Kapolri Jaksa Agung Terlibat by pharmphresh28

VIEWS: 40 PAGES: 2

									Kapolri & Jaksa Agung Terlibat?
Sabtu, 16 Mei 2009 03:05




PEMBUNUHAN NASRUDIN ZULKARNAEN

JAKARTA, BK
Kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PBR) Nasrudin Zulkarnaen menjadi
bola panas yang secara liar terus bergulir ke segala arah. Kasus yang menyeret Antasari Azhar
itu kini mulai menyentuh sejumlah nama pejabat tinggi negara.

Sumber Berita Kota di Polda Metro Jaya menyebut, saat menjalani pemeriksaan pada Kamis
(14/5), Kombes Pol Wiliardi Wizard tiba-tiba saja mencabut pengakuan pertama yang menyebut
nama Antasari Azhar terlibat dalam kasus itu. Mantan Kapolres Metro Tangerang dan Jakarta
Selatan itu malah menyebut nama Jaksa Agung Hendarman Supandji, terlibat.

Namun, Kadivhumas Polri Irjen Abubakar Nataraprawira ketika dikonfirmasi wartawan Jumat
(15/5) mengaku belum mengetahui pengakuan Kombes Wiliardi tersebut. “Saya belum
mengetahui, apakah ada pengakuan Kombes Wiliardi yang menyebutkan keterlibatan Jaksa
Agung,” kata Abubakar.

Sengatan bola panas yang digulirkan kasus Nasrudin juga menyambar TB1 (sebutan Kapolri)
Jendral Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD). Pasalnya, sebelumnya ketua Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari sudah melapor ke Kapolri, bahwa dirinya mendapat
teror melalui telepon seluler.

Atas laporan tersebut Kapolri membentuk tim 9 yang diketuai Kombes Chairul Anwar untuk
melakukan penyelidikan. Dari hasil penyelidikan, tim 9 menemukan identitas orang yang
melakukan teror terhadap Antasari. Namun, kasus tersebut tidak ditindaklanjuti, dengan alasan
Antasari tidak melanjutkan laporannya ke pihak kepolisian. Sebaliknya, Nasrudin yang dicurigai
melakukan teror kepada Antasari, justru kemudian ditembak mati di dalam mobil saat melintas
di daerah Moderland, Tangerang, Banten Sabtu (14/3) lalu.

Mencuatnya nama Jaksa Agung Hendarman Supandji dalam kasus ini disambut baik Andi
Syamsudin, adik kandung Nasrudin. Namun, Andi menolak memberikan komentar terkait
disebut-sebutnya Hendarman Supandji dan Kapolri BHD.

Hanya saja Andi mendesak, agar siapapun yang terlibat dalam kasus pembunuhan kakak
kandungnya, harus diproses secara adil, tuntas, dan tidak ada yang ditutup-tutupi. “Saya
meminta semua pihak yang terlibat dalam kasus pembunuhan kakak saya, harus
bertanggungjawab. Siapapun, termasuk Kapolri,” kata Andi usai menemui Direktur Reserse
Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Moh Iriawan, Jumat (15/5).

Menurutnya, proses penyidikan sampai saat ini dinilai masih berjalan baik. Dia berharap,
kalaupun ada nama pejabat tinggi yang terlibat, tidak membuat penyidik Polri menjadi takut dan
enggan mengungkapkannya.

Sementara itu, Minola Sebayang, kuasa hukum salah satu tersangka, Fransiskus,
mengungkapkan bahwa kliennya dijanjikan menjadi anggota Badan Intelijen Negara (BIN).
Menurut Minola, bujukan terhadap kliennya sangat mencurigakan adanya keterlibatan orang



                                                                                          1/2
Kapolri & Jaksa Agung Terlibat?
Sabtu, 16 Mei 2009 03:05




penting di republik ini. Karena, para tersangka yang berperan sebagai eksekutor di lapangan
direkrut dan didoktrin bahwa misi yang dilakukan adalah tugas negara.

“Para tersangka dijanjikan oleh orang-orang itu jadi anggota organisasi BIN,” kata Minola
Sebayang saat dihubungi wartawan, Jumat 15/5).

Menurutnya, kliennya itu tidak diberi imbalan sedikitpun. Fransiskus hanya dijanjikan akan
dijadikan anggota BIN bila berhasil menjalankan misi tersebut.
Minola juga membantah pernyataan polisi terkait senjata yang dibeli Fransiskus. Menurutnya,
kliennya hanya mendapat perintah untuk membayar senjata tersebut. “Dia hanya dititipi uang
untuk membayar senjata dari kenalannya Andreas,” katanya.

Namun, Minola mengakui jika Fransiskus menerima uang sebesar Rp20 juta dari Hendrikus.
Tapi uang itu bukan uang imbalan atas jasa Fransiskus, melainkan uang operasional untuk
menjalankan misi negara itu. “Yang Rp15 juta dipakai untuk membayar senjata, sedangkan
yang Rp5 juta untuk membayar sewa mobil Avanza,” jelasnya.

Menurut Minola, kliennya ditemani oleh Andreas untuk membayar senjata itu kepada seorang
marinir di markas Brimob Kelapadua, Depok. “Ya pokoknya militerlah, inisialnya C,” ujarnya.

Sebelumnya, polisi mengatakan senjata yang digunakan untuk menghabisi Nasrudin dibeli
tersangka dari kawasan Pasar Senen.

Minola mengatakan, pengakuan kliennya bahwa senjata Revolver itu diperoleh dari seorang
anggota Marinir atau anggota Brimob. Dia juga mendesak agar menghadirkan orang yang
memberikan senjata itu untuk mengetahui sejauh mana kebenaran dari pernyataan Fransiskus.

“Jika pelaku menyatakan itu, artinya polisi harus hadirkan orang itu untuk jadi saksi dan dimintai
keterangan. Kalau ternyata bohong, kebohongan itu harus dibuktikan,” ujarnya.

Sementara Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Moh Iriawan
mengatakan, proses penyidikan berlangsung sesuai ketentuan. Menurutnya, jabatannya dan
nama baik Kapolda Metro Jaya Irjen Wahyono menjadi jaminan bahwa proses penyidikan
kasus Nasrudin berlangsung sesuai ketentuan yang berlaku. “Jabatan saya dan nama baik
Kapolda dipertaruhkan dalam kasus ini,” tegas Kombes Moh Iriawan. O son




                                                                                            2/2

								
To top