Docstoc

Makalah - PDF 6

Document Sample
Makalah - PDF 6 Powered By Docstoc
					APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Oleh : Moh. Mujib Zunun @lmisri

I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Masyarakat Indonesia sekarang ini dan dimasa mendatang merupakan masyarakat yang berbudaya teknologi, yaitu bahwa perkembangan teknologi telah berlangsung sedemikian rupa hingga tersebar luas dan memengaruhi segenap bidang kehidupan. Teknologi, sebagai stuktur, proses, dan artefak, merupakan cirri imperative perkembangan masyarakat masa depa. Mengingat bahwa teknologi itu berkembang dan merupakan bagian integral dalam segaala bidang kehidupan, maka teknologi dalam bidang pendidikan harus pula dapat dikembangkan, dikendalikan, dan didayagunakan untuk dapat membantu terwujudnya amanat UUD 1945 mencerdaskan kehidupan bangsa. Indonesia merupakan satu-satunya Negara yang unik kondisi geografinya dimana untuk menjalin persatuan dan kesatuan bangsa peranan teknologi komunikasi mempunyai arti yang sangat strategis. Angkasa dengan gelombang elektromagenetik merupakan salah satu kekayaan alam, dank arena itu sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 Bab XIV Pasa 33 ayat (3) kekayaan alam itu dipeergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Jumlah penduduk yang senantiasa bertambah, meskipun dengan angka pertumbuhan yang kian berkurang, menyiratkan bahwa makin bertambahnya orang memerlukan pendidikan. Ditambah lagi dengan adanya perubahan yang senantiasa berlangsung, yang menghendaki didik ulang atau pendidikan terusmenerus bagi semua orang. Sementara itu sumber-sumber sedekala (tradisional) makin terbatas, sehingga harus diciptakan sumber-sumber baru, termasuk sumber untuk pendidikan. Bersamaan dengan itu sumber yang ada

1

dan terbatas perlu dimanfaatkan secara lebih berdaya guna dan berhasil guna, yaitu untuk menjamin terlaksananya amanat yang terkandung dalam Bab XIII Pasal 31 Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 agar tiap-tiap warganegara berhak mendapat pengajaran.

B. Rumusan Masalah Pokok bahasan dalam makalah yang berjudul “Aplikasi Teknologi Pendidikan”, penulis membagi berdasarkan kisi-kisi sebagai berikut : o Pengertian Teknologi Pendidikan o Aplikasi Teknologi Pendidikan o Pendidikan Multikultural o Desain Sistem Pembelajaran Pendidikan Multikultural

C. Tujuan Penulisan Makalah

D. Sistematika Penulisan Makalah

II PEMBAHASAN

A. Pengertian Teknologi Pendidikan B. Aplikasi Teknologi Pendidikan C. Pendidikan Multikultural D. Desain Sistem Pembelajaran Pendidikan Multikultural

III KESIMPULAN

BIBLIOGRAPY

Aplikasi Teknologi Pendidikan

2

Apabila konsep atau pengertian teknologi pendidikan kita analisiss, kita akan memperoleh pedoman umum aplikasi sebagai berikut : 1. Memadukan berbagai macam pendekatan dari bidang psikologi, komunikasi, manajemen, rekayasa, dan lain-lain secara bersistem. 2. Memecahkan masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serrempak, dengan memerhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan diantaranya. 3. Digunakannya teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan masalah belajar. 4. Timbulnya daya lipat atau efek sinergi, di mana penggabungan pendekatan dan atau unsure-unsur mempunyai nilai lebih dari sekadar penjumlahan. Demikian pula pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih daripada memecahkan masalah secara terpisah.

Aplikasi teknologi pendidikan secvara khusus dalam PSDM terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu dalam tulisan ini. Pada tahun 1980 AECT (sebagai organisasi profesi Teknologi Pendidikan yang berpusat di Amerika Serikat) bekerja sama dengan NSPI (National Society for Performance of Instruction) membentuk suatu joint task force untuk menyusun standcar dalam bidang desain dan pengembangan instruksional, khususnya untuk keperluan PSDM. Joint task force ini kemudian dilebur dalam suatu lembaga baru yang disebut International Board of Standards for Training, Performance, and Instruction (IBSTPI) pada tahun 1985. IBSTPI antara lain merumuskan kompetensi dasar bagi instruktur PSDM, yaitu : 1. Menganalisis bahan belajar dan informasi pembelajar. 2. Mempersiapkan tempat untuk kegiatan instruksional. 3. Menentukandan mempertahankan kredibiltas instruktur. 4. Mengelola lingkungan belajar. 5. Mendemonstrasikan keterampilan berkomunikasi yang efektif. 6. Mendemonstrasikan keterampilan presentasi yang efektif 7. Mendemonstrasikan keterampilan dan teknik bertanya yang efektif. 8. Merespons kebutuhan belajar dengan senantiasa mengusahakan umpan balik.

3

9. Memberikan penguatan dan dorongan untuk belajar. 10. Menggunakan metode instruksional dengan semestinya. 11. Menggunakan media instruksional secara efektif. 12. Mengevaluasi kinerja pembelajar. 13. Mengevaluasi pembelajaran. 14. Melaporkan hasil penilaian. (Gilley, Jerry W. dan Steven A. Eggland, 1989, Princeples of Human Resource Development, Reading, MA : Addison-Sesley Publishing Company Inc. : 30, 371372)

Apabila kita memakai pendekatan dengan menganalisis model kawan teknologi pendidikan, aplikasi itu dapat berupa pelaksanaan fungsi pengembangan pendidikan/instruksional meliputi, tetapi tak terbatas pada, hal-hal berikut : 1. Pengakajian karakteristik dan kondisi SDM. 2. Pengkajian kemampuan SDM yang diharapkan. 3. Pengkajian kebutuhan pendidikan/latihan. 4. Perencanaan program pendidikan/latihan. 5. Pengembangan materi pendidikan/latihan. 6. Pembuatan media instruksional. 7. Penyusunan strategi instruksional. 8. Pemilihan dan penerapan teknik pembelajaran. 9. Penyebaran/penyajian pelajaran. 10. Penilaian program, proses, dan hasil pendidikan/latihan. (Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta : Prenada Media, 2004), hal. 78-79)

Penerapan Teknologi Pendidikan

Sistem pembelajaran yang inovatif, sebagai bentuk penerapan konsep teknologi pendidikan, telah berhasil diciptakan dan bahkan dilembagakan dalam system pendidikan nasional. System itu antara lain adalah Sekolah Dasar PAMONG( Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orang tua, dan Guru), Sekolah Dasar Kecil,

4

SMP Terbuka, serta system pembelajaran jarak jauh yang sekarang ini telah dilaksanakan/direncanakan oleh berbagai lembaga pendidikan dan latihan seperti di Lembaga Pendidikan Perbankan (LPPI), PT Telkom, departemen Kesehatan, Departemen Penerangan, Departemen Pekerjaan Umum, dan sebagainya. Berbagai komponen teknologi pendidikan seperti media, teknik pembelajaran, pengembangan pembelajaran, dan sebagainya telah pula dilakukan oleh lembaga pendidikan dan pelatihan, seperti misalnya di Pusdiklat TNI-AD dan AU, Balai Latihan Kerja Departemen Tenaga Kerja, Pusdiklat Garuda, Pusdiklat Bulog, dan sejumlah pusdiklat lain. Di kalangan perguruan tinggi teknologi pendidikan telah dan sedang dimanfaatkan di IPB, ITB, UNDIP, UGM, UNS, UNAIR, ITS, UNHAS, UNLAM, UNPATI, UNTAD, UNHALU, UNSRAT, UNCEN, IKIP Medan, IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Ujung Pandang. Tak terhitung lagi pemanfaatannya di sekolah dasar dan menengah serta satuan pendidikan lain. Yang terakhir ini berkembang dengan adanya siaran televise pendidikan. Sebagaimana tercantum dalam UUSPN Pasal 30 setiap tenaga kependidikan yang bekerja pada satuan pendidikan mempunyai hak untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan yang lain dalam melaksanakan tugasnya. Sarana, prasarana, dan fasilitas pendidian itu perlu disediakan, dikembangkan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya supaya diperoleh efektifitas dan efisiensi yang tinggi. Media pendidikan sebagai salah satu bentuk sarana pendidikan telah pula ditentukan dalam GBHN 1988 untuk terus dikembangkan dan dimanfaatkan (MPR-RI, 1988:halaman. 70) Jelaslah bahwa untuk membantu memecahkan masalah pendidikan dan pelatihan dengan kondisi unik Indonesia, serta untuk menyerasikan perkembangan teknologi dengan dampak globalisasi, diperlukan usaha sinergistik yang memadukan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi, informasi, dan social-ekonomi. Kesemuanya ini merupakan bidang kompetensi teknologi pendiikan. Untuk itu mutlak diperlukan tenaga profesi yang mahir dan ahli dalam teknologi pendidikan. (Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta : Prenada Media, 2004), hal. 94-96)

5

Penerapan Teknologi Pendidikan

Teknologi pendidikan merupakan suatu disiplin terapan, artinya ia berkembang karena adanya kebutuhan di lapangan, yaitu kebutuhan untuk belajar- belajar lebih efektif, lebih efesien, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat, dan sebagainya. Untuk itu ada produk yang sengaja dibuat ada yang ditemukan dan di manfaatkan. Namun perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat akhir-akhir ini dan menawarkan sejumlah kemungkinan yang semula tidak terbayangkan, telah membalik cara berpikir kita dengan “ bagaimana menganbil manfaat teknologi tersebut untuk mengatasi masalah belajar “.

Berkembangnya penerapan teknologi pendidikan boleh dikatakan berasal dari Amerika Serikat. Pada awal perkembangan sekitar ratusan tahun yang lalu teknologi itu dikenal sebagai cara mengajar dengan menggunakan alat peraga hasil buatan sendiri oleh guru di sekolah. Tiga puluh tahun kemudian (sekitar tahun 1930) penggunaan alat peraga itu berkembang dengan diproduksinya secara missal media belajar-pengajaran untuk digunakan disekolah secara meluas. Sepuluh tahun kemudian, saat Amereka Serikat terlibat dalam PD II, diperlukan banyak sekali tenaga teerampil dalam mengoperasikan dan menangani peralatan perang. Untuk itu diperlukan latihan yang efektif dalam waktu yang pendek dan dapat diulang sesering mungkin. Dikembangkanlah cara pelatihan dengan menggunakan berbagai media dan simulator untuk keperluan pelatihan personel angkatn bersenjata tersebut. Mulailah dikenal istilah teknologi kinerja (performance technology). Seusai PD II mulai dikembangkan pengalaman di kalangan angkatan bersenjata tersebut untuk keperluan pendidikan dan pelatihan. Dalam lingkungan sekolah dan perguruan tinggi mulai dibangun suatu lembaga yang dipisahkan dari perpustakaan, dengn menyediakan dan mengembangkan media pengajaran dan diberi nama Pusat Sumber Belajar. Program studi atau keahlian dalam teknologi

6

pendidikan mulai dibuka di beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada. Namun pendidikan dalam lingkungan sekolah ini lebih berorientasi teoritis dan mengganggap fungsinya adalah mempersiapkan peserta didik untuk masa depat yang siap latih. Padahal dengan semakin berkembangnya kegiatan social ekonomi diperlukan tenaga yang kompeten lebih banyak dan cepat. Hal ini memicu tumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga yang menyelenggarakan pelatihan dan kurusus sebagai upaya pendidikan berkelanjutan yang bersifat terapan. Lembagalembaga ini ada yang berdiri sendiri, namun banyak yang merupakan bagian dari organisasi bisnis, industri dan public, serta organisasi pemerintah. Untuk mere4ka ini lebih tepat digunakan istilah “teknologi pembelajaran”, karena mereka lebih berkepentingan dalam membelajarkan orang dalam lingkungan kerja mereka sendiri atau pembelajaran untuk penguasaan suatu kompetensi tertentu. Perkembangan ini dapat digambarkan seperti pada gambar berikut :

Di Indonesia sendiri penerapan teknologi pembelajaran tidak jauh berbeda dengan perkembangan seperti halnya di amerika Serikat, hanya terpaut waktu yang cukup lama. Perkembangan itu boleh dikatakan baru dikenal sekitar awal tahun 1950, dengan didirikannya Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru (BKTPG) dan Balai Alat Peraga Pendidikan (BAPP) di Bandung. BKTPG yang sekarang menjadi Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis (P3G Tertulis) bertanggung jawab untuk menyelenggarakan penataran kualifikasi guru dengan bahan pelajaran tertulis dengan berpegangan pada konsep belajar mandiri. BAPP pada awal tahun 1970 diintegrasikan dengan Pusat Pengaembangan Penataran Guru bidang studi.

Beberapa bentuk penerapan teknologi pembelajaran secara menyeluruh, yaitu yang meliputi semua komponen dank arena itu merupakan system dapat dicontohkan sebagai berikut : o Proyek percontohan system PAMONG (Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orang tua, dan Guru) di Kabupaten Karanganyar, Surakarta pada tahun 1974, dan disebarkan di Kabupaten Malang dan Gianyar pada tahun 1978.

7

o Pemasyarakatn P4 melalui permainan yang diujicobakan di Kabupaten Batu, Malang. o Proyek Pendidikan Melalui Satelit (Rural Satellite Project) di Perguruan tinggi wilyah Indonesia bagian Timur (BKSPT INTIM). o Program Pendidikan karakter melalui serial televise ACI (Aku Cinta Indonesia = Amit, Cici, Ito) = serial televise (pendidikan) pertama (dan terakhir). o Program KEJAR Paket A dan B o Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) o SLTP Terbuka o Universitas Terbuka o Sistem Belajar Jarak Jauh yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan. o Jaringan system belajar jarak jauh (Indonesian Distance Learning Network = IDLN) dan SEAMOLEC 9SEAMEO Open Learning Center) yang berkedudukan di Pustekkom Diknas. (Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta : Prenada Media, 2004), hal. 171-174)

8


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3236
posted:1/13/2010
language:Indonesian
pages:8