PERANAN PARTAI POLITIK DALAM PEMBANGUNAN BIDANG SOSIAL EKONOMI DI
W
Shared by: slappypappy123
Categories
-
Stats
- views:
- 23837
- posted:
- 1/4/2010
- language:
- Indonesian
- pages:
- 159
Document Sample


PERANAN PARTAI POLITIK DALAM PEMBANGUNAN
BIDANG SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN GROBOGAN
(SUATU TINJAUAN SEBELUM DAN SESUDAH
REFORMASI TAHUN 1971 - 1998 S/D 2001)
SKRIPSI
Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Sejarah
pada Universitas Negeri Semarang
Disusun Oleh :
KRISTY NURDIANA SARI
3101402047
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
JURUSANSEJARAH
2007
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian
skripsi pada :
Hari :
Tanggal :
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr. H. AT. Soegito, SH, M.M Dra. Ufi Saraswati, M.Hum
NIP.130345757 NIP.131876209
Mengetahui:
Ketua Jurusan Sejarah
Drs. Jayusman, M.Hum
NIP.131764053
ii
PENGESAHAN KELULUSAN
Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas
Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, pada :
Hari :
Tanggal :
Penguji Skripsi
Dra. Santi Muji Utami, M.Hum
NIP: 131876210
Anggota I Anggota II
Dr. H. AT. Soegito, SH., M.M Dra. Ufi Saraswati, M.Hum
NIP. 130345757 NIP.131876209
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Sosial
Drs. Sunardi, M. M
NIP.130367998
iii
PERYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini adalah benar-
benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian
ataupun seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi
ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Semarang, Juli 2007
Kristy Nurdiana Sari
NIM : 3101402047
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Dan hanya kepada
Allah-lah hendaknya kamu berharap
(QS. Alam Nasyrah: 6 dan 8).
Hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram
(QS. Ar-Ra’du:28)
PERSEMBAHAN
Ulang Tahun Perkawinan Bapak,
Ibu Ke-25 Pada 21 Juli 2007
Adik-adikku Hening, Ayuk, Adam.
Mbah Putri, Mbah Kakung, Bulek2,
Om, Budhe, Pakdhe, Sepupu,
Keponakan.
Mbak Has, Kak Sur Terimakasih
data-datanya.
Ahmad Arif Setyawan, terimakasih
selalu menemaniku kemana saja.
Sahabat2 Tutik, Lina, Bndol, Surip,
mbk Aning, mbak Lu2 thanks
masukan-masukan n
semangatnya.
Anak-anak Jamparing Kost, Uci,
Jenny, Sulis, Yuni, Lely, Mbak
Sofa, Dian…de..lll THANKS
BROW…
v
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana pendidikan pada
Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.
Peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini berkat bantuan dari berbagai
pihak, maka dalam kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Prof. Dr H. Sudijono Sastroatmojo M.Si, Rektor UNNES yang telah memberi
kesempatan untuk menimba ilmu di UNNES.
2. Drs H. Sunardi, M.M. Dekan FIS UNNES yang telah memberikan surat ijin
penelitian.
3. Drs.Jayusman, M.Hum, Ketua Jurusan Sejarah yang telah memberikan
persetujuan penelitian.
4. Prof. Dr. H. AT. Soegito, SH, M.M, Pembimbing I yang telah memberikan
petunjuk dalam pelaksanaan skripsi ini.
5. Dra Ufi Saraswati, M.Hum, Pembimbing II yang telah meluangkan waktu,
tenaga dan pikiran untuk memberikan pengarahan dan bimbingan hingga
terselesaikannya skripsi ini.
6. Bapak Ibu Dosen Sejarah yang selama ini telah memberikan ilmunya.
7. Segenap pengelola Perpustakaan Universitas Negeri Semarang, Perpustakaan
Jurusan Sejarah, dan Perpustakaan Daerah Grobogan.
vi
8. Pemerintah Kabupaten Grobogan yang telah memberikan informasi dan data
yang menunjang terselesaikannya skripsi ini.
Semoga jasa dan amal baik yang diberikan mendapat balasan dari Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, meskipun telah
disusun dengan kesungguhan hati. Oleh karena itu segala kritik dan saran
penyempurnaan sangat diharapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat baik
bagi penulis maupun pembaca.
Semarang, Juli 2007
Penulis
vii
DAFTAR SINGKATAN
Caleg : Calon Legislatif
DPD : Dewan Perwakiln Daerah
DPRD : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Golkar : Golongan Karya
Humas : Hubungan Masyarakat
Jurkam : Juru Kampanye
OPP : Organisasi Peserta Pemilu
PDI P : Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
PDMDKE : Program Pemberdayaan Daerah dalam mengatasi
Dampak Krisis ekonomi
PEMILU : Pemilihan Umum
Pemkab : Pemerintah Kabupaten
Pilpres : Pemilihan Presiden
PKB : Partai Kebangkitan Bangsa
PPP : Partai Persatuan Pembangunan
Sekber : Sekretaris Bersama
UUDS : Undang-Undang Sementara
PNI : Partai Nasional Indonesia
NU : Nahdlatul Ulama
DPRGR : Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong
GAPI : Gabungan Politik Indonesia
viii
KRI : Komite Rakyat Indonesia
PKI : Partai Komunis Indonesia
APBD : Anggaran Pendapatan Belanja Daerah
REPELITA : Rencana Pembangunan Lima Tahun
PELITA : Pembangunan Lima Tahun
HAM : Hak Asasi Manusia
KPU : Komisi Pemilihan Umum
PDI : Partai Demokrasi Indonesia
RUU : Rancangan Undang-Undang
KINO : Kelompok Induk Organisasi
MPRS : Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara
ix
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul ................................................................................................. i
Halaman Persetujuan ....................................................................................... ii
Halaman Pengesahan Kelulusan .................................................................... iii
Halaman Peryataan ......................................................................................... iv
Motto dan Persembahan .................................................................................. v
Kata pengantar ................................................................................................ vi
Daftar Singkatan .............................................................................................. viii
Daftar Isi ......................................................................................................... x
Daftar Tabel .................................................................................................... xiv
Daftar Lampiran .............................................................................................. xv
Abstrak ........................................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .......................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................. 6
C. Tujuan dan Manfaat ............................................................... 7
D. Ruang Lingkup Penelitian ....................................................... 8
E. Kajian Pustaka ......................................................................... 9
F. Metode Penelitian ................................................................... 13
G. Sistematika Penulisan ............................................................. 21
x
BAB II KONDISI KEHIDUPAN PARTAI POLITIK DI KABUPATEN
GROBOGAN PADA MASA ORDE BARU 1971-1998
A. Sejarah Kelahiran Orde Baru ................................................. 23
B. Gambaran Umum Kabupaten Grobogan ................................ 36
C. Eksistensi Partai Politik di Kabupaten Grobogan Pada Masa..
Orde Baru 1971-1998............................................................... 30
1. Definisi Partai Politik........................................................... 30
2. Sejarah Terbentuknya Partai Politik..................................... 31
3. Kondisi Partai Politik Kabupaten Grobogan Pada Awal .....
Hingga Orde Baru ................................................................ 34
4. Pemilihan Umum di Kabupaten Grobogan tahun 1971-1998 37
a. Pemilihan Umum 1971 di Kabupaten Grobogan ........... 37
b. Pemilihan Umum 1977 di Kabupaten Grobogan ........... 42
c. Pemilihan Umum 1982 di Kabupaten Grobogan ........... 44
d. Pemilihan Umum 1987 di Kabupaten Grobogan ........... 45
e. Pemilihan Umum 1992 di Kabupaten Grobogan ........... 46
BAB III KONDISI PARTAI POLITIK DI KABUPATEN GROBOGAN
PADA SAAT REFORMASI
A. Arti Reformasi ....................................................................... 49
B. Kondisi Partai Politik di Kabupaten Grobogan pada Awal
Reformasi Tahun 1998 ......................................................... 53
1. Kondisi Umum ................................................................. 53
2. Pemilihan Umum ............................................................. 55
xi
3. Pembinaan Organisasi Politik .......................................... 56
C. Perkembangan Partai Politik dalam Masa Reformasi .......... 57
BAB IV PERAN PARTAI POLITIK DI KABUPATEN GROBOGAN
DALAM PEMBANGUNANBIDANG SOSIAL EKONOMI
TAHUN 1971-1998 S/D 2001
A. Landasan Pembangunan Kabupaten Grobogan ...................... 61
B. Peran Partai Politik Dalam Pembangunan di Kabupaten........
Geobogan ................................................................................ 76
1. Partai Golkar .................................................................... 76
2. Partai Persatuan Pembangunan ......................................... 88
3. Partai Demokrasi Indonesia .............................................. 92
C. Peran Pemrerintah Dalam Pembangunan di Kabupaten
Grobogan ................................................................................ 98
D. Pembangunan Bidang Sosial Ekonomi di Kabupaten
Grobogan.................................................................................. 101
1. Pembangunan Bidang Ekonomi......................................... 101
2. Bidang Hukum dan Aparatur ........................................... 104
3. Bidang Kesejahteraan Sosial.............................................. 108
E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembangunan Bidang Sosial
Ekpnomi di Kabupaten Grobogan............................................ 110
1 Faktor Fisik dalam Pembangunan .................................... 110
2. Masalah Non Fisik dalam Pembangunan ......................... 116
4. Antara Penegakan Hukum dan Pembangunan ................. 121
xii
BAB V Penutup
A. Simpulan ................................................................................. 124
B. Saran ....................................................................................... 127
Daftar Pustaka ................................................................................................ 129
Lampiran – lampiran ....................................................................................... 133
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
Tabel 1 : Komposisi dan Personalia DPD Partai Golkar Kabupaten
Grobogan Periode 2004-2009 ................................................. 81
Tabel 2 : Susunan Komposisi dan Personalia DPC PPP Kabupaten
Grobogan periode 2003-2010 ................................................. 90
Tabel 3 : Struktur, Komposisi dan Personalia DPC PDI P Kabupaten
Grobogan Masa Bakti 2005-2010 ........................................... 96
Tabel 4 : Jumlah Penduduk Sasaran Proyek PDMDKE Kabupaten
Grobogan Tahun 1998 / 1999 ................................................ 104
Tabel 5 : Jumlah Penduduk dan Perkembangan Pertahun di Kabupaten
Grobogan Tahun 1971-2001 ..................................................... 112
Tabel 6 : Tingkat Kepadatan Penduduk Kabupaten Grobogan Dirinci
Menurut Kecamatan ............................................................... 113
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Peta Daerah Kabupaten Grobogan ........................................................... 134
2. Gambar Lambang Partai Peserta Pemilu 1955......................................... 135
3. Gambar Lambang Partai Peserta Pemilu 1971......................................... 136
4. Genealogi Partai Politik Peserta Pemilu 1977 ......................................... 137
5. Gambar Lambang Partai Peserta Pemilu 1982-1997 ............................... 138
6. Gambar Lambang Partai Peserta Pemilu 1999......................................... 139
7. Gambar Lambang Partai Peserta Pemilu 2004......................................... 140
8. Foto Kantor Parpol ................................................................................. 148
9. Surat Perintah Sebelas Maret 1966 .......................................................... 152
10. Ketetapan MPRS No. IX/ MPRS/ 1966................................................... 154
11. Ketetapan MPRS No. XXXIII/ MPRS/ 1967 .......................................... 157
12. Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Grobogan No. 2 Tahun
1999 Tentang Sisa Perhitungan Pendapatan Dan Belanja Daerah Tahun
Anggraran 1998/1999 .............................................................................. 160
13. Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Tengah No: 9
03/ 675/ 1999 Tentang Pengesahan Peraturan Daerah KabupatenDaerah
Tingkat II Grobogan No. 2 Tahun 1999 Tentang Sisa Perhitungan Penda
patan Dan Belanja Daerah Tahun Anggraran 1998/1999 ........................ 164
14. Hasil Capaian Kinerja Kebijakan Pemerintah Kabupateb Grobogan
Tahun 2001 ............................................................................................. 175
xv
15. UU No. 3 Tahun 1985 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
No. 3 Tahun 1975. Tentang Partai Politik dan Golongan Karya ........... 211
16. Surat Research / Survey Pemkab Grobogan .......................................... 217
xvi
ABSTRAK
Nurdiana, Kristy. Peranan Partai Politik dalam Pembangunan Bidang
Sosial Ekonomi di Kabupaten Grobogan (Suatu Tinjauan Sebelum dan Sesudah
Reformasi Tahun 1971 - 1998 s/d 2001. Jurusan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial.
Universitas Negeri Semarang halaman.
Kata Kunci : Partai Politik, Sosial Ekonomi, Reformasi, Grobogan.
Memasuki Orde Reformasi, masyarakat Grobogan mulai melaksanakan
kehidupan politik yang lebih baik. Sesuai dengan ketentuan dari pemerintahan
pusat, saat ini di Kabupaten Grobogan terdapat 24 Partai Politik dan ini
merupakan pertanda bahwa masyarakat Grobogan mampu melaksanakan
program-program pembangunan politik secara sempurna. Namun, dalam
melaksanakan pembangunan bidang sosial ekonomi masyarakat Grobogan
mengalami berbagai kekurangan dan kendala diantaranya adalah letak geografis,
Sumber Daya Manusia yang rendah, Sumber Daya Alam yang kurang memadai,
dan faktor mental dari masyarakat. Berdasarkan pemikiran tersebut maka
disusunlah skripsi yang berjudul “Peranan Partai Politik Dalam Pembangunan
Bidang Sosial Ekonomi Di Kabupaten Grobogan (Suatu Tinjauan Sebelum Dan
Sesudah Reformasi Tahun 1971-1998 s/d 2001)”.
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah, (1) Bagaimana
kondisi kehidupan partai politik di Kabupaten Grobogan sebelum reformasi tahun
1971-1998 (2) Bagaimana kondisi partai politik di Kabupaten Grobogan pada saat
reformasi tahun 1998-2001 (3) Peran partai politik di Kabupaten Grobogan dalam
pembangunan bidang sosial ekonomi sesudah reformasi. Adapun tujuan penulis
dalam skripsi ini adalah (1) Untuk mengetahui kondisi partai politik di Kabupaten
Grobogan sebelum reformasi tahun 1971-1998 (2) Untuk mengetahui kondisi
partai politik pada saat reformasi 1998-2001 (3) Untuk mengetahui peran partai
politik dalam pembangunan bidang sosial ekonomi di Kabupaten Grobogan
sesudah reformasi.
Lokasi penelitian skripsi ini dilakukan di Kabupaten Grobogan dengan
batas waktu antara 1971-2001. Sedangkan metode yang digunakan dalam
penelitian skripsi ini adalah Metode Sejarah (Historical Method), dimana penulis
melakukan langkah-langkah sebagai berikut: (1) heuristik (2) melakukan kritik
sumber, (3) melakukan interpretasi, dan (4) penulis melakukan pengkajian dalam
bentuk karya sejarah yang disusun secara kronologis dan sistematis
(Historiografi).
Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut, (1) pada masa
Orde Lama hingga Orde Baru kondisi partai politik di Kabupaten Grobogan
sangat dipengaruhi oleh kondisi politik nasional yang mengalami berbagai
pergolakan. Kondisi tersebut sangat berpengaruh pada sistem kepartaian
Indonesia yang berubah-ubah dari multi partai ke penyederhanaan partai, (2) Pada
masa reformasi kembali terjadi pemilu multi partai tetapi untuk menjadi peserta
pemilu diberlakukan serangkaian syarat yang panjang yang harus dipenuhi oleh
xvii
calon partai politik meski begitu tidak menyurutkan antusiasme rakyat untuk
medirikan partai politik. (3) Partai politik sangat berperan penting dalam
membangun kembali kehidupan sosial ekonomi yang sempat terpuruk akibat
krisis multidimensial yang disebabkan oleh krisis ekonomi di tingkat nasional.
xviii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Politik berkaitan erat dengan penggunaan kekuasaan dalam kehidupan
bersama. Kekuasaan itu digunakan untuk mengatur kehidupan bersama dan
biasanya dituangkan dalam berbagai peraturan perundangan, politik sering tak
dapat dipisahkan dari kehidupan bernegara.
Politik adalah salah satu bagian dari sistem kebudayaan, di samping ada
yang disebut ekonomi, teknologi, seni dan agama. Ada negara yang memandang
keikutsertaan setiap manusia dalam penggunaan kekuasaan untuk mengatur
kehidupan bersama sebagai suatu hal yang baik, ada juga yang memandang itu
justru sebaliknya. Negara yang memandangnya buruk lazim dikategorikan sebagai
negara oligarki, sebaliknya negara yang memandangnya baik dikategorikan
sebagai negara demokrasi. Suatu negara pantas disebut negara demokrasi
apabila ia mengundang partisipasi warganegara setiap kali hendak mengambil
keputusan yang akan mempengaruhi jalannya kehidupan bersama. Ringkasnya
demokrasi ada apabila ada partisipasi. Partisipasi ini berbentuk tuntutan dan
dukungan, tapi bisa juga kontrol atau pengawasan
( Ibrahim, 1984 : 15 ).
Bagaimana cara individu mempengaruhi keputusan itu, sangat ditentukan
oleh persepsinya dan cara ia mengkomunikasikannya. Dalam kehidupan bersama
masa kini dibentuk berbagai lembaga sosial, misalnya saja, partai politik. Namun
1
2
harus disadari partai politik ini hanyalah salah satu lembaga sosial dari sekian
lembaga untuk menyalurkan pengaruh individu terhadap keputusan yang akan
diambil.
Keberhasilan suatu bangsa dalam membangun kehidupannya sangat
ditentukan oleh bangsa itu sendiri, demikian pula dengan bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia seharusnya mampu memandang dan menyikapinya secara
sungguh-sungguh segala permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini. Sejalan
dengan tuntutan reformasi di Indonesia telah terjadi perubahan dalam berbagai
aspek kehidupan nasional. Banyak hal yang sebelumnya dianggap sebagai suatu
hal yang biasa, harus mengalami perubahan karena dianggap tidak sesuai dengan
era reformasi.
Setelah runtuhnya pemerintahan Orde Baru di Indonesia, bangsa Indonesia
mulai mencoba membenahi segala sistem pemerintahannya, baik dari segi politik,
ekonomi, sosial, budaya serta dalam sistem hukum dan demokrasi. Bangsa
Indonesia dalam sistem demokrasi mulai melaksanakan amanat reformasi yakni
melalui penyelenggaraan Pemilu. Momentum Pemilihan Umum dianggap sangat
penting dan berharga, terutama dalam melakukan penilain terhadap mutu
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, selama lima tahun terakhir,
dan untuk mengatur langkah yang berarti dalam kurun waktu lima tahun
mendatang.
Pemilihan Umum di Indonesia sejak orde reformasi telah berlangsung
selama dua kali, yaitu pada tahun 1999 dan pada tahun 2004. Sesuai dengan
amanat reformasi, penyelenggaraan pemilu harus dilaksanakan secara berkualitas
3
agar menjamin derajat, kompetensi yang sehat, partisipatif, mempunyai derajat
perwakilan yang lebih tinggi, dan memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang
jelas.
Hasil pemilu tahun 1999 yang diharapkan mampu membawa bangsa
Indonesia ke arah yang lebih baik dan terbebas dari keterpurukan tampaknya tidak
berhasil. Masyarakat semakin refleksif dan kritis meski sering diikuti rasa pesimis
dan putus asa terhadap masa depan bangsa ini. Masyarakat akhirnya berharap
dengan pemilu yang menggunakan sistem pencantuman nama calon legislatif
(caleg) sehingga sangat memberikan peluang kepada masyarakat untuk
mengetahui secara langsung figur wakilnya yang nantinya akan memperjuangkan
aspirasi rakyat serta mampu membawa banyak perubahan melalui berbagai
kebijakan serta pembangunan di segala bidang.
Pembangunan adalah semua aktivitas perubahan yang secara sadar
diupayakan oleh manusia, kesadaran tersebut dinyatakan dalam suatu rencana
serta diarahkan untuk mencapai tujuan. Tujuan yang dimaksud adalah menuju
kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi sebelum pembangunan
dilaksanakan. Pencapaian tujuan itu berlangsung dalam jangka panjang yang
terbagi dalam beberapa tahapan-tahapan kegiatan, atau disebut juga progrees.
Terdapat beberapa tahapan untuk mencapai progrees.
Pemerintah Kabupaten Grobogan Dalam melaksanakan pembangunan
dibantu oleh segenap masyarakat dan organisasi-organisasi masa. Pada masa Orde
Baru pemerintah Grobogan mulai melaksanakan penyederhanaan dan
pembaharuan kehidupan politik, terutama dalam rangka mengikuti program
4
nasional dalam bidang penyederhanaan kepartaian dan kekaryaan menjadi dua
kelompok partai dan satu kelompok golongan karya. Seperti yang telah kita
ketahui bersama bahwa Orde Baru lahir dari kesadaran baru untuk mengadakan
tatanan baru dalam segala segi kehidupan nasional kita, menggantikan tatanan
lama yang telah mengandung benih-benih krisis dan kegoncangan, yang jelas kala
itu pemerintahan Orde Baru diharapkan akan mengantarkan bangsa ini menuju
kemajuan dan kesejahteraan yang dicita-citakan.
Perkembangan politik di Indonesia pada masa Orde Baru banyak
dipengaruhi oleh usulan-usulan Golkar dan ABRI. Golkar dan ABRI berhasil
menguasai seluruh sendi pemerintahan mulai dari tingkat pusat sampai ke desa-
desa, hal itu membuat partai-partai lain tidak bisa berkutik. Setelah muncul
gerakan reformasi yang dilakukan oleh intelektual kampus bersama rakyat,
pemerintahan Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto yang telah berkuasa selama
32 tahun akhirnya mengalami keruntuhan. Paska pemerintahan Soeharto,
kekuasaan berpindah pada BJ. Habibie yang pada waktu itu menjabat sebagai
wakil presiden. Pemerintahan BJ. Habibie yang dianggap transisi ini berhasil
menyelenggarakan Pemilu yang demokratis pada tahun 1999.
Seiring dengan perkembangan politik bangsa Indonesia, era Orde Baru
berganti dengan era reformasi. Pengaruh eforia reformasi di Kabupaten Grobogan
relatif besar terutama bidang politik hal itu ditunjukan dengan diberikannya
kebebasan bagi partai-partai baru untuk muncul dan menjadi peserta pemilu bagi
mereka yang telah memenuhi persyaratan diantaranya telah diakui keberadaanya
sesuai dengan UU. RI No. 31 Tahun 2002. Menurut Undang-undang tersebut
5
partai politik didirikan dan dibentuk oleh sekurang-kurangnya 50 orang warga
negara Republik Indonesia yang telah berusia 21 tahun ke atas.
Sebelum Pemilu dilaksanakan, partai-partai politik telah mulai menarik
perhatian massa melalui kegiatan kampanye. Di Indonesia pola dan strategi
kampanye masih dilakukan secara masal. Kampanye dilakukan di lapangan
terbuka dan diwarnai penyelenggaraan pawai di tempat-tempat tertentu dan dalam
satu momen kampanye ditampilkan lebih dari satu juru kampanye (jurkam).
Kampanye menjadi ajang persaingan program, dan biasanya program itu identik
dengan program-program pembangunan. Namun, sebenarnya bisa dikatakan tidak
mungkin membeberkan program di tengah-tengah masa kampanye yang
emosional. Yang paling mudah dilakukan oleh juru kampanye dalam situasi
tersebut adalah memabangkitkan emosi massa dengan slogan-slogan yang
memojokkan atau menghancurkan lawan politiknya.
Hasil pemilu tetap merupakan indikator perubahan politik yang paling
kongkret. Pemilu yang telah berjalan menggambarkan terjadinya perimbangan
kekuatan antar Organisasi Peserta Pemilu yang bersaing. Namun partai apapun
yang menang dalam Pemilu yang diperlukan oleh bangsa Indonesia adalah sosok
pemimpin yang adil, jujur dan berwibawa serta bertanggung jawab membawa
bangsa ini ke arah yang lebih baik. Kabupaten Grobogan merupakan salah satu
dari kabupaten di wilayah Propinsi Jawa Tengah, sebuah daerah yang berada di
dataran Pegunungan Kendeng (sebuah pengunungan kapur yang sangat baik untuk
kawasan hutan jati, dan sangat cocok untuk pertanian karena dilalui oleh
beberapa sungai).
6
Kabupaten Grobogan juga merupakan salah satu dari sekian banyak kabupaten
yang menjadi sasaran kampanye politik peserta Pemilu, banyak janji-janji, slogan-
slogan dan program kerja serta pembangunan di segala bidang yang ditawarkan
oleh peserta Pemilu untuk menarik simpati para pemilih. Tujuan utamanya adalah
untuk menarik masa sebanyak-banyaknya, namun, apakah janji-janji harapan serta
program kerja itu berhasil dan terlaksana setelah diselenggarakannya Pemilu.
Bertolak dari pemikiran tersebut di atas menyebabkan penulis tertarik
untuk mengangkat penelitian yang berjudul : “Peranan Partai Politik dalam
Pembangunan Bidang Sosial Ekonomi di Kabupaten Grobogan. (Suatu Tinjauan
Sebelum dan Sesudah Reformasi Tahun 1971 - 1998 s/d 2001)”.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah diamaksudkan untuk mengungkapkan pokok pikiran
secara jelas dan sistematik, sehingga akan mudah dipahami dengan jelas dari
permasalahan yang sebenarnya. Adapun permasalahan yang ingin diketahui yaitu:
1. Bagaimana kondisi Partai Politik di Kabupaten Grobogan sebelum reformasi
1971-1998
2. Bagaimana kondisi Partai Politik di Kabupaten Grobogan pada saat reformasi
1998-2001
3. Apakah peran Partai Politik di Kabupaten Grobogan dalam bidang sosial
ekonomi Tahun 1971-1998 hingga 2001
7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui kondisi kehidupan partai politik di Kabupaten Grobogan
sebelum reformasi 1971-1998
2. Untuk mengetahui kondisi partai politik pada saat reformasi 1998-2001
3. Untuk mengetahui peran partai politik dalam pembangunan bidang sosial
ekonomi di kabupaten Grobogan Tahun 1971-1998 hingga 2001
Adapun manfaat yang bisa di ambil dalam penelitian ini yaitu:
1. Bagi Pemerintah
Memberi masukan kepada pemerintah. Khususnya pemerintah Kabupaten
Grobogan tentang pentingnya peranan Partai Politik dalam Pembangunan
2. Bagi Mahasiswa
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta kemampuan menganalisis
terhadap kenyataan yang ada mengenai paranan Partai Politik di Kabupaten
Grobogan
3. Bagi Masyarakat
Dapat menambah pengetahuan tentang perlunya Partai Politik dalam
kehidupan berdemokrasi, yakni sebagai tempat untuk menyalurkan aspirasi
rakyat agar pembangunan yang dilakukan oleh partai yang berkuasa sesuai
dengan keinginan rakyat.
8
D. Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian ini tidak menyimpang dari akar permasalahan serta
mengingat waktu yang tersedia sangat terbatas, demikian pula biaya dan tenaga,
maka perlu adanya pembatasan ruang lingkup spasial maupun ruang lingkup
temporal. Pembatasan masalah yang dimaksudkan untuk membatasi ruang
lingkup permasalahan yang akan dibahas, bukan untuk mengurangi sifat ilmiah
suatu pembahasan. Ruang lingkup penelitian ini sebagai berikut :
1. Ruang Lingkup Wilayah / Spasial
Ruang lingkup wilayah / spasial adalah hal-hal yang berkaitan dengan
pembatasan suatu daerah atau kawasan tertentu tempat peristiwa itu terjadi.
Dalam penelitian ini daerah yang diambil adalah Kabupaten Grobogan yang
merupakan salah satu kabupaten di wilayah Propinsi Jawa Tengah yang
berada di dataran Pegunungan Kendeng.
2. Ruang Lingkup Waktu / Temporal
Ruang lingkup waktu / temporal adalah hal-hal yang berkaitan dengan
kapan terjadinya peristiwa itu, penelitian ini di angkat dengan lingkup waktu
antara tahun 1971 hingga 2001, dimana tahun 1971 merupakan tahun pertama
dari pemerintahan Orde Baru berhasil menyelenggarakan pemilu yang
pertama. Seharusnya berdasarkan ketetapan MPRS No. XI Tahun 1966
pemilu diselenggarakan pada tahun 1968. Ketetapan ini diubah pada Sidang
Umum MPR 1967 oleh Jendral Soeharto yang menggantikan Presiden
Soekarno dengan menetapkan bahwa Pemilu akan diselenggarakan pada tahun
1971 yang merupakan awal dari Pemilu pada masa Orde Baru.
9
Sedang tahun 2001 merupakan tahun pertama dalam pemerintahan Orde
Reformasi setelah Pemilu 1999 dan jatuhnya pemerintahan Orde Baru 21 Mei
1998. Pada tahun 2001 ini terjadi perubahan amandemen terhadap UUD 1945
yang menghasilkan perubahan penting diantaranya : lahirnya Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPD), lahirnya sistem pemilihan presiden secara
langsung, dan lahirnya Mahkamah Konstitusi. Setelah memasuki masa
reformasi bagi pemerintahan Kabupaten Grobogan tahun 2001 juga
merupakan tahun pertama dalam masa kerja Bupati Grobogan periode 2001-
2005.
E. Kajian Pustaka
Buku pertama yang digunakan penulis yaitu perjalanan Partai Politik di
Indonesia; Sebuah Potret Pasang Surut terbitan CV. Rajawali Jakarta tahun 1983,
karya M. Rusli Karim. Buku ini terdiri dari enam bab, namun yang relevan dari
buku ini dengan topik bahasan dalam skripsi ini adalah pada bab kelima dan
keenam.
Pada bab V dengan Judul Partai Politik di Masa Orde Baru ini, Karim
lebih menyoroti pada perkembangan partai politik yang bebas konflik ideologi
dan didasarkan pada konsensus nilai. Sebagai pengantar bab ini, Karim
menjelaskan tentang kebangkitan Orde Baru yang lahir pada tanggal 30
September 1965 bertepatan dengan pecahnya peristiwa G 30 S / PKI. Ditinjau dari
sudut politik Indonesia, kelahiran Orde Baru ini membawa nuansa baru. Nuansa
baru tersebut bukan hanya ditandai dengan tersingkirnya Soekarno dan PKI
10
sebagai simbol kekuatan politik utama pada waktu itu, tetapi juga dengan
terjadinya perubahan struktur politik yang tampak menyolok. Selanjutnya, Karim
memaparkan secara kronologis mengenai perjalanan partai politik pada masa
Pemilu tahun 1971, 1977, hingga Pemilu 1982, di Indonesia yang mengalami
pasang surut.
Pada bab VI, Karim memberikan gambaran tentang gagasan untuk
menyeragamkan asas kekuatan politik dengan memberlakuakan asas tunggal
Pancasila terhadap partai-partai politik. Sehubungan dengan gagasan pemerintah
berusaha untuk menggairahkan kehidupan partai politik ini adalah dengan
menyempurnakan Undang-undang partai politik yang mempunyai cabang dan
pengurus di tingkat desa, mengarahkan aktivitasnya untuk berpartisipasi dalam
pembangunan, baik secara positif maupun korektif dan masih banyak bahasan
lainnya tentang asas tunggal Pancasila yang akan diperdalam dalam pembahasan
skripsi ini
Buku kedua yang digunakan penulis berjudul Sejarah Hari Jadi Kabupaten
Grobogan, terbitan Bappeda Grobogan tahun 1991. Tim Bappeda pemerintah
Kabupaten Grobogan bekerja sama dengan Tim peneliti dari Universitas Sebelas
Maret menulis buku ini sebagai laporan dan gambaran kondisi daerah Kabupaten
Grobogan dalam seluruh aspek kehidupannya, mulai dari masa perjuangan
kemerdekaan RI hingga tahun 1987.
Tim Bappeda bersama tim dari Universitas Sebelas Maret memaparkan
secara kronologis mengenai perjalanan Kabupaten Grobogan dengan berbagai
aspek kehidupannya mulai dari masa perjuangan kemerdekaan RI hingga 1987.
11
Namun disini peneliti lebih memfokuskan pada kondisi sosial politik Kabupaten
Semarang tahun 1971-1987. Pada awal bahasannya, secara garis besar kondisi
sosial politik Kabupaten Grobogan tidak jauh berbeda dengan kondisi sosial
politik Indonesia dalam lingkup nasional. Dalam buku ini diceritakan tentang
prosesi pemilihan umum 1971, 1977, 1982, 1987, yang cenderung lancar dan
damai. Hal ini disebabkan oleh aktivitas pemerintah dan warga Kabupaten
Grobogan yang lebih disibukan pada pembangunan daerah secara fisik dan sosial
budaya. Namun ada satu masa yang membuat keresahan masyarakat Kabupaten
Grobogan dan menjadikan suasana politik berubah drasitis yaitu masa terjadinya
peristiwa G 30 S / PKI.
Buku ketiga yang digunakan adalah Sejarah Kabupaten Grobogan
periode 1988-2001, terbitan Pemerintah Kabupaten Grobogan Bagian Hubungan
Masyarakat tahun 2002. Buku ini memberikan gambaran tentang serentetan
peristiwa yang terjadi pada masa Orde Baru hingga masa Reformasi yang melipti
krisis multidimensional, upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten
Grobogan bersama-sama masyarakat dalam menanggulangi krisis tersebut,
pembinaan aparatur pemerintah termasuk pemberlakuan susunan organisasi dan
tata kerja Kabupaten Grobogan yaitu berdasarkan Perda No. 2 / 2001. Penulis
buku ini telah menggunakan pendekatan ilmiah dengan menerapkan kritik dan
analisa sumber yang menjelaskan fakta dilapangan.
Buku keempat, Partai Politik Peserta Pemilu 2004 Perjalanan dan
Profilnya terbitan Komisi Pemilihan Umum Pusat tahun 2003. Buku ini
mengungkapkan perjalanan Partai Politik mulai dari mendaftar di Departemen
12
Kehakiman dan HAM hingga ditetapkan dan nomor urut sebagai partai peserta
Pemilu 2004 oleh KPU. Selain itu buku itu juga menampilkan informasi singkat
kepengurusan Partai Politik, visi dan misi serta program kerja Partai Politik. Isi
dari buku tersebut sangat relevan untuk membantu menjawab permasalahan dalam
penelitian yang dilakukan oleh penulis dikarenakan sesuai dengan kajian yang
hendak diteliti oleh penulis.
Buku kelima yang digunakan penulis adalah Pertanggungjawaban Bupati
Grobogan Akhir Tahun Anggaran 2001 Kepada Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Kabupaten Grobogan, yang diterbitkan di Purwodadi bulan Maret 2002.
Buku ini disusun berdasarkan pasal 45 ayat (1) Undang-Undang No. 22 Tahun
1999 tentang Pemerintah Daerah menetapkan bahwa Kepala Daerah wajib
menyampaikan pertanggung jawaban pelaksanaan tugasnya kepada Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Berdasarkan Undang-undang tersebut di atas maka kebijakan
penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Grobogan
antaralain berupa kebijakan anggaran pendapatan, kebijakan anggaran belanja
rutin, kebijakan anggaran belanja pembangunan. Kebijakan-kebijakan tersebut
bagi penulis sangat membantu dalam menjawab permasalahan yang hendak dikaji
dan dicarikan jawabannya. Buku ini memberikan gambaran secara jelas dan lebih
nyata tentang bagaimana kinerja dalam penyelenggaraan pemerintah daerah
kepada masyarakat, melalui DPRD Kabupaten Grobogan.
Adapun kelima buku yang dipaparkan dalam kajian pustaka tersebut
peneliti menemukan satu benang merah yang menjadi fokus perhatian. Pada buku
13
pertama dipaparkan lebih umum dalam menggambarkan kondisi sosial politik
masyarakat Indonesia pada masa sebelum maupun ketika Orde Baru. Buku kedua
dan ketiga diterangkan secara mengerucut tentang kondisi sosial politik
Kabupaten Grobogan masa orde baru hingga orde reformasi. buku keempat yang
menyatakan tentang undang-undang, visi misi serta peraturan-peraturan tentang
partai politik di masa reformasi memberikan gambaran tentang bagaiman profil
dari Partai Politik peserta Pemilu pada masa reformasi. Buku keempat ini juga
memberikan gambaran tentang bagaimana program-program kerja dari partai
khususnya program kerja dalam pembangunan sesuai dengan kajian permasalahan
dari penulis. Untuk menguatkan kesinambungan dari beberapa hal diatas terdapat
buku kelima berupa, maka buku kelima berupa pertanggungjawaban APBD dapat
menjadi jembatan untuk membantu memberikan gambaran tentang hasil-hasil
pembangunan berdasarkan suara fraksi, dalam hal ini adalah partai politik yang
bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Grobogan (Bupati).
F. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah tentang peranan partai politik dalam pembangunan
bidang sosial ekonomi di Kabupaten Grobogan suatu tinjauan sebelum dan
sesudah reformasi 1971-1998 hingga 2001. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode sejarah. Dengan metode sejarah, penulis berisaha
menguji dan menganalisis kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. Oleh
sebab itu, penelitian ini akan penulis tempuh dengan melakukan prosedur
penelitian sejarah menurut Louist Gottschalk (1975: 32) yang terdiri dari empat
14
langkah kegiatan yang saling berurutan, sehingga antara yang satu dengan yang
lain saling berkaitan. Keempat langkah tersebut adalah heuristik (pencarian atau
penemuan sumber), kritik sumber, interpretasi (penafsiran), dan historiografi
(penyajian dalam bentuk cerita sejarah).
1. Heuristik (pencarian sumber)
Sebagai langkah pertama dalam penelitian sejarah ini adalah dengan cara
heuristik. Heuristik merupakan kegiatan untuk mencari atau menghimpun data
dan sumber-sumber sejarah atau bahan untuk bukti sejarah seperti: dokumen,
arsip, naskah, surat kabar maupun buku-buku referensi lain yang ada kaitannya
dengan permasalahan yang dibahas.
Secara umum sumber sejarah dibagi menjadi dua jenis :
a. Sumber primer, yaitu kesaksian dari pada seorang saksi dengan mata kepala
sendiri atau saksi dengan panca yang lain atau dengan alat mekanik seperti
diktafon, yakni orang atau alat yang hadir pada peristiwa yang diceritakan.
b. Sumber sekunder, yakni kesaksian dari pada siapapun yang bukan merupakan
saksi pandangan mata, yakni dari seorang yang tidak hadir pada peristiwa
yang dikisahkan (Gottschalk, 1975: 35).
Pada tahap heuristik ini peneliti mencari literatur-literatur kepustakaan
yaitu buku-buku yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Sumber-sumber
yang diperoleh dengan riset kepustakaan serbaguna sebagai bahan pembanding,
pelengkap dan penganalisa guna memperdalam permasalahan yang dibahas.
Adapun beberapa buku yang dapat dijadikan referensi dalam skripsi ini
15
diantaranya: Sejarah Hari Jadi Kabupaten Grobogan; Sejarah Kabupaten
Grobogan periode 1988-2001; Partai Politik Peserta Pemilu 2004 Perjalanan dan
Profilnya; Perjalanan Partai Politik di Indonesia: Sebuah potret pasang surut,
Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran 2001 Bupati Grobogan
Kepada Dewan Perwakilan Daerah, dan masih banyak sumber lain yang
digunakan dalam skripsi ini.
Dalam mengumpulkan data yang berupa sumber-sumber sejarah, penulis
menelaah dan mencari sumber-sumber sejarah yang tertulis berupa buku,
majalah,internet dan referensi yang sesuai dengan permasalahan yang akan
dibahas. Dalam skripsi ini sumber sejarah yang penulis gunakan adalah buku-
buku referensi yang membahas tentang kondisi kehidupan di Kabupaten
Grobogan pada masa orde baru hingga reformasi, perjalanan partai politik di
Kabupaten Grobogan pada khususnya serta yang membahas tentang bagaimana
peran partai politik dalam pembangunan khususnya bidang sosial ekonomi.
Selain buku-buku referensi, penulis juga mendapatkan dokumen-dokumen
yang berisi tentang kehidupan partai politik di Kabupaten Grobogan,
penyederhanaan / penggabungan organisasi politik (fusi partai politik), peran
partai politik dalam pembangunan sosial ekonomi yang termasuk dalam sumber
primer dalam penelitian skripsi ini. Adapun dokumen tersebut berupa buku
dengan judul Sejarah Hari Jadi Kabupaten Grobogan dan Sejarah Grobogan
periode 1988-2001 serta Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran
2001 Bupati Grobogan Kepada Dewan Perwakilan Daerah. Buku pertama dan
kedua memuat tentang bagaimana perjalanan hidup masyarakat Kabupaten
16
Grobogan, perkembangan serta pasang surutnya terutama dalam bidang politik
dari tahun 1971-2001. Sedang buku ketiga memuat tentang pembangunan di
Kabupaten Grobogan.
Sedangkan dokumen yang lain berupa Undang-Undang RI No. 3 tahun
1975 tentang partai politik dan Golongan Karya yang berisikan penggabungan
(fusi) organisasi kekuatan sosial politik, yaitu: Partai Persatuan Pembangunan,
Partai Demokrasi Indonesia dan Golongan Karya, serta UU No 8 tahun 1985
partai politik dan Golongan Karya. Dokumen ini terdapat dalam Himpunan
peraturan Perundang-undangan di Bidang Pembinaan Organisasi kekuatan Sosial
Politik, Organisasi Kemasyarakatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang
termuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia dan dikeluarkan oleh
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Direktorat Jenderal Peraturan
Perundang-undangan.
Penulis juga mengadakan penelitian lapangan untuk mendapatkan bukti
sejarah, baik primer maupun sekunder yang sesuai dengan masalah yang diteliti.
Dalam hal ini penulis mencari sumber atau bukti-bukti sejarah dibeberapa
perpustakaan , seperti:
a. Perpustakaan Daerah Kabupaten Grobogan.
b. Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Grobogan.
c. Perpustakaan Jurusan Sejarah dan Perpustakaan UNNES.
17
2. Kritik Sumber
Kritik sumber adalah tahap penilaian atau pengujian terhadap sumber-
sumber sejarah yang dikumpulkan, dilihat dari sudut pandang nilai kebenarannya.
Kebenaran dari sumber-sumber sejarah itu dapat diteliti secara otentisitas maupun
kredibilitasnya sehingga benar-benar dapat teruji keasliannya. Dalam kritik
sumber ini peneliti melakukan dua cara, yaitu kritik sumber ekstern dan kritik
sumber intern. Guna mendapatkan fakta-fakta sejarah dalam tahap kedua tersebut
dibagi menjadi kritik ekstern dan kritik intern.
a. Kritik Ekstern
Kritik ekstern ini peneliti gunakan untuk menentukan keaslian dan
keoutentikan sumber sejarah. Hal ini untuk menentukan apakah sumber itu
merupakan sumber sejati yang dibutuhkan atau tidak. Dalam melakukan kritik
ekstern peneliti berusaha untuk meneliti lebih detail mengenai sumber-sumber
sejarah yang didapat diantaranya; himpunan perundang-undangan tentang
partai politik, laporan APBD dan sumber-sumber kualitatif lainnya. Sumber-
sumber ini harus diteliti keaslian/keautentikannya, dengan cara membuktikan
keaslian kertasnya, tintanya, tulisannya, gaya tulisannya dan kalimatnya serta
seluruh penampilan luarnya.
b. Kritik Intern
Penulis melakukan kritik intern dengan tujuan ntuk mencapai nilai
pembuktian yang sebenarnya dari sumber sejarah. Kritik inten (dalam)
dilakukan terutama untuk menentukan apakah sumber itu dapat dipercaya atau
tidak.
18
Kritik intern dilakukan setelah penulis selesai membuat kritik ekstern
setelah diketahui otentisitas sumber, maka dilakukan kritik intern untuk
melakukan pembuktian apakah sumber-sumber tersebut benar-benar merupakan
fakta historis. Penulis melakukan kritik intern dengan membandingkan antara data
satu dengan yang lainnya dan merupakan hasil studi kepustakaan. Tujuan dari
kritik intern ini untuk menetapkan kebenaran sehingga isi dari sumber tersebut
dapat dipercaya.
Penulis melakukan kritik sumber ini dengan berusaha membuktikan
kredibilitas sumber sejarah yang didapatkan yang berupa sumber tertulis. Dalam
meelakukan kritik intern dari sumber tertulis yang merupakan hasil studi
kepustakaan dari referensi yang telah didapat, peneliti berusaha membandingkan
antara data yang satu dengan data yang lainnya. Peneliti berhasil mendapatkan
buku-buku sumber yang telah diuraikan pada sub bab kajian pustaka diatas.
Buku pertama tulisan M. Rusli Karim tentang Partai Politik di Masa Orde
Baru, masih hangat suhunya dengan apa yang akan dibahas karena diterbitkan
pada tahun 1983 yang merupakan masa Orde Baru. Buku kedua dan ketiga
memaparkan secara gamblang dan terperinci tentang bagaimana pembangunan
bidang ekonomi, sosial, serta politik di Kabupaten Grobogan. Buku tersebut
memaparkannya dalam dua periode waktu yaitu pada masa Orde Baru hingga
reformasi. Kemudian dilengkapi dengan adanya buku keempat yang memaparkan
tentang peraturan perundang-undangan, visi, misi profil serta program kerja dari
partai politik peserta Pemilu. Adapun program-program kerja dari partai politik
peserta pemilu tersebut kemudian tertuang secara lebih fokus pada buku kelima
19
yang berupa APBD daerah tingkat II Kabupaten Grobogan. Buku pertama hingga
kelima secara keseluruhan merupakan sumber primer dalam penelitian skripsi ini.
3. Interpretasi
Langkah selanjutnya adalah interpretasi, yaitu usaha untuk mewujudkan
rangkaian fakta yang bersesuaian antara yang satu dengan yang lain dan
menetapkan artinya. Interpretasi yang peneliti lakukan tak lain merupakan usaha
untuk menetapkan makna yang saling berhubungan dari fakta yang satu dengan
fakta yang lain. Dalam melakukan interpretasi peneliti menggunakan cara dengan
menghubungkan fakta yang satu dengan fakta yang lain, sehingga dapat
ditetapkan makna atau arti dari kejadian-kejadian sejarah. Dalam proses ini tidak
semua fakta dapat dimasukan tetapi harus dipilih fakta yang relevan dengan
gambaran cerita yang hendak disusun.
Dalam melakukan interpretasi ini langkah yang dilakukan peneliti adalah
dengan cara menganalisis suatu data atau fakta yang telah didapat dan mempunyai
hubungan dengan rangkaian fakta berikutnya. Adapun data yang didapat peneliti
adalah hasil pelaksanaan Pemilu Kabupaten Grobogan tahun 1971-1999 dan
APBD Kabupaten Grobogan.
Berdasarkan pelaksanaan Pemilu tahun 1971, 1977, 1982 dan 1987, dapat
diambil kesimpulan bahwa kondisi pembangunan politik Kabupaten Grobogan
sejak Repelita I sampai dengan Repelita IV menjukan keadaan yang sangat
menggembirakan. Kondisi tersebut memang memungkinkan karena program
pemerintah benar-benar terlaksana secara tepat. Program-program tersebut,
20
misalnya pembinaan umum dan bidang pengamanan sehingga tercipta stabilitas
yang dinamis.
Melihat hasil Pemilu dari empat kali pelaksanaan selama Pelita I sampai
dengan Pelita IV di Kabupaten Grobogan, tampak Golkar memperoleh
kemenangan besar. Sehingga dalam menetapkan APBD Kabupaten Grobogan
pada masa itu lebih didominasi suara dari Golongan Karya.
Pada pelaksanaan Pemilu tahun 1999 yang merupakan Pemilu pertama
masa reformasi, di Kabupaten Grobogan Partai Demokrasi Indonesia mendapat
kemenangan terbesar sehingga mendominasi perolehan kursi dalam DPRD II
Kabupaten Grobogan. Kemenangan tersebut juga menggeser kedudukan Golkar
yang berhasil memperoleh kemenangan dalam semua periode Pemilu masa Orde
Baru. Dalam penetapan APBD juga berubah, yang sebelumnya lebih didominasi
oleh Golkar kemudian pada peiode ini PDI lebih mendominasi. Bisa dikatakan
Partai Politik yang berhasil menang dalam Pemilu mempunyai andil yang sangat
besar dalam penetapan APBD.
4. Historiografi
Historiografi merupakan langkah terakhir dari metode sejarah yang
peneliti lakukan. Tahap ini merupakan langkah penulisan sejarah yang disusun
secara logis, menurut urutan kronologis dan tema yang jelas serta mudah
dimengerti yang dilengkapi dengan pengaturan bab atau bagian-bagian yang dapat
membangun urutan kronologis dan tematis. Kemampuan peneliti untuk menjaga
agar standar mutu cerita sejarah dapat dicapai yaitu dengan menyusun cerita
21
menurut urutan peristiwa berdasarkan kronologi, tema-tema dan prinsip
kebenaran dan kemampuan imaji agar dapat menghubungkan peristiwa yang
terpisah-pisah menjadi satu rangkaian cerita yang masuk akal dan mendekati
kebenaran.
G. Sistematika Penulisan
Dalam rangka penulisan laporan penelitian ini, penulis perlu menjabarkan
sistematika penulisan yang dituangkan ke dalam lima bab, dimana setiap bab
terdiri dari beberapa sub bab. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah
sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
D. Ruang Lingkup Penelitian
E. Kajian Pustaka
F. Metode Penelitian
G. Sistematika Penulisan
BAB II : KONDISI KEHIDUPAN PARTAI POLITIK DI KABUPATEN
GROBOGAN PADA MASA ORDE BARU 1971-1998
A. Sejarah Kelahiran Orde Baru
B. Gambaran Umum Kabupaten Grobogan
22
C. Eksistensi Partai Politik di Kabupaten Grobogan Tahun Pada
Masa Orde Baru 1971-1998
BAB III : KONDISI PARTAI POLITIK DI KABUPATEN GROBOGAN
PADA SAAT REFORMASI
A. Arti Reformasi
B. Kondisi Partai Politik di Kabupaten Grobogan Pada Awal
Reformasi Tahun 1998
C. Perkembangan Partai Politik pada masa Reformasi
BAB IV : PERAN PARTAI POLITIK DI KABUPATEN GROBOGAN
DALAM PEMBANGUNAN BIDANG SOSIAL EKONOMI
A. Landasan Pembangunan Kabupaten Grobogan
B. Peran Partai Politik Dalam Pembangunan di Kabupaten
Grobogan Tahun 1971-1998 hingga 2001
C. Peran Pemerintah Dalam Pembangunan di Kabupaten
Grobogan
D. Pelaksanaan Pembangunan di Kabupaten Grobogan
E. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pembangunan bidang Sosial
Ekonomi di Kabupaten Grobogan.
BAB V : PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran
23
BAB II
KONDISI KEHIDUPAN PARTAI POLITIK DI KABUPATEN
GROBOGAN
PADA MASA ORDE BARU TAHUN 1971-1998
A. Sejarah Kelahiran Orde Baru
Sejarah mencatat, sebelum Orde Baru lahir didahului dengan
meletusnya tragedi nasional yang sering disebut dengan Pemberontakan G 30
S / PKI, tepatnya tanggal 30 September 1965. Peristiwa ini puncaknya adalah
dini hari, tanggal 1 Oktober 1965. Peristiwa itu menyebabkan enam Jenderal
terkemuka dibunuh secara kejam dan sadis oleh komplotan militer yang
mempunyai hubungan dengan PKI. Banyak versi yang berusaha mengungkap
siapa pelaku peristiwa tersebut, namun umumnya yang diakui oleh banyak
kalangan PKI-lah pelakunya.
Seusai peristiwa berdarah yang merenggut enam nyawa Jenderal TNI
AD itu, 30 September 1965, Presiden Soekarno mengeluarkan Supersemar
yang kemudian justru menjadi titik awal kelahiran Orde Baru (Pusponegoro
dan Notosusanto, 1993 : 406). Isi dari Surat Perintah 11 Maret (Supersemar)
tersebuat ialah memberikan kekuasaan kepada Letjen. Soeharto, untuk dan
atas nama Presiden / Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi,
mengambil tindakan yang dianggap perlu demi terjaminya keamanan,
ketenangan, serta kesetabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi
serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Presiden / Panglima
23
24
Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi / Mandataris MPRS, serta demi
keutuhan bangsa dan negara Republik Indonesia dan melaksanakan dengan
pasti ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi. Isi lengkap dari Surat Perintah
Tersebut ada di lampiran 1 (Tim Dokumentasi Presiden RI, 1991: 54).
Pada saat terjadi peristiwa pemberontakan G 30 S / PKI Grobogan
dinyatakan sebagai daerah berbahaya kedua setelah Temanggung. Maka
dengan dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret 1966, segenap masyarakat
Kabupaten Grobogan segera melakukan konsolidasi guna pengejaran /
pembersihan terhadap oknum-oknum masyarakat yang terlibat langsung
ataupun tidak langsung dengan gerakan G 30 S / PKI. Dalam hal ini ABRI
bersama rakyat bekerja sama erat dan serentak dengan unsur-unsur
masyarakat lain dengan semangat berkobar-kobar berusaha mengganyang
sisa-sisa G 30 S / PKI di Kabupaten Grobogan. (Tim Universitas Sebelas
Maret, 1991: 61).
Tonggak awal kelahiran Orde Baru adalah ketika diserahkannya
Supersemar 1966 dari Presiden Soekarno kepada Letnan Jenderal Soeharto
yang kemudian menjadi kunci yang sangat menentukan. Supersemar yang
pada awalnya hanya berupa surat perintah biasa dari Presiden Soekarno
kemudian dalam Sidang Umum ke IV MPRS ditetapkan sebagai Ketetapan
MPRS No. IX / 1966. Sidang Paripurna terbuka MPRS menyetujui dan
memperkuat Surat Perintah yang dikeluarkan pada 11 Maret 1966 oleh
Presiden / Panglima Tertinggi / Mandataris MPRS dan ditujukan kepada
Letjen. Soeharto selaku Menpangad. Dalam siding tersebut anggota-anggota
25
MPRS secara bulat menyetujui ditingkatnnya Supersemar menjadi Ketetapan
MPRS No. IX / 1966. Dengan ketetapan ini berarti bahwa Supersemar tidak
dapat ditarik kembali oleh Presiden / Panlima Tertinggi ABRI / Mandataris
MPRS, sebab hanya MPRS-lah yang berhak untuk membatalkannya. Isi
lengkap Ketetapan tersebut ada di lampiran 2 (Tim Dokumentasi Presiden RI,
1991: 86).
Ketetapan ini selanjutnya dijadikan landasan politik bagi
beroperasinya pemerintah Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto. Bersama
dengan itu Supersemar ditetapkan sebagai salah satu sumber hokum Republik
Indonesia dan tertuang dalam Tap MPR No. XX / MPRS 1966 mengenai
memorandum DPR-GR tentang sumber tertib hokum RI dan tata urutan
peraturan perundangan dan tata urutan peraturan perundang-undangan RI.
Dengan demikian Supersemar dianggap sebagai landasan hukum dan politik
bagi keberadaan rezim Orde Baru di Indonesia.
Pada tahun 1967 MPRS melakukan Sidang Istimewa, dalam sidang
tersebut Komisi A MPRS telah berhasil membuat Rancangan Ketetapan
mengenai Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden
Soekarno dan Mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden.
Alasan yang mendasari Rancangan Ketetapan ini adalah bahwa Presiden tidak
dapat memenuhi tanggungjawab konstitusional, dan bahwa Presiden tidak
dapat menjalankan haluan negara dan keputusan MPRS. MPRS menerima dan
mensahkan Rancangan Ketetapan MPRS No. XXXIII / MPRS / 1967 tentang
Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan dari Presiden Soekarno.
26
Jenderal Soeharto dilantik sebagai Pejabat Presiden RI. Pelantikan ini
merupakan pelaksanaan dari Ketetapan MPRS No. XXXIII / 1967 yang
menetapkan mencabut kekuasaan pemerintah negara dari Presiden Soekarno
dan menarik kembali mandate MPRS dari Presiden Soekarno. Ketetapan ini
selanjutnya menetapkan mengangkat Pemegang Ketetapan MPRS No. IX /
1966, Jenderal Soeharto, sebagai Pejabat Presiden sampai dipilihnya Presiden
oleh MPR hasil pemilihan umum.
Awal kelahiran Orde Baru ini juga dihadapkan pada persoalan
lumpuhnya ekonomi negara yang ditunjukan dengan laju inflasi yang sangat
tinggi. Menurut Frans (1998), pada waktu masa peralihan dari Orde Lama ke
Orde Baru juga terjadi krisis ekonomi (1966-1968). Krisis ekonomi tersebut
disebabkan oleh etatisme yaitu negara terlalu berkuasa dalam komando
ekonomi, juga terjadi defisit yang terakumulasi sejak 1960 hingga 1966 yang
menyebabkan timbulanya inflasi sebesar 650 persen serta pada waktu itu
negara tidak menganggap dunia luar atau istilahnya “go to hell”-kan dunia
luar. Adapun kebijakan yang diambil untuk mengatasi krisis tersebut adalah
dengan menentukan kebijakan yang akan diambil yakni enam bulan untuk
rescue operation (operasi penyelamatan), serta dua tahun untuk stabilitas,
sehingga baru pada 1 April 1969 kita bisa melakukan pembangunan.
Rincian operasi penyelamatan krisis ekonomi tersebut adalah dengan
menetukan target. Target pertama adalah mengenai pangan dan yang kedua
adalah mengenai pembayaran hutang dikarenakan apabila tidak bisa
membayar negara kita dianggap bangkrut. Program penyelamatan tersebut lalu
27
disusun bersama dengan IMF, pada 31 Agustus 1966 program tersebut dibawa
ke siding cabinet untuk dimintakan persetujuan. Setelah delegasi Indonesia
berangkat keseluruh dunia membawa program tersebut. Delegasi tersebut
adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Frans Seda, Menteri Perindustrian,
Menteri Perdagangan, dan dua anggota DPR, negara yang menjadi tujuan
adalah Inggris, Belanda, Jerman kemudian Tokyo. Kemudian berdasar
program tersebut maka pada 3 Oktober 1966 keluarlah peraturan pemerintah
pertama yang telah disetujui oleh DPR yang kemudian dikenal dengan
“peraturan 3 Oktober”. Setelah dikeluarkan peraturan tersebut kepercayaan
dunia menjadi semakin bertambah dan pada 7 Februari 1967, terbentuklah
IGGI, kelompok negara donor kita (Frans Seda, FORUM, 1998: 82-83).
Pada sisi lain, awal kelahiran Orde Baru ini dihadapkan pada dua
persoalan besar sebagai warisan sejarah Orde Lama, yaitu politik dan
lumpuhnya ekonomi yang ditunjukan dengan laju inflasi yang sangat tinggi.
Kondisi perpolitikan menjelang dan pada permulaan berdirinya Orde Baru
memang terlihat sangat kacau dan sulit dikendalikan. Hal ini akibat logis dari
langgam politik Orde Lama yang otoritarian dalam bingkai Demokrasi
Terpimpin menuju bentuk kearah “Demokrasi Pancasila” dibawah
pemerintahan Orde Baru.
B. Gambaran Umum Kabupaten Grobogan
28
Kabupaten Grobogan merupakan salah satu Kabupaten di wilayah
Propinsi Jawa Tengah. Daerah ini berada di dataran Pegunungan Kendeng,
sebuah pegunungan kapur yang sangat baik untuk kawasan hutan jati. Daerah
ini merupakan daerah yang bergelombang dalam wujud reliefnya. Kondisi
Geografis Kabupaten Grobogan cocok untuk pertanian, karena potensi aliran
Sungai-sungai Tuntang, serang dan Lusi dengan beberapa anak sungainya
mampu mengairi tanah-tanah persawahan di Kabupaten Grobogan. Disamping
itu untuk tandon air dibangunlah bendung-bendung diantaranya Sedadi, Kali
Lanang, Sidorejo, Dumpil, dan bendung Klambu, serta Waduk Kedung Ombo,
Waduk Nglangon, dan Waduk Sanggah.
Secara astronomis wilayah Kabupaten Grobogan terletak 7 – 7 derajat
30 menit Lintang Selatan dan 100 derajat 15 menit sampai 111 derajat 25
menit Bujur Timur. Sedang batas wilayahnya sebagai berikut : sebelah utara
Kabupaten Demak, Kudus, Pati dan Blora; sebelah timur Kabupaten Blora;
sebelah selatan Kabupaten Semarang, Boyolali, Sragen, dan Ngawi (Jatim);
sedangkan sebelah barat Kabupaten Semarang, Demak.
Secara administratif Kabupaten Grobogan terbagi menjadi 6 wilayah
pembantu bupati, 19 kecamatan. Terdiri dari 273 desa dan 7 kelurahan; 1.461
dusun; dan 1551 RW serta 7.269 RT. Luas wilayah 197.586.420 Ha atau
kurang lebih 6,07 % dari luas Propinsi Jawa Tengah.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup warga masyarakat, maka tanah di
wilayah tersebut digunakan untuk tanah persawahan seluas 60.421.470 Ha
29
atau 30,58%; tanah kering 60.549,875 Ha atau 30,65%; tanah hutan
68.683,030 Ha atau 34,76%; untuk lain-lain 7.932,045 Ha atau 4,01%.
Sebagai wilayah agraris, maka 92% penduduk bermukim di kawasan
pedesaan pertanian, sedang sisanya 8% bermukim di kota-kota. Jumlah
penduduk seluruhnya catatan statistik tahun 1990 ada 1.161.477 jiwa yang
terdiri dari 569.687 laki-laki dan 591.790 perempuan. Dari jumlah tersebut,
tingkat kepadatan penduduk adalah 588 jiwa/Km dengan tingkat pertumbuhan
1,29% per tahun.
Selanjutnya mata pencaharian penduduk dapat dijelaskan sebagai
berikut : Petani 50,93%; buruh tani 32,84%; pengusaha 0,68%; buruh industri
1,87%; buruh bangunan 4,02%; pedagang 2,27%; angkutan 0,78%; pegawai
Negeri Sipil/ABRI 2,45%; pensiunan 0,78%; lain-lain 13,38%. Dalam
pembangunan nasional dewasa ini makin terasa pentingnya aspek sejarah
sebagai pembangunan nasional ialah penemuan identitas dan kepribadian
bangsa yang secara historis dapat dipertahankan sepanjang kehidupan bangsa
Indonesia (PemKab. Grobogan Bagian Humas: 2002).
C. Eksistensi Partai Politik di Kabupaten Grobogan Pada Masa Orde Baru
1971-1998
1. Definisi Partai Politik
30
Secara etimologis politik berasal dari kata polis bahasa Yunani yang
artinya kota, sehingga politik dapat diartikan sebagai hal ihwal mengatur
penyelenggaraan suatu kota, atau jika diperluas penyelenggaraan suatu negara.
Pengertian politik lebih sulit didefinisikan dari berbagai pengertian sosiologi
karena politik (politics) meliputi berbagai kegiatan dalam suatu sistem politik
(atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem
itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Pengambilan keputusan tentang
tujuan sistem perlu skala prioritas dari berbagai alternatif, sedangkan untuk
melaksanakan tujuan-tujuan itu perlu ditentukan berbagai kebijakan umum
public policies yang menyangkut pengaturan dan pembagian distribution atau
alokasi dari sumber-sumber yang ada resources allocation.
Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik adalah suatu
kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi,
nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk
memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya)
dengan cara konstitusionil untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan
mereka (Budiardjo, 1996:160).
Dalam praktek kegiatan politik dilaksanakan oleh lembaga-lembaga
politik yang masing-masing memiliki kewenangan tertentu. Lembaga-
lembaga itu adalah : negara, lembaga-lembaga perwakilan rakyat, lembaga-
lembaga peradilan, serta partai politik. Bagaimana praktek politik itu
dilaksanakan tergantung pada sistem politik serta filosofi yang dianut oleh
31
masing-masing negara, mungkin demokratis dapat pula otoriter, theistik atau
atheistik.
Menurut UU No. 31 tahun 2002 dalam pasal 1 yang dimaksudkan
Partai Politik adalah organisasi politik yang dibentuk oleh sekelompok warga
negara Republik Indonesia secara sukarela atas dasar persamaan kehendak dan
cita-cita untuk memperjuangkan kepentingan anggota masyarakat, bangsa dan
negara melalui pemilu. Partai politik didirikan dan dibentuk oleh sekurang-
kurangnya 50 orang warga negara Republik Indonesia yang telah berusia 21
tahun dengan akta notaris. Akta notaris yang dimaksud adalah harus memuat
anggaran dasar dan anggaran rumah tangga disertai kepengurusan tingkat
nasional. Partai politik di Indonesia harus mendaftarkan diri pada departemen
kehakiman. Dalam pembentukannya partai politik harus memiliki asas yang
tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. dan setiap partai
politik mempunyai ciri tertentu sesuai dengan kehendak dan cita-citanya yang
tidak bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945 dan Undang-Undang (Partai
Politik dan Pemilihan Umum, 2003 : 3).
2. Sejarah Terbentuknya Partai Politik
Partai politik pertama-tama lahir dalam zaman kolonial sebagai
manifestasi bangkitnya kesadaran nasional. Dalam suasana itu semua
organisasi (Budi Utomo, Muhammadiyah, Sarikat Islam, Partai Katolik, PNI,
PKI ) memainkan peranan penting dalam berkembangnya pergerakan nsional.
32
Pola kepartaian inimenunjukan keanekaragaman, yang diteruskan pada masa
merdeka dalam bentuk sistem multi partai.
Dengan didirikannya Volkstrad maka beberapa partai dan organisasi
bergerak melalui badan ini. Pada tahun 1939 terdapat beberapa fraksi dalam
Volkstrad, yakni Fraksi Nasional di bawah pimpinan Husni Thamrin, PPBB
( Perhimpunan Pegawai Bestuur Bumiputra ) dibawah pimpinan Prawoto dan
“Indonesische Nationale Groep” di bawah pimpinan Muhammad Yamin.
Di luar Volkstrad ada usaha untuk mengadakan gabungan dari partai-
partai politik dan menjadikannya semacam dewan perwakilan nasional. Pada
tahun 1939 dibentuk K.R.I (Komite Rakyat Indonesia) yang terdiri dari GAPI
(Gabungan Politik Indonesia, yang merupakan gabungan dari partai-partai
beraliran nasional), MIAI (Majelis Rakyat Indonesia, yangmerupakan
gabungan organisasi buruh).
Dipandang dari sudut ideologi dasar, munculnya partai politik di
Indonesia secara garis besar adalah sebagai aktualisasi dari tiga
aliran/golongan atau pandangan politik yang menemukan momentum
kelahirannya pada dekade kedua dan ketiga abad XX ini. Ketiga aliran ini
mempunyai satu tujuan bersama yaitu untuk merebut kekuasaan politik
pemerintah colonial Belanda (Karim,1983:vii).
Pada jaman pendudukan Jepang kegiatan partai politik dilarang, hanya
golongan-golongan islam diberi kebebasan untuk membentuk partai Masyumi.
Akan tetapi, satu bulan sesudah proklamasi Kemerdekaan, kesempatan dibuka
33
lebar-lebar untuk mendirikan partai politik, anjuran mana mendapat sambutan
yang antusias. Dengan demikian kepartaian kembali ke pola multi-partai yang
telah dimulai dalam zaman kolonial. Banyaknya partai tidak menguntungkan
berkembangnya pemerintahan yang stabil. Pemilihan umum yang diadakan
pada tahun 1955 membawa penyederhanaan dalam jumlah partai, yakni
Masyumi, PNI, NU dan PKI. Akan tetapi partai-partai tetap tidak
menyelenggarakan fungsinya sebagaimana yang diharapkan. Akhirnya, pada
masa Demokrasi Terpimpin partai-partai dipersempit ruang geraknya.
Pada masa Orde Baru partai politik diberi kesempatan untuk bergerak
lebih leluasa. Akan tetapi, sesudah diadakan pemilihan umum tahun 1971,
dimana Golkar menjadi pemenang pertama dengan disusul oleh oleh tiga
partai besar NU, Parmusi dan PNI, agaknya partai-partai harus menerima
kenyataan bahwa peranan mereka dalam decision-making process untuk
sementara akan tetap terbatas. Pada tahun 1973 terjadi penyederhanaan partai.
Empat partai islam, yaitu Nahdhatul Ulama, Partai Muslimin Indonesia, Partai
Syarikat Indonesia dan Perti bergabung menjadi Partai Persatuan
Pembangunan. Selain dari itu lima partai, yaitu Partai Nasional Indonesia,
Partai Kristen Indonesia, Partai Katolik, Partai Murba, dan Partai Ikatan
Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) bergabung menjadi Partai
Demokrasi Pembangunan, dengan demikian pemilihan umum yang
diselenggarakan pada tahun 1977 diikuti dua partai politik dan Golkar.
34
3. Kondisi Politik di Kabupaten Grobogan Pada Awal Hingga Orde
Baru
Masalah politik di Kabupaten Grobogan sangat memprihatinkan pada
era demokrasi liberal 1950-1959, pada masa itu terjadi pergeseran-pergeseran
nilai persatuan dan kesatuan yang telah terbina selama revolusi fisik.
Terbentuknya berbagai cabang organisasi-organisasi politik dan organisasi
massa di Kabupaten Grobogan, merupakan cerminan dari pelaksanaan
demokrasi liberal dan UUDS 1950.
UUDS 1950 merupakan cerminan dari demokrasi liberal seperti yang
terdapat dalam beberapa negara barat yang memberikan peranan yang sangat
penting kepada Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (Parlemen) karena ia
menentukan nasib pemerintah atau eksekutif yang berkuasa, yang menentukan
hidup matinya kabinet. Karena parlemen terdiri dari wakil-wakil partai, maka
kekuasaanya yang begitu besar langsung mencerminkan pengaruh partai-
partai politik di dalamnya. Kekuasaan dominan parlemen berarti sama saja
atau sejalan dengan peranan utama partai-partai politik di dalam sistem
olitik yang berlaku
( Alfian, 1978 : 31).
Adanya keinginan dari partai-partai politik untuk menjadi yang
dominan menjadikan keadaan politik di Kabupaten Grobogan semakin genting
saat menjelang Pemilu tahun 1955. Tahun 1954 satu tahun sebelum
pelaksanaan Pemilu setiap partai membentuk organisasi massa, baik dari
kelompok pelajar, pemuda, petani maupun buruh. Tujuan dari pembentukan
35
organisasi- organisasi tersebut karena partai-partai saling berebut pengaruh
dan pengikut sehingga menjadi warna tersendiri dari kehidupan partai politik
di Kabupaten Grobogan pada masa itu. Organisasi-organisasi pemuda yang
telah terbentuk di Kabupaten Grobogan dijadikan sebagai underbow dari
empat partai besar yaitu PNI, PKI, NU serta Masyumi dan tidak hanya
berkedudukan di kota-kota melainkan telah melebarkan sayapnya di desa-
desa. Dengan adanya pembentukan organisasi-organisasi massa menjadikan
pemuda di Kabupaten Grobogan menjadi terkotak-kotak.
Menurut sifat dan keanggotaanya, maka organisasi pemuda di
Kabupaten Grobogan dapat dikategorikan sebagai berikut : Golongan
pertama, adalah organisasi masa pemuda yang secara tegas berafiliasi dengan
partai politik, seperti : Pemuda Rakyat bentukan dari Partai Komunis
Indonesia (PKI), Pemuda Demokrat bentukan dari Partai Nasional Indonesia
(PNI), Gerakan Pemuda Islam Indonesia bentukan dari Masyumi dan Pemuda
Anshor bentukan dari NU. Golongan kedua adalah organisasi massa pelajar
yang kerana pengaruh dari partai-partai menjadi terkotak-kotak. Organisasi
tersebut antara lain: IPPI yang dalam proses perkembangannya berafiliasi
dengan PKI, PII dan disusul dengan munculnya organisasi-organisasi yang
lain. Sedangkan organisasi pada golongan ketiga banyak terjadi perpecahan
karena pengaruh dari partai-partai.
Munculnya berbagai organisasi pemuda dan pelajar disatu sisi
memang sangat positif bagi perwujudan dinamika pemuda Kabupaten
Grobogan dalam mengisi kemerdekaan. Namun karena organisasi-organisasi
36
tersebut dibentuk oleh partai politik sehingga menjadi lebih banyak
mementingkan kepentingan golongan yang dikarenakan adanya perebutan
pengaruh sebagai usaha untuk merebut posisi-posisi (kursi-kursi) penting di
dalam kabinet sehingga berdampak pada perpecahan. (Tim Peneliti
Universitas Sebelas Maret, 1991 : 55).
Kondisi politik pada awal Orde Baru di Kabaupaten Grobogan,
tampak lebih stabil walaupun di sana-sini terlihat adanya gejolak yang
ditimbulkan oleh emosi. Kendati demikian tidak pernah terjadi bentrokan fisik
yang merugikan. Pengaruh konflik politik maupun fisik sering datang dari luar
daerah Grobogan. Kondisi tersebut sangat berpengaruh pada pelaksanaan
pembangunan daerah yang merupakan unsur pembangunan nasional dengan
proritas pembangunan ekonomi. Sebab rentetan segala krisis nasional yang
timbul sebelum lahirnya Orde Baru disebabkan tidak terciptanya stabilitas
politik.
Kesetabilan politik tersebut berarti bahwa keadaan politik harus
berkembang seuai dengan landasan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945 (UUD 1945) dengan sewajarnya. Dalam rangka itulah kemudian terjadi
penyegaran DPR-GR pada awal tahun 1968 hal ini juga dirasakan oleh
masyarakat Kabupaten Grobogan. Penyegaran ini meliputi penyegaran
kenaggotaan, komposisi, dan prosedur kerjanya. Bagi Kabupaten Grobogan
penyegaran ini sekaligus menjadi pembaharuan dalam kehidupan politik (Tim
Peneliti Universitas Sebelas Maret, 1991 : 60).
37
Akhirnya masyarakat masyarakat daerah Kabupaten Grobogan pada
awal Orde Baru mulai masuk untuk melaksanakan penyederhanaan dan
pembaharuan kehidupan politik, terutama dalam rangka mengikuti program
nasional dalam bidang penyederhanaan kehidupan kepartain seperti yang
tertuang dalam UU No. 3 Tahun 1975 tentang penyederhanaan kepartaian,
keormasan, dan kekaryaan menjadi satu kelompok partai dan satu kelompok
golongan karya. Penyederhanaan partai dan golongan karya yang
menghasilkan dua buah partai politik dan sebuah organisasi karya ini
merupakan kemajuan yang sangat penting dalam kehidupan politik di daerah
grobogan (Tim Peneliti Universitas Sebelas Maret, 1991 : 61).
4. Pemilihan Umum Kabupaten Grobogan tahun 1971-1997
a. Pemilihan Umum 1971 di Kabupaten Grobogan
Pemberontakan G 30 S / PKI tahun 1965 telah mengubah
kehidupan politik Indonesia sehingga mengalami perubahan yang drastis
dan prinsipil. Semenjak memegang kendali kekuasaan, pemerintah Orde
Baru yang bertekad untuk melaksanakan Pancasila dana UUD 1945 secara
murni dan konsekuen, bersifat anti komunis dan berorintasi kuat pada
pembangunan mencoba untuk membangun sistem pemilihan umum yang
mampu memelihara stabilitas pemerintahan. Salah satu tugas pentingnya
adalah dengan menyelenggarakan pemilihan umum.
Setelah mengalami pengunduran sebanyak dua kali, pemerintah
Orde Baru akhirnya berhasil menyelenggarakan Pemilihan umum yang
38
pertama setelah masa pemerintahannya yaitu pada 1971. Seharusnya
berdasarkan Ketetapan MPRS No. XI Tahun 1966 Pemilu
diselenggarakan pada tahun 1968. Ketetapan ini diubah pada Sidang
Umum MPR 1967, oleh Jenderal Soeharto yang menggantikan Presiden
Sokarno, dengan menetapkan bahwa pemilu akan dilaksanakan pada tahun
1971 (www.parlemen.net: 1 Agustus 2007).
Pada tanggal 24 November 1966 Presiden Soeharto menyampaikan
sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang kepartaian,
keormasan, dan kekaryaan kepada DPR-GR. Tetapi menjelang Pemilu
1971 RUU tersebut belum terselesaikan sehingga dalam pasal peralihan
dinyatakan bahwa Partai Politik, Ormas dan Golongan Karya boleh
mengambil bagian dalam pemilihan umum. Partai Murba yang pada
awalnya direhabilitasi juga diperbolehkan untuk ikut menjadi peserta
dalam pemilihan umum. Golongan Karya merupakan gabungan dari 7
KINO (Kelompok Induk Organisasi) yaitu Kosgoro, MKGR, Gakari,
Profesi, Ormas Hankam dan Gerakan Pembangunan yang kemudian
muncul dalam satu tanda gambar dalam pemilihan umum 1971.
Pengelompokan partai-partai oleh Presiden soeharto ini bukan untuk
melenyapkan partai melainkan bertujuan untuk mempermudah dalam
pelaksanaan kampanye. Pengelompokan partai tersebut antara lain adalah
golongan nasionalis, golongan spiritual dan golongan karya. Berdasarkan
pengelompokan tersebut maka dibentuklah Kelompok Demokrasi
Pembangunan atau Kelompok Material Spiritual yaitu kelompok partai
39
yang menekankan pada pembangunan materiil tanpa mengabaikan aspek
spiritual yang merupakan gabungan dari PNI, IPKI, MURBA, Parkondo
dan Partai Katolik. Kelompok yang kedua adalah kelompok Persatuan
Pembangunan atau kelompok Spiritual Materiil yaitu kelompok partai
yang menekankan pembangunan spiritual tanpa mengabaikan aspek
materiil yang terdiri atas Nahdlatul Ulama, Parmusi, PSSI dan Perti
(Soemardjan 2000: 310). Berdasarkan uraian diatas partai politik di
Kabupaten Grobogan berjumlah 10 partai yaitu Partai Katolik, Partai
Syarikat Islam Indonesia, Partai Nahdlatul Ulama, Parmusi Golkar,
Parkindo, Partai Murba, PNI, Perti, IPKI , dengan lima besar partai dalam
pemilu yaitu Golongan Karya, Nahdlatul Ulama, Parmusi, Partai Nasional
Indonesia dan Partai Syarikat Islam Indonesia
(id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_Umum_di_Indonesia: 9 Agustus 2007).
Asas yang digunakan dalam pemilihan umum 1971 adalah LUBER
(Langsung Umum Bebas dan Rahasia) demikian pula. Adapun keterangan
dari masing-masing sifat tersebut diantaranya:
1. Langsung
Adalah setiap pemilih memberikan suaranya secara langsung tanpa
perantara atau diwakilkan orang lain.
2. Umum
Adalah setiap WNI yang telah memenuhi syarat dapat ikut serta
menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum.
40
3. Bebas
Adalah pemilih dalam menggunakan hak pilihnya dijamin
keamanannya untuk memilih sesuai dengan hati nuraninya tanpa
adanya paksaan dan tekanan dari pihak manapun.
4. Rahasia
Adanya pilihannya dijamin oleh peraturan dan tidak akan diketahui
oleh pihak manapun dan dengan cara apapun ketika menentukan
pilihannya (Secret Ballot) (Waridah, 2003: 10).
Pelaksanaan pemilihan umum tahun 1971 tepatnya pada tanggal 5
Juli 1971 di Kabupaten Grobogan menunjukan pertanda bahwa,
masyarakat Grobogan merupakan masyarakat yang mampu melaksanakan
program-program pembangunan politik secara sempurna. Dengan tidak
menutup mata atas kekurangan yang ada, dapatlah dikatakan bahwa
pelaksanaan Pemilu 1971 di Kabupaten Daerah Tingkat II dapat
berlangsung dengan aman, tertib dan lancar. Sejak dari awal pelaksanaan
sampai dengan kampanye hingga pemungutan hari pemungutan suara
tidak pernah terjadi kericuhan-kericuhan, sehingga pemungutan suara
dapat diselenggarakan dengan aman dan lancar serta tertib dengan hasil
sebagai berikut: Partai Katolik memperoleh 581 suara; Partai Syarikat
Islam Indonesia memperoleh 2.646 suara; Partai Nahdlatul Ulama
memperoleh 90.761 suara; Parmusi memperoleh 5.814 suara; Golkar
memperoleh 233.876 suara; Parkindo memperoleh 2.531 suara; Partai
Murba meperoleh 143 auara; Partai Nasional Indonesia memperoleh
41
39.555 suara; Perti memperoleh 494 suara; dan IPKI memperoleh 1.716
suara
Pelaksanaan Pemilu 1971 di Kabupaten Grobogan yang lancar,
merupakan langkah awal untuk pembangunan politik di tahun-tahun
berikutnya. Dapatlah diambil kesimpulan bahwa dalam pelaksanaan Pelita
I, keadaan politik di daerah Kabupaten Grobogan tidak menujukan gejala-
gejala yang menjurus kearah keadaan yang membahayakan persatuan dan
kesatuan bangsa dan mengganggu lancarnya pelaksanaan pemerintahan
dan pembangunan.
Keadaan tersebut diatas akibat dari keadaan obyektif dalam
masyarakat yang telak tidak begitu terkotak-kotak dalam berbagai
kekuatan politik dan semakin meningkatkan kesadaran masyarakat
Grobogan untuk lebih memikirkan keadaan sosial. politik, masyarakat
akan arti pentingnya persatuan dan kesatuan sehingga kepentingan
masyarakat luas lebih didahuluan daripada kepentingan pribadi. Dan satu
hal yang pasti yang tidak mungkin dilupakan adalah peranan aktif dari
anggota Dewan sebagai tokoh masyarakat dalam menciptakan keadaan
yang stabil tersebut (Tim Peneliti Universitas Sebelas Maret, 1991: 62-
63).
b. Pemilihan Umum 1977 di Kabupaten Grobogan
Pada tanggal 2 Mei 1977 diselenggarakan pemilihan umum yang
ketiga dalam Sejarah Nasional Indonesia, dan untuk kedua kalinya
diadakan berdasarkan UUD 1945 pada masa Orde Baru. Asas yang
42
digunakan dalam pemilu 1977 ini sama halnya dengan asas dalam pemilu
1971 yaitu LUBER. Berbeda dengan pemilihan umum 1971 yang diikuti
10 partai, dalam pemilu ini hanya diikuti oleh 3 partai, dimana dua
diantaranya adalah hasil fusi dari beberapa partai. Perubahan jumlah partai
peserta pemilu tersebut berdasarkan Undang-Undang No. 3 Tahun 1975
tentang fusi (penggabungan) partai politik menjadi dua partai politik dan
satu golongan karya (http://id.wikipedia.org. 9 Agustus 2007).
Rencana penyederhanaan partai-partai politik Soeharto dan para
pemimpin partai tersebut menghasilkan sauatu kelompok koalisi dalam
DPR. Fusi partai ini adalah penyederhanaan partai politik dari 10 Parpol
menjadi 3 Parpol, dan hasil fusi menghasilkan partai-partai sebagai
berikut:
1. Partai Persatuan Pembangunan
Partai Persatuan Pembangunan ini merupakan fusi dari partai-partai
Islam seperti NU, PERTI,Parmusi dan PSSI.
2. Golongan Karya
3. Partai Demokrasi Indonesia
Partai Demokrasi Indonesia merupakan fusi dari PNI, Partai Katolik,
Partai Kristen, dan IPKI (Syam,2007:7).
Ketiga kekuatan sosial politik ini memiliki asas, tujuan, fungsi
serta hak dan kewajiban yang sama. Seperti diatur dalam UU No. 3 tahun
1975 (Karim,1983: 173). Demikian rekayasa politik penguasa Orde Baru
43
yang berlaku secara nasional. Hal tersebut berlaku pula serta diterapkan di
Kabupaten Grobogan.
Menjelang pelaksanaan pemilihan umum tahun 1977 kedaan
politik di Kabupaten Grobogan menunjukan kenaikan suhu , dan kenaikan
suhu politik tersebut mencapai puncaknya pada bulan Maret dan April
1977. Pada bula-bulan tersebut seluruh kekuatan-kekuatan politik sedang
giat-giatnya melakukan kampanye guna menarik massa sebanyak-
banyaknya
Meskipun dalam dua bulan pertama sempat terjadi kenaikan suhu
politik, pelaksanaan pemilihan umum 1977 di Kabupaten Grobogan tetap
berjalan tanpa ada kericuhan yang mengganggu jalannya pemilihan umum
serta mengganggu stabilitas masyarakat. Keadaan ini menjadikan
pemilihan umum di Kabupaten Grobogan dapat berjalan lancar
sebagaimana yang diharapkan, dan diperoleh hasil sebagai berikut: Partai
Persatuan Pembangunan (PPP) memperoleh 102.644 suara; Partai Golkar
memperoleh 292.832 suara; dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI)
memperoleh 69.279 suara. Dari jumlah suara yang diperoleh, maka
perhitungan jumlah kursi DPRD Tingkat II Kabupaten Grobogan sebagai
berikut: Partai Persatuan Pembangunan memperoleh 7 kursi; Partai Golkar
memperoleh 20 kursi; Partai Demokrasi Indonesia memperoleh 5 kursi
(Tim Peneliti Universitas Sebelas Maret, 1991: 63).
c. Pemilihan Umum 1982 di Kabupaten Grobogan
44
Pemilihan umum ketiga pada masa pemerintahan Orde Baru
dilaksanakan pada 4 Mei 1982, Pemilu dilaksanakan secara serentak di
seluruh Indonesia dan diikuti oleh seluruh warga negara Indonesia baik
yang yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk
didalamnya masyarakat Kabupaten Grobogan. Pemilihan umum kali ini
diwarnai oleh beberapa peristiwa selama masa kampanye yang menjurus
kearah kerusuhan dan tindakan anarkis, hal ini disebabkan tidak
terkendalinya masa pandukung salah satu organisasi peserta pemilu.
Meskipun sempat diwarnai oleh beberapa tindakan anarkis pemilu
tetap terlaksana dengan baik. Adapun peolehan suara dalam pemilu 1982
di Kabupaten grobogan adalah sebagai berikut: Partai Persatuan
Pembangunan memperoleh 112.349 suara; Golkar memperoleh 380.748
suara; dan Partai Demokrasi Indonesia memperoleh 34.859 suara.
Berdasar perhitungan perolehan suara dalam pemilu tersebut, maka
perhitungan untuk perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Tingkat
II Kabupaten Grobogan hasil pemilu 1982 adalah: Partai Persatuan
Pembangunan memperoleh 7 kursi; Golkar memperoleh 25 kursi; dan
Partai Demokrasi Indonesia memperoleh 2 kursi (Tim Peneliti Universitas
Sebelas Maret, 1991: 64).
d. Pemilihan Umum 1987 di Kabupaten Grobogan
Pelaksanaan pemilihan umum 1987 ditandai oleh sejumlah
perkembangan dan perubahan penting. Perubahan pertama adalah dengan
penetapan Pancasila sebagai sat-satunya asas bagi organisasi politik
45
peserta Pemilu dan sebagai pelaksanaan dari ketetapan MPR No. 11 /
MPR / 1983 tentang GBHN dan No. III / MPR / 1983 tentang pemilihan
umum yang ditindaklanjuti dengan UU No. 1 tahun 1985 tentang
perubahan UU No. 15 tahun 1969 tentang pemilihan umum anggota-
anggota badan permusyawaratan perwakilan rakyat sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 4 tahun dan UU No. 2 tahun 1980 serta UU No. 3
tahun 1985 tentang perubahan UU No. 3 tahun 1975 tentang partai politik
dan Golongan Karya, maka organisasi politik peserta Pemilu hanya
berdasarkan Pancasila dalam menjabarkan program-program untuk
mewujudkan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila.
Dengan demikian tidak ada lagi masalah yang bersifat ideologis dalam
program, tema, dan materi kampanye (Safroedin Bahar, 1997: 53)
Gagasan untuk menyeragamkan Pancasila sebagai satu-satunya
asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut, disosialisasikan
oleh Presiden Soeharto dalam pidatonya di depan Sidang Paripurna DPR
pada Tanggal 16 Agustus 1982 (Karim, 1983: 219).
Perubahan yang kedua adalah mengenai tanda gambar partai,
sejalan dengan ditetapkannya Pancasila sebagai satu-satunya asas maka
dilakukan penyempurnaan tanda gambar. Partai Persatuan Pembangunan
(PPP) yang pada Pemilu 1982 menggunakan tanda gambar Ka’bah dalam
Pemilu tahun 1987 memakai tanda gambar bintang ditengah segi lima.
Demikian pula dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang
sebelumnya menggunakan tanda gambar banteng dengan latar belakang
46
beringin disertai padi dan kapas di kiri dan kanan, kemudian
menggunakan tanda gambar banteng, sedang Golkar tetap menggunakan
tanda gambar pohon Beringin.
Pemilihan Umum 1987 itu sendiri dilaksanakan pada 23 April
1987 dan bagi Kabupaten Grobogan Pemilu tersebut membawa perubahan
penting berupa kelancaran dan ketertiban selama jalannya kampanye
hingga pelaksanaan pemungutan suara. Hal itu tidak lepas dari penetapan
Pancasila sebagai satu-satunya asas. Dari hasil pemungutan suara Pemilu
1987 di Grobogan diperoleh hasil sebagai berikut: Partai Persatuan
Pembangunan memperoleh 84.925 suara; Golkar memperoleh 447.407
suara; dan Partai Demokrasi Indonesia memperoleh 47.425 suara. (Tim
Peneliti Universitas Sebelas Maret, 1991: 64).
e. Pemilihan Umum 1992 di Kabupaten Grobogan
Perkembangan politik di Kabupaten grobogan tampak mengarah
pada usaha-usaha pemantapan stabilitas daerah dan dinamisasi dengan
adanya tiga organisasi peserta pemilu yang merupakan fusi dari partai-
partai politik sebelumya. Pemilu 1992 yang dilaksanakan pada 9 Juni
1992 di Kabupaten Grobogan berjalan dengan lancar, hal itu merupakan
langkah awal untuk pembangunan politik ditahun-tahun berikutnya.
Dapatlah diambil kesimpulan bahwa dalam pelaksanaan pembangunan
pelita VI, keadaan politik di daerah Kabupaten Grobogan tidak
menunjukan gejala-gejala yang menjurus kearah keadaan yang
membahayakan persatuan bangsa dan mengganggu lancarnya pelaksanaan
47
pemerintah dan pembangunan. Keadaan tersebut adalah akibat dari
keadaan obyektif masyarakat yang tidak begitu terkotak-kotak dalam
kekuatan politik serta semakin meningkatkan kesadaran masyarakat
Grobogan untuk lebih memikirkan keadaan sosial politik masyarakat.
Keadaan politik menjelang pemilihan umum 1992 di tingkat
nasional sempat menunjukan suhu kenaikan dan mencapai puncaknya
pada bulan Mei dan Juni 1992 disaat kekuatan sosial politik sedang giat-
giatnya melakukan kampanye dalam rangka menarik massa sebanyak-
banyaknya. Namun demikian pelaksanaan Pemilu tahun 1992 di
Kabupaten Grobogan berjalan tanpa ada kericuhan yang menggangu
stabilitas masyarakat. Dan dalam Pemilu 1992 dapat diketahui hasilnya
sebagai sebagai berikut: Partai Persatuan Pembangunan memperoleh
131.268 suara; Golkar memperoleh 384.723 suara; dan Partai Demokrasi
Indonesia memperoleh 111.074. Berdasar pada jumlah suara yang
diperoleh dalam Pemilu maka pembagian jumlah kursi DPRD II
Kabupaten Grobogan adalah sebagai berikut: Partai Persatuan
Pembangunan memperoleh 8 kursi; Golkar memperoleh 22 kursi; Partai
Demokrasi Indonesia memperoleh 6 kursi (Tim Bappeda Kabupaten
Grobogan, 2002: 12).
f. Pemilihan Umum 1997 di Kabupaten Grobogan
Asas pemilihan umum tahun 1997 masih sama seperi Pemilu-
pemilu sebelumnya yaitu LUBER. Untuk pemilihan anggota DPR dan
DPRD dipakai system perwakilan berimbang dengan setelsel daftar.
48
Dengan demikian maka besarnya kekuatan perwakilan berimbang dalam
DPR dan DPRD adalah sejauh mungkin berimbang dengan besarnya
dukungan dalam masyarakat pemilih. Sistem daftar begitu pula sistem
Pemilu menggambarkan adanya pengakuan terhadap stelsel organisasi
yang ikut serta dalam kehidupan ketatanegaraan. Tiap-tiap daerah Tingkat
II mendapatkan sekurang-kurangnya seorang wakil yang ditetapkan
berdasarkan sistem perwakilan berimbang yang akan diatur dalam
peraturan pemerintah.
Dalam pemilihan umum 1997 yang diadakan pada 29 Mei 1997 di
Kabupaten Grobogan diperoleh hasil sebagai berikut: Partai Persatuan
Pembangunan memperoleh 196.666 suara; Golkar memperoleh 480.553
suara; dan Partai Demokrasi Indonesia memperoleh 15.901 suara.
Berdasarkan pada perolehan suara dalam Pemilu 29 Mei 1997 maka
perolehan kursi di DPRD II Grobogan untuk masing-masing partai adalah
sebagai berikut: Partai Persatuan Pembangunan memproleh 10 kursi;
Golkar memperoleh 25 kursi; dan Partai Demokrasi memperoleh 1 kursi
(Tim Bappeda Kabupaten Grobogan, 2002: 13).
49
BAB III
KONDISI PARTAI POLITIK DI KABUPATEN GROBOGAN
PADA SAAT REFORMASI 1998-2001
A. Arti Reformasi
Reformasi berarti penyatuan atau penyusunan, sedangkan gerakan
reformasi berarti mengembalikan segala sesuatunya kepada kedudukan dan aturan
yang berlaku / yang ada (Pemerintah Kabupaten Grobogan Bagian Hubungan
masyarakat, 2002 : 42 ). Pada awalnya gerakan reformasi ini menuntut kepada
pemerintah Orde Baru untuk : menurunkan harga BBM ( yang meningkat hingga
71 %), membersihkan kabinet dari unsur-unsur KKN ( Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme ) serta penegakan hukum dan hak asasi manusia. Namun lambat laun
gerakan berkembang menjadi gerakan yang menuntut pengunduran diri Prsiden
Soeharto beserta jajaran kabinetnya.
Gerakan reformasi tersebut di atas bermula pada tahun 1997 tepatnya pada
pertengahan bulan Juli saat bangsa Indonesia dilanda kekeringan yang
ditimbulkan oleh musim kemarau panjang sepanjang September 1997, keadaan ini
menimbulkan krisis pengadaan pangan yang berkepanjangan. Hal ini
menyebabkan gagal panen di beberapa daerah serta produksi pangan menurun
yang pada gilirannya berdampak kerugian yang cukup besar dikalangan petani
dan untuk pertama kalinya Indonesia menjadi negara pengimpor beras Asia
Tenggara.
49
50
Di bidang ekonomi dan keuangan krisis tidak hanya melanda Indonesia
tetapi juga negara Asia Tenggara, Korea Selatan dan Jepang. Dimulai dengan
tindakan pialang saham dan valas yang bernama George Soros yang memborong
mata uang Dollar Amerika Serikat secara besar-besaran, sehingga nilai mata uang
negara Asia Tenggara terutama Thailand, Philipina dan Indonesia menurun
dengan tajam.
Perekonomian Indonesia makin terpuruk setelah hutang negara dan swasta
yang jatuh tempo tidak kunjung terbayar oleh karena kesulitan memperoleh uang
dollar dari kalangan perbankan, dan mereka sendiri kesulitan modal sebagai akibat
penarikan besar-besaran rush uang simpanan bank oleh nasabah yang khawatir
nilai mata uangnya merosot dan tidak dapat menarik simpanannya jika Bank
tersebut mengalami kebangkrutan.
Upaya pemerintah untuk mengatasi kesulitan permodalan di bidang
perbankan adalah melalui Bank Indonesia yang akan mengucurkan dana cukup
besar yang dikenal dengan dana Bantuan Liquiditas Bank Indonesia ( BLBI ),
yang penyalurannya melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
Namun dalam prakteknya dana BLBI disalah gunakan dan banyak dilarikan ke
luar negeri.
Di bidang politik pembentukan kabinet Pembangunan VII paska awal
Maret 1998 oleh Presiden Soeharto telah mengundang dan kecaman dari
kalangan mahasiswa dan masyarakat LSM, oleh karena presiden telah
mengangkat para menteri dengan orang-orang dekatnya.
51
Dibidang hukum, penanganan kasus-kasus hukum sering kali menjadi
tidak jelas dan tidak selesai, apalagi bila pelakunya adalah orang dekat keluarga
cendana. Sedangkan dibidang Hak-hak asasi manusia kalangan LSM
menghendaki penghapusan Daerah Operasi Militer di Aceh dan Timor Timur
serta Reformasi di tubuh TNI.
Krisis multidimensional yang melanda Indonesia ini tidak kunjung
terpecahkan oleh pemerintah Orde Baru di bawah kepemimpinan presiden
Soeharto, sehingga menimbulkan gerakan yang menuntut ke reformasi total di
segala bidang secara demokratis, serta diakuinya kebebasan berpendapat,
menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pemerintah, disamping penegakan
hukum dan hak asasi manusia. (Pemkab. Grobogan Bag. Humas, 2002 : 42 ).
Dalam rangka merespon arus reformasi tersebut yang pelaksanaanya
diwarnai berbagai aksi demonstrasi dan kerusuhan di daerah-daerah pada tanggal
10 Mei 1998 dan mencapai puncaknya pada tanggal 13 dan 14 Mei 1998 berupa
aksi kerusuhan massal di ibu kota Jakarta. Demi menjaga persatuan, kesatuan
dan keutuhan bangsa dan negara kesatuan republik Indonesia, maka pada hari
Kamis tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari
jabatannya dan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada Wakil Presiden Prof.
DR. Ir. BJ Habibie. Selanjutnya Presiden BJ Habibie pada tanggal 22 Mei 1998
membentuk Kabinet Reformasi yang salah satu programnya melaksanakan
pemilihan umum tahun 1999.
Salah satu reformasi yang dicapai pada waktu itu adalah reformasi
dibidang pemerintahan yaitu orientasi pemerintahan sentralistik otoriter diubah
52
menjadi orientasi pemerintahan yang bersifat otonomi demokratis dan dikuatkan
dengan adanya Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah.
Pemerintahan kabinet Reformasi dibawah Presiden Habibie berakhir pada
tanggal 19 Oktober 1999, saat pidato pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR
hasil Pemilu 1999. Tanggal 20 Oktober KH. Abdulrachman Wahid dilantik
menjadi Presiden RI ke 4 menggantikan Presiden Habibie. Selama pemerintahan
Presiden Abdulrachman Wahid dengan Kabinet Persatuan Nasional yang dimulai
pada tanggal 26 Oktober 1999 teryata krisis makin berkepanjangan dan mencapai
puncaknya ketika akhir bulan Juli 1999, presiden berupaya mengeluarkan dekrit
yang menyatakan negara dalam keadaan bahaya sebagai reaksi atas pelaksanaan
Sidang Istimewa MPR hasil Pemilu 1999 tanggal 1 Agustus 1999.
Dalam Sidang Istimewa tersebut Presiden dimintai pertanggung jawaban
atas jalannya pemerintahan selama itu, presiden pada awalnya sangat menolak,
namun akhirnya presiden menyampaikan pidato pertanggung jawabannya. Pidato
ini teryata tidak memuaskan para anggota MPR hasil Pemilu 1999 sehingga. pada
tanggal 20 Agustus 1999 Megawati Soekarnoputri dilantik menjadi Presiden RI ke
5 menggantikan KH. Abdulrachman Wahid yang diberhentikan.
Pengaruh gerakan reformasi bagi Kabupaten Grobogan sangat kecil,
meskipun sempat terjadi gelombang reformasi yang menimpa perangkat desa
selaku aparat pemerintahan. Demikian pula pengaruh krisis multidemensional
juga relatif kecil terutama bidang politik, hal itu dimunginkan karena kondisi
Kabupaten Grobogan yang stabil dan dinamis, berkat suasana persatuan dan
53
kesatuan serta kebersamaan yang terjalin antara Pemerintah dengan segenap
warga masyarakat. (Pemkab. Grobogan Bag. Humas, 2002 : 43 ).
B. Kondisi Partai Politik di Kabupaten Grobogan Pada Awal Reformasi
Tahun 1998
1. Kondisi Umum
Pembangunan daerah yang merupakan unsur pembangunan nasional
dengan prioritas pembangunan ekonomi merupakan salah satu jawaban yang
harus segera dilaksanakan. Sebab rentan segala krisis nasional yang timbul
sebelum lahirnya orde baru, telah menelantarkan pembangunan ekonomi
karena tidak tercipta stabilitas di bidang politik.
Dalam bidang politik stabilitas berarti bahwa keadaan politik haruslah
berkembang dan sesuai dengan landasan Pancasila dan Undang-Undang dasar
1945 secara wajar dalam rangka itulah perlunya proses penyegaran DPRD II
kabupaten Grobogan agar mampu membawakan aspirasi rakyat dengan baik.
Guna menunjang pemantapan stabilitas nasional pada masa orde baru,
masyarakat kabupaten Grobogan pada prinsipnya dapat menerima dan
melaksanakan penyederhanaan dan pembaharuan kehidupan berpolitik,
sekaligus mengikuti program nasional dalam bidang penyederhanaan
kepartaian, kehidupan keormasan dan kekaryaan, yang menyederhanakan
jumlah Partai Politik menjadi dua kelompok partai dan satu kelompok
Golongan Karya.
54
Namun sayang sekali pada saat anggota DPRD II Kabupaten
Grobogan hasil Pemilihan Umum 1997 mulai melaksanakan tugasnya,
bekobarlah gerakan reformasi secara menyeluruh di tanah air sebagai akibat
adanya krisis multidimensional, yang melanda kawasan Asia Tenggara
termasuk Indonesia, yang tidak kunjung terpecahkan oleh pemerintah Orde
Baru. Gerakan reformasi yang berarti mengembalikan segala sesuatunya
kepada kedudukan dan aturan yang ada, pada mulanya menuntut kepada
Pemerintahan Orde Baru : Penururnan Harga BBM ( yang meningkat hingga
71% ), bersihkan kabinet dari unsur-unsur KKN ( Kolusi, Korupsi,
Nepotisme) serta penegakkan hukum dan hak asasi manusia namun lambat
laun berkembang menjadi gerakan yang menuntut pengunduran diri presiden
Soeharto beserta jajaran kabinetnya.
Dalam rangka merespon arus reformasi tersebut yang pelaksanaanya
sampai diwarnai berbagai aksi demonstrasi dan kerusuhan di daerah-daerah
(tanggal 10 Mei 1998 ) dan mencapai puncaknya pada tanggal 13 dan 14 Mei
1998 berupa aksi kerusuhan massal di ibu kota Jakarta, serta demi menjaga
persatuan, kesatuan dan keutuhan bangsa dan negara kesatuan republik
Indonesia, maka pada hari Kamis tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto
menyatakan berhenti dari jabatannya dan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya
kepada Wakil Presiden Prof. DR. Ir. BJ Habibie. Selanjutnya Presiden BJ
Habibie pada tanggal 22 Mei 1998 membentuk Kabinet Reformasi yang salah
satu programnya melaksanakan pemilihan umum tahun 199, dan menyatakan
pemerintahannya sebagai pemerintahan Transisi sambil menunggu hasil
55
Pemilu 1999. Dengan demikian tugas DPRD II kabupaten grobogan hasil
Pemilu 1997 menyesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada di tingkat
pusat sampai pada saatnya digantikan oleh anggota Dewan hasil Pemilihan
Umum tahun 1999.
2. Pemilihan Umum
Perkembangan politik di kabupaten Grobogan tampak mengarah ke
usaha-usaha pemantapan stabilitas daerah dan dinamisasi dengan tiga
organisasi peserta pemilu yang merupakan fusi dari partai-partai politik
sebelumnya.
Pelaksanaan Pemilu 1992 di Kabupaten Grobogan yang lancar
merupakan langkah awal untuk pembangunan politik ditahun tahun
berikutnya. Dapatlah diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan pelita VI,
keadaan politik di daerah kabupaten Grobogan tidak menunjukkan gejala-
gejala yang menjurus ke arah keadaan yang membahayakan persatuan bangsa
dan mengganggu lancarnya pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan.
Keadaan ini adalah sebagai akibat dari keadaan obyektif dalam
masyarakat yang telah tidak begitu banyak terkotak-kotak dalam kekuatan
politik dan semakin meningkatkan kesadaran masyarakat Grobogan untuk
lebih memikirkan keadaan sosial politik masyarakat akan arti pentingnya
persatuan dan kesatuan sehingga kepentingan masyarakat luas lebih
didahulukan dari pada kepentingan pribadi, dan golongan yang dipimpinnya.
Dan satu hal yang pasti yang tidak mungkin dilupakan adalah peranan aktif
56
Anggota Dewan sebagai tokoh masyarakat dalam menciptakan keadaan yang
stabil tersebut.
Keadaan politik menjelang Pemilu tahun 1992 di tingkat nasional
menunjukan suhu kenaikan pada puncaknya pada bulan Mei dan Juni 1992
disaat kekuatan sosial politik sedang giat-giatnya melakukan kampanye dalam
rangka menarik massa sebanyak-banyaknya. Namun demikian pelaksanaan
Pemilu tahun 1992 di Kabupaten Grobogan berjalan tanpa ada kericuhan yang
mengganggu stabilitas masyarakat. Dan dalam Pemilu 1992 dapat diketahui
hasilnya sebagai berikut : PPP mendapat 131.268 suara; Golkar mendapat
384.723 suara; dan PDI mendapat 111.074 suara.
Dari jumlah suara yang diperoleh maka pembagian jumlah kursi
DPRD II Kabupaten Grobogan sebagai berikut : PPP mendapat 8kursi; Golkar
mendapat 22 kursi; sedangkan PDI mendapat 6 kursi.
Sedangkan Hasil Pemilihan Umum tahun 1997 yang dilaksanakan
tanggal 3 Juni 1997 adalah sebaga i berikut : PPP mendapat 196.666 suara;
Golkar mendapat 480.553 suara; dan PDI mendapat 15.901 suara
Dengan demikian berdasarkan perolehan suara tersebut di atas maka
kursi DPRD II Kabupaten Grobogan sebagai berikut : PPP mendapat 10 kursi;
Golkar mendapat 25 kursi; dan PDI mendapat 1 kursi (Pem. Kab. Grobogan
Bagian Humas. 2002: 11).
3. Pembinaan Organisasi Politik
Pembangunan di bidang politik diarahkan untuk meningkatkan upaya
pemantapan stabilitas daerah dalam rangka mewujudkan Demokrasi Pancasila.
57
Untuk mencapai perwujudan tersebut Pemerintah kabupaten Grobogan pada
akhir Pemerintahan Orde Baru, telah meningkatkan pembinaan terhadap
organisasi sosial politik, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesional.
Sampai akhir pelita VI ( 1998 ) jumlah ormas/orpol dapat diketahui
sebagai berikut : Partai Politik (1998) 3 organisasi; Organisasi
Kemasyarakatan 83 organisasi, terdiri dari : organisasi keagamaan 23, aliran
kepercayaan 4, rganisasi pemuda & wanita 12, organisasi komunikasi 2,
organisasi profesi 26, organisasi seni budaya 1, organisasi seni bela diri 10 dan
organisasi Lain-lain 1 organisasi.
Dalam perkembangan partai politik selanjutnya di Kabupaten
Grobogan tidak bisa terlepas dari iklim perpolitikan yang terjadi atau yang
dialami oleh bangsa Indonesia. Setelah Orde Baru berganti dengan era
Reformasi pembinaan partai politik di Kabupaten Grobgan dapat berjalan
dengan baik, ancar dan aman selaras dengan perkembangan yang ada (Pem.
Kab. Grobogan Bagian Humas. 2002: 14).
C. Perkembangan Partai Politik di Kabupaten Grobogan Pada Masa
Reformasi
Seiring dengan pergantian pemerintahan dari rezim Orde Baru kepada
pemerintahan Orde Reformasi yang merupakan pemerintahan transisi, maka pada
tanggal 7 Juni 1999 sebagai realisasi program kabinet Reformasi, diadakan
Pemilihan Umum secara demoktratis yang diikuti oleh 48 Partai Politik dengan
hasil perolehan yang dapat dilihat pada tabel berikut :
58
No NAMA PARTAI JUMLAH SUARA
1. PIB 971
2. KRESNA 570
3. PNI 3.3393
4. PADI 375
5. KAMI 2.014
6. PUI 991
7. PKU 1.557
8. P. MASYUNI BARU 546
9. PPP 45.776
10. PSII 1.028
11. PDI. P 305.177
12. ABDUL YATAMA 1.442
13. PKM 755
14. PDKB 1.569
15. PAN 17.803
16. PRD 381
17. PSI – 1905 523
18. PKD 143
19. PILAR 102
20. PARI 287
21. MASYUMI 2.622
22. PBB 3.187
23. PSP 418
24. P. KEADILAN 1.947
25. PNU 2.427
26. PNI FRON MARHAENS 4.691
27. IPKI 2.336
28. PARTAI KATOLIK 1.227
29. PID 302
30. PNI MASA MARHAENS 4.645
31. MURBA 349
32. PDI 4.144
33. GOLKAR 103.103
34. PARTAI PERSATUAN 2.450
35. PKB 128.016
36. PUDI 461
37. PBN 605
38. MKGR 976
39. PDR 1.006
40. P. CINTA DAMAI 1.008
41. PKP 1.984
42. SPSI
43. PNBI 375
44. PBI 1.052
59
45. SUNI 464
46. PND 2.268
47. PUMI 842
48. PPI 206
948
JUMLAH PEROLEHAN SUARA 683.801
JUMLAH SUARA SYAH 659.298
JUMLAH SUARA TIDAK SYAH 24.503
Sumber : Kantor Kesbang Linmas Kabupaten Grobogan.
Melihat hasil Pemilihan Umum tahun 1999 dan komposisi keanggotaan
partai politik di DPRD Kabupaten Grobogan, maka dibutuhkan adanya semangat
persatuan dan kesatuan serta kebersamaan diantara berbagai kekuatan sosial
politik yang ada di DPRD II kabupaten Grobogan, dengan memprioritaskan
kepentingan masyarakat/rakyat banyak daripada kepentingan pribadi atau
golongan. Dengan demikian dalam menerima dan menyalurkan aspirasi rakyat
senantiasa berpihak kepada publik tanpa mengabaikan mekanisme, prosedur dan
aturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam masa reformasi partai politik kembali mendapat kebebasan untuk
bermunculan dan menjadi peserta dalam Pemilihan Umum. Namun jalan untuk
menjadi persertan Pemilihan Umum (Pemilu) kita ambil contoh Pemilu tahun
2004 tidaklah mudah. Partai politik harus melalui serangkaian proses dengan
berbgai persyaratan. Pada tahap awal parpol harus memiliki akta notaris dan tentu
saja nama partai, lambang tanda gambar partai, serta kantor tetap. Setelah
memenuhi berbagai syarat, parpol diverifikasi oleh Departemen Kehakiman dan
HAM. Setelah diverifikasi dan dinyatakan berbadan hukum, langkah selanjutnya
parpol mendaftar dan diverifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lolos
verifikasi administrasi tidak menjadi jaminan bagi parpol. Karena untuk menjadi
60
peserta Pemilu 2004, partai harus lolos verifikasi faktual. Setelah ditetapkan
sebagai peserta Pemilu, barulah partai mendapat nomor urut.
Dasar hukum bagi mendirikan partai politik baru adalah UU No. 31 Th.
2003 tentang Partai Politik, yaitu pada :
Pasal 2
(1) Partai Politik didirikan dan dibentuk oleh sekurang-kurangnya 50
orang warga negara Republik Indonesia yang telah berusia 21 tahun
ke atas dengan akta notaris.
(2) Akta notaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memuat
anggaran dasar dan anggran rumah tangga serta kepengurusan
tingkat nasional.
61
(3) Partai politik sebagimana dimaksud pada ayat (1) harus didaftarkan
pada Departemen Kehakiman dengan syarat :
a. Memiliki akta notaris pendirian partai politik yang sesuai dengan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
dan peraturan perundang-undangan lainnya.
b. Mempunyai kepengurusan sekurang-kurangnya 50 % dari jumlah
provinsi, 50 % dari jumlah kabupaten/kota pada setiap provinsi
yang bersangkutan, dan 25 % dari jumlah kecamatan pada setiap
kabupaten/kota yang bersangkutan.
c. Memiliki nama, lambang, dan tanda gambar yang tidak
mempunyai persamaan pada pokoknya datu keseluruhannya
dengan nama, lambang dan tanda gambar partai lain, dan
d. Mermiliki kantor tetap.
( Komisi Pemilihan Umum, 2003 : 3 ).
BAB IV
PERAN PARTAI POLITIK DI KABUPATEN GROBOGAN
DALAM PEMBANGUNAN BIDANG SOSIAL EKONOMI
TAHUN 1971-1998 S/D 2001
A. Landasan Pembangunan Kabupaten Grobogan
Pembangunan adalah suatu suatu perubahan yang menuju ke arah lebih
baik, menciptakan suatu yang baru yang sebelumnya tidak ada, mengubah
sesuatu yang telah ada agar menjadi lebih dari keadaan sebelumnya. Dengan
demikian jelaslah bahwa adanya perubahan saja belumlah berarti adanya
pembangunan sekiranya perubahan yang yang diadakan tersebut tidak lebih
baik dari keadaan sebelumnya, lebih-lebih jika lebih buruk, maka perubahan
tersebut bukanlah pembangunan. Secara populer
dapat dikatakan bahwa yang disebut pembangunan ialah menciptakan suatu
keadaan untuk mencapai hari esok yang lebih baik. (Saleh 1983; Sianipar,
1984 : 165).
Menurut Sukarni Soemarto (1995 : 141) Pembangunan adalah semua
aktivitas perubahan yang secara sadar diupayakan oleh manusia, kesadaran
tersebut dinyatakan dalam suatu rencana yang diarahkan untuk mencapai
tujuan yang hendak dicapai yaitu tujuan yang ideal menuju kondisi yang lebih
baik dibandingkan dengan kondisi sebelum pembangunan dilaksanakan.
Pencapaian tujuan itu berlangsung dalam jangka panjang, yang terbagi dalam
beberapa tahapan-tahapan kegiatan, atau disebut juga ppprogres. Dalam
90
61
62
tahapan terdapat tujuan yang harus dicapai pada tahap tersebut, untuk
mendasari upaya untuk mencapai tujuan pada tahap berikutnya. Sedangkan
pembangunan nasional pada hakikatnya adalah pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia.
Landasan pembangunan nasional adalah pancasila dan UUD 1945.
Menurut GBHN tujuan dari pembangunan adalah mewujudkan suatu
masyarakat adil dan makmur yang merata baik materiil maupun spirituil
berdasarkan pancasila dan UUD 1945 dalam wadah negara kesatuan Republik
Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam
suasana perikehidupan bangsa yang aman, tenteram, tertib, dan dinamis dalam
lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib dan damai.
Awal perjalanan pembangunan di Kabupaten Grobogan terjadi pada
tanggal 8 Agustus 1950, dimana Pemerintah Daerah Jawa Tengah
mengeluarkan Undang-Undang No. 13 tahun 1950 yang berisi tentang
pelaksanaan pembentukan daerah-daerah kabupaten dalam lingkungan Jawa
Tengah. Dikeluarkannya Undang-Undang tersebut merupakan konsekwensi
logis dari penyerahan kedaulatan atas kemerdekaan Indonesia oleh pemerintah
Belanda pada 29 Desember 1949, melalui perundingan dalam Konfrensi Meja
Bundar. Adanya pembentukan daerah-daerah kabupaten ini, memandai
dimulainya penataan dan pembangunan, seperti ekonomi, sosial, politik, dan
budaya masyarakat yang mulai mendapat perhatian dan penanganan. Masalah-
masalah seperti ini sebelumnya tidak pernah mendapat perhatian meskipun
Indonesia telah merdeka, sebab pada masa itu masih berlangsung revolusi
63
fisik dari pemberontakan-pemberontakan dari dalam negeri (Tim Universitas
Sebelas Maret, 1991: 53).
Pada dekade pertama lahirnya Orde Baru muncul Rencana
Pembangunan Lima Tahun (REPERLITA) menempatkan pembangunan
ekonomi sebagai usaha program yang mendapatkan prioritas pertama.
Kemudian berdasarkan ketetapan MPRS Nomor XLI Tentang Tugas Pokok
Kabinet Pembangunan, ditegaskan salah satunya adalah menyusun dan
melaksanakan Rencana Pembangunan Lima Tahun. Disadari sepenuhnya
bahwa utnuk melaksanakan Haluan Negara yang tercantum dalam Ketetapan
MPRS No. XLI itu adalah sangat berat dan tidak mungkin dilaksanakan tanpa
partisipasi dari masyarakat. Bertolak pada pokok-pokok pikiran tersebut,
REPELITA disusun secara teknis mungkin untuk bisa dilaksanakan, serta
sasaran-sasaran adalah mengenai hal-hal yang paling penting dan dibutuhkan
orang banyak.
Seperti juga yang terjadi pada skala nasional, sasaran REPELITA
pertama Kabupaten Grobogan ialah: pangan, sandang, perbaikan prasarana,
perumahan rakyat, perluasan lapangan kerja dan kesejahteraan rohani. Tujuan
dari REPELITA tersebut adalah untuk memperbaiki taraf hidup rakyat banyak
dan sekaligus meletakkan landasan yang kuat bagi pembangunan tahap
berikutnya (Tim Peniliti Universitas Sebelas Maret, 1991:56).
Rencana pembangunan Jangka Panjang tahap II (1988-1998) merupakan
bagian yang berkelanjutan dari Rencana Pembangunan Lima Tahun tahap I
(1968-1988). Dalam Pembangunan Jangka Panjang II pemerintah
64
menempatkan pembangunan ekonomi sebagai usaha program yang mendapat
prioritas utama. Diuraikan dalam GBHN 1993 titik berat pembangunan Jangka
Panjang II adalah mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera
lahir batin sebagai babak pembangunan berikutnya, menuju masyarakat adil
makmur dalam negara Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan UUD
1945.
Sasaran pembangunan di Kabupaten Grobogan, pada Pembangunan
Jangka Panjang II atau REPELITA V dab VI juga menyesuaikan dengan
keputusan dari pemerintah pusat yaitu: Meningkatkan pembangunan bidang
ekonomi Kabupaten Grobogan secara optimal dengan memperhatikan kualitas
sumber daya manusia melalui kesejahteraan rakyat, perluasan lapangan kerja
serta kesejahteraan rohani. Tujuannya adalah untuk memperbaiki taraf hidup
masyarakat Kabupaten Grobogan sekaligus meletakkan landasan yang kuat
untuk pembangunan berikutnya (Pemerintah Kabupaten Grobogan, 2002: 2).
Perkembangan pembangunan di daerah Kabupaten Grobogan nampak
mengarah pada usaha menjaga stabilitas dan dinamisasi yang tak lain adalah
mewujudkan kondisi masyarakat yang stabil dari berbagai macam kekacauan,
baik ekonomi sosial maupun politik. Dalam bidang politik kondisi masyarakat
yang stabil tersebut telah dicapai, dikarenakan dengan adanya tiga organisasi
peserta Pemilu yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golkar, dan Partai
Demokrasi Indonesia (PDI) yang merupakan hasil fusi dari partai-partai
sebelumnya. Sehingga dengan jumlah partai yang tidak begitu banyak
keamanan dan kenyamanan pelaksanaan Pemilu lebuh bisa terkontrol.
65
Selama dilaksanakan pemilihan umum Orde Baru di Kabupaten
Grobogan yang dilaksanakan dari tahun 1971 hingga 1997 dapat dikatakan
Golkar memperoleh kemenangan besar secara berturut-turut. Dengan
demikian tanggung jawab wakil-wakil Golongan Karya yang duduk di DPRD
II sangat besar dalam pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Grobogan.
(Tim Universitas Sebelas Maret, 1991: 62).
Tanggungjawab besar yang dipikul oleh wakil-wakil dari Partai Golkar
berdasarkan salah satu fungsi partai politik yaitu partai sebagai sarana
komunikasi politik. Dimana partai politik menyalurkan aneka ragam pendapat
dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga
kesimpangsiuran pendapat dalam masyarakat berkurang. Dalam masyarakat
modern yang begitu luas, pendapat dan aspirasi seseorang atau suatu
kelompok akan hilang tak berbekas seperti suara di padang pasir, apabila tidak
ditampung dan digabung dengan pendapat dan aspirasi orang lain yang
senada. Proses ini dinamakan “penggabungan kepentingan” interest
aggregation. Sesudah digabung, pendapat dan aspirasi ini diolah dan
dirumuskan dalam bentuk yang teratur. Proses ini dinamakan “perumusan
kepentingan” interest articulation.
Semua kegiatan di atas dilakukan oleh partai, selanjutnya partai politik
merumuskannya sebagai usul kebijaksanaan yang kemudian dimasukan ke
dalam programpartai untuk diperjuangkan atau disampaikan kepada
pemerintah agar dijadikan kebijaksanaan umum public policy.
66
Dengan dermikian tuntutan dan kepentingan masyarakat disampaikan
kepada pemerintah melalui partai politik. Partai politik juga berfungsi untuk
memperbincangkan dan menyebarluaskan rencana-rencana dan kebijakan-
kebijakann pemerintah. Dengan demikian terjadi arus informasi serta dialog
dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, dimana partai politik memainkan
peranan sebagai penghubung antara yang memerintah dan yang diperintah,
antara pemerintah dan warga masyarakat. Dalam menjalankan fungsi ini partai
politik sering disebut sebagai broker (perantara) dalam suatu bursa ide-ide.
Kadang juga dikatakan bahwa partai politik bagi pemerintah bertindak sebagai
alat pendengar, sedangkan bagi warga masyarakat sebagai pengeras suara
(Budiardjo, 1996: 163).
Tujuan dilaksanakan Pemilihan umum adalah untuk memilih wakil-
wakil rakyat yang akan duduk sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Karena Kabupaten Grobogan adalah salah satu daerah tungkat II maka
lembaga perwakilan rakyat adalah DPRD Kabupaten (Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Kabupaten). Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD
Kabupaten), adalah sebuah Lembaga Perwakilan Rakyat di daerah yang terdiri
atas anggota partai politik peserta pemilihan umum (Pemilu) yang dipilih
berdasarkan hasil pemilihan umum. DPRD juga berkedudukan sebagai salah
satu unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memiliki fungsi
legislasi, anggaran dan pengawasan. DPRD merupakan mitra kerja eksekutif
(Pemerintah Daerah). Sejak diberlakukannya UU Nomor 32 tentang
Pemerintahan Daerah, Kepala Daerah tidak lagi bertanggung jawab kepada
67
DPRD, karena dipilih langsung oleh rakyat melalui Pilkada
(http://id.wikipedia.org: 7 Agustus 2007).
Tugas dan wewenang DPRD adalah:
1. Membentuk Peraturan Daerah yang dibahas dengan Kepala Daerah untuk
mendapat persetujuan bersama
2. Menetapkan APBD bersama dengan Kepala Daerah
3. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah dan
Peraturan Perundang-undangan lainnya, Keputusan Kepala Daerah,
APBD, kebijakan Pemerintah Daerah dalam melaksanakan program
pembangunan daerah, dan kerjasama internasional di daerah
4. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/Wakil
Gubernurkepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri (untuk DPRD
Provinsi); atau mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian
Bupati/Wakil Bupati atau Walikota/Wakil Walikota kepada Menteri
Dalam Negeri melalui Gubernur (untuk DPRD Kabupaten/Kota)
5. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah Daerah
terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan
daerah
6. Meminta Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kepala
Daerah dalam pelaksanaan tugas desentralisasi.
Dalam pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Grobogan guna
melaksanakan visi misi dari pembangunan pemerintah daerah yang terdiri dari
Bupati/ walikota yang bekerja sama dengan DPRD hasil Pemilu menetapkan
68
APBD (Anggaran Belanja Daerah). Menurut (Mamesah, 1995: 20; Halim,
2001: 16). Berdasar Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 Pasal 64 ayat (2)
APBD dapat diartikan sebagai rencana operasional keuangan pemerintah
daerah, dimana disatupihak menggambarkan perkiraan pengeluaran setinggi-
tingginya guna membiayaikegiatan-kegiatan dan proyek-proyek daerah dalam
1 tahun anggaran tertentu, dan dipihak lain menggambarkan perkiraan
penerimaam dan sumber-sumber penerimaan daerah guna menutupi
pengeluaran-pengeluaran dimaksud.
Dapat pula dikatakan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD), adalah adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah
di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. APBD
ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tahun anggaran APBD meliputi masa
satu tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember.
APBD terdiri atas: Anggaran pendapatan, terdiri atas Pendapatan Asli Daerah
(PAD), yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan
kekayaan daerah, dan penerimaan lain-lain. Bagian dana perimbangan, yang
meliputi Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi
Khusus. Lain-lain pendapatan yang sah seperti dana hibah atau dana darurat.
Anggaran belanja, yang digunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas
pemerintahan di daerah. Pembiayaan, yaitu setiap penerimaan yang perlu
dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada
tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya
(http://id.wikipedia.org: 7 Agustus 2007).
69
Dalam penyusunan APBD di Kabupaten Grobogan dilandasi dari
kebijakan pemerintah pusat karena proses penyusunan anggaran sektor publik
umumnya disesuaikan dengan peraturan lembaga yang lebih tinggi. Sejalan
dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat danDaerah, yang direvisi menjadi UU No
32 Tahun 2004 tentang PemerintahanDaerah dan UU No 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan antaraPemerintah Pusat dan Daerah, lahirlah
tiga paket perundang-undangan, yaitu UU No 17/2003 tentang Keuangan
Negara, UU No 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No 15/2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan tanggungjawab Keuangan Negara, yang
telah membuat perubahan mendasar dalampenyelenggaraan pemerintahan dan
pengaturan keuangan, khususnya Perencanaan dan Anggaran Pemerintah
Daerah dan Pemerintah Pusat.
Kemudian, saat ini keluar peraturan baru yaitu PP 58/2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri 13/2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah, yangakan menggantikan Kepmendagri nomor
29 tahun 2002.Dalam reformasi anggaran tersebut, proses penyusunan APBD
diharapkan menjadi lebih partisipatif. Hal tersebut sesuai dengan Keputusan
Menteri DalamNegeri nomor 29 tahun 2002 pasal 17 ayat 2, yaitu dalam
menyusun arah dankebijakan umum APBD diawali dengan penjaringan
aspirasi masyarakat,berpedoman pada rencana strategis daerah dan dokumen
perencanaan lainnyayang ditetapkan daerah, serta pokok-pokok kebijakan
70
nasioanal dibidang keuangan daerah. Selain itu sejalan dengan yang
diamanatkan dalam undangundang nomor 17 tahun 2003 tentang perimbangan
keuangan negara akan pula diterapkan secara penuh anggaran berbasis kinerja
di sektor publik agarpenggunaan anggaran tersebut bisa dinilai kemanfaatan
dan kegunaannya olehmasyarakat (Abimanyu 2005).
Undang-Undang Nomor 17 menetapkan bahwa APBD disusun
berdasarkan pendekatan prestasi kerja yang akan dicapai. Untuk mendukung
kebijakan ini perlu perlu dibangun suatu sistem yang dapat menyediakan data
dan informasi untuk menyusun APBD dengan pendekatan kinerja. Anggaran
kinerja padadasarnya merupakan sistem penyusunan dan pengelolaan
anggaran daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kinerja. Adapun
kinerja tersebut harusmencerminkan efisiensi dan efektifitas pelayanan publik,
yang berarti harusberorientasi pada kepentingan publik (Mariana, 2005).
Mekanisme perencanaan anggaran daerah dalam rangka menyiapkan
Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) adalah antara
pemerintah daerah bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
menyusun arah dan kebijakan umum yang disepakati sebagai pedoman dalam
penyusunan APBD. Adapun mekanisme penyusunan APBD menurut
Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 29 tahun 2002 adalah sebagai
berikut:
1. Untuk menyiapkan RAPBD pemerintah daerah bersama-sama DPRD
menyusun arah dan kebijakan umum APBD, atas dasar:
71
a. Rencana tahunan daerah yang dimuat dalam rencana strategi
daerah/dokumen perencanaan lainnya
b. Penjaringan aspirasi masyarakat untuk mengidentifikasi perkembangan
kebutuhan dan keinginan masyarakat
c. Data historis mengenai pencapaian kinerja pelayanan pada tahun-tahun
anggaran sebelumnya
d. Konsep awal arah dan kebijakan umum APBD juga disusun berdasarkan
pokok-pokok pikiran APBD
e. Pokok-pokok kebijakan pengelolaan keuangan daerah dari pemerintah
atasan
f. Melibatkan masyarakat pemerhati/tenaga ahli penyusunan konsep arah
dan kebijakan umum APBD
2. Pemerintah daerah dan DPRD membahas konsep arah dan kebijakan
umum APBD sehingga diperoleh kesepakatan antara kedua belah pihak
3. Hasil kesepakatan dituangkan dalam nota kesepakatan yang ditandatangani
bersama antara pemerintah daerah dan DPRD.
Tujuan dari penyusunan APBD adalah: sebagai pedoman bagi
pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan khususnya
pembangunan kepada masyarakat guna melaksanakan visi, misi dan tujuan
dari pembangunan Kabupaten Grobogan. Visi Misi serta tujuan pembangunan
Kabupaten Grobogan yaitu:
72
a. VISI
Visi Pembangunan Kabupaten Grobogan adalah terwujudnya masyarakat
Kabupaten Grobogan "madani" (masyarakat yang berbudaya) dalam tata
kehidupan yang demokratis, mandiri, kreatif dan produktif dilandasi oleh
akhlak mulia dan menjunjung tinggi supremasi hukum, bertumpu pada
keunggulan hasil industri kecil, pertanian dan pariwisata dalam rangka
mencapai kesejahteraan lahir dan batin berdasarkan Pancasila dan UUD
1945.
b. M I S I
1. Pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada potensi
daerah, kekayaan alam dan kreativitas/keunggulan SDM.
2. Menggali sumber-sumber pandapatan potensial daerah yang ditujukan
untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
3. Meningkatkan kualitas SDM melalui sistem pendidikan untuk semua
(educatio fo rall) dan berpihak pada yang lemah (option for the
poors).
4. Meningkatkan kualitas SDM melalui sistem pendidikan untuk semua
(education for all) dan berpihak pada yang lemah (option for the
poors).
5. Membangun tata hubungan kehidupan bermasyarakat dan bernegara,
berbangsa dalam kesatuan NKRI melalui prinsip demokrasi,
menjunjung tinggi hak asasi manusia dan supremasi hukum serta
73
menjamin stabilitas politik dan keamanan daerah, dengan landasan
kepada iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
6. Terwujudnya pemerintahan daerah yang bersih dan berwibawa (good
governance) yang ditopang dengan birokrasi modern, jujur dan
berakhlak mulia.
7. Membangun industri kecil dan menengah serta kerajinan rakyat yang
bertumpu pada potensi ekonomi daerah
8. Mengembangkan sistem informasi yang senantiasa dimutakhirkan
sesuai dengan perkembangan keadaan sebagai upaya mempromosikan
daerah, perkembangan sarana telekomunikasi dan informasi yang
semakin lengkap dan merata di setiap Kecamatan.
9. Meningkatkan perencanaan pembangunan yang aspiratif, responsif
inovatif, terpadu dengan melibatkan semua stake holder pembangunan
dan mengikutsertakan secara aktif peran serta masyarakat dalam
partisipasi pada perencanaan dan pelaksanaan pembangunan disegala
bidang (Pemerintah Kabupaten Grobogan, 2002: 5)
c. Tujuan Pembangunan di Kabupaten Grobogan
1. Meningkatnya Sumber Daya Manusia yang berkualitas yang didukung
tersedianya berbagai paket program pendidikan dan pelatihan baik
didalam negeri maupun di luar negeri.
2. Terciptanya Kabupaten Grobogan sebagai daerah pertanian yang
berorientasi agrobisnis, agrowisata dan agroindustri dengan
mengembangkan produk yang kompetitif.
74
3. Terwujudnya Kabupaten Grobogan sebagai daerah potensial untuk
mengembangkan industri kecil dan menengah.
4. Terwujudnya Kabupaten Grobogan berbudi pekerti luhur, tangguh,
sehat jasmani dan rohaninya, cerdas, patriotik, berdisiplin, kreatif,
produktif dan profesional serta berjiwa IMTAQ dan demokratis, jujur,
bertanggung jawab dan berkemauan keras.
5. Terwujudnya peningkatan investasi dan pengembangan pasar di
berbagai bidang usaha melalui peningkatan sarana dan pelayanan
secara berdaya guna dan berhasil guna.
6. Meningkatanya kesejahteraan masyarakat melalui keterpaduan
penanganan lintas sektoral (pertanian, kehutanan, transportasi,
perdagangan, pertambangan dan kepariwisataan, industri kecil dan
menengah).
7. Terciptanya sistem informasi yang senantiasa dimutakhirkan sesuai
dengan perkembangan keadaan sebagai upaya mempromosikan
daerah, perkembangan sarana telekomunikasi dan informasi yang
semakin lengkap dan merata di setiap Kecamatan dari yang
konvensional hingga internet dapat menjadi media promosi yang
efektif bagi potensi dan perkembangan daerah Kabupaten Grobogan.
8. Terwujudnya peningkatan produktivitas pertanian, peternakan,
perkebunan dan perikanan melalui intensifikasi dan pengembangan
wilayah komoditas unggulan.
75
9. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam berbagai bidang
pembangunan.
10. Meningkatnya kepedulian dan kesadaran masyarakat dalam
melaksanakan kewajibannya guna meningkatkan upaya pemerataan
pembangunan dan pertumbuhan, sehingga menjadikan seluruh
wilayah Kabupaten Grobogan maju dan berkembang.
11. Meningkatnya sumber daya manusia dalam rangka mewujudkan
stabilitas sosial budaya dan politik.
12. Meningkatnya etos kerja dan gerakan pembangunan desa terpadu baik
bimbingan, pembinaan maupun bantuan, melalui koordinasi dan
keterpaduan berbagai instansi pemerintah dan non pemerintah.
13. Meningkatnya persatuan dan kesatuan demi mewujudkan
kesejahteraan lahir dan batin masyarakat Kabupaten Grobogan.
14. Terwujudnya supremasi hukum.
15. Terwujudnya pembangunan yang konsisten dan berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan hidup.
16. Meningkatnya inisiatif perencanaan pembangunan dari bawah.
17. Meningkatnya aksesibilitas wilayah.
18. Terwujudnya sarana dan prasarana transportasi yang baik.
19. Terwujudnya peningkatan pendapatan masyarakat.
(http://www.grobogan.com: 1 Agustus 2007).
Untuk mewujudkan visi, misi, serta tujuan dari pembangunan daerah
Kabupaten Grobogan (Bupati) bekerja sama dengan fraksi-fraksi yang duduk
76
di DPRD bersama-sama menyusun Penetapan Penghitungan Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah (APBD) guna diaplikasikan dalam bentuk
pembangunan kehidupan Kabupaten Grobogan disegala bidang khususnya
bidang ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Setelah pemerintah daerah
bersama dengan fraksi-fraksi dari DPRD mengambil kesepakatan guna
pembentukan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah sebelum
kemudian menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang kemudian
dalam pelaksanaanya diubah penjadi Perda (Peraturan Daerah.
B. Peran Partai Politik Dalam Pembangunan di Kabupaten Grobogan
1. Partai Golkar
a). Sejarah
Pada tahun 1964 untuk menghadapi kekuatan PKI (dan Bung
Karno), golongan militer Angkatan Darat (Letkol Suhardiman dkk dari
SOKSI) menghimpun berpuluh-puluh organisasi pemuda, wanita, sarjana,
buruh, tani, nelayan, dll dalam Sekber Golkar (Sekretariat Bersama
Golongan Karya). Setelah Peristiwa G30S maka Sekber Golkar, dengan
dukungan sepenuhnya dari Soeharto sebagai pimpinan militer,
melancarkan aksi-aksinya untuk melumpuhkan mula-mula kekuatan PKI,
kemudian juga kekuatan Bung Karno
Pada dasarnya Golkar dan TNI-AD merupakan tulang punggung
rezim militer Orde Baru. Semua politik Orde Baru diciptakan dan
kemudian dilaksanakan oleh pimpinan militer dan Golkar. Selama
77
puluhan tahun Orde Baru berkuasa, jabatan-jabatan dalam struktur
eksekutif, legislatif dan yudikatif, hampir semuanya diduduki oleh kader-
kader Golkar. Keluarga besar Golongan Karya sebagai jaringan
konstituen, dibina sejak awal Orde Baru melalui suatu pengaturan
informal yaitu jalur A untuk lingkungan militer, jalur B untuk lingkungan
birokrasi dan jalur G untuk lingkungan sipil di luar birokrasi. Pemuka
ketiga jalur terebut melakukan fungsi pengendalian terhadap Golkar lewat
Dewan Pembina yang mempunyai peran strategis. Setelah Soeharto
mengundurkan diri pada 1998, keberadaan Golkar mulai ditentang oleh
para aktivis dan mahasiswa.
Partai Golongan Karya (Partai Golkar) adalah salah satu partai
politik besar Indonesia. Partai Golkar bermula dengan berdirinya Sekber
Golkar di masa-masa akhir pemerintahan Presiden Soekarno oleh
Angkatan Darat untuk menandingi pengaruh Partai Komunis Indonesia
dalam kehidupan politik. Dalam perkembangannya, Sekber Golkar
berubah wujud menjadi Golongan Karya yang menjadi salah satu
organisasi peserta Pemilu.
Dalam Pemilu 1971 (Pemilu pertama dalam pemerintahan Orde
Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto, salah satu pesertanya adalah
Golongan Karya dan mereka tampil sebagai pemenang kemenagn tersebut
juga diraih pada daerah pemilihan Kabupaten Grobogan. Kemenangan ini
diulangi pada Pemilu-Pemilu pemerintahan Orde Baru lainnya, yaitu
Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.
78
Setelah pemerintahan Soeharto selesai dan reformasi bergulir,
Golkar berubah wujud menjadi Partai Golkar, dan untuk pertama kalinya
mengikuti Pemilu tanpa ada bantuan kebijakan-kebijakan yang berarti
seperti sebelunya di masa pemerintahan Soeharto. Pada Pemilu 1999 yang
diselenggarakan Presiden Habibie, perolehan suara Partai Golkar turun
menjadi peringkat kedua setelah PDI-P. Sekarang ini, Partai Golkar
dipimpin oleh Ketua Umum DPP Golkar, Jusuf Kalla, yang juga wakil
presiden saat ini. Sebelumnya jabatan ini dipegang oleh Akbar Tandjung
(http://id.wikipedia.org: 5 Agustus 2007).
b). Visi Misi Partai Golkar
1).Visi :
(a). Golkar adalah partai terbuka (inklusif) bagi segenap golongan dan
lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama,
suku, bahasa, dan status sosial ekonomi. Keterbukaan Golkar
diwujudkan secara sejati, baik dalam penerimaan anggota maupun
dalam rekruitmen kader untuk kepengurusan dan penempatan pada
posisi politik.
(b). Golkar adalah partai mandiri yang merupakan organisasi kekuatan
sosial politik yang mampu mengambil setiap keputusan politik dan
kebijakan organisasi tanpa campur tangan atau intervensi dari
siapapun dan pihak manapun.
(c). Golkar adalah partai demokratis. Sebagai partai yang demokratis,
Golkar senantiasa baik secara internal maupun eksternal betul-
79
betul menjadi pelopor tegaknya kehidupan politik yang demokratis
dan terbuka.
(d). Golkar adalah partai moderat. Sebagai partai yang moderat, golkar
senantiasa mengutamakan posisi tengah (moderat) dan tidak
berorientasi ke kiri atau ke kanan secara ekstrem.
(e). Golkar adalah partai yang solid. Sebagai partai yang solid, Golkar
secara utuh dan kukuh senantiasa berupaya mendayagunakan
segenap potensi yang dimilikinya secara sinergis.
(f). Golkar adalah partai yang mengakar. Sebagai partai yang
mengakar, Golkar senantiasa mengupayakan agar para anggota
dan kadernya tumbuh dan berkembang dari bawah berdasarkan
azas prestasi, bukan berdasarkan atas kolusi dan nepotisme.
(g). Golkar adalah partai yang responsif. Sebagai partai yang responsif,
Golkar senantiasa peka dan tanggap teradap aspirasi dan
kepentingan rakyat, serta konsisten untuk memperjuangkan
menjadi keputusan politik yangbersifat publik dan menguntungkan
seluruh rakyat tanpa membedakan latar belakang suku, etnis,
agama, bahasa, aliran, dan kebudayaan.
2). Misi :
(a) Mempertegas komitmen untuk menyerap, memadukan,
mengartikulasi, dan memperjuangkan aspirasi serta kepentingan
rakyat, khususnya kelompok masyarakat yang berada pada posisi
marjinal yang selama ini kurang mendapat perhatian dan acap kali
80
menjadi korban pembangunan, sehingga menjadi kebijakan politik
yang bersifat publik.
(b) Melakukan rekruitmen kader yang berkualitas melalui sistem
prestasi dan mendapat dukungan rakyat untuk duduk dalam
jabatan-jabatan politik di lembaga-lembaga permusyawaratan atau
perwakilan dan pemerintahan. Jabatan politik tersebut diabdikan
sepenuhnya untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat.
(c) Meningkatkan proses pendidikan dan komunikasi politik yang
dialogis dan partisipatif, yaitu membuka diri terhadap berbagai
pikiran, aspirasi, dan kritik dari masyarakat.
c). Tujuan Partai Golkar
1). Mempertahankan, mengamankan Pancasila dan UUD 1945.
2). Mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana dimaksud dalam UUD
1945.
3). Menciptakan masyarakat adil dan makmur merata material,
spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD 194 dalam wadah
NKRI.
4). Mewujudkan kedaulatan rakyat dalam rangka mengembangkan
kehidupan demokratis Pancasila yang menjunjung tinggi dan
menghormati kebenaran, keadilan, hukum dan HAM.
(Komisi Pemilihan Umum: 2003: 120).
Untuk kelancaran dan berjalannya partai di Kabupaten Grobogan
dibentuk susunan partai dan susunan komposisi dan personalia tersebut
81
berlaku untuk setiap 5 tahun sekali. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel 1
Tabel : 1
Komposisi dan Personalia Dewan Pimpinan Daerah Partai Golongan Karya
Kabupaten Grobogan Periode 2004 – 2009
NO JABATAN NAMA NPAPG
1 Ketua Icek Baskoro, SH. 11290000005
2 Wakil Ketua Drs. H. s. Moch. Maksum 11290000028
3 Wakil Ketua Ir. Daryanto TS. 11290000227
4 Wakil Ketua Sugiyanto 11290000012
5 Wakil Ketua Siti Asiyah AG. 11290000006
6 Wakil Ketua Agus Prastiyo, S. Sos. 11290000036
7 Sekretaris Drs. Budi Susilo 11290000021
8 Wakil Sekretaris Drs. Didik Tjuk Hardijono 11290000063
9 Wakil Sekretaris Siti Hartati 11290000174
10 Bendahara Hj. Megawati 11290000010
11 Wakil Bendahara
Dwi Siswo Undiantoro,SH
11290000033
Ketua Bagian Organisasi,
12 Kaderisasi dan Keanggotaan
Harun Rosjid 11290000007
13 Anggota Bagian Organisasi Drs. Purwoto 11290000150
Anggota Bagian Organisasi,
14 Kaderisasi dan Keanggotaan
Moh. Shidik 11290000103
Anggota Bagian Organisasi,
15 Kaderisasi dan Keanggotaan
Purwati Sucipto 11290000056
Ketua Bagian Pemenangan
16 Pemilu
Basuki, BSc. 11290000049
Anggota Bagian Pemenangan
17 Pemilu
Joewono, S. Pd 11290000039
Anggota Bagian Pemenangan
18 Pemilu
Achmad Kuwat 11290000695
Anggota Bagian Pemenangan
19 Pemilu
Trie Purnani, SH. 11290000106
Ketua Bagian Pengabdian
20 Masyarakat
Rif'an Rukimin 11290000013
Anggota Bagian Pengabdian
21 Masyarakat
Agung Winarno, S. Sos. 11290000111
Anggota Bagian Pengabdian
22 Masyarakat
Bagus Prasetyo, SH. 11290000173
Anggota Bagian Pengabdian
23 Masyarakat
MG. Suwartini 11290000019
Anggota Bagian Pengabdian
24 Masyarakat
Sri Hartatik Junani 11290000112
Ketua Bagian Perundang
25 -undangan, Hukum dan HAM
Soni Wasono Nugroho, SH. 11290000022
Anggota Bagian Perundang-
26 Undangan,Hukum dan HAM
Bambang Widiastomo, ST 11290000116
82
Anggota Bagian Perundang-
27 undangan, Hukum dan HAM
Ali Robert 11290000172
Anggota Bagian Perundang-
28 undangan, Hukum dan HAM
Wibowo, SP. 11290000860
Anggota Bagian Perundang-
29 undangan, Hukum dan HAM
Edy Soepriyanto, S. Pd 11290001624
Ketua Bagian Koperasi dan
30 Wiraswasta
Edy Soerjanto JS 11290000034
Anggota Bagian Koperasi dan
31 Wiraswasta
Gabriel Edi Wijayanto 11290000104
Anggota Bagian Koperasi dan
32 Wiraswasta
Rustanto 11290000109
Anggota Bagian Koperasi dan
33 Wiraswasta
Ning Muchtar 11290000432
34 Ketua Bagian LITBANG Sujiono, SH. 11290000402
35 Anggota Bagian LITBANG Usman 11290000225
36 Anggota Bagian LITBANG Siti Mustaghriroh 11290000020
37 Anggota Bagian LITBANG Sri Watini 11290000337
38 Anggota Bagian LITBANG Poerdjoko R. S, Pd. 11290000791
39 Ketua Bagian Tani dan Nelayan Sarno Supriono, BA. 11290000016
Anggota Bagian Tani dan
40 Nelayan
Mujiono 11290000175
Anggota Bagian Tani dan
41 Nelayan
Sukarti Sunarko 11290000312
42 Anggota Bagian Tani Drs. Heriyanto 11290000869
Sumber: (AD/ART GOLKAR, 2005).
d). Peran Partai Golkar Dalam Pembangunan di Kabupaten Grobogan
Partai Golkar banyak memberi masukan dalam pelaksanaan
pembangunan khususnya pembangunan sosial ekonomi di Kabupaten
Grobogan, hal ini disebabkan Golkar merupakan partai yang selalu
memenagkan pemilu untuk daerah pemilihan Kabupaten Grobogan. Sebagai
dominan suara Golkar lebih didengar daripada partai-partai yang lain
terutama dalam hal penyusunan rencana pembangunan yang tertuang dalam
APBD. Secara tidak langsung suara dari Golkar mempengaruhi penyusunan
isi dari APBD.
Golkar banyak memberi masukan-masukan dalam proses
penyusunan APBD yang mana masukan-masukan tersebut dapat diterima
83
dan dikuatkan dengan ditetapkan sebagai Perda (Peraturan Daerah) untuk
kemudian dilaksanakan/ diaplikasikan dalam bentuk pembangunan secara
nyata pada masyarakat. Pendapat-pendapat tersebut antara lain: partai
Golkar mengusulkan supaya proyek perluasan lampu-lampu penerangan
jalan dilakukan hingga kedesa-desa karena menurut partai Golkar Proyek
Penerangan Jalan Umum (PPJU) bukan diandalkan untuk menambah
Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS). Golkar juga mengusulkan untuk
menghemat anggaran, efisiensi dan pemerataan dapat digunakan lampu TL
yang dianggap lebih menghemat daya.
Mengenai Pajak Pendapatan (PP) partai Golkar menyoroti bahwa
pelaksanaanya belum maksimal, oleh karena itu Golkar mengharapkan
Perda mengenai pajak pendapatan dapat dilaksanakan, minimal terhadap
rumah makan yang cukup besar pendapatannya yaitu Rumah Makan
Swiekee Purwodadi, termasuk pengenaan sanksinya. Golkar juga memberi
masukan mengenai retribusi daerah, Golkar berharap retribusi tersebut dapat
dipreoleh melalui pasar daerah dan pasar desa, karena dua sektor tersebut
yang termasuk paling diandalkan peranannya terhadap PADS. Dalam hal ini
Golkar mengusulkan supaya pengelolaan pasar desa dibenahi dengan baik
karena ternyata dari hasil peninjauan ke pasar-pasar desa, kepala desa pasar
belum menetapkan tarif retribusi sesuai dengan Perda yang ada. Untuk pasar
daerah Golkar mengkhususkan pada Pasar Umum Purwodadi, untuk
menaikan pendapatan Golkar menharapkan nilai kintrak MCK (Mandi Cuci
84
Kakus) supaya diadakan peninjauan kembali (Laporan Perhitungan APBD
Kabupaten Grobogan: IV.3.-2)
Selain retribusi pasar Golkar juga memberikan usul mengenai
retribusi-retribusi yang lain diantaranya retribusi parkir di tepi jalan umum
yang masih kurang dari target, hal ini disebabkan parkir berlangganan
dihapus sehubungan dengan ketentuan yang berlaku. Untuk itu, Golkar
menyarankan Pemda (Pemerintah Daerah) supaya mengadakan kerjasama
dengan pihak ke tiga, dan hal ini sesuai dengan fungsi dari Pemerintah
Daerah untuk waktu yang akan datang, yaitu membimbing dan
mengarahkan kegiatan masyarakat sedangkan prakarsa dan penanganan
pembangunan dalam arti luas diserahkan masyarakat sendiri.
Kemudian mengenai retribusi tempat rekreasi dan olah raga yang
masih kurang, secara nasional obyek wisata merupakan sektor yang sangat
diharapkan untuk menaikkan pendapatan, demikian juga seharusnya dengan
Kabupaten Grobogan. Dari 6 obyek wisata, hanya obyek wisata Bledug
Kuwu yang memiliki potensi untuk menaiukkan pendapatan. Meskipun
begitu obyek wisata tersebut memiliki kendala yaitu jalan propinsi antara
Wirosari-Kuwu rusak berat,disamping itu masih terdapat masalah lain yakni
lingkungan yang kurang mendukung, untuk itu Golkar mengharapkan
kawasan obyek wisata tersebut ditanami pohon peneduh bukan jenis
tanaman hias. Lokasinya disesuaikan dimana tanaman tersebut bisa tumbuh
atau disekitar areal parkir sebelah utara (Laporan Perhitungan APBD
Kabupaten Grobogan: IV.3.-4)
85
Golkar juga memberi masukan mengenai perusahaan daerah,
menurut Golkar terdapat 4 jenis perusahaan daerah tetapi yang
pendapatannya sangat memprihatinkan adalah PDAM (Perusahaan Daerah
Air Minum) dan Unit Purwo Motor. Golkar mengharapkan khusus untuk
PDAM diperlukan pembenahan secara serius, baik aspek ketenagaan
maupun manajemen. Dengan tenaga yang profesional diharapkan dapat
disusun program yang jelas. Dari segi manajemen diperlukan efisiensi dan
penghematan, bila ke dua hal tidak segera mendapat perhatian maka
pendapatan tidak akan bisa meningkat akibatnya gaji karyawan juga tidak
bisa dinaikkan. Sedang untuk Unit Purwo Motor keuntungan yang diperoleh
selama 1 (satu) tahun tidak sebanding dengan modal yang diperuntukan
untuk mendirikan Unit Purwo Motor. Golkar menyarankan pembenahan
manajemen khususnya montir yang benar-benar profesional atau dicoba
untuk bekerjasama dengan pihak ke tiga (Laporan Perhitungan APBD
Kabupaten Grobogan: IV.3.-7)
Kebijaksanaan pemerintah dalam hal pembangunan pertanian adalah
meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pendekatannya adalah agrobisnis,
sehubungan dengan hal tersebut diatas maka Golkar mengharapkan kepada
pemerintah supaya tidak selalu mengarahkan rakyat untuk menanam padi,
karena dengan kepemilikan tanah yang rata-rata hanya ¼ hektar tidak
mungkin bisa meningkatkan produksi padi guna mencukupi kebutuhan
petani yang juga naik akibat inflasi. Hasil produksi padi tersebut tidak
sebanding dengan biaya yang dikeluarkan petani apalagi semenjak subsidi
86
pupuk dari pemerintah telah dihapus. Oleh karena itu Golkar meminta
kepada eksekutif terutama Dinas Pertanian Tanaman Pangan supaya
mencari alternatif tanaman lain selain padi, yaitu berupa holtikultura karena
selain hasil yang lebih banyak pemasarannya juga mudah.. Salah satu yang
diharapkan oleh Golkar adalah sentra produksi bibit mangga selain itu juga
bisa dikembangkan jenis yang lain diantaranya terong jepang, timun dan
lain sebagainya. Bila kita amati petani di sekitar Purwodadi sudah mampu
mengembangkan tanaman sayur-sayuran, seperti sawi, segala jenis cabai
dan jenis-jenis tanaman yang lain. Untuk mengembangkan semua itu yang
diperlukan petani adalah teknologinya karena mengingat kondisi geografis
Kabupaten Grobogan, untuk itu Golkar mengharapkan peran serta dari
Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan mungkin para PPL (Praktek Kerja
Lapangan) yang melksanakan penelitian di Kabupaten Grobogan. (Laporan
Perhitungan APBD Kabupaten Grobogan: IV.3.-8)
Sebagaimana kita ketahui kondisi jalan kabupaten dan jalan desa
saat ini dalam keadaan rusak berat. Permasalahannya tidak hanya karena
tanah yang labil, tetapi juga pada cara penagnannya. Sistem penanganya
sejak 15 tahun yang lalu tidak pernah berubah yaitu menggunakan material
batu dan pasir. Supaya diperoleh hasil yang lebih baik Golkar
mengaharapkan material berupa batu dan pasir. Untuk perbaikan
pengaspalan, Golkar mengharapkan pemakaian pasir yang secara teknis
memenuhi syarat dan penggunaan batu dengan spesifikasi tertentu sehingga
87
menghasilkan bangunan yang kuat. (Laporan Perhitungan APBD Kabupaten
Grobogan: IV.3.-9)
Bencana alam banjir rutin terjadi di Desa Tajemsari, Karangpasar,
dan Kejawan Kecamatan Tegowanu. Rakyat di tiga (3) desa tersebut pada
tidak dapat menanami sawah dan tegalan mereka kecuali pada musim
kemarau. Saat banjir melanda rakyat ketiga desa tersebut hidup dengan
bergantung pada bantuan beras murah dari pemerintah lewat prigram JPS
(Jaring Pengaman Sosial), yang diperuntukan bagi keluarga pra sejahtera
sehingga ada sebagian keluarga pra sejahtera yang tidak kebagian jatah.
Untuk membantu mereka Golkar meminta kepada kepala daerah (Bupati)
supaya membantu dengan beras murah sebelum mereka belum medapatkan
hasil dari sawah atau tegalnya. Hal ini disampaikan oleh Golkar karena
kondisi masyarakat ketiga desa tersebut sangat memprihatinkan.
Banjir rutin yang dulu melanda tiga desa kini meluas menjadi
sebelas (11) desa, Golkar berpendapat bahwa disamping Sungai Tuntang
sudah tidak mampu lagi menampung debit air masih terdapat faktor-faktor
lain yang menyebabkan terjadi banjir, namun dalam hal ini juga disebabkan
karena kurang cermatnya perencanaan dari Jratun Seluna. Yaitu akibat
kegagalan pembuatan saluran BI dan adanya saluran pembawa air baku dari
Kedungombo untuk disalurkan ke Kota Madya Semarang serta
kemungkinan akibat ditinggikannya pintu pembagi di Kecamatan Guntur
Kabupaten Demak. Menurut Golkar apabila hal ini tidak segera ditangani,
dikawatirkan banjir rutin akan lebih meluas, untuk mengatasi banjir tersebut
88
suatu LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dari Jogjakarta telah berusaha
memecahkan masalah ini dengan mengadakan rapat koordinasi yang
melibatkan antara lain, Jratun Seluna, 11 kepala desa, Dinas Pengairan
Tuntang Hilir, dan Pemda Demak. (Laporan Perhitungan APBD Kabupaten
Grobogan: IV.3.-11)
2. Partai Persatuan Pembangunan
a). Sejarah
Kelahiran Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merupakan wadah
penyelamatan aspirasi Islam dan cermin kesadaran serta tanggung jawab
tokoh-tokoh umat dan pimpinan partai untuk bersatu, bahu-membahu
membina masyarakat agar lebih meningkatkan keimananan ketaqwaan
kepada Allah SWT melalui perjuangan politik. Untuk mewujudkan tekad
dan cita-citanya, PPP sebagai partai politik penerus estafet 4 partai Islam
dalam memperjuangannya senantiasa berpegang pada program perjuangan
partai sebagai pedoman nagi pemimpin dan kader partai dalam
menampung, menyalurkan, memperjuangkan dan membela aspirasi rakyat
dan mewujudkan cita-cita bangsa seraya tetap memelihara akidah dan
syariah Islam.
Perubahan politik sekarang ini membawa tantangan yang sangat
berat bagi Partai Persatuan Pembangunan. Tantagan yang dihadapi
sekarang adalah munculnya partai-partai baru, yang semua itu membawa
konsekuensi dalam perebutan simpati dari masyarakat. Oleh karena itu
89
dalam kondisi yang seperti ini menuntut jajaran Partai untuk bekerja keras
dari masa-masa sebelumnya. Partai Persatuan Pembangunan adalah hasil
fusi politik dari empat partai Islam (NU,PARMUSI, PSII, dan PERTI)
yang lahir pada tanggal 5 Januari 1973. oleh karena itu kepribadian dan
cita-cita perjuangan PPP adalah merupakan mata rantai pengembangan
kepribadian dan cita-cita perjuangan partai-partai Islam yang berfusi
tersebut (http://id.wikipedia.org: 5 Agustus 2007).
b). Visi dan Misi Partai Persatuan Pembangunan
1). Kehidupan beragama: PPP berkeyakinan bahwa agama adalah
sumber kekuatan rohani yang sekaligus merupakan sumber
kesadaran akan makna, hakekat dan tujuan hidup manusia.
2). Kehidupan berpolitik : PPP berpendapat bahwa nilai-nilai etika
politik perlu ditegakkan,hak-hak politik rakyat dijamin UUD 1945
perlu dihargai dan dilindungi termasuk penyaluran aspirasi
politiknya sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing.
3). Kehidupan ekonomi : PPP bercita-cita tegaknya azas demokrasi
ekonomi sebagaimana disebutkan dalam pasal 33 UUD 1945.
4). Dalam kehidupan bermasyarakat : PPP memandang perlu
ditumbuhkembangkan budaya saling menghargai dan saling
menyayangi yang pada akhirnya akan meningkatkan rasa aman,
memelihara hubungan kemanusiaan, dan meningkatkan harkat dan
martabat sebagai makhluk Tuhan.
90
c). Tujuan Partai Persatuan Pembangunan.
Terwujudnya masyarakat madani yang adil dan makmur,
sejahtera lahir batin dan demokratis dalam wadah NKRI yang
berdasarkan Pancasila di bawah ridho Allah SWT.
(Komisi Pemilihan Umum, 2003: 42).
Untuk kelancaran dan berjalannya partai Persatuan
Pembangunan di Kabupaten Grobogan dibentuk susunan partai dan
susunan komposisi dan personalia tersebut berlaku untuk setiap 5
tahun sekali. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2
Tabel : 2
Susunan Komposisi dan Personalia Dewan Pimpinan Harian Cabang Partai
Persatuan Pembangunan Kabupaten Grobogan
Masa Bhakti 2005 – 2010
1 Ketua Muhammad Misbah, S. Ag.
2 Wakil Ketua M. S. Latif Hakim, S. Ag. SH.
3 Wakil Ketua Wachid Ahmadi
4 Wakil Ketua Damsiri Abdullah
5 Wakil Ketua Asyhuri SM
6 Wakil Ketua K. Kholil
7 Wakil Ketua K. Ali shodiqin ah
8 Wakil Ketua Drs. H. Syafi'i
9 Wakil Ketua Martono
10 Sekretaris Ali Farkan
11 Wakil Sekretaris Kholis Muhammad Ridlo, SS
12 Wakil Sekretaris Muhammad Subekhan
13 Wakil Sekretaris Nuril Huda
14 Wakil Sekretaris Siswanto
15 Wakil Sekretaris Munawari
16 Wakil Sekretaris M. Muslih
17 Wakil Sekretaris Diyah Tri Wakhidah, ST
18 Wakil Sekretaris Moh. Qomarudin
19 Bendahara Mahbub Rosyidi, S. Ag. SH.
20 Wakil Bendahara Supriyanti
21 Wakil Bendahara H. Moch. Hasyim Asy'ari
Sumber: (AD/ART PPP, 2005).
91
d). Peran Partai Pembangunan Dalam Pembangunan di Kabupaten
Grobogan
Selama pelaksanaan pemilu dari tahun 1971 hingga 1999 Partai
Persatuan Pembangunan sebagai salah satu partai yang ikut ambil bagian
dalam perhelatan akbar tersebut berlangsung. Dengan mengusung basis
Islam sebagai landasannya PPP terus berusaha eksis, rakyat Indonesia
umumnya dan Kabuapten Grobogan khususnya yang mayoritas beragama
Islam menjadikan partai ini terus hidup.
Sebagai partai yang memperoleh kemenagan terbesar kedua setelah
Golkar dalam Pemilu Kabupaten Grobogan, PPP juga banyak memberi
kontribusi terhadap pembangunan wilayah Kabupaten Grobogan,
kontribusi itu berupa saran-saran, masukan serta kritik guna kelancaran
pembangunan khususnya pembangunan ekonomi dan sosial. Sebagaimana
diketahui pembangunan sektor ekonomi dan sosial merupakan sektor yang
paling vital karena menyangkut kehidupan orang banyak. Kontribusi PPP
yang pertama adalah mengenai pelaksanaan kampanye.
FPP mengharapkan supaya dalam pelaksanaan kampanye tidak
terjadi benturan dan bentrokan antara golongan yang satu dengan golongan
yang lainnya, sebab hal ini dapat mempengaruhi kondisi ekonomi dan sosial
dari masyarakat. Perekonomian akan menjadi kacau dikarenakan kondisi
yang tidak stabil dan mencekam hal ini akan mengakibatkan pendapatan
bagi daerah akan menurun dan yang lebih dirugikan adalah masyarakat
karena biasanya hal ini menyebabkan kenaikan harga sehingga akan
92
mengganggu kehidupan sosial mereka. Adanya bentrokan antar golongan ini
menurut FPPP juga akan menyebabkan masyarakat terkotak-kotak sehingga
semakin lama akan menimbulkan bentrokan yang berujung pada aksi
anarkis. Akibatnya bagi perekonomian adalah akan menyebabkan
enggannya pedagang dari luar daerah untuk datang ke Kabupaten Grobogan
sehingga bisa menyebabkan kelangkaan barang. (Laporan Perhitungan
APBD Kabupaten Grobogan: IV2.-3)
Peran Fraksi Persatuan Pembangunan dalam mengatasi hal ini
adalah dengan meminta semua partai yang ada di Kabupaten Grobogan
dapat mengendalikan diri sehingga tidak termakan isu-isu maupun
provokator-provokator yang menyesatkan dari orang-orang yang tidak
bertanggungjawab. FPPP berharap semua partai bertekad untuk tetap
menjaga persatuan dan kesatuan sehingga tercipta suasana yang damai
sehingga tidak berpengaruh pada kondisi ekonomi dan sosial masyarakat
(Laporan Perhitungan APBD Kabupaten Grobogan: IV2.-5).
3. Partai Demokrasi Indonesia
a). Sejarah
Bahwa sesungguhnya cita-cita luhur untuk membangun dan
mewujudkan Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis,
berkeadilan, berkemakmuran, berkeadaban, dan berketuhanan
sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945 adalah merupakan
manifestasi ideal dari amanat penderitaan rakyat, yang merupakan jiwa
93
sekaligus arah dari semua pergerakan rakyat, yang akhirnya telah embawa
rakyat mengantarkan bangsa Indonesia ke arah kemerdekaan. Cita-cita
tersebut juga menjadi roh gerakan reforasi yang telah berhasil mengakhiri
kekuasaan otoriter (Orde Baru), serta akan selalu menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari sejarah perkembangan peradaban manusia, khususnya
Indonesia. Sebagai cita-cita bersama perwujudan Indonesia yang merdeka,
bersatu, berdaulat, demokratis, adil, makmur, beradab, dan berketuhanan
adalah hak sekaligus tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Oleh
karena itu menuntut ketertiban semua kekuatan bangsa, baik secara
individual maupun yang terorganisir dalam organisasi dalam organisasi
rakyat yang demokratis serta terbuka bagi semua warga negara, tanpa
membedakan suku, agama, gender, keturunan, dan kedudukan sosi
Didorong oleh kesadaran akan tanggung jawab mewujudkan cita-
cita luhur tersebut serta memenuhi tuntutan perkembangan zaman yang
ada, maka PNI,IPKI, Murba, Parkindo, dan Partai Katolik, pada tanggal 9
Maret 1970 membentuk kelompok demokratis Pembangunan, yang
kemudian dikukuhkan dengan pernyataan bersama kelima partai tersebut
pada tanggal 28 Oktober 1971 dan akhirnya pada tanggal 10 Januari 1973
melakukan langkah strategis memfusikan diri menjadi satu wadah
perjuangan politik rakyat berdasarkan Pancasila dengan nama Partai
Demokratis Indonesia (PDI).
Pada tanggal 17 Januari 1981 kelima partai yang berfusi tersebut
menegaskan bahwa perwujudan fusi telah paripurna, serta menyatakan
94
menegaskan ekstensi masing-masing. Dalam perkembangan selanjutnya
dan idorong oleh tuntutan perkembangan situasi dan kondisi politik
nasional yang terjadi saat itu dan berdasarkan hasil konggres ke-5 Partai
Demokrasi Indonesia di Denpasar, Bali, maka pada tanggal 1 Februari
1999, PDI telah mengubah namanya menjadi PDI Perjuangan, dengan
azas Pancasila dan bercirikan kebangsaan, kerakyatan, dan keadilan sosial.
Usaha mencapai statusnya sebagai bagian prinsipil dari perjuangan
rakyat mewujudkan cita-cita itu, PDI Perjuangan telah menetapkan dirinya
sebagai partai yang modern yang mempertahankan jati dirinya sebagai
partai kerakyatan dengan tetap berpegang teguh prinsip berdaulat di
bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Oleh karena itu program dan
arah politik PDI Perjuangan pertama-tama adalah menjadikan sebagai
kekuatan parekat bangsa yang menjamin tegaknya NKRI dengan segala
cita-cita luhurnya serta mewujudkan pemerintahan yang bersih dan
berwibawa. Penuntasan praktik KKN dan berbagai bentuk penyalah
gunaan kekuasaan. Perjuangan untuk mewujudkan adanya supremasi dan
tegaknya hukum. Pembagian dan pembatasan kekuasaan yang
memungkinkan berjalannya prinsip keseimbangan dan kesetaraan dan
berjalannya pengawasan politik dan sosial merupakan agenda pokok PDI
Perjuangan yang harus diwujudkan oleh setiap kader dan anggota PDI
Perjuangan.
PDI Perjuangan juga berketetapan untuk mewujudkan prinsip
desentralisasi yang sesungguhnya melalui pemberian otonomi yang luas
95
kepada daerah-daerah otonomi daerah melibatkan pengalihan kekuasaan
ekonomi dari pusat kepada daerah-daerah yang memungkinkan bisa
menemukan mekanismenya sendiri dalam pengelolaan di bidang ekonomi,
sosial, dan budaya (Komisi Pemilihan Umum: 105)
b). Visi Misi Partai Demokrasi Indonesia
Mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam pembukaan UUD 1945, dan mengembangkan kehidupan
demokrasi berdasarkan Pancasila dengan menjungjung tinggi kedaulatan
dalam Negara Kesatuan republik Indonesia
c). Tujuan dari Partai Demokrasi Indonesia
1). Tujuan Umum partai :
(a). Mewujudkan cita-cita proklamsi kemerdekaan 17 Agustus
1945 sebagaimana dimaksud dalam pembukaan UUD 1945.
(b). Membangun masyarakat Pancasila dalam NKRI, yang
demokratis adil dan makmur.
2). Tujuan Khusus partai :
(a). Menghimpun dan membangun kekuatan politik rakyat.
(b). Memperjuangkan kepentingan rakyat di bidang ekonomi,
sosial, dan budaya secara demokratis.
(c). Bertujuan mendapatkan kekuasaan politik secara
konstitusional guna mewujudkan pemerintahan yang
melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan
96
kesejahteraan umum mencedaskan kehidupan bangsa serta
ikut melaksanakan ketertiban dunia.
(Komisi Pemilihan Umum, 2003: 107).
Guna menunjang kelancaran dan berjalannya partai Demokrasi
Indonesia di Kabupaten Grobogan dibentuk susunan partai dan susunan
komposisi dan personalia tersebut berlaku untuk setiap 5 tahun sekali.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3
Tabel : 3
Struktur, Komposisi dan Personalia Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan
Kabupaten Grobogan Masa Bhakti 2005 – 2010
1 Ketua M. Yaeni, SH
Wakil Ketua Bidang Politik dan
2 Sunardiyanto
Pemenangan Pemilu
Wakil Ketua Bidang Keanggotaan,
3 Bambang Sri Joewono, SS
Organisasi, Ideologi dan Kaderisasi
Wakil Ketua Bidang Buruh, Tani dan
4 Soekari, SR
Nelayan
Wakil Ketua Bidang Pemuda, Pelajar,
5 M. Nurkholis, A. Md.
Mahasiswa & Olahraga
Wakil ketua Bidang Pemberdayaan
6 Sri Sumarni
Perempuan Dan Kesra
7 Wakil Ketua Bidang Infokom Basuki
Wakil Ketua Bidang Hukum dan
8 Edy Wadarto, SE
Advokasi
9 Sekretaris Agus Siswanto, S. Sos
10 Wakil Sekretaris I Bidang Internal Yoyok Prihantoro, A. Md.
11 Wakil Sekretaris II Bidang Eksternal Anjar suprihadi
12 Bendahara Sunarti
Wakil Bendahara Bidang Inventarisasi dan
13 Dwi Purnomo
kekayaan Partai
Sumber: (AD/ART PDIP, 2005)
d). Peran Partai Demokrasi Indonesia dalam Pembangunan di
Kabupaten Grobogan
Eksistensi suatu partai politik ditentukan oleh banyak sedikit
pendukungnya, untuk meperoleh pendukung partai memiliki visi,misi,
tujuan, serta program-program yang ditawarkan dalam kampanye guna
97
menjaring massa yang memiliki aliran dan arah pemikiran yang sama
dengan partai tersebut. Berbicara mengenai program partai tak lepas dari
pembangunan karena sebagaimana kita ketahui program-program
pembangunan adalah hal yang sangat diharapkan oleh masyarakat apalagi
apabila program tersebut akan menghantarkan mereka ke arah kehidupan
yang lebih baik.
Partai Demokrasi Indonesia merupakan salah satu Partai Politik
yang hidup di Kabupaten Grobogan, dan selama wilayah tersebut
melaksanakan pembangunan PDI ikut serta memberikan sumbangan
berupa masukan, saran dan kritik sebagai wujud nyata dari partisipasinya
terhadap pembangunan di Kabupaten Grobogan, adapun masukan-
masukan tersebut antara lain: mengenai Pendapatan Asli Daerah Sendiri
(PADS) yang jumlahnya sudah melebihi rencanan, PADS tersebut barasal
dari pajak daerah, rtribusi, laba, dan pendapatan lain-lain. Fraksi Partai
Demokrasi Indonesia berpendapat dari keempat (4) komponen tersebut
sebenarnya masih bisa bertambah, apabila semua bekerja dengan baik dan
transparan guna mencegah kebocoran-kebocoran yang terjadi dimana-
mana.
Guna mencegah semakin besarnya kebocoran-kebocoran dana
FPDI mengharapkan supaya kinerja Institusi Wilayah lebih ditingkatkan,
sehingga diharapkan tidak bekerja apabila ada laporan-lapaoran ataupun
pengaduan. Selain itu sebagaimana diketahui Kabupaten Grobogan
mempunyai potensi besar dalam memasukan PADS, hanya saja perlu
98
disadari bahwa masyarakat mempunyai andil besar dalam hal ini.
Kadangkala masyarakat masih sulit untuk memenuhi kewajiban, untuk
mengatasinya FPDI mengharapkan supaya Perda-perda hendaknya
dimasyarakatkan dan disosialisasikan sehingga rakyat sadar akan
kewajibannya sehingga PADS yang masuk benar-benar maksimal.
(Laporan Perhitungan APBD Kabupaten Grobogan: IV.4.-2)
Selain memberi masukan tantang PADS FPDI juga memberikan
masukan mengenai pembangunan dan pemugaran pasar-pasar di daerah
Kabupaten Grobogan diantaranya di Purwodadi, Gubug, Godong,
Grobogan yang telah selesai dilaksanakan. FPDI berpendapat dengan
terselesaikannya pembangunan dan pemugaran tersebut diharapkan
pendapatan dari pasar-pasar tersebut dapat meningkat tanpa kesulitan
suatu apapun. FPDI juga berpendapat dengan keberadaan tersebut
diharapkan dapat dapat mengatasi masalah sosial ekonomi yaitu dengan
semakian meningkatkan perekonomian rakyat sehingga dicapai kehidupan
soaial yang lebih baik. (Laporan Perhitungan APBD Kabupaten
Grobogan: IV.4.-6)
C. Peran Pemrintah Daerah Dalam Pembangunan di Kabupaten Grobogan
Untuk melaksanakan pembangunan di Kabupaten Grobogan
diperlukan masukan dari Pemerintah Daerah dan suara dari Fraksi dalam hal
ini adalah partai politik, adapun masukan-masukan dan saran-saran dari
pemerintah daerah guna kelancaran pelaksanaan pembangunan antarlain,
99
dalam menaggulangi krisis moneter yang terjadi sejak pertengahan 1997 yang
kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi yang berdampak luas pada
semua sendi kehidupan masyarakat. Dimana-mana terjadi ledakan
pengangguran, merosotnya daya beli masyarakat dan semakin sulitnya
memenuhi kebutuhan akan pangan, sandang, papan maupun akses pelayanan
pendidikan dan kesehatan. Semua gejala ini pada akhirnya menyebabkan
jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan mengalami
peningkatan.
Untuk menanggulangi permasalahan tersebut dilaksanakan
kebijaksanaan penaggulangan krisis yang dititik beratkan pada penyelamatan
dan pemulihan melalui Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang
didalamnya terdapat program-program diantaranya: Program Pemberdayaan
Daerah Dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (PDMDKE), ABRI
Manunggal Pertanian (AMP-PDMDKE), SPSDP Pendidikan, JPS Kesehatan,
PDKMK, Padat Karya Sektor Kehutanan dan Operasi Khusus Keluarga
Prasejahtera (OPKKP) (Laporan Perhitungan APBD Kabupaten Grobogan:
IV.6.-2).
Mengenai bidang sosial, dalam upaya meningkatkan dan
memberdayakan sumber daya manusia, khususnya bagi generasi muda dalam
bidang olahraga pemerintah daerah akan melakukan pembinaan terhadap
bibit-bibit yang berkualitas, berpotensi serta berprestasi. Dalam bidang
pendidikan pemerintah mengutanakan untuk menuntaskan Wajib Belajar
Sembilan Tahun yang wujud nyatanya dengan mempermudah pelaksanaan
100
pendaftaran bagi masyarakat kurang mampu. Selain itu juga diupayakan untuk
pemberian beasiswa bagi siswa dari keluarga prasejahtera dan sejahtera I.
Upaya ini dinilai cukup berhasil untuk mempertahankan siswa agar dapat
tetap bersekolah (Laporan Perhitungan APBD Kabupaten Grobogan: IV.6.-6).
Pembangunan sektor kebudayaan dan pariwisata merupakan bagian
dari pembangunan nasional karena terkait dengan pembangunan sektor-sektor
yang lainnya, oleh karena itu pembangunan sektor pariwisata dan kebudayaan
akan turut menentukan pembangunan secara kesluruhan. Dalam Rangka
mengantisipasi kebijakan dari pemerintah yang telah menetapkan sektor
pariwisata sebagai sektor andalan dalam pembangunan, maka pemerintah
Kabupaten Grobogan mengharapkan kerja sama dari seluruh lapisan
masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam menunjang pelaksanaan
pembangunan sektor pariwisata Kabupaten Grobogan. Karena dengan
meningkat potensi dari pariwisata tersebut akan meningkatkan pendapatan
daerah serta memperluas kesempatan kerja dan lapangan usaha. Upaya-upaya
yang ditempuh antara lain:
1. Melaksanakan penataan lingkungan obyek wisata
2. Meningkatkan penghijauan di obyek wisata Bledug Kuwu
3. Meningkatkan kegiatan promosi kepariwisataan melalui beberapa cara
seperti: pameran, penyebar luasan leaflet, penulisan artikel di media
massa, dan lain sebagainya.
4. Melaksanakan pembinaan kepada Usaha Sarana Wisata seperti : hotel,
rumah makan, dan lain sebagainya.
101
5. Meningkatkan koordinasi baik di Tingkat II, Tingkat Pembantu Gubernut
Wilayah Semarang, maupun dengan Dinas Pariwisata Jawa Tengah.
Untuk pengembangan secara optimal dunia kepariwisataan Kabupaten
Grobogan ternyata juga terdapat kendala-kendala yang harus dihadapi
bersama. Kendala-kendala itu antara lain:
1. Letak Geografis antara obyek wisata yang satu dengan yang lain yang
masih berjauhan dan tidak dapat ditempuh secara melingkar, sehingga hal
ini cukup membebani para wisatawan dalam hal transportasi.
2. Penurunan jumlah pengunjung sehingga berimbas pada industri
kepariwisataan atara lain: hotel, rumah makan, industri cinderamata, dan
lain sebagainya. Hal ini berpengaruh pada penyerapan tenaga kerja dan
kesempatan berusaha
(Laporan Perhitungan APBD Kabupaten Grobogan: IV.6.-7).
D. Pelaksanaan Pembangunan di Kabupaten Grobogan
1. Bidang Pembangunan Ekonomi
Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia berpendapat bahwa
pembangunan di Kabupaten Grobogan akan lebih maju apabila terdapat
peningakatan Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS) yang berasal dari pajak
pendapatan, retribusi, laba, dan sumber-sumber pendapatan yang lain. Selain
itu kedua partai tersebut juga memberi masukan guna lebih meningkatkan
potensi pertanian di Kabupaten sehingga tidak hanya bergantung pada
tanaman padi melainkan diharapkan pemerintah bersama instansi yang
102
berwewenang mencari alternatif tanaman lain sehingga hasil pertanian
semakin meningkat.
Pendapat dan saran kedua partai tersebut menghasilkan suatu
pertumbuhan ekonomi yang lebih meningkat hal ini ditunjukan dengan laju
pertumbuhan seluruh sektor ekonomi Grobogan yang menunjukkan
pertumbuhan positif. Sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang positif
hal itu ditunjukan dengan sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang
lebih besar bila dibandingkan sektor lainnya, yaitu sebesar 5,62%. Sektor-
sektor lain yang mengalami pertumbuhan cukup besar antara lain; sektor
pertambangan dan penggalian sebesar 4,16%, sektor keuangan, persewaan dan
jasa perusahaan 3,92%, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebasar 3,48%,
sedangkan sektor jasa-jasa mengalami pertumbuhan yang paling kecil, yaitu
hanya sebesar2,49%
Sebagai upaya untuk mengatasi krisis pemerintah mengusulkan program
Pemberdayaan Daerah Dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi
(PDMDKE), program ini diharapkan mampu permasalahan ekonomi akibat
krisis ekonomi yang melanda. Program ini merupakan salah satu bantuan
langsung kepada masyarakat miskin yang jatuh miskin akibat terkena dampak
krisis ekonomi, yang disalurkan melalui Inpres Dati II. Program ini
mempunyai tujuan :
a. Meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat miskin di pedesaan dan
perkotaan melalui penciptaan lapangan pekerjaan dan kesempatan
berusaha.
103
b. Menggerakan kembali ekonomi rakyat dengan menggunakan kembali
sarana dan prasarana ekonomi dan sosial yang mendukung sistem
produksi dan distribusi barang dan jasa yang diusahakan oleh rakyat dan
dibutuhkan oleh masyarakat.
c. Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana sosial ekonomi rakyat serta
memelihara kelestarian lingkungan hidup.
Sasaran lokasi proyek ini adalah desa/kelurahan tertentu yang
memiliki pengangguran dan penduduk miskin dalam wilayah kecamatan,
diluar desa/kelurahan yang menerima bantuan Program Pengembangan
Kecamatan (PPK) apabila kedua program tersebut berlangsung bersamaan.
Proyek PDMDKE di Kabupaten Grobogan dilaksanakan pada 19
kecamatan yang mencakup desa/kelurahan dengan dana bantuan yang
disalurkan sebesar Rp. 11.729.000.000,00.
Dana tersebut meliputi bantuan langsung masyarakat sebesar Rp.
11.238.050.000,00. Bantuan Operasional dan Pengendalian (BOP)
Desa/Keluarahan sebesar Rp. 300.000.000,00, Biaya Operasional
Pengendalian (BOP) Kecamatan Rp. 70.950.000 dan honor fasilitator desa
sebesar Rp. 120.000.000. (Pemerintah kabupaten Grobogan bag. Humas, 2002
: 51).
Berikut rincian jumlah penduduk sasaran dari proyek ini untuk masing-
masing kecamatan dapat dilihat pada tabel 4.
104
Tabel: 4
JUMLAH PENDUDUK SASARAN PROYEK PDMDKE
KABUPATEN GROBOGAN TAHUN 1998 / 1999
Jumlah Penduduk Sasaran Program PDMDKE
No Kecamatan
Pengantar Pra KS KS I Jumlah
1 Kedungjati 714 2,721 661 4,096
2 Karangrayung 1,642 13,950 1,905 17,497
3 Penawangan 820 4,306 349 5,475
4 Toroh 2,754 11,991 1,753 16,498
5 Geyer 1,648 7,856 1,148 10,652
6 Pulokulon 2,017 12,649 2,867 17,533
7 Kradenan 795 3,072 1,595 5,462
8 Gabus 743 4,810 943 6,496
9 Ngaringan 1,221 10,437 1,088 12,746
10 Wirosari 1,699 10,135 1,571 13,405
11 Tawangharjo 1,100 8,169 887 10,176
12 Grobogan 1,119 6,783 1,782 9,684
13 Purwodadi 1,892 1,416 853 16,901
14 Brati 805 6,241 1,619 8,665
15 Klambu 750 5,725 1,142 7,617
16 Godong 1,746 10,178 331 12,257
17 Gubug 935 5,308 1,111 7,354
18 Tegowanu 768 5,459 1,295 7,522
19 Tanggungarjo 873 4,388 722 5,983
Sumber: Kantor Pemberdayaan Mastarakat Kabupaten Grobogan
2. Bidang Kesejahteraan Sosial
a. Bidang Kesehatan.
Program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS–BK)
merupakan salah satu upaya pemerintah dalam bidang kesehatan untuk
105
mengatasi dampak krisis ekonomi terhadap kesehatan bagi keluarga
miskin. Pelaksanaan program ini di Kabupeten Grobogan telah
dilaksanakan sejak pertengahan tahuan 1998, yang sampai saat ini masih
berlangsung. Periode 1999/2000 berbekal pengalaman persiapan dan
pelaksanaan ada penambahan yaitu Kegiatan Revitalisasi Posyandu,
pemberian makanan tambahan bagi anak usia 24-39 bulan dan kegiatan
P2M (Pemberantasan Penyakit Menular).
Menurut Pemerintah Kabupaten Grobogan Bag. Humas (2002 : 92)
program JPS – Bk mempunyai tujuan umum meningkatkan jangkauan dan
cakupan pelayanan kesehatan serta meningkatnya derajat kesehatan
khususnya keluarga miskin. Sedangkan tujuan khususnya antara lain :
1) Memberikan pelayanan kesehatan dasar dan rujukannya bagi keluarga
miskin
2) Memberikan pelayanan ebidanan dan rujukannya bagi keluarga miskin
3) Memberikan pelayanan perbaikan gizi bagi ibu hamil/nifas kurang
energi kronis (KEK) dan bayi/anak umur 6-59 bulan dari keluarga
miskin
4) Meningkatkan upaya pemberantasan penyakit menular
5) Memantapkan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG) dalam
rangka menunjang gerakan penanggulangan masalah pangan dan gizi
6) Meningkatkan fungsi dan kinerja Posyandu untuk menunjang upaya
mempertahankan dan meningkatkan status gizi pada ibu dan anak
106
7) Meningkatkan kemampuan Puskesmas dalam menyelenggarakan
pelayanan dasar dan rujukannya bagi keluarga miskin
Selama bulan Januari hingga Desember 2000 Program JPS BK yang
mempunyai sasaran keluarga miskin cakupannya sebagai berikut:
jumlah sasaran keluarga miskin: 140.735; jumlah BUMIL dan
GAKIN: 11.810; jumlah BUMIL/BUFAS KEK dari GAKIN: 2.856;
jumlah bayi umur 6-11 bulan (GAKIN): 10.001; jumlah anak umur
12-23 tahun (GAKIN): 13.504; jumlah anak umur 24-59 tahun
(GAKIN): 33.262.
Realisasi hasil kegiatan selama bulan Januari hingga Desember
2000 dapat dipaparkan sebagai berikut: Jumlah GAKIN yang memiliki
kartu sehat: 139.655 (99,23 %); Jumlah GAKIN yang berkunjung ke
puskesmas (kartu sehat yang kontak dengan Puskesmas): 52.837 (37,8 %);
jumlah kunjungan GAKIN ke Puskesmas: 263.765; jumlah BUMIL yang
mendapat pelayanan Antenatal: 10.652 (90,19 %); jumlah ibu bersalin dari
GAKIN: 5.884; jumlah persalinan yang tertolong oleh Nakes: 5.187 (88,15
%); jumlah BUMIL/BUFAS KEK yang mendapat PMT: 2.565 (89,81);
jumlah bayi umur 6-11 bulan yang mendapat PMT: 9.655 (96,54 %);
jumlah anak umur 24-59 bulan mendapat PMT: 25.394 (76,34 %); jumlah
Posyandu aktif 1.440 (95,17 %); penemuan penderita TB-Paru: 424;
penderita TB-Paru diobati: 410; Penderita TB-Paru sembuh: 152;
penemuan penderita klinis malaria: 81; positif malaria dari yang diperiksa:
107
9 (Dinas Kesehatan Dan Kesejahteraan Kabupaten Grobogan, 2000;
Pemerintah Kabupaten Grobogan: 2002: 94).
b. Bidang Pendidikan
1). Program Jaring Pengaman Bidang Pendidikan (JPS-BP)
Program jaring pengaman sosial bidang pendidikan meliputi
program beasiswa dan Dana Bantuan Operasional (DBO). Program
beasiswa pada prinsipnya dimaksudkan agar siswa SD/MI,
SLTP/MTs, SMU/SMK dan MA Negeri maupun swasta yang berasal
dari kalangan kurang mampu dapat membiayai keperluan sekolah
antara antara lain untuk sumbangan BP-3/ Iuran Bulanan dan
keperluan lain.
Tujuan dari Program jaring pengaman sosial bidang pendidikan
antara lain guna mengurangi angka putus sekolah akibat kesulitan
ekonomi orang tuanya, juga supaya anak-anak kurang mampu
mempunyai kesempatan yang lebih besar dalam meneruskan
sekolahdan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Program ini juga diharapkan dapat mendorong anak-anak khususnya
anak perempuan untuk dapat menyelesaikan pendidikanya sekurang-
kurangnya hingga tamat SLTP.
Sedang Program Dana Bantuan Operasional (DBO) merupakan
bantuan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada sekolah untuk
mempertahankan pelayanan pendidikan kepada masyarakat
108
sehubungan dengan naiknya harga-harga kebutuhan sekolah
(Pemerintah Kabupaten Grobogan: 2002: 94).
3. Bidang Hukum dan Aparatur
Fraksi Persatuan Pembangunan memberikan masukan mengenai
pelaksana kampanye yang damai, FPP berpendapat bahwa dengan
pelaksanaan kampanye yang damai maka pembangunan sekor-sektor yang
lain seperti ekonomi, sosial, budaya akan dapat terlaksana dengan lancar tanpa
ada gangguan. Berdasar masukan dari FPP maka dibentuklah Tim Operasional
Terpadu, yang menjadi dasar dari pembentukan tim operasional terpadu
adalah:
a. Surat Keputusan Bupati Grobogan No. 489 / 1604 / 1998 tentang Tim
Operasional terpadu
b. Surat Keputusan Komandan Kodim 0717 Purwodadi No.B/ 466/1998
tentang pelaksanaan kegiatan Operasional Penerangan
c. Surat Kepala Kantor Wilayah Departemen Penerangan Propinsi Jawa
TengahNo. G /1038/ 39/ 1998 tentang Kegiatan Operasional Penerangan
d. Keputusan Bupati Grobogan No. 489/ 1296/ IV/ 1999 tentang Tim
Operasional Terpadu
Tujuan dari Tim Operasional Penerangan adalah, untuk mengantisipasi
meluasnya isu-isu dikalangan warga masyarakat yang dilangsir oleh orang-
orang yang tidak bertanggung jawab, menciptakan kondisi aman, sejuk, dan
damai demi kokohnya persatuan dan kesatuan, serta memantapkan stabilitas
109
wilayah di Kabupaten. Tim Operasional Terpadu dibentuk guna mengajak
seluruh komponen masyarakat Kabupaten Grobogan, untuk bersama-sama
mensukseskan pemilu secara langsung, umum, bebas, dan rahasia, adil dan
demokratis, serta aman dan tertib (Pemerintah Kabupaten Grobogan, 2002:
86).
Forum penerangan atau penyuluhan terpadu seperti ini ternyata
merupakan sarana yang sangat efektif dan dibutuhkan masyarakat dalam
membina dan memenuhi kebutuhan komunikasi dua arah antara pemerintah
dan masyarakat. Dimana di satu sisi dapat dijadikan wahana menyampaikan
penjelasan dan pesan-pesan pembangunan oleh pemerintah, dan di sisi lain
dapat dimanfaatkan untuk mengetahui dan mengambil masukan/ aspirasi serta
kehendak/keinginan masyarakat sebagai pijakan atau input berupa bahan dasar
dalam merumuskan kebijakan.
Dengan terjalinnya komunikas iefektif dua arah antara pemerintah dan
masyarakat, diharapkan semua perbedaan yang timbul akibat adanya
perbedaan visi dan persepsi dapat dipertemukan, didiskusikan, dan
dimusyawarahkan bersama sehingga dapat ditarik titik temu. Kemudian secara
bersama-sama sepakat berusaha mengambil jalan keluarnya, dengan begitu
akan terjalin hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat
hingga bisa menjadi modal bagi laju proses pembangunan (Pemerintah
Kabupaten Grobogan, 2002: 88).
110
E. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pembangunan Bidang Sosial
Ekonomi di Kabupaten Grobogan
Pembangunan daerah merupakan unsur pembangunan nasional, dalam
melaksanakan pembangunan di segala bidang setiap daerah akan mengahadapi
berbagai hal yang dapat menghambat dan sekaligus mampu menunjang sukses
dan tercapainya tujuan dari pembangunan yang diharapkan. Hal-hal tersebut
tersebut dapat dikelompokan dalam dua hal yaitu faktor fisik dan faktor non
fisik.
1. Faktor Fisik dalam Pembangunan
Dalam menerapkan pembangunan di segala bidang setiap daerah
dihadapkan pada kondisi empiris daerah tersebut. Karena itu perlu diketahui
berbagai kondisi phisik dan potensi yang dimiliki. Karena itu secara fisik
perlu diketahui bagaimana kondisi dan potensi kabupaten Grobogan.
a. Luas dan Batas Daerah
Luas daerah Kabupaten Grobogan adalah 1975,864 Km2 dengan
batas-batas sebagai berikut ( Data Statistik Th. 2000) : sebelah utara
Kabupaten Demak, Kudus, Pati dan Blora, sebelah timur Kabupaten
Blora, sebelah selatan Kabupaten Semarang, Boyolali, Sragen, dan Ngawi
(Jatim), sedangkan sebelah barat Kabupaten Semarang. Secara
administratif wilayah Kabupaten Grobogan dibagi menjadi 19 kecamatan,
273 desa dan 7 kelurahan (Pemkab. Grobogan Bag. Humas, 2002 : 3 ).
111
b. Jumlah Penduduk
Penduduk merupakan salah satu potensi sekaligus sangat
menentukan keberhasilan pembangunan. Jumlah penduduk sebagai
potensi sumber daya manusia untuk memanfaatkan sumber daya lain yang
menghasilkan produksi. Oleh karena itu masalah penduduk harus
dipecahkan karena tujuan pembangunan kita adalah untuk meningkatkan
kesejahteraan manusia dan membangun manusia seutuhnya
Perkembangan penduduk kabupaten Grobogan menjelang akhir
Pelita V (1990) mengalami laju pertumbuhan yang cukup tinggi (2,14 %)
per tahun. Angka terendah dicapai pada akhir pelita VI (1997) yakni 0,09
% per tahun dengan jumlah penduduk 1.283.324 jiwa, dibandingkan pada
tahun 1996 sejumlah 1.771.693 jiwa dan tahun 1990 (1.186.449). Dengan
demikian selama tahun 1990 – 2000 rata-rata pertumbuhan penduduk 1,12
% per tahun sedangkan prosentase penduduk kabupaten Grobogan
berjumlah 13,63 atau rata-rata pertahun bertambah 1,04% (Pemkab.
Grobogan Bag. Humas, 2002 : 3 ).
Untuk lebih jelasnya jumlah penduduk di kabupaten Grobogan
dalam kurun waktu 1971-2001 dapat dilihat pada tabel 5
112
Tabel: 5
JUMLAH PENDUDUK KABUPATEN GROBOGAN DAN
PERKEMBANGANYA
Perkembangan
Jumlah
Tahun Per tahun Indek Perkembangan
(Orang)
(%)
1971 878.865 1,91 104,75
1972 894.404 1,77 106,52
1973 910.187 1,76 108,28
1974 925.147 1,64 109,92
1975 943.762 2,01 111,93
1976 960.350 1,76 113,69
1977 971.365 1,15 114,84
1978 989.346 1,85 116,69
1979 1.004.204 1,50 118,19
1980 1.020.231 1,60 119,79
1981 1.038.432 1,78 121,57
1982 1.054.693 1,57 123,14
1983 1.067.419 1,21 124,35
1984 1.083.739 1,53 125,88
1985 1.103.062 1,78 127,66
1986 1.117.160 1,27 128,93
1987 1.132.958 1,42 130,35
1988 1.146.527 1,19 131,54
1989 1.161.527 1,30 101,30
1990 1.161.477 2,14 102,44
1991 1.186.448 0,23 102,67
1992 1.189.279 1,09 103,76
1993 1.202.243 1,34 105,10
1994 1.218.491 1,79 106,89
1995 1.240.404 1,12 108,01
1996 1.254.337 1,38 109,39
1997 1.271.693 0,09 109,48
1998 1.283.324 0,98 110,46
Sumber: 1. Buku REPELITA tahun kelima Kabupaten Grobogan.
2. Badan Pusat Statistik Kabupaten Grobogan.
Masalah kepadatan penduduk di kabupaten Grobogan dipengaruhi
oleh keadaan fasilitas atau sarana/prasarana yang telah tersedia serta
tingkat kesuburan lahan usahanya. Di daerah kecamatan yang
sarana/prasarana sudah cukup memadai (pasar, listrik, jalan, jembatan,
113
sekolahan dan sebagainya) lebih banyak dibandingkan dengan kecamatan
lain misalnya Pulokulon dan Toroh.
Kepadatan penduduk terlihat bahwa sampai tahun 1998 kepadatan
penduduk sudah cukup tinggi ( 650 jiwa per km2) disamping penyebaran
penduduk yang kurang merata. Oleh karena itu dalam usaha pemerintah
untuk lebih memeratakan distribusi penduduk sesuai dengan daya dukung
lahan maupun lingkungan maka sangat diperlukan suatu kebijaksanaan
mengurangi daerah-daerah yang dianggap daya dukungnya sangat rendah
terhadap pendudk melalui kebijakan transmigrasi. (Pemkab. Grobogan
Bag. Humas, 2002 : 5).
Untuk mengetahui tingkat kepadatan penduduk kabupaten Grobogan
yang dirinci menurut kecamatan periode tahun 1993 - 2000 dapat dilihat
pada tabel 6.
TINGKAT KEPADATAN PENDUDUK KABUPATEN GROBOGAN
DIRINCI MENURUT KECAMATAN
Luas
No Kecamatan Daerah Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk
( KM2) 1993 1997 2000 1993 1997 2000
1 Kedungjati 130.33 39,968 40,801 41,812 307 313 321
2 Karangrayung 140.59 85,867 90,008 92,947 611 640 661
3 Penawangan 74.18 55,912 58,621 60,908 754 790 821
4 Toroh 119.31 101,790 107,358 110,602 853 900 927
5 Geyer 196.19 64,132 66,287 67,854 328 338 346
6 Pulokulon 133.65 94,150 98,978 102,439 704 741 766
7 Kradenan 107.74 72,215 75,924 78,587 670 705 729
8 Gabus 65.38 88,135 70,762 72,481 412 428 438
9 Ngaringan 116.72 57,109 60,093 62,232 489 515 533
10 Wirosari 154.3 77,867 82,019 85,120 505 532 552
11 Tawangharjo 83.6 47,624 49,958 50,770 570 598 607
12 Grobogan 104.56 59,737 63,033 64,856 571 603 620
13 Purwodadi 77.65 107,244 115,011 118,340 1381 1481 1524
14 Brati 54.9 39,341 41,444 42,819 717 755 780
15 Klambu 46.56 29,341 31,888 32,888 630 685 702
16 Godong 86.78 74,712 78,449 81,277 861 904 915
17 Gubug 71.11 64,851 68,670 72,672 912 966 1022
18 Tegowanu 51.67 43,345 45,964 47,279 839 890 915
19 Tanggungarjo 60.64 34,904 38,027 38,733 576 627 639
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Grobogan
114
c. Potensi Wilayah
1) Sumber Daya Alam.
Kabupaten Grobogan memiliki wilayah 197586,420 hektar
(1975,8642 km2) yang berupa dataran rendah dan dataran tinggi serta
perbukitan dengan pegunungan yang landai dan curam. Iklim
kabupaten Grobogan adalah iklim tropis, musim hujan dan musim
kemarau silih berganti disepanjang tahun. Suhu udara minimum 200C
dan maksimum 300C. Jumlah curah hujan selama tahun 1993 – 2000
adalah minimum 13528 mm atau 13,528 m dengan jumlah hari hujan
rata-rata setahun 85 hari.
Berbagai jenis tanah di kabupaten Grobogan memungkinkan
untuk dibudidayakan sebagai lahan pertanian. Lebih kurang 80% dari
luas tanah digunakan sebagai lahan pertanian. Sebagian lahan yang
ada berupa sawah, tegal, kolam dan perkebunan. Maka sebagian besar
dari penduduknya juga bermata pencaharian di sektor pertanian (baik
petani maupun buruh tani)
Tingkat kesuburan tanah di Kabupaten Grobogan berbeda-beda
sehingga penggunaan tanahnya diperinci menjadi :
a) Tanah sawah seluas 30, 83% yang terdiri dari sawah irigasi tekinis
seluas 6,35%, irigasi setengah tehnis seluas 1,26%, irigasi
sederhana seluas 1,50% dan tanah tadah hujan seluas 21,72%.
b) Tanah kering seluas seluas 30,67% yang terdiri tanah perkarangan /
bangunan seluas 13,85%, tegalan seluas 16,77%, padang rumput
115
untuk penggembalaan ternak seluas 0,02%, kolam ikan seluas
0,03% dan rawa seluas 0,001%.
c) Hutan negara seluas 34,80%
d) Lain-lain ( sungai, jalan, kuburan) seluas 3,70%.
Sumber air yang ada ( sungai, waduk, telaga, air dalam tanah)
sampai sekarang masih dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat, baik untuk rumah tangga, pertanian, industri, tenaga listrik
dan sebagainya. Kabupaten Grobogan terletak pada pegunungan
kendeng utara dan kendeng selatan, maka dari itu banyak potensi
pertambangan / bahan galian yang dapat dimanfaatkan untuk
menambah penghasilan masyarakat dalam rangka pembangunan
daerah. Potensi pertambangan / bahan galian tersebut antara lain :
pasir, kapur, batu bangunan, gibs, batu tepung, batu phospat, tanah liat,
padas, batu lintang, batu trase, api abadi, minyak bumi dan air garam.
Petani biotik yang ada adalah meliputi aneka ragam flora baik
itu berupa tumbuhan liar maupun yang dibudidayakan seperti hutan
lindung, hutan produksi, tanaman pertanian, tanaman perkarangan,
serta berbagai jenis fauna yang diternakkan maupun yang masih liar.
Apabila potensi biotik ini dapat dimanfaatkan secara optimal maka
akan menunjang kelestarian pembangunan daerah. (Pemkab. Grobogan
Bag. Humas, 2002 : 9).
116
2) Sumber Daya Manusia
Jumlah penduduk pada tahun 1997 di kabupaten Grobogan
sebesar 1.283.324 jiwa yang terdiri laki-laki 634.847 jiwa dan
perempuan 649.477 jiwa. Keadaan penduduk usia produktif sebesar
54,93% yang terserap terbanyak dibidang pertanian. Hal ini
disebabkan karena kurang lebih 90% penduduk tinggal di daerah
pedesaan. Jumlah penduduk yang besar dengan pembinaan secara
optimal akan merupakan modal utama yang menguntungkan bagi
usaha-usaha pembangunan di segala bidang (Pemkab. Grobogan Bag.
Humas, 2002 : 10).
2. Masalah Non Fisik dalam Pembangunan
Pengalaman kebanyakan negara-negara sedang berkembang termasuk
Indonesia yang muncul atau merdeka sesudah Perang Dunia II
menunjukan faktor–faktor non ekonomi (sosial-budaya) seperti politik,
susunan masyarakat, demografi dan mental telah menjadi sebagian dari
perintang-perintang dan penghambat-penghambat kemajuan ekonomi.
Beberapa ahli ekonomi telah menyadari kenyataan ini termasuk H.J Boeke
seorang profesor Belanda yang pernah mengemukakan teori tentang
adanya dualisme ekonomi di Indonesia. Menurut dia terdapat suatu jurang
yang sangat besar antara sistem ekonomipetani kecil di desa-desa dan
sisitem ekonomi yang diatur orang Barat di perkebunan-perkebunan,
disektor industri dan perdangangan.
117
Sistem ekonomi desa yang juga disebutnya sistem ekonomi Timur
bukanya ditarik maju oleh sistem ekonomi Barat, tetapi justru malahan
dirusak. Di antara faktor-faktor sosial-budaya yang menyebabkan
demikian termasuk mental dari petani-petani di desa-desa yang
kelihatannya tidak mempunyai budaya kekuatan dan inisiatif sendiri untuk
berbuat lebih dari yang patut, yang hnya suka “nrimo” kepada semua
orang yang dianggapnya tinggi kedudukannya, yang statis dan tidak
senang bekerja.
Memahami beberapa kritik yang telah dikemukakan terhadap
pandangan ini Koentjaraningrat berpendapat bahwa masih ada beberapa
unsur kebenaran dalam pengamatan yang dilakukan Broeke mengenai ciri-
ciri mental rakyat Indonesia. Dengan perkatan lain terhalangnya proses
kemajuan ekonomi di negeri ini sebagian disebabkan oleh rintangan-
rintangan yang terbesut dari mental rakyat Indonesia sendiri. ( Alfian,
1978 : 221).
Faktor-faktor mental yang dimaksud menyangkut sistem nilai-budaya
atau culture value systems dan sikap atau attitudes. Keduanya
mengakibatkan timbulnya pola-pola cara berpikir tertentu dari individu
yang selanjutnya mempengaruhi tindak tanduk dan pengarai mereka, baik
dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam hal mengambil keputusan
penting dalam hidup. Sistem nilai budaya dimaksudkan berupa rangkaian
konsepsi-konsepsi abstrak yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar
warga suatu masyarakat, mengenai apa yang harus dianggap penting dan
118
berharga, tetapi juga mengenai apa yang dianggap remeh dan tak berharga
dalam hidup. Oleh karena itu dia juga berfungsi sebagai suatu pedoman
atau pendorong kelakuan manusia, sebagai norma-norma hidup yang
sudah berkembang sejak lama di dalam masyarakatnya. Salah satu contoh
dari dorongan sistem nilai-budaya ini yang merugikan kemajuan ekonomi
misalnya tentang konsepsi yang menilai sedemikian tinggi masa lampau
sehingga meremehkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik buat
masa depan. Inilah yang mungkin menyebabkan masyarakat itu menjadi
statis karena individu-individu terlalu menganggap sakral kejadian masa
silam untuk dinodai dengan inovasi-inovasi baru (Koentjaraningrat, 1969;
Alfian, 1978 : 222).
Sistem nilai budaya seolah-olah berfungsi sebagai faktor-faktor luar
yang mempengaruhi mental individu maka sikap atau attitude adalah hal
yang datang dari dalam dirinya sendiri, yaitu suatu kecondongan untuk
berbuat bedasarkan perasaan dan pendirian hatinya. Salah satu contoh
sikap yang merintangi kemajuan ekonomi misalnya sikap segan terhadap
tugas-tugas yang memerlukan bekerja keras dengan tangan oleh orang
yang telah mendapat didikan sekolah dan karena itu lebih senang sebagai
pegawai. Koentjaraningrat,(1969); Alfian,(1978 : 223) membagi ciri-ciri
mental masyarakat Indonesia dalam tiga golongan, yaitu mental petani,
mental priyayi dan mental pancaroba. Hal itu berlaku juga bagi
masyarakat Kabupaten Grobogan yang mempunyai budaya manutan dan
mayoritas berasal dari suku Jawa, untuk lebih jelasnya sebagai berikut :
119
a. Mental Petani
Mental petani antara lain mengandung ciri-ciri yang menganggap
hidup itu buruk, penuh dosa dan kesengsaraan, tetapi dia wajib menyadari
keburukan itu dengan berlaku prihatin dan wajib untuk berbuat sebaiknya
dengan usaha dan ihtiar. Dia bekerja dan hanya mempunyai perhatian
untuk hari ini, dan sebagian karena kemiskinannya dia tidak
memperdulikan masa datang, hanya kadang-kadang untuk pengobat hati
dan rindu dia mengenang-ngenang masa lampau yang jaya yang
didengarnya dari dongeng orang tua-tua dulu. Ciri-ciri ini dimiliki oleh
mental petani Indonesia (mentalitas manusia Indonesia yang berjumlah
kira-kira 85% dari seluruh penduduk) terutama dari mereka yang
menggarap tanah di Pulau Jawa.
b. Mental Priyayi
Mental priyayi-bangsawan dan pagawai umumnya terdapat di kota-
kota terutama di bekas pusat-pusat kerajaan Hindu dulu atau pusat-pusat
pemerintahan jajahan. Antara lain mental semacam ini bercirikan falsafah
yang memandang hidup itu buruk dan karena itu harus diingkari, tidak
memperdulikan masa depan karena mabuk oleh kejayaan masa lampau,
bekerja untuk mencari kedudukan di samping ketergantungan dan
karenanya patuh pada pimpinan atasan. Akibatnya dalam mengahadapi
kesulitan hidup mental priyayi biasanya lari ke alam kebatinan, mencari
mimpi-mimpi mengenai suatu masyarakat yang sempurna dan kehidupan
120
yang berbahagia, bukannya berikhtiar, bekerja giat ataupun berinovasi
untuk mengatasinya. Mental semacam ini banyak kelihatan di Jawa.
c. Mental Pancaroba
Mental pancaroba mulai berkembang sejak zaman Parang Dunia II,
merupakan suatu sikap yang disebabkan karena adanya suatu masa transisi
di mana norma-norma lama dijebol tetapi belum sempat diganti dengan
norma-norma baru, ditambah lagi dengan suasana yang berantakan dan
keterbelakangan ekonomi, yang semuanya adalah ciri-ciri negatif yang
mencerminkan suatu masa keragu-raguan dan kemunduran. Dengan
perkataan lain sebagian besar dari generasi baru mempunyai ciri-ciri
meremehkan arti dan kualitas, ingin mencapai tujuan secepat-cepatnya,
kurang bertanggung jawab, tak mempunyai kepercayaan kepada diri
sendiri, dan mempunyai jiwa apatis dan lesu.
Sebagaimana dapat dilihat, ketiga golongan mental yang hidup
dalam masyarakat Indonesia itu lebih banyak mempunyai ciri-ciri negatif
terhadap proses pembangunan ekonomi, dan jika ciri-ciri ini masih berakar
dan berada dalam mentalitas sebagian besar manusia Indonesia maka tak
mungkin negara Indonesia dapat membangun ekonominya. Untuk itu
harus dilahirkan mentalitas baru yaitu dengan merombak beberapa unsur
nilai-budaya yang telah menghambat pembangunan, dan kedua dengan
jalan memulihkan sikap negatif yang berkembang dalam periode
pancaroba atau periode kemunduran ekonomi menjadi sikap yang positif.
Sejalan dengan itu enam sifat harus ada pada sebagian besar penduduk
121
guna kelancaran pembangunan ekonomi yaitu : menaruh perhatian besar
dan menilai tinggi benda materiil, menilai tinggi teknologi, berorientasi ke
masa depan, berani mengambil resiko, berjiwa tabah dalam usaha dan
mempunyai kemampuan untuk bekerja sama secara berdisiplin dan
bertanggung jawab (Koentjaraningrat, 1969; Alfian, 1978 : 225).
a. Antara Penegakan Hukum dan Pembangunan
Keberhasilan suatu daerah dalam pembangunan salah satu
diantaranya dapat dilihat dari segi ada tidaknya suasana kedamaian,
ketentraman dan keadilan pada daerah tersebut. Hal itu berarti supremasi
hukum benar-benar ditegakan agar rakyat merasa diademi, diayemi, dan
diayomi. Jika hal itu dapat diterapkan maka rakyat akan merasa damai dan
tentram karena mempunyai payung hukum dan merasa diperlakukan sama
baik dalam hukum dan pemerintahan. Jadi jelas pembangunan tidak dapat
dipisahkan dari penegakan hukum (Saleh , 1983; Sianipar, 1984 : 165).
Penegakan hukum adalah suatu rangkaian kegiatan dalam rangka
usaha pelaksanaan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku baik yang
bersifat represif maupun preventif. Kegiatan tersebut meliputi tindakan-
tindakan baik yang berupa penindakan terhadap mereka yang melakukan
pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku, usaha
mengembalikan keadaan yang tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan
hukum yang berlaku maupun usaha-usaha untuk menumbuhkan kesadaran
hukum masyarakat.
122
Pembangunan adalah suatu suatu perubahan yang menuju ke arah
lebih baik, menciptakan suatu yang baru yang sebelumnya tidak ada,
mengubah sesuatu yang telah ada agar menjadi lebih dari keadaan
sebelumnya. Dengan demikian jelaslah bahwa adanya perubahan saja
belumlah berarti adanya pembangunan sekiranya perubahan yang yang
diadakan tersebut tidak lebih baik dari keadaan sebelumnya, lebih-lebih
jika lebih buruk, maka perubahan tersebut bukanlah pembangunan. Secara
populer dapat dikatakan bahwa yang disebut pembangunan ialah
menciptakan suatu keadaan untuk mencapai hari esok yang lebih baik
(Saleh, 1983; Sianipar ,1984 : 166).
Tujuan dari pembangunan adalah mewujudkan kesejahteraan
masyarakat untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur,
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sedangkan tujuan
dari penegakan hukum ialah untuk menciptakan suatu tata kehidupan
dalam masyarakat dan negara yang tertib dan teratur guna melindungi hak
setiap orang dari setiap gangguan dan perkosaan serta setiap orang dapat
melaksanakan kewajibannya sebaik-baiknya sebagaimana mestinya.
Dengan terciptanya suatu masyarakat yang tertib dan teratur, maka setiap
orang akan merasakan suatu kehidupan yang aman, tenteram dan sejahtera.
Dapatlah dikatakan bahwa tujuan daripada penegakan hukum adalah
mensejahterakan masyarakat baik lahir maupun batin. Dalam keadaan
masyarakat yang demikian diharapkan anggota-anggotanya lebih bergairah
untuk memabangun disegala bidang, sehingga sasaran akhir dari
123
penegakan hukum tidak lain adalah tercapainya masyarakat yang Tata
Tentram-Kerta Raharja dapat terwujud.Untuk itu hukum harus berperan
sedemikian rupa agar hukum dapat menunjang pelaksanaan pembangunan.
Tujuan penegakan hukum dan tujuan pembangunan tidak ada
perbedaan, keduanya bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat bahkan
pembangunan itu diharapkan dapat lebih lancar dengan mendinamisasi
hukum, karena jelas tujuan hukum adalah ketertiban dan keadilan. Tujuan
dari pembangunan adalah menciptakan kesejahteraan, tujuan dari
penegakan hukum juga menciptakan kesejahteraan. Dengan demikian
peranan penegakan hukum adalah untuk menciptakan suatu kondisi dari
prasarana guna kelangsungan dan kesinambungan pelaksanaan
pembangunan, yang merupakan unsur pendukung sekaligus pengaman
bagi pelaksanaan pembangunan (Saleh , 1983; Sianipar , 1984 : 166).
124
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Dari hasil penelitian, dapat dikemukakan berbagai simpulan sebagai
berikut :
1 Kondisi Kehidupan Partai politik di Kabupaten Grobogan Pada Masa
Orde Baru Tahun 1971-1997
Perjalanan partai politik di Kabupaten Grobogan senantiasa
diwarnai oleh kebijakan-kebijakan dari pemerintah pusat seperti dalam
jumlah partai politik peserta pemilu serta kapan pemilu itu akan
dilaksanakan. Dalam Pemilihan umum pertama yang dilaksanakan
pada tahun 1971 yang diikuti 10 partai politik untuk wilayah
pemilihan Kabupaten Grobogan suara terbanyak diraih oleh Golkar
dan pemilu pertama ini pula yang kemudian mengantarkan Golkar
untuk meraih kemenangan-kemenangan disetiap periode pemilu pada
masa orde baru. Pada pemilu 1977 terjadi penyederhanaan/ fusi partai
dari yang awalnya 10 partai kemudian menjadi 3 partai termasuk
Golkar, dan kembali Golkar meraih kemenangan besar.
Berdasarkan hasil perolehan suara dimana Golkar selalu
mendapatkan suara terbanyak maka menjadikan Golkar mempunyai
tanggungjawab yang lebih besar dalam pelaksanaan pembangunan
khususnya untuk pembangunan wilayah Kabupaten Grobogan.
124
125
2. Kondisi Partai Politik di Kabupaten Pada Masa Reformasi 1998-
2001
Setelah keruntuhan orde baru kemudian lahir orde
reformasi yang diawali dengan adanya krisis ekonomi yang terjadi
pada pertengahan tahuan 1997, menyebabkan dunia perpolitikan di
wilayah Kabupaten Grobogan juga ikut berubah, hal itu ditunjukan
dengan dilaksanakannya pemilihan umum 1999 yang merupakan
pemilu pertama dari pemerintahan orde reformasi. Dalam
pemilihan umum 1999 kembali digunakan sistem multi partai
yaitu terdapat 48 partai peserta pemilu, yang mana pada tahun
1971 pernah digunakan sistem multi partai sebelum diadakan fusi
partai (penyederhanaan partai) pada pemilu 1977.
Perubahan yang terjadi tidak hanya mengenai penggunaan
sistem multi partai, melainkan juga mengenai perolehan suara
dimana selama pemilu orde baru Golkar selalu memperoleh suara
terbanyak, tetapi pada pemilu 1999 ini PDIP (Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan) yang mampu meraih suara terbanyak
sehingga pada pemilu kali ini sempat menghantarkan ketua Umum
PDIP Megawati Soekarno Putri sebagai Presiden Republik
Indonesia sekaligus sebagai presiden wanita pertama di Indonesia.
126
3. Peranan Partai Politik di Kabupaten Grobogan Dalam Bidang
Sosial Ekonomi Sesudah Reformasi.
Partai politik berperan penting dalam membantu
pelaksanaan pembangunan di wilayah Kabupaten Grobogan.
Suara, saran, serta kritik membangun dari partai akan semakin
mengoptimalkan kinerja dari pemerintah daerah. Sebagaimana kita
ketahui bahwa dalam pelaksanaan pembangunan daerah
khususnya dalam perencanaan penghitungan APBD pemerintah
daerah selalu melibatkan saran dari partai politik untuk kemudian
dijadikan Perda yang akan menjadi pedoman dalam pelaksanaan
pembangunan.
Partai politik biasanya dapat memberi masukan yang lebih
obyektif dikarenakan dalam setiap melakukan kampanye
sosialisasi partai hingga kepelosok-pelosok wilayah Kabupaten
Grobogan partai dapat melihat secara langsung bagaimana kondisi
masyarakatnya, khususnya dalam bidang sosial ekonomi.
Sehingga tak jarang keadaan ini dimanfaatkan partai untuk
kemudian dijadikan sebagai program kerja serta visi, misi yang
akan diperjuangkan sehingga secara tidak langsung akan menarik
simpati dari masyarakat yang dijadikan sasaran kampanye.
Berdasarkan hal tersebut maka partai dapat mengambil dua
keuntungan sekaligus yang pertama partai dapat memberi
kontribusi berupa masukan kepada pemerintah dalam pengentasan
127
masalah sosial ekonomi dan yang kedua adalah partai memperoleh
dukungan massa dari daerah yang dibantu.
Selain peran pemanfaatan tersebut partai juga banyak
memberi masukan mengenai bagaimana meningkatkan pendapatan
bagi pemerintah guna menunjang pelaksanaan pembangunan.
Sebagaimana diketahui wilayah Kabupaten Grobogan bukan
merupakan wilayah industri dan bukan daerah yang kaya selain
dalam bidang pertanian sehingga partai banyak menyoroti
bagaimana cara meningkatkan pendapatan dan ekonomi
kerakyatan dengan memanfaatkan sektor pertanian. Partai banyak
berpendapat bahwa sektor pertanian di Kabupaten Grobogan
masih bisa ditingkatkan lagi, dan hal ini hanya bisa dicapai dengan
penggunaan teknologi yang tepat guna yang perlu dipikirkan para
ahli dibidangnya, sehingga apabila hal ini bisa dilakukan akan
semakin meningkatkan pendapatan daerah, meningkatkan
kesejahteraan serta ekonomi rakyat sehingga kehidupan sosial
ekonomi rakyat akan terjamin.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian ini, maka saran yang
perlu disampaikan yaitu:
1. Bagi warga masyarakat Kabupaten Grobogan.
Hendaknya masyarakat Kabupaten Grobogan lebih teliti
dan selektif dalam memilih partai dan wakilnya di Dewan. Jangan
128
hanya mengikuti anjuran dan saran dari pihak-pihak tertentu yang
menginginkan tambahan suara untuk kepentingan pribadi. Jangan
hanya terkecoh dan termakan janji-Janji segelintir orang yang
menginginkan kekuasaan. Hendaknya pula sebagai warga Negara
yang baik masyarakat Kabupaten Grobogan menggunakan hak
pilihnya, karena ini merupakan salah satu cara untuk menyuarakan
aspirasi masyarakat.
2. Bagi Partai Politik.
a. Hendaknya partai politik di Kabupaten Grobogan memiliki
program kerja sendiri jangan hanya mengikuti keputusan dari
pusat untuk dilaksankan di daerah supaya daerah tersebut
menjadi lebih maju. Selain itu sebaiknya program-program
kerja parti lebih mementingkan kepentingan rakyat banyak
bukan hanya untuk kepentingan partai sendiri.
b. Dengan aspirasi dari masyarakat, jadikan partai politik sebagai
tempat yang tepat untuk mengadukan segala permasalahan
kehidupan politik rakyat.
3. Kepada DPRD Kabupaten Grobogan.
Hendaknya para wakil rakyat bias melihat lebih dalam
tentang segala permasalahan yang dihadapi rakyat, dan seharusnya
mereka juga tahu bahwa mereka duduk di Dewan karena suara
dari rakyat.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku-buku
Alfian. 1978. Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia. Jakarta : Gramedia
Jakarta
Budiardjo, Miriam. 1996. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama
Ibrahim Harmaily, Siahaan Iskandar. 1984. Politik dalam Perspektif Hukum.
Jakarta : IND – HILL, CO
Moleong, Lexy J. 2002. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung : Remaja Rosda
Karya
Pemerintah Kabupaten Grobogan. 2002. Sejarah Kabupaten Grobogan Periode
1988 – 2001. Purwodadi : Pemerintah Kabupaten Grobogan
Tim Universitas Sebelas Maret, 1991. Sejarah Hari Jadi Kabupaten Grobogan.
Gottschalk,louis.1975.Mengerti Sejarah,Pengantar Metode Sejarah. Terjemahan:
Nugroho Notosusanto.Jakarta:UI Press.
Komisi Pemilihan Umum. 2003. Partai Politik Peserta Pemilu 2004 Perjalanan
dan Profilnya. Jakarta: Komisi Pemilihan Umum.
Gultom, R.M.S, dkk. 1995. Etika, Konstitusi dan Pembangunan Berdasarkan
Pancasila. Salatiga: Satya Wacana University Press.
Karim, Muhammad Rusli. 1983. Perjalanan Partai Politik di Indonesia Sebuah
Potret Pasang Surut. Jakarta: CV Rajawali Press.
129
130
Team Dokumentasi Presiden RI. 1991. Jejak Langkah Pak Harto 1 Oktober 1965-
27 Maret 1968. Jakarta: PT. Citra Lamtoro Gung Persada.
Waridah, Siti,dkk. 2003. Sejarah Nasional dan Umum. Yogyakarta: Bumi Aksara.
Bahar, Safroedin.1997. 50 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta: Sekretariat Negara.
Soemardjan, Selo.2000. Menuju Tata Indonesia Baru. Jakarta: PT. Gramedia
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto.1993. Sejarah Nasional
Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.
B. Dokumen
Grobogan, Kabupaten. 1997. Perhitungan APBD Rutin dan Pembangunan Tahun
Anggaran 1997/1998. Grobogan: Bagian Keuangan
Grobogan, Kabupaten. 1998. Perhitungan APBD Rutin dan Pembangunan Tahun
Anggaran 1998/1999. Grobogan: Bagian Keuangan
Grobogan, Kabupaten. 2000. Perhitungan APBD Rutin dan Pembangunan Tahun
Anggaran 2000/2001. Grobogan: Bagian Keuangan
Undang-Undang No. 31 tahun 2002 tentang Partai Politik. 2003. Semarang : CV.
Duto Nusindo
Undang-Undang No. 12 tahun 2003 tentang Pemilu Anggota DPR, DPRD dan
DPD. 2003. Semarang : CV. Duta Nusindo.
Team Dokumentasi Presiden RI. 1991. Surat Perintah 11 Maret. Jakarta: PT. Citra
Lamtoro Gung Persada.
Team Dokumentasi Presiden RI.1991.Ketetapan MPRS No. IX / MPRS / 1966
Tentang Surat Perintah Presiden/ Panglima Tertinggi Angkatan
131
Bersenjata Republik Indonesia/ Pemimpin Besar Revolusi/
Mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik
Indonesia. Jakarta: PT Citra Lamtoro Gung Persada.
Team Dokumentasi Presiden RI.1991.Ketetapan MPRS No. XXXIII/ 1967
Tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintah Negara Dari Presiden
Soekarno. Jakarta: PT. Citra Lamtoro Gung Persada.
C. Internet.
UU No. 3 Tahun 1985 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 3 Tahun
1975. Tentang Partai Politik dan Golongan Karya, (Onlene),
http://www.djpp.depkumham.go.id. Diakses, 3 Agustus 2007.
Abimanyu,Anggito.2004. Format Anggaran Terpadu Menghilangkan Tumpang
Tindih. Pusat Statistik dan Penelitian Keuangan Pada Badan
Analisa Fiskal, (Online), baf@depkeu.go.id. Diakses 8 Agustus
2007.
Evaluasi Pelaksanaan Pemilu 1971-1997, (Online), www.parlement.net. Diakses,
1 Agustus 2007.
Syam, Nur. 2007. Kegagalan Mendekatkan Jarak Ideologi Partai Politik
Pengalaman Indonesia Orde Baru. (Online).
http://www.geocities.com. Diakses, 7 Agustus 2007.
Komisi Pemilihan Umum. Sejarah Pemilihan Umum. (Online). www.kpu.gi.id
Diakses, 7 Agustus 2007.
Fusi Partai Politik. (Online). http://id.wikipedia.org. Diakses, 9 Agustus 2007.
132
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (Online). http://id.wikipedia.org. Diakses, 9
Agustus 2007.
Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah. (Online). http://id.wikipedia.org.
Diakses, 8 Agustus 2007.
Kabupaten Grobogan. (Online). http://www.grobogan.com. Diakses, 1 Agustus
2007.
Mariana, Dede. 2005. Otonomi Daerah dan Reformasi APBD Teropong Suplemen
Pemikiran Rakyat,(Online). http://id.wikipedia.org. Diakses, 8
Agustus 2007
133
133
134
Gambar 1:
Kantor DPC PPP Kabupaten Grobogan
Jalan Raya Purwodadi-Semarang KM. 5
Penganten-Putat-Purwodadi 58111
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, Kristy, 2007)
135
Gambar 2 :
Kantor Dewan Pimpinan Daerah
Partai Golongan Karya Kabupaten Grobogan
Jalan R. Suprapto No. 105 Purwodadi
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, Kristy, 2007)
136
Gambar 3:
Kantor DPC Partai Kebangkitan Bangsa
Ruko Pertokoan Ayodya Purwodadi Grobogan
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, Kristy, 2007)
137
Gambar 4 :
Kantor Dewan Pimpinan Cabang
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Jl. A. Yani 101 Purwodadi Grobogan
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, Kristy, 2007)
Related docs
Get documents about "