Docstoc

Bab Nikah

Document Sample
Bab Nikah Powered By Docstoc
					Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

1 of 50

1/31/2007 Nikah

Kumpulan Artikel Tentang Pernikahan & Kaitannya

Bab Nikah

Daftar Isi
Daftar Isi .............................................................. 1 Menikah Untuk Solusi Terbaik ............................ 1 Mengapa Betah Membujang? ............................. 4 Kenapa Belum Menikah Juga? ........................... 6 Mengapa Menunda Pernikahan? ........................ 8
Kupinang Engkau dengan Hamdalah....................... 2 Wanita boleh menawarkan....................................... 3

Mengapa Nikah Dini? ........................................ 30 Dinikahkan oleh Kejujuran ................................ 31 Nasihat Asma binti Khorijah Al Fazariah........... 31 Berani Menikah ................................................. 32 15 Keutamaan Pernikahan................................ 32
Bab 1: Menyehatkan Mental ................................... 32 Bab 2: Menumbuhkan Cinta Sejati ......................... 33 Bab 3: Memperbesar Rasa Malu ............................ 34 Bab 4: Memperkuat Tanggung Jawab Lelaki.......... 34 Bab 5: Memelihara Kesehatan Fisik ....................... 35 Bab 6: Memperbesar Pahala .................................. 36 Bab 7: Menumbuhkan Sifat Orangtua .................... 37 Bab 8: Memastikan Nasab...................................... 38 Bab 9: Memelihara Kelestarian Keturunan ............. 39 Tanggung Jawab Sebelum Menikah ...................... 41

Belum menikah karena...?........................................ 6 Manfaat menikah di usia muda:................................ 9

Haruskah Kita Bercerai? ................................... 10 Resep Kue Perkawinan..................................... 11 Kamu Makin Cantik Kalau Marah...................... 12 Perkawinan dan Cinta ....................................... 14 Fadhilah Menikah.............................................. 16 Menggapai Pernikahan Barokah....................... 18 Bukankah Semua itu Indah? ............................. 20 Singkirkan Segala Hambatan Psikologis .......... 21 Cinta Hakiki ....................................................... 21 Tentang Cinta.................................................... 22 Menyegerakan Pernikahan ............................... 24 Menggapai Faedah Pernikahan ........................ 25 Membangun Rumah Tangga Sakinah .............. 27
Lebih Utama Menikah atau Tidak?......................... 27 Mencapai Keluarga Sakinah .................................. 28 Musyawarah........................................................... 29

Setengah Din..................................................... 39 Ketika Keinginan Menikah Itu Tiba.................... 41 Nasihat Perkawinan .......................................... 42
Kata Pengantar....................................................... 42 Muqaddimah........................................................... 43 Pernikahan adalah Fitrah Kemanusiaan................. 43 Tujuan Pernikahan dalam Islam ............................. 45 Tatacara Pernikahan Dalam Islam ......................... 47 Sebagian Penyelewengan Seputar Pernikahan ..... 48 Khatimah ................................................................ 49

Tammat ............................................................. 50

Menikah Untuk Solusi Terbaik
Diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, ialah diciptakannya pasangan-pasanganmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung padanya. Dan Allah menjadikan di antara kalian perasaan tenteram dan kasih sayang. Pada yang demikian ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. Ketika tiba masa usia aqil baligh, maka perasaan ingin memperhatikan dan diperhatikan lawan jenis begitu bergejolak. Banyak perasaan aneh dan bayang-bayang suatu sosok berseliweran tak karuan. Kadang bayang-bayang itu menjauh tapi kadang terasa amat dekat. Kadang seorang pemuda bisa bersikap acuh pada bayang-bayang itu tapi kadang terjebak dan menjadi lumpuh. Perasaan sepi tiba-tiba menyergap ke seluruh ruang hati. Hati terasa sedih dan hidup terasa hampa. Seakan apa yang dilakukannya jadi sia-sia. Hidup tidak bergairah. Ada setitik harapan tapi berjuta titik kekhawatiran justru mendominasi. Perasaan semakin tak menentu ketika harapan itu mulai mengarah kepada lawan jenis. Semua yang dilakukannya jadi serba salah. Sampai kapan hal ini berlangsung? Jawabnya ada pada pemuda itu sendiri. Kapan ia akan menghentikan semua ini. Sekarang, hari ini, esok, atau tahun-tahun besok. Semakin panjang upaya penyelesaian dilakukan yang jelas perasaan sakit dan tertekan semakin tak terperikan. Sebaliknya semakin cepat / pendek waktu penyelesaian diupayakan, kebahagiaan & kegairahan hidup segera dirasakan. Hidup menjadi lebih berarti & segala usahanya terasa lebih bermakna. Penyelesaian apa yang dimaksud? Menikah! Ya menikah adalah alat solusi untuk menghentikan berbagai kehampaan yang terus mendera. Lantas kapan? Bilakah ia bisa dilaksanakan? Segera! Segera di sini jelas berbeda dengan tergesa-gesa. Untuk membedakan antara segera dengan tergesa- gesa, bisa dilihat dari dua cara:

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

2 of 50

1/31/2007 Nikah

Pertama, tanda-tanda hati Orang yang mempunyai niat tulus, kata Imam Ja'far, adalah dia yang hatinya tenang, sebab hati yang tenang terbebas dari pemikiran mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niat murni untuk Allah dalam segala perkara. Kalau menyegerakan menikah karena niat yang jernih, Insya Allah hati akan merasakan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi masalah-masalah yang harus diselesaikan. Kita merasa yakin, meskipun harapan & kekhawatiran meliputi dada. Lain lagi dengan tergesa-gesa. Ketergesaan ditandai oleh perasaan tidak aman & hati yang diliputi kecemasan yang memburu. Kedua, tanda-tanda perumpamaan Ibarat orang bikin bubur kacang hijau, ada beberapa bahan yang diperlukan. Bahan paling pokok adalah gula & kacang hijau. Jika gula & kacang hijau dimasukkan air kemudian direbus, maka akan didapati kacang hijau tidak mengembang. Ini namanya tergesa-gesa. Kalau gula baru dimasukkan setelah kacang hijaunya mekar ini namanya menyegerakan. Tapi kalau lupa, tidak segera memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar cukup lama orang akan kehilangan banyak zat gizi yang penting.

Kupinang Engkau dengan Hamdalah
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda: "Tiga orang yang selalu diberi pertolongan Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar & seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya" (HR Thabrani) Banyak jalan yang dapat menghantarkan orang kepada peminangan & pernikahan. Banyak sebab yang mendekatkan dua orang yang saling jauh menjadi suami istri yang penuh barakah & diridhai Allah. Ketika niat sudah mantap & tekad sudah bulat, persiapkan hati untuk melangkah ke peminangan. Dianjurkan, memulai lamaran dengan hamdalah & pujian lainnya kepada Allah SWT. Serta Shalawat kepada Rasul-Nya. Abu Hurairah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: "Setiap perkataan yang tidak dimulai dengan bacaan hamdalah, maka hal itu sedikit barakahnya (terputus keberkahannya)" HR Abu Daud, Ibnu Majah & Imam Ahmad. Setelah peminangan disampaikan, biarlah pihak wanita & wanita yang bersangkutan untuk mempertimbangkan. Sebagian memberikan jawaban segera, sebelum kaki bergeser dari tempat berpijaknya, sebab menikah mendekatkan kepada keselamatan akhirat, sedang calon yang datang sudah diketahui akhlaqnya, sebagian memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa memberi kepastian apakah pinangan diterima atau ditolak, karena pernikahan bukan untuk sehari dua hari. Apapun, serahkan kepada keluarga wanita untuk memutuskan. Mereka yang lebih tahu keputusan apa yang terbaik bagi anaknya. Anda harus husnudzan pada mereka. Bukankah ketika meminang wanita berarti anda mempercayai wanita yang diharapkan oleh anda beserta keluarganya. Keputusan apapun yang mereka berikan, sepanjang didasarkan atas musyawarah yang lurus, akan baik dan Insya Allah memberi akibat yang baik bagi anda. Tidak kecewa orang yang istikharah & tidak merugi orang yang musyawarah. Maka apapun hasil musyawarah, sepanjang dilakukan dengan baik, akan membuahkan kebaikan. Sebuah keputusan tidak bisa disebut buruk atau negatif, jika memang didasarkan kepada musyawarah yang memenuhi syarat, hanya karena tidak memberi kesempatan kepada anda untuk menjadi anggota keluarga mereka. Jika niat anda memang untuk silaturrahim, bukankah masih tersedia banyak peluang untuk menyambung? Anda telah meminangnya dengan hamdalah, anda telah dimampukan datang oleh Allah Yang Maha Besar. Dia-lah Yang Maha Lebih Besar. Semuanya kecil. Ada pelajaran yang sangat berharga dari Bilal bin Rabbah tentang meminang. Ketika ia bersama Abu Ruwaihah menghadap kabilah Khaulan, Bilal mengemukakan : "Jika pinangan kami anda terima, kami ucapkan Alhamdulillah. Dan kalau anda menolak, maka kami ucapkan Allahu Akbar." Maka, kalau pinangan yang anda sampaikan ditolak, agungkan Allah, semoga anda tetap berbaik sangka kepada Allah & juga kepada keluarganya. Sebab bisa jadi, penolakan merupakan jalan pensucian jiwa dari

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

3 of 50

1/31/2007 Nikah

kedzaliman diri sendiri, bisa jadi penolakan merupakan proses untuk mencapai kematangan, kemantapan & kejernihan niat. Sementara ada banyak hal yang dapat mengotori niat. Bisa jadi Allah hendak mengangkat derajat anda, kecuali anda justru malah merendahkan diri sendiri. Tapi hati perlu diperiksa, jangan-jangan perasaan itu muncul karena ujub. Kekecewaan, mungkin saja timbul. Barangkali ada perasaan yang perih, barangkali juga ada yang merasa kehilangan rasa percaya diri saat itu. Ini merupakan reaksi psikis yang wajar, kecewa adalah perasaan yang manusiawi, tetapi ia harus diperlakukan dengan cara yang tepat agar ia tidak menggelincirkan ke jurang kenistaan yang sangat gelap. Kecewa memang pahit. Orang sering tidak tahan menanggung rasa kecewa, mereka berusaha membuang jauh-jauh sumber kekecewaan. Sekilas nampak tidak ada masalah, tetapi setiap saat berada dalam kondisi rawan. Perasaan itu mudah bangkit lagi dengan rasa sakit yang lebih perih. Dan yang demikian tidak dikehendaki Islam. Islam menghendaki kekecewaan itu menghilang perlahan-lahan secara wajar. Sehingga kita bisa mengambil jarak dari sumber kekecewaan dengan tidak kehilangan obyektivitas & kejernihan hati, kita menjadi lebih tegar, meskipun proses yang dibutuhkan untuk menghapus kekecewaan lebih lama. Kalau anda merasa kecewa, periksalah niat anda. Dibalik yang dianggap baik, mungkin ada niat yang tidak lurus. Periksalah motif-motif yang melintas dalam batin. Selama peminangan hingga saat menunggu jawaban. Kemudian biarkan hati memproses secara wajar sampai menemukan kembali ketenangan secara mantap. Tetapi kalau jawaban yang diberikan oleh keluarga wanita sesuai harapan, berbahagialah sejenak. Bersyukurlah. Insya Allah kesendirian yang dialami dengan menanggung rasa sepi sebentar lagi akan menghapus kepenatan selama di luar rumah. Insya Allah sebentar lagi. Tunggulah beberapa saat. Setelah tiba masanya, halal bagi anda untuk melakukan apa saja yang menjadi hak anda bersamanya. Akan tiba masanya anda merasakan kehangatan cintanya. Kehangatan cinta wanita yang telah mempercayakan kesetiaannya kepada anda. Setelah tiba masanya, halal bagi anda untuk menemukan pangkuannya ketika anda risau. Selama menunggu, ada kesempatan untuk menata hati. Melalui pernikahan, Allah memberikan banyak keindahan & kemuliaan.

Wanita boleh menawarkan
Islam memberikan penghormatan yang suci kepada niat & ikhtiar untuk menikah. Nikah adalah masalah kehormatan agama, bukan sekedar legalisasi penyaluran kebutuhan biologis dengan lawan jenis. Islam memperbolehkan kaum wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki yang berbudi luhur, yang ia yakini kehormatan agamanya, dan kejujuran amanahnya menjadi suaminya. Dan Khadijah r.a atas teladan bagi wanita yang bermaksud untuk menawarkan diri. Sikap menawarkan diri menunjukkan ketinggian akhlaq & kesungguhan untuk mensucikan diri. Sikap ini lebih dekat kepada ridha Allah & untuk mendapatkan pahala-Nya, Allah pasti mencatatnya sebagai kemuliaan & mujahadah yang suci. Tidak peduli tawarannya diterima atau ditolak, terutama kalau ia tidak mempunyai wali. Insya Allah, jika sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopan santun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat. Seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan yang mendalam pasti akan meninggikan penghormatan seperti ini, kecuali laki-laki yang rendah & tidak memiliki kehormatan, kecuali sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan. Imam Bukhari menceritakan cerita dari Anas r.a. ada seorang wanita yang datang menawarkan diri kepada Rasulullah SAW dan berkata: "Ya Rasulullah! Apakah baginda membutuhkan daku?" Putri Anas yang hadir & mendengarkan perkataan wanita itu mencela sang wanita yang tidak punya harga diri & rasa malu, "Alangkah sedikitnya rasa malunya, sungguh memalukan, sungguh memalukan." Anas berkata kepada putrinya: "Dia lebih baik darimu, Dia senang kepada Rasulullah SAW lalu dia menawarkan dirinya untuk beliau!" (HR Bukhari)

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

4 of 50

1/31/2007 Nikah

Oleh: Sukeri Abdillah Ref: Kupinang Engkau dengan Hamdalah, M. Faudzil `Adhim * kembali ke daftar isi

Mengapa Betah Membujang?
Banyak orang takut menikah karena beragam alasan. Padahal, justru dengan menikah bermacam permasalahan tersebut akan tuntas. Namanya Kurniawan (33 th). Hampir empat tahun ia bekerja di sebuah penerbitan di kawasan Jakarta. Penghasilan perbulannya cukup lumayan untuk biaya hidup di Ibukota. Namun, kemampuan ekonomi dan usia seperti itu, belum mengetuk hatinya untuk mengakhiri masa lajangnya. Ia tetap memilih hidup sendiri, membujang. Alasannya, ‘Pernikahan itu harus diurus. Kalau semuanya belum siap bisa menimbulkan penderitaan baru. Nggak bisa nyekolahin anak, nggak bisa hidup layak, nggak bisa punya rumah.’ Lain lagi dengan Linda, seorang mahasiswi S2 UI yang berusia 29 tahun. Ketika ditanya tentang keterlambatannya menikah, sedikit bingung ia menjawab (jawaban klasiknya), ‘Belum dikasih (jodoh, red).’ Tapi, kadang kala kita punya idealisme namun berbenturan dengan kenyataan yang ada. Dengan kata lain, kriteria yang datang tidak sesuai dengan apa yang diidamkan. Inilah yang membuat orang menunda-nunda pernikahan. “Saya merasa banyak obsesi yang belum tercapai,” jawab Sahrul Gunawan (26 th), pemeran Gunawan dalam Sinetron Pernikahan Dini, saat ditanya mengapa ia belum menikah. Padahal, orang tuanya yang tergolong menikah di usia muda - saat menikah ayahnya 22 th dan ibunya 19 th - selalu menyuruhnya untuk menikah. “Saya sih merencanakan umur 29 atau 30 untuk menikah,” ujar Sahrul. Jika ditanya alasan terlambat menikah, tentu bisa muncul beribu dalih. Tapi, alasan yang paling banyak dijadikan kambing hitam adalah kekhawatiran tidak mampu menanggung beban (baca: ekonomi) keluarga. Ini wajar. Namun, menurut Nursanita Nasution, Ketua DPP Partai Keadilan Bidang Kewanitaan, kekhawatiran itu kadang kala berlebihan. “Kadang- kadang orang terlalu banyak alasan,” ujarnya. Ia menambahkan, mereka yang mengemukakan alasan-alasan itu hanya mau lari dari permasalahan. “Jadi, tidak boleh terlalu mikir, saya harus punya uang sekian dulu (baru menikah, red). Atau saya punya beban keluarga, mau menghajikan ibu, mau menyekolahkan adik dulu. Itu bukan tanggung jawab dia,” Nursanita menegaskan. Herlini Amran, MA, seorang dosen PGTK Bina Insan Kamil mengandaikan, kalau seseorang merasa khawatir tidak mampu mencukupi nafkah keluarganya jika menikah, maka perlu dilihat mengapa ia khawatir. “Burung saja kalau keluar dari sarangnya, bisa mencari rezeki. Masa’ manusia yang mempunyai akal, tidak bisa,” ujarnya. Mohammad Fauzil Adhim justru melihat lebih jauh. Menurut penulis yang sudah banyak menelurkan buku tentang pernikahan ini, menjamurnya para bujangan yang berpendapat bahwa menikah harus kerja lebih dahulu, adalah korban kapitalisme. Karenanya, paradigma ketidakmampuan dalam hal ekonomi yang saat ini berkembang di masyarakat harus diubah. “Selama ini, kematangan diidentikkan dengan: punya rumah, kendaraan, gaji tetap dan sebagainya. Mestinya nggak begitu,” ujar Herlini Amran. Menurut lulusan S2 Bidang Islamic Studies di Salafiyah University di Faishal Abad, Pakistan ini, selama seseorang mempunyai etos yang tinggi, dan memiliki tanggung jawab untuk mencari nafkah, sebenarnya ia sudah sanggup untuk menikah. Apalagi mereka yang sudah mempunyai kemampuan biologis dan bisa mencari nafkah serta dikhawatirkan terjerumus ke perbuatan zina kalau tidak menikah, maka “Haram baginya membujang,” ujar Herlini menambahkan. Dalam fiqih Islam, hukum pernikahan ada yang wajib, sunnah, makruh, haram, dan mubah sesuai dengan keadaan yang bersangkutan. Ketika salah seorang sahabat bernama Ukaf bin Wida’ah al-Hilali menemui Rasulullah saw dan mengatakan, bahwa ia belum menikah, beliau bertanya, “Apakah engkau sehat dan mampu?” Ukaf menjawab, “Ya, alhamdulillah.” Rasulullah saw bersabda, “Kalau begitu, engkau termasuk teman setan. Atau engkau mungkin termasuk pendeta Nasrani dan engkau bagian dari mereka. Atau engkau termasuk

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

5 of 50

1/31/2007 Nikah

bagian dari kami, maka lakukanlah seperti yang kami lakukan, dan termasuk sunnah kami adalah menikah. Orang yang paling buruk di antara kamu adalah mereka yang membujang. Orang mati yang paling hina di antara kamu adalah orang yang membujang.” Kemudian, Rasulullah saw menikahkannya dengan Kultsum al-Khumairi (HR Ibnu Atsir dan Ibnu Majah). Seperti disabdakan Rasulullah saw, mereka yang betah membujang, dikhawatirkan akan terjerumus ke beberapa kemungkinan. Pertama, menjadi teman setan karena ia senang menyimpang dari fitrah manusia sesungguhnya. Kedua, termasuk pendeta Nasrani yang mengganggap dirinya suci dan menjadi kekasih Allah jika tidak mendekati perempuan. Menurut mereka, perempuan membuka pintu bagi setan untuk menggoda laki-laki. Ketiga, termasuk orang yang durhaka karena mendustai tuntutan biologisnya yang penyalurannya telah diatur Allah melalui pernikahan. Keempat, termasuk orang yang matinya paling hina karena telah memutuskan peluang mendapatkan keturunan shalih yang akan membuahkan pahala tak terputus baginya. Kalau kita tilik ulama salaf, sungguh pengamalan mereka terhadap sunnah Rasulullah saw ini, sangat tinggi. Dalam suatu kesempatan Imam Malik pernah berkata, “Sekiranya saya akan mati beberapa saat lagi, sedangkan istri saya sudah meninggal, saya akan segera menikah.” Demikian rasa takut pengarang kitab al-Muwatha’ ini kepada Allah kalau ia meninggal dalam keadaan membujang (30 Pertunjuk Pernikahan dalam Islam, Drs. M. Thalib). Karenanya, Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqhus Sunnah menyimpulkan, seandainya seseorang sudah mampu nikah, dan dikhawatirkan akan terjerumus kepada perbuatan jahat kalau tidak menikah, sementara pada saat yang sama, ia juga sudah memenuhi kriteria wajib haji, maka ia harus mendahulukan nikah atas haji. Hal ini didasarkan pada kaidah fiqih yang berbunyi Dar ul mafaasidi muqaddamun ‘ala jalbil mashaalih. Yaitu, menghindari bahaya, harus didahulukan daripada memperoleh keuntungan. Sebaliknya, para muslimah hendaknya tidak mempersulit pernikahan, dengan memasang ‘tarif’ mahal atau target tinggi. Yang menjadi ukuran, selayaknya bukan kekayaan materi, tapi agama dan akhlak. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw mengingatkan kepada para orang tua gadis, “Jika datang seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaknya, hendaklah kamu nikahkan dia. Kalau kamu tidak mau menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas,” (HR Turmudzi dan Ahmad). Kalau para muslimah mengabaikan hal ini, seperti diingatkan Rasulullah saw, fitnah dan kerusakan akan terjadi. Para wanita yang berada di bawah kendali suami yang berakhlak buruk, besar kemungkinan akan larut dalam keburukan juga. Sebaliknya, dengan memilih calon suami yang baik, semuanya akan berbuah kebaikan. Bukan hanya bagi sang istri, tapi juga keturunannya. Untuk itu, Nursanita memberikan beberapa kiat bagi mereka yang masih ‘sendiri’. Pertama, kalau ingin cepat dapat jodoh, perbanyak sedekah. Kedua, kalau sudah ada kecenderungan terhadap seseorang, lakukan shalat Istikharah. Ketiga, harus introspeksi diri. Keempat, yang harus mengambil keputusan itu, dirinya, bukan orang lain. Lagi pula, mengapa harus takut menikah? Bukankah Allah telah berjanji akan membantu hamba-Nya yang berniat menyempurnakan agamanya. Allah berfirman, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mencukupkannya dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberiannya) lagi Maha Mengetahui,” (QS an-Nuur: 32). Ibnu Abbas menjelaskan bahwa ayat ini merupakan janji Allah kepada orang yang menikah. Mereka akan dicukupkan rezekinya setelah ia menikah walaupun sebelumnya miskin. Diriwayatkan dari al-Laits, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga golongan orang yang menjadi keharusan Allah untuk membantu mereka; orang yang menikah untuk memelihara kesucian diri, budak yang hendak membayar kemerdekaan dirinya, dan orang-orang yang berperang di jalan Allah,” (HR Ahmad, Turmudzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah). Subhanallah! Betapa mulia orang yang ingin menikah. Mereka disejajarkan Rasulullah saw dengan mujahid fi sabilillah yang dijanjikan akan mendapat pertolongan-Nya. Lalu, tunggu apa lagi? Menikah, yuk! Oleh: Hepi Andi Majalah Sabili edisi 02/08/2002

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

6 of 50

1/31/2007 Nikah

* kembali ke daftar isi

Kenapa Belum Menikah Juga?
Belum menikah karena...?
1. Belum Kerja Inilah masalah klasik seputar menikah, terutama bagi pihak pemuda. Ketika sudah merasa cocok dengan seorang muslimah, dan jika ditunda-tunda bisa berakibat buruk, ternyata si Pemuda belum punya pekerjaan untuk menghidupi keluarga kelak. "Mau dikasih makan apa anak dan istri kamu, dikasih cinta doang?" Begitulah perkataan sinis yang senantiasa terngiang-ngiang ditelinganya. Seorang laki-laki memang merupakan tulang punggung dalam sebuah keluarga. Menghidupi seluruh anggota keluarga adalah tanggung jawabnya. Rasulullah bersabda, yang artinya, "Bertaqwalah kepada Allah dalam memperlakukan wanita. Sebab kamu mengambilnya dengan amanat Allah dan farjinya menjadi halal bagi kamu dengan kalimat Allah. (Menjadi) kewajiban kamu untuk memberi rizki dan pakaiannya dengan cara yang baik." (HR. Muslim) Dengan demikian, penghasilan dalam suatu keluarga memang diperlukan. Namun sebenarnya tidak berarti belum kerja kemudian tidak boleh menikah. Allah Subhanahu wata'ala berfirman, yang artinya, "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberianNya) lagi maha mengetahui." (Surat An-Nur: 32) Penghasilan bisa dicari setelah menikah. Yang pertama kali harus dilakukan adalah percaya dan yakin akan janji Allah pada firman-Nya di atas. Tak sedikit pemuda yang susah mencari kerja sebelum menikah, tapi setelah menikah ternyata banyak tawaran kerja dan peluang kerja. Sebagai persiapan sebelum menikah, kesungguhan dalam menuntut ilmu dunia agar kelak mudah mendapatkan penghidupan yang baik pula untuk dilakukan. Walaupun tak selamanya relevan, kuliah yang baik dan prestasi yang bagus masih merupakan suatu modal yang dapat diandalkan dalam mencari kerja. Bagaimana kalau kuliah sudah terlanjur tidak karuan? Jika sudah begini perlu juga pegang prinsip bahwa pekerjaan kelak tidak harus sesuai dengan bidang yang dipelajari saat ini. Banyak yang dapat rejeki lumayan dari bekerja dalam suatu bidang yang dulu tidak pernal dipelajari dalam jenjang pendidikan formal. Persiapan lain yang bisa dilakukan adalah kuliah sambil kerja. Sembari menabung, juga bisa untuk jagajaga apabila ketika lulus nanti tidak langsung diterima bekerja sesuai bidang yang dipelajari. 2. Belum Lulus Berbeda dengan yang pertama, masalah yang satu ini bisa menjadi penghalang bagi pihak pemuda dan pemudi. Mungkin seseorang sudah bekerja atau sudah punya prinsip untuk mencari kerja setelah menikah namun ia ragu untuk menikah gara-gara belum lulus kuliah. Bisa jadi pula yang punya alasan seperti ini sang pemudi pujaan hatinya. Bayangan kuliah sambil menikah baginya tampak menyeramkan. Kuliah sambil mengurus diri sendiri saja sudah repot apalagi jika harus ditambah tanggung jawab mengurus orang lain. Ditambah kalau si buah hati sudah lahir dan belum juga lulus kuliah, tampaknya akan tambah repot. Sebenarnya, menikah tidaklah selalu mengganggu kuliah. Malahan hadirnya pendamping hidup baru bisa menambah semangat untuk belajar. Bisa jadi, sebelum menikah malas-malasan belajarnya, ketika sudah menikah malah tambah semangat dan tambah rajin untuk belajar. Tidak sedikit yang mengalami perubahan demikian, apalagi secara peraturan akademik seorang mahasiswa sudah diperbolehkan untuk menikah. Seorang mahasiswa sudah tidak dianggap ABG (Anak Baru Gede) lagi, tapi AUG (Anak Udah Gede) alias sudah dewasa. Seorang yang sudah dewasa dianggap sudah bisa bertanggung jawab apa yang menjadi pilihan hidupnya.

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

7 of 50

1/31/2007 Nikah

Memang benar kita dituntut untuk tetap buat persiapan jika mengambil jalan menikah di saat masih kuliah. Yang pertama harus disadari adalah bahwa hidup berkeluarga adalah berbeda dengan hidup sendirian. Tidak pantas jika orang yang sudah menikah tetap bebas, lepas, menelantarkan keluarganya sebagaimana dulu bisa ia lakukan ketika masih lajang. Orang yang menikah sambil kuliah juga harus pandai-pandai mengatur waktu antara tanggung jawabnya dalam keluarga dan dalam belajar. Selain waktu, manajemen pemikiran juga solid, karena begitu menikah masalah-masalah dulu yang belum ada mendadak bermunculan secara serentak. Bagaimana memahami pasangan hidup baru, bagaimana jika hamil dan melahirkan, bagaimana mendidik anak, bagaimana mencari rumah -nebeng mertua atau cari kontrakan-, bagaimana bersikap kepada mertua, tetangga dan lain-lain, apalagi masih harus memikirkan pelajaran. Pusing? Semoga tidak. Sebenarnya menikah sambil kuliah bisa disiapkan sejak hari ini, bahkan juga sudah sejak SD. Modal awalnya adalah manajemen diri sendiri. Ketika seorang sudah sejak dahulu berlatih untuk hidup mandiri, akan mudah baginya untuk hidup berkeluarga. Misalnya saja sudah sejak SD bisa mencuci pakaian dan piring sendiri, mengatur waktu belajar, berorganisasi, dan bermain, mengatur keuangan sendiri, dan sebagainya. Kesiapan juga bisa diraih jika seseorang biasa menghadapi dan memecahkan problem hidupnya. Karena itu perlu organisasi dan bersaudara dengan orang lain, saling mengenal, memahami orang lain dan membantu kesulitannya. 3. Belum Cocok Mungkin pula sudah lulus, sudah kerja, sudah berusaha cari calon pasangan tapi merasa belum menemukan pasangan yang cocok, sehingga belum jadi menikah pula, padahal sudah hampir tidak tahan! Ini juga merupakan masalah yang bisa datang dari kedua belah pihak, baik pihak pemuda maupun pemudi. Kecocokan memang diperlukan. Yang jadi pertimbangan dasar dan awal tentu saja faktor agama, yaitu aqidah dan akhlaknya. Allah berfirman, yang artinya: "Mereka (perempuan-perempuan mukmin) tidak halal bagi laki-laki kafir. Dan laki-laki kafir pun tidak halal bagi mereka." (Al-Mumtahanah: 10) Rasulullah juga bersabda, "Wanita itu dinikahi karena 4 hal: karena kecantikannya, karena keturunannya, karena kekayaannya dan karena agamanya. Menangkanlah dengan memilih agamanya maka taribat yadaaka (kembali kepada fitrah atau beruntung)." (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lain-lain) Keadaan yang lain adalah nomor dua setelah pertimbangan agama. Namun kebanyakan di sinilah ketidakcocokannya. Sudah dapat yang agamanya bagus tapi kok nggak cocok pekerjaannya, nggak cocok latar belakang pendidikannya, nggak cocok hobinya, warna matanya kok begitu, pakai kacamata, kok hidungnya dan lain-lain. Kalau mau mencari kekurangan tiap orang pasti punya kekurangan karena tidak ada manusia yang diciptakan secara sempurna. Sudah cantik, kaya, keturunan bangsawan, pandai, rajin, keibuan, penyayang, tidak pernah berbuat salah. Ketika seorang pemuda atau pemudi sudah mau menikah, memang seharusnya cari tahu dulu tentang calon pasangan hidupnya ke sahabatnya, saudaranya atau ustadznya atau yang lainnya, baik kelebihan maupu kekurangannya. Jika sudah tahu, tanyakan pada diri sendiri, apakah bisa menerima dan memaklumi kekurangan serta kelebihan si dia. Rasulullah bersabda, yang artinya, "Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci mukmin perempuan. Bila dia membencinya dari satu sisi, tapi akan menyayang dari sisi lain." (HR.Muslim) Jadi, jangan hanya melihat kekurangannya saja, tapi juga perlu melihat kelebihannya. Ketika kekurangan sudah bisa diterima, kelebihan akan lebih bisa menimbulkan perasaan suka. Karea itu, jangan sampai sulit nikah karena dibikin sendiri. 4. Belum Mantap Masalah satu ini juga bisa terjadi pada tiap orang pihak pemuda, pihak pemudi, baik yang sudah kerja atau yang belum, baik sudah lulus atau belum. Pertama kali, perlu diselidiki belum mantapnya itu karena apa, karena tak sedikit yang beralasan belum mantap, ketika ditelusuri larinya juga menuju ketiga masalah 'belum' di atas.

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

8 of 50

1/31/2007 Nikah

Namun ada juga yang belum mantap karena memang merasa persiapan dirinya kurang, baik ilmu tentang pernikahan, keluarga atau pernik-pernik di sekitarnya. Orang seperti ini malah tidak memusingkan masalah ketiga 'belum' di atas, karena memang dia merasa belum siap dan belum mampu. Solusinya tidak lain adalah memantapkan dan mempersiapkan diri. Hal ini bisa ditempuh lewat menuntut ilmu tentang pernikahan dan keluarga, baik dengan menghadiri pengajian, yang membahas masalah tersebut atau dengan membaca buku-buku mengenainya. Penting pula untuk menimba pengalaman kepada orang yang sudah menikah, karena kadang-kadang buku-buku dan ceramah ilmiah dan formal tidak membahas masalah praktis yang detail yang diperlukan agar siap menikah. Author: Unknown "Purcahyadi" cahyadi@rg.co.id * kembali ke daftar isi

Mengapa Menunda Pernikahan?
Rosulullah pernah berkata kepada Ali ra: Hai Ali, ada 3 perkara yang jangan kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu: 1. Shalat apabila tiba waktunya, 2. Jenazah apabila sudah siap penguburannya, dan 3. Wanita bila menemukan pria sepadan yang meminangnya (HR. Ahmad) Kalau kita tanya seseorang pemuda/pemudi, Mengapa belum menikah? Maka jawabanya antara lain: 1. Masih kuliah/menuntut ilmu. Dikhawatirkan bila menikah akan mempengaruhi prestasi belajar dan mempengaruhi persiapan masa depan. Hal ini sesungguhnya tergantung dari manajemen waktu, waktu yang biasanya dipakai untuk hurahura setelah waktu kuliah, diganti dengan mencari nafkah atau bercengkrama dengan keluarga. Disisi lain, bisa menghemat sewa kamar (kost-kost an), dapat saling membantu mengerjakan tugas (kalau satu bidang studi) atau dapat memperluas wawasan diskusi interdisipliner, misalnya suami studi ilmu komputer dan istri akutansi maka diskusi komputasi akutansi akan nyambung, atau biologi dengan kimia diskusi tentang biokimia. 2. Takut tak bebas Bila menikah akan terkekang tidak bisa bebas lagi, tidak bisa kongkow-kongkow di mal setelah pulang kuliah atau kerja, bertambah beban tanggung jawab untuk memberi nafkah istri dan anak. Sedangkan Rosul bersabda: "Bukan golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah" (HR Thabrani). 3. Belum siap dalam hal materi/rezeki. Banyak yang beranggapan kalau mau menikah harus siap materi, yang berarti harus punya jabatan yang mapan, rumah minimal BTN, kendaraan dll, sehingga bila belum terpenuhi semua itu, takut untuk "maju". Sedangkan Allah menjamin akan memberikan rizki bagi yang menikah seperti dalam firmanNya: Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32) Rasulullah SAW bersabda: "Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan (dalam kehidupan berkeluarga)." (HR Imam Dailami dalam musnad Al Firdaus)

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

9 of 50

1/31/2007 Nikah

4. Tidak ada/belum ada jodoh. Masalah memilih jodoh telah di jelaskan pada tazkiroh 2 pekan yang lalu, dibawah ini adalah pesan Rosul SAW: Imam Thabrani meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa menikahi wanita karena kehormatannya (jabatan), maka Allah SWT hanya akan menambah kehinaan; Barang siapa menikah karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah kecuali kefakiran; Barang siapa menikahi wanita karena hasab (kemuliaannya), maka Allah hanya akan menambah kerendahan. Dan barang siapa yang menikahi wanita karena ingin menutupi (kehormatan) matanya, membentengi farji (kemaluan)nya, dan mempererat silaturahmi, maka Allah SWT akan memberi barakahNya kepada suami-istri tsb." Imam Abu Daud & At Tirmidzi meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (dari pada wanita kaya & cantik tapi tidak taat beragama)." Bukan berarti Rasulullah SAW mengabaikan penampilan fisik dari pasangan kita, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: "Kawinilah wanita yang subur rahimnya dan pecinta " (HR Abu Daud, An Nasai & Al Hakim). Tiga kunci kebahagiaan suami (atas istri yang solehah) adalah: jika dipandang membuat semakin sayang, jika kamu pergi membuat tenang karena bisa menjaga kehormatannya dan taat pada suami. 5. Alasan-alasan lain Mungkin masih ada alasan lainya, yang tidak akan dibahas disini misalnya: Karena kakak (apalagi wanita) belum menikah atau karena orang tua terlalu selektif memilih calon mantu.

Manfaat menikah di usia muda:
1. Menjaga kesucian fajr (kemaluan) dari perzinaan serta menjaga pandangan mata. (QS 24:30-31) 2. Dapat melahirkan perasaan tentram (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) dalam hati. (QS 0:21) 3. Segera mendapatkan keturunan, dimana anak akan menjadi Qurrata a'yunin (penyejuk mata, penyenang hati) (QS 25:74) Karena usia yang baik untuk melahirkan bagi wanita antara 20-30 tahun; diatas umur tsb akan beresiko baik bagi ibu maupun sang bayi. 4. Memperbanyak ummat Islam, seperti yang dipesankan Rosul beliau akan membanggakan jumlah ummatnya yang banyak nanti di akhirat. Kemuliaan menikah: "Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya." (HR Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Al-Khudzri r.a.) Juga dapat ditambahkan, bahwa Islam memberi nilai yang tinggi bagi siapa yang telah menikah. Dengan menikah berarti seseorang telah melaksanakan separuh dari agama Islam!, tinggal orang tsb berhati-hati melaksanakan yang separuhnya lagi agar tidak sesat. Rosul SAW bersabda: Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR Al Hakim) Kehinaan melajang/membujang: "Orang yang paling buruk diantara kalian ialah yang melajang (membujang) dan seburuk-buruk mayat (diantara) kalian ialah yang melajang (membujang)." (HR Imam, diriwayatkan juga oleh Abu Ya'la dari Athiyyah bin Yasar) Author: Unknown

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

10 of 50

1/31/2007 Nikah

"Ade Kusmana" <ade@dt-id.com> * kembali ke daftar isi

Haruskah Kita Bercerai?
Saat aku dilamar suamiku, aku merasa bahwa akulah wanita yang paling beruntung di muka bumi ini. Bayangkan dari sekian juta wanita di dunia ini, aku yang dia pilih untuk jadi isterinya. Kalau aku persempit, dari sekian banyak wanita di negara ini, di propinsi ini, di kota ini, di rumah ibuku yang anak perempuannya 3, aku yang paling bungsu yang dipilih untuk jadi isterinya! Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku berusaha keras menjadi isteri yang baik, patuh pada suami, menjaga kehormatanku sebagai isterinya, menjadi ibu yang baik, membesarkan anak-anakku menjadi sholih dan sholihah. Aku memanfaatkan pernikahanku sebagai ladang amalku, sebagai tiket ke surga. Walaupun begitu... hidup seperti halnya makanan penuh dengan bumbu. Ada bumbu yang manis, yang pahit, yang pedas, dan lain-lain. Aku juga menghadapi yang namanya ketidakcocokan atau selisih paham dengan suamiku, baik itu tidak sepaham, kurang sepaham, agak sepaham, hampir sepaham, atau apapunlah itu. Tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mencoba berpikiran terbuka, mengakui kebenaran bila suamiku memang benar dan mengakui kesalahan bila aku memang salah. Aku mencoba bertuturkata lembut menegur kesalahan suamiku dan membantunya memperbaikinya agar ia merubah sikapnya. It's all about compromising. Namun apalah daya... pada akhirnya, terucap pula kata itu dari bibir suamiku "kita cerai saja!" hanya karena sebuah masalah kecil yang tanpa sengaja menjadi besar. Saat itu seperti kudengar suara petir menggelegar di kepalaku. Arsy pun berguncang untuk ke sekian kalinya. Dan hatiku hancur berkeping-keping. Aku menjadi wanita paling pilu sedunia. Tak ada yang kupikirkan selain... yah kita memang harus berpisah! Kuingat kembali pertengkaran-pertengkaran kami sebelumnya... Kita memang sudah nggak cocok! Kupikirkan kesalahan-kesalahan apa yang telah aku lakukan namun lebih sering mengingat kesalahankesalahan suamiku. Aku menangis sejadi-jadinya hingga dadaku sesak dan airmataku kering. Hari itu menjadi hari paling menyedihkan dalam hidupku. Tak kulihat suamiku di sampingku keesokan paginya. Entah kemana ia. Tanpa sadar aku, layaknya aktris berakting di sinetron-sinetron, memandangi foto-foto kami dulu dengan berlinang airmata. Ngiris hati ini. Andai saja ada lagu ‘Goodbye’ dari Air Supply yang mengiringiku, tentu semuanya menjadi scene yang sempurna. Sekilas kenangan lama bermunculan di benakku. Aku teringat pertama kali aku bertemu suamiku, teringat apa yang aku rasakan saat ia melamarku. Aku tersenyum kecil hingga akhirnya tertawa saat mengingat malam pertamaku. Ha ha ha. Anak-anakku datang saat melihat ibu mereka ini tertawa, memelukku tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Mereka masih kecil-kecil. Kupandangi mereka satu per satu.... Mereka mirip ayahnya. Aku jadi teringat saat pertama kali kukatakan padanya bahwa ia akan menjadi ayah. Hhmmm... Ku lalui hari-hari penuh kekhawatiran bersamanya, menunggu kelahiran buah cinta kami. Dengan penuh kasih sayang, suamiku memegang tanganku, mencoba menenangkanku saat sang khalifah baru lahir, walaupun kutahu ia hampir saja pingsan. Keningku diciumnya saat semuanya berakhir walaupun wajahku penuh keringat saat itu. Saat kubuka mataku, di sampingku ia duduk menggendong bayi mungil itu. Bersamanya, kubeli tiket ke surga... "Mi, abi mana?" suara anakku mengejutkan lamunanku. Tak sanggup aku menjawabnya. Hampir saja aku menangis lagi.

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

11 of 50

1/31/2007 Nikah

Tiba-tiba kulihat sesosok bayangan dari balik dinding. Suamiku datang. Rupanya tadi malam ia tidur di teras. Ia melihatku bersama anak-anakku. Mereka berhamburan menyambut ayahnya, memeluk lututnya karena mereka belum cukup tinggi menggapai bahu ayahnya itu. Ia membawakan makanan untuk mereka. Saat anak-anak sibuk dengan makanan itu, ia menghampiriku. Aku mencoba untuk biasa dan kuajak ia melihat foto-foto lama kami. Bernostalgia. Aku tertawa bersamanya. Mengingat yang telah lewat. Sesekali ia memandangku lembut. Aku tahu ia sedang berfikir. Namun aku khawatir ia sedang meyakinkan hatinya untuk benar-benar menceraikan aku dan mengatur kata-kata agar aku dapat menerima keputusannya. Saat ia diam dan memandangku dalam-dalam, kukatakan padanya bahwa aku merindukannya sejak tadi malam. Ia tersenyum dan mengatakan bahwa ia pun merasakan hal yang sama. Hatiku lega. Kututup album foto itu dan kukatakan padanya bahwa selain dari semua kekuranganku tentu ada kelebihanku, selain dari semua yang tidak disukainya tentu ada yang disukainya, selain dari semua ketidakcocokan kita tentu ada bagian yang cocok. "Bila tidak, apa alasan Abang mau menikahi Dinda dulu? Dan bagaimana mungkin kita bisa bertahan selama ini?" Ia mencium keningku. Kurasakan air mata mengalir hangat di pipiku. Tapi bukan air mataku... "Allah memang hanya menciptakan Dinda buat Abang... Maafin Abang ya..."Kuusap air mata dari pipinya dan ia membaringkan kepalanya di pangkuanku... "Maafin Dinda juga ya, Bang..." Entah apa yang membuatnya berubah pikiran. Aku tak ingin menanyakannya. Hanya dengan berada di sisiku pagi itu, aku rasa aku tahu jawabannya... Pernikahan itu bisa berumur panjang bila ada usaha untuk memanjangkannya dan bisa berumur pendek bila tidak ada yang mau berfikir panjang. (Untuk pangeranku, aku ingin beranjak tua bersamamu... atas izin Allah.) Ya Allah berilah hamba petunjuk untuk tetap di jalanMu, serta kemudahan untuk mendapat berkahmu... Amin. Author: Unknown Wiwin wiwin@mkt.fujitsu.co.id * kembali ke daftar isi

Resep Kue Perkawinan
Bagi yang sudah menikah, kue perkawinan ini diperlukan untuk mengingatkan & direnungkan. Bagi yang belum menikah kue ini untuk bahan masukan, supaya jangan salah adonan. Silahkan mencoba!!! KUE PERKAWINAN Bahan : 1 pria sehat, 1 wanita sehat, 100% Komitmen, 2 pasang restu orang tua, 1 botol kasih sayang murni. Bumbu: 1 balok besar humor,

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

12 of 50

1/31/2007 Nikah

25 gr rekreasi, 1 bungkus doa, 2 sendok teh telpon-telponan, 5 kali ibadah/hari tapi lebih baik jika lebih dari itu Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang). Tips: 1. Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang. 2. Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan (sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin.) 3. Jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan. 4. Gunakan Kasih sayang cap "DAKWAH" yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari Departemen Kesehatan dan Kerohanian. Cara Memasak: 1. Pria dan Wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni. 2. Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata. 3. Masukkan niat yang murni kedalam loyang dan panggang dengan api merata sekitar 30 menit didepan penghulu. 4. Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan bumbunya. 5. Kue siap dinikmati. Catatan: Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan hangat. Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven ber merek "Tempat Ibadah". Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon-teleponan bila berjauhan. Selamat mencoba, dijamin semuanya halal koq!. Author: Unknown Wiwin [mailto:wiwin@mkt.fujitsu.co.id] * kembali ke daftar isi

Kamu Makin Cantik Kalau Marah
Buat yang udah nikah, yang mau nikah atau yang punya niat untuk nikah. Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya!" Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri atau ia tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati sa'at-sa'at bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi sa'at sa'at tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah,betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

13 of 50

1/31/2007 Nikah

dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental,lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi. Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar, maka : 1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah. Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama'ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran saya! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : "Kamu makin cantik kalau marah, makin energik..." Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi... "Duh kekasih... bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ...." Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka," saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya:) maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama'ah selain marah :) 2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa. Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan,bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya. Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang keras". Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh. Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi". Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan "Sudah tidak suka lagi ya dengan saya", maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah ... OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini ..... 3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga! Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40). Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba-coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal cinta yang panas ini". Kata ayah saya: "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak."

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

14 of 50

1/31/2007 Nikah

Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma'afnya daripada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..". Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua! 4. Kalau marah jangan di depan anak anak! Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu 'kan bapak saya. Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar (based on true story): Ibu: "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu?!!!" Bapak: "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda????!!!! Anak: "Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus saya ini apa?" Kita harus berani berkata: "Hentikan pertengkaran!" ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita??? 5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat! Pada setiap tahiyyat kita berkata: "Assalaa-mu'alaynaa wa 'alaa'ibaadilahissholiihiin" Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yang sholeh.... Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustaiNya, padahal nyawamu ditangan Nya. OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ..... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya ... Atau habis isya sebatas....??? Nnngg....... Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar ... :) 6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema'afkan Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran (resensi sebuah film). Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah "proses belajar untuk mencintai lebih intens" Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki. Ini saja, semoga bermanfa'at. "Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi". Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar. January 2004 Author: Unknown Wiwin [mailto:wiwin@mkt.fujitsu.co.id] * kembali ke daftar isi

Perkawinan dan Cinta
Masalah cinta dan kasih sayang kini merebak menjadi topik pembicaraan dimana-mana, karena pengaruh drama, sandiwara, cerpen, novel, film(sinetron), dan lain-lain. Anak-anak gadis banyak yang gandrung dengan masalah ini. Saya khawatir mereka terpedaya oleh cinta. Lebih-lebih pada usia-usia puber dan

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

15 of 50

1/31/2007 Nikah

memasuki usia baligh, sementara hati mereka masih kosong (dari pegangan dan pedoman hidup). Akibatnya kata-kata yang manis mudah saja masuk ke dalam hati yang kosong ini. Sangat disayangkan ada sebagian pemuda yang berbuat demikian dengan keterpedayaan atau malah merasa senang dan nikmat mencumbu dan merayu, bahkan merasa bangga dengan perbuatannya itu. Ia bangga jika dirinya dapat berhasil merayu banyak wanita. Karena itu nasehat saya pada gadis muslimah, janganlah terpedaya oleh perkataan dan semua rayuan gombal. Hendaklah anda mendengarkan nasehat orang tua atau wali. Janganlah memasuki kehidupan rumah tangga hanya semata-mata memperturutkan perasaan, tetapi pertimbangkanlah segala sesuatunya dengan akal sehat. Saya sarankan kepada orang tua atau wali, hendaklah memperhatikan kemauan dan keinginan anak-anak perempuannya. Janganlah si ayah membuang perasaan dan keinginan anaknya dan menjadikannya sebagai amplop kosong tak berisi, lalu mengawinkannya dengan siapa saja yang dikehendakinya, sehingga si anak memasuki kehidupan rumah tangga denga terpaksa. Karena si anak itulah kelak yang akan bergaul denga suaminya, dan bukan si ayah. Tetapi ini tidak berarti bahwa antara pemuda dan si gadis harus sudah hubungan cinta sebelum terjadinya perkawinan, namun paling tidak harus ada kerelaan hati. Karena itu, Islam memerintahkan si peminang melihat pinangannya, begitu juga sebaliknya. Nabi SAW bersabda: “Karena yang demikian itu lebih patut dapat mengekalkan kalian berdua.” Syariat Islam menghendaki kehidupan rumah tangga ditegakkan atas dasar saling meridhai dari masingmasing pihak yang berkepentingan. Si wanita hendaknya ridha, setidak-tidaknya memiliki kebebasan untuk menyatakan kehendak dan pendapatnya secara terus terang, atau kalau ia merasa malu menyatakan persetujuannya secara terus terang, bolehlah dengan bersikap diam : “Anak gadis (perawan) itu hendaklah dimintai izinnya (untuk dikawinkan), dan janda itu lebih berhak terhadap dirinya.” (HR. Al Jama’ah kecuali Bukhari) Maksudnya, wanita yang sudah pernah kawin sebelumnya harus menyataka denga terus terang. “Saya suka dan cocok (setuju).” Adapun seorang gadis bila dimintai ijinnya untuk dikawinkan kadang-kadang merasa malu untuk menjawab, lalu ia diam atau tersenyum, maka yang demikian itu sudah dianggap cukup bahwa ia setuju. Tetapi jika ia mengatakan, “Tidak”, atau menangis, maka ia tidak boleh dipaksa. Nabi Muhammad SAW membatalkan perkawinan seorang wanita yang dikawinkan tanpa kerelaannya. Dalam beberapa riwayat juga disebutkan juga ada seorang wanita yang menolak dikawinkan ayahnya. Lalu ia mengadukan hal itu kepada Nabi SAW. Nabi menginginkan ia merelakan ayahnya, sekali, dua kali, tiga kali. Ketika Nabi SAW melihat ia tetap pada pendiriannya, beliau bersabda, “Lakukanlah apa engkau kehendaki.” Tetapi kemudian wanita itu berkata,”Saya perkenankan apa yang dilakukan ayah, tetapi saya ingin agar para bapak (ayah) itu tahu bahwa mereka tidak punya hak apa-apa dalam masalah ini.” Perlu saya tegaskan disini bahwa dalam perkawinan itu harus ada kerelaan si anak dan wali (orang tua) sebagaiman yang disyaratkan oleh banyak fuqaha, sehingga mereka mengatakan wajibnya persetujuan wali untuk kesempurnaan nikah. Disebutkan dalam hadits: “Tidak ada nikah kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil.” (HR. Daruqthni). “Siapa saja wanita yang nikah tanpa memperoleh izin dari walinya, maka nikahnya batal, batal, batal.” (HR. ABU Daud Ath Thayalisi) Selain itu juga harus ada keridhaan ibu. Mengapa ibu? Karena ibulah yang banyak mengerti masalah anak perempuannya. Rasululloh SAW bersabda: “Ajaklah ibu-ibu bermusyawarah tentang anak-anak perempuan mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud) Denga begitu, dia memasuki kehidupan rumah tangga dengan ridha. Ayah ridha, ibu ridha, dan seluruh keluarganya ridha sehingga kehidupan rumah tangganya nanti tidak sesak nafas dan tidak keruh. Yang lebih utama, hendaklah perkawinan dilakukan dengan cara yang dikehendaki oleh syariat. Wallohul Muwaffiq.

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

16 of 50

1/31/2007 Nikah

Oleh: Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi Eri Riefika [mailto:eri@gs.astra.co.id] * kembali ke daftar isi

Fadhilah Menikah
1. Menikah merupakan sunnah yang diagungkan oleh Allah. Al-Qur’an menyebut pernikahan sebagai mitsaqan-ghalizha (perjanjian yang sangat berat). Mitsaqan-ghalizha adalah nama dari perjanjian yang paling kuat di hadapan ‫ .ﷲ‬Hanya tiga kali Al-Qur’an menyebut mitsaqan-ghalizha. Dua perjanjian berkenaan dengan tauhid, sedang yang lain adalah perjanjian ‫ ﷲ‬dengan para Nabi ulul-azmi, Nabi yang paling utama diantara para Nabi. Dan pernikahan oleh ‫ ﷲ‬termasuk yang digolongkan sebagai mitsaqan-ghalizha. ‫ ﷲ‬menjadi saksi ketika seseorang melakukan akad nikah. 2. Setiap jalan menuju mitsaqan-ghalizha dimuliakan oleh ‫ .ﷲ‬Islam memberikan penghormatan yang suci kepada niat dan ikhtiar untuk menikah. 3. Menikah adalah masalah kehormatan agama, bukan sekedar legalisasi penyaluran hubungan biologis dengan lawan jenis. Menikah merupakan amanah ‫ ﷲ‬dan sangat tinggi derajatnya. 4. Menikah berarti menyempurnakan menyempurnakan 2/3 Ad-dien. setengah Ad-dien, bahkan jika masih remaja berarti

5. Islam memperbolehkan kaum wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki yang berbudi luhur, yang ia yakini kekuatan agamanya dan kejujuran amanahnya menjadi suaminya. Sikap ini lebih dekat kepada ridha ‫ ﷲ‬dan untuk mendapatkan pahala-Nya. 6. Pernikahan mendekatkan kepada keselamatan akhirat. 7. Pernikahan bisa kurang barakahnya jika anda mempersulit proses. Suami tidak mudah mencapai akad nikah bukan karena halangan yang bersifat prinsip. 8. Jika anda menyegerakan nikah insya ‫ ﷲ‬keluarga anda akan penuh barakah. Tetapi jika anda tergesagesa, kekecewaan lebih mudah anda dapatkan daripada kebahagiaan. 9. Pernikahan yang barakah insya ‫ ﷲ‬banyak melahirkan keutamaan, termasuk tumbuhnya sunnahhasanah (kebiasaan baru yang baik). 10. Saat ini pernikahan tidak lagi semata-mata merupakan bentuk kepatuhan terhadap ketentuan agama, tetapi sudah merembet jauh menjadi persoalan status sosial, prestise, dan bahkan menyentuh aspek karier. Adat istiadat yang rumit pada sebagian masyarakat juga turut berperan menyebabkan sulitnya menyegerakan nikah meskipun peminangan telah dilakukan. Diantaranya adalah larangan untuk menikah apabila ada saudara yang lebih tua belum menemukan jodohnya. Pada sebagian masyarakat ada jalan keluarnya yaitu berupa pemberian hak kepada yang dilangkahi untuk meminta ganti rugi sesuai yang dikehendakinya. Namun acapkali ini pun mempersulit proses pernikahan karena beratnya “kewajiban” yang harus dipenuhi. 11. Rasulullah saw bersabda: ”Hai Ali, tiga perkara yang hendaknya jangan ditunda-tunda: shalat apabila telah datang waktunya, jenazah manakala sudah siap penguburannya, dan perempuan (gadis maupun janda) apabila telah datang pinangan laki-laki yang sepadan dengannya.” (HR. Ahmad) Berpijak pada Hadits ini, hendaknya jarak antara peminangan dan pelaksanaan akad nikah tidak terlalu jauh. Selama menunggu, ada kesempatan untuk menata hati. 12. Melalui pernikahan, ‫ ﷲ‬memberikan banyak keindahan dan kemuliaan. Seorang wali tidak boleh menunda-nunda pernikahan perempuan yang berada di bawah perwaliannya meskipun ia baru saja menikahkan perempuan lain yang juga berada di bawah perwaliannya. Tegasnya, tidak ada alasan baginya untuk menolak menikahkan anak perempuannya jika jodoh yang sepadan memang telah datang.

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

17 of 50

1/31/2007 Nikah

13. Nasihat dari Syekh Abdullah Nashih Ulwan: “Tetapi pada keadaan tertentu, ada seorang wali yang melarang pernikahan anak perempuannya dan mendiamkan calon suaminya dengan pendiaman yang membingungkan tanpa kejelasan sebab yang dibolehkan syariat di dalam larangannya. Dalam keadaan seperti ini, seorang perempuan boleh mengangkat perkaranya kepada seorang qadhi (hakim). Jika qadhi menilai sebab yang diajukan untuk melarang pernikahan itu tidak masuk akal, dia dapat memerintahkan pernikahannya. Jika sang wali tetap enggan menikahkan, qadhilah yang menikahkan dia dengan orang yang telah meminangnya dan tidak mempedulikan wali nasab pada saat itu.” 14. Sabda Rasulullah saw: “Jika mereka saling berdebat, sulthan (penguasa muslim) adalah wali bagi orang yang tidak mempunyai wali.” 15. Begitu pentingnya pernikahan, sampai-sampai ‫ ﷲ‬berjanji akan mencukupi dari keutamaan rezeki-Nya apabila orang yang dinikahkan itu fakir. ‫ ﷲ‬berfirman: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki maupun hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, ‫ ﷲ‬akan memampukan mereka dengan karunia-Nya (yughnikumullah min fadhlihi). Dan ‫ ﷲ‬maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui.” (An-Nuur: 32) 16. Peringatan Rasulullah: “Bukan termasuk golonganku orang-orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah.” (HR. Thabrani). Lalu, jika bukan golongan Rasulullah, termasuk golongan siapakah kita? 17. Dari Anas r.a, Rasulullah al-ma’shum bersabda: “Barangsiapa mempunyai anak perempuan yang telah mencapai usia dua belas tahun, lalu ia tidak segera mengawinkannya, kemudian anak perempuannya tersebut melakukan suatu perbuatan dosa, maka dosanya ditanggung oleh dia (ayahnya).” (HR. Baihaqi). Insya ‫ ﷲ‬jika kita perhatikan, perbuatan dosa-dosa itu adalah yang berkaitan dengan dorongan-dorongan gharizah (naluri) untuk bersahabat dengan lawan jenis. Sedang saat ini, yang diharapkan adalah kepekaan ayah untuk cepat tanggap terhadap apa yang dirasakan oleh anak gadisnya. 18. Dalam sebuah hadits yang sangat terkenal, Rasulullah bersabda, “Jika datang kepada kalian (wahai calon mertua) orang yang kalian sukai (ketaatan) agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu). Sebab jika kamu sekalian tidak melakukannya, akan lahir fitnah (bencana) dan akan berkembang kehancuran yang besar di muka bumi.” 19. Rasulullah Muhammad saw pernah mengingatkan, “Orang meninggal diantara kalian yang berada dalam kehinaan adalah bujangan.” 20. Rasulullah saw. juga mengingatkan bahwa, “Sebagian besar penghuni neraka adalah orang-orang bujangan.” Mudah-mudahan ‫ ﷲ‬menolong kita dan tidak mematikan kita dalam keadaan masih membujang atau duda. 21. Jika tidak ada hal yang merintangi, mempercepatnya adalah lebih baik bagi keluarga wanita! Mempercepat proses pernikahan termasuk salah satu kebaikan dan lebih dekat dengan kemaslahatan, barakah dan ridha ‫ .ﷲ‬Insya ‫ ﷲ‬pertolongan ‫ ﷲ‬sangat dekat. 22. ‫ ﷲ‬akan melimpahkan ridha-Nya kepada orang yang menyegerakan nikah. Mereka yang menyegerakan nikah atau membantu orang untuk menyegerakan nikah, insya ‫ ﷲ‬akan mendapat rahmat dan perlindungan ‫ ﷲ‬kelak di yaumil-akhir. 23. Sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan merupakan jalan besar menuju keluarga yang barakah, sakinah, mawaddah wa rahmah. 24. Mempersulit proses pernikahan dapat membuka pintu-pintu madharat. Mempersulit proses pernikahan melapangkan jalan fitnah dan mafsadah (kerusakan) masyarakat. 25. Dorongan menikah (kebutuhan terhadap seks) merupakan fitrah dan naluri kemanusiaan, seperti misalnya perasaan cinta untuk memiliki dan naluri akan kebutuhan terhadap makan dan minum. Jika seseorang fasik dan pendosa, maka ia akan memuaskan dorongan seksualnya dengan melakukan perbuatan zina tanpa mempedulikan akibat, petaka dan bahaya yang akan menimpanya. Sedangkan bagi orang yang bertakwa dan menjaga kehormatan farjinya, hal ini merupakan siksaan yang berat.

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

18 of 50

1/31/2007 Nikah

26. Dorongan alamiah untuk mempunyai teman hidup yang khusus ini telah menyita konsentrasi. Daya serap terhadap ilmu tidak tajam. Apalagi untuk shalat, sulit merasakan kekhusyukan. Barangkali itulah sebabnya Rasulullah Muhammad saw menyatakan, “Shalat dua rakaat yang didirikan oleh orang yang menikah lebih baik dari shalat malam dan berpuasa pada siang harinya yang dilakukan oleh seorang lelaki bujangan.” 27. Dalam pandangan Islam, pernikahan merupakan satu bentuk ibadah kedekatan kepada ‫ .ﷲ‬Dengan pernikahan, kaum beriman akan mendapatkan pahala dan balasan jika niatnya ikhlas, keinginannya benar, dan maksudnya dengan pernikahan untuk menjaga dirinya dari perbuatan haram serta tidak dilandasi dengan dorongan nafsu kebinatangan. 28. ‫ ﷲ‬menjadikan pernikahan untuk tujuan pemenuhan dorongan instink dan syahwat seksual. Kalau bukan karena syahwat yang menggelora di dalam diri setiap laki-laki dan perempuan, maka siapa pun tidak akan pernah berpikir untuk menikah! 29. Pernikahan adalah jalan untuk membangun keluarga muslim yang terhormat, dan menyemarakkan dunia dengan keturunan dan anak-anak yang saleh. 30. Dengan menikah, berhubungan intim akan mendapat pahala shalat Dhuha. Kalau anda meremasremas jemari isteri dengan remasan sayang, dosa-dosa anda berdua berguguran. Kalau anda menyenangkan isteri sehingga hatinya bahagia dan diliputi suka cita, anda hampir-hampir mendapatkan ganjaran yang sama dengan menangis karena takut kepada ‫.ﷲ‬ http://riza.taufan.org/archives/2003_07.html * kembali ke daftar isi

Menggapai Pernikahan Barokah
Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillah, Berbicara tentang pernikahan banyak yang menyesal. Menyesal kalau tahu begini nikmat kenapa tidak dari dulu. Menyesal ternyata banyak deritanya. Menikah itu tidak mudah, yang mudah itu ijab kabulnya. Rukun nikah yang lima harus dihapal dan wajib lengkap kesemuanya. Begitu pula dengan syarat wajib nikah pada pria yang harus diperhatikan. Bagaimana jika kita belum punya biaya? Harus diyakini bahwa tiap orang itu sudah ada rezekinya. Menikah itu menggabungkan dua rezeki, rezeki wanita dan laki-laki bertemu, masalahnya adalah apakah rezeki itu diambil dengan cara yang barokah atau tidak. Allah tidak menciptakan manusia dengan rasa lapar tanpa diberi makanan. Allah menghidupkan manusia untuk beribadah yang tentu saja memerlukan tenaga, mustahil Allah tidak memberi rezeki kepada kita. Biaya pernikahan bukanlah perkara mahal, yang penting ada. Maka kalau sudah darurat bahkan mengutang untuk menikah diperbolehkan daripada mendekati zina. Kalau sudah menikah setelah ijab kabul, jangan jadi riya dengan mengadakan resepsi yang mewah. Hal ini tidak akan menjadi barokah. Misalnya dalam mengundang, hanya menyertakan orang kaya saja, orang miskin tidak diundang. Bahkan Rasulullah melarang mengundang dengan membeda-bedakan status. Dalam mengadakan resepsi jangan sampai mengharapkan balasan income yang didapat. Masalah mas kawin yang paling bagus adalah emas dan uang mahar yang paling bagus adalah uang. Berilah wanita sebanyak yang kita mampu, jangan hanya berkutat dengan seperangkat alat sholat saja. Rasulullah lebih mengutamakan emas dan uang dan inilah hak wanita. Awal nikah jangan membayangkan punya rumah yang bagus. Maka perkataan terbaik suami kepada istrinya adalah menasehati istri agar dekat dengan Allah. Jika istri dekat dengan Allah maka ia akan dijamin oleh Allah mudah-mudahan lewat kita. Tiga rumus yang harus selalu diingat terdapat dalam surah Al-Asyr. Setiap bertambah hari, bertambah umur, kita itu merugi kecuali tiga golongan kelompok yang beruntung. Golongan pertama adalah orang yang selalu berpikir keras bagaimana supaya keyakinan dia kepada Allah meningkat. Sebab semua

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

19 of 50

1/31/2007 Nikah

kebahagiaan dan kemuliaan itu berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kepada Allah. Tidak ada orang ikhlas kecuali yakin kepada Allah. Tidak ada sabar kecuali kenal kepada Allah. Tidak ada orng yang zuhud kepada dunia kecuali orang yang tahu kekayaan Allah. Tidak ada orang yang tawadhu kecuali orang yang tahu kehebatan Allah. Makin akrab dan kenal dengan Allah semua dipandang kecil. Setiap hari dalam hidup kita seharusnya dipikirkan bagaimana kita dekat dengan Allah. Kalau Allah sudah mencintai mahluk segala urusan akan beres. Salah satu bukti seperseratus sifat pemurah Allah yang disebarkan kepada seluruh mahlukNya bisa dilihat sikap seorang ibu yang melahirkan seorang anak Kesakitan waktu melahirkan, hamil sembilan bulan tanpa mengeluh yang belum tentu anak tersebut akan membalas budinya. Tidak tidur ketika anaknya sakit, mengurus anak dari mulai TK sampai SMA. Memikirkan biaya kuliah. Mulai nikah dibiayai sampai punya anak bahkan juga diterima tinggal di rumah sang ibu. Tetapi kerelaannya masih saja terpancar. Itulah seperseratus sifat Allah. Selalu komitmen mau kemana rumah tangga ini akan dibawa. Mungkin sang ayah atau ibu yang meninggal lebih dulu yang penting keluarga ini akan kumpul di surga. Apapun yang ada dirumah harus menjadi jalan mendekat kepada Allah. Beli barang apapun harus barang yang disukai Allah. Supaya rumah kita menjadi rumah yang disukai Allah. Boleh punya barang yang bagus tanpa diwarnai dengan takabur. Bukan perkara mahal atau murah, bagus atau tidak tetapi apakah bisa dipertanggungjawabkan disisi Allah atau tidak. Bahkan dalam mendengar lagu yang disukai Allah siapa tahu kita dipanggil Allah ketika mendengar lagu. Rumah kita harus Allah oriented. Kaligrafi dengan tulisan Allah. Kita senang melihat rumah mewah dan islami. Jadikan semua harta jadi dakwah mulai mobil sampai rumah. Tiap punya uang beli buku, buat perpustakaan di rumah untuk tamu yang berkunjung membaca dan menambah ilmu. Jangan memberi hadiah lebaran hanya makanan, coba memberi buku, kaset dan bacaan lain yang berguna. Jangan rewel memikirkan kebutuhan kita, itu semua tidak akan kemana-mana. Allah tahu kebutuhan kita daripada kita sendiri. Allah menciptakan usus dengan disain untuk lapar tidak mungkin tidak diberi makan. Allah menyuruh kita menutup aurat, tidak mungkin tidak diberi pakaian. Apa yang kita pikirkan Allah sudah mengetahui apa yang kita pikirkan. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana dekat dengan Allah, selanjutnya Allah yang akan mengurusnya. Kita cenderung untuk memikirkan yang tidak disuruh oleh Allah bukan yang disuruhNya. Kalau hubungan kita dengan Allah bagus semua akan beres. Barang siapa yang terus dekat dengan Allah, akan diberi jalan keluar setiap urusannya. Dan dijamin dengan rezeki dari tempat yang tidak diduga-duga. Dan barang siapa hatinya yakin Allah yang punya segalanya, akan dicukupkan segala kebutuhannya. Jadi bukan dunia ini yang menjadi masalah tetapi hubungan kita dengan Allah-lah masalahnya. Golongan kedua adalah rumah tangga yang akan rugi adalah rumah tangga yang kurang amal. Jangan capai memikirkan apa yang kita inginkan, tapi pikirkan apa yang bisa kita lakukan. Pikiran kita harusnya hanya memikirkan dua hal yakni bagaimana hati ini bisa bersih, tulus, dan bening sehingga melakukan apapun ikhlas dan yang kedua teruslah tingkatkan kekuatan untuk terus berbuat. Pikiran itu bukan mengacu pada mencari uang tetapi bagaimana menyedekahkan uang tersebut, menolong, dan membahagiakan orang dengan senyum. Sehingga dimanapun kita berada bagai pancaran matahari yang menerangi yang gelap, menuai bibit, menyemarakkan suasana. Sesudah itu serahkan kepada Allah. Setiap kita memungut sampah demi Allah itu akan dibalas oleh Allah. Rekan-rekan Sekalian, Mari kita ubah paradigmanya. Rumah tangga yang paling beruntung adalah rumah tangga yang paling banyak produktifitas kebaikannya. Uang yang paling barokah adalah uang yang paling tinggi produktifitasnya, bukan senang melihat uang kita tercatat di deposito atau tabungan. Uang sebaiknya ditaruh di BMT. Yang terjadi adalah multiefek bagi pihak lain, hal ini menjadikan uang kita barokah. Daripada uang kita disimpan di Bank kemudian Banknya bangkrut, disimpan di kolong kasur takut dirampok. Kaya boleh asal produktif. Boleh mempunyai rumah banyak asal diniatkan agar barokah demi Allah itu akan beruntung. Beli tanah seluas-luasnya. Sebagian diwakafkan, kemudian dibangun masjid. Pahala akan mengalir untuk kita sampai Yaumil Hisab. Makanya terus cari uang bukan untuk memperkaya diri tapi mendistribusikan untuk ummat. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah. Jadi pikiran kita bukan akan mendapat apa kita? tapi akan berbuat apa kita?. Apakah hari ini saya sudah menolong orang, sudahkah senyum, berapa orang yang saya sapa, berapa orang yang saya bantu?

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

20 of 50

1/31/2007 Nikah

Makin banyak menuntut makin capai. Makin kuat kita menuntut kalau Allah tidak mengijinkan maka tidak akan terwujud. Kita minta dihormati, malah Allah akan memperlihatkan kekurangan kita. Kita malah akan dicaci, hasilnya sakit hati. Orang yang beruntung, setiap waktu pikirannya produktif mengenai kebaikan. Selagi hidup lakukanlah, sesudah mati kita tidak akan bisa. Kalau sudah berbuat nanti Allah yang akan memberi, itulah namanya rezeki. Orang yang beruntung adalah orang yang paling produktif kebaikannya. Yang ketiga rumah tangga atau manusia yang beruntung itu adalah pikirannya setiap hari memikirkan bagaimana ia bisa menjadi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran dan ia pecinta nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Setiap hari carilah input nasihat kemana-mana. Kata-kata yang paling bagus yang kita katakan adalah meminta saran dan nasihat. Ayah meminta nasihat kepada anak, niscaya tidak akan kehilangan wibawa. Begitu pula seorang atasan di kantor. Kita harus berusaha setiap hari mendapatkan informasi dan koreksi dari pihak luar, kita tidak akan bisa menjadi penasihat yang baik sebelum ia menjadi orang yang bisa dinasihati. Tidak akan bisa kita memberi nasihat jika kita tidak bisa menerima nasihat. Jangan pernah membantah, makin sibuk membela diri makin jelas kelemahan kita. Alasan adalah kelemahan kita. Cara menjawab kritikan adalah evaluasi dan perbaikan diri. Mungkin membutuhkan waktu sebulan bahkan setahun. Nikmatilah nasihat sebagai rezeki dan bukti kesuksesan hidup. Sayang hidup hanya sekali dan sebentar hanya untuk menipu diri. Merasa keren di dunia tetapi hina dihadapan Allah. Merasa pinter padahal bodoh dalam pandangan Allah. Mudah-mudahan kita bisa menerapkan tiga hal diatas. Setiap waktu berlalu tambahlah ilmu agar iman meningkat, setiap waktu isi dengan menambah amal. Alhamdulillah. (neng_arie) KH. Abdullah Gymnastiar, Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Bandung http://awie.crimsonblog.com/ * kembali ke daftar isi

Bukankah Semua itu Indah?
Menikah itu luar biasa. Mengapa demikian? Karena dalam pernikahan itu pasti kita menemukan sesuatu yang baru. Rasulullah SAW pernah menegaskan agar kita menyegerakan menikah tetapi tidak terburuburu. Dalam pernikahan itu pasti terdapat ibadah yang banyak sekali, seperti seorang suami dalam mendidik keluarganya; istri,dan anak-anaknya. Memperlakukan mereka dengan baik, memberikan nafkah ke mereka, mengajarkan agama, dll. Subhanallah... bukankah semua itu indah? Seorang istri juga seperti itu, sebagai penghibur untuk suaminya, menjaga kehormatan keluarga, mendidik anak2nya, memberikan dorongan yang positif ke suaminya agar mau berjuang, dl. Subhanallah... bukankah semua itu indah? Ketika kita memilih pasangan hiduppun, berhati-hatilah jangan kita terjebak pada kriteria yang duniawi. Karena kalau demikian, akan banyak kriteria yang kita maui. Ingatlah, yang sempurna yang kita mau maka kita pasti akan kecewa. Yang penting dia itu sholeh/sholehah, bertanggung jawab dan adil. Ini bisa kita lihat dari kesehariannya; perilkau dia, lihat dari gaya bicaranya, dll. Semua itu akan membentuk suatu kepribadian. Orang yang takut kepada Allah pasti akan berbeda dengan yang lainnya. Ini bisa memberikan kepada kita gambaran apakah dia itu seorang yang baik atau tidak, sementara apakah ia akan menjadi istri atau suami yang baik. Itu akan teruji setelah menikah nanti. Seorang Istri itu dapat kita katakan baik kalau dia sudah menjalani hidup sebagai seorang istri. Begitupula sebaliknya dengan seorang suami. Tidak bisa katakan pacar itu baik jadi seorang suami atau istri karena dia belum pernah menjadi suami atau istri seseorang. Pernikahan itu adalah indah karena dari pernikahan itu halal-lah yang tadinya haram. Sucilah tadinya kotor. Pernikahan adalah amanah yang luar biasa yang dianugerahi sang Kholiq kepada kita. Pahala-lah itu yang kita reguk dalam petalian hati (ta`liful qulub) suami/istri. Subhanallah... bukankah semua itu indah?

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

21 of 50

1/31/2007 Nikah

Dari : seorang sahabat http://awie.crimsonblog.com/ * kembali ke daftar isi

Singkirkan Segala Hambatan Psikologis
Ada hal yang menarik dalam fiqh Islam yaitu klasifikasi hukum pernikahan. Ada wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Awalnya memang tidak terbagi, tetapi karena adanya banyak kasus serta adanya pertimbangan maslahat dan mudhorot para ulamapun mulai membagi hukum pernikahan itu kedalam lima klasifikasi hukum tersebut. Namun pada dasarnya secara umum pernikahan digolongkan sebagai sunnah para Nabi. Sehingga pada masa sahabat, melajang sangat tidak dianjurkan, dan bahkan dapat dianggap tercela. Hukum Wajib, apabila terkait dengan mencegah fitnah dan tujuan menjaga diri. Namun bila seseorang belum mampu menikah, maka dianjurkan untuk berpuasa. Akan tetapi puasapun tidak juga dapat mencegahnya dari fitnah, maka orang tersebut terkena hukum wajib Nikah. Seseorang yang terkena hukum sunnah untuk menikah, jika menikah itu memberikan kontribusi positif bagi diri dan masyarakatnya. Sementara hukum mubah muncul jika menikah akan bertambah baik, jika tidakpun tidak ada negatif bagi dirinya. Khalifah Umar bin Khattab pernah bertanya, "Kenapa melajang? Nanti engkau akan menjadi saudaranya syetan." Itu yang dikatakan Umar dalam kondisi melajang yang belum menampakkan efek negatif. Maksudnya agar pemuda berhati-hati melajang. Melajang berarti memubazirkan potensi yang ada dalam diri seseorang seperti potensi untuk mendidik atau membahagiakan orang lain. Jika itu dibiarkan, maka itu tidak akan bermanfaat dan tidak menyebarkan kurnia Allah SWT. Dalam Surat Annur 32, terdapat kata "mampu". Kata ini berkaitan dengan pengertian kemampuan seseorang dalam standard dasar. Pada masa kini, mampu didefinisikan dengan kemampuan membawa diri, memimpin istri, dan minimal ada harta. Persoalannya adalah keyakinan mereka untuk hidup mandiri yang masih kurang. Namun, saat ini banyak laki-laki yang dihantui oleh rasa takut. Sebenarnya mereka bukan tidak mampu secara ekonomis untuk menikah. Sebab mereka sudah punya gaji bulanan dan itu cukup sudah dikatakan mampu. Jadi sekali lagi persoalannya adalah keberanian untuk hidup mandiri. Ketakutan pada kerentanan ketika sudah menikah nanti tidak perlu terjadi. Sebab harapan dan optimisme adalah karunia Allah SWT. Memang kita tidak bisa menutup mata terhadap adanya konflik ketika sudah menikah nanti yang biasa terjadi. Tapi itu merupakan hal yang biasa dalam kehidupan bersama. Ketakutanketakutan itu muncul bisa jadi karena opini yang dibentuk melalui media. Opini tersebut bertujuan untuk menghancurkan lembaga pernikahan. Jadi kita tetap perlu optimis bahwa rumah tangga yang kita bentuk akan menjadi keluarga yang bahagia. (KH. Rahmat Abdullah, disarikan dari Majalah Safina Edisi 7/ tahun I/2003) Oleh: Awie http://awie.crimsonblog.com/ * kembali ke daftar isi

Cinta Hakiki
Cinta artinya penghambaan orang yang mencintai kepada yang dicintai. Cinta yang tulus mengharuskan penunggalan sang kekasih, tidak menciptakan persekutuan antara dirinya dengan yang lainnya dalam kecintaannya itu. Namun bagaimanakah dapat kita bahagikan cinta di dalam diri yang lemah ini agar tidak termasuk di dalam golongan yang di firmankan oleh Allah di dalam surah Al-Baqaroh ayat: 165

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

22 of 50

1/31/2007 Nikah

"Dan diantara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintaiNya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." Mereka mencintai anak dan isteri lebih daripada sang kekasih yang termulia yang telah mencipta dan mengurniakan segala rahmatNya kepadanya. Di dalam kehidupan yang serba moden dan dipenuhi dengan kemudahan, manusia terlalu sibuk mengejar kekasih lain, seperti harta dan pangkat yang hanya merupakan tipu daya kehidupan yang fana. Lipatan sejarah telah membuktikan kepada kita akan perlunya kasih itu ditujukan kepada Allah. Contohnya, tatkala Nabi Ibrahim alaihissalam dikurniakan dengan anaknya Ismail alaihissalam dan cinta beliau sudah mula untuk condong kepada anaknya maka Allah s.w.t telah memerintahkan kepadanya agar menyembelih anaknya untuk membuktikan pengorbanan yang sejati kepada sang kekasih yang tunggal. Sesungguhnya kemanisan iman itu tidak akan dirasakan kecuali dengan ditujukan segala jiwa dan raga kepada sang kekasih yang setia menunggu sepertimana sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud: "Tidak akan mendapat manisnya iman kecuali orang yang pada dirinya terdapat tiga perkara iaitu: Hendaklah Allah dan RasulNya lebih dia cintai daripada cintanya kepada selain keduanya, hendaklah seseorang mencintai orang yang lain tidak lain hanya semata-mata untuk Allah, dan dia tidak suka dikembalikan kepada kekufuran setelah Allah telah menyelamatkannya daripada kekufuran itu, sebagaimana dia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam api neraka." Pada terbitan ini akan kami ketengahkan jenis cinta dari sudut pandangan seorang `ulama yang masyhur yaitu Imam Ibnu Qayyim AlJauziyyah agar kita dapat mengenal pasti akan cinta yang bahaya. Diantara jenis cinta itu ialah: 1. Cinta kepada Allah. Tapi cinta sekadar ini tidak cukup untuk menyelamatkan seseorang itu daripada siksa api neraka. 2. Mencintai apa yang dicintai oleh Allah. Cinta inilah yang memasukkan seseorang ke dalam Islam dan mengeluarkannya daripada kekufuran. 3. Cinta karena Allah dan bagi Allah.Ini termasuk keharusan mancintai apa yang dicintai Allah dan mencintai apa yang dicintai Allah tidak akan lurus kecuali dengan cinta ini. 4. Cinta sesuatu dan menyamakan cintanya itu dengan Allah. Ini ialah merupakan cinta yang berbau syirik. 5. Cinta yang berbentuk naluri di dalam jiwa manusia. Oleh: Awie http://awie.crimsonblog.com/ * kembali ke daftar isi

Tentang Cinta
Cinta, di banyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya. Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya. Karena cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah. Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan. Bandung Bondowoso tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

23 of 50

1/31/2007 Nikah

Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta. Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta. Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membukan mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

24 of 50

1/31/2007 Nikah

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingan ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Oleh: Awie http://awie.crimsonblog.com/ * kembali ke daftar isi

Menyegerakan Pernikahan
Tiap-tiap lelaki mendambakan kebahagiaan dalam pernikahannya. Langkah pertama yang harus diambil oleh seorang lelaki untuk mencapai niatan tersebut adalah mendapatkan seorang wanita shalihah sebagai perhiasan hidup. Jika seorang lelaki merasa telah siap secara mental dan fisik, maka Rasulullah SAW dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim bersabda: “Hai para pemuda, barangsiapa telah mampu menikah, maka menikahlah. Sebab menikah dapat memejamkan mata dan lebih bisa memelihara diri dari perzinahan. Dan barangsiapa belum mampu, maka hendaklah berpuasa. Sebab berpuasa dapat dapat mengurangi syahwat.” Sabda Rasulullah SAW tersebut setidaknya mengandung beberapa hal, diantaranya perintah untuk menyegerakan pernikahan, manfaat dari menyegerakan pernikahan tersebut, serta ikhtiar bagi seorang lelaki yang belum siap lahir-batinnya. Seorang lelaki dilahirkan dengan potensi fisiologis lebih kuat daripada seorang wanita. Karena kodratnya itu, dorongan pemenuhan kebutuhan biologis seorang pria cenderung lebih tinggi daripada wanita. Dalam memenuhi dorongan pemenuhan kebutuhan biologis itu, terdapat dua jalan yang saling berlawanan. Jalan yang pertama adalah pemenuhan kebutuhan biologis melalui pergaulan antara suami-istri yang tentunya telah melalui suatu jenjang pernikahan. Jalan yang kedua adalah pemenuhan kebutuhan biologis melalui pergaulan antar lawan jenis diluar proses menikah, atau lebih dikenal dengan istilah hubungan seks pranikah. Jalan pemenuhan kebutuhan biologis yang pertama adalah jalan yang telah dihalalkan oleh agama Islam. Namun demikian, faktor-faktor kontributor yang berpengaruh kuat terhadap keputusan seseorang untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, justru terdapat pada jalan kedua yang secara syar’i malah mengandung kemudaratan yang amat besar. Meski dampaknya negatif, kenyataannya setiap lelaki seringkali menempuh jalan pintas untuk memenuhi dorongan kebutuhan biologisnya, melalui hubungan seks pra-nikah. Ada beberapa sebab terjerumusnya seorang lelaki sampai ia melakukan hubungan seksual dengan wanita yang bukan muhrimnya. Sebab yang pertama adalah kurang kuatnya landasan ilmu syari’at Islam dalam pribadinya, sehingga ia sama sekali tidak memahami murka Alloh SWT dan tipuan setan dibalik perbuatan yang tampak indah dan penuh kenikmatan, padahal sebenarnya menjebloskan dirinya pada penjara kehinaan. Dan sebab yang kedua adalah kurang kuatnya pengetahuan ataupun kesadaran diri dalam hal ilmu kesehatan, sehingga ia tidak hirau terhadap dampak negatif secara fisik maupun mental, ketika seorang lelaki menempuh hubungan seks diluar cara yang telah digariskan.

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

25 of 50

1/31/2007 Nikah

Difirmankan dalam Al-Qur’an Nur Karim, bahwasanya Alloh Azza Wa Jalla menimpakan kehinaan pada diri seorang pezina selama hidupnya di dunia sampai kehidupannya di akhirat kelak. Pada Surat An-Nur ayat 23, Alloh SWT telah berfirman bahwa :...laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik...” Na’udzubillah, seandainya diri kita ini seorang pezina, maka selama kita hidup akan didampingi oleh seorang pezina, apabila kita merunut pada makna daripada firman Alloh SWT tersebut. Sudah tentu kita akan merasa tersiksa, sebab keadaan yang kita alami tersebut merupakan pengingkaran dari fitrah kita sebagai manusia, sedangkan kita mau tak mau harus menerima konsekuensi tersebut. Selain itu, menurut kajian ilmu kesehatan, secara faktual hubungan seks pra-nikah merupakan penyebab dari berbagai penyakit kotor dengan dampak fisiologis maupun dampak psikologis negatif yang berat untuk ditanggung penderitanya. Penyakit seksual semacam gonorhoea ataupun A.I.D.S yang amat sulit disembuhkan terbukti destruktif menghancurkan kondisi mental maupun fisik pelaku hubungan seksual yang tidak halal, sehingga ia tidak lagi dapat menjalani kehidupan secara normal. Melihat mudarat perbuatan zina dari kacamata syari’at maupun ilmu medis, maka hendaknya setiap lelaki muslim dapat menyegerakan pernikahannya andai ia telah mampu secara lahir maupun batin. Pemeliharaan diri dari perzinaan adalah satu manfaat utama yang diungkapkan oleh hadits Rasulullah SAW di awal tulisan ini. Dengan pemeliharaan diri dari perbuatan hina tersebut, Insya Alloh kita akan ditakdirkan didampingi oleh seorang wanita yang shalihah. Dengan demikian terlewatilah satu tahapan dalam upaya meraih kebahagiaan dalam pernikahan yang tentu saja diharapkan oleh setiap lelaki muslim. Dan seandainya seorang lelaki dihadapkan pada ketidaksiapan lahir-batin untuk melangsungkan pernikahan, maka hendaknya ia memperbanyak puasa. Dengan berpuasa, diri kita akan senantiasa terlindungi dari kesengsaraan yang berasal dari godaan syaitan yang terkutuk. (ae) Oleh A. Eddy Adriansyah ©2003 http://www.manajemenqolbu.com * kembali ke daftar isi

Menggapai Faedah Pernikahan
Ma’rifatun Nabi adalah satu diantara tiga cabang kema’rifatan, selain ma’rifatullah dan ma’rifatud din. Dalam kitab Syarah Tsalatsatul Ushul karya Syaikh Muhammad Shalih bin ‘Utsaimin, ma’rifatun nabi meliputi lima hal. Salah satu diantara kelima hal tersebut adalah mengenali sunnah-sunnahnya. Terangkum dalam AsSunnah tersebut, hadits-hadits yang pada intinya mengandung pelajaran tentang apa yang dapat dilakukan oleh seorang hamba untuk dicintai dan mencintai Alloh Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya. Jalan terbaik untuk menggapai perasaan cinta tersebut adalah melalui ibadah. Ada ibadah yang bersifat mahdhah seperti shalat, zakat, puasa atau haji. Adapula ibadah yang bersifat ghair mahdhah seperti belajar, bekerja, dan juga melaksanakan pernikahan. Berkenaan dengan pernikahan, pada sebuah haditsnya Rasulullah SAW bersabda, “Nikah itu adalah sunnahku. Barangsiapa yang mencintai agamaku, maka hendaklah mengikuti sunnahku.” Dari sabda Rasulullah SAW itu, dapat disimpulkan bahwasanya pernikahan didasari oleh cinta, khususnya kecintaan pada agama jika mengacu pada kalimat di dalam hadits tersebut. Seseorang yang mencintai agamanya dituntut untuk konsekuen terhadap niat. Dalam Islam, seorang muslim wajib menyerahkan diri kepada Alloh SWT dengan semurni-murninya tauhid. Selain itu, Ia dituntut pula untuk patuh dan mentaati semua perintah-Nya, jika mengaku cinta kepada Islam. Pernikahan adalah sebuah episode yang akan menguji tingkat kecintaan seseorang terhadap agama, yang berarti mencintai Alloh SWT beserta syari’at-syari’atnya. Untuk itulah setiap pasangan yang akan menikah, hendaknya mengetahui keutamaan-keutamaan syari’at sebelum dan sesudah mereka melaksanakan walimatul ‘ursy. Setelah mereka faham akan faedah-faedah di balik suatu pernikahan, maka hendaknya mereka melaksanakan ketentuan-ketentuan syari’at tersebut dalam mengarungi bahtera rumahtangga. Faedah serta hikmah akan terlihat kemudian, hingga akhirnya mereka dapat mengecap apa yang dinamakan cinta yang hakiki. Sebab, benih cinta dalam rumahtangga yang dibentuk melalui pernikahan tumbuh dan berkembang dalam ridha Alloh SWT. Semakin keras upaya pasangan yang mengarungi bahtera rumahtangga dalam menjalankan segala ketentuan Alloh Azza Wa Jalla, maka semakin besar pula hikmah cinta yang diberikan-

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

26 of 50

1/31/2007 Nikah

Nya. Tak ada jalan lain untuk kesempurnaan cinta dalam rumahtangga selain menjalankan syari’at-Nya secara sempurna seperti yang sudah disinggung sebelumnya. Mengenai faedah pernikahan, Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin telah mengemukakan bahwasanya diantara faedah pernikahan adalah berpeluang mendapatkan anak yang saleh, menjaga syahwat, keteraturan hidup berumahtangga, memperbanyak keluarga, dan pahala yang diraih sebab kesungguhan menafkahi keluarga. Pada Ensiklopedi Islam Untuk Pelajar diterangkan pula hikmah dari suatu pernikahan, yaitu: 1. Menyalurkan naluri seksual secara sah dan benar. Islam menunjukkan bahwa inilah yang membedakan manusia dengan binatang. 2. Membina keluarga atau rumahtangga yang penuh kasih sayang dan ketentraman. 3. Memperoleh anak dan keturunan secara sah serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam memelihara dan mendidik anak. 4. Menyatukan keluarga kedua belah pihak, sehingga hubungan silaturrahmi semakin kuat dan terbentuk lebih banyak keluarga baru. Al-Qur’an Nur Karim sendiri telah menjelaskannya pada surah 30 ayat 21, bahwa pernikahan diperintahkan Alloh SWT, agar manusia senantiasa merasa tentram, dan dapat memenuhi kebutuhan fitrah akan kasih sayang. Pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana cara sebuah pasangan untuk mencapai faedah dan manfaat pernikahan tersebut dalam mahligai rumah tangga? Syarat utama untuk menggapai kemaslahatan sebuah rumah tangga tak lain adalah ilmu. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwasanya tidak ada bekal hidup yang lebih baik selain ilmu. Dengan ilmu, manusia mendapatkan petunjuk untuk berbuat dan mencapai apa yang dicita-citakan. Dengan ilmu pula, manusia dapat membedakan hal yang baik dengan hal yang buruk, sehingga akhirnya ia dapat menentukan pilihan bagi diri maupun orang lain. Berkenaan dengan ilmu sebagai bekal dalam pernikahan, K.H. Miftah Faridl dalam bukunya 150 Masalah Nikah Dan Keluarga telah mengutip beberapa ayat Al-Qur’an maupun Hadits yang wajib untuk diamalkan. Menurut risalah itu, suami atau istri memiliki kewajiban masing-masing. Kewajiban Suami: 1. Bergaul dengan istrinya secara ma’ruf, serta bersabar atas kekurangannya (Q.S. An-Nisa’: 19). 2. Menggauli istri dengan niat untuk melakukan amal saleh serta mendapatkan keturunan yang saleh (Q.S. Al-Baqarah: 223). 3. Berbuat adil terhadap istri (Q.S. Ath-Thalaaq: 6). 4. Menafkahi istri dan keluarga sekuat kemampuannya (Q.S. Ath-Thalaaq: 7). 5. Memperlakukan istri dengan lemah lembut serta dengan akhlak yang baik (H.R. Bukhari-Muslim). Kewajiban Istri: 1. Taat dan patuh kepada suami (H.R. Tirmidzi). 2. Melayani suami dengan sebaik-baiknya (H.R. Muttafaq ‘Alaih). 3. Menjaga rahasia suami (Q.S. An-Nisa’:34). 4. Tidak bepergian dan berpuasa tanpa izin suami (H.R. Bukhari Muslim).

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

27 of 50

1/31/2007 Nikah

5. Menjaga harta suami (H.R. Nasa’i). Andai seorang suami maupun istri mampu memenuhi atau setidaknya berusaha sekuat tenaga menjalankan kewajiban-kewajibannya itu, Insya Alloh, akan didapati rahmah (cinta kasih) maupun mawaddah (menyayangi) didalam rumah tangga. Rahmah dan mawaddah tersebut, pada hakikatnya adalah berkah yang tiada terhingga dari Alloh Azza wa Jalla. Suatu perwujudan cinta yang dikaruniakannya kepada dua insan yang mengarungi kehidupan berkeluarga sesuai tuntunan-Nya dan sunnah Rasul-Nya. (ae) Oleh A. Eddy Adriansyah ©2003 http://www.manajemenqolbu.com * kembali ke daftar isi

Membangun Rumah Tangga Sakinah
Rumah tangga bahagia adalah dambaan hampir setiap kaum muda mudi sebelum melangkahkan kakinya ke jenjang pernikahan. Bayangan masa depan yang indah dan menggembirakan merupakan idaman setiap pasangan yang baru saja melangkahkan kakinya di pelaminan. Namun tak sedikit rumah tangga yang baru beberapa saat terbangun, kandas begitu saja, dan berakhir pada perceraian. Banyak orang merasa ragu dan gemetaran sebelum maju ke gerbang pernikahan. Walhasil, tidak sedikit yang mengurungkan pernikahan, karena takut dirinya akan terkubur dalam puingpuing kehancuran. Keraguan antara menikah atau tidak, jangan sampai ada pada diri muslim. Ia harus secara perwira, menentukan antara berumahtangga atau tidak, sesuai dengan ajaran suci Ilahi yang dianutnya dan kemampuan yang dimilikinya.

Lebih Utama Menikah atau Tidak?
Setiap manusia memiliki naluri seksual, naluri yang mendorongnya untuk mendekati lawan jenisnya dan melakukan hubungan intim dengannya. Sebagaimana firman Allah dalam QS.Ali Imran: 14 “Zuyyina linnasi hubbusy-syahawaati minan-nisaa’i wal baniina…” (Telah dihiasi manusia kecintaan kepada wanita -lawan jenisnya- dan anak-anak…) Naluri yang sedemikian rupa, sebenarnya bukan hanya milik manusia saja. Tetapi juga milik makhlukmakhluk Allah lainnya. Misalnya, kita perhatikan sejenak, betapa bunga memekarkan kelopaknya guna menunggu kedatangan kumbang. Dan kupu-kupu, agar mengantarkan serbuk sarinya ke kembang berkepala putik. Begitu pula sepasang burung manyar yang merangkai sarangnya untuk bercumbu. Itu semua, tidak lepas dari naluri yang telah diberikan Allah kepada makhluk-makhlukNya untuk berpasangpasangan. Allah berfirman dalam QS.Yasin: 36, “Subhaanalladzi kholaqol azwaaja kullaha tsumma tunbitul ardhu wa min anfusihim wa mimma laa ya’lamuun” “Mahasuci Tuhan yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”. Dan sungguh tidak sia-sia apa yang Allah ciptakan. Berupa naluri untuk berpasang-pasangan. Karena dengan itu, makhluk-makhluk tadi mampu menjaga eksistensinya dan mengembangbiakkan keturunannya. Diantara makhluk-makhluk itu, manusia dibebani tanggungjawab yang lebih, yakni untuk memakmurkan bumi. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Huud: 61, “Huwa ansya’akum fil ardhi wasta’marokum fiiha” (Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikanmu pemakmurnya) Maka untuk memakmurkan bumi ini, diperlukan masyarakat yang kuat (potencial mass). Dan masyarakat yang kuat pun tidak akan terwujud tanpa adanya keluarga-keluarga yang kuat pula. Adapun untuk mewujudkan keluarga itu, tak lain adalah dengan menjalin pernikahan. Menurut Imamul Ghozali, dalam salah satu karya tashawufnya “Ihyaa’u ‘Uluumuddin” disebutkan, bahwa pernikahan memiliki kekurangan dan kelebihan (kebaikan). Diantara kekurangannya adalah beban untuk

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

28 of 50

1/31/2007 Nikah

mencari nafkah lebih banyak, perhatian yang lebih untuk membina keluarga sakinah, mendidik dan mendewasakan anak-anak yang merupakan amanah Tuhan, dan juga menjadi penghalang untuk memusatkan perhatian pada Tuhan dan kepentingan akhirat. Dibalik kekurangan-kekurangan itu, pernikahan ternyata memiliki banyak faedah. Al Ghozali merincinya dalam lima faedah: 1. Faedah pertama, adalah melestarikan keturunan manusia di muka bumi. Dan pada faedah pertama ini tersimpan banyak keuntungan lagi. Pertama, terjadi persesuaian antara kehendak Allah untuk melestarikan jenis manusia dan usaha manusia mendapatkan anak. Kedua, sebagai upaya mencintai rasulullah (mahabbatur rasul) dengan mengikuti sunahnya. Ketiga, anak shaleh yang mendoakan orangtuanya, yang tidak akan terjadi tanpa adanya pernikahan. Keempat, Syafa’at rasul yang disebabkan kematian anak diusia dini (sebelum baligh). Sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat Ibnu Hibban. 2. Faedah kedua, bahwa pernikahan dapat memecahkan syahwat, membentengi dari godaan syaithan dan menghindari fitnah. 3. Faedah ketiga, jiwa akan merasa tenang dan bugar kembali dari keletihan ketika seseorang menyempatkan diri bercanda dan bercumbu dengan pasangannya, sehingga memberi motivasi baru dalam beribadah. Sebagaimana Nabi saw bersabda: “Dijadikan aku menyukai akan tiga hal dari duniamu, yaitu harum-haruman, wanita dan kesenangan hatiku pada sholat.” (HR.an Nasa’I dan al Hakim) 4. Faedah keempat, adanya seorang tempat berbagi dalam pekerjaan rumahtangga, sehingga sebagian waktu dapat dimanfaatkan untuk mencari ilmu dan melakukan ibadah khusus. 5. Faedah kelima, pernikahan dapat dijadikan sarana mujaahadatun-nafs (pengendalian diri) dan penguji kesabaran, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan seorang istri. Nabi bersabda: ”Apa yang dinafkahkan oleh seorang suami kepada istrinya adalah shodaqah. Sesungguhnya seorang suami akan diberi pahala karena dia memberikan makanan ke mulut isterinya”(HR.Bukhori dan Muslim). Dari lima faedah diatas, jelas bahwa pernikahan adalah satu hal yang sangat dianjurkan. Sebagaimana ungkapan firman Allah dalam QS.An Nuur:32, Allah menegaskan: “Wa ankihuul ayaamaa minkum washshoolihiina min ‘ibaadikum wa imaa-ikum. In yakuunuu fuqaraa’a yughnihumullahu min fadhlihi. Wallahu waasi’un ‘aliim” (Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak untuk kawin- dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS.AnNuur:32). Kata “Ayyaamaa” diayat diatas adalah bentuk plural (jama’) dari kata (isim mufrad) “aymatun” yang berarti “tarammul” yaitu wanita-wanita janda yang ditinggal mati suaminya atau wanita-wanita yang sendirian yang tak kunjung menemui pasangan hidupnya. Sehingga kedudukan mereka adalah seperti anak-anak yatim (yataama) yang bingung hendak kemana harus mengadu, tidak ada tempat untuk “sharing of love” baik dalam suka maupun duka. Mereka semua adalah orang-orang yang membutuhkan kepedulian kita. Kepedulian seorang mukmin kepada mukmin lainnya adalah mutlak. Allah berfirman didalam QS. At Taubah: 71: “Wal mukminuuna wal mukminaatu ba’dhuhum awliyaa’u ba’dhin” (Orang-orang mukmin lakilaki dan mukmin perempuan, sebagian dari mereka adalah awliya -pelindung dan penolong- atas sebagian yang lain). Hendaknya yang kuat menolong yang lemah, yang beruntung membantu yang kurang beruntung, dan seterusnya.

Mencapai Keluarga Sakinah
Hubungan suami istri adalah bukan sebatas hubungan fisik-biologis semata (robiithoh jasadiyyah), tetapi juga hubungan rohaniah (robiithoh ruhaniyyah) antara dua insan yang saling membutuhkan. Dengan kata lain, perekat hubungan suami istri bukan hanya perekat lahiriah, tetapi juga jalinan ruhaniyyah. Untuk mencapai tingkatan keluarga yang dinamis (‘aailah sakiinah),maka islam menawarkan tiga hal berikut: Pertama, untuk menjalin rumah tangga yang baik,hendaklah memilih wanita/pria yang sholihah/sholih sebagai mitra berumahtangga. Yaitu wanita yang mampu menjaga amanah suaminya, memelihara dengan baik harta suaminya, patuh dan tebal keimanannya. Nabi bersabda: “Fadzfar bizaatid-diin taribath yadak”

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

29 of 50

1/31/2007 Nikah

“Pilihlah yang mantap agamanya, semoga akan mengikat tanganmu” (HR.Bukhari Muslim). Kedua, pernikahan harus dijalin dengan tali temali rohaniah yang kuat, yaitu mahabbah, mawaddah, rahmah dan amanah. (1) Mahabbah (cinta) Kata “mahabbah” sebagaimana yang diriwayatkan Al Hujwiri dalam kitab “Kasyful Mahjuub”, berasal dari kata “habbah” yang berarti benih-benih/biji yang jatuh ke bumi di padang pasir. Mahabbah dikatakan berasal dari kata itu karena dia merupakan sumber kehidupan. Sebagaimana benih itu tersebar di gurun pasir, tersembunyi didalam tanah, dihujani oleh terpaan angin, hujan dan sengatan matahari, disapu oleh cuaca panas dan dingin, benih-benih itu tidak rusak oleh perubahan musim, namun justru tumbuh berakar, berbunga dan berbuah. Demikian halnya cinta sejati, tak lapuk dengan sengatan mentari dan guyuran hujan, tak lekang oleh perubahan musim dan tak hancur berantakan oleh terpaan angin. Ada pula yang mengatakan “mahabbah” berasal dari kata “hubb” yang berarti penyangga (empat kaki-kaki kecil pada alas poci air), disebut demikian karena seorang pecinta, rela dengan suka hati melakukan apa saja untuk yang dicintainya. Adapula yang mengatakan “mahabbah” berasal dari kata “haabb” yang berarti relung hati yang paling dalam. Dikatakan demikian, karena cinta tumbuh dari relung hati yang paling dalam (grows from the deepest side of heart). Tak mudah dilukiskan dalam kata-kata, tetapi tumbuh dalam perasaan hati setiap insan. Apapun asal katanya, kita sepakat bahwa cinta adalah tali buhul yang mengikat kuat antara si pecinta dan yang dicintainya. Dia datang, tidak diketahui waktunya, dan akan pergi begitu saja kalau tidak dipelihara dengan baik. (2) Mawaddah (cinta yang mendalam) Tingkatan yang kedua adalah “mawaddah”, berasal dari kata “wuud” yang berarti al-hubb al-katsir (cinta yang banyak/mendalam). Pakar leksikografi al-Quran, Ar-Raghib Al Isfahani mengatakan bahwa mahabbah adalah hanya terbatas yang tersembunyi dalam relung hati, sedangkan mawaddah adalah yang meninggalkan bekas nyata (atsar) dalam kehidupan. Yaitu terjalinnya hubungan mesra (tahaabbu) antara suami dan isteri. Salah satu asma Allah “al-Waduud”, karena nama itu merealisasikan cinta Tuhan pada segenap alam dalam pemeliharaanNya”. (3) Rahmah (kasih) Kata “rahmah” berasal dari kata “rahm”, yang berarti “riqqatun taqtadhi al-ihsaana ilal marhuum”,”rasa kasih yang menuntut munculnya perbuatan baik terhadap yang dikasihi”. Jadi rahmah adalah rasa kasih yang membuahkan perbuatan baik dari yang mengasihi kepada yang dikasihi,tanpamengharap balasan”. (4) Amanah (percaya) “Amanah” berasal dari kata “aamana-yu’minu” yang berarti “amn” (memberi rasa aman) dan “iman” (percaya). Sehingga amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain disertai dengan rasa aman, dari pihak yang memberikan karena kepercayaannya bahwa apa yang diamanatkan itu akan terpelihara dengan baik, serta aman keberadaannya ditangan yang diberi amanat. Orang tua tidak akan merestui anaknya tanpa adanya jaminan kepercayaan.

Musyawarah
Untuk tercapainya keluarga sakinah, diperlukan adanya “musyawarah” sebagai solusi mencari kesamaan diantara perbedaan pendapat yang sering terjadi dalam kehidupan berumahtangga. Apapun masalah yang terjadi hendaknya dicari titik temu dengan jalan musyawarah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. AsySyuura: 42, “Walladziinas tajaabu lirobbihim wa aqaamush-sholaata wa amruhum syuuro baynahum, wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquun” Artinya: Dan (ciri-ciri orang yang beriman) adalah yang menyambut seruan Tuhannya, dan mendirikan sholat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

30 of 50

1/31/2007 Nikah

Demikianlah, semoga kajian tentang “Membangun Rumahtangga Sakinah” diatas dapat menggugah hati para pembaca/pendengar, baik yang telah berumahtangga maupun yang masih dalam pra-nikah dan yang sedang sibuk mencari pasangan hidup, semoga harapan baiti jannati “mahligaiku adalah laksana sorga bagiku” dapat terwujud dihadapan ikhwan dan ikhwat sekalian. Uushikum wa nafsi bitaqwallaahi, fanastaghfirullaaha minna wa minkum, Wassalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh. Wallahu a’lam. Oleh: Al Birruni Siregar Mahasiswa program S1, Fak. Theologi, Universitas Al Azhar,Kairo. © 2003 www.manajemenqolbu.com * kembali ke daftar isi

Mengapa Nikah Dini?
Secara fisik, pemuda masa kini menjadi dewasa lebih cepat daripada generasi-generasi sebelumnya, tetapi secara emosional, mereka memakan waktu jauh lebih panjang untuk mengembangkan kedewasaan. Kesenjangan antara kematangan fisik yang datang lebih cepat dan kedewasaan emosional yang terlambat menyababkan timbulnya persoalan-persoalan psikis dan sosial. Kematangan fisik, misalnya menjadikan kelenjar-kelenjar seksual mulai bekerja aktif untuk menghasilkan hormon-hormon yang dibutuhkan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya dorongan untuk menyukai lawan jenis, sebagai manifestrasi dari kebutuhan seksual. Pada taraf ini, keinginan untuk mendekati lawan jenis memang banyak disebabkan oleh dorongan seks. Sejenak kita tinjau teori psikologi perkembangan yang menyatakan bahwa batasan usia masa remaja bergerak antara usia 13 sampai dengan 18 tahun, dengan dimungkinkan terjadinya percepatan sehingga masa remaja datang lebih awal. Percepatan ini disebabkan oleh stimulasi sosial melalui pendidikan yang lebih baik, lingkungan sosial yang lebih mendewasakan, serta rangsangan-rangsangan media massa, terutama media audio-visual. Masih menurut kacamata psikologi, pada usia 18 sampai dengan 22 tahun, seseorang berada pada tahap perkembangan remaja akhir. Jika perkembangannya berjalan normal, seharusnya kita sudah benar-benar menjadi orang yang telah sepenuhnya dewasa selambatnya pada usia 22 tahun. Masa remaja sudah berakhir dan tugas-tugas perkembangan telah terpenuhi dengan baik. Salah satu tugas perkembangan pada tahap remaja akhir adalah menikah atau mempersiapkan diri memasuki pernikahan. Tugas perkembangan yang tidak terselesaikan pada waktunya akan menghambat perkembangan pada tahap berikutnya, sehingga potensi-potensi psikis kita tidak mengalami pertumbuhan secapa optimal. Menikah atau mempersiapkan diri untuk menikah merupakan tugas perkembangan masa remaja akhir atau dewasa awal, yakni uisa 18 sampai 22 tahun. Yang dimaksud dengan tugas perkembangan (development task) adalah segala hal yang harus dicapai oleh individu pada suatu tahap perkembangan. Setiap tugas perkembangan harus terpenuhi pada tahap perkembangan dimana tugas tersebut berada. Keterlambatan memenuhi tugas perkembangan akan berdampak pada munculnya kompleks-kompleks psikologis. Keterlambatan memenuhi tugas perkembangan akan membuat individu senantiasa terbebani secara psikis untuk memenuhi tugas perkembangan dari tahap sebelumnya yang belum terselesaikan dengan baik. Atas alasan ini, sudah saatnya bagi kita yang sudah berusia antara 18 sampai 22 tahun untuk berpikir tentang pernikahan, sehingga jiwa kita lebih tanang dan kualitas mental kita akan mencapai pertumbuhan yang lebih matang. Dengan mengacu pada uraian di atas, maka tak aneh jika banyak bermunculan seminar-seminar ataupun pelatihan-pelatihan yang membahas masalah pernikahan ini, baik itu yang ditujukan bagi mereka yang sedang mempersiapkan pernikahan (pranikah) maupun bagi mereka yang telah menikah dengan segala polemik di dalam rumah tangganya. Sebagaimana orang tua, penilaian masyarakat terhadap pernikahan di usia dini sering kali banyak bergantung pada kedewasaan kita. Banyak yang menikah pada usia muda dan masyarakat memberikan penilaian yang sangat positif, “Wah, hebat dia. Usia sekian saja sudah berani menikah. Saya dulu sudah

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

31 of 50

1/31/2007 Nikah

tua baru menikah.” dan sebaliknya banyak komentar negatif muncul ketika ada yang menikah muda karena masyarakat belum melihat ada tanda-tanda kedewasaan, sehingga yang muncul adalah ungkapan, “Udah nggak tahan apa, ya? Usia baru segitu sudah nikah.” Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak semua penilaian sosial yang diberikan masyarakat ditentukan oleh tingkat kedewasaan kita serta sikap-sikap kita saja, adakalanya penilaian sosial itu dijatuhkan kepada kita berdasarkan proses belajar yang terus menerus dari masyarakat – termasuk di dalamnya hasil rekayasa sosial (social engineering) yang membentuk nilai-nilai baru dalam masyarakat, sehingga paradigma masyarakat sudah terkondisikan dan dapat menerima hal tersebut sebagai sesuatu yang sudah lazim, Sekarang, apakah anda hanya akan menunggu nilai-nilai sosial berubah tanpa melakukan apa-apa ataukah anda yang menentukan langkah untuk (dengan mantap) menikah, mensosialisasikannya ke tengah-tengah masyarakat, dan menyadarkan masyarakat bahwa telah banyak kerusakan yang terjadi. Dan mengingatkan masyarakat bahwa di sekeliling kita telah bermunculan banyak hal –mulai dari pornografi sampai narkotika– yang apabila tidak diantisipasi dengan baik hanya akan menyisakan kehancuran bagi generasi kita sekarang? Wallahu’alam bish-shawab. (mei) Oleh: Meilanny BS © 2003 www.manajemenqolbu.com * kembali ke daftar isi

Dinikahkan oleh Kejujuran
Suatu ketika sahabat mulia, Bilal dan Shuhaib mendatangi salah satu keluarga dari kalangan Arab. Mereka ingin menikah dengan putra-putri mereka. Maka mereka pun bertanya: "Siapakah gerangan kalian berdua ini?" Bilal menjawab:"Saya adalah Bilal dan ini saudara saya Shuhaib... dahulu kami adalah orang-orang yang tersesat lalu Allah memberi kami hidayah.... dahulu kami adalah budak-budak sahaya lalu Allah memerdekakan kami... dahulu kami orang miskin namun Allah mencukupkan kami. Dan sekarang jika kalian mau menikahkan kami, maka Alhamdulillah, namun jika kalian menolak kami maka Subhanallah!" Mendengar itu, keluarga tersebut berkata "Bahkan kalian akan dinikahkan, Walhamdulillah." Keduanya pun kemudian pergi. Lalu di jalan Shuhaib berkata kepada Bilal:"Mengapa engkau tidak menyebutkan pada mereka tentang peristiwa dan peperangan yang kita ikuti bersama Rasulullah SAW?" Bilal menjawab: "Diamlah! Bukankah aku telah berkata jujur, dan kejujuran itu yang menikahkanmu." Oleh Awie http://awie.crimsonblog.com/ * kembali ke daftar isi

Nasihat Asma binti Khorijah Al Fazariah
"Wahai putriku, sesungguhnya engkau telah keluar dari kehidupan yang selama ini kau kenal, sekarang kau akan berada di dalam kamar yang belum pernah kau ketahui, bersama pasangan yang sama sekali belum kau kenal. Karena itu jadilah engkau bumi baginya, niscaya dia akan menjadi langit bagimu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya dia akan menjadi tiang bagimu. Jadilah engkau budak baginya, niscaya ia akan menjadi hamba sahaya bagimu. Janganlah engkau menentangnya sehingga ia balik membencimu. Janganlah engkau menjauh darinya sehingga ia melupakanmu. Dan jagalah hidung, pendengaran dan matanya. Jangan sampai ia mencium darimu kecuali yang harum. Janganlah ia mendengar darimu kecuali yang baik. Jangan ia memandang darimu kecuali yang cantik..."

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

32 of 50

1/31/2007 Nikah

Oleh: Awie http://awie.crimsonblog.com/ * kembali ke daftar isi

Berani Menikah
Otak kiri terlalu rasional, sedangkan otak kanan irasional. Semakin orang pintar terkadang semakin rasional. Agar punya pengalaman yang unik dalam pernikahan, menikahlah dengan dengan yang beda suku dan daerah asal. Karena akan sangat unik. Kalau terjadi pertengkaran tidak akan lari ke mertua. Dengan menikah jauh itu, minimal orang semiskin-miskinnya pun akan naik bis antar kota antar propinsi. Jangan terlalu rumit-rumit menikah itu, permudahlah. Hati-hati yang uangnya terlalu banyak dan pendidikannya terlalu tinggi, biasanya perhitungannya terlalu matematis. Bila menikah itu tidak cocok justru itu menarik karena ada tantangannya. Bila menikah itu kurang cinta, justru itu luar biasa paling menarik. Karena banyak yang pacaran lama tapi akhirnya putus. Nikah itu tinggal bersabar dan bersyukur. Jangan terlalu banyak rumus dalam pernikahan. Maka jika ingin siap menikah, sabarnya harus sangat bagus dan syukurnya pun harus sangat bagus. Orang yang sangat bagus adalah orang yang dalam posisi sabarnya sangat baik dan syukurnya sangat baik, karena dia akan bersabahat. Karena nanti masalah akan selalu ada. Kalau sabarnya sangat baik, syukurnya sangat kurang, nanti pasif terhadap masalah. Kalau sabarnya sangat kurang, syukurnya sangat baik, nanti pasif pula terhadap masalah. Sedangkan, bila sabarnya sangat kurang syukurnya sangat kurang, maka reaktif terhadap masalah. Bila kita siap menikah mari kita nikmati segala kekurangan pasangan kita, karena latar belakangnya yang berbeda. Yang penting kita tingkatkan rasa sabar kita dan rasa syukur kita. Tidak ada masalah itu. Tidak rumit-rumit amat, biasa saja. Bila kita memikirkan menikah itu susah, maka susah betulan. Bila kita memikirkan bahwa menikah itu mudah, maka Alloh akan memudahkannya, sebagaimana hadis qudsi "Alloh itu sebagaimana persangkaan hamba-Nya". Keberanian itu penting. Banyak laki-laki yang minder tidak berani karena tidak ada pekerjaan, maka pihak wanita jangan terlalu menonjolkan optimalisasi dirinya. Dan kaum wanita pun harus berani menyatakan. Permasalahannya adalah yang penting gerak, bukan hanya siap-siap saja. Oleh karena itu proklamasikan diri kita bahwa kita adalah orang yang pemberani untuk menikah. Oleh: Masrukhul Amri, disampaikan pada acara Bimbingan Pranikah "Meniti Jalan Menuju Keluarga Sakinah", pada hari Ahad, 23/2, di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, Bandung From: ** eri ** [mailto:eri@gs.astra.co.id] * kembali ke daftar isi

15 Keutamaan Pernikahan
Bab 1: Menyehatkan Mental
Allah SWT berfirman yang artinya, "Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kamu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu sakinah kepadanya dan dijadikan-Nya rasa kasih dan sayang di antara kamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Rum: 21). "Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Dia menciptakan istrinya agar dia sakinah kepadanya." (Al-A'raf: 189).

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

33 of 50

1/31/2007 Nikah

Pada ayat pertama dan kedua dijelaskan bahwa melalui pernikahan yang sah, laki-laki dan perempuan akan mendapatkan sakinah. Dengan mendapat sakinah seseorang dijamin kesehatan mentalnya. Kata "sakinah" dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, yaitu rukun, akrab, intim, jinak, berkumpul, bersatu, bersahabat, ramah-tamah, percaya, senang, dan reda. Jadi, secara keseluruhan, sakinah berarti suasana rumah tangga dari laki-laki dan perempuan yang saling mencintai, yang hidup bersatu, rukun, bersahabat, akrab, ramah, intim, saling mempercayai, menyenangkan, meredakan, dan saling berkumpul. Ringkasnya, sakinah adalah keadaan keluarga yang bahagia dan tenteram. Hal ini hanya dapat diwujudkan dalam pernikahan islami. Suasana keluarga seperti ini menjadi kebutuhan hidup manusia, sebab keadaan hidup manusia yang bahagia dan tenteram berpengaruh besar terhadap kesehatan mental suami istri. Berawal dari rumah tangga yang tenteram dan bahagia, seseorang akan memiliki ketenteraman hati dan kejernihan dalam berpikir. Oleh karena itu, apabila kita ingin hidup dalam kondisi mental yang sehat, rumah tangga yang sakinah merupakan kunci utama. Jika kita ingin hidup dengan penuh kerukunan, saling mempercayai, saling menyenangi, akrab, serta untuk selalu memiliki keinginan bersatu terus dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak mau terikat dalam pernikahan, berarti mental kita tidak sehat. Tuntutan naluri tersebut tidak mungkin dapat diwujudkan dalam pergundikan, pacaran, atau kumpul kebo. Hubungan seperti itu tidak dapat menyatukan laki-laki dan perempuan dalam suasana rukun, penuh rasa saling mempercayai, dan bersatu untuk selamanya. Jadi, jelaslah bahwa pernikahan berpengaruh besar terhadap kesehatan mental. Oleh karena itu, setiap orang yang ingin mewujudkan rumah tangga yang menjamin kesehatan mentalnya hendaklah menikah.

Bab 2: Menumbuhkan Cinta Sejati
Allah SWT berfirman yang artinya, "Hati manusia dihiasi rasa cinta kepada sesuatu yang menarik, yaitu perempuan, anak cucu, emas dan perak yang berlimpah, kuda-kuda yang bagus, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Yang demikian itu adalah kesenangan hidup di dunia, tetapi di sisi Allahlah tempat kembali yang paling baik." (Ali Imran: 14). Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. lalu berkata, 'Kami mempunyai seorang anak perempuan yatim. Dia telah dipinang oleh (dua orang lelaki) yang seorang miskin dan yang lainnya kaya. Akan tetapi, dia senang kepada yang miskin, sedangkan kami senang kepada yang kaya.' Nabi bersabda, 'Tidak pernah diketahui dua orang yang bercinta setulus cinta dalam pernikahan'."(HR Ibnu Majah, Hakim, dan Baihaqi). Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan naluri kecintaan dan kesukaan kepada perempuan, anak cucu, dan harta kekayaan. Naluri ini diberikan oleh Allah agar manusia dapat merasakan kesenangan dan kenikmatan hidup di dunia. Bagaimana cara seseorang menyalurkan dan memelihara naluri kecintaan kepada perempuan agar memperoleh kebahagiaan, kesejahteraan, dan keselamatan? Untuk dapat menyalurkan naluri tersebut, diperlukan ketentuan dan tuntunan yang jelas. Oleh karena itu, Allah memberi petunjuk bagi seluruh umat manusia untuk mewujudkan naluri kecintaan kepada perempuan. Allah menetapkan satu-satunya jalan halal untuk menyalurkan naluri tersebut adalah melalui pernikahan. Dengan menikah, laki-laki dan perempuan akan menyatu dalam ikatan yang sah sehingga naluri kecintaan mereka tersalurkan dengan baik. Dalam hadis di atas ditegaskan adanya keutamaan pernikahan yang telah digariskan oleh Allah dalam agama-Nya. Keutamaan tersebut adalah menumbuhkan kecintaan sejati dan tulus antara laki-laki sebagai suami dan perempuan sebagai istrinya. Rasulullah saw. bahkan menyebutkan bahwa tidak ada cinta yang tulus dan sejati antara laki-laki dan perempuan di luar ikatan pernikahan. Jika ada ikatan cinta dan kasih sayang antara seorang perempuan dan laki-laki, tidaklah seindah, setulus, dan sejujur yang ada pada pasangan yang terikat dalam pernikahan. Dengan ikatan pernikahan, kecintaan yang sebenarnya tumbuh di antara mereka. Adapun cinta sebelum akad nikah baru merupakan bibit yang kelak dapat tumbuh dengan baik dan murni jika pernikahan telah berlangsung. Oleh karena itu, orang tua hendaklah memperhatikan keinginan anaknya

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

34 of 50

1/31/2007 Nikah

ketika hendak menikahkan yang bersangkutan. Jika ternyata anaknya mencintai calonnya, hendaknya orang tua tidak menghalanginya. Melalui pernikahan, seorang perempuan dan suaminya dapat mencurahkan seluruh cinta, harapan, anganangan, dan cita-citanya tanpa keinginan saling memperbudak. Mereka tidak saling memperlakukan pasangannya sebagai pelayannya atau berlaku seperti seorang tuan kepada budaknya. Masing-masing menyadari bahwa dirinya merupakan bagian mutlak pasangannya dalam menempuh kehidupan yang diharapkan membahagiakan dan menyejahterakan dirinya. Pernikahan yang berdasarkan keikhlasan kepada Allah akan menanamkan kecintaan yang dalam sehingga tumbuh rasa tanggung jawab secara kukuh. Pernikahan seperti ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan kerelaan. Kecintaan sejati tidak dapat diwujudkan dalam pergundikan, kumpul kebo, pacaran, dan mut'ah (kawin kontrak). Hubungan yang hanya berlandaskan nafsu tersebut tidak dapat menumbuhkan cinta sejati yang menjamin kepercayaan dan ketenangan bagi yang menjalaninya. Jadi, seorang laki-laki dan perempuan tidak akan mencapai kecintaan yang sejati dan tulus di luar ikatan pernikahan. Agar kita dapat merasakan dan menikmati kecintaan yang tulus dan sejati sepanjang hidup, satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah menikah.

Bab 3: Memperbesar Rasa Malu
Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Tiga golongan yang berhak mendapat pertolongan Allah, yaitu pejuang di jalan Allah, mukatab (budak yang membeli diri dari tuannya) yang mau melunasi pembayarannya, dan orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatan (akhlak) nya." (HR Tirmizi). Hadis di atas menerangkan bahwa Allah menjamin akan memberi pertolongan kepada tiga golongan, yaitu orang yang berjihad di jalan Allah karena-Nya, budak yang berusaha membayar uang tebusan agar bebas dari tuannya, dan orang yang menikah karena ingin menghindari perilaku seksual yang tercela. Pernikahan adakalanya dilakukan untuk menjauhkan diri dari perbuatan zina, homo, lesbian, sodomi, dan penyaluran seksual yang haram lainnya. Akan tetapi, adakalanya pernikahan dilakukan hanya untuk kebanggaan atau kepentingan duniawi, seperti mencari harta, kehormatan, kedudukan, dan lain-lainnya. Orang yang menikah semata-mata hendak memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya sehingga terhindar dari perilaku seksual tercela dijamin akan terpelihara rasa malu dan kehormatan dirinya dengan baik. Bahkan, Allah akan membukakan pintu rezeki yang luas baginya. Pernikahan merupakan sarana paling tepat yang dapat mencegah manusia dari perbuatan-perbuatan haram, yaitu zina atau cara haram lain dalam penyaluran seksual. Orang yang berzina, atau yang menyalurkan dorongan seksual bukan dengan pasangannya yang sah berarti telah kehilangan rasa malu. Perilaku mereka seperti hewan yang tidak mengerti adab dalam melakukan hubungan seksual. Hewan melakukan hubungan seksual di mana pun dan dengan pasangan mana pun yang ia inginkan. Hal ini tidak patut, bahkan haram dijadikan tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, melalui pernikahan, perbuatan tersebut dapat dicegah sehingga nilai kemanusiaan tetap terpelihara.

Bab 4: Memperkuat Tanggung Jawab Lelaki
Allah SWT berfirman yang artinya, "Hendaklah mereka yang belum mampu menikah menjaga kehormatannya sampai Allah memberikan kecukupan kepada mereka dari karunai-Nya." (An-Nur: 33). "Orang yang mampu hendaklah memberikan nafkah sesuai dengan kemampuannya. Dan bagi yang berkekurangan hendaklah memberi nafkah sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan pemberian yang diberikan kepadanya. Allah akan memberikan kemudahan setelah kesulitan." (Ath-Thalaaq:7). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung sesuatunya (kalau terjadi sesuatu boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb). Adapun yang dimaksud dengan rasa tanggung jawab di sini adalah rasa memikul beban dan tugas yang harus dilaksanakan terhadap diri dan orang lain. Seorang laki-laki yang beristri akan dituntut memenuhi tugas dan kewajiban anak-anaknya agar mereka tidak terlantar atau menderita.

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

35 of 50

1/31/2007 Nikah

Dalam firman Allah di atas disebutkan bahwa laki-laki yang sudah menikah akan terpanggil untuk memenuhi kewajiban kepada istrinya dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Bahkan, Allah menegaskan bahwa suami yang mampu harus memberikan belanja sesuai dengan kemampuannya, dan suami yang miskin tidak boleh dituntut memberikan belanja di luar kemampuannya. Hal ini menunjukkan bahwa setiap laki-laki dan perempuan yang terikat dalam pernikahan memiliki naluri untuk memenuhi tanggung jawabnya secara maksimal. Oleh karena itu, pernikahan memberikan dorongan positif dan semangat yang kuat kepada laki-laki untuk tampil menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap diri dan keluarganya. Ketika seorang masih lajang, dia hanya bertanggung jawab memenuhi kepentingan dirinya sendiri. Oleh karena itu, terkadang ia mengabaikan tanggung jawab tersebut. Mencari makan misalnya, karena merasa tidak dituntut oleh orang lain, ia bekerja sesuka hati. Akan tetapi, apabila seorang laki-laki telah beristri, apalagi mempunyai anak, ia tidak dapat lagi bertindak sesuka hati dalam mencari nafkah. Ia dituntut memenuhi kebutuhan beberapa jiwa yang menjadi tanggung jawannya. Jika hal ini tidak dilaksanakan dengan baik, ia akan terbebani rasa bersalah, bahkan Allah mengatakan bahwa yang bersangkutan berdosa terhadap istri dan anaknya. Rasa bersalah seperti ini akan mendorongnya memiliki semangat yang tinggi untuk mencari nafkah bagi istri dan anaknya. Bahkan, ia akan merasa tercela dan tidak berharga kalau tidak dapat melaksanakan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Tumbuhnya rasa tanggung jawab yang kuat pada mereka yang berumah tangga adalah naluri yang Allah tanamkan pada diri manusia. Hal ini dapat mendorong mereka yang ingin memperkuat rasa tanggung jawabnya untuk segera berumah tangga sehingga kualitas dirinya meningkat. Lebih luas lagi, naluri tersebut dapat berdampak positif dalam kehidupan bermasyarakat. Demikianlah karena dengan dimilikinya rasa tanggung jawab yang besar terhadap diri dan keluarga pada setiap anggota masyarakat, kesejahteraan keluarga dan seluruh masyarakat akan tercipta. Agar hal ini tetap dapat menjadi dorongan positif dalam kehidupan bermasyarakat, hendaklah kita mendorong dan memacu para pemuda dan pemudi untuk berumah tangga. Selain itu, dalam masyarakat juga kita tanamkan pengertian bahwa hubungan laki-laki dan perempuan hanya dibenarkan dalam ikatan pernikahan. Adapun hubungan selain ikatan pernikahan, sama sekali tidak dibenarkan. Jika hubungan lakilaki dan perempuan di luar pernikahan seperti pelacuran, pergundikan, kumpul kebo, dll. tetap dibiarkan atau ditolelir berkembang, hal ini akan merusak tatanan hidup masyarakat sendiri dan menghancurkan semangat bertanggung jawab pada laki-laki dan perempuan yang menjalaninya. Ikatan di luar pernikahan yang sah, karena norma hukumnya tidak ada, dengan sendirinya tidak akan menimbulkan rasa tanggung jawab. Hubungan laki-laki dan perempuan di luar pernikahan, seperti pergundikan, pelacuran, dan kumpul kebo, tidak akan menciptakan rasa tanggung jawab pada orang yang menjalaninya. Dalam hubungan tersebut, kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perempuan dan laki-laki tidak jelas. Hubungan yang dilakukan orang-orang yang moralnya rusak itu akan merusak moral masyarakat. Ringkasnya, pernikahan yang sah akan menumbuhan rasa tanggung jawab yang kuat terhadap diri, keluarga, dan masyarakat pada diri mereka yang menjalaninya.

Bab 5: Memelihara Kesehatan Fisik
Rasulullah saw. bersabda, "Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu ada yang mampu menikah, hendaklah dia menikah. Karena pernikahan itu mampu menjaga pandangan mata dan kemaluan. Barang siapa yang belum mampu menikah, hendaklah berpuasa karena puasa itu ibarat pengebirian."(HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad). Hadis di atas menjelaskan bahwa pernikahan dapat menyelamatkan laki-laki dan perempuan dari kerusakan akhlak dan penyimpangan seksual. Rasulullah saw. mengatakan bahwa pernikahan dapat menjaga pandangan manusia dari hal-hal yang haram dilihatnya. Selain itu, pernikahan juga akan menjauhkan manusia dari perbuatan zina. Selanjutnya dijelaskan, jika seseorang belum mampu, hendaklah ia berpuasa. Hal ini karena puasa memiliki kesamaan dengan pernikahan. Puasa merupakan jalan yang sehat dalam pengendalian dorongan

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

36 of 50

1/31/2007 Nikah

seksual, sedangkan pernikahan adalah jalan yang sehat untuk menyalurkan dorongan tersebut. Keduanya merupakan jalan untuk memelihara kesehatan fisik secara keseluruhan. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, telah diberi naluri oleh Allah swt. keinginan berhubungan seksual. Naluri ini timbul karena hormon seksual ada dalam diri setiap laki-laki dan perempuan. Hormon ini terus berjalan sampai pada saat yang ditentukan oleh Allah. Hormon seksual laki-laki bekerja seumur hidupnya selama yang bersangkutan normal. Akan tetapi, hormon seksual perempuan bekerja sampai mencapai masa menapouse. Tekanan hormon yang tidak disalurkan secara halal akan menimbulkan gangguan fisik. Penyaluran dorongan seksual yang dilakukan di luar pernikahan tidak dibenarkan oleh Islam. Bahkan pelakunya akan mendapat ancaman dari Allah. Orang-orang dan masyarakat yang membiarkan perbuatan terkutuk ini diancam Allah akan mendapatkan bencana dan malapetaka sebagaimana kutukan dan adzab Allah yang diturunkan kepada kaumnya Nabi Luth a.s.. Hormon seksual yang ditanamkan Allah, penyalurannya hanya dibenarkan melalui pernikahan. Oleh sebab itu, jalan satu-satunya untuk memelihara kesehatan manusia adalah menikah. Apabila manusia terpaksa menahan penyaluran dorongan seksual ini karena tidak memiliki pasangan yang sah, ia akan mengalami berbagai gangguan yang berpengaruh pada kesehatan fisiknya. Dalam salah satu pernyataan PBB yang disiarkan oleh harian Asy-Sya'ab, edisi Sabtu 6 Juni 1959, disebutkan, "Orang-orang yang bersuami istri, umurnya lebih panjang daripada yang tidak bersuami istri, baik karena ditinggal mati, perceraian, atau hidup membujang." Selanjutnya disebutkan bahwa orang-orang yang menikah ketika masih remaja, ternyata umurnya lebih panjang. Pernyataan ini didasarkan pada penelitian dan statistik yang dilakukan oleh PBB. Dalam statistik itu disebutkan, "Adalah benar bahwa jumlah orang yang mati dari kelompok yang bersuami istri lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang tidak bersuami istri dalam berbagai tingkatan umur. Dari data-data statistik ini dapat disimpulkan bahwa pernikahan berguna bagi laki-laki dan perempuan, sehingga kekhawatiran atas bahaya hamil atau melahirkan berkurang, bahkan dewasa ini bukan merupakan ancaman bagi kehidupan semua bangsa."

Bab 6: Memperbesar Pahala
Dari Saad bin Abi Waqqash, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda kepadanya yang artinya, "Tiada engkau memberikan belanja demi mencari keridaan Allah, melainkan pasti akan diberi pahala, meskipun yang engkau suapkan ke mulut istrimu." (HR Bukhari dan Muslim). Dari Ummu Salamah r.a., ia berkata, Rasulullah saw bersabda, "Siapa pun istri yang mati dan suaminya penuh keridaan terhadap dirinya, niscaya ia akan masuk surga." (HR Tirmizi). "Apabila anak Adam meninggal dunia, amalnya terputus, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat bagi manusia, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR Muslim). Hadis pertama menjelaskan bahwa setiap belanja yang dikeluarkan oleh seorang laki-laki untuk istri dan anaknya pasti mendapat balasan pahala. Hadis kedua menjelaskan bahwa istri yang patuh dan berbakti kepada suaminya dinilai sama dengan ia patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia adalah istri yang selalu membuat suaminya rida kepadanya. Oleh karena itu, ia dijanjikan masuk surga karena kepatuhan dan baktinya. Hadis ketiga menjelaskan bahwa begitu manusia meninggal dunia, dia tidak dapat lagi melakukan perbuatan apa pun, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan dirinya. Hanya ada tiga hal yang dapat membantu dirinya setelah meninggal. Pertama, amal jariah, atau harta wakaf yang ditinggalkannya untuk kepentingan dan kebaikan orang-orang yang masih hidup, seperti bangunan masjid, madrasah, rumah sakit, panti yatim, perpustakaan, buku-buku agama, dan pengetahuan untuk perpustakaan, dan lainlainnya. Selama harta tersebut masih ada dan dapat dimanfaatkan oleh orang yang masih hidup, pahalanya akan terus mengalir untuk yang mewakafkan. Kedua, ilmu yang bermanfaat bagi orang yang masih hidup, yaitu ilmu yang diajarkannya kepada orang lain dan ilmu tersebut dimanfaatkan untuk kebaikan. Ketiga, anak yang saleh. Setiap amal yang dilakukan oleh anak yang saleh, orang tuanya akan mendapat limpahan pahala dari amalan anaknya. Apabila anaknya membantu fakir miskin, atau memberi makanan untuk

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

37 of 50

1/31/2007 Nikah

berbuka bagi orang yang berpuasa, atau menyembelih hewan qurban, orang tuanya akan turut mendapatkan pahala, sedangkan pahala anaknya tidak berkurang sedikit pun. Seseorang akan mendapatkan pahala amal anaknya apabila anak tersebut lahir melalui pernikahan yang sah. Jika pernikahan tidak sah, anak yang dilahirkan adalah anak hasil berzina. Anak tersebut tidak bisa menambah pahala kepada orang tuanya dengan amalan-amalannya, baik orang tuanya masih hidup atau sudah mati. Oleh karena itu, melalui pernikahan yang sah, orang tua yang menjadi perantara kelahiran anak akan mendapat pahala dunia dan akhirat sepanjang hidup anaknya yang saleh itu. Jika dia memiliki anak yang saleh, kemudian memiliki sepuluh cucu yang saleh pula, kelak apabila ia meninggal dunia, akan mendapat tambahan amal saleh selama anak dan cucunya itu hidup di dunia. Setiap muslim harus menyadari dan memahami bahwa pernikahan membawa keuntungan akhirat yang tidak terhingga besarnya. Dengan janji dan ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya ini, jelaslah bahwa pernikahan bukan hanya sarana penyaluran kebutuhan biologis yang halal bagi laki-laki dan perempuan, melainkan juga merupakan jalan untuk menabung pahala akhirat. Inilah keutamaan pernikahan dalam Islam bagi kehidupan manusia di akhirat.

Bab 7: Menumbuhkan Sifat Orangtua
Allah SWT berfirman yang artinya, “… maka setelah dicampurinya, istrinya mengandung kandungan yang ringan dan dia terus merasa ringan (beberapa waktu), kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) memohon kepada Allah, Tuhannya, seraya berkata, ‘Sesungguhnya, jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang yang bersyukur’.” (Al-A’raf: 189). Dari Abu Hurairah r.a. berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah Azza wa-Jalla menciptakan rahmat (kasih sayang) 100 bagian. Dia menahan 99 bagian di sisi-Nya, dan satu bagian diturunkan ke bumi. Dari satu bagian ini, semua makhluk saling berkasih sayang, sehingga induk kuda akan menarik kakinya dari anaknya karena takut menimpanya’.” (HR Bukhari). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, batasan tentang kebapakan dan keibuan hanya dijelaskan indikator atau sifat kebapakan dan keibuan itu sendiri, tanpa menjelaskan hakikat keibuan dan kebapakan. Adapun sifat kebapakan dan keibuan yang dimaksud di sini adalah naluri laki-laki dan perempuan untuk memiliki dan menyayangi anak, bukan sekadar memberi kasih sayang kepada anak-anak kecil. Sifat keibuan dan kebapakan berkaitan dengan sifat kasih sayang secara vertikal, yaitu kepada anak, bukan kepada orang lain. Oleh karena itu, Islam menyatakan bahwa apabila seorang ibu meninggal, perempuan yang paling berhak diserahi pengasuhan anaknya adalah saudara perempuannya (bibi anak tersebut dari pihak ibu), sedangkan apabila bapak meninggal, yang paling berhak diserahi pengasuhan anaknya adalah saudara laki-lakinya (paman anak tersebut dari pihak bapak). Hal ini terjadi karena mereka memiliki kasih sayang vertikal. Pada ayat di atas diuraikan bahwa setiap manusia mempunyai fitrah ingin memiliki anak dan mencurahkan kasih sayang kepada anaknya. Ia juga berharap agar anaknya kelak menjadi orang yang dapat memberikan kebanggaan dan kebahagiaan kepada dirinya. Ia akan menjadi sangat bangga apabila anaknya menjadi orang yang saleh, apalagi dapat meneruskan kebaikan-kebaikannya kelak. Keinginan dan harapan manusia itu disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya, “… kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) memohon kepada Allah, Tuhannya, seraya berkata, ‘Sesungguhnya, jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang yang bersyukur’.” (Al-A’raf: 189). Adapun dalam hadis di atas digambarkan fitrah itu secara tepat dengan sebuah perumpamaan seekor kuda betina yang demi cintanya kepada anak, sang kuda itu selalu berusaha menyelamatkan anaknya dari segala penderitaan atau gangguan apa saja, sekalipun dari injakan kakinya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa hewan yang tidak berakal pun mempunyai naluri keibuan, apalagi manusia yang berakal, fitrah keibuan dan kebapakannya harus lebih baik. Oleh karena itu, jika suami istri tidak mau berketurunan, artinya mereka mengingkari fitrahnya. Doa orang tua atas keselamatan bayi yang ada dalam kandungannya merupakan bukti tumbuhnya rasa kasih sayangnya kepada anaknya. Harapan orang tua agar bayinya selamat dan tumbuh menjadi orang yang saleh menunjukkan betapa besar kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya. Hal itu merupakan penyaluran naluri untuk melindungi, mengasuh, meyanyangi, dan mendidik anak-anaknya menjadi saleh.

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

38 of 50

1/31/2007 Nikah

Hal ini tidak akan terwujud oleh laki-laki atau perempuan yang terikat dalam kumpul kebo dan pergundikan. Demikianlah, karena ikatan tersebut tidak menciptakan suasana akrab, intim, persahabatan, dan selalu berkumpul menjadi satu, sehingga dapat melindungi, mengasuh, mendidik, dan mengembangkan kemampuan anak keturunannya secara tenang, penuh perasaan senang, dan akrab. Adanya anak-anak yang dapat memberikan kesejukan dan kebanggaan hanya dapat diwujudkan dalam pernikahan yang digariskan oleh syariat Islam. Tanpa cara tunggal ini, laki-laki dan perempuan yang mengharapkan hal tersebut hanyalah ibarat orang yang “menggantang asap”, artinya dia hanya berilusi dan berbohong. Setiap laki-laki dan perempuan yang ingin tetap hidup dalam naluri keibuan dan kebapakan wajib menempuh pernikahan seperti yang digariskan syariat Islam. Jika mereka tidak mau menempuh jalan ini, tetapi menempuh jalan lain, pasti mereka akan menderita kehampaan dan menanggung beban mental yang tidak dapat dihindarkan. Tanpa ikatan pernikahan, tidak ada kekuatan pemaksa yang memberikan tekanan kepada laki-laki dan perempuan yang berhubungan seksual untuk bertanggung jawab melindungi keturunannya dengan segala hak dan kewajibannya. Apabila, naluri kebapakan dan keibuan yang telah Allah lekatkan pada diri manusia tidak diwujudkan secara sehat, yang bersangkutan akan merasakan adanya kehilangan pengembangan sifat kebapakan dan keibuannya dan tidak akan memperoleh suasana penyejuk hati yang dipancarkan oleh anak-anaknya. Pernikahan dapat mencegah manusia dari perasaan hampa dalam merasakan kasih sayang dan keakraban dengan anak, serta dapat memenuhi tuntutan kebanggaan terhadap keturunannya. Islam menggariskan pernikahan sebagai satu-satunya cara manusia untuk menyalurkan tuntutan naluri kebapakan dan keibuan, supaya naluri itu terpelihara dan berkembang sampai pada tingkat yang setinggi-tingginya. Semakin tinggi keberhasilan suami istri dalam mengasuh dan mendidik anaknya akan semakin tinggi kepuasan mentalnya.

Bab 8: Memastikan Nasab
Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Nasab anak mengikuti laki-laki yang menjadi suami ibunya, sedangkan bagi yang berzina, hukumannya adalah rajam." (HR Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, dan Baihaqi). Dalam hadis di atas disebutkan bahwa pernikahan yang sah berpengaruh pada kepastian nasab anak. Apabila seorang perempuan telah sah menikah dengan seorang laki-laki, tentu saja laki-laki inilah yang berhak menjadi bapak dari anak-anaknya. Dalam pernikahan yang sah, menurut Islam, akad nikah harus dilakukan antara laki-laki dan perempuan sebelum keduanya melakukan hubungan seksual. Jika akad nikah dilakukan setelah keduanya berhubungan seksual dan perempuannya sudah hamil, hukumnya haram. Anak yang dikandung perempuan itu tidak boleh dinasabkan kepada laki-laki yang menikahinya, meskipun laki-laki itu yang menghamilinya. Pernikahan tersebut hukumnya haram. Jadi, anak yang dilahirkan oleh perempuan tersebut menurut Islam bukan anak dari laki-laki yang dikandungnya. Kepastian nasab bagi seorang anak merupakan hal yang pokok dalam hubungan anak dengan orang tuanya. Kepastian nasab akan memperjelas hak dan kewajiban anak terhadap orang tuanya; juga sebaliknya. Kewajiban anak kepada orang tua adalah berbakti. Sebaliknya, kewajiban orang tua kepada anak antara lain adalah memberi nafkah. Adapun hak orang tua terhadap anak, selain dipatuhi, adalah mendapatkan warisan jika kelak anaknya meninggal dunia duluan, sedangkan dia masih hidup. Jadi, kepastian nasab bukan hanya menyangkut hak anak untuk mendapatkan nafkah dari bapaknya, melainkan juga menjadi kepentingan bapaknya kelak, agar setelah menjadi jompo dan lemah, anaknya yang dewasa bertanggung jawab memelihara dan menyantuninya. Kepastian nasab sangat penting dalam hukum Islam, karena Islam tidak mengakui berbagai macam bentuk nasab orang tua dan anaknya di luar pernikahan. Anak angkat, anak pungut, anak hasil berzina, dan anak tiri adalah contoh nasab yang tidak diakui dalam Islam. Walaupun masyarakat mengakui hubungan anak angkat dengan bapak angkat, Islam menolak penasaban dalam hal tersebut dan menyatakannya sebagai perbuatan jahiliah yang harus diberantas. Termasuk di dalamnya adalah anak yang diambil di jalanan dan tidak diketahui siapa orang tuanya. Walaupun

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

39 of 50

1/31/2007 Nikah

pemungutnya berkewajiban memelihara sampai anak tersebut dewasa, anak yang dipungut tetap tidak mempunyai hubungan apa pun dengan pemungutnya. Anak tiri pun begitu, ia tidak mempunyai hak waris dari bapak tirinya, juga sebaliknya. Jadi, hanya melalui pernikahan yang sah menurut Islam, anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan akan memperoleh nasab yang jelas, yaitu kepada laki-laki yang menjadi suami ibunya.

Bab 9: Memelihara Kelestarian Keturunan
Allah SWT berfirman yang artinya, "Allah telah menjadikan untuk kamu pasangan dari diri kamu. Allah telah menjadikan untuk kamu anak-anak dan cucu dari istri-istri kamu dan memberikan rezeki kepada kamu dari yang baik-baik. Apakah mereka beriman kepada yang batil dan kufur kepada nikmat Allah?" (An-Nahl: 72). Ayat di atas menegaskan bahwa pernikahan merupakan satu-satunya jalan keluar bagi manusia untuk memperoleh anak dan cucu yang sah. Dengan adanya anak dan cucu yang sah, akan terpelihara kelestarian nasabnya. Dengan lahirnya anak dan cucu ini pula, Allah menjadikan kehidupan manusia bertahan terus sampai masa yang ditentukan oleh Allah. Allah menegaskan bahwa anak dan cucu merupakan nikmat yang besar bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, apakah manusia tidak mau mensyukuri nikmat ini dan justru mengingkarinya? Manusia yang normal tentu tidak mau hidup sendiri dalam kesusahan bila kelak ia lemah atau merasa kesulitan. Orang yang paling dapat diharapkan membantu dirinya saat ia sudah tua dan lemah kelak adalah anak kandungnya atau cucu-cucu kandungnya. Bagaimana cara manusia memperoleh anak dan cucu yang kelak dapat berbakti kepadanya? Jawabnya hanya melalui perantara pernikahan yang sah. Dengan pernikahan pula seseorang dapat menyambung nasabnya sampai pada generasi berikutnya. Dengan tersambungnya nasab, ia akan memperoleh lebih banyak pahala karena anak keturunannya yang saleh menambah pahala untuk dirinya sepeninggalnya. Oleh karena itu, pernikahan harus ditempuh oleh manusia agar ia memperoleh anak dan cucu yang dapat memberikan kenikmatan hidup di dunia dan akhirat. Sumber: 15 Keutamaan Pernikahan Dalam Islam, Drs. Muhammad Thalib http://www.alislam.or.id/ * kembali ke daftar isi

Setengah Din
“Setelah aku menikah aku sering kesepian, Mbak…” “Boleh main ke rumah Mbak, aku sedang bete… suami terlalu sering pergi..” “Mbak, nanti mampir yaa…aku mau curhat, suamiku terlalu sibuk…”
Apakah yang tercerabut dari dunia perempuan saat mereka menikah? Time for themselves kata beberapa orang teman. Benarkah? Beberapa komentar di atas boleh jadi tidak mewakili semua perempuan yang berubah status dari gadis menjadi istri, tetapi itu adalah kenyataan subyektif yang dia mengada walau belum tentu menjadi fenomena. Kesepian di tengah kehangatan yang semula mereka harapkan saat menerima pinangan seorang laki-laki adalah kenyataan yang sering terjadi di awal-awal pernikahan, boleh jadi akan menghilang setelah penyesuaian-penyesuaian tetapi bisa juga menetap ketika tidak terjadi kompromi di antara pasangan suami istri. Saya sempat terheran-heran ketika datang seorang al-akh menceritakan seorang teman (pasangan daidaiyah) yang telah menikah lebih dari limabelas tahun rumah tangganya terancam hancur, sudah ada tanda-tanda keretakan, bahkan kata-kata pisah walau belum terjadi secara legal. What’s wrong? Sang istri mengatakan bahwa suaminya sama sekali menyerahkan semua tanggungjawab rumah tangga dan urusan anak seratus persen kepada dirinya, sang suami mengaku ternyata ia kurang bisa mencintai istrinya. Betapa mudah terlontar, kesepian, kurang mencintai, egois. Benarkah nama-nama itu secara riil bisa dilekatkan pada pasangan kita, tanpa melalui proses komunikasi yang akhirnya kemudian terjadi kompromi?

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

40 of 50

1/31/2007 Nikah

Boleh jadi saya akan berkata pada pasangan-pasangan pengantin baru yang “kesepian” di atas dengan pernyataan: “Sudahkah rasa kesepianmu diungkapkan pada suami?” Maka saya akan secara samar mendengarnya: “belum” Lalu saya juga akan bertanya pada pasangan yang nyaris berpisah setelah menikah selama lebih dari limabelas tahun itu dengan pertanyaan: “sudahkah diupayakan membicarakan persoalan itu dalam situasi yang penuh cinta dan upaya mencari solusi?” maka saya merasa akan mendapat jawaban yang sama: “belum”. Akhirnya pertanyaan besar yang terus berputar dalam benak saya adalah: Begitu sibukkah para suami dengan aktifitas bekerja dan dakwahnya sehingga ia kurang bisa meluangkan waktunya untuk sekedar berduaan dengan istrinya, untuk mendengar keluh-kesahnya? Begitu malukah para istri untuk mengakui dan meminta bahwa mereka membutuhkan sebuah telinga yang bisa mendengar, bahwa mereka membutuhkan sebuah tangan yang bisa membelai,dan bibir yang membujuk? Inilah yang mungkin terjadi di antara pasangan-pasangan suami istri. Persepsi yang salah tentang pernikahan. Konsep setengah diin dipahami secara salah, bahwa dengan menikah kita telah sempurna. Bukankah rasulullah mengatakan setelah mendapatkan setengah diin (menikah) maka kita harus bertakwa dengan setengahnya. Maka, ketika kita menganggap bahwa setelah pernikahan kita menjadi sempurna, kita lalu secara bawah sadar akan menganggap bahwa: suami -dengan predikat shalehnya- pastilah seseorang yang mengerti hak-hak istri, bahwa istri -dengan predikat shalehahnya- pastilah seseorang yang mengerti hak-hak suami. Maka berjalanlah kita dengan persepsi-persepsi kesempurnaan, harapan-harapan berlebihan yang akhirnya patah ketika menemui kenyataan. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Just cry in the wilderness seperti yang dilakukan beberapa teman penganti baru, mengeluh pada saya, lalu beban menjadi terangkat? Walau kemudian ia potensial untuk muncul kembali? Atau melakukan perubahan dalam interaksi-interaksi kita dengan pasangan walaupun perubahan bukanlah sesuatu yang mudah? Persepsi bahwa pasangan kita adalah sempurna sebab ia adalah seseorang yang shaleh (shalehah) adalah sesuatu yang kurang tepat. Sebab tidak seorang pun dipersiapkan dengan matang untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Sebab semula kita dan pasangan adalah seorang yang asing maka kita tidak pernah tahu secara sempurna, kebiasaan-kebiasaannya, harapan-harapannya, kesukaankesukaannya secara persis. Maka salah satu yang bisa kita lakukan adalah membicarakannya kemudian mengompromikannya, let’s compromize! Meskipun dalam persepsi para istri “cinta tak pernah meminta” tetapi untuk kompromi istri harus berlatih untuk meminta, katakan pada suami: “ Mas sayang, maukah memijit punggungku, rasanya pegal sekali…” Semoga ketika mendengar permintaan ini, para suami ingat bahwa sesungguhnya tugas-tugas rumah tangga (mencuci, memasak, mengepel dll) bukanlah kewajiban istri, tetapi itu dilakukan semata-mata karena cinta. Semoga para suami ingat bahwa memijit punggung istri tidak akan mengurangi keqowamannya, bahkan mungkin menambah sebab cinta adalah hal yang paling mendasar dalam legitimasi kepemimpinan setelah kapabilitas. Semoga suami ingat bahwa dengan meminta seperti ini istri sedang mengubah persepsinya bahwa jika cinta tentu tak perlu diminta, Maka suami akan menyambut permintaan istri dengan empati: “Mari sini, iya Mas tahu, pasti capek mengerjakan semuanya sendirian, mana khadimat pulang…” Bagi para istri, meski tampak sangat ideal bahwa seseorang yang kita cinta (suami) menjadi sempurna sebagaimana bayangan-bayangan kita sebelum menikah, tetapi demi sebuah kebutuhan asasi seorang pria untuk dikagumi, dipercayai, dihargai, dan disetujui janganlah pernah mewajibkan diri untuk mengubah para suami, karena mereka akan merasa dilecehkan dan tidak dihargai. Kalaupun ada kebiasaan suami yang begitu buruk, cobalah meminta dengan kata-kata yang penuh penghargaan, “Maukah Mas…”, “Bersediakah Abang…” atau secara konsisten memberikan contoh tanpa kata-kata. Sebab bagi umunya laki-laki adalah sebuah aib jika ia tampak salah dan lemah dimata kekasihnya. Jika demikian… Setengah diin yang disuruh-Nya kita bertaqwa sedang kita upayakan. Dalam rentang jarak perkawinan yang tak terpisahkan. Ever and after. Penulis: Intan Savitri,

Pengarang, Ketua Deputi Pemberdayaan Wanita DPW PKS Jawa Tengah

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

41 of 50

1/31/2007 Nikah

http://www.majalahsaksi.com/saksi5/isidepan.php?id=174 * kembali ke daftar isi

Ketika Keinginan Menikah Itu Tiba
Islam memberikan kita kewajiban untuk memiliki satu risalah dalam hidup ini dengan cara hidup menurut risalah tersebut sehingga kita semua betul-betul menjadi Muslim baik dalam segi akidah, ibadah, maupun akhlak. Dengan Pengakuan thd Islam berarti kita harus bekerja keras di lingkungan kita dalam semua level, dari keluarga sampai negara, dan bahkan ke segenap ummat manusia karena Islam diturunkan kepada semua manusia. Kita tidak cukup dg hanya menyatakan saja bahwa kita menganut Islam dan mematuhinya tanpa memperdulikan orang2 di sekeliling kita. Kita seharusnya memiliki rasa tanggung jawab kepada orang lain, menyeru dan menasihati mereka. Rasulullah telah bersabda: "Barang siapa yg tidur dan tidak mengambil beban urusan orang2 Islam maka dia bukan termasuk golongan mereka." (HR al-Baihaqi) Bertolak dari keadaan ini, kita memiliki tanggung jawab baru, yaitu tanggung jawab untuk: • Menegakkan sebuah masyarakat Islam • Menyampaikan Islam kepada masyarakat. Langkah pertama yg sesuai dg tabiat Islam adalah membentuk rumah tangga kita supaya menjadi rumah tangga yg Islami. Kita bertanggung jawab utk menegakkan Islam di dalam kelurga, yg merupakan masyarakat kecil ini. Kita bertanggungjawab utk menyampaikan ajaran Islam kepada keluarga kita, pasangan hidup kita, anak2 kita, serta kerabat dan handai taulan. Inilah cara yg diikuti oleh Rasulullah dalam permulaan dakwah beliau. Firman Allah: "Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang di'azab. Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman".(QS 26:213-215) Oleh sebab itu, tugas yg secara langsung diemban oleh setiap Muslim setelah bertanggung jawab kepada dirinya adalah tanggung jawab kepada keluarga, rumah, dan anak2nya. Firman Allah: "Hai orang2 yg beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yg bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat2 yg kasar, yg keras, yg tdk mendurhakai Allah terhadap apapun yg diperintahkan-Nya" (QS 66:6)

Tanggung Jawab Sebelum Menikah
Utk menolong kita didalam usaha2 membina rumah tangga yg Islami, Islam telah memberikan petunjuk kepada kita. Diantaranya adalah: 1. Pernikahan kita haruslah karena Allah. Yaitu bertujuan Untuk : • Membina sebuah rumah tangga yg Islami • Melahirkan keturunan yg shaleh • Membina keluarga yg sanggup memikul amanah dan dapat melaksanakan kewujudan hidayah Allah sehingga hidayah tsb akan terus berlanjut. Firman Allah: "Sebagai satu keturunan yg sebagiannya (keturunan) dari yg lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS 3:34)

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

42 of 50

1/31/2007 Nikah

2. Pernikahan ditujukan untuk menjaga pandangan & kehormatan kita sehingga kita betul2 bertakwa kepada Allah. Rasulullah telah bersabda: "Allah berhak menolong tiga golongan: orang yg berjihad di jalan Allah, hamba mukatab yg ingin membayar harga tebusannya (trustee), dan orang yg menikah dg tujuan utk dapat memelihara kehormatan dirinya." (HR Tirmidhi, Ibn Hibban, dan Al-Hakim). Sabda Rasulullah yg lain: "Barang siapa yg menikah berarti dia telah menyempurnakan sebagian agamanya, maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah yg merupakan sebagian lainnya lagi." (HR alBaihaqi) 3. Kita haruslah bijak dalam memilih pasangan hidup yg akan menjadi teman hidup kita yg diharapkan bisa seiring dan sejalan. Ini membutuhkan usaha yg sungguh-sungguh. Rasulullah SAW telah bersabda: "Pilihlah (yg terbaik) utk keturunanmu karena (kegagalan dari) satu generasi akan menuju kepada krisis." (HR Ibnu Majah dan Abu Mansur) 4. Kita hendaklah memilih pasangan hidup yg memiliki akhlak yg baik & berpegang teguh kepada agama, jadi kekayaan dan wajah bukanlah ukuran utama. Sabda Rasulullah SAW: "Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya; bisa jadi kecantikannya itu akan membuat mereka hina. Janganlah kamu menikahi wanita karena hartanya; boleh jadi hartanya itu akan membuat mereka zalim. Tapi nikahilah mereka karena agamanya. Wanita hamba sahaya yg tuli namun beragama adalah lebih baik." (HR Ibnu Majah) 5. Kita harus menjauhkan diri dari melanggar perintah Allah & menjauhi kemurkaan Allah serta azabnya. Seperti yg disabdakan oleh Rasulullah s.a.w: "Siapa yg menikahi wanita karena ketinggian kedudukannya, pernikahan itu tdk akan membawa sesuatu kepadanya kecuali kehinaan. Barangsiapa menikahi wanita karena hartanya maka itu tdk akan menambah sesuatu kepdanya kecuali kemiskinan. Barangsiapa yg menikahi wanita karena keturunannya, perkawinan itu tdk akan menambah sesuatu kepadanya kecuali hina dina. Dan barang siapa yg menikahi wanita dg tujuan agar dapat menahan pandangannya, memelihara kehormatannya atau menghubungkan silaturahmi, Allah akan memberikan berkah kepadanya bersama wanita itu dan memberikan berkah kepada wanita itu bersamanya." (HR Abu Nuaim) Oleh: Abu Saifulhaq, 26/02/2002 http://www.alhikmahonline.org * kembali ke daftar isi

Nasihat Perkawinan
Kata Pengantar
Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalahpun dalam kehidupan ini yang tidak dijelaskan. Dan tidak ada satupun masalah yang tidak disentuh nilai Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele (ringan). Itulah Islam, agama yang memberi rahmat bagi sekalian alam. Dalam masalah pernikahan, Islam telah berbicara banyak. Mulai dari bagaimana mencari kriteria bakal calon pendamping hidup hingga bagaimana memperlakukannya kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam menuntunnya. Begitupula Islam mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah pesta pernikahan yang meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak melanggar tuntunan sunnah Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam. Begitupula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap penuh dengan pesona. Islam mengajarkannya.

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

43 of 50

1/31/2007 Nikah

Menikah merupakan jalan yang paling bermanfa'at dan paling afdhal dalam upaya merealisasikan dan menjaga kehormatan. Dengan menikah seseorang bisa terjaga dirinya dari apa yang diharamkan Allah SWT. Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendorong untuk mempercepat nikah, mempermudah jalan untuknya dan memberantas kendala-kendalanya. Nikah merupakan jalan fitrah yang bisa menuntaskan gejolak biologis dalam diri manusia. Nikah mengangkat cita-cita luhur yang kemudian dari persilangan syar'i tersebut sepasang suami istri dapat menghasilkan keturunan. Melalui perannya bumi ini menjadi semakin semarak. Melalui risalah (tulisan) singkat ini, anda saya ajak untuk bisa mempelajari dan menyelami tata cara pernikahan Islam yang begitu agung nan penuh nuansa. Anda akan diajak untuk meninggalkan tradisitradisi masa lalu yang penuh dengan upacara-upacara dan adat istiadat yang berkepanjangan dan melelahkan. Mestikah kita bergelimang dengan kesombongan dan kedurhakaan hanya lantaran sebuah pernikahan ..? Na'udzu billahi tsumma na'udzu billahi min dzalik. Wallahu musta'an.

Muqaddimah
Persoalan pernikahan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu menarik untuk dibicarakan serta dibahas. Persoalan ini bukan hanya menyangkut tabiat dan hajat hidup manusia yang asasi saja tetapi juga menyentuh suatu lembaga yang luhur dan sentral yaitu rumah tangga. Luhur, karena lembaga ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dan nilai-nilai akhlaq. Lembaga ini merupakan pusat bagi lahir dan tumbuhnya Bani Adam yang kelak mempunyai peranan kunci dalam mewujudkan kedamaian dan kemakmuran di muka bumi ini. Menurut Islam, Bani Adamlah yang memperoleh kehormatan untuk memikul amanah Illahi sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah Ta'ala: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?. Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (Al-Baqarah: 30) Pernikahan merupakan persoalan penting dan besar. 'Aqad nikah (pernikahan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci (MIITSAAQON GHALIIZHOO), sebagaimana firman Allah Ta'ala: Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat." (An-Nisaa' : 21). Karena itu, diharapkan semua pihak yang terlibat di dalamnya, khususnya suami istri, memelihara dan menjaganya secara sunguh-sungguh dengan penuh tanggung jawab. Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan pernikahan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan 'khitbah' (peminangan), mendidik anak, memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah (memberikan nafkah) dan harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci dan detail. Selanjutnya untuk memahami konsep Islam tentang pernikahan, maka rujukan yang paling sah dan benar adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah Shahih (yang sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih). Melalui rujukan ini kita akan dapati kejelasan tentang aspek-aspek pernikahan maupun beberapa penyimpangan dan pergeseran nilai pernikahan yang terjadi di masyarakat. Tentu saja semua persoalan tersebut tidak dapat saya (penulis) tuangkan dalam tulisan ini. Hanya beberapa persoalan yang perlu dibahas yaitu tentang: Fitrah Manusia, Tujuan Perkawinan dalam Islam, Tata Cara Perkawinan dan Penyimpangan Dalam Perkawinan.

Pernikahan adalah Fitrah Kemanusiaan
Agama Islam adalah agama fithrah dan manusia diciptakan Allah Ta'ala cocok dengan fitrah ini. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala menyuruh manusia menghadapkan diri ke agama fithrah agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan. Dengan demikian manusia dapat berjalan di atas fitrahnya tersebut. Perkawinan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkan untuk nikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan). Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

44 of 50

1/31/2007 Nikah

yaitu pernikahan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam. Firman Allah Ta'ala: Artinya: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) ; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (Ar-Ruum: 30) 1. Islam Menganjurkan Nikah Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagi satusatunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi serta sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: Artinya: "Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi". (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim) 2. Islam Tidak Menyukai Membujang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras". Dan beliau bersabda: "Artinya : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbanggga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat". (Hadits Riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban) Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang peribadatan beliau. Setelah mendapat penjelasan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata: "Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus". Yang lain berkata: "Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya".... Ketika hal itu didengar oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda: "Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku". (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim) Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan dengan memilih hidup membujang. Menurut Syaikh Hussain Muhammad Yusuf: "Hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan gersang. Hidup yang tidak mempunyai makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab". Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora, hingga kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu berada dalam pergolakan melawan fitrahnya. Kendati ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus menerus lama kelamaan akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan. Jadi orang yang enggan menikah baik laki-laki atau wanita, maka mereka itu sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka itu adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagian hidup, baik kesenangan bersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka kaya, namun mereka miskin dari karunia Allah. Islam menolak sistem 'kerahiban' karena sistem tersebut bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Sikap itu melawan sunnah dan kodrat Allah Ta'ala yang telah ditetapkan bagi semua mahluknya. Sikap enggan membina rumah tangga karena takut miskin adalah sikap orang jahil (bodoh), karena semua rezeki sudah

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

45 of 50

1/31/2007 Nikah

diatur oleh Allah sejak manusia berada di alam rahim. Manusia tidak bisa menteorikan rezeki yang diakaruniakan Allah, misalnya ia berkata : "Bila saya hidup sendiri gaji saya cukup, tapi bila punya istri tidak cukup?!" Perkataan ini adalah perkataan yang batil dan bertentangan dengan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah memerintahkan untuk nikah. Seandainya mereka fakir pasti Allah akan membantu dengan memberi rezeki kepadanya. Allah menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang nikah. Firman-Nya: "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orangorang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (An-Nur: 32) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menguatkan janji Allah itu dengan sabdanya: "Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya". (Hadits Riwayat Ahmad, Nasa'i, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim dari shahabat Abu Hurairah radliyallahu 'anhu) Para salafus shalih sangat menganjurkan untuk nikah. Mereka anti membujang dan tidak suka berlamalama hidup sendiri. Ibnu Mas'ud radliyallahu 'anhu pernah berkata : "Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah SWT sebagai seorang bujangan". (Ihya Ulumuddin hal. 20)

Tujuan Pernikahan dalam Islam
1. Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang pernikahan). Bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang seperti: berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang jauh dan diharamkan oleh Islam. 2. Untuk membentengi ahlak yang luhur Sasaran utama dari disyari'atkannya pernikahan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efektif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan serta melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih Menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi) 3. Untuk menegakkan rumah tangga yang islami Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq (perceraian). Jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah: "Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orangorang yang zhalim". (Al-Baqarah: 229) Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari'at Allah. Dan dibenarkan rujuk (kembali nikah lagi) bila keduanya sanggup menegakkan batas-batas Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam lanjutan ayat di atas: "Kemudian jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dinikahkan dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

46 of 50

1/31/2007 Nikah

menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami yang pertama dan istri) untuk nikah kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, diterangkannya kepada kaum yang (mau) mengetahui". (Al-Baqarah: 230) Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari'at Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari'at Islam adalah WAJIB. Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal yaitu: (a) sesuai kafa'ah; dan (b) shalih dan shalihah. Kafa'ah menurut konsep islam Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orangtua. Tidak sedikit pada zaman sekarang ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu' (sederajat, sepadan) hanya diukur lewat materi saja. Menurut Islam, kafa'ah (atau kesamaan/kesepadanan/ sederajat dalam pernikahan) dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami Insya Allah akan terwujud. Tetapi kafa'ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta akhlaq seseorang. Allah memandang sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan dari keduanya kecuali derajat taqwanya. Firman Allah: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". (Al-Hujurat: 13) Dan mereka tetap sekufu' dan tidak ada halangan bagi mereka untuk menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para orangtua, pemuda, pemudi untuk meninggalkan faham materialis dan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang Shahih. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Wanita dikawini karena empat hal : Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka". (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim) Memilih yang shalih dan shalihah Lelaki yang hendak menikah harus memilih wanita yang shalihah dan wanita harus memilih laki-laki yang shalih. Menurut Al-Qur'an: "Wanita yang shalihah ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, olkeh karena Allah telah memelihara (mereka)". (An-Nisaa : 34). Menurut Al-Qur'an dan Al-Hadits yang Shahih di antara ciri-ciri wanita yang shalihah ialah: "Ta'at kepada Allah, ta'at kepada Rasul, memakai jilbab (pakaian) yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah (Al-Ahzab: 32). Tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, ta'at kepada orangtua dalam kebaikan, ta'at kepada suami dan baik kepada tetangganya dan lain sebagainya". Bila kriteria ini dipenuhi Insya Allah rumah tangga yang Islami akan terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih wanita yang peranak dan penyayang agar dapat melahirkan generasi penerus umat. 4. Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadah dan amal-amal shalih yang lain. Sampai-sampai bersetubuh (berhubungan suamiistri) pun termasuk ibadah (sedekah). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah!." Mendengar sabda Rasulullah itu para shahabat keheranan dan bertanya: "Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?" Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab: "Bagaimana menurut kalian

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

47 of 50

1/31/2007 Nikah

jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? "Jawab para shahabat : "Ya, benar". Beliau bersabda lagi : "Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala!". (Hadits Shahih Riwayat Muslim, Ahmad dan Nasa'i dengan sanad yang Shahih). 5. Untuk mencari keturunan yang shalih dan shalihah Tujuan pernikahan diantaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam. Allah berfirman: "Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?" (An-Nahl : 72). Yang tak kalah pentingnya, dalam pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas yaitu mencetak anak yang shalih dan Shalihah serta bertaqwa kepada Allah SWT. Keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan tarbiyah Islam (pendidikan Islam) yang benar. Disebutkan demikian karena banyak "Lembaga Pendidikan Islam", tetapi isi dan metodanya tidak Islami. Sehingga banyak terlihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami sebagai akibat pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar. Islam memandang bahwa pembentukan keluarga merupakan salah satu jalan untuk merealisasikan tujuantujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.

Tatacara Pernikahan Dalam Islam
Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara pernikahan berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih (sesuai dengan pemahaman para Salafus Shalih). Secara singkat saya (penulis) sebutkan tahapannya dan jelaskan seperlunya: 1. Khitbah (meminang) Seorang muslim yang akan menikahi seorang muslimah hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain. Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq 'alaihi). Dalam khitbah disunnahkan melihat wajah yang akan dipinang (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Darimi) 2. Aqad nikah Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi yaitu: a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai. b. Adanya Ijab Qabul. c. Adanya Mahar. d. Adanya Wali. e. Adanya Saksi-saksi. Dan menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan 'khutbah' terlebih dahulu yang dinamakan 'Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat'. 3. Walimah 'urusy (resepsi pernikahan) Walimatul 'urusy hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin. Hendaknya diundang juga orangorang miskin. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya". (Hadits Shahih Riwayat Muslim dan Baihaqi dari Abu Hurairah)

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

48 of 50

1/31/2007 Nikah

Sebagai catatan penting hendaknya yang diundang itu orang-orang shalih, baik kaya maupun miskin. Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Janganlah kamu bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin dan jangan makan makananmu melainkan orang-orang yang taqwa". (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim dan Ahmad dari Abu Sa'id Al-Khudri)

Sebagian Penyelewengan Seputar Pernikahan
1. Pacaran Kebanyakan orang sebelum melangsungkan pernikahan biasanya "berpacaran" terlebih dahulu. Hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau di anggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya. Adanya anggapan seperti ini melahirkan konsensus (persepsi) bersama antar berbagai pihak untuk menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis. Terjadi saling pandang, saling sentuh antara lawan jenis yang sudah jelas haram hukumnya menurut syari'at Islam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: " Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim). Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk berpacaran dan berpacaran itu hukumnya haram. 2. Tukar cincin Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat, Nashiruddin Al-Bani) 3. Menuntut mahar yang tinggi Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi. 4. Mengikuti upacara adat Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara (upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam) maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan (sesuai pengamatan dan perbincangan penulis). Sungguh sangat ironis...! Kepada mereka yang masih menuhankan adat istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam, berarti mereka belum yakin kepada Islam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?". (Al-Maaidah : 50). Orangorang yang mencari konsep, peraturan, dan tatacara selain Islam, maka semuanya tidak akan diterima oleh Allah dan kelak di akhirat mereka akan menjadi orang-orang yang merugi, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (Ali-Imran: 85) 5. Mengucapkan ucapan selamat ala jahiliyah. Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata 'Birafa' wal banin', ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa' wal banin (semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam. Dari Al-Hasan, bahwa 'Aqil bin Abi Thalib menikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah: 'Birafa' Wal Banin'. 'Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata: "Janganlah kalian ucapkan demikian! Karena Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam melarang ucapan demikian". Para tamu bertanya: "Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ". 'Aqil menjelaskan:

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

49 of 50

1/31/2007 Nikah

"Ucapkanlah: Barakallahu lakum wa baraka 'alaiykum" (mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan). Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam". (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad, dan lain-lain) Do'a yang biasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ucapkan kepada seorang mempelai ialah: "Baarakallahu laka wa baarakaa 'alaiyka wa jama'a baiynakumaa fii khoir" Do'a ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: 'Artinya: Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan do'a: Baarakallahu laka wabaraka 'alaiyka wa jama'a baiynakuma fii khoir (mudahmudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan). (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi) 6. Adanya ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan wanita) Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya. (untuk yang satu ini masyarakat kita belum terbiasa dengan sunnah Rasulullah SAW, bahkan sangat asing dengan nilai-nilai yang dibawa oleh ajaran Islam) 7. Pelanggaran lain Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar, memakan hidangan yang disediakan sambil berdiri, dsb.

Khatimah
Rumah tangga yang ideal menurut ajaran Islam adalah rumah tangga yang diliputi 'sakinah' (ketentraman jiwa), 'mawaddah' (rasa cinta) dan 'rahmah' (kasih sayang). Allah berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu hidup tentram bersamanya. Dan Dia (juga) telah menjadikan diantaramu (suami/istri) rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Ruum: 21) Dalam rumah tangga yang Islami, suami-istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajibannya serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian upaya untuk mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridha'an Allah SWT dapat terealisir. Tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia mendadak dilanda "kemelut" perselisihan dan percekcokan. Bila sudah diupayakan untuk damai (sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nisaa: 34-35) namun tetap gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu "perceraian". Marilah kita berupaya untuk merealisasikan pernikahan secara Islam dan membina rumah tangga yang Islami. Disamping itu wajib bagi kita meninggalkan aturan, tatacara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Hanya Islam satu-satunya ajaran yang benar dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala (Ali-Imran: 19) "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan yang menyejukkan hati kami, dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertaqwa." (Al-Furqan 25:74) Amiin. Judul Asli: Konsep Perkawinan Dalam Islam

Subhan ibn Abdullah Pattaya, Thailand

50 of 50

1/31/2007 Nikah

Yazid bin Abdul Qadir Jawas http://www.assunnah.or.id/artikel/masalah/21nasihat_cetak.php Juga oleh: Ir. Drs. Abu Ammar, MM (Peka online, 2001) * kembali ke daftar isi

Tammat


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:16277
posted:1/8/2010
language:Indonesian
pages:50