Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia

Document Sample
Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia Powered By Docstoc
					                                                   Modul 1

                                      RUANG LINGKUP
                              PSIKOLOGI SUMBER DAYA MANUSIA


              Ruang Lingkup Psikologi SDM


                     Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa dan logos = imu) dalam
              arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental. Psikologi
              tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak,
              tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut
              yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga psikologi dapat
              didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses
              mental.


              “Psychology is the science of human and animal behavior, it includes the application
              of this science to human problems” (Morgan, King, dan Robinson, 1979)
              Psikologi merupakan ilmu tentang tingkah laku manusia dan hewan, yang mencakup
              penerapannya untuk (mengatasi) permasalahan manusia.


                     Psikologi adalah ilmu yang tergolong muda (sekitar akhir 1800an.) Tetapi,
              manusia di sepanjang sejarah telah memperhatikan masalah psikologi. Seperti filsuf
              yunani terutama Plato dan Aristoteles. Setelah itu St. Augustine (354-430) dianggap
              tokoh besar dalam psikologi modern karena perhatiannya pada introSpeksi dan
              keingintahuannya tentang fenomena psikologi. Descartes (1596-1650) mengajukan
              teori bahwa hewan adalah mesin yang dapat dipelajari sebagaimana mesin lainnya.
              Ia juga memperkenalkan konsep kerja refleks. Banyak ahli filsafat terkenal lain dalam
              abad tujuh belas dan delapan belas—Leibnits, Hobbes, Locke, Kant, dan Hume—
              memberikan sumbangan dalam bidang psikologi. Pada waktu itu psikologi masih
              berbentuk wacana belum menjadi ilmu pengetahuan.


              Psikologi kontemporer
                     Diawali pada abad ke 19, dimana saat itu berkembang 2 teori dalam
              menjelaskan tingkah laku, yaitu :
                 Psikologi Fakultas
                  Psikologi fakultas adalah doktrin abad 19 tentang adanya kekuatan mental
                  bawaan, menurut teori ini, kemampuan psikologi terkotak-kotak dalam beberapa



PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB           Drs. Agung Sigit Santoso, P.Si., M.Si.   PSIKOLOGI S D M   1
                  ‗fakultas‘ yang meliputi: berpikir, merasa dan berkeinginan. Fakultas ini terbagi
                  lagi menjadi beberapa subfakultas: kita mengingat melalui subfakultas memori,
                  pembayangan melalui subfakultas imaginer, dan sebagainya.


                 Psikologi Asosiasi
                     Bagian dari psikologi kontemporer abad 19 yang mempercayai bahwa proses
                     psikologi pada dasarnya adalah ‗asosiasi ide.‘ Dimana ide masuk melalui alat
                     indera dan diasosiasikan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu seperti
                     kemiripan, kontras, dan kedekatan.


                  Dalam perkembangan ilmu psikologi kemudian, ditandai dengan berdirinya
              laboratorium psikologi oleh Wundt (1879) Pada saat itu pengkajian psikologi
              didasarkan atas metode ilmiah (eksperimental) Juga mulai diperkenalkan metode
              intropeksi, eksperimen, dsb. Beberapa sejarah yang patut dicatat antara lain :
                 F. Galton > merintis test psikologi.
                 Charles Darwin > memulai melakukan komparasi dengan binatang.
                 Mesmer > merintis penggunaan hipnosis
                 Sigmund Freud > merintis psikoanalisa


              Psikologi sebagai ilmu pengetahuan
                     Walaupun sejak dulu telah ada pemikiran tentang ilmu yang mempelajari
              manusia dalam kurun waktu bersamaan dengan adanya pemikiran tentang ilmu yang
              mempelajari alam, akan tetapi karena kekompleksan dan kedinamisan manusia
              untuk dipahami, maka psikologi baru tercipta sebagai ilmu sejak akhir 1800-an
              sewaktu Wilhem Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertama didunia.
              Laboratorium Wundt


                     Pada tahun 1879 Wilhem Wundt mendirikan laboratorium Psikologi pertama
              di University of Leipzig, Jerman. Ditandai oleh berdirinya laboratorium ini, maka
              metode ilmiah untuk lebih mamahami manusia telah ditemukan walau tidak terlalu
              memadai. dengan berdirinya laboratorium ini pula, lengkaplah syarat psikologi untuk
              menjadi ilmu pengetahuan, sehingga tahun berdirinya laboratorium Wundt diakui
              pula sebagai tanggal berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan.




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB             Drs. Agung Sigit Santoso, P.Si., M.Si.   PSIKOLOGI S D M   2
              Fungsi psikologi sebagai ilmu
                     Psikologi memiliki tiga fungsi sebagai ilmu yaitu :
              1. Menjelaskan
                 Yaitu mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu
                 terjadi. Hasilnya penjelasan berupa deskripsi atau bahasan yang bersifat
                 deskriptif.
              2. Memprediksikan
                 Yaitu mampu meramalkan atau memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa
                 tingkah laku itu terjadi. Hasil prediksi berupa prognosa, prediksi atau estimasi.
              3. Pengendalian
                 Yaitu   mengendalikan      tingkah   laku   sesuai    dengan    yang      diharapkan.
                 Perwujudannya berupa tindakan yang sifatnya prevensi atau pencegahan,
                 intervesi atau treatment serta rehabilitasi atau perawatan.


              Pendekatan Psikologi
                     Tingkah laku dapat dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda, dalam
              psikologi sedikitnya ada 5 cara pendekatan, yaitu :


              Pendekatan Neurobiologis
              Tingkah laku manusia pada dasarnya dikendalikan oleh aktivitas otak dan sistem
              syaraf. Pendekatan neurobiologis berupaya mengaitkan perilaku yang terlihat
              dengan impuls listrik dan kimia yang terjadi didalam tubuh serta menentukan proses
              neurobiologi yang mendasari perilaku dan proses mental.


              Pendekatan Perilaku
              Menurut pendekatan perilaku, pada dasarnya tingkah laku adalah respon atas
              stimulus yang datang. Secara sederhana digambarkan dalam model S - R atau
              hubungan Stimulus - Respon. Ini berarti tingkah laku itu refleks tanpa kerja mental
              sama sekali. Pendekatan ini dipelopori oleh J.B. Watson kemudian dikembangkan
              oleh banyak ahli, seperti B.F.Skinner, dan melahirkan banyak sub-aliran.


              Pendekatan Kognitif
              Pendekatan kognitif menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana
              individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan
              menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalu
              melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB            Drs. Agung Sigit Santoso, P.Si., M.Si.   PSIKOLOGI S D M    3
              Pendekatan Psikoanalisa
              Pendekatan psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa
              kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga
              tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan,
              impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup
              dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.
              Pendekatan Fenomenologi
              Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif
              individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu
              terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal
              yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku
              seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.


              Kajian Psikologi
                        Dalam kaitannya dengan tingkah laku individu dalam lingkungan tertentu atau
              lingkungan kerja seperti di perusahaan / atau organisasi, maka pendekatan psikologi
              sosial menjadi acuan untuk menjelaskan tingkah laku individu. Psikologi sosial
              mempunyai 3 ruang lingkup, yaitu :
              1. studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya : studi tentang
                  persepsi, motivasi, proses belajar, atribusi (sifat)
              2. studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial,
                  perilaku meniru dan lain-lain
              3. studi     tentang interaksi   kelompok,     misalnya :   kepemimpinan,       komunikasi
                  hubungan kekuasaan, kerjasama dalam kelompok, persaingan, konflik


                  Aspek manusia berkaitan dengan lingkungannya sebagai fokus psikologi sosial
              juga dipelajari oleh antropologi dan sosiologi, namun ada perbedaan yang mendasar
              yaitu :
              Antropologi
              Mempelajari manusia sebagai suatu keseluruhan, dengan obyek materialnya umat
              manusia antropologi memiliki obyek formal yang berfokus pada studi tentang produk-
              produk budaya umat manusia (menjelaskan hakekat perilaku manusia dengan
              menggali nilai-nilai yang ada dalam berbagai budaya suku bangsa di dunia)


              Sosiologi
              Mempelajari manusia sebagai bagian dari lingkungan (keluarga, masyarakat, desa
              atau wilayah tertentu)



PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB              Drs. Agung Sigit Santoso, P.Si., M.Si.   PSIKOLOGI S D M    4
              Pendekatan SDM


                     Pendekatan SDM mengacu pada kalimat yang tertuang dalam GBHN RI
              sebagai berikut :
              “Jumlah penduduk yang sangat besar, apabila dapat dibina dan dikerahkan sebagai
              tenaga kerja yang efektif akan merupakan modal pembangunan yang besar dan
              sangat menguntungkan bagi usaha-usaha pembangunan di segala bidang ….”.
                     Sehingga harus disadari, bahwa proses pembangunan nasional Indonesia
              menekankan pada pendekatan sumber daya manusia dan pengembangannya,
              dengan kata lain tujuan pembangunan nasional adalah memanfaatkan tenaga
              manusia sebanyak mungkin dalam kegiatan-kegiatan produktif yang menghasilkan
              produk atau jasa.


              Pandangan terhadap Manusia sebagai Tenaga Kerja :
                     Perkembangan dunia industri, menimbulkan dampak terhadap adanya
              pergeseran pandangan terhadap peran manusia sebagai tenaga kerja yang menjadi
              bagian dari proses industrialisasi, yaitu :
              1. Pendekatan Mekanistik yang menekankan manusia sebagai faktor produksi yang
                 dapat diganti.
                 Ketika muncul revolusi industri dengan kemajuan teknologi alat-alat, mesin dan
                 teknik produksi       yang dapat     menggantikan ketrampilan manusia,            maka
                 dampaknya banyak terjadi tenaga kerja kehilangan pekerjaannya, sehingga
                 banyak pengangguran.


              2. Pendekatan       Paternalistik,   memandang     manusia     sebagai     mahkluk    yang
                 membutuhkan sandang, pangan dan papan
                 Pandangan ini muncul akibat kekhawatiran para industriawan atas ‗kuatnya‘
                 serikat-serikat pekerja /buruh sebagai reaksi atas banyaknya pengurangan
                 tenaga kerja dengan adanya ‗revolusi industri‘. Pendekatan paternalistik
                 memandang bahwa manusia memiliki kebutuhan fisik-psikis yang harus dipenuhi.
                 Pemimpin perusahaan bersikap melindungi tenaga kerjanya, sebagai ‗bapak‘
                 kepada ‗anaknya‘. Dimana Atasan (bapak) memutuskan apa yang terbaik untuk
                 bawahan (anak) dengan membuat peraturan/tunjangan kesejahteraan pegawai,
                 seperti rekreasi, perumahan, pensiun dsb.




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB              Drs. Agung Sigit Santoso, P.Si., M.Si.   PSIKOLOGI S D M    5
              3. Pendekatan Hubungan Antar Manusia, yang menekankan aspek sosial dan
                 harga diri manusia.
                 Dari beberapa penelitian disimpulkan, bahwa factor-faktor manusia dan social
                 berdampak langsung pada output produktivitas. Dimana produktivitas tenaga
                 kerja akan meningkat ketika aktivitas mereka dinilai, dianggap penting dan
                 berguna, serta dihargai martabatnya sebagai perseorangan maupun sebagai
                 bagian dalam suatu teamwork.
              4. Pendekatan Pengembangan SDM, yang memandang manusia sebagai mahkluk
                 yang menghendaki perkembangan, dan berhasrat mengaktualisasikan dirinya.
                 Manusia sebagai tenaga kerja tidak hanya butuh sandang, pangan, papan, sosial
                 serta penghargaan, namun perlu disadari bahwa mereka juga memiliki
                 kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya, yaitu bekerja sesuai dengan
                 kemampuannya. Mereka dapat menjadi lebih kreatif serta mampu mengarahkan
                 dan mengendalikan diri sendiri untuk mencapai sasaran yang dituntut
                 pekerjaannya. Mereka akan bersedia mengarahkan energinya untuk mencapai
                 tujuan organisasi, bila mereka diberi kesempatan untuk menentukannya.
                 Gaya    Manajemen        Partisipatif   nampaknya    menjadi      pilihan   yang    dapat
                 memfasilitasi pendekatan ini, dimana bawahan lebih proaktif; dapat bekerja lebih
                 aman dan nyaman; jelas apa yang diharapkan dan harus dilakukan; serta
                 merasa atasan dapat mendengar dan memahami dirinya


              Gambaran Manusia Indonesia
                     Mochtar Lubis dalam ceramahnya di TIM 1977, memberikan pandangannya
              tentang “Situasi Manusia Indonesia kini, dilihat dari segi kebudayaan dan nilai
              manusia”, berkesimpulan bahwa :
              ―Manusia Indonesia itu         ciri-cirinya munafik    (hipokrit),   segan     dan    enggan
              betanggungjawab, feodal, percaya takhayul, artistik, berwatak lemah, malas (tidak
              mau kerja keras) ….‖


                     Sementara itu Koentjaraningrat dalam bukunya “Kebudayaan, Mentalitet dan
              Pembangunan” (1974) menggambarkan manusia Indonesia dalam 2 golongan :
              1. Orang Desa (mentalitas petani) dengan cirri-ciri :
                 -   Kerja keras untuk makan
                 -   Orientasi saat ini
                 -   Hidup selaras dengan alam
                 -   Orientasi hubungan sosial sama rata sama rasa , bersifat konformitis –
                     menjaga untuk tidak tampil menonjol



PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB              Drs. Agung Sigit Santoso, P.Si., M.Si.   PSIKOLOGI S D M      6
              2. Orang kota (mentalitas priyayi) dengan cirri-ciri :
                  - Kerja untuk kedudukan, kekuasaan, status, simbol-simbol kemakmuran
                  - Orientasi pada masa lalu – nasib
                  - Orientasi hubungan merujuk pada atasan, menunggu restu atasan


                       Gambaran sikap mental itu terbentuk dan mengendap dalam diri manusia
              Indonesia karena kondisi lingkungan di masa lalu yang bersumber pada sistem nilai
              budaya, dari jaman penjajahan, pergolakan politik, keterpurukan ekonomi dan
              kemunduran-kemunduran dalam aspek kehidupan social budaya lainnya. Lebih
              lanjut   Koentjaraningrat   menyimpulkan     adanya      kelemahan      mentalitas   yang
              bersumber dari kondisi kehidupan yang ‗tidak pasti‘, tanpa pedoman dan orientasi
              yang jelas, sehingga muncul mentalitas manusia Indonesia yang …
                  1. Mengabaikan kualitas
                  2. Suka menerabas, mengambil jalan pintas
                  3. Tidak percaya pada diri sendiri
                  4. Tidak disiplin
                  5. Tidak bertanggungjawab


                       Seberapa jauh cirri-ciri mentalitas Manusia Indonesia itu masih melekat pada
              orang Indonesia dalam dunia kerja diteliti oleh Munandar, dkk (1977) yang
              menemukan bahwa orientasi para tenaga kerja sebagi berikut :
              1. Manusia harus berikhtiar/kerja agar hidup lebih baik
              2. Bekerja tidak terikat oleh kebiasaan/peraturan masa lalu, dapat menyesuaikan
                  diri demi perbaikan dan kemajuan
              3. Bekerja untuk mencapai prestasi dan mencari nafkah.
              4. Orientasi vertikal – mengikuti atasan.


                       Sementara itu Mulyono, dkk. (1978) dalam penelitian lain menemukan,
              bahwa hubungan atasan bawahan di perusahaan yang diteliti adalah :
              1. Kecenderungan kuat berorientasi vertikal, menggantungkan diri pada atasan.
              2. Atasan sebagai ‗bapak‘/tokoh panutan yang dihormati
              3. Sulit mengajukan saran, kritik ataupun mengajukan pandangan yang berbeda.




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB            Drs. Agung Sigit Santoso, P.Si., M.Si.   PSIKOLOGI S D M     7
              Fakta dan Masalah SDM saat ini diantaranya adalah :
                 Jumlah penduduk Indonesia yang sudah lebih dari 220 juta jiwa
                 Jumlah angkatan kerja, yang tidak sebanding dengan kesempatan kerja
                 Pengangguran yang sudah lebih dari 9 juta orang
                 SDM yang kurang berkualitas dari segi pendidikan, ketrampilan, dan kemampuan
                 Dan sebagainya.




              Bagaimana Psikologi Berperan
                     Secara umum berbagai teori, metode dan pendekatan Psikologi dapat
              dimanfaatkan di berbagai bidang dalam perusahaan. Salah satu hasil riset yang
              dilakukan terhadap para manager HRD menunjukkan bahwa lebih dari 50%
              responden menyebutkan Psikologi Industri dan Organisasi memberikan peran
              penting pada area-area seperti pengembangan manajemen SDM (rekrutmen,
              seleksi dan penempatan, pelatihan dan pengembangan), motivasi kerja, moral
              dan kepuasan kerja. 30% lagi memandang hubungan industrial sebagai area
              kontribusi dan yang lainnya menyebutkan peran penting PIO pada disain struktur
              organisasi dan desain pekerjaan.


                     Hasil riset tersebut di atas mungkin hanya menggambarkan sebagian
              besar area dimana Psikologi dapat berperan. Satu hal yang belum disebutkan di
              atas misalnya peran para psikolog dalam menangani individu-individu yang
              mengalami masalah-masalah psikologis melalui employees assistant program
              (EAP) atau pun klinik-klinik yang dimiliki oleh perusahaan. Penanganan individu
              yang mengalami masalah psikologis sangat besar pengaruhnya terhadap
              produktivitas dan kinerja perusahaan. Hal tersebut sangatlah wajar mengingat
              bahwa perusahaan digerakan oleh individu-individu yang saling berinteraksi di
              dalamnya.


                     Dalam kenyataan sehari-hari banyak faktor-faktor psikologis yang
              mempengaruhi seseorang dalam bekerja. Faktor-faktor tersebut seringkali tidak
              dapat diselesaikan dengan pendekatan-pendekatan lain di luar psikologi. Contoh:
              dalam suatu team yang terdiri dari para pakar yang sangat genius seringkali
              justru tidak menghasilkan performance yang baik dibandingkan dengan sebuah
              team yang terdiri dari orang-orang yang berkategori biasa-biasa saja.




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB           Drs. Agung Sigit Santoso, P.Si., M.Si.   PSIKOLOGI S D M   8
                 Bagaimana Psikologi berperan dalam perusahaan, menurut John Miner dalam
              bukunya Industrial-Organizational Psychology (1992), dapat dirumuskan dalam 4
              bagian:
                       Terlibat dalam proses input : melakukan rekrutmen, seleksi, dan
                        penempatan karyawan.
                       Berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada
                        produktivitas: melakukan pelatihan dan pengembangan, menciptakan
                        manajemen keamanan kerja dan teknik-teknik pengawasan kinerja,
                        meningkatkan motivasi dan moral kerja karyawan, menentukan sikap-
                        sikap kerja yang baik dan mendorong munculnya kreativitas karyawan..
                       Berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada
                        pemeliharaan:   melakukan     hubungan     industrial   (pengusaha-buruh-
                        pemerintah), memastikan komunikasi internal perusahaan berlangsung
                        dengan baik, ikut terlibat secara aktif dalam penentuan gaji pegawai dan
                        bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya, pelayanan berupa
                        bimbingan,   konseling dan therapi       bagi   karyawan-karyawan yang
                        mengalami masalah-masalah psikologis
                       Terlibat dalam proses output: melakukan penilaian kinerja, mengukur
                        produktivitas perusahaan, mengevaluasi jabatan dan kinerja karyawan.




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB             Drs. Agung Sigit Santoso, P.Si., M.Si.   PSIKOLOGI S D M   9