Docstoc
EXCLUSIVE OFFER FOR DOCSTOC USERS
Try the all-new QuickBooks Online for FREE.  No credit card required.

KIDUNG

Document Sample
KIDUNG Powered By Docstoc
					THEMA: KETIKA MUSIM SEMI TIBA TEKS: KIDUNG AGUNG 2:8-17 Introduction: Seorang ahli PL yang bernama G. Llyod Carr mengatakan bahwa Kidung Agung adalah salah satu buku tersingkat, dan tersulit dalam PL namun amat populer dikalangan orang-orang Yahudi dan Kristen. Sampai hari ini sudah tak terhitung banyaknya tafsiran yang ditulis dan khotbah yang dikumandangkan mengenai 117 ayat dalam kitab Kidung Agung tersebut. Memang buku ini dianggap oleh beberapa kalangan tertentu sebagai “buku yang jorok”, penuh dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat pornografis. Namun bila dibaca dan direnungkan dengan sungguh-sungguh Kidung Agung adalah sebuah buku yang agung dan suci. Tidak heran se eorang rabbi Yahudi yang bernama Akibah pernah berkata: “Di antara semua hari, tak ada yang bisa menandingi hari ketika kitab Kidung Agung dianugerahkan kepada Israel. Semua tulisan dalam Alkitab Yahudi itu adalah suci, namun Kidung Agung adalah yang tersuci.” Masalah utama yang dihadapi oleh para pembaca kitab Kidung Agung adalah bagaimana cara membacanya: Beberapa orang menyarankan agar kita membacanya seperti orang Yahudi membaca kitab ini. Semenjak dulu orang Yahudi menganggap Kidung Agung sebagai suatu syair yang bersifat lambang. Artinya: kidung Agung bukan hanya mengungkapkan kisah cinta duniawi antara pria dan wanita, melainkan hubungan cinta antara Allah dan Israel. Allah adalah lambang pengantin laki-laki dan umat Israel pengantin perempuan. Beberapa orang lagi menyarankan agar kita membaca kitab Kidung Agung sebagai suatu hubungan kasih antara Kristus dan jemaatNya. Kristus mempelai laki-lakinya dan jemaat adalah mempelai perempuannya. Cara baca seperti inilah yang diterapkan dalam gereja kristen mulamula. Penafsir-penafsir modern kebanyakan mengambil posisi ketiga, ketimbang menganggap kitab ini melambangkan hubungan kasih antara Allah dan Israel atau Kristus dan gerejaNya, mereka menganggap bahwa kitab kidung Agung melukiskan kisah cinta manusiawi antara wanita dan pria sepanjang jaman. Meskipun cara baca yang terakhir ini lebih banyak disukai oleh sarjana-sarjana Alkitab modern, menurut saya, tidak ada salahnya bila kita mencoba mengkombinasikan ketiga pendekatan ini. Bukankah bentuk penjelasan pertama dan kedua ini memiliki dasar dalam bentuk tulisantulisan kuno baik yang berada di tangan kaum yahudi maupun di gereja Kristen mula-mula. Jadi, perkenankanlah saya pada sore ini membaca teks ini dengan pola pendekatan tersebut. Teks yang akan kita baca adalah: Kidung Agung 2:8-17. Main point: I. Pertama-tama yang harus kita perhatikan dalam teks ini adalah adanya : kekuatan dari pengharapan. Perikop yang kita baca berbicara tentang angan-angan seorang gadis muda yang sedang menjalin cinta. Dalam angan-angannya dia melihat musim dingin yang telah lewat, dan sang kekasih yang mendatangi dia untuk membawa rona-rona kebahagiaan. Kita melihat sesuatu yang ajaib terjadi di sini. Gelora api pengharapan, memampukan dia melihat “beyond the reality”. Dalam realita memang “musim dingin belum lewat”, “pohon ara belum berbuah”, dan “hujan

belum berhenti”, namun api pengharapan yang dikobarkan oleh kasih mampu melihat sesuatu “di luar realita itu.” Oleh sebab pengharapan ini, sang gadis mampu melihat “mekarnya bunga-bunga yang semerbak harum di ladang”, mampu mendengar “kicauan burung tekukur di atas tanah.” Meski situasi masih belum berubah (musim dingin masih berlangsung). Penerapan: . I.1. Bagaimana dengan kehidupan keluargamu pada hari-hari ini. Apakah engkau sedang mengalami “musim dingin”. Apakah situasi dunia telah membuat jarak antara engkau dan isterimu. Apakah rumitnya persoalan-persoalan kehidupan, dolar naik, dll, membuat “kebun kehidupan rumah tanggamu terasa gersang. Atau bahkan isteri atau suamimu melakukan tindakantindakan yang amat menyakiti hatimu, hingga engkau merasakan “musim dingin”nya kehidupan kasih. Jika memang itu realitas yang engkau hadapi, perikop yang kita baca sore ini mengingatkanmu akan pentingnya pengharapan yang dikobarkan oleh api kasih. Dengan pengharapan ini engkau akan sanggup melihat sesuatu di balik realita ini. Dengan pengharapan ini engkau akan sanggup menikmati datangnya “musim semi” itu pada saat ini, saat musim dingin seakan-akan siap merontokan tulang-tulangmu. Adakah di antara mu yang merasa kecewa dengan kekasih yang dianugerahkan oleh Allah padamu sore ini? Mungkin tindakan atau kata-katanya telah menyinggung perasaanmu? Hingga engkau mengalami “musim dinginnya kehidupan rumah tangga.” Ingatlah ada kuasa dalam pengharapan. Itulah yang membuat engkau tetap tegar. Itulah yang akan membuat engkau mampu melihat di balik realita dan memaafkannya. I.2. Penerapan yang kedua dalam kaitannya dengan ini adalah, pengharapan kita pada kekasih jiwa Kita, Yesus Kristus, memampukan kita melewati masa-masa sulit dalam kehidupan ini. Illustrasi: pencipta lagu: “it’s well o my soul” II. Kedua, kita melihat gambaran negatif tentang rubah-rubah kecil yang merusak kebun anggur. G. Lloyd Carr menolong saya untuk mendapatkan arti dari “kebun anggur” dalam kosa kata Timur dekat. Carr paling tidak menyebutkan signifikansi ungkapan “kebun anggur” dalam kosa kata Timur dekat, (1) kebun anggur melambangkan hubungan kasih suami dan isteri (2) kebun anggur melambangkan tempat dimana berkat dan hadirat Allah hadir. Sedang Watcman Nee menolong saya untuk melihat bahaya dari rubah-rubah kecil. Menurut Nee aktivitas rubah-rubah kecil memiliki efek yang lebih membahayakan dibandingkan efek yang ditimbulkan oleh rubah-rubah besar. Bila rubah-rubah besar suka makan buah anggur, maka rubah-rubah kecil gemar makan ranting-rantingnya. Bila buahnya yang dimakan, masih ada kemungkinan untuk berbuah lagi, namun kalau yang dimakan itu ranting-rantingnya, kemungkinan untuk berbuah sama sekali nihil. Jadi amatlah wajar bila pengelola kebun anggur merasa wajib untuk menyingkirkan rubah-rubah kecil ini. Penerapan: II.1. Kita pun harus menyingkirkan rubah-rubah kecil dalam kehidupan rumah tangga kita. Rubah-rubah kecil itu bisa berupa: Menurut Gary Smalley (lihat hal. 114). II.2 Kita pun harus menyingkirkan rubah-rubah kecil dalam kehidupan rohani kita, yang mungkin dapat menghalangi berkat dan kehadiran Allah dalam kehidupan kita.


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:225
posted:1/11/2010
language:Indonesian
pages:2