Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit by morgossi7a5

VIEWS: 9,513 PAGES: 14

									Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




 MENGEMBANGKAN LAYANAN FARMASI KLINIS DI RUMAH SAKIT
 Dra. Yusmainita, Apt., SpFRS  *

    I.   Pendahuluan

  Mengapa Apoteker berkeinginan ikut ke bangsal? Bukankah tugas Apoteker terutama di
bagian perlengkapan dan distribusi di bagian Instalasi Farmasi atau di Apotek? Apakah tugas
atau pekerjaan yang dilakukan oleh Apoteker di bangsal atau ward? Apakah Apoteker di
bangsal akan memberikan obat kepada pasien? Kehadiran apoteker di bangsal dan
keikutsertaan dalam kunjungan pasien akankah membingungkan pasien? Apakah Apoteker
juga tenaga kesehatan? Apakah Apoteker termasuk dalam tenaga medis? Apakah Apoteker
akan melihat rekam medik? Apa dasar hukumnya?

       Kalau Apoteker boleh berkomunikasi dengan pasien, apakah akan membingungkan
pasien dan dapat menganggu hubungan pasien dengan dokter yang merawatnya. Selama ini
tidak banyak masalah-masalah mengenai obat yang dijumpai di bangsal dan cukup
diselesaikan oleh perawat dan nasehat dokter. Kehadiran Apoteker akan menambah biaya
pengeluaran bagi Rumah Sakit yang selama ini sudah dirasakan berat oleh pasien dan rumah
sakit. Apoteker tidak memiliki pengalaman klinis, keadaan ini akan menyulitkan komunikasi
dengan tenaga kesehatan lainnya. Apakah yang akan dilakukan oleh Apoteker apabila
menjumpai pengobatan yang dianggap tidak rasional? Inilah beberapa komentar yang sering
didengar di antara perawat dan dokter ketika pengenalan program pelayanan farmasi klinis
disosialisasikan di rumah sakit. Begitu asing dan penuh pertanyaan bagi tenaga kesehatan
lainnya di rumah sakit yang selama ini hanya sebatas layanan farmasi produk (perencanaan,
pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian).

 II. Apakah Layanan Farmasi Klinis?

  Layanan farmasi klinis berkembang untuk menanggapi keprihatianan masyarakat terhadap
tingginya angka morbiditas dan mortilitas yang terkait dalam penggunaan obat, cepatnya
peningkatan biaya perawatan kesehatan, tingginya harapan yang terkait dalam penggunaan
obat, serta ledakan pengetahuan medis dan ilmiah. Layanan farmasi klinis merupakan praktek
kefarmasian yang berorientasi kepada pasien lebih dari pada layanan berorientasi produk.
Apoteker dapat berkontribusi selama proses peresepan, yaitu sebelum, selama dan sesudah
resep ditulis. Secara historis, profesi kefarmasian mengalami berbagai perubahan secara
drastis dalam kurun waktu 40 tahun terakhir terjadi di abad ke 20. Perkembangan ini dibagi
menjadi empat periode yaitu: Periode Tradisional (sebelum 1960), Periode Transisional
(1960-1970), Periode Masakini (Farmasi Klinis), Periode Masa Depan (Pharmaceutical Care).
Dalam setiap periode, dapat dibedakan konsep-konsep mendasar berkaitan dengan : Fungsi
dan tugas yang diemban, hubungan dengan profesi medis, tekanan pada pelayan penderita
(patient care), sikap aktif atau pasif pada pelayanan. Beralihnya pembuatan obat dari instalasi
farmasi ke industri farmasi maka tugas dan fungsi farmasi berubah. Apoteker tidak banyak lagi
meracik obat karena obat yang diresepkan dokter kebanyakan obat jadi berkualitas tinggi yang
disiapkan oleh pabrik farmasi. Sejalan dengan perkembangan kemajuan ilmu kedokteran,
khususnya dalam bidang farmakologi dan banyaknya jenis obat yang beredar menyebabkan
dokter merasa ketinggalan dalam ilmunya. Selain hal tersebut juga kemajuan dalam ilmu



                                                                                           1 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




diagnosa, alat-alat diagnosa bantu serta penyakit baru yang muncul membingungkan para
dokter (satu profesi tidak dapat lagi menangani semua pengetahuan yang berkembang dengan
pesat). Dengan berkembang pesatnya obat-obat yang efektif secara terapetik dalam dekade
tersebut, tapi perkembangan ini membawa masalah-masalah tersendiri berupa meningkatnya
permasalahan yang berkaitan dengan obat, ESO, teratogenesis, interaksi obat-obat,
obat-makanan, obat-uji laboratorium dll.

  Ketidakberhasilan pengobatan dapat disebabkan oleh :
  •  Penulisan resep yang kurang tepat
  •  Pengobatan yang kurang tepat (Misalnya: Pemilihan obat, bentuk sediaan, dosis, rute,
interval dosis, lama pemakaian)
  •  Pemberian obat yang tidak diperlukan
  •  Penyerahan obat yang tidak tepat
  •  Obat tidak tersedia saat dibutuhkan
  •  Kesalahan dispensing
  •  Perilaku pasien yang tidak mendukung
  •  Indiosinkrasi pasien
  •  Berhubungan dengan cara pengobatan yang tidak tepat
  •  Pelaksanaan/penggunaan obat yang tidak sesuai dengan perintah pengobatan (non
compliance)
  •  Respon aneh individu terhadap obat
  • Terjadi kesalahan atau kecelakaan
  • Pamantauan yang tidak tepat
  • Gagal untuk mengenali dan menyelesaikan adanya keputusan terapi yang tidak tepat
  • Gagal dalam memantau efek pengobatan pasien

 Pemantauan obat merupakan salah satu tugas layanan farmasi klinis dan berhubungan
dengan masalah berkaitan obat (DRP) serta dapat dikategorikan sebagai berikut :
 • Pasien tidak memperoleh pengobatan yang sesuai dengan indikasinya
 • Pasien tidak mendapatkan obat yang tepat
 • Dosis obat subterapetik
 • Pasien gagal menerima obat
 • Dosis obat terlalu tinggi
 • Timbul reaksi obat yang tidak dikehendaki
 • Pasien mengalami masalah karena terjadi interaksi obat
 • Pasien memperoleh obat yang tidak sesuai dengan indikasinya

 a. Filosofi dan tujuan Farmasi Klinis

 Hepler dan Strand (1990)
 Pharmaceutical Care is ”The responsible provision of drug therapy for the purpose of
achieving definite outcomes that improve a patient’s quality of life”

 Cipolle, Strand dan Morley (1998)
 Pharmaceutical Care is “A Practice in which the practitioner takes responsibility for a patient’s
drug therapy needs, and is held accountable for this commitment”



                                                                                              2 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




 Dasar hukum Farmasi Klinis :
 SK Menkes No. 436/ Menkes/ SK/VI/1993 tentang pelayanan Rumah Sakit dan Standar
Pelayan Medis, tugas Apoteker meliputi:
 • Melakukan konseling
 • Monitoring Efek Samping Obat (ESO)
 • Pencampuran obat suntik secara aseptis
 • Menganalisis efektivitas biaya
 • Penentuan kadar obat dalam darah
 • Penanganan obat sitostatika
 • Penyiapan total parenteral nutrition
 • Pemantauan terapi obat
 • Pengkajian penggunaan obat

  Terapi obat terutama ditujukan untuk meningkatkan kualitas mempertahankan hidup pasien,
   yang dilakukan dengan cara mengobati pasien, mengurangi atau meniadakan gejala sakit,
menghentikan atau memperlambat proses penyakit serta mencegah penyakit atau gejalanya.
Namun tidak dapat disangkal dalam pemberian obat kemungkinan terjadi hasil pengobatan
tidak seperti yang diharapkan (Drug Related Problem).

 Pemantauan obat merupakan salah satu tugas Farmasi Klinis dan kemungkinan masalah
berkaitan dengan DRP dapat dikategorikan sebagai berikut:
 • Pasien tidak memperoleh pengobatan yang sesuai dengan indikasinya
 • Pasien tidak mendapatkan obat yang tepat
 • Dosis obat subterapetik
 • Pasien gagal menerima obat
 • Dosis obat terlalu tinggi
 • Timbul reaksi obat yang tidak dikehendaki
 • Pasien mengalami masalah karena terjadi interaksi obat
 • Pasien memperoleh obat yang tidak sesuai dengan indikasinya

 Layanan farmasi klinis menghadirkan langkah penting dalam transformasi praktek kefarmasian
dan orientasi produk ke praktek yang berorientasi kepada pasien. Dalam praktek ini Apoteker
harus membuat keputusan tentang ketepatan pemakaian obat dan bertanggung jawab terhadap
keputusan dan saran. Menurut Prof. Nicholas Barber (School of Farmacy, University of
London).

 FILOSOFI FARMASI KLINIS SAMA DENGAN PERESEPAN YANG BAIK, yaitu:

 1. Memaksimalkan Efek Terapetik (Efektivitas Terapi) meliputi:
 • Ketepatan indikasi
 • Ketepatan pemilihan obat
 • Ketepatan pengaturan dosis sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien
 • Evaluasi terapi
 • Meminimalkan resiko
 • Mamastikan resiko yang sekecil mungkin bagi pasien



                                                                                      3 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




  • Meminimalkan masalah ketidak amanan pemakaian obat meliputi efek samping, dosis,
interaksi dan kontraindikasi
  • Menghormati pilihan pasien

 2. Meminimalkan Biaya
 • Untuk rumah sakit dan pasien (apakah obat yang dipilih paling efektif dalam hal biaya dan
rasional)
 • Apakah terjangkau oleh kemampuan pasien atau rumah sakit
 • Jika tidak, alternatif jenis obat apa yang memberikan kemanfaatan dan keamanan yang
sama

 3. Menghormati Pilihan Pasien
 • Keterlibatan pasien dalam proses pengobatan akan menentukan keberhasilan terapi
 • Hak pasien harus diakui dan diterima semua pihak

 Ada 3 tahap Apoteker dapat berperan dalam proses peresepan :

 i. Sebelum resep ditulis Misalnya: Penyusunan formularium, kebijakan peresepan, pedoman
pengobatan, buletin informasi obat, evaluasi obat

 ii. Selama resep ditulis Memperngaruhi/memberikan masukan pengetahuan, sikap dan
prioritas dalam menulis resep. Misalnya: Menjadi anggota tim multidisiplin (Tim Nutrisi
Parenteral, Tim Kemoterapi Sitotoksik, Tim Pemantau Terapi Obat dll)

 iii. Sesudah resep ditulis Apoteker melibatkan diri dalam mengkoreksi atau menyempurnakan
kualitas peresepan setelah resep dituliskan sebagai bagian proses penatalaksanaan obat
secara rutin. Apoteker dapat mengambil peran bermakna dalam audit medis dan klinis.

 Pemantauan dan peresepan menjadi tugas utama farmasi klinis.
 • Pengkajian (Assessment) Menjamin bahwa semua terapi obat yang diberikan kepada
pasien terindikasi berkhasiat dan sesuai serta mengidentifikasi setiap masalah terapi obat yang
muncul atau memerlukan pencegahan dini
 • Pengembangan Perencanaan Perawatan (Development of Care Plant) Secara bersama
pasien dan praktisi kesehatan membuat perencanaan untuk menyelesaikan masalah terapi
obat dan untuk mencapai tujuan terapi.

 Tujuan ini didisain untuk:
 a. Menyelesaikan masalah terapi yang muncul
 b. Mencapai tujuan terapi individual
 c. Mencegah masalah terapi obat yang potensial terjadi kemudian

 Evaluasi

 Mencatat hasil terapi untuk mengkaji perkembangan dalam pencapaian tujuan terapi dan
menilai kembali munculnya masalah baru, ketiga tahap proses ini terjadi terus menerus bagi
seorang pasien.



                                                                                           4 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




 a. Karakteristik Praktek Layanan Farmasi Klinis
 • Berorientasi pasien
 • Terlibat langsung di ruang perawatan di rumah sakit (ward)
 • Bersifat pasif (melakukan intervensi setelah pengobatan dimulai atau memberi informasi
kalau diperlukan)
 • Bersifat aktif (memberikan masukan ke dokter sebelum pengobatan dimulai, menerbitkan
buletin informasi obat)
 • Bertanggung jawab terhadap setiap saran atau tindakan yang dilakukan
 • Menjadi mitra dan pendamping dokter

  b. Ruang Lingkup Tugas dan Fungsi Layanan Farmasi Klinis
  Farmasi klinis lahir pada tahun 1960an di Amerika Serikat dan Inggris pada periode
transisional. Pada periode ini terjadi perubahan yang cepat dari perkembangan fungsi dan
peningkatan jenis-jenis pelayanan profesional oleh beberapa perintis dan sifatnya masih
individual. Yang paling menonjol adalah kehadiran farmasis di ruang rawat rumah sakit.

 Ruang lingkup dan tugas farmasi klinis:
 • Pemantauan Terapi Obat (PTO)
 • Kesiapan untuk membentui setelah lepas jam kerja ”siap dipanggil”
 • Konsultan keliling
 • Memberikan masukan/saran kepada Direktur Klinis/dokter
 • Memberikan informasi tentang pemakaian obat secara finansial
 • Membuat kajian obat-obat baru
 • Ikut aktif dalam pengendalian infeksi, melalui kegiatan:
    - Pemberian informasi obat
    - Pemantauan penggunaan obat
    - Penyusunan pedoman penggunaan antibiotika
 • Berpartisipasi dalam Komite Farmasi dan Terapi
 • Aktif dalam penyusunan formularium
 • Merasionalkan penggunaan obat
 • Memajukan peresepan yang efektif dari segi biaya
 • Mengatur tambahan obat baru
 • Merumuskan pedoman bagi dokter
 • Ikut menyusun kebijakan penulisan resep (protokol/pedoman pengobatan)
 • Pemberian informasi obat
 • Audit medis
 • Audit klinis
 • Uji coba klinis
 • Tim nutrisi parenteral
 • Tim kemoterapi
 • Analgesia yang dikendalikan pasien
 • Pemantauan Kadar Obat Terapeutik (TDM)
 • Pelayanan saran farmakokinetika
 • Individualisasi pengaturan dosis obat
 • Pelayanan antikoagulan perawatan dan pengobatan luka



                                                                                           5 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




 • Pencatatan riwayat pengobatan pasien (faktor-faktor pasien dan pengobatan yang
merupakan faktor resiko pengobatan)
 • Pengembangan alur dan pelayanan pengobatan sendiri (Self Medication Scheme)
 • Pemantauan Efek Samping Obat (mencegah menemukan dan melaporkan efek samping
obat)
 • Promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan, pencegahan penyakit dan perlindungan
kesehatan
 • Konseling pasien
 • Meningkatkan derajat kesehatan
 • Meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pasien dalam pemakaian obat (Ketidak patuhan
pasien merupakan salah satu penyebab kegagalan terapi)

 c. Keterampilan Farmasi Klinis
 Beberapa keterampilan diperlukan seorang Apoteker untuk berperan secara efektif dalam
pelayan pasien :

   - Keterampilan Farmasi klinis
   - Mengaplikasikan pengetahuan terapeutik
   - Mengkorelasikan keadaan penyakit dengan pemilihan obat
   - Menggunakan catatan kasus pasien
   - Menginterpretasikan data pemeriksaan laboratorium
   - Menerapkan pendekatan penyelesaian masalah yang sistematik
   - Mengidentifikasi kontra indikasi obat
   - Mengenal reaksi yang tidak dikehendaki (karena obat) yang mungkin terjadi
   - Membuat keputusan tentang formulasi dan stabilitas
   - Mengkaji literatur medis dan obat
   - Menulis laporan medis
   - Merekomendasikan pengaturan dosis
   - Mengkomunikasikan secara efektif kepada tenaga kesehatan yang terkait
   - Menanggapi pertanyaan secara lisan
   - Membuat instruksi/perintah yang jelas
   - Berargumentasi terhadap suatu kasus 
   - Memberikan pendapat atau saran kepada tenaga professional kesehatan dan pasien dan
keluarga pasien.
   - Menyajikan laporan kasus




                                                                                         6 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




 d. Aktivitas Layanan Farmasi Klinis
 Praktek Farmasi klinis sehari-hari di ward/bangsal meliputi:

  -   Aktivitas Layanan Farmasi Klinis
  -   Pemantauan dan pemeriksaan peresepan
  -   Mencermati penyiapan dan penyimpanan obat
  -   Memeriksa ketepatan penggunaan obat
  -   Menilai kesesuaian bentuk sediaan obat yang digunakan
  -   Member informasi obat
  -   Membuat penilaian terapeutik
  -   Mengidentifikasi pasien dan factor resiko medikasi
  -   Membantu memformulasikan dan menerapkan kebijakan peresepan
  -   Memeriksa kesesuaian obat dan ketepatan dosis obat yang dipergunakan
  -   Memantau terapi obat
  -   Menanyakan riwayat pemakaian obat pada saat pasien masuk rumah sakit
  -   Mewawancara pasien
  -   Mengkonsultasi pasien
  -   Mengelola rekam medis
  -   Menerapkan kebijakan dan pedoman peresepan
  -   Terlibat dalam penelitian dan uji coba




                                                                             7 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




 e. Manfaat Layanan Farmasi Klinis
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan farmasi klinis mampu mengidentifikasi
masalah penting, antara lain:

  -   Mengidentifikasi masalah penting yang terkait obat serta menurunkan kejadian
  -   Menyempurnakan pendidikan pasien serta kepatuhan
  -   Memperbaiki peresepan
  -   Menyempurnakan hasil klinis dan efektivitas klinis
  -   Meningkatkan efektifitas biaya dan mempersingkat masa tinggal di rumah sakit
  -   Apoteker mendukung dan mendidik anggota tim kesehatan
  -   Partisipasi dalam audit klinis dan penelitian




 III. Apakah Layanan Farmasi Klinis Diperlukan di Indonesia ?

  Tuntutan masyarakat untuk pelayanan medis dan farmasi adalah pelayanan bermutu tinggi
disertai pertanggungjawaban peran para dokter dan apoteker. Tuntunan ini sampai pada
gugatan atas setiap kekurangan dan kesalahan pengobatan. Kecendrungan ini terjadi
bersamaan dengan perubahan peran apoteker yang semakin menyempit. Banyak orang
mempertanyakan peran “Pharmacist over trained and under utilized, apoteker terlalu banyak di
latih tapi kurang dipraktekkan ” Situasi ini memunculkan perkembangan farmasi bangsal (ward
Pharmacy) dan farmasi klinis (Clinical Pharmacy). Pelayanan farmasi klinis di bangsal rumah
sakit sangat diperlukan oleh pasien untuk memberikan jaminan pengobatan yang rasional
(efektif, aman, tersedia, dan biaya terjangkau).

 Meningkatnya biaya kesehatan sektor publik disebabkan oleh :

  - Penggunaan teknologi canggih yang mahal
  - Meningkatnya permintaan pelayanan kesehatnan secara kuantitatif dan kualitatif
  - Meningkatnya jumlah penduduk lansia




 “Clinical Pharmacy is not new fashion but a necessity”, bahwa Farmasi klinis bukan suatu
metode baru melainkan suatu kebutuhan karena :



                                                                                            8 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




   - Rumah sakit tidak mampu lagi menanggung biaya kesehatan /belanja obat (drug
expenditure)
   - Perkembangan ilmu kedokteran, farmakologi, dan teknologi yang pesat menyebabkan
dokter memerlukan bantuan dan masukan dari apoteker.
   - Apoteker yang “overtrained dan underutilized” ilmu pengetahuan mereka tidak digunakan
optimal. Selama ini mereka cenderung terjebak pada peran logistik (Perencanaan, Pengadaan,
Penyimpanan, dan Pendistribusian)
   - Globalisasi dan pendirian rumah sakit asing serta penempatan pekerja asing akan
merugikan rumah sakit Indonesia dan pengeluaran Negara.




  Di Indonesia pelayanan farmasi klinis belum banyak dilakukan di rumah sakit, meskipun di
Negara maju telah dimulai 30 tahun yang lalu. Proses pelatihan farmasis untuk menerapkan
farmasi klinik adalah proses seumur hidup. Diperlukan persiapan yang cukup dalam hal
sosialisasi konsep kepada pimpinan rumah sakit, dokter, perawat dan apoteker tentang filosofi,
tujuan, sasaran, manfaat dan pelaksanaan kegiatan pelayanan farmasi klinis. Dukungan
pimpinan rumah sakit dan tenga kesehatan yang terlibat untuk tetap termotivasi dan konsisten
dalam mewujudkan filosofinya sangat diperlukan did alam pelaksanaannya.

 IV. Bagaimana Memulai Layanan Farmasi Klinis

  Hal penting dalam memulai pelayanan farmasi klinis adalah jalinan komunikasi yang intensif
dan saling mempercayai antar tenaga kesehatan yang terlibat serta dukungan pimpinan rumah
sakit dan tenaga keseghatan yang terlibat untuk tetap termotivasi dan konsisten dalam
mewujudkan filosofinya. Pelaksanaan farmasi klinis di rumah sakit memerlukan adanya
kebijakan dari pemimpin rumah sakit yang mendukung pelaksanaannnya dan praktek berbasis
pengetahuan, ketrampilan, dan sikap sebagai kesatuan tim pelayanan kesehatan serta
didukung dengan informasi yang akurat dari Pusat Informasi Obat (PIO). Diperlukan persiapan
yang cukup dalam hal sosialisasi konsep kepada pimpinan rumah sakit, dokter, perawat, dan
apoteker tentang filosofi, tujuan, sasaran, manfaat dan pelaksanaan kegiatan pelayanan
farmasi klinis.

 a. Faktor-faktor yang perlu diperbaiki

 1. Kurangnya pengetahuan klinis


  - Harus diakui bahwa pada saat ini, pengetahuan dan keterampilan apoteker dalam bidang



                                                                                          9 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




farmasi klinis kurang memadai.
   - Pengetahuan yang dimiliki harus dilandasi pengetahuan yang mutakhir (up to date).




 2. Kurangnya kemampuan berkomunikasi

   - Dengan para dokter, khususnya dalam terminology teknismedis/tes laboratorium
   - Sebagian besar profesi farmasi tidak dilatih bagaimana berkomunikasi khusus dengan
para dokter dan pasien




 3. Tekanan kelompok kerja / ketidaknyamanan kerja

  - Apoteker yang lebih senior cenderung sulit berubah.
  - Persepsi pribadi bahwa dia merasa tidak sebagai professional tetapi “sekedar pekerja”




  4. Adanya kekhawatiran apabila bergeser dari orientasi produk maka akan kehilangan
“keamanan dan kenyamanannya”.

   - Oleh sebab itu, mereka lebih senang tetap berada di Instalasi Farmasi. Peranan baru ini
tidak didukung , malahan ditentang oleh orang di dalam maupun diluar profesi farmasi sendiri.




 5. Kurangnya motivasi dan keinginan untuk berubah
 6. Kurang percaya diri

  - Dirasakan kurang kesiapan / kecukupan bekal pengetahuan dan kemampuan khusus atau
pengalaman dan selama ini membuat mereka bersikap pasif.




 7. Kurang pelatihan dalam arus kerja yang sesuai
 8. Peningkatan persepsi tentang tanggung jawab

  - Dari pendidikan dan pelatihan formal, porsi kurikulum selama ini umumnya lebih berat



                                                                                         10 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




kearah analisis dan teknologi farmasi. Hampir tidak ada pendidikan berkelanjutan dan latihan
dalam bidang farmasi klinis.




 9. Kurangnya staf di instalasi farmasi.

   - Sampai sekarang dikebanyakan rumah sakit, hanya satu apoteker yang dipekerjakan dan
itupun peranan mereka adalah untuk urusan legal , suplai dan distribusi obat.




 b. Strategi Memajukan Praktek Layanan Farmasi Klinis

  Adanya daya dukung dan kemampuan mengintegrasikan kegiatan- kegiatan sbb:
  1. Adanya kebijakan tentang pelayanan farmasi klinis dari pemerintah maupun pimpinan
rumah sakit bersangkutan
  2. Adanya pelaksanaan dalam praktek
  3. Adanya kegiatan riset dan pengembangan yang dilaksanakan serta pendidikan dan
pelatihan
  4. Adanya auditing sebagai proses umpan balik untuk perbaikan dan memberi jaminan
kualitas yang dikehendaki.
  5. Mempertinggi kemampuan untuk memberdayakan farmasi rumah sakit
  6. Diperlukan bantuan dan pelatihan teknis dari pakar-pakar dalam negeri maupun luar negeri
.
  7. Mengintroduksi / memperkenalkan praktek farmasi klinis petugas-petugas kunci di rumah
sakit
  8. Adanya lokakarya untuk meningkatkan pemahaman terhadap kebutuhan dan potensi
apoteker klinis.
  9. Kerpentingan dan tujuan kegiatan farmasi klinis harus dimengerti dan disepakati oleh
petugas-petugas kesehatan.

  - Seperti direktur rumah sakit, apoteker senior, dokter senior, para perawat. Mereka
merupakan pemeran utama dalam menjalankan kesehatan di rumah sakit dan karenanya
sangat diperlukan adanya pemikiran bersama untuk mendukung farmasi rumah sakit dalam
kegiatan farmasi klinis.




 10. Pimpinan rumah sakit harus memberikan dukungan dan dorongan

  - Kepada mereka karena sebagai perintis maka kemajuan akan berlangsung



                                                                                         11 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




perlahan-lahan dan tercapai sedikit demi sedikit dan mereka pun masih dalam proses
pembelajaran.




 11. Menjalin hubungan baik antara profesi medis dan farmasi.

   - Dokter dan Apoteker seharusnya bekerja sama dengan lebih baik sehingga pasien
mendapat terapi yang efektif dan aman. Hubungan yang harmonis mungkin berdasarkan
kesadaran akan keterbatasan kemampuan masing-masing dan mutual inter dependence kedua
profesi itu. Dokter dan Apoteker justru saling melengkapi satu sama lain.




 12. Mulailah dengan kegiatan setempat dan kegiatan sederhana
 13. Menetapkan standar untuk praktek farmasi klinis Standar terdefinisi secara jelas

   - Akan memudahkan Apoteker untuk lebih terfokus. Hal ini akan membantu mereka untuk
melihat adanya kekurangan-kekurangan dan juga memungkinkan pelayanan klinis untuk
diaudit.




 14. Pemilihan prioritas pelayanan farmasi klinis

   - Harus disadari bahwa program farmasi klinis tidak akan terwujud dalam waktu singkat. “A
thousand mile journey begins with one step
”




 c. Faktor-faktor yang menunjang dalam implementasi pelayanan farmasi klinis

 1. Membentuk komite farmasi klinis dengan membuat proposal mencakup :

   - Analisa (analyse) situasi kebutuhan pelayanan farmasi klinis.
   - Menetapkan tujuan ( aims ) pelayanan farmasi klinis dan mencari masukan .
   - Pelaksanaan (action) / membuat rencana kerja dan tenggang waktu dan persetujuan
pimpinan rumah sakit
   - Pengkajian (assessment), menentukan kapan proyek percobaan dilaksanakan



                                                                                        12 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




  - Adjustment, / pengaturan kembali untuk disempurnakan dan diperluas.




 2. Mendirikan pusat pelayanan informasi obat

   - Dimana peran apoteker bergeser dari “drug informan”-kepada pendamping / konsultan
bagi penulis resep / dokter (menyediakan informasi pada tahap penentuan dosis, cara
pemberian serta dalam evaluasi terapi. Dengan kata lain peran utamanya sebagai ahli obat
(drug expert).




  3.  Menempatkan Apoteker bangsal (ward pharmacist)
  4. Memperkerjakan lebih banyak apoteker dengan perbandingan ( 1 apoteker untuk 30 tempat
tidur)
  5. Apoteker harus mengetahui peran dan fungsinya dan tidak mencoba bertindak di luar
perannya.
  6. Bagi apoteker klinis perintis harus mempelajari semua “skill of trade”

   - Sehingga mereka dapat menguasai pengetahuan serta berpengalaman dalam ilmu
kedokteran umum, mengikuti pendidikan berkelanjutan. Membentuk klub jurnal dan belajar
bersama-sama serta membuat presentasi secara teratur bersama rekan-rekan. Perlu
melakukan penetapan prioritas area pengembangan pelayanan farmasi klinis. Misalnya:
menurut keadaan penyakit (jantung koroner atau terapi obat sitotoksik) dan pasien dengan
farmakokinetik dan farmakodinamik yang kurang normal atau aturan obat yang rumit (lansia
atau polifarmasi)




 V. Penutup

  Tiada ada jalan pintas untuk mencapai layanan farmasi klinis yang baik. Di USA dan inggris
memerlukan waktu 20-30 tahun untuk menyempurnakan layanan farmasi klinis. Seorang
farmasis klinis yang penuh aspirasi harus bekerja keras dan semuanya didedikasikan untuk
kesejahteraan pasien. Minimal 2-3 tahun diperlukan waktu untuk membangun / merintis layanan



                                                                                      13 / 14
Mengembangkan Layanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit




farmasi klinis di Indonesia dengan berpedoman pengalaman farmasis di negara maju. Apoteker
harus bersikap ramah, terbuka dan dapat bekerja sama secara harmonis dengan sejawat medis
dan perawat. Kerjasama dengan dokter, perawat dan pihak manajemen rumah sakit tetap
merupakan persyaratan dasar dan utama untuk mencapai pelayanan tinggi untuk setiap pasien.
Setiap hari adalah pengalaman belajar dan ketika apoteker berhenti belajar maka berhenti
menjadi professional                                           .

 Anda tidak pernah berada di depan siapa pun selama anda berusaha untuk sejajar
dengan mereka (Anonim).

 * Penulis adalah Kepala Seksi Ketenagaan dan Pengendalian Mutu RSUP Adam Malik
Medan.

 Daftar Pustaka :

 1. Siregar, Charles JP, Farmasi Rumah Sakit Jakarta, tahun 2003
 2. Siregar, Charles JP, Farmasi Klinik Jakarta. Tahun 2005
 3. Aslam et al. Farmasi Klinik. Jakarta. Tahun 2002
 4. Hassan et al. hospital pharmacy. Tahun 1985




                                                                                    14 / 14

								
To top