TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK by byrnetown69

VIEWS: 9,828 PAGES: 15

									  MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN




Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan
Dosen       : Prof. Dr. Hj. Martini Djamaris, MSc.Ed

Tim Kelompok 4 :
              1. Afrida
              2. Purwaty
              3. Rini
              4. Agus Utomo
    TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

Penjelasan :

Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan
perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.
Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang
menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan
hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan
belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi
penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak,
berupa reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan
ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-
Respon)
Teori Behavioristik

1. Mementingkan faktor lingkungan
2. Menekankan pada faktor bagian
3. Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan
   mempergunakan metode obyektif.
4. Sifatnya mekanis
5. Mementingkan masa lalu
A.       Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949):
         Teori Koneksionisme
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-
peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari
lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat
sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang.



Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba kucing yang telah dilaparkan dan
diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop
yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and
error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan
membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan
perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru,
selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi, demikian selanjutnya, sehingga dapat
digambarkan sebagai berikut:
S          R           S1         R1            dst
Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar
sebagai berikut :


1.   Hukum Kesiapan(law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme
     memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah
     laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi
     cenderung diperkuat.


2.   Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku
     diulang/ dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.


3.   Hukum akibat(law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung
     diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika
     akibatnya tidak memuaskan
Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai
berikut:

 a. Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response).
Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang
menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang
tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.


 b. Hukum Sikap ( Set/ Attitude).
Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh
hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam
diri individu baik kognitif, emosi , sosial , maupun psikomotornya.


 c. Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element).
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada
stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi ( respon
selektif).
 d. Hukum Respon by Analogy.
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum
pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum
pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau
perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang
sama maka transfer akan makin mudah.


 e. Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting)
Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang
belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit
unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.
  Selain menambahkan hukum-hukum baru, dalam perjalanan penyampaian
  teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar antara lain :



• Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak
  cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa
  pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.

• Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat
  positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman
  tidak berakibat apa-apa.

• Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan,
  tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.

• Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun
  pada individu lain.
B. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936).


• Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan
  klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui
  percobaanny terhadap anjing, dimana perangsang asli
  dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat
  secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi
  yang diinginkan.
Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-
rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang
didinkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan
binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan
manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia
berbeda dengan binatang.


Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dpat diketahui
bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi
lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Ketika lonceng dibunyikan
ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan.
Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan
sehar-hari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara
lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah.
Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering
lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang
hari yang panas. Bayangkan, bila tidak ada lagu trsebut betapa lelahnya si
penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Contoh lai adalah bunyi
bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa
disadari, terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian
dari pedagang makanan(rujak, es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat
di rumah, bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank
tanpa harus berdiri lama.

Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi
Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus
alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon
yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan
oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
C. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990).



• Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern, Skinner
  mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah
  laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul
  The Behavior of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar,
  ia mengemukakan teori operant conditioning. Buku itu menjadi
  inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946
  dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”. Hasil
  konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental
  Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika
  (Sahakian,1970)
B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris
dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa
perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang
dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian
reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam
beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning
klasik.

Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru
secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan.

Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk
memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu
memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak
memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. Operant
Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif
atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat
berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Beberapa prinsip Skinner antara lain :


  – Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah
    dibetulkan, jika benar diberi penguat.
  – Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
  – Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
  – Dalam proses pembelajaran, tidak digunkan hukuman. Untuk itu
    lingkungan perlu diubah, untukmenghindari adanya hukuman.
  – dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
  – Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan
    sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel
    Rasio rein forcer.
  – Dalam pembelajaran digunakan shaping.
Terima Kasih
  Diktat Lengkap dapat dibuka di
http://agusutomo.wordpress.com

								
To top