Healing 01 Oktober 08

Reviews
Shared by: gitspram
Stats
views:
312
rating:
not rated
reviews:
0
posted:
10/29/2008
language:
pages:
0
A B Kekristenan bukan sekadar BERIMAN kepada YESUS KRISTUS dan berada dalam kumpulan orang percaya. Menjadi terang dan garam serta hidup menghasilkan buah harus nyata dalam hidup kita. Namun, muncul sebuah pertanyaan. Bisakah kita menyatakan diri sebagai Eklessia, kumpulan orang-orang percaya yang tadinya berada dalam kegelapan kini berubah hidup dalam terang Kristus, sementara terang Kristus, tidak terpancar dari hidup kita? Begitu pula hidup sarat dengan penderitaan, jauh dari keberkatan dan damai sejahtera!! Banyak fakta yang tidak bisa dipungkiri. Semisal, masalah yang tidak dibereskan membuat perpecahan tak terelakkan dari gereja. Tidak terhitung pula hubungan dengan sesama retak karena akar pahit dan luka yang ditorehkan tak kunjung sembuh. Tabiat buruk juga penghalang untuk sebuah penerimaan akan seseorang maupun hidup bersosialisasi. Pun demikian, perekonomian hancur, karir tersendat-sendat dan berkat seakan enggan menyapa sebab dibelenggu dosa. Belum lagi derita akibat sakit penyakit yang menggerogoti tubuh. Mungkinkah Tuhan tidak peduli dan mendengar jeritan umatNya sehingga pemulihan tidak terjadi? Sumber ‘penyakit’ yang tidak pernah dibereskan sampai tuntas membawa penderitaan demi penderitaan, sekaligus merampas sukacita dan damai sejahtera. Hal ini menunjukan bahwa segala aspek hidup manusia harus beres. Ya, pemulihan mutlak dalam hidup manusia. Beranjak dari fakta dan kebutuhan tersebut, lahirlah Renungan Harian HEALING. Renungan khusus membahas perihal pemulihan, yang menyentuh berbagai aspek hidup manusia. Biarlah visi yang Tuhan taruh di hati kami melalui pelayanan ini membantu dan menjawab segala pergumulan hidup orang percaya, sehingga mengalami pemulihan. PEMULIHAN: dalam hubungan dalam persekutuan tubuh Krisus dan sesama, karakter, keluarga, kesehatan, ekonomi, keterikatan dosa dan sebagainya. Percaya, kuasa Tuhan melalui FirmanNya dan pekerjaan Roh Kudus, membawa ’pembebasan’ karena kita punya Yesus Kristus, Sang Tabib Agung. Amin! 1 Lord Heal Me Syalom Pelindung : Air Hidup Ministry Pemimpin Umum : Pdt. Aan Sth Pemimpin Usaha : Sigit Pramono Pemimpin Redaksi : Lily R Penulis : Lisye Roring STh, Elisabeth, Andreas STh Desain : Brio Distribusi dan Administrasi: Ardi E. Percetakan: Patmos Alamat: Ruko Kebon Jeruk Permai Jl. Kebon Jeruk Raya Blok B 22 No 10 Jakarta Barat Telp. 021-5356088, Fax 021-5356089 021-98981312, 021-32416622 (Usaha) 021-98981312, 081932929494 (Redaksi) 021-92230747 (Iklan) Email: healingmoment@gmail.com Rekening: BCA KCP. Kramat Ja , Jakarta Timur a/c 165-18777-80 a.n. Esther Elisabeth 2 DILEPASKAN DARI Lord Heal Me eper anak-anak lain yang ingin maju dan punya mimpi besar, demikian pula dengan aku. Untuk menggapai cita-cita sejak kecil aku giat belajar dan terus berusaha menjadi murid yang berprestasi. Tetapi cita-cita hanya akan menjadi sebuah impian jika dak ada yang mendukung dan inilah yang aku rasakan. Menginjak bangku SMA, keluarga mulai tidak peduli terhadap pendidikanku. Tidak ada satu pun yang bersedia membiayai sekolahku. Tidak orangtua, dak pula kakak-kakakku yang sudah bekerja. Bahkan untuk sekadar mengeluarkan uneg-uneg tentang keinginanku, mereka ogah mendengarnya. Tidak ada kebebasan bagiku untuk mengeluarkan pendapat. Terlebih Mama yang aku harapkan bisa memberikan semangat dan katakata posi f untuk membangun, justru selalu mengeluarkan kata-kata kasar dan kutuk Dalam usia anak sekolah aku dipaksa bekerja keras, sementara kakakku laki-laki yang pengangguran dimanja dan dak dipaksa mencari pekerjaan. Saat duduk di kelas dua, aku pun diboyong salah seorang kakakku yang sudah berkeluarga. Harapan untuk bisa menyelesaikan sekolah membuat aku senang menerima tawaran nggal bersamanya dan menggantungkan harapan pada kakakku. Namun kenyataan terlalu pahit. Ternyata di rumahnya S LESBIAN aku diperlakukan bak seorang pembantu. Ha ku pun hancur. Tak kuat menghadapi tekanan, aku mulai sering keluar malam demi menghilangkan rasa suntuk dan sedih. Sikapku ini membuat kakakku berang. Tanpa belaskasihan aku diusir, disuruh jadi pelacur, dan lebih menyakitkan aku dikutuk supaya kelak hamil di luar nikah. Oh, God! apa salahku Tuhan sehingga harus menghadapi semua ini? Sejak hari itu, aku keluar dari rumah kakakku dan nggal bersama-sama beberapa anak teologia yang tak jauh dari rumah. Merekalah yang mengajariku firman dan kasih. Akhirnya, selang beberapa waktu aku memutuskan pulang kampung sambil menyelesaikan sekolah. Aku pun giat mencari pekerjaan untuk biaya sekolah. Puji Tuhan, aku memperoleh pekerjaan part me, jadi siang sampai sore bisa sekolah. Ternyata ini berdampak pada nilai-nilaiku. Aku akhirnya harus kehilangan beasiswa sebagai siswa berprestasi yang selama ini aku terima, padahal gajiku dak cukup untuk biaya sekolah dan ongkos ke gereja. Dengan segala keberanian kucoba utarakan kesulitanku ini pada kakak-kakakku dengan harapan mereka bisa membantu sehingga biaya sekolah tertolong. Namun merek jawaban mereka di luar dugaan. “Insinyur saja pengangguran, ngapain merek sekolah?” Lagi-lagi mereka melukaiku! LagiMereka da peduli terhadap kebutuhanku tapi dak demikian dengan dak Tuhan. Ia sanga peduli dan itu yang aku rasakan. Tuhan selalu membukakan sangat jalan sehingga bisa menyelesaikan bangku SMA. Setelah lulus aku pun mendapat pekerjaan, meski hanya bekerja sebagai pembantu. Sedih juga peke sih, tapi aku tetap jalani pekerjaan itu hingga suatu ke ka terpaksa berhen teta karena penyaki cacar menyerang tubuhku. penyakit Dalam keadaan sakit tanpa perha an seutuhnya dari keluarga, beberapa kenalanku dari kampung tetangga datang membesuk. Keadaanku sekujur tubuhku dak membuat mereka jijik, tapi justru mau menginap seminggu di rumah untuk merawatku. Sebagai orang yang sudah lama haus kasih sayang dan perha an, perlakuan mereka membuatku sangat senang dan cukup membekas diha ku. Kerinduan yang dalam terhadap mereka pun aku rasakan ke ka mereka pulang. Sebulan kemudian teman-temanku kembali berkunjung sambil memberi sepucuk surat cinta untukku. Pikiranku menjadi kacau antara bahagia dan bingung. Tidak kusangka sebelumnya kalau orang-orang yang berha malaikat itu punya kelainan seksual. Diantara mereka bahkan beberapa sudah menjadi sepasang kekasih, padahal semua sama-sama tahu firman Tuhan. Ha yang pernah dikecewakan dan dilukai membuat meraka melakoni hidup seper itu. Aku yang selama ini kurang mendapat kasih sayang dan perha an, terbius oleh perha an dan kasih mereka. Kutanggapi surat cinta tersebut, begitu pula ajakan untuk bermain ke kampung mereka beberapa saat. Disinilah masa-masa kelam itu dimulai. Mereka mengajariku merokok, 3 Lord Heal Me 4 menegak minuman keras dan begadang. Karena sering berkumpul maka aku pada akhirnya terperangkap dalam gaya hidup yang sangat dak lasim. Jujur ba nku kadang bergejolak dan ingin lepas dari kehidupan kelam, tetapi sikap keluargaku yang cuek dan bungkam walau menger perubahan hidupku membuat ha ku kembali beku. Hidupku berubah secara dras s dan aku coba menikma nya. Dalam hal cinta, keinginan mencintai sesama wanita semakin mengebu-gebu. Bahkan sekali waktu dalam keadaan mabuk, aku nyatakan cinta pada seorang gadis SMP yang masih tetanggaku. Gayung bersambut ulam pun ba. Begitu kata pepatah, karena cintaku dak bertepuk sebelah tangan. Hidupku semakin hancur bersamanya. Tak segan aku berlaku kasar dan keras bila tahu ia menjalin kasih dengan pria lain. Aku menjadi seper seorang pria yang dak takut menghadapi atau berkelahi dengan pria sainganku. Dalam keadaan kotor, Tuhan tidak membuangku. Pintu rahmat dibukakanNya sehingga aku mendapatkan pekerjaan. Ia pun dak hen hentinya mengingatkan tentang kehidupan burukku, namun acapkali aku tawar menawar sampai suatu saat mama diambilNya. Ha ku hancur berkeping-keping menghadapi realita ini. Meski mama dak menjadi figur ibu yang baik bagiku, tetap saja aku menyayanginya. Tak tahan menghadapi kenyataan, aku coba bunuh diri, tapi Tuhan meluputkanku. Belum lagi kesedihanku berlalu, kakak yang menjadi tempat curhatku diserang penyakit yang sangat ditaku banyak orang. Melihat kondisi tubuhnya kerap aku didesak para tetangga, supaya mengaku kalau kakakku terkena Aids. Malu dan tertekan tapi aku tutupi keadaan yang sebenarnya sampai maut menjemput kakakku pulang ke asalnya. Kasih Tuhan dak pernah berubah. Dalam keadaan ha hancur aku dapat tawaran bekerja di luar kota. Kesempatan itu dak kusia-siakan. Sayangnya, di kota itu aku jatuh lagi dalam lumpur dosa yang sama. “Tuhan tolong aku!” jeritku yang minta dipulihkan. Seiring bergulirnya waktu disertai usaha, hidupku perlahan-lahan berubah. Pekerjaan sebagai Baby Si er yang mewajibkanku mengantar anak-anak ke sebuah sekolah Taman KanakKanak yang mayoritas muridnya Kristen membawa berkat buat aku. Se ap menyaksikan anak-anak kecil diajar berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, aku merasa sukacita. Ingin rasanya bergabung namun itu dak mungkin. Tanpa setahuku, ternyata seorang gurumemperha kan gerak-gerikku, se ap kali menyaksikan anak-anak kegiatan praise and worship. Ia kemudian berbincang-bincang denganku dan mengajak ke gereja bersamanya hari minggu. Thanks God, kesempatan memuji dan menyembah Tuhan datang juga. Aku sangat antusias, tapi majikanku yang seorang budha, marah dan keberatan jika aku beribadah. Sebetulnya majikanku sangat menyayangiku, tetapi aku memilih berhen bekerja karena masalah ibadah Lord Heal Me terus dipersoalkan. Tuhan menjadi pilihanku karena Dia segalanya bagiku. Beruntung Tuhan mengirimkan malaikat penolong . Guru tersebut menampungku nggal dirumahnya selama belum mendapatkan pekerjaan baru. Keluarganya memperlakukanku seper anak mereka sendiri. Bukan hanya kebutuhan jasmani yang mereka penuhi, aku juga dituntun untuk hidup lebih dekat kepada Tuhan. Perasaan diterima yang selama ini belum pernah aku rasakan. Segala pujian dan kemuliaan hanya bagi Tuhan. Setelah mengenal jalan kebenaran yang hanya ada di dalam Yesus, hidupku dipulihkan. Tuhan melepaskanku dari kehidupan yang kelam. Ia menyembuhkan dan memulihkanku! Tanpa menunggu terlalu lama, setelah menerima pengajaran, aku menyerahkan diri untuk dibaptis. Aku juga segera mengakhiri hubungan dengan teman-teman yang menyeretku dalam lembah kelam. Memang ada saja cara mereka untuk bisa kontak denganku. Mereka pun selalu berusaha mempengaruhiku, tetapi Iblis dak berhak lagi atas hidupku. Kesempatan berbicara dengan mereka melalui telepon, menjadi kesempatan untuk bersaksi dan memberitakan Injil. Aku nyatakan pada mereka jika kini aku bukan aku yang dulu lagi. Aku pun coba yakinkan mereka bahwa mereka bisa sembuh, asalkan ada keinginan dari mereka untuk bertobat dan dijamah oleh Tuhan. Meski firman yang aku sampaikan belum menghasilkan buah, aku yakin itu dak sia-sia. Sekarang aku mendapatkan pekerjaan yang baru dan, hidupku dikelilingi oleh orang-orang yang bergaul dekat dengan Tuhan. Mereka mengasihiku dengan sangat tulus dan terus menopangku dalam iman. Aku pun sangat bersyukur bisa mengampuni keluargaku dan bahkan hubunganku dengan mereka sudah membaik. Kerinduan terbesarku sekarang, bisa menginjili dan membawa teman-temanku datang pada Tuhan untuk mengalami pemulihan. Aku sangat terbeban karena tidak sedikit orang yang mengalami kehidupan seper ini. Praise the Lord, terangMu menyinari hidupku dan Kau angkat hidupku dari kekelaman. Ana-Kalbar 5 Lord Heal Me Yesaya 60:1-22 Matahari Abadi “Bagimu akan ada matahari yang tidak pernah terbenam… sebab Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu, dan hari-hari perkabunganmu akan berakhir” (Yesaya 60:20) 6 kankah masyarakat menerima kehadiranku nan setelah masa hukuman berakhir? Masihkah saya diberi kesempatan berkarya melakukan sesuatu yang berguna bagi banyak orang?” Ada ketakutan akan sebuah penerimaan karena mengingat masa lalu yang kelam. Inilah jeritan ha seorang nara pidana yang dituangkannya dalam sebuah surat konseling. Ia menyatakan sangat bersyukur karena setelah sekian lama di penjara, bisa bertemu Yesus dan mengalami lawatan melalui sebuah buku renungan yang dibagikan oleh petugas tahanan (sipir). Tetapi sebuah keraguan menyeruak dari ha nya dan mengusik hidup lelaki itu berkenaan dengan masa lalu. Ia kua r mengingat masa lalunya. Ketakutan serupa kadang muncul dalam diri kita, tatkala menyadari kita pernah melakukan kesalahan yang mungkin merugikan banyak orang. Kita sudah bertobat dan dipulihkan dari dosa masa lalu, tapi nama yang tercoreng dan kesalahan yang pernah kita lakukan membuat kita berkecil ha menghadapi hari depan. Akankah kita diterima? Masih bisakah orang mempercayai kita? Sejuta pertanyaan mengusik ha kita bila mengingat apa yang sudah terjadi. Kesalahan dan semua dosa yang kita lakukan akan menghalangi kita melihat hari depan. Tapi suatu hal yang sangat pas , jika pertobatan dan pemulihan sudah kita alami, percayalah bahwa Tuhan pun akan memulihkan mereka yang pernah dirugikan maupun terluka oleh kita. Ke ka itu terjadi mereka dapat menerima kita kembali dan kita beroleh lagi kesempatan melakukan hal-hal yang baik serta berguna bagi banyak orang. Tuhan adalah matahari yang menerangi dan pemberi kehangatan bagi manusia. Kalau Tuhan menerangi hidup kita sehingga bisa berjalan dalam kebenaran juga menemukan kedamaian, itu berar Ia dapat pula menerangi dan memberikan ha yang berdamai terhadap orang lain. Dia matahari abadi, yang takkan pernah berhen menerangi dan memberi kehangatan pada kita. Gan lah rasa takut dengan keberanian untuk menapak masa depan sebab Tuhan Maha Pemulih manusia. (sye) A Rabu, 1 Oktober 2008 Tuhan sanggup menerangi semua ha yang gelap, dan kehangatan kasihNya akan menumbuhkan perdamaikan. Mazmur 103:1-22 Pengharapan Dalam Kegelapan ”Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mazmur 103:12) alam perbincangan dengan seorang pemuda, ia menceritakan gejolak yang ada dalam dirinya, dimana hal itu membuatnya sangat tertekan. Tekanan yang berat sebab keterikatannya dengan sebuah hubungan yang sangat dak berkenan di hadapan Tuhan. Ya, Sebetulnya ia ingin lepas dari belenggu itu, hanya saja dirinya dak sanggup melihat ’pasangannya’ melukai dirinya sendiri, jika tidak diperhatikan dan terlebih lagi bila hubungan tersebut di akhiri. ”Apakah Tuhan akan mengampuni saya? Bisakah saya lepas dari kehidupan yang kelam ini?” Ada keinginan yang sangat kuat untuk terlepas dari dunia kelam tersebut, namun dirinya sangsi terhadap kasih Tuhan dan takut dengan berbagai kemungkinan yang bakal terjadi jika ia meninggalkan ’dunia’ tersebut. Setelah sharing dan berdoa, akhirnya pemuda tersebut memutuskan nggalkan kehidupannya yang lama. Segala ketakutannya pun dak terjadi dan lebih dasyat lagi sampai sekarang ia mendedikasikan seluruh hidupnya melayani pekerjaan Tuhan dan ’pasangannya’ jua dipulihkan. Tuhan dasyat!!! Kesalahan besar yang seringkali membuat kita dak bisa lepas dari cengkeraman iblis adalah meratapi nasib, menyalahkan diri sendiri dan dak ada usaha untuk bangkit. Tak pelak lagi hidup kita terkungkung dalam lingkaran setan dan tekan demi tekanan terus mewarnai hari-hari kita. Padahal Tuhan yang Maha Dasyat, Dia sangat bisa membebaskan hidup kita. Persoalannya, kita dak memiliki lagi pengharapan. Saudara, apapun kondisi kita, seberapa dalam pun kita telah jatuh, kasih Tuhan dak pernah berkesudahan dalam hidup kita. Ia sanggup membebaskan kita dari berbagai keterikatan dan memulihkan kembali hidup kita. Tuhan sanggup, Tuhan bisa... ”Sekalipun dosamu merah seper kirmizi, akan menjadi pu h seper salju; sekalipun berwarna merah seper kain kesumba, akan menjadi pu h seper bulu domba” (Yesaya 1:18). Tuhan akan membebaskan dan memberikan hidup yang baru, asalkan kita punya pengharapan dan keinginan untuk bangkit dari keterpurukan. Saudara jangan putus asa lagi. Don’t give up man! (ly) D 7 Kamis, 2 Oktober 2008 Kasih Tuhan tak terpudarkan oleh dosa, karena Ia datang ke dalam dunia karena kasihNya bagi yang berdosa. Kejadian 45:1-28 Ketika Hati Tak Tercemari ”... karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahuluimu.” (Kejadian 45:5) iapa yang dak sedih, marah atau dendam jika secara sengaja dipisahkan dari orang-orang yang sangat dikasihi? Apalagi hal itu membuat kita kehilangan tempat berlindung. Pada umumnya dak semua orang bisa berbesar ha menghadapi fakta seper ini. Manusiawi pula bila kita bersikap demikian, walau Firman Tuhan dak membenarkannya. Namun reaksi yang luar biasa ditunjukkan oleh salah satu tokoh dalam Alkitab. Yusuf anak Yakub. Yusuf merupakan anak yang sangat dikasihi ayahnya. Perhatian yang diterimanya pun jauh berbeda dengan saudara-saudaranya. Tentu ini menimbulkan kecemburuan saudara-saudaranya. Hingga suatu kali tragedi memilukan menimpa dirinya. Niat baik untuk melihat keadaan saudara-saudaranya yang menggembalakan kambing dan domba berujung malapetaka. Kecemburuan yang membara telah mendorong kakak-kakaknya menceburkan Yusuf dalam sebuah sumur dan kemudian menjualnya pada saudagar Midian. Malang tak dapat dihindarkan, saudara yang seharusnya melindunginya justru mencelakainya. Mulai hari itu Yusuf kehilangan tempat berlindung, hidup terasing dan jauh pula dari rasa aman. Tapi ending kisah hidupnya luar biasa. Tidak ada sedikit pun dendam dalam ha Yusuf terhadap saudarasaudaranya, meski ulah mereka sempat membuatnya ’mencicipi’ hidup di penjara. Saat Tuhan mengangkat hidupnya menjadi seorang penguasa, Yusuf justru menjadi jawaban dan sumber pertolongan atas masalah yang mengancam kelangsungan hidup keluarganya. Andaikan saja dendam membara di ha Yusuf, tentu saja moment tersebut dijadikannya ajang balas dendam. Ha yang dipulihkan akan menjadi sumber aliran kasih. Mengasihi orang-orang yang membuat kita berada dalam kesulitan tak mudah. Jangankan mengasihi, mengampuni pun rasanya berat. Tapi jika kita menyerahkan ha kita yang ’sakit’ itu kepada Tuhan, Ia akan membersihkan dan menyembuhkan ha kita sehingga dari ha itu kasih terus mengalir dalam hidup kita. Sakit ha dak pernah menyelesaikan masalah. (ly) 8 S Jumat, 3 Oktober 2008 Ha yang tak tercemari akan mengalirkan kasih yang murni, yang dak ternodai oleh hal apapun juga.” Ulangan 23:1-43 Nama-Nya Cemburuan ”Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu” (Ulangan 23:1-43) S ebuah radio Kristen dalam suatu acara memberi kesempatan pada para pendengar untuk berinteraksi langsung. dengan nara sumber. Seorang ibu pun melontarkan pertanyaan demikian, ”Sebagai orang percaya, boleh dak saya masih mempercayai hal-hal yang lain? Yang pen ngkan saya tetap taat beribadah?” Mungkin bagi kita ini pertanyaan yang sangat kekanakkanakkan, tetapi kita dak bisa tutup mata terhadap realita ini. Hingga hari ini masih banyak orang percaya yang belum mengambil keputusan tegas untuk beriman hanya kepada Tuhan Yesus Kristus saja. Bahkan mereka yang sudah terlibat ak f dalam pelayanan pun tak luput dari masalah ini. Pada moment tertentu masih nyekar ke pemakaman sanak famili sambil mempersembahkan sesuatu. Saat menghadapi masalah yang berat, pergi ke kuburan meratap dan mengadu pada nisan yang sama sekali dak ada penghiburan di sana. Mempercayai mitos dan hal-hal mis k. Saudara ketahuilah, sikap dan perbuatan demikian menunjukan kalau kita masih terikat pada kehidupan dan tradisi lama. Di dalam Tuhan kita harus mengalami pembaharuan iman yang radikal. Tuhan Yesus yang kepadaNya kita beriman adalah Allah yang dak mau diduakan. Firman Tuhan pun secara gamblang menyatakan bahwa Dia Allah yang cemburu! Sebagaimana kita dak ingin diduakan, demikian pula dengan Tuhan kita. Ke ka kita mendua dalam iman dan Tuhan merasa cemburu, maka murkaNya akan bangkit. Tak urung lagi berbagai hal buruk akan menimpa hidup kita. Mendua ha dak akan membuat hidup kita tenang, melainkan menjauhkan kita dari berkat-berkat Tuhan. Olehnya bila hari ini masih ada dari kita yang belum membereskan hubungan kita dengan hal-hal yang berbau mis k dan mitos, kita harus segera membereskannya. Perha kan dan teladanilah kehidupan Bangsa Israel. Ke ka bangsa yang terkenal tegar tengkuk ini membenahi kembali beribadatan mereka dan berkomitmen hanya akan beribadah kepada Tuhan Allah, mereka pun pada akhirnya melihat perkara-perkara yang dasyat. Saudara, alamilah pembaharuan dalam iman senan asa! (sye) 9 Sabtu, 4 Oktober 2008 Tidak seorang pun dapat meredam kemarahan Tuhan, tatkala murkaNya bangkit karena cemburu pada umatNya.” Yohanes 5:1-18 Tak Terbatas KuasaMu ‘”Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib supaya... Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24) 10 S akit, sakit... dan sakit... itulah yang dirasakan oleh seseorang yang terbaring dak berdaya. Tiga puluh delapan tahun bukan waktu yang singkat baginya menahan penderitaan akibat penyakit yang menggerogo nya. Akan adakah keajaiban terjadi dalam hidupnya, sementara dalam waktu yang cukup lama itu dak seorang pun yang memerdulikan hidupnya? Namun suatu ke ka suara yang lembut datang menyapanya. ”Maukah engkau sembuh?” Dengan putus asa orang itu kira-kira berkata demikian, ”Mungkinkah itu terjadi? Bukankah selama ini tidak ada yang mau menolongku untuk bisa mengalami kesembuhan? Tetapi dengan lembut orang itu berkata, ”Bangunlah, angkat lammu dan berjalanlah.” Orang itu pun berbuat seper yang diperintahkan kepadanya dan sungguh dasyat! ”Aku sembuh... aku sembuh...” Ia pun melompat kegirangan. Ia dipulihkan dari segala sakit yang telah membuatnya dak berdaya selama ini . Beberapa waktu kemudian orang itu berjumpa dengan Sang Tabib yang ajaib itu di Bait Allah. Dalam perjumpaan tersebut, hanya satu kalimat yang terlontar dari Sang Penyembuh. ”Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk lagi.” Saudara, apabila saat-saat ini kita dak berdaya oleh suatu penyakit, apapun penyakit yang kita alami jangan putus asa. Percayalah, sebagaimana Yesus sanggup menyembuhkan orang yang sudah ga puluh delapan tahun menderita sakit, Dia juga akan melakukan hal serupa pada kita. Jangan tawar ha meski orang lain seolah dak peduli dan dak mengusahakan kesembuhanmu. Yakinlah ada satu pribadi yang pas bakal memulihkan kesehatanmu seper sediakala. Yesus ada untuk menyembuhkanmu. Dia ada untuk memulihkanmu. Oleh bilur-bilurNya kesembuhan terjadi. Bangkitkan imanmu dan utarakan keinginanmu untuk sembuh kepada Yesus. KuasaNya dak dibatasi oleh ruang dan waktu, juga dak oleh situasi. Dan jikalau Ia sudah memulihkan hidupmu, bersyukurlah dan jangan berbuat dosa lagi, sebab dosa merupakan salah satu sumber sakit penyakit. Tak terbatas kuasa Tuhan, pemulihku! (sye) Minggu, 5 Oktober 2008 Jika Yesus rela memberikan nyawaNya untuk kita, apalah ar nya sebuah penyakit di hadapanNya? Yohanes 15:1-17 Dipulihkan Untuk Berbuah “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akukah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu pergi dan menghasilkan buah,...” (Yohanes 15:16) erupakan suatu kebanggaan kalau Tuhan memilih serta menetapkan kita menjadi anak-anakNya. Terlebih lagi bila kita dapat dipakai menjadi rekan sekerjaNya. Tuhan memanggil kita dengan maksud dan tujuan yang mulia, yakni agar hidup kita dipulihkan untuk menjadi berkat dan memuliakan Dia. Apabila kita sudah menjadi ciptaan baru, berar mau dak mau kita harus rela menanggalkan se ap karakter dan cara hidup yang lama. Orang kristen yang telah dibaharui pun harus meresponi panggilan Tuhan, dengan hidup mengeluarkan buah yang membawa dampak bagi orang lain. Mempunyai sifat-sifat dan ngkah laku seturut dengan kehendak Tuhan. Ada dua ciri orang yang sudah mengalami pembaharuan dan hidup dalam panggilan Tuhan. Pertama, menghasilkan buah pertobatan (Ma us 3:8, 2 Korintus 6:4-10). Perha kan saja ke ka pertobatan yang luar biasa terjadi dalam diri Paulus. Buah pertobatannya sangat nampak dalam pelayanannya bagi Kerajaan Allah. Berbeda sebelum bertobat, ia hidup untuk diri sendiri. Bercermin dari pertobatan Paulus, bagaimana dengan pertobatan dan panggilan Tuhan atas kita? Sudah berapa lamakah kita sungguh-sungguh bertobat dan memenuhi panggilanNya? Apakah kita sudah menghasilkan buah pertobatan melalui adanya perubahan karakter dan ngkah laku? Perubahan hidup yang nyata dan sesuai dengan kehendak Tuhan, itulah yang menjadi buah saudara untuk Tuhan. Kedua, dipenuhi dengan buah Roh Kudus (Gala a 5:22). Jika sudah bertobat dan hidup baru, berar kita adalah milik Kristus yang dak hidup lagi dalam kedagingan, melainkan hidup dalam Roh dan dipenuhi Roh Kudus. Sudah seharusnya buah Roh Kudus tercermin dalam kita. Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kese aan, kelemahlembutan dan penguasaan diri harus mewarnai kehidupan kehidupan pelayanan kita. Nah, sudahkah hidup kita menunjukkan buah-buah yang demikian? Saudara, kita dipanggil untuk mengalami pembaharuan hidup dan berbuah? Mari, hargai pemulihan yang Tuhan sudah kerjakan dan responi panggilanNya dengan memberi buah yang terbaik. (ee) M 11 Senin, 6 Oktober 2008 Pertobatan seseorang akan terlihat ke ka hidupnya benar-benar berubah dan menghasilkan buah. Ayub 1:1-5 Sebuah Ibadah Keluarga “... bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, ... Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” (Ayub 1:5) 12 langkah bahagianya sebuah keluarga yang sudah dipulihkan Tuhan. Berkat rohani dan jasmani pas nya akan mewarnai kehidupan kita. Sayangnya, disaat keluarga kita dipulihkan, kadang masing-masing anggota keluarga melupakan persekutuan dengan Tuhan. Dulunya karena sedang dalam pergumulan kita selalu rajin berkumpul untuk berdoa bersama, tetapi setelah menikma berkat Tuhan ibadah dalam keluarga terhen . Bacaan hari ini mengisahkan tentang keluarga Ayub, seorang yang kaya lagi saleh. Sekalipun Ayub dan keluarganya diberka secara melimpah, namun Ayub dak menjadi seorang kepala keluarga yang egois dan melupakan Tuhan, sang pemberi berkat. Ia dak berdoa seorang diri melainkan mengajak seisi rumahnya, isteri dan anak-anaknya se ap pagi untuk berkumpul bersama buat mempersembahkan korban bakaran. Ayub senan asa mengadakan kebak an bagi keluarganya. Memang terbilang sulit menemukan orang seper Ayub, kaya tetapi juga sangat rohani, dimana senan asa mengutamakan Tuhan dengan menerapkan ibadah keluarga. Sekarang ini, banyak keluarga-keluarga kristen yang dak lagi memiliki persekutuan bersama dalam keluarga. Kesibukan masing-masing, entah sebagai seorang suami yang sibuk dengan urusan di kantor, ibu rumah tangga mengurus keluarga, dan anak-anak di sekolah, membuat waktu tersita atau kelelahan sehingga dak ada waktu lagi untuk bersekutu bersama dengan Tuhan. Yang pen ng sudah ke gereja hari Minggu atau ikut persekutuan, itu sudah cukup. Saudara, marilah kita meneladani cara hidup Ayub yang selalu memelihara ibadah dalam keluarganya. Dekatkan keluarga kita kepada Tuhan melalui ibadah bersama dalam keluarga. Bila mungkin saat ini keluarga kita mengalami persoalan berat, sedang bergumul untuk suami, isteri, anak-anak atau masa depan keluarga. Sudah bertahun-tahun kita merindukan sebuah keluarga yang dipulihkan. Tak ada cara lain! Bawa keluarga kita pada Tuhan. Pegang janji firmanNya pada kita,”Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Ma us 6:33). (ee) A Selasa, 7 Oktober 2008 Pemulihan keluarga pas terjadi ke ka tercipta keseha an dalam kelurga untuk melakukan ibadah keluarga. Ma us 5:13-16 Stop Kebiasaan Korupsi! ”Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16 S ebuah keluarga yang terkenal sangat kaya di kampungnya. Lasimnya orang berduit, rumahnya elite dan komplit dengan peralatan yang mewah. Belum lagi terhitung tanahnya yang bertebaran di mana-mana. Bolak-balik ke Jakarta pun hal yang biasa dilakukan. Keberadaan dan gaya hidup keluarga ini cukup disoro masyarakat. Terlebih lagi sifat pandang bulu dan kesombongan yang kental dalam diri mereka. Ternyata keadaan yang demikian menarik perha an tersebut dak bertahan lama. Tidak berapa lama kemudian salah satu pejabat negara itu harus meringkuk dalam penjara karena terbuk korupsi. Alhasil peris wa ini ikut mengubah gaya hidup keluarganya karena kekayaan telah disita. Keadaan mereka pun dak hanya menjadi buah bibir, tapi banyak orang yang mencibir mengingat sikap mereka beberapa waktu lalu saat masih berjaya. Kasus tersebut merupakan warning bagi kita supaya berhati-hati terhadap sebuah pekerjaan yang Tuhan sudah percayakan. Di luar sana masih banyak orang yang sulit mendapatkan pekerjaan dan hidup melarat, karena dak memiliki pekerjaan atau penghasilan tetap. Bukan itu saja! Sebagai pekerja Kristen, hidup dan cara kerja kita pun menjadi sorotan. Bagaimana pun Injil yang kita jadikan dasar hidup mengajarkan kita untuk menjadi terang dan garam di mana saja kita berada. Termasuk juga di tempat dimana Tuhan sudah menetapkan kita untuk bekerja. Bukan cerita baru lagi kalau kita mendengar justru orang percaya dak menjadi terang di dunia kerja karena faktor korupsi. Korupsi ini pun dak hanya berbicara tentang penggelapan uang, tetapi juga jam-jam kerja yang disalahgunakan. Misalnya, menggunakan jam-jam kerja untuk sesuatu yang dak berkaitan dengan urusan kantor, datang terlambat atau pulang cepat, bermain game pada jam kerja. In nya, dak menggunakan waktu bekerja yang ada dengan bekerja maksimal untuk kepen ngan perusahaan. Bertobat dan berubahlah dari kebiasaan korupsi apapun bentuknya karena terlalu beresiko. Lagipula Tuhan memanggil kita untuk menjadi terang dalam dunia kerja. Bagaimana dengan Anda? (ly) 13 Rabu, 8 Oktober 2008 Se ap apa pun yang kita ambil atau gunakan, yang bukan hak kita akan membawa kita pada penghakiman Tuhan. Efesus 4:1-16 Kesenjangan Dalam Gereja ”... memberikan baik rasul-rasul maupun... untuk memperlengkapi orangorang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.” (Efesus 4:12) 14 ilih kasih masih kerap terjadi dalam lingkungan kerja. Perha kan saja kadang seorang pemimpin memberi perha an pada orang-orang tertentu, bukan karena prestasi melainkan penilaian subyek f, misalnya kesukuan. Tak heran lagi kalau dalam sebuah perusahaan atau lembaga kerja, yang menduduki posisi tertentu adalah suka tertentu. Ini pulalah yang pada akhirnya memicu mbulnya kesenjangan dan berujung konflik. Tragisnya, kondisi seper ini dak hanya terjadi dalam lingkungan kerja, tetapi juga dalam lingkup pelayanan. Perha kan saja, berapa banyak gereja yang pelayanannya dimonopoli oleh sekelompok orang atau suku tertentu, meski pelayanan tersebut dak sesuai potensi dan talenta yang dikaruniakan Tuhan? Rekan seiman, jika kesempatan untuk melayani diberikan karena faktor suku, ini sangat mempriha nkan. Banyak dampak buruk bakal menimpa gereja. Bukan hanya kesenjangan dalam pelayanan, tapi perpecahan karena ada orang-orang yang merasa ’terbuang’ takkan terhindari. Para pemimpin gereja dan semua yang berkompeten dalam menentukan kebijakan dalam pelayanan harus menyadari hal ini sebelum segala sesuatunya hancur. Ingat, di jaman anugerah ini Tuhan tidak pernah menetapkan suku atau ras tertentu yang boleh terlibat dalam pelayanan. Semua orang punya kesempatan yang sama untuk terjun dalam pelayanan. Olehnya masingmasing kita sudah diperlengkapi Tuhan dengan berbagai talenta dan karunia secara khusus, supaya dapat menjalankan fungsinya dalam gereja walau hanya sebagai pendoa guna mempermuliakan nama Tuhan. Apabila dalam gereja masih ada ’pengkotakan’ dalam pelayanan, sebagai orang yang punya otoritas menentukan kebijakan, kita harus segera bertobat. Muka mata lebar-lebar dan perha kan potensi yang ada dalam diri se ap orang yang ada dalam komunitas gereja. Berilah kesempatan kepada tubuh Kristus lainnya untuk terlibat dalam pelayanan, karena mereka punya talenta untuk bidangnya sehingga layak melakukan sebuah pelayanan. Dengan demikian gereja akan mengalami pembaharuan dalam pelayanan sesuai dengan yang Tuhan mau. Rangkul kembali mereka yang terluka!(ly) P Kamis, 9 Oktober 2008 Keutuhan sebuah pelayanan tercipta jika masing-masing orang berfungsi sesui potensi yang ada dalam dirinya. Lukas 15:11-32 Selalu Ada Kesempatan ‘Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan bertobat akan disayangi’ (Amsal 28:13) S eorang pemuda berasal dari keluarga kaya. Ironisnya keadaan tersebut ternyata dak membuatnya betah di rumah. Suatu ke ka ia menghadap ayahnya untuk mohon restu sekaligus meminta supaya jatah warisan yang menjadi haknya diberikan saat itu, sehubungan dengan keinginannya pergi jauh. Meski sedih atas keputusan anaknya, ia mengabulkan permintaan tersebut. Bagaimana pun juga sebagai orangtua tentu saja tak ingin anaknya menderita karena dak punya bekal untuk hidup dalam perantauan. Sungguh di luar dugaan! Harta pemberian bapanya habis untuk hidup berfoya-foya dan guna menuru segala keinginan daging. Suatu saat karena keadaannya sangat mengenaskan, dimana untuk makan saja dak bisa lagi, pemuda itu memutuskan kembali pada keluarganya. Ia pun siap menerima berbagai konsekuensi karena perbuatannya. Dalam benaknya, jadi pembantu pada keluarga sendiri dak masalah, yang pen ng bisa melanjutkan hidup. Keberanian inilah yang membuat ia berani melangkah pulang. Apa yang terjadi kemudian? Tak terpikir olehnya kalau sikap dan ndakannya yang dak menghargai pemberian orangtua dan sempat mencoreng muka keluarga lewat cara hidupnya beberapa waktu lalu, ternyata dak menutup pintu ha sang ayah. Terlebih lagi ia mau mengakui kesalahannya dan bertobat. Kekecewaan dan kemarahan bapa jadi bergan kasih dan perha an. Pemuda itu bisa hidup bahagia kembali bersama keluarganya. Kisah anak yang terhilang ini menunjukkan kepada kita bahwa kesadaran untuk mengakui kesalahan dan bertobat, akan membawa pemulihan dalam hidup kita. Pemulihan hubungan dengan orang-orang yang pernah kita kecewakan dan lukai, juga pemulihan hidup secara pribadi. Tuhan selalu memberi kesempatan bagi kita buat kembali mengecap hari-hari baik, asalkan ada keinginan dari kita untuk meninggalkan cara hidup yang dak benar, mengakui kesalahan, membereskannya dan bertobat. Adakah hari ini hidup Saudara sedang hancur? Tuhan memberi kesempatan untuk mengalami pemulihan. Hanya saja yang perlu kita lakukan, adakan pemberesan dengan Tuhan terlebih dahulu. (ly) 15 Jumat, 10 Oktober 2008 Kesempatan untuk dipulihkan selalu ada, tetapi dak terjadi dengan sendirinya melainkan ada usaha mewujudkannya. Ibrani 13:1-16 Hidup Dalam Ucapan Syukur “…senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya.” (Ibrani 13:15). ersyukur. Tidak semua orang bisa mempraktekkan hal ini saat hidupnya sedang mengalami persoalan. Tapi kalau kita sudah sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan, pas kita mudah melakukannya. Kita dapat menyatakan rasa ucapan syukur kita melalui doa, puji-pujian, atau dalam bentuk memberikan persembahan. Firman Tuhan hari ini mengatakan agar kita senan asa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, melalui ucapan bibir yang memuliakan namaNya. Kita diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk mewujudkan rasa syukur kita kepadaNya. Rasa syukur pun bisa dengan cara dak hidup bersungutsungut, tapi bersyukur dalam segala keadaan. Orang yang mengalami pemulihan secara otoma s hidup mengucap syukur se ap hari, sebab bersyukur pun termasuk buk perubahan hidup seseorang. Mereka yang belum dipulihkan seutuhnya dapat dilihat melalui caranya meresponi sesuatu. Bersungut-sungut dan suka berbantah-bantah saat menghadapi hal-hal yang dak berkenan diha nya. Orang-orang seper ini biasanya berkata , “Mana bisa bersyukur dalam keadaan susah begini?” Padahal dalih mereka ini yang justru membuat mereka semakin dak pernah mau bersyukur. Adalah kehendak Tuhan bahwa dalam hidup ini kita harus senan asa bersyukur kepadaNya (1 Tesalonika 5:18). Belajarlah untuk selalu bersyukur atas segala yang terjadi dalam kehidupan ini, kenda pun persoalan yang kita alami sangat berat. Bersyukur dikala kita memperoleh harta, jabatan dan segala bentuk kesuksesan lainnya itu hal yang wajar. Tapi ke ka kita kecewa, mengalami pencobaan, penderitaan, kita lebih banyak bersungut daripada bersyukur itu tetap dak wajar. Hanya orang-orang Kristen yang membuka diri untuk dipulihkan Tuhan dan lalu mengasihi Tuhan dengan benar, yang sanggup bersyukur dalam situasi apa pun juga. Jadi, untuk mengukur apakah kehidupan seorang pengikut Tuhan benar-benar berubah, salah satunya nggal dilihat apakah dirinya senan asa bersyukur meski dalam situasi yang dak disukai. Nah, apakah kita sudah memiliki gaya hidup bersyukur? (ee) 16 B Sabtu, 11 Oktober 2008 Hidup yang dipulihkan salah satunya dapat dilihat melalui adanya gaya hidup yang senan asa bersyukur. 1 Korintus 13:1-13 Kasih Harus Dikomunikasikan ”Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” (Matius 18:15) asih dak selamanya mengalir sesuai keinginan kita. Ada kalanya kita dak dapat merasakan kasih ‘mengalir’ dengan maksimal. Ini bisa disebabkan karena dak bisa mengekpresikannya atau cara mengekpresikan nya dak tepat. Kalau keadaan demikian dibiarkan, persoalan demi persoalan pun bakal mbul dalam rumah tangga atau keluarga. Ester seorang wanita ceria, tapi setelah sekian lama membina rumah tangga, keceriaannya memudar. Ada sesuatu yang disembunyikannya dibalik jawaban ’baik-baik saja’, ap kali ada yang bertanya tentang rumah tangganya. Se ap kali ia berkata baik, se ap kali itu pula matanya berkacakaca. Rupanya dibalik kondisi rumah tangga yang kelihatan adem-ayem, ternyata sering terjadi perang dingin dan ’puasa bicara’ antara ia dan suami. Meski suaminya sangat sering membelikan barang-barang berharga, mata Ester selalu ‘berbicara’ kalau dirinya terluka. Ia terluka oleh kebiasaan suaminya pulang malam dengan berbagai alasan. Keadaan semakin rumit karena Ester tak pernah membicarakan isi ha nya pada suami, karena tak mau terkesan bawel atau mengekang. Rekan seiman, keutuhan sebuah keluarga sangat ditentukan oleh kasih dari se ap anggota keluarga. Entah itu kasih terhadap pasangan hidup, orang-tua, anak ataupun saudara. Sangat disayangkan, dak semua orang mampu mengekspresikan kasihnya dengan cara yang tepat. Begitu pula ke ka keadaan seper ini terjadi, dak semua kita yang bisa berterus terang dalam menyelesaikan persoalannya. Tak ayal lagi hal itu berdampak pada keharmonisan dan keutuhan keluarga. Yesus mengajarkan kita agar bersatu dan seha sepikir dalam hidup bersama. Namun bisakah itu tercipta sementara kita dak memiliki konsep yang sama tentang kasih lantaran tak pernah membicarakannya? Disinilah peran penting komunikasi dan keterbukaan. Hal-hal yang berpotensi meretakkan kasih dalam keluarga, dapat dicarikan solusi jika kita mau membicarakannya. Belajarlah untuk terbuka agar segala kendala yang menghancurkan kebahagiaan keluarga kita dapat teratasi. (sye) K 17 Minggu, 12 Oktober 2008 Komunikasi dan keterbukaan akan membuat kasih seorang akan yang lain dalam keluarga, semakin hangat. Ibrani 12:1-17 Tuhan Ingin Keintiman ”Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yangdiakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:6) 18 S aya termasuk seorang workacholik. Apabila kondisi tubuh masih memungkinkan melakukan pekerjaan, saya pasti berusaha segera menyelesaikan semua pekerjaan. Hal yang baik dan harus ada dalam se ap orang yang bekerja. Sungguh disayangkan tanpa saya sadari keadaan ini membuat saya kehilangan sesuatu yang sangat dak patut bagi umat kepunyaan Tuhan. Saking menyenangi pekerjaan itu, saya rela menghabiskan waktu sampai larut malam untuk bekerja. Lembur pun bukan masalah asalkan pekerjaan selesai. Pola kerja ini membuat saya kehilangan kein man dengan Tuhan. Waktu dan pikiran saya terfokus buat pekerjaan dan itu berlangsung cukup lama. Suatu kali perusahaan mengalami persoalan yang sangat pelik dan berimbas pada kesejahteraan karyawan. Pada awalnya saya komplain sama Tuhan karena selama ini telah se a dan jujur dalam bekerja. Namun melalui peris wa tersebut Tuhan ingatkan saya bahwa itu saja belum cukup. Ia juga minta kese aan menjaga hubungan pribadi denganNya. Oh, My God! Peris wa itu membuat saya sadar dari semua itu, bertobat dan kembali membangun hubungan dengan Tuhan secara pribadi. Pengalaman seper ini mungkin menimpa juga banyak orang. Acapkali terjadi karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, baik sebagai karyawan, pengusaha, penginjil, gembala, ibu rumah tangga dan sebagainya, hubungan dengan Tuhan pun kita korbankan. Untuk berdoa saja rasanya dak punya waktu, apalagi jika tubuh sudah sangat lelah. Berha -ha lah bila ini terjadi dalam hidup kita. Tuhan dapat mengajar kita dengan keras bila kita dak lagi mengindahkan hubungan denganNya. Bertanggung jawab atas pekerjaan itu wajib, namun bukan berar mengorbankan hubungan dengan Tuhan Hari ini, masih adakah waktu kita untuk bersekutu secara pribadi dengan Tuhan dibalik kesibukan kita bekerja? Kalau hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita, besar kemungkinan Tuhan sedang berusaha keras untuk mengingatkan kita dan Ia hendak memulihkan hubungan kita denganNya. Berilah waktu untuk bersekutu dengan Tuhan se ap hari. (ly) Senin, 13 Oktober 2008 Pekerjaan dan hubungan dengan Sang Pencipta merupakan dua hal yang akan dimintai pertanggungjawban oleh Tuhan Yesaya 1:10-20 Tidak Ada Pilihan Lain Yesaya 1:10-20 ”Belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam belalah hak anak-anak yatim...” (Yesaya 1:17) engampuni gampang-gampang susah untuk dilakukan. Tak heran lagi jika kesalahan yang dilakukan seseorang kecil, kita akan berkata demikian, ”Masak sih, persoalan sepele kayak gitu aja nggak dimaafin!.” Dan kalau se-suatu yang dilakukan kelewat batas, kalimat yang kita lontarkan berubah. ”Wajar toh, kalau dia nggak mudah mengampuni. Karena ulah orang itu penderitaan yang dialaminya sangat berat.” Seper nya mengampuni tergan-tung besar kecil kesalahan yang dilakukan oleh seseorang. Tetapi ada juga yang mengampuni, tetapi dak ada usaha untuk memulihkan kembali hubungannya dengan orang-orang yang sudah melakukan kesalahan. Kita memang dak dapat dengan mudah tutup mata atas penderitaan yang kita alami akibat perbuatan orang lain, tetapi dak ada pilihan selain mengampuni. Bagi orang percaya mengampuni merupakan hal mutlak karena selain merupakan salah satu wujud kasih, juga suatu teladan yang Tuhan berikan pada kita. Seberapa besar pun kesalahan kita, Bapa mau mengampuninya. Ia menghendaki pemulihan dan perdamaian, sebab itu melalui kema an Yesus Kristus hubungan kita dengan Bapa pulih kembali. Saudara, Tuhan mengampuni kita karena Ia mau kita melakukan hal serupa kepada orang yang bersalah kepada kita. Jangan keraskan ha tetapi belajarlah dari Yesus. Dibalik kesakitan dan kesedihan kita, Ia akan membalut dan memberi penghiburan. Namun itu dak terjadi dengan sendirinya. Kita pas sembuh dari rasa sakit jika dengan ha yang tulus kita bersedia mengampuni dan memulihkan kembali hubungan dengan sesama. Berapa pun besarnya sakit atau kerugian yang kita alami, mari belajar untuk dak sekadar mengampuni, tetapi lebih dari itu membangun kembali hubungan dengan sesama. Ini hal yang mutlak bagi kita para pengikut Kristus karena semua yang indah dan baik akan kita temukan dan rasakan, bila meneladani yang Yesus lakukan. Pemberesan bukan sekadar melupakan kesalahan seseorang, namun harus disertai i kat baik untuk membangun kembali hubungan baik. Saudara hal ini bukan merupakan sebuah pilihan melainkan perkara yang mutlak bagi kita. (rl) M 19 Selasa, 14 Oktober 2008 Mengampuni bukan perkara yang bisa ditawar-tawar dan bukan pula pilihan. Mengampuni merupakan sebuah kewajiban. 1 Korintus 3:1-9 Fakta Tentang Iri hati ‘Iri hatilah yang membuat kita tidak bisa melihat kemajuan seseorang bahkan penjadi perintang untuk maju. 20 alah satu maksud Paulus menuliskan surat kepada jemaat di Roma adalah untuk mengingatkan orang-orang percaya, supaya memenuhi tuntutantuntutan Tuhan dalam hidup sebagai pengikut Kristus. Salah satu tuntutan tersebut mengenai iri ha . Itu merupakan aspek yang pen ng untuk diperingatkan kembali karena dak sedikit orang hidupnya masih diwarnai roh iri ha . Joshua, terbilang sukses. Berbicara tentang karir, dirinya punya posisi pen ng dalam perusahaan. Menyoal persahabatan, ia punya banyak teman dan mereka cukup menghorma nya. Dalam pelayanan pun Joshua punya peran pen ng dalam beberapa divisi. Sayangnya bukannya bersyukur dan memo vasi yang lain, malah sepak terjangnya kerap membuat orang lain dak bisa maju dan justru down. Tidak ingin tersaingi memberikan gambaran jika iri ha masih melekat erat dalam dirinya. Sontak sifat buruknya membuat satu-persatu orang mulai menjauh dan dak respek kepadanya lagi seper dulu. Beruntung kedekatannya dengan Tuhan membuat ia sadar dan segera membuang sifat dak baik itu. Hubungan dengan mereka yang sempat menjauh pun pada akhirnya pulih kembali. Jikalau iri ha masih melekat dalam diri kita, niscaya kita takut menghada-pi fakta persaingan juga dak sudi pula melihat orang lain maju. Sekalipun dak baik sifat seper ini masih bisa kita temui. Bila sifat iri ha kita pelihara dapat dipas kan kita bakal kehilangan hubungan dengan banyak orang. Selama kita dak dekat dengan Tuhan, maka kita dak peka akan adanya sifat tersebut. Tapi kedekatan dengan Tuhan membuat Roh Kudus menyatakannya dan menyadarkan kita. Disinilah pen ng punya hubungan dengan Tuhan. Dia takkan berhen mengingatkan kita mengenai tabiat ini. Saudaraku, mari kita introspeksi diri. Bila kita dak merasa bahagia menyaksikan orang lain maju atau berusaha menjadi penghalang sehingga mereka dak bisa maju, ini indikasi bahwa kedengkian masih melekat erat dalam hidup kita. Pembaharuan karakter merupakan kebutuhan kita dan itu hanya terjadi kalau kita tumbuhkan hubungan yang baru dengan Tuhan. Buang segala iri ha yang ada dalam hidup kita! (rl) S Rabu, 15 Oktober 2008 Iri ha lah yang membuat kita dak bisa melihat kemajuan seseorang bahkan penjadi perintang untuk maju. Yakobus 3:1-12 Setajam Silet ‘”Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan... sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh ...” (Yakobus 3:6) emenjak menonton film yang ru n diputar se ap tanggal 30 September, dalam rangka memperingati wafatnya para pejuang nasional yang mempertahankan asas dan dasar negara, saya trauma dengan benda yang bernama silet. Tindakan sadis menggunakan silet dalam peris wa Gerakan 30 September yang familiar dengan G30SPKI ini, membuat saya merinding bila melihat orang bermain-main dengan benda tajam kecil ini. Tak terbayangkan bagaimana perih dan sakit yang dirasakan patriot bangsa, kala silet menyobek muka dan menyayat daging mereka. Secara dak sengaja saja tangan kita tergores silet rasanya perih, apalagi bila benda itu sengaja digunakan untuk melukai. Silet benda yang kecil tetapi sangat tajam dan menimbulkan rasa sakit bila bersentuhan dengan tubuh manusia. Jadi sangat beralasan kalau salah satu tayangan infotaiment menamakan acara yang digandrungi banyak orang ini dengan ‘Silet’ yang selalu dalam penayangannya kalimat ‘setajam silet’ tak pernah ke nggalan. Ya, ketajamannya dapat dipercaya! Tahukah kita kalau disengaja atau dak, kadangkala kita sering menyaki dan melukai orang lain melalui anggota tubuh kita yang setajam silet? Lidah, panca indera yang berukuran kecil ini pun dapat menjadi ‘benda’ tajam yang mampu menyaki seseorang. Tidak kurang yang terluka bahkan kepahitan karena lidah kita ‘memproduksi’ kalimat-kalimat dak bermakna yang menyayat kalbu, menusuk dan mencabik-cabik perasaan orang lain. Mungkin kalimat yang tajam itu disampaikan dengan cara yang sedikit halus berupa sindiran tetapi ujung-ujungnya pas luka yang menyakitkan. Rekan seiman, lidah ibarat ‘benda’ kecil yang tajam dalam hidup kita, karena itu firman Tuhan mengingatkan kita untuk menjaga lidah supaya kata demi kata dan kalimat demi kalimat yang kita lontarkan dak akan melukai seseorang. Milikilah lidah yang memuliakan Tuhan, agar olehnya orang lain dapat dikuatkan dan dihibur , karena lidahorang percaya seharusnya menjadi lidah yang memulihkan. Bukan malah sebaliknya lidah yang hanya bisa melukai dan memahitkan ha sesama.(ly) S 21 Kamis, 16 Oktober 2008 Seper silet selalu menimbulkan luka dalam hidup manusia jika disalahgunakan, demikian pula lidah yang dak dijaga. Ma us 11:1-6 Menang Atas Kekecewaan “Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Matius 11:6) 22 S e ap orang pas pernah kecewa atau dikecewakan, entah dikecewakan oleh keluarga sendiri, orang lain, atau kecewa karena sesuatu hal. Malah mungkin juga kecewa pada Tuhan karena penderitaan panjang yang kita alami seolah dak diperha kan oleh Tuhan. Misalkan penyakit yang kita alami tak kunjung membaik dan sebagainya. Hal ini pernah dialami oleh Yohanes Pembap s, sewaktu ia berada dalam penjara. Saat ia mendengar pekerjaan Yesus yang penuh kuasa dan mukjizat, ia berharap Yesus akan segera datang dan membebaskannya dari penjara. Tetapi apa yang kemudian terjadi? Ia malah kecewa karena harapannya meleset. Memang dak ada kalimat secara harafiah yang menuliskan kalau Yohanes Pemba s kecewa, tetapi dari pesan yang diteruskan kepada Yesus melalui murid-muridnya, terkesan bahwa ia seakan-akan dak begitu percaya pada Yesus. Itu sebabnya ia berkata,” Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menan kan orang yang lain.” Padahal kalau kita melihat sebelumnya, terkesan kuat sekali bahwa Yohanes Pembap s mengakui keis mewaan Yesus, sehingga ia pada awalnya enggan untuk membap s Yesus (Ma us 3:14-15). Kecewa atas sesuatu yang dak tercapai sangat manusiawi, namun haruskah kekecewaan kita berlarut-larut? Memendam kekecewaan akan berdampak buruk bagi kita. Bisa membuat kita mendendam, bahkan berujung ndakan sadis seper pembunuhan kalau ha kita kepahitan. Ada pula yang nekad bunuh diri karena sudah terlalu lama menyimpan kekecewaan. Begitu halnya dengan orang yang kecewa terhadap Tuhan. Rela meninggalkan pelayanan, mundur dari gereja bahkan murtad dari iman kepada Yesus. Kekecewaan yang berkepanjangan dak akan memberi sesuatu dalam hidup kita, selain mengambil damai sejahtera dan sukacita kita. Jika sampai sekarang kita masih menyimpan kekecewaan, segera kuburkan itu. Berdoalah kepada Tuhan dan minta Ia memulihkan ha kita, sehingga kita beroleh kembali damai sejahtera dan sukacita. Kekecewaan ak akan memulihkan hidup kita, tetapi sebaliknya hanya akan merengut kebahagiaan. (ee) Jumat, 17 Oktober 2008 Kekecewaan yang dak ada akhirnya akan membelenggu dan menghancurkan hidup manusia. Ma us 6:12-14 ‘Menyehatkan’ Tubuh “Dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Efesus 4:32b) ewis Smedes, dalam bukunya yang berjudul Forgive dan Forget (ampunilah dan lupakanlah), bercerita tentang seorang suami yang dak dapat mengampuni isterinya karena ke dakjujurannya. Dia dak berminat menceraikan isterinya, tetapi hidup bersama dengan tetap menyimpan dendam. Tahun demi tahun berlalu dan selama itu tubuhnya merana di bawah tekanan jiwanya yang penuh dendam. Suatu hari malaikat Tuhan datang dan berkata kepadanya, bahwa satu-satunya cara untuk menyehatkan tubuhnya kembali adalah dengan belajar mengampuni. Kepahitan hidup terkadang demikian dalam dan menyakitkan, sehingga teramat sulit buat mengampuni. Padahal mengampuni dapat dikatakan sebagai ndakan jitu untuk membebaskan seseorang dari tuntutan karena telah melakukan kesalahan. Mengampuni berar menutupi, menyembunyikan, membuang jauh-jauh serta membebaskan seseorang dari tuntutan pembalasan. Bahkan mengampuni juga berar memohon Tuhan untuk dak menimpakan hukuman kepada mereka yang bersalah. Ketahuilah bahwa ke ka kita dak bersedia mengampuni berar kita membuka celah atau mempersiapkan jalan bagi Iblis untuk menunggangi ha kita yang keras, menuju kehancuran dan kehilangan hal-hal yang rohani. Sela-ma kita menyimpan kesalahan orang, kita akan tertekan dan sulit berdoa. Kalau pun kita berdoa, dak berkenan di hadapan Tuhan. Pen ng untuk memiliki kerendahan ha dan dak selalu merasa diri paling benar. Tuhan sudah memberikan anugerah pengampunan kepada umat manusia dan Ia selalu bersedia memberi pengampunan kepada siapa saja yang datang kepadaNya. Dengan berbuat hal serupa maka Ia pun mengampuni kita yang berdosa karena sempat dak mau mengampuni dan menggan kan jiwa yang tertekan dengan kelegaan yang bersumber dari sorga. Tanamkan selalu dalam ha bahwa selama kita dak berusaha untuk memberikan pengampunan yang seja kepada sesama, tubuh dan jiwa kita akan selalu berada dalam tekanan sebab hidup kita berada dibawa kuasa Iblis. Mau ’sembuh’? Belajarlah untuk mengampuni dengan tulus. (ee) L 23 Sabtu, 18 Oktober 2008 Pengampunan akan memberikan kelegaan, tetapi menyimpan kesalahan membuat jiwa tertekan. 1 Samuel 22:1-5 Dalam Gua Adulam ”Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran,... maka ia menjadi pemimpin mereka.” (1 Samuel 22:2) ada waktu dibakar oleh rasa cemburu dan kebencian karena prestasi Daud dalam peperangan dan pembelaan Yonatan, Saul berihktiar membunuh Daud. Pemuda yang menjadi sahabat akrabnya. Hingga suatu kali ia harus mengasingkan diri ke gua Adulam. Sekalipun dalam kesendirian, kesedihan dan ketakutan, ternyata keadaan tersebut dak membuat Daud benar-benar larut dalam persoalan. Buk nya keadaan yang buruk itu bisa dipergunakan Daud untuk melayani sesama yang juga sedang dalam kesulitan. Gua Adulam menjadi tempat Daud melayani orang-orang yang datang berkonseling kepadanya. Bayangkan saja sekitar empat ratus orang yang bermasalah berada dalam pimpinan dan bimbingannya, padahal saat itu ia sendiri sedang menghadapi masalah. Perkara yang luar biasa sudah dikerjakan Daud. Dikala masalah datang membelenggu ia dak terbelenggu, tetapi justru sebaliknya terfokus pada hidup orang-orang yang sedang terbelenggu dalam persoalan. Dalam keadaan sulit Daud memberikan ha untuk melayani dan melepaskan orang-orang dari segala perkara yang menekan mereka. Sikap yang sangat berbeda dengan cara kita bereaksi acapkali menghadapi persoalan. Tak jarang saat sedang menghadapi masalah, mood kita menjadi dak baik. Kita pun menutup diri ke ka seseorang datang untuk sekadar curhat atau hendak meminta saran atas masalah yang mereka hadapi. Kita dak bisa mengelak dari kenyataan dimana masalah kadang membuat kita terbelenggu karena hanyut di dalamnya, serta dak bersedia melayani. Entah melayani seseorang yang berada dalam kesulitan, maupun menunaikan pelayanan di gereja dan komunitas yang Tuhan sudah percayakan. Apabila ini yang terjadi dalam hidup kita, mari segera bangkit dari kesedihan, ketakutan, keterpurukan. Miliki kembali gairah untuk melayani! Tuhan ada dalam se ap persoalan kita. Ia akan memberi kekuatan dan jalan keluar, asalkan kita dak larut dalam masalah. Begitu pula, Gua Adulam kita kadang dijadikan moment oleh Tuhan untuk memakai kita menjadi ‘sumber’ pertolongan bagi orang lain. Jadi jangan menyerah, Rise and Sun! (rl) 24 P Minggu, 19 Oktober 2008 Sedang menghadapi masalah pun, Tuhan dapat memakai seseorang untuk menjadi terang dan memulihkan orang lain Mazmur 9:1-19 Sengaja Melupakan “Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara” (Mazmur 9:19) da seorang pemuda miskin yang nggal di pinggiran kota. Hidupnya berkekurangan. Pada suatu hari ia berjalan-jalan dalam kota, lalu singgah dalam pos “pelayanan masyarakat”. Lantas pemuda tersebut mengenal Kristus. Suatu hari, datanglah seorang pemuda lain dan berkata kepada pemuda miskin itu. “Kalau benar Allah mengasihi engkau, mengapa Ia dak menyuruh seseorang untuk membelikan engkau makanan dan pakaian?” Pemuda itu terdiam sebentar, kemudian dengan air mata yang mengalir ia pun berkata,” Saya rasa Allah telah mengatakan hal itu kepada seseorang, tetapi ia sengaja melupakannya.” Seringkali kita sudah diberka oleh Tuhan, tapi ada yang kita lupakan. Merekalah orang-orang miskin, orang-orang yang hidup berkekurangan. Tidak demikian dengan Tuhan sebab Ia dak pernah melupakan orang-orang miskin. Tuhan pun dak memandang hina mereka. Ia selalu mendengar doa orang-orang miskin (Mazmur 109:34). Yang sering lupa adalah kita, sudah lupa masih juga menghina keberadaan mereka! Saudara, jika Tuhan telah memulihkan keberadaan kita melalui adanya kelimpahan, sudah semes nya kita menyalurkan berkat-berkat yang kita punya itu kepada sesama. Jangan menjadikan berkat sebagai milik sediri. Miliki kesadaran bahwa berkat yang kita punya adalah berkat Tuhan. Adalah benar di mata Tuhan dan bermanfaat besar, bila berkat yang kita miliki juga dinikma oleh orang lain terutama mereka yang sangat membutuhkan. Bila kita sudah hidup cukup, maka janganlah lupakan orang-orang lain yang sama keadaannya dengan kita dahulu atau bahkan lebih susah keadaannya. Bukan waktunya lagi bagi kita menutup mata terhadap orang-orang di sekitar kita. Sekadar mendoakan mereka tak cukup tetapi miliki belas kasih untuk bersukacita bersama dengan memberi. Memberi pada mereka, sama ar nya juga memberi untuk Dia, sang pemberi berkat. Kalau hari ini ‘penyakit’ hidup bagi diri sendiri belum disembuhkan, jangan menunggu lagi. Mulailah melihat kesusahan orang lain dan belajarlah memberi, dengan begitu pas Saudara akan ‘sembuh’. (ee) A 25 Senin, 20 Oktober 2008 Jika hari ini Tuhan membuat hidup Anda bercukupan, berar Anda pun harus membuat orang lain hidup cukup. Efesus 5:14-17 Sang Pembawa Damai “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. (Matis 5:9) kibat dosa, hubungan damai antara Allah dan manusia terputus. Dan ternyata selama ribuan tahun, dak ada satu manusia pun yang mampu dan layak untuk merajut kembali perdamaian itu. Hanya Yesus Kristus yang pada akhirnya dapat melakukannya. Hasilnya, dosa kita dihapuskan, kita beroleh jalan untuk bersekutu dan diperdamaikan kembali dengan Allah. Tuhan satu-satunya sumber damai sejahtera bagi manusia. Manusia boleh saja punya apa pun di dunia ini, tapi tanpa damai sejahtera hidup kita sia-sia. Damai sejahtera merupakan salah satu buah Roh Kudus yang harus dialami oleh se ap orang percaya. Jadi perha kan hidup kita saat ini, sudahkah kita menikma kehidupan yang penuh dengan damai sejahtera? Hanya kita yang bisa menilainya! Jika sudah, hiduplah juga dalam damai se ap hari. Bila ternyata belum, carilah penyebabnya dan bereskan segera hal itu! Camkan selalu, orang percaya yang telah berdamai dengan Allah pas akan dilimpahiNya dengan damai sejahtera (Yohanes 14:27). Yang jadi pertanyaannya, ke ka kita sudah diperdamaikan dengan Allah, sudahkah kita menyalurkan damai itu kepada orang-orang di sekeliling kita? Seper nya hidup damai dengan semua orang sudah sulit diterapkan. Tak jarang orang lebih suka hidup dalam permusuhan daripada perdamaian. Tak heran karena ha kita dak memiliki kedamaian, kita menjadi orang yang emosional, lebih cepat marah, dan dak sabaran. Inilah yang kemudian jadi pemicu sebuah pertengkaran, kerusuhan dan perpecahan. Coba kalau kita menyikapi segala sesuatu dengan jalan damai, tentu dak hanya menguntungkan kita tetapi menguntungkan semua pihak. Saudara, sudahkah keberadaan kita membawa damai bagi sesama, atau malah menciptakan permusuhan serta melahirkan perpecahan terhadap orang-orang di sekeliling kita. Jika demikian, segera introspkesi hidup, mungkin kita belum berdamai dengan Tuhan sebab itu kita pun sulit berdamai dengan semua orang. Bila kita telah berdamai dengan Allah maka seharusnya hal tersebut mendorong kita untuk hidup dalam perdamaian. Alkitab berkata, berbahagialah orang yang membawa damai. (ee) 26 A Selasa, 21 Oktober 2008 Tuhan sudah memperdamaikan manusia dengan Allah, sebab itu ciptakan dan hiduplah berdamaian dengan orang lain. Kolose 3:18-25 Otoritas Bukan Otoriter ”Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.” ( Kolose 3:25) ria yang berstatus suami atau ayah dalam keluarga merupakan kepala atas sebuah keluarga. Ini adalah ketetapan Tuhan yang dak dapat diganggu gugat. Seorang laki-laki diberikan hak penuh memimpin dan berkuasa mengatur kehidupan keluarga. Bila sebuah keluarga dikendalikan oleh seorang isteri wah, itu patut dipertanyakan. Dikemanakan otoritas yang Tuhan berikan pada para pria yang adalah kepala dalam keluarga? Terkecuali Tuhan sudah mengambil kepala keluarga, pas lah isteri yang harus memegang otoritas dalam keluarga tersebut. Persoalannya sekarang, selain banyak suami yang bertekuk lutut pada isteri sampai-sampai ada sinetron bertajuk ‘suami-suami takut isteri’, ada pula suami yang mempergunakan otoritasnya sebagai kepala secara over alias berlebihan. Isteri diperlakukan tak ada bedanya dengan seorang budak. Tugas seorang pembantu saja kalah. Anak-anak dak mendapatkan kasih sayang dan perha an layaknya seorang bapak dengan anak, tetapi sebaliknya kasar dan dak peduli. Bahkan ada yang tega menyaki isteri dan anakanaknya sekiranya ada sesuatu yang dak berkenan di ha nya. Apakah sebuah otoritas berar otoriter, yang mana kita bebas melakukan sesuatu tanpa memper mbangkan dampaknya bagi orang lain terutama anggota keluarga kita? Jangan heran kalau konflik demi konflik pada akhirnya terjadi dalam keluarga. Perceraian karena pasangan hidup tak tahan lagi dengan sebuah perlakuan, anak-anak mengalami gangguan mental dan tumbuh sebagai pribadi yang tempramental. Dan mungkin saja karena kepahitan, mereka merencanakan untuk balas dendam setelah dewasa dan punya kesempatan untuk melakukan hal itu. Perha kan sikap dan ndakan kita. Apakah kita sudah mempergunakan otoritas yang Tuhan berikan sewajarnya? Atau kebencian sudah tumbuh dalam keluarga karena keotoriteran kita? Hari ini jika kebencian dan kepahitan sudah ditumbuh di ha orang-orang tercinta, segera bereskan. Berfungsilah seper yang Tuhan mau, supaya terjadi pemulihan dalam keluarga sehingga keluarga kita menjadi harmonis serta memuliakan Tuhan. (sye) P 27 Rabu, 22 Oktober 2008 Sebuah otoritas akan membangun keluarga, tetapi sikap otoriter akan menghancurkannya. Kejadian 28 Pemulihan Yakub “... sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku.” (Kejadian 28:21) akub merupakan saudara kembar Esau. Dalam hidupnya, Yakub pernah menabur suatu perbuatan buruk. Di antaranya, ia pernah berbuat curang terhadap kakaknya, sehingga Esau menjual hak kesulungannya. Ia juga meminta berkat dari ayahnya dengan cara menipu, berdusta atau mengaku bahwa ialah Esau serta menipu pamannya, Laban. Akibat takut akan kesalahan yang dibuatnya, Yakub melarikan diri. Namun sekalipun Yakub pernah melakukan hal-hal buruk, tetapi Yakub dak larut atau tenggelam dengan kesalahannya. Ia berjuang dan mengambil langkah yang tepat untuk mengakhiri penderitaan yang ia rasakan selama ini akibat perbuatannya. Yakub ingin hidupnya mengalami pemulihan. Pada waktu Yakub melarikan diri dari Esau, Allah menyatakan diriNya pada Yakub di Betel melalui mimpi. Allah meneguhkan perjanjianNya kepada Yakub, janji yang telah diterima ayah dan kakeknya itu. Yakub meresponi hal tersebut dengan mendirikan mezbah dan bernazar. Bukan cuma itu, saat tertekan karena masalah, Yakub menyerahkan semua itu kepadaNya dalam doa (kejadian 32:9-11) Perjumpaan dan persekutuan dengan Allah merupakan awal pemulihan terjadi atas hidupnya. Persekutuan Yakub dengan Allah merubah hidupnya, menjadi seorang yang beriman dan taat sampai pada akhir hidupnya. Se ap kita yang pernah menabur perbuatan jahat atau buruk pas hidupnya bisa berubah menjadi baik. Caranya adalah mengalami pemulihan dari Tuhan. Persoalannya, apakah kita mau bangkit dan melupakan masa lalu serta datang kepada Tuhan atau dak. Bersediakah kita kembali membangun persekutuan dengan Tuhan yang sudah lama kita nggalkan? Banyak kesaksian orang-orang yang dulunya pernah hidup dalam lembah dosa bahkan sampai hancur, hidup mereka berubah total karena mau mendekat kembali pada Tuhan, Tuhan mau memulihkan hidup kita dan saat ini Dia sedang menunggu kita. Lupakan masa kelammu dan ambil langkah untuk bersekutu dengan Tuhan. Yakub bisa mengalaminya, mengapa kita dak? (ee) 28 Y Kamis, 23 Oktober 2008 Kesalahan akan mengin midasi hidup seseorang, selama ia taak melupakan masa lalunya dan datang pada Sang Pemulih hidup. Kisah Rasul 4:32-37 Kikir Vs Hemat ” Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.” (Amsal 28:22) erbagi sangat iden k dengan cara hidup jemaat mula-mula. Alkitab mencatat, orang-orang yang sudah memberi diri menjadi pengikut Kristus itu selalu memberi waktu berkumpul bersama dan berbagi kasih. Dengan ha yang ikhlas tanpa hitung-hitungan mereka bahkan menjual harta miliknya, kemudian membagi-bagikan pada sesama sesuai kebutuhan. Kikir bukan ciri mereka, kumpulan orang yang sudah dipenuhi Roh Kudus. Orang-orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus sudah selayaknya hidup saling peduli. Sangat ironis, kita tetap saja sulit untuk hidup berbagi dengan orang lain. Malah ada orang-orang tertentu sangat kikir, padahal Tuhan sudah memberka mereka dengan luar biasa. Bermacam-macam hal dapat dijadikan alasan sebagai dalih tentang memberi. Salah satu diantaranya hemat, sementara uluran tangannya sangat dibutuhkan saat itu. Tuhan mengajar kita untuk dak boros tetapi hemat. Hanya saja hidup hemat pun harus pada tempatnya. Hemat yang dak wajar bukan lagi hemat melainkan kikir. Apabila tabiat duniawi ini masih ada dalam hidup kita, sudah saatnya kita berubah. Jadilah umat Tuhan yang ringan tangan dalam memberi, sebab Dia sudah menganugerahi kita dengan hidup yang berkelimpahan agar kita dapat membantu mereka yang hidup kekurangan (2 Korintus 8:14). Kelimpahan kita hendaknya menutupi kekurangan orang lain, dengan begitu kita bisa mengubah penderitaan orang lain menjadi sukacita karena mengalami kecukupan melalui kita. Saudara, melalui uluran tangan kita terhadap sesama akan membuat mereka lepas dari kesulitan, itu sama saja keadaan mereka ‘dipulihkan’ dari derita kekurangan. Inilah salah satu maksud Tuhan memberka kita. Kalau pun kita menerapkan pola hidup hemat, dak berar kita harus tutup mata pada kesusahan orang lain. Kikir dak sama dengan hemat dan itu merupakan dua hal yang sangat berbeda maknanya. Perhatikan hidup kita sekarang, apakah kita termasuk orang yang bermasalah soal memberi? Tuhan bisa mengubah sifat buruk kita, asalkan kita membuka ha dan berusaha belajar memberi mulai saat ini. (sye) B 29 Jumat, 24 Oktober 2008 Membantu sesama sehingga lepas dari kesulitan, tak ada bedanya dengan memulihkan mereka dari keadaan buruk. Ayub 42:1-17 Jangan Keraskan Hati ”Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayub 42:6) 30 D aging atau ikan yang sudah beberapa lama disimpan dalam freezer pas membeku. Tentu saja sebelum mengolahnya, para ibu harus menunggu kedua bahan penganan tersebut esnya cair dahulu. Dalam keadaan beku atau keras, daging dan ikan dak dapat dipotong serta dimasak sesuai selera. Begitu pula dengan hidup manusia. Ha yang beku alias keras, akan membuat Tuhan sulit bekerja di dalamnya. Jika sudah begini hidup kita takkan mendapatkan sesuatu. Belajar dari Ayub. Ke ka berargumentasi dengan Ayub, Tuhan minta supaya Ayub mengakui kelemahan dan kesalahannya. Namun Ayub dak menurut. Peris wa mengenaskan dan tragis yang membuat ia kehilangan kekayaan dan buah hatinya, ditambah sang isteri menyalahkan serta mendapa reaksi dipojokan sahabat-sahabatnya, membuat Ayub semakin mengeraskan ha . Sikap ha itu pun membuat ia menderita sekian lama. Setelah ha nya berubah lembut, dimana ia mau mengakui segalanya juga kemahakuasaan Tuhan, serta bersedia mengampuni sahabat-sahabatnya, barulah hidup Ayub dipulihkan secara total. Ia mendapatkan kembali harta bendanya berlipat ganda, hubungan dengan sahabat-sahabat membaik dan jauh lebih berar lagi, Tuhan mengaruniakan anak-anak yang sangat can k kepadanya. Luar biasa pemulihan yang Tuhan kerjakan atas Ayub. Dalam hidup ini, kadang Tuhan ijinkan kita alami masa-masa sukar yang sangat bertentangan dengan keinginan kita. Dan dalam keadaan rumit itu pun orang-orang disekeliling kita bukannya memahami, malah sebaliknya, menjauh dan seperti tidak bersahabat. Sementara hidup kita sedang tertekan dan terluka, bagaimanakah reaksi kita menghadap kenyataan yang dak menyenangkan ini? Bersediakah kita mengakui kesalahan kita atau mengampuni mereka yang telah mengecewakan? Saudara, Tuhan akan bekerja dengan luar biasa untuk memulihkan hidup kita dengah syarat kita dak mengeraskan ha . Kekerasan ha menghalangi diriNya bekerja dengan leluasa. Seberapa buruk pun keadaan kita hari ini, Tuhan siap memulihkannya, sebab itu jangan keraskan ha kita. (ly) Sabtu, 25 Oktober 2008 Kekerasan ha dak akan mendatangkan pemulihan, sebab Tuhan dak dapat bekerja dalam ha yang keras. Kejadian 14:17-24 Konsekuensi Suap-Menyuap ”Orang... yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, ...rotinya disediakan air minumnya terjamin.” (Yesaya 33:15-16) S uap dianggap lumrah dan dak tabuh lagi dewasa ini, karena itu jangan heran jika hidup manusia sarat dengan suap. Tindakan suap-menyuap pun kini berlaku dalam segala aspek. Contohnya, guna mendapatkan pujaan ha , orang rela mengorbankan sesuatu buat mereka yang diminta menjadi mak comblang (pengantara), dan menempuh berbagai cara agar orangtua yang anaknya diincar merestui, meski anaknya sendiri menolak. Dalam dunia kerja uang pelicin pun dihalalkan, dengan maksud agar diterima bekerja atau menduduki posisi tertentu. Ini bukan di sinetron saja, tapi benar-benar fakta yang terjadi. Lebih menyedihkan lagi, permainan kotor ini sudah menyusup dalam gereja. Entah untuk alasan mendapatkan kesempatan melayani maupun menduduki tampuk kepemimpinan. Suap haram hukumnya bagi orang percaya! Keluaran 23:8 tegas mencatat, “Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.” Tuhan dak membenarkan suap. Berkat Tuhanlah yang membuat kita dapat meraih segalanya! Teladanilah kehidupan Abraham. Tercatat dalam Kitab Suci, setelah kembali dari pertempuran dalam rangka membebaskan Lot, Abraham ditemui oleh Raja Sodom dengan maksud menyo-gok. Ia memberi kebebasan pada Abraham untuk mengambil sejumlah harta dari Sodom, tapi orang-orang Sodom yang berhasil dibebaskan dari penawanan menjadi haknya. Abraham menolak tawaran tersebut sebab tak mau mempermalukan Tuhan dengan harta itu. Tanpa suap Abraham pun hidup berkelimpahan dan ini buk kalau Tuhan konsekuen dengan perkataanNya. Orang yang hidup dalam kebenaran, yang hidupnya bersih dari suap, dalam segala hal Tuhan akan menjadi jaminan hidupnya (Yesaya 33:15,16). ”Orang yang membenci suap akan hidup, tetapi yang mencintai suap rumah tangganya hancur” (Amsal 15:17). Berat konsekuensi yang bakal kita terima jika kompromi dengan suap-menyuap. Olehnya bila kita termasuk pencinta suap, tanggalkan dosa itu sebelum murka Tuhan menimpa kita. (sye) 31 Minggu, 26 Oktober 2008 Kebenaran mendatangkan berkat, tetapi dosa menghalangi dan mengubahnyanya menjadi malapetaka. Ma us 9:27-31 Binasa Karena Janji Kisah Rasul 5:1-11 ”Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, tentulah TUHAN... ” (Ulangan 23:21) 32 ewaktu menggumuli keinginan menjual tanah, terbersit dalam pikiran Ananias dan Safira buat menyerahkan seutuhnya hasil penjualan tanah pada Tuhan. Namun janji nggal janji. Menyaksikan setumpuk uang, mereka tergiur dan mata ha nya menjadi gelap. Setelah menyisihkan sejumlah uang buat mereka, barulah sisanya dibawa ke bait Allah. Pikirnya, dengan ada keinginan menyerahkan uang meski jumlahnya dak sesuai janji itu sudah cukup dan Tuhan tolerir. Se daknya ada usaha untuk memberi! Sayangnya perkiraan mereka meleset. Murka Tuhan membuat mereka menemui ajal karena dak menepa janji sesuai yang diikrarkan. Faktor tertentu yang mengacu pada kepentingan pribadi, kadang membuat kita mengingkari janji tanpa merasa bersalah. Entah ingkar terhadap janji pada Tuhan atau sesama. Kebiasaan meremehkan janji pun kadang membuat kita berpikir bahwa orang lain pas dapat memahami kita, padahal belum tentu demikian. Kalau sampai kita kehilangan kepercayaan dan kesempatan dari orang lain, jangan pernah menyalahkan mereka. Mungkin kesalahan kita dalam mengingkari janji, telah menumbuhkan kebencian dan akar pahit di ha mereka. Dalam hal ini kita harus berani meminta maaf dan berusaha memenuhi janji tersebut, sekiranya masih memungkinkan. Bukan itu saja, belajarlah untuk se a pada sebuah janji. Satu kebenaran yang harus kita ketahui, ketika kita berjanji pada seseorang, Tuhan menjadi saksi bahkan ada dalam janji tersebut. Janji pada manusia tak ubahnya berjanji pada Tuhan. Bila kita mengingkarinya, maka secara otoma s kita bersalah terhadap manusia dan juga secara langusung berdosa di hadapan Tuhan. Terlebih lagi janji itu berupa nasar yang dibuat antara kita denganNya. Ini sangat berbahaya jika dak menepa nya. Jika kesulitan hari-hari ini menimpa hidup kita, mari introspeksi diri. Mungkin kita berdosa karena sebuah janji. Tuhan bisa saja mengubah masamasa sukar menjadi hidup dalam berkat, asalkan kita juga mau berubah untuk menepa segala perkataan kita dan dak ingkar janji lagi. (ly) S Senin, 27 Oktober 2008 Jangan mengucap janji bila Anda dak dapat menepa nya. Janji dapat mendatangkan berkat dan tulah. Lukas 15:11-32 Buka Dulu Topengmu! Matius 23:1-36 ‘”Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.” (1 Petrus 2:1) T embang yang dibawakan oleh grup musik PETERPAN ini sempat buming. Bukan secara kebetulan kalau lagu ini diciptakan dan laku keras di pasaran. Ya, pada dasarnya manusia memang suka mengenakan topeng. Anak-anak kecil senang jika diberikan topeng. Saking bangga mereka kerap mengenakan topengnya sekaligus pamer. Lucunya tanpa disadari orang dewasa pun senang memakai topeng. Kaum hawa terbiasa menggunakan make up, buat menutupi kekurangannya. Operasi plas k meski beresiko dilakukan demi penampilan. Hal-hal tersebut mungkin masih dapat dimaklumi dan dianggap wajar. Namun bagaimana kalau topeng digunakan dalam sikap, karakter dan ndakan kita? Apakah ini bisa dimaklumi dan dibenarkan? Topeng kemunafikan merupakan perkara yang dak disukai manusia, dan juga sangat dibenci Tuhan. Dalam pengajaranNya, Yesus mengingatkan kita agar membuang ragi kemunafikan (Lukas 12:1-5). Mengapa? Sebab kita tak dapat menampik fakta akan adanya orang yang bermuka dua atau bertopengkan kemunafikan. Kris ne contohnya. Di depan orang lain ia berlaku alim, kata-katanya manis dan suka berbuat baik. Tetapi dibalik itu dirinya merancangkan sesuatu yang jahat, menjelek-jelekkan untuk merusak reputasi seseorang, dan sebagainya. Tak ayal lagi ke ka kemunafikannya terbongkar, orangorang pun menjauhinya. Beruntung ia segera melepaskan ‘topeng’ yang dikenakannya selama ini dan tulus melakukan segala sesuatu, sehingga hubungan dengan orang lain pun pulih. Bukankah topeng kemunafikan masih kita temui dan mungkin kita juga memakainya? Tuhan adalah Allah yang Maha Tahu dan Maha Adil. Ia punya banyak cara untuk menyingkapkan kemunafikan kita. Jika Tuhan dak menghendaki kita hidup dalam kepura-puraan, itu karena diriNya dak rela hubungan kita dengan sesama menjadi rusak. Ia juga dak ingin membiarkan kita menuai hasil dari sikap dan perbuatan kita yang dak baik. Bagaimana pun Tuhan, Allah yang konsekuen terhadap peraturan yang dibuatNya. Tanggalkan topeng Saudara dan jangan pernah memakainya lagi! (ly) 33 Selasa, 28 Oktober 2008 Topeng kemunafikan membuat segala dosa tertutupi. Menanggalkannya merupakah langkah menuju hidup benar Ma us 9:27-31 Alamat Yang Tepat “Yesus masuk dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepadaNya…Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?“ (Matius 9:28) alam sebuah perjalanan, seorang tabib yang sudah terkenal karena kesembuhan yang acapkali ia lakukan dibuntuti oleh dua orang. Penglihatan yang bermasalah membuat kedua orang itu terpaksa berjalan sambil berteriak memelas, memohon sang tabib peduli pada mereka. Rupanya dengan alasan tertentu tabib dak menoleh sedikit pun tapi terus melangkah masuk ke sebuah rumah. “Kita pas berhasil disembuhkan sama seper orang lain!” Dengan penuh semangat sambil meraba-raba jalan, mereka berhasil menemukan rumah dimana sang tabib berada. Menyadari kehadiran kedua orang itu, tabib pun menantang keyakinan mereka, apakah dirinya percaya Ia dapat menyembuhkan sakit yang mereka derita. Dengan suara lantang keduanya menyatakan bahwa mereka sangat yakin. Melihat reaksi mereka tersebut sang tabib pun segera ber ndak melakukan sesuatu, untuk kesembuhan orang yang menaruh harapan dan kepercayaan kepadanya. Apa yang terjadi kemudian? Mereka sembuh! Dua orang buta telah mencari alamat yang tepat sebagai sumber kesembuhan mereka. Keyakinan penuh pada kuasa Yesus membuat mereka dak berhen berteriak dan mencari Yesus sampai menemukanNya. Inilah yang membuat Yesus sebagai Sang Tabib yang ajaib dak saja berbelaskasihan, tetapi kagum melihat usaha dan ndakan iman mereka. hal inilah yang membuat Ia memulihkan penglihatan mereka seper sediakala. Pertanyaan buat kita hari ini, ke ka penyakit datang mendera kita, entah menyerang tubuh kita yang sesungguhnya, bisnis, perekonomian, rumah tangga, karir dan sebagainya. Adakah kita mencari Yesus, berseru, menaruh harapan dan beriman kepadaNya? Atau kita justru menyerah dan mencari alterna f lain. Dukun, paranormal, orang pintar dan sesuatu yang kita anggap berkuasa menyembuhkan sakit kita. Ketahuilah, jika kita dak mencari dan menemukan alamat yang tepat, maka kesembuhan dak bakal kita alami dalam hal apa pun. Yesus satusatunya tempat yang tepat, yang dapat memulihkan segala ‘sakit’ yang kita alami saat ini. Awas, jangan sampai salah alamat! (ly) 34 D Rabu, 29 Oktober 2008 Salah alamat berar target dak terlaksana karena dak sampai pada tujuan yang sesungguhnya. Lukas 15:11-32 Fungsikan Dan Kembangkan “... Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu.” (Lukas 19:24) S uatu ke ka seorang bangsawan pergi keluar negeri untuk suatu urusan penting. Sebelum berangkat ia membagi-bagikan sejumlah uang kepada para karyawannya untuk dijadikan modal berdagang. Bangsawan itu berharap, sekembalinya dari bepergian, karyawan-karyawannya sudah mempergunakan dengan baik apa yang ia berikan pada masing-masing mereka. Setelah kembali, ternyata tidak semua harapan sang bangsawan terwujud sebab salah seorang dari karyawan tersebut gagal. Ia sama sekali dak mengola uang yang diberikan. Terhadap orang-orang yang mengelola modal yang diberi sehingga berkembang mendapat kepercayaan yang besar. Lain hal dengan orang yang masa bodoh. Ia dihukum karena bangsawan itu telah menjadi seorang raja pada waktu kembali. Kisah ini mengingatkan kita tentang talenta yang Tuhan beri. Masingmasing kita telah menerima talenta, mungkin satu, dua atau lebih. Yang harus kita perha kan, sudahkah kita mempergunakan serta mengembangkannya sesuai kehendak Tuhan atas hidup kita? Sebagai Tuan yang sudah memberi ’modal’ kepada kita untuk berkiprah baik dalam dunia kerja atau pelayanan, Tuhan menuntut supaya menggunakan talenta itu dengan benar. Suatu kali kelak Tuhan akan minta pertanggungjawaban atas hal tersebut. Jika ternyata kita tidak bertanggung jawab, maka kita pasti menerima konsekuensinya. Hidup kita bakal dak berkembang, kehilangan kesempatan berkarya dan suatu hari nan , bila ba masa penghakiman kita pun menerima hukuman dari Tuhan atas ke dakbertanggungjawaban kita. Olehnya apa pun talenta kita, gunakanlah sesuai dengan bidangnya. Kalau selama ini kita tergolong orang yang menyia-nyiakan talenta yang Tuhan berikan, segera bertobat. Mungkin itu malas, bekerja atau melayani dak sepenuh ha , sembarang mengerjakan sesuatu, dan sebagainya. Selama masih ada kesempatan, mari pergunakan dan kembangkan talenta kita sebaik-baiknya. Percayalah, ke ka kita mau berubah, perkara yang besar Tuhan pas berikan. Ia memperha kan se ap jerih lelah kita. Jadi 35 Kamis, 30 Oktober 2008 Perkara yang besar akan mengiringi kese aan dalam perkara yang kecil. sikap bertanggung jawab menciptakan kesempatan. Kolose 3:22-25 Asal Bapak Senang ”Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23) uatu kali saya terlibat pembicaraan yang serius dengan seseorang. Satu hal cukup membuat saya terkejut dan agak sedih saat ia berbagi kunci suksesnya menduduki posisi yang cukup pen ng di perusahaan yang cukup bonafit. “Sebetulnya owner saya orangnya rumit. Tidak mudah memintanya mendukung visi kita, terlebih lagi men-suport dana buat proyek yang hendak kita kerjakan. Cuma lama bergaul dengannya, saya akhirnya menger . Asal mengiku semua kemauannya, meski dimarah-marahi kita diam padahal dak salah, dan terus membuat ha nya senang pas tujuan kita tercapai.” ABS alias asal bapak senang, mulai lasim digunakan baik dalam dunia kerja maupun pelayanan. Tak jarang orang-orang mau melakukan sesuatu yang ditugaskan oleh pimpinan, bukankarena patuh dan bertanggung jawab tetapi punya maksud tertentu. Cari muka, inilah yang membuat kita bahkan sudi kompromi dengan hal-hal yang dak benar. Sebut saja Kaleb seorang accoun ng. Sudah lama ia ingin menggan kan Rahel yang menjabat wakil manajer. Ia tahu sang manajer suka menggerogo uang perusahaan. Suatu saat manajernya meminta Kaleb membuat pembukuan ganda. Tanpa banyak bertanya segera ia penuhi permintaan bosnya. Setelah berulangkali mewujudkan keinginan bos meraup keuntungan, Rahel pun lengser dari jabatannya dan digan kan olehnya. Keberanian untuk bersikap tegas terhadap hal-hal yang dak benar dan kompromi dengan kejahatan kadang kurang dalam diri seseorang. Tanpa merasa berdosa kadang kita berusaha menyenangkan ha orang lain meski tahu kalau hal itu salah. Terlebih lagi kalau kita punya kepen ngan di dalamnya. Sangat dak bijaksana dan bukan pikal pekerja Kristen jika kita melakukan sebuah perintah, semata-mata untuk menyenangkan orang-orang tertentu saja. Jangan lupa bahwa dalam bekerja kita dak hanya punya satu bos, masih ada bos lain yang lebih pen ng. Yesus, Dialah Big boss kita. Buanglah prinsip ‘asal bapak senang’ dan mulailah melakukan sesuatu karena kehendak Tuhan. Jangan sampai ha kita semakin dirusakkan oleh kenikmatan sementara. Anda belum terlambat, berubahlah! (rl) 36 S Jumat, 31 Oktober 2008 Perha kan taburan kita, sebab sesuatu yang kita lakukan di dunia akan terikat di sorga PENCURI MENJADI PENDOA George Muller George Muller seorang tokoh yang populer sebagai pejuang doa dan iman. Pria berkelahiran Jerman 27 September 1895 juga merupakan pendiri rumah piatu Ashley Down, di Bristol, Inggris. George lahir dari keluarga berlatar belakang tukang pajak. Semasa kecil sampai remaja George dikenal sangat nakal dan selalu memba ngkang terhada p . orangtuanya. Masih kecil saja ia sering mencuri uang milik ayahnya suatu kali ayahnya sengaja Karena dak tahan dengan ulah George kecil, memasang perangkap untuk anaknya, dengan meletakkan sejumlah uang di ruangannya. Benar saja, uang itu berkurang jumlahnya. Namun . ke ka ditanyai George dan terpaksa sang ayah harus menggeladahnya Muller pun di kurung di Uang tersebut ternyata disembunyikan di sepatu. gudang. Hukuman itu membuat George berjanji dak akan mencuri lagi, tetapi ia masih saja ingkar dan tetap mencuri dan mencuri. Dengan bertmbahnya usia, ngkah laku George semakin menjadijadi. Ia terlibat dalam berbagai macam ndakan asusila serta mabukmabukan. Pada saat ibunya sakit keras George dak datang melihatnya, l melainkan sibuk bermain kartu dan mabuk-mabukkan. Ia dak menyesa al sekalipun dirinya sewaktu tahu orang yang melahirkannya meningg dak sempat melihat untuk terakhir kali. Gerge dak mengenal Tuhan pada masa mudanya. Pernah suatu kali ayahnya meni pkan uang dalam jumlah besar untuk membayar gembala jemaat. Tetapi George yang licik hanya memberikan seperduabelas dari uang tersebut kepada gembala itu. Ke ka ayahnya dipindahkan ke kota Schoenebeck, ia di nggalkan sendirian , dirumahnya dengan maksud pengawasi perbaikan rumah mereka ia telah memutuskan sekaligus belajar dengan seorang pendeta sebab menjadi pendeta. Tetapi setelah ayahnya pergi, bukan belajar George malah sibuk dengan pekerjaan yang lain. Ia mengumpulkan uang orang-orang desa yang berutang pada ayahnya, lalu mengadakan perjalanan yang kemudian disebutnya ‘dosa enam hari’. Ke ka uangnya habis, ia pindah ke hotel yang mahal, menginap seminggu kemudian lari tanpa membayar sewa. Hal itu berulangkali ia lakukan dan suatu kali melarikan diri lewat jendela. 37 HEALING Story 38 Namun kali ini ia tertangkap. Pada umur enam belas tahun George sudah mencicipi hidup di penjara selama 24 hari. Untuk membebaskannya, terpaksa ayahnya membayar uang tebusan. George bebas. Sejak itu ia diminta sang ayah bersekolah di Nordhausen. Saat berseko lah untuk menyen angkan hati gurunya , pemuda yang nakal ini belajar dari jam empat pagi sampai jam sepuluh malam. Guru pun sering memberi pujian sebagai pemuda dengan harapan yang baik dalam kependetaan. Meski demikian, Muller masih mabuk-mabukkan dan berfoyafoya. Ke ka berumur sekitar 20 tahun George belajar di Universitas halle. Ia pun diberi kesempatan berkhotbah. Disinilah baru George menyadari bahwa ia harus memperbaiki diri seandainya ada sebuah jemaat yang menjadikannya gembala jemaat. Pada waktu itu ia menganggap pelayanan kepende taan sebagai suatu mata pencarian yang baik, bukan pelayanan pada orang-or ang yang membutuhkan pertolongan. Di halle George menemukan delapan orang yang sungguh-sunggu h hidup dalam iman. Tetapi yang paling menonjol mahasiswa bernama Beta. Ia pun menjadikan Beta sebagai teman dekat dengan harapan bertema nan tersebut akan membuat dirinya berubah. Namun dak disangkanya kalau Beta kembali pada kehidupan yang lama. Bahkan ia bersahabat dengan George karena mengira temannya itu akan membawanya bersenang-sena ng. Suatu ke ka George Muller, Beta dan beberapa rekannya mengumpulkan uang banyak dengan cara menggadaikan sebagian barang milik mereka. Uang itu akan digunakan bepergian untuk refreshing beberapa hari. Ke ka ada yang mengusulkan ke Swiss, George dak berkomentar tetapi hanya duduk sembari melaksanakan rencananya memalsukan surat-surat pen ng orangtuanya buat mendapatkan paspor. Iamenjadi pemimpin bagi mereka dan menjadi bendahara dalam perjalanan ini. Karena suka mencuri, George menyelewengkan uang itu supaya teman-temannya membayar sebagian dari ongkos-ongkosnya. Sekembali dari bepergian Beta sadar dari dosanya dan mengakui pada ayahnya. Beta dan teman-teman menjadi rajin menghadiri persekutuan doa. Tanpa diundang George pun ikut hadir dalam sebuah persekutuan yang dilaksanakan di sebuah rumah. George sempat merasa canggung saat itu, melihat orang berdoa sambil berlutut. Inilah orang yang sampai usia 21 tahun belum pernah melihat orang berlutut ke ka berdoa. Tidak diketahuinya kalau kelak ia menjadi orang yang terkenal di dunia karena kuasa doanya. Pada waktu tuan rumah berdoa, perasaan sukacita dan damai mbul di ha George. Ia pun menceritakan kepada Beta bahwa kesenangan yang mereka rasakan dulu dak ada ar nya dibandingkan sukacita yang dirasakannya hari itu. Kristus telah menyentuh ha George. Pertobatan yang luar biasa mengubahkan hidup seorang George. Selanjutnya pemuda yang sudah diubahkan ini mendedikasikan hiduip pada Kristus dan pindah ke Inggris, di mana ia menjadi terkenal sebagai orang yang beriman. HEALING Story Lima buah Pan Asuhan di Bristol yang dapat menampung 2000 orang ini, didirikan George. Pria yang dijuluki sebagai seorang pejuang doa dan iman m-piatu tanpa pernah mengemis atau pun minta menghidupi anak-anak ya piatu bantuan pada orang lain. Hingga menjelang akhir hayatnya, jumlah ya m orang. Tidak pernah sekalipun anak-anak yang yang diasuhnya sekitar 9.500 berada dalam asuhan George sampai dak makan. Tuhan selalu mencukupkan Doa kebutuhan anak-anak yang diasuhnya dalam 70 tahun pelayanannya. George dan apapun yang menjadi kebutuhannya sudah menjadi gaya hidup tan selalu dicatat dan didoakan. Bahkan Muller mulai berdoa untuk pertoba 5 orang. Se ap hari George selaluberdoa, baik dalam keadaan sakit, sehat, dalam bulan perjalanan di darat, di laut atau apapun kesibukannya. Delapan belas tersebut bertobat serta menyerahkan hidupnya kemudian seorang dari 5 orang dari kepada Kristus. George Muller bersyukur untuk pertobatan salah seorang buat pertobatan empat orang lainnya. Lima tahun mereka dan terus berdoa tahun berikutnya satu orang lagi bertobat. Muller terus berdoa dan enam Bapa dari sekian banyak anak ini dak pernah kemudian yang seorang lagi. berhen berdoa, meski sampai 36 tahun sejak mulai berdoa 2 orang lainnya belum bertobat. t Menjelang kembali ke pangkuan Bapa Sorgawi, seorang lagi bertoba bertobat setelah George meninggalkan dunia. sedangkan yang seorang lainnya an Fakta sangat kuat menunjukkan kalau segala kebutuhan dalam pelayan pajak tersebut karena doa yang tak berkesudahan. diperoleh oleh anak tukang telah Selama hidup George telah mengurus 9.975 anak ya m piatu. Ia juga anak telantar dan memberikan pendidikan pada menolong sekian banyak i mereka. Setelah menerima cukup pendidikan, mereka dikirim ke berbaga tempat. Pada hari-hari tuanya George Muller sudah berjalan hampir 200.000 mil di 42 negeri untuk memberitakan Injil kepada 3.000.000 pendengar. Sejarah untuk pun mencatat bahwa dirinya telah menerima 50.000 jawaban khusus i Tuhan semasa hidupnya, seper Musa rohnya doa-doanya. Sesudah melayan saat diambil Tuhan, pagi-pagi sekali dalam usia 93 tahun George meninggal kamarnya. berada sendirian saja dalam Seorang pendoa yang sangat se a dan dak pernah berhen berdoa untuk jiwapemenuhan kebutuhan jiwa-jiwa yang kekurangan dan juga pertobatan pun menjadi buk sekaligus mengajarkan kepada jiwa. Pengalaman George kita bahwa doa tanpa jemu dan kese aan dalam berdoa dak akan pernah kan sia-sia. Doa yang disampaikan dengan iman serta ketekunan menan hkan hasil. Mungkin di era ini kita menemukan jawaban doa akan membua sosok yang begitu peduli pada mereka yang butuh kasih sayang dan dak punya tempat berlindung? Masih adakah orang yang se a mendoakan jiwa-jiwa yang terhilang atau belum mengenal Juru Selamat? Pedulikah kita terhadap kaum papa? (ly) 39 HEALING Story CARA EFEKTIF BERHENTI MEROKOK 40 HEALING Tips 1. Buang dan singkirkan dari kita rokok yang masih tersisa pada kita dan hindari tempattempat yang berpotensi membuat Anda tergoda untuk merokok. Semua yang memungkin kita untuk tetap merokok segera singkirkan (Yakobus 1:21). Siapapun tahu merokok sangat dak dianjurkan, sebab sangat berefek buruk bagi kesehatan. Kanker, impotensi, gangguan terhadap kehamilan dan janin merupakan dampak dari merokok. Meski demikian, masih banyak orang terikat rokok sebab rokok memiliki efek nyandu. Ingin lepas dari keterikatan merokok? Beberapa ps berikut dapat membantu. 2. Jika terbiasa mengkonsumsi daging merah, minum teh, kopi dan alkohol, mulai sekarang berusahalah untuk menguranginya. Ingat, makanan dan minuman seper ini dapat merangsang dan membuat Anda kembali mengidam-idamkan rokok (Amsal 23:2). 3. Mintalah dukungan moral kepada orang-orang terdekat supaya membantu mengingatkan Anda terhadap keinginan merokok. Mungkin ini terkesan remeh, tetapi dukungan moral seper itu dapat sangat berpengaruh. Paling dak, dengan mo vasi keinginan kita untuk berhen merokok akan semakin kuat. Hindari orang-orang yang dapat menyeret dan mempengaruhi untuk merokok (1 Korintus 15:33) 5. Berhen merokok dak boleh tanggungtanggung seperti pada umumnya dikatakan orang. ‘Mengurangi sedikit demi sedikit’. Harus berhenti secara dras s, jangan berangsur-angsur supaya dak tergoda untuk tetap merokok. Ingat tubuhmu adalah Bait Kudus Allah (1 Korintus 3:16) 4. Andaikan Anda perokok pemula, jika sedang merasa jenuh ada baiknya isi dengan hal-hal yang berkaitan dengan hobby. Jangan sampai malah s e b a l i k nya m e l a m p i a s ka n kejenuhan itu dengan rokok. 6. Dan kunci dari semua itu adalah, kuasa Tuhan. Minta pertolongan Tuhan supaya kita memiliki kekuatan dan pengendalian diri sehingga dak tergoda oleh apapun untuk merokok! Diberka lah orang yang mengandalkan Tuhan (Yeremia 17:7) (lis) Sec2:a

Related docs
HEALING BOOKS
Views: 19  |  Downloads: 4
Healing 011008
Views: 228  |  Downloads: 1
Healing With Color FAQ-Alternative
Views: 18  |  Downloads: 2
Healing
Views: 0  |  Downloads: 0
Healing Verses
Views: 5  |  Downloads: 1
Healing at hand
Views: 5  |  Downloads: 1
Healing the Memories
Views: 2  |  Downloads: 0
Praying for healing
Views: 2  |  Downloads: 1
2008 - 08 - 03 Nothing can separate us
Views: 0  |  Downloads: 0
Margery ? Volume 01
Views: 6  |  Downloads: 0
Energy Healing
Views: 28  |  Downloads: 2
01 POM
Views: 4  |  Downloads: 0
Other docs by gitspram
Healing 011008
Views: 228  |  Downloads: 1