Jual Beli dan Syarat-syaratnya

Document Sample
Jual Beli dan Syarat-syaratnya Powered By Docstoc
					Jual Beli dan Syarat-syaratnya

Ditulis oleh Abu Afif
Minggu, 22 Februari 2009 08:27 -




 Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi. Dengan berinteraksi, mereka
dapat mengambil dan memberikan manfaat. Salah satu praktek yang merupakan hasil interaksi
sesama manusia adalah terjadinya jual beli yang dengannya mereka mampu mendapatkan
kebutuhan yang mereka inginkan. Islam pun mengatur permasalahan ini dengan rinci dan
seksama sehingga ketika mengadakan transaksi jual beli, manusia mampu berinteraksi dalam
koridor syariat dan terhindar dari tindakan-tindakan aniaya terhadap sesama manusia, hal ini
menunjukkan bahwa Islam merupakan ajaran yang bersifat universal dan komprehensif.




Melihat paparan di atas, perlu kiranya kita mengetahui beberapa pernik tentang jual beli yang
patut diperhatikan bagi mereka yang kesehariannya bergelut dengan transaksi jual beli, bahkan
jika ditilik secara seksama, setiap orang tentulah bersentuhan dengan jual beli. Oleh karena itu,
pengetahuan tentang jual beli yang disyariatkan mutlak diperlukan.




Definisi Jual Beli




Secara etimologi, al-bay’u ‫( اﻠﺒﻴﻊ‬jual beli) berarti mengambil dan memberikan sesuatu, dan
merupakan derivat (turunan) dari ‫( اﻠﺒاﻊ‬depa) karena orang Arab terbiasa mengulurkan depa
mereka ketika mengadakan akad jual beli untuk saling menepukkan tangan sebagai tanda
bahwa akad telah terlaksana atau ketika mereka saling menukar barang dan uang.




Adapun secara terminologi, jual beli adalah transaksi tukar menukar yang berkonsekuensi
beralihnya hak kepemilikan, dan hal itu dapat terlaksana dengan akad, baik berupa ucapan
maupun perbuatan. (Taudhihul Ahkam, 4/211).




Di dalam Fiqhus sunnah (3/46) disebutkan bahwa al-bay’u adalah transaksi tukar menukar
harta yang dilakukan secara sukarela atau proses mengalihkan hak kepemilikan kepada orang
lain dengan adanya kompensasi tertentu dan dilakukan dalam koridor syariat.




Adapun hikmah disyariatkannya jual beli adalah merealisasikan keinginan seseorang yang
terkadang tidak mampu diperolehnya, dengan adanya jual beli dia mampu untuk memperoleh
sesuatu yang diinginkannya, karena pada umumnya kebutuhan seseorang sangat terkait
dengan sesuatu yang dimiliki saudaranya (Subulus Salam, 4/47).



                                                                                            1/8
Jual Beli dan Syarat-syaratnya

Ditulis oleh Abu Afif
Minggu, 22 Februari 2009 08:27 -

Dalil Disyari’atkannya Jual Beli




 Islam telah mensyariatkan jual beli dengan dalil yang berasal dari A;-Qur’an, sunnah, ijma’ dan
qiyas (analogi).




Dalil Al Qur’an




Allah ta’ala berfirman,




‫ﻭَﺃَﺡَﻝَّ اﻠﻞَّﻩُ اﻞْﺏَﻱْﻉَ ﻭَﺡَﺭَّﻡَ اﻠﺮِّﺏَﺍ‬




 “… padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS. Al Baqarah:
275)




Al ‘Allamah As Sa’diy mengatakan bahwa di dalam jual beli terdapat manfaat dan urgensi
sosial, apabila diharamkan maka akan menimbulkan berbagai kerugian. Berdasarkan hal ini,
seluruh transaksi (jual beli) yang dilakukan manusia hukum asalnya adalah halal, kecuali
terdapat dalil yang melarang transaksi tersebut. (Taisir Karimir Rahman 1/116).




Dalil Sunnah




Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, profesi apakah yang paling baik? Maka beliau
menjawab, bahwa profesi terbaik yang dikerjakan oleh manusia adalah segala pekerjaan yang
dilakukan dengan kedua tangannya dan transaksi jual beli yang dilakukannya tanpa melanggar
batasan-batasan syariat. (Hadits shahih dengan banyaknya riwayat, diriwayatkan Al Bazzzar
2/83, Hakim 2/10; dinukil dari Taudhihul Ahkam 4/218-219).




Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:



                                                                                           2/8
Jual Beli dan Syarat-syaratnya

Ditulis oleh Abu Afif
Minggu, 22 Februari 2009 08:27 -

ِّ‫اﻠﺬَّﻩَﺏُ ﺏِاﻠﺬَّﻩَﺏِ ﻭَاﻞْﻑِﺽَّﺓُ ﺏِاﻞْﻑِﺽَّﺓِ ﻭَاﻞْﺏُﺭُّ ﺏِاﻞْﺏُﺭ‬
ِ‫ﻭَاﻠﺶَّﻉِﻳﺮُ ﺏِاﻠﺶَّﻉِﻳﺮِ ﻭَاﻠﺖَّﻡْﺭُ ﺏِاﻠﺖَّﻡْﺭِ ﻭَاﻞْﻡِﻝْﺡُ ﺏِاﻞْﻡِﻝْﺡ‬
ِ‫ﻡِﺙْﻝًﺍ ﺏِﻡِﺙْﻝٍ ﺱَﻭَاءً ﺏِﺱَﻭَاءٍ ﻱَﺩًﺍ ﺏِﻱَﺩٍ ﻑَﺇِﺫَﺍ اﺦْﺕَﻝَﻑَﺕْ ﻩَﺫِﻩ‬
ٍ‫اﻞْﺃَﺹْﻥَاﻒُ ﻑَﺏِﻳﻊُوﺎ ﻙَﻱْﻑَ ﺵِﺉْﺕُﻡْ ﺇِﺫَﺍ ﻙَاﻦَ ﻱَﺩًﺍ ﺏِﻱَﺩ‬




“Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan
kurma, garam dengan garam, sama beratnya dan langsung diserahterimakan. Apabila
berlainan jenis, maka juallah sesuka kalian namun harus langsung diserahterimakan/secara
kontan” (HR. Muslim: 2970)




Berdasarkan hadits-hadits ini, jual beli merupakan aktivitas yang disyariatkan.




Dalil Ijma’




Kebutuhan manusia untuk mengadakan transaksi jual beli sangat urgen, dengan transaksi jual
beli seseorang mampu untuk memiliki barang orang lain yang diinginkan tanpa melanggar
batasan syariat. Oleh karena itu, praktek jual beli yang dilakukan manusia semenjak masa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saat ini menunjukkan bahwa umat telah sepakat
akan disyariatkannya jual beli (Fiqhus Sunnah,3/46).




Dalil Qiyas




Kebutuhan manusia menuntut adanya jual beli, karena seseorang sangat membutuhkan
sesuatu yang dimiliki orang lain baik, itu berupa barang atau uang, dan hal itu dapat diperoleh
setelah menyerahkan timbal balik berupa kompensasi. Dengan demikian, terkandung hikmah
dalam pensyariatan jual beli bagi manusia, yaitu sebagai sarana demi tercapainya suatu
keinginan yang diharapkan oleh manusia (Al Mulakhos Al Fiqhy, 2/8).




Syarat-syarat Sah Jual Beli




                                                                                            3/8
Jual Beli dan Syarat-syaratnya

Ditulis oleh Abu Afif
Minggu, 22 Februari 2009 08:27 -

Kondisi umat ini memang menyedihkan, dalam praktek jual beli mereka meremehkan
batasan-batasan syariat, sehingga sebagian besar praktek jual beli yang terjadi di masyarakat
adalah transaksi yang dipenuhi berbagai unsur penipuan, keculasan dan kezaliman.




Lalai terhadap ajaran agama, sedikitnya rasa takut kepada Allah merupakan sebab yang
mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut, tidak tanggung-tanggung berbagai upaya
ditempuh agar keuntungan dapat diraih, bahkan dengan melekatkan label syar’i pada praktek
perniagaan yang sedang marak belakangan ini walaupun pada hakikatnya yang mereka
lakukan itu adalah transaksi ribawi.




Jika kita memperhatikan praktek jual beli yang dilakukan para pedagang saat ini, mungkin kita
dapat menarik satu konklusi, bahwa sebagian besar para pedagang dengan “ringan tangan”
menipu para pembeli demi meraih keuntungan yang diinginkannya, oleh karena itu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,




َ‫ﺇِﻥَّ اﻠﺖُّﺝَّاﺮَ ﻩُﻡْ اﻞْﻑُﺝَّاﺮُ ﻕَاﻞَ ﻕِﻳﻞَ ﻱَﺍ ﺭَﺱُوﻞَ اﻠﻞَّﻩِ ﺃَﻭَﻝَﻱْﺱ‬
َ‫ﻕَﺩْ ﺃَﺡَﻝَّ اﻠﻞَّﻩُ اﻞْﺏَﻱْﻉَ ﻕَاﻞَ ﺏَﻝَﻯ ﻭَﻝَﻙِﻥَّﻩُﻡْ ﻱُﺡَﺩِّﺙُوﻦ‬
َ‫ﻑَﻱَﻙْﺫِﺏُوﻦَ ﻭَﻱَﺡْﻝِﻑُوﻦَ ﻭَﻱَﺃْﺙَﻡُوﻦ‬




“Sesungguhnya para pedagang itu adalah kaum yang fajir (suka berbuat maksiat), para
sahabat heran dan bertanya, “Bukankah Allah telah menghalalkan praktek jual beli, wahai
Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Benar, namun para pedagang itu tatkala menjajakan
barang dagangannya, mereka bercerita tentang dagangannya kemudian berdusta, mereka
bersumpah palsu dan melakukan perbuatan-perbuatan keji.” (Musnad Imam Ahmad 31/110,
dinukil dari Maktabah Asy Syamilah; Hakim berkata: “Sanadnya shahih”, dan beliau disepakati
Adz Dzahabi, Al Albani berkata, “Sanad hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka
berdua”, lihat Silsilah Ash Shahihah 1/365; dinukil dari Maktabah Asy Syamilah).




Oleh karena itu seseorang yang menggeluti praktek jual beli wajib memperhatikan syarat-syarat
sah praktek jual beli agar dapat melaksanakannya sesuai dengan batasan-batasan syari’at dan
tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang diharamkan .




Diriwayatkan dari Amirul Mu’minin ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,




                                                                                          4/8
Jual Beli dan Syarat-syaratnya

Ditulis oleh Abu Afif
Minggu, 22 Februari 2009 08:27 -

َ‫ﻝَﺍ ﻱَﺏِﻉْ ﻑِﻱْ ﺱُﻭْﻕِﻥَﺍ ﺇِﻟﺎَّ ﻡَﻥْ ﻱَﻑْﻕَﻩُ، ﻭَﺇِﻝِﺍ ﺃَﻙَﻝَ اﻠﺮِّﺑﺎ‬




“Yang boleh berjualan di pasar kami ini hanyalah orang-orang yang faqih (paham akan ilmu
agama), karena jika tidak, maka dia akan menerjang riba.”




Berikut beberapa syarat sah jual beli -yang kami rangkum dari kitab Taudhihul ahkam
4/213-214, Fikih Ekonomi Keuangan Islam dan beberapa referensi lainnya- untuk diketahui dan
direalisasikan dalam praktek jual beli agar tidak terjerumus ke dalam praktek perniagaan yang
menyimpang.




 Pertama, persyaratan yang berkaitan dengan pelaku praktek jual beli, baik penjual maupun
pembeli, yaitu:




 Hendaknya kedua belah pihak melakukan jual beli dengan ridha dan sukarela, tanpa ada
paksaan. Allah ta’ala berfirman:

ْ‫ﻱَﺍ ﺃَﻱُّﻩَﺍ اﻞَّﺫِﻳﻦَ آﻢَﻥُوﺎ ﻟﺎ ﺕَﺃْﻙُﻝُوﺎ ﺃَﻡْﻭَاﻞَﻙُﻡْ ﺏَﻱْﻥَﻙُﻡ‬
ْ‫ﺏِاﻞْﺏَاﻂِﻝِ ﺇِﻟﺎ ﺃَﻥْ ﺕَﻙُوﻦَ ﺕِﺝَاﺮَﺓً ﻉَﻥْ ﺕَﺭَاﺾٍ ﻡِﻥْﻙُﻡ‬

“… janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan
jalan perniagaan yang timbul dari kerelaan di antara kalian…” (QS. An-Nisaa’: 29)




 Kedua belah pihak berkompeten dalam melakukan praktek jual beli, yakni dia adalah seorang
mukallaf dan rasyid (memiliki kemampuan dalam mengatur uang), sehingga tidak sah transaksi
yang dilakukan oleh anak kecil yang tidak cakap, orang gila atau orang yang dipaksa (Fikih
Ekonomi Keuangan Islam, hal. 92). Hal ini merupakan salah satu bukti keadilan agama ini yang
berupaya melindungi hak milik manusia dari kezaliman, karena seseorang yang gila, safiih
(tidak cakap dalam bertransaksi) atau orang yang dipaksa, tidak mampu untuk membedakan
transaksi mana yang baik dan buruk bagi dirinya sehingga dirinya rentan dirugikan dalam
transaksi yang dilakukannya. Wallahu a’lam.
 Kedua, yang berkaitan dengan objek/barang yang diperjualbelikan, syarat-syaratnya yaitu:




 Objek jual beli (baik berupa barang jualan atau harganya/uang) merupakan barang yang suci
dan bermanfaat, bukan barang najis atau barang yang haram, karena barang yang secara



                                                                                        5/8
Jual Beli dan Syarat-syaratnya

Ditulis oleh Abu Afif
Minggu, 22 Februari 2009 08:27 -

dzatnya haram terlarang untuk diperjualbelikan.
 Objek jual beli merupakan hak milik penuh, seseorang bisa menjual barang yang bukan
miliknya apabila mendapat izin dari pemilik barang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,




َ‫ﻝَﺍ ﺕَﺏِﻉْ ﻡَﺍ ﻝَﻱْﺱَ ﻉِﻥْﺩَﻙ‬




 “Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Dawud 3503, Tirmidzi
1232, An Nasaa’i VII/289, Ibnu Majah 2187, Ahmad III/402 dan 434; dishahihkan Syaikh Salim
bin ‘Ied Al Hilaly)




Seseorang diperbolehkan melakukan transaksi terhadap barang yang bukan miliknya dengan
syarat pemilik memberi izin atau rida terhadap apa yang dilakukannya, karena yang menjadi
tolok ukur dalam perkara muamalah adalah rida pemilik. (Lihat Fiqh wa Fatawal Buyu’ hal. 24).
Hal ini ditunjukkan oleh persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan
Urwah tatkala beliau memerintahkannya untuk membeli kambing buat beliau. (HR. Bukhari bab
28 nomor 3642)




 Objek jual beli dapat diserahterimakan, sehingga tidak sah menjual burung yang terbang di
udara, menjual unta atau sejenisnya yang kabur dari kandang dan semisalnya. Transaksi yang
mengandung objek jual beli seperti ini diharamkan karena mengandung gharar (spekulasi) dan
menjual barang yang tidak dapat diserahkan.
 Objek jual beli dan jumlah pembayarannya diketahui secara jelas oleh kedua belah pihak
sehingga terhindar dari gharar. Abu Hurairah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
melarang jual beli hashaath (jual beli dengan menggunakan kerikil yang dilemparkan untuk
menentukan barang yang akan dijual) dan jual beli gharar.” (HR. Muslim: 1513)
 Selain itu, tidak diperkenankan seseorang menyembunyikan cacat/aib suatu barang ketika
melakukan jual beli. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:




‫اﻞْﻡُﺱْﻝِﻡُ ﺃَﺥُﻭ اﻞْﻡُﺱْﻝِﻡِ ﻝَﺍ ﻱَﺡِﻝُّ ﻝِﻡُﺱْﻝِﻡٍ ﺏَاﻊَ ﻡِﻥْ ﺃَﺥِﻳﻪِ ﺏَﻱْﻉًﺍ‬
ُ‫ﻑِﻳﻪِ ﻉَﻱْﺏٌ ﺇِﻝَّﺍ ﺏَﻱَّﻥَﻩُ ﻝَﻩ‬




“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak halal bagi seorang muslim



                                                                                               6/8
Jual Beli dan Syarat-syaratnya

Ditulis oleh Abu Afif
Minggu, 22 Februari 2009 08:27 -

menjual barang dagangan yang memiliki cacat kepada saudaranya sesama muslim, melainkan
ia harus menjelaskan cacat itu kepadanya” (HR. Ibnu Majah nomor 2246, Ahmad IV/158, Hakim
II/8, Baihaqi V/320; dishahihkan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali)




Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:




ِ‫ﻡَﻥْ ﻍَﺵَّﻥَﺍ ﻑَﻝَﻱْﺱَ ﻡِﻥَّﺍ ، ﻭَاﻞْﻡَﻙْﺭُ ﻭَاﻞْﺥِﺩَاﻊُ ﻑِﻱ اﻠﻦَّاﺮ‬




“Barang siapa yang berlaku curang terhadap kami, maka ia bukan dari golongan kami.
Perbuatan makar dan tipu daya tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban 567, Thabrani dalam
Mu’jamul Kabiir 10234, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah IV/189; dihasankan Syaikh Salim Al Hilaly)




Terakhir, Jual Beli Bukanlah Riba




Sebagian orang beranggapan bahwa jual beli tidaklah berbeda dengan riba, anggapan mereka
ini dilandasi kenyataan bahwa terkadang para pedagang mengambil keuntungan yang sangat
besar dari pembeli. Atas dasar inilah mereka menyamakan antara jual beli dan riba?!. Alasan ini
sangat keliru, Allah ta’ala telah menampik anggapan seperti ini. Allah ta’ala berfirman:




‫اﻞَّﺫِﻳﻦَ ﻱَﺃْﻙُﻝُوﻦَ اﻠﺮِّﺏَﺍ ﻟﺎ ﻱَﻕُوﻢُوﻦَ ﺇِﻟﺎ ﻙَﻡَﺍ ﻱَﻕُوﻢُ اﻞَّﺫِﻱ‬
‫ﻱَﺕَﺥَﺏَّﻁُﻩُ اﻠﺶَّﻱْﻁَاﻦُ ﻡِﻥَ اﻞْﻡَﺱِّ ﺫَﻝِﻙَ ﺏِﺃَﻥَّﻩُﻡْ ﻕَاﻞُوﺎ ﺇِﻥَّﻡَﺍ‬
‫اﻞْﺏَﻱْﻉُ ﻡِﺙْﻝُ اﻠﺮِّﺏَﺍ ﻭَﺃَﺡَﻝَّ اﻠﻞَّﻩُ اﻞْﺏَﻱْﻉَ ﻭَﺡَﺭَّﻡَ اﻠﺮِّﺏَﺍ‬




“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang
demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu
sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS.
Al-Baqarah: 275)




Tidak ada pembatasan keuntungan tertentu sehingga diharamkan untuk mengambil



                                                                                          7/8
Jual Beli dan Syarat-syaratnya

Ditulis oleh Abu Afif
Minggu, 22 Februari 2009 08:27 -

keuntungan yang lebih dari harga pasar, akan tetapi semua itu tergantung pada hukum
permintaan dan penawaran, tanpa menghilangkan sikap santun dan toleran (disadur dari Fikih
Ekonomi Keuangan Islam, hal. 87 dengan beberapa penyesuaian). Bahkan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menyetujui tatkala sahabatnya Urwah mengambil keuntungan dua kali lipat
dari harga pasar tatkala diperintah untuk membeli seekor kambing buat beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam. (HR. Bukhari bab 28 nomor 3642)




Namun, yang patut dicermati bahwa sikap yang lebih sesuai dengan petunjuk para ulama salaf
dan ruh syariat adalah memberikan kemudahan, santun dan puas terhadap keuntungan yang
sedikit sehingga hal ini akan membawa keberkahan dalam usaha. Ali radhiyallahu ‘anhu pernah
berkata, “Hai para pedagang, ambillah hak kalian, kalian akan selamat. Jangan kalian tolak
kentungan yang sedikit, karena kalian bisa terhalangi mendapatkan keuntungan yang besar.”




Adapun seseorang yang merasa tertipu karena penjual mendapatkan keuntungan dengan
menaikkan harga di luar batas kewajaran, maka syariat kita membolehkan pembeli untuk
menuntut haknya dengan mengambil kembali uang yang telah dibayarkan dan mengembalikan
barang tersebut kepada penjual, inilah yang dinamakan dengan khiyarul gabn bisa dilihat pada
pembahasan berbagai jenis khiyar. Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.




Demikianlah beberapa penjelasan ringkas mengenai jual beli dan beberapa persyaratannya.
Semoga bermanfaat bagi kami dan kaum muslimin.




Washshalatu was salamu ‘alaa nabiyyinal mushthafa. Wal hamdu lillahi rabbil ‘alamin.




***




Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.muslim.or.id




                                                                                           8/8

				
DOCUMENT INFO