ALIRAN ALIRAN DALAM KARYA SASTRA by slappypappy113

VIEWS: 9,866 PAGES: 12

									ALIRAN ALIRAN DALAM
   KARYA SASTRA
                 Oleh
         Agustinus Suyoto, S.Pd
    Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
     SMA Stella Duce 2 Yogyakarta
                 Realisme
• Aliran realisme ialah aliran yang ingin
  mengemukakan kenyataan, barang yang lahir
  (lawan batin). Sifatnya harus obyektif karena
  pengaranag melukiskan dunia kenyataan.
  Segala-galanya digambarkan seperti apa yang
  tampak, tak kurang tak lebih. Rasa simpati dan
  antipati pengarang terhadap obek yang
  dilukiskannya, tak boleh disertakannya. Dengan
  perkataan lain, pengarang dalam ceritanya itu
  tidak ikut bermain, dia hanya penonton yang
  obyektif.
                 Ekspresionisme
• Kalau aliran realisme melukiskan apa yang tampak, yang nyata,
  maka seniman ekspresionisme merasakan apa yang bergejolak
  dalam jiwanya. Pengarang ekspresionisme menyatakan perasaan
  cintanya, bencinya, rasa kemanusiaannya, rasa ketuhanannya yang
  tersimpan di dalam dadanya. Baginya, alam hanyalah alat untuk
  menyatakan pengertian yang lebih tentang manusia yang hidup.
• Kalau seniman impresionistis menyatakan kesannya sesudah dia
  melihat sesuatu, maka seniman ekspresionistis mengeluarkan rasa
  yang menyesak padat di dalam kalbunya dengan tak memerlukan
  rangsangan dari luar. Sifat lukisannya subyektif. Pernyataan jiwa
  sendiri ini terutama dinyatakan dengan bentuk puisi karena puisi
  adalah alat utama pujangga sastra untuk melukiskan perasaannya.
  Sajak-sajak Chairil Anwar kebanyakan ekspresionistik sifatnya.
• Ke dalam aliran ekspresionisme termasuk juga aliran-aliran:
  romantic, idealisme, mistisisme, surealisme, simbolik, dan
  psikologisme.
              Naturalisme
• Aliran naturalisme ingin melukiskan keadaan
  yang sebenarnya, sering cenderung kepada
  lukisan yang buruk, karena ingin memberikan
  gambaran nyata tentang kebenaran. Untuk
  melukiskan kejelekan masyarakat, pengarang
  naturalis   tidak    segan-segan  melukiskan
  kemesuman. Emelia Zola seorang pengarang
  naturalis Perancis yang paling besar di
  zamannya.        Sering lukisannya dianggap
  melampaui batas kesopanan sehingga seolah-
  olah tidak ada lagi batas-batas ukuran susila
  dan ketuhanan padanya.
                Determinisme
• Determinisme ialah cabang aliran naturalisme, bias
  diartikan ‘paksaan nasib’. Tetapi bukan nasib yang
  ditentukan oleh keadaan masyarakat sekitar seperti
  kemiskinan, penyakit, penyakit keturunan, kesukaran
  karena akibat peperangan, dan sebagainya. Yang
  menjadi soal dalam karangan-karangan aliran ini ialah
  penderitaan seseorang: jahatkah, melaratkah, menderita
  karena penyakit keturunan, bukan karena Tuhan sudah
  menakdirkan dia harus hidup demikian, melainkan
  sebagai akibat masyarakat yang bobrok. Masyarakat
  yang bobroklah yang melahirkan manusia-manusia
  seperti itu. Cara pengarang melukiskan juga naturalistic.
            Impresionisme
• Pengarang impresionistis melahirkan kembali
  kesan atas sesuatu yang dilihatnya. Kesan itu
  biasanya kesan sepintas lalu.Pengarang takkan
  melukiskannya sampai mendetail, sampai
  kepada yang sekecil-kecilnya seperti dalam
  aliran realisme atau naturalisme sipaya
  ketegasan,   spontanitas    penglihatan,  dan
  perasaan mula pertama tetap tak hilang.
  Lukisan seperti itulah lukisan beraliran
  impresionisme.
                     Romantisme
• Aliran romantic mengutamakan rasa, sebagai lawan aliran realisme.
  Pengarang romantis mengawan kea lam khayal, lukisannya indah
  membawa pembaca kea lam mimpi. Yang dilukiskannya mungkin
  saja terjadi, tetapi semua dilukiskan dengan mengutamakan
  keharuan rasa para pembaca. Bila seseorang berada dalam
  keadaan gembira, maka suasana sekitarnya harus pula
  memperlihatkan suasana yang serba gembira, hidup, berseri-seri.
  Demikian juga sebaliknya. Kata-katanya pilihan dengan
  perbandingan-perbandingan yang muluk-muluk.
• Aliran romantic terbagi pula atas aktif romantic dan pasif romantic.
  Dinamakan aktif romantic apabila lukisannya menimbulkan
  semangat untuk berjuang, mendorong keinginan untk maju.
  Dinamakan pasif romantic, apabila lukisannya berkhayal-khayal,
  bersedih-sedih, melemahkan semangat perjuangan.
              Idealisme
• Idealisme ialah aliran romantic yang
  didasarkan pada ide pengarang semata-
  mata. Pengarang memandang ke masa
  yang    dapat    memberikan     bahagia
  kepadanya atau kepada nusa dan
  bangsanya.     Seolah-olah   pengarang
  seorang juru ramal yang merasa bahwa
  ramalannya (fantasinya) pasti atau
  sekurang-kurangnya mungkin terjadi.
              Mistisisme
• Dalam aliran ini terasa ciptaan yang
  bernapaskan rasa ketuhanan. Pengarang
  selalu mencari dan mendekatkan dirinya
  kepada Zat Yang Mahatinggi. Aliran ini
  melahirkan ciptaan yang didasarkan pada
  ketuhanan, pada filsafat, dan alam gaib.
  Contohnya dapat dilihat pada karangan-
  karangan Hamzah Fansuri (pujangga
  lama), Amir Hamzah (Pujangga baru),
  Taslim Ali (Angkatan 45).
                     Surealisme
• Dalam aliran ini lukisan realitasnya bercampur angan-
  angan, mala angan-angan amat mempengaruhi bentuk
  lukisan. Di dalamnya ada pernyataan jiwa, pemasakan
  dalam jiwa. Kalau dalam film semua hal (gerak-gerik,
  suara, musik, pemandangan) dapat dinyatakan serentak,
  maka di dalam tulisan, hal-hal seperti itu harus
  dinyatakan satu demi satu. Itu sebabnya, lukisan tampak
  melompat-lompat dari yang satu kepada yang lain, justru
  untuk menyatakan keseluruhan itu sekaligus.
• Payah pembaca mengikuti karangan yang bercorak surealisme.
  Pembaca harus menyatukan dalam pikirannya segala lukisan yang
  seakan-akan bertaburan itu. Jalan atau aturan tata bahasa seolah-
  olah diabaikan oleh pengarang karena pikiranna meloncat-loncat
  dengan cepat. Logika seakan-akan hilang, alam benda dan alam
  pikiran bercampur aduk menjadi satu. Kebanyakan sajak-sajak Sitor
  Situmorang beraliran surealisme.
                         Simbolisme
•   Lukisan secara simbolik ialah lukisan yang menganbil sesuatu sebagai
    pelambang, sering kelihatan seperti sindiran. Pada masa jepang berkuasa
    di tanah air kita, sensor atas karangan-karangan amat keras. Untuk
    mencoba melepaskan diri dari jaringan sensor itu, dibuatlah karangan yang
    simbolis. Jika tidak, maka karangan ditambah lagi dengan kalimat-kalimat
    yang tak berarti sekedar untuk mengelabuhi mata sensor Jepang.
•   Dalam karangan yang simbolis biasanya binatang atau tumbuhan dilukiskan
    sebagai manusia dengan sifat-sifatnya. Misalnya Hikayat Kalilah dan
    dimnah, Hikayat Panca Tantra, Syair si Burung Pungguk.
•   Dalam kesusastraan Indonesia, kita lihat misalnya karangan Maria Amin
    Tinjaulah Dunia Sana. Tokohnya ikan-ikannya dalam akuarium. Gerak-gerik
    dan sifat-sifat ikan itu dilukiskannya sebagai lukisan manusia yang
    beraneka ragam sifatnya. Aliran simbolik sejalan dengan surealisme, yakni
    bahwa ala mini hanyalah sebagai batu loncatan untuk menyatakan
    pengertian yang lebih tentang manusia yang hidup.
                    Psikologisme
• Aliran ini mengutamakan penguraian psiko (jiwa). Itu sebabnya
  pengarang harus mempunyai pengetahuan tentang dasar-dasar
  jiwa manusia berdasarkan teori-teori para ahli ilmu jiwa umpamanya
  Freud dan Kunkel, mengetahui teeori serta mendalami jiwa manusia
  seperti tokoh cerita yang akan ditampilkannya. Harus tahu
  bagaimana jiwa orang Islam, Kristen, Budha, Hindu, sehubungan
  dengan agama anutan masing-masing. Harus tahu bagaimana jiwa
  manusia yang berpaham Marxisme, anarchisme, dan sebagainya.
  Dengan tak memiliki pengetahuan tersebut, sukarlah bagi
  pengarang melukiskan jiwa tokoh-tokoh ceritanya setepat mungkin.
  Contoh kaangan yang beraliran psikologisme dalam kesusastraan
  kita adalah Atheis karya Achdiat Kartamihardja dan Jalan tak Ada
  ujung karya Mochtar Lubis.

								
To top