Kesejahteraan Guru

Document Sample
Kesejahteraan Guru Powered By Docstoc
					BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Secara hakiki sejahtera tidak dapat diukur, sejahtera berarti terpenuhi

semua kebutuhan lahir maupun batin, sandang, pangan dan papan. Dahulunya orang sudah dapat makan pagi dan malam dan rumah serta pakaian seadanya sudah boleh dikatakan sejahtera. Lain hal dengan sekarang, ukuran sejahtera sudah berubah polanya. Tidak hanya cukup sandang, pangan dan papan, akan tetapi lebih dari itu. Semua orang perlu kesejahteraan, demikian pula guru yang keseharian bergumul dan bertungkuslumus terikat dengan waktu dan tempat. Sebutan mulia yang sudah tersandang dipundak masing-masing sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka bekerja keras tanpa membedakan antara si kaya dan simiskin, lelaki atau perempuan, anak pejabat atau tidak, yang jelas semua anak dididik dan dibinanya agar menjadi anak yang cerdas, berkualitas dan bertanggungjawab. Dengan tanggungjawab moral yang dipercayakan negara kepada mereka sesuai dengan amanah Pembukaan Undang–undang Dasar 1945 bahwa guru bertanggungjawab untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Tanpa mereka tentulah kita-kita yang ada didunia ini, tidak ada apaapanya, mereka telah memberikan sesuatu pusaka yang tidak lekang oleh Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 1

panas dan tidak lapuk oleh hujan, apa itu tidak lain adalah ilmu pengetahuan. Pejabat, pegawai negeri maupun swasta, para pengusaha yang ada sekarang ini tanpa keberadaan mereka dan tanpa tangan-tangan halus mereka dan keramahtamahan serta keikhlasan mereka mendidik, mengajar dan melatih tentu tidak akan seperti sekarang. Karena jasa dan pengabdian merekalah kita berada dalam kondisi sekarang ini. Apa yang sudah mereka berikan kepada kita, dari sesuatu yang serba buta dan tidak tahu sama sekali, kemudian mereka didik, mereka ajar, mereka latih, sehingga menjadi anak cerdas dan pintar. Dari mula tidak tahu hurup dan angka, sampai bisa dan mampu membaca dan berhitung, dari mulai tidak pandai mengelap lelehan ingus di pipi sampai mampu menjadi anak yang mandiri, dari yang tidak mampu mencebok (membersihkan) berak di celana kebetulan di sekolah, sampai kepada anak mandiri, semua itu tidak terlepas dari peran guru di sekolah. Sungguh besar jasa-jasamu guru, tidal terbalas rasanya apa sudah engkau berikan kepada kami, engkaulah orang tua kedua kami, yang tanpa perjuangan dan cita-citamu tentulah kami tidak berdaya. Kini guru menuntut kesejahteraan, sesuatu yang wajar dan adil, karena apa? Kesejahteraan guru menjadi jantungnya pelayanan pendidikan, karena dengan sistem insentif yang wajar dan berkeadilan dapat diharapkan suatu komitmen guru untuk memberikan pelayan optimal dan terbaik bagi masyarakat. Apa lagi guru-guru kita yang mengajar nun jauh di sana, di pedesaan dengan lokasi terpencil. Karena sebahagian besar guru-guru

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

2

medngabdian diri di pedesaan, itulah sebabnya sebagian guru tidak lama bertahan untuk bekerja di pedesaan karena tidak mendapatkan insentif yang memadai, sehingga dengan rasa terpaksa mereka meninggalkan tugas pengabdian yang disandangnya, walaupun dihati sanubarinya merupakan pekerjaan salah, namun apa boleh buat, itu terpaksa dilakukan. Tuntutan hidup pada kondisi kini menyebabkan para guru harus bekerja keras untuk melakukan sesuatu yang bersifat halal, sesuatu yang harus dilakukan untuk dapat mengatas kebutuhan hidup anak dan keluarganya. Sehingga tidak aneh rasanya ada guru yang berprofesi ganda, pada pagi menjelang siang hari berkumpul ditengah-tengah anak didiknya, bersenda gurau dan bercengkerama bersama rekan guru. Tetapi bila waktu tugas wajib berakhir, maka terlihat sang guru bercengkerama bersama para tukang ojek, kuli bangunan, pedagang pasar, dan profesinya lainnya. Hal ini membuktikan bahwa guru masih memerlukan biaya tambahan untuk dapat memenuhi kebutuhan keluargnya. Demikian pula kita melihat guru, sejak pagi hari sudah berangkat ke sekolah, kemudian pada sore harinya bahkan menjelang larut malam baru pulang ke rumah. Kemanakah mereka, jika ditelusuri dan diamati secara seksama, banyak di antaranya sesudah melaksanakan jam wajib di sekolah di mana mereka di tempatkan, maka sang guru bergegas menuju sekolah lain dengan tugas yang sama, yakni menambah income keluarga, demikian seterusnya sesuah menjelang magrib, sang guru bergegas pula berangkat ke

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

3

suatu tempat Bimbingan Belajar, juga tugas yang sama dan niat yang sama untuk menambah pendapatan keluarga. Pada pagi hari berangkat dengan wajah berseri pakai bersih dengan senyum tersungging meninggalkan anak dan keluarga, serta menyandang sebuah tas tentengan yang berisi bahan ajar plus nasi rantangan, bagi isterinya yang rajin memperhatikan kondisi kesehatan suaminya. Nah pada waktu pulang dari bertugas terlihat dengan wajah kuyu dan kondisi keletihan serta kondisi pakaian serba tidak menentu. Begitulah kondisi guru kita, dan memang tidak semua sama, ada yang berada pada kondisi ekonomi di atas rata-rata, persentasenya sangat minim, akan tetapi kebanyakan di bawah rata-rata, ibarat gaji, pada tengah bulan atau sepertiga bulan gaji yang diterima sudah ludes alias terkuras untuk keperluan sehari-hari, dan bagaimana untuk tengah bulan atau sepertiga bulannya lagi, tentu tidak lain harus bekerja keras dengan kegiatan lainnya, dengan nawaitu yang penting halal. Oleh sebab itu, sekali lagi kita prihatin dengan kesejahteraan guru, dan wajar untuk ditingkatkan. Kiranya terketuk para pengambil keputusan untuk memperhatikan kesejahteraan guru ini, berikanlah insentif yang layak, perlu tunjangan khusus, sehingga mereka benar-benar meberikan perhatian penuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah masing-masing. Mereka akan bekerja dengan baik, belajar dan mengajar dengan baik, dedikasi dan loyalitas tinggi apabila gaji yang mereka terima wajar dan berkeadilan.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

4

Semangat Otonomi Daerah memungkinkan untuk meningkatkan kesejahteraan para guru, dan memang dirasakan upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah bersama Dewan dan PGRI sudah direalisasikan walaupun itu belum memadai. Namun, cita-cita dan perjuangan senantiasa harus selalu digesa, dan ini perlu perjuangan, dan guru sudah melakukan perjuangan itu dari hari ke hari, bagaimana memperjuangkan anak yang tidak tabu dan lugu menjadi tahu dan berilmu. Memang diakui, bahwa keterbatasan dana Pemerintah sehingga keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan guru belum maksimal dilakukan. Namun, setitik iktikad Pemerintah Daerah untuk berangsur-angsur

meningkatkan kesejahteraan guru perlu dihargai, dan perhatian Dewan dengan mengusulkan kepada Pemerintah Daerah untuk meningkatkan anggaran pendidikan untuk setiap tahun perlu disambut baik dan diperjuangkan setiap tahun oleh kita semua. Guru menginginkan kesejahteraan yang mereka tuntut tidaklah berlebihan, akan tetapi yang wajar, sehingga mereka mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga keluarganya, menyekolahkan anakanaknya, dan apabila telah pensiun hidup tenang dan lebih mendekatkan diri kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, bagi yang beragama Islam mungkin suatu ketika sempat melakukan rukun Islam ke Lima (berhaji). Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran merupakan suatu keharusan dan mutlak bagi seorang guru, guru yang baik adalah guru yang mengerti dan memahami akan tugas dan kewajibannya. Diakui, bahwa guru

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

5

dulu tidak memikirkan kesejahteraan, bagi mereka yang penting cukup untuk hidup perbulan sudah cukup, akan tetapi guru kini penuh dengan berbagai macam tuntutan, dan tentunya disesuaikan dengan kondisi zamannya. Perlu diingat tuntutan kesejahteraan harus diimbangi dengan upaya peningkat kulitas belajar dan mengajar, berdosa rasanya kalau kita hanya mampu meminta, akan tetapi kurang untuk berbuat yang lebih baik. Karena itu, perbaikan dan kesejahteraan hidup perlu disertai dengan perbaikan mutu pendidikan, dan sekaligus mutu profesionalisme guru. Atas dasar uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Pengaruh Tingkat Kesejahteraan terhadap Kinerja Guru” di SMP Negeri 2 Cugenang, Kabupaten Cianjur tahun pelajaran 2004 – 2005. B. Batasan dan Rumusan Masalah

1. Batasan Masalah Agar masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan, maka perlu dilakukan pembatasan dalam masalah yang telah dirumuskan. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Suyatna (2000:7) bahwa biasanya masalah yang ditemukan dalam penelitian itu sangat luas dengan rangkaian yang multikompleks. Agar penelitian tidak melantur, sebaiknya masalah itu dibatasi dari segi keluasan maupun segi kedalamannya. Adapun batasan masalah dalam penelitian adalah sebagai berikut. a. Kesejahteraan guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pokok guru diukur dengan Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 6

penerimaan penghasilan guru baik dari sekolah maupun di luar sekolah. b. Kinerja guru yang dimaksudkan dalam penelitian ini meliputi bidang tugas perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pengelolaan pembelajaran, penilaian pembelajaran, dan analisis hasil pembelajaran, serta tugas-tugas pembinaan siswa. 2. Rumusan Masalah Semua jenis penelitian apa pun akan dimulai dengan cara merumuskan masalahnya. Mengidentifikasikan masalah itu merupakan bagian yang paling sulit dalam proses penelitian. Yang harus dirumuskan bukan sekedar ruang lingkupnya saja, melainkan juga penjabaran masalahnya itu ke dalam bentuk khusus yang spesifik (Suyatna, 2000:7). Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini disusun dalam bentuk pertanyaan di bawah ini. a. Bagaimanakah keadaan dan tingkat kesejahteraan guru-guru SMP yang memiliki kegiatan sampingan di luar jam tugasnya? b. Bagaimanakah kemampuan profesional guru-guru SMP yang memiliki kegiatan sampingan di luar jam mengajarnya? c. Adakah hubungan antara tingkat kesejahteraan dengan

pengembangan kemampuan profesional pada guru-guru SMP yang memiliki kegiatan sampingan di luar jam mengajarnya?

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

7

C.

Tujuan Penelitian Sesuai dengan batasan dan rumusan masalah di atas, penelitian ini

memiliki tujuan-tujuan untuk mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut. 1. Keadaan dan tingkat kesejahteraan guru-guru SMP yang memiliki kegiatan sampingan di luar jam tugasnya? 2. Kemampuan profesional guru-guru SMP yang memiliki kegiatan sampingan di luar jam mengajarnya? 3. Hubungan antara tingkat kesejahteraan dengan pengembangan kemampuan profesional pada guru-guru SMP yang memiliki kegiatan sampingan di luar jam mengajarnya? D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi guru dan kepala sekolah dalam pengelolaan pembelajaran serta pengembangan sekolah, khususnya dalam memberdayakan sumber daya manusia dengan pemberian imbalan/insentif yang sesuai. Hasil penelitian ini pun diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi upaya berikut. 1. Meningkatkan pembinaan tenaga guru dengan meningkatkan pengetahuan serta pengembangan profesi guru. 2. Meningkatkan kinerja guru dengan meningkatkan kualitas pembinaan. 3. Sebagai masukan bagi kepentingan manajemen pendidikan khususnya instansi yang mengelola pendidikan di tingkat kabupaten mauHarry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 8

pun di tingkat kecamatan khususnya dalam meningkatkan kinerja guru. Di samping itu, mudah-mudahan hasil penelitian ini bisa memberikan sumbangsih bagi khasanah pengembangan ilmu pendidikan, khususnya ilmu administrasi pendidikan, yang selama ini banyak dilahirkan di negara barat, tidak selamanya memiliki nilai relevansi yang tinggi untuk memecahkan persoalan-persoalan administrasi pendidikan di Indonesia, hal ini diduga karena administrasi pendidikan di samping sebagai ilmu pengetahuan juga sebagai arts (kiat) di mana pengembangannya perlu memperhatikan aspekaspek yang terkait dengan perilaku manusia, khususnya manusia Indonesia. Oleh sebab itu, pengembangan suatu ilmu akan lebih memiliki makna apabila kita secara otonom mampu mengembangkannya secara mandiri. E. Asumsi dan Hipotesis Penelitian

1. Asumsi Asumsi atau anggapan dasar adalah segala kebenaran, teori, atau pendapat yang dijadikan landasan dalam suatu penelitian. Segala kebenaran, teori dan pendapat yang dijadikan pegangan itu tidak dipersoalkan lagi benar salahnya. Pada prinsipnya segala sesuatu itu dapat diterima oleh semua pihak tanpa harus diuji lagi kebenarannya (Suyatna, 2000:7). Sejalan dengan pendapat Suyatna di atas. Surakhmad (1980:15) mengemukakan bahwa asumsi, anggapan dasar, atau postulat adalah ”sebuah

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

9

titik tolak pemikiran yang kebenarannya dapat diterima oleh peneliti.” Adapun yang menjadi asumsi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Hal yang menjadi anggapan dasar dalam penelitian ini adalah sebagai berikut ini. a. Kondisi dan tingkat kesejahteraan guru yang saat ini dianggap sangat menyedihkan pada dasarnya menjadi penyebab kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berkembang dengan selayaknya. Hal ini disebabkan guru-guru tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk mengembangkan dirinya, serta tidak memiliki kesempatan untuk selalu mencari penambahan ilmu pengetahuan guna menunjang kemampuan dan potensi dirinya. b. Kinerja guru yang meliputi demikian banyak aspek dan tuntutan di dalamnya sangat erat dipengaruhi oleh kondisi guru tersebut secara ekonomis maupun secara sosial. Guru tidak akan pernah mencapai tingkat kemampuan profesional yang selayaknya apabila tidak ditunjang dengan kondisi ekonomi yang baik, tingkat

kesejahteraan yang baik, serta kehidupan sosial yang baik pula. c. Pemenuhan aktualisasi diri pada diri seorang guru sebagai manusia maupun sebagai sosok profesional mutlak diperlukan. Aktualisasi diri ini hanya akan dapat dilaksanakan apabila guru tersebut mampu mengembangkan komunikasi dirinya dengan berbagai lingkungan di sekitarnya. Demikian pula halnya, proses

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

10

pengembangan komunikasi dengan lingkungan ini pun sangat erat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi guru tersebut sehingga jika aspek ini tidak terpenuhi maka guru tersebut tidak akan pernah dapat mengembangkan dirinya secara optimal. d. Potensi kepribadian merupakan prasyarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan profesinya. Potensi tersebut adalah; potensi kepribadian interpersonal dan intrapersonal. e. Kompetensi merupakan seperangkat kemampuan yang harus dimiliki guru searah dengan kebutuhan pendidikan di sekolah (kurikulum), tuntutan masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kompetensi dimaksud meliputi kompetensi keterampilan pengelolaan proses pembelajaran dan penguasaan pengetahuan. 2. Hipotesis Penelitian Hipotesis adalah jawaban sementara atas masalah yang diteliti dan perlu diuji lebih lanjut melalui penelitian yang bersangkutan. Surakhmad (1980:39) mengemukakan bahwa hipotesis adalah perumusan jawaban sementara terhadap suatu permasalahan yang dimaksudkan sebagai tuntunan sementara dalam penelitian untuk mencari jawaban yang sebenarnya. Berdasarkan kedua teori yang dikemukakan di atas, hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

11

Ho

: tidak terdapat hubungan antara tingkat kesejahteraan dengan kinerja guru pada guru-guru SMP Negeri 2 Cugenang, Kabupaten Cianjur, tahun pelajaran 2004 – 2005.

H1

: terdapat hubungan antara tingkat kesejahteraan dengan pengembangan kinerja guru pada guru-guru SMP Negeri 2 Cugenang, Kabupaten Cianjur, tahun pelajaran 2004 – 2005.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

12

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A.

Kompetensi Guru Kinerja guru pada dasarnya adalah kompetensi guru. Kompetensi itu

sendiri didefinisikan sebagai pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Depdiknas, 2003a). Selanjutnya Menurut Spencer dalam Yulaelawati (Puskur, 2003) kompetensi adalah karakteristik mendasar yang merupakan hubungan kausalitas antara referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada situasi tertentu. Karakteristik mendasar pada pendapat di atas mengadung arti bahwa kompetensi tersebut tertanam mendalam dan bertahan lama dalam penampilan seseorang dan dapat digunakan untuk memprediksi tingkah laku seseorang ketika berhadapan dalam berbagai situasi dan tugas. Hubungan kausal memiliki makna bahwa suatu kompetensi dapat menyebabkan atau memprediksi perubahan tingkah laku dan kinerja seseorang. Sedangkan referensi kriteria menentukan dan memprediksi apakah seseorang dapat bekerja dengan baik atau tidak dalam ukuran yang spesifik atau standar. Spencer juga membahas lima tipe kompetensi sebagai berikut.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

13

a. Motif yang merupakan sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berpikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi. b. Kompetensi bawaan berupa karakterisasi fisik yang secara konsisten merespon berbagai situasi atau informasi. c. Konsep diri dalam bentuk tingkah laku, nilai atau imaji seseorang. d. Kompetensi pengetahuan berupa penguasaan seseorang atas ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri serta lingkungan sekitarnya. e. Kompetensi keterampilan yakni kemampuan untuk melakukan tugas secara fisik atau mental. (Yulaelawati, 2003) Jika diamati, pengertian kompetensi dalam Kurikulum 2004 yang sejalan dengan pendapat Spencer di atas terletak pada perwujudan pengetahuan, keterampilan, dan nlai dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Perwujudan ini hanya dapat diketahui apabila tersedia seperangkat hasil belajar yang terukur dan terstandarkan sebagai acuan pembelajaran yang bermakna dan bertujuan untuk mencapai kompetensi standar tertentu. Dengan demikian, kompetensi dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Garry Martin (2001) mengemukakan bahwa terdapat empat landasan inti nilai-nilai profesi guru yang harus dikuasai dan dikembangkan oleh guru sebagai kompetensi standar. Kompetensi standar dalam Kerangka Kerja guru ini dilandasi oleh nilai-nilai di bawah ini. 1) Pembelajaran Guru suka belajar dan memotivasi orang lain untuk belajar juga.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

14

Guru mendukung sistem organisasi sekolah dan kelas yang mendorong pengembangan belajar mandiri dan belajar seumur hidup. 2) Perhatian Guru memperlakukan orang lain dengan perhatian yang baik dan mengusahakan strategi belajar mengajar yang dijiwai oleh konsep keterbukaan, kesederajadan, dan kebersamaan. 3) Keunggulan Guru memiliki standar keunggulan yang tinggi dan berjuang untuk mencapainya melalui tindakan mawas diri dan pertumbuhan profesionalitas yang terus berlanjut. 4) Kesetaraan Guru menghargai manfaat dari keberagaman komunitas sekolah dan mendorong terciptanya tempat kerja yang bebas diskriminasi, pemaksaan, dan ekploitasi. Di samping itu, Garry Martin (2001) juga mengemukakan adanya Landasan Inti Pengetahuan Profesonal Guru sebagaimana dikemukakan berikut ini. a. Guru memahami struktur dan fungsi Kerangka Kurikulum dan implikasinya dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran. b. Guru sepenuhnya memahami tujuan, sifat, dan kegunaan berbagai strategi evaluasi dan bagaimana informasi yang diperoleh melalui proses evaluasi dapat digunakan untuk meninjau dan memodifikasi pembelajaran. Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 15

c. Guru memahami bahwa pembelajaran siswa dipengaruhi oleh perkembangan pribadinya, pengalaman, kemampuan, minat, bahasa, keluarga, budaya dan lingkungan pergaulan/masyarakat. d. Guru benar-benar menguasai konsep-konsep kunci, struktur, dan proses inkuiri yang utama sehubungan dengan bidang studinya. e. Guru terbiasa dan benar-benar mengenal kerangka peraturan yang mendasari sistem sekolah dan pekerjaan guru. f. Guru sadar terhadap kebijakan pemerintah (baik pusat maupun daerah), dan sekolah yang mendasari program pendidikan dan layanan pendidikan. B. Kinerja Guru Guru adalah kondisi yang diposisikan sebagai garda terdepan dan posisi sentral di dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Berkaitan dengan itu, maka guru akan menjadi bahan pembicaraan banyak orang, dan tentunya tidak lain berkaitan dengan kinerja dan totalitas dedikasi dan loyalitas pengabdiannya. Sorotan tersebut lebih bermuara kepada ketidakmampuan guru di dalam pelaksanaan proses pembelajaran, sehingga bermuara kepada menurunnya mutu pendidikan. Kalaupun sorotan itu lebih mengarah kepada sisi-sisi kelemahan pada guru, hal itu tidak sepenuhnya dibebankan kepada guru, dan mungkin ada system yang berlaku, baik sengaja ataupun tidak akan berpengaruh terhadap permasalahan tadi.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

16

Banyak hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan kita, bagaimana kinerja guru akan berdampak kepada pendidikan bermutu. Kita melihat sisi lemah dari system pendidikan nasional kita, dengan gonta ganti kurikulum pendidikan, maka secara langsung atau tidak akan berdampak kepada guru itu sendiri. Sehingga perubahan kurikulum dapat menjadi beban psikologis bagi guru, dan mungkin juga akan dapat membuat guru frustasi akibat perubahan tersebut. Hal ini sangat dirasakan oleh guru yang memiliki kemampuan minimal, dan tidak demikian halnya guru professional. Selain itu, kinerja guru juga sangat ditentukan oleh output atau keluaran dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), sebagai institusi penghasil tenaga guru, LPTK juga memiliki tanggungjawab dalam

menciptakan guru berkualitas, dan tentunya suatu ketika berdampak kepada pembentukan SDM berkualitas pula. Oleh sebab itu LPTK juga memiliki andil besar di dalam mempersiapkan guru seperti yang disebutkan diatas, berkualitas, berwawasan serta mampu membentuk SDM mandiri, cerdas, bertanggungjawab dan berkepribadian. Harapan ke depan, terbentuk sinergi baru dalam lingkungan persekolahan, dan perlu menjadi perhatian adalah terjalinnnya kinerja yang efektif dan efisien disetiap struktur yang ada dipersekolahan. Kinerja terbentuk bilamana masing-masing struktur memiliki tanggungjawab dan memahami akan tugas dan kewajiban masing-masing.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

17

Era reformasi dan desentralisasi pendidikan menyebabkan orang bebas melakukan kritik, titik lemah pendidikan akan menjadi bahan dan sasaran empuk bagi para kritikus, adakalanya kritik yang diberikan dapat menjadi sitawar sidingin di dalam memperbaiki kinerja guru. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan pula akan dapat membuat merah telinga guru sebagai akibat dari kritik yang diberikan, hal ini dapat memberikan dampak terhadap kinerja guru yang bersangkutan. Apapun kritik yang diberikan, apakah bernilai positif atau negative kiranya akan menjadi masukan yang sangat berarti bagi kenerja guru. Guru yang baik tidak akan pernah putus asa, dan menjadi kritikan sebagai pemicu baginya di dalam melakukan perbaikan dan pembenahan diri di masa yang akan datang. Kritik terhadap kinerja guru perlu dilakukan, tanpa itu bagaimana guru mengetahui kinerja yang sudah dilakukannya selama ini, dengan demikian akan menjadi bahan renungan bagi guru untuk perbaikan lebih lanjut. Indikator suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat sumber daya manusianya, dan indicator sumber daya manusia ditentukan oleh tingkat pendidikan masyarakatnya. Semakin tinggi sumber daya manusianya, maka semakin baik tingkat pendidikannya, dan demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu indicator tersebut sangat ditentukan oleh kinerja guru. Bila kita amati di lapangan, bahwa guru sudah menunjukan kinerja maksimal di dalam menjalan tugas dan fungsinya sebagai pendidik, pengajar dan pelatih. Akan tetapi barangkali masih ada sebagian guru yang belum

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

18

menunjukkan kinerja baik, tentunya secara akan berpengaruh terhadap kinerja guru secara makro. Ukuran kinerja guru terlihat dari rasa tanggungjawabnya menjalankan amanah, profesi yang diembannya, rasa tanggungjawab moral dipundaknya. Semua itu akan terlihat kepada kepatuhan dan loyalitasnya di dalam menjalankan tugas keguruannya di dalam kelas dan tugas kependidikannya di luar kelas. Sikap ini akan dibarengi pula dengan rasa tanggungjawabnya mempersiapkan segala perlengkapan pengajaran sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Selain itu, guru juga sudah mempertimbangkan akan metodologi yang akan digunakan, termasuk alat media pendidikan yang akan dipakai, serta alat penilaian apa yang digunakan di dalam pelaksanaan evaluasi. Kinerja guru dari hari kehari, minggu ke minggu dan tahun ke tahun terus ditingkatkan. Guru punya komitmen untuk terus dan terus belajar, tanpa itu maka guru akan kerdil dalam ilmu pengetahuan, akan tetap tertinggal akan akselerasi zaman yang semakin tidak menentu. Apalagi pada kondisi kini kita dihadapkan pada era global, semua serba cepat, serba dinamis, dan serba kompetitif. Kinerja guru akan menjadi optimal, bilamana diintegrasikan dengan komponen persekolahan, apakah itu kepala sekolah, guru, karyawan maupun anak didik. Kinerja guru akan bermakna bila dibarengi dengan nawaitu yang bersih dan ikhlas, serta selalu menyadari akan kekurangan yang ada pada dirinya, dan berupaya untuk dapat meningkatkan atas kekurangan tersebut

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

19

sebagai upaya untuk meningkatkan kearah yang lebih baik. Kinerja yang dilakukan hari ini akan lebih baik dari kinerja hari kemarin, dan tentunya kinerja masa depan lebih baik dari kinerja hari ini. C. Peran, Tugas, dan Tanggung Jawab Guru Dalam arti yang luas, pendidikan dapat mencakup seluruh proses hidup dan segala interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal, nonformal, maupun informal. Proses tersebut muncul dalam rangka mewujudkan individu tersebut sesuai dengan tahapan perkembangannya secara optimal sehingga dicapai taraf kedewasaan tertentu. Pada konteks ini, seorang guru yang ideal menurut Makmun (1996) memiliki tugas dan peran sebagai berikut. 1) Konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan dan inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. 2) Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. 3) Transformator (penerjemah) sistem-sistem nilai melalui penjelmaan pribadinya dan perilakunya melalui proses interaksinya dengan peserta didik. 4) Organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dipertanggungjawabkan baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik serta Tuhan yang Menciptakannya). (Makmun, 1996:18) Dalam arti yang terbatas, pendidikan merupakan salah satu proses interaksi belajar mengajar dalam bentuk formal yang dikenal dengan pengajaran (instructional). Gagne dan Berliner dalam Makmun (1996:18)

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

20

menjelaskan bahwa dalam konteks ini guru memiliki peran, tugas, dan tanggung jawab sebagai berikut. 1) Perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (preteaching problems). 2) Pelaksana (organizer) yang harus menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana. Ia bertindak sebagai nara sumber (resource person), konsultan kepemimpinan (leader) yang bijaksana dalam arti demokratis dan humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems). 3) Penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisis, menafsirkan, dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement) atas tingkat keberhasilan belajar mengajar (PBM) tersebut berdasarkan kriteria yang ditetapkan baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya. 4) Pembimbing yang menekankan bahwa segala proses yang berlangsung itu memiliki tujuan (pusposive), yang berarti aspek intrinsik (niat, tekad, azam) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu yang penting untuk melahirkan perilaku tertentu meskipun tanpa adanya perangsang (stimulus) yang datang dari lingkungannya (naturalistic). Di sisi lain, pola-pola perilaku dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan pengukuhan (reinforcement) dengan mengkondisikan stimulus (conditioning) dalam lingkungannya (environmentalistic). (Makmun, 1996:18-19) Berdasar kepada rumusan teori di atas, dapat dilihat bahwa tugas, peranan, serta tanggung jawab guru demikian luas mencakup aspek pengembangan pengetahuan, keterampilan, serta sikap perilaku siswa secara menyeluruh. Apalagi jika dikaitan dengan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tersurat pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengisyaratkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 21

bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Peranan, tugas, serta tanggung jawab ini mustahil dapat dipikul tanpa adanya upaya peningkatan kemampuan guru itu sendiri dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan zaman. Pada uraian berikut ini akan dibahas mengenai profesionalitas guru dalam dua konteks yang sesungguhnya merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, yakni konteks pendidikan secara umum serta konteks globalisasi. Pada konteks pertama, akan dilihat bagaimana sesungguhnya jabatan guru secara formal sebagai pendidik dengan berbagai tugas dan peranan yang dipikulnya, sedangkan pada konteks yang kedua akan dilihat bagaimana peran, tugas, serta tanggung jawab guru dalam menghadapi perkembangan zaman serta berusaha meluluh ke dalamnya sebagai sebuah dinamika pengembangan profesi serta bahan pembinaan dan pendidikan moral siswa secara kontekstual. 1. Profesionalitas Guru dalam Konteks Pendidikan Pendidikan merupakan suatu proses dan usaha sadar yang

mengorganisasikan komponen-komponen yang ada di dalamnya sehingga hasil dari kegiatan tersebut dapat mengubah masukan (input/raw input) yang berupa peserta didik menjadi keluaran (output) yang berupa peserta didik yang

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

22

terdidik. Artinya, pada sebelum proses pendidikan berlangsung si peserta didik itu belum mengetahui apa-apa menjadi tahu, dari tidak memiliki keterampilan menjadi terampil, dan yang dulu tidak memiliki sikap yang terarah kepada tujuan pendidikan menjadi memiliki sikap terarah kepada tujuan pendidikan (Seno, 1984:14). Kadar keterdidikan berdasarkan pendapat di atas sangat ditentukan oleh kualitas dan intensitas proses pendidikan (kegiatan pembelajaran dan kegiatan kependidikan lainnya) yang berlangsung dalam suatu sistem pendidikan di sekolah. Keberhasilan untuk mencapai tingkat keterdidikan siswa tersebut sangat bergantung kepada kemampuan guru, kemantapan profesi guru, kemampuan guru dalam mengorganisasikan proses pendidikan secara menyeluruh. Seno (1984:15) mengemukakan bahwa kemampuan-kemampuan sebagai-mana yang diharapkan tersebut bukanlah suatu proses yang berlangsung begitu saja, melainkan sebentuk upaya sadar berupa peningkatan kapasitas diri di luar proses belajar mengajar. Secara skematik, Seno memberikan gambaran tentang tugas profesional guru sebagai berikut.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

23

Gambar 2.1 Tugas Profesional Guru
Kewajiban

Status dan Kedudukan

Profesi Guru yang Mantap

Tugas dan Fungsi

Hak Berdasarkan matriks di atas dapat dilihat ada empat komponen yang dapat mempengaruhi siap profesional guru, yakni status dan kedudukan, kewajiban guru, hak guru, serta tugas dan fungsi guru. a. Status dan Kedudukan Guru Dilihat dari kedudukannya, seorang guru merupakan makhluk Tuhan, makhluk sosial, dan makhluk individu. Sebagai makhluk Tuhan, seorang guru harus beriman dan beramal. Kualitas keimanan dan amaliah guru ini harus dilandasi oleh ilmu yang diimplemen-tasikan dalam tindakan sehari-hari. Iman seorang guru adalah keimanan ilmiah, demikian pula amal guru adalah amal ilmiah (Seno, 1984:15). Dengan demikian, iman seorang guru seharusnya adalah ilmiah amaliah, amal guru adalah amaliah ilmiah, dan ilmu guru adalah amaliah ilmiah.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

24

Sebagai makhluk sosial, harus disadari bahwa guru memiliki status pula sebagai: (1) warga negara; (2) pegawai negeri/swasta; (3) karyawan Dinas Pendidikan; (4) anggota masyarakat luas; dan (5) guru. Kelima status ini harus benar-benar disadari agar guru mampu mempertahankan dan meningkatkan keberadaannya di tengah kehidupan masyarakatnya. Sebagai makhluk individu, guru harus mampu memperlihatkan dan meningkat-kan kualitas dirinya dan keakuannya. Untuk itu, guru selayaknya selalu memikirkan dan berupaya untuk meningkatkan ilmunya, meningkatkan derajat dan pangkatnya, serta meningkatkan harta yang dimilikinya. Jika penjelasan di atas dapat disusun dalam bentuk matriks, maka bentuknya adalah sebagai berikut. Gambar 2.2 Status dan Kedudukan Guru GURU
Makhluk Tuhan: Iman amaliah ilmiah Amal amaliah ilmiah Ilmu amaliah ilmiah

Makhluk Sosial: Warga Negara Pegawai Negeri/Swasta Karyawan Dinas Pendidikan Anggota masyarakat luas Guru

Makhluk Individu: Ilmu Derajat/Pangkat Harta

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

25

b. Kewajiban Guru Makmun (1996:108) mengemukakan definisi tentang guru yang di dalamnya berkaitan sangat erat dengan kewajiban seorang guru seperti berikut ini. ”Guru adalah orang dewasa yang karena jabatannya secara formal selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat (dalam hal mengajar dan mendidik) sehingga memungkinkan bagi terjadinya proses pengalaman belajar (learning experiences) pada diri siswa, dengan mengerahkan segala sumber daya (learning resources) dan menggunakan strategi belajar mengajar (teaching learning strategies) yang tepat (appropriate)” (Makmun, 1996:108). Kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang guru menurut Kurikulum 2004 adalah melakukan transformasi dan inter-nalisasi keilmuan dan kepribadian sehingga timbul perubahan yang mengarah kepada terbentuknya manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2003a:6). Perubahan-perubahan tersebut dilakukan melalui pemberitahuan berbuat dan merencana sikap (Seno, 1984:16). Secara spesifik, proses transformasi dan internalisasi keilmuan tersebut merupakan kegiatan sadar dalam membentuk perilaku manusia lain dan dirinya sendiri dengan dua strategi utama, yakni memberi tahu dan memberi kesempatan merencanakan sesuatu kepada siswa. Kedua strategi ini memiliki tujuan, yakni para siswa atau peserta didik menjadi tahu apa yang seharusnya diketahuinya, mengerti akan apa yang telah diketahuinya, dan menyadari akan Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 26

pentingnya sesuatu tersebut bagi dirinya serta lingkungan sekitarnya. Tujuan tersebut pada akhirnya akan mengarah pada perubahan dan pembentukan peserta didik secara konstruktif dalam aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yang tercermin dalam tindakan dan perilaku berpikirnya sehari-hari. Proses transformasi dan internalisasi tersebut dapat dilukiskan dalam bentuk matriks sebagai berikut ini. Gambar 2.3 Kewajiban Guru
Memberi tahu Memberi kesempatan merencana

Tahu Mengerti Sadar

Perubahan dan Pembentukan: Pengetahuan Keterampilan Sikap

c. Hak Guru Di samping kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan guru sebagai manusia, guru memiliki hak-hak tertentu yang secara formal tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8/1974. Hak-hak ini harus diketahui, dipahami, dan disadari untuk digunakan bagi peningkatan kesejahteraan, kedudukan, serta kepuasan batinnya. Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 27

Dengan terpenuhinya hak-hak guru, dimungkinkan kinerja guru akan lebih terpenuhi secara maksimal dan peningkatan serta pengembangan profesi guru pun akan dapat berjalan sesuai dengan konteksnya. Hak-hak guru yang dimaksudkan meliputi hak-hak profesional serta hak penghasilan dan kesejahteraan sebagai berikut. 1) Hak profesional: a) memiliki kebebasan akademis baik di dalam maupun di luar kelas yang berkaitan dengan ilmu yang dikuasainya, metode dan teknik pendidikan; b) kebebasan untuk memberikan penilaian, penghargaan, dan sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan; c) memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas; d) memperoleh dan memanfaatkan fasilitas pembelajaran; e) kebebasan untuk berserikat dalam bidang profesi guru; dan meningkatkan kemampuan profesional guru. 2) Hak penghasilan dan kesejahteraan: a) memperoleh penghasilan yang layak; b) mendapat cuti; c) mendapat perawatan kesehatan; d) mendapat jaminan pensiun dan tunjangan hari tua; e) mendapat tunjangan jaminan sosial; f) memperoleh tunjangan kemahalan biaya hidup; dan g) memperoleh asuransi kesehatan, asuransi jiwa dan asuransi kecelakaan bagi guru. (Rancangan Kebijakan RUU tentang Guru) Atas dasar kutipan serta uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terpenuhinya hak-hak guru akan dapat meningkatkan kinerja guru sesuai dengan tuntutan profesinya. Hak-hak guru tersebut pada dasarnya meliputi (1) perlakuan yang adil, (2) memperoleh penghargaan tepat pada waktunya, serta (3) memperoleh kesempatan untuk meningkatkan profesinya. Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 28

d. Tugas dan Fungsi Guru Tugas utama guru adalah mendidik, dalam arti mengajar untuk memberikan pengetahuan dan meningkatkan kecerdasan, melatih siswa dalam arti membekali keterampilan, serta mendidik dalam arti memasyarakatkan sikap takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berudi pekerti luhur, mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Tugas tersebut dijabarkan menjadi fungsi-fungsi yang berbentuk kegiatan berikut ini. 1) Fungsi pokok, melaksanakan tatap muka dengan siswa dengan segala implikasinya sehingga guru berwibawa mengantarkan siswa mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan sebagai-mana ditetapkan dalam tujuan pendidikan nasional. 2) Fungsi profesi, dalam arti usaha-usaha mengaitkan profesinya sebagai guru dalam bentuk meningkatkan kemampuan baik secara formal maupun nonformal serta melakukan pengembangan profesi (seperti menulis buku, melakukan penelitian ilmiah, menemukan metode pembelajaran, sejenisnya). 3) Selain tugas-tugas pokok dan tugas profesi, kepada guru juga dibebankan tugas-tugas tambahan yang bersifat pembinaan dan pengembangan kemampuan administratif untuk membantu pengelolaan sekolah. Tugas-tugas tambahan ini meliputi tugas tambahan menjadi wakil mengikuti penataran atau pelatihan guru, dan

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

29

kepala sekolah, pembantu kepala sekolah bidang kurikulum, kesiswaan, sarana dan prasarana, serta hubungan masyarakat, tugas menjadi wali kelas, tugas tambahan melatih dan membina kegiatan ekstrakurikuler. 4) Fungsi pembimbing dan pembina dalam hal membina aktivitas siswa, bimbingan dan konseling, serta pengembangan moralitas dan etika siswa. 5) Fungsi kemanusiaan dan kemasyarakatan, yakni segala aktivitas guru di tengah-tengah masyarakat dalam rangka mengamalkan ilmunya guna meningkatkan nilai-nilai keimanan secara kontekstual. Atas dasar uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi dan tugas guru meliputi fungsi pokok, fungsi profesi, fungsi tambahan, fungsi pembimbing, serta fungsi kemanusiaan dan kemasyarakatan yang seluruhnya harus bersatu dalam diri guru sebagai suatu bentuk kompetensi. 2. Peran Guru dalam Konteks Globalisasi Guru merupakan orang terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan, khususnya pendidikan di sekolah. Guru adalah orang yang secara langsung bertanggung jawab untuk mewujudkan kurikulum yang direncanakan menjadi kegiatan nyata di sekolah. Meskipun sulit untuk ditentukan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas manusia baik sebagai kekuatan maupun tujuan pembangunan banyak ditentukan dan bergantung kepada kualitas proses pendidikan pada umumnya dan kegiatan belajar mengajar di sekolah pada khususnya.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

30

Sejak Indonesia merdeka tahun 1945 hingga awal abad kedua puluh satu ini, berpuluh juta bahkan ratusan juta anak bangsa dipercayakan kepada guru untuk dididik menjadi manusia Indonesia seutuhnya disertai harapan bahwa kelak mereka menjadi generasi penerus bangsa yang tangguh untuk mewarisi pembangunan bangsa ini. Tugas dan tanggung jawab guru bukan saja membantu siswa untuk mampu mengembangkan daya nalar dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga mengembangkan pribadipribadi yang religius, berbudi pekerti luhur, mandiri dan memiliki tanggung jawab sosial. Keberhasilan pengembangan karakteristik manusia Indonesia seutuhnya pada diri siswa memang tidak semata-mata berada di tangan guru. Namun, peran dan fungsi guru dalam mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional sebagai suatu kesatuan yang utuh juga tidak dapat diabaikan (Furqon, 1998:34). Seiring dengan melajunya perkembangan teknologi (khususnya teknologi informasi dan komunikasi) dewasa ini, pendidikan kini dihadapkan kepada era keterbukaan dan globalisasi. Masyarakat, termasuk para siswa di mana pun berada, akan dapat dengan mudah mengakses berbagai perkembangan kehidupan sosial, budaya, dan politik melalu berbagai media komunikasi. Siaran-siaran televisi yang sudah dianggap sebagai bagian dari kebutuhan masyarakat dewasa ini telah menyuguhkan berbagai informasi dan hiburan yang hampir tiada batas. Demikian pula halnya dengan jaringan internet dan email (yang pada saat ini dapat dengan mudah diakses oleh para siswa, terutama siswa-siswa yang berada di kota-kota besar) telah memberikan peluang Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 31

demikian besar untuk membentuk dan mengembangkan budaya baru melalui akses-akses global dari berbagai belahan dunia. Sudah barang tentu hal ini akan berdampak kepada perkembangan sikap, pribadi, serta moralitas mereka jika tidak disertai dengan upaya-upaya penetrasi serta tindakan-tindakan preventif yang sistematis dan intens. Berbagai pihak menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa indikator keberhasilan dan kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat sumber daya manusianya, dan indikator sumber daya manusia ditentukan oleh tingkat pendidikan masyarakatnya. Semakin tinggi sumber daya manusianya, maka semakin baik tingkat pendidikannya, dan demikian pula sebaliknya. Keberadaan indikator-indikator tersebut sangat ditentukan oleh peran serta kinerja guru. Ukuran kinerja guru ini dapat ditentukan melalui tanggung jawabnya menjalankan amanah, profesi yang diembannya, serta rasa tanggung jawab moral yang ada di pundaknya. Semua itu akan terlihat kepada kepatuhan dan loyalitasnya di dalam menjalankan tugas keguruannya di dalam kelas dan tugas kependidikannya di luar kelas. Di samping itu, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh guru pada saat ini menjadi ukuran penting di samping kemampuan utamanya dalam mengelola pembelajaran di dalam kelas. Dengan demikian, pada konteks sekarang ini, peran dan fungsi guru kian berkembang sebagaimana dikemukakan oleh Isjoni (Dekan FKIP Universitas Riau) sebagai berikut ini.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

32

a. Planner, artinya guru memiliki program kerja pribadi yang jelas, program kerja tersebut tidak hanya berupa program rutin, misalnya menyiapkan seperangkat dokumen pembelajaran seperti Program Semester, Satuan Pelajaran, LKS, dan sebagainya. Akan tetapi guru harus merencanakan bagaimana setiap pembelajaran yang dilakukan berhasil maksimal, dan tentunya apa dan bagaimana rencana yang dilakukan, dan sudah terprogram secara baik; b. Communicator, artinya guru harus mampu menjadi komunikator yang baik dalam mensosialisasikan programprogramnya kepada rekan sekerjanya, masyarakat orang tua siswa, para siswa, serta lembaga-lembaga terkait dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. c. Inovator, artinya memiliki kemauan untuk melakukan pembaharuan dan pembaharuan dimaksud berkenaan dengan pola pembelajaran, termasuk di dalamnya metode mengajar, media pembelajaran, sistem dan alat evaluasi, serta nurturant effect lainnya. Secara individu maupun bersama-sama mampu untuk mengubah pola lama, yang selama ini tidak memberikan hasil maksimal, dengan mengubah kepada pola baru pembelajaran, maka akan berdampak kepada hasil yang lebih maksimal; d. Motivator, artinya guru memiliki motivasi untuk terus belajar dan belajar, dan tentunya juga akan memberikan motivasi kepada anak didik untuk belajar dan terus belajar sebagaimana dicontohkan oleh gurunya; e. Capable personal, maksudnya guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan dan keterampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehinga mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif; f. Developer, artinya guru mau untuk terus mengembangkan diri, dan tentunya mau pula menularkan kemampuan dan keterampilan kepada anak didiknya dan untuk semua orang. Guru harus haus akan menimba pengetahuan dan keterampilan, serta peka terhadap perkembangan IPTEK, misalnya mampu dan terampil mendayagunakan komputer, internet, dan berbagai model pembelajaran multi media. (Isjoni. http://www.pendidikan.us/guru _masa_depan.html) Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa guru yang ideal adalah guru yang mampu bertindak sebagai fasilitator; komunikator,

pelindung; pembimbing dan punya figur yang baik (disiplin, loyal, Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 33

bertanggung jawab, kreatif, melayani sesuai dengan visi, misi yang diinginkan sekolah); termotivasi menyediakan pengalaman belajar bermakna untuk mengalami perubahan belajar berdasarkan keterampilan yang dimiliki siswa dengan berfokus menjadikan kelas yang konduktif secara intelektual fisik dan sosial untuk belajar; menguasai materi, kelas, dan teknologi; punya sikap berciri khas "the habits for highly effective people" dan "quantum teaching" serta pendekatan humanis terhadap siswa. Guru menguasai komputer, bahasa, dan psikologi mengajar untuk diterapkan di kelas secara proporsional. Diberlakukan skema rewards dan penegakan disiplin yang humanis terhadap guru dan karyawan. Guru juga harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan kemampuan para siswanya melalui pemahaman, keaktifan, pembelajaran sesuai kemajuan zaman dengan mengembangkan keterampilan hidup agar siswa memiliki sikap kemandirian, perilaku adaptif, koperatif, kompetitif dalam menghadapi tantangan, tuntutan kehidupan sehari-hari. Secara efektif menunjukkan motivasi, percaya diri serta mampu mandiri dan dapat bekerja sama. Selain itu guru masa depan juga dapat menumbuhkembangkan sikap, disiplin, bertanggung jawab, memiliki etika moral, dan memiliki sikap kepedulian yang tinggi, dan memupuk kemampuan belajar mandiri anak didik, memberikan penghargaan ataupun apresiasi terhadap siswa agar mereka bangga akan sekolahnya dan terdidik juga untuk mau menghargai orang lain baik pendapat maupun prestasinya. Kerendahan hati juga perlu dipupuk agar tidak terlalu overmotivated sehingga menjadi congkak. Diberikan pelatihan Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 34

berpikir kritis dan strategi belajar dengan manajemen waktu yang sesuai serta pelatihan cara mengendalikan emosi agar IQ, EQ dan kedewasaan sosial siswa berimbang. Selain itu, guru juga harus memiliki keterampilan dasar pembel-ajaran, kualifikasi keilmuannya juga optimal, Penampilan di dalam kelas maupun luar kelas tidak diragukan. Di sisi lain, guru harus pula memiliki kebanggaan dengan profesinya, dan akan tetap setia menjunjung tinggi kode etik profesinya. Kinerja guru dari hari ke hari, minggu ke minggu dan tahun ke tahun terus ditingkatkan. Guru harus punya komitmen untuk terus dan terus belajar. Tanpa itu, maka guru akan kerdil dalam ilmu pengetahuan, akan tetap tertinggal oleh akselerasi zaman yang semakin melaju dan hampir tidak menentu. Apalagi pada kondisi kini manusia dihadapkan kepada era global, semua serba cepat, serba dinamis, dan serba kompetitif. D. Tingkat Kesejahteraan Guru Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan oleh sejauh mana kesiapan guru dalam mempersiapkan peserta didiknya melalui kegiatan belajar-mengajar. Namun demikian, posisi strategis guru untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan sangat dipengaruhi oleh kemampuan profesional mengajar dan tingkat kesejahteraannya. Ukuran kesejahteraan memang relatif dan sulit diukur hanya dengan kecukupan materi belaka. Oleh sebab itu, Isjoni (2000) mengemukakan bahwa Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 35

tingkat kesejahteraan seorang guru dapat dilihat melalui indikator-indikator sebagai berikut. 1) Penghasilan setiap bulan mampu mencukupi kebutuhan pokok keluarga sehari-hari secara tetap dan berkualitas. 2) Kebutuhan pendidikan keluarga dapat terpenuhi secara baik dan optimal. 3) Memiliki kemampuan untuk mengembangkan pendidikan berkelanjutan serta mengembangkan diri secara profesional. 4) Memiliki kemampuan untuk mengembangkan komunikasi ke berbagai arah sesuai dengan kapasitasnya, baik dengan memanfaatkan teknologi maupun secara konvensional. Penghasilan yang dimaksudkan bukan hanya penghasilan yang diperoleh dari gaji guru (baik sebagai pegawai negeri ataupun sebagai guru honorer/yayasan), melainkan juga penghasilan lain yang diperoleh dari sumber lain. Pada konteks ini tidak tertutup kemungkinan seorang guru memiliki pekerjaan tambahan lain di luar tugasnya sebagai guru di sebuah sekolah. Bahkan, pada sejumlah kasus penghasilan seorang guru sebagai tukang ojek lebih besar daripada gaji golongan III/C. Penghasilan tambahan serupa ini sudah barang tentu akan menumbuhkan tingkat kesejahteraan keluarga sehingga keluarga guru tersebut akan mampu meningkatkan taraf hidupnya, memberikan pendidikan kepada anak-anaknya secara lebih baik, serta memiliki kesempatan untuk mengembangkan dirinya sendiri bagi kepentingan karirnya.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode dan Teknik Penelitian 1. Metode Penelitian Tujuan pokok penelitian ini adalah ingin mengungkapkan hubungan antara tingkat kesejahteraan guru dengan konsistensi kemampuan

profesionalnya. Untuk mencapai tujuan tersebut di samping melihat karakter permasalahan yang diteliti, maka penulis menggunakan metode deskripsianalisis yaitu suatu metode penelitian mengenai status kelompok, manusia, suatu obyek, satu set kondisi sistem pemikiran pada saat sekarang atau yang sedang terjadi, tujuannya yaitu untuk membuat deskripsi, gambaran, sistimatis dan faktual. Metode deskritif adalah suatu metode suatu metode penelitian atas kelompok manusia, objek, set kondisi, sistem pemikiran, ataupun peristiwa sekarang. Penelitian deskritif memberikan deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan fenomena yang diteliti (Arikunto, 1988:23). Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk

mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen)

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

37

tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan antara variabel satu dengan variabel yang lainnya (Sugiono, 2003:11). Lebih lanjut, Amir Suyatna (2000:14) mengemukakan bahwa penelitian deskriptif adalah akumulasi data dasar dalam cara deskriptif semata serta tidak saling berhubungan, tidak menguji hipotesis, tidak membuat ramalan, atau tidak mendapatkan makna implikasi. Penelitian deskriptif ini bertujuan a. mencari informasi faktual yang mendetail yang memerlukan gejala yang ada; b. mengidentifikasikan masalah-masalah atau untuk mendapatkan justifikasi (penguatan) keadaan dan praktek-praktek yang sedang berlangsung; dan c. membuat komparasi dan evaluasi. Untuk memperoleh data, penulis mempergunakan teknik survey, studi dokumentasi dan angket dengan dukungan wawancara, walaupun yang menjadi instrumen utama dan menjadi data yang diolah adalah angket. Pada tahap analisis penulis mengunakan pendekatan kuantitatif dengan berbagai perhitungan seperti tendensi sentral (mean, median, modus) dan berbagai perhitungan yang lebih menjelaskan pokok persoalan. Masalah kesejahteraan dan kemampuan profesionall guru adalah suatu fenomena sosial yang perlu dipahami, oleh sebab itu dalam analisis ini juga didukung oleh analisis kualitatif, agar lebih jelas, bermakna, dan mendalam, sebagaimana dikemukakan oleh Mochamad Natsir yang menjelaskan bahwa:

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

38

“Pendekatan kombinasi kuantitatif dan kualitatif dalam analisis dapat memperkaya data dan lebih memahami fenomena-fenomena sosial yang diteliti sehingga dengan informasi kualitatif tersebut, gambaran tentang fenomena sosial yang disajikan dalam tabel lebih semakin jelas, bermakna dan semakin hidup”. Metode dan teknik analisis data tersebut nampaknya cocok dengan tujuan penelitian dan masalah yang akan dikaji karena membahas masalah kondisi tertentu yang dalam hal ini adalah tingkat kesejahteraan guru dalam hubungannya dengan kemampuan profesional guru, yang pada tataran empiris diperlukan penangkapan fenomena-fenomena yang bersifat kontekstual. Fenomena-fenomena tersebut merupakan informasi tambahan dan akan memperkuat data yang diperoleh oleh instrumen pokok berbentuk angket. 2. Teknik Penelitian Teknik yang digunakan dalam proses pengumpulan data adalah sebagai berikut. a. Wawancara yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi tentang ukuran sejahtera yang dialami guru-guru serta masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas mereka sehari-hari di sekolah.. b. Angket yang digunakan untuk memperoleh data dengan cara menyediakan sejumlah pertanyaan dengan opsi pilihan jawaban yang telah disediakan. Pemilihan teknik angket tertutup ini untuk

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

39

menghindari

pembiasan

informasi

sehingga

pembahasan

hasil

penelitian tidak meluas. c. Studi Literatur yang dilakukan untuk menggali pemahaman teoritis tentang hal-hal yang berkaitan dengan kompetensi guru serta tugastugas profesional guru. B. Waktu dan Tempat Penelitian Yang menjadi tempat/lokasi penelitian dalam penulisan ini adalah SMP Negeri 2 Cugenang, Kabupaten Cianjur. Alasan penelitian di tempat ini, di samping alasan geografis yang akan memudahkan transportasi dan komunikasi, juga merupakan tempat dinas penulis. Di samping itu, pemilihan tempat penelitian ini secara empiris menarik karena aktivitas yang terkait dengan topik dan variabel permasalahan perlu dikaji melalui upaya penelitian. Sedangkan waktu pelaksanaan disesuaikan dengan tahapan-tahapan kegiatan penelitian dan kesepakatan dengan pihak-pihak yang lain yang dapat disebutkan sebagai berikut. Tabel 3.1: Jadwal Waktu Pelaksanaan Penelitian No 1 2 3 4 5 Waktu Kegiatan Juli 2004 Agustus 2004 Agustus 2004 September 2004 Oktober – November 2004 Jenis Kegiatan Penyusunan Perencanaan Penelitian Penyusunan Instrumen Penelitian Pelaksanaan Penelitian Analisis Data Hasil Penelitian Penyusunan Laporan Penelitian

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

40

C.

Populasi dan Sampel Penelitian Populasi penelitian ini adalah guru-guru mata pelajaran dan guru

bimbingan konseling SMP Negeri 2 Cugenang, Kabupaten Cianjur yang seluruhnya berjumlah 28 orang. Mengingat jumlah populasi di bawah 50 orang, maka seluruh populasi ini dijadikan sampel penelitian (sampel populasi) D. Instrumen Penelitian

1. Bentuk Instrumen Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa tujuan pokok penelitian ini adalah untuk mengungkapkan ada tidaknya hubungan antara tingkat kesejahteraan dan pengembangan kemampuan profesional guru. Oleh karena itu, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini disusun dalam bentuk angket yang menggunakan skala Likert. Untuk memperoleh data tentang tingkat kesejahteraan guru, responden dihadapkan kepada sejumlah pertanyaan positif atau negatif pada kuesioner. Setiap pertanyaan merupakan penjabaran dan satu indikator variabel yang mendapatkan skor penelitian. Setiap pertanyaan diikuti oleh lima alternatif jawaban, yaitu Sangat Realistis (SR), Realistis (R), Cukup Realistis (CR), Kurang Realistis (KR) dan Tidak Realistis (TR). Dan skor yang diperoleh adalah sebagai berikut a. Untuk jawaban Sangat Realistis (SR) diberi skor 5 b. Untuk jawaban Realistis (R) diberi skor 4 c. Untuk jawaban Cukup Realistis (CR) diberi skor 3

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

41

d. Untuk jawaban Kurang Realistis (KR) diberi skor 2 e. Untuk jawaban Tidak Realistis (TR) diberi skor 1 Sedangkan untuk memperoleh data tentang pengembangan kemampuan profesional guru, responden dihadapkan juga kepada sejumlah pertanyaan positif atau negatif, setiap pertanyaan merupakan penjabaran dan satu indikator variabel yang mendapatkan skor penelitian. Setiap pertanyaan diikuti oleh lima alternatif jawaban, yaitu Selalu (SL), Sering (S), Kadang-kadang (KK), Jarang (JR) dan Tidak Pernah (TP). Adapun skor yang diperoleh responden adalah sebagai berikut. a. Untuk jawaban Selalu (SL) diberi skor 5 b. Untuk jawaban Sering (S) diberi skor 4 c. Untuk jawaban Kadang-kadang(KK) diberi skor 3 d. Untuk jawaban Jarang (J) diberi skor 2 e. Untuk jawaban Tidak pernah (TP) diberi skor 1 2. Prosedur Pengembangan Instrumen Langkah-langkah yang akan ditempuh dalam pengembangan instrumen penelitian secara garis besarnya adalah sebagai berikut. a. Merumuskan definisi operasional setiap variabel penelitian hingga masing-masing variabel memiliki batasan yang jelas mengenai aspek dan sub aspek yang akan diukur serta indikatornya masing-masing. b. Menyusun penjabaran konsep yang akan dijadikan panduan dalam penulisan butir-butir pertanyaan. Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 42

c. Merumuskan butir-butir pertanyaan sesuai dengan penjabaran konsep instrumen penelitian yang telah ditetapkan. 3. Pengembangan Instrumen Penelitian Secara global, instrumen penelitian disusun dalam bentuk angket tertutup dengan kisi-kisi instrumen sebagai berikut.
Variabel Aspek yang Diamati Indikator

Tingkat Kesejahteraan Guru

a. Penghasilan setiap bulan cukup

1) Menekuni pekerjaan sampingan selama tidak mengganggu tugas pokok. 2) Memperoleh penghasilan lebih besar daripada gaji sebagai pegawai negeri sipil. 3) Mengharapkan penghasilan yang lebih besar dan tetap setiap bulan. 4) Seluruh anggota keluarga terpenuhi kebutuhan pokoknya. 5) Pendidikan anak-anak dapat berkembang sesuai dengan kemampuannya. 6) Memiliki rumah sendiri dalam bentuk dan ukuran relatif ideal. 7) Memiliki sarana/fasilitas hiburan sendiri yang relatif memadai. 8) Memiliki fasilitas komunikasi (telepon, hp) yang relatif memadai. 9) Memiliki fasilitas transportasi yang relatif memadai. 10) Memiliki sarana jaringan komunikasi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (e-mail, website, atau yang lainnya). 11) Pendidikan minimal Anda adalah S1. 12) Berkeinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (S2 dan atau S3) 13) Selalu mengikuti perkembangan

b. Pendidikan berkelanjutan dan selalu mengembangkan diri

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

43

Variabel

Aspek yang Diamati

Indikator

14) 15) 16)

17) 18)

ilmu pengetahuan melalui berbagai cara. Rajin mengikuti seminar dan sejenisnya dengan biaya sendiri. Memiliki perpustakaan sendiri di rumah. Selalu melengkapi perpustakaan rumah dengan buku-buku bermutu setiap bulan. Selalu tergoda untuk melakukan penelitian. Menulis dan membuat karangan ilmiah dan diterbitkan melalui penerbit atau media massa.

c. Mengembangkan komunikasi ke berbagai arah

19) Memiliki relasi seprofesi lebih dari 50 orang yang selalu berhubungan secara aktif. 20) Memiliki relasi di luar profesi guru dalam jumalh banyak dan selalu berhubungan aktif. 1) Membuat program tahunan dan program semester. 2) Membuat silabus pembelajaran. 3) Menyusun dan menyiapkan bahan ajar bagi siswa. 4) Melaksanakan pembelajaran di kelas. 5) Mengelola pembelajaran dengan memberikan motivasi dan fasilitas (menjadi fasilitator) kepada siswa. 6) Menyusun dan mengembangkan alat penilaian bagi proses dan hasil belajar siswa. 7) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa. 8) Menganalisis hasil belajar siswa. 9) Membuat dan melaksanakan program perbaikan. 10) Membuat dan melaksanakan program pengayaan bagi siswa. 11) Menguasai dan memahami wawasan kependidikan dengan

Kinerja Guru

d. Kemampuan mengelola kegiatan pembelajaran

e. Kemampuan penguasaan penge-

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

44

Variabel

Aspek yang Diamati

Indikator

tahuan

baik. 12) Menguasai dan memahami serta mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang menjadi tugasnya. 13) Melakukan diskusi dengan teman sejawat di sekolah maupun di luar sekolah untuk mengembangkan wawasan keilmuan. 14) Aktif dalam kegiatan MGMP atau yang sejenis. 15) Mendokumentasikan setiap hal yang bersifat keilmuan dalam file khusus. 16) Datang ke sekolah tepat waktu. 17) Masuk ke kelas tepat waktu. 18) Melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan program yang ditetapkan. 19) Melaksanakan penilaian secara periodik dan sistematis. 20) Melaporkan setiap hasil pembelajaran siswa secara berkala. 21) Mempersiapkan kebutuhan mengajar sendiri tanpa bantuan orang lain. 22) Menciptakan atau membuat media pembelajaran sesuai kebutuhan. 23) Menyusun buku atau diktat pembelajaran bagi siswa. 24) Melakukan penelitian sesuai bidang tugasnya. 25) Menyusun karya tulis ilmiah baik hasil penelitian maupun pemikiran sendiri.

f.

Penerapan disiplin melaksanakan tugas

g. Kemampuan mengembangkan kreativitas

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

45

E.

Pengumpulan Data dan Analisis Data

1. Prosedur Pengumpulan Data Langkah pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut. a. Penulis menyampaikan angket pertama yang berkenaan dengan data guru yang memiliki tugas sampingan di luar jam tugas pokoknya. b. Sampel yang ditetapkan kemudian diserahi angket penelitian untuk diisi dan dikembalikan. 2. Analisis Data Analisis data pada penelitian ini diarahkan pada pengujian hipotesis yang diawali dengan deskripsi data penelitian dari kedua variabel dalam bentuk distribusi frekuensi dan histogramnya serta menentukan persamaan regresinya. Pengujian data penelitian meliputi langkah-langkah sebagai berikut. a. Uji Normalitas Karena statistik parametrik berlandaskan pada asumsi bahwa data yang akan dianalisis harus berdistribusi normal, maka penulis menggunakan uji normalitas untuk mengetahui apakah data yang dihasilkan berdistribusi normal atau tidak, melalui uji Liliefors dengan menentukan nilai Lo seperti rumus di bawah ini.

Lo = | F(z) – S(z) |

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

46

Hasil perhitungan tersebut lalu dibandingkan dengan nilai L1 dari tabel Liliefors jika Lo < L1, maka sampel berasal dari populasi berdistribusi normal. b. Uji Homogenitas Uji Homogenitas dilakukan untuk menguji apakah data yang dianalisis berasal dari populasi yang homogen atau tidak. Dalam pengujian ini mengguna-kan uji Bearlet, dengan menggunakan persamaan sebagai berikut.

χ2 = (ln lo { B – (∑ db log S12)}
Untuk taraf nyata α = 0.05 kemudian dibandingkan dengan nilai pada tabel χ . Jika χ homogen. c. Uji Signifikansi dan Linieritas Regresi Untuk memperoleh estimasi dan signifikan data yang diperoleh dilakukan dengan analisis statistik univariate. Analisis univariat ini dimaksudkan untuk mendapatkan deskripsi tentang masing-masing variabel, sedangkan analisis bivariate untuk mengungkapkan signifikan kualitas hubungan dan korelasi dua variabel. Berdasarkan harga statistik yang diperoleh, dapat disimpulkan erat tidaknya tingkat hubungan antara kedua variabel termasuk besar kecilnya kontribusi antara variabel tersebut. Untuk menguji signifikansi hubungan antara variabel, maka penulis menggunakan uji keberartian koefesieni Korelasi (Uji-t) sebagai berikut: Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 47
2 2
hitung

<

χ2tabel, maka sampel berasal dari populasi

t=

r n−2 1− r2

Harga t selanjutnya dibandingkan antara ttabel dengan taraf signifikansi 0.05 dan (n-2). Apabila thitung > ttabel, maka koefesiensi korelasi signifikan (berarti). Untuk mengetahui koefesien determinasi variansi, variabel terikat yang dijelaskan oleh variabel bebas melalui regresi linier adalah dengan mengkuadratkan nilai t. Untuk menentukan koefesien korelasi parsial digunakan rumus :

ry

12

=

{1 − r }{1 − r }
2 2 y2 12

ry1 − {ry 2 x r12 }

Regresi digunakan untuk memprediksikan seberapa jauh nilai variabel dependen bila variabel independen diubah. Sugiyono mengemukakan bahwa regresi digunakan untuk menganalisis antara satu variabel dengan variabel yang lain secara konseptual mempunyai hubungan kausal atau fungsional.

Uji signifikan regresi dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut.

Fh =

JK(reg) JK(S)/(n − 2)

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

48

Harga Fhitung dibandingkan dengan Ftabel, apabila Fhitung > Ftabel maka koefesien regresi signifikan dan pengujian linieritas regresi harus dilakukakn dengan menggunakan persamaan:

Fh =

JK(TC)/(k - 2) JK(G)/(n − k)

Kemudian hasil Fhitung dibandingkan dengan Ftabel dan apabila Fhitung < Ftabel, maka koefesian regresi linier. Selanjutnya uji signifikansi regresi ganda dilakukan dengan menggunakan persamaan:

Fh =

JK(reg)/2 JK(S)/(n − 3)

Setelah Fhitung dikonsultasikan dengan Ftabel dan apabila Fhitung > Ftabel, maka koefesien regresi ganda signifikan.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

49

BAB IV HASIL PENELITIAN

Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian yang meliputi deskripsi data ketiga variabel penelitian, pengujian persyaratan statistik, pengujian hipotesis serta pembahasannya, dan keterbatasan penelitian. Prosedur pengolahan data tersebut dapat diuraikan sebagaimana disajikan berikut ini. A. Deskripsi Data Hasil Penelitian 1. Data Kualitatif a. Data tentang Kondisi Guru yang Memiliki Pekerjaan Sampingan Berdasarkan hasil angket yang disebarkan kepada responden, diperoleh data kualitatif tentang kondisi kesejahteraan guru yang memiliki pekerjaan sampingan di luar tugas pokoknya sebagai berikut.
Tabel 4.1 Data Guru yang Memiliki Pekerjaan Sampingan
Aspek yang Diamati Pemilih yang Menyatakan Ya

Indikator

a. Penghasilan setiap bulan cukup

1) Menekuni pekerjaan sampingan selama tidak mengganggu tugas pokok. 2) Memperoleh penghasilan lebih besar daripada gaji sebagai pegawai negeri sipil. 3) Mengharapkan penghasilan yang lebih besar dan tetap setiap bulan. 4) Seluruh anggota keluarga terpenuhi kebutuhan pokoknya.

21 11 28 19

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

50

Aspek yang Diamati

Indikator

Pemilih yang Menyatakan Ya

5) Pendidikan anak-anak dapat berkembang sesuai dengan kemampuannya. 6) Memiliki rumah sendiri dalam bentuk dan ukuran relatif ideal. 7) Memiliki sarana/fasilitas hiburan sendiri yang relatif memadai. 8) Memiliki fasilitas komunikasi (telepon, hp) yang relatif memadai. 9) Memiliki fasilitas transportasi yang relatif memadai. 10) Pendidikan minimal Anda adalah S1. 11) Berkeinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (S2 dan atau S3) 12) Selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan melalui berbagai cara. 13) Rajin mengikuti seminar dan sejenisnya dengan biaya sendiri. 14) Memiliki perpustakaan sendiri di rumah. 15) Selalu melengkapi perpustakaan rumah dengan buku-buku bermutu setiap bulan. 16) Selalu tergoda untuk melakukan penelitian. 17) Menulis dan membuat karangan ilmiah dan diterbitkan melalui penerbit atau media massa. 18) Memiliki relasi seprofesi lebih dari 50 orang yang selalu berhubungan secara aktif. 19) Memiliki relasi di luar profesi guru dalam jumlah banyak dan selalu berhubungan aktif. JUMLAH Rata-rata Persentase

16 20 27 21 14 26 26 24 12 4 3 10 2 14 17

b. Pendidikan berkelanjutan dan selalu mengembangkan diri

c. Mengemba ngkan komunikasi ke berbagai arah

315 16,58 59,21 %

Berdasarkan data yang diperoleh di atas dapat dilihat bahwa jumlah guru yang memiliki pekerjaan sampingan di luar tugas pokoknya memiliki

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

51

tingkat kesejahteraan yang relatif baik dibandingkan dengan guru pada umumnya. Fakta ini didukung oleh angka rata-rata yang mencapai 16,58 orang dari 28 sampel yang dipilih, atau sebesar 59,21 %. Guru-guru ini memiliki fasilitas yang lebih lengkap dalam mendukung aktivitasnya baik di dalam maupun di luar sekolah. Kebutuhan-kebutuhan pokok keluarga dapat terpenuhi, berlatar pendidikan minimal S1 dan berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang S2, serta selalu mengikuti perkembangan pengetahuan melalui berbagai cara. Di sisi lain, guru-guru yang memiliki pekerjaan sampingan di luar tugas pokoknya memiliki hubungan relasi dengan lingkung-an di luar profesinya. Hal ini akan semakin memperluas cakrawala pengetahuannya serta pengembangan usahanya yang akan berdampak pada peningkatan penghasilannya. b. Data tentang Aktivitas Guru yang Memiliki Pekerjaan Sampingan di Sekolah Berdasarkan hasil angket yang disebarkan kepada responden, diperoleh data kualitatif tentang aktivitas guru yang memiliki pekerjaan sampingan di luar tugas pokoknya di sekolah sebagai berikut.
Tabel 4.2 Data Aktivitas Guru yang Memiliki Pekerjaan Sampingan di Sekolah
Aspek yang Diamati Indikator Jumlah yang Menyatakan Ya

a) Kemampuan mengelola kegiatan

1) Membuat program tahunan dan program semester. 2) Membuat silabus pembelajaran.

28 28

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

52

Aspek yang Diamati

Indikator

Jumlah yang Menyatakan Ya

pembelajaran

3) Menyusun dan menyiapkan bahan ajar bagi siswa. 4) Melaksanakan pembelajaran di kelas. 5) Mengelola pembelajaran dengan memberikan motivasi dan fasilitas (menjadi fasilitator) kepada siswa. 6) Menyusun dan mengembangkan alat penilaian bagi proses dan hasil belajar siswa. 7) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa. 8) Menganalisis hasil belajar siswa. 9) Membuat dan melaksanakan program perbaikan. 10) Membuat dan melaksanakan program pengayaan bagi siswa.

28 28 28

26

26 24 22 12 20 28

b) Kemampuan penguasaan pengetahuan

11) Menguasai dan memahami wawasan kependidikan dengan baik. 12) Menguasai dan memahami serta mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang menjadi tugasnya. 13) Melakukan diskusi dengan teman sejawat di sekolah maupun di luar sekolah untuk mengembangkan wawasan keilmuan. 14) Aktif dalam kegiatan MGMP atau yang sejenis. 15) Mendokumentasikan setiap hal yang bersifat keilmuan dalam file khusus.

24

13 11 28 23 23

c) Penerapan disiplin melaksanakan tugas

16) Datang ke sekolah tepat waktu. 17) Masuk ke kelas tepat waktu. 18) Melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan program yang ditetapkan. 19) Melaksanakan penilaian secara periodik dan sistematis.

28

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

53

Aspek yang Diamati

Indikator

Jumlah yang Menyatakan Ya

20) Melaporkan setiap hasil pembelajaran siswa secara berkala. d) Kemampuan mengembang kan kreativitas 21) Mempersiapkan kebutuhan mengajar sendiri tanpa bantuan orang lain. 22) Menciptakan atau membuat media pembelajaran sesuai kebutuhan. 23) Menyusun buku atau diktat pembelajaran bagi siswa. 24) Melakukan penelitian sesuai bidang tugasnya. 25) Menyusun karya tulis ilmiah baik hasil penelitian maupun pemikiran sendiri. JUMLAH RATA-RATA PERSENTASE

27 27

16 6 11 7

542 21,68 77,43 %

Data di atas menunjukkan bahwa guru yang memiliki pekerjaan lain di luar tugas pokoknya tetap memiliki aktivitas yang tinggi di sekolahnya. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah rata-rata responden yang menyatakan YA sebanyak 21,68 orang dari 28 responden, atau sebesar 77,43 %. Angka persentase ini sangat tinggi apabila dikaitkan dengan aktivitas mereka yang lebih tinggi dibandingkan dengan guru-guru lain. Guru-guru yang memiliki aktivitas sampingan ini tetap mampu mengelola pembelakaran lebih baik, mengembangkan wawasan keilmuan lebih baik, melaksanakan tugas dengan disiplin yang juga lebih baik, serta memiliki peluang pengembangan kreativitas yang lebih baik pula.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

54

2. Data Kuantitatif Seluruh data hasil penelitian yang berhasil dikumpulkan diperiksa dan ditelaah secara cermat untuk diolah dengan tabulasi. Mengingat data yang diperoleh relatif banyak, maka data tersebut diolah terlebih dahulu dengan membuat interval yang menggunakan ketentuan Struges, yakni 1) menentukan rentang yang diperoleh dari selisih antara data terbesar dan data terkecil; 2) menentukan banyaknya kelas yang diperoleh dengan menghitung 1 – 3,33 log n; 3) menentukan panjang kelas (p) dengan cara membagi rentang dengan panjang kelas. Berdasarkan tabel distribusi frekuensi data, dihitung ukuran tendensi sentral yang meliputi rata-rata hitung, standar deviasi, modus, median, dan tendensi penyebaran. Keseluruhan data tersebut dapat disajikan sebagai berikut ini. a. Data tentang Kinerja Guru Data penelitian tentang kinerja guru yang berhasil dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian memiliki rentang skor teoritis antara 25 sampai dengan 125. Rentang skor teoritis ini diperoleh dari jumlah item yang terdapat dalam instrumen penelitian sebanyak 25 item yang disusun berdasarkan skala Likert, yakni: 1) untuk jawaban Selalu (SL) diberi skor 5; 2) untuk jawaban Sering (S) diberi skor diberi skor 4; Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 55

3) untuk jawaban Kadang-kadang (K) diberi skor 3; 4) untuk jawaban Jarang (J) diberi skor diberi skor 2; dan 5) untuk jawaban Tidak pernah (TP) diberi skor 1. Berdasarkan data penelitian, skor empiris yang diperoleh adalah 72 – 113 dengan rentang 93. Skor rata-rata kinerja guru yang diperoleh adalah 92,96 dengan standar deviasi sebesar 10,72 dan modus sebesar 93 serta median 93. Banyak kelas yang diambil adalah 7 dan panjang kelasnya adalah 6. Data tersebut selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Kinerja Guru (Y)

No 1 2 3 4 5 6

Interval Kelas 72 - 78 79 - 85 86 - 92 93 - 99 100 - 106 107 - 113 JUMLAH

Frekuensi Absolut 2 4 7 8 4 3 28

Frekuensi Relatif (%)

Frekuensi Kumulatif

100

100

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

56

Agar lebih jelas, penyajian data di atas ditampilkan dalam bentuk histogram sebagai berikut.

9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 74,5 81,5 88,5 95,5 102,5 109,5

Gambar 4.1: Histogram sebaran data variabel Kinerja Guru

Berdasarkan skor teoritis yang dikemukakan di atas, bahwa skor terendah adalah 72 dan skor teringgi adalah 113, maka diperoleh nilai tengah teoritis yaitu 62,5 dan nilai tengah empiris adalah 93. Dengan demikian, data tersebut menunjukkan bahwa kinerja guru memiliki kategori baik karena di atas rata-rata nilai tengah 62,5. b. Data tentang Tingkat Kesejahteraan Guru Data penelitian tentang tingkat kesejahteraan guru yang berhasil dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian memiliki rentang skor teoritis antara 19 sampai dengan 95. Rentang skor teoritis ini diperoleh dari jumlah item yang terdapat dalam instrumen penelitian sebanyak 19 item yang disusun berdasarkan skala Likert, yakni:

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

57

1) Untuk jawaban Sangat Realistis (SR) diberi skor 5 2) Untuk jawaban Realistis (R) diberi skor 4 3) Untuk jawaban Cukup Realistis (CR) diberi skor 3 4) Untuk jawaban Kurang Realistis (KR) diberi skor 2 5) Untuk jawaban Tidak Realistis (TR) diberi skor 1 Berdasarkan data penelitian, skor empiris yang diperoleh adalah 43 – 77 dengan rentang 34. Skor rata-rata tingkat kesejahteraan guru yang diperoleh adalah 60,68 dengan standar deviasi sebesar 8,27 dan modus sebesar 63 serta median 61,5. Banyak kelas yang diambil adalah 7 dan panjang kelasnya adalah 5. Data tersebut selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Tingkat Kesejahteraan Guru (X)

No 1 2 3 4 5

Interval Kelas 43 - 49 50 - 56 57 - 63 64 - 70 71 - 77 JUMLAH

Frekuensi Absolut 3 6 9 6 4 28

Frekuensi Relatif (%)

Frekuensi Kumulatif

100

100

Agar lebih jelas, penyajian data di atas ditampilkan dalam bentuk histogram sebagai berikut.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

58

10 8 6 4 2 0 45,5 52,5 59,5 66,5 73,5

Gambar 4.2: Histogram dan kurva normal sebaran data variabel tingkat kesejahteraan guru

Berdasarkan skor teoritis yang dikemukakan di atas, bahwa skor terendah adalah 43 dan skor tertinggi adalah 77, maka diperoleh nilai tengah teoritis yaitu 42.5 dan nilai tengah empiris adalah 61,5. Dengan demikian, data tersebut menunjukkan bahwa kinerja guru memiliki kategori baik karena di atas rata-rata nilai tengah 42,5. B. Pengujian Persyaratan Analisis Statistik Persyaratan analisis statistik dilakukan sebelum melakukan pengujian hipotesis. Persyaratan yang dimaksud meliputi (1) data berasal dari sampel dengan pasangan X dan Y yang diambil secara acak, (2) setiap kelompok data memiliki harga prediktor X dan respon Y harus bersifat independen dan berdistribusi normal, (3) untuk setiap kelompok harga X memiliki varians yang homogen dan galat taksiran (Y – Y) bersidtribusi normal, dan garis persamaan regresi berbentuk linier dan memiliki signifikansi regresi.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

59

1. Uji Normalitas Data Untuk mengetahui normalitas data, digunakan uji normalitas data dengan menggunakan uji Lilifors dan uji linearitas dengan teknik uji linearitas sederhana. Sementara itu, uji taksiran galat Y atas X dimaksudkan untuk mengetahui apakah galat taksiran regresi Y atas X berdistribusi normal ataukah tidak. Kriteria pengujian ini adalah apabila F(Z1) – S(Z1) terbesar diseimbangkan dengan LO < Ltabel pada taraf signifikansi 0,05. Jika persyaratan tersebut terpenuhi maka sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Untuk menguji galat taksiran Y atas X digunakan rumus Lilifors. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai LO = 0,07216 dengan n = 28, pada taraf signifikansi 5 % diperoleh Lhitung = 0,0223. Karena L1 < LO (0,0223 < 0,07216) maka dapat disimpulkan bahwa populasi dinyatakan berdistribusi normal. 2. Uji Homogenitas Varians Uji homogenitas varian dimaksudkan untuk mengetahui homogenitas varian antara kelompok-kelompok atas persamaan X. Uji homogenitas varians ini dilaksanakan dengan uji Bartlet yang menggunakan uji Chi Kuadrat. Kriteria yang digunakan adalah Ho diterima jika χ2hitung < χ2tabel pada taraf signifikansi 0,05. Proses pengujian yang ditempuh adalah dengan cara mengelompokkan data Y berdasarkan kesamaan data X1, kemudian menghitung χ2hitung.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

60

Berdasarkan hasil perhitungan untuk pengujian homogenitas varian Kinerja Guru (Y) atas Tingkat Kesejahteraan Guru (X) diperoleh hasil χ2hitung = 8,643 yang berarti lebih kecil daripada χ2tabel = 48,6 untuk ∂ 0,05 dengan dk 20, sehingga Ho diterima. Atas dasar perhitungan ini dapat disimpulkan bahwa varian Y atas X adalah homogen. C. Pengujian Hipotesis Hipotesis penelitian ini menyatakan bahwa diduga terdapat hubungan positif antara kinerja guru (Y) dan tingkat kesejahteraan guru (X). Hubungan ini ditunjukkan dengan persamaan regresi Ŷ = a + bX di mana harga b = r
Sy Sx

dan a = Y – bX. Persamaan regresi yang diperoleh adalah Ŷ = 23,8947 + 0,386X1 dari harga JK di atas disusun dalam daftar analisis varian (ANAVA) sebagai berikut ini.
Tabel 4.5 Analisis Varians untuk Regresi Linier Y dan X

Ŷ = 0,492 + 0,0187X
Sumber Varians Total Koefisien (a) Regresi (b/a) Sisa Tuna Cocok Galat dk 28 1 1 27 13 14 JK 3104,964 1062,667 197,403 2907,561 1011,820 1275,842 197,403 26,3807** 14,7291 14,7291 14,7291 0,9698 1,67 2,06 3,67 7,19 RJK Fhitung Ftabel α = 0,05 Ftabel α = 0,01 -

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

61

Keterangan:

** dk JK RJK Fhitung Ftabel

: : : : : :

Regresi sangat signifikan (Fhitung = 26,3807 > Ftabel = 3,67) derajat kebebasan jumlah kuadrat Rata-rata jumlah kuadrat Nilai F yang diperoleh dari hasil perhitungan Nilai F berdasatkan tabel

Berdasarkan hasil uji signifikansi dan linearitas di atas menunjukkan bahwa harga Fh regresi diperoleh sebesar 26,3807 sedangkan harga Ftabel dengan dk pembilang 1 dan dk penyebut 26 pada taraf signifikansi 0,05 adalah 3,67. Atas dasar hal tersebut ternyata harga Fhitung regresi lebih besar daripada harga Ftabel sehingga dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi Y atas X sangat berarti pada taraf signifikansi 0,05. Harga F tuna cocok hasil perhitungan diperoleh sebesar 0,9698 sedangkan Ftabel dengan dk pembilang 13 dan dk penyebut 14 adalah 1,67 sehingga Fhitung lebih kecil daripada Ftabel. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Y terhadap X adalah linier. Persamaan regresi tersebut menunjukkan bahwa setiap kenaikan skor tingkat kesejahteraan guru akan menyebabkan kenaikan kinerja guru sebesar 0,0187 pada konstanta 0,492. Kekuatan hubungan antara tingkat kesejahteraan guru (X) dan kinerja guru (Y) ditunjukkan oleh koefisien korelasi ry1 = 0,994. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari penjabaran pada tabel berikut ini.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

62

Tabel 4.6 Uji signifikansi Koefisien Korelasi antara Tingkat Kesejahteraan Guru (X) dan Kinerja guru (Y)

Korelasi antara

Koefisien Korelasi

Koefisien Determinasi

thitung
4,853**

ttabel α = 0,05
1,23

α = 0,01
1,97

X dan Y

0,994

0,41

** Koefisien korelasi sangat signifikan (thitung : 4,853 > ttabel : 1,97) Harga thitung yang diperoleh adalah 4,853 sedangkan dari tabel distribusi student ”t” dengan dk 27 pada taraf signifikansi 0,05 diperoleh harga ttabel sebesar 1,23. Oleh karena thitung jauh lebih besar daripada ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa variansi variabel Y dapat dijelaskan oleh X sebesar 41 %. Berdasarkan uji signifikansi koefisien tersebut, dapat disimpulkan bahwa koefisien antara tingkat kesejahteraan guru (X) dengan kinerja guru (Y) sebesar 0,99 adalah sangat signifikan. Dengan demikian, terdapat hubungan positif antara tingkat kesejahteraan guru (X) dan kinerja guru (Y), atau dengan kata lain, makin tinggi tingkat kesejahteraan guru akan semakin tinggi pula kemampuan kinerja guru.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

63

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan Penelitian terhadap guru-guru ini bertujuan untuk mengetahui variabel-

variabel determinan yang berpengaruh terhadap kemampuan kinerja guru, khususnya yang berkaitan dengan tingkat kesejahteraan guru. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dari responden sebanyak 28 orang, kemudian diolah dengan menggunakan teknik regresi dan korelasi diperoleh kesimpulan sebagai berikut ini. Pertama, dari jumlah responden 28 orang, ternyata 59,21 % guru yang memiliki pekerjaan sampingan di luar tugasnya mengajar memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Mereka memiliki rumah sendiri, memiliki fasilitas-fasilitas hiburan yang baik dan memadai, memiliki fasilitas komunikasi yang memadai seperti memiliki hand-phone, dan beberapa di antaranya memiliki sambungan telepon sendiri di rumah. Guru-guru yang memiliki pekerjaan sampingan ini pun memiliki sarana transportasi sendiri (sepeda motor) yang dapat memudahkan mereka dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya. Dengan kata lain, guru-guru yang memiliki pekerjaan sampingan ini memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan dengan guru-guru lainnya.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

64

Kedua, guru-guru yang memiliki pekerjaan sampingan di luar tugas pokoknya ini ternyata memiliki aktivitas yang tinggi pula di sekolah. Angka 77,43 % dari jumlah responden 28 orang menunjukkan jumlah yang signifikan. Mereka tetap melaksanakan tugas yang seharusnya dibuat dan dilaksanakan oleh guru, mereka tetap menjalankan kegiatan pokoknya dengan disiplin yang baik. Lebih dari itu, guru-guru yang memiliki pekerjaan sampingan ini ternyata memiliki latar belakang pendidikan minimal Strata 1, dan tetap

mengembangkan wawasan pengetahuannya melalui berbagai cara. Ketiga, terdapat hubungan yang positif antara tingkat kesejahtera-an guru dan kemampuan kinerja guru. Pengertian yang terkandung dalam kesimpulan ini adalah semakin tinggi tingkat kesejahteraan guru maka makin tinggi pula intensitas kemampuan kinerja guru. Koefisien korelasi kedua variabel (ry1) sebesar 0,994 dan koefisien determinasi (rxy1) sebesar 0,41 mengandung makna bahwa secara terpisah proporsi varian tingkat kesejahteraan guru terhadap kemampuan profesional guru sebesar 41 %. Persamaan regresi yang menunjukkan hubungan kedua variabel, yakni Ŷ = 0,492 + 0,0187X. Berdasarkan hasil pengujian. Model

regresi tersebut signifikan dan linier. Dengan demikian, dari setiap perubahan skor tingkat kesejahteraan guru akan diikuti oleh peningkatan kemampuan profesional guru 0,41 unit pada arah yang sama dengan konstanta (intercept) sebesar 14,7291.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

65

B.

Saran Berdasarkan hasil temuan penelitian yang dikaitkan dengan tujuan

penelitian serta tuntutan perkembangan kompetensi standar bagi tenaga kependidikan, maka penulis menyampaikan saran-saran sebagai berikut. Pertama, tingkat kesejahteraan guru sebagai manusia memang menjadi sorotan utama dalam berbagai kesempatan dan forum. Tingkat kesejahteraan ini diukur dengan terpenuhinya segala kebutuhan pokok dalam keluarga sehingga guru dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh perhatian dan tanggung jawab. Guru-guru yang memiliki pekerjaan sampingan di luar jam mengajarnya di sekolah hendaknya dapat mempertahankan eksistensi dirinya sebagai sosok guru yang dinamis, inovatif, dan kreatif selama pemerintah belum mampu memenuhi standar penggajian guru yang diharapkan. Kedua, pihak sekolah dengan bantuan komite sekolah hendaknya mampu memikirkan upaya pemandirian ekonomi sekolah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan guru-guru. Pemandirian ekonomi sekolah ini selayaknya tidak selalu bergantung kepada orang tua siswa, tetapi mampu mengembangkan jenis usaha yang berkaitan erat dengan pendidikan ke jalurjalur lain di luar lingkungan sekolah. Unit produksi yang berkaitan erat dengan hajat masyarakat banyak agaknya dapat dijadikan pilihan yang menarik bagi pengembangan ekonomi sekolah. Wilayah kecamatan Takokak merupakan wilayah yang strategis karena berada di antara dua kabupaten yang memiliki potensi perkembangan yang baik, yakni kabupaten Cianjur dan kabupaten Sukabumi. Oleh karena itu, jenis unit produksi yang dapat dikembangkan Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com 66

adalah koperasi primer yang dapat membuka kesempatan usaha secara luas bagi guru serta masyarakat yang berada di seputar sekolah. Ketiga, Dinas Pendidikan tingkat kabupaten maupun propinsi sebaiknya memberikan kebijakan khusus bagi pengembangan kompetensi guru serta proses kemandirian sekolah. Sekolah jangan selalu disudutkan oleh tuntutan masyarakat yang tidak realistis, seperti pembebasan iuran sekolah, penghentian penjualan buku (melalui koperasi sekolah), dan sebagainya, yang pada akhirnya akan semakin melemahkan daya juang guru-guru dalam mendidik anak-anak akibat semakin tidak sebandingnya daya beli guru-guru dengan kondisi harga-harga kebutuhan pokok yang kian meroket. Keempat, penelitian ini masih sangat terbatas dan dalam ruang yang terlalu luas. Oleh karena itu, diharapkan ada pihak-pihak lain yang dapat menemukan variabel-variabel determinan yang dapat mengungkap-kan hubungan tingkat kesejahteraan guru dengan pengembangan kemampuan kinerja guru secara lebih spesifik lagi.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

67

DAFTAR PUSTAKA
Agus Dharma. 2002. Kerangka Kerja Kompetensi Bagi Guru www.eddept.
wa.edu.au/centoff/cpr/publications.htm

Anglin. G.J. 1995. Instructional Technology. Past Present and Future. Englewood: Libraries Unlimited. Inc. Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Dirjen Dikdasmen. Depdiknas. 2003. Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Untuk Tenaga Kependidikan Jakarta: Subdit Standarisasi Didi Teguh Chandra. 2004. Selayang Pandang Pendidikan Teknologi Dasar (Basic Technology Education) pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Indonesia. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Gary Martin, alih bahasa Vitriyani Pryadarsina, Budyanto Lestyana, Yuliana Kristiyani dan Theresia Kristianty. 2001. Kerangka Kerja Kompetensi Guru, www.eddept.wa.edu.au/centoff/cpr/publications.htm Houston. W.R. et al. 1988. Touch the Future Teach! St. Paul: West Publishing Company. Isjoni, 1999. Kinerja Guru. FKIP Universitas Riau Pannen. P.dkk. 1999 Cakrawala Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka. Purwanto. 2000. Difusi Inovasi. Jakarta: STIA LAN Press.

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

68

Rusmin.

2000.

Kompetensi

Guru

Menyongsong

Kurikulum

Berbasis

Kompetensi. http://www.indomedia.com/bpost/042003/22/opini/ opini1.htm Sukadinata, Prof. Dr. Nana Syaodih, (1997) Pengembangan Kurikulum, Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, Bandung Suryadi,A. 1998. Permasalahan dan Tantangan Pembangunan Pendidikan. Jurnal Pendidikan MIMBAR PENDIDIKAN. No. 4 Th. XVII. IKIP Bandung. Tangyong, Agus F. 2000. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan. Jakarta: MPPK di Indonesia Tilaar, HAR. 2000. Pendidikan, Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya

Harry D. Fauzi harrydfauzi@gmail.com

69


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:9073
posted:1/10/2010
language:Indonesian
pages:69