PENGARUH JUMLAH ANAK DAN KEINGINAN PUNYA ANAK TERHADAP PENGGUNAAN KONTRASEPSI DI PROPINSI JAWA TENGAH by hafidzf

VIEWS: 6,217 PAGES: 21

									1

PENGARUH JUMLAH ANAK DAN KEINGINAN PUNYA ANAK TERHADAP PENGGUNAAN KONTRASEPSI DI PROPINSI JAWA TENGAH

Karnadi Sigit*, Djauhar Ismail**, Ali Ghufron Mukti***

* Kantor Wilayah BKKBN Jawa Timur
** Bagian

Anak RSUP Dr. Sardjito Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
*** Bagian

ABSTRACT Demographic development in Central Java has been successful, especially in controlling the population birth through the Family Planning Program. The success was indicatied by decreasing the total fertility rate of the population which 5.33 in 1969 into 2.63 in 1997. Contraceptive is one of the ways to confine the birth. In commercially distributing this contraceptive, the government tries to provide the best alternative of contraceptive services by providing various kinds of contraceptives. Principally, the contraceptive service is divided into two purposes, to sparse the child birth, the shortterm contraceptive is provided such as injection, pills, condoms and jellies while for the long-term need, the government provide IUD, Implant and sterilization. This study is aimed to determine in order to know factors affeccting to long and the short term use of contraceptive on fertile age couples. A cross sectional study design was chosen. Subjects 866 women participating in family as samples selected among the entire respondent of Central Java. The basic information of Demographic and Health Survey results of 1997 which were further analized in study are as the following: the number of born children, the number of still living children, the desire to have more children, sexual preferences. The age, child mortality, education, occupation and residence of the respondents was used as control variables. Factors affecting the use of long term contraceptives were desire to have more children, age and residence of the respondents. The reasons for having more children increased the likehood of risk of long-term contraceptive uses. Moreover, the age of the respondent increased the likehood of risk of long-term contraceptive uses, while residence of the respondents decreased the likehood of risk of long-term contraceptive uses rather than short-term contraceptive uses. Key words : Long-term contraceptive instruments, short-term contraceptive instruments, family planning.

2

A. PENGANTAR Salah satu program pembangunan yang sangat penting dilaksanakan adalah upaya untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui penurunan kelahiran. Upaya penurunan tingkat kelahiran tersebut dikenal sebagai program Keluarga Berencana (KB). Program KB ditujukan kepada pasangan usia subur (PUS) untuk mengatur kelahiran anak dengan menggunakan alat kontrasepsi modern. Melalui perubahan pola tingkah laku reproduksi tersebut diharapkan dapat dicapai pelembagaan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera (NKKBS).) Propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang berpenduduk besar. Propinsi ini turut menjadi kunci penyangga program kependudukan, khususnya masalah KB. Selama kurun waktu 30 tahun Propinsi Jawa Tengah telah mengalami penurunan angka fertilitas secara bertahap. Pencapaian angka total fetility rate (TFR) tahun 1970 sebesar 5,33 menjadi 2,63 untuk tahun 1997 (BPS,1998). Salah satu indikator penurunan TFR ini dapat dilihat jumlah anak masih hidup. Berdasarkan SENSUS 1990 dan SUPAS 1995, proporsi pemilikan anak pada wanita usia muda cenderung memiliki jumlah anak kecil lebih besar, semakin bertambah umur semakin berkurang untuk memiliki anak. Kemampuan seorang wanita untuk melahirkan atau fertilitas (Iskandar, 1977) merupakan aspek demografis yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, diantaranya

kontrasepsi. Pada wanita usia muda penggunaan kontrasepsi cenderung mengarah pada kontrasepsi jangka pendek, seperti pil, kondom atau suntik, hal ini disebabkan mereka masih menginginkan tambahan anak. Sedangkan kontrasepsi jangka panjang seperti Intra Uterine Device (IUD), Implant dan Medis Operasi Wanita (MOW/sterilisasi wanita) serta Medis Operasi Pria (MOP/sterilisasi pria) digunakan oleh kelompok wanita yang sudah tidak menginginkan anak lagi. Hal ini

3

berlawanan dengan hasil SDKI 1991 dan SDKI 1994 yang menunjukkan jumlah wanita yang menggunakan kontrasepsi jangka pendek tetap besar meskipun jumlah anak mereka bertambah. Sedangkan yang menggunakan jangka panjang makin berkurang, khususnya IUD. Di Propinsi Jawa Tengah pencapaian peserta KB mengalami kenaikan pada pengguna kontrasepsi pada beberapa tahun terakhir. Perkembangan kontrasepsi pil terlihat naik pesat dibandingkan dengan kontrasepsi lainnya, hal ini menunjukkan penggunaan kontrasepsi jangka pendek di propinsi ini cukup besar. Penyebab selain jumlah anak masih hidup yang turut mempengaruhi penggunaan kontrasepsi yaitu keinginan memiliki anak berjenis kelamin tertentu (sex preference). Gambaran ini dibuktikan oleh Handayani (1992) dalam penelitiannya di dua desa nelayan di Jepara, Jawa Tengah. Masih tingginya preferensi jenis kelamin anak laki-laki, berakibat pada rendahnya praktik keluarga berencana di daerah tersebut. Penelitian Priyono (1993) di Ngalas dan Sumberejo (Klaten Jawa Tengah), membuktikan bahwa nilai positip dari anak laki-laki mempengaruhi fertilitas di daerah itu. Temuan di atas memperlihatkan bahwa penurunan fertilitas di Jawa Tengah masih banyak dipengaruhi oleh pemilikan jumlah anak dan preferensi akan jenis kelamin tertentu. Hal tersebut berpengaruh terhadap pola pemakaian alat kontrasepsi. Penelitian tentang jumlah anak dan keinginan punya anak yang dikaitkan dengan penggunaan kontrasepsi di Jawa Tengah masih

belum banyak dilakukan. Penelitian ini melihat secara keseluruhan jumlah pemilikan anak, baik laki-laki ataupun perempuan. Penelitian yang dilakukan Priyono hanya terbatas pada pengaruh pemilikan jumlah anak laki-laki saja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jumlah anak dan keinginan mempunyai anak terhadap penggunaan alat kontrasepsi. Hasil penelitian diharapkan untuk pengembangan program keluarga berencana.

4

Banyak para ahli kependudukan mengemukakan pendapat tentang faktorfaktor yang mempengaruhi fertilitas. Esterlin (dalam Robinson dan Harbinson, 1983) menyatakan bahwa fertilitas setiap unit keluarga dipengaruhi oleh latar belakang agama, pendididikan, tempat tinggal, pendapatan, umur, tipe keluarga dan lain-lain. Jumlah anak yang dilahirkan merupakan faktor yang cukup penting di dalam menentukan keikutsertaan dalam program KB. Pada umumnya praktek KB akan lebih tinggi diantara pasangan yang mempunyai anak banyak dari pada pasangan yang mempunyai anak sedikit. Dengan perkataan lain pemakaian alat kontrasepsi akan meningkat sebanding dengan meningkatnya jumlah anak. Penelitian Westoff dan Pebley (1981) di negara, Bangladesh, Indonesia, Korea, Malaysia, Philipina, Srilangka dan Thailand juga menemukan hubungan positip antara jumlah anak masih hidup dengan persentase kebutuhan alat kontrasepsi, artinya semakin banyak anak hidup semakin besar kebutuhan alat kontrasepsi. Dalam studinya di empat negara WHO Task Force (1980) menemukan di India, Korea dan Turki wanita yang tidak ingin menambah anak lagi atau ingin memperpanjang jarak kelahiran berikutnya lebih dari tiga tahun, pada umumnya memilih IUD di antara pilihan metode lain. Sedangkan di Philipina sebagian besar wanita memilih pil dan suntikan sebagai metode sementara. Di antara wanita yang ingin memperpanjang jarak kelahiran berikutnya kurang dari tiga tahun hanya sebagian kecil yang memilih IUD dan sebagian besar memilih pil dan suntikan. Sementara itu penelitian yang dilakukan pada akseptor Norplant, ditemukan bahwa pada umumnya mereka tidak menginginkan tambahan anak lagi. Dari yang telah diuraikan di atas maka dapat diambil suatu dugaan sementara dugaan sementara dari penelitian ini adalah “wanita kawin yang

5

mempunyai jumlah anak tiga atau lebih dan tidak ingin punya anak cenderung menggunakan kontrasepsi jangka panjang.” B. CARA PENELITIAN Metode penelitian yang dipilih adalah survei analitik dengan rancangan penelitian cross sectional, yaitu suatu penelitian untuk menjelaskan suatu hubungan atau pengaruh antara keadaan atau situasi di suatu daerah pada satu titik waktu tertentu. Data yang dipakai dalam penelitian ini bersumber pada data asli yang di dapat dari BKKBN Pusat. Data ini merupakan data mentah (raw data) dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia 1997. Sampel penelitian diambil dari populasi yang berjumlah 1.482 orang, dipilih wanita yang berstatus kawin berusia 15-45 tahun, serta masih menggunakan kontrasepsi, jumlah sampel penelitian sebesar 866 orang (59,7%). variabelvariabel pada penelitian ini mencakup variabel bebas yaitu tentang jumlah anak dan keinginan punya anak, variabel terikat yaitu penggunaan jenis kontrasepsi, serta variabel kontrol yaitu bio-sosial serta karakteristik sosial ekonomi. Penggunaan kontrasepsi pada tulisan ini dikategorikan menjadi dua, pertama kontrasepsi jangka pendek adalah kontrasepsi masa efektif pemakaiannya tiga bulan atau kurang (Hartanto, 1994). Kontrasepsi ini mempunyai resiko drop out lebih besar, seperti kondom, jelly/kream, pil dan suntik. Kontrasepsi jangka panjang adalah kontrasepsi yang lebih permanen dari pada yang jangka pendek, masa efektif pemakaian lebih dari 3 bulan atau bertahun-tahun bahkan dapat seumur hidup dan mempunyai resiko untuk drop out lebih kecil, yang termasuk didalamnya adalah IUD, Implant dan Steril Pria dan Wanita. (MOP/MOW). Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi logistik. Uji ini bertujuan melihat apakah hubungan antara variabel terikat dan variabel tergantung dipengaruhi juga oleh variabel kontrol.

6

C. HASIL PENELITIAN C.1 Karakteristik Responden Gambaran karakteristik responden peserta KB SDKI 1997 di Jawa Tengah terlihat dalam tabel 1.
Tabel 1 Karakteristik responden peserta KB SDKI 1997 Propinsi Jawa Tengah Penggunaan jenis kontrasepsi Jangka panjang Jangka pendek Karekteristik (n=332) (n=534) N % N % Jumlah anak dan keinginan mempunyai anak : Jumlah anak lahir  3+  0-2 Jumlah anak hidup  3+  0-2 Keinginan menambah anak  Ya  Tidak ingin Pilihan jenis kelamin anak  Ya  Tidak Biososial Umur  15-35 tahun  35-49 tahun Mortalitas anak  Tidak pernah kematian  Pernah ada kematian Karakteristik Sosio ekonomi Pendidikan  SD ke bawah  SLTP+ Pekerjaan  Bekerja  Tidak bekerja Tempat tinggal  Perkotaan  Pedesaan Sumber : SDKI 1997

178 154 177 155 83 249 16 316

53,6 46,4 53,3 46,7 25,0 75,0 4,8 95,2

210 324 200 334 233 301 45 489

39,3 60,7 37,5 62,5 43,6 56,4 8,4 91,6

180 152 278 54

54,2 45,8 83,7 16,3

393 141
474 60

73,6 26,4 88,8 11,2

267 65 182 150 60 272

80,4 19,6 54,8 45,2 18,1 81,9

377 157

70,6 29,4 45,9 54,1 34,5 65,5

245 289
184 350

Wanita kawin yang mempunyai anak lahir tiga orang atau lebih cenderung menggunakan kontrasepsi jangka panjang (53,6%). Responden yang mempunyai anak 0-2 orang lebih cenderung menggunakan kontrasepsi jangka pendek

7

(60,7%). Responden yang mempunyai anak hidup tiga atau lebih lebih cenderung menggunakan kontrasepsi jangka panjang (53,3%). Responden yang menginginkan anak lebih banyak cenderung menggunakan kontrasepsi jangka pendek (43,6%). Wanita kawin yang tidak menginginkan anak lebih menyukai kontrasepsi jangka panjang (75%), hal ini dapat dimengerti, karena respoden ingin menghindari terjadi kehamilan lagi. Keinginan memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu juga dapat mempengaruhi seorang wanita dalam memilih kontrasepsi. Responden yang menginginkan anak lebih menyukai menggunakan kontrasepsi jangka pendek (8,4%) dibandingkan dengan responden yang menggunakan jangka panjang (4,8%). Responden yang berusia 15-35 tahun lebih menyenangi kontrasepsi jangka pendek (73,6%). Sedangkan responden yang tergolong usia 35-49 lebih senang memakai kontrasepsi jangka panjang (45,8%) dibandingkan dengan yang menggunakan kontrasepsi jangka pendek (26,4%). Hal ini dimungkinkan mereka yang tergolong kelompok umur ini memang sudah tidak menginginkan anak lagi, sehingga mereka lebih senang menggunakan kontrasepsi jangka panjang. Kematian anak atau mortalitas anak dapat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam memilih kontrasepsi. Pada responden yang tidak pernah mengalami kematian anak lebih banyak memilih kontrasepsi kontrasepsi jangka pendek (88,8%) dibandingkan responden yang memilih kontrasepsi jangka panjang (83,7%).

8

Dari keseluruhan responden SDKI 1997 yang berada di Propinsi Jawa Tengah sepertiga lebih berhasil mengenyam pendidikan SD ke bawah. Dari tabel 1 di atas terlihat responden yang mempunyai pendidikan SD ke bawah lebih menyukai memakai kontrasepsi jangka panjang (80,4%) dari pada kontrasepsi jangka pendek (70,6%). Responden yang mempunyai tingkat pendidikan SLTP ke atas lebih menyenangi kontrasepsi jangka pendek (29,4%). Responden yang bekerja tidak akan mempunyai waktu senggang banyak dibandingkan responden yang tidak bekerja, oleh karena itu responden tidak memiliki banyak waktu untuk datang ketempat pelayanan KB, sebaliknya responden yang tidak bekerja lebih banyak memiliki waktu longgar untuk dapat pergi ketempat pelayanan KB. Dengan demikian dapat diasumsikan responden yang bekerja akan memilih kontrasepsi jangka panjang. Responden yang bekerja cenderung lebih menyukai kontrasepsi jangka panjang (54,8%). Sebaliknya responden yang tidak bekerja lebih senang menggunakan kontrasepsi jangka pendek (54,1%). C.2 Hasil analisis bivariat Tujuan dilakukan analisis bivariat untuk mengetahui kekuatan pengaruh antara jumlah anak dan keinginan punya anak terhadap penggunaan kontrasepsi seperti terlihat dalam tabel 2.

9

Tabel 2 Odd ratio hasil analisis Bivariat Jumlah anak dan keinginan mempunyai anak terhadap penggunaan jenis alat kontrasepsi Propinsi Jawa Tengah SDKI 1997
Jenis kontrasepsi Item Jangka panjang Jangka pendek 210 (39,3%) 324 (60,7%) 200 (37,5%) 334 (62,5%) 233 (43,6%) 301 (56,4%) 1,78 1,00 1,91 1,00 2,32 1,00 Odd ratio Interval kepercayaan 95% Kemaknaan (p)

Jumlah anak lahir
 3+  0-2 178 (53,6%) 154 (46,4%) 177 (53,3%) 155 (46,7%) 83 (25,0%) 249 (75,0%) 1,352-2,352 0,000*

Jumlah anak hidup
 3+  0-2 1,444-5,518 0,000*

Keinginan menambah anak
 Tidak ingin tambah  Ingin tambah anak 1,718-3,140 0,000*

Pilihan jenis kelamin anak
 Tidak ada pilihan jenis kelamin anak  Ada preferensi seks 16 (4,8%) 316 (95,2%) 180 (54,2%) 152 (45,8%) 278 (83,7%) 54 (16,3%) 267 (80,4%) 65 (19,6%) 45 (8,4%) 489 (91,6%) 393 (73,6%) 141 (26,4%) 474 (88,8%) 60 (11,2%) 377 (70,6%) 157 (29,4%) 245 (45,9%) 289 (54,1%) 184 (34,5%) 350 (65,5%) 1,81 1,00 0,42 1,00 0,65 1,00 0,58 1,00 1,43 1,00 0,42 1,00 1,010-3,271 0,028*

Umur
 15-35 tahun  36-49 tahun 0,318-0,567 0,000*

Mortalitas anak
 Tidak pernah mengalami  Pernah mengalami 0,438-0,969 0,022*

Pendidikan
 SLTP ke atas  SD ke bawah 0,421-0,812 0,001*

Pekerjaan
182 (54,8%)  Bekerja 150 (45,2%)  Tidak bekerja Tempat tinggal 60 (18,1%)  Perkotaan 272 (81,9%)  Pedesaan Sumber : SDKI 1997 Keterangan : * bermakna pada p<0,05 1,087-1,884 0,006*

0,301-0,585

0,000*

Hasil uji statistik terlihat ada pengaruh antara jumlah anak yang dilahirkan terhadap penggunaan alat kontrasepsi (p=0,000). Artinya pada wanita yang mempunyai jumlah anak lahir tiga orang atau lebih mempunyai meningkatkan resiko 1,78 kali dalam pemakaian kontrasepsi jangka panjang dibandingkan yang mempunyai anak 0-2 orang.

10

Uji statistik lainnya menunjukkan pengaruh jumlah anak masih hidup terhadap penggunaan kontrasepsi jangka panjang sangat bermakna (p=0,000). Gambaran ini memperlihatkan pada wanita mempunyai anak hidup tiga orang lebih akan menaikkan resiko hampir dua kali dibandingkan wanita yang mempunyai 0-2 orang. Pengaruh keinginan menambah anak terhadap penggunaan kontrasepsi terlihat sangat kuat (p=0,000). Penggunaan kontrasepsi jangka panjang pada responden yang tidak ingin anak lagi mempunyai resiko naik sebesar hampir 2,5 kali dibandingkan dengan responden yang menginginkan anak lagi. Kenaikan resiko sebesar hampir dua kali terjadi pada responden yang tidak menginginkan anak berjenis kelamin tertentu dibandingkan dengan responden yang menginginkan anak berjenis kelamin tertentu dalam penggunaan kontrasepsi jangka panjang. Maka terjadi pengaruh yang bermakna antara kelamin anak dengan penggunaan kontrasepsi (p=0,028). Selain itu, tabel 2 di atas menunjukkan pengaruh sangat kuat antara umur dengan penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang (p=0,000). Responden berumur 36-49 tahun mempunyai resiko hampir setengah kali menggunakan kontrasepsi jangka panjang dibandingkan dengan responden yang mempunyai umur 15-35 tahun. Hasil uji statistik memperlihatkan responden yang pernah mengalami pilihan jenis

kematian anak mempunyai pengaruh bermakna terhadap penggunaan kontrasepsi

11

jangka panjang (p=0,022), ini membuktikan responden yang mengalami kematian anak cenderung menggunakan kontrasepsi jangka pendek. Responden yang mempunyai pendidikan SLTP ke atas mempunyai resiko sebesar setengah kali lebih dibandingkan dengan responden yang mempunyai pendidikan SD ke bawah. Pada hubungan ini terjadi pengaruh yang bermakna antara pendidikan dengan penggunaan kontrasepsi (p=0,001). Artinya responden yang mempunyai pendidikan tinggi cenderung menggunakan kontrasepsi jangka panjang. Pengaruh pekerjaan terhadap penggunaan kontrasepsi menunjukkan

pengaruh (p=0,006), ini berarti wanita yang bekerja menaikkan resiko sebesar hampir satu setengah kali penggunaan kontrasepsi jangka panjang dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja. Tempat tinggal juga menunjukan pengaruh yang sangat bermakna terhadap penggunaan alat kontrasepai (p=0,000). Responden yang tinggal di perkotaan cenderung mempunyai resiko setengah kali lebih untuk tidak menggunakan kontrasepsi jangka panjang dibandingkan dengan responden yang tinggal di pedesaan. Ini berarti responden yang tinggal di pedesaan lebih menyukai kontrasepsi jangka panjang. C.3 Hasil analisis multivariat. Dari hasil pengujian multivariat variabel, yang tidak menunjukkan kemaknaan statistik tetap akan diperhitungkan dalam analisis.

12

Tabel 3 Odds Ratio hasil analisis multivariat terhadap jumlah anak dan keinginan mempunyai anak terhadap penggunaan jenis alat kontrasepsi Propinsi Jawa Tengah SDKI 1997. Interval Kemaknaan Item Odds kepercayaan (P) Ratio 95%
Jumlah anak lahir
 3+  0-2 5,94 1,00 0,16 1,00 0,57 1,00 0,7111-49.6589 0,0999

Jumlah anak hidup
 3+  0-2 0,0196-1,3386 0,0912

Keinginan menambah anak
 Tidak ingin tambah  Ingin tambah anak 0,3937-0,8370 0,039*

Pilihan jenis kelamin anak
 Tidak ada pilihan jenis kelamin anak  Ada preferensi seks 0,93 1,00 1,76 1,00 1,33 1,00 1,19 1,00 0,81 1,00 2,49 1,00 0,4849-1,8008 0,8395

Umur
 15-35 tahun  36-49 tahun 1,2481-2,5000 0,0013*

Mortalitas anak
 Tidak pernah mengalami  Pernah mengalami 0,8280-2,1478 0,2365

Pendidikan
 SLTP ke atas  SD ke bawah 0,8243-1,7129 0,3553

Pekerjaan
 Bekerja  Tidak bekerja Tempat tinggal  Perkotaan  Pedesaan R2 0,130 Sumber : SDKI 1997 Keterangan : * signifikan pada p<0,05 0,6063-1,0929 0,1710

1,7470-3,5558

0,0000*

Tabel 3 memperlihatkan nilai-nilai variabel-variabel terpilih karena adanya pengaruh dari faktor-faktor yang lain. Pada alasan jumlah yang anak lahir terlihat tidak berpengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi jangka panjang (p=0,0999). Responden yang mempunyai anak tiga orang atau lebih mempunyai resiko

13

penggunaan kontrasepsi jangka panjang sebesar hampir enam kali dibandingkan dengan responden yang mempunyai anak 0-2 orang. Dorongan dalam menggunakan kontrasepsi jangka panjang bagi responden yang mempunyai anak hidup tiga orang atau lebih tidak mempunyai pengaruh (p=0,0912). Responden yang mempunyai anak hidup tiga orang atau lebih mempunyai resiko sebesar 0,16 kali dibandingkan dengan responden yang mempunyai anak 0-2 orang. Dapat diartikan bahwa responden yang mempunyai anak masih hidup 3 orang atau lebih menyenangi menggunakan alat kontrasepsi jangka pendek. Alasan ingin menambah anak berpengaruh terhadap penggunaan

kontrasepsi jangka panjang (p=0,039), berarti bahwa responden yang tidak ingin tambah anak lagi cenderung menggunakan kontrasepsi jangka panjang. Responden yang tidak ingin tambah anak lagi mempunyai resiko sebesar setengah kali dalam penggunaan kontasepsi jangka panjang dibandingkan dengan responden yang ingin tambah anak lagi. Pada tabel 3 terjawab pula tidak ada pengaruh keinginan mempunyai anak berjenis kelamin (pilihan jenis kelamin anak) tertentu terhadap penggunaan kontrasepsi jangka panjang (p=0,8395). Pada responden yang tidak menginginkan anak berjenis kelamin tertentu mempunyai resiko yang sama besar dibandingkan dengan responden yang mempunyai pilihan jenis kelamin anak. Umur responden mempunyai pengaruh terhadap pengggunaan kontarsepsi jangka panjang, hal ini terlihat dari angka sebesar p=0,0013. Responden yang mempunyai umur 15-35 tahun cenderung mempunyai resiko sebesar lebih dari satu setengah kali dibandingkan dengan responden yang mempunyai berumur 1530 tahun dalam penggunaan kontrasepsi jangka panjang. Begitu pula dengan kematian anak yang dialami oleh responden tidak berpengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi jangka panjang (p=0,2365).

14

Responden yang tidak pernah mengalami kematian anak mempunyai resiko menggunakan kontrasepsi jangka panjang sebesar hampir satu setengah kali dibandingkan dengan dari responden yang tidak pernah mengalami kematian anak. Pendidikan responden yang sebagian besar memang rendah ternyata tidak mempunyai pengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi (p=0,3553). Resiko sebesar satu kali lebih terjadi pada responden yang mempunyai Pendidikan SLTP ke atas dibandingkan dengan responden yang hanya mempunyai pendidikan SD ke bawah. Dengan demikian responden yang mempunyai pendidikan SLTP lebih cenderung menggunakan kontraepsi jangka pendek. Sama halnya dengan pekerjaan, ternyata dari hasil analisa statistik juga membuktikan bahwa pekerjaan responden tidak berpengaruh terhadap

penggunaan kontrasepsi jangka panjang (p=0,1710). Pada responden yang bekerja mempunyai resiko 0,81 kali dalam menggunakan kontrasepsi jangka panjang dibandingkan dengan responden yang tidak bekerja. Faktor tempat tinggal sangat berpengaruh terhadap penggunaan

kontrasepsi. Responden yang tinggal di perkotaan mempunyai resiko dua setengah kali dalam menggunakan kontarsepsi jangka panjang dari responden yang tinggal di pedesaan (p=0,000). D. PEMBAHASAN Hasil perhitungan statistik menunjukkan responden yang tidak ingin anak tambahan mempunyai resiko setengah kali lebih dibandingkan dengan responden yang menginginkan anak lagi (0,57 pada interval kepercayaan 95% : 0,3937-1,3386; p=0,039). Artinya bahwa responden yang tidak ingin punya anak lebih cenderung menggunakan kontrasepsi jangka panjang dibandingkan responden yang ingin punya anak lagi. Sejalan dengan temuan tersebut, dalam studinya di empat negara WHO Task Force (1980) menemukan di India, Korea dan Turki wanita yang tidak ingin

15

menambah anak lagi atau ingin memperpanjang jarak kelahiran berikutnya lebih dari tiga tahun, pada umumnya memilih IUD di antara pilihan metode lain. Sedangkan di Philipina sebagian besar wanita memilih pil dan suntikan sebagai metode sementara. Di antara wanita yang ingin memperpanjang jarak kelahiran berikutnya kurang dari tiga tahun hanya sebagian kecil yang memilih IUD dan sebagian besar memilih pil dan suntikan. Sementara itu penelitian yang dilakukan pada akseptor Norplant, ditemukan bahwa pada umumnya responden tidak menginginkan tambahan anak lagi. Hal ini diperkuat oleh peneltian Singarimbun (1991) yang menunjukkan bahwa responden yang memilih kontrasepsi jangka panjang seperti MOP (sterilisasi pria) adalah responden yang sudah mempunyai jumlah anak cukup yaitu lebih dari 3 orang dan tidak menginginkan anak lagi. Hasil pengujian statistik multivariat pada penelitian ini memperlihatkan responden yang mempunyai umur 15-35 tahun mempunyai resiko sebesar satu setengah kali dalam penggunaan kontrasepsi jangka panjang dibandingkan dengan responden yang mempunyai umur 36-49 ke bawah (1,76 pada interval kepercayaan 95%; 1,2481-2,5000; p=0,01). Dengan demikian bisa dikatakan terdapat pengaruh positip umur wanita kawin dengan penggunaan kontrasepsi panjang. Semakin muda umur wanita kawin, makan semakin cenderung menggunakan kontrasepsi jangka pendek. Semakin tua wanita kawin cenderung menggunakan kontrasepsi jangka panjang. Hasil ini dapat diasumsikan bahwa responden yang berusia dibawah 35 tahun masih potensial mempunyai anak dikarenakan responden masih dalam puncak reproduksi. Sedangkan responden yang berusia 36-49 tahun ke atas lebih senang menggunakan kontrasepsi jangka panjang karena responden sudah tidak ingin punya anak lagi. Umur merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada tingkat kesuburan wanita, menurut Lucas (1990), periode reproduksi seorang wanita berlangsung haid pertama sampai mati haid. Secara praktis dikatakan mulai umur 15 tahun dan berakhir 49 tahun. Pada masa awal reproduksi kesuburan wanita masih sangat

16

rendah. Selanjutnya kesuburan ini akan bertambah sejalan dengan bertambahnya umur wanita, sehingga mencapai puncaknya pada usia 20-29 tahun, kemudian menurun sampai pada mati haid, yaitu kira-kira pada umur 50 tahun, dan setelah itu wanita akan menjadi steril. Sejalan dengan hal tersebut maka penggunaan kontrasepsi disesuaikan dengan usia wanita. Ada tiga macam penggunaan kontrasepsi yaitu pertama: masa menunda kehamilan pertama sebaiknya dilakukan sampai wanita berusia 20 tahun. Alat kontrasepsi yang cocok untuk masa seperti ini adalah pil, cara sederhanan seperti kondom atau tissue KB. Kedua: masa mengatur kesuburan/menjarangkan kehamilan, masa mengatur kesuburan sebaiknya dilakukan pada usia 20 sampai dengan usia 30 tahun, kontrasepsi yang cocok dipergunakan pada masa ini adalah IUD, Suntik, Pil Implant. Ketiga: masa mengakhiri kehamilan, usia yang cocok untuk menghentikan kehamilan adalah usia 30 tahun ke atas. Cara kontrasepsi yang dianjurkan adalah kontrasepsi yang lebih efektif sehingga tingkat drop out kecil. Laporan BPS tahun 1989, melaporkan bahwa wanita yang berada pada batas usia subur kurang banyak menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan responden yang berada pada tengah masa reproduksinya, persentase pemakaian kontrasepsi tertinggi diperlihatkan oleh wanita usia 30-34 tahun (sebesar 59%). Pil dan suntikan adalah alat kontrasepsi yang paling populer dikalangan wanita muda (15-30 tahun), sedangkan IUD, kondom, sterilisasi wanita dan sterilisasi pria banyak dipakai oleh wanita yang usianya di atas 30 tahun. Kebijaksanan yang perlu diperhatikan adalah wanita yang berusia 30 tahun atau lebih dan wanita yang telah mempunyai anak tiga orang atau lebih diharapkan memakai cara kontrasepsi yang lebih efektif seperti sterilisasi, IUD dan susuk KB (BPS, 1989). Temuan lain oleh Budiman (1989) di Temanggung Jawa Tengah terlihat responden yang berusia di bawah tiga puluh tahun lebih menyukai menggunakan kontrasepsi jangka pendek, khususnya pil (42,1%), dibandingkan dengan kontrasepsi

17

jangka panjang. Sebaliknya pada wanita usia 30 tahun ke atas responden lebih menyukai kontrasepsi IUD (46%) dan Implant (41,9%). Tempat tinggal di desa memiliki resiko sebesar dua setengah kali terhadap pemakaian kontrasepsi jangka panjang (2,49 pada interval kepercayaan 95%;1,74703,558; p=0,000) bagi responden yang bertempat tinggal di perkotaan dibandingkan dengan responden yang tinggal di pedesaan. Responden yang berdomisili di perkotaan mempunyai kecenderungan lebih rendah dalam menggunakan kontrasepsi jangka panjang dibandingkan dengan responden yang berada pada masyarakat di pedesaan. Kemudahan mendapatkan fasilitas di daerah perkotaan memungkin responden di perkotaan memilih kontrasepsi lainnya sehingga pilihan terhadap kontrasepsi jangka panjang berkurang. Kemajuan tehnologi yang terjadi selama ini membantu mempercepat proses penyebaran informasi. Demikian pula kemajuan tehnologi itu sendiri baik yang berupa cetakan, audio visual telah memungkinkan perluasan penyebaran informasi, terutama di perkotaan berkembang jauh lebih cepat. Nampaknya wanita yang pernah kawin yang tinggal di perkotaan Indonesia lebih banyak yang memanfaatkan tehnologi informasi ini seperti menonto TV, mendengarkan radio atau membaca koran. Oleh sebab itu perbedaan tempat tinggal akan berpengaruh terhadap pengguaan kontrasepsi (Nurvidya, 1995). Di pedesaan sulitnya ketersedian dan keterjangkauan mendapatkan kontrasepsi akan mempengaruhi pada keterbatasan pemilihan kontrasepsi, dengan demikian

maka responden hanya lebih banyak menggunakan kontrasepsi yang tersedia dan dianjurkan oleh petugas yaitu kontrasepsi jangka panjang. Hal ini sejalan dengan Rogow dan Horowitz (1995), yang berpendapat bahwa kemudahan, efektifitas dan keamanan suatu metoda dapat meningkatkan penggunaan metoda kontrasepsi bersangkutan. Gambaran di atas diperkuat dengan data yang diperoleh pada SDKI 1997, responden yang bermukim di perkotaan mempunyai jumlah lebih besar dalam

18

menggunakan kontrasepsi jangka pendek (suntik, pil dan kondom) dari pada kontrasepsi jangka panjang. Sementara itu responden yang bermukim di pedesaan, terlihat mempunyai jumlah lebih besar dalam pemakaian kontrasepsi jangka panjang seperti MOP, Implant, IUD. Hal ini disebabkan oleh 1. Para petugas KB menyarankan (memotivasi) untuk menggunakan jangka panjang. 2. Harga kontrasepsi jangka panjang memang mahal, namun sekali pakai bisa lama sehingga para pemakai kontrasepsi dapat menghemat biaya. Beberapa variabel yang sebelumnya diduga akan mempunyai pengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi ternyata tidak terbukti. Variabel-variabel tersebut antara lain: jumlah anak lahir, jumlah anak hidup, preferensi seks, mortalitas anak, pendidikan dan pekerjaan. E. KESIMPULAN Sejalan dengan pengujian dan pembuktian yang telah dilakukan, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa penggunaan kontrasepsi, khususnya kontrasepsi jangka panjang dipengaruhi oleh keinginan mempunyai anak tambahan, umur dan tempat tinggal responden. Beberapa variabel yang sebelumnya diduga akan mempunyai pengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi ternyata tidak terbukti. Variabel-variabel tersebut antara lain: jumlah anak lahir, jumlah anak hidup, preferensi seks, mortalitas anak, pendidikan dan pekerjaan. kontrasepsi

F. SARAN Berdasar penelitian tentang preferensi fertilitas dalam penggunaan alat kontrasepsi, ada beberapa saran yang dapat diajukan sebagai pertimbangan dalam upaya peningkatan penggunaan kontrasepsi keluarga berencana. Saran-saran adalah:

19

1.

Perlunya pengembangan kebijaksanaan pelayanan kontrasepsi di arahkan berdasarkan kebutuhan masyarakat akan keinginan mempunyai anak. Pada daerah yang masyarakatnya masih menginginkan anak hendaknya penyediaan kontrasepsi jangka pendek diperbanyak. Sedangkan pada masyarakat yang keinginan akan anak rendah sebaiknya disediakan kontrasepsi jangka panjang.

2.

Dalam membuat kebijaksaan penggunaan kontrasepsi bagi akseptor KB hendaknya faktor umur harus menjadi pertimbangan utama. Perluasan sasaran KIE harus mempertimbangkan usia ibu. Karena usia merupakan faktor dalam menentukan keinginan mempunyai anak dan menambah anak lagi.

3.

Penyediaan kontrasepsi untuk masyarakat perkotaan diarahkan pada kontrasepsi jangka pendek. Hal ini dimungkinkan karena pada masyarakat perkotaan mempunyai tingkat perekonomian yang lebih tinggi, dengan demikian diharapkan mereka mampu membeli kontrasepsi jangka pendek. Sebaliknya penyediaan kontrasepsi bagi masyarakat pedesaan tetap dipertahankan kontrasepasi jangka panjang, oleh karena kontrasepsi jangka panjang lebih murah. Kemudian karena aktifitas di pedesaan tidak terikat dengan waktu dan tanggal sehingga seringkali mereka lupa akan tanggal dan hari, dikawatirkan mereka akan lupa jika masa pakai kontrasepeinya berakhir.

20

Budiman, A., 1989, Hubungan antara Faktor Umur, Paritas dan Pendidikan dengan Pilihan Metoda Kontrasepsi, Suatu studi di Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung. Univeritas Gadjah Mada. Biro Pusat Statistik, 1989, Survei Prevalensi Kontrasepsi Indonesia 1987, Jakarta. Biro Pusat Statistik, 1998, Indonesia Demographic and Health Survey 1997, BPS, Kantor Menteri Negara Kependudukan/BKKBN, Dep.Kes, Demographic and Health Surveys Macro Internatioanal Inc. Jakarta. Iskandar N, 1977, Demografi Tehnik, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Handayani, H., 1992 , Perilaku Keluarga Berencana Di Kalangan Nelayan, Studi Kasus Di Desa Surodadi, Desa Kedung Malang Dan Panggung, Kecamatan Kedung, Kabupeten TK II Jepara, Kependudukan, Tesis, Fakultas Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Hartanto, H, 1994, Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Lucas, D., McDonald, P., Young, E., &Yong, C., 1990, Pengantar Kependudukan, Gadjah Mada University Press, Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Nurvidya, E.A , 1995, Variabel Sosial Ekonomi vs Variabel Antara dalam Analisis Faktor Penentu Fertilitas, Kecenderungan dan faktor Penentu Fertilitas dan Mortalitas di Indonesia, Universitas Indonesia. Priyono, 1993, Perilaku Keluarga Berencana Dan Penerimaan Di Dua Desa Dengan Aspek Geografis Yang Berebeda Di Kecamatan Klaten Selatan Kabupaten Klaten Jawa Tengah, Tesis, Fakultas Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Robinson, W.C, dan Harbinson, S.F., 1983, Menuju Fertilitas Terpadu, terjemahan, Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Rogow, D.D., Horowitz, S., 1995, “Withdrawal : A Review of the literatur and Agenda for Resarch”, study in family planning, 26 (3) Singarimbun, M., 1991, Status Sosial Ekonomi, Preferensi Fertilitas dan Pemakaian Alat Kontrasepsi, Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

21

Westoff. CE dan AR Pebley, 1981. “Alternative Measures of Unmet Need For Family Planning”, International Family Planning Perspectives, 7 (4) WHO Tasjk Force, 1980, “User Preference for Contraceptive Methods In India, Korea, the Philipina and Turkey”, Studies in Family Planing, 11 (9/10)


								
To top