Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Laporan Penilaian Sertifikasi SmartWood untuk PT Erna Djuliawati by murplelake75

VIEWS: 0 PAGES: 46

									      Laporan Penilaian Sertifikasi SmartWood
                      untuk:

                   PT Erna Djuliawati
              Kalimantan Tengah, Indonesia

    Tanggal Laporan Penilaian Sertifikasi Akhir: 30 Juni 2005
Tanggal Kunjungan Lapangan Audit Verifikasi Prekondisi : 14 – 18
                          Maret, 2005
Tanggal penyelesaian laporan akhir dengan prekondisi: April 2004
       Tanggal penyelesaian draf laporan: September 2003
    Tanggal Kunjungan Lapangan Penilaian: 9 – 18 Juli, 2003


                            Tim Sertifikasi:
            Art Klassen, Pimpinan Tim dan Pengelolaan hutan
                   Jason Patlis, Spesialis hukum/sosial
                      Dwi R. Muhtaman, Sosiolog
                    Edward Pollard, Spesialis Ekologi

                  Kerja sama dengan LEI/PT TUV
                Cecep Saepullah, Fasilitator dan Produksi
                     Machfudh, Spesialis Ekologi
                   Teddy Rusolono, Produksi Hutan

                  Tim Audit Verifikasi Prekondisi:
             Edward Pollard, Pimpinan Tim/Spesialis Ekologi
                  Cecep Saepullah, Pengelolaan Hutan
                                                           DAFTAR ISI
SINGKATAN................................................................................................................................. 3
PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 4
1.      RINGKASAN UMUM.......................................................................................................... 5
     1.1.      NAMA DAN INFORMASI PERUSAHAAN ........................................................................... 5
     1.2.      LATAR BELAKANG UMUM ............................................................................................. 5
     1.3.      HUTAN DAN SISTEM PENGELOLAANNYA ....................................................................... 8
     1.4.      KONTEKS LINGKUNGAN DAN SOSIAL EKONOMI ........................................................... 15
     1.5.      PRODUK YANG DIHASILKAN DAN LACAK BALAK......................................................... 19
2.      PROSES PENILAIAN SERTIFIKASI............................................................................. 22
     2.1.      TANGGAL PENILAIAN ................................................................................................... 22
     2.2.      TIM PENILAI.................................................................................................................. 22
     2.3.      PROSES PENILAIAN ....................................................................................................... 24
     2.4.      STANDAR ...................................................................................................................... 28
     2.5.      PROSES DAN HASIL KONSULTASI DENGAN STAKEHOLDER .......................................... 28
3.      HASIL, KESIMPULAN dan REKOMENDASI.............................................................. 33
     3.1.      PEMBAHASAN UMUM TENTANG TEMUAN-TEMUAN ..................................................... 33
     3.2.      KEPUTUSAN SERTIFIKASI ............................................................................................. 43
     3.3.      KONDISI DAN REKOMENDASI ....................................................................................... 43
4. KRITERIA SERTIFIKASI: SKOR dan TEMUAN-TEMUAN........Error! Bookmark not
defined.
5.      KESIMPULAN ........................................................................Error! Bookmark not defined.
     5.1.      SKOR KUMULATIF PER BIDANG PENILAIAN ........... ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
     5.2.      REKOMENDASI TIM................................................ ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
LAMPIRAN I: Daftar konsultasi stakeholder..............................Error! Bookmark not defined.
LAMPIRAN II: Tambahan dari Peer review...............................Error! Bookmark not defined.
LAMPIRAN III: Lacak Balak: Penelusuran dan Identifikasi Produk ...Error! Bookmark not
defined.
LAMPIRAN IV: Lembar Informasi Kontrak Sertifikasi FM ....Error! Bookmark not defined.
LAMPIRAN V: PETA Perusahaan ...............................................Error! Bookmark not defined.
LAMPIRAN VI: LAPORAN KEMAJUAN dari PENILAIAN oleh SGS QUALIFOR .Error!
Bookmark not defined.
LAMPIRAN VII: Daftar dokumen sosial yang direview ............Error! Bookmark not defined.
                                  ACRONYMS

AAC        Annual Allowable Cut
ACIAR      Australian Center for International Forestry Research
ALP        Annual Logging Plan
AMDAL      Analisis dampak Lingkungan (Environmental Impact Analysis)
BAPPEDA    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah – Regional Planning Office
BAPPENAS   Badan Perencanaan Pembangunan Nasional – National Planning Office
BOD        Biological Oxygen Demand
CBD        Convention on Biological Diversity
CIFOR      Center for International Forest Research
CITES      Convention on Trade in Endangered Species
DBH        Diameter at Breast Height
DOC        Department of Conservation
DR         Dana Reboisasi – reforestation fund
EIA        Environmental Impact Assessment
FMU        Forest Management Unit
FMO        Forest Management Organization
FSC        Forest Stewardship Council
HPH        Hak Pengelolaan Hutan – Forest Management Concession
HPHH       Hak Pengelolaan Hasil Hutan – Forest Product Management Concession
HPK        Hutan Produksi dan Konversi – Production and Conversion Forest
HPHTI      Hak Pengelolaan Hutan Tanaman Industri – Industrial Forest Plantation and
           Management Concession
ILO        International Labor Organization
IPB        Institut Pertanian Bogor – Agricultural Institute of Bogor
Kab.       Kabupaten – district
Kec.       Kecamatan – sub-district
KPPL       Kawasan Peruntrakan dan Pangunaan Lain – Other land use areas (Privincial)
LATIN      Lembaga Alam Tropika Indonesia - The Indonesian Tropical Institute
LEI        Lembaga Ekolabel Indonesia – Indonesia Ecolabeling Institute
LOA        Logged over area
MoF        Ministry of Forestry
NGO        Non Governmental Organization
NRMP       Natural Resources Management Project
OSH        Occupation Safety and Health
Petak      Block (usually 100 ha) used for inventory, planning, and operational control
PGM        Pemukiman dan Garapan Masyarakat – Community land use areas
PMDH       Pembinaan Masyarakat Desa Hutan – Forest Village Development Program
P&C        Principles and Criteria of the FSC
PRA        Participatory Rural Appraisal
PSDH       PSDH Pungutan Sumber Daya Hutan (Forest Resource Royalty)
PUP        Petak Ukur Permanen – permanent sample plots
RKAP       Rencana Kerja dan Anggaran Pembelanjaan – Annual working plan and budget
RKL        Rencana Kerja Lima Tahun – Five year operations plan
RKPH       Rencana Kerja Pengelolaan Hutan - Forest Management Plan (20 year)
RKT        Rencana Kerja Tahunan – Annual operating plan
RIL        Reduced Impact Logging
RO         Rencana Operasi – Operating Plan Document
RTRWP             Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi – Provincial spatial/land use plans
SFM               Sustainable Forest Management
SK                Surat Keputusan - Decree Letter
SPSI              Serikat Pekerja Seluruh Indonesia – Indonesian Laborers Union
TGHK              Tata Guna Hutan Kesepakatan – Agreement on Forest Use Plan
TN                Taman Nasional – National Park
TPTI              Tebang Pilih Tanaman Indonesia (Indonesian selective cutting and planting
                  system)
TPTJ              Tebang Pilih Tanaman Jalur (Selective cutting and line planting system)
USAID             United States Agency for Interantional Development


      PENDAHULUAN

      Laporan ini menjelaskan temuan-temuan dari penilaian sertifikasi independen yang dilakukan
      oleh tim spesialis yang mewakili Program SmartWood dari Rainforest Alliance. Tujuan
      penilaian tersebut adalah untuk mengevaluasi kelestarian ekologi, ekonomi dan sosial dari
      pengelolaan konsesi hutan oleh PT Erna Djuliawati (yang setelah ini disebut sebagai PT Erna
      atau Perusahaan). Penilaian dilaksanakan bersama-sama dengan tim dari lembaga sertifikasi
      yang diakreditasi oleh PT TUV International Indonesia. Menurut Joint Certification Protocol
      antara FSC dan LEI, PT Erna Djuliawati harus memenuhi persyaratan dari sistem LEI dan
      FSC untuk mendapatkan sertifikat.

      Laporan ini hanya fokus pada hasil penilaian dengan sistem FSC1. Laporan ini berisi lima
      bagian tentang informasi dan temuan-temuan. Bagian I hingga III akan menjadi informasi
      publik mengenai pelaksanaan kegiatan pengelolaan hutan yang bisa didistribusikan oleh
      SmartWood atau Forest Stewardship Council (FSC) kepada pihak-pihak yang
      berkepentingan. Bagian IV, V dan lampiran-lampiran merupakan bagian yang rahasia, yang
      akan direview oleh staf SmartWood dan FSC yang berwenang dan reviewer yang terikat
      dengan kesepakatan kerahasiaan.

      Sebagian besar dari isi laporan ini ditulis setelah penilaian pada bulan Juli 2003 dan
      difinalisasi pada bulan April 2004. Perusahaan mereview laporan dan menyampaikan
      komentar kepada SmartWood pada bulan Oktober 2003. Tim peer reviewer membaca draf
      laporan dan komentar perusahaan dan menyampaikan laporan mereka ke SmartWood pada
      bulan Desember 2003. Setelah review input secara substansial ini, dan tanggapan pada peer
      reviewer dan perusahaan untuk semua komentar, SmartWood menyelesaikan laporan
      sertifikasi dengan Prekondisi pada bulan April 2004, dan laporan sertifikasi yang terahir pada
      bulan July 2005.

      Tujuan dari Program SmartWood adalah untuk mengakui kepengurusan lahan yang
      bertanggungjawab melalui evaluasi independen dan sertifikasi praktek-praktek kehutanan.
      Kegiatan kehutanan yang mendapatkan sertifikasi SmartWood bisa menggunakan label
      SmartWood untuk pemasaran dan iklan pada publik.




1
    Untuk hasil dari proses penilaian dengan sistem LEI, silakan hubungi LEI pada www.lei.or.id .
1. RINGKASAN UMUM

     1.1.      Nama dan Informasi Perusahaan
              Nama sumber:    PT Erna Djuliawati
              Contact Person:     Ir. Iwan Djuanda, Director
              Alamat:             Kota BNI, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 1
                                  Jakarta 10220, Indonesia
              Tel:                (021) 570-8558
              Fax:                (021) 574-5777
              E-mail:             id@lyman.co.id



     1.2.      Latar Belakang Umum

A.          Jenis Operasional

     PT Erna Djuliawati (‘Perusahaan’ atau ‘PT Erna’) saat ini menjalankan bisnisnya pada konsesi hutan dan
     pabrik kayu lapis. Konsesi HPH terletak di Kalimantan Tengah, Kabupaten Seruyan, Kecamatan
     Seruyan Hulu. Pabriknya berlokasi di Desa Kayu Tunu, Kecamatan Sanggau Kapuas, Kabupaten
     Sanggau, Kalimantan Barat.

     PT Erna merupakan anak perusahaan dari Grup Lyman, yang memiliki 98 persen saham dalam PT Erna.
     Sisa dua persennya dimiliki oleh 17 koperasi lokal. Grup Lyman merupakan konglomerat besar yang
     dimiliki sebuah keluarga dengan jenis bisnis dalam manufakturing, real estate perdagangan dan
     perumahan. PT Erna merupakan satu-satunya bisnis mereka dalam sektor pengelolaan hutan alam.
     Ketujuhbelas koperasi lokal tersebut terdiri dari 10 Koperasi Unit Desa (dengan kepemilikan individu
     lokal) dan satu Koperasi Karyawan (dengan kepemilikan oleh berbagai koperasi pemerintah), dan satu
     Koperasi Karyawan Perusahaan (dengan kepemilikan oleh pegawai perusaan).

     Luas kawasan konsesi ini adalah 184,206 hektar, sebagaimana yang diijinkan dalam SK Menteri pada
     tahun 1999. Ijin2 untuk pabrik kayu lapis diperbaharui pada tahun 1995 yang menggunakan kapasitas
     operasional sebesar 203,900 m3/tahun sebagai berikut:

                                             Kapasitas ijin    Kapasitas
                        Jenis Produk            (m3.)          terpasang
                                                                  (m3.)
                        Kayu gergajian           18,000          23,400
                        Kayu lapis              134,000         174,200
                        Papan blok               27,900          36,270
                        Polyester                24,000          31,200
                        Total                   203,900         265,070

     Saat ini pabrik kayu lapis beroperasi dengan dua shift. Menurut diskusi dengan manajemen senior, 80%
     pasokan bahan baku log dalam pabrik tersebut berasal dari kawasan HPH PT. Erna.



2
    Dirjen Industri Aneka No. 210/DJA/PP/D.IV/XI/1995 (7th November)


PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                      Page 5                 July 2005
B.       Status Keuangan

     Pada tahun 2001 penerimaan kotor PT Erna mencapai 590.5 milyar rupiah, lebih rendah dibandingkan
     dengan 599.7 milyar rupiah pada tahun 2000. PT Erna mengalami penurunan yang tajam dalam
     penjualan sejak tahun 2000 (lihat Tabel 17). Keuntungan bersih turun dari 20.3 milyar rupiah pada
     tahun 2000 menjadi 2.2 milyar pada tahun 2001 dan merosot tajam pada titik terendah pada tahun 2002
     ketika perusahaan tersebut hanya mampu membukukan keuntungan sebesar 70 juta rupiah saja.
     Penurunan keuntungan perusahaan ini disebabkan oleh penurunan harga kayu lapis dari US$350-400/m3
     hingga US$225/m3. Nilai tukar juga turut memperburuk pendapatan dari ekspor. Dalam masa yang
     sama juga dicatat bahwa Perusahaan juga mengalami turunnya pasokan log sebesar 50% kepada industri
     karena sumber-sumber log lain menjadi langka dan Perusahaan hanya beroperasi dengan pasokan log
     dari konsesi Erna saja.

C.       Manajemen dan Kegiatan Operasional

     PT Erna mempekerjakan kira-kira 1,400 orang di HPH dan lebih dari 4,000 di pabrik pengolahan kayu
     lapis. Dewan Direktur yang terdiri dari empat orang memimpin Perusahaan ini. Eksekutifnya terdiri dari
     enam anggota. Manajer camp untuk konsesi HPH melapor langsung kepada Dewan Direktur.

     Di bawah manajer camp ada lima departemen:
     • Produksi,
     • Pemeliharaan dan Logistik,
     • Personalia dan Administrasi Umum
     • Asistensi Hutan,
     • Asistensi Masyarakat.

     Terdapat dua departemen yang juga melapor langsung kepada Manajer Camp, namun sifatnya lintas
     sektor, dan departemen-departemen ini adalah:
     • Perencanaan dan Analisis Operasional
     • Audit internal.

     Di bawah departemen ada seksi-seksi. Departemen Produksi dibagi menjadi lima seksi:
     • Tebangan dan yarding,
     • Pembangunan jalan,
     • Pemeliharaan jalan,
     • Petak A dan B.

     Petak A dan B mewakili dua kawasan manajemen dari konsesi itu sendiri. Konsesi tersebut dibagi
     menjadi separuh yang beroperasi sebagian besar di utara-selatan, dan sepanjang jalan utama, yang secara
     umum mengikuti batas daerah aliran sungai dari dua sungai yang melewati konsesi itu.

     Departemen Pemeliharaan meliputi 9 seksi, yang sebagian besar berhubungan dengan pemeliharaan
     kendaraan, truk, mesin, dan traktor. Departemen Personalia terdiri dari empat seksi, yang meliputi staf
     klinik. Asistensi Hutan meliputi Konservasi dan PENgelolaan hutan, Riset dan Inventarisasi, Monitoring,




PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                      Page 6                  July 2005
     Penanaman; sedangkan Asistensi Masyarakat terdiri dari 4 seksi yaitu PMDH, Masyarakat, Pendidikan
     dan Pengolahan Data.

     PT Erna mempekerjakan kira-kira 1,406 orang pada Unit Pengelolaan 2, yang merupakan kegiatan
     operasional konsesi (sedangkan unit 1 adalah pabrik kayu lapis), sebagai berikut: 400 pada produksi; 400
     pada pemeliharaan dan logistik (MLD); 125 pada teknik dan analisis operasional (FEOA); 260 pada
     administrasi umum dan personalia (PGA); 110 pada asistensi kehutanan (DPH); 70 pada logpond; dan
     10 staf dan 40 pekerja pada asistensi masyarakat (PMDH).

     Gaji untuk pekerja lebih tinggi dari rata-rata untuk industri. Para pekerja biasanya mendapatkan bayaran
     untuk 40 jam kerja seminggu ditambah lembur. Operator tebangan dan penyaradan menerima gaji pokok
     plus bonus yang didasarkan pada output. Sebagai contoh, standar pokok untuk penebang adalah sekitar
     Rp 512,000/bulan, plus insentif yang dapat mencapai lebih dari satu juta rupiah per bulan. Perusahaan
     membayar ‘bonus khusus’ untuk semua pegawai apabila mereka mencapai target dalam tahun itu. Selain
     itu, Perusahaan juga telah menetapkan insentif untuk RIL, untuk operator penebang dan penyarad.
     Semua pekerja (yang dibayar harian atau bulanan) memperoleh bonus, asuransi dan kompensasi untuk
     kecelakaan atau kematian, yang jumlahnya tergantung pada rumus-rumus tertentu yang berlaku.
     Asuransi dan kecelakaan kerja dibayar dan dikompensasikan menurut aturan pemerintah dengan
     mengikuti aturan Jamsostek.

     PT Erna memiliki banyak dokumen perencanaan, pedoman, dan laporan-laporan pada kantor
     basecampnya. Total Standard Operating Procedures (SOP)-nya saja berjumlah kira-kira 209. Dokumen-
     dokumen ini menyentuk setiap aspek kegiatan operasional, mulai dari logging dan produksi hingga
     survey hidupan liar sampai bantuan yang diberikan kepada masyarakat. Pada tingkat yang paling umum
     ada pernyataan visi dan misi. Visi dan misi ini kemudian dijabarkan dalam sebuah rencana pengelolaan,
     yang terakhir diperbaharui pada 1 Januari 2003. Dari rencana pengelolaan didapatkan SOP. SOP-SOP ini
     kemudian dibagikan kepada kepala-kepala Departemen.

     Sebagai bagian dari operasional pengelolaannya, PT Erna mendirikan Departemen Auditing pada tahun
     2000. Sebagaimana tersebut di atas, Departemen ini melaporkan langsung kepada manajer camp. Bagian
     ini didirikan untuk mengembangkan audit berdasar kriteria FSC dan LEI, dan melakukan review
     bulanan. Review-review terhadap departemen dilakukan oleh tim ad-hoc yang terdiri dari staf dari luar
     departemen yang dinilai, dan laporan-laporan itu disampaikan langsung kepada manajer camp.

D.       Lamanya beroperasi

     Perusahaan induknya, PT Lyman Investindo, telah beroperasi dengan berbagai nama dan bentuk sejak
     akhir tahun 1950an, ketika mereka mulai sebagai perusahaan ekspor impor untuk berbagai produk non-
     kayu dan non-hutan. Kemudian mereka mendapatkan identitas perusahaan yang sekarang pada tahun
     1989.

     PT Erna membentuk organisasi perusahaan ini pada tanggal 27 Oktober 1978, sebagai anak perusahaan
     dari salah satu pendahulu Lyman (PT Satya Djaya Raya), dan mendapatkan ijin untuk kegiatan
     kehutanan di Kalimantan Barat dari Departemen Pertanian (yang mengelola sektor kehutanan sebelum
     pembentukan Departemen Kehutanan) pada tahun itu (SK FA/N/020/IV/78). Pada tahun 1984, PT Erna
     bermerger dengan PT Satya Volunteer Raya (yang berafiliasi dengan PT Satya Djaya Raya), yang
     menerima SK HPH tersendiri pada tahun 1979 (SK HPH 242/Kpts/Um/4/1979). Perusahaan baru ini
     kemudian menerima ijin baru dari Departemen Kehutanan, yang mengakui merger tersebut, pada tahun
     1087 (SK HPH 238/Kpts-IV/1987).



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                       Page 7                  July 2005
     Pada tahun 1994, PT Erna dibeli oleh PT Lyman Investindo. Perubahan kepemilikan ini diakui melalui
     Surat Keputusan yang baru dari Menteri Kehutanan (SK 35/Kpts-II/94). SK menteri terbaru, yang
     merevisi dan memperpanjang ijin, dikeluarkan pada tanggal 18 Januari 1999, SK 15/Kpts-IV/1999. Luas
     HPH sekarang ini adalah 184,206 hektar dan diperpanjang untuk 70 tahun. Menurut kerangka hukum
     kehutanan, ijin HPH yang menyelenggarakan TPTI adalah 35 tahun. Namun untuk HPH yang
     menggunakan TPTJ, lamanya ijin adalah 70 tahun. Sistem TPTJ merupakan konsep yang dikembangkan
     oleh Departemen Kehutanan. Waktu tujuh puluh tahun tersebut merupakan pengakuan atas fakta bhawa
     penanaman sistematis yang dianggap sebagai investasi hanya bisa diwujudkan dalam waktu siklus dua
     rotasi (70 tahun).

E.          Tanggal Pertama disertifikasi

            September 6, 2005

F.          Garis Bujur dan Lintang dari unit pengelolaan yang disertifikasi

     Perkiraan titik pusat dari konsesi hutan tersebut adalah pada 111o 54’ 30” Bujur Timur dan 01o 04’ 40”
     Lintang Selatan. Radius kurang lebih 25 km dari titik ini menjelaskan besarnya konsesi secara umum.

     Manajemen menggunakan grid pemetaan menurut abjad dan nomor yang telah membuat petak-petak
     peta seluas 100 hektar dan berfungsi sebagai dasar untuk semua kegiatan perencanaan dan pengendalian
     operasional. Referensi pada tempat-tempat yang dikunjungi selama penilaian dapat dirujuk dengan grid
     ini dengan akurasi yang tinggi.

     1.3.      Hutan dan Sistem Pengelolaannya

A.          Jenis hutan dan sejarah tata guna lahan

     Kawasan konsesi terletak dekat pusat pulau Kalimantan yang kira-kira satu derajat dari bagian selatan
     ekuator. Beriklim basah, dengan rata-rata curah hujan sebesar 3600 mm/tahun (RPHL 2003). Elevasi
     berkisar dari 111 m hingga 1082 di atas air laut, dengan sebagian besar kawasan terletak di bawah 500 m
     dari permukaan air laut. Jenis tanah sebagian besar adalah podsolik merah-kuning (56% dari kawasan)
     dan latosol (44% dari kawasan).

     Tidak ada peta jenis hutan yang lengkap untuk kawasan itu namun dari kunjungan lapangan dan peta
     topografi jelas bahwa tutupan hutan alam di sepanjang konsesi ini merupakan hutan dipterocarpacea
     perbukitan yang hampir homogen. Hutan dipterocarpacea dataran rendah ditemukan pada lembah-
     lembah sungai yang lebih rendah (di bawah 300m dpl) pada tanah-tanah aluvial. Ada hutan pegunungan
     dataran rendah di puncak-puncak tertinggi namun tidak dilaporkan. Paling tidak ada satu hutan rawa air
     tawar yang dikenal sebagai situs budaya Sepan Biha. Kawasan inipun belum dipetakan namun mencakup
     beberapa hektar. Perbedaan minor dalam jenis hutan ini tidak dipertimbangkan sebagai kepentingan
     komersial. Hanya hutan dipterocarp saja yang dijadwalkan akan ditebang.

     Hutan ini merupakan hutan hujan daun lebar tropis pada tanah-tanah lahan kering. Sebagian besar
     spesies kayu termasuk dalam famili Dipterocarpaceae yang berasal dari genera Shorea, Dipterocarpus
     dan Hopea. Spesies lainnya meliputi Kompasia spp, dan Eusideroxylon zwageri.

     Konsesi ini sekarang telah memasuki tahun ke-15 dari siklus penebangan 35 tahun. Kegiatan
     penebangan dimulai pada tahun 1989 dengan menggunakan sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia


PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                        Page 8                  July 2005
    (TPTI) yang menerapkan batas diameter tebangan sebesar 60 cm. Pada tahun produksi 1999/2000,
    Departemen Kehutanan menerapkan perubahan sistem silvikultur dengan Tebang Pilih Tanam Jalur
    (TPTJ). Perusahaan itu menerapkan kedua sistem menurut kriteria kelas kelerengan.

    Logging dilakukan dengan menggunakan sistem penebangan darat dengan kerapatan jalan kira-kira 19.4
    m/ha (berdasar pada pengukuran peta selama 3 RKT).

    Sungai Seruyan, dengan kawasan ladang berpindah yang ekstensif, merupakan batas konsesi pada bagian
    Selatan. Demikian pula, Sungai Kaleh membatasi konsesi di bagian timur. Batas utara barat adalah
    kawasan hutan lindung yang juga berbatasan dengan Kalimantan Barat. Di sebelah barat, timur dan
    timur-utara dari konsesi itu ada perusahaan konsesi lain yang mengelola hutan.

    Dua sistem sungai besar dengan hulu di bagian utara konsesi, membagi konsesi tersebut dengan arah
    Utara Selatan. Drainase utama ini memiliki kawasan perladangan berpindah di sepanjang jalurnya.
    Manajemen membagi konsesi menjadi Blok A dan Blok B mengikuti arah daerah tangkapan air dari
    sistem sungai ini di dalam konsesinya.

B. Luasan unit pengelolaan hutan yang disertifikasi, dan luas hutan produksi, konservasi,
   dan/atau restorasi

        Tabel 1            Kelas tata guna lahan dari unit pengelolaan hutan (hingga 1999)

                                                         Blok pengelolaan
                  Tata Guna Lahan                    Petak ‘A’       Petak ‘B’       Luas Total
                                                                                        (ha)
        KAWASAN PRODUKSI                              82,314              86,276      168,590
                        Hutan primer                  51,761              60,487      112,248
              Kawasan bekas tebangan                  25,376              16,513       41,889
                  Kawasan non-hutan                    5,177               9,276       14,453

        HUTAN NON-PRODUKSI                            3,563               5,045         8,608
                       Kelerengan >40%                1,186                886          2,072
                Zona penyanggan riparian              1,877               1,444         3,321
         Cadangan Keanekaragaman Hayati                500                 200           700
            Zona penyangga hutan lindung                -                 2,515         2,515

        KAWASAN TIDAK EFEKTIF                         4,048               2,960         7,008
        (termasuk dalam dua kategori di atas)
                                       Sungai          173                 166           339
                         Petak Ukur Permanen           400                 300           700
                   (bagian dari kawasan hutan yang
                                       dikerjakan)
                          Persemaian                   500                 200           700
                        Areal Khusus                   553                 567          1,120
                          Perumahan                    34                   41            75
                 Camp, Workshop, dsb.                 2,388               1,686         4,074
        LUAS TOTAL KONSESI                                                             184,206




PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                       Page 9               July 2005
    Menurut ijin pengelolaan hutan terbaru yang diterbitkan pada tahun 1999 (SK HPH Pembaharuan No.
    15/Kpts-IV/1999), luas total kawasan konsesi adalah 184,206 ha. Perusahaan membagi kawasan ini
    menjadi Blocks ‘A’ di bagian Timur, dan Block ‘B’ di bagian Barat, yang mengikuti arah tangkapan dari
    sistem sungai yang mengalir lewat konsesi. Tabel di atas menggambarkan kawasan konsesi menurut
    blok pengelolaan dan kategori tata guna lahan secara umum.

    Sejak awal 1999, Perusahaan telah menebang kira-kira 24,562 hektar lagi hutan primer hingga akhir
    tahun 2003 dengan rata-rata tebangannya seluas 4400 ha/tahun (lihat Tabel 2). Hingga 1 Januari 2004,
    ini berarti masih ada 20 tahun lagi untuk memanfaatkan hutan alam.

C. Jatah Tebangan Tahunan yang dicakup oleh rencana pengelolaan

    Sebagaimana dengan konsesi hutan alam lain di Indonesia, mekanisme kontrol penebangan utama adalah
    berdasar luasan. Luas total hutan produksi dikelola dengan asumsi siklus tebang selama 35 tahun dan
    konsekuensinya luasan itu dibagi-bagi menjadi 35 blok tebang tahunan yang disebut sebagai RKT.
    Inventarisasi dengan intensitas rendah untuk seluruh kawasan konsesi ini memberikan parameter stok
    tegakan dasar.

    Pertumbuhan diasumsikan sebagai riap tahunan sebesar 1 m3/ha. Riap tiap pohon dinyatakan sebagai 1
    cm pertumbuhan riap per pohon/tahun. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa pertumbuhan riap akan
    terjadi dengan minimum 25 batang/ha yang diameternya berkisar antara 20 hingga 49 cm (59cm dalam
    kawasan hutan yang digolongkan sebagai “hutan produksi terbatas”).

    Dua tahun sebelum penebangan, dilakukan inventarisasi 100 persen pada usulan RKT untuk semua
    batang pohon komersial dan berkualitas dan lebih besar daripada batas minimum diameter yang dapat
    ditebang. Inventarisasi itu dilakukan dan dikompilasikan berdasar blok yang kemudian membentuk satu
    petak dengan luasan 100 ha. Hasil kompilasi cruising tahunan (LHC) disampaikan kepada Departemen
    Kehutanan. Volume ini dikurangi lagi dengan faktor pengurang untuk cacat dan limbah (0.8) dan untuk
    memberikan margin keamanan (0.8). Kombinasi pembobotan faktor pengurang ini menjadi efek
    multiplier sebesar 0.64 pada volume cruising operasional. Hasil volume bersih ini kemudian digunakan
    oleh Departemen Kehutanan untuk menyusun target produksi tahunan atau Jatah Penebangan Tahunan
    (JPT) yang khusus pada kawasan tebangan pada tahun yang bersangkutan dan juga khusus pada masing-
    masing petak 100 ha menurut komposisi spesies.

    Departemen Kehutanan kemudian menyetujui kawasan RKT tahunan dan Perusahaan dapat menebang di
    dalam RKT hinnga volume maksimum yang disyaratkan oleh JPT pada petak per petak.

    Pelaporan kawasan yang ditebang tidak selalu berhubungan dengan luasan total RKT karena sering ada
    kawasan yang curam atau kawasan dengan miskin tegakan dalam RKT. RKT yang tidak terealisasi ini
    dapat menambah luasan RKT tahun berikutnya jika kawasan tersebut secara signifikan merupakan
    kawasan bersambungan yang belum ditebang karena kendala operasional seperti cuaca yang basah.
    Namun penting diketahui bahwa batas RKT biasanya geometris dan kadang-kadang meninggalkan
    kawasan penyangga yang signifikan, khususnya yang dekat dengan kawasan ladang berpindah.
    Akibatnya adalah bahwa kawasan hutan primer yang “dihabiskan” oleh tiap RKT sering lebih luas
    daripada luasan RKT yang seharusnya.

    Tabel 1 menunjukkan sisa luasan hutan primer seluas 112,248 hektar pada awal 1999. Dengan
    menggunakan perkiraan tambahan 24,562 yang akan ditebang menjelang akhir tahun 2003, sisa hutan
    primer tersebut menjadi 87,686 ha pada awal tahun 2004. Luasan ini akan habis selama duapuluh tahun



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                    Page 10                 July 2005
    kedepan untuk menyelesaikan ijin selama 35 tahun sesuai siklus tebang. Namun. Pada tahun 1998/99,
    Perusahaan berpartisipasi dalam uji coba penelitian LITBANG yang menyebabkan penebangan 1000
    hektar lagi sehingga mengurangi hutan alam hingga luasnya hanya 86,686 pada awal tahun 2004.

    Pada tingkat tebangan saat ini seluas 4,400 ha/tahun, sisa luasan hutan alam primer ini secara teoritis
    dapat digunakan hanya sekitar 19.7 tahun dan bukan 20 tahun. Namun, penelitian pada peta tata ruang
    jangka panjang dan citra satelit terbaru semakin meragukan proyeksi ini.

    Kawasan perladangan berpindah oada citra satelit semakin ekstensif daripada yang ditunjukkan pada
    peta konsesi dengan skala 1:100,000 yang menunjukkan bahwa luasan hutan virgin lebih kecil daripada
    yang diperkirakan. Juga praktek-praktek meninggalkan penyangga di sepanjang ladang yang ada
    sekarang menyebabkan isolasi dan pengurangan luasan hutan virgin efektif.

        Tabel 2          Data Produksi Aktual sejak mulai pembalakan

                       Data produksi sejak awal pembalakan
                                (ringkasan luas dan volume)
                      Tahun          Ha           m3          m3/ha
                      1989         1,300         56,682        43.6
                      1990         2,683        150,766        56.2
                      1991         4,200        179,179        42.7
                      1992         4,072        189,901        46.6
                      1993         3,110        202,361        65.1
                      1994         4,100        202,378        49.4
                      1995         4,229        208,435        49.3
                      1996         4,894        251,211        51.3
                      1997         4,617        268,750        58.2
                      1998         4,374        265,518        60.7
                      1999         4,691        290,329        61.9
                      2000         3,228        284,914        88.3
                      2000         3,702        204,711        55.3
                      2001         2,388        133,370        55.8
                      2002         6,1533       147,246       23.94
                      2003        (2,230)5     (75,500)6       33.8
                                  (62,141)

    Selama penilaian, upaya-upaya untuk mengidentifikasi luasan aktual (RKT) untuk 20 tahun ke depan
    (siklus tebang tahun pertama) berujung pada kerugian. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini,
    sangat jelas bahwa Perusahaan perlu memeriksa kembali rencana tata ruangnya dalam konteks 35 tahun
    siklus tebang dan tingkat penebangan saat ini.

3
  RKT 2002 mencakup sisa jatah seluas 2,241 ha dari tahun 2001 dengan realisasi volume sebesar
46,392m3.
4
  RKT 2002 menunjukkan penurunan tajam pada vol/ha. Hal ini diverifikasi dengan memeriksa laporan
LHC pada tahun yang bersangkutan. Recovery aktualnya adalah 70% dari volume cruising. Pemeriksaan
lapangan pada RKT 2002 juga menunjukkan dampak rendah dan struktur tegakan yang khusus untuk luasan
volume rendah.
5
  Proyeksi area yang akan ditebang adalah 4,400 ha dalam RKT 2003.
6
  Produksi aktual hingga akhir June 2003


PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                            Page 11          July 2005
    Pada tahun 1999, Perusahaan, dengan dorongan dari Departemen Kehutanan, sepakat untuk
    melaksanakan sistem silvikultur baru pada konsesinya. Sistem baru tersebut, TPTJ merupakan
    modifikasi dari sistem TPTI biasa dalam dua aspek yang sangat mendasar. Pertama, sistem tersebut
    mengurangi diameter minimum tebangan hingga 40 cm dan kedua, sistem tersebut mensyaratkan
    penanaman jalur yang sistematis di seluruh areal yang ditebang. Sebagai imbalan atas pelaksanaan
    sistem ini bagi perusahaan adalah perpanjangan ijin konsesi selama masa 70 tahun.

    Pada tahun 1998/99 Perusahaan bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
    Departemen Kehutanan dalam melaksanakan uji coba seluas 1000 hektar untuk menguji sistem TPTJ.
    Hasil dari pembalakan hingga batas diameter 40 cm menyebabkan kerusakan parah pada tegangan
    tinggal. Laporan7 LITBANG sendiri meragukan viabilitas sistem TPTJ jika diadopsi begitu saya.
    Kunjungan lapangan ke areal uji coba tersebut menegaskan derajat kerusakan yang disebabkan oleh
    pelaksanakan sistem TPTJ.

        Tabel 3          Statistik Rencana Produksi dan Produksi Aktual menurut Sistem silvikultur
                         (selama lima tahun terakhir sejak pelaksanaan sistem TPTJ dan penerbitan SK baru
                         selama 70 tahun)

                                               Rencana                                  Aktual
                Tahun      Sistem     Luas (ha)        Volume         Luas (ha)           Volume       Vol/ha
                                                        (m3)                               (cu.m.)
             1999/2000    TPTI                   0              -                   -              -        -
                          TPTJ               4,500        320,000               4,456       284,914      63.9
             2000         TPTI                   0              -                   -              -        -
                          TPTJ               4,400        266,497               3,702       204,711      55.3
             2001         TPTI                   0              -                   -              -        -
                          TPTJ               5,398        235,436               2,343       133,371      56.9
             2002         TPTI                 150          4,674                 150          4,489     29.9
                          TPTJ               6,493        178,551               6,003       142,757      23.8
             2003         TPTI                 950         44,700               (322)       (13,506)        -
                          TPTJ               3,450        116,300             (1,908)       (61,987)



    Berdasar hasil ujicoba dan pengamatan mereka sendiri, Perusahaan memutuskan untuk memodifikasi
    sistem TPTJ. Tabel 4 menggambarkan ringkasan modifikasi dibandingkan dengan konsep awal
    sebagaimana yang diwajibkan dalam dokumen SK mereka.

    Perusahaan juga telah membuat perkiraan riap tumbuh untuk menjustifikasi asumsi AAC dasar.
    Kemudian dilakukan pengambilan contoh pasca tebangan pada 3 RKT (1999/00, 2000, and 2001). Rata-
    rata tegakan pohon tinggal dalam kelas diameter 20-50 cm berjumlah 37 pohon/ha. Ditentukan juga
    rata-rata tinggi untuk kelas diameter semua spesies.

    Perusahaan telah mengembangkan tiga Petak Ukur Permanen (PUP). PUP pertama didirikan pada tahun
    1993 yang sekarang telah menghasilkan pengukuran pertumbuhan selama 5 tahun dengan total luasan 6


7
  LITBANG telah mempublikasikan dua makalah mengenai ujicoba ini “Ujicoba Sistem Silvikultur Tebang
Pilih dan Tanam Jalur (TPTJ di Kelompok Hutan Seruyan, Kaltimantan Tengah”, Harun Alrasyid, bulletin
PenelitianHutan, FERDA, No. 623/2000, and “Pengaruh Penebangan Mekanis Dengan Sistem TPTJ
Terhadap Kerusakan Tegakan Tinggal di Kelompok Hutan Seruyan, Kaltimantan Tengah”, Yetti Heryati &
Harun Alrasjid, Buletin Penelitian Hutan, FERDA, No.630/2002


PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                          Page 12                      July 2005
    hektar. Pengukuran ini telah menentukan rata-rata pertumbuhan diameter sebesar 1.2 cm/tahun untuk
    semua kelas diameter di atas 20 cm dan untuk semua spesies.

Tabel 4         Perbandingan antara Konsep TPTJ dan Praktek Aktualnya oleh Perusahaan

     Konsep awal TPTJ                               Modifikasi Perusahaan
1    Dimaksudkan untuk diterapkan pada hutan        Juga diaplikasikan pada hutan primer
     sekunder (bekas tebangan)
2    TPTJ diterapkan pada kelerengan yang           Perusahaan menunjuk kawasan untuk ditebang dengan
     kurang dari 25% dan elevasi yang kurang        menggunakan TPTI dan TPTJ berdasar penilaian
     dari 500m                                      topografi yang menyeluruh
3    Batas diameter tebangan adalah 40 cm+          Perusahaan mencoba batas 40 cm+ ini pada tahun
                                                    pertama pelaksanaan tetapi mengabaikannya dan
                                                    menetapkan batas diameter 55 cm+ (40 cm+ untuk
                                                    Bangkirai dan Keruing) setelah mengevaluasi dampak
                                                    yang besar pada pengalaman ini dan uji coba
                                                    LITBANG.
4    Jalur yang dibuat setiap 25 m; dibersihkan     Dilaksanakan sebagaimana aturan
     hingga lebarnya 3 m; ditanami setiap 5
     meter.
5    Pembersihan gulma pada jalur tanamn            Sedang dilaksanakan
     selebar 3m setelah 6 bulan, 1 tahun dan 2
     tahun
6    Pembebasan vertikal dalam jalur selebar 5m     Masih terlalu awal namun Perusahaan menyatakan
     yang masuk pada jalur tanam pada tahun ke      bahwa mereka tidak bermaksud untuk menjalankan
     4, 6 dan 10                                    kegiatan ini. Pemeriksaan lapangan memverifikasi
                                                    bahwa perlakuan seperti ini tidak bisa dilakukan.

    Untuk memperkirakan AAC, Perusahaan menggunakan cadangan minimum pohon inti sebanyak 25
    pohon per hektar seperti standar yang diwajibkan oleh Departemen Kehutanan meskipun cadangan
    aktualnya 40.6 pohon/ha. Perusahaan kemudian mengasumsikan dengan mortalitas sebesar 25% maka
    cadangan bersih untuk rotasi kedua adalah 19 pohon/ha. Dengan menggunakan persamaan volume
    standar terhadap hubungan tinggi dan diameter, maka Perusahaan memperkirakan bahwa volume yang
    tersedia pada tahun ke 25, 30, 32, 33, 34, dan 36 adalah sebagai berikut.

Tabel 5         Perkiraan jadwal volume/hektar komersial untuk rotasi kedua

                                                                          Vol/Ha Komersial pada
                                                                                tahun ke:
            Kelas      Batang          Asumsi    Rata-rata    Asumsi
            diame       pohon       batang pohon   riap        tinggi     25       30           35
              ter     komersial       komersial  diameter    rata-rata
                      aktual/Ha8        /Ha9
             20-29      17.6             8         1.2         1910       22.0     28.9        34.7
             30-39      12.6             6         1.2          20        26.1     32.8        38.6
             40-49       7.7             4         1.2          21        22.9     28.1        32.4

8
   Jumlah batang aktual per hektar berdasarkan sampling pada RKT 1999/2000, 2000, dan 2001
9
   Angka ini adalah asumsi Dephut 25 pohon inti/ha pada sistem TPTI dengan tingkat mortalitas 25%
10
    Satu meter kurang yang digunakan untuk tahun ke 25.


PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                      Page 13                   July 2005
              50-59       2.7            2           1.2         22        12.4      14.9    16.9
              Total       40.6           19           -           -        83.4      104.4   122.6


      Pemeriksaan lapangan dilakukan pada dua dari empat PUP dan pada areal bekas tebangan berumur 10
      tahun. Asumsi dan pengukuran pertumbuhan oleh perusahaan bisa diverifikasi dengan observasi
      lapangan dan dianggap dapat dipercaya untuk mencapai tujuan penghitungan AAC.

D. Gambaran umum tentang tujuan sistem/rencana pengelolaan

      Misi PT Erna Djuliawati adalah berkomitmen pada pengelolan hutan berkelanjutan melalui pencapaian
      tujuan-tujuan berikut ini:
              - Mengikuti semua peraturan dan undang-undang yang berhubungan dengan hukum,
                  lingkungan, sosial, operasional dan keselamatan.
              - Untuk meningkatkan pengembangan masyarakat di dalam dan sekitar konsesi dalam rangka
                  mewujudkan hubungan dengan masyarakat yang lebih baik.
              - Mengoptimalkan keuntungan dari hutan dan meminimalkan limbah.
              - Meminimalkan dampak lingkungan dari semua kegiatannya.
              - Bekerja keras untuk mencapai pengelolaan hutan berkelanjutan.

      Rencana duapuluh tahun pertama disiapkan pada tahun 1979. Pembalakan dimulai pada 1988/89 setelah
      menyelesaikan infrastruktur jalan koridor dan camp.

      Pada tahun 1999, Perusahaan diberikan ijin untuk 70 tahun karena bersedia melaksanakan sistem TPTJ.
      Rencana pengelolaan yang disiapkan dengan merujuk SK ini sebenarnya mencakup periode rotasi 35
      tahun penuh. Rencana jangka panjang kedua membagi konsesi menjadi Blok A dan Blok B dengan
      rencana untuk keberlangsungan operasional pada kedua blok tersebut. Rencana pengelolaan disiapkan
      sesuai dengan semua peraturan pemerintah dan terakhir diperbaharui pada bulan Januari 2003.

      Dengan ijin konsesi yang ada sekarang, Perusahaan memiliki mandat untuk menerapkan sistem TPTI
      atau TPTJ berdasar berbagai kategori kelerengan. Tujuannya adalah untuk menerapkan TPTI pada areal-
      areal dimana kelerengan rata-rata lebih dari 25%.

      Asumsi keseluruhan mengenai sistem TPTJ masih berdasar pada siklus tebang 35 tahun. Keputusan
      perusahaan untuk mengabaikan batas diameter 40cm dan menggantinya dengan batas diameter 55cm (40
      cm untuk Bangkirai dan Keruing), didasarkan pada evaluasi sendiri oleh Perusahaan dan juga hasil
      ujicoba LITBANG mengenai sistem TPTJ.

      Kapasitas perencanaan dan teknik kehutanan pada PT Erna yang sangat berkembang. Semua fungsi-
      fungsi tersebut ada di dalam base camp pada konsesi itu. Standar pemetaan pada tingkat operasional
      sangat bagus. Perusahaan memanfaatkan pemetaan berdasar lapangan ini untuk perencanaan dan
      pengendalian aktifitas pada lokasi jalannya.

      Pembangunan jalan merujuk pada pedoman Departemen Kehutanan dalam hal arah dan lebar jalan
      meskipun sekilas jalan-jalan tampak sempit. Kerapatan jalan diperkirakan sepanjang 19.4 m/ha11 untuk
      tiga tahun lalu, sementara kerapatan jalan keseluruhan dinyatakan oleh Perusahaan kira-kira 17 m/ha.
      Sebagaimana khas untuk sistem pembalakan di darat, kerapatan jalan ini menyebabkan tingginya level
      fragmentasi pada kawasan hutan.

11
     Didapatkan dengan mengambil rata-rata pengukuran peta dari tiga RKT terakhir.


PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                       Page 14                 July 2005
    Jalan-jalan dibangun dengan standar tinggi. Jalan-jalan diperkeras dan dipadatkan dan dibangun untuk
    spesifikasi penggunaan oleh truk di semua musim.

    Semua kegiatan operasional di bawah kontrol Perusahaan. Perusahaan memelihara armada pembangunan
    jalan dan mesin-mesin pembalakan. Peralatan pembangunan jalan terdiri dari 8 unit Cat D-8R dan 14
    unit Cat D-7G atau Komatsu SS185 plus dua eksavator Komatsu dan sejumlah dump truk, grader,
    pemadat jalan dan peralatan pembangunan jalan lainnya.

    Perusahaan memiliki alat tarik yang sangat panjang. Dari kawasan operasional saat ini, log diangkut
    kurang lebih 10 km ke tempat penimbunan kayu sementara pada masing-masing Blok kerja. Dari sini,
    log diangkut sepanjang +/-55 km ke TPK pusat di base camp, dan kemudian diangkut oleh truk ke tujuan
    akhir yang berjarak 97 km ke log pond yang kira-kira jaraknya 10 km ke hulu dari Nanga Pinoh. Dari
    sini, logs kemudian dirakit dan ditarik oleh pontoon (spesies sinker) secara langsung di pabrik mereka di
    Sanggau. Perusahaan memiliki armada mesin-mesin pengangkut plus 14 truk trailer Renault untuk
    angkutan pendek dan 15 truk Kenworth untuk angkutan panjang ke log pond.

    Pemeliharaan peralatan ini dicapai melalui workshop pusat yang sangat besar dan dijalankan secara
    efisien yang dilengkapi dengan workshop di dekat kawasan operasional plus pelayanan yang mobile dan
    truk-truk untuk perbaikan.

    1.4.    Konteks Lingkungan dan Sosial Ekonomi

    Konteks Lingkungan:

    Konsesi tersebut terletak di pusat pegunungan di pulau Kalimantan. Konteks level lanskap dari konsesi
    tersebut merupakan kelerengan berhutan dengan perladangan berpindah dan perumahan di sepanjang
    sungai-sungai utama yang membagi lanskap tersebut. Konsesi tersebut dikelilingi oleh hutan pada semua
    sisi. Pemerintah menetapkan batas hutan lindung daerah aliran sungai hingga ke utara sepanjang 19.6 km
    dari batas konsesi. Sisanya berbatasan dengan konsesi lain. Kawasan tersebut sebagian besar berupa
    hutan dataran rendah dan perbukitan dipterocarpaceae.

    Diperkirakan bahwa 7,000 hingga 10,000 spesies tanaman terdapat dalam hutan dataran rendah di
    Kalimantan, yang membuatnya kaya flora dibanding dengan seluruh Afrika (MacKinnon et al 1996).
    Hutan tersebut memiliki 3 strate dengan kanopi hingga 45m dan tinggi pohon-pohonnya bisa mencapai
    65m. Sesuai dengan namanya, pohon-pohon keluarga Dipterocarpaceae mendominasi hutan dipterocarp
    dataran rendah. Pohon-pohon berkanopi besar ini memiliki kerapatan yang tinggi. Hutan tersebut terdiri
    dari 10% pohon-pohon dan 80% pohon-pohon tinggi dengan kanopi besar (Ashton 1982 dalam
    MacKinnon et al 1996). Pulau Kalimantan merupakan pusat keragaman untuk keluarga ini dengan 267
    spesies, 60%nya endemik (Ashton 1982 dalam MacKinnon et al 1996). Reproduksi dan regenerasi
    pohon-pohon ini mengikuti masa pembungaan dan pembuahan massal sporadis yang dikenal sebagai
    ‘tiang’. Masa pembuahan terjadi rata-rata setiap 4-5 tahun pada lebih dari 90% dipterocarpaceae pada
    kawasan tersebut, yang berbuah secara bersamaan. Diduga bahwa pemicu untuk tiang ini adalah musim
    kemarau yang berkepanjangan karena kejadian angin panas El-Nino (Curren and Leighton 2000).
    Tiang-tiang ini kemungkinan besar merupakan strategi saturasi dimana kelimpahan benih sangat tinggi
    dibanding predator benih sehingga benih-benih itu bisa bertunas. Pada hutan dipterocarp dataran rendah
    di Kalimantan predator benih utamanya adalah babi hutan (Sus barbatus) (Curren and Leighton 2000).




PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                       Page 15                 July 2005
    Ukurannya yang besar, tingkat cadangan yang tinggi dan kualitas kayu yang bagus telah membuat
    spesies dipterocarpaceae menjadi target kegiatan operasional kehutanan sejak tahun 1930an. Pada tahun
    1980an, kegiatan pembalakan secara dramatis meningkat yang menyebabkan degradasi hutan dan
    deforestasi meluas. Formasi hutan dipterocarp dataran rendah biasanya menutupi tanah-tanah di Jawa,
    Sumatera, Kalimantan, Philippina dan Semenanjung Malaysia. Saat ini hutan-hutan tersebut rusak total
    di Jawa dan Philippina. Hutan yang sangat beragam ditemukan pada tanah-tanah aluvial datar pada
    ketinggian yang rendah. Kegiatan logging dan konversi hutan yang intensif telah menghancurkan jenis-
    jenis hutan ini. Hanya 23% yang masih tersisa di Kalimantan. Banyak hutan dipterocarpaceae yang
    masih terdiri dari kawasan-kawasan antara 300m dan 1000 m pada kelerengan yang curam dan topografi
    yang sulit, dan biasanya disebut sebagai hutan dipterocarp perbukitan.

    Hewan mamalia di Kalimantan merupakan yang terkaya di seluruh pulau-pulau di Indonesia dengan 222
    spesies yang dikenal (Sumatera punya 196 dan Jawa 183). Hutan yang paling kaya dengan spesies
    adalah hutan dipterocarpaceae dataran rendah, khususnya hutan-hutan yang terletak pada 300 m di atas
    permukaan laut. Keragaman burung dan mamalia dan juga taksa-taksa yang lain, juga tinggi pada hutan-
    hutan ini. Empatpuluh empat spesies mamalia bersifat endemik di pulau ini, termasuk 5 primata. Salah
    satu dari spesies ini, adalah kera daun merah (Pesbitis rubicunda) ditemukan dalam konsesi dan hutan di
    sekitarnya. Laporan-laporan dari staf lapangan bahwa Orangutan (Pongo pygmaeus) masih ditemukan
    dalam konsesi ini. Primata yang hampir punah ini hanya ditemukan di pulau Kalimantan dan Sumatera.
    Populasi global orangutan menurun drastis dalam duapuluh tahun terakhir dan sekarang ini jumlahnya
    kurang dari 15,000. Konsesi ini juga memiliki Agile Gibbon (Hylobates agilis albibonger ). Harimau
    (Panthera tigris) dan Leopard (Panthera pardus) tidak ada di Borneo. Kucing terbesar adalah Clouded
    leopard (Neofilis nebulosa) yang ditemukan di sepanjang Kalimantan di manapun ada hutan, termasuk
    kawasan PT Erna. Dari 420 jenis burung yang ada di pulau ini, 37 diantaranya adalah endemik, dengan
    25% yang endemik berada di hutan dataran rendah (MacKinnon 1996). Satu spesies burung di
    Kalimantan yang hampir punah dan misterius dilaporkan ada dalam konsesi PT Erna (E. Pollard pers
    obs). Burung Merak Kalimantan (Polyplectron schleiermacheri ) terbatas pada hutan dataran rendah dan
    populasi globalnya kurang dari 1000. Satwa-satwa dari kelompok ikan, reptil dan amfibi kurang begitu
    dikenal di Kalimantan namun tampaknya sama dilihat dari tingginya keragaman dan endemiknya di
    kawasan pegunungan. Sebagai contoh, Kalimantan memiliki kekayaan tertinggi untuk spesies ular (166
    spesies) dan ikan air tawar (394 jenis) dari semua pulau-pulau di Indonesia, termasuk Papua. Kalimantan
    juga memiliki kekayaan tertinggi untuk amfibi di bioregional Sunda. Distribusi taksa ini kurang dikenal
    di pusat Kalimantan, namun dapat diasumsikan bahwa sebagian besar dari mereka ditemukan di hutan-
    hutan dan sungai-sungai di sekitar konsesi PT Erna.

    Konteks sosial ekonomi:

    Keberadaan masyarakat lokal jelas ada di dalam dan di sepanjang konsesi, dalam hal populasinya dan
    tataguna lahan. Mereka dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori dalam hal hubungannya dengan
    konsesi itu: (1) desa-desa di dalam konsesi yang menggunakan kawasan konsesi; (2) desa-desa di luar
    konsesi yang menggunakan kawasan konsesi; dan (3) desa-desa sepanjang koridor jalan yang
    menghubungkan konsesi dengan log pond dan jalan umum.

    Ada 14 desa di dalam konsesi, dan delapan lagi di luar batas selatan dari konsesi tersebut.
    Keduapuluhdua desa ini sebenarnya terdiri dari 24 perkampungan, karena ada dua perkampungan lagi
    yang terletak di kawasan terpisah, namun masih menjadi bagian dari batas administrasi yang sama (yang
    disebut sebagai dusun). Tigabelas dari 14 desa, dan ladang mereka, mengikuti dua sistem sungai besar
    yang mengaliri bagian utara-selatan di sepanjang konsesi. Menurut perkiraan, total populasi dalam
    ketigabelas desa itu sejumlah 4,286 jiwa. Perkiraan lainnya menunjukkan bahwa dalam ketigabelas desa
    tadi, terdapat 895 keluarga yang total jumlah penduduknya sebesar 3,977 jiwa.


PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                     Page 16                 July 2005
    Perkiraan jumlah penduduk dalam Tabel berikut diambil dari Corporate Statement pada tanggal 1
    January 2003, yang juga digunakan dalam Monografi Desa, Maret 2002. Dari Utara ke selatan
    sepanjang Sungai Manjul, terdapat desa dan dusun berikut ini:

          Tabel 6                Statistik tentang Desa-Desa di dalam dan dekat dengan konsesi

                                                                                    Keluarga*
                                    Nama Desa                        Jumlah          (Kepala
                                                                   Penduduk*        Keluarga)
            1a      Nusa Tujuh (Dusun Buntut Sapau)                     -
            1       Buntut Sapau                                       245              56
            2       Tumbang Laku                                       339              71
            3       Tumbang Kubang                                     248              60
            4       Tumbang Sepunduk Hantu                             312              67
            5       Tumbang Gugup                                      524             109
            6       Tumbang Rantau Betung (Dusun Salau)                 -                -
                    Total                                             1,668            363

    Dari utara ke selatan, sepanjang Sungai Seruyan, terdapat desa-desa berikut:
                                                                                     Keluarga
                    Nama Desa                                     Penduduk           (Kepala
                                                                                   Rumahtangga)
            7       Tumbang Posang                                     0
            8       Tumbang Setawai                                   239               48
            9       Tumbang Kasai                                     250               58
            10      Tumbang Darap                                     518              122
            11      Tumbang Bahan                                     428               94
            12      Tumbang Kalam                                     179               43
            13      Tumbang Tusuk Belawan                             161               40
                    Total                                            1,775             405

    Desa terakhir dalam konsesi, Mongoh Juoi, terletak di sepanjang batas tenggara, yang bersisian dengan
    Sungai Pelingkau karena sungai itu menyatu dengan Sungai Kaleh:
                                                                                     Keluarga
                   Nama Desa                                     Penduduk            (Kepala
                                                                                 Rumahtangga)
            14     Mongoh Juoi                                      240                 56

    Di luar batas selatan konsesi, sepanjang sungai Salau, terdapat desa-desa:
                                                                                     Keluarga
                     Nama                                         Penduduk           (Kepala
                                                                                   Rumahtangga)
            15       Tumbang Magin                                    134               31
            16       Tumbang Setoli                                   435              110
            17       Tumbang Hentas                                    27                7
            18       Tumbang Langkai                                  584              133
            19       Rangkang Munduk                                  125               36
            20       Tumbang Salau                                    272               75



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                       Page 17                July 2005
            6a       Marandang                                      115                34
            21       Tumbang Suwai                                  144                39
            22       Tumbang Magin                                  134                31

            Sebelah utara batas konsesi, di sepanjang jalan kayu yang menuju konsesi, ada tujuh
            perkampungan:
                  Dusun                                Desa            Penduduk       Km. No.
            1     Senain                           Madya Raya             600            74
            2     Jongkong                        Sasak Pekawai           312            57
            3     Meta Makmur                      Mekar Pelita           222            44
            4     Sungai Enau                      Nanga Pintas           360            34
            5     Nanga Boli                       Nanga Pintas           210            28
            6     Bemban Pengersit               Landau Garong            465            17
            7     Emang                             Manggala              516            12

    Hampir semua anggota masyarakat adalah Dayak, dari sejumlah suku seperti: Kuhin, Dohoy, Sebaung,
    Kaninjal, dan Kahayan, Melayu dan Ot Danum. Beberapa desa merupakan tempat tinggal bagi mereka
    yang datang dari tempat lain di Indonesia: ada dua orang Sumbawa di Kubang, satu orang Jawa di
    Darap. Mereka ini mulai bekerja dengan perusahaan dan akhirnya mapan hidup dengan masyarakat
    lokal.

    Praktek beragama berbeda dalam tiga agama utama: Kristen, Islam dan bentuk animisme yang disebut
    sebagai Hindu Kaharingan. Berdasar dokumen-dokumen perusahaan, dalam konsesi tersebut, Hindu
    Kaharingan merupakan agama yang banyak penganutnya, kira-kira 1,720 orang. Desa-desa dengan
    banyak penganut Hindu Kaharingan adalah Tumbang Gugup dengan 95 persen, Mongoh Juoi dengan 87
    persen, Sepunduk Hantu dengan 74 persen, dan Setawai dengan 63 persen. Populasi Islam total dalam
    konsesi itu lebih dari 1000 orang. Desa-desa dengan banyak penganut Islam adalah Darap dengan 77
    persen, dan Tumbang Laku dengan 100 persen. Jumlah total pemeluk Kristen adalah 1,253 orang yang
    1,094 orang diantaranya adalah Protestant. Desa-desa dengan banyak pemeluk Kristen adalah Tumbang
    Kasai dengan 73 persen, Tumbang Bahan dengan lebih dari 50 persen, Buntut Sapo dengan 94 persen,
    Tumbang Kalam dengan 65 persen, dan Tumbang Kubang dengan 73 persen.

    Desa-desa di dalam dan sekitar konsesi telah ada sejak dulu, mungkin dari 50 hingga 90 tahun lalu,
    meskipun perkiraan dari masyarakat itu sendiri adalah perkiraan kasar. Berdasar wawancara, Sepunduk
    Hantu dan Kasai telah ada dalam lokasinya sekarang sejak tahun 1920an; Tumbang Kubang sejak
    1930an.

    Kebiasaan adat atau tradisional terlihat lebih kuat dalam Hindu Kaharingan dibanding dengan agama
    lain. Sebagai contoh, hanya desa-desa dengan pemeluk Kaharingan yang memiliki Kepala Adat dan juga
    Kepala Desa. Selain itu, masyarakat Hindu Kaharingan menggunakan beberapa lokasi yang berbatasan
    dengan kawasan hutan untuk berbagai ritual dan upacara.

    Masyarakat memiliki ladang yang sangat ekstensif, dimana mereka menanam tanaman untuk konsumsi
    sendiri dan untuk tujuan komersial. Yang ditanam di ladang adalah padi, ubi jalar, singkong, dan
    berbagai sayuran dan buah-buahan. Kopi dan karet juga ditanam. Menurut kebiasaan mereka, mereka
    akan berpindah ladang setiap tahun dan kembali ke ladang yang sama secara berkala. Lamanya masa ini
    bervariasi antara kedua sistem sungai tersebut. Di sepanjang Sungai Manjul, rotasi ladang terjadi kira-
    kira setiap 10 tahun (meskipun angka ini bervariasi antara 8 dan 15 tahun menurut anggota masyarakat).
    Sepanjang Sungai Seruyan, rotasi ladang terjadi setiap 3-5 tahun, menurut anggota masyarakat. Namun,



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                      Page 18                July 2005
    observasi langsung dari tim penilai menunjukkan bahwa beberapa ladang telah tidak digunakan selama
    15-20 tahun.

    Anggota masyarakat menjual ke pasar lokal dan Perusahaan. Pasar lokalnya terletak di Nanga Pinoh.
    Penjualan ke Perusahaan bisa dilakukan secara individu atau melalui koperasi yang terletak di base
    camp. Penjualan ke Perusahaan merupakan pendapatan tunai yang signifikan untuk masyarakat lokal.

    Masyarakat melaporkan rata-rata setiap rumahtangga akan mengelola ladang kira-kira seluas satu hektar,
    namun ini bervariasi sekitar 1 hingga 1.5 hektar. Angka ini sama dengan angka yang diberikan oleh
    pegawai Perusahaan. Di Tumbang Darap, ukuran ladang untuk setiap keluarga diperkirakan adalah
    sekitar dua hektar. Sekali lagi, perkiraan ini hanyalah perkiraan kasar, dan dapat diperbaiki sejalan
    dengan waktu melalui survey lapangan tambahan.

    Dengan asumsi paling tinggi dua hektar, dengan jumlah 768 keluarga, selama 10 tahun, total ladang
    yang dimanfaatkan oleh masyarakat sudah mencapai kira-kira 9,210 hektar. Masyarakat di sepanjang
    Sungai Manjul melaporkan bahwa ladang yang ada sekarang dapat memenuhi tujuan mereka dan ada
    beberapa individu yang sedang membuat ladang baru. Namun demikian, meskipun informasi ini tidak
    dapat diandalkan, laporan perusahaan menyatakan dalam corporate statement mereka pada bulan Januari
    2003 bahwa pembukaan ladang baru cukup tinggi. Selama masa 2000-02, ada sekitar 2,550 hektar
    ladang baru yang dibuka (perkiraan untuk 2001 dan 2002 sama, kira-kira 1050 hektar tiap tahun).

    Interaksi utama antara masyarakat dan hutan adalah dalam menyiapkan ladang baru. Namun, mereka
    juga menggunakan hutan untuk sumber kayu dan non kayu (sebagaimana dibahas dalam Temuan pada
    Prinsip 2 dan 3). Sebagian besar mereka juga berburu babi liar dan ada sedikit bukti perburuan spesies-
    spesies burung, seperti burung rangkong. Hampir semua desa mencari ikan, dengan laporan kelimpahan
    ikan saat ini yang berbeda (beberapa melaporkan adanya penurunan potensi ikan terutama pada blok
    tebang, beberapa masih stabil). Penduduk desa menggunakan perahu dan ketinting, yang menjadi
    kendaraan utama, dilengkapi dengan mesin panjang berkekuatan 15 HP, untuk mengarungi sungai.
    Beberapa penggunaan nonkayu meliputi pengumpulan buah-buahan, yang dikenal secara luas, dan tiap
    desa memiliki kawasan tersendiri untuk pengumpulan buah-buahan ini. Rotan juga dipanen oleh
    masyarakat, seperti ulin, yang mengundang para kolektor untuk datang ke kawasan tersebut.

    Hanya ada satu jalan yang menghubungkan konsesi dengan dunia luar. Jalan ini adalah jalan sepanjang
    97 km yang dibangun oleh Perusahaan dari log pond dekat Nanga Pinoh di Kalimantan Barat, hingga di
    dalam base camp pada konsesi. Semua jalan dalam konsesi tersebut berujung di jalan ini. Perusahaan
    mengontrol akses ke dalam konsesi, yang merupakan aspek penting dalam mengendalikan penebangan
    liar.

    Keseluruhan kawasan konsesi menggunakan kawasan hingga ke selatan melalui berbagai sungai utama.
    Sementara sungai-sungai tersebut tidak dapat digunakan untuk transport log komersial, rakit-rakit kecil
    dapat dihanyutkan ke sungai. Bagian yang dapat dihanyuti sepanjang batas selatan dibatasi oleh kawasan
    vegetasi sekunder yang ekstensif dan ladang aktif. Hal ini secara signifikan bisa mengurangi resiko
    penebangan liar yang menggunakan akses sungai.



    1.5.    Produk yang dihasilkan dan Lacak Balak




PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                      Page 19                July 2005
    A. Sertifikat Lacak Balak

    Perusahaan melaksanakan penandaan dan pelabelan pohon yang sistematis dan terlihat memiliki kontrol
    yang baik terhadap inventarisasi stok tegakan. Pelabelan pohon-pohon komersial mengikuti peraturan
    Dephut. Pemetaan posisi pohon sangat akurat dan dapat diandalkan.

    Pada penumbangan, nomor pohon dipatok pada kedua ujung log dengan tambahan informasi dalam hal
    kode identifikasi scaler, nomor produksi log, panjang, diameter, kode spesies dan nomor petak.




        ID scaler          Y.508.A               # Prduksi                  Y.508.A
        Panjang           12.5 – 114             (1st log)                   RR45
                             MM                  Petak #                      227
        Spesies                                  Diameter
                                                 Tree#


    Laporan hasil produksi (LHP) kemudian dibuat dan diperiksa silang dengan laporan cruising (LHC).

    Semua truk yang mengangkut log memiliki Trip Ticket (surat jalan), yang mendata nomor produksi log
    pada masing-masing log. Contoh acak dari nomor produksi ini diambil dari TPK pusat dan diperiksa
    silang terhadap sistem kontrol inventarisasi yang dikomputerisasi di base camp yang menghasilkan
    seluruh data yang dimasukkan dalam ujung-ujung log.

    Check kontrol inventarisasi juga dilaksanakan di log pond. Perusahaan terlihat memiliki kontrol yang
    ketat terhadap pemindahan inventarisasi dan harusnya tidak ada kesulitan dalam melakukan standar
    sertifikasi lacak balak.

    B. Spesies dan volume yang dicakup oleh Sertifikat

    Data produksi spesies diperoleh untuk tahun 2001 dan diringkas sebagai persentasi dari total produksi
    untuk satu tahun dalam tabel berikut ini. Ada perbedaan kecil dari tahun ke tahun tergantung pada variasi
    alam pada hutan.

        Tabel 7 Profil Spesies yang ditebang
                Spesies                 Nama ilmiah              Persenta              Produk
                                                                    se
        Red meranti group            Shorea leprosula              37.7      Kayu lapis
        White meranti group           Shorea lamellate              6.9
        Yellow meranti group         Shorea Macrobalanus;          18.5
        (incl. Mersawa)              Anisoptera costata
        Bangkirai                    Shorea laevis                  10.1     Produk kayu solid, juga
                                                                             untuk kayu lapis khusus
        Keruing                      Dipterocarpus confectus        16.4     Kayu lapis
        Geronggang                   Cratoxylum arborescens                  “Fancy wood”:
        Nyatoh                       Palaquium blanco


PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                       Page 20                  July 2005
        Resak                        Vatial rassak                   3.0    Molding, mebel dll.
        Sindur                       Swodra wallichii
        Bungur                       Lagerstroemia speciosa
        Rengas                       Melanochyla auriculata
        Others                                 Mixture               7.9    Kayu lapis
                                                                    100%

    C. Gambaran tentang Rencana Kapasitas Pengolahan yang dicakup oleh Sertifikat

    Satu-satunya pabrik pengolahan kayu perusahaan ini ada di Sanggau, Kalimantan Barat. Konsesi PT
    Erna Djuliawati merupakan satu-satunya sumber bahan baku untuk pabrik ini.

    Kapasitas output yang diijinkan untuk PT Erna adalah 203,900 m3/tahun yang ditetapkan oleh Dirjen
    Industri Aneka No. 210/DJA/PP/D.IV/XI/1995. Kapasitas ini ini adalah untuk pabrik kayu lapis yang
    memproduksi:

                         Jenis Produk                 Kapasitas
                                                    output yang
                                                 diijinkan (m3)
                        Kayu gergajian                   18,000
                        Kayu lapis                      134,000
                        Blockboard                       27,900
                        Polyester                        24,000
                    Total                               203,900

    Saat ini pabrik tersebut beroperasi berdasar dua 2-shift. Berdasar hasil diskusi dengan manajemen
    senior, pabrik tersebut membeli kira-kira 80% bahan baku log dari konsesi ini.

    Orientasi ekspor perusahaan ini adalah:

                     China & Hong Kong             60%
                     Jepang                        33%
                     Pasar Asia Tenggara           3%
                     Timur Tengah                  3%
                     USA                           1%




PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                        Page 21                July 2005
2. PROSES PENILAIAN SERTIFIKASI

    2.1.      Tanggal Penilaian

    Pertemuan dengan top manajemen PT Erna Djuliawati dan keseluruhan tim penilai dilakukan
    di kantor pusat Jakarta pada tanggal 8 Juli 2003. Penilaian lapangan dilaksanakan dari
    tanggal 9 hingga 17 Juli 2003.

Tabel 8       Kegiatan Penilaian

Tanggal           Lokasi                         Kegiatan                 Peserta
26 Juni2003                                      Pertemuan                Perwakilan TUV &
                  Palangkaraya, Kalteng
                                                 multistakeholder.        SmartWood
7 Juli 2003                                      Perencanaan awal oleh    Keseluruhan anggota
                  Jakarta
                                                 tim                      tim SmartWood
8 Juli 2003                                      Pertemuan dengan         Tim SmartWood &
                  Jakarta – PT Eran Djuliawati
                                                 pejabat teras            TUV
9 Juli 2003       JKT – Concession base camp     Travel
10 Juli 2003      Sintang, W. Kalimantan         Pertemuan publik         DM
10 Juli 2003                                     Pertemuan dan            Semua anggota tim
                  Kantor Base Camp
                                                 pengumpulan dokumen
11-15 Juli                                       Kunjungan lapangan       Semua anggota tim
                  Konsesi
2003                                             pada konsesi
16 Juli 2003                                     Presentasi dan review    Semua anggota tim
                  Base Camp
                                                 serta penutupan
17 Juli 2003      Perjalanan ke Jakarta                                   Semua anggota tim
21 Juli – 29                                     Persiapan draf pertama   Semua anggota tim
Agt               Jakarta                        laporan dan konsultasi
                                                 lebih lanjut


    2.2.      Tim Penilai

    Arthur W. Klassen, Pimpinan Tim dan Spesialis Kehutanan
    Saat ini (dan untuk 3 ½ tahun belakangan), Direktur Regional dari Tropical Forest
    Foundation (TFF) yang mengkhususkan diri pada pelatihan tentang penebangan berdampak
    rendah. Mr. Klassen memiliki pengalaman selama 32 tahun dalam berbagai kegiatan
    pengelolaan hutan, perencanaan, operasional, permesinan, inventarisasi dan pelatihan-
    pelatihan. Dia telah mengerjakan hal-hal tersebut selama lebih dari 17 tahun dalam hal
    proyek-proyek pembangunan hutan di Tanzania, Guyana, Iran, Bhutan, dan Indonesia. Mr.
    Klassen adalah lead assessor yang dilatih oleh SmartWood dan telah ikur dalam kegiatan 2
    kegiatan penilaian sertifikasi, satu scoping dan satu peer review. Selain dengan TFF,
    pengalaman Indonesiannya meliputi 13 jenis pekerjaan jangka pendek mengenai pengelolaan
    hutan, kebijakan kehutanan, pelatihan, penelitian operasional, kehutanan masyarakat dan
    penilaian hutan.

    Edward Pollard, Penilai Ekologi



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                     Page 22               July 2005
    MSc dalam bidang Anthropology. Enam tahun pengalaman dalam ekologi hutan, ekologi
    manusia hutan tropis dan pengelolaan kawasan lindung. Mr. Pollard merupakan spesialis
    dalam perancangan kawasan lindung dan pengembangan strategi konservasi yang dapat
    diterapkan pada lingkungan ekologi, sosial dan politik dari satu lokasi. Dia telah bekerja di
    Indonesia selama lebih dari 5 tahun dan sangat lancar berbahasa Indonesia. Ini merupakan
    pengalaman pertamanya dalam melakukan penilaian sertifikasi FSC, namun dia memiliki
    pengalaman dalam mengembangkan strategi konservasi dalam konsesi hutan alam dan
    identifikasi serta pengelolaan HCVF di Indonesia.

    Dwi Rahmad Muhtaman, Asesor Sosial
    Dengan gelar MPA dari Auburn University, Alabama, Mr. Muhtaman memiliki 10 tahun
    pengalaman dalam permasalahan kebijakan kehutanan dan keanekaragaman hayati dan telah
    bekerja dengan sertifikasi hutan selama enam tahun. Dia telah berpartisipasi dalam tujuan
    penilaian konsesi hutan di Indonesia dan juga sangat aktif dalam penilaian sertifikasi lacak
    balak. Dia juga menjadi penulis utama dalam buku yang berjudul Kriteria dan Indikator untuk
    Hutan Tanaman yang lestari di Indonesia, yang diterbitkan oleh CIFOR dan ACIAR, 2000.
    Dia juga anggota pendiri LATIN dan aktif dalam mengembangkan kolaborasi
    SmartWood/LATIN di Indonesia. Dia sekarang ini bekerja sebagai konsultan independen and
    associate pada LATIN Inc, sebuah kelompok konsultasi untuk pembangunan berkelanjutan.

    Jason M. Patlis, Penasehat Hukum/Asesor Sosial
    Mr. Patlis adalah Director, Asociate untuk Hukum Lingkungan dan Pengembangan
    Perundangan yang mengkhususkan diri pada reformasi dan tatakelola hukum lingkungan
    hidup. Dia tinggal di Indonesia selama tiga tahun, untuk menyelesaikan Beasiswa Fulbright
    Senior pada tahun 2000-01, dan saat ini melayani berbagai klien dalam sektor pantai, laut dan
    kehutanan termasuk The World Bank, U.S. AID, Packard Foundation, The Nature
    Conservancy dan lainnya. Sebelum ke Indonesia, dia bertugas sebagai Majority Counsel
    untuk Komite Lingkungan dan Pekerjaan Umum dari U.S. Senate (1997-2000), dan sebagai
    counsel pada kantor Counsel Umum di dalam National Oceanic and Atmospheric
    Administration (NOAA), yang menangani permasalahan perikanan dan hidupan liar domestik
    dan hidupan liar. Dia telah berpartisipasi dalam kegiatan peer review dan scoping untuk PT
    SmartWood, Indonesia.

    Peer Review

    Tiga peer reviewer independen (internasional dan nasional) diseleksi untuk proses penilaian
    ini, berdasar pengalaman sertifikasi mereka, dan juga pengalaman dengan pengelolaan hutan
    dan permasalahan kebijakan hutan di Kalimantan.
    • 1 spesialis pengelolaan hutan dengan gelar PhD.
    • 1 peneliti permasalahan kehutanan masyarakat dengan gelar PhD.
    • 1 ilmuwan sosial dengan gelar PhD.

    Tim Audit Verifikasi Prekondisi:

    Edward Pollard, Pimpinan Tim/Asesor Ekologi
    Lihat di atas.

    Cecep Saepulloh, Pengelolaan hutan
    Sarjana Kehutanan dari Institut Pertanian Bogor. Setelah lulus dari IPB, dia bekerja dengan
    perusahaan kehutanan (HPH dan industri kayu) di Kalimantan (Kalimanis Group) selama 5


PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                       Page 23                 July 2005
    tahun. Saat ini dia adalah manajer dari program sertifikasi hutan di PT. TUV International
    Indonesia. Dia telah melakukan banyak audit untuk Penilaian Lacak Balak dan Pengelolaan
    Hutan (Standar LEI dan FSC) sejak tahun 2001. Selain itu, dia juga telah melakukan banyak
    audit untuk Environmental Management System (EMS) ISO 14001 dan Quality Management
    System (QMS) ISO 9001 di Indonesia.


    2.3.    Proses Penilaian

    Selama fase-fase penilaian lapangan, pelaporan dan pengambilan keputusan dalam proses
    penilaian ini, tim penilai dan SmartWood melakukan langkah-langkah berikut sebagai bagian dari
    proses sertifikasi SmartWood:

1) Perencanaan Pra-penilaian dan review dokumentasi – Tim penilai bertemu pada
   tanggal 7 Juli untuk membagi dokumen dan membahas alokasi tugas umum. Dokumen yang
   dibagikan sebelum perjalanan meliputi laporan scoping dan penilaian dari proses sertifikasi
   sebelumnya yang diselenggarakan oleh SGS, dan juga dokumen rencana pengelolaan. Begitu
   datang ke camp, tim melakukan review dokumen dengan ekstensif. Malam itu, tim
   mendiskusikan dan merencanakan jadwal penilaian secara umum.
    Semua pejabat dan staff PT Erna ada selama penilaian lapangan berlangsung (Lampiran I).
    Berbagai laporan, prosedur, peta, manual dan dokumen lainnya tersedia untuk tim penilai
    selama kunjungan ke konsesi tersebut. Daftar dokumen lengkap yang direview oleh pakar
    sosial ada dalam Lampiran VII. Sampling dokumentasi yang direview selama proses
    penilaian meliputi:
    o   Laporan Utama : Analysis Dampak Lingkungan HPH PT ERNA DJULIAWATI. March
        1997 (Penilaian Dampak Lingkungan: Laporan Utama)
    o   Rencana Pengelolaan Lingkungan. March 1997
    o   Petak ukur permanen untuk pengukuran pertumbuhan dan riap hutan bekas tebangan –
        PUP seri II.
    o   Laporan analisa vegetasi virgin forest dan LOA, RKL II s/d V. Jan 2003
    o   Laporan Pemantauan Satwa Liar di areal hutan alam produksi PT ERNA DJULIAWATI.
        Dec 2002.
    o   Laporan Inventarisasi Satwa Liar di areal hutan alam produksi PT ERNA DJULIAWATI.
        July 2003.
    o   Prosedur Operasional Pemantauan Kegiatan Pembinaan Hutan : EDL-II/SOP/DPL-VI.1
        to 6
    o   Standard Operating Procedures Pelaksanaan Permanent Sample Plots di areal hutan
        alam produksi EDL-II/03/SOP/LING-PSP.
    o   Rencana Pengelolaan Hutan Lestari Januari 2003.
    o   Realisasi Pencapaian Pengelolaan Hutan Lestari :Aspek Ekologi.
    o   Penjelasan tentang tugas dan pekerjaan pada PT Erna Djuliawati
    o   Peta HCVF, Citra lansat 2002 [120/61 (17th May 2002)]
    o   Peta HPH dengan skala 1:100,000; 1:50,000 dan juga peta blok operasional untuk 11
        tahun pertama operasional yang dihasilkan dari survey lapangan dengan skala 1:1,000.
    o   Peta laporan kemajuan operasional dengan skala 1:50,000.
2) Pertemuan dengan pejabat senior dan manajemen camp – Tim penilai bertemu
   pada tanggal 8 Juli dengan pejabat senior PT Erna untuk membahas visi dan tujuan
   perusahaan, operasional umum dari PT Erna dan perusahaan induknya, Group Lyman, untuk



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                     Page 24                July 2005
    mengumpulkan beberapa dokumen seperti audit keuangan perusahaan, dan untuk membahas
    logistik dalam kunjungan lapangan. Setelah kedatangan ke camp, manajemen camp
    mempresentasikan tinjauan yang mendalam tentang operasional dan manajemennya. Selama
    kunjungan lapangan, berbagai pertemuan informal digelar dengan manajemen lokasinya.
    Setelah penyampaian draf laporan dengan prekondisi, SmartWood dan PT Erna bertemu
    beberapa kali pada tahun 2004 untuk saling mengetahui kemajuan atau persyaratan untuk
    menyelesaikan sertifikasi.
3) Pemilihan lokasi dan Pemeriksaan Lapangan:
    Konsesi dibagi menjadi petak dengan ukuran 1,000 x 1,000 m yang diidentifikasi menurut
    sistem penomoran abjad-nomor. Dalam banyak hal sistem ini cukup memadai untuk
    mengidentifikasi lokasi-lokasi yang dikunjungi.
    Kegiatan operasional konsesi dipisah ke dalam dua kompartemen yang memiliki ukuran yang
    sama. Kompartemen A di bagian Timur dan B di bagian Barat. Dalam rangka
    menginvestigasi ekologi dan dampak kegiatan logging pada keseluruhan kawasan konsesi,
    kunjungan dilakukan pada kedua compartemen tersebut. Sebisa mungkin pemilihan lokasi
    distratifikasi dalam kedua kompartemen itu.
    Dalam semua kunjungan anggota tim penilai ditemani oleh perwakilan dari PT Erna.
    Kunjungan khususnya melibatkan pengamatan kegiatan dan lapangan dan permintaan
    penjelasan tentang kegiatan dari staf Perusahaan. Sebisa mungkin pertanyaan diperiksa silang
    dengan orang lain, laporan-laporan lain dan pertanyaan yang berulang.
    Inspeksi oleh tim gabungan dilaksanakan pada semua kegiatan produksi dan kegiatan
    pembangunan jalan. Berbagai lokasi dikunjungi untuk memeriksa kondisi hutan setelah
    pembalakan dan untuk menegaskan pelaksanaan sistem TPTJ. Situs-situs budaya yang
    teridentifikasi juga dikunjungi untuk memeriksa demarkasi dan pengamatan pada status
    lindungnya. Lokasi persemaian diperiksa dan juga sebagian besar infrastuktur camp di
    sepanjang konsesi itu.
    Penilaian ekologi meliputi kunjungan ke lokasi logging dan hauling pada blok logging 2002.
    Kunjungan ini dilakukan pada dua kompartemen tadi. Dalam rangka menilai dampak
    penebangan dan penyaradan pada kegiatan ekologi hutan dilakukan pengamatan pada Petak
    R34. Diamati juga ketaatan perusahaan dengan penyangga sisi sungai. Pembangunan jalan
    dan penggunaannya untuk hauling diamatai pada kawasan tebang 2003 termasuk tempat
    penumpukan log di RR 45.
    Blok-blok logging terdahulu dikunjungi untuk menginvestigasi dampak kegiatan logging di
    masa lalu dan efeknya pada sistem TPTJ. Kedua kawasan dalam RKT tahun 2001 dikunjungi
    (WW 38 dan S 30). Penerapan awal dari TPTJ mengikuti rejim penebangan yang lebih
    intensif daripada yang dilaksanakan sekarang. Kawasan ini juga dikunjungi (blok S30) untuk
    melihat dampak dan derajat regenerasinya.
    Kegiatan monitoring diamati pada blok WW 38 dan WW 30 dimana ada plot PUP dan erosi.
    Polusi dan infrastruktur diperiksa pada basecamp dan kamp produksi pada Branch 1200.
    Hutan yang belum ditebang (yang diusulkan dalam RKT 2004 dan 2005 di Kompartemen B).
    juga dikunjungi untuk menilai kebutuhan akan kawasan konservasi dan analisis HCVF.
    Kedua kawasan ini diakses dengan jalan kaki dari blok 2002. (Q31 ke O31 to M/L 32/33).
    Banyak waktu untuk mereview banyaknya dokumentasi peta, data dan sistem pegnelolaan
    Tabel 9     Lokasi yang dikunjungi selama penilaian
      Tanggal                        Lokasi/Tujuan                        Titik       Anggota


PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                      Page 25                July 2005
       (2003)                                                                koordinat        tim
    10 Juli          Base Camp – review dokumen dan arientasi                            Seluruh tim
    11 Juli          Kawasan logging yang aktif pada RKT 2003, Compt.    R 34/35         Seluruh tim
                     ‘B’
    11 Juli          Pembangunan jalan Compt. ‘B’                        Q 35            Seluruh tim
    11 Juli          PSP#32 dalam RKT 2002; plot kerusakan dan           S 30            AK,EP
                     pertumbuhan
    11 Juli          Persemaian Sungai Jenang                            V 29            AK,EP
    11 Juli          Camp Produksi, Compt. ‘B’, Br. 1200                 II 28           AK,EP
    11 Juli          Situs budaya Batu Nyempit dan Sepan Biha            R 36            JP,DM
    12 Juli          Poliklinik pada Base Camp                           Km. 97          JP,DM
    12 Juli          Post batas                                          TT 44           AK,EP
    12 Juli          Kawasan logging yang aktif pada RKT 2003, Compt.    RR 45           AK,EP
                     ‘A’
    12 Juli          TPK: log yard/transfer point, Compt, ‘A’            Km. 156         AK
    12 Juli          PUP                                                 WW 30           EP
    12 Juli          Kawasan TPTJ, RKT 2002 – pemeriksaan                WW 38           AK,EP
                     pelaksanaan TPTJ
    12 Juli          RKT 1999/00 – upaya pertama melaksanakan TPTJ       WW31, XX31      AK
    12 Juli          PUP – rangkaian PUP kedua                           AF 18           AK, EP
    12 Juli          Desa Tumbang Kubang dan Desa Sepunduk Hantu         -               JP,DM
    13 Juli          RKT 1992/93 – pemeriksaan blok tebang berusia 10    KK 18           AK
                     tahun
    13 Juli          LITBANG bereksperimen dalam hal TPTJ dengan         KK 17, KK 18    AK
                     berbagai tanaman
    13 Juli          PUP – rangkaian PUP pertama                         HH11            AK
    13 Juli          Desa Tumbang Kasai, Desa Setawai, Desa Darap        -               JP,DM
    14 Juli          Desa Tumbang Bahan, Tumbang Kalam, Manjul           -               JP,DM
                     (bertemu dengan pejabat pemerintah daerah)
    14 Juli          Kawasan hutan primer – penilaian HCV                M & L 32,33     EP
    15 Juli          Desa Langke, Desa Hentas                            -               JP,DM
    15 Juli          TPK pusat base camp – pemeriksaan penelusuran       Km. 97          AK
                     inventarisasi
    15 Juli          Persemaian utama                                    Km. 95          AK
    15 Juli          workshop pusat dan areal camp                       Km. 97          AK
    16 Juli          Desa Senain                                         -               JP,DM
    16 Juli          Log pond; pemeriksaan penelusuran log, lingkungan   Km.0            Seluruh tim
                     dsb.
              AK   = Art Klassen             EP = Ed Pollard
              JP   = Jason Patlis            DM = Dwi Muhtaman

Lokasi-lokasi yang dikunjungi selama audit verifikasi prekondisi

15 Maret 2005: Base Camp Beruang. Km 93.

16 Maret 2005:
       √ Base Camp Beruang. Km 93
       √ AA 34. lahan pertanian baru yang dibuka pada tahun 2003. Saat ini digunakan
           sebagai dasar untuk pengumpulan kacang illipe.
       √ Hutan Adat Biukit Sekajang (AA 31, 33. BB 33, 34). Pemeriksaan lokasi dan
           demarkasi kawasan HCVF.
       √ Kanton Satwa (AA 35, 36). Pemeriksaan lokasi, kondisi dan demarkasi kawasan
           konservasi keanekaragaman hayati.



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                         Page 26                  July 2005
17 Maret 2005:
       √ Bukit Beruang. Pemeriksaan kondisi dan kesesuaian perlindungan daerah aliran
           sungai dan kawasan konservasi keanekaragaman hayati.

4) Interview lapangan/Konsultasi stakeholder

Lokasi desa-desa hanya dipilih oleh auditor, berdasarkan persepsi mereka tentang adanya potensi
konflik ekonomi dan sosial, baik di masa lalu dan masa kini. Dalam memilih lokasi desa untuk
dikunjungi, auditor mencari informasi dan pengalaman seluas mungkin, baik yang positif ataupun
yang negatif. Karena itu, desa-desa terpilih adalah desa-desa di dalam PGM, luar PGM,
sepanjang batas selatan yang dicirikan oleh hutan virgin dan sepanjang koridor jalan.

Dalam hal proses wawancara lapangan, setiap wawancara di desa mengikuti format yang sama.
Pejabat perusahaan menfasilitasi perkenalan antara auditor dan pimpinan desa atau pimpinan
adat, dan kemudian mereka pergi, sehingga auditor akan mewawancarai penduduk desa sendiri.
Auditor kemudian menjelaskan apa dan siapa SmartWood/LEI, proses dan alasan kunjungan.
Auditor mengundang sebanyak mungkin anggota desa sebagaimana yang diinginkan, dengan
pertemuan yang dihadiri oleh 5 hingga 25 peserta, tergantung pada jumlah penduduk desa.
Biasanya pertanyaan-pertanyaan dimulai dengan informasi tentang demografi desa, sejarah,
pemukiman, tinjauan ekonomi dan agama. Pertanyaan berikutnya akan mengangkat permasalahan
adat tentang penguasaan lahan, perburuan, tatapemerintahan, resolusi persengketaan. Pertanyaan-
pertanyaan kemudian fokus pada hubungan dengan perusahaan.
Sebelas desa dipilih untuk kunjungan lapang dan wawancara dengan anggota masyarakat.
Tumbang Kupang dipilih karena dekat dengan jalan, dan salah satu desa terdekat dengan base
camp, sehingga mereka mendapatkan perhatian dan sedikit kemacetan. Sepundu Hantu dipilih
karena anggota masyarakat tersebut menggunakan beberapa situs budaya pada Kompartemen B.
Tumbung Setawai dipilih karena belakangan sedang bernegosiasi untuk batas-batas (PGM)
dengan perusahaan, batas ladang mereka pada hutan yang ditebang sepuluh tahun lalu (memberi
masukan kepada tim tentang konflik di masa lalu, jika ada), dan batas pada hutan yang akan
ditebang pada tahun 2004 (memberi masukan pada tim tentang persiapan perusahaan,
pemahaman masyarakat dan upaya-upaya untuk mengurangi potensi konflik). Tumbang Darap
dipilih karena menjadi ibukota kecamatan dan memberikan peluang untuk bertemu dengan
pejabat Pemda. Hentas dan Langkai dipilih karena lokasi mereka terletak berbatasan di bagian
selatan konsesi, mereka menggunakan kawasan konsesi sebagai ladang, dan salah satunya berada
dalam PGM serta yang lainnya tidak.
Tema umum di semua desa, sebagaimana dijelaskan dalam temuan Prinsip 2 dan 3, sehubungan
dengan pemanfaatan ladang di dalam dan luar PGM, dan juga kawasan konsesi, meskipun ada
tanda batas oleh perusahaan
Tidak ada komentar, pertanyaan atau masukan lain dari stakeholder yang diterima setelah
penilaian lapangan. Tim audit verifikasi prekondisi mewawancarai beberapa penduduk desa
sebagai bagian dari audit ini.
5) Perkembangan Laporan Penilaian
Laporan penilaian ini dikembangkan selama lebih dari sebulan setelah selesai kunjungan
lapangan. Selama masa penyelesaian laporan asesor masih terus melakukan wawancara dengan
stakeholder dan penelitian lainnya.
6) Review laporan oleh Perusahaan dan Peer reviewer independen


PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                     Page 27                July 2005
Perusahaan mereview laporan dan menyampaikan komentar kepada SmartWood pada bulan
Oktober 2003. Tim peer reviewer membaca draf laporan dan komentar perusahaan dan
menyampaikan laporan mereka ke SmartWood pada bulan Desember 2003. Setelah review input
secara substansial ini, dan tanggapan pada peer reviewer dan perusahaan untuk semua komentar,
SmartWood menyelesaikan laporan sertifikasi dengan Prekondisi pada bulan April 2004.
7) Finalisasi Laporan dan Keputusan Sertifikasi
Keputusan sertifikasi awal yang dibuat oleh SmartWood adalah bahwa perusahaan
direkomendasikan untuk sertifikasi setelah menyelesaikan lima prekondisi wajib yang perlu
dipenuhi sebelum sertifikasi bisa diberikan. Pada awal tahun 2005, setelah satu tahun bekerja
untuk memenuhi prekondisi, perusahaan meminta SmartWood untuk melakukan audit prekondisi.
Sebelum evaluasi lapangan, perusahaan memberikan dokumentasi kepada SmartWood mengenai
langkah-langkah yang diambil perusahaan dalam rangka memenuhi lima prekondisi tadi.
Meskipun dokumentasi sangat komprehensif, audit lapangan tetap diperlukan untuk
memverifikasi ketaatan. SmartWood melakukan audit selama empat hari untuk memverifikasi
prekondisi, yang berlangsung pada 14 hingga 18 Maret 2005. Temuan dan rekomendasi laporan
tim audit, yang difinalisasi pada bulan Mei 2005 adalah bahwa perusahaan telah memenuhi
semua prekondisi yang diwajibkan. Berdasar rekomendasi dan kesepakatan dengan hal tersebut,
SmartWood menerbitkan sertifikat untuk PT Erna Djuliawati pada tanggal 7 Juli 2005. Laporan
penilaian sertifikasi dan ringkasan publik dari laporan tersebut difinalisasi pada bulan Juli 2005.


    2.4.    Standards

Penilaian ini dilakukan dengan menggunakan Prinsip dan Kriteria FSC dan Pedoman SmartWood
untuk menilai pengelolaan hutan di Indonesia (Draft 3, April 2003). Penilaian ini dilakukan
bersamaan dengan Dokumen LEI-V/5000-1/1, Pedoman LEI 5000-1: Sistem Pengelolaan Hutan
Alam Lestari. Penilaian sertifikasi merujuk pada Joint Certification Protocol antara LEI dan
lembaga sertifikasi yang diakreditasinya serta lembaga sertifikasi yang diakreditasi oleh FSC.

    2.5.    Proses dan Hasil Konsultasi Stakeholder

Tujuan dari strategi konsultasi stakeholder untuk penilaian ini ada tiga:
    1) Untuk menjamin bahwa publik mengetahui dan menerima informasi tentang proses
        penilaian ini dan tujuannya;
    2) Untuk membantu tim penilai dalam mengidentifikasi potensi permasalahan; dan,
    3) Untuk memberikan ragam peluang bagi publik untuk membahas dan bertindak terhadap
        temuan-temuan dari penilaian ini.
Proses ini bukan sekedar pemberitahuan kepada stakeholder, namun sebisa mungkin berupa
interaksi stakeholder yang terperinci dan berarti. Proses interaksi stakeholder tidak berhenti
sampai pada kunjungan lapangan, atau untuk masalah tersebut, bahkan setelah keputusan
sertifikasi dibuat masih diperlukan interaksi dengan stakeholder. SmartWood menyambut baik
komentar terhadap perusahaan ini setiap saat dan komentar-komentar seperti ini sering
memberikan dasar untuk audit lapangan.
Permasalahan-permasalahan yang diidentifikasi melalui komentar stakeholder dan
pertemuan-pertemuan publik




PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                        Page 28                 July 2005
Kegiatan konsultasi stakeholder diselenggarakan untuk memberikan peluang kepada peserta
dalam memberikan masukan menurut kategori umum kepentingan terhadap kriteria penilaian.
Dalam hal PT Erna, sebelum proses penilaian aktual berlangsung, ada dua pertemuan stakeholder
untuk konsultasi yang dijadwalkan, dengan menyebarkan undangan melalui email, FAX dan surat
biasa. Pertemuan stakeholder pertama dilakukan di Palangkaraya, ibukota propinsi Kalimantan
Tengah, pada tanggal 26 Juni 2003. Pertemuan tersebut dihadiri oleh LSM (Predator, Walhi,
SHK, FKD, LPSM), wartawan (Suara Kalteng, Palangkaraya Post, Media Kalteng), PHI,
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Seruyan Hulu), dan seorang dosen dari Universitas
Palangkaraya (lihat daftar peserta pertemuan konsultasi publik).
Beberapa permasalahan yang disoroti dalam pertemuan tersebut:
•   Keprihatinan pada program bina desa, yang menurut peserta tidak memberikan cukup
    dukungan pada masyarakat adat, dibandingkan dengan masyarakat imigran, khususnya yang
    tinggal di sepanjang perbatasan.
•   Keprihatinan bahwa kayu ulin ditebang oleh Perusahaan sehingga suplai untuk ada untuk
    kebutuhan masyarakat.
•   Perusahaan juga dituduh menebang pohon di luar RKTnya pada tahun 2002 dan beroperasi
    pada hutan adat selama masa 2001-2002.
•   Peserta juga menyebutkan bahwa tidak ada program pengembangan masyarakat di sepanjang
    sungai Selau dan Manjul.
Ada pengakuan bahwa Perusahaan memberikan program beasiswa kepada masyarakat lokal dan
mendukung pengembangan Jurusan Hukum pada Universitas Palangkaraya, yang merupakan
tanda positif untuk mengisi kesenjangan pada kapasitas sumberdaya manusia pada bidang itu.
Pertemuan kedua dilakukan di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat pada tanggal 10 Juli 2003.
Pertemuan Sintang dihadiri oleh LSM, universitas, Bappeda, Bappedalda, Dinas Kehutanan,
HPH, tokoh masyarakat. Pertemuan ini dimulai dengan mempresentasikan latar belakang tentang
proses sertifikasi dan tujuan pertemuan itu sendiri. Profil perusahaan secara singkat juga dibahas.
Kertas metaplan dibagikan kepada para peserta untuk memberikan input secara tertulis. Beberapa
peserta menyampaikan penghargaannya kepada kontribusi positif dari Perusahaan seperti akses
jalan pada kawasan-kawasan pedalaman, fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta peluang
pekerjaan (meskipun beberapa juga berkomentar bahwa peluang pekerjaan yang disediakan tidak
memadai). Ada permasalahan pada pembangunan jalan koridor yang melintasi hutan lindung.
Ada saran untuk melakukan audit lingkungan (Amdal) dari jalan untuk mengidentifikasi dampak
yang ada sekarang. Konflik sosial sudah muncul di sepanjang jalan koridor. Para peserta
mengatakan bahwa paling tidak terjadi 56 demonstrasi selama 1998-2002 oleh masyarakat lokal
di sepanjang jalan. Demonstrasi itu berkisar antara klaim lahan hingga tuntutan kompensasi
karena binatang-binatang yang terbunuh oleh truk perusahaan.
Beberapa peserta mengkritik program PMDH sebagai program yang lemah dan kurang
kewenangan. Dalam hal struktur organisasi Perusahaan, PMDH ditangani dibawah kepala seksi
dalam divisi “Pembinaan Masyarakat.” Program PMDH seharusnya merekrut ahli sosial atau
antropologi sebagai staf dalam rangka memahami lebih baik karakter masyarakat di lokasi itu.
Namun demikian, ada penghargaan dalam hal PMDH sekarang yang mengembangkan fasilitas
pendidikan, transportasi publik dan pelayanan pertanian.
Tabel di bawah memberikan gambaran ringkas permasalahan yang diidentifikasi oleh tim
penilaian dengan sedikit pembahasan pada masing-masing permasalahn berdasar wawancara
khusus dan/atau komentar pada pertemuan publik. Karena dalam banyak hal tim penilai tidak
memiliki kesempatan untuk melakukan review lapangan dalam konsesi itu, tanggapan




PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                       Page 29                  July 2005
  SmartWood berikut ini dimasukkan dalam Tabel untuk melengkapi dan tidak selalu ada dalam
  tanggapan langsung dan segera terhadap pertanyaan stakeholder.

  Table 10 menggambarkan secara ringkas komentar stakeholder dan temuan SmartWood dalam
  hal masukan ini. Tabel ini mengkombinasikan dan meringkas komentar dari seluruh pertemuan
  stakeholder karena banyak masukan sifatnya sama.

  Tabel 10          Komentar Stakeholder

   Prinsip FSC            Komentar Stakeholder                           Tanggapan SmartWood
P1: Ketaatan pada   1. Ada tuduhan bahwa PT Erna         1. Pemeriksaaan lapangan yang ekstensi mengungkap
hukum dan              tidak memenuhi kewajibannya          bahwa penanaman dan penyulaman yang sistematis
Prinsip-Prinsip        untuk menanami jalur pada            mengalami kejadian mortalitas. Angka-angka
FSC                    sistem TPTJ                          produksi bibit memenuhi persyaratan TPTJ, namun
                    2. Ada tuduhan bahwa perusahaan         review dari kapasitas persemaian menunjukkan
                       tidak membayar pajak, DR dan         adanya kekurangan jika dilihat dari persyaratan total
                       PSDH                                 stok. SW akan mengaudit mekanisme monitoring
                    3. Penebangan di luar RKT pada          PT Erna untuk persyaratan bibit ini di audit-audit
                       tahun 2002.                          mendatang.
                    4. Ada keprihatinan bahwa konsesi    2. Catatan penyampaian pajak-pajak sudah lengkap,
                       PT Erna melebihi jatah               sehingga tuduhan ini tidak benar.
                       seharusnya karena melebihi        3. Audit lapangan dalam RKT 2002 menunjukkan
                       100,000 ha sebagaimana               tidak ada bukti mereka menebang di luar batas
                       ditetapkan dalam peraturan           RKT.
                       Departemen Kehutanan.             4. Dipahami bahwa ukuran maksimum 100,000 ha per
                                                            perusahaan per propinsi diusulkan oleh mantan
                                                            Menteri Kehutanan Muslimin Nasution. Keputusan
                                                            ini tidak pernah ditegakkan oleh Menteri-Menteri
                                                            berikutnya.
P2: Hak             1. Salah satu permasalahan yang      1. Tenurial lahan di sepanjang jalan koridor tidak
penguasaan, hak        dianggap sebagai penyebab            berada dalam wilayah PT Erna karena hal ini
guna dan               konflik di sepanjang jalan           merupakan masalah pemerintah.
tanggungjawabnya       koridor adalah tenurial lahan.    2. Perusahaan tidak menebang ulin pada prakteknya,
                    2. Ada kasus di Bukit Sekajang          meskipun dilaporkan ada beberapa kerusakan yang
                       dimana perusahaan menebang           tidak disengaja. (Lihat P3).
                       ulin, tengkawang, durian (pada    3. Tim penilai menemukan bukti bahwa PT Erna
                       tahun 2002)                          mendorong masyarakat lokal dengan cara yang
                    3. Penggunaan Brimob dalam              konstruktif dan proaktif. Untuk memahami dan
                       konsesi khususnya dalam jalan        mengelola “faktor intimidasi”, SmartWood meminta
                       koridor dianggap sebagai jalan       perusahaan untuk melakukan analisis mendetil
                       bagi perusahaan untuk                tentang dampak sosial ekonomi pada keberadaan,
                       menyelesaikan konflik lokal,         penggunaan dan pemeliharaan jalan koridor pada
                       namun juga menjadi sumber            masyarakat, termasuk keberadaan Brimob.
                       tekanan atau intimidasi bagi
                       masyarakat lokal.

P3 – Hak-hak        1. Stakeholder menunjukkan           1. Sebagaimana disebutkan di atas, Perusahaan
Masyarakat Adat        keprihatinan bahwa sumberdaya        mengakui bahwa mereka membuat kesalahan dan
                       tradisional seperti ulin tidak       merusak ulin, tengkawang, durian dan HHNK
                       diberikan kepada masyarakat          lainnya, namun Perusahaan telah membayar
                       lokal, malahan perusahaan            kompensasi. Selain melalui Surat Keputusan
                       menebang ulin, tengkawang dan        Direktur Utama PT Erna No. AAJ.Y/SBY-
                       durian pada tahun 2002 di Bukit      KEP/04/XII/2002, Bukit Sekajang (terletak di Petak
                       Sekajang.                            AA-31, AA-33, BB-33 dan BB-34) telah



  PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                         Page 30                    July 2005
                                                             dikeluarkan dari kawasan UPH dan dilindungi.
                    2. Ada tuduhan bahwa perusahaan          Selain itu, perusahaan telah menunjuk beberapa
                       tidak mengijinkan masyarakat          lokasi sebagai kawasan konservasi menyusul hasil
                       lokal untuk menggunakan ulin          konsultasi dengan masyarakat.
                       karena dia adalah spesies yang     2. Kebijakan Perusahaan dalam hal penggunaan kayu
                       dilindungi.                           ulin bersesuaian dengan hukum-hukum yang
                                                             berlaku, dan Perusahaan melestarikan ulin untuk
                                                             digunakan masyarakat lokal. Pelestarian ulin
                                                             dikembangkan berdasar pada keberadaan ulin di
                                                             kawasan itu. Dimana ada ulin, perusahaan pasti
                                                             akan melindungi. Opini masyarakat yang disuarakan
                                                             adalah bahwa perusahaan tidak melarang penduduk
                                                             desa menebang ulin.


P4: Hubungan        1. Beberapa stakeholder               1. Temuan SmartWood menunjukkan bahwa ada
Masyarakat dan          mengungkapkan keprihatinannya        kelompok masyarakat adat yang telah terlibat dalam
Hak-Hak Pekerja         bahwa program pengembangan           program pengembangan amsyarakat. Hanya satu
                        masyarakat tidak diberikan           desa di luar konsesi yang sedang menerima bantuan
                        kepada masyarakat adat.              pengembangan masyarakat. Diakui bahwa program
                        Masyarakat di sepanjang              pengembangan masyarakat ini merupakan proses
                        perbatasan menerima banyak           yang terus berlangsung dan akan terus ditingkatkan.
                        dari keuntungan perusahaan.       2. Auditor menemukan bahwa program PMDH
                    2. Ada saran untuk mengubah              merupakan inisiatif yang positif dan konstruktif
                        pendekatan dalam program             meskipun pada tahap ini masih ada ketidaksetaraan
                        PMDH dengan pendekatan yang          dalam penerapannya ke semua desa. Pelaksanaan
                        lebih partisipatif.                  PMDH belum memenuhi tujuan sebagaimana yang
                    3. Sejumlah masyarakat lokal             diharapkan di seluruh desa. Ada kelemahan dalam
                        bekerja pada PT Erna tetapi          partisipasi masyarakat dalam mendefinisikan dan
                        tanpa keahlian                       merencanakan PMDH, yang menjadikan
                    4. Ada keprihatinan sehubungan           SmartWood mengeluarkan kondisi untuk hal ini.
                        dengan pendidikan dan             3. Dirasakan bahwa peluang pekerjaan untuk
                        kesehatan pada desa-desa di          masyarakat lokal dapat ditingkatkan.
                        dalam konsesi.                    4. SmartWood menemukan bahwa PT Erna telah
                    5. Masyarakat Selau dan Manjul           bekerja dengan baik dalam hal pendidikan dan
                        tidak disentuh oleh program          kesehatan dengan menyediakan rehabilitasi dan
                        PMDH.                                pembangunan sekolah, beasiswa, poliklinik dan
                    6. Pelatihan untuk masyarakat            transportasi dari desa ke pusat kesehatan di camp,
                        masih sedikit                        tanpa pungutan bayaran.
                    7. Tidak ada perubahan yang           5. Auditor menemukan bahwa ada dua desa yang
                        signifikan pada kehidupan            terletak di luar batas konsesi dan perusahaan tidak
                        masyarakat                           memiliki tanggungjawab hukum di sana.
                    8. Perusahaan menggunakan lahan       6. Ini merupakan evaluasi yang subyektif dan tidak
                        adat.                                dapat dipertimbangkan dalam hal program
                    9. Perusahaan kekurangan program         dukungan pendidikan dari Perusahaan.
                        untuk pemberdayaan                7. Ini juga merupakan pernyataan yang subyektif
                        masyarakat.                          karena tidak ada dasar untuk perbandingan. Upaya-
                    10. Tuduhan dibuat bahwa                 upaya pengembangan masyarakat terlihat ekstensif
                        stakeholder yang hadir tidak         dalam bidang pertanian, infrastruktur, pendidikan
                        mewakili stakeholder sebenarnya      dan kesehatan.
                        yang memiliki kepentingan pada    8. Ditemukan bahwa Perusahaan telah berupaya keras
                        kinerja Perusahaan.                  dan bekerja bersama masyarakat lokal untuk
                                                             menunjuk lahan masyarakat pada sistem PGM.
                                                             Perusahaan juga berkonsultasi dengan masyarakat
                                                             untuk mengeluarkan lahan dengan kepentingan
                                                             budaya di dalam kawasan hutan.


  PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                          Page 31                   July 2005
                                                             9. Program PMDH sangat ekstensif dan dirancang
                                                                 untuk memberdayakan masyarakat lokal.
                                                                 Direkomendasikan bahwa Perusahaan
                                                                 meningkatkan sosialisasinya mengenai program
                                                                 yang sangat baik ini.
                                                             10. SmartWood terus berupaya untuk memberitahukan
                                                                 kepada semua stakeholder dari proses penilaian ini
                                                                 dan memberikan peluang untuk input dalam proses
                                                                 konsultasi, yang bisa berbentuk pertemuan publik
                                                                 atau melalui input langsung kepada SmartWood.

P5: Manfaat dari     1. Ada klaim bahwa terlalu banya        1. SmartWood telah memberikan Kondisi 19 pada PT
Hutan                   limbah yang ditinggalkan dalam          Erna untuk mendokumentasikan kayu limbah yang
                        hutan oleh PT Erna                      dapat dihindari dan mengkaji kemungkinan
                                                                peningkatan pemanfaatannya.
P6: Dampak           1. Ada keprihatinan bahwa sekitar       1. Sementara hutan lindung terpaksa ditebang untuk
Lingkungan hidup        8-10 kilometer dari hutan               membangun koridor, jarak yang diklaim terlalu
                        lindung harus ditebang untuk            berlebihan. Juga harus diketahui bahwa ijin-ijin dan
                        membangun jalan koridor                 persetujuan telah diperoleh sebelum membangun
                        menuju konsesi.                         jalan tersebut.
                     2. Jalan koridor dibangun tanpa         2. Jalan akses koridor dibangun dengan baik, termasuk
                        drainase air pada sisi-sisi jalan.      drainasenya.
P7: Rencana          Tidak ada masukan.                      Tidak ada komentar.
Pengelolaan
P8: Monitoring &     Tidak ada masukan.                      Tidak ada komentar
Penilaian
P9: Pemeliharaan     Tidak ada masukan.                      Tidak ada komentar.
Hutan dengan nilai
konservasi tinggi




  PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                             Page 32                   July 2005
  3. HASIL, KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

      3.1.     Pembahasan Temuan secara umum

  Tabel 11          Temuan berdasar Prinsip FSC
     Prinsip                         Kekuatan                                       Kelemahan
P1: Ketaatan pada    • Komitmen pada sertifikasi sangat           • Penyelesaian analisis dampak kegiatan
hukum dan              tinggi. Manajemen dan staf terlihat           Perusahaan di luar batas konsesi (mis koridor
prinsip-prinsip        sangat menyadari permasalahan dan             dan desa-desa di sepanjang perbatasan selatan)
FSC                    terbuka dengan informasi.                     masih belum selesai dilakukan.
                     • Secara umum ketaatan dengan hukum          • Pelaksanaan TPTJ oleh perusahaan tidak
                       dan peraturan sangat baik.                    konsisten dengan standar yang disusun dalam
                     • Pembayaran royalti, iuran, pajak dsb          ijin konsesi. Meskipun praktek perusahaan
                       selalu dilakukan.                             sebenarnya bisa memperbaiki standar ini,
                                                                     persyaratan untuk mendapatkan dukungan dari
                                                                     pemerintah merupakan kapasitas perusahaan
                                                                     untuk taat hukum.
                                                                  {Diterbitkan Prekondisi 1 dan 2; Kondisi 1 dan
                                                                  2}
                                                                  [Kelemahan bisa diatasai, lihat ringkasan
                                                                  prekondisi di bawah]

P2: Hak tenurial,    • Ada komitmen yang kuat untuk            • Perlu ada sosialisasi yang lebih banyak dari
hak guna dan           mengembangkan batas-batas yang jelas       perusahaan dan juga lebih banyak keterlibatan
tanggungjawabnya       dengan lahan masyarakat melalui PGM        masyarakat lokal dalam pengembangan dan
                       dan KPPL. Perusahaan telah membuat         demarkasi PGM.
                       kemajuan besar dalam hal ini.           • Status dan penggunaan kawasan ladang di
                     • Lokasi budaya dan penting telah            masa depan harus diputuskan melalui proses
                       diidentifikasi, ditandai di lapangan dan   konsultasi dengan masyarakat lokal.
                       dihormati pada prakteknya.              {diterbitkan Kondisi 3, 4, dan 5 }
P3 – Hak-hak         • Hak guna dalam PGM terjamin.            • Sebagian besar ladang berada di luar PGM dan
masyarakat adat                                                   karenanya hak penguasaan atau hak guna
                                                                  masih belum jelas.
                                                               {diterbitkan Prekondisi 2 & 5; Kondisi 6, 7, 8,
                                                               dan 9 issued}
                                                               [Kelemahan diatasi, lihat ringkasan Prekondisi
                                                               di bawah ini]
P4: Hubungan         • Pelayanan pada pekerja seperti          • Proses-proses sosial menuju pada pemahaman
masyarakat dan         perumahan, klinik kesejatan, fasilitasi    terhadap program pengembangan masyarakat
Hak-hak pekerja        olah raga dan asurasi pensiun              secara lebih baik seperti PGM dan PMDH
                       disediakan oleh Perusahaan secara          perlu diperkuat melalui sosialisasi dan
                       gratis dengan kualitas yang baik.          keterlibatan masyarakat yang lebih baik.
                     • Pelayanan pada masyarakat yang          • Keberadaan serikat masih dalam tahap sangat
                       meliputi pusat kesehatan, fasilitasi       awal. Meskipun kurangnya minat dalam
                       pendidikan (bangunan, gaji untuk guru),    gerakan serikat pekerja merupakan akibat dari
                       program beasiswa , akses jalan,            baiknya kondisi lingkungan pekerjaan,
                       transportasi umum gratis disediakan        Perusahaan perlu menginformasikan kepada
                       Perusahaan secara berkala, dan             para pekerja mengenai pilihan mereka
                       dilakukan dengan kualitas memuaskan.       terhadap serikat ini.
                                                               • Perekrutan dan pelatihan anggota masyarakat
                                                                  lokal bisa diperkuat.
                                                               {diterbitkan Kondisi 10, 11, 12, 13, 14, dan 15 }



  PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                           Page 33                   July 2005
P5: Manfaat dari    • Perusahaan menjalankan kegiatan            • Tampak ada kehilangan hutan primer dalam
hutan                 operasional dengan efisien dan kualitas       penjadwalan selama siklus rotas pertama
                      tinggi. Jalan-jalan dan infrastruktur juga    dalam 35 tahun. Hal ini harus diklarifikasikan
                      berkualitas tinggi. Fasilitas workshop        dalam peta dan pada dokumentasi pendukung
                      dan pemeliharaan sungguh luar biasa.          dalam bentuk tabel.
                    • Banyak upaya telah dilakukan untuk         • Pelaksanaan RIL harus ditingkatkan untuk
                      menerapkan RIL.                               mendapatkan kemajuan lebih dari yang ada
                    • Perusahaan memiliki program PMDH              sekarang.
                      yang kuat dan progresif yang bertujuan • Perusahaan perlu memeriksa kebijakan
                      untuk memperkuat masyarakat lokal             tentang pemanfaatan hutan untuk lebih cermat
                      dalam bidang pembangunan ekonomi.             mengolah pohon yang ditebang dan untuk
                    • Adanya sistem SOP yang sangat                 meminimalkan dampak pada pohon-pohon
                      ekstensif untuk memberikan pedoman            tinggal.
                      bagi semua aspek kegiatan.                 {Diterbitkan Prekondisi 3; Kondisi 16 dan 17 }
                                                                 [Kelemahan diatasi, lihat ringkasan
                                                                 prekondisi di bawah ini]
P6: Dampak          • Penilaian dampak lingkungan pernah         • Perlu diadopsi sistem monitoring yang lebih
Lingkungan Hidup      dilakukan pada tahun 1997 dan banyak          ketat untuk dampak pembalakan ini.
                      rekomendasi yang diikuti perusahaan.
                      Rekomendasi ini meliputi pembuatan         • Zona konservasi tidak memadai dalam hal
                      kawasan penyangga di sepanjang batas          ukuran luasnya. Ini merupakan kelemahan
                      hutan lindung dan khususnya pada sisi-        yang signifikan. Total luas dalam zona
                      sisi sungai yang ditandai pada peta, di       konservasi hanya 5% dari total luas hutan. Ini
                      lapangan dan dihormati oleh                   tidak sesuai untuk hutan yang mempunyai
                      perusahaan ketika menjalankan                 keragaman sebesar keragaman hutan
                      operasionalnya.                               dipterocarpaceae dataran rendah dan
                    • Zona konservasi yang ada sekarang             perbukitan di kawasan ini.
                      ditempatkan dengan baik. Zona-zona
                      ini merupakan keterwakilan dari jenis      {diterbitkan Prekondisi 4; Kondisi 18, 19, dan
                      hutan yang ditebang dan dilokasikan        20 }
                      dalam kawasan yang tidak mungkin           [Kelemahan diatasi, lihat ringkasan Prekondisi
                      dipengaruhi oleh aktifitas luar seperti    di bawah ini]
                      pembukaan ladang..
                    • Staf konsesi memiliki pengetahuan
                      tentang spesies dilindungi yang
                      ditemukan dalam kawasan hutan di sini.
                      Pohon-pohon yang dilindungi dihormati
                      dan ditandai di lapangan.
                    • Sistem TPTJ yang dimodifikasi yang
                      digunakan memiliki dampak minimal
                      dibanding dengan sistem TPTI. Ukuran
                      minimum untuk ditebang adalah 55cm
                      dan berkurangnya jalur untuk ditanami
                      mengakibatkan gangguan menjadi
                      sedikit. Permudaan alam terlihat sangat
                      kuat di banyak wilayah.
                    • Perusahaan telah menyiapkan
                      sekumpulan SOP yang menjadi
                      pedoman bagi semua kegiatan
                      konservasi.
                    • Tidak ada bahan kimia yang digunakan
                      dalam kegiatan operasional hutan.
                      Workshop memiliki kualitas yang luar
                      biasa. Limbah minyak dikumpulkan
                      secara hati-hati dan didaur ulang.



  PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                          Page 34                   July 2005
                       Limbah lain juga dikelola dengan hati-
                       hati.
P7: Rencana          • Ada rencana pengelolaan yang disetujui     • Ada ketidakkonsistenan dalam pemetaan
Pengelolaan            dan selalu diperbaharui yang                  kawasan ladang. Hal ini menciptakan
                       menunjukkan praktek dan kebijakan             kemungkinan adanya kesalahan dalam
                       terkini.                                      penjadwalan pada siklus rotas 35 tahun
                     • Ada banyak peta dengan kualitas yang          pertama. Pemetaan kawasan non hutan perlu
                       baik, dan digunakan secara rutin dalam        lebih akurat dan konsisten pada semua peta
                       perencanaan dan operasional.                  dan hasil pemetaan ini perlu dimasukkan
                     • Staff sangat kompeten dan terlatih            dalam penjadwalan kawasan tebang tahunan.
                       dengan baik untuk melaksanakan             {Diterbitkan Prekondisi 5 }
                       rencana pengelolaan tersebut.              [kelemahan diatasi, lihat ringkasan prekondisi
                                                                  di bawah ini]
P8: Monitoring &     • Perusahaan telah menetapkan rangkaian      • Tidak ada monitoring pra-pembalakan yang
Penilaian              4 lokasi PUP sebagaimana diwajibkan           dijalankan. Semua dugaan dampak dibuat
                       oleh peraturan. Mereka telah                  dengan cara membandingkan plot yang
                       mengumpulkan dan menganalisis data            ditebang dan yang tidak ditebang secara
                       dari plot ini untuk menduga                   terpisah (plot yang tidak ditebang berada
                       pertumbuhan.                                  dalam zona konservasi).
                     • Perusahaan juga telah mengembangkan
                       sekumpulan plot sample permanen yang       • Tidak ada mekanisme formal untuk
                       sangat komprehensif. Plot ini                memasukkan hasil monitoring ke dalam
                       merupakan tambahan dari standar yang         perbaikan manajemen.
                       ditetapkan oleh pemerintah (PUP). Plot
                       tambahan ini dirancang dengan baik         • Tidak ada monitoring dampak dari kegiatan
                       dan terpelihara dengan baik juga. Hasil-     perusahaan pada masyarakat lokal atau
                       hasil tersebut akan menjadi data yang        keberhasilan dampak pada kegiatan
                       sangat berharga dalam menilai dampak         pengembangan masyarakat
                       sistem TPTJ dan khususnya untuk
                       mengukur pertumbuhan.                      {diterbitkan Kondisi 21}
                     • Ada sekumpulan SOP yang mendetil
                       untuk monitoring hidupan liar dan
                       tumbuhan. Kegiatan monitoring ini
                       telah berlangsung secara reguler di
                       lapangan. Laporan monitoring
                       disiapkan dengan baik dan ditulis tepat
                       waktu.
                     • Perusahaan memiliki sistem kontrol
                       inventarisasi yang mendetil dan efektif
                       untuk memonitor gerakan log ke pabrik.
P9: Pemeliharaan     • Perusahaan telah mulai proses              • Proses ini belum selesai. Perlu ada konsultasi
Hutan dengan nilai     mengidentifikasi dan mengelola HCVF.          yang lebih luas dengan para pakar dan
konservasi tinggi      Mereka menunjukkan dedikasi mereka            masyarakat lokal. Strategi pengelolaan perlu
                       dalam menyelesaikan proses ini dengan         dinyatakan secara eksplisit dan dimasukkan
                       berkonsultasi pada pakar dan                  dalam perencanaan.
                       stakeholder yang lain.                     {diterbitkan Kondisi 22 }



  Ringkasan Pemenuhan Prekondisi

  Berikut ini adalah review dari proses SmartWood untuk mengevaluasi prekondisi yang diberikan
  selama penilaian penuh. Sebagaimana yang dijelaskan di atas dalam laporan sertifikasi, auditor
  SmartWood melakukan inspeksi lapangan , wawancara dengan staf dan stakeholder, dan




  PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                           Page 35                   July 2005
mereview dokumentasi agar dapat menilai ketaatan Perusahaan dalam memenuhi Prekondisi.
Temuan-temuan dijelaskan untuk masing-masing prekondisi yang diterbitkan.

Prekondisi 1 Sebelum sertifikasi, PT Erna harus mendapatkan perkecualian dari
Departemen Kehutanan sehingga mereka bisa mengklaim legitimasi hukum dalam hal
kesepakatan ijin HPH sembari mempertahankan praktek-praktek yang ada sekarang dalam
hal TPTJ (Kriteria 1.1dan 1.4)

Temuan:
Penilaian prekondisi ini terdiri dari review dokumen surat-surat dan laporan yang disampaikan
kepada Departemen kehutanan, dan wawancara dengan staf senior dari perusahaan. Dokumentasi
utama terdiri dari surat-surat yang didaftar dalam bagian 1.0 F. Dokumentasi itu menunjukkan
langkah-langkah yang dilakukan oleh PT Erna untuk mendapatkan legitimasi hukum untuk batas
tebangan yang digunakan oleh perusahaan tersebut.

    1. Tanggal 31 Januari 2004, PT. Erna mengirimkan surat kepada Dirjen BPK No. P.003/04
       mengenai permohonan persetujuan untuk ijin tebang dengan batas diameter ≥ 50/55 cm,
       kecuali untuk spesies bangkirai dan keruing (masih ≥ 40 cm) sebagaimana disebutkan
       dalam SK HPH.
    2. Surat dari Direktorat Bina Pengembangan Hutan Alam (Ir. Sutrisno,MM) no.
       UN.15/VI/BPHA-2/2004 dated 25/2/2004 mengundang berbagai Direktur dan Kepala
       Departemen atau staff dari Departemen Kehutanan dan juga PT. Erna Djuliawati pada
       pertemuan untuk membahas permintaan dari PT Erna. Pertemuan dihadiri oleh Direktur
       BRPHP, Direktorat Bina Pengembangan Hutan Alam, Direktur Bina Pengembangan
       Hutan tanaman, Kasubdit Produksi Hutan Alam, Dit BPHA, Kapuslitbang Hutan &
       Konservasi
    3. PT Erna mengirimkan surat kepada Dirjen BPK (surat No. APJ-P.021/04 tertanggal 29
       June 2004) yang meminta Departemen Kehutanan untuk menerbitkan “ijin” sehubungan
       dengan sistem TPTJ (usulan batas diameter).
    4. Tanggapan Departemen Kehutan melalui Dirjen BPK terhadap permintaan perusahaan
       (surat no. S.687/VI-BPHA/2004 tertanggal 9 September 2004). Dalam surat ini Dirjen
       BPK menyetujui proposal mengenai perkecualian dari sistem TPTJ. Mereka menyatakan
       bahwa peraturan pemerintah yang lain juga dipenuhi sebagaimana dimaksudkan dalam
       dokumen perencanaan biasa, seperti rencana pengelolaan (RKPH), rencana 5 tahunan
       (RKL) dan rencana kerja tahunan (RKT). Surat tersebut juga menyatakan bahwa
       Departemen Kehutanan akan mendukung tindakan-tindakan yang diambil selama masih
       dalam batas-batas peraturan pemerintah mengenai sertifikasi pengelolaan hutan lestari
       oleh lembaga sertifikasi yang kredibel.

Surat ini memberikan persetujuan dari Departemen Kehutanan, pada prinsipnya, terhadap sistem
pemenuhan peraturan TPTJ sebagaimana yang diterapkan oleh PT Erna. Sementara Departemen
Kehutanan tidak bersedia memberikan surat keputusan yang memberi kewenangan hukum pada
praktek PT Erna sekarang, perusahaan menerima dukungan dari Departemen Kehutanan
mengenai TPTJ. Perusahaan telah membuat upaya-upaya substansial untuk menjamin bahwa
Departemen Kehutanan mengetahui masalah-masalah ini. Perusahaan telah menerima dukungan
surat dalam bentuk surat dan lisan yang menjamin bahwa penerapan sistem TPTJ mereka saat ini
tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah.

Kesimpulan: Berdasar temuan di atas, auditor menyimpulkan bahwa:
Prekondisi telah dipenuhi dengan sempurna dan ditutup.



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                    Page 36                July 2005
Prekondisi 2 Sebelum sertifikasi, PT Erna harus melengkapi dengan analisis lingkungan
dan sosial sesuai dengan AMDAL tentang pemeliharaan dan pemanfaatan jalan koridor. Hal
ini harus mencakup dampak lingkungan dan sosial dari pembangunan, pemanfaatan dan
pemeliharaan jalan, termasuk dampak pada penduduk desa dan kawasan dan sungai-sungai
di sekitarnya. Selain itu, dampak pemeliharaan termasuk lokasi dan pemanfaatan quarries
harus dipertimbangkan (Kriteria 1.1 dan 3.3)

Temuan:
Penilaian prekondisi ini terdiri dari dua kegiatan yaitu review dokumen dan wawancara dengan
staf perusahaan. Perusahaan memberikan semua bukti komunikasi mereka antara mereka dan
departemen-departemen dalam pemerintahan seperti Kantor Menteri Lingkungan Hidup dan
Departemen Kehutanan. Perusahaan juga memberikan laporan akhir tentang audit pengelolaan
lingkungan hidup yang sudah dilaksanakan oleh TUV dan laporan perusahaan mengenai
pengembangan sistem pengelolaann lingkungan untuk jalan koridor dan audit internal untuk
lingkungan.

PT Erna mengangkut semua log mereka di sepanjang jalan akses 97 km yang membentang dari
base camp hingga log pon di luar kota Nanga Pinoh di Kalimantan Barat. Kira-kira 10 km dari
jalan ini melalui hutan lindung daerah aliran sungai. Dalam tanggapan terhadap pertanyaan dari
perusahaan mengenai kebutuhan akan penilaian dampak lingkungan (AMDAL) untuk bagian
jalan yang melalui hutan lindung, Kantor Menteri Lingkungan Hidup mengirimkan surat
bernomor B-2368/Dep.IV-4/LH/05/2003. Tertanggal 23 Mei 2003 (lihat bahwa tanggal ini
sebelum dilaksanakannya penilaian yang menunjukkan adanya pengetahuan terhadap masalah ini
dan komitmen untuk menyelesaikannya) surat tersebut berisi tiga hal penting:
    1) Jalan tersebut dibangun sebelum pelaksanaan aturan yang mengharuskan adanya
         AMDAL (poin 2 dalam surat tersebut)
    2) AMDAL tidak dapat diterapkan untuk situasi ini. (poin 3 dalam surat itu)
    3) Direkomendasikan bahwa perusahaan menjalankan audit lingkungan dari jalan tersebut
         (poin 4 dalam surat itu)
Klarifikasi lebih lanjut diberikan dalam surat 392/II/DAR-3/2003 tertanggal 15 Juli 2003 dari
Kepala Pusat Standar Lingkungan pada Departemen Kehutanan. Surat ini menyatakan bahwa:
1) Perusahaan harus mencapai pemenuhan standar ISO 14001 tentang pengelolaan lingkungan
    berkelanjutan (poin 2.b dalam surat itu); dan,
2) Ketaatan pada hal ini akan diaudit oleh pihak ketiga (point 2.c)

Untuk memenuhi rekomendasi ini, perusahaan mengumpulkan informasi mengenai persyaratan
ISO 14001 – 1996. Hal ini meliputi pembuatan team yang membawa pada initiatif dan penulisan
prosedur dan kebijakan mengenai pengelolaan lingkungan hidup pada koridor jalan tersebut.
Membuat dokumen ini merupakan bagian dari kondisi untuk pemenuhan standar ISO 14001 –
1996.

Ketika perusahaan percaya bahwa mereka siap untuk diaudit mereka mengontrak dua kelompok
dari pihak ketiga untuk dilibatkan dalam audit tersebut. Pada tanggal 5 Februari 2004
SUCOFINDO melakukan uji emisi dari kendaraan dan mesin-mesin dan diuji untuk tingkat
debunya di sepanjang jalan tersebut. Hasil-hasil uji itu diberikan kepada tim audit. PT TUV
melakukan audit penuh untuk ketaatan dengan ISO 14001 – 1996. Audit ini berlangsung pada
tanggal 2-4 Maret 2004 dan laporan akhirnya disampaikan kepada perusahaan pada bulan
September 2004.




PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                     Page 37                July 2005
Harus diingat bahwa audit ini, bukan merupakan audit penilaian dampak lingkungan (EIA)
sebagaimana yang dikehendaki dalam prekondisi tersebut. Namun ini merupakan standar yang
diminta oleh Kantor Menteri Lingkungan Hidup dan Departemen Kehutanan. Laporan yang
dihasilkan memiliki informasi dan rekomendasi yang sama sebagaimana yang akan ditemukan
dalam EIA, namun EIA ini merupakan standar yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan
AMDAL yang biasanya digunakan di Indonesia. Laporan TUV menilai apakah perusahaan
mentaati estándar untuk sistem pengelolaan lingkungan. Tim TUV melihat pada dampak jalan
dan pengangkutan terhadap hutan dan sungai dalam hutan lindung. Mereka melihat tingkat erosi,
sampah, emisi dari kendaraan (dengan menggunakan hasil uji dari SUCOFINDO), tingkat debu
(juga dengan menggunakan hasil uji dari SUCOFINDO). Selain itu, mereka juga mewawancarai
masyarakat di sepanjang jalan, dan melakukan review dokumen. Pada dasarnya tim TUV juga
melakukan audit pada workshop dan base camp. Standar yang digunakan dalam audit ini lebih
ketat daripada norma-norma di Indonesia.

Audit TUV memberikan 11 rekomendasi mengenai bagaimana mengatasi 10 bidang
permasalahan ketidaktaatan minor. Kesepuluh bidang ini lebih terkait dengan masalah-masalah
teknis untuk memenuhi standar tinggi yang diatur dalam ISO 14001. Mereka mengidentifikasi
tidak adanya dampak lingkungan dan sosial dari adanya jalan.

PT Erna Djuliawati telah menerima hasil dari Audit ISO 14001 yang dilakukan pada tahun 1996.
Perusahaan terus berusaha untuk memperoleh persetujuan dari Kantor Menteri Lingkungan Hidup
atas audit TUV tersebut untuk menunjukkan ketaatan pada surat B-2368/Dep.IV-4/LH/05/2003.
Keterlambatan respon dari Menteri tersebut berarti persetujuan belum tercapai. Perusahaan terus
berusaha untuk mendapatkan persetujuan resmi dari dokumen ini.

Selain persyaratan prekondisi perusahaan telah menerbitkan tanggapan pada audit TUV dan terus
berusaha mengatasi permasalahan yang diangkat dalam audit tersebut. Perusahaan telah membuat
SOP untuk pengelolaan dampak lingkungan. Pada bulan Oktober dan November 2004 perusahaan
melaksanakan audit lingkungan internalnya pada jalan koridor yang menghasilkan rekomendasi
lebih lanjut untuk diperbaiki. Hal ini merupakan bagian dari program monitoring untuk dampak
sosial dan lingkungan dari adanya jalan tersebut.

Kesimpulan: Berdasar temuan diatas auditor menyimpulkan bahwa:
Prekondisi telah dipenuhi keseluruhan.

Prekondisi 3 Sebelum sertifikasi, PT Erna harus mengklarifikasi peta-peta dan dokumen
pendukung, pengaturan tata ruang untuk siklus tebang 35 tahun untuk menjamin kelestarian
dan kawasan tebang yang setara atau sama untuk keseluruhan periode rotasi. Verifikasi dan
pengaturan perencanaan tataruang ini akan mempertimbangkan persyaratan yang dimaksud
dalam Prekondisi 4 dalam Prinsip 6.4.

Temuan:
Evaluasi prekondisi ini dilaksanakan dengan cara mereview dokumentasi. Auditor mempelajari
peta baru dalam bentuk cetak dan GIS perusahaan, dan juga penghitungan Jatah Penebangan
Tahunan (JPT).

Untuk menghitung kembali AAC, PT Erna akan menganalisis kembali citra lansat tahun 2002.
Perusahaan belum mampu mendapatkan citra tahun 2004 yang cukup memadai guna
memperbaharui analisisnya namun telah mencoba untuk mendapatkannya. Analisis planimetris
dilakukan dengan menggunakan citra tahun 2002, dan kawasan HCVF baru dan kawasan
konservasi telah diplotkan dalam peta. Kawasan non-hutan juga dipetakan dengan lebih akurat


PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                     Page 38                July 2005
dan dimasukkan dalam perencanaan. Selain itu beberapa kawasan yang telah diklasifikasikan
sebagai kawasan bekas tebangan dalam analisis sebelumnya sekarang telah digolongkan menjadi
“hutan virgin dengan potensi rendah”. Staf melaporkan bahwa hal ini didasarkan pada
pengetahuan mengenai sejarah tebangan, dan juga mengenai interpretasi citra yang lebih akurat.

Total kawasan yang dapat dipanen sekarang ini dihitung sebesar 151,887 ha. AAC yang baru
diatur kira-kira sebesar 4,340 ha/tahun. Blok tebang tahunan dalam Kompartemen A dan B dari
konsesi ini telah dihitung kembali dan diplotkan kembali. Operasional logging pertama kali
dimulai pada tahun 1980. Ijin yang ada sekarang dimulai pada tahun 1999. Oleh karena itu
penebangan kawasan hutan bekas tebangan akan terjadi pada tahun kelimabelas dari rencana 35
tahun yang ada sekarang. Inilah masalahnya dan ditunjukkan dalam peta dan dokumen
perencanaan pendukung (PT Erna memberikan dokumen-dokumen prekondisi, vol 1. p.14).
Rotasi kedua, yang berawal pada tahun 2034 juga telah diidentifikasi, namun belum dispesifikasi
dalam peta. Kawasan tebang kira-kira sama untuk setiap tahun dan prediksi baru dari potensi
volume per tahun juga telah dihitung.

Kesimpulan: Berdasar temuan diatas auditor menyimpulkan bahwa:
Prekondisi telah dipenuhi keseluruhan dengan observasi berikut ini:
Peta-peta harusnya diperbarui untuk menunjukkan rotasi berjalan dan rotasi dari blok logging
tahunan dan 5 tahunan (RKT dan RKL) dalam rotas kedua.


Prekondisi 4 Sebelum sertifikasi, pengalokasian konservasi harus ditingkatkan dalam
perencanaan tataruang perusahaan, baik dalam ukuran luas atau kumlah, agar dapat
melindungi ekosistem yang representatif secara memadai dan melindungi nilai-nilai
keanekaragaman hayati. Perusahaan harus mencoba mencapat 10% dari target atau
menunjukkan strategi konservasi yang cukup untuk mengakomodasi masalah-masalah
konservasi. Pengaturan perencanaan khusus dalam hal ini akan dilakukan dalam
hubungannya dengan Prekondisi 3. (Lihat Prinsip 5.6)

Temuan:
Penilaian prekondisi ini dilaksanakan melalui review dokumen, kunjungan lapangan dan diskusi
dengan staf perusahaan. Sumberdaya utama yang direview adalah peta-peta perencanaan
tataruang, volume I dari dokumen PT Erna tentang pemenuhan prekondisi dan laporan HCVF
perusahaan. Konsultasi dilakukan sebagian besar dengan Bapak Nandang Supriatna (Ketua forest
engineering), Pak Suparman (Ketua pengembangan hutan) dan Pak Ellie (Camp manager),
dengan informasi tambahan yang berasal dari staf yang menemani dalam kunjungan lapangan.
Dalam rangka menilai kondisi dan kesesuaian zona konservasi tim audit mengunjungi hutan adat
Bukit Sekajang yang terletak pada referensi peta AA 31-33, BB 33-34 dan yang dekat dengan
zona konservasi hidupan liar (Kantong satwa) yang terletak pada AA 35, BB35, 36, CC36, DD
35, 36, EE 34, 35.

Dokumentasi yang diberikan menunjukkan bahwa saat ini terdapat 15,074 ha yang dikeluarkan
dari kegiatan operasional hutan. Berdasar perhitungan perusahaan, ini mewakili sekitar 9.9% dari
kawasan hutan efektif. Penjabaran angka ini diberikan pada tabel berikut.

    Jenis                           Luas (Ha)
    Kantong Satwa                   1,000
    ASDG                            700
    Plasma Nutfa                    700



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                      Page 39                 July 2005
    Badan Sungai                    248
    Sempadan Sungai                 4,897
    Situs Budaya/Hutan adat         926
    PUP                             700
    > 40 %                          2,072
    Buffer zone                     2,515
    Mata air                        1,141
    HL Bukit Beruang                175
    TOTAL                           15,074

Investigasi lebih telitih untuk angka ini mengungkapkan beberapa permasalahan dalam hal tujuan
konservasi keanekaragaman hayati:
1) Luasan yang dikeluarkan cukup layak untuk menjadi HCVF dan ini meliputi beberapa
    kawasan situs budaya yang dirancang untuk tujuan budaya daripada alasan ekologi.
2) Totalnya meliputi 248 ha pada kawasan sungai. Ini bukan hutan, namun masih dapat
    dianggap sebagai satu ekosistem.
3) Kira-kira luasan sebesar 6,000 ha dari kawasan yang dikeluarkan, pada peta merupakan
    kawasan hutan bekas tebangan.
4) Kawasan terluas dari luas yang dikeluarkan ini adalah zona penyangga sisi sungai. Sementara
    memang penting untuk membedakan bahwa pengaturan ini adalah lebih untuk perlindungan
    sumber air daripada tujuan konservasi keanekaragaman hati, yang review selanjutnya
    menunjukkan bahwa dari 4,897 Ha zona riparian, 3,663 hektarnya dikelompokkan sebagai
    non-hutan, kawasan non hutan yang memiliki nilai penting konservasi keanekaragaman
    hayati sangat rendah dan bukan merupakan ekosistem yang representative dari mayoritas unit
    pengelolaan hutan.

Jika areal diatas (1- 4) tidak dimasukkan dalam perhitungann luas yang dikeluarkan, maka
totalnya adalah 10,237 Ha (6.7 % dari kawasan efektif). Hal ini masih merupakan peningkatan
kawasan konservasi dari 8,608 Ha pada saat penilaian.

Kunjungan lapangan dan konsultasi dengan staf perusahaan menunjukkan bahwa semua situs
budaya berada dalam kawasan hutan yang tidak diganggu dan bahwa situs-situs tersebut memiliki
nilai konservasi keanekaragaman hayati dan juga sosial budaya. Perusahaan secara signifikan
telah menerapkan metode penebangan berdampak rendah dalam 12 bulan terakhir ini, yang
memberikan output konservasi lebih positif. Staf perusahaan dan dokumentasi menunjukkan
bahwa RIL telah mengurangi kawasan yang terkena dampak operasional logging. Ini menjadi
bagian dari strategi konservasi dari perusahaan. Pada hutan dipterocarp perbukitan yang
mendominasi di sepanjang konsesi, mereka biasanya hanya mengganggu secara langsung kira-
kira 50% dari blok tebang tahunan tertentu. Mereka belum secara akurat memetakan ini untuk
memberikan bukti yang mendukungnya, namun hal ini bisa dilakukan di masa depan.

Inspeksi lapangan menunjukkan bahwa kawasan yang dikeluarkan sekarang merupakan
representative dari hutan-hutan yang ada di wilayah konsesi. Mereka secara jelas ditandai di
lapangan dan pendapat auditor adalah bahwa kawasan-kawasan ini memang memiliki nilai-nilai
konservasi keanekaragaman hayati yang signifikan. Kunjungan lapangan juga menunjukkan
adanya batasan-batasan dalam peta kondisi hutan yang sedang digunakan. Penilaian apakah hutan
ini masih virgin atau bekas tebangan sangat tidak jelas. Beberapa kawasan konservasi yang
ditandai di peta sebagai hutan bekas tebangan, namun kenyataan di lapangan kawasan itu masih
virgin. Audit lapangan memasukkan kawasan hutan bekas tebangan yang saat ini di luar blok
tebangan dan kawasan konservasi. Hal ini menjadi “lubang/kesenjangan” dalam perencanaan dan



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                    Page 40                 July 2005
mungkin beresiko terhadap perambahan atau penebangan liar jika tidak masuk perencanaan.
Auditor mengamati bahwa kawasan bekas tebangan ini memiliki nilai-nilai konservasi dan harus
ditambahkan dalam jaringan kawasan konservasi.

Apakah prekondisi tersebut telah terpenuhi atau tidak sangat tergantung pada penilaian apakah
luasan kawasan yang diperuntukkan tersebut “layak dilihat dari skala dan intensitas kegiatan
operasional dan keunikan sumberdaya yang terkena dampak” (FSC P6.4), dan bahwa PT Erna
telah menunjukkan “strategi konservasi secara memadai untuk mengakomodasi kepentingan-
kepentingan konservasi”.

Tim audit berpendapat bahwa PT Erna telah membuat kemajuan yang bagus dalam meningkatkan
aspek konservasi keanekaragaman hayati dalam pengelolaan hutannya. Kawasan konservasi
tambahan seluas 1,800 Ha meningkatkan cakupan kawasan konservasi dan dilengkapi dengan
perbaikan metode RIL yang menghasilkan sejumlah besar luasan kawasan konservasi secara
efektif. Perusahaan telah menunjukkan komitmen untuk mengembangkan rencana
keanekaragaman hayati yang bagus sebagai bagian dari analisis mereka terhadap HCVF.

Secara keseluruhan, ada sedikit peruntukan kawasan khususnya untuk konservasi
keanekaragaman hayati dan masih ada kekurangan keterwakilan dari hutan virgin pada kawasan
yang mudah aksesnya dan yang bisa ditebang. Unit pengelolaan hutan dibagi menjadi dua bagian,
Kompartemen A dan B, dan blok-blok tebang tahunan terbagi dalam kedua areal tersebut. Kedua
kompartemen itu terdiri dari hutan dengan jenis tanah dan topografi yang berbeda. Jaringan
kawasan konservasi dalam hutan virgin perlu mewakili kawasan dalam kedua kompartemen
tersebut.

Kesimpulan: Berdasar temuan di atas auditor menyimpulkan bahwa:
Prekondisi telah dipenuhi dengan tambahan kondisi berikut ini:
Kondisi 1/05: Dalama enam bulan setelah sertifikasi, kawasan konservasi dalam hutan
bekas tebangan dan hutan virgin ditingkatkan dengan memperhatikan secara khusus pada
peningkatan kawasan konservasi dalam hutan virgin.

Prekondisi 5 Sebelum sertifikasi, PT Erna harus menjamin bahwa semua peta konsesi
harus secara akurat menunjukkan semua kawasan ladang, kebun dan lahan non-hutan dan
bahwa kawasan-kawasan ini dipertimbangkan ketiga mengatur perencanaan tataruang untuk
blok tebang tahunan selama siklus tebang 35 tahun.

Temuan:
Penilaian prekondisi ini dilaksanakan melalui review dokumen, kunjungan lapangan dan diskusi
dengan staf perusahaan. Sumber utama yang direview adalah peta perencanaan tata ruang,
volume I dari dokumen pemenuhan prekondisi dari Perusahaan dan laporan mengenai
perladangan berpindah. Konsultasi dilakukan sebagian besar dengan Pak Nandang Supriatna
(Ketua forest engineering) dan Pak Aspin Sumarmata (ketua program pengembangan sosial).

Regenerasi kawasan bekas ladang dan kawasan yang baru saja dibuka dibandingkan dengan peta
perencanaan tataruang yang ada. Dikunjungi pula kawasan ladang yang relatif baru dibuka pada
tahun 2003. Petani tinggal di kawasan tersebut namun saat ini tidak mengusahakan lahan itu. Dia
tinggal di sana sambil mengumpulkan dan menyiapkan biji HHNK (dari benih berbagai jenis
Shorea, yang di Indonesia dikenal sebagai tengkawang).




PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                      Page 41                 July 2005
Perusahaan menganalisis kembali citra 7 lansat 2002 dan menghitung kembali kawasan “virgin”,
‘bekas tebangan’ dan ‘non-hutan’. Perhitungan kembali disajikan dalam Tabel berikut ini.

   Jenis                    Perhitungan baru
   Hutan perawan            72,102
   Bekas Tebang             91,820
   Non-hutan                20,824
   TOTAL                    184,206

Jumlah ini mewakili peningkatan dalam kawasan lebih dari 6000 hektar lahan yang digolongkan
sebagai non-hutan. Ini tidak berarti bahwa ada tambahan lahan seluas 6000 hektar yang ditebang
habis sejak penilaian, hanya bahwa klasifikasi baru secara lebih akurat mewakili situasi aktual di
lapangan. Analisis tataguna lahan belum cukup canggih untuk menentukan berapa bagian yang
menjadi ladang pertanian aktif, kebun hutan atau penggunaan laian. Namun analisis ulang ini
cukup untuk tujuan pengaturan kembali rencana tata ruang dan dengan demikian memenuhi
persyaratan dalam prekondisi.

Namun demikian, peta ini didasarkan pada citra satelit dari tahun 2002. Kunjungan lapangan
menunjukkan bahwa beberapa areal telah dibuka sejak tahun 2002, dan tidak ditunjukkan pada
peta. Beberapa lahan tersebut terlalu kecil untuk digambar pada peta dengan skala 1:100,000.
Untuk mengatasi masalah ini direkomendasikan untuk menganalisis citra satelit yang baru.

Perusahaan menyadari keterbatasan analisis citra satelit yang dilaksanakan dan oleh karenanya
sudah melengkapi informasi ini dengan survey lapangan pada tiap desa dalam konsesi. Survey
tahunan ini mengumpulkan data luas lahan yang dibuka untuk pertanian dan memetakan
lokasinya. Peta partisipatif yang digambar dengan menggunakan tangan ini dimasukkan dalam
Daftar Hasil Inventarisasi Pembukaan Ladang oldeh masysarakat dalam areal HPH PT ERNA
Djuliawati tahun 2004. Namun data ini belum ditambahkan pada fasilitas GIS perusahaan.
Laporan ini meliputi penjabaran kawasan pertanian per desa per rumahtangga dan juga peta-peta
yang digambar dengan tangan. Peta ini menunjukkan warna kuning untuk kawasan
pertanian/ladang tua, biru untuk pertanian yang dibuka kembali pada kawasan tua, dan merah
untuk kawasan yang baru saja dibuka. Data ini telah dianalisis selama lima tahun terakhir. Data
tahun 2004 menunjukkan bahwa jumlah total orang yang menggunakan ladang adalah 534
keluarga, dan total kawasan yang dibuka sekitar 610 Ha dengan kepemilikan per rumahtangga
adalah 1.14 hektare. Laporan ini juga mengakui bahwa perambahan pertanian merupakan salah
satu ancaman terbesar pada pengelolaan hutan berkelanjutan dan memberikan rekomendasi
tentang program untuk mengurangi ketergantungan pada perladangan berpindah. Survey lapangan
ini secara memadai dapat melengkapi kurangnya detil pada analisis satelit.

Kesimpulan: Berdasar temuan di atas auditor menemukan bahwa:
Prekondisi telah dipenuhi seluruhnya, dengan observasi berikut ini.
PT Erna Djuliawati harus melanjutkan upayanya untuk membeli citra satelit terbaru untuk unit
pengelolaan hutannya. Citra ini juga digunakan untuk menganalisis kembali lokasi ladang dan
memeriksa apakah ada perambahan setelahnya. Selain itu proses monitoring perambahan dan
kondisi hutan oleh citra satelit harus dilanjutkan dengan pembelian citra satelit baru secara
reguler. Jika memungkinkan minimum satu citra satelit baru untuk dua tahun. Direkomendasikan
bahwa pemetaan tahunan untuk kawasan pertanian harus didigitasi dan dimasukkan dalam GIS.




PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                        Page 42                 July 2005
    3.2.     Keputusan sertifikasi
             Berdasar review lapangan yang menyeluruh, analisis dan kompilasi temuan oleh tim
             penilai SmartWood ini, PT Erna Djuliawati direkomendasikan untuk menerima
             Sertifikasi Pengelolaan Hutan FSC/SmartWood jika Perusahaan berhasil
             menyelesaikan Prekondisi yang terdaftar pada bagian 3.3.
             Begitu sertifikasi dicapai, PT Erna Djuliawati akan diaudit tiap tahun dan diwajibkan
             untuk tetap mentaati prinsip-prinsip dan kriteria FSC sebagaimana yang didefinisikan
             dalam pedoman regional yang dikembangkan oleh SmartWood atau FSC. PT Erna
             Djuliawati juga diwajibkan untuk memenuhi kondisi seperti yang digambarkan dalam
             Bagian 3.3 dalam jangka waktu yang ditetapkan setelah sertifikat diterbitkan. Para
             pakar dari SmartWood akan mereview kinerja pengelolaan hutan dan ketaatan dengan
             kondisi yang dijelaskan dalam laporan ini, setiap tahun dengan audit terjadwal dan
             audit acak.


    3.3.     Kondisi dan Rekomendasi

             Prekondisi merupakan tindakan yang dapat diverifikasi yang harus dipenuhi sebelum
             terbitnya sertifikat. Kondisi merupakan tindakan yang dapat diverifikasi yang harus
             dilakukan sebagai bagian dari kesepakatan sertifikasi yang harus dipenuhi pada saat audit
             pertama, atau dalam waktu yang disarankan. Setiap kondisi memiliki jangka waktu
             pemenuhannya. Ketidaktaatan pada kondisi akan berakibat pada dibekukannya sertifikasi.
             Rekomendasi merupakan saran-saran tidak mengikat yang akan membantu dalam
             memenuhi Kondisi atau dalam perbaikan umum pada kegiatan-kegiatan menuju
             sertifikasi.

     Daftar Prekondisi

Prekondisi 1         Sebelum sertifikasi, PT Erna harus mendapatkan kesepakatan dari
    Departemen Kehutanan sehingga perusahaan tersebut dapat mengklaim legitimasi hukum
    dalam hal kesepakatan ijinnya sembari meneruskan praktek-praktek TPTJ (Kriteria 1.1 dan
    1.4)             Error! Bookmark not defined.
Prekondisi 2         Sebelum sertifikasi, PT Erna harus menyelesaikan analisis lingkungan dan
    sosial sesuai AMDAL dalam rangka pemeliharaan dan penggunaan jalan koridor. Analisis
    ini meliputi dampak lingkungan dan sossial dari pembangunan, penggunaan dan
    pemeliharaan jalan termasuk dampak pada penduduk desa dan kawasan dan sungai
    sekitarnya. Selain itu, dampak pemeliharaan, termasuk lokasi dan pemanfaatan gorong-
    gorong harus dipertimbangkan (Kriteria 1.1 dan 3.3) ..............................Error! Bookmark not defined.
Prekondisi 3       Sebelum sertifikasi, PT Erna harus mengklarifikasi peta dan dokumen-
    dokumen pendukungnya, pengaturan tataruang dari siklus tebang 35 tahun, untuk menjamin
    kelestarian dan penebangan yang sama dalam masa rotas keseluruhan. Verifikasi dan
    pengaturan pertimbangan rencana tata ruang akan mempertimbangkan persyaratan yang ada
    dalam Prekondisi 4. (Kriteria 5.6). ...........................................................Error! Bookmark not defined.
Prekondisi 4       Sebelum masa sertifikasi, fungsi konservasi harus ditingkatkan dalam
     perencanaan tataruang dalam konsesi, baik dari segi ukuran atau luasan maupun
     jumlah kawasan, agar dalam melindungi ekosistem secara memadai dan melindungi
     nilai-nilai keanekaragaman hayati. Perusahaan harus mencapai 10% dari target atau
     menunjukkan strategi konservasi yang cukup untuk mengakomodasi keprihatinan



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                                  Page 43                     July 2005
    dalam bidang konservasi. Pengaturan pada perencanaan tataruang dalam hal ini akan
    dilakukan dengan merujuk pada Prekondisi 3. (Kriteria 6.4).............Error! Bookmark not defined.
Prekondisi 5    Sebelum sertifikasi, PT Erna harus menjamin bahwa semua peta konsesi
     menunjukkan semua kawasan ladang kebun, dan fungsi lahan non-hutan lainnya dan bahwa
     kawasan-kawasan ini harus dipertimbangkan pada saat mengatur tataruang dari kawasan
     tebang tahunan selama siklus tebang 35 tahun pertama (Kriteria 7.1). ....Error! Bookmark not defined.

      Daftar Kondisi

Kondisi 1     Dalam masa 24 bulan sertifikasi atau sebelum penebangan di sepanjang
     Sungai Selau, mana yang lebih dulu tercapai, PT Erna harus menyelesaikan analisis
    lingkungan dan sosial dengan merujuk AMDAL pada sembilan desa yang terletak di luar
    batas-batas selatan. Analisis ini meliputi identifikasi ladang dan situs-situs lain yang
    digunakan oleh masyarakat dalam kawasan konsesi (Kriteria 1.1)..........Error! Bookmark not defined.
Kondisi 2      Dalam enam bulan masa sertifikasi, PT Erna harus mempertahankan patroli di
sepanjang 3 sungai dalam dan yang membatas konsesi (Kriteria 1.5) .............Error! Bookmark not defined.
Kondisi 3      Dalam 12 bulan masa sertifikasi, Perusahaan harus menyelesaikan proses
    pemetaan dengan dua PGM yang tersisa. (Kriteria 2.1) .....................Error! Bookmark not defined.
Kondisi 4      Dalam enam bulan masa sertifikasi, Perusahaan harus mensosialisasikan
    PGM yang ada. Pembahasan mengenai PGM yang ada sekarang harus
    diselenggarakan dalam musyawarah, dengan anggota masing-masing desa yang
    memiliki PGM, dan memeriksa beberapa hak yang berbeda dan batasan-batasan hak
    guna dalam dan di luar PGM. Salinan peta dan survey PGM dan dokumentasi yang
    berhubungan harus tersedia untuk pengetahuan publik pada masing-masing desa
    melalui kepala desa (Kritieria 2.2).........................................................Error! Bookmark not defined.
Kondisi 5     Dalam 18 bulan sertifikasi, PT Erna harus melaksanakan penilaian desa
    dengan level rumah tangga untuk menentukan kebutuhan dan manfaat-manfaat aktual
    masyarakat. Berdasar diskusi dengan masyarakat dan pemeriksaan di lapangan, PT Erna
    harusnya merevisi PGM jika perlu untuk memasukkan ladang baru yang baru saja dibuka
    oleh desa. Selanjutnya PT Erna dengan jangka waktu yang sama harus menegosiasikan
    kesepakatan tertulis dengan desa-desa berdasar pada pemahaman yang jelas mengenai
    fungsi-fungsi lahan yang diperbolehkan dalam dan diluar PGM. Kesepakatan ini juga harus
    mencakup proses untuk penyelesaian konflik, yang bisa didasarkan pada SOP perusahan
    dengan persetujuan masyarakat (Kriteria 2.2)..........................................Error! Bookmark not defined.
Kondisi 6       Dalam masa 12 bulan sertifikasi, PT Erna harus menyelesaikan
    kesepakatan dengan Tumbang Kalam dan pemerintah daerah mengenai hak dan kontrol
    pada lahan dalam KPPL sehingga ada mekanisme yang jelas untuk membuat keputusan
    tentang manfaat hutan dan ladang dalam areal tersebut (Kriteria 3.1). ....Error! Bookmark not defined.
Kondisi 7       Dalam masa 12 bulan sertifikasi, PT Erna harus mengidentifikasi
    kawasan-kawasan yang digunakan oleh masyarakat di luar PGM dan enklaf KPPL<
    yang dimaksudkan untuk menanami kembali dan bernegosiasi dengan masyarakat
    dengan memanfaatkan kawasan-kawasan itu untuk tanaman kembali sebelum
    diteruskan (Kriteria 3.1)..........................................................................Error! Bookmark not defined.
Kondisi 8     Dalam masa 12 bulan sertifikasi, PT Erna harus sudah mensosialisasikan
     dengan anggota masyarakat dalam musyawarah, kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan
     Perusahaan untuk melindungi lokasi-lokasi khusus yang telah diidentifikasi dalam konsesi
     oleh masyarakat. Kunjungan bersama ke lokasi ini harus menjadi bagian dari sosialisasi
     (Kriteria 3.3).............................................................................................Error! Bookmark not defined.



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                                         Page 44                        July 2005
Kondisi 9 Dalam masa 24 bulan sertifikasi, PT Erna harus berkonsultasi dengan desa-desa
    yang belum mendapatkan RKT pada batas-batasnya sejauh ini seperti Tb. Posang (untuk
    RKT 2005), dan bagian selatan konsesi seperti Suai, Marandang, Salau, Rangkang Munduk,
    Tnajung Tukal, Langke, Hentas, Setoli, Magin. Konsultasi ini harus menegaskan apakan
    ada kawasan tambahan untuk kepentingan budaya yang perlu dilindungi (Kriteria 3.3).Error! Bookmark not def
Kondisi 10     Dalam masa 12 bulan sertifikasi, PT Erna harus mengembangkan rekruitmen
    formal dan program pelatihan bagi anggota masyarakat, yang akan mencakup rekruiting
    secara berkala dalam desa-desa, dan pelatihan bari karyawan baru yang diterima (Kriteria
    4.1)………................................................................................................Error! Bookmark not defined.
Kondisi 11     Dalam masa tiga bulan sertifikasi, PT Erna harus melembagakan dan
    melaksanakan kebijakan untuk merespon, secara tertulis dan tepat waktu, semua
    korespondensi dari masyarakat (Kriteria 4.1)...........................................Error! Bookmark not defined.
Kondisi 12     Dalam masa enam bulan sertifikasi, Perusahaan harus menjamin jadwal
    pertemuan reguler dengan pimpinan serikat dan anggota serikat pekerja. Perusahaan
    harus mengumumkan UU 13/2003 dan KKB di semua camp karyawan (Kriteria 4.3).Error! Bookmark not def
Kondisi 13 Dalam masa 12 bulan sertifikasi, PT Erna harus melaksanakan penilaian atau
    evaluasi partisipatif mengenai dampak sosial dari kegiatan operasional. Berdasar temuan
    evaluasi ini, Perusahaan harus menginternalisasikan temuan ke dalam rencana pengelolaan.
    (Kriteria 4.4).............................................................................................Error! Bookmark not defined.
Kondisi 14 Dalam enam bulan sertifikasi, PT Erna harus memperbaiki SOP tentang mekanisme
    resolusi konflik dan mengembangkan program pelatihan untuk semua staf yang menangani
    masalah konflik sosial agar meningkatkan pemahaman dan keahlian mereka dalam bidang
    penyelesaian konflik (Kriteria 4.5). ...........................................................Error! Bookmark not defined.
Condition 15 Dalam masa 12 bulan sertifikasi, dan berdasar pada hasil penilaian
    lingkungan yang dipersyaratkan dalam Prekondisi 2, Perusahaan harus
    mengembangkan program PMDH formal dengan masyarakat di sepanjang koridor,
    dan harus mengembangkan proses penyelesaian sengketa secara formal untuk
    potensi persengketaan yang terjadi di masa depan (Kriteria 4.5). .....Error! Bookmark not defined.
Kondisi 16:   Dalam 12 bulan sertifikasi, PT Erna harus memperbaiki pemanfaatan pohon-
    pohon yang ditebang dengan mengatur standar tebang dan bucking yang lebih ketat; yang
    menjamin bahwa semua penebang dan personil produksi diberitahu dengan baik tentang
    perlunya meningkatkan rendemen. Kebijakan ini akan dicerminkan dalam pengaturan yang
    layak pada SOP yang relecan dan merevisi standar bucking yang kemudian diberitahukan
    kepada penebang, scaler dan supervisor produksi (Kriteria 5.2)..............Error! Bookmark not defined.
Kondisi 17     Dalam masa 12 bulan sertifikasi, Perusahaan harus mengembangkan dan
    melaksanakan program RIL yang efektif dan komprehensif. Program ini harus
    memadukan pelatihan dan saran-saran teknis dengan sistem monitoring produksi dan
    parameter lingkungan............................................................................Error! Bookmark not defined.
Kondisi 18     Dalam 12 bulan masa sertifikasi, sistem formal yang layak untuk penilaian
    dampak lingkungan untuk semua pembangunan jalan dan kegiatan pembalakan harus
    sudah dilaksanakan (Kriteria 6.1).........................................................Error! Bookmark not defined.
Kondisi 19     Dalam 12 bulan sertifikasi, Perusahaan harus melaksanakan protokol
    untuk menjamin bahwa jalan sarad sudah tidak digunakan lagi dengan membuat
    gundukan untuk meminimalkan resiko erosi (Kriteria 6.5). ..............Error! Bookmark not defined.
Kondisi 20     Dalam masa 24 bulan sertifikasi, Perusahaan harus mengembangkan
    sistem monitor rutin dan mengevaluasi dampak pembalakan pada masyarakat lokal
    dan efektifitas program-program pembangunan sosialnya. Sistem ini harus melibatkan
      semua masyarakat secara aktif (Kriteria 6.2). ..........................................Error! Bookmark not defined.



PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                                         Page 45                        July 2005
Kondisi 21     Dalam masa 18 bulan sertifikasi, Perusahaan sudah harus memiliki
    prosedur yang dilaksnakan dimana laporan audit internal dan data monitoring dijaga
    dan dikombinasikan dengan dokumen perencanaan umum dan evaluasi berkala harus
    dilakukan terhadap prosedur-prosedur dalam hal rekomendasi pada laporan audit.Error! Bookmark not d
Kondisi 22     Dalam 12 bulan sertifikasi, PT Erna harus menyelesaikan proses
    identifikasi HCVs. Dalam 24 bulan, strategi untuk perlindungan dan konservasinya sudah
     harus dikembangkan. (Kriteria 9.2)..........................................................Error! Bookmark not defined.

Kondisi 1/05: Dalama enam bulan setelah sertifikasi, kawasan konservasi dalam hutan bekas
   tebangan dan hutan virgin ditingkatkan dengan memperhatikan secara khusus pada
   peningkatan kawasan konservasi dalam hutan virgin.




PT Erna Djuliawati FM Assessment Report 05                                Page 46                     July 2005

								
To top