REHABILITASI TANAMAN KAKAO

Document Sample
REHABILITASI TANAMAN KAKAO Powered By Docstoc
					Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Inovasi Lahan Marginal

REHABILITASI TANAMAN KAKAO: TINJAUAN POTENSI, PERMASALAHAN, DAN REHABILITASI TANAMAN KAKAO DI DESA PRIMATANI TONGGOLOBIBI Dedy Suhendi Peneliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia ABSTRAK
Kakao merupakan salah satu komoditas andalan nasional dan berperanan penting bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam hal pendapatan petani dan sumber devisa negara. Produksi kakao saat ini 435.000 ton dengan produksi dari perkebunan rakyat sekitar 87%. Produksi tertinggi yakni 67% diperoleh dari wilayah sentra produksi kakao yang berpusat di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Awal perluasan areal kakao dilakukan sekitar 25 tahun yang lalu. Hal ini berarti bahwa pertanaman kakao di Indonesia telah cukup tua yang menyebabkan kurang produktif. Hasil penelitian menunjukkan, tanaman kakao yang telah berusia 25 tahun produktivitasnya tinggal setengah dari potensi produksinya. Pada lahan–lahan yang marginal, penurunan produksi tersebut terjadi lebih awal. Fenomena tanaman kakao tua dan penurunan produksi tersebut terjadi di Desa Tonggolobibi yang merupakan salah satu desa yang ikut dalam program Prima Tani. Potensi perkebunan kakao di Desa Tonggolobibi cukup baik, kebunnya merupakan hamparan yang luas mulai dari perbukitan sampai pada lahan yang datar, ketinggian tempat 0-500 m dpl. Luas pertanaman kakao 774 ha, ini merupakan 45% dari luas areal perkebunan yang ada di Desa Tonggolobibi. Permasalahan utama usahatani kakao saat ini di Desa Tonggolobibi, yaitu produktivitas rendah, dan mutu rendah. Rata-rata luas kepemilikan kebun kakao 1 – 2 ha/petani. Namun, produksinya rendah yaitu 500 kg/ha/tahun. Hal ini berkaitan dengan tanaman kakaonya yang sudah cukup tua, umur tanaman kakao 15 – 25 tahun, klon/varietas yang ditanam bukan klon/varietas unggul, dan kurangnya pengetahuan tentang inovasi teknologi budidaya kakao. Kata Kunci: Kakao, Rehabilitasi, Daya saing

PENDAHULUAN Kakao merupakan salah satu komoditas perdagangan dan sumber pendapatan rakyat, serta penerimaan negara yang cukup penting. Persaingan perdagangan komoditas ini cukup ketat. Peningkatan daya saing dapat diraih melalui upaya peningkatan produktivitas dan kualitas hasil. Areal kakao nasional mulai meningkat tajam setelah tahun 1985, terutama areal kakao rakyat. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman kakao sudah tidak produktif lagi karena tua adalah setelah 25 tahun. Tanaman tersebut umumnya memiliki produktivitas yang hanya tinggal setengah dari potensi produktivitasnya. Meledaknya laju perkembangan kakao adalah pada khir 1970-an. Hal ini berarti selama satu dasawarsa akan terdapat 357 ribu hektar lahan kakao yang berkatagori tidak produktif karena umurnya sudah tua (Zaenudin & Baon, 2004). Potensi lahan untuk perkebunan di Sulawesi Tengah seluas 1.084.028 ha, yang baru dimanfaatkan seluas 696.438 ha dan yang berpotensi untuk pengembangan seluas 1.028.504 ha. Luas areal pertanaman kakao mengalami peningkatan yaitu 127.096 ha pada tahun 2002 menjadi 162.968 ha pada tahun 2003, namun hal tersebut tidak diikuti oleh peningkatan produktivitas kakao yang mengalami penurunan dari 0,91 ton/ha pada tahun 2002 menjadi 0,70 ton ha pada tahun 2003 (Badan Pusat Statistik Provinsi Sulteng, 2004). Faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas tersebut selain tanaman tua adalah karena kurangnya pemeliharaan tanaman, terjadinya serangan hama dan penyakit, dan umur tanaman masih banyak yang belum produktif. Dalam upaya lebih mempercepat pengembangan dan pemanfaatan teknologi oleh masyarakat, Badan Peneliitian dan Pengembangan Pertanian sejak tahun 2005 mengimplentasikan “Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi” atau lebih dikenal dengan Prima Tani. Desa Tonggolobibi, Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala termasuk salah satu desa yang diikut sertakan dalam program ini dengan fokus tanaman padi sawah, kakao, dan integrasi ternak. Produksi Kakao di Kabupaten Donggala tahun 2006 sebanyak 43.003,12 ton, meningkat tajam jika dibandingkan dengan produksi tahun 2004 yakni 22.092,53 ton. Salah satu daerah penghasil kakao terbesar di kabupaten tersebut adalah Kecamatan Sojol (Badan

335

Dedy Suhendi: Rehabilitasi Tanaman Kakao

Pusat Statistik Kab. Donggala, 2005). Keadaan tanah di Kecamatan Sojol terdiri dari dataran, perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian dari permukaan laut berkisar 500 – 700 meter, dan prosentase terbesar dari keadaan tanah adalah pegunungan sehingga pola curah hujan di wilayah ini tergolong tinggi yakni rata-rata 161,83 mm. Kecamatan Sojol termasuk daerah iklim basah karena mempunyai 10 bulan basah dan dua bulan kering. Bulan basah jatuh pada bulan Maret - Desember, sedangkan bulan kering jatuh pada bulan Januari - Februari (BPP, 2005). Tulisan ini akan memaparkan potensi produksi, permasalahan, dan program rehabilitasi tanaman kakao di Desa Tonggolobibi dalam upaya meningkatkan produksi yang sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

POTENSI PERTANAMAN KAKAO DI DESA TONGGOLOBIBI Desa Tonggolobibi terletak sekitar 28 km dari Ibu Kota Kecamatan Sojol, 230 km dari ibu kota kabupaten dan sekitar 200 km dari Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah, dengan jarak tempuh dari Ibu kota Provinsi sekitar delapan jam dengan kendaraan roda empat. Posisi Desa ini berada pada poros jalan Palu – Tolitoli. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 10.500 ha. Tanaman perkebun di Desa Tonggolobibi merupakan hamparan yang luas mulai dari perbukitan sampai pada lahan yang datar dengan didominasi oleh tanaman kelapa dan kakao. Kebun kakao yang berada di daerah perbukitan, masih menyatu dengan hutan. Luas perkebunan rakyat di Desa Tonggolobibi 2.737 ha.. Komoditas lain selain kakao dan kelapa adalah cengkeh, kemiri, mangga, durian, dan rambutan (BPTP Sulteng, 2007) Fenomena tanaman kakao tua dan penurunan produksi terjadi di Desa Tonggolobibi yang merupakan salah satu desa yang ikut dalam program Prima Tani. Potensi perkebunan kakao di Desa Tonggolobibi cukup baik, kebunnya merupakan hamparan yang luas mulai dari perbukitan sampai pada lahan yang datar, ketinggian tempat yang ditanami tanaman kakao sekitar 0-500 m dpl. Luas pertanaman kakao 774 ha, ini merupakan 45% dari luas areal perkebunan yang ada di Desa Tonggolobibi. Permasalahan utama usahatani kakao saat ini di Desa Tonggolobibi, yaitu produktivitas rendah, dan mutu rendah. Rata-rata luas kepemilikan kebun kakao 1 – 2 ha/petani, namun, produksinya rendah yaitu 500 kg/ha/tahun. Produksi yang rendah tampaknya berkaitan dengan tanaman kakaonya yang sudah cukup tua (umur tanaman kakao 15 – 25 tahun), klon/varietas yang ditanam bukan klon/varietas unggul, dan kurangnya pengetahuan tentang inovasi teknologi budidaya kakao.

PERMASALAHAN YANG DIHADAPI Produktivitas Rendah Masalah klasik yang dihadapi perkebunan kakao, khususnya kakao rakyat adalah rendah dan bervariasi tingkat produktivitasnya. Secara umum, rata-rata produktivitas kakao Indonesia adalah sekitar 900 kg/ha/tahun. Produksi rata-rata kakao di Desa Tonggolobibi sekitar 500 kg/ha/tahun. Rendah dan beragamnya tingkat produktivitas di Desa Tonggolobibi, di samping faktor teknologi budidaya yang belum memadai, tanaman kakaonya sebagian besar bukanlah berasal dari klon unggul, dan tanamannya sudah tua. Serangan Hama dan Penyakit Hama dan penyakit utama hadir dominan di pertanaman kakao di Desa Tonggolobibi, yaitu hama Penggerek Buah Kakao (PBK), Helopeltis, Penggerek Batang, penyakit busuk buah (Phythophthora palmivora), Colletotrichum, dan penyakit vascular streak dieback (VSD). Pengendalian OPT belum ditangani secara sungguh-sungguh. Dalam menangani hama dan penyakit, petani lebih suka menggunakan pestisida. Tanaman Penaung Rusak Tanaman penaung banyak yang rusak dan/atau ”dibunuh” dengan alasan untuk meningkatkan produksi kakao dan mencegah kelembaban tinggi, sehingga hanya beberapa areal pertanaman kakao yang mempunyai tanaman penaung (populasinya sangat rendah).

336

Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Inovasi Lahan Marginal

Pangkasan Kakao Tidak Diperhatikan Tajuk tanaman bervariasi ada yang terlalu rimbun dan ada yang sangat kurang karena terserang hama-penyakit dan/atau karena tidak ada naungan. Percabangan banyak yang overlaping (cabang dari pohon lain ujungnya masuk ke dalam tajuk tanaman di dekatnya) Banyak daun yang menggantung sehingga daunnya menghalangi aliran udara di dalam kebun. Banyak cabang yang tumbuh meninggi di atas ambang (>3 m). Pemupukan Kurang Benar Pemupukan dilakukan pada tanaman kakao yang sudah berproduksi dengan penggunaan jenis, dosis, waktu dan cara yang masih beragam atau belum menggunakan aturan baku. Cara pemupukan ada yang menggunakan sistim larik dan sistim lingkar, biasanya diberikan secara bersamaan (satu kali) dengan cara mencampur seluruh pupuk (Urea, SP 36, KCL dan ZA) kemudian dibenamkan kedalam larikan atau garis lingkaran, terkadang tidak ditutup kembali atau tanahnya dibiarkan terbuka. Hal ini mengakibatkan penyerapan pupuk pada tanaman kakao lebih sedikit karena pupuk menguap atau terbawa air apabila hujan. Umumnya petani tidak melakukan pemupukan setiap tahun, misalnya jika tahun ini dipupuk, maka tahun berikutnya tidak melakukan pemupukan. Terkadang juga hanya satu atau dua jenis pupuk yang diberikan, misalnya hanya Urea dengan SP 36, sedangkan KCL tidak diberikan, karena harganya lebih mahal. Penggunaan pupuk organik belum pernah dilakukan oleh petani di desa Tonggolobibi, padahal potensi pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak dan limbah pertanian cukup tersedia. Mutu Produk Rendah Produk kakao di Tonggolobibi umumnya rendah yang tercermin dari dua indikator, yaitu tidak difermentasi dan banyaknya kandungan non kakao (jamur dan kotoran). Teknologi pasca panen yang dilakukan hanyalah penjemuran selama kurang lebih tiga hari itupun jika tidak hujan. Alat yang digunakan untuk menjemur, hanya dengan menggunakan terpal plastik. Petani belum melakukan fermentasi, biji kakao yang baru dikupas (dibelah) disimpan di dalam karung selama semalam kemudian dijemur pada . Teknologi pengolahan kakao baik primer maupun sekunder belum pernah dilakukan oleh petani. Upaya untuk mendorong agar petani melakukan fermentasi menghadapi kendala yang mendasar seperti tidak terpenuhinya skala usaha, tidak adanya insentif harga yang memadai, dan karakter budaya masyarakat. Kendala tersebut bersifat mendasar sehingga berbagai upaya yang telah dilakukan tidak mampu mendorong petani untuk melakukan fermentasi. Proses pengeringan biji kakao yang tidak memenuhi standar (kadar air tinggi), sehingga sering menyebabkan tumbuhnya jamur pada biji kakao serta tidak adanya perlakuan sortasi di tingkat pengepul. Organisasi Petani Belum Berkembang Produktivitas dan mutu kakao di Desa Tonggolobibi yang masih rendah tidak terlepas dari organisasi petani yang belum berkembang dan berperan secara optimal. Dengan rata-rata kepemilikan lahan yang relatif masih kecil, berbagai kegiatan petani dari pembibitan, pengendalian hama dan penyakit, pengolahan dan pemasaran menjadi tidak efisien karena tidak dikerjakan dengan dukungan kelembagaan/organisasi petani yang kuat dan mandiri. Kelembagaan yang ada di Desa Tonggolobibi, masih kurang dan kinerjanya masih rendah. Kelembagaan yang ada di Desa Tonggolobibi adalah sebagai berikut:

337

Dedy Suhendi: Rehabilitasi Tanaman Kakao

a.

b. c.

Koperasi, koperasi ini sudah dibentuk namun belum berbadan hukum, pelaksanaannya belum berjalan dengan baik, bahkan saat ini koperasi tersebut beku karena pengelola/sumberdaya manusianya sudah tidak aktif. Kelompok tani sudah ada, kegiatan dalam kelompok sebatas pertemuan dan kerja bakti. masyarakat cenderung bekerja secara individu. Pedagang pengumpul, berperan lebih besar dalam kegiatan agribisnis khususnya kakao. Lembaga ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan lembaga penyedia sarana produksi dan kredit non formal. Sebaliknya lembaga kredit Formal berada di luar desa dan pengaruhnya masih kecil dibanding pedagang pengumpul.

REHABILITASI TANAMAN KAKAO Penggunaan Klon Unggul Usaha pemuliaan untuk memperoleh klon kakao unggul telah dilakukan oleh pusat penelitian kakao di Indonesia, dan hasilnya telah diperoleh beberapa klon unggul, yaitu: a. Klon unggul kakao Generasi Pertama: DR 1, DR 2, DR 38. Potensi produksi mencapai 1500 kg/ha/tahun, mutu hasil baik. b. Klon unggul kakao Generasi Kedua: DRC 16, GC 7, ICS 13, RCC 70, RCC 71, RCC 72, RCC 73, ICS 60, NW 6261, NIC 7, UIT 1, TSH 858, PA 4, PA 191, PA 300, PA 310, dan GC 29. Potensi produksi beberapa klon dapat mencapai sekitar 2000 kg/ha/tahun, mutu hasil baik, dan toleran terhadap beberapa hama dan penyakit c. Klon unggul Generasi Ketiga: ICCRI 01, ICCRI 02, ICCRI 03, ICCRI 04. Potensi produksi 2500 kg/ha/tahun, mutu hasil baik, kadar lemak biji >55%, kadar kulit ari <11%, nilai ukuran biji AA, dan tahan terhadap hama Helopeltis dan penyakit busuk buah. Rehabilitasi dengan menggunakan klon unggul merupakan pilihan yang tidak bisa ditawar lagi. Sebaiknya petani dianjurkan untuk menggunakan klon unggul. Sejak dulu sampai sekarang petani di Desa Tonggolobibi masih tetap menggunakan bahan tanam yang bersumber dari sesama petani atau dari kebunnya sendiri, sehingga belum ditemukan petani yang menggunakan bahan tanam bermutu (klon unggul) dengan cara membeli dari penangkar bibit atau lembaga penelitian. Hal ini disebabkan karena di satu sisi bahan tanam berkualitas harganya relatif mahal dan agak sulit diperoleh, sementara di sisi lain petani dapat dengan mudah menggunakan bahan tanam yang bersumber dari kebunnya sendiri. Produksi kakao di Desa Tonggolobibi sekitar 500 kg/ha/tahun. Jika dibandingkan dengan rata-rata potensi produksi klon unggul Generasi Pertama sampai Generasi Ketiga sekitar 2000 kg/ha/tahun maka produksi rata-rata di Desa Tonggolobibi hanya 25 % dari potensi klon unggul tersebut. Tetapi dapat saja potensi produksi klon unggul akan turun jika ditanam di tempat yang berbeda. Namun, diperkirakan apabila klon unggul tersebut digunakan dengan asumsi produksi realita 80% dari potensi produksinya, sehingga produksi realitanya 1600 kg/ha/tahun maka akan terjadi peningkatan produksi di Desa Tonggolobibi sebesar 1100 kg/ha/tahun atau 220%. Dari asumsi pada no 5 maka, penggunaan klon unggul akan dapat meningkatkan produktivitas dan mutu hasil. Dari kenyataan itu program perluasan areal, replanting, rehabilitasi, atau sulaman sebaiknya menggunakan klon unggul yang telah tersedia. Diharapkan dengan penggunaan klon unggul dapat meningkatkan dan mutu hasil kakao di Desa Tonggolobibi. Penerapan Teknologi Sambung Samping Upaya rehabilitasi dimaksudkan untuk memperbaiki atau meningkatkan penampilan produktivitas tanaman kakao, salah satunya dengan teknologi sambung samping. Di Desa Tonggolobibi belum ada peremajaan tanaman disebabkan karena petani belum mengetahui cara meremajakan dengan metode sambung samping. Tanaman yang sudah tua masih tetap dipertahankan meskipun produktivitasnya sudah menurun. Pada saat awal pengembangan kakao di Desa Tonggolobibi belum dijumpai adanya masalah serangan hama dan penyakit, khususnya hama penggerek buah kakao (PBK) dan penyakit vascular streak dieback (VSD), sehingga tanaman mampu menunjukkan potensi daya hasil dan kualitas hasilnya secara maksimal. Namun saat ini, umur

338

Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Inovasi Lahan Marginal

tanaman sudah relatif tua, tingkat intensitas serangan hama PBK dan penyakit VSD cukup tinggi yang menyebabkan penurunan produktivitas dan kualitas hasil tanaman secara nyata. Berbagai metode pengendalian yang sudah dipraktekkan oleh sebagian petani belum mampu memperbaiki peningkatan produktivitas dan kualitas hasil tanaman secara nyata. Permasalahan tersebut apabila tidak segera ditangani dapat menganggu kelangsungan produksi kakao sebab akan terjadi penurunan produksi dari waktu ke waktu. Rehabilitasi tanaman kakao dengan metode sambung samping menggunakan bahan tanam unggul merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Saat ini momennya cukup tepat karena ada kecenderungan peningkatan minat petani kakao di Desa Tonggolobibi terhadap penggunaan bahan tanam klonal dalam upaya memperbaiki performa tanaman yang sudah tua untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil. Teknologi sambung samping memerlukan entres yang cukup banyak. Oleh karena itu selain menggunakan entres dari kebun-kebun entres dengan klon-klon unggul yang telah diketahui, juga dapat memanfaatkan klon unggul lokal yang telah diketahui petani dengan terlebih dahulu melalui tindakan seleksi dan pemurnian. Dibandingkan dengan okulasi tanaman dewasa dan tanam ulang, metode sambung samping menunjukkan keunggulan berikut: Areal pertanaan kakao dapat direhabilitasi dalam waktu relatif singkat. Lebih murah, dan tanaman kakao lebih cepat berproduksi dibandingkan cara tanam ulang (replanting) Sementara batang atas belum berproduksi, hasil buah dari batang bawah dapat dipertahankan Batang bawah dapat berfungsi sebagai penaung sementara bagi batang atas yang sedang tumbuh. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT Upaya pengendalian hama dan penyakit atau Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) harus memperhatikan kondisi sosial ekonomi petani, sehingga inovasi teknologi yang dianjurkan dapat diterima oleh petani. Upaya-upaya yang potensial untuk diterima petani mencakup: perampasan buah pada akhir panen untuk memutuskan siklus hidup OPT, pemangkasan tanaman penaung, panen dengan frekuensi dipercepat atau interval waktu yang lebih pendek, pembenaman seluruh buah/kulit kakao yang terserang, penyarungan buah muda (berukuran 5-7 cm). Program penyuluhan dan pelatihan untuk pengendalian OPT dapat dilakukan oleh berbagai pihak baik instansi pusat dan daerah serta LSM. Esensi dari program ini yaitu: meningkatkan pengetahuan petani tentang kerugian dari serangan OPT, cara penyebaran dari serangan OPT, perkembangan berbagai stadia dari OPT, dan upaya pengendalian OPT. Penggerek Buah Kakao (PBK) Sanitasi, dengan mengubur kulit buah, plasenta dan buah busuk Pemangkasan, membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4 m, untuk mempermudah pengendalian dan panen Panen sering satu minggu sekali, dan sanitasi. Buah dibawa ke TPH dan buah segera diambil bijinya. Penyemprotan insektisida terutama dari golongan sintetik piretroid, misal: Deltametrin (Decis 2.5 EC kons. 0.06%), Sihalotrin (Matador 25 EC kons. 0.06%), Betasiflutrin (Buldok 25 EC kons. 0.20%). Alat semprot knapsack sprayer, volume semprot 250 liter/ha, frekuensi 10 hari sekali, sasaran semua buah dan cabang horizontal. Penyelubungan buah berukuran 8-10 cm dengan kantong plastik Secara biologi dengan menggunakan semut hitam. Untuk meningkatkan populasi semut hitam, perlu membuat sarang dari lipatan daun kelapa atau daun kakao, dan diletakkan di atas jorket.

339

Dedy Suhendi: Rehabilitasi Tanaman Kakao

Helopeltis Cara yang efesien sampai dengan saat ini dengan menggunakan insektisida pada areal yang terbatas dan didasarkan atas pengamatan yang dikenal dengan Sistem Peringatan Dini (SPD). Pengendalian secara SPD dilakukan apabila tingkat serangan Helopeltis < 15%. Jika tingkat serangan >15% penyemprotan dilakukan secara menyeluruh Secara biologi dengan menggunakan semut hitam. Untuk meningkatkan populasi semut hitam, perlu membuat sarang dari lipatan daun kelapa atau daun kakao, dan diletakkan di atas jorket. Pengendalian secara biologi tidak dapat digabungkan dengan cara kimiawi. Penggerek Batang Secara Mekanis Memotong batang/cabang terserang 10 cm di bawah lubang gerek ke arah pangkal batang/cabang kemudian larva dibakar Secara Kimia Menginjeksikan insektisida racun nafas ke dalam lubang gerekan Secara Biologi Menyemprotkan suspensi konidia jamur Beauveria bassiana ke dalam lubang gerekan dengan konsentrasi 1.18 x 107 konidia/ml air. Busuk Buah Pengendalian dilakukan secara terpadu dengan cara-cara sebagai berikut: Sanitasi kebun, yaitu memetik semua buah busuk, kemudian membenam di dalam tanah sedalam 30 cm Kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan pangkasan tanaman kakao, sehingga kelembaban di dalam kebun rendah. Kimiawi, yaitu penyemprotan buah-buah sehat secara preventif dengan fungisida berbahan aktif tembaga (Copper Sandoz, Cupravit, Vitigran Blue, Cobox dll) konsentrasi formulasi 0.3%, selang waktu 2 minggu. Penanaman klon tahan, misalnya klon DRC 16, ICCRI 03, ICCRI 04 Kanker Batang Kulit batang yang membusuk dikupas sampai batas kulit yang sehat Luka kupasan selanjutnya dioles dengan fungisida tembaga missal Copper Sandoz, konsentrasi 5% formulasi. Apabila serangan pada kulit batang sudah hampir melingkar, maka tanaman dipotong atau dibongkar. Colletotrichum Pengendalian dilakukan secara terpadu dengan cara-cara sebagai berikut: Perbaikan kondisi tanaman, yaitu dengan pemupukan ekstra Perbaikan kondisi lingkungan, yaitu dengan memberikan pohon penaung secukupnya Sanitasi kebun, yaitu memetik semua buah busuk, kemudian membenam di dalam tanah sedalam 30 cm, dan menghilangkan ranting-ranting kering Kimiawi, yaitu penyemprotan flush yang tumbuh, dengan fungisida berbahan aktif Mankozeb (misal Dithane M45 0.5% formulasi), atau Prokloras (Sportak 450 EC 0.1% formulasi 0.3%), selang waktu 2 minggu. Eradikasi, yaitu membongkar tanaman yang terserang berat Penanaman klon tahan, misalnya klon Sca 6, Sca 12 atau hibridanya Pengendalian VSD Pangkasan sanitasi, yaitu memotong ranting sakit sampai pada batas gejala garis coklat pada xylem, ditambah 30-50 cm di bawahnya. Eradikasi, yaitu pembongkaran tanaman yang terserang berat

340

Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Inovasi Lahan Marginal

Penanaman klon tahan, misalnya klon Sca 6, Sca 12 dan hibridanya

Jamur Upas Memotong cabang/ranting yang terserang jamur pada bagian yang masih sehat, kemudian dibakar atau dipendam. Membersihkan miselium pada gejala awal yang menempel pada cabang sakit kemudian dioles dengan fungisida misalnya Tridemorf (Calixin RM) atau fungisida berbahan aktif tembaga (Copper Sandoz, Cupravit) konsentrasi formulasi 10%, selang waktu 2 minggu. Menghilangkan dan memusnahkan sumber infeksi yang terdapat di dalam maupun di luar kebun. Jamur Akar Tanaman yang telah mati harus dibongkar berikut akar-akarnya sampai bersih. Pada lubang bekas bongkaran diberi belerang sebanyak 600 g setiap lubang. Lubang tersebut tidak ditanami selama satu tahun. Untuk mencegah penyebaran ke tanaman lain, perlu dibuat parit isolasi sedalam 80 cm dengan lebar 30 cm pada daerah satu baris di luar tanaman yang mati. Tanaman di sekitar tanaman mati diperiksa akar tunggangnya. Pada serangan awal tampak adanya miselium atau rhzomorf pada permukaan akar atau keher akar. Miselium tersebut dibersihkan dengan sikat kemudian dioles dengan fungisida khusus jamur akar misalnya Tridemorf (Calixin CP), PCNB (Shell Collar Protectan, Ingro Pasta 20 PA) Kelayuan Pentil (Cherelle Wilt) Merupakan penyakit fisiologis seperti halnya gugur buah pada tanaman buah-buahan. Angkanya dapat mencapai 70-90% dari pentil yang tumbuh Setelah pentil berumur lebih dari 2.5 bulan telah terbebas dari penyakit ini. Penyebabnya antara persaingan nutrien antara pentil dengan pertunasan dan buahbuah dewasa, serta luka mekanis karena tusukan Helopeltis. Dikendalikan dengan memberikan pemupukan yang tepat, dan tidak melakukan pangkasan berat serta pembukaan penaung drastis yang dapat memacu pertunasan intensif.

TANAMAN PENAUNG DAN PANGKASAN KAKAO Kegunaan Tanaman Penaung Intensitas cahaya matahari yang sampai ke tanaman kakao akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi, karena intensitas cahaya merupakan salah satu factor utama yang mengatur fotosintesis Titik optimum intensitas cahaya bagi tanaman kakao berumur 12-18 bulan di lapangan adalah 30-60% cahaya matahari penuh, sedangkan TM adalah 50-75% cahaya matahari penuh. Penjarangan dan pangkasan tanaman penaung merupakan cara untuk mengatur cahaya matahari yang sampai ke tanaman kakao sehingga memenuhi fungsi seperti yang diharapkan. Penaung akan menghalangi energi matahari untuk sampai ke tanaman kakao. Pengurangan energi ini menyebabkan suhu di bawah penaung pada siang hari menjadi lebih rendah, sebaliknya pada malam hari tajuk penaung menyebabkan suhu di bawah penaung lebih tinggi daripada suhu di luar penaung, sehingga amplitudo suhu siang dan malam menjadi lebih kecil. Penaung dapat menekan evapotranspirasi disamping mempengaruhi iklim mikro sehingga radiasi dan suhu udara lebih rendah serta kelembaban udara lebih tinggi,

341

Dedy Suhendi: Rehabilitasi Tanaman Kakao

lengas tanah tersedia, juga daun-daun penaung yang gugur dapat berfungsi sebagai penutup tanah dan mulsa, sehingga evaporasi lebih rendah. Penaung melindungi permukaan tanah terhadap cahaya matahari langsung dan penyedia unsur hara, dan bahan organik yang dibutuhkan. Penaung juga berfungsi menjaga kondisi tanaman pada saat keadaan lingkungan tidak menguntungkan, misalnya musim kemarau. Tujuan Pangkasan Untuk memperoleh hasil buah yang banyak, tanaman harus mampu menghasilkan asimilat yang banyak pula. Dalam kenyataannya tidak semua daun pada tajuk tanaman mampu melakukan fotosintesis yang optimum. Daun-daun yang ternaungi justru dapat menjadi pemakai asimilat, maka perlu dilakukan pemangkasan cabang-cabang yang tidak produktif. Pemangkasan kakao mempunyai tujuan sebagai berikut: Memperoleh kerangka dasar (frame) tanaman kakao yang baik Mengatur agar penyebaran cabang dan daun-daun produktif pada tajuk merata Membuang bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki, seperti tunas air, cabang sakit, patah, mengantung dan cabang balik Memacu tanaman membentuk daun baru yang potensial untuk sumber asimilat Menekan resiko terjadinya serangan hama dan penyakit Meningkatkan kemampuan tanaman menghasilkan buah

PEMUPUKAN Tujuan pemupukan: untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman, meningkatkan produksi dan mutu hasil, memperbaiki kondisi dan daya tahan tanaman terhadap perubahan lingkungan, serta mempertahankan stabilitas produksi yang tinggi. Tujuan pemupukan berhasil apabila memperhatikan aspek: tepat dosis, tepat jenis, tepat waktu, dan tepat cara pemupukan Jenis pupuk yang lazim adalah Urea (46% N), ZA (21% N), TSP (46% P2O5), SP-36 (36 % P2O5), KCl (60% K2O), Kieserit (27% MgO) dan Dolomit (19% MgO). Jenis dan dosis pupuk yang tepat didasarkan pada factor tanaman dan factor lingkungan. Dosis tentative untuk tanaman kakao yang penaungnya baik, hujannya cukup, sifat fisika dan kimia tanahnya baik adalah sbb.: Umur/Fase Satuan Urea TSP KCl Kieserit Bibit g/bibit 5 5 4 4 0-1 th g/ph/th 25 25 20 20 1-2 th g/ph/th 45 45 35 40 2-3 th g/ph/th 90 90 70 60 3-4 th g/ph/th 180 180 135 75 > 4 th g/ph/th 220 180 170 120

Untuk tanah yang kekurangan unsur belerang (S), urea dapat diganti dengan ZA dengan dosis 2,2 kali dosis Urea, atau KCl diganti dengan ZK dengan dosis 1,2 kali dosis KCl. Pada tanah masam dan kadar Ca rendah, pupuk Kieserit dapat diganti dengan Dolomit dengan dosis 1,5 kali dosis Kieserit Pemupukan paling efektif kalau diberikan pada saat air tersedia cukup, yaitu pada awal musim hujan atau pada akhir musim hujan. Oleh karena itu sebaiknya pemupukan dilakukan dua kali setahun, yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Cara pemebrian pupuk menentukan efektivitas dan efisiensi serapan pupuk oleh pertanaman. Serapan paling efisien terjadi kalau pupuk ditempatkan di lokasi akumulasi perakaran hara tanaman. Penempatan pupuk paling baik untuk tanaman kakao adalah diberikan melingkar pada jarak 50-75 cm dari pokok tanaman, dan ditempatkan pada kedalaman 5-10 cm di bawah permukaan tanah dan ditutup kembali dengan tanah.

342

Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Inovasi Lahan Marginal

Bagaimanapun juga, di samping ketetapan-ketetapan di atas efisiensi pemupukan dapat ditingkatkan apabila kondisi naungan, kegiatan pemangkasan, kondisi tanah, dan gulma diperhatikan. PROSES PANEN YANG BAIK DAN FERMENTASI Panenan Buah yang dipetik hanya yang sudah masak, umur 4-6 bulan yang ditandai dengan perubahan warna kulit buah. Buah yang muda hijau setelah masak kuning, yang muda merah setelah masak oranye. Dihindarkan pemetikan buah yang masih mentah atau lewat masak sebab biji sering sudah berkecambah di dalam buah. Alat petik memakai gunting, pisau, pisau bergalah yang tajam. Dihindari rusaknya bantalan bunga. Buah dikumpulkan di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil), buah yang sakit dipisahkan dari yang sehat. Buah dipecah, biji dikumpulkan dalam wadah dan dibawa ke pengolahan, sedang kulitnya dibenam. Dihindari pemecahan buah menggunakan alat dari logam. Fermentasi Merupakan inti pengolahan biji kakao, yaitu proses terbentuknya calon citarasa, pengurangan rasa pahit dan perbaikan kenampakan fisik biji. Lama fermentasi 5-7 hari untuk kakao lindak dan 3-4 hari untuk kakao mulia, dengan pembalikan sekali setelah 48 jam. Wadah fermentasi dapat berupa kotak beraerasi atau keranjang. Selama fermentasi tumpukan biji ditutup daun pisang atau karung goni. Tinggi minimum tumpukan biji dalam kotak adalah 40 cm. Selama fermentasi, biji dihindarkan bersinggungan dengan logam Tanda fermentasi cukup: biji tampak agak kering (lembab), berwarna coklat dan berbau asam cuka, lendir mudah dilepas, dan bila dipotong melintang penampang biji tampak seperti cincin berwarna coklat. Fermentasi yang kurang tepat menghasilkan biji slaty Pengeringan Tujuan pengeringan adalah menurunkan kadar air dari sekitar 60% menjadi 6-7%. Proses pengeringan yang baik secara lambat. Dilakukan dengan penjemuran, memakai mesin pengering atau kombinasi keduanya. Dalam penjemuran, biji dihamparkan di atas alas yang bersih, tebal 5 cm dan dibalik 12 jam sekali. Tergantung pada cuaca, lama penjemuran dapat 10 hari. Alat pengering yang biasa digunakan adalah Vis Dryer dan Cocoa Dryer. Alat tersebut biasa dikombinasikan dengan penjemuran. Suhu diatur 60-700C dengan prinsip pengeringan secara lambat. Kriteria biji kering: rapuh/mudah patah, beratnya tinggal 1/3 berat basah Sortasi Sortasi bertujuan memisahkan biji kakao dari kotoran yang terikut dan memisahkan biji berdasar kenampakan fisik dan ukuran biji Pengelompokan mutu mengikuti persyaratan yang ditetapkan Direktorat Standardisasi Departemen Perdagangan Penyimpanan Biji dikemas dalam wadah yang kuat, bersih, tidak terkontaminasi dengan bau yang tajam. Biasanya digunakan karung goni. Kadar air biji 6-7%

343

Dedy Suhendi: Rehabilitasi Tanaman Kakao

Ruang simpan tidak lembab, cukup ventilasi, bersih, bebas pencemaran bau. Antara lantai dengan tumpukan biji diberi alas kayu yang berjarak 10 cm dari permukaan lantai. PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN PETANI Perlu adanya dorongan pemberdayaan organisasi petani. Petani perlu didorong agar mempunyai kelembagaan yang mandiri sehingga berbagai kegiatan produksi dan perdagangan dapat dilakukan secara lebih efisien dengan posisi rebut tawar yang lebih kuat. Dalam upaya membentuk dan mengembangkan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) di Desa Tonggolobibi, pembentukan dan penguatan kelembagaan perlu mendapat perhatian, terutama kelembagaan kelompok tani, koperasi dan penguatan lembaga pemasaran. Klinik Agribisnis dapat berperan dalam menampung permasalahan dan penyediaan inovasi teknologi yang dibutuhkan, serta mendekatkan sumber teknologi kepada pengguna, khususnya petani dan sekaligus menjadi wahana untuk mendapatkan umpan balik sebagai bahan penyempurnaan penyelenggaraan, pengkajian dan diseminasi. KESIMPULAN 1. Klon unggul dan teknologi sambung samping belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh petani. 2. Dengan penggunaan klon unggul diperkirakan produksi akan meningkat sebesar 220 % dari produksi saat ini. 3. Rehabilitasi tanaman kakao dengan teknik sambung samping menggunakan klon unggul harus diyakini akan dapat meningkatkan produktivitas dan mutu hasil. 4. Diperlukan langkah untuk meremajakan atau merehabilitasi tanaman kakao tua dan pengembangan kelembagaan petani. 5. Dengan budidaya tanaman kakao yang baik disertai pengolahan kakao yang benar dan baku maka produktivitas dan mutu hasil kakao di Desa Tonggolobibi akan meningkat.

DAFTAR PUSTAKA Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Siboang. 2005. Program Penyuluhan Pertanian Tahun 2005. Badan Pusat Statistik Kabupaten Donggala. 2004. Kabupaten Donggala Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah. 2004. Sulawesi Tengah Dalam Angka. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah. 2007. Rancang Bangun Laboratorium Agribisnis Pada Lahan Sawah Semi Intensif Desa Tonggolobibi, Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. 1998. Budidaya Tanaman Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 2003. Budidaya Tanaman Kakao. Suhendi, D., H. Winarno, dan A.W Susilo. 2004. Peningkatan Produksi dan Mutu Hasil Kakao Melalui Penggunaan Klon Unggul Baru. Prosiding Simposium Kakao. Jogjakarta 4-5 Oktober 2004. Zaenudin & J.B. Baon. 2004. Prospek Kakao Nasional Satu Dasawarsa (2005-2014) Mendatang: Antisipasi Pengembangan Kakao Nasional Menghadapi Regenerasi Pertama Kakao Di Indonesia. Prosiding Simposium Kakao. Jogjakarta 4-5 Oktober 2004.

344

Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Inovasi Lahan Marginal

Tanya Jawab

Pertanyaan : 1. Undang (LRPI) Dari hasil pengamatan di Sirenja, tanaman kakao tua yang siap disambung hanya 55%, 12% tidak sehat dan 32% mati. Program rehabilitasi perlu diawali dengan penyehatan batang bawah dan penyulaman. Bagaimana cara menangani tanaman kakao yang tidak sehat dalam areal pertanaman agar bisa disambung? - Bagaimana cara penanggulangan tanaman yang mati atau tidak tumbuh dari areal pertanaman kakao? Jawaban - Batang bawah perlu disehatkan dengan cara kecrah tanah dan pemupukan. Untuk menjaga/merawat hasil sambung samping adalah dengan menyiwing pohon yang berada dekat di sekitarnya dalam upaya memperoleh cahaya matahari yang sangat berguna untuk pertumbuhan tunas hasil sambung samping. - Dilakukan penyulaman pada tempat yang kosong (tan. mati). Jumlah tanaman yang disulamkan memang tidak sebanyak jumlah tanaman yang mati, tergantung pada kondisi selain mikro kebun. -

345

Dedy Suhendi: Rehabilitasi Tanaman Kakao

346