Docstoc

Makalah Tafsir Maudu'i

Document Sample
Makalah Tafsir Maudu'i Powered By Docstoc
					TAFSIR MAUDHU’IY
(Sebuah Bentuk Penyajian Pesan-Pesan Al-Qur’an secara Tematis)
I. PROLOG

Al-Qur’an adalah sumber hukum Islam yang pertama, yang menjadi pedoman bagi pengikutnya di seluruh dunia. Sudah barang tentu, bila mana mereka ingin mengetahui dan mengambil mutiara-mutiara yang terdapat dalam lautan al-Qur’an, maka mereka harus menyelaminya dengan peralatan dan persiapan yang sempurna.1 Oleh karena itu, banyak cara yang telah ditempuh oleh para pakar al-Qur’an dalam menyajikan isi kandungan dan pesan-pesan Kitab Allah Swt. Ada yang menyajikannya sesuai dengan urutan ayat-ayat sebagaimana termaktub dalam mushaf, misalnya mulai dari ayat pertama surat al-Fatihah hingga ayat terakhir, kemudian beralih ke ayat pertama surat al-Baqarah hingga berakhir pula, dan demikian seterusnya. Pesan dan kandungan al-Qur’an itu dipaparkan secara rinci dan luas dari berbagai aspek kajian yang mencakup aneka persoalan, baik yang memiliki relevansi langsung antara ayat satu dengan lainnya ataupun tidak. Cara ini dapat diibaratkan dengan penyajian hidangan prasmanan, masing-masing memilih sesuai seleranya serta mengambil kadar yang diinginkan dari meja yang telah ditata itu.2 Ada juga yang memilih tema tertentu, kemudian menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan tema tersebut, dimanapun ayat itu ditemukan. Selanjutnya ia menyajikan kandungan dan pesan-pesan yang berkaitan dengan tema yang dipilihnya itu tanpa harus terikat oleh urutan ayat dan surat sebagaimana terlihat dalam mushaf, dan tanpa perlu menjelaskan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan tema, walaupun hal yang tidak berkaitan itu secara tegas dikemukakan oleh ayat-ayat yang
1

Muhammad Ali as-Shabuni, At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an (Beirut : Alam al-Kutub, 1985),

7 Quraish Shihab, dalam pengantar Wawasan al-Qur’an : Tafsir Mawdu’iy atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung : Mizan, 1998), xi-xii. Lihat juga Muhammad al-Sayyid Jibril, Madkhal ila Manahij al-Mufassirin (Kairo : Dar al-Risalah, tt), 124-125.
2

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

1

dibahasnya. Disini, sang penafsir bagaikan menyodorkan sebuah nampan berisi hidangan yang siap saji dan telah dipilih kadar dan ragamnya, sebelum para tamu tiba. Yang memilih dan memilah serta menetapkan porsinya adalah tuan rumah, sehingga para tamu tidak lagi direpotkan, karena makanan telah siap untuk disantap.3 Apa yang dinamakan metode Tahlili atau Tajzi’i adalah perumpamaan hidangan presmanan itu,4 sedangkan menyodorkan para tamu sebuah nampan makanan adalah ilustrasi dari apa yang disebut oleh para pakar dengan metode maudu’i atau Tauhidi.5 Apabila seseorang itu sibuk dan ingin praktis, maka tentu saja dia akan mengambil nampan berisi makanan yang telah tersedia. Sebaliknya jika ia santai, rileks dan ingin lebih puas, maka dia akan memilih hidangan prasmanan. Tetapi hendaknya dia tidak mengeluh soal waktu, atau upaya yang harus dicurahkan, dan tidak pula merasa bosan atau jenuh, karena pasti tidak semua yang dihidangkan itu dia butuhkan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, ada sekian banyak diantara yang terhidang itu ditolak oleh seleranya.6 Memang, mempelajari satu-dua ayat sering kali tidak memberikan jawaban yang utuh dan tuntas. Misalnya, jika seseorang hanya mempelajari ayat “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat dalam keadaan mabuk sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”,7 maka boleh jadi dia menduga bahwa minuman keras hanya terlarang menjelang shalat. Tetapi ketika disajikan kepadanya seluruh ayat yang berkaitan dengan minuman keras, maka bukan saja proses pengharamannya tergambar dalam benaknya, tetapi juga terungkap keputusan akhir kitab suci ini perihal minuman keras.

Quraish Shihab, dalam pengantar Wawasan al-Qur’an : Tafsir Mawdu’iy atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung : Mizan, 1998), xi-xii. Lihat juga Muhammad al-Sayyid Jibril, Madkhal ila Manahij al-Mufassirin (Kairo : Dar al-Risalah, tt), 124-125. 4 Lihat Masmu’ Ahmad Abu Thalib, al-Manhaj al-Mawdu’iy fi al-Tafsir (Kairo : Dar alT(ibahah al-Muhammadiyah, 1986), 11 5 Masmu’ Ahmad Abu Thalib, al-Manhaj al-Mawdu’iy fi al-Tafsir., 14-15 6 Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, xii 7 Al-Qur’an, 4 : 43. Keterangan lebih detail bias dilihat Ali as-Shabuni, Rawai’ul Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an (Libanon : Dar al-Fikr, tt) jilid 2, 270.

3

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

2

Demikian pula mempelajari satu surat saja, telah disadari oleh para pakar bahwa hal itu belum cukup memadai untuk menuntaskan persoalan. Bukankah masih banyak pesan-pesan yang berkaitan dengan nya pada surat-surat yang lain ?. Kalau demikian, mengapa tidak dihimpun saja pesan-pesan al-Qur’an mengenai tema yang sama, yang bertebaran dalam berbagai surat lain itu menjadi satu ?. Inilah salah satu motivasi dan landasan pemikiran bagi kemunculan tafsir Maudu’iy.

II.

DIALOG

A. Pengertian Tafsir Mawdu’iy dan macam-macamnya Metode tafsir Mawdu’iy adalah metode yang ditempuh oleh seorang mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an dengan cara menghimpun ayat-ayat yang berbicara tentang satu mawdu’ (tema) tertentu dan menyusunnya berdasarkan kronologi serta sebab turunnya ayat-ayat tersebut, untuk kemudian penafsir mulai memberikan keterangan, penjelasan dan menarik kesimpulan.8 Kajian tafsir dengan metode Mawdu’iy ini memiliki aneka ragam bentuk, yaitu : 1. Tafsir Mawdu’iy ditinjau dari wilayah cakupannya a. Pembahasan mengenai “satu surat” secara menyeluruh dan utuh, dengan menjelaskan arti umum dan khususnya, menguraikan munasabah atau korelasii antar berbagai tema yang dikandungnya, sehingga menjadi jelas bahwa surat itu merupakan satu kesatuan yang kokoh dan ia seakan-akan merupakan satu rantai emas yang setiap gelang-gelang darinya bersambung satu dengan lainnya.9

Abd. Hayyi al-Farmawi, Pengantar Metode Tafsir Mawdu’iy, ter. Suryan A. Jamrah (Jakarta, PT Raja Grafindo, 1996), 36. Lihat juga Ali Hasan al-Arid, Sejarah dan Metodologi Tafsir, ter. Ahmad Karom (Jakarta, Rajawali Press : 1992), 78. Jibril, Madkhal ila Manahiji al-Mufassirin, 125-126 ; Mustofa Muslim, Mabahith fi al-Tafsir al-Mawdu’iy (Damaskus : Dar al-Qalam, tt), 17 ; Abu Talib, al-Manhaj fi al-Tafsir, 14. 9 Al-Arid, Sejarah dan Metodologi Tafsir, 35.

8

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

3

Sebagai contoh adalah penafsiran yang dilakukan oleh Dr. Ali Hasan al-‘Arid terhadap Surat Yasin. Berdasarkan kajiannya, ia menemukan bahwa surat tersebut dapat dibagi menjadi tiga bagian yang masing-masing saling berkaitan, bersambung dan mengarah kepada satu tema.10 Bagian pertama, dari awal surat sampai ayat ke-32, mengarah kepada penjelasan tentang kerasulan Muhammad Saw., menetapkan kenabiannya, menuturkan keadaan orang-orang musyrik, baik dari golongan Quraisy maupun golongan lain, dan mengemukakan tentang Ashab al-Qaryah (penduduk suatu negeri) sebagai pelajaran bagi mereka. Bagian kedua, dari ayat ke-33 sampai ayat ke-44, mengetengahkan dalil-dalil eksistensi Allah Swt., dan keluasan ilmu-Nya, sehingga mereka wajib beriman kepada-Nya. Bagian ketiga, dari ayat ke-45 sampai akhir surat, menuturkan keadaan dan segala kejadian hari kiamat, yaitu peniupan sangkakala, surga dan kenikmatannya, neraka dan siksanya, juga menuturkan bukti-buktii kekuasaan Allah Swt., untuk membangkitkan dan menghidupkan manusia kembali. Tiga bagian dari surat Yasir tersebut di atas pada dasarnya bermuara kepada satu masalah, yaitu dorongan untuk beriman kepada Allah Swt., Rasul-Nya dan Hari Akhir.11 Adapun kitab-kitab tafsir Mawdu’iy yang ditulis dalam pola macam ini, antara lain ; Tafsir Surat Yasin oleh Dr. ‘Ali Hasan al-‘Arid, Tafsir Surat al-Fath oleh Dr. Ahmad al-Sayyid al-Kumi dan masih banyak lagi yang lain. b. Penghimpunan “sejumlah ayat dari berbagai surat” yang membicarakan satu masalah tertentu; ayat-ayat tersebut disusun sedemikian rupa dan diletakkan dii bawah satu tema bahasan.12 Beberapa karya tafsir yang
10 11

Al-Arid, Sejarah dan Metodologi Tafsir., 79-80. Al-Arid, Sejarah dan Metodologi Tafsir., 79-80. 12 Al-Farmawi, Pengantar Metode Tafsir Mawdu’iy, 36.

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

4

dapat dikatakan mewakili pola ini, antara lain ; al-‘Aqidah fi al-Qur’an alKarim oleh Muhammad Abu Zahrah, al-Wasaya al-‘Asr oleh Mahmud Shaltut dan beberapa kitap lain. Bentuk kajian yang kedua inilah yang lazim terbayang di benak kita, ketika mendengar tafsir Mawdu’iy. Bentuk kajian yang kedua ini pula yang akan menjadi sentral bahasan kita dalam uraian-uraian selanjutnya. 2. Tafsir Mawdu’iy ditinjau dari Obyek Kajiannya a. Obyek kajian yang menjadi bidikan adalah “persoalan-persoalan agama”, baik yang berhubungan dengan aspek aqidah seperti ; masalah ketuhanan, kebangkitan kembali, kerasulan, ataupun yang berkaitan dengan aspek syariat seperti ; masalah ibadah, muamalah, hudud, etika, penataan kehidupan keluarga, interaksi social dan lain sebagainya. Bahkan dalam perkembangannya kemudian, muncul tema-tema kajian yang lebih spesifik lagi seperti ; shalat, hadd zina, sifat orang mukmin atau orang munafik, pernikahan, harta waris dan semisalnya. Dan ini merupakan obyek kajian tafsir Mawdu’iy yang paling populer.13 Adapun karya-karya tafsir Mawdu’iy yang telah lahir dalam konteks kajian ini, antara lain ; Dustur al-Usrah fi Zilal al-Qur’an oleh Ahmad Faiz, Min Asrar al-Nubuwwat fi al-Qur’an oleh Hasan Ismail Mansur, Rawa’iy al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an oleh Muhammad Ali al-Sabuni dan masih banyak lagi.14 b. Konsentrasi kajiannya ialah “uslub atau tata bahasa al-Qur’an”, yang dipergunakan sebagai media dakwah kepada umat, seperti penggunaan

13 14

JIbril, Madkhal ila Manahij al-Mufassirin, 126. Ibid.

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

5

amtsal (perumaan)15, qasam (sumpah), jadal (teknik berdebat), qashas (kisah-kisah) para nabi16 dan lain sebagainya. Kitab-kitab yang telah dihasilkan, antara lain ; al-Amtsal fi alQur’an oleh Hasan al-Mawardi, al-Bayan fi Aqsam al-Qur’an oleh Ibn alQayyim, al-Jadal fi al-Qur’an oleh Najin al-Din al-Tufi, Qashas alAnbiya’ oleh Abu al-Fida Ismail ibn Kathir.17 c. Studi ditekankan kepada penelusuran “sebuah kata yang sering berulang” dalam berbagai ayat dan surat, kemudian dikelompokkan menjadi satu, dan dianalisis secara cermat dari berbagai aspeknya, baik aspek linguistic maupun kandungan makna yang ditunjukkan oleh ayat-ayat tempat kata tersebut berada.18 Adapun mufradat (kata-kata) yang sering berulang di dalam alQur’an itu, seperti ; ,‫ض‬

‫ب, ا‬

‫د, ا‬

‫,ا‬

‫,ا‬

‫ا‬

......

‫ب, ا‬

‫ن, ا آ ة, أه ا‬

‫ ا‬dan masih banyak lagi. Aspek ini

penting untuk ditelaah, sebab sebuah kata itu terkadang memiliki aneka ragam pemakaian dan dilalah arti. Kitab-kitab tafsir semacam al-Mufradat fi al-Gharib al-Qur’an,19 al-Ashbah wa al-Nadzair dapat dipandang sebagai representasi metode Mawdu’iy jenis ini. Para pakar kontemporer pun telah banyak yang menelorkan karyanya, antara lain : Muhammad Amin al-Shanqiti dengan

Sejalan dengan firman Allah “Itulah perumpamaan-perumpamaan yang kami membuatnya untuk umat manuasia, dan tidak akan dapat memahaminya kecuali orang-orang yang beriman” (QS. 29, 43) 16 Kisah para nabi merupakan teladan konkrit bagi umat. Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt. “Apakah kamu mengira akan masuk surga, padah belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang sebelum kamu ?. Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digncangkan (dengan berbagai macam cobaan), sehinggal Rasul Saw., dan orang-orang beriman yang bersamanya berkata “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. 2 : 214). 17 Jibril, Madkhal ila Manahij al-Mufassirin, 128-130. Lihat juga Alawi ibn Abbas alMaliki, Fayd al-Khabir wa Khulashah al-Taqrin (Surabaya : al-Hidayah, 1960), 171-172. 18 Musthafa Muslim, Mabahith fi al-Tafsir al-Mawdu’iy, 23. 19 Karya Abu al-Qasim al-Husain ibn Muhammad atau yang lebih popular dengan nama alRaghib al-Asfahani.

15

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

6

karyanya Adwa’ al-Bayan fi Iddah al-Qur’an dan al-Damighani dengan Islah al-Wujuh wa al-Nadzair.20 B. Tafsir Maudu’iy ; Sejarah dan Perkembangannya Jika diteliti secara cermat, kitab-kitab tafsir warisan dari ulama’ terdahulu yang tidak sedikit jumlahnya itu, maka akan didapatkan suatu kesimpulan bahwa manhaj yang mereka terapkan dalam kajiannya amatlah beragam. Secara umum, metodologi yang mereka pergunakan ialah metode Tahlili, metode Ijmali dan metode Mawdu’iy.21 Khusus metode Mawdu’iy itu amat jarang digunakan, sehingga hanya beberapa kitab tafsir klasik saja yang dapat ditunjuk mendekati metode tersebut. Itu pun masih menggunakan cara yang sederhana dan belum bisa dikatakan sebagai suatu metode tersendiri dengan style yang tegas.22 Setidaknya ada dua fakktor yang melatar-belakangi realitas tersebut diatas, yaitu : Pertama, metode tafsir Mawdu’iy itu sesungguhnya merupakan kajian spesialis, padahal pada masa itu belum terjadi spesialisasi ilmu. Kedua, banyaknya para penghafal al-Qur’an di kalangan umat Islam dengan kualifikasii keilmuan yang mendalam, sehingga mereka memiliki kompetensi untuk menghubungkan makna-makna yang dikandung oleh banyak ayat, walaupun ayatayat tersebut berserakan dalam berbagai surat. Kedua factor inilah yang menjadi biang, mengapa para mufassir tempo dulu belum melakukan kajian tafsir dengan metode Mawdu’iy.23

20 Mustafa Muslim, Mabahits fi al-Tafsir al-Mawdu’iy, 23-24 ; Jibril, Madkhal ila Manahij al-Mufassirin, 131. 21 Abu Thalib, al-Manhaj al-Mawdu’iy fi al-Tafsir, 11-18. Metode Tahlili ialah metode tafsir yang berorientasi kepada penjelasan kandungan ayat-ayat al-Qur’an dari seluruh aspeknya, mengikuti runtutan ayat sebagaimana yang tersusun di dalam mushaf. Sedangkan metode Ijmali ialah suatu metode dalam menafsirkan al-Qur’an dengan cara mengemukakan makan globalnya. Adapun sistemtika urainnya sama persis dengan metode Tahlili. (Lihat al-Farmawi, Pengantar Metodologi Tafsir Mawdu’iy). 22 Al-‘Arid, Sejarah dan Metodolgi Tafsir, 82-84. 23 Al-Farmawi, Pengantar Metode Tafsir Mawdu’iy, 41.

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

7

Dapat penulis contohkan disini beberapa kitab Tafsir Turath yang mendekati metode Mawdu’iy,24

‫ز‬ (‫205 هـ‬ ‫ا‬
25

‫ا‬

‫ا‬ ‫ةا‬ ‫ا‬ ‫ن‬

‫ن‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا ى )ا‬ ‫ص‬

‫ما‬ ‫ن‬ ‫ن‬ ‫خ‬ ‫ن‬

‫أ‬

‫ ا ن‬o ‫زا‬ ‫دات ا‬ ‫وا‬ o o ‫ ا‬o ‫ أ‬o ‫ أ‬o ‫ما‬

‫)ا‬ (‫864 هـ‬

‫ب ا ول‬

Dari uraian di atas dapat difahami bahwa cikal bakal metode Mawdu’iy itu sesungguhnya telah ada sejak masa lampau dengan bukti karya-karya tafsir para ulama klasik tersebut, sekalipun mereka tidak secara tegas bermaksud menjadikannya sebagai suatu metode tafsir tersendiri.26 Oleh Karena itu, kajian tentang metode Mawdu’iy bukanlah hal yang baru, sebab sebagian ulama pada masa lampau telah menerapkannya, walaupun mereka belum merumuskan secara kongkrit pengertian dan langkah-langkah aplikasinya sehingga memiliki karakteristik khas yang membedakannya dari metode-metode lain.27 Masih berkaitan dengan kapankah metode Mawdu’iy itu mulai dikenal dan diterapkan, Dr. Ali Khalil memiliki pandangan yang sangat radikal. Beliau menyatakan bahwa benih dan bibit pertama dari kajian Mawdu’iy itu sesungguhnya sudah ada dan tumbuh di lahan suci yang disampaikan oleh Rasulullah Saw.28
Muhammad Husein al-Dhahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirin (tk : tp, 1976). 149. Jalal al-Din Abd al-Rahman ibn Abu Bakr al-Suyuti, Tabaqat al-Mufassirin (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah. Tt), 67. 26 Mufassir pertama yang melakukan kajian tafsir dengan pendekatan metode Mawdu’iy sekalipun belum memiliki bentuk yang jelas dan tegas adalah Fakhr al-Din al-Razi dalam karyanya alTafsir al-Wadih. Kemudian disusul dengan karya al-Qurtubi dan Ibn al-‘Arabi. (Lihat Ahmad Ibrahim Mihna, al-Insan fi al-Qur’an al-Karim (Beirut : Manshurat al-Maktabah al-‘Ashriyyah, tt), 18. 27 Al-‘Arid, Sejarah dan Metodologi Tafsir, 84. 28 Al-Farmawi, Pengantar Metode Tafsir Mawdu’iy, 38. Lihat juga Musthafa Muslim, Mabahith fi al-Tafsir al-Mawdu’iy, 17.
25 24

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

8

Beliau mengemukakan sebuah riwayat tentang penafsiran Rasul terhadap kata " “ dalam ayat29 :

‫اإ‬ ‫ك‬

‫او‬ ‫03.“ إن ا‬

‫ ا‬dengan makna “ ‫ك‬

‫ا‬

‘ yang ada dalam ayat : “

Lebih lanjut Dr. Ali Khalil menyampaikan komentarnya “Dengan penafsiran yang cerdas ini, Rasulullah Saw., telah memberi pelajaran kepada para sahabat bahwa menghimpun sejumlah ayat mutasyabihat itu dapat memperjelas pemahaman serta akan melenyapkan keraguan dan kerancuan”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jenis penafsiran al-Qur’an, disamping disebut sebagai tafsir bi al-ma’tsur, dapat juga dipandang sebagai tafsir Mawdu’iy. Penafsiran alQur’an dengan al-Qur’an ini merupakan embrio bagi munculnya metode Mawdu’iy yang kita kenal sekarang ini.31 Penerapan metode Mawdu’iy dalam pengertian yang sebenarnya barulah dirintis oleh Universitas al-Azhar dan seluruh fakultas yang bernaung di bawahnya. Kajian dengan metode Mawdu’iy ini pertama kali dilakukan oleh Dr. Ahmad al-Sayyid al-Kumi, ketua Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu Tafsir pada Fakultas Ushul al-Din. Setelah itu pda setiap tahun, lahir banyak tulisan dari mahasiswa jurusan tersebut yang berisi kajian-kajian baru dalam tafsir al-Qur’an dari segala segi dan aspeknya. Lahirlah kajian-kajian tentang masalah takwa, zakat, puasa, haji, peperangan, sumpah, manusia dalam al-Qur’an dan lain-lain. Lahir pula tulisan yang mengkaji surat tertentu dari surat-surat al-Qur’an seperti surat al-Fath, al-Hujurat, al-Nur, al-Ahzab, Yasin, al-Kahfi dan masih banyak lagi.32 C. Prosedur Penerapan Metode Mawdu’iy Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa beberapa ulama tempo dulu telah ada yang mengarang karya tafsir dengan membicarakan satu tema dari

Al-Qur’an, 6 : 82. Ibid., 31 : 13. Lihat hadits ini dalam Sahih al-Bukhari, bab Tafsir 6/20; Sahih Muslim, bab Iman 1/80. 31 Al-Farmawi, Pengantar Metode Tafsir Mawdu’iy, 38. 32 Al-‘Arid, Sejarah dan Metodologi Tafsir, 87-88.
30

29

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

9

sekian banyak tema yang dikandung oleh al-Qur’an. Dan sebagian penafsir lain ada pula yang menyajikan tafsir Mawdu’iy di sela-sela halaman kitab mereka. Semua karya itu meskipun mirip dengan metode Mawdu’iy, namun belum ditemukan didalamnya sesuatu yang dapat dijadikan sebagai cirri khas bagi corak kajian Mawdu’iy. Definisi dan batasan yang tegas dan rinci perihal metode tafsir Mawdu’iy itu baru muncul pada periode belakangan ini, melalui rumusan Dr. Ahmad al-Sayyid al-Kumi bersama beberapa kolega beliau dari kalangan dosen dan mahasiswa Universitas al-Azhar.33 Cara kerja atau langkah-langkah aplikasi metode Mawdu’iy dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Memilih mawdu’iy atau tema yang akan dikaji 2. Menghimpun seluruh ayat yang terdapat pada semua surat al-Qur’an yang berkaitan dan berbicara tentang tema yang hendak dikaji,34 baik surat Makkiyah maupun Madaniyah, Hadari maupun Safari, Syayfi maupun Shita’I dan seterusnya. 3. Menentukan urutan ayat-ayat yang dihimpun itu sesuai dengan masa turunnya dan mengemukakan sebab-sebab turunnya jika hal itu memungkinkan.35 4. Menjelaskan munasabah atau relevansi antar ayat-ayat pada masing-masing suratnya, dan kaitan antara ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. 5. Mengemukakan hadits-hadits Rasulullah Saw., yang berbicara tentang tema kajian yang telah ia pilih, lantas men-takhrij dan menerangkan kualitas haditshadits tersebut untuk lebih meyakinkan kepada orang yang mempelajari tema itu. Dikemukakan pula atsar para sahabat dan tabi’in, serta pendapat para pakar tafsir dan sastra. 6. Merujuk kepada syair-syair dan kalam bangsa Arab dalam menjelaskan makna lafadz-lafadz yang terdapat pada ayat-ayat yang dibicarakan.

Al-Farmawi, Pengantar Metode Tafsir Mawdu’iy, 45-46. Untuk memudahkan penghimpunan ayat-ayat al-Qur’an, sangat dianjurkan terutama bagi para pemula untuk merujuk kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an, oleh Muhammad Fuad al-Baqi. 35 Artinya, jika ayat-ayat itu memang memiliki Asbab al-Nuzul (latar belakang turun).
34

33

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

10

7. Mengkaji ayat-ayat yang berbicara tentang tema yang telah dipilih itu dari berbagai segi dan aspeknya, misalnya ‘amm-khass, muthlaq-muqayyad, syarat-jawab, nasikh-mansukh, unsur-unsur balaghah dan lain sebagainya. Selain itu, juga memadukan ayat-ayat yang dituding kontradiktif satu dengan lainnya, atau dengan hadits-hadits Rasulullah Saw., atau dengan teori-teori ilmiah, menyebutkan pula berbagai macam bentuk qira’ah, dan menerapkan makna-makna ayat dalam kehidupan kemasyarakatan sejauh tidak menyimpang dari sasaran yang dituju oleh tema kajian.36 Inilah sesungguhnya yang dimaksud dengan metode Mawdu’iy, sebuah metode tafsih baru di Fakultas Usul al-Din Universitas al-Azhar, yang sampai sekarang terus berkembang di bawah bimbingan para guru besar dan telah melahirkan banyak karya penting.

D. Kitab-Kitab Tafsir Mawdu’iy Kontemporer Cukup banyak kitab tafsir kontemporer yang ditulis dengan metode Mawdu’iy,37 antara lain :

‫ت‬ ‫د‬ ‫دا‬ ‫ا‬ ‫أ زه ة‬ ‫ى‬ ‫إ اه ا‬ ‫آ لا‬ ‫آ رأ‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬
36

‫د‬ ‫س‬ ‫ذ‬ ‫ذأ ا‬ ‫ذ‬ ‫ن آ رأ‬ ‫ن‬ ‫ا‬ ‫آ ر‬ ‫آ ر‬ ‫آ رأ‬ ‫ا‬

‫ن‬ ‫ن‬ ‫ن‬ ‫ن‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬

‫ه ىا‬ ‫أة‬ ‫ا‬ ‫ة‬ ‫تا‬ ‫تا‬ ‫رة‬ ‫ه وا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬

‫دودى‬

‫رة ا‬

Jibril, Madkhal ila Manahij al-Mufassirin, 127-128. Lihat juga al-‘Arid, Sejarah dan Metodologi Tafsir, 88-89; Muhammad ‘Ali al-Sabuni, Raway’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an (tt, tp, tt), I, II. 37 Al-‘Arid, Sejarah dan Metodologi Tafsir, 91.

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

11

‫ا‬ ‫ا‬
perpustakaan Islam.

‫ن آ ر‬ ‫د‬ ‫آ ر‬ ‫ن‬ ‫ا‬

‫ا‬

‫دم‬ ‫ا‬

Dan masih banyak lagi yang lain, yang berjejal-jejal di perpustakaan-

E. Kelebihan dan Kelemahan Tafsir Mawdu’iy serta Prospeknya Kehadiran metode Mawdu’iy ini tidak hanya sekedar memperkaya khazanah metodologi tafsir, tetapi juga menawarkan manfaat tersendiri bagi penyajian isi kandungan al-Qur’an. Corak kajian tafsir yang tergolong baru ini memiliki banyak kelebihan, antara lain : 1. Memberikan pemahaman yang tuntas dan utuh perihal konsep al-Qur’an tentang masalah-masalah tertentu, terutama masalah-nmasalah aktual yang sedang berkembang, atau problem-problem yang tengah dihadapi masyarakat. 2. Membuktikan bahwa persoalan yang disentuh al-Qur’an bukan bersifat teoritis semata dan tidak dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat, sekaligus memungkinkan bagi seorang mufassir untuk menolak anggapan adanya pengulangan sia-sia serta ayat-ayat yang kontradiktif satu sama lain di dalam al-Qur’an. 3. Menghasilkan kesimpulan yang praktis dan gampang difahami. Hal ini sesuai dengan semangat dan karakter zaman modern yang kental dengan nuansa efektifitas dan efisiensi, baik dari sisi waktu maupun upaya.38 4. Menunjukkan adanya keteraturan, keserasian dan keselarasan isi kandungan dari ayat-ayat al-Qur’an. Karena sementara ini ada pihak yang menuding bahwa al-Qur’an adalah sebuah kitab suci yang tidak runtut dan tidak sistematis.39 5. Memberikan peluang kepada setiap orang yang menggeluti suatu ilmu tertentu untuk mendekati al-Qur’an melalui disiplin ilmunya.
Quraih Shihab, Wawasan al-Qur’an, xiii. Al-‘Arid, Sejarah dan Metodologi Tafsir, 92-94. Lihat juga al-Farmawi, Pengantar Metode Tafsir Mawdu’iy, 52-54.
39 38

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

12

6. Menafsirkan ayat dengan ayat, ayat dengan hadits Nabi. Ini merupakan cara terbaik dalam menafsirkan al-Qur’an. Hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk diutarakan di sini bahwa metode Mawdu’iy disamping memiliki banyak spesifikasi, juga mempunyai beberapa titik rawan, antara lain : 1. Penafsiran tematis yang gegabah dan sembrono dapat menimbulkan pemahaman yang parsial terhadap isi kandungan al-Qur’an. 2. Pembatasan konsentrasi kajian pada sebuah tema sering kali mengabaikan aspek-aspek penting lain, sehingga banyak hal-hal yang luput dari perhatian dan tidak ter-cover secara memadai. Akibatnya, seorang mufassir tidak akan dapat merasakan keagungan bahasa al-Qur’an, keindahan munasabah dan keselarasan antar bagian-bagiannya, kehebatan mukjizatnya, dan juga dia tidak akan dapat merasakan keindahan dan keunikan di saat ia berpindah dari satu dhamir (kata ganti) ke dhamir lainnya, yang menjadi ciri khas al-Qur’an, seperti yang terjadi di dalam kajian tafsir Tahlili. 3. In-konsistensi penafsir Mawdu’iy dalam menerapkan prinsip-prinsip dan langkah-langkah operasional metode Mawdu’iy akan mengakibatkan

kegagalan dalam mencapai kajian yang utuh dan komprehensif, sehingga tema-tema al-Qur’an yang demikian indah itu akan berubah menjadi buruk dalam pandangannya.40 Berbicara tentang prospek dan masa depan corak penafsiran baru ini, maka dapat dikatakan bahwa penyajian isi kandungan al-Qur’an melalui pendekatan metode Mawdu’iy ini selaras dengan kondisi dan situasi dunia modern yang dinamis. Bergai macam persoalan aktual bermunculan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di sisi lain, kehidupan modern yang cepat dan praktis itu turut membentuk pola fikir dan pola sikap dari komunitas yang hidup di dalamnya, sehingga tidaklah mengherankan jika kemudian muncul harapan dan tuntutan yang ditujukan
40

Al-Farmawi, Pengantar Metode Tafsir Mawdu’iy, 55-57.

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

13

kepada para intelektual muslim agar menyuguhkan konsep Qur’ani yang praktis dan aplikatif dengan sistematika bahasan yang lugas dan gampang dimengerti. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa metode Mawdu’iy merupakan salah satu alternative metodologi tafsir dalam mengimbangi perkembangan zaman.

III. EPILOG

Corak kajian tafsir Mawdu’iy atau tematis ini relevan dengan semangat zaman modern yang menuntut umat Islam untuk mengetengahkan hukumhukum universal bagi kehidupan yang bersumber dari al-Qur’an, dalam format yang elegan dan memikat. Metode tafsir yang relative baru ini kian lama kian diminati dan semakin mendapat tempat di hati umat, karena berbagai sisi kelebihan yang dimilikinya. Dan diharapkan di waktu-waktu mendatang akan semakin banyak karya-karya tafsir yang lahir melalui pendekatan metode Mawdu’iy ini. Pertanyaannya sekarang, “Andakah yang akan

mewujudkannya?”.

BIBLIOGRAPHY
Abu Thalib, Mamu’ Ahmad, al-Manhaj al-Mawdu’iy fi al-Tafsir, Kairo : Dar alTiba’ah al-Muhammadiyah, 1986. Al-‘Arid, ‘Ali Hasan, Sejarah dan Metodologi Tafsir, ter. Ahmad Akrom, Jakarta : Rajawali Press, 1992. Al-Dhahabi, Muhammad Husain, al-Tafsir wa al-Mufassirun, Beirut : Dar al-Fikri, 1976. Al-Farmawi, Abd Hayy, Pengantar Metode Tafsir Mawdu’iy, ter. Suryan A. Jamrah, Jakarta : PT Raja Grafindo, 1996.

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

14

Al-Maliki, ‘Alawi ibn Abbas, Faydz al-Khabir wa Khulasah al-Taqrin, Surabaya : al-Hidayah, 1960. Al-Qalam, Muslim, Mustafa, Mabahits fi al-Tafsir al-Mawdu’iy, Damaskus : Dar. Al-Shabuni, Muhammad ‘Ali, Rawaiy’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam mi alQur’an, I. Al-Suyuti, Jalal al-Din Abd al-Rahman ibn Abu Bakr, Tabaqat al-Mufassirin, Beirut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. Jibril, Muhammad al-Sayyid, Madkhal ila Manahij al-Mufassirin, Kairo : Dar alRisalah. Mihna, Ahmad Ibrahim, al-Insan fi al-Qur’an al-Karim, Beirut : Manshurat alMaktabah al-‘Asriyah. Shihab, Quraish, dalam pengantar Wawasan al-Qur’an Mawdu’iy atas Pelbagai persoalan Umat, Bandung : Mizan, 1998.

Seminar Studi Al-Qur’an tentang Tafsir Mawdu’iy, oleh Moh. Mujib Zunari@ 19-01-2008

15


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:11211
posted:1/13/2010
language:Indonesian
pages:15