Docstoc

MELEMPAR JUMRAH

Document Sample
MELEMPAR JUMRAH Powered By Docstoc
					MELEMPAR JUMRAH
M. Anas Basori Ketika jamaah Haji tiba di Mina, baik sesudah pertengahan malam 10 maupun pada pagi hari setelah matahari naik, sebelum mengerjakan segala sesuatu, mereka melontar Jumrah Aqobah saja dengan tujuh butir kerikil (ini wajib). Pada tiap-tiap hari tanggal 11, 12 dan 13 atau hanya 11 dan 12 saja orang Haji wajib melontar jumrah Ula-Wustha-Aqobah masing-masing tujuh kali. Waktunya sesudah masuk waktu Dzuhur. Tidak sah dilakukan sebelumnya. CATATAN : 1. Sesudah melontar Jumrah Aqobah tersebut, orang Haji disunnatkan menyembelih qurban atau hewan hadyu. Waktu penyembelihan di mulai ketika terbit matahari pada hari raya Adha dan sesudah kira-kira shalat Id dengan kedua khutbahnya dilakukan, dan berakhir dengan masuknya waktu Maghrib tanggal 13 (yakni berakhirnya hari Tasyriq). 2 a. Melontar Jumrah Aqobah saja itu, awal waktunya ialah malam 10 sesudah pertengahan malam dan penghabisannya tanggal 13 sebelum Maghrib. b. Melontar Jumrah Ula-Wustha-Aqobah tanggal 11, awal waktunya ketika masuk waktu Dzuhur tanggal tersebut dan penghabisannya tanggal 13 sebelum Maghrib. c. Melontar Jumrah Ula-Wustha-Aqobah tanggal 12, awal waktunya ketika masuk waktu Dzuhur tanggal tersebut dan penghabisannya tanggal 13 sebelum Maghrib. d. Melontar Jumrah Ula-Wustha-Aqobah tanggal 11, awal waktunya ketika masuk waktu Dzuhur dan penghabisannya tanggal 13 sebelum Maghrib. e. Jadi andaikata orang Haji hendak melakukan semua pelontaran tersebut dijadikan satu waktunya pada tanggal 13 sebelum Maghrib adalah sah dan termasuk ada’ (bukan qodho’) asal tertib. Yaitu : Milik Jumrah Aqobah tanggal 10 didahulukan, kemudian milik tanggal 11 Ula-Wustha-Aqobah, kemudian milik tanggal 12 UlaWustha-Aqobah, kemudian milik tanggal 13 Ula-Wustha-Aqobah. Kalau dibalik tidak sah. SYARAT-SYARAT MELEMPAR JUMRAH 1. Melontar dengan tangan jika mampu, dan perbuatannya harus yang bernama melontar (bukan meletakkan dan lain sebagainya). 2. Yang dilontarkan harus batu dan sebangsanya (batu, yaqut, akik dll). 3. Yang dituju dengan pelontaran tersebut adalah lobang tempat batu-batu kerikil, bukan tugu yang berada di tengahnya dan bukan dinding di kanan kirinya. 4. Batu kerikil yang dilemparkan harus jatuh kedalam lobang Jumrah yang dilempari tersebut dengan yakin. 5. Melontar Jumrah 7 kali dengan yakin, walaupun hanya dengan satu batu yang digunakan berulang kali. Andaikata dengan 7 batu yang dilontarkan sekaligus maka pelontaran tersebut dihitung satu kali. 6. Pelontaran Jumrah pada hari-hari Tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13) harus tertib, yakni mendahulukan Jumrah Ula kemudian Jumrah Wustha dan yang terakhir Jumrah Aqobah. 7. Pelontaran Jumrah tidak didorong oleh niatan yang lain yang bukan ibadat Haji. 8. Harus masuk waktu pelontaran Jumrah tersebut. Tidak sah dilakukan diluar waktunya.

MASUKNYA WAKTU MENGHILANGKAN RAMBUT DAN THAWAF IFADLAH Adalah pertengahan malam10 Zulhijjah (setelah wuquf) hingga akhir umur.

SUNNAT-SUNNAT MELONTAR JUMRAH Diantaranya : 1. Dengan tangan kanan. 2. Kerikilnya kira-kira sebesar kacang tanah atau lebihkecil dari ujung jari. 3. Kerikilnya dicuci. 4. Setiap lontaran disertai dengan bacaan takbir. 5. Menghadap kiblat waktu melontar Jumrah pada hari-hari Tasyriq. 6. Berdo’a kepada Allah dengan menghadap kiblat sesudah melontar Jumrah Ula dan Wustha. 7. Muwalat / berturut-turut anatara lontaran-lontaran setiap Jumrah. Waktu melempar Jumroh Menurut Para Ulama’ Fiqh Hukum melempar Jumroh adalah wajib dan bila ditinggalkan, maka ia harus membayar Dam Melempar Jumroh Aqobah pada tgl 10 Dzul Hijjah Afdholnya dilaksanakan sebelum mengerjakan amalan yang lain sesampainya ke Muna dari Muzdalifah, karena amalan tsb sebagaimana thawafnya orang yang masuk Masjil Haram Makkah adalah Tahiyyatal Masjid; Melempar Jumroh Aqobah tgl 10, adalah Tahiyyatal Muna. Melempat Jumroh Aqobah “ Afdolnya “ setelah terbit Matahari hingga tengah hari (Zawal) menurut pendapat Ulama’ Jumhor, sedangkan hukum jawaz (bolehnya) memulai melempar Jumroh Aqobah pada tgl. 10 (hari Nahr) berbagai pendapat : 1. Menurut Imam Syafi’i Masuknya waktu melempar jumroh Aqobah adalah tengah malam akhir pada malam Idul Adha, sampai akhir hari Tasyriq (tgl 13 Dzul Hijjah) ketika terbenamnya Matahari, hal itu dibolehkan; Dan Apabila sampai batas waktu tersebut tidak melempar Jumroh, maka ia harus membayar Dam. 2. Menurut Imam Hanafi Masuknya waktu melempar Jumroh Aqobah adalah terbitnya Fajar hingga terbenam-nya Matahari pada hari Nahr dan boleh melempar pada malamnya hingga fajar hari berikutnya, akan tetapi hukumnya Makruh, dan tidak membayar Dam. Dan apabila di akhirkan hingga terbenam Matahari pada akhir hari Tasyriq, maka boleh, akan tetapi ia harus membayar Dam. (dan tidak dikatakan qodlo’) 3. Menurut Imam Maliki Masuknya waktu melempar Jumroh Aqobah adalah terbitnya Fajar hingga terbenam-nya Matahari pada hari Nahr dan itu dikatakan Ada’. Adapun setelah terbitnya Matahari hingga akhir Hari Tasyriq maka dikatakan Qodlo’ dan ia harus membayar Dan dengan Qodho’ 4. Menurut Imam Ahmad bin Hambal Masuknya waktu melempar jumroh Aqobah adalah tengah malam pada malam Idul Adha, sampai akhir hari Tasyriq (tgl 13 Dzul Hijjah) ketika terbenamnya Matahari, dan tidak sah dilakukan pada malam hari di hari-hari Tasyriq, dan jika di akhirkan melemparnya pada ahir hari Tasyriq, maka tidak boleh melempar kecuali setelah Zawal. Dan tidak membayar Dam. Adapun berhentinya membaca talbiyahnya orang yang berhaji, menurut Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal dan para Ulama’ Jumhur adalah ketika awal melempar Jumroh Aqobah (lemparan kerikil yang pertama).

Waktu melempar Jumroh pada hari-hari Tasyriq dan hukumnya Hukumnya : wajib dan meninggalkannya herus membayar Dam Waktunya : Tidaklah sah melempar Jumroh kecuali setelah Zawal (Matahari di tengah-tengah / siang hari), ini pendapat Ulama’ Jumhur dan Imam 4. sebagaimana hadits Jabir : yang artinya “ Bahwa Rasulullah s.a.w melempar Jumroh pada hari pertama dhuha (pagi hari setelah terbit Matahari), kemudian beliau tidak melempar lagi setelah itu kecuali setelah turunnya Matahari (setelah Zawal)” HR. Muslim. Dan dari Ibn Umar berkata “ Kami menanti saat baik, tiba2 Matahari telah turun, maka kami melempar ( Jumroh ) HR. Bukhori Akhir waktu melempar Jumroh yaitu tgl 13 Dzul Hijjah, ketika terbenam Matahari, menurut pendapat Ulama’ Jumhur, Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i Dan apabila diakhirkan hingga malam hari sebelum Fajar, maka tidaklah membayar Dan, menurut Abu Hanifah.

HUKUM DAN WAKTU MABIT DI MUZDALIFAH
Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum mabit di Muzdalifah, berapa lama waktunya, dan kapan orang yang haji bertolak darinya ? Jawaban Menurut pendapat yang shahih, mabit di Muzdalifah adalah wajib. Tapi sebagian ulama mengatakan mabit di Muzdalifah sebagai rukun haji, dan sebagian lain mengatakan sunnah. Adapun yang benar dari pendapat tersebut, bahwa mabit di Muzdalifah adalah wajib. Maka siapa saja yang meninggalkannya wajib membayar dam. Adapun yang sunnah dalam mabit di Muzdalifah adalah tidak meninggalkan Muzdalifah melainkan setelah shalat Subuh dan setelah langit menguning sebelum matahari terbit. Di mana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat shubuh di Muzdalifah dan berdzikir setelah shalat, lalu setelah langit menguning beliau bertolak manuju ke Mina dengan bertalbiyah. Tetapi bagi orang-orang yang lemah, seperti wanita dan orang-orang tua, diperbolehkan meninggalkan Muzdalifah pada tengah malam kedua. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada mereka untuk hal tersebut. Adapun orang-orang yang kuat, maka yang sunnah bagi mereka adalah tetap di Muzdalifah hingga shalat shubuh dan banyak dzikir setelah shalat kemudian kemudian bertolak menuju Mina sebelum matahari terbit. Ketika berdo'a di Muzdalifah disunnahkan mengangkat kedua tangan seraya menghadap kiblat seperti ketika di Arafah. Dan bahwa kawasan Muzdalifah adalah tempat mabit. TIDAK MABIT DI MUZDALIFAH DAN HANYA MELINTASINYA Pertanyaan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bagaimana pedoman dalam mabit di Muzdalifah ? Dan apa hukum bagi orang yang berhalangan mabit di Muzdalifah dan hanya melintasinya ? Jawaban Wajib atas orang yang haji mabit di Muzdalifah hingga tengah malam. Dan jika seorang menyempurnakan mabit sampai shalat shubuh dan banyak dzikir serta istighfar setelah shalat hingga langit ke kuning-kuningan adalah lebih utama. Dan bagi orang-orang yang lemah, seperti kaum wanita, orang-orang tua dan yang seperti mereka, boleh meninggalkan Muzdalifah setelah lewat tengah malam. Sebab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada orang-orang yang lemah dari keluarga beliau dalam hal tersebut. Sedangkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bermalam di Muzdalifah dan shalat shubuh di sana dengan membaca dzikir, tahlil (la ilaha illallah) dan istighfar (astagfirullah) setelah shalat. Lalu ketika langit telah sangat menguning, beliau bertolak ke Mina. Maka yang paling sempurna bagi orang-orang yang haji adalah meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hal tersebut. Namun bagi orang-orang yang lemah diperbolehkan meninggalkan Muzdalifah sebelum shubuh seperti telah disebutkan. Adapun bagi orang yang meninggalkan mabit di Muzdailifah tanpa alasan syar'i, maka dia wajib membayar dam (menyembelih kurban) karena melanggar sunnah dan perkataan Ibnu Abbas Radhiallahu 'anhu. "Artinya : Barangsiapa meninggalkan satu ibadah (dalam haji) atau lupa darinya, maka dia harus menyembelih kurban" [Hadits Riwayat Malik] Tidak diragukan bahwa mabit di Muzdalifah adalah ibadah besar dalam haji hingga sebagian ulama mengatakan sebagai rukun haji, meskipun ada yang mengatakan sunnah. Tetapi pendapat yang paling tengah, bahwa mabit di Muzdalifah wajib dalam haji dimana yang meninggalkannya wajib membayar

dam disertai taubat dan mohon ampunan kepada Allah bagi orang yang meninggalkannya dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan secara syar'i. TIDAK MABIT DI MUZDALIFAH KARENA MACET Pertanyaan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Kita melihat saat sekarang ini bila berangkat dari Arafah ke Muzdalifah, maka akan ada kemacetan besar di mana orang yang haji sampai ke Muzdalifah tidak mampu mabit di sana dan mendapat kesulitan dalam hal tersebut. Apakah boleh meninggalkan mabit di Muzdalifah dan adakah sangsi bagi orang yang meninggalkannya ? Apakah shalat Maghrib dan Isya mencukupi dari wukuf dan mabit di Muzdalifah, di mana orang yang haji shalat maghrib dan isya di Muzdalifah kemudian langsung ke Mina ? Dan apakah sah wukuf di Muzdalifah dengan cara seperti itu ? Mohon penjelasan tentang hal tersebut beserta dalilnya. Jawaban Mabit di Muzdalifah adalah kewajiban dari beberapa kewajiban dalam haji karena mengikuti sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mabit dan shalat Shubuh di Muzdalifah lalu berdzikir setelah shalat hingga langit kekuning-kuningan, dan beliau bersabda : "Ambillah manasikmu dariku". Maka orang yang haji tidak dinilai telah melaksanakan kewajiban ini jika dia shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah dengan jama' kemudian meninggalkan Muzdalifah. Sebab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memberikan keringanan meninggalkannya melainkan kepada orang-orang yang kemah setelah tengah malam. Dan jika seseorang tidak mabit di Muzdalifah, maka dia wajib membayar dam karena meninggalkan kewajiban. Dan telah maklum bahwa diantara ulama terdapat perbedaan pendapat tentang hukum mabit di Muzdalifah, ada yang mengatakan rukun, ada yang mengatakan wajib, dan juga ada yang mengatakan sunnah. Tapi yang terkuat dari beberapa pendapat tersebut adalah, bahwa mabit wajib dalam haji, dan bagi orang yang meninggalkannya wajib menyembelih kurban dan hajinya sah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dan bahwa mabit di Muzdalifah tidak diberikan keringanan untuk meninggalkannya sampai tengah malam bagian kedua melainkan kepada orang-orang yang lemah. Adapun orang-orang yang kuat maka yang sunnah bagi mereka adalah tetap di Muzdalifah hingga shalat Shubuh dan memperbanyak dzikir serta berdo'a kepada Allah setelah shalat hingga langit kekuning-kuningan kemudian bertolak ke Mina sebelum terbit matahari karena mengikuti sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Siapa yang tidak mampu sampai di Muzdalifah melainkan sehabis tengah malam dari orang-orang yang lemah, maka cukup bagi mereka muqim di Muzdalifah pada sebagian waktu kemudian meninggalkan Muzdalifah karena mengambil rukhsah (dispensasi). Dan Allah adalah yang memberikan pertolongan kepada kebaikan. HUKUM MENINGGALKAN MABIT DI MUZDALIFAH Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah hukum bagi orang yang haji meninggalkan mabit di Muzdalifah pada malam idul Adha ? Jawaban Mabit di Muzdalifah adalah wajib, tapi diberikan keringanan bagi orang-orang yang lemah untuk meninggalkan Muzdalifah pada akhir malam. Adapun meninggalkannya karena sengaja maka dosa hukumnya dan harus membayar fidyah menurut jumhur ulama. Tapi jika karena tidak tahu maka hanya wajib membayar fidyah saja. Sedangkan bagi orang yang tidak mampu, maka mabit di Muzdalifah menjadi gugur sebagaimana kewajiban-kewajiban yang lain. Tapi bagi orang yang mendapatkan shalat shubuh pada awal waktu dan tetap di Muzdalifah setelah shalat dengan membaca dzikir dan do'a kemudian bertolak ke Mina maka demikian itu telah cukup baginya.


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3974
posted:1/5/2010
language:English
pages:5