GURU DAN KELAYAKAN MENGAJAR

Document Sample
GURU DAN KELAYAKAN MENGAJAR Powered By Docstoc
					GURU DAN KELAYAKAN MENGAJAR
Thursday, 12 November 2009 14:16




Oleh Asep Sumaryana
Berita Kompas, Sabtu (24/10), bak gayung bersambut dengan demonstrasi guru honorer
Kabupaten Bandung sebelumnya. Berita tersebut menyebutkan banyaknya guru yang tidak
pantas menjadi guru. Data Departemen Pendidikan Nasional 2007/2008 menyebutkan, sekitar
88 persen guru TK dan 77,85 persen guru SD tidak layak. Demikian halnya dengan guru SMP
(28,33 persen), SMA (15,25 persen), dan SMK (23,04 persen).

Bisa jadi banyak pihak memaklumi kondisi guru saat ini. Kemampuan banyak guru dalam
mentransfer ilmu pengetahuan kepada muridnya juga masih perlu diasah. Sering kali
pengasahannya dilakukan dengan menambah jenjang pendidikan yang dibuka banyak
kalangan dengan cepat dan mudah. Guru pun beramai-ramai menjadi mahasiswa, yang
kebanyakan kuliahnya pada hari libur di gedung sekolah sendiri.

  Kapasitas sebagai guru bisa tidak diperoleh maksimal dengan cara itu. Yang terjadi, guru
malah menjadi faktor produksi industri pendidikan yang mengedepankan kemasan gelar tanpa
berakar pada kapasitas pokok yang diperlukan sebagai guru. Dengan perbedaan intelengensia
muridnya, guru perlu mampu mempertimbangkan dan kemudian mendongkrak kapasitas
intelektualitas muridnya secara perlahan tetapi pasti. Untuk itu, rekrutmen dan penerimaan guru
honorer pun sebenarnya perlu lebih baik.

Balas budi

Demonstrasi guru dapat dipandang sebagai tekanan yang mendorong pemerintah suatu
kabupaten mempertimbangkan pengangkatan guru yang telah mengabdi sebagai tenaga
honorer atau sukarelawan. Aspek balas budi tampaknya lebih mengedepan daripada
profesionalitas guru yang telah mengabdi. Bisa jadi kapasitas diri, baik dilihat dari asal
perguruan, relevansi bidang ilmu dengan mata pelajaran yang diberikan, maupun keterampilan
mentransfer ilmu pengetahuan, menjadi terabaikan.

Jangankan relevansi administratif, seperti persyaratan jenjang pendidikan calon guru bagi
pengajar di SD dan TK, memenuhi kebutuhan guru saja masih selalu menjadi keluhan banyak
pemerintah daerah. Sebelumnya, suplai guru dan murid masih senjang. Dampaknya, sekolah
mengajak siapa pun yang mau mengabdi untuk mengisi kekosongan tersebut. Dalam
pemenuhan kebutuhan tersebut, bisa jadi seleksi tidak sedemikian ketat karena yang ikhlas
mengabdi pun sulit diperoleh.

Sangat berbeda ketika ada harapan guru honorer diangkat secara otomatis menjadi guru
pegawai negeri sipil. Banyak yang kemudian bersedia menjadi guru dengan harapan menjadi
PNS, bukan mengabdi kepada masyarakat. Menjadi tidak terkontrol tatkala banyak pihak
mengetahui hal tersebut. Menjadi honorer atau sukarelawan pun jadi incaran. Bisa jadi ada
bisnis di dalamnya.

Hal seperti itu perlu diwaspadai pihak pemerintah terkait dengan kemungkinan munculnya
oknum nakal. Kelalaian untuk mengawal persoalan ini akan menimbulkan kecemburuan yang
berkepanjangan karena pengabdi yang tulus akan tergeser oleh pengabdi bulus.




                                                                                          1/3
GURU DAN KELAYAKAN MENGAJAR
Thursday, 12 November 2009 14:16




Emosi dan pikir

Kapasitas mengajar menjadi penting bagi guru. Bisa jadi ada banyak yang memiliki persyaratan
administratif memadai, tetapi tidak sedikit yang pandai hanya untuk dirinya. Di sisi lain banyak
yang pengetahuannya pas-pasan, tetapi bisa menularkan pengetahuan tersebut kepada
muridnya. Guru tentu berkaitan dengan cara memindahkan ilmu pengetahuan yang dimiliki
kepada muridnya. Tentu ini pilihan di tengah sarana dan prasarana belajar-mengajar yang
masih minim. Dengan demikian, posisi guru masih dominan daripada perlengkapan lain.

Dengan metode yang dimiliki, seorang guru bisa menularkan ilmunya. Metode mengajar
biasanya bisa diperoleh dari pengalaman hidupnya sebagai pengajar, tetapi juga bisa diperoleh
dari perjalanan studi sebelumnya. Di lembaga pendidikan keguruan, metode tersebut diberikan.
Yang tidak memperolehnya semestinya diberi kursus atau diklat metode mengajar agar
mengajar bisa berlangsung efektif.

Efektivitas mengajar tentu tidak dapat dicapai tanpa target yang ideal. Target tersebut dicapai
secara perlahan dan pasti, tidak seketika. Keperlahanan tersebut berkaitan dengan tingkat
kapasitas penerimaan emosi dan pikir murid. Oleh karena itu, guru perlu memahami kapasitas
tersebut agar tidak memaksakan kehendak kepada muridnya atau membuat variasi agar
muridnya tidak jenuh menerima pelajaran. Tanpa kepandaian memahami dan membuat variasi,
daya serap murid bisa semakin menipis sejalan dengan stigma terhadap guru tertentu dalam
mengajar.

Emosi murid bisa berfluktuasi sejalan dengan pengalaman kesehariannya. Bisa jadi suatu hari
murid jenuh menerima pelajaran karena emosinya sedang terganggu, tetapi pada hari lain lebih
semangat. Pada posisi terakhir seperti itu, kemungkinan kapasitas pikirnya lebih besar untuk
menerima pelajaran. Hanya, jangan sampai stigma menimpa figur guru sehingga semangat
tersebut tidak sebesar yang diharapkan. Kemalasan belajar juga bisa karena stigma guru yang
sulit, ketus, atau killer. Menciptakan suasana belajar menyenangkan memang perlu diupayakan
agar semangat lebih besar lagi.

Hukuman tetap perlu dipertahankan mengingat tidak semua murid memiliki motivasi belajar di
kelas. Murid dengan motivasi rendah bisa didorong untuk lebih termotivasi. Sementara yang
tidak memiliki motivasi, setelah dimotivasi dan bersifat destruktif dalam proses belajar, bisa
diberi hukuman. Dengan demikian, figur destruktif bisa diminimalisasi agar proses belajar
semakin sehat. Tentu saja pengetahuan psikologis murid menjadi penting agar kapan
menghukum dan kapan memberi hadiah bisa dilakukan secara tepat.

Sebagai guru, memahami kondisi psikologis murid dapat mendorong efektivitas mengajar.
Dalam menunaikan tugasnya, seorang guru perlu memahami bahwa mengajar bukan hanya
berdiri di kelas berbicara tanpa paham kondisi muridnya. Untuk itu, memilih guru harus
memerhatikan beberapa kapasitas terkait dengan transformasi ilmu pengetahuan, termasuk
kesabaran, kreativitas, serta kapasitas keilmuan dan pemahaman metodologis mengajar.

Menyeleksi guru juga perlu memerhatikan cara guru menyampaikan materi pelajaran,
mempersiapkan bahan mengajar, atau menghadapi kondisi tersulit di kelas, seperti murid nakal



                                                                                           2/3
GURU DAN KELAYAKAN MENGAJAR
Thursday, 12 November 2009 14:16




atau perkelahian. Kesabaran dan keteladanan pun menjadi hal penting. Guru yang mengabdi
lama bisa jadi lebih mampu melakukannya daripada yang berlomba mengejar status PNS.

Oleh sebab itu, calon guru perlu ditelusuri lebih lanjut agar tidak salah pilih. Kesalahan memilih
bisa berdampak pada kerusakan sumber daya manusia mendatang. Menyelamatkan masa
depan bangsa bisa dimulai dari menentukan guru dan kelayakannya mengajar.

Asep Sumaryana Sekretaris LP3AN dan Lektor Kepala pada Jurusan llmu Administrasi Negara
FISIP Unpad

Sumber : Harian Kompas, Kamis, 12 Nopember 2009




                                                                                             3/3