PROBLEMATIK DAN SOLUSI PENANGANAN KASUS PELANGGARAN HAM BERAT

Document Sample
PROBLEMATIK DAN SOLUSI PENANGANAN KASUS PELANGGARAN HAM BERAT Powered By Docstoc
					PROBLEMATIK DAN SOLUSI PENANGANAN KASUS PELANGGARAN HAM BERAT
  Binsar Gultom, SH, SE, MH    * 1. Temuan Komnas HAM Harus Dikembangkan Kejaksaan Agung Di  banyak Negara  termasuk di  Indonesia sering  terjadi kecenderungan  adanya   penolakan   untuk   menyelidiki   atau   mengadili   perkara­perkara   masa  lalu.   Di   berbagai   negara   tersebut   sikap   melindungi   secara   terang­terangan  dipertunjukkan   oleh   para   penguasa   yang   warga   negaranya   terlibat   dalam  kejahatan   terhadap   kemanusiaan   (crimes   against   humanity).   Perlindungan  seperti   itu   tercermin   dari   kesengajaan  rezim  yang   berkuasa   untuk   tidak  membuat ketentuan perundang­undangan yang berkaitan dengan  pelanggaran  HAM berat atau tidak menerapkan ketentuan perundang­undangan yang sudah  ada,  atau  memberikan  interpretasi  yang   berbeda  dengan   apa   yang   dimaksud  oleh   peraturan   perundang­undangan   mengenai   kejahatan   itu,   semata­mata  hanyalah untuk menciptakan impunity 1 bagi para pelaku kejahatan itu.  Contoh   kasus   kejahatan   pada   Perang   Dunia   ke   II:   Adolf   Hitler   dan  Mussolini selaku pihak yang bertanggung jawab dalam kejahatan perang waktu  itu telah mati   sebelum  diadili,  sementara  Kaisar  Hirohito –  dengan  berbagai  pertimbangan,   kasusnya   tidak   pernah   terungkap   dan   tidak   sempat   diadili  hingga yang   bersangkutan wafat. Sedangkan contoh kasus pelanggaran HAM  berat   di   Indonesia   yang   terkesan   ditutup­tutupi   adalah:   kasus   dugaan  pelanggaran  HAM   berat  Trisakti   Semanggi   I,   II,     Penculikan     Paksa  Aktivis  Tahun 1997/1998, kasus Talangsari (di Lampung), kasus Waisor, Wamena (di  Papua)   yang   telah   selesai   diselidiki   oleh   Komnas   HAM   selalu   terganjal   oleh  berbagai kepentingan politis tertentu. Konsekuensi   Pemerintah   RI   dan   DPR   –   RI   mengeluarkan   UU   No.   26  Tahun   2000   tentang   Pengadilan   HAM,   mestinya   dapat   mempermudah   dan  menuntaskan   proses   penyelidikan,   penyidikan   dan   penuntutan   terhadap  dugaan   pelanggaran   HAM   berat   yang   terjadi   sebelum   dan   sesudah  dikeluarkannya   UU   Pengadilan   HAM   tersebut.   Namun   dalam   praktiknya, 
Impunity (Impunitas) adalah suatu keadaan dimana pelaku dalam kejahatan tidak diadili baik karena “ketiadaan hukum”, “sistim hukum yang tidak memungkinkan” (misalnya karena pengadilan yang belum dibentuk atau tenaga/ahli atau hukum yang tidak tersedia) maupun karena “kesengajaan” dari rezim yang berkuasa untuk menutup-nutupi kejahatan itu.
1

1

berbagai   kasus   pelanggaran   HAM   berat  tersebut   diatas  justru   menjadi  permainan “bola panas” antara Kejaksaan Agung dengan Komnas HAM setelah  Jaksa Agung mengembalikan semua berkas pelanggaran HAM berat tersebut  kepada Komnas HAM tertanggal 1 April 2008.   Dikembalikannya  semua berkas tersebut, menurut  Jaksa Agung selaku  penyidik dan penuntut, karena berkas tersebut ‘masih kurang lengkap’, artinya  belum   memenuhi   syarat   formal   dan   materiil   yang   ditentukan.  Namun  sayangnya   Jaksa   Agung   tanpa   memberi   petunjuk   yang   jelas   di   mana  kekurangan hasil penyelidikan Komnas HAM tersebut.   Padahal menurut ketentuan   Pasal 20 ayat (3) UU No. 26 Tahun 2000  tentang Pengadilan HAM, dalam hal ketidak­lengkapan tersebut, Jaksa Agung  wajib memberi petunjuk, perihal kekurangan hasil penyelidikan Komnas HAM.  Bahkan sesuai Pasal 19 ayat (1) huruf (g) UU No. 26 Tahun 2000 penyidik Jaksa  Agung   dapat   “mengembangkan”   kasus   tersebut   dengan   memerintahkan  penyelidik   Komnas   HAM   melakukan   tindakan   berupa:   pemeriksaan   surat,  penggeledahan dan penyitaan, pemeriksaan setempat dan mendatangkan ahli  dalam   hubungannya   dengan   penyelidikan.   Bila   perlu   Jaksa   Agung   sesuai  wewenangnya dalam Pasal 11 ayat (1) dan Pasal 12 ayat (1) UU No. 26 Tahun  2000,   “dapat   melakukan   penangkapan   dan   penahanan   untuk   kepentingan  penyidikan   terhadap   seseorang   yang   diduga   keras   melakukan   pelanggaran  HAM berat berdasarkan bukti permulaan yang cukup”.  Mengenai  pemanggilan   paksa   (subpoena)   seorang   saksi   karena   tidak  bersedia dipanggil oleh Komnas HAM, hal ini sudah jelas diatur oleh Pasal 95  UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM), yang mengatakan:  “Apabila   seseorang   yang   dipanggil   tidak   datang   menghadap   atau   menolak  memberikan keterangannya, Komnas HAM dapat meminta bantuan Pengadilan  untuk pemenuhan panggilan secara paksa sesuai dengan ketentuan peraturan  perundang­undangan”. Argumentasi Jaksa Agung dan TNI yang meminta agar terlebih dahulu  DPR menerbitkan rekomendasi pembentukan Pengadilan HAM  Adhoc  kepada  Presiden perihal pemanggilan paksa seorang saksi  dalam perkara pelanggaran  HAM   berat,   menurut   penulis   adalah   tergantung   dari   pada  locus  dan  tempus  delicti  (tempat dan waktu peristiwa) apakah terjadi  ‘sebelum’  atau ‘sesudah’  berlakunya Undang­Undang Pengadilan HAM.  2

Sebelum  berlakunya UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM,  DPR  tak   mungkin  menerbitkan   rekomendasi   politik   terlebih   dahulu   kepada  TNI/Polri   tanpa   terlebih   dahulu   Komnas   HAM   melakukan   pemanggilan  terhadap   saksi­saksi   terkait   untuk   mencari   fakta­fakta  berupa   bukti  ada  tidaknya   dugaan   terjadinya   pelanggaran   HAM   berat.   Berdasarkan   hasil  investigasi/penyelidikan   Komnas   HAM   inilah   akan  ditindak­lanjuti  oleh  penyidik   Jaksa   Agung  apakah   telah   terdapat   bukti   permulaan   yang   cukup  untuk selanjutnya dikembangkan oleh Jaksa Agung.  Jika   pelanggaran   HAM   berat   terjadi  ‘sebelum’  berlakunya   Undang­ Undang Pengadilan HAM, maka pemanggilan paksa seorang saksi belum bisa  dilaksanakan oleh Pengadilan HAM, sebab Pengadilan HAM Adhoc­nya harus  terlebih   dahulu   dibentuk   atas   usul   DPR   sesuai   Pasal   43   ayat   (2)   Undang­ Undang Pengadilan HAM. Jika tetap dipaksakan pemanggilan saksi tersebut,  akibat hukumnya pemanggilan itu tidak sah menurut hukum, alias “batal demi  hukum”. Yang bisa dilakukan Komnas HAM terhadap saksi yang tidak bersedia  hadir   terhadap   kasus   yang   terjadi  ‘sebelum’  berlakunya   Undang­Undang  Pengadilan   HAM  Adhoc  adalah,  pertama:   bersabar   menunggu  terbentuknya  pengadilan   HAM  Adhoc­nya   berdasarkan   Keputusan   Presiden.  Kedua:   demi  penegakan   hukum   di   bidang   HAM,   selaku   warga   negara   yang   baik  dan   taat  hukum  seharusnya   saksi   dimaksud   secara   ‘legowo’   menghadiri   panggilan  Komnas   HAM   tersebut.  Ke   :   jika   saksi   tidak   memenuhi   pemanggilan     tiga dimaksud,   maka   ketika   sidangnya   digelar,   Majelis   Hakim   HAM   dapat  memanggil dia sebagai saksi dipersidangan, sekalipun dia tidak masuk dalam  daftar Berita Acara Pemeriksaan (BAP) 2.  Contoh kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi ‘sebelum’ berlakunya  Undang­Undang Pengadilan HAM yang diperiksa dan diputus oleh Pengadilan  HAM Adhoc Jakarta adalah: pelanggaran HAM berat Timor Timur tahun 1999  dan pelanggaran HAM berat Tanjung Priok Tahun 1984.
Dalam praktik persidangan Pengadilan HAM Adhoc Jakarta, pemanggilan saksi mantan  Presiden   BJ.   Habibie  dalam   kasus   pelanggaran   HAM   Berat   Timor   Timur  telah  memberikan  kesaksiannya, sekalipun BJ. Habibie tidak termasuk dalam berkas Berita Acara Pemeriksaan  Perkara (BAP).
2

3

Sedangkan jika pelanggaran HAM berat itu terjadi ‘sesudah’ berlakunya  Undang­Undang  Pengadilan HAM,  pemanggilan    paksa seorang saksi  “dapat  dilakukan”  oleh   Pengadilan  HAM  yang   tidak   bersedia   hadir   sesuai  permohonan   Komnas   HAM  (Vide  Pasal   95   UU   HAM).  Disini  tidak   perlu  mendapat   rekomendasi   pembentukan   Pengadilan   HAM   oleh   DPR   kepada  Presiden,   karena   dengan   sendirinya   Pengadilan   HAM  sudah  ada   seperti   di  Jakarta,   Medan,   Surabaya  dan  Makasar   sebagaimana   diatur   dalam   Pasal   45  Undang­Undang   No.   26   Tahun   2000   tentang   Pengadilan   HAM.  Dan   nama  pengadilannya di sini bukan Pengadilan HAM  Adhoc, tetapi Pengadilan HAM  saja (tanpa adhoc­nya).  Contoh  kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi  ‘sesudah’  terbentuk  Undang­Undang   Pengadilan   HAM   adalah:   pelanggaran   HAM   berat   Abepura  tahun 2000 yang pernah ditangani oleh Pengadilan HAM Makasar. Adalah   keliru   besar,   apabila   ada   yang   berpendapat     menurut   Pasal   4  Undang­Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) yang  mengatakan hak setiap orang untuk tidak dituntut berdasarkan hukum yang  berlaku   surut.   Menurut   saya,   karena   di   atas   Undang­Undang   Hak   Asasi  Manusia tersebut masih ada undang­undang yang lebih tinggi kedudukannya,  yaitu UUD 1945 dalam Pasal 28 ayat (1) dan (2) huruf (j) mengatakan: “bahwa  setiap   orang   wajib   menghormati   HAM   orang   lain   dalam   tertib   kehidupan  bermasyarakat, berbangsa  dan bernegara.  Bahkan setiap  orang wajib  tunduk  pada   undang­undang   dengan   maksud   untuk   menjamin   pengakuan   serta  penghormatan   atas   hak   dan   kebebasan   orang   lain   dan   untuk   memenuhi  tuntutan yang adil. Maka dalam rangka proses investigasi dugaan pelanggaran  HAM, jika dalam hal Komnas HAM memanggil seseorang yang menolak untuk  datang   menghadap   memberikan   keterangannya,   Komnas   HAM   sesuai  kewenangannya  dalam Pasal 95 Undang­Undang No. 39 Tahun 1999 tentang  HAM dapat memanggilnya secara paksa lewat bantuan Ketua Pengadilan HAM. Aneh  :  Jaksa   Agung   justru   meminta   agar   terlebih   dahulu   DPR  menerbitkan   rekomendasi   pembentukan   Pengadilan   HAM  Adhoc  kepada  Presiden.   Dan   menurut     Ketua   Komisi   III   DPR:   Trimedya   Panjaitan  mengatakan:   “secara   prosedural   kejaksaan   baru   bisa   melakukan   penyidikan  setelah mendapat rekomendasi dari DPR”.3 Pendapat ini menurut penulis telah 
3

 Media Indonesia, Komisi III DPR Pesimistis, Tuntaskan Semanggi I, 13 Nopember 2007.

4

“mengaburkan” makna dan penjelasan Pasal 43 ayat (2) UU No. 26 Tahun 2000  tentang Pengadilan HAM.  Menurut   penulis,   mana   mungkin   DPR   mengeluarkan   rekomendasi  kepada   Presiden   tanpa   terlebih   dahulu   Jaksa   Agung   menindak­lanjuti   hasil  temuan  kesimpulan   penyelidikan   Komnas   HAM?   Sebab  menurut  penjelasan  Pasal 43 ayat (2) UU tersebut secara eksplisit mengatakan, bahwa “dalam hal  DPR­RI mengusulkan dibentuknya Pengadilan HAM Adhoc, DPR mendasarkan  pada dugaan telah terjadinya pelanggaran HAM yang berat yang dibatasi pada  locus  dan  tempus   delicti  tertentu   yang   terjadi  sebelum  diundangkannya   UU  ini”. Artinya, bahwa  dasar DPR  menyatakan adanya  dugaan telah terjadinya  pelanggaran   HAM   berat   adalah   didasarkan   pada   hasil   penyelidikan   Komnas  HAM dan hasil penyidikan dari Jaksa Agung. Terhadap   kasus   yang   terjadi  ‘sebelum’  berlakunya   Undang­Undang  Pengadilan   HAM,   DPR   di   sini   tak   boleh   menolak  atau   memberi   pendapat,  bahwa temuan Komnas HAM dan Jaksa Agung bukan merupakan pelanggaran  HAM   berat,   seperti   yang   pernah   terjadi   pada   periode  DPR   tahun   1999­2004.  Sebab   kewenangan   DPR   di   sini   hanyalah   memberi   rekomendasi   atau  mengusulkan kepada Presiden agar diterbitkan Keputusan Presiden (Keppres)  atas dugaan peristiwa pelanggaran HAM yang berat.  Berdasarkan  ketentuan  tersebut, jelaslah bahwa  DPR  tidak berwenang  menetapkan   ada   tidaknya   pelanggaran   HAM   Berat,   namun   yang   berwenang  menetapkan   ada­tidaknya   pelanggaran   HAM   berat   adalah   Pengadilan   HAM  Adhoc  melalui proses pemeriksaan pokok perkara di persidangan. Soal apakah  nantinya para pelaku dugaan pelanggaran HAM berat terbukti bersalah atau  tidak adalah menjadi kewenangan Pengadilan HAM Adhoc.  Dalam praktik, rekomendasi/usul DPR tentang Pembentukan Pengadilan  HAM  Adhoc  pelanggaran HAM berat Timor Timur dan Tanjung Priok  dengan  Kepres No. 53 yang di perbaharui No. 96 tahun 2001 dikeluarkan oleh DPR dan  Presiden  saat   itu   setelah   hasil   penyelidikan   Komnas   HAM   dan   penyidikan  Jaksa Agung berdasarkan peristiwa tertentu di Timor Timur dan Tanjung Priok  ‘diduga’ telah terjadi pelanggaran HAM yang berat. 

5

Jika masih tetap terjadi silang pendapat antara DPR dan Jaksa Agung  perihal   pembentukan   Pengadilan   HAM  Adhoc,   penulis   berharap   sebaiknya  Pasal   43   ayat   (2)   tersebut   di  “hapus”  saja.   Dengan   ketentuan   bahwa   hasil  penyelidikan   Komnas   HAM   harus   ditindak   lanjuti   oleh   Jaksa   Agung   dengan  batas waktu yang telah ditentukan oleh UU, untuk selanjutnya Jaksa Agung  dapat secara langsung melimpahkan berkas tersebut ke Pengadilan HAM tanpa  harus   lewat   rekomendasi   DPR,   atau   perlu   diberikan   kewenangan  yang   lebih  luas kepada  Komnas HAM, yaitu dapat secara langsung melimpahkan berkas  pelanggaran HAM berat ke Pengadilan HAM tanpa harus melalui Jaksa Agung  dan   tanpa   rekomendasi   DPR,   sebagaimana   layaknya   Komisi   Pemberantasan  Korupsi selaku penyidik dapat secara langsung melimpahkan berkas korupsi ke  Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). 2. Pertanggungjawaban Komandan/Atasan Negara   tidak   dapat   menjalankan   hak   dan   kewajibannya   sendiri   tanpa  dilakukan oleh segenap instrumen (organnya) yang terdiri dari: para individu  melalui   institusi   hukum   atau   institusi   negara.   Mereka   yang   menjalankan  kewenangan   negara   dikenal   sebagai   aparatur   negara   dan   aparatur   penegak  hukum. Berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh negara kepada aparatur  negara atau aparatur penegak hukum yang didalamnya terdiri dari individu   inilah   yang   bertindak   mewakili   untuk   dan   atas   nama   negara.   Mereka   yang  kemudian   melakukan   tindakan   salah   dan   menimbulkan   kerugian,   akibatnya  harus dipertanggungjawabkan kepada negara dan hukum. Sejumlah kasus yang membuktikan adanya peran institusi negara yang  diwujudkan dalam suatu kebijakan (policy) yang “salah”, misalnya terlihat pada  kasus  apartheid  mantan   Presiden   Afrika   Selatan   PW.   Botha,   dan  disappearances  mantan   orang   kuat   Chile,   Jenderal   Augusto   Pinochet   serta  pemberian  Opsi  4  merdeka   atau   integrasi   kepada   Negara   Kesatuan   Republik 
   Suatu Kebijakan dan Keputusan yang berani dan mengejutkan yang dikeluarkan oleh mantan Presiden BJ.  Habibie, karena Opsi I yang dikeluarkan tanggal 9 Juni 1998 mengenai tawaan otonomi luas kepada masyarakat Timor  Timur, satu bulan setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden (21 Mei 1998). Belum final sosialisasi  Opsi   I,   enam   bulan   kemudian   yaitu   tanggal   27   Januari   1999   BJ.   Habibie   kembali   mengejutkan   mengumumkan  pemberian Opsi ke­II kepada masyarakat Timor Timur. Dalam Opsi ke­II ini jika mayoritas masyarakat Timor Timur  menolak tawaran otonomi luas, maka Pemerintah Indonesia akan mengusulkan kepada Sidang Umum MPR yang baru  terpilih   tahun 1999 agar Timor Timur dapat “berpisah” dari pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)  secara baik, terhormat, tertib dan Konstitusional. Menurut mantan Duta Besar RI untuk PBB: Nugroho Wisnumurti  menggambarkan penawaran Opsi ke­II ini bagaikan halilintar  di siang­bolong. Termasuk mantan Menlu RI Ali Alatas  dalam   Sidang   Kabinet   hari   itu   tanggal   27   Januari   1999   sempat   mempersoalkan   gagasan   Opsi   ke­II   karena   belum  sempat   memberikan   masukan   kepada   Presiden   BJ.   Habibie,   dengan   kata   lain   pemberian   Opsi   ke­II   ini   masih 
4

6

Indonesia (NKRI) oleh mantan Presiden Republik Indonesia BJ. Habibie kepada  masyarakat   Timor   Timur,   melalui   “jajak   pendapat”   (referendum)   tanggal   30  Agustus 1999. Dalam   kasus­kasus   pelanggaran   HAM   berat,   terdapat   kecenderungan  untuk   menerapkan   prinsip   tanggung   jawab   pidana   yang   bersifat   individual  terhadap   para   pelaku.  Sebab   yang   melaksanakan   tugas   kewenangan   negara  adalah para individu atas nama institusi negara.  Berbeda   dengan   perkara   pidana   (biasa)   pembunuhan   terhadap   aktivis  MUNIR yang membebaskan terdakwa H. Muchdi Purwopranjono dari semua  dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sebab proses persidangannya  bukan di Pengadilan HAM. Jika kasus   pembunuhan MUNIR ini diselesaikan  melalui mekanisme Peradilan HAM pasti lebih mudah mencari siapa yang lebih  bertanggung   jawab   atas   pembunuhan   tersebut.   Sebab   pertanggungjawaban  pidana tidak hanya ditujukan kepada komandan militer, tetapi juga terhadap  atasan/Sipil. Untuk kasus pembunuhan  (pidana biasa) dan penyertaan dalam  tindak pidana telah diatur secara jelas didalam Kitab Undang­Undang Hukum  Pidana (KUHP), yaitu pasal 340 jo 338 jo 55 KUHP (yang melakukan, menyuruh  melakukan, turut serta melakukan, yang memberi/menjanjikan sesuatu dengan  menyalah­gunakan   kekuasaan   atau   martabat.   Unsur­unsur   pidana   pada  ketentuan tersebut harus terbukti. Mengenai   pertanggungjawaban   komandan/atasan   ini   diatur   secara  spesifik   dalam   Statuta   Roma   yaitu  dalam   Pasal   285  yang   kemudian  diadopsi 
“premature”  sebagaimana dilansir dalam  The Jakarta Post, 2 Nopember 1999 dan buku Penyelesaian  Masalah Timor   Timur dalam Lintas Sejarah, suntingan Dino Patti Djalal. Juga penjelasan ini diterangkan Ali Alatas sebagai saksi pada  persidangan Pengadilan HAM  adhoc  Jakarta pada kasus pelanggaran HAM berat Timor Timur atas nama Terdakwa  Brigjen Tono Suratman (mantan Danrem Wiradharma Timor Timur). 5  Adapun bunyi lengkap dari Pasal 28 Statuta Roma ini adalah sebagai berikut: Responsibility of commanders and other superiors. In addition to other grounds of criminal responsibility under this Statute for crimes within the jurisdiction of the   Court: A military commader or person effectively acting as a military commander shall be criminally resposible for crimes   within  the  jurisdiction  of   the   Court committed  by  forces  under  his  or  her  effective  command  and  control, or  effective   authority and control as the case may be, as a result of this or her failure to exercise control properly over such forces,   where: That military commander or person either knew or, owing to the circumstances at the time, should have known   that the forces were committinfg or about to commit such crimes; and that military commander or person failed to take all  necessary and reasonable measures within his or her power to preven or repress their commission or to submit the matter   to the competent authorities for investigation and prosecution. With   respect   to   superior   and   subordinate   relationship   not   described   in   paragraph   (a),   a   superior   shall   be   criminally responsible for crimes within the jurisdiction of the Court committed by subordinates under his or her effective 

7

oleh   Undang­Undang   Nomor   26   Tahun   2000   tentang   Pengadilan   HAM   yang  terdapat dalam Pasal 42.  Menurut   praktik   Peradilan   Internasional,   dalam   kasus  pertanggung  jawaban  (commander’s   responsibility),     maka   pihak   yang   bertanggungjawab  secara   hukum   untuk   “militer”   adalah   “komandan”   (commander’s),   sedangkan  “atasan   lainnya   adalah:   untuk   “polisi”   dan   “sipil”   (responsibility   of   other   superiors).   Bagi   Negara   Indonesia,   maka   yang   dimaksud   dengan   Komandan  “militer”   adalah   Tentara   Nasional   Indonesia   (TNI)   di   lingkungan   Angkatan  Darat,   Angkatan   Laut   dan   Angkatan   Udara,6  sedangkan   istilah   “atasan  lainnya:” adalah untuk kepolisian dan sipil dan disingkat dengan “atasan” saja.   Ketika digelar persidangan kasus pelanggaran HAM berat Timor Timur  di   Pengadilan   HAM  Adhoc  Jakarta   pada   tahun   2002   –   2004,   ternyata  pertanggungjawaban   komandan/atasan   tersebut  diatas   telah   menimbulkan multi­tafsir yang berbeda antara hakim, jaksa penuntut umum, pembela, saksi  ahli   dan   terdakwa.   Hal   itu   terjadi   karena   menurut   Pasal   9   Undang­Undang  Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM menyebutkan kata “ditujukan  secara langsung” (directed).  Hal ini dapat diinterpretasikan “hanya bagi para pelaku yang melakukan  perbuatan   secara   langsung   yang   dapat   dimintai   pertanggungjawaban   secara  pidana”,   sedangkan   yang   “tidak   melakukan   perbuatan   secara  langsung”   (indirected)   tidak   dapat   dimintai   pertanggungjawaban   pidana.  Sementara menurut Pasal 42 Undang­Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang  Pengadilan   HAM   tersebut,  secara   khusus   mengatur   pertanggungjawaban  komandan/   atasan   terhadap   perbuatan   pasukan/bawahan   yang   dilakukan  secara   tidak   langsung   (indirected)   atau  delict   by   omission,  dapat   dimintakan  pertanggungjawaban   pidana   adalah  menjadi   kontroversial   dengan   Pasal   9  tersebut. 

authority and control, as a result of his or the failure to exercise control properly over such subordinates, where: The superior either knew, or consciously disregarded information which clearly indicated, that the subordinates   were committing or about to commit such crimes: The crimes concerned activities that were within the effective responsibility and control of the superior; and the superior   failed to take all necessary and reasonable measures within his or her power to prevent or repress their commission or to   submit the matter to the competent authorities for investigation and prosecution. 6  POLRI (Kepolisian Republik Indonesia) tidak masuk lagi dalam lingkungan TNI berdasarkan Ketetapan MPR­ RI Nomor VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

8

Dalam kasus pertanggungjawaban komandan/atasan sebagaimana diatur  dalam Pasal 42 UU Pengadilan HAM, dikaitkan dengan fakta yang terungkap  dalam   kasus   para   terdakwa   pelanggaran   HAM   berat   Timor   Timur   pada  persidangan di Pengadilan HAM Adhoc Jakarta, ternyata perbuatan komandan/ atasan   tidak   dilakukan   secara   langsung/aktif,   melainkan   karena   “tidak  dilakukan   pengendalian   pasukan/bawahan   secara   patut”,   artinya  komandan/atasan itu mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa pasukan/ bawahan   sedang   melakukan   pelanggaran   HAM   berat,   tetapi   dia   tidak  mencegahnya secara patut dan layak. Mestinya   menurut   ketentuan   Pasal   42   tersebut   perbuatan   komandan/  atasan   yang   dilakukan   secara   tidak   langsungpun   tetap   dapat   dimintakan  pertanggung  jawaban   pidana.  Karena  menurut   doktrin   Pertanggung  jawaban  Komandan/atasan secara internasional, perbuatan tidak langsungpun (indirect)  atau yang disebut perbuatan pasif (delict by omission) tetap dapat dimintakan  pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku pelanggaran HAM berat, artinya  pasukan tersebut tidak melakukan pencegahan atau gagal untuk menghentikan  terjadinya pelanggaran HAM berat,   pasukan tersebut sudah termasuk sedang  melakukan atau baru saja melakukan pelanggaran HAM berat.7  Mengenai   pertanggungjawaban   pidana   dari   komandan/   atasan   yang  menyimpang   dari   pertanggungjawaban   pidana   harus   diketahui   hubungan  antara   “posisi”   komandan/atasan   dengan   “perbuatan”   yang   didakwakan  kepadanya.   Artinya   makna   tanggungjawab   komandan/atasan   tidak   hanya  bertanggung   jawab   kepada   bawahan   saja,   tetapi   bertanggung   jawab   kepada  sikap komandan yang “membiarkan” (crimes by omission) perbuatan melawan  hukum dari pasukan/bawahannya atau tidak melakuan upaya yang diperlukan  dalam rangka penyelidikan, penyidikan dan penuntutan atas perbuatan itu. Rumusan   pertanggungjawaban   komandan   berdasarkan   Hukum   Pidana  Indonesia   dan   Hukum   Internasional   adalah:   Jika   komandan/atasan  memberikan perintah yang langsung ditujukan kepada pasukan/bawahan dan 
7     Lihat   Putusan   Pengadilan   HAM  Adhoc  Jakarta   atas   nama   Terdakwa   Letkol.   Inf.   Soedjarwo   No.   08/Pid.  HAM/Ad.Hoc/2002/PN. JKT.PST, hlm. 53. Bandingkan  dengan Prinsip hukum yang dianut dalam praktik penerapan  tanggung jawab komando pada peradilan Nuremberg (The Nuremberg Tribunal), menyatakan: Seorang komandan yang  bertanggung jawab secara efektif terhadap pasukannya atau bawahannya yang efektif, dapat diadili sekalipun ia tidak  memerintahkan   kejahatan   tersebut,   tetapi   mengetahui   atau   mesti   harus   mengetahui   tindakan   kejahatan   yang  dilakukan   oleh   anak   buahnya   yang   efektif   tersebut,   namun   gagal   untuk   mengambil   tindakan   yang   semestinya  (reasonable action) untuk mencegah menindak dan menghukumnya.

9

ternyata   perintah   itu   merupakan   perintah   yang   bersifat   melawan   hukum,8  maka tanggungjawab pidana dari komandan/atasan itu adalah tanggungjawab  langsung   (direct   responsibility).  Sebaliknya   jika   yang   melakukan   perbuatan  melawan   hukum   adalah   pasukan/bawahan   dari   komandan/atasan   tersebut  (tanpa adanya perintah untuk melakukan perbuatan itu dari komandan/atasan),  maka   tanggungjawab   komandan/atasan   adalah   atas   dasar  “delict   by   omission” (culpable omissions), artinya kejahatan yang dilakukan oleh pasukan/ bawahannya,   tetap   dapat   dimintakan   pertanggungjawaban   komandan/atasan,  karena   ia   harus   dianggap   sepatutnya   mengetahui   perbuatan   pasukan/  bawahannya   telah   “membiarkan”   terjadinya   pelanggaran   HAM   berat   yang  dilakukan oleh pasukan/bawahannya (indirect command responsibility).  Di   sini   harus   dibedakan   pula   mengenai   pertanggungjawaban  komandan/atasan   yaitu   “perbuatan   yang   didasarkan   pada   perintah  komandan/atasan   yang   melawan   hukum”   dan   “perbuatan   pasukan/bawahan  yang   melawan   hukum,   tetapi   tidak   berdasarkan   perintah   komandan/atasan”.  Jika perbuatan melawan hukum yang terjadi itu adalah karena adanya perintah  komandan/atasan, maka yang harus dibuktikan terlebih dahulu adalah “adanya  perintah   komandan/atasan   yang   melawan   hukum   itu”.   Sementara   jika  perbuatan itu tanpa adanya perintah komandan, maka yang harus dibuktikan  terlebih   dahulu   adalah   adanya   perbuatan   melawan   hukum   dari  pasukan/bawahan   itu   sendiri,   baru   kemudian   membuktikan   sejauh  mana  komandan/atasan melakukan “pembiaran” terhadap perbuatan itu. Dengan melihat pada unsur­unsur yang harus dibuktikan dalam kasus  pertanggungjawaban   komandan/atasan   itu,   maka   unsur­unsur  “perbuatan” (unsur material, actus reus) dan unsur­unsur “tidak berbuat secara  langsung”   (by   omission)   harus   dibuktikan   secara   berurutan   (chronologically),  yaitu   mulai   dari   komandan/atasan   hingga   bawahan/pasukan.   Jika   hal   itu  terbukti,   atas   dasar   itulah   baru   dikatakan   adanya   kasus   pelanggaran   HAM  berat yang berhubungan dengan tanggung jawab komandan/atasan. Dalam pertanggungjawaban komandan, garis komando bisa ditarik garis  ke  atas dengan syarat harus memenuhi elemen/unsur­unsur sebagai berikut:9

  Pengertian   perbuatan   melawan   hukum   disini   adalah   dalam   arti   formil,   yaitu   suatu   perbuatan   yang  bertentangan dengan ketentuan­ketentuan yang diatur secara tertulis. 9  Penjelasan PLT. Sihombing, Op.cit, hlm. 90.
8

10

1.

2.

3.

Harus   terlebih   dahulu   terbukti   anggotanya   melakukan  pelanggaran HAM berat.  Jika tidak terbukti, maka tidak akan  ada pertanggungjawaban komando. Harus   ada   hubungan   sub   ordinasi   antara   komandan   dengan  pelaku   dan   hubungan   sub   ordinasi   ini   tidak   hanya   komandan  langsung, tetapi dapat juga komandan tidak langsung. Dari sini  dapat   diketahui   dasar   penentuan,   sampai   sejauhmana   yang  harus   dapat   dipertanggungjawabkan   itu   adalah   setiap   komandan   yang   ada  pada   rantai   komando,   mulai   dari   yang   terendah   sampai   yang  tertinggi. Komandan   tidak   melaksanakan   atau   gagal   melaksanakan  kekuasaan   yang   ada   padanya   untuk   menghentikan   atau  menyerahkan   kepada   yang   berwajib.   Contoh,   jika   Komandan  Kodimnya  tidak  berbuat  sesuatu, maka dia  harus  bertanggung  jawab akan hal itu, kemudian diusut ke atas. Kalau Danremnya  juga tidak berbuat sesuatu, maka dia harus bertanggung jawab  begitu berturut­turut sampai ke Pangdam, ke atas.

Mengacu   kepada   doktrin   pertanggungjawaban   komandan/   atasan  langsung maupun tidak langsung, komandan yang melakukan pembiaran atau  gagal   bertindak   atas   kejahatan   yang   terjadi   di   dalam   pengendaliannya   yang  efektif   tetap   dapat   dimintakan   pertanggungjawaban   secara   pidana.10  Hal   ini  karena   ada   4   (empat)   elemen/unsur   utama   pertanggungjawaban   komando,  antara lain:11 1. Adanya hubungan langsung antara bawahan dengan atasan baik secara  de   jure maupun de facto. 2. Atasan mengetahui  atau beralasan untuk mengetahui  bahwa  telah terjadi  atau sedang dilakukan tindak pidana. 3. Atasan   memiliki   kewenangan   atau   kekuasaan   untuk   mencegah   dan  menahan terjadinya tindak pidana. 4. Atasan gagal mengambil langkah­langkah yang diperlukan guna mencegah  atau menghentikan tindak pidana.
  Lihat Pasal   28  Statuta Roma 1988 yang diadopsi oleh Pemerintah Indonesia kedalam Pasal  42 UU No. 26  Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. 11  Lihat Putusan Pengadilan HAM Adhoc Jakarta Pusat atas nama Terdakwa Letkol Inf. Soedjarwo, Op.cit, hlm.  42 – 43.
10

11

Khusus   elemen   “mengetahui”   (had   knowledge)   di   sini,   Prof.   Bantekas  merinci tanggung jawab komandan itu menjadi 3 hal, antara lain:12 1. Apabila   Komandan   telah   mengetahui   (had   knowledge)   bahwa   kejahatan  telah   atau   akan   dilakukan   dan   tidak   mencegah   atau   menghukum  pelakunya.   Di   sini   terdapat   elemen  “actual   knowledge”  (betul­betul  mengetahui).  2. Apabila seorang Komandan seharusnya mengetahui. Di sini terdapat elemen  “dianggap mengetahui” (presumtion of knowledge).  3. Seorang   Komandan   seharusnya   sudah   menjadikan   tugasnya   untuk  mengetahui apa yang sedang dilakukan pasukannya atau orang lain yang  berada dalam pengendaliannya. Di sini terdapat “alasan untuk mengetahui”  yang disebut the reason to know element of knowledge. Dalam   kasus   pertanggungjawaban   komandan/atasan,   maka   standar  “mengetahui”   dari   seorang   komandan/atasan   –   terhadap   pelanggaran   HAM  berat   yang   dilakukan   oleh   pasukan/bawahannya   –   merupakan   pertimbangan  penting untuk menentukan sejauh mana tanggung jawab komandan/atasan itu.  Sebab   semakin   tinggi   pangkat   komandan/atasan   tersebut   semakin   tinggi  persyaratan   untuk   “mengetahui”   suatu   keadaan.   Terminologi   “mengetahui”  dalam kasus­kasus pertanggungjawaban komandan/atasan mengenal beberapa  tingkatan,   di   mana   tingkatan   paling   rendah   adalah  “actual   knowledge” (mengetahui secara pasti), sampai pada tingkatan yang lebih tinggi  seperti “had reason to know” (memiliki alasan untuk mengetahui) atau “should   have known” (seharusnya mengetahui).  Menurut  Brigjen PLT. Sihombing,13  selaku saksi ahli pada persidangan  Pengadilan HAM  Adhoc  Jakarta atas nama terdakwa Mayjen Adam R. Damiri  mengatakan, bahwa untuk “elemen pengetahuan komandan” telah terjadi atau  sedang   terjadi   pelanggaran   HAM   berat,   tidak   mesti   komandan   itu  mengetahuinya   berdasarkan   laporan   resmi   dari   bawahan,   tetapi   misalnya  pemberitaan   di   media   massa   baik   cetak   atau   elektronika   yang   menyatakan  telah  terjadi  pelanggaran   HAM,  maka   hal   itu  sudah  dapat   dijadikan  sebagai  bukti sudah terjadi pelanggaran HAM berat.

12 13

 Eddy Djunaedi, Perkembangan Doktrin Command Responsibility, Jakarta: LPP­HAN, 2003, hlm. 5.  Lihat putusan Pengadilan HAM Adhoc Jakarta No. 09/PID.HAM/AD.HOC/ 2002.PN. JKT.PST, hlm. 92.

12

Ilias   Bantekas14  menganalisis   situasi­situasi   dalam   hal   mana  komandan/atasan   bertanggung   jawab   terhadap   tindakan­tindakan  pasukan/bawahannya, yaitu:  “International  humanitarian   law  recognizes  two  distinct  duties   that  are   incumbent   on  superiors:   the   duties   to  prevent   and   punish  the   crimes   of   one’s subordinates” (Hukum kemanusiaan internasional mengakui adanya  kewajiban   yang   muncul   berupa   pertanggungjawaban   komandan/atasan  yaitu   kewajiban   untuk   mencegah   dan   menghukum   kejahatan   yang  dilakukan oleh anak buah/bawahannya).  Bantekas15 juga menambahkan: “………….military and civilian superiors   are criminally liable for the crimes of their subordinates where they have either   failed to prevent their occurrence, or punish them once they have taken place”.  (Komandan   militer   dan   atasan   sipil   secara   pidana   bertanggung   jawab   atas  kejahatan   anak   buahnya   ketika   anak   buah   tersebut   gagal   untuk   mencegah  tindakan   mereka   ataupun   menghukum   anak   buah   tersebut   ketika   suatau  kejahatan terjadi).  Dengan   demikian,   terdapat   dua   unsur   penting   dalam  pertanggungjawaban   komandan/atasan   ini   yaitu   “tugas   untuk   mencegah  perbuatan   itu”   dan   “untuk   menghukum   pasukan/   bawahan   yang  melakukannya”. Pandangan Banteks ini sejalan dengan apa yang diatur dalam Pasal 28  Statuta   Roma   1988   dan   Pasal   42   Undang­Undang   Nomor   26   Tahun   2000  tentang Pengadilan HAM mengenai tanggung jawab komandan/atasan. Menurut   penulis,   berdasarkan   doktrin   tersebut   ada   jaminan   dari  terdakwa   (selaku   komandan)   untuk   mencegah   atau   menghukum   setiap  penyalahgunaan   wewenang   yang   dilakukan   pasukan/anak   buah)   baik   secara  langsung maupun tidak langsung. Dan langkah pertama yang akan menentukan  apakah “pelaku langsung atau tidak langsung” dari kejahatan itu benar­benar  melakukan perbuatan penyalahgunaan wewenang kekuasaan (abuse of power)  atau   gagal   bertindak   dalam   pengendaliannya   yang   efektif,   terlebih   setelah  diterapkannya   keadaan   darurat   militer   dalam   wilayah   tertentu   sebagaimana 
  Ilias   Bantekas,  Principles   of   Direst   and   Superior   Responsibility   in   International   Humanitarian   Law,  Manchester University Press, Manchester, UK, 2002, hlm. 94. 15  Ibid.
14

13

dalam   dakwaan/tuntutan   Jaksa,   “harus   dapat   dibuktikan   dalam   proses  persidangan”. Dalam praktik persidangan kasus pelanggaran HAM berat Timor Timur  di   Pengadilan   HAM  Adhoc  Jakarta   tahun   2002­2004,   masalah  pertanggungjawaban   komandan/atasan   tersebut   pernah   menimbulkan   silang  pendapat antara hakim, jaksa penuntut umum, advokat, saksi dan terdakwa.  Hal  itu terjadi  karena  belum  ada  defenisi  dan penjelasan yang  pasti  tentang  pertanggungjawaban komandan/atasan di dalam Pasal 42 UU Pengadilan HAM.  Menurut penjelasan Pasal 42 UU Pengadilan HAM hanya menyatakan “Cukup  Jelas” terhadap ketentuan ini, sementara permasalahan hukum yang terdapat  dalam   ketentuan   itu  sangat   kompleks.   Akhirnya   penafsiran  hukum   terhadap  rumusan   pertanggung   jawaban   komandan/atasan   tersebut   sangat   tergantung  dari   pandangan   subyektif   Hakim   tingkat   pertama,   banding   dan   kasasi   di Mahkamah Agung yang satu sama lain putusannya saling kontradiktif .  Contoh   kasus   sebagai   sampel   dari   pihak   TNI   yang   dibebaskan   oleh  Mahkamah   Agung,   adalah   terdakwa   Letkol   Inf.   Soedjarwo   (mantan   Dandim  1627 Dili) Terdakwa Brigjen Mohammad Noer Muis (mantan Dandrem Timor  Timur)   dan   terdakwa   Mayjen   (TNI)   Adam   R.   Damiri   (mantan   Pangdam  Udayana)   dalam   kasus   Pelanggaran   HAM   berat   Timor   Timur   tentang  pertanggungjawaban komandan militer di Pengadilan HAM Adhoc Jakarta pada  tahun 2002 – 2004, masing­masing telah divonis bersalah 5 tahun.16  Penjara,  karena   terbukti  melakukan   Pelanggaran   HAM   berat   berupa:   “kejahatan  terhadap kemanusiaan pada tingkat pertama.  Kesalahan   Terdakwa   Soedjarwo     ketika   itu   secara   “tiba­tiba   menarik  pasukan”   dari   kediaman   Uskup   Belo  pada   tanggal   5   September  1999   sekitar  pukul 06.00 WIB yang sebelumnya telah dijaga ketat oleh petugas keamanan  dua peleton pasukan sebanyak 60 orang setelah pengumuman jajak pendapat  Timor Timur tanggal   4 September 1999. Alasan penarikan pasukan tersebut  menurut   Kapten   Hartono   (Pasi   Ops)   dan   Mayor   Salman   Manafe   (Kasdim)  selaku anak buah terdakwa Soedjarwo, karena  akan diadakan “missa  kudus”  pada pagi hari itu. Namun berselang  ±  2 jam pihak pro­integrasi (pihak yang  kalah dalam pengumuman jajak pendapat) langsung melakukan penyerangan 
16  Lihat Putusan Pengadilan HAM Adhoc Jakarta Pusat atas nama Terdakwa Letkol Inf. Soedjarwo No. Perkara:  08/PID.HAM/AD.HOC/2002/PN.JKT.PST,   atas   nama   Terdakwa   Mohammad   Noer   Muis   No.   Perkara:  12/PID.HAM/AD.HOC/2002/PN.   JKT.PST   dan   atas   nama   Terdakwa   Adam   R.   Damiri   No.   Perkara:  09/PID.HAM/AD.HOC/2002/PN. JKT. PST.

14

secara membabi buta di kediaman Uskup Belo yang menelan banyak korban.  Penarikan pasukan itu ternyata tidak dilaporkan Terdakwa Soedjarwo kepada  atasannya   atau   tanpa   sepengetahuan   terdakwa   Mohammad   Noer   Muis  (Dandrem Timor Timur) dan Terdakwa Adam R. Damiri (Pangdam Udayana IX)  selaku atasan Terdakwa Soedjarwo.17 Majelis Hakim tingkat pertama berpendapat bahwa terdakwa Soedjarwo  harus dimintai pertanggungjawaban “pembiaran” (delict by omission) terhadap  kejahatan terhadap kemanusiaan. Sedangkan terhadap Terdakwa Mohammad  Noer Muis dan Terdakwa Adam R. Damiri selaku atasan Terdakwa Soedjarwo,  sekalipun   dalam   jawaban   mereka   tidak   mengetahui   penarikan   pasukan  tersebut,   namun   menurut  doktrin   pertanggungjawaban   komandan  terdakwa  Mohammad   Noer   Muis   dan   Adam   R.   Damiri   selaku   Komandan   “sepatutnya  mengetahui atau beralasan untuk mengetahui tindak pidana yang terjadi atau  yang   akan   terjadi.   Dengan   demikian   mata   rantai   Komandan   tersebut   tetap  dapat   dimintai   pertanggung   jawaban   komandan   militer,   yaitu   perbuatan  pembiaran  (delict  by omission),18  karena  secara  institusi  Terdakwa   Soedjarwo  selaku   Dandim   Dili,   berada   di   bawah   wewenang   kekuasaan   terdakwa  Mohammad Noer Muis dan Adam R. Damiri.  Namun,   putusan   Pengadilan   Tingkat   Banding   dan   Kasasi   di   Mahkamah   Agung   telah   membatalkan   putusan   majelis   hakim   tingkat  pertama   tersebut,   yaitu   membebaskan   semuanya   terdakwa   dengan   alasan  “tidak terbukti” melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan di Timor Timur.19 Contoh   kasus   serupa   pernah   dipraktikkan   dalam   sebuah   kasus   yang  sangat dikenal luas setelah Perang Dunia ke­II, yaitu kasus kejahatan perang  yang   dilakukan   oleh   terdakwa   Jenderal   Yamashita   dari   Tokyo   –   Jepang.20  Yamashita   adalah   seorang   Jenderal   yang   memimpin   pasukan   Jepang   waktu  menduduki   kepulauan   Filipina   pada   Perang   Dunia   ke­II.   Yamashita   sebagai  seorang   Jenderal   gagal   untuk   mencegah   tindakan   pasukannya   di   wilayah  Filipina   hingga   terjadi   pelanggaran   HAM   berat   seperti   pemerkosaan,  pembunuhan,   dan   pembumi   hangusan   pemukiman   penduduk   di   wilayah 
 Ibid.  Ibid. 19   Sesuai  amar   putusan  Pengadilan  Tingkat  banding   dan  kasasi  atas  nama   Terdakwa  Letkol   Inf. Soedjarwo,  Mohammad Noer Muis dan Adam R. Damiri. 20  Victor Hansen, Ghraib: Time For The United States to Adopt A Standard of Command Responsibility Towards   Its Own, Gonzaga Law Review, 2006­2007, hlm. 10. 
17 18

15

Filipina   dan   ibukota   Manila.   Kejadian   berdarah   yang   terjadi   dalam   rentang  waktu   antara   9   Oktober   1944   hingga   3   September   1945   itu   telah   menelan  ribuan korban jiwa baik di pihak sipil Filipina maupun militer Amerika saat itu. Dalam   persidangan   Mahkamah   Militer   Amerika   Serikat,   Yamashita  memberikan   pembelaan  bahwa   pasukannya   dalam   keadaan   kacau­balau,   dan  bahwa ia berada jauh dari pasukannya dan terputus hubungan komunikasinya  dari pasukan yang melakukan kejahatan­kejahatan. Dan tidak ada cara apapun  untuk   mengetahui   perbuatan   pasukannya   yang   jaraknya   ratusan   mil   dari  tempatnya.   Namun   Mahkamah   Militer   tetap   mengatakan   bahwa   Yamashita  bertanggung jawab atas perbuatan­perbuatan pasukannya itu “hanya” dengan  pertimbangan bahwa ia adalah komandan (superior) pasukan tersebut, karena  tidak mengambil langkah­langkah untuk mencegah kejahatan atau menghukum  kejahatan yang dilakukan oleh para pelaku.21 Dalam Putusan Mahkamah Militer telah mempertimbang­kan bahwa ia  mengetahui atau seharusnya sadar (aware) bahwa kejahatan itu begitu hebat  (notorius) dan menyebar. Untuk kejahatan itu Yamashita telah dihukum dengan  “Pidana Mati”, dan putusan tersebut dikuatkan oleh Mahkamah Agung Amerika  Serikat.22 Dalam kasus berikutnya, Slobodan Milosevic (mantan Presiden Bosnia di  Yugoslavia)23  gagal mencegah terjadinya pelanggaran HAM berat internasional  berdasarkan kesaksian dari Komandan Nato Wesley Clark mengatakan bahwa  pada   tahun   1995   di   Srebenica   yang   menyebabkan   lebih   dari   8.000   jiwa  tereksekusi dan kira­kira 354 orang lainnya terbunuh.
 Dalam pembelaan tersebut ia mengatakan bahwa ia telah kehilangan kontak dengan pasukannya oleh karena  sistem komunikasinya telah hancur. Dan sebelumnya telah membagi tanggung jawab militer kepada beberapa perwira  tinggi   bawahannya   dan   memerintahkan   para   perwiranya   (pasukannya)   untuk   meninggalkan   Manila   dan   tidak  melakukan  kejahatan   perang  dan   tidak   mengganggu   orang   sipil.   Namun   dengan   terbunuhnya   sekitar   25.000   orang  Pilipina   dan   menelantarkan   7.000   orang   luka­luka,   ia   tetap   dipersalahkan   sebagai   atasan   bertanggung   jawab   atas  perbuatan bawahannya. Ia juga dipersalahkan atas perbuatan bawahannya karena melakukan pembakaran bangunan  sipil,   memperlakukan   1.500   tawanan   perang   Amerika   dengan   tidak   manusiawi.   Padahal   ia   sendiri   baru   menjabat  komandan militer hanya 9 hari sebelum pasukan Amerika Serikat menduduki Filipina. 22   Kasus   Jenderal   Yamashita   merupakan   contoh   kasus   terkenal   adanya.  “Strict   Liability”  pada   seorang  komandan militer, di mana ia tetap dipersalahkan sebagai atasan bertanggung jawab atas perbuatan bawahannya yang  melakukan   kejahatan   perang   dengan   mengabaikan   perintahnya   dan   ia   tidak   mengetahui   perbuatan   bawahannya  dengan   alasan   hubungan   komunikasi   telah   terputus.   Pakar   hukum   Internasional   Prof.   Lauterpacht   sendiri   dalam  pembicaraan   untuk   menyusun   Charter   IMT   Nuremburg   mengusulkan   agar   bawahan   yang   beritikad   baik   yang  mengikuti perintah atasan harus dilindungi, kecuali kalau perintah itu betul­betul melanggar hukum, namun usulan itu  ditolak. 23   Jared Olanoff, Holding A Head of State Liable for War Crimes:  Command Responsibility and The Milosevic   Trial, Suffolk Transnational Law Review, Summer 2004, hlm. 6. 
21

16

Milosovic   gagal   menghukum   semua   pelaku   yang   bertanggung   jawab  terhadap pelaku pembantaian tersebut. Dan Milosovic juga gagal mengirim para  pelaku pembantaian  itu ke Pengadilan.  Namun sangat  disayangkan,  sebelum  kasus   ini   diputus   oleh   Pengadilan,   Milosovic   meninggal   dunia,   karena   sakit  jantung. Berdasarkan   doktrin   pertanggungjawaban   komandan/atasan   tersebut,  maka keprofesionalitasan seorang Hakim di sini dituntut memiliki pengetahuan  di   bidang   HAM   dan   memiliki   latar   belakang   konsentrasi   hukum   pidana   dan  Tata   Negara,   serta   hubungan   internasional,   karena   konsentrasi   ilmu  pengetahuan   tersebut   akan   seiring   sejalan   dalam   melahirkan   suatu   putusan  HAM yang berkualitas, manusiawi, berhati nurani dan independen.
Makalah ini disajikan pada acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema : “Hak  Memperoleh Keadilan Dalam Perkara Pidana Ditinjau dari Perspektif HAM” oleh Komnas HAM  di Hotel Swiss Belhotel Medan tanggal 28 Maret 2009.

*  Penulis   adalah   Ketua   Pengadilan   Negeri 
Simalungun  Jakarta   dan   Hakim   HAM   pada   Pengadilan   HAM  Adhoc 

17