PROFESIONALISME GURU DAN HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA by variablepitch344

VIEWS: 49,714 PAGES: 81

									PROFESIONALISME GURU DAN HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI MTS AL-JAMII’AH TEGALLEGA CIDOLOG SUKABUMI
Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam

Disusun Oleh :

DIAN MAYA SHOFIANA NIM. 104011000051

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2008 M/1429 H

i

LEMBAR PENGESAHAN Skripsi berjudul: “Profesionalisme Guru dan Hubungannya dengan Prestasi Belajar Siswa di MTs Al-Jamii’ah Tagallega Cidolog Sukabumi” diajukan kepada Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan lulus dalam ujian munaqasyah pada hari Selasa, 19 Agustus 2008 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S1 (S.Pd.I) dalam bidang Pendidikan Agama Islam. Jakarta, 19 Agustus 2008 Panitia Ujian Munaqasyah, Tanggal Ketua Panitia (Ketua Jurusan PAI) Dr. H. Abd. Fattah Wibisono, MA. NIP : 150236009 Sekretaris (Sekretaris Jurusan PAI) Drs. Sapiudin Shidiq, M.Ag. NIP : 150299477 Penguji I Drs. H. Mawardi Sutedjo NIP : 150011336 Penguji II Drs. H. Akyas Azhri NIP : 150023218 _________ ___________ _________ ___________ _________ ___________ _________ ___________ Tanda Tangan

Mengetahui, Dekan,

Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. NIP : 150231356

iv

ABSTRAK DIAN MAYA SHOFIANA, NIM : 104011000051, PROFESIONALISME GURU DAN HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI MTS AL-JAMII’AH TEGALLEGA CIDOLOG SUKABUMI Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Profesionalisme guru yang dimaksud dalam skripsi ini adalah guru Fiqih yang profesional. Adapun guru profesional itu sendiri adalah guru yang berkualitas, berkompetensi, dan guru yang dikehendaki untuk mendatangkan prestasi belajar serta mampu mempengaruhi proses belajar mengajar siswa, yang nantinya akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik. Kompetensi guru yang diteliti meliputi empat kategori. Pertama, kemampuan guru dalam merencanakan program belajar mengajar. Kedua, kemampuan guru dalam menguasai bahan pelajaran. Ketiga, kemampuan guru dalam melaksanakan dan memimpin/mengelola proses belajar mengajar. Dan keempat, kemampuan dalam menilai kemajuan proses belajar mengajar. Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai setelah melalui proses kegiatan belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat ditunjukkan dalam bentuk nilai yang diberikan guru berupa raport yang merupakan hasil dari beberapa bidang studi yang telah dipelajari oleh peserta didik. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan dua bentuk metode penelitian. Pertama, penulis menggunakan metode penelitian library research, melalui penelitian ini penulis berusaha mengkaji buku-buku serta tulisan ilmiah yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam skripsi ini. Kedua, menggunakan penelitian field research, yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung ke MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi. Teknik pengumpulan data yang penulis lakukan yaitu melalui angket yang diberikan kepada peserta didik kelas VII dan VIII yang dipilih secara acak, kemudian dengan observasi, wawancara dan dengan studi dokumentasi. Setelah data-data tersebut diperoleh, penulis menganalisis data dan melakukan uji hipotesis dengan menggunakan rumus product momen dan menggunakan rumus Koefisien Determinasi untuk mengetahui kontribusi kedua Variabel X dan Y. Selanjutnya penulis menyimpulkan hasil penelitian dalam bentuk analisis interpretasi data. Setelah penelitian ini dilakukan, penulis memperoleh hasil penelitian bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara profesionalisme guru dalam bidang studi Fiqih dengan prestasi belajar siswa di MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi. Kontribusi profesionalisme guru Fiqih terhadap prestasi belajar siswa adalah 50%. Dengan kata lain, prestasi belajar siswa di MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi ditentukan atau dipengaruhi oleh tingkat profesionalisme guru sebanyak 50%, dan 50% lagi ditentukan oleh faktor yang lain.

v

KATA PENGANTAR


Assalaamu’alaikum Wr.Wb. Alhamdulillaahirabbil’aalamin. Puji serta syukur bagi Allah swt. Tuhan semesta alam, yang telah memberikan rahmat, taufiq, dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Hanya kepada-Nya kami memohom pertolongan dan kemudahan dalam segala urusan. Allahumma salli ‘ala Muhammad, shalawat serta salam semoga tetap dicurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita nabi Muhammad saw. yang telah membimbing kita pada jalan yang diridhai Allah swt. Selama penyusunan skripsi dan belajar di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), penulis banyak mendapatkan dukungan baik moral maupun material dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan penghargaan dan mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Bapak Drs. H. Alisuf Sabri, dosen pembimbing yang selalu membimbing penulis dengan penuh kebijaksanaan dan memberikan arahan-arahan. 4. Bapak Tanenji, MA yang telah membimbing serta memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Ibunda tercinta Ibu Imas Farida dan ayahanda Bapak Sofyan Holid, S.Pd.I yang telah memberikan dukungan moral dan material, do’a dan senyuman yang menyemangati penulis untuk tabah dalam menghadapi kesulitan-kesulitan selama proses pembuatan skripsi. 6. Adik M. Farhan Kholidi dan M. Afda Fadhlan yang menjadi sumber inspirasi untuk berhasil.

vi

7. A Herik Chandra, terimakasih atas kesediaan untuk selalu menunggu, dan motivasi yang membuat penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih pula atas kasih sayangnya. 8. K.H. Muhsin, K.H. M. Mahmudin kakek sekaligus ketua YASPI AlJamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi, semoga Allah memberi keberkahan dan kesehatan. 9. Bapak Anwar Jahid, S.Ag, Kepala MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi. 10. Semua dewan guru dan siswa/siswi MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi yang telah membantu penulis dalam proses pembuatan skripsi. 11. Teman-teman kelas B PAI yang menjadi partner selama proses perkuliahan. 12. H. Darajat Sudrajat, almarhumah mamah Ruyi, teh Weni dan Wuri. 13. Drs. Opik Taufik dan Ibu Eni Rustini, yang telah memfasilitasi penulis selama proses skripsi. 14. Fathurrahman Azis, Asep Amarullah, yang telah perlindungan kepada penulis di awal sampai akhir studi di UIN. Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, setiap saran dan kritik konstruktif selalu disambut dengan tangan terbuka. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat. Wassalaamu’alaikum Wr.Wb.

Jakarta, 15 Juli 2008 Penulis,

vii

DAFTAR ISI

LEMBAR SAMPUL ...................................................................................... LEMBAR PERNYATAAN ........................................................................... LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ............................................... LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ............................................ ABSTRAKSI................................................................................................... KATA PENGANTAR.................................................................................... DAFTAR ISI................................................................................................... DAFTAR TABEL ..........................................................................................

i ii iii iv v vi viii x

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ............................................................. B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ......................................... C. Metode Pembahasan ................................................................... D. Tujuan dan Manfaat Penelitian................................................... E. Sistematika Penulisan ................................................................. 1 7 8 8 9

BAB II KEJIAN TEORI A. Profesionalisme Guru ................................................................. 1. Pengertian Profesionalisme Guru ......................................... 2. Profesionalisme Guru Islam……………………………… . 3. Perlunya Guru Profesional.................................................... 4. Aspek-aspek Kompetensi Guru Profesional......................... 5. Aspek Guru Islam Profesional…………………………….. 6. Kriteria Guru Sebagai Profesi............................................... 7. Kriteria Guru Profesional ..................................................... 8. Indikator Guru Profesional ................................................... B. Prestasi Belajar ........................................................................... 1. Pengertian Prestasi Belajar ................................................... 2. Dalil Keutamaan Belajar…………………………………. . viii 31 33 11 14 15 17 25 26 28 29

3. Jenis-jenis Prestasi Belajar ................................................... 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar............. 5. Indikator Prestasi Belajar ..................................................... C. Hubungan Profesionalisme Guru Dengan Prestasi Belajar Siswa ............................................................................. D. Kerangka Berpikir ...................................................................... E. Hipotesis ..................................................................................... BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian..................................................... B. Variabel Penelitian ..................................................................... C. Populasi dan Sampel................................................................... D. Teknik Pengumpulan Data ......................................................... E. Teknik Analisis Data .................................................................. BAB IV HASIL PENELITIAN A. Kondisi Sekolah………………………………………………. 1. Deskripsi Lokasi Penelitian……………………………… . 2. Sejarah Singkat Sekolah…………………………………... 3. Sarana dan Prasarana…………………………………….. . B. Deskripsi Data………………………………………………... 1. Gambaran Umum Tingkat Profesionalisme Gur MTs AlJamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi…............................ 2. Hasil Penelitian…………………………………………… 3. Hubungan Profesionalisme Guru Dalam Bidang Studi Fiqih Dengan Prestasi Belajar Siswa……………………... C. Analisis Interpretasi Data ........................................................... BAB V PENUTUP A. Kesimpulan................................................................................. B. Saran ........................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... LAMPIRAN

35 40 43 43 43 45

46 46 46 46 48

51 53 54

55 57 65 67

69 69 71

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Indikator Guru Profesional ............................................................ Tabel 2 : Kisi-kisi Angket Guru Fiqih Profesional....................................... Tabel 3 : Skor Jawaban Angket Guru Fiqih Profesiona ............................... Tabel 4 : Klasifikasi Skor Angket Guru Profesional .................................... Tabel 5 : Keadaan Dewan Guru MTs Al-Jamii'ah Tegallega Cidolog Sukabumi Tahun Pelajaran 2007/2008........................... Tabel 6 : Skor Angket Penelitian Hubungan Profesionalisme Guru Bidang Studi Fiqih dengan Prestasi Belajar Siswa ...................... Tabel 7 : Analisis Item Untuk Skor Angket Profesionalisme Guru Dalam Bidang Studi Fiqih............................................................ Tabel 8 : Klasifikasi Jumlah Skor Jawaban Siswa dari Angket Profesionalisme Guru Fiqih.......................................................... Tabel 9 : Daftar Nilai Siswa dalam Mata Pelajaran Fiqih Semester ........... Tabel 10 : Klasifikasi dan Kualifikasi Jumlah Nilai Siswa dalam Bidang Studi Fiqih ....................................................................... Tabel 11 : Analisis Korelasi Variabel X (Profesionalisme Guru Dalam Bidang Studi Fiqih) dan Variabel Y (Prestasi Belajar Siswa)...............................................................................

27 43 44 45

52

53

56

58 59

60

61

x

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang dicapai setelah melalui proses kegiatan belajar mengajar. Prestasi belajar dapat ditunjukkan melalui nilai yang diberikan oleh seorang guru dari jumlah bidang studi yang telah dipelajari oleh peserta didik. Setiap kegiatan pembelajaran tentunya selalu mengharapkan akan mengahasilkan pembelajaran yang maksimal. Dalam proses pencapaiannya, prestasi belajar sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor utama yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan pembelajaran adalah keberadaan guru. Mengingat keberadaan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar sangat berpengaruh, maka sudah semestinya kualitas guru harus diperhatikan. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, aspek utama yang ditentukan adalah kualitas guru. Untuk itu, upaya awal yang dilakukan dalam peningkatan mutu pendidikan adalah kualitas guru. Kualifikasi pendidikan guru sesuai dengan prasyarat minimal yang ditentukan oleh syarat-syarat seorang guru yang profesional. Guru profesional yang dimaksud adalah guru yang berkualitas, berkompetensi, dan guru yang dikehendaki untuk mendatangkan prestasi belajar serta mampu mempengaruhi proses belajar mengajar siswa yang nantinya akan menghasilkan prastasi belajar siswa yang baik. Kamal Muhammad ‘Isa mengemukakan: “bahwa guru atau pendidik adalah pemimpin sejati, pembimbing dan pengarah yang bijaksana, pencetak para tokoh dan pemimpin ummat”.1 Adapun pengertian guru menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yakni sebagaimana tercantum dalam Bab I Ketentuan Umum pasal 1 ayat (1) sebagai
Kamal Muhammad ‘Isa, Manajemen Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Fikahati Anesta, 1994), Cet. Ke-1, h. 64.
1

1

2

berikut: “guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan dasar dan menengah”.2 Selanjutnya Moh Uzer Usman dalam bukunya Menjadi Guru Profesional mendefinisikan bahwa: “guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal”.3 Pendapat lain dikemukakan oleh Asrorun Ni’am Sholeh dalam buku yang berjudul Membangun Profesionalitas Guru, mengungkapkan bahwa: dalam proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi alih ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tapi juga berfungsi untuk menanamkan nilai (values) serta membangun karakter (character building) peserta didik secara berkelanjutan. Dalam terminologi Islam, guru diistilahkan dengan murabby, satu akar kata dengan rabb yang berarti Tuhan. Jadi, fungsi dan peran guru dalam sistem pendidikan merupakan salah satu manifestasi dari sifat ketuhanan. Demikian mulianya posisi guru, sampai-sampai Tuhan, dalam pengertian sebagai rabb mengidentifikasi diri-Nya sebagai rabbul’alamin “Sang Maha Guru”, “Guru seluruh jagad raya”. Untuk itu, kewajiban pertama yang dibebankan setiap hamba sebagai murid “Sang Maha Guru” adalah belajar, mencari ilmu pengetahuan. Setelah itu, setiap orang yang telah mempunyai ilmu pengetahuan memiliki kewajiban untuk mengajarkannya kepada orang lain. Dengan demikian, profesi mengajar adalah sebuah kewajiban yang merupakan manifestasi dari ibadah. Sebagai konsekuensinya, barang siapa yang menyembunyikan sebuah pengetahuan maka ia telah melangkahkan kaki menuju jurang api neraka.4 Menanggapi apa yang telah dikemukakan oleh Asrorun Ni’am Shaleh, penulis memahami bahwa profesi mengajar adalah suatu pekerjaan yang memiliki nilai kemuliaan dan ibadah. Mengajar adalah suatu kewajiban bagi setiap orang yang memiliki pengetahuan. Selanjutnya, mengingat mengajar adalah suatu kawajiban bagi setiap orang yang memiliki pengetahuan, maka

Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, (Bandung: Citra Umbara, 2006), h. 2-3. M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), Cet. Ke-20, h. 15. Asrorun Ni’am Sholeh, Membangun Profesionalitas Guru Analisis Kronologis atas Lahirnya UU Guru dan Dosen, (Jakarta: eLSAS, 2006), Cet. Ke-1, h. 3.
4 3

2

3

sudah sepantasnya bagi orang yang tidak menyampaikan ilmu pengetahuannya maka akan berakibat dosa bagi dirinya. Selanjutnya Asrorunni’am Sholeh mengatakan bahwa di sisi lain, profesi mengajar merupakan kewajiban tersebut, hanya dibebankan kepada setiap orang yang berpengetahuan. Dengan kata lain, profesi mengajar harus didasarkan pada adanya kompetensi dengan kualifikasi akademik tertentu. Mengajar, bagi seseorang yang tidak mempunyai kompetensi profesional untuk itu justru akan berbuah dosa. Kemudian, “apabila sesuatu dilakukan oleh sesuatu yang bukan ahlinya, maka tunggulah suatu kehancurannya”. Penggalan hadits Rasulullah saw. ini seolah memberikan warning bagi guru yang tidak memenuhi kompetensi profesionalnya.5 Dari penjelasan yang dikemukakan Asrorunni’am Sholeh, penulis dapat menyimpulkan bahwa profesi mengajar merupakan kewajiban yang hanya dibebankan kepada orang yang berpengetahuan. Dengan demikian, profesi mengajar harus didasarkan pada adanya kompetensi dan kualifikasi tertentu bagi setiap orang yang hendak mengajar. Menurut Asrorunni’am Sholeh, secara konseptual, deskripsi dua kondisi di atas memberikan dua hal prinsip dalam konteks membicarakan mengenai profesi guru dan dosen. Pertama, adanya semangat keterpanggilan jiwa, pengabdian dan ibadah. Profesi pendidik merupakan profesi yang mempunyai kekhusususan dalam membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dan memerlukan keahlian, idealisme, kearifan dan keteladanan melalui waktu yang panjang. Kedua, adanya prinsip

profesionalitas, keharusan adanya kompetensi dan kualifikasi akademik yang dibutuhkan, serta adanya penghargaan terhadap profesi yang diemban. Maka prinsip idealisme dan keterpanggilan jiwa serta prinsip profesionalitas harus mendasari setiap perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat guru dan dosen. Dengan demikian profesi guru dan dosen merupakan profesi tertutup yang harus sejalan dengan prinsip-prinsip idealisme dan profesionalitas secara
Asrorun Ni’am Sholeh, Membangun Profesionalitas Guru Analisis Kronologis atas Lahirnya UU Guru dan Dosen, (Jakarta: eLSAS, 2006), h. 4.
5

4

berimbang. Jangan sampai akibat pada perjuangan dan penonjolan aspek profesionalisme berakibat penciptaan gaya hidup materialisme
6

dan

pragmatisme yang menafikan idealisme dan keterpanggilan jiwa.

Secara konseptual, unjuk kerja guru menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Johson, sebagaimana yang dikutip oleh Martinis Yamin mencakup tiga aspek, yaitu; (a) kemampuan profesional, (b) kemampuan sosial, dan (c) kemampuan personal (pribadi).7 Menyadari akan pentingnya profesionalisme dalam pendidikan, maka Ahmad Tafsir mendefinisikan bahwa profesionalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional.8 Akan tetapi melihat realita yang ada, keberadaan guru profesional sangat jauh dari apa yang dicita-citakan. Menjamurnya sekolah-sekolah yang rendah mutunya memberikan suatu isyarat bahwa guru profesional hanyalah sebuah wacana yang belum terrealisasi secara merata dalam seluruh pendidikan yang ada di Indonesia. Hal itu menimbulkan suatu keprihatinan yang tidak hanya datang dari kalangan akademisi, akan tetapi orang awam sekalipun ikut mengomentari ketidakberesan pendidikan dan tenaga pengajar yang ada. Kenyataan tersebut menggugah kalangan akademisi, sehingga mereka membuat perumusan untuk meningkatkan kualifikasi guru melalui pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dari pelatihan sampai dengan intruksi agar guru memiliki kualifikasi pendidikan minimal Strata 1 (S1). Yang menjadi permasalahan baru adalah, guru hanya memahami intruksi tersebut hanya sebagai formalitas untuk memenuhi tuntutan
Asrorun Ni’am Sholeh, Membangun Profesionalitas Guru Analisis Kronologis atas Lahirnya UU Guru dan Dosen, (Jakarta: eLSAS, 2006), h. 4-5. Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), Cet. Ke-2, h. 4. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Rosdakarya, 2005), Cet. 6, h. 107.
8 7 6

(Bandung: PT. Remaja

5

kebutuhan yang sifatnya administratif. Sehingga kompetensi guru profesional dalam hal inti tidak menjadi prioritas utama. Dengan pemahaman tersebut, kontribusi untuk siswa menjadi kurang terperhatikan bahkan terabaikan. Masalah lain yang ditemukan penulis adalah, minimnya tenaga pengajar dalam suatu lembaga pendidikan juga memberikan celah seorang guru untuk mengajar yang tidak sesuai dengan keahliannya. Sehingga yang menjadi imbasnya adalah siswa sebagai anak didik tidak mendapatkan hasil pembelajaran yang maksimal. Padahal siswa ini adalah sasaran pendidikan yang dibentuk melalui bimbingan, keteladanan, bantuan, latihan, pengetahuan yang maksimal, kecakapan, keterampilan, nilai, sikap yang baik dari seorang guru. Maka hanya dengan seorang guru profesional hal tersebut dapat terwujud secara utuh, sehingga akan menciptakan kondisi yang menimbulkan kesadaran dan keseriusan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, apa yang disampaikan seorang guru akan berpengaruh terhadap hasil pembelajaran. Sebaliknya, jika hal di atas tidak terealisasi dengan baik, maka akan berakibat ketidak puasan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar. Tidak kompetennya seorang guru dalam penyampaian bahan ajar secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap hasil dari pembelajaran. Karena proses pembelajaran tidak hanya dapat tercapai dengan keberanian, melainkan faktor utamanya adalah kompetensi yang ada dalam pribadi seorang guru. Keterbatasan pengetahuan guru dalam penyampaian materi baik dalam hal metode ataupun penunjang pokok pembelajaran lainnya akan berpengaruh terhadap pembelajaran. Melihat wacana di atas, sangat terlihat bahwa profesionalisme guru dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Atas dasar wacana yang ada di lapangan, maka penulis ingin membuktikan apakah persepsi yang ada di kalangan masyarakat mengenai masalah profesionalisme guru itu benar atau sebaliknya, dengan melakukan suatu penelitian. Berdasarkan dugaan penulis, pada umumnya kondisi sekolah yang ada masih terdapat guru yang belum profesional. Kompetensi guru yang ada di

6

sekolah tersebut belum sepenuhnya memenuhi kriteria sebagaimana yang diinginkan oleh persyaratan guru profesional. Oleh karena itu, pemerintah mengadakan program sertifikasi keguruan dengan mensyaratkan pengajar memiliki kualifikasi pendidikan minimal S1 sesuai dengan bidangnya masingmasing. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan membahasnya dalam bentuk skripsi yang berjudul “PROFESIONALISME GURU DAN HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI MTS AL-JAMII’AH TEGALLEGA CIDOLOG SUKABUMI” Alasan penulis mengambil judul skripsi ini adalah: Pertama, penulis sangat tertarik dengan pembahasan yang berkaitan dengan masalah profesionalisme guru. Karena penulis berpendapat bahwa profesionalisme guru dalam pendidikan sangat berpengaruh terhadap proses kegiatan belajar mengajar. Kedua, penulis berpendapat bahwa kegagalan pendidikan di Indonesia salah satu penyebabnya adalah tingkat profesionalisme guru yang kurang baik. Untuk itu, penulis ingin mengetahui pembenaran asumsi tersebut melalui penelitian langsung ke MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi. Ketiga, berawal dari suatu kasus yang ada di wilayah Suakabumi yang berkaitan dengan adanya intruksi pemerintah dalam penyetaraan standar kualififikasi tenaga pendidik minimal S1. Penulis melihat, intruksi tersebut ditanggapi tenaga pendidik hanya sebagai pemenuhan administratif yang tanpa memperhatikan peningkatan mutu atau tingkat profesionalisme dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian apakah tenaga pengajar MTs Al-Jamii’ah termasuk guru yang mementingkan tingkat profesionalitas ataukah tidak. Keempat, adanya tenaga pengajar yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya akan berdampak terhadap kualitas pendidikan. Penulis ingin mengetahui apakah tenaga pengajar di MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi mengalami masalah yang sama ataukah tidak. Untuk itu peneulis memilih MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi, sebagai tempat untuk menguji

7

apakah ada hubungan yang signifikan antara profesionalisme guru dengan prestasi belajar siswa di MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah Agar masalah dalam penelitian ini lebih fokus dan tidak menyimpang dari apa yang ingin diteliti, maka penulis membatasi penelitian ini pada permasalahan sebagai berikut: a. Secara garis besar, permasalahan yang menyangkut dengan

profesionalisme guru sangat kompleks sekali. Adapun pada skripsi ini, profesionalisme guru yang dimaksud adalah profesionalisme guru Islam yang lebih spesifiknya guru Fiqih yang profesional, yaitu guru yang memiliki kompetensi, guru yang berkualitas yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Kompetensi guru yang akan diteliti dalam skripsi ini dibatasi ke dalam empat kategori, yakni; merencanakan program belajar mengajar, menguasai bahan pelajaran, melaksanakan dan memimpin atau mengelola proses belajar mengajar, serta menilai kemajuan proses belajar mengajar. b. Sedangkan prestasi belajar yang dimaksud dalam skripsi ini adalah kemampuan siswa yang diperoleh dari penilaian aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang dapat dilihat dari hasil belajar siswa berupa nilai raport dalam bidang studi Fiqih.

2. Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah yang akan diteliti adalah: a. Bagaimana profesionalisme guru Fiqih di MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi? b. Bagaimana prestasi belajar siswa dalam bidang studi Fiqih di MTs AlJamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi?

8

c. Apakah ada korelasi antara profesionalisme guru Fiqih dengan prestasi belajar siswa di MTs Al-Jmii’ah Tegallega?

C. Metode Pembahasan 1. Metode Penelitian Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan dua bentuk metode penelitian. Yang pertama dengan metode penelitian library research, melalui penelitian kepustakaan ini penulis berusaha mengkaji buku-buku serta tulisan ilmiah yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam skripsi ini. Kedua dengan metode penelitian lapangan (Field Research), yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung ke obyeknya melalui teknik angket, yaitu serangkaian pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. Adapun pendekatan penelitian yang dilakukan dalam skripsi ini adalah pendekatan analisis korelasional, yaitu menguji hubungan antara profesionalisme guru Fiqih dengan prestasi belajar siswa (nilai raport) bidang studi Fiqih.

2. Metode Penulisan Metode penulisan yang menjadi rujukan dalam penelitian ini adalah buku Pedoman Skripsi Tim penyusun Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007 dan Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Suharsimi Arikunto, Rineka Cipta Jakarta 2002 Cet. Ke-12.

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan yang hendak dicapai adalah: a. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat profesionalisme guru dalam bidang studi Fiqih yang ada di sekolah MTs Al-Jamii’ah Tegallega. b. Untuk memperoleh gambaran tentang prestasi belajar siswa MTs AlJamii’ah Tegallega dam bidang studi Fiqih.

9

c. Untuk mengetahui hubungan antara profesionalisme guru dalam proses pembelajaran dengan prestasi belajar siswa dalam bidang studi Fiqih. Adapun manfaat yang hendak dicapai dari hasil penelitian ini : a. Penelitian ini berguna untuk kepala sekolah untuk meningkatkan profesionalisme dan kinerjan guru. b. Penelitian ini juga bermanfaat dalam rangka memperbaiki kegiatan pembelajaran sekolah yang bersangkutan. c. Melalui penelitian ini diharapkan guru mampu meningkatkan kualitas personal dan profesional sebagai pendidik. d. Bagi lembaga (instansi) yang terkait, diharapkan dapat menjadi bahan acuan dalam meningkatkan kaderisasi pendidik baik untuk saat ini maupun untuk yang akan datang. e. Bagi penulis, dapat menambah wawasan dan mendapat informasi baru mengenai pengetahuan tentang profesionalisme yang harus dimiliki seorang guru. Sehingga dengan demikian, dapat memberikan masukan dan pembekalan untuk proses kedepan.

E. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab. Setiap bab dirinci ke dalam beberapa sub bab sebagai berikut: BAB I Pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, metode pembahasan yang terdiri dari metode penelitian dan metode penulisan, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II

Berisi pembahasan tentang teori profesionalisme guru dan prestasi belajar, yang di dalamnya memuat pengertian profesionalisme

guru, perlunya guru profesional, aspek-aspek kompetensi guru profesional, kriteria guru sebagai profesi, kriteria guru profesional dan indikator guru yang profesional. Kemudian pengertian prestasi belajar, jenis-jenis prestasi bealajar, faktor-faktor yang

10

mempengaruhi

prestasi

belajar,

indikator

prestasi

belajar,

hubungan profesionalisme guru dengan prestasi belajar siswa, kerangka berpikir dan hipotesis.

BAB III

Dalam bab ini dikemukakan metode penelitian, memuat tempat dan waktu penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

BAB IV

Hasil penelitian terdiri dari kondisi sekolah serta gambaran umum kondisi guru MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi dengan membahas jumlah guru, latar belakang pendidikan, dan tugas-tugasnya. Selanjutnya deskripsi data meliputi

profesionalisme guru Fiqih, prestasi belajar siswa dalam bidang studi Fiqih, dan hubungan antara profesionalisme guru Fiqih dengan prestasi belajar siswa di MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi, dan yang terakhir adalah analisis interpretasi data.

BAB V

Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II PEMBAHASAN PROFESIONALISME GURU DAN HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA

A. Profesionalisme Guru 1. Pengertian Profesionalisme Guru Istilah profesionalisme berasal dari profession. Dalam Kamus Inggris Indonesia, “profession berarti pekerjaan”.1 Arifin dalam buku Kapita Selekta Pendidikan mengemukakan bahwa profession mengandung arti yang sama dengan kata occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus.2 Dalam buku yang ditulis oleh Kunandar yang berjudul Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

disebutkan pula bahwa profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Jadi, profesi adalah

John M. Echols dan Hassan Shadili, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia, 1996), Cet. Ke-23, h. 449. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), Cet. Ke- 3, h. 105.
2

1

10

11

suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu.3 Menurut Martinis Yamin profesi mempunyai pengertian seseorang yang menekuni pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, teknik, dan prosedur berlandaskan intelektualitas.4 Jasin Muhammad yang dikutip oleh Yunus Namsa, beliu menjelaskan bahwa profesi adalah “suatu lapangan pekerjaan yang dalam melakukan tugasnya memerlukan teknik dan prosedur ilmiah, memiliki dedikasi serta cara menyikapi lapangan pekerjaan yng berorientasi pada pelayanan yang ahli”. Pengertian profesi ini tersirat makna bahwa di dalam suatu pekerjaan profesional diperlukan teknik serta prosedur yang bertumpu pada landasan intelektual yang mengacu pada pelayanan yang ahli.5 Berdasarkan definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi adalah suatu pekerjaan atau keahlian yang mensyaratkan kompetensi intelektualitas, sikap dan keterampilan tertentu yang diperolah melalui proses pendidikan secara akademis. Dengan demikian, Kunandar mengemukakan profesi guru adalah keahlian dan kewenangan khusus dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan pelatihan yang ditekuni untuk menjadi mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang bersangkutan. Guru sebagai profesi berarti guru sebagai pekerjaan yang mensyaratkan kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efisien serta berhasil guna.6

Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), Cet. Ke-1, h. 45.
4

3

Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, h. 3.

M.Yunus Namsa, Kiprah Baru Profesi Guru Indonesia Wawasan Metodologi Pengajaran Agama Islam, h. 29. Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru, h. 46.
6

5

12

Adapun mengenai kata “Profesional”, Uzer Usman memberikan suatu kesimpulan bahwa suatu pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum. Kata “prifesional” itu sendiri berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim, dan sebagainya. Dengan kata lain, pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain. Dengan bertitik tolak pada pengertian ini, maka pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan yang maksimal.7 H.A.R. Tilaar menjelaskan pula bahwa seorang profesional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya. Seorang profesional menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalisme, dan bukan secara amatiran. Profesionalisme bertentangan dengan pelatihan.8 Adapun mengenai pengertian profesionalisme itu sendiri adalah, suatu pandangan bahwa suatu keahlian tertentu diperlukan dalam pekerjaan tertentu yang mana keahlian itu hanya diperoleh melalui pendidikan khusus atau latihan khusus.9 Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Sementara itu, guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan
7

amatirisme.

Seorang

profesional

akan

terus-menerus

meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan dan

M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, h. 14-15.

H.A.R. Tilaar, Membenahi Pendidikan Nasional, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), Cet. Ke-1, h. 86. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: BUMI AKSARA, 1995), Cet. Ke- 3, h. 105.
9

8

13

untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Guru yang profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.10 Sedangkan Oemar Hamalik mengemukakan bahwa guru profesional merupakan orang yang telah menempuh program pendidikan guru dan memiliki tingkat master serta telah mendapat ijazah negara dan telah berpengalaman dalam mengajar pada kelas-kelas besar.11 Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, profesi adalah suatu jabatan, profesional adalah kemampuan atau keahlian dalam memegang suatu jabatan tertantu, sedangkan profesionalisme adalah jiwa dari suatu profesi dan profesional. Dengan demikian, profesionalisme guru dalam penelitian ini adalah profesionalisme guru dalam bidang studi

Fiqih, yaitu seorang guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang studi Fiqih serta telah berpengalaman dalam mengajar Fiqih sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru Fiqih dengan kemampuan yang maksimal serta memiliki kompetensi sesuai dengan kriteria guru profesional, dan profesinya itu telah menjadi sumber mata pencaharian.

2. Dalil Guru Profesional 3. Perlunya Guru Profesional Dalam pendidikan, guru adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pemimpin yang dapat menciptakan iklim belajar yang menarik, memberi rasa aman, nyaman dan kondusif dalam kelas.
Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru, h. 46-47. Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006), Cet. Ke-4, h. 27.
11 10

14

Keberadaannya di tengah-tengah siswa dapat mencairkan suasana kebekuan, kekakuan, dan kejenuhan belajar yang terasa berat diterima oleh para siswa. Kondisi seperti itu tentunya memerlukan keterampilan dari seorang guru, dan tidak semua mampu melakukannya. Menyadari hal itu, maka penulis menganggap bahwa keberadaan guru profesional sangat diperlukan. Guru yang profesional merupakan faktor penentu proses pendidikan yang bermutu. Untuk dapat menjadi profesional, mereka harus mampu menemukan jati diri dan mengaktualkan diri. Pemberian prioritas yang sangat rendah pada pembangunan pendidikan selama beberapa puluh tahun terakhir telah berdampak buruk yang sangat luas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.12 Mengomentari mengenai adanya keterpurukan dalam pendidikan saat ini, penulis sangat menganggap penting akan perlunya keberadaan guru profesioanal. Untuk itu, guru diharapkan tidak hanya sebatas menjalankan profesinya, tetapi guru harus memiliki keterpanggilan untuk melaksanakan tugasnya dengan melakukan perbaikan kualitas pelayanan terhadap anak didik baik dari segi intelektual maupun kompetensi lainnya yang akan menunjang perbaikan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar serta mampu mendatangkan prestasi belajar yang baik. Menyadari akan peran guru dalam pendidikan, Muhibbin Syah dalam bukunya Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru mengemukakan bahwa guru dalam pendidikan modern seperti sekarang bukan hanya sekedar pengajar melainkan harus menjadi direktur belajar. Artinya, setiap guru diharapkan untuk pandai-pandai mengarahkan kegiatan belajar siswa agar mencapai keberhasilan belajar (kinerja akademik) sebagaimana telah ditetapkan dalam sasaran kegiatan pelaksanaan belajar mengajar. Sebagai konsekuensinya tugas dan tanggung jawabnya menjadi lebih kompleks. Perluasan tugas dan tanggung jawab tersebut membawa konsekuensi timbulnya fungsi-fungsi khusus yang menjdi bagian integral dalam kompetensi profesionalisme keguruan yang disandang para guru. Menanggapi kondisi tersebut,
12

Asrorun Ni’am Sholeh, Membangun Profesionalitas Guru, (Jakarta: Elsas, 2006), Cet. Ke- 1, h. 9.

15

Muhibbin Syah mengutip pendapat Gagne bahwa setiap guru berfungsi sebagai: a. Designer of intruction (perancang pengajaran) b. Manager of intruction (pengelola pengajaran) c. Evaluator of student learning (penilai prestasi belajar siswa).13 Dalam sebuah situs yang membahas mengenai profesionalisme dunia pendidikan, Suciptoardi memaparkan bahwa guru diharapkan melaksanakan tugas kependidikan yang tidak semua orang dapat melakukannya, artinya hanya mereka yang memang khusus telah bersekolah untuk menjadi guru, yang dapat menjadi guru profesional. Tidak dapat dinaifkan bahwa memang tidak mudah merumuskan dan menggambarkan profil seorang guru profesional. Suciptoardi menegaskan bahwa guru itu adalah sebuah profesi. Sebagai profesi, memang diperlukan berbagai syarat, dan syarat itu tidak sebegitu sukar dipahami, dan dipenuhi, kalau saja setiap orang guru memahami dengan benar apa yang harus dilakukan, mengapa ia harus melakukannya dan menyadari bagaimama ia dapat melakukannya dengan sebaik-baiknya, kemudian ia melakukannya sesuai dengan pertimbangan yang terbaik. Dengan berbuat demikian, ia telah berada di dalam arus proses untuk menjadi seorang profesional, yang menjadi semakin profesional.14 Menanggapi kembali mengenai perlunya seorang guru yang profesional, penulis berpendapat bahwa guru profesional dalam suatu lembaga pendidikan diharapkan akan memberikan perbaikan kualitas pendidikan yang akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Dengan perbaikan kualitas pendidikan dan peningkatan prestasi belajar, maka diharapkan tujuan pendidikan nasional akan terwujud dengan baik. Dengan
13

demikian,

keberadaan

guru

profesional

selain

untuk

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), Cet. Ke-13, h.250. http://Suciptoardi.wordpress.com/2007/12/29/profesionalisme-duniapendidikan-oleh -Winarno-Surakhmad/2008/05/12/.
14

16

mempengaruhi proses belajar mengajar, guru profesional juga diharapkan mampu memberikan mutu pendidikan yang baik sehingga mampu menghasilkan siswa yang berprestasi. Untuk mewujudkan itu, perlu dipersiapkan sedini mungkin melalui lembaga atau sistem pendidikan guru yang memang juga bersifat profesional dan memeliki kualitas pendidikan dan cara pandang yang maju. 4. Aspek-aspek Kompetensi Guru Profesional Dalam pembahasan profesionalisme guru ini, selain membahas mengenai pengertian profesionalisme guru, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan mengenai kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yang profesional. Karena seorang guru yang profesional tentunya harus memiliki kompetensi profesional. Dalam buku yang ditulis oleh E. Mulyasa, Kompetensi yang harus dimiliki seorang guru itu mencakup empat aspek sebagai berikut: a. Kompetensi Pedagogik. Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemapuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.15 b. Kompetensi Kepribadian. Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi

kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.16

E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (PT. Remaja Rosda Karya: Bandung, 2008), Cet. Ke-3, h.75.
16

15

E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, h. 117.

17

c. Kompetensi Profesioanal. Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir c dikemukakan bahwa yang dimaksud kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing pesrta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan17 d. Kompetensi Sosial. Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir d dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserte didik, dan masyarakat sekitar.18 Alisuf Sabri dalam jurnal Mimbar Agama dan Budaya mengutip pernyataan Mitzel yang mengemukakan bahwa seorang guru dikatakan efektif dalam mengajar apabila ia memiliki potensi atau kemampuan untuk mendatangkan hasil belajar pada murid-muridnya. Untuk mengatur efektif tidaknya seorang guru, Mitzel menganjurkan cara penilaian dengan 3 kriteria, yaitu: presage, process dan product. Dengan demikian seorang guru dapat dikatakan sebagai guru yang effektif apabila ia dari segi: presage, ia memiliki “personality attributes” dan “teacher knowledge” yang diperlukan bagi pelaksanaan kegiatan mengajar yang mampu mendatangkan hasil belajar kepada murid. Dari segi process, ia mampu menjalankan (mengelola dan melaksanakan) kegiatan belajar-mengajar yang dapat mendatangkan hasil belajar kepada murid. Dari segi product ia dapat mendatangkan hasil belajar yang dikehendaki oleh masing-masing muridnya. Dengan penjelasan di atas berarti latar belakang pendidikan atau ijazah sekolah guru yang dijadikan standar unsur presage, sedangkan ijazah selain pendidikan guru berarti nilainya di bawah standar. Berdasarkan pemahaman dari uraian-uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa mutu guru dapat diramalkan dengan tiga kriteria yaitu: presage, process dan product yang unsur-unsurnya sebagai berikut:

17

E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, h. 135. E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, h. 173.

18

18

1. Kriteria presage (tanda-tanda kemampuan profesi keguruan) yang terdiri dari unsur sebagai berikut: a. Latar belakang pre-service dan in-service guru. b. Pengalaman mengajar guru. c. Penguasaan pengetahuan keguruan. d. Pengabdian guru dalam mengajar. 2. Kriteria process (kemampuan guru dalam mengelola dan melaksanakan proses belajar mengajar) terdiri dari: a. Kemampuan guru dalam merumuskan Rancangan Proses Pembelajaran (RPP). b. Kemampuan guru dalam melaksanakan (praktik) mengajar di dalam kelas. c. Kemampuan guru dalam mengelola kelas. 3. Kriteria product (hasil belajar yang dicapai murid-murid) yang terdiri dari hasil-hasil belajar murid dari bidang studi yang diajarkan oleh guru tersebut. Dalam prakteknya meramalkan mutu seorang guru di sekolah atau di madrasah tentunya harus didasarkan kepada effektifitas mengajar guru tersebut sesuai dengan tuntutan kurikulum sekarang yang berlaku, dimana guru dituntut kemampuannya untuk merumuskan dan mengintegrasikan tujuan, bahan, metode, media dan evaluasi pengajaran secara tepat dalam mendisain dan mengelola proses belajar mengajar, disamping itu guru juga harus mampu melaksanakan atau membimbing terjadinya kualitas proses belajar yang akan dialami oleh murid-muridnya.19 Kemudian dalam buku yang ditulis oleh Martinis Yamin, secara konseptual, unjuk kerja guru menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Johnson mencakup tiga aspek, yaitu; (a) kemampuan profesional, (b) kemampuan sosial, dan (c) kemampuan personal (pribadi). Kemudian ketiga aspek ini dijabarkan menjadi: a. Kemampuan profesional mencakup: 1) Penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkannya itu. 2) Penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan.
19

Alisuf Sabri, Mimbar Agama dan Budaya, (Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat IAIN, 1992, Cet. Ke-1, h. 16-18.

19

3) Penguasaan

proses-proses

kependidikan,

keguruan

dan

pembelajaran siswa. b. Kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawa tugasnya sebagai guru. c. Kemampuan personal (pribadi) mencakup: 1) Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya. 2) Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai seyogianya dianut oleh seseorang guru. 3) Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.20 Ahmad Sabri dalam buku yang ditulis oleh Yunus Namsa mengemukakan pula bahwa untuk mampu melaksanakan tugas mengajar dengan baik, guru harus memiliki kemampuan profesional, yaitu terpenuhinya 10 kompetensi guru, yang meliputi: a. Menguasai bahan meliputi: 1) Menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah; 2) Menguasai bahn pengayaan/penunjang bidang studi; b. Mengelola program belajar mengajar, meliputi : 1) Merumuskan tujuan intsruksional; 2) Mengenal dan dapat menggunakan prosedur instruksional yang tepat; 3) Melaksanakan program belajar mengajar; 4) Mengenal kemampuan anak didik; c. Mengelola kelas, meliputi: 1) Mengatur tata ruang kelas untuk pelajaran; 2) Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi; d. Menggunakan media atau sumber, meliputi: 1) Mengenal, memilih dan menggunakan media; 2) Membuat alat bantu pelajaran yang sederhana; 3) Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar; 4) Menggunakan micro teaching untuk unit program pengenalan lapangan; e. Menguasai landasan-landasan pendidikan. f. Mengelola interaksi-interaksi belajar mengajar.
20

Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, h. 4-5.

20

g. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pelajaran. h. Mengenal fungsi layanan dan program bimbingan dan penyuluhan: a. Mengenal fungsi dan layanan program bimbingan dan penyuluhan; b. Menyelenggarakan layanan bimbingan dan penyuluhan; i. Mengenal dan menyelengarakan administrasi sekolah; j. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.21 Dalam lokakarya kurikulum pendidikan guru yang diselenggarakan oleh Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G), telah dirumuskan sejumlah kemampuan dasar seorang calon guru lulusan sistem multistrata sebagai berikut: a. Menguasai bahan yakni menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum-kurikulum sekolah, menguasai bahan pengayaan/penunjang bidang studi. b. Mengelola program belajar mengajar yakni merumuskan tujuan instruksional, mengenal dan bisa memakai metode mengajar, memilih materi dan prosedur instruksional yang tepat, melaksanakan program belajar dan mengajar, mengenal kemampuan anak didik,, menyesuaikan rencana dengan situasi kelas, melaksanakan dan merencanakan pengajaran remedial, serta mengevaluasi hasil belajar. c. Mengelola kelas yakni mengatur tata ruang kelas dalam rangka CBSA, dan menciptakan iklim belajar yang efektif. d. Menggunakan media yakni memilih dan menggunakan media, mebuat alat-alat bantu pelajaran sederhana, menggunakan dan mengelola laboratorium, mengembangkan laboratorium, serta menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar. e. Menguasai landasan-landasan kependidikan. f. Merencanakan program pengajaran. g. Mengelola interaksi belajar mengajar. h. Menguasai macam-macam metode mengajar. i. Menilai kemampuan prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran. j. Mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. k. Mengenal penyelenggaraan administrasi sekolah. l. Mampu memahami dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan yang sederhana guna kemajuan pengajaran.22 Kemudian dalam PP No. 19 Tahun. 2005 (Pasal 28) menegaskan mengenai Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan sebagai berikut:

M. Yunus Namsa, Kiprah Baru Profesi Guru Indonesia Wawasan Metodologi Pengajaran Agama Islam, h. 37-38.
22

21

Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Kompetensi, h. 44-45.

21

a. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memilki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. b. Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. c. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: 1) Kompetensi pedagogik; 2) Kompetensi kepribadian; 3) Kompetensi profesional; dan 4) Kompetensi sosial. d. Seseorang yang tidak memiliki ijazah dan/sertifikat keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat dianggap menjadi pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan. e. Kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan (4) dikembangkan oleh BNSP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.23 Dalam PERMENDIKNAS RI No. 16 Tahun. 2007 (Pasal 1 dan 2) mengenai Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru dijelaskan pula bahwa: Pasal 1 a. Setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional. b. Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Pasal 2 Ketentuan mengenai guru dalam jabatan yang belum memenuhi kualifikasi akademik diploma (D-IV) atau Sarjana (S1) akan diatur dengan Peraturan Menteri tersendiri.24 Dari penjelasan yang telah dikemukakan di atas mengenai aspekaspek kompetensi guru profesional, untuk memudahkan penulis dalam melakukan penelitian, maka indikator yang akan diteliti dalam skripsi ini

http://www.unissula.ac.id/v1/download/Peraturan/PP_19_2005_STANDAR_N AS_PENDDKN.PDF/2008/01/09/. http://www.setjen.depdiknas.go.id/prodhukum/dokumen/5212007134511Perm en_16_2007.pdf./2008/05/04/.
24

23

22

akan merujuk kepada pendapat yang ditulis oleh Nana Sudjana dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Menurut Nana Sudjana, untuk keperluan analisis tugas guru sebagai pengajar, maka kemampuan guru atau kompetensi guru yang banyak hubungannya dengan usaha meningkatkan proses dan hasil belajar dapat diguguskan ke dalam empat kemampuan yakni: a. Merencanakan program belajar mengajar. Sebelum membuat perencanaan belajar mengajar, guru terlebih dahulu harus mengetahui arti dan tujuan perencanaan tersebut, dan menguasai secara teoritis dan praktis unsur-unsur yang terdapat dalam perencanaan belajar mengajar. Kemampuan merencanakan program belajar mengajar merupakan muara dari segala pengetahuan teori, keterampilan dasar, dan pemahaman yang mendalam tentang objek belajar dan situasi pengajaran. Makna atau arti dari perencanaan/program belajar mengajar tidak lain adalah suatu proyeksi/perkiraan guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pengajaran itu berlangsung. Dalam kegiatan tersebut secara terinci harus jelas ke mana siswa akan dibawa (tujuan), apa yang harus siswa pelajari (isi bahan pelajaran), bagaimana cara siswa mempelajarinya (metode dan teknik) dan bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapainya (penilaian).25 b. Menguasai bahan pelajaran. Kemampuan menguasai bahan pelajaran sebagai bahan integral dari proses belajar mengajar, jangan dianggap pelengkap bagi profesi guru. Guru yang bertaraf profesional penuh mutlak harus menguasai bahan yang akan diajarkannya. Penguasaan bahan pelajaran ternyata memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Nana Sudjana mengutip pendapat yang dikemukakan oleh Hilda Taba yang menyatakan bahwa keefektifan pengajaran dipengaruhi oleh (a) karakteristik guru dan siswa, (b) bahan pelajaran, dan (c) aspek lain yang berkenaan dengan sistuasi pelajaran. Jadi terdapat hubungan yang positif antara penguasaan bahan pelajaran oleh guru dengan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Artinya, makin tinggi penguasaan bahan pelajaran oleh guru makain tinggi pula hasil belajar yang dicapai siswa. c. Melaksanakan dan memimpin/mengelola proses belajar mengajar. Melaksanakan atau mengelola program belajar mengajar merupakan tahap pelaksanaan program yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar kemampuan yang dituntut adalah keaktifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun dalam perencanaan. Guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat,
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1998), Cet. Ke-4, h. 19-20.
25

23

apakah kegiatan mengajar dihentikan, ataukah diubah metodenya,, apakah mengulang kembali pelajaran yang lalu, manakala para siswa belum dapat mencapai tujuan pengajaran. Pada tahap ini di samping pengetahuan teori tentang belajar mengajar, tentang pelajar, diperlukan pula kemahiran dan keterampilan teknik mengajar. Misalnya prinsip-prinsip mengajar, penggunaan alat bantu pengajaran, penggunaan metode mengajar, keterampilan menilai hasil belajar siswa, keterampilan memilih dan menggunakan strategi atau pendekatan mengajar. d. Menilai kemajuan proses belajar mengajar. Setiap guru harus dapat melakukan penilaian tentang kemajuan yang dicapai para siswa, baik secara iluminatif-obsrvatif maupun secara struktural-objektif. Penilaian secara iluminatif-observatif dilakukan dengan pengamatan yang terus menerus tentang perubahan dan kemajuan yang dicapai siswa. Sedangkan penilaian secara strukturalobjektif berhubungan dengan pemberian skor, angka atau nilai yang biasa dilakukan dalam rangka penilaian hasil belajar siswa.26 5. Aspek Guru Islam Profesional Kamal Muhammas ‘Isa mengemukakan bahwa seorang guru dituntut harus memilki berbagai sifat dan sikap yang antara lain sebagai berikut: a. Seorang guru haruslah manusia pilihan. Siap memikul amanah dan menunaikan tanggung jawab dalam pendidikan generasi muda. b. Seorang guru hendaklah mampu mempersiapkan dirinya sesempurna mungkin. Agar bisa berperan sebagai pendidik dekaligus sebagai da’i yang selalu menyeru ke jalan Allah. Oleh sebab itu, kebutuhan hidup guru, haruslah dapat dipenuhi oleh pihak penguasa. Agar dalam ketenangan hidupnya, mereka bisa melaksanakan tugasnya dengan penuh rasa cinta dan ikhlas. c. Seorang guru juga hendaknya tidak pernah tamak dan bathil dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Sehingga seorang guru sematamata hanya mengharapkan ganjaran dan pahala dari Allah swt. Sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Hud as dalam Q.S. Huud ayat 51: “Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan-Nya?”. (Q.S. Huud (11): 51) d. Seorang guru haruslah dapat meyakini Islam sebagai konsep ilahi dimana dia hidup dengan konsep itu, dan mampu mengamalkannya.
26

Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, h. 20-22.

24

e. Seorang guru harus memilki sikap yang terpuji, berhati lembut, berjiwa mulia, ruhya suci, niatnya ikhlas, taqwanya hanya pada Allah, ilmunya banyak dan pandai menyampaikan berbagai buah pikirannya sehingga penjelasannya mudah ditangkap dengan atau tanpa alat peraga. f. Penampilan seorang guru hendaknya selalu sopan dan rapi. g. Seorang guru seyogyanya juga mampu menjadi pemimpin yang shalih. h. Seruan dan anjuran seorang guru hendaknya tercermin pula dalam sikap keluarga atau para sahabatnya. i. Seorang guru harus menyukai dan mencintai muridnya. Tidak boleh angkuh dan tidak boleh menjauh, sebaliknya ia harus mendekati anak didiknya.27 6. Kriteria Guru Sebagai Profesi Menurut Glen Langford dalam buku yang ditulis oleh Martinis Yamin menjelaskan, kriteria profesi mencakup: (1) upah, (2) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (3) memiliki rasa tanggung jawab dan tujuan, (4) mengutamakan layanan, (5) memiliki kesatuan, (6) mendapat pengakuan dari orang lain atas pekerjaan yang digelutinya.28 Kemudian Robert W. Richey dalam bukunya “Preparing for a Carier in Education”, yang dikutip Yunus Namsa mengemukakan ciri-ciri sekaligus syarat-syarat dari suatu profesi sebagai berikut: a. Lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan yang ideal daripada kepentingan pribadi. b. Seorang pekerja profesional secara relatif memerlukan waktu yang panjang untuk mempelajari konsep-konsep serta prinsip-prinsip pengetahuan khusus yang mendukung keahliannya. c. Memiliki kualifikasi tertentu untuk memenuhi profesi tersebut serta mampu mengikuti perkembangan dalam pertumbuhan jabatan. d. Memiliki kode etik yang mengatur keanggotaan, tingkah laku sikap serta cara kerja.
Kamal Muhammad ‘isa, Manajemen Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Fikahati Anesta, 1994), Cet. Ke-1, h. 64-67.
27 28

Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, h. 14.

25

e. Membutuhkan suatu kegiatan intelektual yang tinggi. f. Adanya organisasi yang dapat meningkatkan standar pelayanan disiplin diri dalam profesi, serta kesejahtraan anggotannya. g. Memandang profesi sebagai suatu karier hidup (a live carier) dan menjadi seorang anggota yang permanen.29 Soetjipto dan Raflis Kosasi dalam bukunya Profesi Keguruan mengemukakan, Khusus untuk jabatan guru, sebenarnya sudah ada yang mencoba menyusun kriteria profesi keguruan. Misalnya National Education Association (NEA) 1998 dengan menyarankan kriteria sebagai berikut: a. Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual. b. Jabatan yang menggeluti satu batang tubuh ilmu yang khusus. c. Jabatan yang memerlukan persiapan profesional yang lama. d. Jabatan yang memerlukan latihan dalam jabatan yang

bersinambungan. e. Jabatan yang menjanjikan karier hidup permanen. f. Jabatan yang menentukan buku (standarnya) sendiri. g. Jabatan yang mempunya organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.30 Dalam buku yang dikutip Yunus Namsa, Sanusi mengutarakan ciri-ciri utama suatu profesi sebagai berikut : a. Suatu jabatan yang memiliki fungsi dan signifikansi sosial yang menentukan (crusial). b. Jabatan yang menuntut keterampilan/keahlian tertentu. c. Keterampilan/keahlian yang dituntut jabatan itu didapat melalui pemecahan masalah dengan menggunakan teori dan metode ilmiah. dan keanggotaan yang

M. Yunus Namsa, Kiprah Baru Profesi Guru Indonesia Wawasan Metodologi Pengajaran Agama Islam, h. 39. Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004 ), Cet. Ke-2, h. 18.
30

29

26

d. Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh disiplin ilmu yang jelas, sistematik, eksplisit, yang bukan hanya sekedar pendapat khalayak umum. e. Jabatan itu memerlukan pendidikan tingkat perguruan tinggi dengan waktu yang cukup lama. f. Proses pendidikan untuk jabatan itu juga merupakan aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional itu sendiri. g. Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, anggota profesi itu berpegang teguh pada kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi. h. Tiap anggota profesi mempunyai kebebasan dalam memberikan judgement terhadap permasalahan profesi yang dihadapinya. i. Dalam prakteknya melayani masyarakat, anggota profesi otonom dan bebas dari campur tangan orang luar. j. Jabatan ini mempunyai prestise yang tinggi dalam masyarakat dan oleh karenanya memperoleh imbalan yang tinggi pula. Kemudian dalam buku yang ditulis oleh Yunus Namsa, Syafaruddin dan Irwan Nasution berpendapat bahwa ada beberapa alasan rasional dan empirik sehingga tugas mengajar disebut sebagai profesi adalah; (1) bidang tugas guru memerlukan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang mantap, pengendalian yang baik. Tugas mengajar dilaksanakan atas dasar sistem; (2) bidang pekerjaan mengajar memerlukan dukungan ilmu teoritis pendidikan dan mengajar; (3) bidang pendidikan ini memerlukan waktu lama dalam masa pendidikan dan latihan, sejak pendidikan dasar sampai pendidikan tenaga keguruan.31

7. Kriteria Guru Profesional Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang, seperti yang dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan menyampaikannya kepada siswa sudah cukup, hal ini belumlah dapat dikategori sebagai guru yang memiliki pekerjaan profesional, karena guru yang profesional, mereka harus memiliki berbagai keterampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya, menjaga kode etik guru, dan lain sebagainya.
M. Yunus Namsa, Kiprah Baru Profesi Guru Indonesia Wawasan Metodologi Pengajaran Agama Islam, h. 31-32.
31

27

Oemar Hamalik dalam bukunya Proses Belajar Mengajar, guru profesional harus memiliki persyaratan, yang meliputi; a. Memiliki bakat sebagai guru. b. Memiliki keahlian sebagai guru. c. Memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi. d. Memiliki mental yang sehat. e. Berbadan sehat. f. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas. g. Guru adalah manusia berjiwa pancasila. h. Guru adalah seorang warga negara yang baik. 32 Kunandar mengemukakan bahwa suatu pekerjaan profesional memerlukan persyaratan khusus, yakni (1) menuntut adanya keterampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam; (2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya; (3) menuntut adanya tingkat pendidikan yang memadai; (4) adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya; (5) memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan. Menurut Surya dalam buku yang ditulis oleh Kunandar, guru yang profesional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun dalam metode. Selain itu, juga ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya. Guru yang profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa, negara, dan agamanya. Guru profesional mempunyai tanggung jawab pribadi, sosial, intelektual, moral, dan spiritual.33 6. Indikator Guru Profesional Dalam penelitian ini, setelah penulis mengemukakan teori mengenai
32

profesionalisme

guru,

maka

selanjutnya

untuk

lebih

Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, h. 5-7.

Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru, h. 47.

33

28

memudahkan proses penelitian, dibawah ini penulis mencantumkan indikator guru profesional yang akan diteliti dalam skripsi ini, adalah sebagai berikut: Tabel 1 Indikator Guru Profesional No. Kompetensi Konsep 1. Kompetensi Profesional Merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Guru profesional adalah guru yang memilki kompetansi yang 1.3Melaksanakan/ a. Mampu mengelola proses belajarmengajar. membangkitkan motivasi kepada siswa. b. Mampu memberikan appersepsi kepada siswa. c. Mampu menggunakan metode mengajar 1.2 Menguasai bahan pelajaran. a. Mampu menjelaskan materi pelajaran dengan baik. b. Mampu menjawab soal/pertanyaan dari siswa. Sub Kompetensi 1.1 Kemampuan merencanakan program belajarmengajar. Indikator a. Mampu membuat Rencana program Pembelajaran (RPP). b. Kemampuan guru dalam merumuskan tujuan pembelajaran.

29

dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran.

yang bervariasi. d. Mampu menggunakan alat bantu pengajaran. e. Mampu Mengatur dan mengubah suasana kelas. g. Mampu memberikan teguran bagi siswa. h. Mampu mengaturan murid. i. Mampu memberi reward dan sanksi pada siswa. i. Mampu Memberi pujian kepada siswa.

1.4 Menilai kemajuan proses belajarmengajar.

a. Mampu membuat dan mengkoreksi soal. b. Mampu memberikan hasil penilaian (raport). c. Mampu mengadakan remedial.

Dalam penelitian ini, yang termasuk kategori guru Fiqih yang profesional adalah guru yang memilki ijazah Strata 1 (S1) dengan latar belakang pendidikan keguruan dan telah berpengalaman dalam mengajar.

30

B. Prestasi Belajar 1. Pengertian Prestasi Belajar “belajar”. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan presatasi adalah: “Hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya)”.34 Adapun belajar menurut pengertian secara psikologis, adalah merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Menurut Slameto pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut: “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.35 M. Ngalim Purwanto dalam bukunya Psikologi Pendidikan, mengemukakan bahwa belajar adalah “tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah atau berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.36 Dalam rumusan H. Spears yang dikutip oleh Dewa Ketut Sukardi mengemukakan bahwa belajar itu mencakup berbagai macam perbuatan Kata prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu “prestasi” dan

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), Cet. Ke- 2, h. 895. Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengeruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), Cet. Ke-4, h. 2. M Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosadakarya, 2003), Cet. Ke- 19, h. 85.
36 35

34

31

mulai

dari

mengamati,

membaca,

menurun,
37

mencoba

sampai

mendengarkan untuk mencapai suatu tujuan.

Selanjutnya, defini belajar yang diungkapkan oleh Cronbach di dalam bukunya Educational Psychology yang dikutip oleh Sumardi Suryabrata menyatakan bahwa: belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami; dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan pancainderanya.38 Berdasarkan definisi yang dikemukakan beberapa tokoh di atas, maka penulis dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang merupakan sebagai akibatdari pengalaman atau latihan. Sedangkan pengertian prestasi belajar sebagaimana yang tercantum dam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: “penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru”.39 Prestasi belajar dapat bersifat tetap dalam serjarah kehidupan manusia karena sepanjang kehidupannya selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan masing-masing. Prestasi belajar dapat

memberikan kepuasan kepada orang yang bersangkutan, khususnya orang yang sedang menuntut ilmu di sekolah. Prestasi belajar meliputi segenap ranah kejiwaan yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa yang bersangkutan. Prestasi belajar dapat dinilai dengan cara: a. Penilaian formatif Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik (feedback), yang selanjutnya hasil penilaian

Dewa Ketut Sukardi, Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), Cet. Ke-1, h.17. Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), Cet. Ke-2, h.231.
39 38

37

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 895.

32

tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan. b. Penilaian Sumatif Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu.40 2. Dalil Keutamaan Belajar mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalallam bersabda: Dari Abu Daud Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku

Artinya: “Barang siapa menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju syurga. Sesungguhnya para malaikat benar-benar akan membentangkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu sebagai bentuk keridhaan terhadap yang mereka lakukan. Sesungguhnya orang alim akan dimohonkan ampunan oleh seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi, hingga ikan-ikan pun turut beristighfar untuknya. Keutamaan orang alim atas orang ahli ibadah seperti keutamaan bulan malam purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi dan sesungguhnya para Nabi tidak mewarisklan dinar atau dirham hanya mewariskan ilmu. Jadi barang siapa yang mengambilnya berart ia telah mengambil

M Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), Cet. Ke-10, h. 26.

40

33

bagiannya yang banyak”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).41

Dari hadits di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Allah swt. memberikan suatu penghargaan dan kemudahan bagi orang yang senantiasa belajar dan menuntut ilmu sehingga Allah menjanjikan bagi mereka kenikmatan untuk dimudahkan menuju pintu syurga. Selain itu, orang ‘alim tidak hanya diberikan keistimewaan oleh Allah swt. melainkan seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi akan memohonkan ampun baginya.

3. Jenis-jenis Prestasi Belajar Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting yang dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun karsa. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui garisgaris besar indikator (penunjuk adanya prestasi belajar) dikaitkan dengan jenis-jenis prestasi yang hendak diukur.42 Dalam sebuah situs yang membahas Taksonomi Bloom,

dikemukakan mengenai teori Bloom yang menyatakan bahwa, tujuan belajar siswa diarahkan untuk mencapai ketiga ranah. Ketiga ranah tersebut adalah ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam proses kegiatan belajar mengajar, maka melalui ketiga ranah ini pula akan terlihat tingkat keberhasilan siswa dalam menerima hasil pembelajaran atau

Abu Muhammad bin Khallad Ad-Dimyati, Hadits Shahih Keutamaan Amal Shalih, (Jakarta: Najla Press, 2003), Cet. Ke-1, h. 11.
42

41

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, h. 150.

34

ketercapaian siswa dalam penerimaan pembelajaran. Dengan kata lain, prestasi belajar akan terukur melalui ketercapaian siswa dalam penguasaan ketiga ranah tersebut. Maka Untuk lebih spesifiknya, penulis akan akan menguraikan ketiga ranah kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai yang terdapat dalam teori Bloom berikut: a. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama adalah berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6). 1). Pengetahuan (Knowledge) Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar dan sebagainya.43 Pengetahuan juga diartikan sebagai kemampuan mengingat akan hal-hal yang pernah dipelajaridan disimpan dalam ingatan.44 2). Pemahaman (Comprehension) Pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan untuk menangkap makna dan arti yang dari bahan yang dipelajari.45 Pemahaman juga dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dan sebagainya.46 3). Aplikasi (Application) Aplikasi atau penerapan diartikansebagai kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus

43

http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom./2008/05/02/. W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Grasindo, 1996), Cet. Ke-4, h. 247. W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, h. 247. http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom./2008/05/02/.

44

45

46

35

atau problem yang konkret dan baru.47 Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dan sebagainya di dalam kondisi kerja.48 4). Analisis (Analysis) Analisis didefinisikan sebagai kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik.49 Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit.50 5). Sintesis (Synthesis) Sintesis diartikan sebagai kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru.51 Sintesis satu tingkat di atas analisa. Seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan.52 6). Evaluasi (Evaluation) Evaluasi diartikan sebagai kemampuan untik membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu, yang berdasarkan kriteria

47

W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, h. 247. http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom./2008/05/02/. W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, h. 247. http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom./2008/05/02/. W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, h. 247. http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom./2008/05/02/.

48

49

50

51

52

36

tertentu.53 Evaluasi dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dengan

menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya.54 b. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.55 Tujuan pendidikan ranah afektif adalah hail belajar atau kemampuan yang berhubungan dengan sikap atau afektif. Taksonomi tujuan pendidikan ranah afektif terdiri dari aspek: 1). Penerimaan (Receiving/Attending) Penerimaan mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleg guru.56 2). Tanggapan (Responding) Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di

lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.57 3). Penghargaan (Valuing) Penghargaan atau penilaian mencakup kemampuan untuk

memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu.mulai dibentuk suatu sikap menerima, menolak atau mengabaikan, sikap itu dinyatakan dalam tingkah laku yang sesuai dengan konsisten dengan sikap batin.58

53

W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, h. 247. http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom./2008/05/02/. http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom./2008/05/02/. W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, h. 248. http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom./2008/05/02/. W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, h. 248.

54

55

56

57

58

37

4). Pengorganisasian (Organization) Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.59 Pengorganisasian juga mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan. Nilai- nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala nilai mana yang pokok dan selalu harus diperjuangkan, mana yang tidak begitu penting.60 5). Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex) Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.61 Karakterisasinya mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikin rupa, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri.62 c. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.63 Alisuf Sabri dalam buku Psikologi Pendidikan menjelaskan, keterampilan ini disebut ‘motorik’ karena keterampilan ini melibatkan secara langsung otot, urat dan persendian, sehingga keterampilan benar-benar berakar pada kejasmanian. Orang yang memiliki keterampiulan motorik, mampu melakukan serangkaian gerakan tubuh dalam urutan tertentu dengan mengadakan koordinasi gerakan-gerakan anggota tubuh secara terpadu. Ciri khas dari keterampilan motorik ini ialah adanya kemampuan “Automatisme” yaitu gerakan-gerik yang
59

http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom./2008/05/02/. W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, h. 248. http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom./2008/05/02/. W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, h. 248.
63

60

61

62

http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom./2008/05/02/.

38

terjadi berlangsung secara teratur dan berjalan dengan enak, lancar dan luwes tanpa harus disertai pikiran tentang apa yang harus dilakukan dan mengapa hal itu dilakukan. Keterampilan motorik lainnya yang kaitannya dengan pendidikan agama ialah keterampilan membaca dan menulis huruf Arab, keterampilan membaca dan melagukan ayat-ayat Al-Qur’an, keterampilan melaksanakan gerakan-gerakan shalat. Semua jenis keterampilan tersebut diperoleh melalui proses belajar dengan prosedur latihan.64 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Kegiatan belajar dilakukan oleh setiap siswa, karena melalui belajar mereka memperoleh pengalaman dari situasi yang dihadapinya. Dengan demikian belajar berhubungan dengan perubahan dalam diri individu sebagai hsil pengalamannya di lingkungan. Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi dua macam: a. Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa, meliputi dua aspek yakni: 1) Aspek Fisiologis Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak membekas. 2) Aspek Psikologis Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualits perolehan pembelajaran siswa. Namun, di antara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut: a) Tingkat kecerdasan atau intelegensi siswa Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Jadi, intelegensi sebenarnya bukan persoalan otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungan dengan intelegensi manusia lebih menonjol dari pada peran organ-organ tubuh lainnya, lantaran otak
64

Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet.

Ke-2, h. 99-100.

39

merupakan “menara pengontrol” hampir seluruh aktifitas manusia. Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa mak semakin besar peluangnya untuk memperoleh sukses. b) Sikap siswa Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, barang,dan sebgainya, baik secara positif maupun negatif.65 Sikap merupakan faktor psikologis yang kan mempengaruhi belajar. Dalam hal ini sikap yang akn menunjang belajar seseorang ialah sikap poitif (menerima) terhadap bahan atau pelajaran yang akan dipelajari, terhadap guru yang mengajar dan terhadap lingkungan tempat dimana ia belajar seperti: kondisi kelas, teman-temannya, sarana pengajaran dan sebagainya.66 c) Bakat Siswa Secara umum, bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan denikian, sebetulnya setiap orang mempunyai bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi, secara global bakat mirip dengan intelegensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berintelegensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar bisa (very superior) disebut juga sebagai gifted, yakni anak berbakat intelektual. d) Minat siswa

65

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, h. 135. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet. Ke-2, h.

66

84.

40

Secara sederhana minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi seseorang terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualits pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu.67 b. Faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa), terdiri dari faktor lingkungan dan faktor instrumental sebagai berikut: 1) Faktor-faktor Lingkungan Faktor lingkungan siswa ini dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: faktor lingkungan alam/non sosial dan faktor lingkungan sosial. Yang termasuk faktor lingkungan non sosial/alami ini ialah seperti: keadaan suhu, kelembaban udara, waktu (pagi, siang, malam), tempat letak gedung sekolah, dan sebagainya. Faktor lingkungan sosial baik berwujud manusia dan

representasinya termasuk budayanya akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa. 2) Faktor-faktor Instrumental Faktor instrumental ini terdiri dari gedung/sarana fisik kelas, sarana/alat pengajaran, media pengajaran, guru dan

kurikulum/materi pelajaran serta strategi belajar mengajar yang digunakan akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa.68 Dari semua faktor di atas, dalam penelitian kali ini akan diarahkan pada faktor instrumental yang di dalamnya guru profesional itu akan ditunjukan. Faktor-faktor di atas saling mempengaruhi satu sama lain. Misalnya: Seorang siswa yang conserving terhadap ilmu pengetahuan biasanya cenderung mengambil pendekatan yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya seorang siswa yang memiliki kemampun
67

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, h. 136.
68

Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, h. 59-60.

41

intelegensi yang tinggi (faktor Iternal) dan mendapat dorongan positif dari orang tua atau gurunya (faktor eksternal) akan lebih memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil belajar. Akibat pengaruh faktor-faktor tersebut di atas muncul siswa-siswa yang berprestasi tinggi, rendah atau gagal sama sekali. Dalam hal ini seorang guru yang memiliki kompetensi yang baik dan profesional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinankemungkinan munculnya siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor-faktor yang menjadi penghambat proses belajar siswa.

4. Indikator Prestasi Belajar Indikator prestasi belajar siswa dalam penelitian ini akan diperoleh dari penilaian yang ditinjau dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, yang dirangkum dalam nilai raport siswa dalam bidang studi Fiqih.

C. Hubungan Profesionalisme Guru Dengan Prestasi Belajar Siswa Dari penjelasan diatas, penulis memberikan kesimpulan bahwa yang menjadi alasan adanya hubungan profesionalisme guru dengan prestasi belajar siswa dalam penelitian ini, dapat dilihat dalam dua hal sebagai berikut: 1. Karena keberadaan guru dalam kelas adalah sebagai manajer bidang studi.. Yaitu, orang yang merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar di sekolah. 2. Karena guru di sekolah bertugas menentukan keberhasilan siswa. Oleh karena itu, apabila siswa belum berhasil, maka guru perlu mengadakan remedial. Untuk itu, guru yang mampu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar adalah guru yang profesional.

42

D. Kerangka Berpikir Profesionalisme berasal dari kata profesion yang mengandung arti pekerjaan yang memerlukan keahlian yang dapat diperoleh melalui jenjang pendidikan atau latihan tertentu. Berbicara mengenai profesionalisme, guru adalah termasuk suatu profesi yang memerlukan keahlian tertentu dan memiliki tanggung jawab yang harus dikerjakan secara profesional. Karena guru adalah individu yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kesuksesan anak didik yang berada dibawah pengawasannya, maka keberhasilan siswa akan sangat dipengaruhi oleh kinerja yang dimiliki seorang guru. Oleh karena itu, guru profesional diharapkan akan memberikan sesuatu yang positif yang berkenaan dengan keberhasilan prestasi belajar siswa. Dalam pelaksanaannya, tanggung jawab guru tidak hanya terbatas kepada proses dalam pentransferan ilmu pengetahuan. Banyak hal yang menjadi tanggung jawab guru, yang salah satunya adalah memiliki kompetensi idealnya sebagaimana guru profesional. Kompetensi di sini meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan profesional, baik yang bersifat pribadi, sosial, maupun akademis. Dengan kata lain, guru yang profesional ini memiliki keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga dia mampu melaksanakan tugasnya secara maksimal dan terarah. Dalam pelaksanaan kegiatan belajar, seorang guru profesional harus terlebih dahulu mampu merencanakan program pengajaran. Kemudian melaksanakan program pengajaran dengan baik dan mengevaluasi hasil pembelajaran sehingga mampu mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, seorang guru profesional akan menghasilkan anak didik yang mampu menguasai pengetahuan baik dalam aspek kognitif, afektif serta psikomotorik. Dengan demikian, seorang guru dikatakan profesional apabila mampu menciptakan proses belajar mengajar yang berkualitas dan mendatangkan prestasi belajar yang baik. Demikian pula dengan siswa, mereka baru dikatakan memiliki prestasi belajar yang maksimal apabila telah menguasai

43

materi pelajaran dengan baik dan mampu mengaktualisasikannya. Prestasi itu akan terlihat berupa pengetahuan, sikap dan perbuatan. Kehadiran guru profesional tentunya akan berakibat positif terhadap perkembangan siswa, baik dalam pengetahuan maupun dalam keterampilan. Oleh sebab itu, siswa akan antusias dengan apa yang disampaikan oleh guru yang bertindak sebagai fasilitator dalam proses kegiatan belajar mengajar. Bila hal itu terlaksana dengan baik, maka apa yang disampaikan oleh guru akan berpengaruh terhadap kemampuan atau prestasi belajar anak. Karena, disadari ataupun tidak, bahwa guru adalah faktor eksternal dalam kegiatan pembelajaran yang sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan proses kegiatan pembelajaran itu. Untuk itu, kualitas guru akan memberikan pengaruh yang sangat berarti terhadap proses pembentukan prestasi anak didik. Maka oleh karena itu, dengan keberadaan seorang guru profesional diharapkan akan mampu memberikan pengaruh positif terhadap kelancaran dan keberhasilan proses belajar mengajar serta mampu memaksimalkan hasil prestasi belajar siswa dengan sebaik-baiknya.

E. Hipotesis Untuk menguji ada atau tidaknya hubungan variabel X

(profesionalisme guru) dengan variabel Y (prestasi belajar siswa), maka penulis mengajukan hipotesa sebagai berikut: Ha: Terdapat hubungan positif yang signifikan antara profesionalisme guru dengan prestasi belajar siswa di MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi. Ho: Tidak terdapat hubungan positif yang signifikan antara

profesionalisme guru dengan prestasi belajar siswa di MTs AlJamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi. Dari hipotesis di atas, penulis memiliki dugaan sementara bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara profesionalisme guru dengan prestasi belajar siswa di MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi. Untuk itu, penulis sepakat dengan petnyataan Ha di atas. Adapun untuk

44

kebenarannya, maka akan dibuktikan melalu hasil penelitian yang dilakukan di sekolah yang bersangkutan.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di MTs Al-Jamii’ah Tegallega Desa. Tegallega, Kecamatan. Cidolog, Kabupaten. Sukabumi, Propinsi. Jawa barat. Adapun waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2008 sampai dengan bulan Juli 2008.

B. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini penulis menguji profesionalisme guru dan hubungannya dengan prestasi belajar siswa di MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi. 1. Variabel bebas (independent variable) profesionalisme guru. 2. Variabel terikat (dependent variable) adalah prestasi belajar siswa atau hasil belajar (nilai raport) mata pelajaran Fiqih.

C. Populasi dan Sampel Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa/siswi MTs AlJamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi kelas VII dan VIII, tahun pelajaran 2007/2008 yang berjumlah 110 orang. Adapun sampelnya diambil secara acak (Random Sampling). Melalui penelitian ini penulis mengambil sampel sebanyak 40% dari populasi yaitu 40 orang, dengan 20 orang laki-laki dan 20 orang perempuan.

D. Teknik Pengumpulan Data Untuk mengumpulkan data yang diperoleh dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan beberapa instrumen penelitian antara lain:

46

`

47

1. Angket (kuesioner) Angket ini diberikan kepada siswa untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan profesional yang dimiliki oleh guru dalam proses belajar mengajar. Angket dibuat dengan model Likert yang mempunyai empat kemungkinan jawaban yang berjumlah genap ini dimaksud untuk menghindari kecenderungan responden bersikap ragu-ragu dan tidak mempunyai jawabanyang jelas. Penyusunan angket kompetensi guru mengacu kepada aspek-aspek kemampuan guru (kompetensi profesionalisme guru) yang terdiri dari 25 item dengan perincian sebagai berikut:

Tabel 2 Kisi-kisi Angket Guru Fiqih Profesional Variabel Indikator Sub Variabel Nomor Angket Positif Negatif (+) (-) -

Kompetensi Profesional Guru Fiqih

a. Kemampuan merencanakan program belajar mengajar b. Menguasai bahan pelajaran c. Melaksanakan/mengelola proses belajar-mengajar

1

3,4,5 6,7,8,9,10,11,1 3,14,15,16,17, 18,19,20,21,22

2 12

d. Menilai kemajuan proses belajar-mengajar

23,24,25

-

2. Observasi Sebagai metode ilmiah, observasi biasa diartikan dengan pengamatan dan pencatatan sistematik fenomena-fenomena yang

diselidiki. Observasi ini dilakukan untuk memperoleh data tentang kondisi sekolah atau deskripsi lokasi penelitian yang dilaksanakan di MTs AlJamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi.

`

48

3. Wawancara Wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah untuk memperoleh data yang lebih mendalam dan untuk mengkomparasikan data yang diperoleh melalui angket. Wawancara dilakukan dengan kepala sekolah. 4. Studi Dokumentasi Peneliti mencari data tentang prestasi belajar siswa, yaitu nilai raport pada mata pelajaran Fiqih semester ganjil tahun 2007/2008.

E. Teknik Analisis Data Teknik analisis data merupakan cara yang digunakan untuk menguraikan keterangan-keterangan atau data yang diperoleh agar data tersebut dapat dipahami bukan oleh orang yang mengumpulkan data saja, tapi juga oleh orang lain. Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: 1. Editing Dalam pengolahan data yang pertama kali harus dilakukan adalah editing. Ini berarti bahwa semua angket harus diteliti satu persatu tentang kelengkapan dan kebenaran pengisian angket sehingga terhindar dari kekeliruan dan kesalahan. 2. Scoring Setelah melalui tahapan editing, maka selanjutnya penulis memberikan skor terhadap pertanyaan yang ada pada angket. Adapun pemberian skor untuk tiap-tiap jawaban adalah:

Tabel 3 Skor Jawaban Angket Guru Fiqih Profesional Positif (+) Jawaban Selalu Sering Skor 4 3 Negatif (-) Jawaban Selalu Sering Skor 1 2

`

49

Kadag-kadang Tidak pernah

2 1

Kadag-kadang Tidak pernah

3 4

Kemudian hasil seluruh jawaban siswa dengan melihat rata-rata jumlah skor, dengan klasifikasi sebagai berikut:

Tabel 4 Klasifikasi Skor Angket Guru Profesional Klasifikasi 25 – 50 76 – 100 3. Pengujian Hipotesis Selanjutnya adalah penghitungan terhadap hasil skor yang telah ada. Karena penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada korelasi antara profesionalisme guru dengan prestasi belajar siswa, maka yang dipakai adalah rumus “r” product moment. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut: 51 – 75 Keterangan Jumlah Skor Jawaban Rendah Sedang Tinggi

rxy 

{N  X

N  XY  (  X )(  Y )
2

 (  X ) 2 }{ N  Y

2

 ( Y )2}

rxy N x

:

Angka indeks korelasi “r” product moment

: Jumlah responden

xy : Jumlah hasil perkalian antara skor x dan skor y : Jumlah seluruh skor x : Jumlah seluruh skor y Kemudian memberikan interpretasi terhadap angka indeks korelasi “r” product moment dengan interpretasi kasar atau sederhana, yaitu y

`

50

dengan mencocokkan perhitungan dengan angka indeks korelasi “r” product moment. Selanjutnya untuk menentukan data penelitian ini signifikan atau tidak, interpretasi juga menggunakan tabel nilai “r” (rt), dengan terlebih dahulu mencari derajat bebasnya (db) atau degrees of freedom (df) yang rumusnya adalah:

df  N  nr
df N Nr : degrees of freedom : Number of Cases : Banyaknya variabel (Profesionalisme guru Fiqih dan Prestasi belajar Siswa). Rumus selanjutnya adalah untuk mencari kontribusi variabel X terhadap variabel Y dengan menggunakan rumus sebagai berikut: KD = r2 x 100%

KD : Koefision Determination (kontribusi variabel X terhadap variabel Y). r : Koefisien korelasi antara variabel X dan Y.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Kondisi Sekolah 1. Deskripsi Lokasi Penelitian MTs Al-Jamii'ah Teagallega terletak di kabupaten Sukabumi, tepatnya di desa Tegallega, kecamatan Cidolog. Jaraknya dari kotamadya Sukabumi (Kota) kurang lebih 66 km dengan kondisi jalan yang berbelokbelok dan relatif buruk. Sedangkan kecamatan Cidolog berada di sebelah selatan desa Tegallega. Di kecamatan ini terdapat dua sekolah lanjutan yaitu Madrasah Tsanawiyah Al-Jamii'ah itu sendiri dan sekolah tingkat Lanjutan Pertama Negeri (SLTPN) yang berada di desa Cidolog yang notabene adalah kecamatan. Jarak tempuh dari desa Tegallega ke kecamatan Cidolog adalah 7 km. Salah satu kecamatan yang cukup penting untuk disebutkan di sini adalah Sagaranten karena ia merupakan tempat alternatif yang menjadi sentral pemenuhan kebutuhan hidup bagi masyarakat dari daerah-daerah yang berada di selatannya selain harus ke kotamadya Sukabumi. Jarak tempuh antara Tegallega dan Sagaranten adalah 13 km dan dari kota madya Sukabumi ke Sagaranten berjarak 53 km. Di kecamatan Sagaranten sendiri terdapat SLTP Negeri, Madrasah Tsanawiyah Negeri dan Madrasah Aliyah, dan Sekolah Menengah Umum. Dari paparan di atas tergambar bahwa MTs Al-Jamii'ah berada diantara kecamatan yang memilki sekolah negeri. Madrasah Tsanawiyah Al-Jamii'ah memiliki bangunan sendiri yang terdiri dari enam lokal dengan rincian: a. Tiga lokal dipakai untuk kelas (I, II dan III); b. Satu lokal untuk ruang guru (kantor); c. Satu lokal untuk perpustakaan; d. Dan satu mesjid untuk kegiatan shalat berjamaa'ah;

51

52

e. Asrama atau pondok untuk siswa-siswi yang rumahnya jauh dari sekolah. MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mempunyai visi dan misi sebagai berikut: Visi: Visi MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi yaitu: “Dengan ilmu kita tahu, dengan agama kita bertakwa”. Misi: Adapun yang menjadi misi dari MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi yaitu: a. b. Mencetak kader yang berilmu dan beragama. Membentuk karakter siswa/siswi dengan nilai-nilai ajaran Islam untuk melahirkan manusia yang berakhlaqul karimah. c. Mempersiapkan siswa/siswi untuk melanjutkan ke pendidikan berikutnya, baik jurusan agama maupun umum. d. Mempersiapkan siswa/siswi agar dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilannya di tengah-tengah masyarakat. Kegiatan belajar-mengajar di MTs Al-Jamii'ah ini dilaksanakan di pagi dan siang hari. Sebagian siswa ada yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar di pagi hari, dan sebagian siswa yang lain melaksanakan kegiatan belajar-mengajar pada siang hari. Hal itu dilakukan secara

bergantian mengingat tempat yang tersedia tidak sesuai dengan jumlah siswa yang ada. Keseluruhan siswa-siswi MTs Al-Jamii'ah Tegallega berjumlah 165 orang, dengan jumlah siswa setiap kelas sebanyak 55 orang. Tenaga pengajar dan pengelola sekolah MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi secara keseluruhan berjumlah 16 orang dengan klasifikasi sebagai berikut: a. Jenis Kelamin  Laki-laki  Perempuan : 11 orang. : 5 orang.

53

b.

Tingkat Pendidikan  S1  D2 : 10 orang. : 3 orang. : 1 orang. : 2 orang.

 PGA

 SLTA

Letak Madrasah Tsanawiyah Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog

Sukabumi berada pada lokasi yang strategis, yakni di sekitarnya terdapat empat Sekolah Dasar (SD) yaitu: a. b. c. d. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tegallega. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cipamingkis. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Puncak Batu. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cilengka. Dan dua Madrasah Ibtidaiyah (MI), yaitu: a. b. Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cibengang. Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cipari. Siswa/siswi tingkat dasar tersebut antara 50%-70% meneruskan sekolahnya dan MTs Al-Jamii’ah Tegallega menjadi alternatif utama sekolah lanjutan karena jaraknya yang relatif lebih dekat dengan Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah yang berada di sekitarnya dibanding sekolah lanjutan lainnya.

2. Sejarah Singkat Sekolah Pembentukan Yayasan Pendidikan Islam (YASPI) Al-Jamii'ah Tegallega berawal dari keinginan untuk membangun Madrasah

Tsanawiyah yang kemudian berhasil didirikan pada tanggal 23 Maret 1986 dengan tempat kegiatan belajar sementara berlokasi di Madrasah Diniyah (MD) Annur, kampung Sinapeul, desa Tegallega kecamatan Cidolog. Adapun para pendirinya adalah: 1). K.H. M. Mahmudin 2). K.H. M. Didin 3). H. Daradjat Sudrajat

54

4). H. Ridwan Syafe'i 5). M. Tabrani 6). Iim Ibrahim 7). M. Sarmaja (Alm) Baru pada tanggal 9 Mei 1986 mendapat pengesahan dari Akte Notaris: Ibrahim Basya No. 5 dan terdaftar pada Pengadilan Negeri Sukabumi No. W8. DLHM 07.01.50/1986-PN-Smi. Mts Al-Jamii'ah mulai beroperasi/membuka tahun ajaran baru pada tanggal 16 Juli 1986 dengan jumlah pendaftar perdana 42 siswa. Tujuan utama pendirian Madrasah Al-Jamii'ah ini adalah untuk mencetak lulusan-lulusan yang berintelektual-santri dan bersantri-

intelektual. Oleh karena itu dalam kegiatan dipadukan antara pengajaran di sekolah dan kegiatan pengajian Al-Qur'an dengan materi ayat-ayat pilihan yang disesuaikan dengan pelajaran agama di sekolah yang menggunakan metode tahfidz berikut terjemahannya terutama ayat-ayat yang berkenaan dengan akhlak (moral). Pada tahun 1995 Madrasah Tsanawiyah Al-Jamii'ah resmi memiliki bangunan sendiri dengan lima lokal dan menyediakan asrama putera/puteri bagi siswa yang tempat tinggalnya jauh namun bersungguh-sungguh untuk belajar di Madrasah Tsanawiyah tersebut. Sampai saat ini Tsanawiyah AlJamii'ah Tegallega telah mengeluarkan 21 angkatan/lulusan. Adapun yang menjabat sebagai ketua yayasan MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi saat ini adalah Bapak H. Muhammad Mahmudin yang merupakan pendiri dan pemilik tanah sekaligus sekolah MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi.

3. Sarana dan Prasarana Sarana yang tersedia di MTs Al-Jamii'ah Tegallega Cidolog Sukabumi adalah sebagai berikut: 1). Alat Praktek IPA Alat praktek IPA yang ada di MTs Al-Jamii'ah yaitu:

55

a. Mikroskop. b. Alat peraga tubuh/kerangka manusia. c. Alat peraga elektronik sederhana d. Jenis batu-batuan alam. e. Alat Pengujian teori IPA sederhana. 2). Asrama siswa 3). Gedung sekolah milik sendiri 4). Mesjid 5). Lapangam Volley Ball 6). Lapangan Tenis Meja Kegiatan ekstrakurikuler yang menjadi rutinitas siswa/siswi AlJamii'ah Tegallega Cidolog Sukabumi yaitu: a. Pramuka b. Majlis Training Dakwah c. Sepak bola d. Volley Ball e. Tenis Meja

B. Deskripsi Data 1. Gambaran Umum Tingkat Profesionalisme Guru MTs Al-Jamii'ah Tegallega Cidolog Sukabumi. Jumlah guru MTs Al-Jamii'ah Tegallega Cidolog Sukabumi seluruhnya berjumlah 16 orang dengan latar belakang pendidikan sebagai berikut: Tabel 5 Keadaan Tenaga Pengajar dan Tenaga Administrasi MTs Al-Jamii'ah Tegallega Cidolog Sukabumi Tahun Pelajaran 2007/2008 No. Nama Jenjang Pendidikan dan Jurusan S1 SPI, UIN SYAHID Jakarta, Jabatan Tugas Mata Pelajaran IPS, SKI

1.

Anwar Jahid, S.Ag

Kepala Sekolah

56

1996/1997 Akta IV Darussalam Sukabumi 2. Kustandi AR, S.Pd.I S1 PBA UIN SYAHID Jakarta 2002/2003 S1 PAI STAI Sukabumi 2004/2005 D2 PAI Syamsul Ulum Sukabumi 1999/2000 S1 PAI STAI Sukabumi 1996/1997 S1 MTK UIN SYAHID Jakarta 1992/1993 S1 PAI Daarussalam Sukabumi 2004/2005 Bidang Kurikulum Sarana Prasarana Humas Bahasa Arab, Bahasa Inggris Aqidah Akhlaq

3.

Saprudin, S.Pd.I

4.

Wahidin, A.Ma

Aqidah Akhlaq

5.

MT Syahrudin, S.Ag

Kesiswaan

Qur'an Hadits

6.

Drs. Opik Taufiq

Wali Kelas

Matematika

7.

Mansur Yatin, S.Pd.I

Wali Kelas

Fiqih

8.

Leni Puspita, S.Pd.I

S1 MIPA UNISBA Wali Kelas Bandung 2001/2002 S1 IAIN Sunan Gunung Jati Bandung 2003/2004 D2 PGSD STKIP Sukabumi 2004/2005 S1 Pendidkan Bahasa Indonesia IAIN Bandung 1997/1998 PGA 1987/1988 SLTA 2002/2003 Guru

IPA

9.

Ali Supriadi, S.Pd.I

Fiqih

10.

Uswandi

Guru

Penjaskes

11.

Asep Muluyadi, S.Ag

Guru

Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah PPKN KTK

12. 13.

Eni Rustini Nia Susanti

Guru Guru

57

14. Taufikurrahman, S.Th.I

S1 Tafsir Hadits UIN SYAHID Jakarta 2005/2006 SLTA 2006/2007 D2 PAI STAI Sukabumi 1997/1998

Guru

Qur'an Hadits, Kaligrafi

15. Wiwi Nopiana 16. Iis Muhsonah

TU Guru

Tenaga administrasi MTK

Dari tabel di atas, guru Fiqih yang ada di MTs Al-Jamii'ah Tegallega Cidolog Sukabumi berjumlah 2 orang. Keduanya merupakan lulusan Strata 1 (S1) Sarjana Pendidikan Agama Islam.

2. Hasil Penelitian Profesionalisme Guru Dalam Bidang Studi Fiqih

Tabel 6 Skor Angket Penelitian Hubungan Profesionalisme Guru Bidang Studi Fiqih dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas: ……………………………. Nama: ……………………………. No. Responden : ……… Jenis Kelamin : (P/L)

Petunjunk Pengisian: Bacalah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dan berilah tanda cek list (√) pada kolom jawaban sesuai dengan pendapat kamu. Alternativ jawaban dan skor yang disediakan adalah sebagai berikut: Untuk skor jawaban pertanyaan positif adalah sebagai berikut: Selalu (S) :4 Kadang-kadang (KK) : 2 Tidak pernah (TP) :1

Sering (SR) : 3

Adapun skor jawaban pertanyaan negatif adalah sebagai berikut:

58

Selalu (S)

:1

Kadang-kadang (KK) : 3 Tidak pernah (TP) S :4 SR KK TP

Sering (SR) : 2 No 1. Pertanyaan & pernyataan

Sebelum menjelaskan materi pembelajaran, apakah guru Fiqih memberitahu terlebih dulu mengenai tujuan pembelajaran?

2.

Apakah

guru

bidang

studi

Fiqih

dalam

menjelaskan materi pembelajaran melihat isi buku yang berkaitan dengan materi? 3. Apakah guru bidang studi Fiqih mampu menjelaskan materi pembelajaran dengan jelas sehingga mudah difahami siswa? 4. Dalam menyampaikan bahan pelajaran, apakah guru bidang studi Fiqih memberikan contoh sehingga apa yang disampaikan mudah

dimengerti? 5. Apakah guru bidang studi Fiqih mampu menjawab dengan jelas pertanyaan yang

diberikan siswa dalam proses kegiatan belajar? 6. Apakah guru Fiqih dalam mengajar menggunakan metode secara bervariasi (ceramah, Tanya jawab, demonstrasi, kerja kelompok) ? Setiap memulai pelajaran, apakah guru Fiqih mengulas dan menanyakan pelajaran yang lalu? Dalam menyajikan materi pelajaran, apakah guru Fiqih menciptakan kegiatan atau perlakuan yang berbeda antara karakteristik siswa yang memiliki kemampuan rendah dengan siswa yang memilki kemampuan tinggi? Apakah guru Fiqih menyapa (menanyakan kabar siswa) ketika masuk kedalam kelas?

7. 8.

9.

59

10.

Apakah guru Fiqih memberikan teguran kepada siswa yang mengganggu kegiatan belajar mengajar? Sebelum memulai pelajaran, apakah guru Fiqih mengatur kerapihan tata ruang kelas terlebih dahulu serta kesiapan siswa untuk belajar? Apakah guru Fiqih mengalami mengatur siswa dalam kelas? kesulitan

11.

12. 13.

Selain buku pegangan, apakah guru Fiqih menggunakan buku-buku lain yang menunjang materi pembelajaran? Selain buku, papan tulis, apakah guru Fiqih menggunakan alat bantu belajar yang lain seperti karton, peta dan sarana prasarana lainnya? Apakah guru Fiqih dalam mengajar merancang dan membuat alat bantu (alat peraga) belajar yang sederhana? Dalam kegiatan belajar mengajar, apakah guru Fiqih menggunakan laboratorium atau alat peraga?

14.

15.

16.

17.

Apakah guru Fiqih memanfaatkan perpustakaan dalam mengajar?

18.

Dengan alat peraga yang digunakan oleh guru Fiqih, apakah kamu lebih mengerti materi yang diajarkan?

19.

Apakah guru Fiqih memberikan pujian kepada siswa ketika menjawab pertanyaan dengan tepat serta mengarahkan bagi siswa yang menjawab pertanyaan kurang tepat?

20.

Apakah guru Fiqih memberikan motivasi, nasihat dan ide cemerlang kepada murid ketika mengajar?

60

21.

Dalam

mengajar,

apakah

guru

Fiqih

menanyakan kembali pembahasan yang telah dipelajari sebelumnya? 22. Setelah selesai pembelajaran, apakah guru Fiqih mampu menyimpulkan materi pelajaran dengan baik? 23. Apakah soal-soal yang diberikan guru Fiqih dalam ulangan sesuai dengan materi yang diajarkan? 24. Bila guru Fiqih memberi tugas, apakah selalu dinilai dan diberikan kepada siswa? 25. Apabila hasil tes siswa rendah, apakah siswa diberikan kesempatan untuk memperbaiki? Angket yang disebarkan kepada siswa kemudian dianalisis dan diberikan skor jawaban per item soal dengan perincian sebagai berikut:

Tabel 7 Analisis Item Untuk Skor Angket Profesionalisme Guru Dalam Bidang Studi Fiqih
ITEM ANGKET

JUMLAH SKOR

SUBYEK
1 2 3 4 5 6 7 8 9

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

2 1 4 1 2 1 2 3 2

1 3 3 3 3 2 3 2 3

3 3 3 3 3 3 3 3 4

2 3 3 3 3 2 3 2 2

3 3 4 3 3 4 3 3 3

3 3 2 3 4 3 3 3 2

2 2 4 2 4 1 2 4 3

3 3 1 3 1 1 1 1 1

2 2 2 2 1 1 2 2 3

1 1 3 1 4 3 3 3 2

2 2 2 2 2 2 4 1 1

3 3 4 3 3 3 2 3 3

3 2 2 3 3 3 2 3 3

1 3 3 3 2 1 3 2 2

3 2 3 2 1 1 3 1 1

1 3 2 1 1 1 1 1 2

2 2 2 2 2 1 2 1 1

1 2 4 1 3 3 4 3 2

2 1 3 2 4 2 2 4 3

2 2 4 2 3 3 3 2 2

2 3 2 3 1 2 2 1 3

2 2 2 2 2 1 1 3 1

3 3 4 4 3 4 3 3 3

3 4 4 4 4 4 4 4 4

4 4 4 4 4 3 4 4 4

56 62 74 62 65 55 65 62 60

61

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 =40

2 3 3 3 4 1 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 3 3 2 3 2 2 2 3 3 3 3 3

2 3 3 3 2 2 2 2 3 4 3 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 4 2 4 2 4 4

2 2 3 3 2 2 2 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 2 2 3 2 3 2 4 3

2 3 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 4 3 2 2 3 2 2 4 2 4 4 3 4

3 3 3 2 2 2 2 1 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 3 3 3 1 2 4 4 3 2 2 1 2 2

3 2 2 2 3 4 3 4 3 2 3 2 2 2 2 2 4 3 4 2 3 2 2 1 2 4 1 4 1 2 2

3 3 3 2 2 4 3 4 2 3 3 3 2 2 3 3 4 4 2 3 2 2 2 3 3 2 2 2 2 4 4

1 2 2 3 1 1 1 1 3 1 1 2 1 3 2 2 1 1 3 2 1 1 3 1 1 3 2 3 1 3 3

2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 3 2 2 2 2 2 1 1 4 2 3 2 1 4 2 4 2 4 1 4 4

3 3 3 3 4 4 3 4 1 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 2 3 3

1 1 1 2 1 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 1 1 2 3 2 2 2 2

1 3 3 2 1 3 1 3 3 4 2 3 4 2 2 3 3 3 3 3 2 2 3 1 3 3 3 3 1 3 3

4 2 2 3 4 4 4 4 2 2 4 4 1 3 3 4 3 2 1 2 3 3 2 3 2 1 2 1 2 1 1

2 3 3 2 2 1 2 1 1 2 3 1 1 2 1 1 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

2 3 2 2 2 1 2 1 3 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 3 1 2 1 1 2 1

1 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 3 2 2 2 1 2 1 3 2 3 1 1 2

2 2 1 1 1 1 2 1 2 2 2 1 1 1 1 1 2 1 3 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 2

2 2 2 3 2 3 2 3 1 3 2 3 4 3 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 4 2 2 2 1 2 2

3 2 2 2 3 4 3 4 2 3 3 3 2 2 3 4 4 2 3 2 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 3

3 3 3 2 4 2 4 2 2 3 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 3 2 1 2 2 3 2

2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 3 2 2 3 3 1 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 1 1

2 2 2 3 2 3 2 3 2 2 2 1 2 3 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1

2 4 4 4 2 4 2 4 3 4 3 4 3 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4

2 4 4 2 2 4 2 4 3 3 2 3 4 2 3 3 4 4 4 4 3 2 2 3 2 4 2 4 4 4 4

4 2 2 3 4 3 4 3 4 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 3 2 4 4 4 3 4 2 4 4 4 4

56 63 62 61 57 62 56 61 55 66 62 63 56 60 58 62 64 56 68 62 55 54 56 57 56 67 50 67 50 66 66 =2415

Jumlah Skor

Setelah jumlah skor dibagi oleh jumlah responden (2415 : 40), maka hasil yang diperoleh adalah 60.375. Dengan demikian, jumlah skor

62

rata-rata tingkat profesionalisme guru Fiqih MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi adalah cukup baik. Dari tabel 2 diketahui bahwa jumlah skor jawaban siswa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Tabel 8 Klasifikasi Jumlah Skor Jawaban Siswa dari Angket Profesionalisme Guru Fiqih Klasifikasi Jumlah Siswa Keterangan Jumlah Skor Jawaban 25-50 51-75 76-100 2 Siswa 38 Siswa Rendah Sedang Tinggi

Jadi, tingkat profesionalisme guru Fiqih menurut pendapat siswa dianggap sedang, yakni antara 51-75, sebanyak 38 siswa.

Prestasi Belajar Prestasi belajar siswa diambil dari daftar nilai siswa pada buku daftar nilai (legger), prestasi belajar yang diambil oleh penulis adalah nilai raport siswa pada semester ganjil tahun ajaran 2007/2008 sebagai berikut:

Tabel 9 Daftar Nilai Siswa Dalam Mata Pelajaran Fiqih Semester 1 No. 1. 2. 3. 4. 5. Nama Responden Pipit Pitaloka Kartika Deki Ramdani Pita Yuli Rahayu Fachrurrazi Kholifah Nilai 75 75 80 75 75

63

6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23 24. 25. 26. 27. 28. 29 30. 31. 32. 33. 34. 35.

Nana Suryana Suci Yulistiani Asep Mulyana Lintang Wira Ningrum Ajat Sudrajat Dede Trisnawati Riadi Syauqi Ridwan Sawita Elisa Mutiara Didis Kurniadi Diana Melida Puji Nurjaman Siti Jenabiah Rinal Anbiya Siti Julaeha Hendri Nugroho Eni Verawati Deri Kusmana Nita Fitriani Imadduddin Siti Mira Bayu Siska Suci N Aan Irawan Euis Kartika Angga Lesmana Susi Gunawan Neuis Larasati Hifdullah

70 75 70 80 65 80 65 75 75 80 65 75 70 75 80 80 75 80 70 80 75 70 80 75 70 65 70 75 75 80

64

36. 37. 38. 39. 40 ∑N=40

Tuti Alawiyah Fajri Ginanjar Fitri Nurodin Komala Sari

65 80 65 80 80 ∑Nilai=2970

Jumlah nilai keseluruhan bidang studi Fiqih siswa/siswi MTs AlJamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi yang diteliti adalah 2970. Setelah jumlah nilai 2970 dibagi dengan jumlah responden yang berjumlah 40 orang, maka nilai rata-rata siswa/siswi MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi dalam bidang studi Fiqih adalah 74.25. Dengan demikian, nilai rata-rata prestasi belajar siswa dalam bidang studi Fiqih di MTs Al-Jamii’ah Tegallega adalah cukup baik. Dari tabel diatas diketahui bahwa prestasi belajar siswa pada bidang studi Fiqih dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Tabel 10 Klasifikasi dan Kualifikasi Jumlah Nilai Siswa Dalam Bidang Studi Fiqih Klasifikasi 80-89 70-79 60-69 Jumlah Siswa 13 Siswa 21 Siswa 6 Siswa Kualifikasi Tinggi Sedang Rendah

Jadi, tingkat prestasi belajar siswa dalam pelajaran Fiqih dianggap sedang, yakni antara klasifikasi 70-79 sebanyak 21 siswa.

65

3. Hubungan Profesionalisme Guru Dalam Bidang Studi Fiqih Dengan Prestasi Belajar Siswa. Untuk menguji data antara skor angket profesionalisme guru dalam bidang studi Fiqih dengan prestasi belajar siswa, terlebih dahulu dikorelasikan kedua variabel tersebut, seperti pada tabel di bawah ini:

Tabel 11 Analisis Korelasi Variabel X (Profesionalisme Guru Dalam Bidang Studi Fiqih) dan Variabel Y (Prestasi Belajar Siswa) Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 X 56 62 74 62 65 55 59 62 60 56 63 62 61 57 62 56 61 55 66 62 Y 75 75 80 75 75 70 75 70 80 65 80 65 75 75 80 65 75 70 75 80 X² 3136 3844 5476 3844 4225 3025 3481 3844 3600 3136 3969 3844 3721 3249 3844 3136 3721 3025 4356 3844 Y² 5625 5625 6400 5625 5625 4900 5625 4900 6400 4225 6400 4225 5625 5625 6400 4225 5625 4900 5625 6400 XY 4200 4650 5920 4650 4875 3850 4425 4340 4800 3640 5040 4030 4575 4275 4960 3640 4575 3850 4950 4960

66

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 ∑N=40
r y


63 56 60 58 62 64 56 68 62 55 54 56 57 56 67 50 67 50 66 66 ∑X=2415

80 75 80 70 80 75 70 80 75 70 65 70 75 75 80 65 80 65 80 80 ∑Y=2970

3969 3136 3600 3364 3844 4096 3136 4624 3844 3025 2916 3136 3249 3136 4489 2500 4489 2500 4356 4356 ∑X²=146829

6400 5625 6400 4900 6400 5625 4900 6400 5625 4900 4225 4900 5625 5625 6400 4225 6400 4225 6400 6400

5040 4200 4800 4060 4960 4800 3920 5440 4650 3850 3510 3920 4275 4200 5360 3250 5360 3250 5280 5280

∑Y²=221600 ∑XY=180060

N

N    
2 2

   N   



2


2

40.146829 - (2415) 40.221600 - ( 2970)  .
40.180060 - (2415).( 2970)
2



7202400 - 7172550 5873160 - 5832225.8864000 - 8820900

67

  

29850 40925.43100 29850 1764298500 29850 42003,55

 0,71065422  0,710

C. Analisis Interpretasi Data Dari perhitungan di atas ternyata angka korelasi antara Variabel X dan Variabel Y sebesar 0,710 itu berarti klorelasi tersebut bertanda positif. Untuk melihat interpretasi terhadap angka indeks korelasi product moment secara kasar atau sederhana terletak pada angka 0,70 - 0,90 yang berarti korelasi antara Variabel X dan Variabel Y itu adalah terdapat korelasi yang kuat atau tinggi . Selanjutnya untuk mengetahui apakah hubungan Variabel X dan Variabel Y itu signifikan atau tidak, maka “r” hasil perhitungan dibandingkan dengan “r” tabel. Sebelum membandingkannya, maka terlebih dahulu dicari “df” atau “db” nya dengan rumus df = N-nr. Berdasarkan tabel di atas, siswa yang di teliti atau yang menjadi sampel penelitian di sini adalah 40 orang. Dengan demikian N = 40. Variabel yang dicari korelasinya adalah Variabel X dan Variabel Y; jadi nr = 2. Maka dengan mengacu kepada rumus di atas,dengan mudah dapat kita peroleh df-nya yaitu: df = 40-2 = 38. Dengan “df” sebesar 38, dikonsultasikan dengan tabel nilai “r”, baik pada taraf signifikansi 5% maupun pada taraf signifikansi 1%.  Pada taraf signifikansi 5% = 0,304  Pada taraf signifikansi 1% = 0,393 Dengan melihat “rt” diperoleh hasil sebagai berikut:

68

Ternyata, “rxy” atau “ro” lebih besar dari “r” tabel atau “rt” baik pada taraf signifikansi 5% maupun 1% yaitu (0,710>0,304/0,393). Dengan demikian hipotesa nol (Ho) ditolak, sedangkan hipotesa alternatif (Ha) diterima. Ini berarti bahwa terdapat hubungan/korelasi yang positif dan signifikan antara profesionalisme guru dalam bidanng studi Fiqih dengan prestasi belajar siswa. Kemudian, untuk mengetahui seberapa besar hubungan kedua variabel tersebut maka dapat dihitung dengan menggunakan rumus Koefisien Determinasi, yaitu KD = r²x100%. KD = r²x100% = (0,710)²x100% = 0,50x100 = 50%. Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa, prestasi belajar siswa ditentukan atau dipengaruhi oleh profesionalisme guru sebesar 50%. Maka 50% lagi ditentukan oleh faktor lain.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Dari jawaban siswa mengenai profesionalisme guru dalam bidang studi Fiqih, sebagian besar siswa berpendapat bahwa guru bidang studi Fiqih MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi berada pada kualifikasi sedang. Sedangkan menurut pendapat sebagian siswa yang lain, guru mempunyai tingkat kompetensi profesional yang rendah. Dengan demikian, sesuai dengan data yang ada, profesionalisme guru dalam bidang studi Fiqih di MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi adalah berada pada rata-rata sedang atau cukup baik. 2. Nilai rata-rata prestasi hasil belajar Fiqih siswa kelas VII dan VIII MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi tergolong cukup baik atau sedang. 3. Terdapat korelasi positif yang signifikan antara profesionalisme guru dalam bidang studi Fiqih dengan prestasi hasil belajar Fiqih siswa MTs Al-Jamii’ah Tegallega Cidolog Sukabumi. Profesionalisme guru

tersebutdapat mempengaruhi prestasi hasil belajar siswa 50%. Adapun 50% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain.

B. Saran Dalam penelitian pendidikan ini, penulis ingin memberikan beberapa saran kepada sekolah. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sekolah khususnya peningkatan dalam proses kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru dan siswa. Adapun saran yang diajukan penulis adalah sebagai berikut: 1. Meskipun dalam penelitian ini menunjukkan bahwa profesionalisme guru berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa dengan persentase yang cukup

69

70

baik, akan tetapi bukan berarti guru bidang studi maupun siswa merasa puas dengan situasi yang ada. Penulis mengharapkan, baik guru maupun murid lebih meningkatkan profesionalisme dan prestasi belajar yang ada. Sehingga hasil pembelajaran akan lebih maksimal. 2. Meskipun prestasi belajar siswa dapat dikualifikasikan cukup baik, akan tetapi siswa diharapkan lebih meningkatkan prestasi belajar baik secara konseptual maupun praktis. Karena khusus dalam bidang studi Fiqih, penguasaan siswa tidak hanya terbatas kepada penguasaan konsep, melainkan siswa harus mampu mempraktekkan dan menghayatinya. Dengan demikian, apabila hal tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, maka tujuan perestasi belajar akan lebih optimal. 3. Bagi kepela sekolah atau bidang kurikulum, setelah penelitian ini dilakukan, diharapkan pengawasan terhadap guru lebih ditingkatkan. Pembinaan terhadap siswa lebih dimaksimalkan. Karena, tanpa adanya pengawasan yang intens tidak menutup kemungkinan kinerja guru akan menurun. Khusus untuk tenaga pengajar, penulis berharap bisa lebih meningkatkan kualitasnya baik secara personal, profesional, maupun secara sosial. Dengan demikian diharapkan akan memberikan maupun non akademik. 4. Meskipun dalam penelitian yang dilakukan penulis tidak memberikan kesimpulan yang negatif, untuk peningkatan kualitas sekolah yang bersangkutan, penulis berpendapat perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor lain yang berpengaruh terhadap prestasi belajar. iklim pembelajaran yang harmonis dan berkualitas baik secara akademik

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, H.M, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta: Bumi Aksara, 1995, Cet. Ke-3. Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2002, Cet. Ke-12. Departemen Pendidikn dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002, Cet. Ke- 2. Dimyati, Abu Muhammad bin Khallad, Hadits Shahih Keutamaan Amal Shalih, Jakarta: Najla Press, 2003, Cet. Ke-1. Gani, Bustami, A, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1970, Cet. Ke-1. Hamalik, Oemar, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006, Cet, Ke-4. http://www.unissula.ac.id/v1/download/Peraturan/PP_19_2005_STANDAR_NAS _PENDDKN.PDF/2008/01/09/. http://www.setjen.depdiknas.go.id/prodhukum/dokumen/5212007134511Permen_ 162007.pdf/2008/01/09/. http://suciptoardi.wordpress.com/2007/12/29/profesionalisme-dunia-pendidikanoleh-winarno-surakhmad/2008/01/09/. ‘Isa, Kamal Muhammad, Manajemen Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Fikahati Anesta, 1994, Cet. Ke-1. Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Gur, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007, Cet. Ke-1. Mulyasa, E, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya: Bandung, 2008, Cet. Ke-3. Namsa, M. Yunus, Kiprah Baru Profesi Guru Indonsia Wawasan Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Pustaka Mapan, 2006, Cet. Ke-1. Purwanto, M. Ngalim, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001, Cet. Ke-10.

71

72

_________________, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2003, Cet. Ke-19. Sabri, Alisuf, Mimbar Agama dan Budaya, Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat IAIN, 1992, Cet. Ke-1. _________________, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996, Cet. Ke-2. Sholeh, Asrorun, Ni’am, Membangun Profesionalitas Guru Analisis Kronologis atas Lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen, Jakarta: eLSAS, 2006, Cet. Ke-1. Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, Cet. Ke-4. Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004, Cet. Ke-2. Sudijono, Anas, Statistik Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000, Cet. Ke-10. Sudjana, Nana, Dasar-dasar Pproses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Sinar Baru Algesindo, 1998, Cet. Ke-4. Sukardi, Dewa, Ketut, Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah, Surabaya: Usaha Nasional, 1983, Cet. Ke-1. Suryabrata, Sumardi, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindi Persada, 2002, Cet. Ke-2. Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999, Cet. Ke-2. Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dan Perspektif Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005, Cet. Ke-6. Tilaar, H.A.R, Membenahi Pendidikan Nasional, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002, Cet. Ke-1. Tim Penyusun Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kegeruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pedoman Skripsi 2007. Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005, Tentang Guru dan Dosen, Bandung: Citra Umbara, 2006, Cet. Ke-1.

73

Usman, M. Uzer, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2006, Cet. Ke-20. Winkel, W.S, Psikologi Pengajaran, Jakarta: Grasindo, 1996, Cet. Ke-4. Yamin, Martinis, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, Jakarta: Gaung Persada Press, 2007, Cet. Ke-2. Zurinal Z. Dan Wahdi Sayuti, Ilmu Pendidikan, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006, Cet. Ke-1.


								
To top