Terumbu karang dan Karang by variablepitch347

VIEWS: 887 PAGES: 4

									Terumbu karang dan Karang
Dr. Mufti Petala Patria

Terumbu karang, mengingatkan kita pada keindahan kehidupan di perairan pantai tropis, yang tersusun atas berbagai hewan dan tumbuhan dengan warna, bentuk dan ukuran yang bervariasi. Organisme yang dapat kita temukan di terumbu karang antara lain; Pisces (berbagai jenis ikan), Crustacea (udang, kepiting), Moluska (kerang, keong, cumi-cumi, gurita), Echinodermata (bulu babi, bintang laut, timun laut, lili laut, bintang mengular), Polychaeta (cacing laut), Sponge, Makroalga (Sargasum, Padina, Halimeda) dan terutama hewan karang (Anthozoa). Begitu banyak jenis organisme yang hidup di sana sehingga terumbu karang adalah salah satu ekosistem di permukaan bumi ini yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi. Tingginya keanekaragaman jenis di terumbu karang karena tingginya produktivitas primer di daerah tersebut, yaitu dapat mencapai10.000 gr C/m2/yr, bila dibandingkan dengan produktivitas laut lepas hanya berkisar 50100 gr C/m2/yr. Hewan karang atau reef corals (Anthozoa) merupakan penyusun utama terumbu karang (coral reefs), karena mampu membuat "bangunan" dari pengendapan kalsium karbonat (CaCO3). Tidak semua anggota Kelas Anthozoa (Filum Cnidaria) dapat membentuk terumbu, hanya dari kelompok hermatypic coral (ordo Scleractinia), sedangkan yang tidak membentuk karang disebut ahermatypic coral (misalnya: anemon, soft coral, akar bahar). Kelompok hermatypic coral tersebut hidupnya bersimbiosis dengan alga bersel satu zooxanthellae (Symb iodinium microadriaticum) yang berada pada sel di lapisan endodermis. Hasil samping dari proses fotosintesa zooxanthellae adalah endapan kalsium karbonat yang menjadi berbagai bentuk dan struktur yang khas tergantung dari jenis inang (host) hewan karang. Semakin maksimal proses fotosintesa zooxanthellae, maka semakin maksimal pula kalsium karbonat yang dapat diendapkan, berarti semakin cepat proses pertumbuhan hewan karang.

1

Berdasarkan proses terbentuknya (geomorfologi) terumbu karang dapat dibedakan menjadi 3 tipe. Karang tepi (fringing reefs) adalah tipe yang paling umum dijumpai, merupakan terumbu yang tumbuh bervariasi dari 3-300 m. Karang penghalang (b arier reefs), adalah terumbu yang terletak sejajar pantai pulau utama namun dipisahkan oleh laut. Lebar laut pemisah tersebut dapat mencapai enam kilometer dan kedalamannya puluhan meter. Karang cincin (atoll) adalah terumbu karang yang melingkar atau oval mengelilingi goba. Pada terumbu tersebut terdapat satu atau dua pulau kecil. Karang cincin terbentuk dari tenggelamnya pulau vulkanik yang dikelilingi oleh karang tepi. Saat ini kurang lebih ada 300 atoll di daerah Indo-Pasifik, dan hanya 10 atoll di Karibia. Selain itu dikenal pula Patch reefs, terumbu yang berbentuk lingkaran, tidak terlalu besar yang muncul di goba atau di belakang karang penghalang. Komunitas karang dapat juga dibedakan atas letak karang tersebut pada terumbu karang. Forereef, yaitu karang yang terletak berhadapan langsung dengan laut lepas. Reef flat yaitu rataan terumbu yang relatif dangkal dan pada saat tertentu dapat terpapar sinar matahari. Back reef yaitu komunitas terumbu di belakang reef flat dicirikan dengan keadaan air yang relatif tenang. Walaupun mampu membentuk terumbu yang keras seperti batu, tapi hewan karang memiliki batasan faktor fisik yang relatif sempit. Faktor fisik tersebut adalah cahaya, suhu, salinitas, dan sedimentasi. Karena hewan karang bersimbiosis dengan alga zooxanthellae, maka cahaya menjadi salah satu faktor pembatas bagi kehidupan karang. Oleh sebab itu hewan karang hanya dapat hidup pada kedalaman kurang dari 30 m. 2 mengelilingi pulau, jarak dari pantai

Suhu optimum untuk pertumbuhan hewan karang adalah berkisar 25-29 O C sedangkan suhu minimal 20O C dan suhu maksimum 36O C. Kisaran suhu yang relatif sempit ini (stenotermal), menyebabkan penyebaran karang hanya pada daerah tropik. Salinitas yang sesuai dengan pertumbuhan hewan karang adalah sekitar 3036 ppt, oleh sebab itu jarang ditemukan terumbu di sekitar muara sungai yang besar. Sedimentasi merupakan salah satu pembatas pertumbuhan karang. Daerah yang memiliki sedimentasi yang tinggi akan sulit untuk menjadi tempat yang baik bagi pertumbuhan karang. Tingginya sedimentasi menyebabkan penetrasi cahaya di air laut akan berkurang dan hewan karang (polip) akan bekerja keras untuk membersihkan partikel yang menutupi tubuhnya. Faktor fisik lain yang turut mempengaruhi penyebaran terumbu karang adalah gelombang, arus dan tingginya kisaran antara pasang dan surut. Gelombang dan arus erat kaitannya dengan penempelan planula serta morfologi karang. Perbedaan pasang dengan surut, mempengaruhi lamanya karang terpapar sinar matahari saat laut surut.
O Penyebaran terumbu karang terbatas hanya di antara 30 Lintang Utara dan O 30 Lintang Selatan atau daerah tropika dan subtropika dengan total luas

sekitar 617.000 km 2. Lautan yang memiliki terumbu karang paling luas adalah Samudra Pasifik dengan 335.000 km 2, kemudian Samudra Hindia
2 2 (185.000 km ), dan terakhir Samudra Atlantik (87.000 km ). Seperti telah

dijelaskan, bahwa faktor suhu yang menyebabkan penyebaran terumbu karang hanya di daerah perairan yang panas. Ada tiga pengelompokan keanekaragaman jenis terumbu karang, yaitu Indo-pasifik, Samudra Hindia dan Karibia (timur Atlantik). Di daerah tropika pantai lautan Atlantik sangat sedikit terdapat terumbu karang. Pada pantai Atlantik timur (pantai Afrika) terdapat arus dingin yang mengalir sepanjang pantai menuju utara. Sedangkan pada pantai barat Atlantik (Pantai Amerika Selatan) terdapat muara sungai-sungai besar yang membuat salinitas dan kekeruhan air laut 3

tidak sesuai untuk kehidupan karang. Keanekaragaman jenis karang paling tinggi di perairan Indo-Pasifik dengan 88 genera sedangkan di Karibia hanya 48 jenis. Tingginya keanekaragaman jenis di Indo-Pasifik terjadi karena luasnya daerah tersebut dengan percampuran dari jenis Samudra Hindia.

4


								
To top