1 Analisis Indikator Identifikasi Cerdas Istimewa Dan Prestasi by variablepitch344

VIEWS: 4,899 PAGES: 12

									Analisis Indikator Identifikasi Cerdas Istimewa Dan Prestasi Belajar Pada Siswa Akselerasi Dan Reguler SMPN1 Malang. Fasikhah, S.S. 2009.

INTISARI Anak cerdas istimewa atau gifted children adalah anak yang mempunyai kemampuan unggul. Mengingat bahwa anak berbakat merupakan anak yang mempunyai kelebihan dan kemampuan yang berbeda dari anak sebayanya, maka mereka harus mendapatkan pelayanan yang berbeda dari pelayanan yang diberikan kepada anak yang tidak berbakat agar potensi mereka bisa berkembang maksimal (Munandar, 2004). Salah satu pelayanan yang bisa diberikan kepada anak berbakat adalah acceleration (percepatan). Identifikasi anak cerdas istimewa terdiri dari beberapa indikator yaitu inteligensi 130 keatas, kreativitas dan komitmen terhadap diatas rata-rata, minat tinggi dan kepribadian yang mendukung. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui indikator identifikasi cerdas istimewa yang memiliki prediktor utama dalam prestasi belajar pada siswa peserta program akselerasi dan reguler yang teridentifikasi sebagai siswa cerdas istimewa, (b) untuk mengetahui ratarata prestasi belajar antara siswa cerdas istinewa peserta program akselerasi dan siswa reguler yang teridentifikasi sebagai cerdas istimewa. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Menengah Pertama siswa peserta program akselerasi dan reguler yang teridentifikasi cerdas istimewa. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) Tes Psikologi: (2) Dokumentasi, dengan analisis regresi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa variabel indikator cerdas istimewa yang dapat digunakan sebagai prediktor dalam prestasi belajar siswa adalah elaborasi, motivasi dan penyesuaian diri. Ketiga variabel ini merupakan bagian dari aspek kreativitas, task comitment dan kepribadian. Sumbangan elaborasi terhadap prestasi belajar adalah 36,1%, motivasi memberikan sumbangan 23,2% terhadap prestasi belajar dan sumbangan penyesuaian diri terhadap prestasi belajar adalah 18 %. Anak berbakat merupakan istilah yang digunakan untuk menterjemahkan gifted children. Callahan (dalam Santrock, 2002) mendifinisikan gifted adalah mereka yang mempunyai inteligensi yang tinggi (IQ nya 120 atau lebih) dan atau superior dalam suatu bakat tertentu. Menurut Cropley (dalam Munandar, 2004) keberbakatan yang sungguhsungguh atau true giftedness merupakan gabungan antara kemampuan konversional (ingatan baik, berpikir logis, pengetahuan factual, kecermatan, dan sebagainya) dan kemampuan kreatif (menciptakan gagasan, mengenal kemungkinan alternative, melihat kombinasi yang tidak diduga, memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang tidak lazim, dan sebagainya).

1

Renzulli (dalam Monks, dkk., 2002; Kathena, 1994; Akbar-Hawadi, 2002) mengemukakan bahwa seseorang dikatakan sebagai gifted atau berbakat adalah mereka yang mempunyai tiga sifat dasar yaitu inteligensi di atas rata-rata, kreativitas dan komitmen pada tugas yang tinggi. Menurut Marland berdasarkan hasil konggres U.S. Commisioner of Educations’s tahun 1972 (dalam Gagne, 1993) anak berbakat adalah anak yang diidentifikasi oleh orang-orang yang profesional sebagai orang yang mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk melakukan suatu pekerjaan yang berkualitas. Mereka membutuhkan pelayanan yang berbeda dari anak-anak normal, sehingga mereka dapat memberikan sumbangan yang bernilai bagi diri sendiri maupun orang lain. Anak-anak tersebut secara potensial memiliki: 1. Kemampuan atau kecerdasar umum yang tinggi. 2. Mempunyai kecakapan akademik khusus 3. Kreatif dan produktif dalam berpikir 4. Cakap dalam kepemimpinan 5. Mempunyai kecakapan dalam seni visual 6. Cakap dalam aktivitas psikomotorik. Selanjutnya Gagne (1993) juga mengutip definisi gifted and talented menurut Renzulli. Keberbakatan yang merupakan interaksi dari ketiga sifat dasar yaitu inteligensi yang di atas rata-rata, komitmen terhadap tugas, dan kreativitas yang tinggi harus diwujudkan dalam performance yang nyata yang juga mempunyai nilai maslahat bagi orang banyak. Dengan demikian anak ini perlu mendapatkan kesempatan pelayanan yang berbeda dengan anak yang biasa. Salah satu yang lebih popular dalam hal taxonomi terhadap kemampuan seseorang adalah dikemukakan oleh Gardner (dalam Gagne, 1993) tentang multiple intelligence. Gardner mengidentifikasi sebanyak tujuh domain tentang inteligensi, yaitu: (1) linguistic, (2) musical, (3) logical-mathematical, (4) the spatial, (5) the bodily-kinesthetic, (6) interpersonal, dan (7) intrapersonal. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi dan regresi dengan taraf signifikansi 5%. Tabel 4.2 menunjukkan hasil korelasi antara variabel prediktor dengan prestasi belajar.

2

Tabel 4.2 Hasil Analisis Data Korelasi Variabel Prediktor dan Prestasi Belajar
Variabel Prediktor IQ Kemampuan Verbal Kemampuan Numerik Kemampuan Logika Kemampuan Spasial Kemampuan Abstraksi Kreativitas Umum Kelancaran Berpikir Keluwesan Berpikir Original Elaborasi Komitmen Terhadap Tugas Motivasi Sikap Terhadap tugas Orientasi Terhadap Tugas Kematangan Emosi PenyesuaianDiri Kepercayaan Diri Minat Koefisien korelasi ® 0.278 0.367 0.008 0.217 -0.306 0.159 0.371 0.261 0.363 0.381 0.601 -0.265 -0.482 -0402 0.136 -0.240 0.424 0.281 -0.166 p

0.099 0.042 0.486 0.160 0.078 0.234 0.041 0.115 0.044 0.036 0.001 0.111 0.01 0.028 0.268 0.135 0.022 0.097 0.224

Keterangan: angka biru r yang signifikan.

Berdasarkan hasil analisis korelasi yang tersaji pada tabel 4,2 menunjukkan bahwa dari 19 variabel indikator cerdas istimewa ternyata hanya ada 8 variabel yang memiliki korelasi dengan prestasi belajar siswa. Variabel (1) elaborasi mempunyai korelasi yang paling tinggi r=0.601, p=0.001, kemudian berturut-turut variabel yang berkorelasi dengan prestasi belajar adalah (2) motivasi, (3) penyesuaian diri, (4)

3

sikap terhadap tugas, (5) original, (6) kreativitas umum, (7) kemampuan verbal, dan (8) keluwesan berpikir. Hasil analisis data menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan sesorang untuk mengemukakan ide-ide, inisiatif dalam menghadapi permasalahan atau tugastugas sekolah akan semakin tinggi pula prestasi belajarnya. Demikian pula semakin tinggi kreativitas, penyesuaian diri, dan kemampuan untuk mengemukakan pendapat seseorang, maka akan semakin tinggi pula prestasi belajarnya. Hasil penelitian lain yang cukup menarik adalah pada variabel motivasi dan sikap terhadap tugas mempunyai korelasi yang negatif, artinya semakin tinggi motivasi dan sikap terhadap tugas, maka akan semakin rendah prestasi belajarnya. Secara teoritis temuan ini sulit untuk bisa diterima, tetapi fakta ini membutuhkan telaah analisis yang tajam sehingga dapat menjawab hasil penelitian ini. Subjek penelitian ini memiliki skor motivasi cenderung tinggi yaitu (M=4.5). motivasi yang tinggi ditunjukkan dengan kemampuannya untuk asyik dengan tugas-tugas yang diminatinya, gigih dihadapkan pada tugas-tugas yang sulit dan berusaha keras untu mencapai ksempurnaan. Siswa cerdas istimewa biasanya memiliki motivasi diri yang kuat merasa tidak perlu bantuan orang lain, karakteristik perkembangannya ini merupakan faktor-faktor kuat yang akan memberikan dampak psikologis dalam perilakunya, baik positif naupun negatif. Setiap karakteristik anak cerdas istimewa yang menunjukkan lompatan perkembangan dapat memberikan dampak perilaku positif yaitu mereka hanya perlu sedikit arahan atau bantuan orang lain, sementara dampak perilaku negatifnya adalah agresif berlebihan, menentang otoritas. Kemungkinan dampak negatif ini yang kemudian memberikan pengaruh kehidupannya sehari-hari di sekolah. Demikian pula sikapnya terhadap tugas yang belum optimal, justru akan menimbulkan masalah. Hal ini juga sering ditemui guru bila memberikan tugas kepada siswa, mereka justru sering suka menawar atau menentang guru. Beberapa permasalahan siswa cerdas istimewa seringkali ditemui

karena karakteristik lompatan perkembanganya yang memberikan dampak psikologis yang positif maupun negatif. Gejala-gejala lompatan perkembangan anak cerdas istimewa merupakan faktor-faktor kuat yang akan memberikan dampak psikologis dalam perilakunya, baik positif maupun negatif. Dengan memahami karakteristik anak, kita bisa mengantisipasi jika terjadi hal-hal di luar dugaan (misalnya marah,

4

agresif), dan bisa memperkirakan penyebabnya. Perilaku-perilaku negatif tersebut yang mungkin menjadi sumber masalah emosional anak cerdas istimewa. Tabel 4.3 Perilaku Positif dan Negatif Anak Cerdas Istimewa Karakteristik
Sangat waspada Selera humor yang tinggi Mampu memahami keterkaitan satu dengan lain hal Dorongan berprestasi yang kuat Kemampuan verbal yang tinggi Individualistik, menantang stabilitas Motivasi diri yang kuat merasa tidak perlu bantuan orang lain Kemampuan membaca yang sangat tinggi Sangat senang membaca Kaya perbendaharaan kata Simpanan informasi yang sangat banyak Rentang perhatian yang panjang Minat beragam, rasa penasaran yang tinggi Belajar/bekerja sendiri

Perilaku Positif
Cepat mengetahui adanya masalah Mampu menertawakan diri sendiri Mampu memecahkan masalah sosial sendirian Mengerjakan tugas sekolah dengan baik Diplomasi persuasif dengan tata bahasa yang tepat Percaya diri tinggi

Perilaku Negatif
Senang mengoreksi orang dewasa Membuat lelucon dengan mengorbankan orang lain Ikut campur urusan orang lain

Arogan, egois, tidak sabaran dengan kelambanan orang lain Memanipulasi orang lain Hanya punya sedikit teman dekat, kuat dengan keyakinan sendiri Agresif berlebihan, menentang otoritas Gampang bosan, tidak suka hafalan Mengabaikan orang lain Suka pamer pengetahuan Memonopoli diskusi Tidaksuka kerja berbatas waktu, mengatur sendiri waktu penyelesaian Kurang dapat membuat pembicaraan yang lintas disiplin Menolak bekerjasama dengan orang lain yang dianggap tidak sejalan

Hanya perlu sedikit arahan atau bantuan orang lain Mengingat dan menguasai materi belajar dengan mudah Membaca berbagai jenis buku, memonopoli perpustakaan Mengkomunikasikan gagasan dengan lancar Cepat dalam menjawab pertanyaaan Mengerjakan tugas sampai selesai Banyak bertanya, senang dengan gagasan baru Menciptakan gaya sendiri dalam melakukan sesuatu

Sumber: Center for Gifted and Intelligence Studies (CGIS-NET Assessment Systems 2008 dalam Fasikhah, 2009).

5

Tabel 4.3 Hasil Analisis Regresi
Variabel Prediktor IQ Kemampuan Verbal Kemampuan Numerik Kemampuan Logika Kemampuan Spasial Kemampuan Abstraksi Kreativitas Umum Kelancaran Berpikir Keluwesan Berpikir Original Elaborasi Komitmen Terhadap Tugas Motivasi Sikap Terhadap tugas Orientasi Terhadap Tugas Kematangan Emosi PenyesuaianDiri Kepercayaan Diri Minat R 0.07 0.135 0.000 0.47 0.47 0.025 0.138 0.068 0.132 0.145 0.361 0.070 0.232 0.162 0.019 0.057 0.180 0.079 0.02 F 1.762 3.272 0.001 1.034 2.170 0.546 3.357 1.530 3.188 3.565 11.857 1.580 6.341 4.059 0.397 1.280 4.600 1.795 0.596

Keterangan: angka biru R & F yang signifikan.

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa bahwa prediktor utama

untuk

prestasi belajar siswa akselerasi adalah elaborasi, motivasi dan penyesuaian diri. Dari ketiga prediktor ini yang memberikan sumbangan paling besar adalah (1) elaborasi (36 %), (2) motivasi (23.2%) dan (3) penyesuaian diri ( 16 %). Ketiga prediktor tersebut merupakan bagian dari aspek kreativitas, task comitment dan kepribadian. Dalam menginterpretasikan skor-skor tes inteligensi, kepribadian dan kemampuan tak dapat dipisahkan terus menerus. Kinerja seseorang pada tes bakat dan juga kinerjanya di sekolah, di pekerjaan atau ditempat lainnya, dipengaruhi oleh motivasi berprestasi, ketekunannya, sistim nilainya, kebebasannya dari masalah-

6

masalah emosional yang mengganggu dan hal-hal lain yang secara umum dimasukkan dalam konsep kepribadian. Minat, sikap, dan konsep diri siswa mempengaruhi keterbukaannya dalam tugas belajar, kemauan belajarnya, perhatian terhadap bimbingan guru, dan waktu yang digunakannya untuk menyelesaikan tugas. Hal ini didukung oleh hasil

penelitian Baron, Dreger dan J. McV. Hunt (dalam Anastasi, 1998) yang menyatakan bahwa reaksi-reaksi individual terkait secara signifikan dengan prestasi dalam pendidikannya. Hubungan antara kepribadian dan intelektual bersifat resiprokal (timbal balik). Ciri-ciri kepribadian tidak hanya mempengaruhi perkembangan intelektual, tetapi tingkat intelektual juga bisa mempengaruhi perkembangan kepribadian. Hasil

penelitian Plant dan Minium (dalam Anastasi , 1998) menunjukkan bahwa ada kecenderungan yang kuat untuk melakukan perubahan kepribadian yang lebih positif secara psikologis bagi kelompok berkemampuan tinggi dari pada kelompok berkemampuan rendah. Keberhasilan yang dicapai anak dalam pengembangan dan penggunaan kemampuannya akan mempengaruhi penyesuaian emosional, hubungan antar pribadi, dan konsep dirinya. Konsep diri, bakat dan sifat-sifat kepribadian memberikan

pengaruh yang timbal balik. Prestasi anak di sekolah, di tempat bermain atau dalam situasi yang lain akan membantu membentuk konsep diri anak, dan konsep diri akan mempengaruhi kinerja selanjutnya. Konsep diri berperan dalam pengembangan diri seorang anak. Hasil penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa indikator-indikator motivasi seorang anak dalam mempelajari hal baru merupakan alat prediksi prestasi dalam pendidikan yang juga sangat penting karena pengaruhnya yang timbal balik dengan potensi intelektual atau inteligensi (dalam Fasikhah, 2009). Dari analisis korelasi dan regresi ternyata memberikan informasi yang menarik, bahwa sustu variabel yang mempunyai hubungan satu dengan yang lain belum tentu merupakan suatu variabel prediktor yang baik. Seperti halnya

kemampuan verbal berkorelasi dengan prestasi belajar, ternyata tidak memberikan sumbangan yang signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa akselerasi sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam elaborasi, motivasi dan penyesuaian

7

diri artinya kemampuan seseorang untuk mengemukakan pendapat, ide atau inisiatifnya akan memberikan motivasi siswa untuk mengembangkan kemampuankemampuannya. Hal ini juga didukung oleh kemampuannya untuk mampu menempatkan diri, memahami lingkungan dan menyesuaikan diri dengan perubaanperubahan yang mungkin terjadi serta peluang. Dari sisi orangtua atau guru hasil penelitian ini juga sangat bermanfaat, terutama mengingatkan kepada kita bagaimana pola yang sebaiknya dikembangkan dalam keluarga atau sekolah agar tercipta anak-anak/siswa-siswa yang memiliki kemampuan untuk mengekspresikan dirinya, memiliki kemampuan untuk memahami kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangannya, memiliki identitas yang otentik, memiliki ketrampilan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Sementara J.F. Monks (seorang guru besar anak berbakat dari Belanda) menjelaskan bahwa faktor inteligensi adalah faktor stabil. Maksudnya, faktor kepandaiannya untuk mencari peluang-

inteligensi sulit dipengaruhi dari luar karena merupakan faktor bawaan (genetik), sedangkan kreativitas dan motivasi merupakan faktor yang dapat dipengaruhi dari luar (lingkungan). Karenanya, potensi anak cerdas istimewa (gifted) akan berkembang dengan optimal jika ada dukungan dari sekolah, keluarga dan lingkungan (Monks, dkk., 2001; Harjaningrum, dkk., 2007). Perkembangan dipengaruhi oleh interaksi antara faktor-faktor pribadi (kecerdasan, motivasi, kepribadian) yang dimiliki individu dan faktor-faktor lingkungan (pengasuhan, teman sebaya, sekolah, televisi, masyarakat). Sementara J.F. Monks (seorang guru besar anak berbakat dari Belanda) menjelaskan bahwa faktor inteligensi adalah faktor stabil. Maksudnya, faktor

inteligensi sulit dipengaruhi dari luar karena merupakan faktor bawaan (genetik), sedangkan kreativitas dan motivasi merupakan faktor yang dapat dipengaruhi dari luar (lingkungan). Karenanya, potensi anak cerdas istimewa (gifted) akan berkembang dengan optimal jika ada dukungan dari sekolah, keluarga dan lingkungan (Monks, dkk., 2001; Harjaningrum, dkk., 2007). Sementara J.F. Monks (seorang guru besar anak berbakat dari Belanda) menjelaskan bahwa faktor inteligensi adalah faktor stabil. Maksudnya, faktor

inteligensi sulit dipengaruhi dari luar karena merupakan faktor bawaan (genetik), sedangkan kreativitas dan motivasi merupakan faktor yang dapat dipengaruhi dari luar

8

(lingkungan). Karenanya, potensi anak cerdas istimewa (gifted) akan berkembang dengan optimal jika ada dukungan dari sekolah, keluarga dan lingkungan (Monks, dkk., 2001; Harjaningrum, dkk., 2007). Sekalipun seorang anak memiliki potensi bawaan yang baik, jika tak ada dukungan maka potensi tersebut akan sulit teraktualisasi sebagai prestasi luar biasa. Sebaliknya anak-anak yang tidak mempunyai potensi bawaan yang tinggi, meskipun dengan pendidikan yang luar biasa, juga akan mengalami kesulitan untuk mencapai prestasi luar biasa. Para profesional mengidentifikasikan bahwa anak cerdas istimewa mampu mencapai prestasi tinggi, karena mereka memiliki kemampuan-kemampuan unggul. Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa, agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun terhadap diri sendiri. Program pendidikan khusus yang dikembangkan di Indonesia bagi anak cerdas istimewa tersebut adalah program akselerasi pada sekolah-sekolah yang telah mendapat rekomendasi dari Departemen Pendidikan Nasional. Perkembangan memiliki karakteristik sistimatis, progresif dan

berkesinambungan, baik dalam perkembangan fisik maupun psikologis. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan bersifat saling mempengaruhi satu dengan yang lain, maju, meningkat dan meluas baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikologis) serta berlangsung secara beraturan atau berurutan dan tidak terjadi secara kebetulan. Karenanya, pengasuhan pada seorang anak harus dipandang secara optimis dan direncanakan. Orang tua yang optimis terhadap kemajuan yang akan diperoleh dalam perkembangan anaknya adalah orang tua yang akan memberikan motivasi dan kepercayaan diri anak untuk berprestasi dan memberikan daya tahan terhadap anak dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Dengan memahami

karakteristik tiap-tiap tahap perkembangan kecerdasan, orang tua dapat menyusun rencana pendidikan dan pengembangan potensi anak dengan lebih baik. Pengasuhan anak membutuhkan waktu, artinya orangtua harus berkomitmen dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun untuk memberi anak lingkungan yang hangat, mendukung, dan merangsang, yang akan membuat mereka merasa aman dan memungkinkan mereka untuk meraih potensi sepenuhnya. 9

Kesejahteraan anak merupakan kepedulian kita, anak-anak adalah masa depan masyarakat. Anak yang tidak mencapai potensi mereka, yang tidak dapat memberi sumbangan secara efektif terhadap masyarakat, dan yang tidak menggantikan posisi mereka sebagai orang dewasa yang produktif akan menghilangkan masa depan masyarakat (Fasikhah, 2009). Ada[pun saran-saran penelitian sebagai berikut: (1) Saran kepada siswa. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan kepada siswa

untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengemukakan pendapat, ide-ide dan inisiatifnya sehingga dapat meningkatkan motivasinya dalam berprestasi dan dengan kemampuan penyesuaian dirinya siswa akan mampu menyelesaikan permasalahanpermaslahan ataupun tugas-tugas yang dihadapi di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari, (2) Saran kepada guru dan sekolah. Hasil penelitian ini akan dapat dimanfaatkan oleh pihak sekolah maupun guru dalam mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif, sehingga kemampuan elaborasi siswa dapat terlatih dengan baik, sehingga akan memberikan motivasi untuk beprestasi dan membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan penyesuaian dirinya, sehingga siswa akan terlatih menghadapi permaslahan-permasalahan ataupun tugas-tugas sekolah. (3) Kepada pihak sekolah maupun guru, terutama wali kelas dari siswa reguler yang teridentifikasi sebagai cerdas istmewa dapat memberikan perhatian agar dapat mengoptimalkan kemampuan-kemampuannya. Sehingga diharapkan dapat memberi kesempatan kepada siswa reguler yang teridentifikasi sebagai siswa cerdas istimewa, agar mendapatkan pelayanan yang memadai. (4) Saran kepada peneliti. Hasil penelitian ini dapat memberikan motivasi kepada para peneliti anak cerdas istimewa dalam mengembangkan alat identifikasi yang terstandart dan lengkap, sehingga dapat menemukan suatu model identifikasi anak cerdas istimewa yang akurat, valid, reliabel dan efektif.

10

DAFTAR PUSTAKA Akbar-Hawadi, R. (2004). Perspektif psikologis program akselerasi bagi anak berbakat akademik. Reni Akbar-Hawadi (eds). Akselerasi: A-Z informasi program percepatan belajar dan anak berbakat intelektual. Jakarta: PT. Gramedia. ____________________. Program percepatan belajar bagi anak berbakat intelektual ditinjau dari sisi psikologis. Reni Akbar-Hawadi (eds). Akselerasi: A-Z informasi program percepatan belajar dan anak berbakat intelektual. Jakarta: PT.Gramedia. Clark, B. (1988). Growing up gifted: Developing the potential of children at home and at school. Columbus: Merril Publishing Company. Coulson, C.J. (2003). The unique potential http://www.santafecoah.com/gpotential.htm of gifted individuals.

Fasikhah, S. S. (2004). Penyusunan norma tes inteligensi CFIT (Culture Fair Intelligence Scale). Laporan Penelitian. Malang: Lembaga Penelitian UMM. Fasikhah, S.S. (2009). Deteksi Dini Kecerdasan. Malang: Fakultas Psikologi UMM Gagne, F. (1993). Constructs and models pertaining to exceptional human abilities. Kurt A. Heller, Franz J. Monks, A. Harry Passow (Editors). International handbook of research and development of giftedness and talent. Oxford: Pergamon. Hewton, J. (2002). Definitions of giftedness. http://qagtc.org.au/definitions_if_giftedness.htm Iswinarti, (2004). Penyusunan norma tes kreativitas figural bentuk lingkaran untuk anak usia sekolah dasar. Laporan penelitian. Malang: Lembaga Penelitian UMM. _______, (2006). Penyusunan alat ukur Task Comitment. Laporan penelitian. Malang: Lembaga Penelitian UMM. _______, (2006). Identifikasi anak berbakat pada siswa sekolah dasar. Laporan penelitian. Malang: Lembaga Penelitian UMM. Kathena, J. (1994). Gifted. Chalenge and response for education. Illinois: Peacock Publ. Monks, F.J., Knoers, A.M.P., Haditono, S.R. (2002). Psikologi perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

11

Munandar, U. (1985). Pokok-pokok masalah identifikasi anak bnerbakat di Indonesia. S.C. Utami Munandar (Editor). Anak-anak berbakat: Pembinaan dan pendidikannya. Jakarta: Rajawali Press. ___________. (1992). Mengembangkan bakat dan kreativitas anak. Jakarta: Gramedia. ___________. (2004). Pengembangan kreativitas anak berbakat. Jakarta: Penerbit Rineksa Cipta.

12


								
To top