi. Namun demikian, akses internet dirasakan masih mahal sampai sekarang ini, apalagi bagi kalangan pengelola pesantren. Sehingga, pesantren yang telah menjadi bagian budaya masyarakat, dan menyatu dalam masyarakat Islam di Indonesia, masih jarang yang mengakses internet secara leluasa. Perkembangan dunia yang semakin menyempit seolah juga menyempitkan gerak pesantren dengan kemapanan tradisinya. Penarikan dunia pesantren masuk ke dalam dunia teknologi ini ibaratnya seorang berkendaraan dengan menggunkan kendaraan sepeda dipaksa mengejar kereta api cepat: sangat sulit. Prasarana (infrastruktur) pesantren dengan perkembangan teknologi ICT akan dipaparkan dalam makalah ini lebih lanjut. Ada dua pembahasan dalam makalah ini, pertama infrastruktur ICT yang dimiliki pesantren, dan kedua arti penting ICT bagi dunia pendidikan, khususnya pesantren, termasuk pengaruh ketertinggalan yang dirasakan terhadap lembaga pendidikan yang tidak ber-ICT. Impian Mulia: Pendidikan di Pesantren berbasis ICT Di tengah kompleksitas persoalan sosial-budaya, politik, dan ekonomi negeri ini, sektor pendidikan sering menjadi bagian penting dari akar permasalahan. Repotnya lagi, pendidikan dijadikan komoditi dan pertaruhan berbagai kepentingan. Ibaratnya, sektor pendidikan sekarang ini seperti bus reot yang penuh penumpang, dan jika ada masalah di sektor apa pun, maka yang salah adalah adalah pendidikan. Padahal untuk meningkatkan pembangunan suatu bangsa critical mass di bidang pendidikan sangatlah penting. Sehingga, prosentase penduduk dengan tingkat pendidikan memadai untuk mendukung pembangunan ekonomi dan sosial sangat dibutuhkan. Dapat dipastikan, bangsa yang memiliki critical mass lebih banyak akan menciptakan kemakmuran, dan sebaliknya. Kemiskinan sebagai catatan kegagalan pembangunan ekonomi dan sosial bangsa yang berpangkal dari gagalnya pendidikan dapat diukur dari sudut pandang yang bermacam-macam. Ada yang dinyatakan lewat

5

pendapatan per kapita tahun, ada yang menyoroti dari aspek kesehatan, ada yang menyoroti dari tingkat kuantitas kejahatan dan kemaksiatan, dan tentu yang terpenting dengan menggunakan tolak ukur pendidikan. Pendidikan sebagai metoda yang efektif untuk mengukur kemiskinan, karena pendidikan menjadi faktor penggerak ekonomi, kesehatan dan berbagai aspek kehidupan lainnya yang menyangkut kehidupan manusia. Pendidikan juga merupakan metode yang tepat guna untuk mengangkat manusia dari lembah kemiskinan, karena kemampuannya (ability) dalam menghasilkan modal kerja otak (brain intensive). Modal otak diharapkan mengurangi kemiskinan, dengan meningkatkan investasi-investasi potensial bagi usaha manusia memerangi kemiskinan. Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Millenium Perserikatan BangsaBangsa (PBB) bulan September 2000 sebanyak 189 negara, yang sebagian besar diwakili oleh kepala pemerintahan, bersepakat untuk mengadopsi Deklarasi Millenium. Deklarasi yang yang berdasarkan pada pendekatan yang inklusif, dan berpijak pada perhatian bagi pemenuhan hak-hak dasar manusia pemerintah Republik Indonesia telah menandatangani, dan konsekuensi sebagai negara penandatangan kesepakatan yang kemudian dikenal dengan tujuan-tujuan pembangunan millenium (Millenium Development Goals [MDGs]) adalah pemerintah berkewajiban merealisasikan dan memantau perkembangan pencapaian MDGs di tingkat nasional. Setiap tujuan (goal) memiliki satu atau beberapa target. Dari delapan tujuan, sektor pendidikan menjadi pencapaian ke-dua. Target MDGs dalam bidang pendidikan adalah menjamin sampai tahun 2015 semua anak, di mana pun, laki-laki dan perempuan, dapat menyelesaikan sekolah dasar.3 Secara garis besar, pencapaian pendidikan nasional masih jauh dari harapan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Bahkan, pendidikan –menurut banyak kalangan- bukan hanya belum berhasil meningkatkan kecerdasan dan ketrampilan anak didik, malainkan gagal dalam membentuk karakter dan kepribadian (nation and character building). Pada tahun 2006, 50% remaja usia 15 tahun tidak sekolah atau drop out dari sekolah. 3% populasi muslim yang bisa meneruskan ke jenjang perguruan tinggi. Tidak meratanya akses pendidikan khususnya bagi daerah-daerah yang terbelakang baik secara ekonomi maupun sosial. Indonesia berkomitmen dalam memperluas dan meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya bagi mereka yang rentan dan tidak mampu (Education for All, Dakar Framework, 2000). Tak diragukan lagi, pesantren sebagai community-based education memiliki peran strategis dalam memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Delapan tujuan pembangunan millennium: 1. Mengurangi tingkat kemiskinan dan kelaparan yang parah; 2. Mencapai pendidikan dasar secara menyeluruh; 3. Mempromosikan kesetaraan jender dan memberdayakan perempuan; 4. Mengurangi tingkat kematian anak; 5. Mengingkatkan kesehatan ibu; 6. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lain; 7. Memastikan keberlanjutan lingkungan hidup; 8. Mengembangkan kemitraan global dalam pembangunan. Prasetijono Widjojo, dkk, Indonesia Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (Jakarta: Bappenas 2004), h. 1436.
3

6

Karena sejak awal berdirinya pesantren mempunyai fungsi edukatif (tashwifiyah), memberikan ilmu pada para santri, utamanya ilmu-ilmu agama. Dengan peran ini pesantren menjadi pusat (centre of excellence) bagi lahirnya guru-guru agama. Seiring perkembangan masyarakat, peran pesantren diharapkan merambah pada peran tahwiliyah, dengan melakukan perubahan dalam masyarakat, baik dari segi pola pikir, nilai dan kualitas lainnya. Pesantren harus responsif terhadap perubahan yang terjadi dalam masyarakat, termasuk cara menghadapi perubahan. Pada tahap selanjutnya, saat perubahan yang terjadi malah menghasilkan korban, maka pesantren dituntut berperan sebagai ta’yidiyah, dengan melakukan advokasi terhadap masyarakat korban. Dengan ketiga peran tersebut, pesantren akan sangat memberi kontribusi positif dalam membangun masyarakat (community building) (Sukerti dan Adib 2005:48). Sebagai sebuah general purpose technology, teknologi informasi dan komunikasi dapat dipergunakan dalam banyak bidang dan untuk memenuhi banyak macam kebutuhan. Peran teknologi informasi dan komunikasi yang sangat besar tersebut sebenarnya dapat dirumuskan dalam sejumlah peran fundamental yang sangat sederhana seperti diuraikan di bawah ini (Tim Penyusun, 2006:16-17). 1. Menyediakan akses dan mengorganisir informasi dan pengetahuan. Teknologi informasi dan komunikasi adalah teknologi yang memiliki kemampuan menakjubkan dalam mengorganisir data, informasi dan pengetahuan dalam jumlah besar secara cepat dan aman. Data yang telah diorganisir ini dapat diakses juga secara cepat dan aman. Data yang dikumpulkan dapat disebarkan kepada semua yang membutuhkan dengan menyediakan kemampuan akses yang cepat dan aman ke pusat-pusat data, informasi, dan pengetahuan yang telah tersedia sebagai hasil dari pengorganisasian data, informasi dan pengetahuan yang telah dilakukan dengan bantuan teknologi. Dengan memanfaatkan peran fundamental teknologi informasi dan komunikasi ini secara optimal akan sangat membantu dalam mempercepat pembelajaran, inovasi, serta penciptaan dan penyebaran pengetahuan kepada seluruh masyarakat dan pelaku usaha. Pembelajaran, inovasi, serta penciptaan pengetahuan adalah unsur-unsur pokok yang sangat dibutuhkan bagi peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa. 2. Mempercepat dan mereduksi biaya transaksi dan produksi. Kegiatan transaksi dan produksi yang dilakukan oleh tiap organisasi baik dalam kaitannya dengan internal organisasi maupun pihak eksternal sebagian besar adalah pekerjaan repetitif yang sudah baku. Dengan memasukkan komponen teknologi informasi dan komunikasi ke dalam sebagian besar peralatan produksi, transportasi, perbankan, asuransi memungkinkan untuk melakukan pencatatan dan pengendalian secara real time, mempercepat pelaksanaan transaksi, pembuatan dan penyesuaian rencana serta perbandingannya dengan realisasi. Dengan demikian permasalahan akan cepat dideteksi, diidentifikasi, dan diselesaikan. Pada akhirnya efisiensi dan produktivitas di segala sektor akan meningkat. Produktivitas bangsa adalah salah satu unsur yang sangat berperan dalam penentuan daya saing bangsa.

7

3. Membentuk hubungan langsung. Semua kegiatan yang dilakukan oleh satu organisasi akan berhubungan dengan pihak lain, baik itu pelanggan, mitra kerja, unit pemerintah, maupun karyawannya. Teknologi informasi dan komunikasi memiliki kemampuan menghubungkan berbagai pihak sedemikian hingga mereka tetap dapat berhubungan walaupun secara fisik terpisah dalam jarak yang jauh. Dengan terbentuknya hubungan ini, kegiatan kolaborasi, partisipasi, koordinasi, bahkan pemberdayaan dan desentralisasi dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Melalui teknologi informasi dan komunikasi sinergi antar masing-masing pihak yang terhubung akan terbentuk yang saling menguntungkan bagi semuanya. Tidak perlu lagi terjadi kegiatan yang redundant, dan banyak proses dapat di eliminasi dengan memanfaatkan kemampuan teknologi untuk membentuk hubungan langsung semacam ini. Dari uraian tentang peran fundamental teknologi informasi dan komunikasi di atas, terlihat bahwa teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk tiga macam tujuan utama yang sangat diperlukan untuk mencapai kemandirian dan daya saing bangsa yang sangat diharapkan dalam percaturan global (Tim Penyusun, 2006:17-18), yaitu: 1. Teknologi informasi dan komunikasi dapat dipergunakan untuk meningkatkan kemampuan berinovasi dengan cara menyediakan kandungan-kandungan informasi yang tertata rapi dan mudah diakses, dicari, dan ditelusuri oleh semua pihak yang membutuhkan. 2. Teknologi informasi dan komunikasi dapat dipergunakan untuk meningkatkan produktivitas dengan cara menyediakan sistem-sistem aplikasi berbasis teknologi yang dapat melakukan pengolahan secara otomatis dan real time baik pada tingkatan transaksional, operasional, dan manajerial termasuk pengambilan keputusan. 3. Teknologi informasi dan komunikasi dapat dipergunakan untuk menumbuhkan sinergi antar stakeholder yang terkait dengan suatu organisasi atau negara. Sinergi tersebut terbentuk dengan cara menyediakan hubungan langsung antar mereka melalui sebuah infrastruktur informasi yang disiapkan untuk menjangkau semua elemen bangsa yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia dengan biaya terjangkau. Dengan demikian mereka memperoleh kesempatan yang sama dalam memperoleh informasi dan dapat saling bekerjasama dengan lebih erat dan lebih cepat. Berdasarkan peran fundamental teknologi informasi dan komunikasi di atas terlihat besarnya manfaat teknologi ini dalam penciptaan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya daya saing dan kemandirian bangsa melalui kemampuannya untuk meningkatkan kemampuan berinovasi, meningkatkan produktivitas, dan membentuk sinergi antar stakeholder negara demi tercapainya persatuan, kestabilan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Munculnya teknologi informasi dan komunikasi, dengan internet telah membuat tren baru penggunaan kata electronic, yaitu dengan memberi imbuhan e pada setiap kata. Istilah-istilah yang popular antara lain electronic commerce atau e-commerce, e-

8

business, e-mail, e-learning, e-government, e-security, e-procurement, e-book, dan lain-lain. Penggunaan internet yang telah digunakan hampir semua sektor kehidupan ini tidak menutup kemungkinan dimanfaatkan oleh pesantren, dalam proses belajar mengajarnya maupun kegiatan dakwah lainnya.4 Pesantren dengan fasilitas internet akan semakin menguatkan lembaga pendidikan tradisional Islam dalam menghadapi tantangan jaman, yang memungkinkan pesantren dapat menjadi rumah pendidikan bagi ummat manusia, yang didukung oleh instansi terkait yang bersih dengan kebijakan dan peraturan-peraturan yang mendukung pengentasan kemiskinan dan meningkatkan harkat pendidikan di tanah air. Pendidikan, pembelajaran di pesantren yang selama ini telah berjalan nampaknya masih minim menggunakan fasilitas perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga kesan yang muncul dari pembelajaran yang diselenggarakan adalah membosankan, tidak inovatif, stagnan, tidak ada yang baru, dan tidak menarik. Padahal, tidak disangsikan lagi, materi-materi yang disamgpaikan dalam proses belajar-mengajar di pesantren sangat bagus, namun jika tidak melibatkan teknologi yang ada, yang sangat bagus itu menjadi biasa-biasa saja. Nampaknya, telah terjadi kesenjangan mendapatkan informasi (digital divide) di Indonesia dikarenakan terbatasnya sarana dan prasarana untuk mengakses informasi. Kesenjangan ini terjadi karena terbatasnya kemampuan finansial dan teknis bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Harga peralatan dan biaya operasional yang tinggi menjadikan peralatan ini menjadi barang mewah. Di samping itu kemampuan teknis yang pada umumnya masih rendah menyebabkan akses kepada sumber informasi merupakan kegiatan yang sangat rumit sehingga mereka belum dapat merasakan manfaatnya dan belum tahu bagaimana cara mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dengan cepat, mudah dan murah. Hal ini menyebabkan penyebaran informasi tidak dapat merata. Mereka yang memiliki kemampuan finansial tinggi dan berpendidikan tinggi menjadi diuntungkan dengan ketersediaan informasi tersebut. Sebaliknya, yang berpenghasilan dan berpendidikan rendah tidak merasakan manfaatnya era keterbukaan dan globalisasi seperti sekarang ini. Akibatnya, jurang antara keduanya menjadi makin besar. Kesempatan dan peluang akan direbut terlebih dahulu oleh mereka yang finansial dan pendidikannya mencukupi.
4

Sebagai contoh NyantriOnline yang merupakan salah satu bentuk dari interactive distance learning yang terintegrasi dalam PesantrenOnline.Com, yang diselenggarakan oleh Jaringan Komunikasi Pendidikan TelkomNet yang memfokuskan pada studi wawasan ke-Islam-an seperti layaknya di pondok pesantren. Pada program ini santri tidak perlu datang ke suatu tempat untuk mengikuti pengajian/pengkajian wawasan ke-Islam-an secara langsung, tetapi dapat belajar dan mengakses pokok bahasan dan materinya dari berbagai tempat dan waktu. Materi belajar akan diberikan dalam web site PesantrenOnline ini dalam bentuk paparan makalah dalam bentuk text yang dapat langsung diakses dan akan dikirim ke e-mail masing-masing anggota (santri online) dan dalam bentuk video hasil rekaman pengasuh program/pakar yang dapat didownload oleh santri. Dan pada waktu tertentu akan di selenggarakan pengkajian tentang materi yang bersangkutan secara langsung dengan pakar/pengasuh terkait, melalui chatting dan teleconverence di PesantrenOnline.Com (Nyantri Online - 1/28/2005).

9

Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah penyediaan sarana dan fasilitas, yang biasa disebut community access point mutlak diperlukan. Dengan fasilitas ini masyarakat yang tidak memiliki kemampuan finansial dan teknis yang memadai tetap dapat memperoleh akses kepada sumber informasi melalui fasilitas tersebut dan bantuan operator yang disediakan khusus untuk pengoperasian peralatannya. Mengingat masih banyaknya penduduk yang tidak memiliki kemampuan finansial dan teknis yang cukup, kebutuhan akan community access point ini adalah sangat banyak dan dana yang diperlukan pemerintah untuk itu adalah sangat besar disebabkan mahalnya harga peralatan dan biaya operasionalnya. Disamping itu kondisi geografis ?>Indonesia yang terdiri dari banyak pulau tanpa fasilitas listrik dan telpon yang dan sangat luas juga menghambat penyebaran sarana community access point (Tim Penyusun 2006:44). Dua Hal yang Belum Menyatu: Infrastruktur ICT dan Pesantren Bidang Teknologi Informasi memberi prospek pada bangsa Indonesia yang tengah dilanda krisis ekonomi untuk segera usai. Dua aspek penting dalam pengembangan pesanten yang berhubungan dengan teknologi informasi adalah infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM). Selain kedua aspek tersebut, tentunya masih banyak aspek lain diantaranya finansial. Namun, lemahnya infrastruktur dan kelangkaan SDM merupakan penyebab utama lambannya pengembangan ICT di sebuah lembaga. Sub-bab ini akan menitikberatkan pembahasan infrastruktur ICT di pesantrenpesantren tempat penelitian. ICT (information and communication technology) atau teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah sebuah peralatan yang mampu menghubungkan dan menggabungkan beberapa titik komunikasi menjadi satu kesatuan yang mampu berinteraksi antara satu dengan lainnya. Adapun infrastruktur dalam teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang sampai saat ini antara lain: 1. Telephone (Alat komunikasi dua arah yang memungkinkan 2 orang atau lebih untuk bercakap-cakap tanpa terbatas jarak). 2. ISDN (Integrated Service Digital Network) jaringan komunikasi khusus yang menggunakan jaringan telepon yang tidak hanya meproses suara, tetapi juga mampu menangani penyimpanan data berupa teks, gambar, video, faksimili, dan sebagainya. 3. Facsimile (Alat yang mampu mengirimkan dokumen secara persis sama melalui jaringan telepon). 4. Fiber Optic (Jaringan komunikasi yang mampu mentransmisikan data dalam frekuensi tinggi. Dalam jaringan ini jalur komunikasi tidak menggunakan kawat tembaga tetapi menggunakan cahaya sebagai penghantar datanya). 5. Leased Line (Jaringan telepon tetap yang menghubungkan dua tempat atau lebih). Jaringan ini tidak mempunyai alat pengalih (switching) atau sejenisnya, jaringan ini bekerja diantara tempat-tempat yang dihubungkan tersebut secara spesifik atau yang sudah ditentukan. Jaringan ini dikenal juga dengan sebutan Private Line.

10

6. Wireless (Jaringan komunikasi nir kabel, jaringan komunikasi yang menggunakan gelombang radio/frekuensi tertentu yang berfungsi sebagai penghantar informasi. Jaringan komunikasi ini menggunakan alat pemancar, penguat, dan penerima gelombang yang berisi data tersebut). 7. Jaringan Komunikasi dengan Satelit (Jaringan komunikasi tanpa kabel yang menggunakan satelit yang berfungsi sebagai pemancar, penerima dan penguat. Sistem komunikasi ini menggunakan gelombang sebagai penghantar datanya). 8. Antena (Alat yang digunakan untuk memancarkan dan menerima komunikasi radio). 9. TV dan Radio (Alat penyampaian Informasi (Mass Media) yang menggunakan gelombang sebagai penghantar sinyal suara dan gambar. 10.Komunikasi Seluler (Komunikasi yang menggunakan transmisi radio untuk mengirimkan sinyal informasi, alat tersebut lebih dikenal dengan nama Hand Phone). 11. Net tools, meliputi a. Server, yaitu sebuah komputer yang bekerja sebagai penyedia data, penyedia software dan penyimpanan data. Bahkan sebuah server mampu mengatur jalur informasi dalam jaringan yang diaturnya; b. Client, yaitu ebuah PC dalam sebuah jaringan komunikasi yang mempunyai kemampuan memproses data dan mampu meminta informasi kepada server; c. Router, yaitu alat yang digunakan dalam jaringan yang mampu mengirimkan data kepada jaringan lainnya melalui jalur yang lebih cepat, tepat dan efisien.; d. Modem, yaitu modulator / Demodulator, alat yang memungkinkan PC, Mini Komputer, atau Mainframe untuk menerima dan mengirim data dalam bentuk digital melalui saluran telephon. ICT membawa pendekatan baru dalam dunia pendidikan dengan menyediakan alternatif pola pembelajaran, dengan mengefektikan ruang, waktu dan struktur fisik. Teknologi-tekonologi itu membuat pembelajar lebih mudah berinteraksi dan memperpendek jarak geografi antarpembelajar, baik di tingkat nasional maupun internasional (Haddad dan Drexler, 2000 dalam World Bank, 2005:111). Untuk melihat infrastruktur ICT di pesantren, ada 8 tempat (5 provinsi di Jawa) yang menjadi obyek studi yang berlangsung selama 2 (dua) bulan, April-Mei 2007. Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap berdasar pengelompokan narasumber, yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari 6 orang (1 koordinator, 1 staf administrasi, dan 4 staf peneliti). Tahap pertama penelitian ini dilakukan di instansi-instansi pemerintah terkait, yaitu: di Kantor Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten/Kota, Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota, Kantor Kelurahan/Desa, dan Kantor Kecamatan. Tahap kedua penelitian dilakukan di lingkungan pesantren. Tahap ketiga penelitian dilakukan di lingkungan masyarakat setempat pesantren. Dalam mencari data-data yang dibutuhkan, dalam studi ini dilakukan dengan tiga cara, yaitu: studi pencarian dokumen tertulis, wawancara, dan pengamatan langsung. Adapun pesantren yang diteliti yaitu: PP. Raudhatul Falah, Rembang, Jawa Tengah;PP. Hasyim Asyâari, Jepara, Jawa Tengah;PP. Nurul Islam, Jember, Jawa Timur;PP. Nurul Jadid, Probolinggo, Jawa Timur; PP. Al-Mizan, Majalengka, Jawa Barat; PP. Mifthaul Huda Al-Musri, Cianjur, Jawa Barat; PP. An-Nizhommiyah,

11

Pandenglang, Banten; dan PP. Al-Kennaniyah, Jakarta Timur, DKI Jakarta. Pemilihan kabupaten/kota pesantren berada didasari pada tingginya angka kemiskinan, kesejahteraan masyarakat, dan rendahnya angka partisipasi anak sekolah di setiap masing-masing provinsi. Untuk mengetahui angka kemiskinan, kesejahteraan, dan angka partisipasi sekolah didapati dari data Badan Pusat Statistik tahun 2000-2006. Di Provinsi Jawa Tengah ada dua kabupaten yang menjadi obyek penelitian, yaitu: Rembang dan Jepara.5 Secara umum, daerah-daerah di Rembang yang bukan masuk di kota kondisi perekonomiannya rata-rata di bawah angka kemiskinan. Sehingga, fasilitas publik yang ada kurang memadai. Namun demikian, di Kecamatan Pamotan mayoritas desa-desa yang ada di bawah administrasinya sudah terpasang listrik, termasuk di Pesantren Raudhatul Falah dusun Jumput, desa Sidorejo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Jepara. Sementara itu, keberadaan warung telekomunikasi (wartel), di desa Kecamatan Pamotan sangat jarang, karena jaringan telpon harus menyambung kabel yang jaraknya sangat jauh. Untuk itu, dalam berkomunikasi jarak jauh warga setempat lebih menggunakan handpone. Karena jaringan telpon masih sedikit, sehingga warung internet di Kecamatan Pamotan tidak ada. Infrastruktur ICT yang ada di desa Sidorejo dan di lingkungan pesantren cukup memadai, diantaranya: jaringan listrik, jaringan telpon, gedung sekolah, sarana untuk belajar dan kegiatan lainnya, dan masih ada gedung kosong yang memungkinkan sekali dijadikan ruang komputer dan dipasangi internet. Dengan kondisi perekonomian yang baik dan fasilitas publik yang relatif lengkap, maka soal akses teknologi komunikasi bukan yang sulit bagi masyarakat Bangsri, Jepara. Hampir semua rumah di Bangsri memunyai telpon, dan wartel juga sangat banyak terlihat di berbagai tempat. Listrik juga bukan hal yang sulit bagi daerah ini, meski masih ada sebagian kecil wilayah desa yang bisa mengakses. Daerah yang belum teraliri jaringan telpon karena wilayahnya dekat dengan hutan dan agak susah terjangkau oleh listrik yang sudah menyebar rata di perkotaan. Warung internet di Bangsri belum ada. Masyarakat di sini jika ingin memakai internet dengan menggunakan dial up, lewat telkomnet istan yang biayanya masih mahal. Namun, pilihan itu lebih hemat, daripada harus pergi ke kota Jepara yang jaraknya 17 km. Infrastruktur ICT di Pondok Pesantren Hasyim Asyaâri, desa Bangsri dan cukup memadai. Desa itu telah teraliri dengan listrik dan tidak ada hambatan dalam masalah air. Sebagai sebuah pesantren yang paling tua di Kecamatan Bangsri, Hasyim Asya’ri memiliki infrastruktur lain untuk ITC: jaringan telpon, gedung, aula, tempat pembelajaran, dan fasilitas yang umumnya hanya dimiliki oleh sekolah yang maju. Pesantren ini selain memiliki gedung sekolah dan madrasah, MTs dan MA yang sangat maju. PAUD Averoes juga menjadi bagian dari pesantren ini. Sarana prasarana yang dimiliki pesantren ini adalah: gedung madrasah dan pesantren,
Informasi tentang infrastruktur ICT di Provinsi Jawa Tengah ini diambil dari laporan needs assessment Distance Learning for Islamic Society Transformation through Pesantren yang dilakukan dan ditulis oleh Ahmad Fuad Fanani (ICIP-Ford Foundation April-Mei 2007).
5

12

perpustakaan 3 lokal dengan jumlah buku 15.329, laboratorium bahasa 2 lokal dengan kapasitas 60 unit komputer, laboratorium komputer 2 lokal dengan kapasitas 30 unit komputer, 2 laboratorium IPA, koperasi pondok pesantren, serta lapangan olahraga tenis meja, basket, dan bola volly. Secara terperinci, infrastruktur yang dimiliki oleh pondok pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri adalah sebagai berikut: untuk tingkat MTs adalah: ruang kelas, ruang kepala, ruang TU, ruang guru, ruang BP, ruang Laboratorium Komputer dengan perangkatnya, Ruang Laboratorium Bahasa dengan perangkatnya, ruang Laboratorium IPA dengan perangkatnya, ruang OSIS, ruang OPS dan IPNU-IPPNU, kantin, koperasi, perpustakaan, dan mushola/masjid. Untuk tingkat Madrasah Aliyah adalah: ruang kelas berjumlah 17 lokal, ruang Kepala Madrasah, ruang guru, ruang perpustakaan, ruang serbaguna (aula), ruang UKS, ruang OSIS, ruang BK, ruang Foto Copy, Gudang, Masjid/Mushola, kantin 2 buah, Laboratorium komputer, laboratorium IPA, laboratorium Bahasa, WC guru 2, WC Murid 6, Komputer 40 buah, OHP 2 buah, sound system 17 buah, ampliplayer 3, tape recorder 2, Televisi 1. sedangkan untuk perlengkapan Tata Usaha ada: 1 mesin ketik biasa, 3 komputer, 3 printer, 3 kalkulator, 1 mesin stensil, 1 mesin foto copy. Penggunaan ICT dalam kegiatan belajar dan mengajar di pesantren ini juga sudah berjalan sangat intensif. Misalnya, dengan laboratorium komputer yang ada, bisa dipastikan tiap hari terisi penuh. Para guru dan siswa/santri di pesantren ini juga terbiasa dengan pencarian informasi melalui akses TV, koran, dan internet di Jepara. Untuk koran, mereka berlangganan Kompas dan Suara Merdeka yang dipasang di mading sekolah. Sehingga, para siswa dan guru tiap hari bisa mendapatkan informasi dan wawasan baru tentang berbagai hal. Penggunaan media belajar melalui TV juga merupakan salah satu bentuk media yang selama ini dipakai. Bahkan, dengan bantuan TV dari Diknas Jepara ke tiap sekolah, mereka sangat aktif menggunakannya dalam pembelajaran mata kuliah tertentu. Untuk VCD, mereka menggunakannya dalam memberikan mata pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Matematika, dan IPS. Laboratorium Bahasa juga aktif digunakan, bahkan untuk Kelas III MTs mulai intensif menggunakan laboratorium untuk bahasa Inggris dan Arab. Laboratorium IPA, karena keterbatasan tempat, biasanya untuk praktek di bawa ke kelas masingmasing. Dua kabupaten di Jawa Timur yang menjadi obyek penelitian ini: Jember dan Probolinggo.6 Di Jember pesantren yang menjadi obyek penelitian adalah Nurul Islam. Pondok Pesantren Nuris terletak di Kelurahan Antirogo,124 Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember. Infrastruktur yang dimiliki pesantren ini yaitu: ruang laboraorium komputer, jaringan telepon, 20 buah komputer, mesin faks, 3 OHP, 1 LCD proyektor, 1 komputer portable, 2 VCD player, 3 televisi, 3 printer. Jumlah santri Ponpes NURIS: 156 laki-laki, 175 perempuan dengan jumlah total
Informasi tentang infrastruktur ICT di Provinsi Jawa Tengah ini diambil dari Laporan Need Assessment: Distance Learning for Islamic Society Transformation through Pesantren yang dilakukan dan ditulis oleh M. Shofan (ICIP-Ford Foundation April-Mei 2007).
6

13

Sementara itu, di Probolinggo, pesantren yang menjadi obyek penelitian adalah Nurul Jadid. Pesantren ini memiliki sejumlah gedung sekolah dan madrasah. Sekolah terdiri dari lembaga pendidikan klasikal yang memiliki afiliasi ke Diknas dan Depag. Selain itu PP Nurul Jadid juga memiliki lembaga diniyyah dengan kurikulum yang mandiri. Disebut mandiri karena penyusunan kurikulumnya menjadi hak penuh dari pengelola pesantren. Lembaga pendidikan Nurul Jadid berafiliasi pada dua jalur yaitu Depag yang di antaranya adalah TK dan RA, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan Institute Agama Islam (IAI). Sedangkan yang berafiliasi pada diknas antara lain adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Tinggi Teknologi (STT). Lembaga sekolah terebut di atas tidak seluruhnya bertempat di dalam pesantren. Akan tetapi, ada sebagian yang lain berada di luar pesantren. Lembaga yang ada di luar pesantren merupakan salah satu kepedulian pesantren pada masyarakat sekitar yang memang membutuhkan berdirinya pendidikan sebagai tempat belajar bagi putera-puteri masyarakat. Hingga saat ini ada dua desa yang ada lembaga pendidikannya, yaitu desa Grinting dan Randu Merak. Boleh dikatakan, infrastruktur ICT di Pondok Pesantren Nurul Jadid sangat memadai. Sarana prasarana yang dimiliki pesantren ini adalah: gedung madrasah dan pesantren, laboratorium IPA, Laboratorium Komputer, Laboratorium Komputer dengan sistem LAN dan PC, Laboratorium Bahasa, Laboratorium Aplikasi Perkantoran, Laboratorium Multimedia, Laboratorium Perakitan dan Jaringan, Laboratorium Internet, Ruang Audio Visual, Perpustakaan, Perpustakaan Digital, Sistem Informasi Sekolah Online, Skill of english comunication, Sanggar Pengembangan Potensi Siswa, Sarana Olahraga, KOPSIS dan fasilitas-fasilitas lainnya yang umumnya hanya dimiliki oleh sekolah yang maju. Di Jawa Barat dua kabupaten yang menjadi obyek penelitian adalah: Majalengka dan Cianjur.7 Kabupaten Majalengka terkenal sebagai kabupaten penghasil genteng, terutama di Kecamatan Jatiwangi. Dari sisi kesejahteraan, melihat data yang diperoleh oleh BPS (Badan Pusat Statistik), dari pengeluaran rata-rata per-kapita sebulan, kesejahteraan kabupaten Majalengka adalah yang ke-dua terendah setelah Tasikmalaya. Pengeluaran rata-rata perkapita sebulan kabupaten Majalengka adalah Rp. 172.196,00. Sedangkan kabupaten Tasikmalaya adalah Rp. 154.892,00. Di sisi lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang merupakan akumulasi dari Indeks Kesehatan, Pendidikan dan Ekonomi, Kabupaten Majalengka menunjukan bahwa angka IPM Kabupaten tersebut menempati urutan keempat terendah di Jawa Barat yaitu sebesar 66,9. Angka ini lebih besar dari Kabupaten Cianjur yang IPM-nya 66,8 (BPS Jawa Barat, 2006). Angka-angka tersebut didukung dengan realitas fisik yang tampak di Majalengka. Meski Majalengka adalah wilayah perlintasan selatan menuju Jawa Tengah, akan tetapi hal tersebut sepertinya tidak menjadikan kota Majalengka
Informasi tentang infrastruktur ICT di Provinsi Jawa Tengah ini diambil dari Laporan Need Assessment: Distance Learning Program for Islamic Society Transformation through Pesantren yang dilakukan dan ditulis oleh Windy Triana (ICIP-Ford Foundation April-Mei 2007).
7

14

berkembang pesat secara fisik seperti daerah-daerah lain. Gedung-gedung tinggi tidak ditemukan di sini termasuk juga mall-mall. Pesantren Al-Mizan, Desa Coborelang, Kecamatan Jatiwangi, yang memiliki fasilitas ICT yang kurang memadai untuk pelaksanaan proses belajar mengajar. Infrastruktur yang dimiliki pesantren saat ini berupa komputer sejumlah 3 unit dan satu stasiun radion. Untuk belajar komputer, dari sekian banyak santri, hanya terdapat 2 unit komputer yang bisa digunakan untuk belajar. Satu unit untuk MTs dan 1 unit untuk SMA Sehingga, pembelajaran yang dilaksanaan belum dapat maksimal. Selain itu, pesantren belum memiliki fasilitas internet yang dapat diakses oleh santri. Untuk dapat mengakses internet, santri harus ke kota Majalengka, yang jarak tempuhnya mencapai kurang lebih 30 menit. Tentu saja ini menjadi tidak efektif dari segi waktu dan uang. Untuk pemasangan jaringan internet di pesantren al-Mizan memiliki infrastruktur pendukung, berupa ruangan, jaringan listrik, jaringan telepon, komputer sebanyak 3 unit dan antena pemancar radio. Wilayah Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, termasuk perkotaan. Pesantren yang menjadi obyek penelitian Miftahul Huda al Musri berlokasi di Desa Kertajaya yang berbatasan dengan Desa Sindang Jaya. Akses transportasi mudah, mengingat wilayah ini adalah perlintasan menuju ibu kota Propinsi Jawa Barat. Letak pondok pesantren Miftahul Huda al-Musri sendiri hanya 4 km dari Kecamatan Ciranjang yang dapat ditempuh selama 10 menit menggunakan kendaraan. Dengan dukungan lokasi yang tidak terpencil ini, jaringan listrik dan telepon yang dimiliki pesantren sangat memadai untuk instalasi ICT. Bahkan pesantren sudah menambah daya listrik sebesar 1300 watt. Untuk jaringan telepon, di pesantren sudah tersedia empat jaringan telepon yang berada di 4 rumah pengasuh dan ustad pesantren. Akan tetapi untuk mesin fax, berhubung mesin fax jarang sekali digunakan, maka pesantren memasangnya hanya bila dibutuhkan saja. Akses internet baru dilakukan di warnet yang terletak di kota Cianjur yang jarak tempuhnya mencapai 40 menit dengan kendaraan umum dan 30 menit dengan kendaraan pribadi. Di Ciranjang belum ada warnet. Dulu memang pernah ada warnet di pasar Ciranjang, tetapi buka sebentar, karena mungkin kurang peminat. Pesantren ini memiliki 5 unit komputer yang tersebar di beberapa tempat seperti rumah pengasuh, kantor pengurus santri putra dan kantor pengurus santri putri. Karena terbatasnya sarana yang dimiliki oleh komputer, maka pendidikan komputer hanya diperuktukan bagi santri yang mau saja. Dari pengalaman pesantren, tampaknya animo santri terhadap pembelajaran komputer cukup tinggi. Prasarana lain berupa bangunan, jaringan listrik dan jaringan telpon. Di Provinsi DKI Jakarta, Kota Jakarta Timur yang memunyai angka kemiskinan yang tinggi menjadi pilihan tempat studi, dan pesantren yang diteliti Al-Kenaniyah.8 Di
Informasi tentang infrastruktur ICT di Provinsi Jawa Tengah ini diambil dari Laporan Need Assessment: Distance Learning Program for Islamic So(ICIP-Ford Foundation April-Mei 2007).ciety Transformation through Pesantren yang dilakukan dan ditulis oleh Radjimo Sastro Wijono (Jakarta: ICIP & Ford Foundation).
8

15

Jakarta, khususnya Jakarta Timur urbanisasi memang menjadi masalah yang merisaukan. Namun, yang lebih merisaukan adalah proses pemiskinan yang cenderung berjalan tanpa henti, baik di desa dan di kota. Hal ini akan membawa masyarakat akan kesusahan hidup di desa, lalu pindah ke kota tetapi mereka tetap saja miskin. Walaupun demikian kondisinya, kota Jakarta tetap menjadi masa depan masyarakat, kesempitan dan kesempatan dicari di celah-celah gemerlapnya Jakarta. Tak aneh, di Jakarta profesi masyarakat semakin beragam. Dalam gemerlap dan di tengah pusat penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, Pesantren Al-Kenaniyah memiliki infrastruktur ICT yang minim. Pesantren perempuan yang santrinya telah memenuhi daya tampung ruang kamar (150-an) di bawah yayasan Al-Kenaniyah memiliki infrastruktur ICT yaitu: jaringan telepon, jaringan listrik ada empat meteran (untuk Madrasah Ibtidaiyah, Madrasa Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan untuk Pondok pesantren), Perangkat komputer (salah satu madrasah di yayasan ini memiliki laboratorium komputer yang dimanfaatkan proses belajar mengajar audio-visual. Jumlahnya ada 20 unit. Bahkan, dulunya laboratorium komputer ini pernah online untuk jaringan internet, namun karena penggunaan sering melebihi kapasitas, yang mengakibatkan tagihan listrik naik, sehingga pengelola pesantren memutuskan jaringan telpon untuk internet), ruangan (yang hampir semuanya telah dimanfaatkan). Di Provinsi Banten, pesantren yang menjadi obyek penelitian ini terletak di ujung barat pulau Jawa, Pesantren An-Nizhomiyyah.9 Secara administratif Pesantren AnNizhomiyyah masuk wilayah Desa Sukamaju, Labuan, yang terletak di perbatasan daerah pantai dan pegunungan di Kabupaten Pandeglang. Hasil pembangunan di Banten seolah memisahkan dua daerah yang kesenjangannya sangat besar: Banten utara tampak gemerlap, Banten selatan nampak redup. Kemiskinan dan ketertinggalan tercium dari desa-desa di Kecamatan Cimaraga, Muncang, Cipanas, Cikulur, Bojongmanik di Kabupaten Lebak. Kondisi yang hampir sama dijumpai di desa-desa di Kecamatan Angsana, Pagelaran, Cigelulis, Cikeusik, dan Panimbang di Kabupaten Lebak. Akses terhadap listrik di Kabupaten Pandeglang masih tidak merata. Misalnya di di Desa Sukaresmi, Kubangkampil, dan Cikuya, Kecamatan Sukaresmi, sebanyak 3.996 kepala keluarga (KK) yang bermukim hingga kini belum menikmati listrik. Desa Kubangkampil yang paling banyak, yakni sekitar 1.200 KK. Sementara sisanya berada di desa-desa lain, seperti Desa Sukaresmi, Cikuya, Cibungur, dan beberapa desa lainnya. Dari dulu daerah ini belum pernah tersentuh prolisdes. Mereka terpaksa menggunakan lampu cempor dan petromak sebagai penerangan di malam hari. Akibatnya, sumber daya manusia (SDM) ketiga desa itu masih rendah karena tak ada informasi yang bisa diakses dari media elektronik. Belum adanya listrik juga

Informasi tentang infrastruktur ICT di Provinsi Jawa Tengah ini diambil dari Laporan Need Assessment: Distance Learning Program for Islamic Society Transformation through Pesantren yang dilakukan dan ditulis oleh Radjimo Sastro Wijono (ICIP-Ford Foundation April-Mei 2007).

9

16

mengakibatkan masyarakat kurang memerhatikan pendidikan anak (Radar Banten, 29 Maret 2007). Boleh dikatakan infrastruktur ICT di pesantren An-Nizhomiyyah, Pandeglang, Banten ini terbatas. Adapun infrastruktur yang dimiliki pesantren yaitu: jaringan telepon, jaringan listrik ada tiga meteran (Madrasah, untuk Pondok pesantren, dan untuk sekolah TK), perangkat komputer di pesantren ini hanya terdapat pada madrasah yang berjumlah satu unit, dan pesawat radio dan televisi. Prasana yang dimiliki pesantren dengan perkembangan teknologi informasi dan teknologi terlihat sangat jauh jaraknya. Pemilahan pondok pesantren pada dua kategori: tradisional dan modern, untuk mengatogorikan pesantren di delapan wilayah penelitian ini rasanya tidak ada yang pas. Pesantren tradisional yang hanya mempelajari ilmu-ilmu agama (salafiyah); Pesantren modern yang selain mempelajari ilmu agama juga mempelajari ilmu umum, dalam bentuk madrasah. Mungkin lebih tepatnya, pesantren ini merupakan perpaduan diantara keduanya. Perkembangan teknologi perangkat keras, perangkat lunak, dan teknologi informasi berjalan sangat pesat. Kondisi ini menjadikan life cycle teknologi semakin singkat, dan mudah menjadi kaduluarsa. Hal ini menjadikan pesantren yang memiliki kekuatan finansial pas-pasan belum menjadikan infrastruktur ICT sebagai prioritas utama. Untuk menyikapi perkembangan teknologi yang susah ditandingi dengan kondisi keuangan yang pas-pasan, pengelola pesantren di mengambil sikap yang penting ada dan dapat dimanfaatkan untuk kelancaran program pesantren. Padahal tidak semua prasana ICT mahal. Mahalnya ICT karena telah menjadi komoditi bisnis yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar. Di Indonesia, pemanfaatan potensi ICT untuk membantu upaya mengurangi kemiskinan masih sangat langka. Di beberapa negara ICT terbukti berhasil membantu secara efektif upaya-upaya mengurangi kemiskinan dinegara-negara yang sedang berkembang, seperti Peru, Cina, Kepulauan Solomon, Zimbabwe, dan India. Pengalaman-pengalaman dan pelajaran yang diperoleh dari usaha serupa di tempat lain menunjukkan bahwa ICT efektif bila digunakan sebagai alat untuk pembangunan, menunjang strategi-strategi pembangunan yang telah dilaksanakan atau akan disusun, daripada jika ICT diharapkan sebagai buah atau hasil pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu, strategi ICT menawarkan jurus-jurus tambahan untuk melengkapi teknologi yang diterapkan, agar dapat lebih menjamin keefektifannya dalam melawan kemiskinan. Hasil optimum ICT akan diperoleh jika teknologi tersebut ditanamkan dalam strategi pembangunan yang terjabarkan secara jitu. Jika tidak demikian, ICT hanya akan merupakan pemecahan yang bermasalah, dan dampaknya pasti kurang (Agung _____:3). Kesimpulan: Menuju Pesantren ber-ITK &/ICT Pesantren di Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang, dan perannya tak dapat dianggap remeh terhadap perkembangan Islam di nusantara, bahkan di dunia. Sehingga, situasi lembaga pesantren harus dilihat dalam hubungannya dengan

17

perkembangan Islam dan dunia dalam jangka panjang, baik di Indonesia maupun di negeri-negeri Islam lainnya. Dan, perkembangan itu terus berlangsung. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren dapat dipandang sebagai tempat yang khusus. Dan, untuk memahaminya kita dapat menjelaskannya dari unsur-unsur yang mendominasinya. Adapun yang dapat dianggap sebagai unsur utama pesantren: pondok (asrama), masjid, santri, sistem pengajaran, kiai, hubungan dengan dunia luar (baik dengan lingkungan sekitar maupun dengan lingkungan lebih luas), manajemen pesantren, dan unsur-unsur lainnya. Perkembangan jaman menuntut pesantren terbuka, dan masuk dalam era informasi yang serba cepat. Namun sayang, untuk menjadikan infrastruktur ICT yang memadai sebagai unsur-unsur dalam pesantren saat ini masih kerepotan, karena keterbatasan sumberdana yang dimilikinya. Hal ini wajar, karena teknologi informasi dan komunikasi masih sangat mahal: ICT masih menjadi barang mewah. Ditinjau dari nama saja prasarana-prasarana teknologi ini kelihatan mahal, masih populer dengan menggunakan bahasa asing: ICT (information and communication technology). Pesantren dan infrastrukur ICT sekarang ini bagaikan dua hal yang tidak ada kaitannya, belum menjadi sebuah satu kesatuan. Kesan ini sangat terasa jika kita melihat pesantren-pesantren tradisional, yang masih belum memiliki infrastrukur ICT yang cukup memadai. Baik pesantren maupun teknologi informasi dan komunikasi (TIK/ICT) adalah hasil dari budaya. Kebudayaan ibarat sebuah rumah yang dapat dihuni berbagai mahkluk di dalamnya (aspek kehidupan manusia). Semakin besar dan luas rumah, semakin baik aspek-aspek kehidupan yang berada di dalamnya, karena banyak ruang untuk bergerak. Hal ini berlaku untuk semua aspek kebudayaan seperti sistem kepercayaan dan religiusitas (pesantren), kesenian, bahasa, organisasi sosial politik, sistem pengetahuan, teknologi (internet, ICT), ekonomi dan matapencaharian, dan pendidikan. Dalam sebuah tatanan masyarakat sangat diperlukan sebuah harmonisasi struktur, baik struktur norma maupun struktur lembaga. Dua hal yang menjadi kata kunci adalah faktor suprastruktur dan infrastruktur. Dalam berbudaya, kedua faktor ini memiliki relevansi dengan pemaknaan manusia atas karyanya, bahwa manusia mengkonstruksi kebudayaan. Ditinjau dari suprastruktur pesantren, rasanya untuk mengikuti perkembangan jaman tidaklah terlalu susah, walau infrastrukturnya serba pas-pasan. Pengupayaan pesantren berbasis ICT rasanya tidak sulit untuk diwujudkan jika suprastruktur dan infrastruktur telah ada. Hal ini tidak menutup kemungkinan, akan melahirkan hasil budaya yang baru, dengan tidak meninggalkan tradisi dan mengikuti arus jaman yang semakin menyempit. Sehingga, kehadiran pesantren dengan teknologi infarmasi dan komunikasi akan tetap menjadikan pesan(+)tren sebagai tempat pusatnya pesan yang menjadi wacana publik (tren) dalam masyarakat Islam Indoensia yang sedang mencari masa depan yang menentukan.

18

Bibliografi
Agung, M (______) Teknologi Informasi dan Komunikasi: Strategi Penanggulangan Kemiskinan. www.bappenas.go.id Abdullah, Djalludin Ali (1999) Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia. Agil, Said Siradj (1999) Islam Kebangsaan Fiqh Demokrasi Kaum Santri. Jakarta: Pustaka Ciganjur. Arifin, M. (1995) Kapita Selekta Pendidikan Islam dan umum. Jakarta: Bumi Aksara. Budi Raharjo (2001) Internet dan Pendidikan. Dhofier, Zamakhsyari (1982) Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai. Jakarta: LP3ES. Daud, Muh Ali & Habibah Daud Ali (1995) Lembaga-lembaga Islam di Indonesia. Jakarta: Graffindo. Kuntowijoyo (1999) Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana. Madjid, Nurcholish (1997) Tradisi Islam: Peran dan Fungsinya dalam Pembangunan di Indonesia. Jakarta: Paramadina. Prasodjo, Sudjoko (1974) “Profil Pesantrenâ€, dalam Laporan Hasil Penelitian Pesantren Al-Falak dan Delapan Pesantren lain di Bogor. Jakarta: LP3ES. Sukamto (1999) Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren. Jakarta: LP3ES. Sukreti, Anna & Faishol Adib. 2005. Modul Training untuk Pendamping Perempuan Korban Kekerasan Berbasis Pesantren. Jakarta: PUAN Amal Hayati. Tim penyusun (2006) Buku Putih Indonesia 2005-2025; Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Tahun 2005-2025. Jakarta: Menristek. W. Apple, Michael, et.al (2005) Globalizing Education: Policies, Pedagogies, & Politics. New York: Peter Lang. W. Purbo, Onno (_____) “Awal Sejarah Internet†Indonesiadalam http://gonti.bravehost.com/ 1991. Komputer untuk pendidikan. 1993. Implementasi jaringan komputer untuk pendidikan dan penelitian di Indonesia. 1996. Teknologi internet untuk pendidikan. 1998. Tantangan bagi pendidikan Indonesia. 1999. Pendidikan jarak jauh berbasis Web. 1999. Melihat peluang web based distance learning. Wahid, Aburrahman (1985) “Pesantren sebagai Sub-Kulur†dalam Dawam Rahardjo (ed.). Pesantren dan Pembaharuan. Jakarta: LP3ES. Widjojo, Prasetijono, dkk (2004) Indonesia Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium. Jakarta: Bappenas.

19

World Bank (2005) Direction in Development: Expanding Opportunities and Building Competencies for Young People A New Agenda for Secondary Education. Washington: The World Bank. Website dan koran www.PesantrenOnline.Com www.kompas.co.id Radar Banten.

20


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3496
posted:1/13/2010
language:Indonesian
pages:20