PROPINSI KALIMANTAN TENGAH - PDF by kellena93

VIEWS: 338 PAGES: 7

									                        PROPINSI KALIMANTAN TENGAH
                 (Sumber Neraca Kualitas Lingkungan Hidup Daerah 2000)


Propinsi Kalimantan Tengah merupakan propinsi terluas ketiga setelah Propinsi Irian
Jaya dan Propinsi Kalimantan Timur dengan luas wilayah sebesar 153.564 km2 dan
terletak di 0°45” LU-3°30”LS dan 111°BT-116°BT.

Dengan 11 sungai besar dan 33 anak sungai, keberadaan sungai Barito menjadi cirri
khas Propinsi Kalimantan Tengah. Sungai Barito memiliki panjang 900 km dengan rata-
rata kedalaman delapan meter merupakan sungai terpanjang dan dapat dilayari sejauh
700 km.

Secara administrasi, Propinsi Kalimantan Tengah terdiri dari 13 kabupaten dan satu
kota. Jumlah penduduk Propinsi Kalimantan Timur pada tahun 2001 adalah 1.801.707
jiwa.


A. PENDAHULUAN

Propinsi Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah Propinsi di Negara Kesatuan
Republik Indonesia dengan kota Pontianak sebagai ibukota Propinsi, dan terletak
diantara garis 2o.8’ Lintang Utara dan 3o.05’ Lintang Selatan serta diantara 106o.30’ dan
114o.10’ Bujur Timur. Berdasarkan letak geografisnya, daerah Kalimantan Barat dilalui
oleh garis Khatulistiwa (Garis Lintang pada 0o) tepatnya di kota Pontianak, sehingga
daerah ini merupakan daerah tropis dengan suhu rata-rata antara 22,9oC – 31,05oC,
suhu rata-rata siang hari sebesar 29 oC , curah hujan ± 3.000 mm3 dengan jumlah hujan
rata-rata 170 hari per tahun.

Wilayah Kalimantan Barat dibatasi oleh Laut Natuna dan Selat Karimata di sebelah
Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur di sebelah Timur, dan Laut Jawa di
sebelah selatan, serta secara langsung berbatasan dengan Serawak (Malaysia Timur)
yang merupakan perbatasan darat ± 1.200 km.

Sesuai dengan kondisi yang ada di Wilayah Kalimantan Barat ada beberapa sektor-
sektor paling menonjol yang mengakibatkan adanya perubahan kualitas lingkungan
diataranya seperti sektor perikanan, sektor kehutanan dan sektor pertambangan.

A. Sub Sektor Perikanan

Pembangunan sektor pertanian didalam termasuk sub sektor perikanan tetap mendapat
prioritas yang tinggi. Hal ini didukung oleh kondisi wilayah kalimantan Barat yang
mempunyai banyak sungai, wilayah perairan yang luas baik kelautan meupun garis
pantai yang panjang.

Pada tahun 1999 total produksi perikanan laut sebesar 61.667 ton dengan nilai produksi
Rp. 473.262 juta. Oleh Karena itu sub sektor perikanan ini merupakan sumber devisa
bagi ekspor komiditi non migas.
Dalam upaya peningkatan efisiensi dan produkstivitas perikanan, aspek SDM (nelayan
dan pengusaha) dan manajemen usaha memegang peranan penting, sehingga
terciptanya dalam usaha meingkatkan kesejahteraan khusus para nelayan.


Kegiatan dan Permasalahan

Produksi perikanan tahun 1999 mengalami sebesar 3,23 persen dibanding tahun
sebelumnya, dimana produksi tahun 1998 sebesar 73,493 ton meningkatkan menjadi
75.867 ton tahun 1999. Jika dibanding dengan perikanan umum dan budidaya
perikanan laut memegang peranan penting, menyumbang sekitar 81,28 persen dari total
produksi. Sedangkan perikanan perairan umum hanya menghasilkan 11.518 ton atau
sekitar 15,18 persen dan perairan budidaya 2.682 ton atau sekitar 3,53 persen.

Begitu pula bila dipandang dari sudut pelestarian lingkungan. Usaha ikan budidaya lebih
menguntungkan dari segi lingkungan karena menggunakan lahan atau sistem keramba
yang tetap. Perikanan perairan laut dan umum dalam menangkap ikan nelayan dan
pengusaha masih menggunakan cara penangkapan yang bisa merusak lingkungan atau
menurunkan habitat flora dan fauna yang ikut tertangkap, tetapi tidak dimanfaatkan.
Habitat tersebut mungkin tidak diperlukan manusia secara langsung tetapi sangat
bermanfaat bagi keseimbangan alam dan lingkungan hidup.

Dilihat dari segi pencemaran, sejauh ini sub sektor perikanan belum menunjukan
pengaruh yang nyata terhadap terjadinya pencemaran air, namun diduga dampaknya
berpengaruh terhadap habitatnya seperti adanya perubahan kawasan hutan mangrove
menjadi tambak udang.

Begitu juga tentang kasus penggunaan bahan peledak maupun penggunaan tuba oleh
masyarakat dapat dikatakan masih dalam skala kecil. Sejauh ini Dinas Perikanan
bekerja sama dengan aparat pemerintah daerah setempat telah memberikan
penyuluhan masyarakat nelayan tentang bahaya penggunaan bahan peledak dalam
kegiatan penangkapan ikan terhadap ekosistem perairan sekitar, serta memberikan
motivasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian sumber perikanan
guna kelangsungan usaha mereka dimasa mendatang.

Upaya yang dilakukan

Sebagai upaya untuk menjamin kelestarian sumber perikanan telah dilakukan restocking
dengan menebarkan benih/anak ikan diperairan umum dan danau-danau yang dianggap
potensial di daerah.


B. Sub Sektor Kehutanan

Berdasarkan Perda No. 1 Tahun 1995 tentang RTRWP Propinsi Kalbar, Luas Kawasan
Lindung sekitar 3.812.740 Ha dan Kawasan budidaya 10.867.960 Ha. Dari luas
kawasan lindung sekitar 99,42 persennya merupakan Hutan Cagar, Hutan Taman
Nasional, Hutan Wisata Alam, Hutan Lindung, Hutan Lindung Gambut dan Hutan
Bakau.
Sedangkan dari luas budidaya sekitar 5.178.135 Ha atau sekitar 47,65 persennya terdiri
dari hutan produksi terbatas dan hutan produksi konversi.
Dengan demikian luas kawasan hutan mencapai sekitar 869.660 Ha atau sekitar 61,09
persen dari luas propinsi ini.

Hutan merupakan salah satu aset pembangunan. Kekayaan sumber daya hutan di
Kalimantan Barat telah memberikan kontribusi terhadap kehidupan masyarakat. Namun
demikian, upaya pengelolaan hutan dimaksud hingga saat ini belum dilaksanakan
secara optimal. Hal ini terlihat masih adanya bahaya-bahaya baik dari luar maupun
dalam hutan sendiri, seperti sering terulangnya kasus kebakaran hutan dan lahan.

Bagi Propinsi Kalimantan Barat, sub sektor kehutanan memiliki arti penting baik dalam
mendukung perekonomian ataupun dalam penyerapan terhadap tenaga kerja didaerah.
Tahun 1999 kontribusi sub sektor kehutanan terhadap perekonomian sekitar 6,79
persen sedangkan industri pengolahan hasil kayu sekitar 11,42 persen. Bahkan dilihat
dari ekspor menurut komiditas, sampai dengan tahun 1999 industri pengelolaan hasil
hutan memberikan kontribusi tertinggi.

Permasalahan

Beberapa permasalahan pada sektor kehutanan di Kalimantan Barat terutama dapat
dilihat dari :

1. Adanya penebangan hutan secara liar/penebangan tanpa izin merupakan problema
   utama yang cukup lama masih belum dapat tertangani dengan baik.
2. Luasnya kawasan hutan saat musim kemarau peka terhadap kebakaran.
3. Adanya pencurian kayu terutama di sekitar daerah perbatasan.
4. Kegiatan pertambangan liar dan juga peladang berpindah menimbulkan gundulnya
   hutan.
5. Luasnya kawasan hutan juga berdampak pada keterbatasan pengawasan baik dari
   prasarana pendukung ataupun jumlah personilnya.
6. Masih belum sepenuhnya dilaksanakan perundangan oleh para pemegang HPH,
   dalam hal ini adalah pelaksana HTI.

Dampak Penting

Kebakaran hutan yang terjadi di tahun 1997 sangat menggangu pernapasan serta
menghambat aktivitas masyarakat akibat kabut asap. Dampaknya bukan hanya
dirasakan di Kalimantan Barat, tetapi juga di negara tetangga terutama Malaysia.

Disamping itu menurut menteri kehutanan (1989) dikatakan kerusakan sumber daya
hutan sudah sangat mengkhawatirkan. Hal tersebut ditujukan sering terjadinya bencana
banjir, erosi dan tanah longsor hingga menimbulkan dampak terhadap pendangkalan
sungai, danau serta waduk serta juga menurunkan fungsi dan manfaat lahan sebagai
unsur produksi.

Pencurian/penebangan liar serta eksploitasi besar-besaran oleh para penebang HPH
yang secara kontiyu jelas disamping semakin menurunkan produksi serta luas kawasan
di daerah hutan di daerah ini, juga menimbulkan keterusikan ekosistem sekitarnya.

Upaya Pengendalian Dampak
Ada tiga faktor yang patut diperhatikan khususnya dalam rangka pengendalian terhadap
dampak penting,

Pertama :    Kesungguhan dan keadilan dalam aplikasi hukum yang telah dibuat.
Kedua :      adanya penyuluhan yang intensif serta mengarahkan para peladang
             berpindah ataupun buruh-buruh penebangan liar hingga mendapatkan
             pekerjaan yang juga dapat memberi penghidupan secara layak.

Ketiga :     penerapan AMDAL.


Khusus untuk peraturan yang diterbitkan dalam upaya pengendalian dampak adalah :

1.   Perda No. 7 tahun 1987 serta SK gubernur KDH Tingkat I Kalimantan Barat No.
     318 tahun 1982 tentang Bimbungan dan Pembinaan dalam rangka Pengendalian
     Perladangan berpindah menuju petani menetap.
2.   Untuk pengawasan tebang pilih tanam, telah diatur dengan SK Dirjen Kehutanan
     Nomor 35/Kpts/DD/I/1972 tentang Pedoman Tebang Pilih Indonesia (TPI), Tebang
     Habis dengan Permudaaan Buatan (TNPS), Tebang Habis dengan permudaan
     Alam (THPA) dan Pedoman-pedoman pengawasannya.
3.   Untuk penyempurnaan Sistem Silvikultur Menteri Kehutanan mengeluarkan SK
     No. 485/Kpts/1989 tanggal 8 September 1989 tentang Sistem Silvikultur
     Pengelolaan Hutan     Alam Produksi di Indonesia dan ditetapkan bahwa
     pengelolaan hutan produksi dapat dilakukan dengan Sistem Silvikultur Tebang
     Pilih Tanam Indonesia (TPTI), Tebang habis dengan Permudaan dan Tebang
     Habis dengan Permudaan Alam.

Upaya pengendalian dampak yang juga memegang arti penting adalah disamping
dengan peremajaan hutan juga dengan rehabilitasi tanah kritis serta pelestarian plasma
nutfah tumbuhan dan satwa. Sasarannya terutama untuk menciptakan/memulihkan
kembali keseimbangan lingkungan. Sedangkan upaya pelestarian plasma nutfah
tumbuhan an satwa mencakup kegiatan :

1.   Upaya konservasi sumber daya alam yang pada hakekatnya dapat dibagi atas:
2.   Konservasi di didalam kawasan atau di dalam habitat aslinya atau disebut dengan
     konservasi insitu.
3.   Konservasi di luar hutan habitat aslinya atau disebut konservasi eksitu.
4.   Upaya pengembangan dan pemanfaatan kawasan konservasi untuk berbagai
     kegiatan seperti pemanfaatan Suaka Margasatwa sebagai pusat penelitian dan
     pengembangan ilmu pengetahuan.


C. Sub Sektor Pertambangan

Kegiatan dan Permasalahan

Pekerjaan pertambangan meliputi kegiatan-kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi,
eksploitasi (penambangan), pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan
mineral (bahan galian).
Saat ini potensi galian/mineral di Kalimantan Barat masih sangat besar. Hal ini dapat
dilhat pada table SD-4. Neraca Bahan Galian, dibawah ini.

                                             Diketahui                              Kehilangan/Kehidupan      Lu
                                                                                                              as
                                            pada awal     Prod   Nilai        Kerus      Cadangan      Wila
                                            Penemuan      uksi   Produksi     akan       statis        yah
                                            tahun                             lain                     pert
                     Jenis           Satu
DATI II/Lokasi                              baru                                                       amb
                     Mineral         an
                                                                                                       anga
                                                                                                       n
                                            Satuan/       Satu   Satuan/      Juta       satuan/       Tah    Ha
                                            thn           an/    thn          Rp         thn           un
                                                          thn
       (1)                (2)         (3)       (4)        (5)       (6)        (7)          (8)       (9)    (10
                                                                                                               )
1.   ….              Trakhit         ton    97,976,641.   …      3,794.0      8.5        199.0         …      …
2.   Sintang         Batubara                         0   …      …            …          …             …      …
     Kapuas Hulu                             181,653,97
3. Ketapang          Besi                           5.0   …      …            ...        …             …      …
4. Sambas            Mangan                               …      …            …          …             …      …
5. Sambas,           Bauksit                      224.0   …      …            …          …             …      …
     Sanggau,                               2,415,935.0
     Ketapang        Timbal                 895,743,91    …      …            …          …             …      …
6. Ketapang          Seng                           8.0   …      …            …          …             …      …
7. Ketapang          Emas                                 …      3,189,181.   958,28     3,189,181.0   …      …
8. Sambas, Ptk,                              106,120.0           0            4.4
     Sintang,                                 35,064.0
     KTP, K. Hulu,   Air Raksa              590,905,99    …                              …             …      …
     Sanggau         Barit                         7.0    …      …            …          …             …      …
9. Seluruh Dati II   Kaolin                               …      …            …          …             …      …
10. Ketapang                                                     …            …
11. Sambas, Ptk,                            5,306,283.0
     Ktp, K.Hulu,    Feldspar                     100.0   …                              …             …      …
     Sintang,        Pasir                  317,048,85    …      …            …          9,593.0       …      …
     Sanggau                                        7.0          86,338.0     375.6
12. Sanggau          Granit                               …                              16,430.0      …      …
13. Pontianak,                                                   312,164.0    5,072.
     Ketapang                               2,233,667.0                       7
14. Pontianak,       Pasir, Batu            5,410,484,7   …                              83,002.0      …      …
     Sanggau,                                      20.0          498,010.0
     Ketapang,       Pasir. kwarsa                        …                   4,980.     2,329.0       …      …
     Sintang                                1,565,421,0          44,258.0     1
15. Sambas,          Andesit                   69,012.0   …                              2,868.0       …      …
     Pontianak,      Basalt                               …      54,501.0     1,770.     …             …      …
     Sanggau,        Gambut                               …      …            3          …             …      …
     Sintang                                110,861,78           …
16. Sambas,          Mika                      6,054.0    …                   599.5      …             …      …
     Pontianak,      Intan                                …      …            …          …             …      …
     Ketapang        Batu Permata           633,644,44    …      …            …          …             …      …
17. Sambas,          Gamping                       1.0    …      …                       …             …      …
     Sintang                                                     …            …
18. Sambas,                                 1,040,955,5                       …
     Sintang                                   26,549.0                       …
19. Sepanjang                                451,526,35                       …
     pantai barat,                                  9.0
     Kapuas Hulu                            12,577,145,
20. Pontianak                                     000.0
21.       ….
22. Ketapang                                      514.0
23.       ……..                              6,281,683.0
                                                   86,7
                                            30,000,000.
                                                      0




Adapun klasifikasi bahan galian terdiri dari :
Bahan Galian Golongan A adalah       batubara.
Bahan Galian Golongan B adalah       besi, mangan, bauksit, timbal seng, emas, air
                                     raksa, barit.
Bahan Galian Golongan C adalah       pasir kuarsa, kaolin, feldspar, pasir, granit, pasir
                                     batu (sirtu), trakhit, dan mika.

Kegiatan penambangan yang sudah dilakukan antara lain untuk sebagian bahan galian
golongan B dan bahan galian golongan C, secara rinci kegiatan penambangan bahan
galian yang dilakukan adalah :


1. Bahan Galian Golongan B

   -   Emas
       Data produksi bahan galian emas dari pemantauan dan inventarisasi dari setiap
       kabupaten, menyangkut kegiatan pertambangan emas baik dilakukan oleh rakyat
       yang berizin maupun yang tidak berizin di seluruh Kalimantan Barat. Produksi
       yang telah dipantau periode tahun 1994 (NSAD Kalbar) adalah sebesar 1891
       ton/tahun dengan nilai produksi 4 juta rupiah. Emas yang ditambang saat ini
       umumnya adalah emas letakan (placer) pada lapisan alluvial pada lokasi
       tambang lama maupun baru. Lokasi penambangan adalah disepanjang sungai
       Melawi Kabupaten Sintang Hulu Sungai Kapuas di Kabupaten Kapuas Hulu dan
       Sungai Landak di Kabupaten Pontianak, Penggir sungai lain dilokasi
       penambangan adalah sungai Pinoh, Sungai Sepauk, Sungai Sekadau, Sungai
       Raya dan lainnya.

       Karena penambangan umumnya dilakukan oleh masyarakat awan, maka
       rehabilitasi alam bekas penambangan umumnya tidak diperhatikan, disamping
       itu buangan dari hasil pencucian menyebar kedaerah-daerah yang rendah
       sehingga menimbulkan pencemaran dan erosi.

   -   Bahan Galian Intan
       Usaha penambangan bahan galian intan terdapt disepanjang sungai Landak
       Kabupaten Dati II Pontianak. Produksi bahan galian intan belum dapat
       dicantumkan karena kemungkinan sulitnya pemantauan sehingga data yang
       tersedia minim

2. Bahan Galian Golongan C

   -   Beberapa bahan galian golongan C yang telah diketahui produksinya adalah
       trakhit, pasir kuarsa, kaolin, pasir, pasir batu (sirtu), dan andesit. Tahun 1994
       Trakhit telah diproduksi sebesar 676 ton/tahun dengan nilai produksi sebesar Rp.
       1.294.848. Pasir diproduksi sebesar 246.520 ton/tahun dengan nilai produksi
       sebesar 1.072 juta rupiah. Kaolin sebesar 2.116 ton/tahun dengan nilai produksi
       sebesar 264 juta rupiah. Pasir kwarsa sebesar 133.880 ton dengan nilai produksi
       sebesar 3.869 juta rupiah. Sirtu diperkirakan sebesar 215.436 ton dengan
       dengan nilai sebesar 344 juta rupiah. Dan andesit sebesar 101.927 ton dengan
       sebesar nilai sebesar 229 juta rupiah.
Dampak Penting

Pelaksanaan kegiatan-kegiatan penambangan dan penggalian jelas mengakibatkan
benturan-benturan terhadap komponen-komponen lingkungan yang menimbulkan
dampak positif maupun dampak negatif.

Masalah disektor pertambangan adalah terjadinya tumpah tindih kepentingan antar
sektor, sehingga menimbulkan permasalahan antara kepentingan perlindungan dan
pelestarian dengan kebutuhan pembangunan yang berdampak kepada lingkungan baik
lingkungan fisik-kima, biologi, social dan budaya. Di lain pihak terdapatnya sistem
drainase kota yang kurang baik yang dapat menimbulkan kerawanan kesehatan
masyarakat.

Dampak negatif yang dapat dipantau terjadi pada tahap eksploitasi yaitu terjadinya
kerusakan/gangguan permukaan tanah. Gangguan ini terjadi akibat penambangan pasir,
intan dan pengambilan tanah uruk yang pada gilirannya mengakibatkan terjadinya erosi.
Masalah yang sering timbul akhir-akhir ini adalah pertambangan emas liar.
Pertambangan emas liar yang dimaksud adalah yang menggunakan mesin dengan
kapasitas yang besar. Hal tersebut selain menyebabkan kerusakan lingkungan juga
menyebabkan daerah bekas penambangan tidak dapat ditumbuhi tanaman,
penggunaan Hg (air raksa) yang dapat mencemarkan lingkungan terutama terhadap
sungai (perairan umum).

Upaya Pengendalian Dampak

Dampak negatif yang terjadi dan yang diperkirakan akan terjadi, perlu direncanakan dan
dilaksanakan upaya pengendaliannya. Pada Tahun 1994 tidak tercatat adanya
rehabilitasi yang dilakukan oleh penambang. Hal ini karena para penambang masih
menggunakan sistem penambangan tradisional dan dalam skala usaha yang kecil.

Terdapat Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), baik Pemda Tk.I Kalimantan Barat
mupun beberapa Daerah Tingkat III telah melakukan upaya penertiban dengan
membentuk tim penertiban PETI dan menetapkan skala prioritas penertiban pada
daerah-daerah penambangan sesuai dengan SK Gubernur Kalbar No. 541.1/5253/Ekon
tanggal 13 Desember 1994 yang menetapkan bahawa prioritas penertiban dilakukan
pada wilayah kontrak karya dan kuasa penambangan. Hal ini disebabkan oleh
banyaknya kegiatan Kontrak Karya dan Kuasa Pertambangan yang terggangu atau
terhalang untuk bekerja.

Sedangkan Surat Izin Pertambangan Rakyat (SIPR) telah ditegaskan oleh Pemda TK.I
Kalimantan Barat hanya dapat diberikan pada Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR)
yang telah ditetapkan oleh Menteri Pertambangan dan Energi.

Kawasan yang bisa dieksploitasi menurut SK Menteri No. 0607.K.K/21023/M.PE/1984
ditentukan 56 lokasi WPR dan SK No. 1069.K/210/M.PE/1989 sebanyak 33 lokasi WPR.
Ini merupakan upaya untuk mencegah eksploitasi yang dapat merugikan negara
sehubungan dengan indikasi bahwa terdapat praktek penerbitan atau rekomendasi yang
membolehkan eksploitasi pada WPR usulan.

								
To top