Jual-Beli yang Terpatri by mercy2beans125

VIEWS: 0 PAGES: 2

									                                         Jual−Beli yang Terpatri

Jual−Beli yang Terpatri

Source: http://newsgroups.derkeiler.com/Archive/Soc/soc.culture.indonesia/2007−04/msg01821.html



      • From: Dalang Ki Sugeng Rawuh Siswo Carito <jocko.thinker@xxxxxxxxx>
      • Date: 20 Apr 2007 07:26:16 −0700

Malem sabtu kliwon, bulan kemaren warga pedukuhan Karang Gumenggeng
dimana kyai Semar menjadi Lurah, seperti biasanya berkumpul, sekarang
giliran di rumah Nolo Gareng.

Tidak seperti yang sudah−sudah pertemuan itu kebanyakan berisi keluh
kesah para warga yang kebetulan negri Ngamarta sedang dilanda resesi
ekonomi berkepanjangan.

Bahkan banyak pendapat warga yang mencari solusi dengan jalan pintas,
namun demikian mereka meminta pendapat Kyai Semar sebagai lurah, dan
pinisepuh di Pedukuhan Karang Gumenggeng.

"Kyai, dagangan saya sekarang semakin sepi, selain banyak sekali
saingan, orang sekarang pelit belanja. apalagi tetangga warung sudah
ada yang pergi ke Gunung Setro Gondo Mayit, untuk menerapkan aji
gendam, pengasihan dan penglaris, dan ternyata memang kelihatan ada
kemajuan dibanding saya, bahkan sekarang telah berhasil membeli kereta
Kuda, bagaimana kalau saya juga mengikuti jejaknya", kata kang Siran
pedagang kebutuhan sehari−hari.

"Kalau saya ikut ndoro Tumenggung Wirojati, untuk kebutuhan keluarga
sih cukup, tapi istri saya selalu mengeluh, wong ikut ndoro
Tumenggung 10 tahun, kok belum bisa beli Kuda Grandia, bahkan untuk
kebutuhan harian saja masih sering hutang ke warungnya kang Siran.
Kalau saya mau seperti konco−konco narapraja lainnya, sebetulnya
sangat bisa hidup enak Kyai, apa ya harus begitu kyai," kata kang
Marijan.

Demikianlah diantara keluh kesah warga KarangGumenggeng, setelah
nyruput kopi tubruk, kyai lurah berpendapat :

"Sedulur−sedulur, ................... ada satu hal yang harus kita
ingat, bahwasanya segala sesuatu yang kita perbuat, sebenarnya adalah
proses jual−beli. Persoalannya adalah apa yang kita beli untuk
kemudian kita jual supaya mendapatkan kenikmatan, apabila kita tak
pernah membeli, atau pelit membeli tetapi rakus menjual, maka mau
tidak mau harus ada "Milik Kita" yang terjual demikianlah jual−beli".

"maksud Kyai.... ?", sela kang Joyomaruto.


Jual−Beli yang Terpatri                                                                           1
                                       Jual−Beli yang Terpatri


Kyai semar melanjutkan :

"Dalam menapaki jalan menuju kemulyaning urip, kita perlu memahami
sebab−kibat, agar kemulyaan dan kenikmatan yang kita peroleh itu
nyaman dan aman. Nyaman dinikmatinya, aman buat kita dan keluarga.

Dalam dunianya kang Siran tadi, diperlukan banyak "membeli" Inovasi,
dan kreatifitas sebagai daya gerak usaha, karna keadaan masyarakat
juga tidak mandek tetapi bergerak, maka kita harus mengikuti dengan
"gerakan" yang seimbang, itu normalnya. Tetapi bila kita ogah
"membeli", dan mengambil cara jalan pintas, maka mau tidak mau "milik
kita" akhirnya yang ikut terjual. Bila sukses dengan cara demikian
maka biasanya ada bagian kehidupan kita yang hilang.

Demikian pula dengan dunianya kang Marijan, bila dia mengambil lebih
banyak tanpa keseimangan dengan "membeli" terlebih dahulu, maka
hasilnya adalah kenyamanan dan keamanan yang terancam hulang".

Para warga pedukuhan manggut−manggut, meskipun tidak sepenuhnya paham
dari penuturan kyai semar.

.




Jual−Beli yang Terpatri                                                 2

								
To top