TINJAU ULANG KEBUN KELAPA SAWIT

Document Sample
TINJAU ULANG KEBUN KELAPA SAWIT Powered By Docstoc
					TINJAU ULANG KEBUN KELAPA SAWIT
Monday, 18 May 2009 16:22




Dampak Ekologis dan Sosial Ekonominya Mengkhawatirkan

Julukan kota nenas bagi Kab. Subang terancam jadi kenangan. Nenas "si madu" yang menjadi
unggulan, produksinya kian berkurang seiring menyusutnya lahan. Sebagian telah beralih
menjadi perkebunan kelapa sawit. Namun demikian, masyarakat mulai beraksi dengan
mendesak agar kebun sawit yang ditanam PTPN VIII di Kecamatan Jalancagak dan
Kasomalang ditinjau kembali.

  Ketua Himpunan Petani Nenas Kab. Subang, Memed yang dihubungi Sabtu (16/5)
menerangkan, sekarang banyak petani nenas yang menganggur karena perkebunan teh dan
lahan yang semula menjadi garapan tumpangsari petani nenas di wilayah Jalancagak kini
sudah tertancap pohon kelapa sawit. Selain berdampak terhadap kehidupan sosial masyarakat,
areal dan produksi buah nenas menjadi berkurang. "Sebagian besar warga di sini menjadi
petani nenas namun sekarang pekerjaannya tidak menentu lagi," ujarnya.

Disebutkan, semenjak awal rencana alih fungsi, hingga sekarang sudah tertanami kelapa sawit,
petani yang berjumlah 1.700 orang sempat meminta penangguhan dan peninjauan kembali.
Meski menggunakan jalur hukum, tuntutan tersebut menguap entah ke mana.

"Kita khawatir kalau permasalahan yang dihadapi masyarakat kecil tidak ada jalan keluarnya,
kepercayaan mereka menjadi hilang," kata Memed. Bagaimana jadinya, Subang yang sejak
dahulu dikenal sebagai kota nenas malah sedikit demi sedikit menghilang ciri khasnya dan
tinggallah patung nenas.

Keterangan yang diperoleh, langkah yang diambil oleh PTPN VIII dalam hal pembudidayaan
kelapa sawit, dilakukan sebagai bagian solusi permasalahan dengan mengoptimalkan
pemanfaatan lahan tidur yang sudah sejak lama digarap masyarakat secara turun-temurun.
Keadaan itu secara ekonomis tidak memberikan tambahan pendapatan kepada PTPN sehingga
dicoba budi daya kelapa sawit.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Subang Dr. Ir. Drs. H.A. Moeslihat K., M.Si.
membenarkan kondisi ini. Malahan menurut petani penggarap, dampak dari perkebunan kelapa
sawit adalah hilangnya mata pencaharian masyarakat sebagai petani tanaman unggulan
Kabupaten Subang maupun buah-buahan khas Subang yaitu nenas yang menjadi penopang
ekonomi petani penggarap.

Tidak sesuai

Adapun permasalahan lain yang ditimbulkan perkebunan kelapa sawit terhada masyarakat, ujar
Moeslihat, adalah berkurangnya kandungan air tanah sehingga produktivitas pertanian
menurun, kekeringan di musim kemarau dan banjir pada musim hujan.

"Dilihat dari kacamata Pemerintah Daerah yang di antaranya melalui aspek regulasi, komoditas
kelapa sawit tidak dialokasikan dalam rencana tata ruang wilayah Kabupaten Subang. Artinya
budi daya kelapa sawit tidak sesuai dengan peruntukan lahan sehingga hal tersebut
memerlukan pembahasan lebih lanjut dan menempuh proses legal untuk merevisi.



                                                                                         1/2
TINJAU ULANG KEBUN KELAPA SAWIT
Monday, 18 May 2009 16:22




"Pada saat pembukaan lahan terjadi penebangan pohon yang akan mengakibatkan run off
(aliran air) yang lebih besar dan resapan air yang menurun sehingga bisa mengakibatkan banjir
di bawah," kata Moeslihat.

Dijelaskan, alih komoditas dari perkebunan teh menjadi kelapa sawit di wilayah Kecamatan
Sagalaherang, Jalancagak, dan Kasomalang pada dasarnya bukan hanya akan memberikan
tekanan terhadap lingkungan saja, namun berimplikasi pula pada aspek-aspek yang terkait
dengan masalah sosial, budaya, dan politik. Namun demikian, tentunya ada dampak positifnya
juga, yakni membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat, meningkatkan pendapatan
daerah maupun pusat karena buah kelapa sawit bisa diproses menjadi minyak goreng.

Hanya selain dampak positif tentunya ada dampak negatif. Sebagaimana yang diresahkan
petani penggarap tanah PTPN, ketersediaan air untuk daerah sekitar menjadi berkurang karena
kelapa sawit sangat membutuhkan air namun tidak berfungsi sebagai penyimpan air. Buah
kelapa sawit yang gugur dari pohonnya dan membusuk dapat menyebabkan pencemaran
udara sampai radius 20 km.

Ketua Komite Daerah Aliran Sungai dan Lingkungan Hidup (Komdas LH) Kab. Subang, Hendi
Sukmayadi menyatakan ikut merasa khawatir dengan adanya perkebunan kelapa sawit yang
dinilai berdampak terhadap ekologi dan konservasi. Sementara ini, katanya, masalahnya
memang baru pada dampak sosial ekonomi. Persoalannya, wilayah Subang bagian Utara
merupakan kawasan penyangga air sehingga segala bentuk kebijakan harus memperhatikan
hal itu.

"Beberapa mitra kami dari LSM selalu bertanya-tanya termasuk soal perizinannya, sehingga
kita mencoba mengadakan seminar kajian dan monitoring kebijakan ekspansi perkebunan
kelapa sawit dengan mengundang Sawit Wactch bertempat di GOR Desa Tambakan Kec.
Jalancagak, Rabu (13/5) kemarin," kata Hendi. Tujuannya agar ada pemahaman yang sama
terhadap dampak dari pembangunan perkebunan kelapa sawit. "Ternyata hasilnya malah tetap
pro dan kontra," ujarnya.

Ketua BLH Kab. Subang, Moeslihat, menegaskan hingga sekarang Pemkab. Subang belum
menerbitkan izin untuk alih komoditas perkebunan teh menjadi kelapa sawit. (JU-14)***

 




Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Senin 18 Mei 2009




                                                                                        2/2