Docstoc

Kumpulan Lukisan dan Puisi, Moses Foresto

Document Sample
Kumpulan Lukisan dan Puisi, Moses Foresto Powered By Docstoc
					KUMPULAN KARYA PUISI DAN LUKISAN
MOSES FORESTO

1

1. PERJALANAN

(Perjalanan Wajah dan Omongan Kentut, 2009, Oil on Canvas, 95cmX105cm) PERJALANAN Perjalananku, perjalanan tanpa tanpa arah, tanpa jalanan Melangkah tak seirama, bermusuhan hati dan kaki Kaki dituntun mata kanan Hati dituntun nurani kiri Perjalananku dihambat jiwa, disokong mimpi gersang Langkahku dikerat sadar, dibokong racun manis Menyusup ke dalam celah batu karang Hapuskan dahaga di telaga darah amis Perjalananku hanya omong kosong dan bolak-balik peran Ceriwis dalam diam, melimpah sumpah serapah Tekuk lutut ditelikung jaman Lelah menopang lesakan gairah Perjalananku tak berjejak, upaya melepas jarak Tak berpijak tak bertindak Usir diri, pasrah tanpa gerak Lari menyerah, bebaskan rasa singkapkan watak Leganya bebas berjalan itu Sejahat bebas itulah aku Berkumpul angin busuk di perut lalu kentut Biarlah muntah semua yang terhasut Sebab kentutku maut! Perjalanku adalah perjalanan penuh kentut Sebab mulutku tersumbat dendam kesumat Mampat oleh berlaksa-laksa bejat Karena wajahku di pantat, dan pantatku di muka Tuut… broot… pret… kentutku adalah kata-kataku tanpa makna, menyerang semua mulut Kata-kataku adalah kata-kata katatonik, jelas maknanya, busuk bunyinya Jangan heran, sebab aku berpikir dan berkata-kata di balik kolor butut 2

2. CELOTEH TIGA RAJA

(1+1)+1=4, 2007, Oil on Canvas, 40cmX55cm) CELOTEH TIGA RAJA Raja Merak : Akulah raja, rakyatku hamba Aku raja, rajanya umat Ikutilah kami, umatku beda, Tirulah kami, rakyatku taat Jazirahku sebaik-baiknya tanah Tak bercacat tak bernoda Rakyatku rakyat penyembah Umatku umat percaya Sebaik-baiknya warna, warna kami Sebaik-baiknya tanah, tanah kami Kami pemilih warna terbaik Kami pemilik tanah terbaik Hanya kami yang benar, lainnya salah Hanya kami yang baik, lainnya sesat Hanya kami yang boleh tegak, lainnya patah Hanya kami yang suci, lainnya bejat, Ikut, ikutlah kami, kalian kan selamat Turuti kami, kalian tak kusesah Tiru kami, puja-puji kau dapat, tunduk pada kami, kalian kusembah Raja Tega : Rakyatku rakyat bersih tanpa cemar Umatku umat suci mulia Aku raja, raja terbesar Aku raja, rajanya surga manusia 3

Kaumku berdarah emas Berak emas, kencing emas, muntah emas Umatku umat suci Tahinya wangi, kencingnya murni Tak ada pilihan, kecuali kami Tak ada jalan, hanya kami Tak ada kata tidak Tak boleh kami kau tolak Jamah kami kau kubelah Cegah kami kau kubakar Marilah, mari sembah Sesembahan kami paling benar Ikut kami, kalian terlindung Turut kami, kalian aman Tolak kami, kalian kupancung Semua yang tak serupa kami, setan! Raja Kodok : Groooook… grooook… ampun, wai raja-raja Kami hanyalah kodok Lahir tak bisa memilih rupa Tercipta jadi kodok groook… groook… Hidup di dua dunia Dunia tahan, dunia air Tumbuh di dua alam Alam umat durjana, alam kaum pandir Biarlah kami tetap kodok groook… groook… Kami yang goblok, biarlah goblok Goblok kami bukan karna memilih, terima saja, usah berdalih Goblok manusia, manusianya sendiri memilih Kita memang beda, tak bisa ditolak Kau raja merak, jadilah merak Kau raja tega, jangan beranjak Usah berontak, usah mendesak Kau raja merak dan kau raja tega Tahi kita semua tetaplah tinja Busuk tak terperi Kalaulah emas, kalungi sendiri, kalaulah wangi, makanlah sendiri Kau raja merak dan kau raja tega, urus istanamu sendiri, Baikku, baikku, baikmu, baikmu Telingaku memilih yang kudengar, mataku memilih yang kulihat Aku kodok, tetaplah kodok, kau merak tetaplah merak Raja Merak dan Raja Kodok : Dan kau manusia tetaplah mulia Biarlah sombong dan goblok milik kaum kami

4

Hakikatmu wai ciptaan utama, makhluk cendekia Usah kau berbinatang diri Kau berpikir, kami bernaluri Tubuhmu purna indria, jiwamu jiwa mulia, Rohmu roh sempurna Kau terlahir bersama hak memilih, kau pula menjalani Kami tak kuasa beralih rupa, tak kuasa berbesar jiwa SIKLUS tertawa dengan lelehan air mata, masa lalu menyeruak benak hidup-lahir-mati-dikubur-hidup, selamanya teratur selamanya tertawa pongah atau malu dikipasi tahi yang lalu bergerak maju, masa depan melangkah mundur teratur membawa panah menuju diriku kini hari ini biarlah diam menerima rajam tiada terang, tak pula kelam tanpa siang tanpa malam hidup hanya senja, jelang berakhir waktunya dunia peralihan hari kedua setelah pagi penuh warna hidup hanya punya dua masa pagi untuk lahir dan senja untuk tahir KEMANA rencana, kemana? berhenti tunduk menekuk, sibuk duduk-duduk, meringkuk, terpuruk bekerja, bergiat berserah, bergiat mulaikan gerak, tegak menanjak, merombak, melonjak buka mata, pasang sikap lontarkan tangan, tundukkan gerak, tegakkan tengkuk, sibakkan cambuk urai, lepaskan simpul di ujung buhul, gantung lingkarkan di leher, pisahkan kepala, buang jauh ipuh di benak dari tubuh Ungaran, Desember 2009

5

3. INSOMNIA

(INSOMNIA, 2009, palette, oil on canvas, 80X100cm) INSOMNIA nyalang menatap malam binatang garang merunduk kelam meradang ditekuk alam geram dibuai bintang diam mengatup rahang bergumam aku si jalang mana yang lain? sendiri dalam ragu mencari-cari ketundukan

6

4. SEKARANG DAN SEABAD KEMUDIAN

(Sekarang dan Seabad Kemudian, 2009, Oil on Canvas, 80cmX100cm) SEKARANG DAN SEABAD KEMUDIAN sekarang dan seabad kemudian yang hidup tak lebih nyaman darikematian berjenjang saling menyusul dalam labirin bertangga tanpa ujung, tanpa pangkal

7

5. METAMORPH

(METAMORPH, 2007, oil on canvas, 80X100cm) METAMORPH dari lumut kerak, berjiwa jadi tumbuhan, bercipta jadi binatang, berasa jadi manusia, berkarsa METAMORFOSIS Hidup adalah pergerakan Hidup adalah perubahan Gerakan dalam kefanaan Berubah dalam pemaknaan Bergerak tinggalkan segala yang semu Berubah mencari makna baru Duka nestapa adalah bumbu Searah setujuan: Ciptaan Baru Manusia baru tak lagi secitra yang lama Hidup bukan sekedar menanti matinya raga Hidup baru adalah hidup bermakna Pabila hati hamba dituangi Sukma Pencipta

8

6. MEMBATASI DIRI manusia yang hakekatnya terbatas semakin rajin memagar diri memasung kreativitas untuk sebuah imaji heran… menakjubkan! (MEMBATASI DIRI, 2008, trapesium frame, 120cmX 80cmX140cm, oil on canvas)

7. KEMBANG SETAMAN

(Kembang Setaman, 2007, paletted oil on canvas, 80X100cm,) KEMBANG SETAMAN indah nian bunga warna-warni mekar nan wangi menggugah taman nurani di atas tahi dan ludah

9

8. MENOPANG TUAN BESAR

(MENOPANG TUAN BESAR, 2009, 70X90cm, palette, oil on canvas) BADAI BANGKAI BESAR Badai besar membawa sejuta bangkai Bangkai-bangkai kata-kata manisnya tuan-tuan pejabat berpangkat busuk Yang 2 tahun lupa sikat gigi karena sibuk memeras, menipu lalu tertawa Bangga, sebab lagi-lagi bangkai-bangkainya menghasilkan uang Untuk membengkakkan perut anak isterinya (dan gundiknya) Yang tak pernah kenyang, kecuali cacing-cacing dan belatung di perut mereka Untuk mengenyangkan atasanya yang bangga, terus memuji Dan menaikkan pangkat bawahannya agar lebih berkuasa Dan leluasa memeras “ Jatah boss, mana jatah boss “ ujarnya sambil mengakhayalkan selingkuhanya Lalu berseru di koran-koran : “ kami menangkap lagi seekor serigala” Serigala kurus penuh kurap meringkuk,lalu mati ersenyum, geli. Tikus gemuk tambun terus berpesta bersama sang boss, Lalu sepakat berucap sama-sama : ” mari ciptakan badai-badai lain “ ( Supaya cacing dan belatung di perut anak isteri mereka kenyang, muntah dan meracuni mereka dengan sejuta macam penyakit ) 9. MELELEH

(MELELEH, 2003, mix media on canvas, 60X80cm) menegakkan jatidiri semakin sulit menegakkan bayangan terlebih sulit tegar, jangan ikut meleleh!

10

10. TOPENG KEMUNAFIKAN

(Topeng Kemunafikan, 2009, 60X120cm, oil on canvas) TOPENG KEMUNAFIKAN Mana yang asli? Mana yang palsu? Semua asli, semua palsu Semua munafik, semua baik! 11. UPAYA BANGKIT

(Upaya Bangkit, Oil on Canvas, 120cmX150cm) UPAYA BANGKIT lelaki gagah perkasa pandai jumawa, melangkah merengkuh langit melambung tinggi terjerat nikmat jatuh terhempas ke bumi bersama birahi terjerembab, meleleh sia-sia menembus menyatu dunianya mengaku, tunduk pada nafsunya hanya satu jalan keluar kembalilah pada Sang Pelukis Agung yang mencipta pembuat lukisan ini

11

12, The Law of Mafia’s Law/ Setan Timbangan

(Setan Timbangan, 2007, oil on Canvas, 80cmX100cm) SETAN TIMBANGAN ketika babi-babi maha rakus berseragam batik halus bekerjasama dengan gurita kemunafikan memalsukan keadilan hukum diberangus pohon pengayoman hangus tiada lagi tempat berlindung kerangkeng penuh sesak, mengurung manusia-manusia yang tak mampu menebus… kepastian hukum menjadi semakin pasti sepasti transaksi di balik jubah hitam sehitam kelam jiwa pemakainya

12

13. TERHISAP/ SUCTION SUCKS!

(TERHISAP/ SUCTION SUKCKS!, 2007, Oil on Canvas, 90cmX90cm) TERHISAP/ SUCTION SUKCKS! the journey of every man passing through a time tunnel tunnel of rings rings of colors colors of life till the point of ending time to meet the Great Creator to be shown the true color has been choosen along the journey

13

14. KUDA TARUNG/ HORSE FIGHT-WHORE’S FIGHT

(KUDATARUNG/ HORSE FIGHT-WHORE’S FIGHT, 2007, Oil on Canvas, 80cmX100cm) HORSE FIGHT would the end of our world be like a destroying fight of the red silly horse versus white crazy horse… where could we find comfort & peaceful mind after loosing all the sense

14

15. CAKRABUMI

(CAKRABUMI, 2007, Oil on Canvas, 105cmX105cm) CAKRABUMI karena dunia adalah fana waktu terus berjalan angin bertiup daun berguguran manusia semakin busuk saat hidup dan setelah mati semakin hari forever and ever till the end of time

15

16. 9 PERSPEKTIF WANITA

(9 Perspektif Wanita, 2009, Oil on Canvas, 80cmX100cm) 9 PERSPEKTIF WANITA diangkat dibanting dibekap dipuja-puji disembah menyembah mengabdi menjerumuskan menyayang menerima terhitung tak ternilai terlihat tak terasa terasa tak dianggap dianggap segalanya segalanya tak dirasa

16

17. SALIB DI TENGAH BADAI

(SALIB DI TENGAH BADAI, 2008, mix media on canvas, 70X90cm) SALIB DI TENGAH BADAI kala banjir kemuliaan menerjang kala banjir kehinaan mengngguncang udara dipenuhi sihir dan khayalan tetapkan salibNya berdiri tegakkan kesaksian di dalam jiwa?

17

18. USELESS SACRIFICE

(USELESS SACRIFICE, 2007, palette, oil on canvas, 70X90cm) USELESS SACRIFICE??? useless scarifice? too many hopeless souls too little the sacrifice? what are we waiting for?

18

KUMPULAN PUISI 2007

SELAMAT JALAN PAK’E (Puisi untuk ayah tercinta, R. Widagdo Kadyopranoto) Tenanglah Kini Hatiku, lantunan terakhir buat bapak Tanganmu dipegang teguh, Tuhan Yesus besertamu Detik demi detik, maut mendekat, bapak tak lemah tak jua lelah berserah Ajal menjelang, Mazmur berkumandang Sengat maut musnah sudah Tebusan Yesus tunai punah Kelemahan duniawi lalu Kekuatan surgawi berlaku Otot susut, tulang menonjol Kristus berseri-seri di binar mata menahan nyeri Ragamu mengkerut, sakit tak terperi Dalam lemah kuasaNya kian nyata Terimakasih, Tuhan Yesus, terimakasih ya Bapa Surgawi Puji Syukur bagi Yesus, kau pakai bapak jadi saksi Teladan pahlawan iman tak surut oleh deraan ragawi Kemenangan iman hingga tarikan nafas terhenti Takkan perlawanan berakhir hingga Yesus memanggil Kuat berdiri hingga gerbang rumah Raja Sejahtera kekal buah laku adil Pahlawan kami kini di surga

19

SKETSA BUNDA Bukan hanya darah tumpah… Bukan hanya hati yang miris… Bukan hanya resah gelisah… Bukan hanya tawa dan tangis… Ajaib kasih bunda Tak terperi nikmat terasa Ajaib balasan ananda Tak terperi hujat durhaka Ampuni hamba, masihkan ada masa Tertebuskah segala dosa? Inginku tetirah di telapak kaki bunda Kuyakin masih ada surga di sana KEBANGGAAN Terimakasih Tuhan Yesus, aku bahagia... aku bangga akan Engkau Artiku tiada, maknaku tiada, kecuali Engkau Layak aku lenyap, layak aku tiada, adaku hanya karena Kau DuniaMu lebih pantas tanpaku Terimakasih untuk dukacita dariMu, s‟bab sejahteraku sejati olehMu Melimpah energi abadi, mana? Minta! Minta! Beri aku Tuhanku, berilah sedikit untukku Dustaku mati, kenapa aku mesti ikut mati? Kenapa ku lari? Terus membeku dan tak peduli? Lentera hidup, tanah bergerak Pelita hati, batu karang retak Mentari jiwa, jam berdetak Mata tertutup, kepalaku meledak. Cemar! 20

AMIN, TERJAWAB Waktunya tepat! Jumlahnya benar! Tekunku salah ... Sabarku hilang ... Perihal terjawab, adalah kesiapan hatiku Perihal tepat, adalah penyerahanku Perihal mendapat, adalah ucapan syukurku Perihal kepastian, adalah Engkau, sukacitaku Ampun... ya ampun ... Aku yang menunda, aku pula menunggu Saat terjawab kala ku bergegas pergi Ternyata, oh Tuhan, ya... ampun... ampun...

KUSTA DAN BUTA Aku si kusta dan aku si buta Bukannya aku belum dijamah hingga sembuh Sudah aku sembuh... Sudah pula kudiberkati ... Sembuh membuatku najis... Berkat membuatku buta ... Tahir membuatku sombong ... Melihat membuatku sesat ...

PEMULIHAN Melesak, menggebu, menggelegak Menanti panen meledak dosa disemai Berbunga berbuah hidangan mata jiwa Daki menyusupi pori-pori Sumbang nyanyian nurani Batin merintih, kalah Meletup mendidih, mendera amarah Sejahteraku mati tak lagi suci Pedih perih sayatan di biji mata Berayun martil menghantam pelipis Tak lagi tangguh berjaga di gerbang Minyak kemana? pelita remuk Tabah mendekat api Sampah terbakar, ngengat dimurnikan tanpa sayap

SALEH KAIN GOMBAL Kami yang suci berlutut berderet-deret menyebut namaMu 21

Air mata berlinang namaMu dikenang Ooohhh inilah kami yang alim dan saleh... Kami memuji, kompak dan merdu ... Kami lah pembersih gerejaMu Kami lah saksi-saksiMu Jiwa kami lapar mengais sampah Saatnya berebut tahi dengan anjing dan lalat Apa itu keselamatan? Apa itu kelaparan? Lapar itu perih, hina itu biasa Sumpah serapah itu pujian yang jujur Jika pagi ini tak binasa, selamat sudah sehari

DIALOG DENGAN NURANI Hey, aku. Ya, kau. Kau bejana rusak, memalukan! Aku, kau memang tak berguna Kau, jangan aku memaki aku lagi Aku, kenapa kau tak mengaku? Kau, baiklah aku mengaku, kau jadi saksiku Baik, aku memang memalukan, lalu apa mauku, kau? Bukan, kaulah mauku. Baik, kita memang duet serasi Tidak, kau harus dihancurkan dulu Duet kita tak pernah lengkap Berdua takkan mampu Hanya kau yang adalah aku, dan aku yang adalah kau Tak cukup, harus ada Dia agar bejana kita jadi

GAYA TARIK SURGA Hidupku dalam gaya tarik bumi Melawan, melangkahkan kaki ke atas Jatuh jauh kakiku melangkah terus Oh, gravitasi bumi... Mana gravitasi surga ...

TAHUKAH AKU, KETAHUILAH OLEHMU Seandainya kupunya otak, kan kubor kepalaku Seandainya kupunya nyali, kusuntikkan ke dalam hatiku Kutanam dalam-dalam di kepala dan hatiku Bahwa kupercaya kepadaMu (Sayangnya, aku bodoh dan tak bernyali...) Daud melayangkan matanya ke gunung-gunung Daud tahu pertolongan datang dariMu Daud tahu, aku pun tahu Daud percaya, aku pun percaya (Sayangnya, Daud berani dan aku gentar) 22

Pada tahtaMu saja aku berharap Jangan lagi aku bodoh Berikan aku nyali Jadikan aku berani, tak gentar meniru Daud

BUSUK DAN MUNAFIK; ITULAH AKU! Tanpa syarat dan tanya Tanpa logika tanpa andai-andai Terima semua tanpa menduga Siapakah manusia? Kardus bekas sisikan sampah Tambahkan air comberan dan perut ikan busuk Bungkus dengan jubah ungu Selimuti lenan bertanda salib Ooohhh... pembungkusku indah mewah Tampaknya harum mewangi terang gemerlap Mendebarkan hati menggugah rasa Maju, majulah pahlawan kebanggaan dunia Bujuklah semua, busukkan semua Buahi semua, sengat semua Perbanyak nanah, perbesar luka Panggil bangkai lainnya Terus, larilah lari Lelah kaki seret lutut Biarkan terluka Teruslah menjauh, cobalah terus menjauh! Yesus takkan menyerah Yesus pasti datang menjamah Pasti sembuh Pasti selamat.

23

KUMPULAN PUISI 2006 LELAH Januari 2006 perut mulas, dingin lutut bergetar, semua tak kuingin sendiri, jauh-jauh sepi adalah nikmat sepi tak kunjung kudapat gundah adalah sahabat sahabatku hatiku hatiku pengkhianat!

MERDEKA SI BUDAK Januari 2006 Kala kepiting masuk jala Tak lebih merdeka burung pipit di kolam Tak beda aku di gelap buta Kendati merdeka, tak lain budak dalam kelam

SI KUMBANG Januari 2006 Kumbang kepik di telapak daun Kumbang bebas tak dapat turun Sayap patah Kumbang tua lelah payah Kumbang pasrah rela berserah Mata menyala memerah saga Kaki bertaut tak lelah berpijak Hujan deras tak lantas beranjak KUPU-KUPU DAN KUNANG-KUNANG Januari 2006 Kupu-kupu lumpuh tersedu-sedu Menahan rindu melawan jarak Kunang-kunang menyala datang merayu Menahan nafsu gelombang bergejolak Binatang kau, binatang aku Ku mau, kau pun hendak, tak perlu dalih Kau dan aku diberiNya nafsu Kau dan aku, harus memilih…

24

KATANYA DAN KATAKU Januari 2006 KataNya segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku Kataku aku percaya Kataku aku mau ikut Dia Katanya mari datang padaKu Kataku dan beribu-ribu kali berkata-kata: aku mau ikut Kau! Kataku dan ribuan kata lainnya: aku mau ikut Kau! Sampai kapan aku hanya berkata-kata? SIBUK DENGAN KULIT Januari 2006 Sibuk lagi, rusuh lagi Bedak lagi, gincu lagi Kulit berkoreng berkerak nanah kering Bedak lagi, gincu lagi, tutupi semua! Selapis lagi kain terindah Sewarna lagi yang terbaik Dalamku sesak Lapisi lagi lapisi terus Belitkan dusta terbaik Bungkuskan kemunafikan Jangan ada kejujuran Tunggu meledak Biarkan meledak Hancur bersama MISKIN Januari 2006 Tak punya apa-apa Tak punya siapa-siapa Tak punya dimana-mana Tak punya alasan; untuk apa? Segala kupunya Semua kumau Aku punya banyak tiada Aku mau tak satu jua Tiada itu tanpa berat Lepas aku ditindih tak punya Mau-mauku menjerat Kaku keram tanpa rasa SURAT Januari 2006 Surat dusta surat jumawa Tinggi goyang doyong rebah Merangkak merambat habis daya Lutut lemah berlutut berdarah Jatuh di becek, lumpur gelap berbatu Bertopang di tanah licin berlumut, dagu terbanting, surat selamat Tangan dimana, kaki tak mau tau, surat di tangan jerat di kaki Surat terkepal, surat jadi bubur, sirna jumawa, tak jua terbantu 25

YA, BENAR Januari 2006 Benar lagi, benar saja Kumohon ampun, aku salah Tebalkan lutut, tengadahkan tangan Nyata aku, salah lagi Sakit dididik itu Lemah, lelah, mentah Keras, hancur Tinggi, ditebas Jatuh, sakit Berlutut, mendongak, menengadah Tunduk, merunduk, beralas diri Telentang, damai Terbuka, sejahtera LALU, NANTI? Januari 2006 Kala itu indah Kala itu bahagia Engkau adil, aku tidak Aku buta, Kau tidak Lalu gelap, sirna Kasat mata itu maya Yang maya itu pernah nyata Yang maya mengiris jiwa Yang nyata membelah mata Nyatanya, apa yang nyata? Kala mata terpejam semua jadi maya Kenyataan hanya sekejap mata, menyentak jantung Kemayaan hanya sepanjang hidup, melukai hati YA Januari 2006 ya… iya… iya… iya… kutrima saja diam iya, lari pun iya kuasakah menolak? kuasakah merubah? selangkah ke depan saja kutak tahu „kan kemana isi hati diri pun tak kuasa kuatur tanpa daya, ya…iya…iya…iya… saja! AMPUN, JANGAN! Januari 2006 ampun, jangan lagi! biarkan kulari hilangkan diri diam sepi hilang hati, hilang diri beri aku waktu beri aku harga beri aku daya secukupnya, hanya untuk tahu bahwa aku ada 26

INGIN Januari 2006 Andaikata iya, jika aku semut Andaikata iya, jika aku burung Andaikata iya, akankah aku lebih bebas? Andaikata iya, jika saja tidak BAYANGAN PIKIRAN & BAYANGAN DIRI Januari 2006 Bayangan disiksa lebih menyiksa daripada siksaan Bayangan makan lebih nikmat daripada makanan Bayangan sedih lebih menyakitkan daripada sedih Dalam jiwa yang gelap tak ada bayangan Terangnya jiwa menampakkan hati Bayangan jalan itu melelahkan Bayangan arah itu menyesatkan Bayangan jiwa itu menggilakan Bayangan diriku memalukan! menjauhlah! Aku hanya ingin gelap, dalam gelap aku ada Aku tak ingin terang, dalam terang aku tiada Gelap memberikanku banyak, semua kupunya Terang mengambil semuanya, dalam terang semua tak kupunya Gelap membunuhku, terang menghidupkan Terang mengecewakan, menyatakan Terang menampakkan, mencampakkan Terang menjadikanku sampah! enyahlah! Karena bayangan pikiran itu nyata… Kala hati menuntut, kala hati terbuka Dalam gelap atau terang Karena bayangan diri itu semu… Kala mata terbuka, kala terang menerpa Hanya dalam terang Semuanya semu dan semuanya nyata Tak ada yang semu dan tiada yang nyata Semu dan nyata, hanya bertumpu pada makna (Along my journey 2006, Jakarta, Bandung, Banjarmasin, Palangkaraya, Puruk Cahu, Ungaran, Nusa Dua)

27


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:1880
posted:1/8/2010
language:Malay
pages:27
Description: Kumpulan Lukisan dan Puisi karya Moses Foresto