Sumber Daya Alam Priangan. Provinsi Jawa Barat berada di

Document Sample
Sumber Daya Alam Priangan. Provinsi Jawa Barat berada di Powered By Docstoc
					                      Sumber Daya Alam Priangan.


      Provinsi Jawa Barat berada di antara 5 0 50’ – 7 0 50 Lintang Selatan
dan 105 0 – 109 0 Bujur Timur, meliputi wilayah seluas 3.709,529 hektar. Ke
Barat berbatasan dengan Provinsi Banten, ke Barat Laut dengan DKI Jakarta,
ke Timur dengan Provinsi Jawa Tengah dan ke Utara dengan Laut Jawa, ke
Selatan dengan Samudera Hindia.
      Provinsi Jawa barat terdiri atas 16 kabupaten dan 9 kota yang
merupakan daerah administrasi yang bersifat otonom. Jumlah penduduk
Jawa Barat pada tahun 2004 mencapai 38.472.185 jiwa dengan kepadatan
penduduk sebesar 29.277 jiwa per km 2 , sedangkan di kota atau wilayah
urban 8 jiwa per hektar. Konsekuensi logis pertambahan penduduk adalah
bertambah pulakebutuhan akan sumber-sumber alam dan lingkungan hidup
yang pada gilirannya mengakibatkan tekanan yang besar terhadap sumber-
sumber alam dan lingkungan hidup yang memang semakin terbatas
ketersediaannya.
      Propinsi Jawa Barat memiliki luas 3,7 juta hektar dengan berbagai tipe
ekosistem, mulai dari ekosistem pegunungan, rawa, hingga pantai dan
daerah pesisir berbatu di selatan hingga dataran tanah aluvial di utara.
Keragaman ekosistem ini akan mempengaruhi tingkat keanekaragaman pada
tingkat jenis Hampir 60 % daerah Jawa Barat merupakan daerah bergunung
dengan ketinggian antara 500–3.079 m dpl. sedangkan 40 % merupakan
daerah dataran yang memiliki variasi tinggi antara 0–500 m dpl. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa wilayah Jawa Barat didominasi daerah
pegunungan atau dataran tinggi.
      Iklim di Jawa Barat hampir selalu basah kecuali untuk daerah pesisir
yang berubah menjadi kering pada musim kemarau, dengan curah hujan
berkisar antara 1000 mm s/d 6000 mm. Pada daerah selatan dan tengah,
intensitas hujan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah utara Jawa Barat
mempunyai keanekaragaman tumbuhan yang tinggi. Setidaknya terdapat
3.882 spesies tumbuhan berbunga dan tumbuhan paku asli Jawa Barat dan
258 jenis yang dimasukkan dari luar. Khusus untuk anggrek (Orchidaceae) di
Pulau Jawa, di Jawa Barat terdapat 607 jenis alami, 302 jenis (50%) hanya ada
di Jawa Barat (Va Steenis dalam Backer dan Bakhuizen van de Brink,1965).
       Menurut Comber (1990) di Jabar terdapat 642 jenis anggrek dan hanya
terdapat di Jawa Barat 248 jenis. Tumbuhan yang termasuk pohon, di Jawa
Barat terdapat 1.106 jenis (Prawirya,tbt) dengan 51 jenis disebut dengan
pohonpohon penting , diantaranya jati (Tectona grandis), rasamala (Altingia
excelsa), kepuh (Sterculia foetida), jamuju (Podocarpus imbricatus), bayur
(Pterespermum javanicum), puspa (Schima wallichii), kosambi (Schleichera oleosa),
beleketebe (Sloenea sigun), pasang (Lithocarpus spp.), pedada (Sonneratia alba),
bakau (Rhizhopora mucronata) dll.
       Menurut Van Steenis (1972) terdapat 39 jenis tumbuhan pegunungan
yang dikategorikan jarang (rare) di Jabar, 18 jenis diantaranya sejauh ini
diduga endemic (meskipun ada diantaranya ditemukan ditempat lain).
Diantaranya yang endemic tersebut 11 jenis adalah anggrek (Orchidaceae).
Sebelumnya Van Steenis (dalam Backer dan Bakhuizen van de Brink, 1965)
menyebutkan ada dua jenis yang endemic di Jabar yaitu Heynella lacteal
(Tjadasmalang) dan Silvorchis colorata (di sekitar Garut).
       Secara umum dunia fauna dapat dikelompokkan kedalam : serangga,
pisces, amfibi, reptile, aves dan mamalia. Beberapa spesies burung yang
bersifat endemic, langka dan terancam punah masih tersisa di kawasan
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
misalnya elang jawa (Spizaetus bartelsi), Walet raksasa (Hydrochous gigas),
Walik putih (Ptilinopsus cinctus) dan sebagainya. Sedangkan mamalia
endemik Jawa Barat yang dilindungi UndangUndang diantaranya adalah
surili (Presbytis comata), trenggiling (Manis javanica), reptile endemic Jawa
Barat diantaranya Typhlops bisubocularis, Pseodoxenodon inomatus, Bungarus
javanicus. Amfibia Jawa Barat dari golongan Bufonidae, Microhylidae dan
Megophrydae, serta kupukupu endemic diantaranya Papilio lampsacus.
          Kondisi sumberdaya alam hayati diregional Jawa Barat saat ini
memprihatinkan dengan menyisakan kawasan lindung hanya 27% (menurut
Dephut kawasan hutan seluas 1.000.734 ha atau 22%) dari luas dari wilayah
Jawa Barat.
          Untuk daya dukung optimal setidaknya Jawa Barat harus memiliki
kawasan lindung 45% dari wilayahnya. Peran hutan lindung untuk
konservasi sumberdaya alam hayati tidak bisa dipungkiri karena hutan yang
tersisa sudah demikian kecilnya sehingga mempunyai nilai konservasi yang
tinggi.
          Saat ini, Provinsi Jawa Barat memiliki 37 kawasan konservasi yang
terdiri dari Taman Nasional (2), Cagar Alam (25), Taman Wisata Alam (6
berdiri sendiri dan 7 bersama dengan Cagar Alam), Suaka Margasatwa (2),
Taman Buru (1) dan Taman Hutan Raya (1). Lokasi kawasan tersebut tersebar
di sembilan kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur,
Purwakarta, Bandung, Garut Ciamis, Sumedang dan Kuningan
          Saat ini di Jawa terdapat 137 jenis mamalia daratan, 22 jenis
diantaranya adalah spesies endemik Jawa. Jenis endemik Jawa yang terkenal
adalah Surili Presbytis comata, Owa Jawa Hylobates moloch, Babi Jawa Sus
verrucosus dan salah satu jenis mamalia predator yaitu macan kumbang
Phantera pardus. Jenis primata endemik Owa Jawa dan Surili saat ini
dikatakan sebagai primate yang paling terancam punah di Indonesia.
          Jawa Barat terbanyak memiliki jenis burung yang terancam punah
secara global yaitu 15 jenis, Jenis burung Jawa yang bisa dikatakan paling
terancam keberadaannya adalah Gelatik Jawa Padda oryzifora yang secara
global terancam punah dengan status rentan dan merupakan endemik Jawa.
Masih sedikit sekali yang diketahui tentang amphibi di Jawa, namun
satusatunya jenis amphibi yang endemik Jawa dari ordo Gymnophiona yaitu
amphibian yang berbentuk cacing adalah jenis cacing berkepala Ichthyophis
hypocyaneus, diyakini masih ada.
      Reptilia di Jawa masih sedikit sekali yang diketahui dan dipelajari.
Salah satu kelompok reptil yang penting untuk dicatat adalah penyu. Banyak
orang menangkap dan berburu penyu untuk mendapatkan telur maupun
dagingnya.
      Ada lima jenis penyu yang diketahui ada dan bertelur di Jawa, tetapi
saat ini hanya 3 jenis yang konfirmasikan masih menggunakan pantai Jawa
termasuk pantai Jawa Barat sebagai lokasi bertelur. Jenis ikan yang pernah
tercatat di Jawa Barat dan telah punah adalah ikan Bagarius yarelli yang
ukurannya dapat mencapai panjang 2 meter dan belut raksasa Thyrsoidea
macrurus.
      Pulau Jawa memiliki 6.500 jenis flora (4.500 jenis asli) dapat dikatakan
relatif miskin jenis flora dibandingkan daerah lainnya. Salah satu genus flora
yang unik di Jawa adalah bunga Rafflesia. Jenis Rafflesia padma banyak
tercatat di hutan Jawa Barat dan jenis Rafflesia sochussenii yang baru
ditemukan kembali oleh pencinta alam Lawalata IPB di Gunung Salak setelah
73 tahun “hilang”. Hutan pegunungan di Jawa Barat juga sebagai benteng
terakhir bagi bunga abadi Edelweiss Anaphalis javanica.
      Kondisi    Jawa   Barat   bagian   selatan   didominasi   oleh   daerah
pegunungan dengan beberapa gunung berapi yang sudah tidak aktif
diantaranya adalah Gn. Patuha (2.434 m), Gn. WayangWindu (2.182 m), Gn.
Malabar (2.350 m), Gn. Kendang (2.608 m), Gn. Talaga Bodas (2.241) dan
beberapa yang aktif Gn. Galunggung (2.168 m), Gn. Cikurai (2.800 m), Gn.
Papandayan (2.622 m), dan Gn. Guntur (2.249 m).
      Tangkuban Perahu (2.076) serta beberapa gunung yang sudah tidak
aktif adalah Gn. Salak (2.211 m), Gn. Halimun (1.744 m), Gn. Ciparabakti
(1.525 m) dan Gn. Cakrabuana (1.721 m). Kondisi yang masih didominasi oleh
pegunungan ini pun telah memberikan kontribusi dalam perlindungan dan
pelestarian terhadap ekosistem alami.
      Daerah selatan merupakan daerah yang memiliki luasan hutan yang
dominan di Jawa Barat, dan 9.5% diantaranya merupakan hutan alami. Dan
hampir 60% wilayah hutan yang ada di Jawa Barat berada di daerah selatan.
Luas hutan yang ada di Jawa Barat mencapai 864,87 ribu Ha, yang terdiri atas
612,05 ribu Ha merupakan hutan konservasi.
       Jawa Barat mempunyai keanekaragaman tumbuhan yang tinggi. Di
Jawa Barat terdapat 3.882 jenis (spesies) tumbuhan berbunga dan tumbuhan
paku asli Jawa Barat dan 258 jenis yang dimasukkan dari luar. Perbandingan
dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk tumbuhan asli adalah
3.882:2.851:2.717. Khusus untuk anggrek (Orchidaceae) di Pulau Jawa, di Jawa
Barat terdapat 607 jenis alami, 302 jenis (50 %) hanya ada di Jawa Barat (Van
Steenis dalam Backer & Bakhuizen van de Brink, 1965). Menurut Comber
(1990) di Jawa Barat terdapat 642 jenis anggrek dan yang hanya terdapat di
Jawa Barat 248 jenis.
       Tumbuhan yang termasuk pohon, di Jawa Barat terdapat 1.106 jenis
(Prawira, tbt.) dengan 51 jenis disebut dengan pohonpohon yang penting,
diantaranya jati (Tectona grandis), rasamala (Altingia excelsa), kepuh (Sterculia
foetida), jamuju (Podocarpus imbricatus), bayur (Pterospermum javanicum), puspa
(Schima wallichii), kosambi (Schleichera oleosa), beleketebe (Sloenea sigun),
pasang (Lithocarpus spp.), pedada (Sonneratia alba), bakau (Rhizhopora
mucronata), dll.
Tip-etipe vegetasi yang ada di Jawa Barat adalah (Van Steenis, 1965):
•   Vegetasi litoral, termasuk di sini jenisjenis tumbuhan lamun seperti setu
    (Enhalus acoroides), Thalassia hemprichii, dan berbagai jenis alga seperti
    Gelidium, Gracilaria dan Euchema yang menghasilkan agaragar.
•   Hutan bakau (mangrove), antara lain bakau (Rhizophora spp.), pedada
    (Sonneratia spp.), apiapi (Avicennia spp.), tarungtung (Lumnitzera littorea).
•   Formasi pantai antara lain formasi Barringtonia yang ditandai oleh keben
•   (Barringtonia   asiatica),   ketapang    (Terminalia     catappa),   nyamplung
    (Calophyllum inophyllum), dll.
•   Hutan rawa dataran rendah, antara lain reungas (Gluta renghas), bungur
    (Lagerstroemia spp.), cangkring (Erythrina fusca) dll.
•   Hutan hujan dataran rendah dan perbukitan. Formasi ini terdapat pada
    ketinggian di bawah 1500 dpl. (Zona tropis 11000 dpl., zona submontana
    10001500 dpl.). Antara lain berbagai jenis bambu (Bambusa spp.,
    Gigantochloa spp.), mara (Mallotus spp., Macaranga spp.), kareumbi
    (Omalanthus populneus), dan teureup (Artocarpus elasticus) dll.
•   Hutan hujan pegunungan (zona Montana) pada ketinggian 15002400 m
    dpl. Antara lain rasamala (Altingia excelsa), pasang (Lithocarpus spp.),
    saninten (Castanopsis argentea), hamirung (Vernonia arborea), puspa (Schima
    wallichii), huru (Litsea spp., Phoebe spp.), jamuju (Podocarpus imbricatus),
    dan kihujan (Engelhardia spp.) dll.
•   Danau dan rawa pegunungan, tumbuhan rawa seperti Eriocaulon spp.,
    Xyris campestris, dll. Lumut Sphagnum ditemukan di Gunung Gede dan
    Patuha.
•   Vegetasi sub alpin, di atas 2400 m dpl. Daerah ini lebih miskin dariapada
    hutan hujan pegunungan, didominasi oleh suku Ericaceae seperti cantigi
    (Vaccinium spp.), Rhododendron spp., gandapura (Gaultheria spp.), dan
    jenisjenis lain yang khas seperti ramo kasang (Schefflera spp.), kiteke
    (Myrica javanica), jirak (Symplocos sessilifolia) dll.


       Menurut Van Steenis (1972) terdapat 39 jenis tumbuhan pegunungan
yang dikategorikan jarang (‘rare’) di Jawa Barat, 18 jenis diantaranya sejauh
ini diduga endemik (Meskipun ada diantaranya yang ditemukan di tempat
lain). Di antara yang endemik tersebut, 11 jenis adalah anggrek (Orchidaceae).
Sebelumnya Van Steenis (dalam Backer & Bakhuizen van de Brink, 1965)
menyebutkan ada dua jenis yang endemik di Jawa Barat yaitu Heynella lactea
(Tjadasmalang) dan Silvorchis colorata (di sekitar Garut).
       Menurut Van Steenis (dalam Backer & Bakhuizen van de Brink, 1965)
di Pulau Jawa, dari 6.543 jenis yang ada, 1.523 jenis (23,4 %) adalah tanaman
budidaya, sisanya adalah tumbuhan liar (4.598 jenis) dan tumbuhan asing
yang ternaturalisasi (413 jenis). Sebagian dari tumbuhan alami terdapat di
kawasan konservasi yaitu hutan lindung, cagar alam, suaka margasatwa dan
taman nasional. Di Taman Nasional Gunung GedePangrango terdapat 844
jenis tumbuhan berbunga (Sunaryo & Rugayah, 1992).
       Semua jenis tumbuhan merupakan sumber daya alam yang dapat
diperbaharui, yang mempunyai manfaat langsung maupun tidak langsung.
Pemanfaatan tumbuhan secara tradisional oleh masyarakat lokal dikenal
sebagai etnobotani. Penelitian etnobotani di Jawa Barat sudah banyak
dilakukan, antara lain di Kampung Naga (Suandharu, 1998), Cinangka
(Murdiati dkk. 1992), Gunung Halimun (Nizma & Darnaedi, 1992;
Panggabean & Ladjar, 1992), Pangandaran (Zuhud & Yuniarsih, 1992), dll.
Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat lokal akan semakin
terkikis dengan kemajuan teknologi.
       Secara umum spesies mangrove yang terdapat di Pantai Selatan Jawa
Barat adalah :
   1. Rizohora mucronata
   2. Bruguiera gymnorrhiza
   3. Ceriops tagal
   4. Xylocarpus granatum
   5. Avicennia marina
   6. Sonneratia alba
   7. Aegiceras corniculata
   8. Lumnitzera racemosa
   9. Heritiera litoralis
   10. Nypa fruticans


       Rumput laut (seaweed) merupakan salah satu komoditi ekspor
Indonesia    untuk    memasok    pasar    Internasional.   Rumput    laut      yang
diperdagangkan ini merupakan makro algae multiseluler dan dalam
taksonomi diklasifikasikan ke dalam division Thalophyta. Divisio ini
mempunyai empat kelas besar yaitu Rhodophyceae (alga merah), Phaeophyceae
(alga coklat), Chlorophyceae (alga hijau) dan Cyanophyceae (alga biruhijau).
       Keempat kelas tersebut dibedakan berdasarkan kandungan pigmen
dan khlorofil. Rhodophyceae umumnya berwarna merah, coklat, nila dan
bahkan hijau dan mengandung sel pigmen fikoeritin. Phaeophyceae umumnya
berwarna kuning kecoklatan karena selselnya mengandung khlorofil –a dan –
c. Clhorophyceae umumnya berwarna hijau karena selselnya mengandung
khlorofil –a dan –b dengan sedikit karoten.
       Jenis-jenis rumput laut yang ditemukan di Indonesia antara lain dari
marga Euchema dan Hypnea (penghasil keraginan), Gracilaria dan Gelidium
(penghasil agar) termasuk ke dalam kelas Rhodophyceae serta Sargassum dan
Turbinaria (penghasil alginat) yang merupakan kelas Phaeophyceae.
       Sebaran jenisjenis rumput laut tersebut di perairan ditentukan oleh
kecocokan habitatnya. Habitat rumput laut umumya adalah pada rataan
terumbu karang demikian pula halnya yang terdapat di pantai selatan Jawa
Barat. Mereka menempel pada subtrat benda keras berupa pasir, karang,
pecahan karang mati atau kulit kerang. Sesuai dengan lingkungan terumbu
karang, tempat tumbuh rumput laut kebanyakan jauh dari muara sungai.
Kedalamannya mulai dari garis pasang surut terendah sampai sekitar 40
meter. Rumput laut Indonesia yang di panen dari alam hanya sampai
kedalaman 34 meter di bawah pasang surut terendah dan tercatat ada 555
jenis rumput laut. Ada 61 jenis dari 27 marga yang telah dimanfaatkan untuk
makanan dan bahan baku industri serta 21 jenis dari 12 marga digunakan
untuk obat tradisional.
       Sudah sejak lama masyarakat memanfaatkan komunitas rumput laut
alami ini untuk dipanen dan diperjualbelikan. Karena intensitas pemanenan
yang tinggi maka produksi rumput laut dari alam semakin lama semakin
berkurang.
       Rumput laut dikelompokkan berdasarkan kandungan kimianya yaitu
Agarofit adalah kelompok rumput laut penghasil agar, Karagenofit kelompok
rumput laut penghasil karagenan, Alginofit kelompok rumput laut penghasil
alginat.
     Jenis–jenis rumput laut yang terdapat di pantai selatan Jawa Barat
adalah :
     • Sargassum spp.
     • Ulva sp.
     • Chaetomorpha sp.
     • Gracilaria sp.
     • Codium sp.
     • Coulerpha spp.
     • Turbinaria sp.
     • Padina sp.
     • Halimeda sp.
     • Eucheuma sp.
     • Achtinotrichia fragilis
     • Amphiroa sp.
     • Corallina sp.
      Secara umum dunia fauna dapat dikelompokkan ke dalam kelompok:
serangga, pisces, amfibi, reptil, aves dan mamalia. Jenis fauna dari
kelompokkelompok tersebut ada yang langsung berhubungan dengan
kepentingan manusia yaitu bias bermanfaat bagi manusia, bersifat hama,
disukai untuk dipelihara atau dikonsumsi dan juga fauna dengan status
khusus seperti fauna endemik (hanya ditemui di suatu daerah tertentu),
langka/hampir punah dan punah. Hal tersebut berlaku juga untuk fauna di
Jawa Barat.
      Sampai saat ini diketahui ada 132 jenis ikan air tawar yang tercatat di
region Jawa dan Bali, 13 jenis diantaranya adalah jenis endemik. Kelangkaan
dan kepunahan beberapa jenis ikan ‘indigenous’ di daerah aliran Sungai
Citarum diakibatkan oleh beberapa hal yaitu: perubahan habitat dari sungai
ke danau/waduk, pencemaran dan ‘overfishing’ yang dilakukan untuk
kebutuhan pangan. Jenisjenis ikan yang punah tersebut, yaitu walangi
Bagatius yarrelli yang pernah tercatat di Jawa Tengah dan Jawa Barat belum
sempat     didomestikasi     sehingga   informasi   yang   berkaitan   dengan
spesiesspesies tersebut tidak banyak. Ikan yang dapat mencapai dua meter ini
telah punah. Jenis lain yang telah punah adalah belut terbesar di dunia
Thysoidea macrurus yang ada di beberapa muara di Jawa Barat.
       Kelompok amfibi dan reptil yang ditemukan di lapangan statusnya
semakin hari akan semakin langka. Hal ini diakibatkan karena habitat yang
tersedia semakin berkurang dan belum satupun dari jenis kelompok ini yang
sudah bisa didomestikasi dan dibudidaya. Kelangkaan beberapa spesies
kelompok ini terjadi sebagai akibat perburuan oleh manusia untuk
dikonsumsi dan dipelihara antara lain: katak sawah, katak catang, beberapa
jenis ular, biawak, bunglon, kurakura, dll.
       Beberapa jenis amfibi dan reptil masih sering dijumpai di beberapa
daerah di Jawa Barat adalah biawak (disekitar daerah aliran Sungai Citarum
dan waduk, danau Sanghyang di Tasikmalaya), kurakura (di sekitar daerah
aliran Sungai Citarum dan waduk, sungaisungai di daerah Bogor/Sentul).
Saat ini di Jawa diketahui terdapat 137 jenis mammalia daratan, 22 jenis
diantanya adalah jenis endemik. Jenis mammalia endemik Jawa yang terkenal
adalah surili Presbytis comata, owa jawa Hylobates moloch, babi jawa Sus
verrucosus   dan    rusa   jawa   Cervus   timorensis.   Penyebaran   mammalia
terpecahpecah dalam kantung-kantung hutan yang relatif kecil. Kelangkaan
jenis mamalia disebabkan oleh dua faktor utama yaitu aktivitas perburuan
dan habitat aslinya terganggu. Salah satu contoh penurunan drastis kelompok
ini adalah jarang dijumpainya lagi banteng Bos sondaicus di hutan Sancang
(Garut) dan di Pangandaran. Banteng ini sebenarnya sudah lama menjadi
maskot di kedua daerah tersebut.
       Jenis primata endemik Jawa perlu mendapat perhatian khusus yaitu
owa jawa Hylobates moloch, lutung jawa Trachypithecus auratus dan surili
Presbytis comata.
       Tiga jenis ini awalnya dikatakan sebagai jenis satwa dataran rendah,
karena habitatnya hutan dataran rendah rusak terdesak ke hutanhutan
dataran tinggi. Ketiga jenis primata ini di Indonesia menempati urutan jenis
primata yang paling terancam punah.
      Terumbu karang ini terdapat di Kab. Ciamis yaitu di Pantai Krapyak
sepanjang 2,5 km dan lebarnya kurang lebih 75 m. Pantai Timur dan Barat
Cagar Alam Pananjung masing–masing sepanjang kurang lebih 1,5 km
dengan lebar 50 m, Pantai Karangjaladri sepanjang kurang lebih 200 m dan
lebar 100m.
      Sementara itu di Kab. Tasikmalaya, terumbu karang terhampar
sepanjang kurang lebih 32 km dengan lebar ratarata 100 m mulai dari
Cipatujah sampai Karangtawulan. Terumbu karang yang terdapat di Kab.
Garut terhampar sepanjang 22 km dengan lebar rata–rata kurang lebih 100 –
150 m yang terhampar mulai dari Santolo Cilauteureun hingga C.A Sancang.
Selain itu, terumbu karang ini terdapat juga di Cikelet sepanjang 750 m
dengan lebar 50 m.
      Sementara itu penyu yang bertelur di pantai selatan Jawa Barat
sebagian besar adalah Penyu Hijau yang juga merupakan satwa yang
dilindungi. Salah satu ciri dari kawasan tempat bertelur penyu tersebut
adalah adanya vegetasi pandan di pantai, kemungkinan besar perteluran
penyu di pantai yang ditumbuhi vegetasi pandan ini merupakan strategi
perlindungan bagi telur penyu. Oleh karena itu, pengambilan daun pandan
oleh masyarakat yang digunakan sebagai bahan baku anyaman merupakan
gangguan bagi perteluran penyu hijau tersebut.
      Tempat bertelur penyu jenis Chelonia mydas (Green Turtle) di Pesisir
Jawa Barat bagian Selatan ditemukan di : Pantai Ujung Genteng, Sukabumi
Pantai Keusik Luhur, Kec. Cimerak, Ciamis Perairan Kab. Cianjur Desa
Sindangkerta, Kec. Cipatujah, Tasikmalaya Jenis yang ditemukan di Pantai
Jawa Barat bagian Selatan adalah teripang/Holothuriodea (Sea cucumbers).
Dimana tempat berkembangnya ditemukan di sekitar Pangandaran, Ciamis
dan di Kabupaten Sukabumi. Selain itu di Kecamatan Cimerak juga
ditemukan jenis Susu bundar/Trochus niloticus (Ecommercial Trochus) dan
Udang Karang/Palinuriade (Spring Lobsters).
       Kondisi lingkungan pesisir selatan memungkinkan untuk budidaya
benur udang windu (Hetchery). Saat ini terdapat 40 perusahaan hatchery
udang windu di desa Cibenda Kec. Parigi Ciamis dan 10 perusahaan yang
terdapat di Pangandaran dalam berbagai skala industri.
       Jenis sidat yang ada di Indonesia adalah Anguilla bicolor, A marmorata,
A australis dan A borneensis, dimana sidat yang banyak dikenal adalah jenis
sidat A bicolor. Sidat ini hidup dewasa di perairan tawar di sungai – sungai.
Sidat ini dapat ditemukan di S. Ciwulan dan S. Cilangla, Kec. Cipatujah, S.
Cimedang di Kec. Cikalong (Tasikmalaya), S. Cibalong dan S. Sancang
(Garut) dan di Sinar Laut (Cianjur). Sedangkan untuk bertelur, mereka
memerlukan ekosistem laut yang dalam. Sesudah telur menetas larva sidat
(anak sidat) masuk ke perairan air tawar melalui estuarine. Pada waktu
migrasi inilah banyak dilakukan penangkapan larva sidat untuk dikonsumsi
masyarakat, sedang untuk penangkapan sidat dewasa dilakukan di sungai –
sungai. Sampai saat ini belum ada yang membudidayakan sidat tersebut
padahal sidat memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Untuk meningkatkan
pendapatan masyarakat larva sidat yang ditangkap dapat digunakan sebagai
benih untuk budidaya. Karena informasi mengenai budidaya sidat ini masih
kurang, maka perlu dilakukan penelitian – penelitian, sehingga waktu
disebarluaskan kemasyarakat informasi budidaya sidat sudah lengkap.
       Beberapa kelompok ikan hias laut yang terdapat di perairan Indonesia
adalah :
   •   Suku Chaetodontidae (ikan kepekepe) Ikan yang termasuk suku ini
       mempunyai bentuk tubuh pipih serta lebar, sehingga gerakannya
       meliukliuk mirip kepet (sirip) ikan besar lainnya.
   •   Suku Pamacantidae (ikan Enjiel) Secara umum suku ikan ini di sebut
       angelfish, dikarenakan bentuknya yang indah.
   •   Suku Balistidae (ikan Pakol) Ikan ini juga dikenal dengan nama Triger
       fish, hal ini dikarenakan bila ikan ini masuk ke karang, segera akan
       meregangkan duri punggungnya yang pertama, maka duri itu
         terkunci sehingga tidak dapat ditutup lagi, kecuali bila duri punggung
         yang kedua, yang merupakan pelatuk bias ditekan.
    •    Suku Zanctidae (ikan Bendera) Di kenal juga dengan nama
         Moorishidol, karena suku ini merupakan pemimpin ikan hias lain
         yang disegani terutama bagi suku Chaetodontidae, marga Heniochus dan
         suku Acanthuridae, terutama pada masa muda. Ikan yang sangat indah
         dan menarik ini biasanya dijumpai di daerah karang (Grant, 1972)
    •    Suku Scorpaenidae (ikan Lepu) Terdiri dari 22 macam (Weber dan
         Beaufort, 1962) dan meliputi beberapa ratus jenis di seluruh dunia
         (Halstead, 1970). Secara orfologis ikanikan semarga mirip satu sama
         lainnya sehingga terkadang sukar membedakannya.
    •    Suku Labridae (ikan Keling) Ikan ini sangat beraneka ragam baik corak
         warna maupun ukurannya, dari Minilabus striatus Randal yang
         panjangnya di bawah 10 cm sampai Cheilinus undulatus Ruppel yang
         dapat mencapai hampir 2 meter panjangnya sebagai ikan konsumsi.
    •    Suku Pomacentridae (ikan Betok/biru) Lokasi penangkapan jenis ikan
         karang      ditemukan        di   Ujung   Genteng,   Sukabumi;   sekitar
         Sindangbarang, Cianjur; di antara Tasikmalaya dan Ciamis dan dekat
         Pangandaran.


Sumber      : BPLHD Jawa Barat
Link terkait : www.BPLHDJabar.go.id