CIATER TERANCAM KRISIS AIR BERSIH by mercy2beans116

VIEWS: 0 PAGES: 3

									CIATER TERANCAM KRISIS AIR BERSIH
Monday, 03 August 2009 15:22




Dapat dikatakan ironi, ketika terdengar kabar bahwa masyarakat di wilayah Kecamatan Ciater
yang merupakan daerah pegunungan, ternyata kini masih banyak yang kesulitan mendapatkan
air bersih. Sumber air yang melimpah tak dapat mereka nikmati karena kalah dari pihak lain.

Di beberapa tempat, terutama di perkampungan yang ada objek wisata atau hotel dan restoran,
banyak terlihat selang dan pipa paralon air berbagai ukuran tak beraturan di setiap sudut jalan
gang. Pipa-pipa yang mengalirkan air bersih itu ada yang langsung masuk rumah sampai titik
tertentu. Pemandangan ini tidak hanya di wilayah desa Ciater, tetapi juga Palasari, Nagrak, dan
Cisaat.

 "Memang, air mah tak kurang di sini tetapi tidak bisa dipergunakan untuk keperluan masak
karena air yang mengalir di sungai merupakan pembuangan walaupun kelihatannya bening,"
kata Jajang, warga Kp./Desa Ciater RT 18 RW 01 saat ditemui Sabtu (1/8).

Masyarakat di daerah pegunungan ini tidak mungkin dapat membuat sumur karena yang keluar
air bercampur belerang. Demikian pula di wilayah kecamatan Jalancagak bernasib sama
karena dasar tanahnya berbatuan. Hanya beruntung sudah masuk air bersih dari PDAM.

Selain itu, masyarakat pun tidak dapat menikmati air bersih langsung di rumah, karena jaringan
terbatas. Mereka pun harus mengatur penggunaan air secara bergiliran. Bahkan menurut
sumber yang tak mau disebutkan namanya, hanya dua RW yang dapat menikmati air bersih.
Sementara yang lainnya, terutama yang pemukimannya berada di dataran yang lebih rendah,
sangat kesulitan.

Ketua Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Ciater, Mahmud Hidayat yang kebetulan
sedang memantau jalaur-jalur pipa mengatakan, penyaluran air bersih di daerah sini
sebenarnya sudah mengalami peningkatan berkat adanya bantuan dari program nasional
Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan.

"Dananya memang tidak seberapa hanya Rp 18 juta tetapi ternyata masyarakat sendiri mampu
memberikan dukungan swadaya mencapai Rp 5,7 juta untuk di dua lokasi," kata Hidayat.

Untuk itulah dia bersama rekan-rekan lainnya berharap pemerintah memberikan perhatian
khusus mengenai sarana air bersih di wilayah Ciater. "Sekarang aja tidak 100 persen
ngocor-cor karena pipa induk dari sumber mata air di kaki Gunung Tangkubanparahu kurang
memadai, belum lagi banyak kendala sebelum sampai ke Ciater," ujarnya.

Koordinator Kota PNPM Mandiri Perkotaan, Deden Dedy Tardiyo mengungkapkan hal yang
sama karena kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan yang bersumber dari BLM (Bantuan Langsung
Masyarakat) merupakan hasil kegiatan rembug masyarakat melalui Siklus Focus Group
Discussion (FGD). Refleksi Kemiskinan yang mayoritas kebutuhan prioritas utamanya adalah
pengadaan air bersih bagi warga masyarakat di Desa Ciater terutama wilayah yang
terpinggirkan.

Vila ilegal




                                                                                          1/3
CIATER TERANCAM KRISIS AIR BERSIH
Monday, 03 August 2009 15:22




Ketua LSM Aktivitas untuk Pelestarian Danau, Hutan, dan Alam (Arindha), Garna Abdullah alias
Boy yang dihubungi terpisah mengatakan, pembangunan yang telah dan sedang berjalan di
wilayah Subang Selatan sebagian besar tidak mengacu pada pembangunan yang berwawasan
ramah lingkungan. Buktinya, semenjak muncul kawasan perumahan yang notabene mengubah
kawasan hutan atau alih fungsi lahan tersebut mengakibatkan sumber resapan ikut berubah.
Untuk keperluan airnya, mereka mengambil dari sumber mata air, termasuk ada yang membuat
sumur dalam secara berlebihan. "Kalau saya perhatikan beberapa mata air di kaki Gunung
Tangkubanparahu sudah mulai berkurang debitnya karena banyak yang diambil vila-vila.
Bangunan itu pun banyak yang ilegal," ujarnya.

Ia menyayangkan terjadinya kawasan hutan sebagai resapan air berubah fungsi dan tidak ada
usaha untuk menghutankan kembali. "Bagaimanapun juga alih fungsi lahan akan selalu kontra
lingkungan dan jangan sampai ada yang berharap ke PT Perhutani karena mereka pun bukan
menanam kayu hutan, tetapi produksi," ujar Garna.

Untuk itulah perlu ada perubahan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kec. Ciater dan Kec.
Jalancagak karena kini terus-terusan berdiri puluhan vila baru. Pemerintah pemerintah daerah
diminta berani melakukan pembongkaran bila jelas-jelas ada bangunan yang melanggar aturan.
Sebab, dampaknya bila musim kemarau datang, warga sekitar kekurangan air bersih dan jika
musim hujan tiba menimbulkan banjir.

Disebutkan, sebelumnya wilayah Ciater dan sekitar hutan mampu menampung air dan
mengendalikan banjir. Setiap satu kilometer persegi lahan tangkapan air seperti blok hutan
bambu Ciater, dalam musim hujan, hanya dalam beberapa saat mampu menyerap langsung 90
meter kubik air.

"Makanya bila dibiarkan Subang akan mengalami krisis air dan mendatangkan bahaya banjir,
terutama di wilayah pantai utara karena daerah resapannya sudah dirusak secara sengaja,"
kata dia.

Selain itu, dari hasil pengamatan LSM Arindha, tidak hanya mata air yang ada di kaki Gunung
Tangkubanparahu tetapi juga situ-situ yang ada di wilayah hulu seperti di daerah Cisaat dan
Ciater, ada empat titik yang kering. Situ-situ atau danau sebagai daerah tangkapan air banyak
pula yang bernasib sama.

"Biasanya bila musim penghujan, air Situ Rancabogo selalu meluap dan membanjiri lahan
kebun yang terdekat. Tetapi sekarang sudah tidak pernah lagi karena volume airnya sudah
berkurang lebih dari 50%-nya," kata Garna.

Untuk itulah, ujar dia, seharusnya perusahaan daerah air minum (PDAM) yang biasanya
mengambil air dari mata air harus di balik ke permukaan sungai dengan mengolahnya. "Kalau
sekarang air buangan di wilayah Ciater terasa asam dan tak layak dikonsumsi sebenarnya bisa
diolah. Masa air walungan yang kotor saja bisa," ungkapnya . (JU-14)***

 




                                                                                          2/3
CIATER TERANCAM KRISIS AIR BERSIH
Monday, 03 August 2009 15:22




Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Senin 03 Agustus 2009




                                                       3/3

								
To top