Kajian Dasar Pantai Aceh Nias Volume I Morfologi dan by mercy2beans116

VIEWS: 416 PAGES: 87

									 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir,
 Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami
 Aceh Nias




              Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias
                                 Volume I




   C             Morfologi dan Sistem Pantai
                                Januari 2009
SD
                          Sea Defence Consultants
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir,
   Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini
              Tsunami Aceh Nias

        BRR Concept Note / INFRA 330GI




   C
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias
                 Volume I
     Morfologi dan Sistem Pantai
SD
                 Januari 2009

                 SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




        RINGKASAN


 PENDAHULUAN
 Dalam laporan ini dijelaskan tentang morfologi dan sistem pantai di daerah pantai Aceh dan Nias. Daerah
 pantai Barat merupakan wilayah yang sangat terekspos terhadap gelombang. Bagian utara dari pantai Barat
 terdiri dari pantai berbuku (pocket beaches). Lebih ke selatan lagi, bentangan pantai berpasir menjadi lebih
 panjang. Setelah tsunami, sebagian besar pantai menjadi bukitan pasir yang rendah (low beach barriers),
 melindungi daratan pantai yang rata. Banda Aceh/Pantai Utara umumnya terdiri dari bukitan pasir yang rendah
 (low beach barriers) dan lidah pasir, dilatarbelakangi oleh area air yaitu tambak dan melindungi daratan
 pantai yang luas. Pantai Timur terdiri dari pantai yang lurus. Struktur yang besar di sepanjang bagian ini
 ditemukan di dekat Lhokseumawe. Sungai yang ada di sepanjang pantai Timur akan memberi kontribusi yang
 signifikan terhadap keseimbangan sedimen pada bagian pantai. Di bawah ini dideskripsikan efek dari
 gempa/tsunami dan perkembangan setelah tsunami. Lebih jauh lagi, permasalahan bertambahnya penutupan




   C
 muara sungai setelah tsunami juga didiskusikan.


 EFEK GEMPA/ TSUNAMI

 Dua jenis respon sistem pantai terhadap gempa/tsunami diidentifikasikan sebagai berikut:

    −

    −
          Distribusi kembali pasir pada profil melintang karena tsunami: erosi sedimen dari pantai/bukit pasir
          dan deposisi sedimen di daratan atau di lepas pantai.
          Penurunan tanah akibat gempa: kemunduran garis pantai akibat penurunan pantai.

 Perkembangan setelah gempa / tsunami
SD
 Akibat dari gangguan keseimbangan yang dideskripsikan di atas, tiga proses berikut berperan setelah adanya
 efek di bawah ini:

 1. Perkembangan pantai cross-shore jangka panjang (beberapa tahun): perbaikan pantai, bukit pasir dan
 garis pantai
 Dari sudut pandang teoritik, proses cross-shore pantai jangka pendek berikut ini diperkirakan:

     −    Jumlah tertentu dari perbaikan setelah tsunami (pantai/bukit pasir yang longsor) diperlukan dan hal
          ini terjadi karena distribusi kembali sedimen pada profil melintang selama kondisi gelombang normal.
     −    Perbaikan hanya mungkin dilakukan jika sedimen longsor saat tsunami telah tersimpan dalam profil
          transpor aktif. Pada zona ini, gelombang normal dapat mengambil sedimen dan mentranspor ke zona
          pantai kembali. Sedimen yang tersimpan di daratan atau di kedalaman laut akan hilang secara
          permanen dari profil pantai.
     −    Jumlah perbaikan harus diestimasi dengan membandingkan profil melintang sebelum dan sesudah
          tsunami. Namun, batimetri tidak tersedia sebelum tsunami.
     −    Dari pemodelan transpor sedimen yang dilaksanakan, zona transpor aktif sedikit jarang di pantai Aceh.
          Kedalaman (closure depths) berkisar dari MSL –3 m (Pantai Timur dan Utara) hingga MSL –4 m (Pantai
          Barat). Maka diperkirakan bahwa gelombang tsunami telah mentranspor bagian yang signifikan dari
          sedimen longsor menuju ke area yang lebih dalam, menyebabkan hilangnya sedimen secara signifikan
          dari profil pantai.

 Perbaikan pantai dan bukit pasir telah diobservasi pada sebagian lokasi sepanjang Pantai Barat dan Utara di
 Aceh. Berdasarkan observasi lapangan, analisa satelit dan foto udara, penodelan morfologi dan penilaian para
 ahli, perkembangan pantai setelah tsunami juga dinilai. Maka disimpulkan bahwa sebagian besar perbaikan
 jangka pendek diharapkan telah mulai terjadi (Status: Desember 2008).



                                                                                                                     i
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                              Januari 2009



 2. Perkembangan pantai cross-shore jangka panjang (jangka waktu sepuluh tahun): kemunduran garis
 pantai setelah terjadinya penurunan tanah
 Dari sudut pandang teoritis, proses cross-shore pantai jangka panjang berikut diperkirakan:

     −    Penurunan tanah akibat perubahan gradual pada bentuk profil melintang secara jangka panjang: profil
          akan melakukan penyesuaian terhadap posisi vertikal relatif terhadap permukaan laut. Hal ini
          menyebabkan kemunduran garis pantai secara jangka panjang.
     −    Angka kemunduran gradual garis pantai secara jangka panjang bergantung kepada angka penurunan
          daratan yang aktual di zona pantai Aceh & Nias.

 Data yang pasti dari angka penurunan tanah tidak tersedia sekarang dan di masa yang akan datang. Namun
 beberapa data indikatif dan kajian tentang penurunan tanah di Aceh & Nias untuk gempa Desember 2004 dan
 gempa pada Maret 2005 (Nias) ditemukan, dan menghasilkan estimasi seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1.

 Tabel 1: Estimasi tanah turun/naik

          Lokasi                                                 Penurunan/Kenaikan

  Pantai Timur Nias         Efeknya dapat diabaikan (tepat di sebelah garis sumbu)




   C
  Pantai Barat Nias

  Pantai Timur Aceh

  Pantai Banda Aceh

  Pantai Barat Aceh
                            Naik 1 - 2 m

                            Penaikan daratan yang dapat diabaikan atau tidak ada efek (jauh dari pusat gempa)

                            Penurunan daratan berkisar dari 0.1 - 0.3 m

                            Penurunan daratan berkisar dari 0.2 - 0.5 m


 Solusi untuk pantai Banda Aceh, gunakan aturan Bruun, kemunduran garis pantai sebesar 10-50 m akan terjadi
 pada dekade mendatang. Untuk pantai Barat Aceh, kemunduran garis pantai sebesar 20-70 m harus
 diperhitungkan untuk dekade berikutnya.

 Perlu diingat bahwa pada tahun pertama setelah tsunami, proses perbaikan pantai melintang adalah dominan,
 melebihi estimasi kemunduran garis pantai. Lebih jauh lagi, perkembangan pantai lokal lainnya juga akan
SD
 berubah menjadi dominan di masa yang akan datang.

 3. Efek sepanjang pantai setelah tsunami
 Dari sudut pandang teoritik, perkembangan berikut akibat dari transpor sedimen sejajar pantai diperkirakan:

     −    Segera setelah tsunami, proses transpor sejajar pantai memperkuat gerigi di garis pantai dengan
          pendistribusian kembali sedimen sejajar pantai. Proses ini telah diobservasi pada bulan-bulan setelah
          tsunami dan observasi tersebut telah selesai sekarang (status: Desember 2008).
     −    Akibat dari perubahan orientasi garis pantai setelah tsunami, erosi yang bertambah secara lokal atau
          sedimenasi akan terjadi karena pertambahan total gradien transpor sedimen. Hal ini adalah akibat
          dari efek jangka panjang lainnya, bergantung pada aliran pada perubahan orientasi garis pantai.
     −    Lebih jauh lagi, diakibatkan konstruksi baru dari struktur pantai setelah tsunami, erosi yang
          bertambah akan terjadi pada down drift dari struktur ini jika adanya transpor sedimen sejajar pantai.


 KESIMPULAN YANG DIHARAPKAN UNTUK PERKEMBANGAN DI MASA YANG AKAN DATANG
 Sebagai kesimpulan, berdasarkan kombinasi dari proses perkembangan pantai seperti yang dideskripsikan di
 atas, perkembangan pantai sepanjang pantai Aceh & Nias berikut ini diperkirakan:

    −     Garis pantai tidak akan kembali pada kondisi semula seperti sebelum tsunami karena sedimen telah
          hilang dari profil melintang aktif.
    −     Perbaikan pantai jangka pendek dengan terdistribusinya kembali sedimen di penampang tegak lurus
          pantai seperti yang diperkirakan telah terjadi pada saat penulisan laporan ini (status Desember 2008).




                                                                                                                       ii
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



    −     Pada dekade mendatang, akibat dari penurunan tanah pada gempa tahun 2004, maka penurunan
          tanah sebesar 10-75 m akan terjadi pada Pantai Utara dan Barat Aceh.
    −     Erosi yang bertambah/berubah atau pola sedimenasi yang berubah karena struktur baru atau orientasi
          garis pantai yang berubah akan diobservasi di masa yang akan datang.
    −     Untuk setiap lokasi dimana penanganan pantai diperlukan, maka estimasi untuk perkembangan pantai
          di masa yang akan datang harus dibuat oleh para ahli, dan memperhitungkan berbagai efek yang
          terjadi di atas.


 MUARA SUNGAI
 Nelayan selalu menggunakan muara sungai untuk menambatkan boat mereka di area pendaratan ketika boat
 sedang tidak berlayar di laut. Muara sungai tidaklah stabil sebelum tsunami; kedalamannya bervariasi sesuai
 dengan perubahan cuaca dan volume transpor sedimen dari erosi di pegunungan. Setelah tsunami, beberapa
 muara sungai tertutup secara permanen, sementara sebelum tsunami muara tersebut sering terbuka khususnya
 pada musim hujan.

 Terbuka atau menutupnya muara sungai bergantung pada hubungan antara pembukaan (debit sungai,
 kecepatan aliran, kemampuan flushing) dan tenaga menutup (transpor sedimen pantai dan sungai). Tsunami
 telah merusak banyak muara sungai di sepanjang pantai Aceh. Tsunami juga telah menyebabkan berkurangnya




   C
 tenaga membuka atau menutup muara sungai dengan cara yang berbeda, yaitu:

     −
     −

     −
          Berkurangnya kecepatan aliran karena melebarnya area aliran atau bertambahnya kedalaman air;
          Bertambahnya transpor sedimen sungai karena “penyimpanan” sedimen ke arah ketika terjadi
          tsunami;
          Bertambahnya transpor sedimen pantai karena perbaikan jangka pendek.

 Perubahan yang potensial pada tenaga menutup dan membuka memiliki karakter yang sementara; bentuk dan
 dimensi muara sungai akan terbentuk kembali seperti sebelum tsunami dalam waktu 3-6 tahun. Pembentukan
 ini sedang diobservasi di lapangan dan sedang dilaksanakan (status Desember 2008). Dua maslaah utama akibat
 dari bertambahnya penutupan mulut sungai didiskusikan di bawah ini.
SD
 1. Banjir
 Pada awal terjadinya musim hujan, muara sungai terblok dikarenakan melebarnya area muara dan debit sungai
 tidak lancer masuk ke laut (run off). Hal ini akan mengakibatkan banjir. Hal ini dapat dimitigasi dengan
 membuat terobosan/saluran inisial buatan pada penghalang (bar) saat dimulainya musim penghujan yang
 bertujuan untuk mencegah terjadinya timbunan di muara sungai.

 2. Terbatasnya akses untuk kapal/boat nelayan
 Kedalaman di jalur masuk ke sungai menjadi kecil untuk masuk/keluarnya kapal/boat nelayan. Oleh karena itu
 perlu diketahui bahwa dinamika muara sungai perlu dibuat sama seperti situasi sebelum tsunami.
 Direkomendasikan untuk membiarkan muara sungai berkembang lebih jauh menuju situasi yang seimbang ini.

 Karena diperlukan jalan masuk yang lebih besar untuk boat yang ada, maka kajian lebih rinci harus
 dilaksanakan dimana seluruh aspek yang berhubungan dengan perkembangan pelabuhan diperlukan. Perlu
 diingat bahwa efektivitas dari struktur keras (seawall, groin) yang bertujuan untuk menjaga muara sungai
 tetap terbuka adalah tidak pasti. Lebih jauh lagi, struktur ini akan menbawa pada erosi down drift pantai dan
 struktur yang berat tidak direkomendasikan pada muara sungai.

 Konsep untuk perkembangan aksesibilitas lainnya (kapal/boat yang lebih besar, frekuensi masuk boat yang
 sering) adalah:
     −    Pengerukan yang regular;
     −    Membuat sempit aliran keluar sungai;
     −    Menutup aliran-aliran kecil yang berasal dari percabangan sungai yang menuju ke laut;
     −    Jika ada lagun, maka aliran dari sungai menuju lagun ini akan menambah timbunan pasang surut dan
          mengurangi sedimenasi di muara sungai.




                                                                                                                    iii
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                                       Januari 2009




                                                      DAFTAR ISI

 Ringkasan          ..................................................................................... i

 Daftar Isi         ....................................................................................iv

 Daftar Singkatan ...............................................................................vi

 Definisi Parameter Pantai .................................................................. vii

 Daftar Gambar ............................................................................... viii

 Daftar Tabel ................................................................................... x

 Lokasi referensi Aceh dan Nias.............................................................xi

 1




 2




   C
 1.1
 1.2
 1.3
 1.4



 2.1
 2.2
          Pendahuluan ........................................................................... 1
          Proyek Sea Defence Aceh & Nias .................................................................................... 1
          Kajian Dasar Pantai.................................................................................................... 1
          Kajian Dasar Morfologi Dan Sistem Pantai ......................................................................... 1
          Pemodelan Morfologi.................................................................................................. 2

          Karakteristik Pantai Aceh dan Nias................................................ 3
          Pendahuluan............................................................................................................ 3
          Deskripsi karakteristik pantai........................................................................................ 3
          2.2.1
          2.2.2
          2.2.3
                   Pantai Barat ................................................................................................. 3
                   Banda Aceh/ Pantai Utara................................................................................. 4
                   Pantai Timur Aceh .......................................................................................... 6
SD
          2.2.4    Jenis-jenis pantai ........................................................................................... 8
 2.3      Pemodelan transpor Sedimen........................................................................................ 8
          2.3.1    Pendahuluan ................................................................................................. 8
          2.3.2    Sasaran dan pendekatan................................................................................... 8
          2.3.3    Data yang diaplikasikan.................................................................................... 8
          2.3.4    Deskripsi UNIBEST-CL+ ..................................................................................... 9
          2.3.5    Hasil tahunan-angka transpor sedimen.................................................................. 9
          2.3.6    Kesimpulan dan rekomendasi ............................................................................23
 2.4      Closure depth .........................................................................................................23

 3        Efek tsunami dan penurunan tanah ..............................................25
 3.1      Pendahuluan...........................................................................................................25
 3.2      Perubahan pantai karena penurunan tanah ......................................................................26
 3.3      Perubahan pantai karena erosi tsunami...........................................................................28

 4        Proses Pantai Setelah Tsunami....................................................31
 4.1      Pendahuluan...........................................................................................................31
 4.2      Proses pantai melintang setelah tsunami .........................................................................31
          4.2.1    Jangka pendek: distribusi kembali tampang melintang pantai .....................................31
          4.2.2    Jangka panjang: penurunan muka tanah...............................................................34
 4.3      Proses sepanjang pantai setelah tsunami.........................................................................35
 4.4      Suplai sedimen sungai................................................................................................36
 4.5      Ringkasan untuk perkembangan yang diharapkan ...............................................................36

 5        Penanganan pantai- banjir dan erosi ............................................37
 5.1      Pendahuluan...........................................................................................................37

                                                                                                                                 iv
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                                       Januari 2009



 5.2      Proses erosi dan penanganan yang dapat dilakukan ............................................................38
          5.2.1    Pendahuluan ................................................................................................38
          5.2.2    Erosi jangka pendek .......................................................................................38
          5.2.3    Erosi jangka panjang ......................................................................................40
          5.2.4    Efek dari penanganan pantai terhadap proses sedimen .............................................43
 5.3      Tidak Bertindak .......................................................................................................46
 5.4      Penanganan lunak ....................................................................................................46
 5.5      Penanganan keras ....................................................................................................48

 6        Muara sungai ..........................................................................53
 6.1      Pendahuluan...........................................................................................................53
 6.2      Tsunami menimbulkan efek terhadap muara sungai di Aceh ..................................................54
 6.3      Proses setelah tsunami ..............................................................................................56
 6.4      Penanganan............................................................................................................56

 7        Strategi untuk Pengelolaan pantai di masa yang akan datang ..............60
 7.1      Pendahuluan...........................................................................................................60
 7.2      Pantai barat Aceh.....................................................................................................60
 7.3      Pantai Banda Aceh....................................................................................................61




   C
 7.4      Pantai timur Aceh ....................................................................................................64

 Daftar Pustaka ................................................................................65

 Daftar Lampiran ..............................................................................68

 Lampiran A: Mawar Gelombang Pantai Aceh & Nias ..................................69

 Lampiran B: Studi Morfologi di Banda Aceh.............................................73

 Lampiran C: Studi Morfologi di Lhokseumawe .........................................74
SD
                                                                                                                                 v
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




                                           DAFTAR SINGKATAN

  ADB          :   Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank)
                   Program Tanggap Gempa bumi dan Tsunami Aceh dan Nias (Aceh & Nias Tsunami and
  ANTERP       :
                   Earthquake Response Program)
  ANTM         :   Aceh Nias Tsunami flooding Model (SDC 2006)
  ARRIS        :   Aceh Rehabilitation and Reconstruction Information System
  BATM         :   Banda Aceh Tsunami flooding Model
  BMG          :   Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG sekarang)
  BRR          :   Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi
  CD           :   Tinggi referensi dari tabel pasang surut (nautical charts) dan prediksi pasang surut yang
                   ditetapkan sebagai suatu kedalaman yang terendah. Biasanya Chart Datum sama dengan LAT
                   dan elevasinya tergantung pada lokasi.
  DTM          :   Digital Terrain Model
  EIA          :   Analisa Dampak Lingkungan (Environmental Impact Assessment)




   C
  ETESP
  EWS
  GIS
  HAT

  HHWS

  ICZM
  IDR
  IOTM
  JICA
  KNMI
               :
               :
               :
               :

               :

               :
               :
               :
               :
               :
                   Earthquake & Tsunami Emergency Support Project
                   Sistem Peringatan Dini (Early Warning System)
                   Geographical Information System
                   Highest Astronomical Tide; adalah permukaan air laut tertinggi yang dapat diramalkan
                   terjadi di bawah pengaruh keadaan meteorologis rata-rata dan kombinasi keadaan astronomi.
                   Highest High Water Spring; adalah tinggi air tertinggi dalam setahun selama periode dua
                   mingguan pada saat tunggang pasut terbesar (bulan baru).
                   Pengelolaan Wilayah Pantai Terpadu (Integrated Coastal Zone Management)
                   Indonesian Rupiah
                   Indian Ocean Tsunami Model
                   Japan International Cooperation Agency
                   Royal Meteorological Institute of the Netherlands
SD
  LAT          :   Lowest Astronomical Tide; adalah permukaan air laut terendah yang dapat diramalkan
                   terjadi di bawah pengaruh keadaan meteorologis rata-rata dan kombinasi keadaan astronomi.
                   LAT sering digunakan untuk menentukan elevasi chart datum.
  LLWS         :   Lowest Low Water Spring; adalah tinggi air terendah dalam setahun selama periode dua
                   mingguan pada saat tunggang pasut terbesar (bulan baru).
  MHWN         :   Mean High Water Neap; adalah tinggi rata-rata dari dua air tinggi berturut-turut selama
                   periode pasut perbani (neap tide), yaitu jika tunggang (range) pasut paling kecil.
  MHWS         :   Mean High Water Spring; adalah tinggi rata-rata dari dua air tinggi berturut-turut selama
                   periode pasang purnama (neap tide), yaitu jika tunggang (range) pasut paling tinggi.
  MLWS         :   Mean Low Water Spring; adalah tinggi rata-rata yang diperoleh dari dua air rendah berturut-
                   turut selama periode pasang purnama.
  MLWN         :   Mean Low Water Neap; adalah tinggi rata-rata yang diperoleh dari dua air rendah berturut-
                   turut selama periode pasang perbani.
  MSL          :   Mean Sea Level, adalah muka laut rerata pada suatu periode pengamatan yang panjang,
                   sebaiknya selama 19 tahun.
  NAM          :   North Aceh flooding Model
  NGO          :   Lembaga Swadaya Masyarakat (Non Governmental Organisation)
  PDALA        :   Preliminary Damage and Loss Assessment
  PDDA         :   Post Disaster Damage Assessment
  SDC          :   Sea Defence Consultants
  SWL          :   Muka air tetap (Still Water Level)
  TEWS         :   Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System)




                                                                                                                    vi
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




                                  DEFINISI PARAMETER PANTAI




   C−


    −


    −


    −
          PANTAI (coast): Daerah darat di tepi laut yang masih mendapat pengaruh laut seperti pasang surut,
          angin laut dan perembesan air laut.

          PANTAI (shore): Daerah di tepi perairan yang dipengaruhi oleh air pasang tertinggi dan air surut
          terendah.

          DAERAH DARATAN (hinterland): Daerah yang terletak di belakang areal pantai yang tidak mendapat
          pengaruh pasang surut dan perembesan air laut.

          DAERAH LAUTAN (coastal area): Daerah yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai
          dari wilayah pantai yang masih mendapat pengaruh pasang surut, termasuk dasar laut dan bagian
          bumi di bawahnya.
SD
    −     GARIS PANTAI (shoreline): Garis batas pertemuan antara daratan dan air laut, dimana posisinya tidak
          tetap dan dapat berpindah sesuai dengan pasang surut air laut dan erosi pantai yang terjadi.

    −     SEMPADAN PANTAI (back zone area): Kawasan tertentu di sepanjang pantai yang mempunyai manfaat
          penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai; minimal 100 m dari titik pasang tertinggi ke
          arah daratan.

    −     LAUT LEPAS PANTAI (offshore): Daerah dari garis gelombang pecah ke arah laut.

    −     DAERAH GELOMBANG PECAH (breaker zone): Daerah dimana gelombang yang datang dari laut lepas
          mencapai ketidakstabilan dan pecah.

    −     CLOSURE DEPTH: Daerah yang tidak terjadi atau dipengaruhi oleh perpindahan sedimen sejajar pantai
          dan tegak lurus pantai.

    −     FORESHORE: Daerah yang terbentang dari garis pantai pada saat muka air rendah sampai batas atas
          gerakan naik gelombang pada saat air pasang tinggi.

    −     BACKSHORE: Daerah yang dibatasi oleh foreshore dan garis pantai yang terbentuk pada saat terjadi
          gelombang badai bersamaan dengan muka air tinggi.




                                                                                                                    vii
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                                   Januari 2009




                                               DAFTAR GAMBAR

 Gambar 2-1: (Kiri) Tanjung dan pantai berbuku (pocket beaches) dibagian utara pantai Barat Aceh, (Kanan)
 Bentang panjang garis pantai dengan pantai yang rata di pedalaman Selatan Pantai Barat Aceh (Agustus 2006) 3
 Gambar 2-2: Meulaboh, bentuk garis pantai mengindikasikan transpor total sedimen menuju arah selatan
 (Sumber: Pusat Satelit berdasarkan informasi krisis, German Remote Sensing Data Centre) ........................ 4
 Gambar 2-3: Sistem Barrier beach di Banda Aceh sebelum tsunami ..................................................... 5
 Gambar 2-4: Survey batimetri Banda Aceh tahun 2007..................................................................... 6
 Gambar 2-5: Kabupaten Pidie, formasi lidah pasir menuju ke arah tenggara .......................................... 7
 Gambar 2-6: Lhokseumawe, formasi spit pantai menuju arah tenggara + akresi breakwater ....................... 7
 Gambar 2-7: Ilustrasi closure depth dan profil melintang aktif..........................................................23
 Gambar 3-1: Efek langsung tsunami dan gempa terhadap sistem pantai ...............................................25
 Gambar 3-2: Peningkatan Frekwensi banjir setelah tsunami karena turunnya tanah di Meulaboh (Mei 2006) ...26




   C
 Gambar 3-3: Estimasi tanah naik dan turunnya muka tanah untuk Aceh dan Nias yang disebabkan gempa pada
 Desember 2004 berdasarkan kajian yang berbeda: ........................................................................27
 Gambar 3-4: Dampak erosi pantai setelah tsunami, Kec. Lhoong di pantai Barat Aceh..............................28
 Gambar 3-5: Erosi dan deposisi selama terjadinya gelombang tsunami ................................................28
 Gambar 3-6: Hasil dari indikasi pemodelan morfologi numerikal, mengindikasikan deposisi di darat dan deposisi
 sandbar lepas pantai sekitar MSL –10 m (Sumber: USGS)..................................................................30
 Gambar 4-1: Formasi bukit pasir baru setelah tsunami di Kec. Lhoong Pantai Barat Aceh (April 2006)...........31
 Gambar 4-2: Perbaikan pantai Meulaboh, pantai Barat Aceh ............................................................33
 Gambar 4-3: Kemunduran pantai jangka panjang karena penurunan daratan.........................................34
SD
 Gambar 4-4: Ilustrasi aturan Bruun untuk efek kenaikan permukaan laut pada profil pantai.......................35
 Gambar 5-1: Ilustrasi transport sedimen penampang melintang selama badai menyebabkan erosi pantai ......38
 Gambar 5-2: Ilustrasi pelebaran pantai untuk mencegah kerusakan karena badai...................................39
 Gambar 5-3: Ilustrasi revetment untuk mencegah kerusakan karena badai ..........................................39
 Gambar 5-4: Ilustrasi transpor total sejajar pantai .......................................................................40
 Gambar 5-5: Ilustrasi keseimbangan sedimen..............................................................................41
 Gambar 5-6: Ilustrasi penyebab erosi alamiah .............................................................................42
 Gambar 5-7: Ilustrasi erosi karena induksi manusia.......................................................................43
 Gambar 5-8: Ilustrasi dari netralisasi keseimbangan sedimen dengan cara pengisian...............................44
 Gambar 5-9: Ilustrasi efek dari revetment pada keseimbangan sedimen..............................................45
 Gambar 5-10: Ilustrasi efek dari sistem groin terhadap keseimbangan sedimen .....................................45
 Gambar 5-11: Pilihan pengisian untuk Aceh (catatan: pilihan lainnya juga bisa) .....................................47
 Gambar 5-12: Lokasi yang lebih baik untuk penanganan banjir atau erosi struktural ................................49
 Gambar 5-13: Pemfungsian sistem groin.....................................................................................50
 Gambar 5-14: Pemfungsian sistem detached breakwater.................................................................51
 Gambar 6-1: Muara sungai dekat Krueng Pudeng menyebabkan penggenangan di daerah daratan dan
 perumahan, Kec. Lhoong (Sumber: SKM, [Ref.7]) ..........................................................................53
 Gambar 6-2: Muara sungai berlidah pasir, sebelum tsunami .............................................................54
 Gambar 6-3: Efek tsunami terhadap muara sungai.........................................................................55


                                                                                                                           viii
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                                           Januari 2009




 Gambar 6-4: (Kiri) Muara sungai Krueng Pudeng di Kec. Lhoong dan (Kanan) Muara sungai Blang Naleung Mameh
 di Lhokseumawe, kedua jenis muara sungai berlidah pasir...............................................................55
 Gambar 6-5: Perkembangan muara sungai Krueng Pudeng saat ini......................................................58
 Gambar 6-6: Perkembangan muara sungai Lhok Nga saat ini (Sumber: SKM, 2006) ..................................59
 Gambar 7-1: Lokasi kaki bangunan yang mudah tergerus (garis merah) dan area dengan erosi yang sangat
 signifikan..........................................................................................................................62
 Gambar 7-2: Perkiraan garis pantai yang baru setelah penerobosan daratan .........................................63




   C
SD
                                                                                                                                     ix
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                                      Januari 2009




                                                  DAFTAR TABEL

 Tabel 1-1: Estimasi tanah turun/naik ......................................................................................... ii
 Tabel 2-1: UNIBEST-CL+ yang diaplikasikan, parameter input pantai Barat Aceh.....................................10
 Tabel 2-2: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi W01 hingga W04 ....11
 Tabel 2-3: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi W05 hingga W10 ....12
 Tabel 2-4: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi W11 hingga W14 ....13
 Tabel 2-5: UNIBEST-CL+ parameter input pantai Banda Aceh ............................................................14
 Tabel 2-6: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi N01 hingga N05 .....15
 Tabel 2-7: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi N06 hingga N14 .....16
 Tabel 2-8: UNIBEST-CL+ yang diaplikasikan, parameter input Pantai Timur Aceh ....................................17
 Tabel 2-9: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi E01 hingga E07......18
 Tabel 2-10: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi E08 hingga E15 ....19




   C
 Tabel 2-11: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi E16 hingga E22 ....20
 Tabel 2-12: UNIBEST-CL+ yang diaplikasikan, parameter input pantai Nias ...........................................21
 Tabel 2-13: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi di sekitar Nias .....22
SD
                                                                                                                                x
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




                             LOKASI REFERENSI ACEH DAN NIAS




   C
SD
                                                                                                                    xi
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




   1 PENDAHULUAN
 1.1 PROYEK SEA DEFENCE ACEH & NIAS
 Bencana tsunami yang terjadi pada tahun 2004 menyebabkan lebih dari 120.000 jiwa meninggal dan lebih dari
 500.000 jiwa kehilangan rumah, pekerjaan, sekolah, dll. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia segera
 mengeluarkan tiga maklumat menanggapi keadaan ini: 1) respon dan bantuan tanggap darurat, 2) rehabilitasi
 dan 3) rekonstruksi. Lebih jauh, Pemerintah Indonesia membentuk Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi untuk
 Aceh Nias (BRR) untuk membantu pemerintah lokal dalam mengkoordinasi dan memfasilitasi proses perbaikan.
 Untuk mempercepat dan memperbaiki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi maka BRR telah memformulasi
 sebuah program prioritas, yaitu ANTERP (Aceh & Nias Tsunami and Earthquake Response Program). Program ini
 memprakarsai sejumlah program lain.

 Salah satu dari prakarsa ANTERP adalah Sea Defence, Flood Protection, Refuge and Early Warnings System




   C
 (selanjutnya disebut Proyek Sea Defence atau Proyek SD). Sasaran utama pengembangan penugasan ini adalah
 untuk menreapkan sebuah strategi yang tepat untuk sistem pengendalian pantai, perlindungan terhadap
 banjir, dan konstruksi multifungsi untuk pengungsi serta sebuah sistem peringatan dini regional yang
 berhubungan dengan Sistem Peringatan Dini Nasional dan membuat desain yang rinci terhadap setiap sistem.


 1.2 KAJIAN DASAR PANTAI
 Semenjak dimulainya Proyek SD pada bulan Maret 2006, beberapa kajian tentang pantai di Aceh & Nias telah
 dilaksanakan untuk menambah pengetahuan yang lebih tentang kondisi pantai yang ada, efek dari bencana
 tsunami dan pembangunan di masa depan yang memungkinkan untuk diterapkan. Berdasarkan kajian-kajian
 tentang pantai ini, sebuah laporan telah disiapkan yang menampilkan strategi utama pantai, pendekatan dan
SD
 pedoman desain:

    −     Laporan utama: pedoman strategi pantai dan desain Aceh & Nias

 Laporan utama didukung oleh empat laporan pendukung, yang mencakup hasil dari pokok kajian dasar pantai
 berikut:

    −     Volume I: Morfologi dan Sistem Pantai
    −     Volume II: Kondisi Hidraulik
    −     Volume III: Pemodelan Tsunami dan Perkiraan Resiko
    −     Volume IV: Pedoman Penanganan Pantai


 1.3 KAJIAN DASAR MORFOLOGI DAN SISTEM PANTAI
 Laporan ini menampilkan hasil dari kajian dasar pantai Morfologi dan Sistem Pantai (Volume Pendukung I).
 Tujuan utama dari kajian dasar ini adalah:

    1.    Untuk meningkatkan pengetahuan tentang proses morfologis selama dan setelah tsunami di sepanjang
          garis pantai Aceh & Nias dan memberikan estimasi tentang perkembangan pantai untuk masa yang
          akan datang.
    2.    Untuk memberikan pengetahuan yang lebih tentang proses morfologis selama dan setelah tsunami
          pada muara sungai Aceh dan Nias dan memberikan estimasi tentang perkembangan muara sungai di
          masa yang akan datang.
    3.    Memberikan pedoman umum dan pertimbangan untuk berbagai jenis pananggulangan pantai yang
          berbeda dari sudut pandang morfologi.
    4.    Memberikan contoh pendekatan lokal dengan beberapa studi kasus morfologis.

                                                                                                                     1
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




 Pada awal Bab 2 dideskripsikan tentang kondisi normal pantai dan morfologi sepanjang Aceh dan Nias termasuk
 deskripsi umum tentang jenis pantai yang berbeda di sebelah barat, utara dan timur Aceh dan Nias dan
 penilaian tentang hasil pemodelan transpor sedimen secara keseluruhan. Bab 3 mendeskripsikan efek langsung
 dari gempa dan tsunami dalam sistem pantai. Setelah itu dalam Bab 4 dideskripsikan sistem pantai setelah
 terjadinya efek langsung. Hasil akhir adalah sebuah estimasi tentang perkembangan sistem pantai di masa yang
 akan datang. Dalam Bab 5 dideskripsikan tentang muara sungai dan penanganan yang memungkinkan.
 Selanjutnya pada Bab 6 dideskripsikan pertimbangan desain morfologi untuk penanganan perlindungan pantai
 yang berbeda.

 Dalam laporan ini, hasil dideskripsikan pada area berikut di Aceh dan Nias (lihat peta Lokasi Referensi Aceh
 dan Nias halaman xi):

    −     Pantai Barat Aceh;
    −     Pantai Banda Aceh;
    −     Pantai Timur Aceh;
    −     Nias dan Simeulue.


 1.4 PEMODELAN MORFOLOGI




   C
 Kegiatan dalam kajian dasar ini didukung oleh beberapa kegiatan pemodelan morfologi berikut yang dilakukan
 oleh Proyek Sea Defence:

    1.
    2.
          Kalkulasi transpor sedimen keseluruhan Pantai Aceh;
          Kalkulasi transpor sedimen lokal dan pengembangan garis pantai untuk studi kasus;

 Kalkulasi transpor sedimen dieksekusi dengan pemodelan paket UNIBEST-CL+ (Delft Hydraulics). Suatu
 pemodelan transpor sedimen keseluruhan di sepanjang garis pantai Aceh & Nias telah dirancang, yang
 dihasilkan dari jumlah transpor sedimen dan arah untuk lokasi sepanjang garis pantai Aceh & Nias. Dengan
 keseluruhan pemodelan tersebut maka kalkulasi rinci dibuat untuk studi kasus area.
SD
                                                                                                                     2
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




   2 KARAKTERISTIK PANTAI ACEH DAN NIAS
 2.1 PENDAHULUAN
 Bab ini menjelaskan tentang kondisi normal pantai dan morfologi untuk daerah Aceh dan Nias. Kondisi tsunami
 tidak dimasukkan dalam bab ini, efek dan pembangunan setelah tsunami dibahas dalam bab berikutnya.
 Pembahasan ini terdiri dari dua bagian, yaitu:

    1.    Deskripsi umum tentang bagian pantai yang berbeda;
    2.    Pemodelan transpor sedimen keseluruhan untuk bagian pantai yang berbeda dan sebuah taksiran dari
          hasil yang ada.

 Deskripsi bagian pantai Aceh yang ditampilkan dalam bab ini adalah dalam bentuk peta, gambar satelit, foto
 dan inspeksi lapangan.




   C
 2.2 DESKRIPSI KARAKTERISTIK PANTAI

 2.2.1 Pantai Barat

 Pantai Barat merupakan kawasan yang paling bergelombang di wilayah pantai Aceh. Bagian Utara dari pantai
 Barat terdiri dari pantai berbuku (pocket beaches). Lebih ke selatan lagi pantai pasir menjadi lebih panjang.
 Ke depan (setelah tsunami) status sebagian besar pantai ini menjadi bukitan pasir yang rendah (barrier
 islands), melindungi permukaan datar pantai. Foto lama mengindikasikan bahwa sebelumnya ada beberapa
 lokasi pantai yang telah dibuat bukit pasir, namun sekarang ini, pinggiran vertikal antara puncak pantai dan
SD
 tinggi permukaan air kelihatan agak kecil. Sepanjang beberapa bagian pantai ditemukan daerah berkarang
 (fringing reefs). Pada beberapa lokasi seperti Meulaboh, pantai-pantainya sempit dan rumah dibangun dekat
 dengan laut sebelum tsunami.

 Gambar 2-1: (Kiri) Tanjung dan pantai berbuku (pocket beaches) dibagian utara pantai Barat Aceh,
 (Kanan) Bentang panjang garis pantai dengan pantai yang rata di pedalaman Selatan Pantai Barat Aceh
 (Agustus 2006)




 Tipikal kemiringan profil pantai di sepanjang Pantai Barat adalah 1:100 dari garis pantai sampai dengan
 kedalaman lebih dari 10 m dan pada tempat yang lebih dalam kemiringannya menjadi lebih
 landai antara 1:200 hingga 1:400.


                                                                                                                     3
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Sedimen di pantai Barat utamanya terdiri dari pasir karbonat. Dalam [Ref.3] analisa pada beberapa contoh
 sedimen yang berada di dekat Calang menunjukkan kisaran D50 berada antara 0.15 dan 0.60 mm. Persentase
 endapan sangatlah rendah. Di dekat Lhoong, pantai berkerikil telah diobservasi di dekat muara sungai selama
 kunjungan pada bulan Mei 2006.

 Dalam [Ref.2] dilaporkan bahwa sebelum terjadinya gempa tidak ada masalah erosi yang signifikan yang
 terjadi di sepanjang Pantai Utara Lhoong (tidak ada informasi mengenai daerah Selatan Lhoong). Dalam [Ref.4]
 dilaporkan ada terjadi erosi di daerah Meulaboh.

 Dalam literatur, tidak ditemukan informasi tentang transpor sedimen sejajar pantai di Pantai Barat. Dari
 pantai yang membentuk teluk di dekat Meulaboh dapat disimpulkan bahwa, setidaknya, secara lokal, transpor
 total sejajar pantai adalah menuju ke arah Selatan. Pada bagian Utara Pantai Barat, dimana berlakunya pantai
 berbuku (pocket beaches), bentuk pantai pada lokasi yang berbeda mengindikasikan bahwa transpor total
 sedimen sepanjang pantai di bagian selatan pantai Barat sama dengan transpor di bagian utara pantai. Karena
 data yang ada dianggap kurang, maka diperlukan rincian observasi tentang bentuk garis pantai dan analisa
 gelombang dominan yang dikombinasikan dengan kalkulasi transpor sedimen yang bertujuan untuk memperoleh
 informasi yang lebih tentang arah total sejajar pantai. Untuk informasi lebih lanjut tentang transpor pasir
 sepanjang pantai Barat dapat dilihat pada referensi yang dibuat di Bagian 2.3.




   C
 Gambar 2-2: Meulaboh, bentuk garis pantai mengindikasikan transpor total sedimen menuju arah selatan
 (Sumber: Pusat Satelit berdasarkan informasi krisis, German Remote Sensing Data Centre)
SD
     Net longshore sedimen
     transport direction




 Menurut informasi terbatas yang ada, sedimen di area pantai Barat sebagian besar adalah organik, yang dapat
 mengindikasikan bahwa suplai pasir dari sungai tidaklah signifikan untuk morfologi pantai skala besar dalam
 area kajian ini. Di tempat tersebut, yang dekat dengan muara sungai, situasinya bisa menjadi berbeda.


 2.2.2 Banda Aceh/ Pantai Utara
 Banda Aceh/ pantai Utara pada umumnya terdiri dari beach barriers dan lidah pasir yang dipunggungi oleh
 area air yang umumnya terdiri dari tambak dan melindungi daratan pantai yang luas (lihat Gambar 2-3:).

 Kemiringan di sejajar pantai Banda Aceh dapat dideskripsikan sebagai berikut:

    1.    Kemiringan yang dekat dengan pantai lebih landai, sekitar 1:200 sampai dengan kedalaman lebih dari
          10 m;
    2.    Kemiringan menjadi lebih curam di lepas pantai, hingga 1:100 sampai dengan kedalaman antara 10
          dan 20 m dan kisarannya dari 1:30 hingga 1:50 pada area yang lebih dalam dari 20 m (kecuraman
          kemiringan lepas pantai).

                                                                                                                     4
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Gambar 2-3: Sistem Barrier beach di Banda Aceh sebelum tsunami




                                                                  Floodway
                                                                  channel




                                    Krueng Aceh




   C
 Bathimetri pantai Banda Aceh ditunjukkan pada Gambar 2-4.

 Pada tahun 2001-2002 telah dibangun pelabuhan kapal laut di sepanjang bagian pantai ini. Interupsi lain yaitu
 pergerakan arus air yang dibentuk oleh seawall di kanal banjir Alue Naga yang dibangun pada tahun 1991.

 Tipikal ukuran sedimen pada area ini sekitar D50 = 0.1 sampai dengan 0.3 mm [Ref.2].
SD
 Kondisi gelombang di daerah Banda Aceh adalah cenderung tenang dan transpor pasirnya adalah dari kecil
 menuju sedang. Pola erosi akresi di sekitar struktur pelabuhan mengindikasikan sebuah transpor total menuju
 arah Timur di sepanjang bagian pantai ini. Komputasi dari transpor pasir di zona dekat pantai yang dimuat
 dalam cakupan kajian ini mengkonfirmasi bahwa transpor total adalah menuju arah Timur dan biasanya
 berjumlah 5.000 hingga 50.000 m3/tahun. Sebagai tambahan untuk interupsi terhadap transpor total sejajar
 pantai oleh struktur pantai, perkembangan garis pantai dipengaruhi oleh lekukan kuat dari garis pantai dan
 gradien sejajar pantai pada iklim gelombang pantai. Untuk informasi lebih lanjut tentang transpor pasir
 sepanjang pantai Banda Aceh telah dibuat referensi pada Bagian 2.3 dan Lampiran B.

 Beberapa bagian di daerah pantai Banda Aceh akan mengalami longsor dalam beberapa dekade. Dalam [Ref.2]
 beberapa bagian pantai Utara dilaporkan telah mengalami erosi semenjak beberapa dekade sebelum tsunami.
 Lebar Pantai Syiah Kuala dilaporkan telah berkurang dari 500 m menjadi kurang dari 100 m pada periode 1998-
 2003.

 Daerah pantai sangat dipengaruhi oleh dampak tsunami yang terjadi pada Desember 2004. Tahanan pantai
 alaminya telah mengalami erosi yang sangat parah selama terjadi tsunami. Gelombang tsunami mengakibatkan
 terbawanya pasir pada sistem pantai ke daerah daratan dan lepas pantai. Setelah tsunami, garis pantai sangat
 berubah karena adanya distribusi ulang pasir sepanjang dan sekitar pantai oleh gelombang.

 Pada periode setelah tsunami, bagian utama pantai Banda Aceh telah diperbaiki dengan adanya batu pemecah
 ombak (revetment) dan seawall (tembok beton laut vertikal). Pekerjaan konstruksi dimulai pada Desember
 2005 dan pada saat penulisan buku ini (Desember 2008) seawall di bentangan akhir arah Timur kanal banjir
 Alue Naga sedang dibangun.



                                                                                                                     5
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Sepanjang pantai utara ada dua cabang sungai Krueng Aceh yang mensuplai sedimen secara melimpah menuju
 zona pantai [Ref.1]. Sejak tahun 1991 salah satu cabang ini digunakan sebagai kanal banjir. Tidak ditemukan
 data kuantitatif tentang suplai sedimen sungai menuju pantai.

 Gambar 2-4: Survey batimetri Banda Aceh tahun 2007




   C
SD
 2.2.3 Pantai Timur Aceh
 Meilianda dkk [Ref.2] melaporkan bahwa Pantai Timur terdiri dari pantai yang lurus. Pada beberapa pantai
 ditemukan bidang kecil karang datar. Pantai tersebut memiliki pasir putih yang bercahaya. Struktur besar
 sepanjang bagian pantai ini ditemukan di dekat Lhokseumawe.

 Menurut Meilianda dkk [Ref.2] bagian utara Pantai Timur telah mundur selama waktu yang lama sebelum
 tsunami. Dan beberapa pekerjaan perlindungan pantai telah dikerjakan.

 Dari Charts Admiralty bisa disimpulkan bahwa banyak sungai (pendek) yang bermuara ke laut di sepanjang
 pantai Timur Aceh. Tidak ditemukan adanya data tentang suplai sedimen sungai menuju pantai. Namun,
 sungai-sungai yang ada mungkin membentuk kontribusi yang signifikan untuk keseimbangan sedimen terhadap
 bagian pantai ini. Penambangan pasir, pembuatan tambak di sekitar sungai atau intervensi manusia terhadap
 sedimen alami sungai akan mengakibatkan erosi struktural yang signifikan pada perbatasan garis pantai. Hal ini
 menjelaskan erosi yang diidentifikasikan oleh Meilianda dkk [Ref.2] sebelum tsunami. Untuk rincian lebih
 lanjut, taksiran lokal dilampirkan.

 Kabupaten Pidie terletak di daerah utara dari Pantai Timur Aceh, dimana total transpor sejajar pantai yang
 menuju ke arah timur dihasilkan oleh bentuk pantai itu sendiri (lihat Gambar 2-5). Komputasi transpor pasir
 diangkat dalam bagian ini dari pantai yang mengindikasikan kisaran transpor total antara 0 sampai 50.000
 m3/tahun.




                                                                                                                     6
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Gambar 2-5: Kabupaten Pidie, formasi lidah pasir menuju ke arah tenggara




                                           Transpor total sedimen
                                           sejajar pantai




                                      Formasi lidah




   C
 Bentuk pantai yang berada di dekat pantai Lhokseumawe yang berlokasi lebih ke arah selatan di sepanjang
 pantai Timur mengindikasikan transpor total menuju arah timur (lihat studi kasus untuk pantai Lhokseumawe
 yang dilakukan oleh SDC menjelaskan bahwa transpor total telah menuju arah timur), hal ini terjadi karena
 terhalangnya transpor total oleh pelabuhan dan struktur tembok sungai (lihat Gambar 2-6) dan adanya
 lengkungan garis pantai yang signifikan disepanjang transpor sepanjang pantai dengan total transpor minimum
 mendekati nol dan transpor maksimumnya sejumlah 30.000 m3/tahun. Rata-rata ini dikonfimasi oleh rerata
 erosi downdrift di pelabuhan dan struktur tembok percobaan sungai seperti yang ada di foto satelit. Gradien
 ini menghasilkan erosi lokal dan akresi. Untuk informasi lebih lanjut tentang transpor pasir sepanjang pantai di
 Pantai Timur dapat dilihat pada Bagian 2.3.

 Hal ini dikonfirmasi dalam PT. Lavita Inti [Ref.5], dimana di sekitar pelabuhan breakwater di Lhokseumawe
SD
 pola dari akresi barat dan erosi timur ditampilkan. Laporan menampilkan transpor komputasi sejumlah 70.000
 hingga 80.000 m3/tahun. Namun, tidak diketahui apakah transpor ini telah dikalibrasi dan angka transpor ini
 harus digunakan dengan hati-hati. Sampel sedimen ditampilkan pada PT. Lavita Inti [Ref.5] mengindikasikan
 D50 bervariasi antara 0.2 mm dan 0.7 mm. Studi kasus untuk Pantai Lhokseumawe dimuat oleh SDC, transpor
 total menuju arah timur dikomputasi disini. Dikarenakan terhalangnya transpor total oleh pelabuhan dan
 struktur jetti muara sungai.



 Gambar 2-6: Lhokseumawe, formasi spit pantai menuju arah tenggara + akresi breakwater
        Akresi ke hulu breakwater




                                                 Arah transpor total
                                                 sedimen sejajar pantai




                                                            Formasi lidah
                                                            (spit)


                                                                                                                     7
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




 2.2.4 Jenis-jenis pantai
 Tipikal profil pantai dalam area kajian dibedakan:

    −     Low beach barriers dengan daratan pantai yang luas;
    −     Low beach barriers dengan daratan pantai yang sempit (biasanya dengan kemiringan gunung yang
          curam dekat dengan pantai);
    −     Sloping beaches melindungi daerah pedalaman di daratan;
    −     Pada beberapa lokasi, terdapat kawasan berkarang (lihat Admiralty Charts). Namun, di sepanjang
          pantai tidak ditemui adanya karang.

 Pada perencanaan yang ada, perbedaan dapat dibuat antara pocket beaches (bentang pendek dari pantai
 berpasir, dengan panjang beberapa kilometer atau lebih, pada kedua ujung ditutupi oleh karang) dan
 bentangan panjang tak bertepi dari pantai berpasir.


 2.3 PEMODELAN TRANSPOR SEDIMEN




   C
 2.3.1 Pendahuluan
 Bab ini menampilkan hasil dari transpor sedimen yang dikomputasi pada lokasi pantai yang mewakili beberapa
 lokasi di pantai Aceh & Nias. Lokasi yang terpilih dapat dianggap representatif pada bentang pantai dimana
 orientasi pantai terdekat dan kontur kedalaman lepas pantai adalah sama. Transpor sedimen yang
 dikomputasi, dideskripsikan secara terpisah untuk pantai Barat, daerah Banda Aceh, pantai Utara dan Timur
 dan Nias. Input untuk kalkulasi transpor sejajar pantai terdiri dari profil dasar laut, diameter sedimen dan
 kondisi gelombang dekat pantai (lihat juga Volume II. Kondisi Hidraulik).


 2.3.2 Sasaran dan pendekatan
 Sasaran dari pemodelan transpor sedimen adalah:
SD
    1.    Untuk menentukan skala regional rerata transpor sedimen secara tahunan dan arahnya;
    2.    Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang morfologi pantai maka proses morfologi
          pantai seperti aspek kelayakan dan biaya dapat ditaksir dari penanganan untuk perlindungan pantai
          yang diajukan pada tahap pertama;
    3.    Memberikan dasar untuk rincian dari garis pantai yang telah dipelajari (contoh, dengan Delft3D-MOR
          atau UNIBEST-CL+).

 Pemodelan transpor sedimen yang dibicarakan pada kajian ini memberikan indikasi awal dari total transpor
 sedimen dan arah sedimen (pada beberapa poin di sepanjang pantai Aceh & Nias) dimana dapat membentuk
 poin awal untuk taksiran yang lebih jauh lagi. Pada basis yang didapat di transpor sepanjang pantai, didapat
 kesan pertama dari dampak tersebut yang disebabkan oleh interfensi manusia (seperti groin, pelabuhan,
 struktur muara, dll). Perlu diingat bahwa transpor yang dikomputasi tidak dapat dikalibrasi (karena kurangnya
 data) dan harus digunakan dengan hati-hati. Untuk kajian tentang dampak terhadap pantai atau perlindungan
 pantai pada lokasi manapun, diperlukan pertimbangan rincian morfologi yang lebih khusus dan komputasi
 transpor.

 Angka dan arah transpor sedimen sejajar pantai tahunan dikomputasi pada lokasi output yang representatif di
 pantai Aceh dan Nias (tidak termasuk lepas pantai utara Banda Aceh). Komputasi yang ada menggunakan
 numerikal UNIBEST-CL+.


 2.3.3 Data yang diaplikasikan
 Input untuk kalkulasi transpor sedimen terdiri dari:
    1. Kondisi gelombang normal (tahunan) pada lokasi output;

                                                                                                                     8
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



       2.    Profil melintang pantai;
       3.    Karakteristik sedimen;
       4.    Formula transpor sedimen;
       5.    Orientasi garis pantai.

 Hasil iklim gelombang yang diaplikasikan dari pemodelan iklim gelombang normal dideskripsikan pada Volume
 II. Kondisi hidraulik dan kondisi gelombang yang naik setiap tahunnya ditunjukkan pada Lampiran A.

 Pengaruh dari arus pasang surut dan komponen musimannya tidak diperhitungkan selama perilaku arus
 tersebut bersifat simetris, tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap transpor total sejajar pantai.
 Induksi arus gelombang dikomputasi dengan pemodelan UNIBEST-CL+ pada basis input kondisi gelombang, profil
 kedalaman dan orientasi garis pantai.

 Profil melintang pantai dari sebuah kedalaman air dengan kisaran MSL -8m menuju garis pantai dibuat pada
 lokasi output terpilih pada basis sumber data berikut:

       −     Peta Laut Indonesia (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut, Dinas Hidro-Oseanografi);
       −     ETOPO-2 (NOAA’s database elevasi global yang dijaring pada resolusi geografis 2 menit).




   C
 2.3.4 Deskripsi UNIBEST-CL+
 UNIBEST-CL+ merupakan piranti lunak yang fleksibel untuk pemodelan transpor sedimen sejajar pantai dan
 morfodinamika garis pantai. UNIBEST-CL+ merupakan pemodelan keseimbangan sedimen dengan transpor
 sepanjang pantai yang dikomputasi pada lokasi spesifik sepanjang pantai dan dapat diterjemahkan sebagai
 migrasi garis pantai.

 Aplikasi tipikal adalah analisa sistem morfologi pantai dalam skala besar untuk memberikan pengetahuan
 tentang penyebab erosi pantai atau untuk memprediksikan pengaruh dari infrastruktur pantai yang
 direncanakan (seperti pelabuhan) di pantai. Namun pemodelan juga dapat digunakan untuk pertimbangan pada
 skala yang lebih kecil, seperti evaluasi dari evolusi garis pantai di sekitar pekerjaan perlindungan pantai (groin,
 revetment, pekerjaan training muara sungai dan detached breakwater). Sumber sedimen dan galian dapat
SD
 didefinisikan pada lokasi mana saja yang bertujuan untuk menstimulasi suplai sedimen sungai, efek dari
 penurunan daratan atau kenaikan permukaan laut, hilangnya sedimen lepas pantai, bypass sedimen artifisial
 dan penambangan pantai. Fitur ini menjadi cocok untuk desain fungsional pada skema pertahanan pantai dan
 prediksi dari pengaruhnya pada pantai, pada tahap fisibilitas dan pada banyak kasus juga berada pada tahap
 desain yang rinci pada proyek.

 Garis pantai didefinisikan sebagai sesuatu yang relatif terhadap garis referensi user-defined, yang bisa jadi
 mengkurva. Hal ini memungkinkan terjadinya pemodelan area pantai yang kompleks seperti delta, teluk,
 pantai berbentuk bundar dan bahkan pulau yang komplit. Komputasi dari evolusi garis pantai dapat dibuat
 lebih dari beberapa dekade. Pada komputasi ini, perubahan pada transpor sejajar pantai dengan orientasi
 waktu balik dari garis pantai harus diperhitungkan.

 Pada kajian kekinian, UNIBEST-CL+ diaplikasikan dalam skala besar untuk mengkalkulasi arah dan nilai rerata
 transpor sedimen tahunan.1


 2.3.5 Hasil tahunan-angka transpor sedimen
 Pantai Barat Aceh
 Karakteristik ukuran diameter butiran sedimen sepanjang pantai Barat Aceh pada umumnya bervariasi antara
 150 dan 600 µm. Sebagai parameter yang dominan untuk magnitude transpor sejajar pantai, maka kisaran
 untuk diameter ukuran butiran sedimen pada output lokasi tersebut diperkirakan. Pada variasi diameter
 ukuran butiran sedimen, transpor sejajar pantai (magnitud dan arahnya) dikalkulasi dengan formula Bijker
 dalam dua cara yang berbeda menggunakan parameter input pada Tabel 2-1.



 1
     Untuk informasi lebih lanjut lihat: 'http://www.wldelft.nl/soft/chess/unibest-cl/index.html'
                                                                                                                     9
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Tabel 2-1: UNIBEST-CL+ yang diaplikasikan, parameter input pantai Barat Aceh

                                                Pacu Model       Pacu Model
                  Parameter
                                                  (Run) 1         (Run) 2

  D50 [µm]                                           150            600

  D90 [µm]                                           225            900

  Kekesatan dasar [m]                               0.05            0.05

  Kecepatan endap sedimen [m/s]                     0.020          0.077

  Kriteria kedalaman air Hsig/h [-]                 0.07            0.07

  Koefisien b, kedalaman air [-]                     2.0            2.0

  Kriteria air dangkal, Hsig/h [-]                   0.6            0.6

  Koefisien b, air dangkal [-]                       5.0            5.0


 Hasil
 Tabel 2-2, Tabel 2-3 dan Tabel 2-4 menunjukkan hasil dari komputasi UNIBEST-CL+ untuk tiga area di pantai




   C
 Barat Aceh.

 Tabel di atas memberikan parameter setiap lokasi sebagai berikut:
    1. Nomor lokasi (ni 01 sampai ni12)
    2. Orientasi garis pantai dengan derajat ke arah Utara
    3. Orientasi keseimbangan garis pantai dengan derajat ke arah Utara
    4. Perbedaan antara orientasi garis pantai dan orientasi keseimbangan dalam derajat
    5. Rerata angka total transpor sedimen tahunan [* 1000 m3/tahun] untuk D50 = 150 µm dan D50 = 600 µm.

 Angka transpor garis pantai dan arahnya ditunjukkan sebagai vektor dalam gambar ini. Nilai yang positif untuk
 angka transpor sedimen yang dikomputasi mengindikasikan transpor menuju ke utara.
SD
 Pembahasan hasil
 Tidak ada data kalibrasi yang tersedia untuk transpor sedimen pada saat penulisan laporan ini. Total transpor
 yang dipresentasikan sebagai hasil indikatif non-kalibrasi. Hal ini mengimplikasikan bahwa margin
 ketidaktelitian yang signifikan harus diaplikasikan (angka transpor bisa berkisar 3 kali lebih rendah atau lebih
 tinggi daripada yang dipresentasikan). Sebagai tambahan, arah transpor total harus diinterpretasikan dengan
 hati-hati pada lokasi yang bersangkutan dimana perbedaan antara orientasi garis pantai dan orientasi
 keseimbangan yang dikomputasi hanya beberapa derajat saja (katakanlah 5° atau kurang).

 Referensi dibuat untuk transpor yang dikomputasi pada lokasi W06 dan W07 (Meulaboh). Dari bentuk garis
 pantai dapat diperkirakan bahwa pada lokasi ini transpor total menuju ke arah selatan, sementara transpor
 yang dikomputasi menuju ke arah utara. Perbedaan antara orientasi aktual dan keseimbangan pada lokasi ini
 hanya 1° dan 4° secara berturut-turut, mengimplikasikan bahwa pendekatan energi gelombang tahunan pada
 pantai ini hampir tegak lurus. Dengan kata lain, jika energi gelombang dekat pantai berotasi hanya beberapa
 derajat saja, maka total transpor yang dikomputasi akan menuju ke arah selatan. Pada kenyataannya, rotasi
 dari energi gelombang merupakan cara yang lumrah untuk komputasi transpor sedimen kalibrasi. Karena
 kurangnya data kalibrasi, maka suatu kalibrasi tidak dapat ditampilkan dalam taksiran pada buku ini. Perlu
 diingat bahwa pada beberapa lokasi (W01, W03, W04, W08, W12 dan W13) fenomena luasnya pengaruh
 gelombang yang hampir tegak lurus terhadap pantai juga ditemukan.

 Mempertimbangkan taksiran yang ada bahwa kondisi gelombang hampir tegak lurus terhadap garis pantai di
 pantai Barat Aceh, maka diperkirakan bahwa secara keseluruhan garis pantai Barat Aceh berada dalam
 keadaan stabil. Namun, gelombang besar tetap menyebabkan transpor sedimen yang besar. Karena gelombang
 besar ini lebih tinggi dari 0.75 m sepanjang tahun, maka kapasitas transpor tahunan menjadi tinggi. Walaupun
 lokasi garis pantai sangat dekat dengan orientasi keseimbangan, namun secara relatif transpor sedimen yang
 tinggi tetap dikomputasi. Hal ini juga merupakan hal yang penting untuk perkembangan yang terjadi setelah
 tsunami (lihat Bab 4); Prubahan yang sangat kecil di orientasi garis pantai yang bisa menginduksi besarnya
 penambahan atau pengurangan angka transpor sedimen.
                                                                                                                    10
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                                  Januari 2009



 Tabel 2-2: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi W01 hingga W04
                                                                           Average net year ly sediment
                                                                           Transport Rate
                                                                           [ * 1000 m3/year]
                                                           Difference
                                      Equilibrium           between
                     Coastline
                                       Coastline             coastline
                    orientation
    Location                          orientation        orientation and    D 50 = 150 µm       D 50 = 600 µm
                    [degrees to
                                      [degrees to          equilibrium
                      North]
                                        North]             orientation
                                                            [degrees]

    W01                243               245                   -2               - 155                - 30

    W02                231               241                  -10              - 1285               - 330

    W03                227               224                   3                 475                 150

    W04                232               243                   -1               - 115                - 25




   C                    Lhop
                       w01
                            ot u




                             W02
                                lot




                                      Lho
                                         kr u
                                             et
                                                                                        Aceh
SD
                                      W03



                                                          e
                                                       aeu
                                                    Ran
                                                  W04
                                                            ang
                                                         Cal




                                                                                                                          11
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                                     Januari 2009



 Tabel 2-3: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi W05 hingga W10
                                                                              Average net year ly sediment
                                                                              Transport Rate
                                                                              [ * 1000 m3/year]
                                                              Difference
                                         Equilibrium           between
                      Coastline                                 coastline
                                          Coastline
                     orientation                            orientation and
    Location                             orientation                           D 50 = 150 µm       D 50 = 600 µm
                     [degrees to                              equilibrium
                                         [degrees to
                       North]                                 orientation
                                           North]
                                                               [degrees]

    W05                  222                214                   8                 995                 330

    W06                  225                224                   1                 75                   35

    W07                  226                222                   4                 280                 100

    W08                  235                232                   3                 105                  35

    W09                  173                179                  -6                 -55                 -25

    W10                  235                224                  11                 505                 170
                     e
                  aeu
               Ran




   C            W05




                            Sua
                               t im
                             W06
                                   ah


                                   W07
                                      Me
                                        ula
                                           boh




                                                        Tr ipa
                                                       W08
                                                                  Ka Seumanyam

                                                                 W09
                                                                                            Aceh
SD
                                                                                                    W10




                                                                                                                             12
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                                Januari 2009



 Tabel 2-4: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi W11 hingga W14
                                                                          Average net yearly sediment
                                                                          Transport Rate
                                                                          [ * 1000 m3/year]
                                                          Difference
                                    Equilibrium            between
                    Coastline
                                     Coastline              coastline
                   orientation
    Location                        orientation         orientation and    D 50 = 150 µm      D 50 = 600 µm
                   [degrees to
                                    [degrees to           equilibrium
                     North]
                                      North]              orientation
                                                           [degrees]

    W11               227              220                      7               340                100

    W12               269              260                      9               75                  25

    W13               225              228                   -3                 - 15                -5

    W14               202              217                   - 15              - 350               - 90




   C                   W11




                                      W12
                                                                                       Aceh
SD
                                                                  ja
                                         W13                    Ra
                                                           Ug
                                                  W14




 Pantai Banda Aceh
 Karakteristik ukuran diameter butiran sedimen pada daerah Banda Aceh pada umumnya bervariasi antara 100
 dan 300 µm. Untuk lokasi output yang berlokasi di pantai Barat (N01 to N02) diaplikasikan diameter ukuran
 butiran sedimen yang lebih besar sebagai kisaran perkiraan pada pantai Barat dan diprediksikan bervariasi
 antara 150µm dan 600µm. Sebagai parameter yang dominan untuk magnitude transpor sejajar pantai, maka
 kisaran untuk diameter ukuran butiran sedimen pada output lokasi tersebut diperkirakan. Pada variasi
 diameter ukuran butiran sedimen, transpor sejajar pantai (magnitud dan arahnya) dikalkulasi dengan formula
 Bijker dalam dua cara yang berbeda menggunakan parameter input berikut ini:




                                                                                                                        13
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Tabel 2-5: UNIBEST-CL+ parameter input pantai Banda Aceh

                  Parameter                        Run 1          Run 2

  D50 [µm] (lokasi N01 and N02)                      125           450

  D50 [µm] (lokasi N03 to N14)                       100           300

  D90 [µm]                                           150           450

  Kekesatan dasar [m]                               0.05           0.05

  Kecepatan endap sedimen [m/s]                   0.00755        0.03519

  Kriteria kedalaman air Hsig/h [-]                 0.07           0.07

  Koefisien b, kedalaman air [-]                     2.0           2.0

  Kriteria air dangkal, Hsig/h [-]                   0.6           0.6

  Koefisien b, air dangkal [-]                       5.0           5.0


 Tabel 2-6 dan Tabel 2-7 menunjukkan hasil dari komputasi UNIBEST-CL+ untuk kedua sub-area di daerah Banda
 Aceh.




   C
 Tabel di atas memberikan parameter setiap lokasi sebagai berikut:
 1. Nomor lokasi (N01 to N14)
 2. Orientasi garis pantai dengan derajat ke arah Utara
 3. Orientasi keseimbangan garis pantai dengan derajat kea rah Utara
 4. Perbedaan antara orientasi garis pantai dan orientasi keseimbangan dalam derajat
 5. Rerata angka total transpor seedimen tahunan [ * 1000 m3/tahun].

 Angka transpor garis pantai dan arahnya ditunjukkan sebagai vektor dalam gambar ini. Nilai yang positif untuk
 angka transpor sedimen yang dikomputasi mengindikasikan transpor menuju ke utara, timur laut dan timur.

 Pembahasan hasil
SD
 Pada umumnya, order magnitud yang diperoleh dan arah rerata tahunan transpor sedimen di pantai Banda
 Aceh diperkirakan terjadi, dengan arah transpor ke selatan pada pantai Barat dan transpor menuju timur pada
 pantai Utara (contoh Banda Aceh).

 Tidak ada tersedia data kalibrasi untuk taksiran transpor sedimen sekarang ini. Transpor total yang ditampilkan
 haruslah diinterpretasikan sebagai hasil indikatif non-kalibrasi.




                                                                                                                    14
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                              Januari 2009



 Tabel 2-6: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi N01 hingga N05
                                                                        Average net yearly sediment
                                                                        Transport Rate
                                                                        [ * 1000 m3/year]
                                                        Difference
                                        Equilibrium      between
                    Coastline
                                         Coastline        coastline
                   orientation
    Location                            orientation   orientation and
                   [degrees to
                                        [degrees to     equilibrium
                     North]
                                          North]        orientation
                                                         [degrees]       D 50 = 125 µm      D 50 = 450 µm

    N01               248                    250            -2                -72                -20

    N02               248                    252            -4               -295                -85

                                                                         D 50 = 100 µm      D 50 = 300 µm

    N03               230                    232            -2               -270                -110

    N04               317                    262           55                 850                375

    N05               292                    260           32                 200                 90




   C                        N04
                              N03
                                 N05




                                       Leu

                                       N02
                                          pu
                                            ng
SD
                                        N01



                                            ng
                                          yu
                                        La




                                                                                                                      15
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                                Januari 2009



 Tabel 2-7: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi N06 hingga N14
                                                                          Average net yearly sediment
                                                                          Transport Rate
                                                                          [ * 1000 m3/year]
                                                         Difference
                                      Equilibrium         between
                     Coastline                             coastline
                                       Coastline
                    orientation                        orientation and
     Location                         orientation
                    [degrees to                          equilibrium
                                      [degrees to
                      North]                             orientation
                                        North]
                                                          [degrees]        D 50 = 100 µm      D 50 = 300 µm

     N06               360               314                46                    18                10

     N07                23                1                 22                    10                    6

     N08               337               339                 -2                   -1                -.5

     N09               318               316                 2                    1                 .5

     N10               318               313                 5                    7                 2.5

     N11               318               299                19                    40                15




   C N12

     N13

     N14
                       332

                       313

                       360
                                         309

                                         294

                                         357
                                                            23

                                                            19

                                                             3




                                                                  N12
                                                                         N13

                                                                          I ng
                                                                              inj
                                                                                  30

                                                                                  40

                                                                                  1




                                                                                 N14

                                                                                 ay
                                                                                   a
                                                                                                    13

                                                                                                    16

                                                                                                    0.3
SD
                                                 N11
                         N06                  N10
                          N07            N09      eh
                                                Ac
                               da            da
                             ba N08         n
                           an             Ba
                        uk
                      Pe




 Pantai Timur Aceh
 Karakteristik ukuran diameter butiran sedimen sepanjang pantai Utara dan Timur Aceh pad aumumnya
 bervariasi antara 200 dan 700 µm. Untuk lokasi output yang berlokasi dekat dengan Banda Aceh (E01 hingga
 E03) diaplikasikan diameter ukuran butiran sedimen sebagai kisaran perkiraan dalam area ini dan diprediksikan
 bervariasi antara 100µm dan 500µm. Sebagai parameter yang dominan untuk magnitude transpor sejajar
 pantai, maka kisaran untuk diameter ukuran butiran sedimen pada output lokasi tersebut diperkirakan. Pada
 variasi diameter ukuran butiran sedimen, transpor sejajar pantai (magnitud dan arahnya) dikalkulasi dengan
 formula Bijker dalam dua cara yang berbeda menggunakan parameter input berikut ini:




                                                                                                                        16
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Tabel 2-8: UNIBEST-CL+ yang diaplikasikan, parameter input Pantai Timur Aceh

                  Parameter                        Run 1          Run 2

  D50 [µm]                                           200           700

  D90 [µm]                                           300           1050

  Kekesatan dasar [m]                               0.05           0.05

  Kecepatan endap sedimen [m/s]                   0.02113        0.07215

  Kriteria kedalaman air Hsig/h [-]                 0.07           0.07

  Koefisien b, kedalaman air [-]                     2.0           2.0

  Kriteria air dangkal, Hsig/h [-]                   0.6           0.6

  Koefisien b, air dangkal [-]                       5.0           5.0


 Hasil
 Tabel 2-9, Tabel 2-10 dan Tabel 2-11 menampilkan hasil dari komputasi UNIBEST-CL+ untuk ketiga area
 tersebut di area pantai Timur Aceh.




   C
 Tabel di atas memberikan parameter berikut untuk setiap lokasinya:
    1. Nomor lokasi (E01 to E22)
    2. Orientasi garis pantai dalam derajat berhubungan dengan Utara
    3. Orientasi keseimbangan garis pantai dalam derajat berhubungan dengan utara
    4. Perbedaan antara orientasi garis pantai dan orientasi keseimbangan dalam derajat
    5. Total rata-rata transpor sedimen tahunan [ * 1000 m3/year].

 Transpor rerata sejajar pantai dan arahnya ditunjukkan sebagai vektor pada gambar ini. Nilai yang positif
 untuk angka transpor sedimen yang dikomputasi mengindikasikan transpor menuju ke arah utara, timur laut
 dan timur.
SD
 Pembahasan hasil
 Pada umumnya, order magnitud yang diperoleh dan arah rerata tahunan transpor sedimen di pantai Timur
 Aceh diperkirakan terjadi, dengan arah transpor ke timur pada pantai Utara dan arah arah transpor ke selatan
 pada pantai Timur. Untuk lokasi E04 hingga E07 sedimen yang menuju barat laut dikomputasi, mengingat tidak
 ada atau terbatasnya transpor menuju ke utara yang diperkirakan terjadi (berdasarkan karakteristik bagian
 pantai). Gelombang lokal tambahan dan informasi batimetri akan diperlukan untuk mengkonfirmasi hal ini.

 Tidak ada tersedia data kalibrasi untuk taksiran transpor sedimen sekarang ini. Transpor total yang ditampilkan
 haruslah diinterpretasikan sebagai hasil indikatif non-kalibrasi.




                                                                                                                    17
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                                         Januari 2009



 Tabel 2-9: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi E01 hingga E07
                                                                                  Average net yearly sediment
                                                                                  Transport Rate
                                                                                  [ * 1000 m3/year]
                                                               Difference
                                         Equilibrium            between
                      Coastline
                                          Coastline              coastline
                     orientation
    Location                             orientation         orientation and
                     [degrees to
                                         [degrees to           equilibrium
                       North]
                                           North]              orientation
                                                                [degrees]          D 50 = 100 µm       D 50 = 300 µm

    E01                  54                  28                       26                12                      7

    E02                  30                  26                       4                  1                      1

                                                                                   D 50 = 150 µm       D 50 = 500 µm

    E03                  30                  27                       3                  4                      3

                                                                                   D 50 = 200 µm       D 50 = 700 µm

    E04                  29                  37                       -8                -4                      0




   CE05

    E06

    E07




               E01
                         50

                         37

                         15




                         E02
                                   E03
                                             65

                                             51

                                             39




                                                       E04
                                                                      -15

                                                                      -14

                                                                      -24
                                                                                        -20

                                                                                        -15

                                                                                        -18




                                                                                                Aceh
                                                                                                            -7

                                                                                                            -5

                                                                                                            -6
SD
                                                             E05


                                                                gli
                                                              Si
                                                                            E06



                                                                                         E07




                                                                                                                                 18
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                                           Januari 2009



 Tabel 2-10: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi E08 hingga E15
                                                                              Average net year ly sediment
                                                                              Transport Rate
                                                                              [ * 1000 m3/year]
                                                           Difference
                                       Equilibrium          between
                    Coastline
                                        Coastline            coastline
                   orientation
    Location                           orientation       orientation and
                   [degrees to
                                       [degrees to         equilibrium
                     North]
                                         North]            orientation
                                                            [degrees]             D 50 = 200 µm          D 50 = 700 µm

    E08                352                343                    9                      9                     3

    E09                331                324                    7                     12                     4

    E10                337                323                 14                       34                     13

    E11                337                322                 25                       55                     22

    E12                22                 348                 34                       38                     16

    E13                22                  10                 11                       10                     6




   CE14

    E15
                       330

                       338
                                          323

                                          321




                                                           E11
                                                              17
                                                                 7                     19

                                                                                       66




                                                                                                  Aceh
                                                                                                              6

                                                                                                              22
SD
                 E08                                                  E12
                                                E10                                E13                          E15
                                 E09                en                                  e
                                                  ru                                  aw
                                                Bi                                  um             E14
                                                                                  se
                                                                             ok
                                                                           Lh




                                                                                                                                   19
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Tabel 2-11: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi E16 hingga E22
                                                                     Average net yearly sediment
                                                                     Transport Rate
                                                                     [ * 1000 m3/year]
                                                     Difference
                                    Equilibrium       between
                    Coastline
                                     Coastline         coastline
                   orientation
    Location                        orientation    orientation and
                   [degrees to
                                    [degrees to      equilibrium
                     North]
                                      North]         orientation
                                                      [degrees]       D 50 = 200 µm      D 50 = 700 µm

    E16                44               22               22                24                  11

    E17                42               18              24                 23                      9

    E18                36               12              24                 22                      8

    E19                70               42              28                 18                      7

    E20                46               14              32                 19                      7

    E21                46               15              31                 21                      9




   CE22




          E16


                E17
                       64




                       E18

                            E19
                                        27              37                 13




                                                                                Aceh
                                                                                                   5
SD
                                    E20
                                          E21
                                          E22




 Nias
 Karakteristik diameter ukuran butiran sedimen sepanjang pantai Nias umumnya bervariasi antara 150 dan 600
 µm. Sebagai sebuah parameter yang dominan untuk magnitud dari transpor sejajar pantai, rentang diameter
 ukuran butiran sedimen lebih kurang ditentukan oleh rentang transpor yang diperkirakan ada pada lokasi
 output terpilih. Dalam sudut pandang variasi diameter butiran sedimen, transpor sejajar pantai (magnitud dan
 arah) dikalkulasi dengan formula Bijker dengan dua cara berbeda menggunakan parameter input sebagai
 berikut:




                                                                                                                    20
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Tabel 2-12: UNIBEST-CL+ yang diaplikasikan, parameter input pantai Nias

                  Parameter                        Run 1          Run 2

  D50 [µm]                                           150           600

  D90 [µm]                                           225           900

  Kekesatan dasar [m]                               0.05           0.05

  Kecepatan endap sedimen [m/s]                     0.017         0.077

  Kriteria kedalaman air Hsig/h [-]                 0.07           0.07

  Koefisien b, kedalaman air [-]                     2.0           2.0

  Kriteria air dangkal, Hsig/h [-]                   0.6           0.6

  Koefisien b, air dangkal [-]                       5.0           5.0


 Hasil Pemodelan
 Tabel 2-13 menunjukkan hasil dari komputasi UNIBEST-CL+ untuk setiap lokasi output yang terpilih di sekitar
 Nias.




   C
 Tabel di atas memberikan parameter setiap lokasi sebagai berikut:
    1. Nomor lokasi (ni 01 sampai ni12)
    2. Orientasi garis pantai dengan derajat ke arah Utara
    3. orientasi keseimbangan garis pantai dengan derajat ke arah Utara
    4. Perbedaan antara orientasi garis pantai dan orientasi keseimbangan dalam derajat
    5. Rerata angka total transpor sedimen tahunan [* 1000 m3/tahun].

 Angka transpor garis pantai dan arahnya ditunjukkan sebagai vektor dalam gambar ini. Nilai yang positif untuk
 angka transpor sedimen yang dikomputasi mengindikasikan transpor searah jarum jam menuju orientasi garis
 pantai.
SD
 Pembahasan hasil
 Pada umumnya, order magnitud yang diperoleh dan arah rerata tahunan transpor sedimen di pantai Nias
 diperkirakan terjadi. Dengan transpor terbatas di bagian pantai Utara dan Timur dan transpor yang lebih besar
 di pantai Selatan dan Barat. Angka transpor rerata tahunan yang diestimasi sangat berhubungan dengan arah
 dominan dari energi gelombang datang (SW swell) dan orientasi lokal dari pantai.

 Tidak ada tersedia data kalibrasi untuk taksiran transpor sedimen sekarang ini. Transpor total yang ditampilkan
 haruslah diinterpretasikan sebagai hasil indikatif non-kalibrasi.




                                                                                                                    21
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Tabel 2-13: Transpor sedimen sejajar pantai rerata tahunan yang dikomputasi pada lokasi di sekitar Nias




   C
SD
                                                                                                                    22
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 2.3.6 Kesimpulan dan rekomendasi
 Tidak ada data kalibrasi ditemukan untuk komputasi transpor sedimen pada taksiran laporan ini. Transpor total
 yang ditampilkan diinterpretasikan sebagai hasil indikatif non kalibrasi. Hal ini mengimplikasikan bahwa sebuah
 ketidaksamaan margin yang signifikan harus diaplikasikan (angka transpor sedimen yang mungkin adalah suatu
 faktor yang bisa saja 3 kali lebih tinggi atau lebih rendah dari yang ditampilkan). Sebagai tambahan, arah
 transpor total harus diinterpretasikan dengan hati-hati pada lokasi dimana perbedaan antara orientasi garis
 pantai dan orientasi keseimbangan yang dikomputasi adalah hanya beberapa derajat saja (katakanlah secara
 kasar sekitar 5° atau kurang dari itu).

 Pemodelan transpor sedimen dapat dipakai jika data berikut tersedia:

    1.    estimasi dari transpor total sejajar pantai diambil dari angka akumulasi pasir pada sisi up drift dari
          struktur yang besar (sebagai contoh berdasarkan analisa dari foto udara atau gambar satelit yang
          diambil pada tahun yang berbeda);
    2.    penanganan gelombang jangka panjang dan angin (contohnya dari arah gelombang kembali) untuk
          mengkalibrasi rata-rata iklim gelombang tahunan;
    3.    rincian data batrimetrik (dekat pantai dan lepas pantai);
    4.    rincian data tentang karakteristik sedimen dekat pantai.




   C
 Direkomendasikan untuk mengkalibrasi angka transpor sedimen dengan data yang relevan yang dikumpulkan
 pada kajian kekinian untuk mengkonfirmasi ketersediaan angka transpor dan mengurangi kemungkinan
 ketidaksamaan pada hasil yang ada.

 Pada umumnya, perolehan order dari magnitude dan arah transpor sedimen rerata tahunan di pantai Aceh dan
 Nias diperkirakan akan terjadi. Hanya pada bagian pantai yang kecil (contohnya di dekat kota Sigli dan
 Meulaboh) transpor sedimen rerata tahunan berbeda dari yang diperkirakan.


 2.4 CLOSURE DEPTH
 Fitur yang penting dalam proses morfologi di area pantai adalah closure depth (lihat Gambar 2-7). Parameter
SD
 ini juga penting untuk dalam hubungannya dengan proses perbaikan setelah tsunami dan ada dijelaskan secara
 singkat disini, termasuk estimasi untuk pantai Aceh & Nias berdasarkan taksiran dari karakteristik pantai dan
 hasil pepemodelanan transpor sedimen.

 Gambar 2-7: Ilustrasi closure depth dan profil melintang aktif




                                                                                                                    23
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Closure depth didefinisikan sebagai kedalaman dimana tidak ada transpor sejajar pantai dan melintang pantai
 yang signifikan tampil karena proses transpor pantai. Dengan demikian maka closure depth dapat didefinisikan
 sebagai kedalaman pada batas lepas pantai dari zona litoral. Nilai dari closure depth bervariasi selama periode
 observasi, pada kondisi gelombang ekstrim dengan periode ulang 100 tahun maka tentunya transpor sedimen
 bertempat di zona yang lebih lebar daripada kondisi gelombang dengan periode ulang 1 tahun.

 Untuk Aceh & Nias, kondisi gelombang bervariasi di sepanjang area pantai namun secara keseluruhan lebih
 ringan dan closure depths diharap lebih kecil. Untuk referensi, closure depths di Belanda sekitar MSL – 8 m.
 Dari observasi peta untuk area studi kasus di pantai Timur Aceh, diobservasi bahwa garis kedalaman sekitar –3
 m to –4 m (referensi dari LLW) secara susah bergerak melalui periode yang lama, mengindikasikan bahwa tidak
 ada transpor sedimen terjadi pada dan diluar kedalaman ini. Hal ini dikonfirmasi oleh pemodelan transfer
 sedimen pantai, hasil mengindikasikan closure depths di daerah pantai Barat Aceh setiap tahunnya sekitar MSL
 –4 m dan closure depths di daerah pantai Banda Aceh dan pantai Timur Aceh setiap tahunnya sekitar–3 m. Pada
 periode yang lebih panjang tampang melintang aktif akan melebar dan memanjang hingga MSL –5 m untuk
 pantai Barat Aceh dan –4 m untuk pantai Banda Aceh dan pantai Timur Aceh.




   C
SD
                                                                                                                    24
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




   3 EFEK TSUNAMI DAN PENURUNAN TANAH
 3.1 PENDAHULUAN
 Daerah pantai Aceh bagian Barat dan Utara (Banda Aceh) merupakan area yang terkena tsunami cukup parah.
 Pantai Timur kurang terekspos, terutama bagian bentang utara dari Lhokseumawe. Pantai yang diobservasi
 telah mengalami perubahan seperti kemunduran garis pantai dan penurunan muka tanah setelah terjadinya
 tsunami pada Desember 2004 dan hal ini dapat dijelaskan dengan dua fenomena:

    1.    Penurunan muka tanah di daerah Aceh karena gempa, menjadikan penurunan muka tanah secara
          keseluruhan terhadap permukaan laut.
    2.    Efek tanah yang mudah longsor karena gelombang tsunami yang membanjiri beberapa bagian dari
          pantai;




   C
 Sebuah skema dari proses keduanya ditampilkan pada Gambar 3-1. Kedua fenomena di atas terjadi secara
 simultan (lebih atau kurang) dan kurangnya penghitungan data yang reliabel menyulitkan analisa. Efek
 keduanya akan didiskusikan secara terpisah pada bagian ini.

 Gambar 3-1: Efek langsung tsunami dan gempa terhadap sistem pantai
SD
 Pada Bab ini, pertama kali diberikan deskripsi umum tentang dampak tsunami pada zona pantai Aceh dan Nias.
 Pada bagian berikutnya, diidentifikasikan dan dideskripsikan secara rinci proses yang terlibat dalam dampak
 ini.


                                                                                                                    25
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 3.2 PERUBAHAN PANTAI KARENA PENURUNAN TANAH
 Karena penurunan tanah disebabkan oleh gempa, maka profil pantai dan daratan telah menjadi rendah
 terhadap permukaan laut secara tiba-tiba (lihat Gambar 3-1). Penurunan profil pantai ini mengakibatkan
 kemunduran garis pantai secara tiba-tiba dan karena itu hilanglah lahan tanah yang ada.

 Lebih jauh lagi, efek langsung dari penurunan daratan adalah terjadinya banjir pada area yang rendah saat air
 laut pasang atau pada kondisi badai. Banjir yang terjadi akibat erosi yang disebabkan oleh tsunami di pantai
 dideskripsikan pada Bagian 3.3. Pada prinsipnya, sangat sulit untuk membedakan kontribusi dari kedua efek di
 atas. Penurunan daratan dalam jumlah yang besar, kemiringan yang landai dan erosi beach barriers, maka area
 yang besar akan mengekspos banjir regular (atau lebih) setelah terjadinya tsunami.

 Gambar 3-2: Peningkatan Frekwensi banjir setelah tsunami karena turunnya tanah di Meulaboh (Mei 2006)




   C
 Sebagai tambahan terhadap efek langsung yang dideskripsikan di atas, untuk jangka panjang, profil pantai
 yang aktif akan merespon perubahan posisi vertikal sesuai dengan permukaan air. Penurunan daratan secara
SD
 tiba-tiba dapat dibandingkan dengan kenaikan permukaan relatif air laut. Efek jangka panjang diprediksikan
 menjadi potensial untuk kemunduran garis pantai di masa yang akan datang, dan akan didiskusikan pada Bab 4
 (proses pantai jangka panjang setelah tsunami didiskusikan lebih jauh lagi).

 Kwantitas penurunan daratan pada gempa Desember 2004
 Kuantitas yang tepat dari penurunan daratan tidaklah diketahui pada saat penulisan buku ini (status: Februari
 2007) dan tidak diperkirakan ada di masa yang akan datang. Namun, beberapa data dan kajian yang indikatif
 tentang penurunan daratan di Aceh & Nias pada Desember 2004 dan gempa pada Maret 2005 (untuk Nias, lihat
 Gambar 3-3), menghasilkan estimasi sebagai berikut:

    −     Nias, Pantai Timur: efeknya dapat diabaikan (berada pada garis sumbu);
    −     Nias, Pantai Barat: kenaikan daratan yang signifikan 1-2 m;
    −     Pantai Timur Aceh: kenaikan daratan yang dapat diabaikan atau tidak ada efek (sangat jauh);
    −     Pantai Banda Aceh: penurunan daratan berkisar antara 0.1 hingga 0.3 m;
    −     Pantai Barat Aceh: penurunan daratan berkisar antara 0.2 hingga 0. 5 m.

 Pada dua panel di bawah dari Gambar 3-3, juga merupakan estimasi garis sumbu (pivot line) yang
 diindikasikan.

 Angka penurunan daratan 1 hingga 2 meter untuk Aceh telah disebutkan pada laporan dan kajian yang
 berbeda, namun hanya zona pantai yang dekat dengan garis pantai (berdasarkan survey, gambar di sekitar
 garis pantai, dll). Selama penurunan tanah diobservasi sebagai penurunan keseluruhan kulit bumi, maka dapat
 dipercaya bahwa dalam estimasi ini juga dimasukkan penurunan daratan karena proses lainnya seperti erosi
 pantai dan tanah yang mencair.




                                                                                                                    26
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Gambar 3-3: Estimasi tanah naik dan turunnya muka tanah untuk Aceh dan Nias yang disebabkan gempa
 pada Desember 2004 berdasarkan kajian yang berbeda:
 -Panel atas:             Indikasi kuantitatif berdasarkan data observasi GPS (sumber: Meilano, [Ref.10])
 -Panel bawah kiri:       Indikasi kualitatif berdasarkan gambar satelit SAR, pada Desember 2004 dan gempa
                          Maret 2005 (sumber: Tobita, [Ref.11])
 -Panel bawah kanan:      Indikasi kuantitatif berdasarkan gambar satelit + pengukuran lapangan di Simeulue
                          (sumber: Meltzner, [Ref.12])




   C
SD
                                                                                                                    27
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 3.3 PERUBAHAN PANTAI KARENA EROSI TSUNAMI
 Deskripsi konseptual
 Untuk morfologi pantai, efek langsung gelombang tsunami adalah redistribusi pasir. Pasir terkikis dari pantai
 dan laut, menjadikan kemunduran garis pantai dan menurunkan area pantai (lihat Gambar 3-4). Kemudian
 pasir tersebut tersimpan di daratan atau di lepas pantai.

 Gambar 3-4: Dampak erosi pantai setelah tsunami, Kec. Lhoong di pantai Barat Aceh




   C
 Proses terjadinya erosi diilustrasikan dalam Gambar 3-5, juga mengindikasikan hilangnya pasir dari profil
 melintang aktif karena tsunami.
SD
 Gambar 3-5: Erosi dan deposisi selama terjadinya gelombang tsunami




 Transpor pasir oleh gelombang tsunami berhubungan langsung dengan pergerakan air. Selama terjadi tsunami,
 naiknya permukaan air maka erosi diperkirakan terjadi di pantai dan muka atas pantai. Bagian dari pasir yang


                                                                                                                    28
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 terkikis diperkirakan akan tersimpan di daratan. Dengan kemunduran permukaan air, maka diperkirakan akan
 terjadi erosi di atas dan di tengah pantai, dan pasir akan tersimpan/terbawa jauh dari pantai menuju daratan.

 Kontur permukaan daratan telah terbukti relevan untuk pola perambatan gelombang hingga konsekwensi
 morfologis. Daratan yang curam akan menyebabkan pemantulan, sementara pada daratan pantai yang lebih
 landai, gelombang tsunami akan menghambur secara berangsur-angsur. Perbedaan tersebut dijelaskan lebih
 jauh di bawah ini.

 Daratan pantai yang luas
 Pada daratan pantai yang luas –seperti area Banda Aceh– energi gelombang akan menghambur secara perlahan-
 lahan (friksi, rusak, patah), yang dihasilkan dari deposisi sebagian sedimen yang besar di daratan. Dalam kasus
 tersebut, volume pasir akan ditranspor dari muka pantai dan area pantai menuju daratan. Pasir yang tersimpan
 di daratan terbawa oleh zona transpor sedimen aktif dan tidak akan tersedia untuk perbaikan pantai setelah
 tsunami. Dengan kata lain, deposit pasir di daratan diperkirakan dapat mengakibatkan kehilangan pasir secara
 permanen dari sistem pantai. Hal ini dideskripsikan lebih jauh dan lebih rinci pada Subbab 4.2, tentang proses
 yang diperhitungkan setelah tsunami.

 Daratan pantai yang sempit
 Pada beberapa lokasi, gelombang tsunami memantul pada pegunungan yang berlokasi dekat dengan garis




   C
 pantai. Pada kasus tersebut di atas, deposit pasir diperkirakan lebih kecil, selama pasir cenderung terhenti
 pada gerakan turbulansi gelombang yang masuk dan memantul. Dalam kasus ini maka diperkirakan bahwa
 sebagian besar pasir akan tersimpan pada muka pantai dan dimungkinkan juga ada jauh dilepas pantai yang
 dalam. Deposit pasir di atas closure depth akan menyisakan profil melintang yang aktif dan bisa berkontribusi
 untuk perbaikan pantai di masa beberapa dekade setelah tsunami. Deposit pasir di bawah closure depth (diluar
 profil melintang aktif) harus dianggap sebagai pengurangan yang permanen. Hal ini dideskripsikan lebih jauh
 dan lebih rinci pada Subbab 4.2, tentang proses perbaikan yang diharapkan setelah tsunami.

 Fenomena di atas dipersulit dengan kenyataan bahwa tidak hanya satu gelombang tsunami yang mencapai
 pantai, tapi banyak sekali. Faktor lain yang mempersulit adalah bahwa proses aktual adalah bersifat tiga
 dimensi, bukan dua dimensi (deskripsi di atas adalah 2D).

 Perlu dicatat bahwa tujuan utama dari kajian ini bukanlah untuk menstimulasi efek dari tsunami. Tujuan
SD
 utama dari kajian ini adalah mencoba untuk mendapatkan pengetahuan tentang lokasi yang terdapat deposisi
 pasir setelah tsunami. Pada tahap ini pertimbangan untuk menyederhanakan indikasi di atas yang diharapkan
 bahwa pada daratan pantai yang luas (beberapa kilometer) beberapa volume pasir akan tersimpan di daratan.

 Pada daratan pantai yang sempit (hanya beberapa meter saja) yang dilatarbelakangi oleh pegunungan maka
 deposisi daratan sebagian besar berada di lepas pantai. Lebih jauh lagi, kedalaman yang pasti dari deposisi
 merupakan hal yang penting untuk memprediksikan perbaikan alami di pantai. Tidak ada data survey yang
 pasti atau penanganan yang mengindikasikan kedalaman deposisi pada lokasi mana saja.

 Bukti dari konsep di atas
 Informasi di atas mendeskripsikan deposisi di pantai yang dipresentasikan dalam Meilianda dkk [Ref.2].
 Meilianda dkk melaporkan bahwa pada daerah di kota Banda Aceh (kira-kira 4 km dari garis pantai utara)
 deposisi lumpur dan pasir pada area terbuka setelah tsunami setebal 0.3 m. Lebih jauh lagi, Meilianda dkk
 mengatakan bahwa daerah pantai Timur Aceh tidak menampakkan deposit sedimen yang signifikan.

 Lebih jauh lagi, USGS mengukur deposit sedimen di sepanjang pantai Lhoknga. USGS menemukan deposit
 sebanyak 0.1 m sejauh 400 m di pantai.

 Selama batimetri dan profil pantai sebelum tsunami tidak tersedia, maka tidak ada perbandingan sebelum dan
 sesudah tsunami tentang profil melintang lepas pantai yang dapat dibuat. Dengan kata lain, tidak ada data
 yang tersedia yang akan mendukung atau memberikan sebuah order magnitud dari deposit pasir pada pantai
 atau lepas pantai tentang pasir yang hilang melebihi closure depth. Jika data sebelum tsunami tersedia, maka
 direkomendasikan untuk membuat suatu perbandingan dan mengidentifikasikan lokasi deposisi yang mungkin
 dari pasir lepas pantai (deposisi dalam atau diluar profil melintang?). Keterangan yang didapat dari penduduk
 lokal mengatakan bahwa telah terjadi pendangkalan lepas pantai dan sandbar baru di depan pantai, namun
 data yang tepat dan akurat tidak tersedia.
                                                                                                                    29
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




 Dalam Meilanda dkk [Ref.14] disimpulkan bahwa sekitar 6 bulan setelah tsunami, pantai Lampuuk (Pantai
 Barat) telah pulih sepenuhnya, sementara pantai Ulee Lheue (Pantai Utara), menunjukkan sedikit erosi yang
 berkelanjutan pada periode yang sama. Dalam [Ref. 14] perbedaan pada perilaku ini dihubungkan dengan
 perbedaan kemiringan profil pantai secara keseluruhan, dimana didaerah Lampuuk lebih landai daripada di
 daerah Ulee Lheue. Sebagai hasilnya, deposit pasir lepas pantai oleh tsunami tinggal di zona aktif Lampu Uk,
 sementara pasir in telah dideposit diluar closure depth dekat Ulee Lheue (hal tersebut tidak berkontribusi
 terhadap perbaikan pantai, seperti yan diilustrasikan dalam Gambar 3-5). Lebih jauh lagi, di Ulee Lheue,
 banyak pasir yang terbawa ke daratan dan hilang dari sistem pantai.

 Pemodelan numerikal yang indikatif (dengan Delft3D) dibuat oleh USGS, dan menunjukkan beberapa deposisi
 pasir seperti deposisi yang diperlukan (formasi bar) pada kedalaman air yang lebih tinggi dan mendekati kontur
 kedalaman MSL -10 m. Karena pertimbangan closure depths yang dangkal diindikasikan dan berada pada –5 m
 untuk jangka panjang, maka sebagian besar deposisi ini akan menghilang dari profil melintang aktif dan tidak
 akan berkontribusi terhadap perbaikan garis pantai. Perlu diingat bahwa sebuah pemodelan numerikal yang
 indikatif untuk satu tipe profil melintang akan sangat berbeda untuk bentuk profil lainnya dan untuk pola
 sedimenasi.

 Gambar 3-6: Hasil dari indikasi pemodelan morfologi numerikal, mengindikasikan deposisi di darat dan




   C
 deposisi sandbar lepas pantai sekitar MSL –10 m (Sumber: USGS)
SD
 Jika data USGS di atas digunakan untuk membuat estimasi order magnitud dari deposit potensial di daratan,
 maka ditemukan sekitar 40 m3/m pasir pantai yang hilang (katakanlah sebuah order dari magnitud berjumlah
 sepuluh dari m3 per m panjang pantai pasir) jika diasumsikan bahwa bagian utama dari pasir ini telah terbawa
 dari zona aktif maka hal ini menjadi sebuah estimasi order magnitud dari hilangnya pasir dari zona aktif karena
 deposisi di daratan. Kehilangan secara permanen dari puluhan m3 per m panjang pantai mengimplikasikan
 bahwa telah terjadi kemunduran garis pantai yang permanen beberapa meter (berhubungan dengan keadaan
 sebelum tsunami).

 Sebagai kesimpulan, tsunami telah mengakibatkan hilangnya pasir secara signifikan dari sistem pantai menuju
 ke daratan atau lepas pantai (deposit pasir yang longsor lebih dalam daripada closure depth). Tidak ada data
 kuantitatif yang tersedia untuk membuat sebuah estimasi tentang hilangnya pasir lepas pantai yang permanen
 lebih dari closure depth.

 Catatan: Pada bagian ini hanya dideskripsikan efek dari erosi melintang pantai karena kekurangan data
 batimetri dan kontur permukaan tanah, juga efek sejajar pantai yang terjadi ketika tsunami. Efek sejajar
 pantai dan perubahan yang mungkin terjadi di orientasi garis pantai sangatlah bervariasi di setiap lokasi. Lepas
 dari itu semua, efek dari pantai melintang diharap menjadi dominan daripada efek-efek yang ada.




                                                                                                                    30
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




   4 PROSES PANTAI SETELAH TSUNAMI
 4.1 PENDAHULUAN
 Gempa bumi dan tsunami telah menjadi sebuah gangguan utama terhadap keseimbangan normal pantai
 sepanjang pantai Aceh & Nias. Setelah terjadinya gangguan tersebut, proses perbaikan alami akan dimulai
 untuk menciptakan kembali keseimbangan yang baru. Perbaikan lebar pantai dan formasi bukit pasir baru
 (lihat Gambar 4-1) telah diobservasi di sekitar Aceh dan observasi ini dimulai beberapa bulan setelah tsunami.
 Sebagai solusi untuk pekerjaan perlindungan pantai maka perlu diketahui jenis perkembangan/pembangunan
 apa yang bisa dilakukan (misalnya garis pantai diharapkan dapat bergerak menuju atau menjauh dari laut) di
 masa yang akan datang. Dalam Bab ini, dideskripsikan mekanisme perbaikan jangka panjang dan jangka
 pendek. Hal ini menghasilkan estimasi untuk pembangunan pantai di masa yang akan datang.

 Gambar 4-1: Formasi bukit pasir baru setelah tsunami di Kec. Lhoong Pantai Barat Aceh (April 2006)




   C
SD
 4.2 PROSES PANTAI MELINTANG SETELAH TSUNAMI

 4.2.1 Jangka pendek: distribusi kembali tampang melintang pantai
 Deskripsi konseptual
 Perbaikan pantai yang saat ini diobservasi dan bukit pasir kecil adalah hasil dari proses perbaikan jangka
 pendek (1-3 tahun) pada tampang melintang. Pasir yang dideposit menuju lepas pantai oleh tsunami dan tetap
 berada dalam tampang melintang aktif (lihat Gambar 3-5) ditranspor kembali ke area pantai dan pantai oleh
 gelombang datang yang normal. Hal ini merupakan proses perbaikan yang dilakukan setelah terjadinya badai;
 setelah terjadinya badai, keadaan akan kembali menjadi normal dengan pendistribusian kembali pasir di
 tampang melintang. Hal inilah yang menjadi sebab mengapa pantai biasanya menjadi lebih sempit saat terjadi
 badai (badai pada tampang melintang) dan menjadi luas pada saat normal/tanpa badai (kondisi tampang
 melintang saat tidak ada badai), seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2-7.

 Bagian garis pantai Aceh terdiri dari daratan pantai rendah yang dilindungi oleh barrier beaches yang rendah
 juga. Mekanisme perkembangan barrier beaches ini dideskripsikan dalam Kotak 4-1.


                                                                                                                    31
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Kotak 4-1: Mekanisme tahanan pasir alamiah (beach barrier)

  Mekanisme terbentuknya beach barrier diilustrasikan pada gambar di bawah. Setelah terjadinya deposisi
  sejumlah pasir, sapuan gelombang menghasilkan deposisi pasir ke daratan dan pergerakan ke daratan dari
  barrier. Dalam proses ini, barrier menjadi lebih tinggi. Beberapa barriers yang diobservasi adalah rendah
  (relatif terhadap Elevasi Muka Air) dan akan menjadi banjir jika keadaan air tinggi. dan selama keadaan
  tertentu akan bergeser jauh (jika tidak ada suplai pasir yang signifikan pada bagian yang dipertimbangkan)
  dan menjadi lebih besar. Sebagai tambahan, ukuran barrier bisa berubah-ubah sesuai dengan musim
  (bervariasi dengan kondisi gelombang)

  Barrier dapat memberikan perlindungan yang alami terhadap pantai dan dapat melawan air pasang dan
  badai. Ini juga bergantung pada kondisi lokal dan tinggi barrier alami.




   C
SD
 Seperti yang diindikasikan sebelumnya, hanya sedimen yang berada di tampang melintang aktif dapat
 berkontribusi untuk perbaikan pantai karena distribusi kembali sedimen terjadi pada tampang melintang.
 Sedimen akan hilang dari tampang melintang aktif setelah tsunami dengan dua cara:

          Deposisi di luar closure depth
     Pasir yang telah dideposisi diluar closure depth tidak dapat diambil lagi oleh gelombang yang datang;
     partikel pasir berada pada kedalaman yang tidak dapat dicapai oleh gelombang.

          Deposisi di daratan

 Jumlah perbaikan dapat estimasi secara teoritis ketika jumlah erosi dan deposit tampang melintang diketahui.
 Dalam hal ini, tampang melintang sebelum dan sesudah tsunami harus dapat dibandingkan. Selama batimetri
 yang akurat tidak tersedia, maka estimasi yang tepat untuk perbaikan yang diharapkan tidak dapat dilakukan.

 Dari pemodelan transpor yang dilaksanakan, zona aktif yang normal menjadi lebih sempit untuk pantai Aceh.
 Kisaran dangkalnya closure depths adalah MSL –3 m di pantai timur dan dipantai utara MSL –4 m (lihat Bagian
 2.4). Diperkirakan, gelombang tsunami telah mentranspor bagian penting dari sedimen lepas pantai yang
 mengalami erosi di luar closure depths, menyebabkan hilangnya sedimen dalam jumlah yang signifikan dari
 tampang aktif.

 Perbaikan pantai dan bukit pasir telah diobservasi dibanyak pantai sepanjang pantai Barat dan Utara Aceh
 (lihat bagian selanjutnya ‘bukti dari konsep di atas’ untuk contoh). Dari sebuah taksiran yang rinci tentang
 perkembangan pantai setelah tsunami hingga sekarang- berdasarkan foto udara, hasil kunjungan lapangan dan
 pemodelan morfologi dapat disimpulkan bahwa sebagian besar perbaikan jangka pendek diprediksikan telah
 berlangsung pada saat penulisan buku ini (Status: Desember 2008, sekitar empat tahun setelah tsunami).
 Proses perbaikan berjalan lamban. Namun, sedimenasi pantai dan bukit pasir karena perbaikan tampang

                                                                                                                    32
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 melintang tidak diprediksikan di masa yang akan datang. Hal ini juga sesuai dengan waktu yang diindikasikan
 untuk proses jangka pendek ini (hanya beberapa tahun). Ini adalah kesimpulan secara keseluruhan, nantinya
 mungkin ada lokasi yang spesifik dimana kondisi yang ada menginduksi perbaikan pantai melintang dan proses
 tersebut sangat aktif setiap waktunya.

 Bukti dari konsep di atas
 Perbaikan pantai dan bukit pasir telah diobservasi pada sebagian besar lokasi di sepanjang pantai Utara dan
 Barat Aceh. Perbaikan pantai dan bukit pasir telah nampak sepanjang perjalanan lapangan dan data didapat
 dari informasi dari penduduk dan berbagai studi. Selama dilakukan inspeksi terhadap pantai di beberapa lokasi
 telah juga dilakukan observasi terhadap pantai barrier yang dibangun, memberikan beberapa derajat
 perlindungan terhadap daratan pantai dalam menghadapi banjir.

 Berdasarkan foto udara di beberapa tempat berbeda setelah tsunami, didapat bahwa perbaikan pantai dan
 bukit pasir telah dilakukan pada banyak tempat, terutama di daerah pantai Barat Aceh. Sebuah contoh
 diberikan dalam Gambar 4-2.

 Gambar 4-2: Perbaikan pantai Meulaboh, pantai Barat Aceh

             Setelah tsunami:                                       tahun setelah tsunami:
                                                                 2 2 years after tsunami:
                      after tsun
            •directlytidak ada lagi




   C         pantai no beach
             ami: •
               •jagged coastline
            •garis pantai bergerigi
                                                                 • perbaikan lebar pantai
                                                                  •recovered beach width
                                                                   pelurusan garis pantai
                                                                 • •straightened coastline


                                                                              Beach width
                                                                                > 100m
SD
 Meilianda dkk [Ref.2] memberitakan proses perbaikan pantai di pantai Banda Aceh beberapa bulan setelah
 tsunami (Mei-Juni 2005): “keseluruhan pantai telah dibangun dengan permukaan pantai yang terlihat butiran
 dimana sebagian puing dan reruntuhan bangunan dan pohon setengah tertanam diantaranya”. Dapat
 disimpulkan bahwa ‘lima bulan setelah tsunami, pantai telah dikerjakan dan material asli pantai telah
 dikembalikan lagi ke tempatnya semula. Pantai Barat, sebelumnya, memiliki material yang lebih kasar
 daripada di daerah pantai Utara dan Timur yang memiliki pasir berwarna coklat muda. Pantai Utara memiliki
 pasir berwarna abu-abu gelap, sementara pantai Timur memiliki pasir abu-abu muda.”

 Dalam Meilianda dkk [Ref.14] berdasarkan analisa dari foto satelit dapat disimpulkan bahwa 6 bulan setelah
 tsunami, pantai Lampuuk (pantai Barat) telah mengalami perbaikan yang bagus. Oleh karena itu dapat
 diestimasi bahwa lebih dari 50% pasir yang terbawa ketika tsunami telah kembali ke tempatnya semula. Hal ini
 berbeda dengan pantai Ulee Lheue (pantai Utara), dimana beberapa erosi masih terlihat selama jangka waktu
 6 bulan setelah tsunami. Dalam [Ref. 14] perbedaan dalam perilaku dihubungkan dengan perbedaan pada
 keseluruhan kemiringan profil pantai, dimana kondisi di Lampuuk lebih landai daripada di Ulee Lheue.
 Akibatnya, pasir lepas pantai yang terdeposit oleh tsunami, tertinggal pada zona aktif Lampuuk, sementara
 pasir di Ulee Lheue terdeposit di luar closure depth (dengan demikian hal ini tidak berkontribusi terhadap
 perbaikan pantai, seperti yang diilustrasikan di Gambar 3-5). Lebih jauh lagi, dilaporkan bahwa banyak pasir di
 Ulee Lheue tersimpan di daratan dan hilang dari sistem pantai (mekanismenya didiskusikan dalam Subbab 3.3).



                                                                                                                    33
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 USGS (situs internet) memberitakan tentang perbaikan pantai sepanjang pantai Utara dan Barat. Lebih jauh
 lagi, survey air segar dilakukan oleh SKM dalam kerangka kerja Proyek Pendukung Darurat Gempa dan Tsunami
 (ETESP) yang didapat dari foto udara (dari helikopter) di keseluruhan pantai Barat ACeh pada bulan Agustus
 2006. Perbedaan dari gambar-gambar ini juga mengindikasikan perbaikan garis pantai yang signifikan di
 sepanjang pantai Barat Aceh.


 4.2.2 Jangka panjang: penurunan muka tanah
 Deskripsi konseptual
 Untuk profil pantai, efek dari penurunan muka tanah secara tiba-tiba sama dengan efek kenaikan permukaan
 air laut. Oleh karenanya, untuk mengestimasi efek dari penurunan muka tanah tersebut, diaplikasikan konsep
 Bruun untuk seperti yang telah dilakukan untuk mengestimasi efek dari kenaikan permukaan air laut.
 Berdasarkan konsep Bruun, bagian atas dari profil pantai, -di atas closure depth – sedikit bergeser vertikal
 melebihi jarak yang sama seperti permukaan air. Namun selama pertukaran melebihi closure depth sangat
 kecil untuk diabaikan, maka ini semua hanya dapat dicapai oleh beberapa distribusi kembali pasir di atas
 kedalaman ini, di zona aktif, seperti yang diilustrasikan dalam Gambar 4-3. Akibatnya adalah terjadi
 pemunduran garis pantai. Karena penurunan muka tanah telah terjadi, maka penyesuaian profil ini akan
 berlangsung lamban, bisa tahunan atau bahkan dekade. Hal ini mengimplikasikan bahwa pemunduran garis
 pantai karena penurunan muka tanah akan tetap bisa terjadi di masa yang akan datang.




   C
 Gambar 4-3: Kemunduran pantai jangka panjang karena penurunan daratan
SD
 Dengan aturan Bruun (lihat Gambar 4-4) kemunduran garis pantai yang permanen relatif terhadap garis pantai
 sebelum gempa dan dapat diestimasi (potensial, pemindahan garis pantai yang aktual bergantung pada efek
 lainnya yang dideskripsikan dalam laporan ini). Bergantung pada penurunan aktual yang terjadi ketika gempa,
 maka estimasi berikut dibuat (dengan X = 700 hingga 1000 m dan Z = 10 hingga 15 m:

    −     Penurunan muka tanah 0.1 m:            5 hingga 15 m kemunduran garis pantai di masa yang akan datang,
    −     Penurunan muka tanah 0.5 m:            25 hingga 75 m kemunduran garis pantai di masa yang akan
          datang,
    −     Penurunan muka tanah 1 m:              50 hingga 150 m kemunduran garis pantai di masa yang akan
          datang.

 Pergerakan tanah vertikal di masa yang akan datang relatif terhadap permukaan laut dan akan mempengaruhi
 perkembangan ini (tidak ada prediksi yang tersedia terhadap gerakan ini)

 Pada Subbab 3.2, dibuat estimasi penurunan muka tanah di sepanjang pantai Aceh setelah terjadinya gempa
 pada bulan Desember 2004. Hal ini menggiring pada estimasi kemunduran garis pantai berikut:

                                                                                                                    34
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




    1.    Pantai Timur Aceh: Tidak ada kemunduran garis pantai yang potensial karena penurunan muka tanah;
    2.    Pantai Banda Aceh: Terjadi kemunduran garis pantai yang potensial karena penurunan muka tanah
          sebanyak 10 hingga 40 m;
    3.    Pantai Barat Aceh: Terjadi kemunduran gari spantai yang potensial karena penurunan muka tanah
          sebanyak 20 hingga 70 m;

 Bukti untuk konsep di atas
 Konsep di atas merupakan proses jangka panjang dan tidak ada bukti yang dapat diberikan pada saat ini.

 Gambar 4-4: Ilustrasi aturan Bruun untuk efek kenaikan permukaan laut pada profil pantai




   C
SD
 4.3 PROSES SEPANJANG PANTAI SETELAH TSUNAMI
 Segera setelah tsunami, garis pantai menjadi menekuk dan akibatnya garis pantai menjadi bergerigi. Proses
 distribusi kembali sepanjang pantai dalam waktu jangka panjang telah memugar garis lurus pantai dalam
 waktu beberapa bulan setelah tsunami (Meilianda dkk, [Ref.2]), lihat juga Gambar 4-2.

 Pada situasi sebelum tsunami, transpor total sepanjang pantai terjadi di sepanjang garis pantai Aceh. Pada
 beberapa lokasi, sebelum tsunami, dilaporkan ada kemunduran garis pantai karena gradien transpor sepanjang
 pantai. Hal ini merupakan masalah utama untuk pantai di Aceh. Pantai Barat Aceh bersifat stabil saat

                                                                                                                    35
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 dilakukan observasi, hal ini diperkuat oleh hasil pemodelan transpor sedimen yang mengindikasikan bahwa
 pantai Barat sangat dekat dengan posisi keseimbangannya (hampir tegak lurus terhadap arah gelombang besar
 yang dominan).

 Setelah tsunami:
    1. Perubahan orientasi garis pantai akan menginduksi bertambahnya erosi dan atau sedimenasi di
          sepanjang garis pantai Aceh. Berdasarkan analisa indikatif dapat dikatakan bahwa sebagian besar area
          garis pantai setelah tsunami- lebih kurang- sama dengan garis pantai sebelum sebelum tsunami.
          Namun, beberapa efek -secara lokal- dapat diekspektasi dari proses ini.
    2. Pada beberapa lokasi, distribusi kembali pasir sepanjang pantai dapat terjadi pada masa yang akan
          datang berdasarkan rata-rata transpor sedimen sepanjang pantai seperti yang telah ada sebelum
          tsunami. Karena distribusi kembali pasir sepanjang pantai, titik lemah yang potensial dapat terjadi
          pada areal down drift dari setiap interupsi yang signifikan, seperti singkapan karang atau struktur
          pelabuhan. Ada akresi down drift yang potensial untuk setiap interupsi. Arah transpor total sepanjang
          pantai pada lokasi berbeda di sepanjang pantai terjadi sama dengan sebelum tsunami.


 4.4 SUPLAI SEDIMEN SUNGAI
 Beragam kondisi sungai yang bermuara ke laut di sepanjang pantai yang menjadi lokasi kajian. Sebagian besar




   C
 sungai tersebut terlihat pendek. Setiap suplai pasir menuju pantai dari sungai ini akan memberikan efek
 berguna terhadap perbaikan pantai.

 Data kuantitatif tentang suplai sedimen tidak tersedia disini. Sepanjang pantai barat, suplai sungai tidaklah
 menjadi faktor yang terlalu signifikan untuk morfologi pantai dalam skala besar (secara lokal, dekat dengan
 muara sungai akan berbeda). Sepanjang pantai Banda Aceh/Utara, suplai sedimen sungai akan menjadi faktor
 yang relevan untuk morfologi dalam skala besar. Sepanjang pantai Timur jumlah sungai sangat banyak, dan
 sungai-sungai tersebut terlihat membuat kontribusi yang positif untuk keseimbangan sedimen pada bagian ini.
 Namun tidak ada data pendukung yang tersedia di sini.


 4.5 RINGKASAN UNTUK PERKEMBANGAN YANG DIHARAPKAN
SD
 Kesimpulannya, berdasarkan kombinasi dari proses pengembangan pantai yang dideskripsikan di atas, maka
 pengembangan pantai Aceh dan Nias berikut diharapkan terjadi di masa yang akan datang:

    −     Pada banyak lokasi, garis pantai tidak dapat kembali seperti sebelum tsunami karena telah hilangnya
          sedimen dari profil melintang aktif. Akibatnya, pasir menghilang dan posisi garis pantai yang baru
          akan lebih ke daratan, berbeda seperti sebelum tsunami.
    −     Sebagian besar perbaikan garis pantai jangka pendek karena distribusi kembali sedimen pada profil
          melintang telah terjadi saat penulisan buku ini. Lebih jauh lagi, sedimenasi pantai diprediksikan tidak
          ada karena perbaikan melintang (status Desember 2008).
    −     Karena telah terjadi penurunan tanah ketika gempa tahun 2004, pada dekade ke depan, kemunduran
          garis pantai sebesar 10-70 m akan terjadi pada pantai Utara dan Barat Aceh. Sepanjang bentang
          pantai yang ada telah diperbaiki dengan pengaplikasian revetment (seperti pantai utara Banda Aceh)
          efek ini tidak akan kelihatan jelas.
    −     Pertambahan atau perubahan pola erosi/sedimenasi secara lokal karena struktur baru atau perubahan
          orientasi garis pantai setelah tsunami akan diobservasi di masa yang akan datang. Erosi yang potensial
          akan terjadi hanya di areal down drift (secara alami atau karena manusia).

 Funtuk setiap lokasi dimana pengukuran pantai diminta, maka dibuat sebuah estimasi untuk perkembangan
 garis pantai di masa yang akan datang, dan setiap efek di atas harus diperhitungkan. Pada perencanaan pantai
 dan perencanaan pengukuran pengamanan pantai, pemunduran potensial sebanyak beberapa meter harus
 diperhitungkan untuk pantai Barat dan Banda Aceh.

 Catatan: Pada saat ini, situasi pasir diperlukan untuk kegunaan konstruksi di daratan. Penambangan pasir di
 pantai dan sungai untuk tujuan tertentu harus dihindari karena akan memperlambat perbaikan pantai atau
 akan menyebabkan erosi.


                                                                                                                    36
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




   5 PENANGANAN PANTAI- BANJIR DAN EROSI
 5.1 PENDAHULUAN
 Untuk evaluasi penanganan, maka ada dua fenomena yang harus dibedakan, yaitu erosi pantai dan banjir. Pada
 laporan ini, erosi pantai berkenaan dengan kemunduran garis pantai karena terjadinya pemindahan pasir.
 Sebagai hasil dari pemindahan pasir ini, (menuju luar pantai dan lepas pantai) Garis Tinggi Air (secara lokal)
 bergerak menuju ke darat. Selama terjadi banjir, air bergerak ke darat tanpa membuat pantai longsor. Banjir
 berhubungan dengan permukaan air yang relatif terhadap permukaan daratan/pantai.

 Pantai Aceh terdiri dari area kemiringan (dalam jumlah yang besar) yang sangat landai yang terlindung oleh
 tahanan alamiah pantai yang sempit (narrow beach barriers), yang sensitif terhadap banjir. Perbaikan pantai
 dapat mencegah area dari terkena banjir pada kondisi normal. Selama permukaan air tinggi, air akan (secara
 lokal) mengalir pada barriers dan bagian yang terkena banjir di area pantai. Pada kasus tersebut, banjir akan




   C
 terjadi, tapi tidak manimbulkan erosi pantai yang signifikan.

 Erosi pantai jangka panjang pada beberapa lokasi dapat menciptakan banjir, contohnya, karena erosi, lebar
 pantai berkurang hingga akhirnya menerobos.

 Hal di atas mengilustrasikan bahwa erosi dan banjir pada beberapa kasus sangatlah berhubungan. Dalam
 taksiran morfologis ini, penanganan yang dilakukan akan fokus terhadap pencegahan erosi pantai. Pencegahan
 erosi akan memerlukan penanganan (tambahan) yang berbeda.

 Dalam Subbab 5.2, didiskusikan beberapa pertimbangan umum terhadap erosi pantai dan efek mitigasi
 penanganan. Dengan prinsip dasar yang disampaikan pada bagian tersebut maka akan dapat dipahami dengan
 lebih baik keuntungan dan kerugian dari penanganan yang ada.
SD
 Kemudian deskripsi konseptual dipresentasikan sebagai berikut:

    1.    tidak melakukan apapun, dengan menerapkan garis set-back (Bagian 5.3);
    2.    penanganan lunak (pasir dan vegetasi) (Bagian 5.4);
    3.    penanganan keras (batu dan beton) (Bagian 5.5).

 Keuntungan dan kerugian dari berbagai pilihan di atas didiskusikan menurut sudut pandang morfologis. Untuk
 pedoman desain dan desain struktur, referensi dibuat pada Laporan Pendukung Volume IV. Kriteria
 Perencanaan Bangunan Pantai (SDC, [Ref.8]).

 Karena beberapa ketidakpastian dalam perilaku sistem pantai maka sangat sulit untuk membuat prediksi yang
 reliabel tentang area tambahan dan erosi, dan rata-rata tambahan serta erosi. Sebagai hasilnya, maka akan
 timbul bahaya yang potensial dari penanganan yang ada yang dilakukan di area tambahan atau area erosi.
 Konsekuensinya dibicarakan dalam buku ini dan akan mempengaruhi pemilihan terhadap penanganan yang ada.

 Perlu dicatat bahwa keseluruhan penanganan yang dibicarakan dalam bab ini berhubungan dengan
 perlindungan di bawah kondisi normal dan melawan badai kecil, bukan untuk melawan badai besar atau
 tsunami.




                                                                                                                    37
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 5.2 PROSES EROSI DAN PENANGANAN YANG DAPAT DILAKUKAN

 5.2.1 Pendahuluan
 Berikut ini didiskusikan beberapa prinsip dasar erosi pantai. Prinsip dasar ini menjelaskan perbedaan antara
 erosi jangka panjang dan erosi jangka pendek dan mengapa interfensi manusia terhadap pantai sering
 menimbulkan erosi yang tidak inginkan.

 Untuk menunjukkan dengan jelas prinsip-prinsip utama, maka pertimbangan dibuat sederhana. Dalam praktek
 nantinya, situasi biasanya menjadi lebih kompleks daripada yang diperkirakan (seperti skema ilustrasi yang
 ada).


 5.2.2 Erosi jangka pendek
 Penyebab
 Berikut kami mendefinisikan erosi jangka pendek sebagai erosi yang nyata dan jelas dibuat berdasarkan skala
 yang dihitung dengan menggunakan waktu hingga hari. Jenis erosi ini disebabkan oleh badai. Selama terjadinya
 badai, dalam hitungan waktu dan hari, garis pantai dapat mundur sebanyak beberapa meter. Mekanisme utama




   C
 untuk kemunduran garis pantai ini diilustrasikan pada Error! Reference source not found.. Selama terjadi
 badai dengan gelombang yang tinggi (dan sering melebihi permukaan air) pasir terbawa dari pantai dan
 dideposit di tempat yang lebih rendah. Karena proses ini, pantai menjadi lebih sempit dan infrastruktur dapat
 rusak.

 Dalam banyak kasus, pasir yang terbawa akan tertinggal pada zona transpor aktif (katakanlah di atas closure
 depth) dimana pasir ini dapat ditranspor kembali ke pantai menuju pantai pada kondisi gelombang normal.
 Erosi jangka pendek ini sering memiliki karkater seperti fluktuasi lebar pantai. Perbaikan pantai setelah
 terjadinya badai berjalan lebih lamban daripada erosi ketika terjadi badai.

 Perlu dicatat bahwa selama terjadinya badai, efek transport sejajar pantai di tempat-tempat tertentu. Hal ini
 tidak didiskusikan dalam buku ini.
SD
 Gambar 5-1: Ilustrasi transport sedimen penampang melintang selama badai menyebabkan erosi pantai




 Solusi
 Dua jenis solusi disampaikan di bawah ini untuk mencegah terjadinya erosi jangka pendek:
 1. Penanganan/ Isian Pasir
 2. Seawall (seawall)

 Isian Pasir
 Kerusakan yang terjadi selama badai dapat dicegah atau dikurangi dengan melakukan pelebaran pantai
 (dengan cara isian pantai) seperti yang diilustrasikan dalam Gambar 5-12. Transpor lepas pantai dan deformasi


                                                                                                                    38
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 profil yang sama akan terjadi selama badai tetapi erosi pantai tidak akan mencapai infrastruktur dalam kasus
 ini.

 Dalam prakteknya, solusi di atas terkadang menjadi lebih kompleks daripada yang diindikasikan dalam Gambar
 5-12, proses sepanjang pantai memainkan peran penting jika isian pasir di tempatkan secara lokal. Untuk
 mencegah distribusi kembali aliran deras sepanjang pantai, isian lokal terkadang dikombinasikan dengan
 struktur (seperti groin) untuk (lebih atau kurang) menjaga pasir tetap berada di area terlindung (agar dapat
 menghindari pemeliharaan yang tinggi dan frekuentif). Setiap struktur dapat memperkenalkan yang lainnya –
 kemungkinan yang tidak diinginkan – efek, dan akan didiskusikan nantinya pada bagian ini.

 Gambar 5-2: Ilustrasi pelebaran pantai untuk mencegah kerusakan karena badai




   C
 Seawall
 Pilihan lainnya adalah dengan meletakkan revetment di profil pantai, seperti yang diilustrasikan dalam Gambar
 5-13. Dengan pilihan ini maka erosi pantai ke arah ke laut tetap akan terjadi, namun revetment akan
 menghentikan kemunduran puncak pantai sebelum erosi mencapai infrastruktur. Perlu diketahui bahwa
SD
 revetment bersifat stabil dan tidak dapat dirusak oleh erosi yang parah di depannya. Karena adanya
 revetment, maka perbaikan pantai di depan revetment akan berjalan lamban atau tidak berjalan sama sekali.

 Gambar 5-3: Ilustrasi revetment untuk mencegah kerusakan karena badai




                                                                                                                    39
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 5.2.3 Erosi jangka panjang
 Proses transpor sepanjang pantai
 Berikut kami definisikan erosi jangka panjang sebagai erosi yang terjadi hanya berdasarkan skala tahunan atau
 dekade. Hari ke hari, basis kemunduran yang tidak nyata diobservasi, namun dengan skala waktu seperti yang
 disebutkan di atas, garis pantai akan mundur beberapa meter. Erosi jangka panjang ini sering disebabkan oleh
 kondisi rata-rata gelombang normal (badai dapat berkontribusi terhadap hal ini terlebih dahulu).

 Erosi jangka panjang yang lamban sering dapat dijelaskan oleh gradien pada transpor total sepanjang pantai.
 Transpor sepanjang pantai ini dihasilkan oleh gelombang datang yang miring, seperti yang diilustrasikan pada
 Gambar 5-4. Pada contoh skema digambarkan gelombang datang dari arah barat (diindikasikan dengan warna
 hijau) kemudian pecah di garis pantai dan menghasilkan arus sepanjang pantai yan menuju ke arah timur pada
 surf zone (breaker zone). Dengan adanya arus ini, pasir ditranspor menuju arah timur. Pada contoh di Gambar
 5-4, diasumsikan bahwa gelombang dari arah barat relatif tinggi dan menghasilkan transpor menuju timur
 sebanyak 300.000 m3/tahun. Gelombang yang lebih rendah mendekati pantai dari arah timur (diindikasikan
 dengan warna biru) menghasilkan arus sepanjang pantai yang menuju arah barat pada breaker zone, yang
 mentranspor pasir menuju arah barat dengan rerata 200.000 m3/tahun. Efek total dari gelombang barat dan
 timur adalah transpor sejumlah 300.000 – 200.000 = 100.000 m3/tahun pada arah timur, diindikasikan dengan
 merah pada Gambar 5-4. Efek yang dihasilkan ini disebut dengan transpor total sepanjang pantai. Kontribusi




   C
 dari beragam gelombang pada transpor total bergantung pada banyak faktor. Faktor penting adalah tinggi
 gelombang (gelombang yang lebih tinggi biasanya menghasilkan transpor sepanjang pantai yang lebih besar)
 dan arah gelombang relatif terhadap pantai (gelombang datang miring yang lebih banyak biasanya
 menghasilkan transpor sepanjang pantai daripada gelombang dengan jumlah timbul yang normal).

 Gambar 5-4: Ilustrasi transpor total sejajar pantai
SD
 Karena variasi tinggi gelombang atau sudut timbulnya gelombang relatif terhadap pantai, transpor total dapat
 bervariasi di sepanjang pantai. Perilaku garis pantai pada bagian pantai ditentukan oleh keseimbangan
 sedimen pada bagian tersebut, seperti yang diilustrasikan pada Gambar 5-5. Jika lebih banyak sedimen
 ditranspor ke luar dan ke dalam bagian tersebut, maka keseimbangan pasir pada area tersebut adalah negatif
 dan garis pantai akan terkikis. Jika lebih banyak pasir ditranspor ke area tersebut dan kemudian keluar, maka
 kesimbangan sedimen adalah positif dan pertambahan akan terjadi.




                                                                                                                    40
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Gambar 5-5: Ilustrasi keseimbangan sedimen




 Penyebab alami erosi




   C
 Di alam, gradien pada transpor total sepanjang pantai dapat terjadi karena sebab yang bermacam. Beberapa
 diantaranya telah diilustrasikan secara skematik pada Gambar 5-6.

 Variasi tinggi gelombang
 Panel di atas menunjukkan suatu situasi dengan gelombang rendah pada satu lokasi dan gelombang tinggi pada
 lokasi lainnya. Sebagai hasilnya, keseimbangan sedimen di bagian tengah adalah negatif (-100.000 m 3/tahun)
 dan pantai disini akan terkikis/longsor.

 Pengurangan suplai sungai
 Jika pada situasi yang sama sungai mensuplai pasir ke bagian pantai (panel tengah pada Gambar 5-6) maka
 keseimbangan bergantung pada rerata suplai sungai. Jika suplai sungai lebih kecil dari 100.000 m3/tahun maka
 keseimbangannya negatif dan bagian pantai akan terkikis/longsor, jika suplai sungai lebih besar dari 100.000
SD
 m3/tahun maka bagian pantai akan bertambah. Contoh ini mengilustrasikan bahwa suplai pasir sungai akan
 memberi efek terhadap perilaku pantai. Jika ada penambangan pasir di sungai (atau pekerjaan di sungai
 lainnya) maka suplai pasir sungai akan berkurang dan garis pantai di dekat muara sungai akan mundur.

 Garis pantai yang mengkurva
 Panel pada Gambar 5-6 menunjukkan garis pantai yang mengkurva. Pada contoh ini, gelombang lepas pantai
 tidak bervariasi di sepanjang pantai, namun, karena pengkurvaan garis pantai maka gelombang timbul relatif
 terhadap variasi pantai, menghasilkan gradien pada transpor total sepanjang pantai. Pada contoh, lebih
 banyak pasir yang keluar (200.000 m3/tahun) daripada yang masuk (100.000 m3/tahun) menghasilkan
 keseimbangan sedimen yang negatif pada area yang ada dan demikian juga erosi.




                                                                                                                    41
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Gambar 5-6: Ilustrasi penyebab erosi alamiah




   C
SD
 Erosi akibat tindakan manusia
 Pada contoh di atas diilustrasikan penyebab terjadinya erosi alami. Gradien erosi pada transpor sepanjang
 pantai dapat juga disebabkan oleh manusia. Hal ini diilustrasikan dalam Gambar 5-7. Panel di atas
 menunjukkan keseimbangan sedimen netral 100.000 m3/tahun sepanjang bentang pantai. Pada situasi
 tersebut, garis pantai stabil. Jika struktur dibangun pada zona pantai dimana struktur tersebut menginterupsi
 bagian dari transpor pasir sejajar pantai, maka suatu gradien terbentuk, seperti digambarkan di panel bawah
 pada Gambar 5-7. pada gambar tersebut, ditunjukkan contoh total blokade transpor sejajar pantai yang
 tertahan (sebagai contoh, breakwater pelabuhan). Pada kasus tersebut, keseimbangan bagian updrift menjadi
 positif (100.000 m3/tahun masuk, tidak ada pasir yang keluar) menghasilkan pertambahan updrift dari struktur.
 Down drift dari struktur, keseimbangan sedimen menjadi negatif (tidak ada pasir yang masuk 100.000
 m3/tahun keluar). Demikian area down drift akan terkikis/longsor. Hanya untuk interupsi parsial dari transpor
 total diaplikasikan prinsip yang sama, namun pada kasus tersebut, rerata erosi dan pertambahan akan menjadi
 lebih kecil dan mempengaruhi area yang lebih kecil.




                                                                                                                    42
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Gambar 5-7: Ilustrasi erosi karena induksi manusia




   C
 Dari pertimbangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa ada banyak penyebab yang berbeda untuk erosi
 jangka panjang yang alami (beberapa contoh diilustrasikan dalam Gambar 5-6). Lebih jauh lagi, telah
 dijelaskan bagaimana masalah erosi juga dapat disebabkan oleh manusia jika struktur dibangun mengganggu
 transportasi sejajar pantai di zona dekat pantai (seperti digambarkan pada Gambar 5-7).


 5.2.4 Efek dari penanganan pantai terhadap proses sedimen
SD
 Pada contoh berikut, pantai dianggap memiliki ma
 salah erosi alami yang disebabkan oleh gradien yang berada pada total transpor sepanjang pantai seperti yang
 diindikasikan dalam Gambar 5-8 (100.000 m3/tahun bergerak masuk, 200.000 m3/tahun bergerak keluar).

 Nourishment
 Salah satu cara untuk menyelesaikan masalah erosi adalah menambahkan pasir pada area yang terkikis/terkena
 erosi (isian pantai). Pada kasus ini, isian berjumlah 100.000 m3/tahun akan diperlukan untuk mitigasi erosi,
 lihat Gambar 5-8. Dari sudut pandang morfologi, hal ini merupakan solusi yang bagus selama masalah erosi
 terselesaikan tanpa menyebabkan erosi down drift.




                                                                                                                    43
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Gambar 5-8: Ilustrasi dari netralisasi keseimbangan sedimen dengan cara pengisian




 Revetment
 Gambar 5-9 menunjukkan sebuah contoh dimana bangunan revetment di tempatkan pada area yang rentan
 longsor/erosi yang bertujuan untuk menghentikan kemunduran garis pantai. Pada kasus ini diasumsikan bahwa
 revetment ditempatkan tepat di garis air dimana sebenarnya hal ini tidak mempengaruhi transpor total pasir
 sepanjang pantai secara signifikan. Pada panel atas diilustrasikan situasi awal. Selama transpor total sepanjang




   C
 pantai tidak mempengaruhi, maka gradien transpor longsor sepanjang pantai pada awalnya akan tersisa
 (100.000 m3/tahun masuk, 200.000 m3/tahun keluar), jadi pasir yang mengalami erosi dari area tersebut akan
 berlanjut. Selama revetment mencegah pasir terbawa dari pantai, erosi ini akan menghasilkan pendalaman
 dasar laut dari struktur yang ada. Pendalaman terus berlanjut hingga transpor gradien revetment tidak terlihat
 (transpor akhir down drift telah berkurang hingga 100.000 m3/tahun). Situasi ini digambarkan pada panel
 bawah dari Gambar 5-9. Namun, pada situasi seperti itu, gradien longsor down drift dari revetment telah
 terbentuk (lihat panel bawah Gambar 5-9). Contoh ini menjadi ilustrasi bahwa pada revetments umumnya
 erosi alas bawah di erosi haruslah diperhitungkan.
SD
                                                                                                                    44
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Gambar 5-9: Ilustrasi efek dari revetment pada keseimbangan sedimen




   C
 Groin
 Gambar 5-10 menunjukkan contoh dimana gradien erosi pantai antara 100.000 m3/tahun (up drift) dan 200.000
 m3/tahun (down drift) dimitigasi dengan sistem groin. Pada contoh yang ada, tidak difokuskan terhadap
SD
 efektivitas dan perubahan garis pantai dalam skema groin, tapi difokuskan terhadap efek dari skema pada
 down drift pantai. Bergantung pada panjang dan jarak groin, lebih atau kurang, pasir akan terperangkap oleh
 skema groin. Pada contoh di Gambar 5-10 diasumsikan bahwa akhir dari down drift skema terjadi karena pasir
 yang terperangkap (dan orientasi kembali garis pantai antara groin, ini tidaklah diindikasikan dalam sketsa)
 hanya 0 hingga 100.000 m3/tahun yang disuplai menuju pantai down drift (dimana pada situasi aslinya
 berjumlah 200.000 m3/tahun). Dengan demikian, skema groin akan menciptakan erosi pada area down drift.
 Contoh yang sama diberikan untuk skema detached shore-paralel breakwaters (tidak dijelaskan disini).

 Gambar 5-10: Ilustrasi efek dari sistem groin terhadap keseimbangan sedimen




 Pada prinsip dasar di atas tentang efektivitas dan efek down drift dari peannggulangan yang berbeda telah
 didiskusikan. Pada begian berikut, ada banyak pilihan (seperti ‘tidak bertindak’, penanganan lunak,
 penanganan keras) didiskusikan lebih konkrit lagi.
                                                                                                                    45
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 5.3 TIDAK BERTINDAK
 Mengingat besarnya skala gangguan keseimbangan yang diakibatkan oleh tsunami, maka dari sudut pandang
 morfologi dianjurkan untuk meminimalisir campur tangan manusia sebisa mungkin. Relatif terhadap perubahan
 garis pantai ke depan dalam skala besar, maka interfensi manusia akan menjadi skala yang kecil dan bersifat
 lokal, dan hasilnya menjadi kurang efektif.

 Dari sudut pandang morfologi pantai maka perlu disarankan untuk tidak melakukan tindakan apapun dan
 memberikan ruang kepada pantai untuk melakukan perbaikan menurut keseimbangan alaminya. Jika pilihan
 ini dipilih, maka garis set-back harus didefinisikan, pantai yang tidak ada aktivitas konstruksi (properti,
 infrastruktur) dimana hal yang signifikan harus ambil tempat. Untuk Pantai Aceh, hal ini merupakan solusi yang
 atraktif, sejak properti dan infrastruktur di zona pantai telah dirusak oleh tsunami. Untuk erosi pantai, suatu
 garis set-back dapat didefinisikan sekitar 200 hingga 300 m dari permukaan/garis air yang ada. Dengan cara ini
 ada ruang yang banyak untuk fluktuasi garis pantai dan erosi garis pantai lokal jangka panjang.

 Implikasi untuk banjir harus dipisahkan dan akan menghasilkan garis set-back yang lebih jauh (bergantung pada
 tingkat desain dan tingkat daratan/tanah lokal) atau penanganan lunak terhadap banjir di dekat garis set-
 back.




   C
 5.4 PENANGANAN LUNAK
 Di bawah ini dideskripsikan penanganan yang lunak dilihat dari sudut morfologi, untuk deskripsi lengkap
 tentang fungsi, alternatif yang memungkinkan dan pedoman desain (dibuat pada Laporan Pendukung Volume
 IV, Kriteria Perencanaan Bangunan Pengaman Pantai SDC) [Ref.8]).

 Nourishment
 Penanganan lunak yang sering digunakan di pantai adalah isian pantai. Isian dapat dilaksanakan sebagai operasi
 tunggal atau sebagai operasi yang sering/berkali-kali (dengan interval pengulangan beberapa tahun sekali).
 Selanjutnya dapat disebut sebagai “pemeliharaan” terhadap pantai. Hal ini, sebagai contoh, merupakan
 strategi utama yang digunakan di Belanda.
SD
 Operasi tunggal dapat diaplikasikan jika keseimbangan baru dapat diciptakan, contohnya untuk memperlebar
 keseimbangan pocket beach (pantai yang kedua sisinya ditutupi oleh karang yang muncul atau struktur yang
 besar) yang mengarah ke laut. Jika pantai tidak ditutupi di ujungnya, pasir akan ditranspor ke bagian isian.
 Pasir akan ditempatkan pada tempat yang tinggi di profil (katakanlah di atas garis permukaan air) dimana hal
 ini hanya diekspos untuk gerakan gelombang selama kondisi badai atau setelah terjadinya erosi. Isian ini dapat
 ditempatkan di keseluruhan elevasi profil pantai atau sebagai pelebaran pantai. Juga dapat diletakkan di muka
 pantai. Untuk pilihan ini, pasir yang bagus (pasir kasar dan bersih) dapat dibuat dengan kuantitas yang cukup
 di luar zona pantai aktif.

 Sepanjang daratan pantai, proses alami pertumbuhan pertahanan pantai alamiah dapat distimulasi dengan
 dengan cara isian pasir. Pasir dapat ditempatkan di sisi dalam dari beach barrier, dengan melebarkan dan
 menambah tingkatannya, seperti yang diilustrasikan pada . namun, barrier beach yang diperlebar tetap akan
 mudah terkena erosi jika ditempatkan pada zona rentan erosi. Penempatan barrier pasir ke arah daratan
 (dengan vegetasi) adalah lebih baik, seperti yang ada pada Gambar 5-11. Pada kasus selanjutnya, isian
 merupakan penanganan lunak terhadap banjir. Dengan cara ini, barrier yang mengarah ke laut akan punya
 ruang untuk berubah-ubah atau mundur (sesuai dengan waktu) dan hal tersebut akan berkembang menuju
 keseimbangannya tanpa mempengaruhi perlindungan pelindung banjir.

 Untuk pantai Aceh, isian pasir dapat dijadikan pilihan jangka panjang untuk pocket beaches (tidak ada pasir
 sepanjang pantai yang hilang/terbawa secara signifikan) dan sebagai penanganan untuk erosi pantai.

 Jika isian pasir diaplikasikan pada area longsor maka isian pasir ini akan berfungsi sebagai peredam gelombang
 yang bersifat pasir sementara. Jika erosi terjadi karena redistribusi pasir maka isian pasir akan mengurangi
 efek dari erosi. Jika erosi terjadi karena gradien transpor sepanjang pantai maka pasir ditranspor di luar
 bagian isian pada arah sepanjang pantai. Jika jumlah isian pasir dalam jumlah yang signifikan maka tidak
 terlihat pada arah sepanjang pantai, maka isian itu sendiri biasanya tidak begitu berguna dan oleh karenanya

                                                                                                                    46
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 diperlukan struktur tambahan seperti groin yang panjang untuk menyokong isian itu sendiri. Hal ini akan
 menghasilkan efek yang tidak bagus terhadap pantai yang berdekatan (down drift).

 Jika terlihat bahwa isian pasir telah diaplikasikan pada area yang terjadi pertambahan, maka disarankan untuk
 memindahkan pasir secara artifisial pada area berdekatan yang longsor (contohnya dengan menggunakan
 peralatan lokal yang ada seperti truk). Hal yang sama diaplikasikan jika isian pasir telah dibuat pada area yang
 terlihat stabil. Dengan kata lain, penanganan yang ada bersifat fleksibel.

 Gambar 5-11: Pilihan pengisian untuk Aceh (catatan: pilihan lainnya juga bisa)




   C
 Jika erosi dan banjir yang menjadi permasalahannya, maka penempatan pasir dengan baik di atas garis Air
 Pasang Tinggi (High Water Spring) sangat direkomendasikan, lihat sketsa pada Gambar 5-11 sebagai contoh.
SD
 Tipikal keuntungan isian pasir adalah:

    1.    Pasir yang diletakkan di zona aktif akan berkontribusi untuk keseluruhan posisi yang mengarah ke laut
          dari garis pantai pantai. Jika pasir isian ditranspor keluar dari area yang dilindungi (oleh gelombang
          dan arus) maka hal ini akan membuat gradien dan bermanfaat untuk keseluruhan sistem (efek positif
          terhadap proses perbaikan pantai).
    2.    Ketika pasir tersedia, konstruksi bentuk pertahanan pantai dapat dibuat dengan peralatan yang
          sederhana dan juga hal in dapat dilakukan oleh penduduk setempat.
    3.    Solusi lunak lainnya adalah menjadi lebih atraktif dari sudut pandang estetika daripada melakukan
          penanganan keras dengan menggunakan batu (akan didiskusikan nanti di bab ini).

 Tipikal kerugian isian pasir adalah:

    1.    Jika pasir diletakkan di pantai atau di muka pantai, dalam banyak kasus adalah isian pasir pada
          tempat pembuangan di bawah kemiringan yang tidak alami, akan mengakibatkan erosi awal yang
          cepat. Hal ini juga sering menggiring pada perasaan yang tidak adil diantara pemegang wewenang dan
          masyarakat bahwa isian pasir hanyalah tindakan yang ‘membuang uang’. Oleh karena itu para
          pemegang wewenang dan masyarakat harus diberitahukan tentang perilaku dari isian pasir. (Perlu
          dicatat bahwa kerugian ini dapat berkurang jika pasir ditempatkan lebih ke daratan tepatnya di
          daerah pantai sebagai penanganan untuk menahan banjir, seperti yang didiskusikan di atas dan
          diilustrasikan dalam Gambar 5-11).

 Pasir bypass buatan
 Kasus khusus dari isian pasir biasa adalah “pasir bypass buatan”. “Pasir bypass buatan” dapat diaplikasikan di
 sekitar struktur pantai dimana pasir terakumulasi pada bagian up drift dan erosi terjadi pada bagian down

                                                                                                                    47
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 drift. Penanganan ini mengimplikasikan bahwa pasir yang terakumulasi di up drift terkorek atau tergali dan
 terbawa pada area down drift yang hanyut. Perbedaan utama dengan isian adalah pasir yang berfungsi untuk
 mengurangi erosi tidak diambil dari sumber lepas pantai namun dari karesi area di sepanjang pantai.

 Tipikal keuntungan dan kerugian dari solusi ini adalah sama dengan nourishment.

 Vegetasi
 Vegetasi adalah penanganan lunak dimana dalam tingkatan yang luas dapat menstimulasi pertumbuhan pantai
 atau bukit pasir pada pantai kering. Di bawah kondisi yang rentan maka vegetasi menjadi tidak fungsional
 layaknya penanganan perlindungan pantai. Maka dari itu hal ini perlu dipahami sebagai penanganan untuk
 perbaikan/peningkatan pantai, lebih daripada hanya sebagai pelindung pantai.


 5.5 PENANGANAN KERAS
 Struktur dapat digunakan sebagai pelindung pantai untuk dua alasan utama:

    1.    Untuk mencegah atau mengurangi dampak serangan limpasan gelombang dan/atau arus;
    2.    Memblok transpor sedimen secara fisik.




   C
 Hal di atas mengimplikasikan bahwa struktur turut tercampur dengan gelombang lokal, arus, transpor sedimen
 dan keseimbangan sedimen tidak hanya pada area yang terlindungi tapi juga area yang berdekatan. Jadi tidak
 hanya efektivitas lokal dari tindakan keras yang harus dipertimbangkan, namun juga efek merugikan terhadap
 pantai yang berdekatan. Jika tindakan keras bersifat efektif untuk menyimpan pasir pada satu lokasi, hal ini
 umumnya akan memakan biaya pada area yang berdekatan. Efek yang merugikan tersebut dapat dimitigasi
 dengan mengkombinasikan tindakan keras dengan tindakan lunak seperti isian pasir

 Tiga struktur pertahanan pantai yang sering digunakan adalah:

    1.
    2.
    3.
          Seawall/ revetment (paralel terhadap garis pantai);
          Groin (tegak lurus terhadap garis pantai);
          Breakwater (lepas pantai, paralel atau tegak lurus terhadap garis pantai).
SD
 Di bawah ini dijelaskan setiap fungsi dari tiga struktur di atas berdasarkan sudut pandang morfologi. Untuk
 deskripsi lebih jelasnya telah dibuat dalam Laporan Pendukung IV. Kriteria Perencanaan Bangunan Pengaman
 Pantai (SDC, [Ref.8]).

 Sewall/ revetment
 Seawall / revetment adalah struktur yang paralel terhadap pantai yang dibangun di dekat garis pantai. Tujuan
 dari dibangunnya struktur tersebut adalah untuk mencegah terjadinya erosi dari kemiringan atau daratan di
 belakangnya atau untuk mencegah banjir. Sebuah revetment dapat ditempatkan pada kemiringan yang ada.
 Jika struktur model tanggul dibangun, maka akan disebut seawall. secara teknis, fungsi kedua struktur adalah
 sama.

 Perlindungan dibuat untuk mencegah air (air yang tinggi, gelombang) memasuki daerah yang terlindung.
 Struktur ini haruslah bersifat tinggi, tahan air dan stabil. Gelombang yang pecah dan terefleksi akan melawan
 revetment, akibatnya tinggi gelombang breakwater menjadi bertambah dan gerakan air menjadi bergolak.
 Sebagai tambahan, pada arah melintang pantai terciptalah gradien yang kuat pada transpor sedimen oleh
 struktur, karena revetment mencegah suplai pasir dari pantai (menghasilkan nol transpor pada lokasi
 revetment dan kapasitas transpor dari magnitud yang mengarah ke laut). Gelombang yang berbahaya akan
 menggiring pada berlubangnya kaki revetment. Lubang gerusan ini biasanya akan tretutup kembali oleh pasir
 pada akhir badai atau segera setelah badai berlalu, namun rusaknya struktur selama badai dapat terjadi
 karena adanya lubang gerusan. Sebuah struktur kaki harus dapat mencegah trejadinya kerusakan revetment
 selama badai berlangsung.

 Hal yang lebih relevan daripada fluktuasi jangka pendek di atas adalah perilaku jangka panjang muka pantai di
 depan revetment. Jika revetment diletakkan pada area dengan skala besar dan erosi jangka panjang terjadi
 karena penyesuaian profil atau gradien transpor sepanjang pantai, maka muka pantai revetment yang

                                                                                                                    48
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 mengarah ke laut akan menjadi dalam selama sebagian besar proses transpor terjadi pada breaker zone yang
 mengarah ke laut dan hal tersebut tidak secara positif dipengaruhi oleh revetment (hal tersebut dapat terjadi
 karena refleksi gelombang, yang diakibatkan oleh pertambahan erosi di depan revetment). Dalam kasus
 tersebut, revetment akan rusak dan terbawa ke laut.

 Untuk pengaplikasian revetments secara lokal diarea yang rawan longsor, efek lainnya adalah secara lokal
 dimana garis pantai diperbaiki oleh struktur, namun area garis pantai yang berdekatan akan berlanjut terkikis
 (terkadang terus bertambah karena adanya revetment) and area yang terlindungi akan menonjol dan terbuka.
 Sering perlindungan tambahan diperlukan. Setelah revetment rusak karena hal yang didiskusikan di atas, erosi
 pada bagian yang menonjol akan terjadi dengan rata-rata yang lebih tinggi (meluruskan garis pantai).

 Selama revetments diaplikasikan pada area rawan, maka mekanisme di atas dapat diharapkan untuk
 mempengaruhi secara merugikan sebagian besar revetments yang dibangun untuk jangka panjang. Karenanya
 revetments bersifat efektif pada awal pembuatan, namun untuk waktu jangka panjang menjadi tidak
 berfungsi.

 Jika revetment dibangun pada area pertumbuhan, bukan pada area erosi, maka efek jangka panjang seperti
 yang dijelaskan di atas tidaklah akan terjadi. Namun pada kasus tersebut, revetment akan ditutupi oleh pasir
 yang tumbuh dan revetment akan kehilangan fungsinya.




   C
 Selain membangun revetment di dekat garis air maka lebih baik untuk membuat tanggul rendah di daratan,
 dianjurkan berjarak beberapa ratus meter dari garis air laut, lihat Gambar 5-12. Tidak ada infrastruktur yang
 perlu dibangun yang memakan biaya besar di depan tanggul ini. Dengan cara ini maka garis pantai akan
 memiliki ruang untuk berfluktuasi (dimana hal in selalu ada) dan infrastruktur di belakang tanggul akan
 terlindung dari banjir atau erosi karena badai walaupun tanggul yang dibangun berukuran rendah. Selain itu
 diperlukan adanya tanggung jawab dari pihak lokal untuk melakukan pemeriksaan terhadap struktur penahan
 pantai tersebut.

 Gambar 5-12: Lokasi yang lebih baik untuk penanganan banjir atau erosi struktural
SD
 Tipikal keuntungan dari revetments adalah:
     −    Untuk jangka pendek, memberikan perlindungan lokal melawan erosi dan banjir.

 Tipikal kerugian dari revetments adalah:
     −    Untuk jangka panjang menjadi tidak efektif:
         *Pada area rentan longsor, revetments akan tergerus dan dapat terguling ke laut.
         *Pada area sedimentasi, revetments akan bersifat berlebihan.
     −    Jika secara lokal revetments bersifat efektif, maka revetments biasanya memiliki efek merugikan
          terhadap pantai yang berdekatan (menambah rata-rata erosi pada bagian yang berdekatan)
     −    Mempersulit akses ke laut
     −    Pada banyak kasus, revetments tidak atraktif secara estetika



                                                                                                                    49
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



    −     Penanganan ini tidak menstimulasi proses perbaikan secara alami. Kebalikannya, di depan revetment,
          pembuatan profil pantai akan merugikan karena merefleksikan gelombang. Gradien artifisial yang
          menuju sepanjang pantai pada transpor sepanjang pantai diciptakan oleh revetments lokal.

 Groin
 Groin merupakan struktur yang berorientasi normal terhadap garis pantai. Fungsi utamanya adalah untuk
 memblok transpor pasir sepanjang pantai. Fungsi utama lainnya adalah untuk menyimpan pasir pada bagian up
 drift dari struktur atau yang menyebabkan pertambahan up drift dari struktur dengan memerangkap pasir
 ekstra. Groin juga mempengaruhi kondisi gelombang (shielding, difraksi). Pada umumnya, garis pantai tidak
 dapat diperbaiki secara sempurna oleh groin. Garis pantai biasanya cenderung reorientasi.

 Sebuah skema groin akan menstabilkan pantai jika didesain dengan tepat. Desain dari skema groin selalu
 spesifik terhadap tempat, selama respon pantai bergantung pada transpor lokal, gradien, arah energi
 gelombang dominan dan kedalaman dimana transpor sedimen dihasilkan. Skema groin hanya akan dapat
 memerangkap pasir secara ekstra jika ada suplai alami pasir dan jika skemanya didesain dengan tepat.

 Gambar 5-13: Pemfungsian sistem groin




   C
SD
 Karena adanya penghalang (sebagian) pada transpor pasir sepanjang pantai, maka akan terjadi akresi pada
 areal up drift dan erosi pada areal down drift. Sebagai konsekuensinya, setiap pengaruh yang positif
 (pertambahan) di pantai pada sisi up drift dari groin juga akan membawa pengaruh yang negatif (erosi) pada
 sisi down drift. Hal ini mengimplikasikan bahwa groin yang panjang atau sebuah sistem dari groin yang lebih
 pendek dapat digunakan (secara lokal) untuk memerangkap pasir hanya jika ada erosi down drift.

 Dalam kasus ini, groin akan dianggap sebagai suatu penanganan untuk mengurangi terjadinya pengurangan
 isian pasir sepanjang pantai.

 Jika sebuah skema groin diaplikasikan pada area dengan skala besar dan memiliki permasalahan erosi jangka
 panjang sama seperti yang didiskusikan untuk revetments. pada kasus tersebut, seiring waktu, lepas pantai
 akan kehilangan pasir di bagian groin karena kecuraman profil di depan skema dan karena menonjol, posisi
 skema akan lebih terekspos.

 Tipikal keuntungan dari groin adalah:
     −    Secara lokal, groin akan memperbaiki posisi garis pantai secara keseluruhan atau memerangkap
          beberapa pasir tambahan (jika ada suplai pasir pada areal up drift)
     −    Groin dapat digunakan untuk mengurangi hilangnya pasir sepanjang pantai dari bagian isian pasir
          pantai.

 Tipikal kerugian dari groin adalah:
     −    Pada masa jangka panjang, groin menjadi tidak efektif:
          · Jika diaplikasikan (secara lokal) pada area yang rentan erosi maka pasir akan menghilangkan ke
            lepas pantai.
                                                                                                                    50
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



          · Pada area akresi, groin akan menjadi berlebihan
    −     Jika efektif secara lokal, groin biasanya memiliki efek yang merugikan terhadap pantai yang
          bersebelahan (menambah erosi).
    −     Pada beberapa kasus, groin tidak atraktif secara estetika.
 Penanganan semacam ini akan menstimulasi proses perbaikan pantai secara lokal. Pada arah sepanjang pantai,
 gradien artifisial pada transpor sepanjang pantai diciptakan oleh revetment lokal.

 Breakwater lepas pantai
 Breakwaters adalah struktur yang paralel terhadap pantai yang dikonstruksi pada jarak tertentu dari pantai.
 Breakwaters (secara lokal) mengurangi tinggi gelombang, yang menghasilkan akresi di belakang breakwaters,
 pada bagian bawah arus erosi (atau erosi garis pantai antara struktur, bergantung pada jarak dari struktur itu
 sendiri).

 Gambar 5-14: Pemfungsian sistem detached breakwater




   C
SD
 Bergantung pada desain skema, terbatasnya perkembangan akan terjadi di belakang breakwaters (di belakang
 formasi yang menonjol). Pada kasus selanjutnya, tombolo breakwater akan berperan sebagai groin, dan juga
 memiliki keuntungan serta kerugian seperti groin.

 Dalam kasus formasi yang menonjol di belakang breakwaters, perilaku pantai ditentukan oleh keseimbangan
 yang sangat landai/bagus. Selama transpor sedimen dipengaruhi oleh breakwater lepas pantai dengan cara
 yang tidak langsung melalui difraksi gelombang saja (tidak seperti groin yang juga memblok arus dan transpor
 lepas pantai). Penampilan aktual breakwater lepas pantai sulit untuk diprediksikan secara aktual. Sebagai
 tambahan, jika diaplikasikan secara lokal pada area yang rentan longsor, maka skemanya menjadi kurang
 berfungsi terhadap waktu selama garis pantai di belakang breakwaters lepas pantai dipengaruhi oleh pantai
 yang bersebelahan (yang juga masih memiliki interaksi yang kuat dengan pantai yang berada di belakang
 breakwaters lepas pantai). Ketika garis pantai yang berada di belakang breakwaters mulai terjadi kemunduran,
 maka struktur menjadi kurang efektif terhadap waktu (selama efektivitasnya berkurang dengan bertambahnya
 jarak menuju garis pantai).

 Tipikal keuntungan dari breakwater lepas pantai adalah:
     −    Secara lokal, breakwater lepas pantai akan memperbaiki posisi garis pantai secara keseluruhan atau
          memerangkap pasir tambahan (jika ada suplai pasir di atas pasir)
     −    Breakwater lepas pantai biasa digunakan untuk mengurangi hilangnya pasir sepanjang pantai pantai
          dari bagian isian pasir di pantai.


                                                                                                                    51
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Tipikal yang tidak menguntungkan dari offshore breakwaters adalah:
     −    Tidak efektif untuk penggunaan jangka panjang:
          *Jika diaplikasikan secara lokal pada area yang rentan erosi, maka sistemnya perkembangannya akan
     kurang efektif
          *Pada area tambahan, offshore breakwaters bersifat berlebihan
     −    Jika efektif secara lokal, offshore breakwaters biasanya memiliki efek yang merugikan pada pantai
          terdekat (menambah erosi pada bagian terdekat).
     −    Pada beberapa kasus offshore breakwaters tidak atraktif secara estetika.
     −    Penanganan seperti ini tidak menstimulasi proses perbaikan pantai. Kebalikannya, proses perbaikan ini
          akan berefek merugikan. Transpor pasir di pantai akan diblok oleh struktur secara parsial. Di arah
          sepanjang pantai, gradien artifisial pada transpor sepanjang pantai diciptakan oleh revetment lokal.




   C
SD
                                                                                                                    52
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




   6 MUARA SUNGAI
 6.1 PENDAHULUAN
 Nelayan selalu menggunakan muara sungai untuk menambatkan boat mereka di area tambatan ketika boat
 sedang tidak berlayar di laut. Muara sungai tidaklah stabil sebelum tsunami; kedalamannya bervariasi sesuai
 dengan perubahan cuaca dan volume transpor sedimen dari erosi di pegunungan. Setelah tsunami, dilaporkan
 bahwa beberapa muara sungai tertutup secara permanen, sementara sebelum tsunami muara tersebut sering
 terbuka khususnya pada musim hujan. Penduduk lokal dan nelayan mengeluh karena mereka tidak dapat lagi
 membawa keluar boat ke laut dan oleh karena itu mereka meminta agar muara sungai tersebut dikeruk agar
 boat mereka dapat melaut kembali.

 Survey tentang sistem air bersih pantai termasuk muara sungai telah dilaksanakan pada tahun 2006 oleh SKM
 dalam kerangka kerja Proyek Bantuan Tanggap Darurat Gempa dan Tsunami (ETESP). Foto udara sebelum dan




   C
 sesudahnya dan 1.5 tahun setelah tsunami (survey helikopter Agustus 2006) membandingkan hal tersebut.
 Survey ini membantu dalam laporan menutupnya muara sungai dan juga mengindikasikan keadaan lain:
 “Bahwasanya jelas sekali tsunami mengakibatkan banyak sungai yang terblok, gambar berbeda yang ada
 berupa perubahan alami garis pantai merupakan situasi yang tidak selalu diakibatkan oleh efek dari tsunami.
 Dinamika musim hujan juga menjadi dampak yang besar pada posisi dan karakter muara sungai.” (Sumber:
 SKM, [Ref.7]).

 Gambar 6-1: Muara sungai dekat Krueng Pudeng menyebabkan penggenangan di daerah daratan dan
 perumahan, Kec. Lhoong (Sumber: SKM, [Ref.7])
SD
 Semakin menutupnya muara sungai akan membawa masalah seperti berikut:
    −    Pada awal musim hujan jalur masuk air ke laut terhalang sehingga air sungai tidak bisa memasuki laut
         mencapai muara. Hal ini akan menyebabkan banjir.
    −    Kedalaman air pada jalur masuk menjadi dangkal untuk dapat masuk dan keluarnya boat.




                                                                                                                    53
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Bab ini akan membicarakan efek dari tsunami, situasi sebelum dan sesudah tsunami dan penanganan yang
 mungkin untuk muara sungai. Permasalahannya berbeda untuk pasir dan sungai lumpur. Sepanjang pantai Barat
 Aceh ditemukan banyak sungai berpasir, sementara di sepanjang pantai Timur ditemukan sungai berlumpur.


 6.2 TSUNAMI MENIMBULKAN EFEK TERHADAP MUARA SUNGAI DI ACEH
 Sungai berpasir, sebelum tsunami
 Pegunungan di Sumatera relatif masih muda dan curam. Erosi terjadi pada dasar sungai; sedimen yang ada
 dibawa menuju muara sungai di zona pantai. Sedimen tersebut terkadang disimpan di muara sungai yang luas
 atau terbawa ke laut.

 Gambar 6-2: Muara sungai berlidah pasir, sebelum tsunami
                                      Net longshore transport
                                      (wave/ current induced)




                                               River




   C                          Boats




 Gelombang dan arus menginduksi transpor sedimen pantai di sepanjang pantai. Di depan muara sungai
 biasanya profil pantai menjadi dalam karena berkurangnya kecepatan aliran dan sedimenasi. Jika ada hasil
 total yang signifikan dari transpor sedimen tahunan (total transpor sejajar pantai) pada satu arah, maka
 akumulasi sedimenasi di bagian hulu sungai akan menghasilkan formasi lidah pasir pada arah transpor sedimen.
SD
 Lidah pasir mendorong sungai ke arah hulu. Formasi lidah pasir menyebabkan sungai menjadi semakin panjang
 dan pada suatu waktu perlawanan terhadap jalan yang lebih panjang mengikuti alur lidah akan menjadi besar
 dan sungai akan menerobos lidah tersebut, memilih caranya yang lebih baik. Pada poin tersebut formasi lidah
 akan dimulai lagi.

 Sungai berpasir, setelah tsunami
 Pantai berpasir, termasuk lidah pasir, telah menjadi sangat mudah diserang ketika terjadi gelombang tsunami.
 Bentang pantai yang longsor dimana sedimen banyak tersimpan telah telah dideposit ke lepas pantai yang
 dalam. Pada banyak kasus, lidah pasir telah tersapu. Di bawah ini adalah sketsa dampak dari tsunami terhadap
 muara sungai.




                                                                                                                    54
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Gambar 6-3: Efek tsunami terhadap muara sungai
                                           Sea




                                                                 Coastline retreat




                                                                   Pools and gullies


 Setelah tsunami, aliran sungai langsung mengarah lurus ke laut karena telah terjadi kemunduran pantai.
 Formasi lidah pasir akan mulai terbentuk kembali karena adanya transpor sejajar pantai dan hal ini telah
 diobservasi di beberapa lokasi. segera setelah tsunami, muara sungai langsung terbuka karena termakan oleh




   C
 gelombang dan untuk kemudian muara sungai tersebut akan kembali tertutup oleh sedimen yang ada.

 Gambar 6-4: (Kiri) Muara sungai Krueng Pudeng di Kec. Lhoong dan (Kanan) Muara sungai Blang Naleung
 Mameh di Lhokseumawe, kedua jenis muara sungai berlidah pasir
SD
 Sungai Berlumpur, sebelum tsunami
 Muara sungai berlumpur umumnya memiliki daya jangkau panjang namun lebih rendah. Aliran air sungai
 umumnya pelan dan pasir yang ditranspor tersimpan di bagian bawah jangkauan yang lebih rendah. Partikel
 yang halus tertinggal di air dan tidak dapat tersimpan di bawah sungai dan berjalan menuju muara sungai.
 Partikel lumpur tersimpan di muara sungai tersebut karena pelebaran muara sungai atau terbawa ke laut.
 Karena proses ini, pinggiran lumpur dan pantai lumpur bisa saja terbentuk pada area yang berdekatan.

 Sebelum tsunami, sungai berlumpur di sepanjang pantai Timur Aceh berada dalam kondisi stabil dan selalu
 memberikan jaringan navigasi dengan kedalaman tertentu. Jaringan tersebut bergerak di bawah pengaruh dari
 lumpur yang berada ditepian yang bergerak. Penting untuk diketahui kondisi sungai yang bertujuan untuk
 menegosiasi perubahan jaringan.

 Sungai berlumpur, setelah tsunami
 Tenaga erosi gelombang tsunami telah menggerakkan lumpur yang ada di muara sungai dan laut. Volume
 lumpur ini mungkin saja tersimpan di daratan, di sungai dan di muara sungai ketika kecepatan aliran
 gelombang tsunami berkurang (sebelum mundur). Saat survey, deposisi lumpur ditemukan di daratan setelah
 tsunami, seperti yang diindikasikan sebagai contoh (Meilianda dkk, [Ref.2]).




                                                                                                                    55
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 6.3 PROSES SETELAH TSUNAMI
 Bertambah menutupnya muara sungai sepanjang pantai Aceh setelah tsunami akan menyebabkan banyak hal,
 diantaranya:

    1.    Setelah tsunami, kondisi barrier beaches secara umum lebih rendah pada banyak lokasi dan pada area
          daratan digenangi oleh gelombang tsunami. Sebagai hasilnya, sebagian daratan pantai di sekeliling
          sungai (yang baru membentuk lahan basah dan selokan) berkontribusi terhadap berhentinya aliran
          sungai keluar dan menghasilkan kurangnya aliran keluar dan sangat potensial untuk terjadinya deposisi
          pada muara sungai.
    2.    Pada basis rasio normal antara transpor pasir di laut dan kotoran di sungai, penutupan muara sungai
          juga menjadi sebab bertambahnya transpor sejajar pantai dan lepas pantai pada zona aktif setelah
          terjadinya tsunami. Pada fase perbaikan setelah tsunami, bertambahnya transpor sedimen dapat
          dikira (pada umumnya angka transpor berkurang ketika pantai lebih dekat dengan situasi
          keseimbangan dan bertambah pada situasi badai). Untuk kotoran/sampah di sungai yang tidak dapat
          diganti, hal ini mengimplikasikan penutupan muara sungai yang sangat potensial.
    3.    Selama terjadi tsunami, volume pasir yang signifikan akan terdeposisi di daratan dan di sungai (yang
          mungkin disebabkan oleh sedimen kasar). Hal ini menghasilkan gangguan keseimbangan dasar sungai.
          Dalam proses restorasi dari keseimbangan, setelah tsunami, bertambahnya transpor sedimen sungai




   C4.




    5.
          bisa saja terjadi, dan berkontribusi pada bertambahnya deposit pasir pada muara sungai.
          Penurunan tanah menghasilkan kedalaman air yang lebih besar dari sebelumnya; pinggiran sungai
          menjadi tenggelam ketika permukaan air sama (tetap berhubungan dengan permukaan laut yang
          sama). Untuk kotoran/sampah yang sama, hal ini akan menghasilkan rata-rata kecepatan aliran yang
          rendah dan akan menambah akresi di dasar sungai.
          Jika penurunan tanah terjadi di seluruh daratan Sumatra dan seluruh sungai tenggelam, maka gradien
          permukaan air di atas sungai telah berkurang. Gradien permukaan air yang berkurang membimbing
          pada berkurangnya kotoran di sungai dan mengurangi kecepatan aliran dan sungai tetap terbuka di
          muaranya.

 Jika empat hal pertama adalah dominan, dapat diperkirakan bahwa bertambahnya penutupan di muara sungai
 merupakan efek yang sementara. Seiring berjalannya waktu, pantai dan dasar sungai akan tumbuh dan menuju
 ke sebuah keseimbangan baru dan sebagai hasilnya transpor sedimen akan berkurang. Penyebab yang terakhir
SD
 memiliki karakter yang permanen; data mengenai penurunan tanah karena gempa tidak tersedia secara akurat.
 Pengetahuan yang ada mengindikasikan bahwa penurunan tanah di keseluruhan daratan pantai tidak
 diharapkan melebihi 0.2 hingga 0.3 m. Kesimpulan, efek yang permanen bisa saja ditampilkan, namun efek
 temporer diperkirakan akan bersifat dominan.

 Untuk sungai berlumpur proses yang sama akan berlaku pada perkembangan setelah tsunami. Proses menuju
 situasi keseimbangan baru akan memerlukan banyak waktu. Hal ini disebabkan oleh karakteristik kohesif dari
 lumpur; dan hal ini menjadi lebih sulit untuk mentranspor lumpur dari hulu sungai.


 6.4 PENANGANAN
 Seperti yang didiskusikan pada Bagian 6.1, bertambahnya penutupan muara sungai akan mengakibatkan
 masalah sebagai berikut:
    −    Pada permulaan musim hujan, jalur masuk air sungai ke laut akan terhalang sehingga terjadinya run-
         off, tidak dapat mengalir menuju muara dan ini akan mengakibatkan banjir.
    −    Kedalaman air pada jalur masuk sangat kecil hingga menyulitkan kapal boat untuk masuk dan keluar
         dari sungai.

 Banjir
 Masalah banjir dapat diselesaikan dengan membuat penerobos/saluran buatanpada bar dipermulaan musim
 hujan yang bertujuan untuk mencegah aliran sungai tertimbun di muara sungai. Pembuatan penerobos ini telah
 terbukti mampu menambah besarnya jalur masuk air di muara.




                                                                                                                    56
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Akses untuk kapal nelayan
 Merujuk pada permasalahan kedalaman air untuk kapal nelayan, maka perlu dipahami bahwa pada masa yang
 akan datang, dinamika muara sungai diharapkan dapat menjadi sama seperti sebelum tsunami seperti yang
 didiskusikan pada Bagian 6.3). Bentuk dan dimensi muara sungai nantinya diharapkan akan sama dengan
 sebelum tsunami. Maka direkomendasikan untuk untuk membiarkan muara sungai berkembang menuju situasi
 kesimbangan yang dinamis.

 Berdasarkan pembahasan di atas, maka kajian yang lebih khusus harus dilakukan dimana semua aspek sangat
 berhubungan dengan perkembangan pelabuhan di daratan. Tidak ada pedoman umum yang tersedia untuk
 desain universal pada setiap penanganan. Setiap kajian membahas aspek dari desain fungsional penanganan
 (panjang dan posisi struktur, kuantitas pengerukan yang besar), sedimenasi pemeliharaan dan dampak pada
 pantai terdekat dan lingkungan sekitar.

 Penanganan yang mungkin dilakukan untuk perbaikan dari situasi yang lama (kapal boat yang besar, frekuensi
 jalan masuk yang lebih) didiskusikan dalam kerangka konseptual.

 Pengerukan Regular
 Pengerukan adalah bersifat fisibel jika kecenderungan dari formasi bar di muara sungai relatif kecil. Untuk
 formasi bar yang lebih keras dan sedimenasi, pengerukan harus dilakukan dengan basis yang sangat regular.




   C
 Struktur Keras
 Untuk formasi bar yang lebih keras, penggunaan bentang breakwaters ke laut biasanya diperlukan. Hal ini akan
 mengurangi deposisi transpor pasir sejajar pantai ke muara, meskipun sedimenasi tetap terjadi (oleh
 karenanya, beberapa pemeliharaan tetap diperlukan). Jika sedimenasi dari sungai terus berlanjut, maka
 penggunaan breakwaters tidak efektif untuk membuat muara sungai tetap terbuka. Proses yang dideskripsikan
 di atas mengindikasikan bahwa efektivitas dari break water untuk membuka muara sungai tidaklah pasti, oleh
 karena itu diperlukan pengetahuan yang lebih, dalam hal ini. Lebih jauh lagi, hampir semua lokasi di sepanjang
 breakwater pantai juga akan menyebabkan erosi di down drift pantai.

 Pilihan lainnya
     −     Training wall juga dapat diaplikasikan untuk membatasi aliran sungai yang akan menambah kecepatan
           aliran di muara sungai dan mengurangi sedimenasi.
SD
     −     Menutup cabang selokan kecil yang berasal dari sungai ke laut dan akan berhenti pada sungai utama
           dan mengurangi sedimenasi serta pendalaman muka dasar sungai.
     −     Jika ada danau di pinggir laut, maka diperlukan untuk menyambung danau ini ke sungai utama yang
           akan mengalir melalui kanal yang ada. Pengisian dan pengosongan danau karena pasang surut air laut
     −     (pembilasan pasang surut air laut) dan hal tersebut juga akan mengurangi sedimenasi di muara sungai.

 Contoh muara sungai Krueng Pudeng (Pantai Lhoong)
 Pada Gambar 6-5 ditunjukkan gambar Krueng Pudeng pada periode April 2006 hingga Desember 2008. Setelah
 tsunami, muara sungai hampir tertutup habis (lihat poto yang diambil pada April 2006). Seiring waktu, lebar
 dan dalamnya bertambah, dan ini diperkirakan terjadi sesuai dengan pertimbangan di atas. Namun menurut
 masyarakat setempat, muara sungai ini belum mencapai dimensi seperti sebelum tsunami. Observasi yang ada
 mengindikasikan bahwa proses perbaikan masih berjalan.




                                                                                                                    57
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Gambar 6-5: Perkembangan muara sungai Krueng Pudeng saat ini
  1. April 06                                               2. Nov 06




  3. July 07                                                4. May 08




   C
  4. Dec 08
SD
 Contoh muara Sungai Lhok Nga
 Pada Gambar 6-6 menunjukkan perkembangan muara sungai Lhok Nga sebelum tsunami (Juni 2003, panel kiri
 bawah) yang berbeda setelah tsunami (Juni 2005, panel kiri atas; Agustus 2006, panel kanan bawah dan
 Oktober 2006, panel atas kanan).

 Tsunami telah membuat dampak yang besar terhadap muara sungai, dan hal ini dapat dilihat pada gambar
 sebelum dan setelah tsunami. Antara Juni 2005 dan Agustus 2006 dibangun dua groin untuk membuka muara
 sungai. Groin tersebut dapat dilihat pada panel kanan atas dan bawah. Muara sungai tersebut terlihat lebih
 terbuka daripada ketika bulan Juni 2005. Sistem pantai juga telah berubah secara alami, lidah sungai telah
 diperbaiki dan muara sungai berubah secara dinamis hingga terjadilah keseimbangan. Proses alami ini telah
 menyebabkan berubahnya hal yang diobservasi daripada groin sendiri. Lebih jauh lagi, pada Oktober 2005
 gundukan pasir di sungai terlihat diantara groin, mengindikasikan bahwa groin tidak mencegah deposisi
 sedimen.




                                                                                                                    58
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Gambar 6-6: Perkembangan muara sungai Lhok Nga saat ini (Sumber: SKM, 2006)




   C
SD
                                                                                                                    59
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




   7 STRATEGI UNTUK PENGELOLAAN PANTAI DI MASA YANG AKAN
          DATANG

 7.1 PENDAHULUAN
 Pada bab sebelumnya telah dideskripsikan bagian yang berbeda dari karakteristik pantai Aceh (Pantai Barat,
 pantai Banda Aceh dan pantai Timur), efek dari tsunami dan respon terhadap kondisi pantai yang diharapkan di
 masa yang akan datang (dalam masa yang umum). Metode yang berbeda dalam menanggulangi problem erosi
 pantai juga didiskusikan (penanganan lunak dan keras), hal ini mengindikasikan poin yang kuat dan kekurangan
 setiap penanganan yang ada.

 Berdasarkan pengertian di atas, pada bab ini diberikan rekomendasi untuk strategi di masa yang akan datang
 untuk bagian pantai yang berbeda (pantai Barat, Pantai Banda Aceh dan pantai Timur).




   C
 7.2 PANTAI BARAT ACEH
 Prediksi garis pantai Pantai Barat di masa yang akan datang

 Pantai Barat merupakan area yang terkena terjangan tsunami cukup parah. Kemudian di area tersebut
 dibangun revetment setelah tsunami di sepanjang bentang pantai yang pendek, contohnya di Lhoong dan
 Meulaboh. Revetment ini di tempatkan pada tempat yang tinggi di tampang pantai atau di tempat yang
 memiliki ketebalan pasir terbatas dimana revetment tersebut tidak bercampur dengan sistem pantai pada
 skala yang jelas.

 Perbaikan di sepanjang pantai Barat telah dilakukan pada tahun pertama setelah tsunami dan akan berlanjut
 dalam retang waktu yang terbatas. Hanya sebagian area yang dapat diperbaiki karena lokasi lainnya yang tidak
 diperbaiki sangat sulit untuk dijangkau. Proses perbaikan jangka pendek hingga jangka menengah telah
SD
 melemah dan erosi jangka panjang akan terjadi karena adaptasi tampang pantai terhadap efek dari turunnya
 daratan semakin nyata. Efek ini sulit untuk diukur namun diprediksikan akan menghasilkan kemunduran garis
 pantai secara perlahan-lahan. Dalam suatu dekade hal ini akan menghasilkan pemindahan garis pantai ke darat
 beberapa meter jauhnya.

 Perbaikan dan erosi yang dijelaskan di atas sebagian besar didasarkan pada proses melintang pantai. Namun,
 pada beberapa lokasi, transpor pasir sejajar pantai dapat mempengaruhi perilaku garis pantai karena energi
 gelombang yang relatif tinggi disekitar pantai Barat dan akan menciptakan transpor total yang potensial di
 sejajar pantai. Untuk transpor total sejajar pantai pada beberapa lokasi di pantai Barat dibuat pada Bab 2.
 Beberapa bagian di pantai (profil pantai antara tanjung yang berkarang banyak) akan mendapat waktu yang
 cukup untuk berkembang secara dinamis dan seimbang pada tahun pertama setelah tsunami. Pada bagian ini
 transpor total sejajar pantai akan menjadi kecil. Untuk bagian pantai yang lebih besar, adaptasi sejajar pantai
 ini memakan waktu yang lama dan berproses. Beberapa bagian yang besar ini juga tidak berada pada
 keseimbangan sejajar pantai pada situasi sebelum tsunami. Transpor pasir total dalam jumlah besar sepanjang
 pantai mengimplikasikan bahwa erosi akan potensial terjadi jika struktur keras pantai (hubungannya dengan
 keseimbangan sedimen) dibangun di sepanjang pantai.


 Rekomendasi untuk strategi pantai Barat

 Ketidakjelasan tentang penurunan daratan yang aktual -dan profil pantai di masa yang akan datang terhadap
 penurunan ini (sebagai tambahan untuk keseluruhan respon terhadap naiknya permukaan laut) –maka
 direkomendasikan untuk mengantisipasi terjadinya erosi di pantai Barat untuk masa yang akan datang. Hal ini
 mengimplikasikan bahwa semua pembangunan yang baru dibuat di sepanjang pantai Barat termasuk
 didalamnya infrastruktur yang permanen (rumah, jalan, dll) untuk memundurkan pembangunan tersebut
 sejauh 100 hingga 300 m dari laut. Dalam banyak kasus hal ini akan memberikan ruang yang cukup untuk

                                                                                                                    60
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 mengakomodasi fluktuasi garis pantai yang tidak dapat dihindari (respon terhadap kondisi badai) dan erosi
 jangka panjang pada periode beberapa dekade ke depan.

 Investasi yang dekat dengan garis pantai untuk ke depan akan membutuhkan tambahan investasi untuk
 perlindungan pantai atau pemeliharaan pantai. Sebuah keputusan untuk penyediaan perlindungan pantai lokal
 akan memulai adanya reaksi rangkaian dari erosi down drift. Pada beberapa kasus hal ini akan memerlukan
 mitigasi tambahan (jika pada area yang dilindungi terdapat bangunan penting yang terancam oleh erosi down
 drift).

 Walaupun untuk situasi dimana infrastruktur telah ada dekat dengan garis pantai pada situasi sekarang ini
 (contohnya di Meulaboh) maka direkomendasikan untuk mempertimbangkan dengan serius strategi
 pengaplikasian zona mundur pada investasi di masa yang akan datang. Pada suatu situasi hal ini tidak selalu
 menjadi pilihan yang fisibel atau diinginkan, dan sebuah strategi pemeliharaan atau perlindungan merupakan
 satu-satunya pilihan.

 Jika saat ini diperlukan penanganan yang bertujuan untuk memelihara atau melindungi garis pantai, maka
 direkomendasikan untuk pertama kali mempertimbangkan kemungkinan mengaplikasikan penanganan yang
 lunak (pengisian pasir), terutama sekali pada area dimana transpor total sejajar pantai diprediksikan (lihat Bab
 2). Pada bidang pantai dengan panjang yang terbatas dan pagar tanjung yang cukup dimana pada kedua sisi




   C
 ada operasi pengisian yang single tanpa pengisian kembali yang regular akan mungkin diaplikasikan (jadi tidak
 ada pemeliharaan yang signifikan). Jika struktur pertahanan pantai diperlukan, maka bukan hanya efektivitas
 dari perlindungan terhadap erosi yang harus diprediksikan oleh kajian, namun juga dampak pada pantai yang
 berdekatan. Untuk setiap kasus, diperlukan suatu dedikasi studi, selama tidak ada solusi umum terbaik dan
 jika bangunan tersebut tidak didesain dengan baik (fungsional maupun struktural), penanganan akan
 mengakibatkan banyak kerugian daripada efek yang positif.



 7.3 PANTAI BANDA ACEH
 Prediksi garis pantai Banda Aceh di masa yang akan datang
SD
 Pantai Banda Aceh merupakan area yang terkena terjangan tsunami cukup parah. Pada periode setelah
 tsunami sebagian besar pantai Banda Aceh telah diperbaiki dengan menggunakan revetment dan tanggul
 pasang (menutupi hampir keseluruhan bentang pantai antara kanal banjir Ujong Pancu dan Alue Naga).
 Pekerjaan konstruksi dimulai pada Desember 2005 dan pada saat penulisan buku ini (Desember 2008) hanya
 tembok penanganan bentang akhir timur dari kanal banjir Alue Naga sedang dibangun. Bagian utama dari
 struktur ini telah dibangun beberapa meter dari air laut pada posisi yang dekat dengan garis pantai (sebelum
 tsunami). Sebagai hasilnya, sepanjang bagian pantai ini (bagian barat dari kanal banjir) tidak ditemukan pantai
 pasir yang signifikan. Di depan revetment ini, transpor total pasir adalah kecil, namun beberapa dinamika
 dasar laut tetap prediksikan. Sepanjang tepian yang keras ini tidak diperlukan perbaikan pantai yang alami.
 Hanya pada beberapa lokasi dimana transpor pasir sejajar pantai diinterupsi oleh struktur normal luas pantai
 (contohnya struktur Alue Naga).

 Pada Lampiran B ditampilkan kajian tentang garis pantai dimana pada masa yang akan datang perilaku garis
 pantai diprediksikan dengan pemodelan garis pantai UNIBEST-CL+. Termasuk dalam kajian tersebut adalah efek
 keseimbangan sedimen dekat pantai dari revetment yang baru didiskusikan di atas, breakwater di pelabuhan
 laut Ulee Lheue, breakwater pada muara sungai Krueng Aceh dan breakwater pada kanal banjir Alue Naga.

 Berdasarkan kajian yang disebutkan di atas, diperkirakan bahwa akan terjadi erosi jangka panjang di down
 drift dari bagian revetment yang dibangun. Khususnya, erosi yang signifikan diperkirakan berada di antara dua
 revetment di pantai Ujong Pancu dan down drift dari revetment yang berakhir di sebelah timur struktur Alue
 Naga (lihat Gambar 7-1). Pada periode sekitar 15 tahun ke depan, erosi down drift pada struktur Alue Naga
 diprediksikan akan berefek pada bentang pantai sekitar 2-3 km menuju arah timur kanal banjir Alue Naga.
 Tepat disebelah timur dari ujung sebelah timur revetment, angka erosi diperkirakan besar (>10 m/tahun). Hal
 ini akan menghasilkan penerobosan penghalang timur dari revetment, yang lebih jauh akan didiskusikan di
 bawah (“strategi rekomendasi”).


                                                                                                                    61
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Dikarenakan oleh proses transpor sejajar pantai yang terus berlangsung (tapi terbatas) di depan revetment,
 maka pada beberapa bagian dari beberapa penurunan dasar laut yang menuju ke arah laut diprediksikan.
 Pendalaman dasar laut di depan revetment diestimasi akan terus berlangsung hingga kedalamannya sekitar MSL
 -3 m. Selama tidak ada gambar pada kajian, maka tidak dapat dinilai apakah kaki bangunan revetment
 didesain dengan cara yang akan mengakomodasi penurunan dasar laut tanpa merusak struktur. Bagian
 revetment yang rentan terhadap erosi di bagian kaki bangunan dan gerusan struktur telah diidentifikasi (lihat
 bagian merah pada Gambar 7-1).

 Dari Gambar 7-1 dapat disimpulkan bahwa pantai Banda Aceh akan membutuhkan perhatian di masa yang akan
 datang, sebagian karena diprediksi akan terjadi kemunduran garis pantai dan sebagian karena ada
 permasalahan potensial pada kaki bangunan terhadap revetment yang ada.

 Gambar 7-1: Lokasi kaki bangunan yang mudah tergerus (garis merah) dan area dengan erosi yang sangat
 signifikan




                                                         Down drift Alue Naga
                                                         breakwaters




   C           Ujong Pancu
               beach area
SD
 Kajian yang dideskripsikan di atas pada Lampiran B tidak termasuk Pelabuhan Lampulo, yang saat ini sedang
 dalam tahap konstruksi. Pelabuhan tersebut akan berlokasi di bagian timur training wall sungai Krueng Aceh
 dan breakwater utamanya akan berukuran sepanjang 1200 m (di bawah kedalaman 9 m). Pelabuhan baru ini
 tidak akan memberikan efek berskala besar terhadap keseimbangan pasir pada pantai seperti yang
 dideskripsikan pada Lampiran B, selama studi tentang garis pantai (transpor sejajar pantai) telah diblok oleh
 training wall Krueng Aceh yang berlokasi tepat di sebelah barat pelabuhan baru. Disekitar pelabuhan baru,
 kondisi gelombang dekat pantai berubah sedikit, dan diperkirakan tidak merubah perilaku garis pantai secara
 signifikan. Semua bentang pantai antara pelabuhan baru dan struktur Alue Naga dilindungi oleh revetment dan
 kesimpulan yang berhubungan dengan peningkatan kedalaman dasar laut adalah hal yang sama seperti yang
 dibahas sebelumnya.




                                                                                                                    62
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 Rekomendasi strategi untuk pantai Banda Aceh

 Bagian utama dari pantai Banda Aceh telah diperbaiki dengan menggunakan revetment. Pada bagian garis
 pantai yang dilindungi tidak terjadi kemunduran selama revetment berada dalam keadaan stabil. Penurunan
 dasar laut di depan revetment harus diantisipasi, sebagian karena gradien pada transpor pasir sejajar pantai.
 Selama tidak ada gambar tersedia saat pangkajian, maka tidak dapat dinilai apakah struktur kaki bangunan
 dapat mengakomodasi penurunan dasar laut. Oleh karena itu, maka direkomendasikan untuk memonitor profil
 pantai dan kaki bangunan revetment pada lokasi ini agar dapat melihat erosi kaki bangunan dan kerusakan
 pada kaki bangunan pada tahap awal dan juga untuk mengambil langkah penanganan yang tepat.

 Untuk bagian garis pantai yang tidak terlindungi diperlukan perhatian besar seperti di area Ujong Pancu dan
 area down drift revetment yang berada di arah timur dari struktur kanal banjir Alue Naga, seperti yang
 diindikasikan pada Gambar 7-1.

 Dapat dipahami bahwa area Ujong Pancu diprediksikan akan ditanam mangrove. Rekomendasi strategi disini
 adalah untuk memberikan dinamika pantai yang alami. Setahu kami tidak ada rencana untuk pembangunan
 infrastruktur baru seperti rumah dan jalan yang dekat dengan laut pada area ini. Jika suatu rencana akan
 dikembangkan di masa yang akan datang maka sangat direkomendasikan untuk mengaplikasikan kemunduran
 zona yang bertujuan untuk mengakomodasi erosi pada area ini. Perlu diingat bahwa efek dari penanaman




   C
 mangrove tidak dimasukkan dalam prediksi garis pantai, namun hal tersebut akan mengurangi erosi (perlu
 dicatat bahwa longsor yang potensial tidak merusak mangrove).

 Untuk area yang diprediksikan akan terjadi erosi yang parah dimulai sekitar seratus meter dari arah timur
 kanal banjir Alue Naga dan direkomendasikan untuk menerima kemunduran garis pantai. Perlindungan garis
 pantai hanya akan menggeser masalah erosi jauh ke timur sepanjang pantai. Penerimaan dari implikasi erosi
 bagian pantai yang tertinggal dari pantai penghalang sebelah timur revetment dan bagian yang berdekatan
 dengan down drift garis pantai harus dialokasikan sebagai buffer area, mensuplai pasir ke down drift pantai.
 Hal ini mengimplikasikan bahwa tidak ada infrastruktur yang permanen yang bisa dibangun disini.

 Erosi yang diprediksikan diharapkan dapat segera menghasilkan terobosan areal daratan, yang dihasilkan dari
 lompatan tiba-tiba di posisi garis pantai menuju areal genangan air/tambak di belakangnya. Referensi dibuat
 sebagai garis biru pada Gambar 7-2. Setelah penerobosan ini, garis pantai yang baru (garis biru) akan diekspos
SD
 untuk menambah (namun terbatas) energi gelombang. Untuk itu direkomendasikan untuk mengecek apakah
 pertahanan di masa yang akan datang cukup tinggi dan kuat.



 Gambar 7-2: Perkiraan garis pantai yang baru setelah penerobosan daratan




                                                                                                                    63
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 7.4 PANTAI TIMUR ACEH
 Prediksi perilaku garis pantai di pantai Timur pada masa yang akan datang

 Pantai Timur tidak begitu parah terkena dampak tsunami. Tidak ada distribusi kembali pasir pada tampang
 melintang pantai atau arah sejajar pantai yang terjadi pada Desember 2004. Hasilnya, tampang melintang
 pantai diharap dapat dekat dengan keseimbangannya. Pada arah melintang pantai, kecenderungan terjadinya
 longsor kecil karena adaptasi tampang sebagai respon terhadap kenaikan permukaan laut diperhitungkan.
 Namun, kecenderungan ini (yang hanya ada pada kemunduran garis pantai yang nyata pada jangka panjang)
 akan ditolak oleh perubahan garis pantai yang disebabkan oleh gradien pada transpor total sejajar pantai di
 sepanjang pantai.

 Walaupun transpor total sepanjang pantai Timur umumnya kecil (sebagai hasil dari kondisi gelombang ringan),
 gradien pada transpor sejajar pantai dapat dihasilkan pada erosi yang ada. Sebagai contoh, hal ini ditemukan
 pada studi kasus di Lhokseumawe, dimana angka erosi lokal pada m/tahun diobservasi (dan angka akresi dari
 magnitud yang sama pada lokasi lainnya di dekat Lhokseumawe). Untuk deskripsi yang lebih rinci tentang studi
 kasus Lhokseumawe, referensi dibuat pada Lampiran C. Perilaku garis pantai yang diobservasi disini adalah
 hasil dari adanya struktur besar yang memanjang ke laut (struktur pelabuhan, training wall) dibangun di
 Lhokseumawe sebelum tsunami dan perilaku garis pantai ini sebagian besar merupakan induksi manusia. Pada




   C
 bagian gradien pantai yang alami –demikian juga angka migrasi garis pantai- biasanya kecil.

 Berdasarkan pertimbangan di atas, maka di sepanjang angka migrasi garis pantai di pantai Timur diprediksikan
 untuk menyisakan hal yang sama seperti yang diobservasi sebelumnya. Pada banyak lokasi, angka ini
 diharapkan menjadi kecil.

 Rekomendasi untuk strategi pantai Timur

 Untuk pantai Timur juga direkomendasikan agar memundurkan pembangunan lebih jauh dari pantai
 (pembangunan rumah, jalan, dll). Pada umumnya, zona ini dapat lebih kecil dibandingkan dengan yang
 direkomendasikan untuk pantai Barat selama pantai Timur dekat dengan keseimbangan umum (juga selama
 zona ini tidak terkena tsunami yang signifikan) dan mengikuti aturan gelombang kecil serta transpor sedimen.
 Bergantung pada situasi lokal, maka untuk lokasi ini kemunduran pembangunan disarankan sekitas 50 hingga
SD
 150 m dari pantai. pada banyak kasus, hal ini akan memberikan ruang yang cukup untuk mengakomodasi
 fluktuasi garis pantai yang tidak dapat dihindari (respon terhadap kondisi badai) dan erosi jangka panjang pada
 periode beberapa dekade ke depan.

 Sama seperti yang didiskusikan pada pantai Barat, investasi yang dekat dengan garis pantai untuk jangka
 panjang akan membutuhkan investasi lagi untuk perlindungan pantai atau pemeliharaan pantai dan akan
 mengakibatkan efek yang merugikan didasar arus. Strategi perlindungan pantai yang saat ini diaplikasikan di
 Lhokseumawe (dengan revetment dan groin pendek) merupakan contoh dari kasus dimana erosi areal tidak
 terlindung telah bergeser jauh sepanjang pantai dengan mengaplikasikan struktur pertahanan pantai. Hal ini
 telah menghasilkan (dan terus berlangsung sampai sekarang) perlindungan terhadap pantai.

 Pada lokasi sepanjang pantai Timur dimana infrastruktur telah ada di garis pantai saat ini, diperlukan strategi
 untuk memelihara atau melindungi kondisi pantai. Untuk itu direkomendasikan agar menggunakan penanganan
 yang lunak (pengisian pantai). Jika struktur pertahanan pantai diperlukan, maka bukan hanya efektivitas dari
 perlindungan terhadap erosi yang harus diprediksikan oleh kajian, namun juga dampak pada pantai yang
 berdekatan. Untuk setiap kasus, diperlukan suatu dedikasi studi, selama tidak ada solusi umum terbaik dan
 jika bangunan tersebut tidak didesain dengan baik (fungsional maupun struktural), penanganan akan
 mengakibatkan banyak kerugian daripada efek yang positif.




                                                                                                                    64
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




      DAFTAR PUSTAKA

 [Ref.1]    Meilianda, E., Dohmen-Janssen, C.M., Mulder, J.P.M., Hulscher, S.J.M.H, 2006a
            Inventory of physical characteristics of the Banda Aceh coast.

 [Ref.2]    Meilianda, E., Wong, P.P., Dohmen-Janssen, 2006b
            On the impact of the earthquake and tsunami of 26 December 2004 to the
            geomorphologic settings of the west, north and east coast of Banda Aceh.

 [Ref.3]    Pt. Jasapatria Gunatama , 2006
            Laporan oceanografi dan analisa sedimen

 [Ref.4]    Parasi Consultant, 2003
            Detail desain pantai padang seurahet kaburaten aceh barat




   C
 [Ref.5]



 [Ref.6]




 [Ref.7]
            Final design note

            Pt. lavita inti, 2005
            Laboran analisis oceanografi dan sedimen, sid. pantai kota Lhokseumawe

            UNDP (United Nations Development Programme), 1976
            On the west coast of Sumatra with special reference to beach erosion and design criteria
            of seawall
            OTC/SF Project: Ins-70/527

            SKM, 2006
            Earthquake & Tsunami Emergency Response Project. Spatial planning and environmental
            management. Categorization of coastal freshwater systems post tsunami. Document nr.
SD
            COCS_60_059_RPT-0072. 27 October 2006, financed by ADB.

 [Ref.8]    SDC, 2007
            Coastal Baseline Studies
            - Main Report, SDC-R-70026
            - Volume I. Morphology and Coastal System, SDC-R-70039
            - Volume II. Hydraulic Conditions, SDC-R-70040
            - Volume III. Tsunami Pemodelan and Risk Assessment, SDC-R-70041
            - Volume IV. Guidelines Coastal Protection Measures, , SDC-R-70042

 [Ref.9]    Meilano, unknown
             GPS measurement of co-seismic displacement in Aceh province after the 2004 Aceh-
            Andaman earthquake

 [Ref.10]   Meilano Irwan 1* , Yasaku Oota1 , Dudy Darmawan 2, Heri Andreas2, Hasannudin Z. Abidin
            2, Mipi A. Kusuma 2, Didik Sugiyanto3, Agustan 4, Takeo Ito1, Takao Tabei5, Fumiaki
            Kimata1
            1. Research Center for Seismology, Volcanology and Disaster Mitigation Nagoya University
            Japan
            2. Dept. of Geodetic Eng. Institute of Technology Bandung, Indonesia
            3. Dept. of Physics, Syiah Kuala University Aceh, Indonesia
            4. Agency for Assessment and Application of Technology, Indonesia
            5. Faculty of Science, Kochi University, Japan
            (Tobita, 2005)
            E-LETTER Earth Planets Space, 58, e1–e4, 2006


                                                                                                                    65
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



            Outline of vertical displacement of the 2004 and 2005 Sumatra earthquakes
            revealed by satellite radar imagery

 [Ref.11]   Mikio Tobita, Hisashi Suito, Tetsuro Imakiire, Min Kato, Satoshi Fujiwara, and Makoto
            Murakami, 2005
            Geographical Survey Institute, Tsukuba, Ibaraki 305-0811, Japan
            (Received October 3, 2005; Revised December 3, 2005; Accepted December 13, 2005)

 [Ref.12]   Meltzner, 2006
            JOURNAL OF GEOPHYSICAL RESEARCH, VOL. 111, B02407, doi:10.1029/2005JB003891,
            2006
            4. Uplift and subsidence associated with the great Aceh-Andaman
            earthquake of 2004
            Aron J. Meltzner,1 Kerry Sieh,1 Michael Abrams,2 Duncan C. Agnew,3
            Kenneth W. Hudnut,4 Jean-Philippe Avouac,1 and Danny H. Natawidjaja5
            Received 20 June 2005; revised 5 October 2005; accepted 22 November 2005; published
            15 February 2006.

 [Ref.13]   Meilianda, E.,Maathuis,B., Wijnberg, K., Mulder, J.P.M., Dohmen-Janssen, C.M., Hulscher,




   C
 [Ref.14]
            S.J.M.H, 2008a
            History of Banda Aceh coast preceding the tsunami of 26 december 2004: a
            geomorphological outline, manuscript for Journal of Asian Earth services (in preparation)

            Meilianda, E., Dohmen-Janssen, C.M., Maathuis,B., Hulscher, S.J.M.H, Mulder, J.P.M.,
            2008b Short-term morphological response and development of the Banda Aceh coast,
            Sumatra Island, Indonesia after the tsunami on 26 december 2004, manuscript for Marine
            Geology (in preparation)
SD
                                                                                                                    66
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




   C
SD
 Colophon



 Nama Organisasi                  Sea Defence Consultants
                                  Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan
 Nama Proyek
                                  dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias, (BRR Concept Note / INFRA 330GI)
 Judul Dokumen                    Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias Volume I, Morfologi dan Sistem Pantai

 Nomor Registrasi                 SDC-R-70039A

 Versi Dokumen                    Final, Januari 2009

 Penulis                          Odelinde Nieuwenhuis, Hans de Vroeg

 Team leader                      Bram van der Boon



                                                                                                                    67
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




      DAFTAR LAMPIRAN

 Lampiran A - Mawar Gelombang Aceh & Nias
 Lampiran B - Studi Morfologi Pantai Banda Aceh
 Lampiran C - Studi Morfologi Pantai Lhokseumawe




   C
SD
                                                                                                                    68
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




      LAMPIRAN A: MAWAR GELOMBANG PANTAI ACEH & NIAS


 A. Mawar gelombang hasil komputasi untuk Pantai Barat Aceh, kondisi sepanjang tahun




   C
SD
                                                                                                                    69
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 B. Mawar gelombang hasil komputasi untuk Pantai Banda Aceh, kondisi sepanjang tahun




   C
SD
                                                                                                                    70
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 C. Mawar gelombang hasil komputasi untuk Pantai Timur Aceh, kondisi sepanjang tahun




   C
SD
                                                                                                                    71
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009



 D. Mawar gelombang hasil komputasi untuk Pantai Nias, kondisi sepanjang tahun




   C
SD
                                                                                                                    72
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




      LAMPIRAN B: STUDI MORFOLOGI DI BANDA ACEH




   C
SD
                                                                                                                    73
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A
 Kajian Dasar Pantai Aceh & Nias - Morfologi dan Sistem Pantai                                            Januari 2009




      LAMPIRAN C: STUDI MORFOLOGI DI LHOKSEUMAWE




   C
SD
                                                                                                                    74
 Proyek Pengamanan Pantai, Perlindungan Banjir, Bangunan Penyelamatan dan Peringatan Dini Tsunami Aceh Nias
 BRR Concept Note / INFRA 330GI
 Sea Defence Consultants – SDC-R-70039A

								
To top