Docstoc

PEDOMAN PENDIRIAN BANGUNAN DALAM VASTUSASTRA

Document Sample
PEDOMAN PENDIRIAN BANGUNAN DALAM VASTUSASTRA Powered By Docstoc
					PEDOMAN PENDIRIAN BANGUNAN DALAM VASTUSASTRA
Oleh: Dwi Retno Sri Ambarwati, M.Sn Dosen Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS UNY

A. PENDAHULUAN Rumah merupakan bagian dari kebudayaan suatu suku bangsa, dan fungsinya tidak hanya sampai disitu saja, sebab rumah juga merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang amat penting sebagai tempat berlindung dari hujan maupun panas setelah manusia mencukupi diri dengan kebutuhan makan (pangan), dan pakaian (sandang). Secara mendasar perancangan ruang rumah tinggal pada awal peradaban merujuk kepada kebutuhan hidup paling mendasar dari penghuninya, setelah melalui proses peradaban nomaden, beralih menjadi menetap dan mulai mengolah tanah pertaniannya, sehingga manusia mulai membutuhkan tempat berteduh yang tetap. Fenomena tersebut timbul karena manusia menyadari bahwa tidak semua aktivitas dapat dilakukan di udara terbuka jadi dibutuhkan ―kulit kedua‖ sebagai pelindung (shelter), mulai dari mencari rongga alam (goa) sampai membuat rumah dalam bentuk yang sederhana. Membahas sebuah rumah berarti membahas kebudayaan suatu masyarakat yang terrepresentasi melalui ruang yang digunakan untuk berhuni. Dari berhunilah manusia mengejawantahkan dirinya sebagai mahluk sosial dan mempunyai

struktur keluarga, baik secara vertikal maupun horisontal. Rumah tinggal juga merupakan ekspresi budaya masyarakat setempat, bukan saja menyangkut fisik dan bangunannya, tetapi juga semangat dan jiwa yang terkandung di dalamnya. Banyak cara dilakukan manusia untuk mendapatkan kenyamanan, kebahagiaan dan keselamatan dalam hidupnya dan manusia pada dasarnya mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi agar dapat hidup dengan nyaman. Target yang harus dipenuhi adalah memenuhi standar kenikmatan tubuh manusia dan ukuran yang digunakan pada setiap budaya akan relatif berbeda. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapainya adalah dengan mempernyaman lingkungan huniannya, yaitu tempat atau ruang di mana manusia hidup dan tinggal. Untuk itu pula banyak ilmu dan norma yang diterapkan dalam perancangan arsitektur, baik itu yang datang dari dunia Barat maupun dunia Timur. Salah satu contoh ilmu dari dunia Timur adalah Feng-Shui dari China, didalamnya terdapat suatu kepercayaan bahwa segala sesuatu di dunia ini mengandung energi positif dan negatif sehingga perlu dilakukan upaya untuk menyeimbangkan kedua energi yang saling berlawanan itu agar tercipta kenyamanan bagi manusia. Selain Feng-Shui dari China, terdapat pula ilmu perancangan bangunan yang berasal dari India Kuno, yaitu Vastusastra yang

diterapkan dalam perancangan candi-candi Hindu, akan tetapi ruang lingkup ilmunya juga diterapkan dalam perancangan rumah tinggal, istana, benteng, perencanaan kota dan sebagainya. (Acharya, 1981: 56 ).

a. Pengertian Vastusastra Menurut Acharya (1981: 2) Vastusastra merupakan : ―science of architecture

where the essence of measurement is contained, the standard measurement followed, or the system of proportions embodied ―. Jadi Vastusastra merupakan ilmu arsitektur, tempat pokok-pokok pengukuran dimuat di dalamnya, standar pengukuran diikuti dan sistem proporsi diujudkan. Pengertian serupa dijelaskan oleh Sinha (1998) sebagai berikut: Vaastu shastra, the art and science of architecture, is covered in dozens of treatises on architecture and sculpture. These compilations, collectively known as shilpa shastra (shilpa meaning art), form one of the 64 branches of divinely revealed arts. The term vastu, defined as "where immortals and mortals live" means the site; vaastu what is designed, ranging from ornaments, furniture, vehicles, architectural details, gateways, drains, water tanks, gardens, buildings, streets, and settlements of all sizes and types. In this concept, architectural design is not limited to buildings.

Dari pendapat di atas Vastusastra diartikan sebagai seni dan ilmu arsitektur, yang melingkupi sejumlah risalah arsitektur dan patung. Himpunan ini secara kolektif dikenal sebagai shilpa sastra (shilpa artinya seni), membentuk satu dari 64 cabang dari ungkapan seni yang sempurna. Istilah vastu diartikan sebagai: ‗tempat dimana kematian dan kehidupan berada‖, diartikan sebagai site atau tempat; meliputi segala objek perancangan, seperti ornamen, furnitur,

kendaraan, detail-detail arsitektural, pintu gerbang, saluran air, tangki air, bangunan, jalan, taman dan rumah hunian dari segala tipe dan ukuran. Dalam konsep ini perancangan arsitektur tidak hanya terbatas pada bangunan saja, seperti dijelaskan oleh Acharya (1981:36) sebagai berikut: The place where men and gods reside is called vastu. These includes the ground (dhara), the building (harmya), the conveyance (yana), and the court (paryanka). Of these, the ground is the principal one, for nothing can be build without the ground as a support. The building (harmya) includes prasadha, mandapa, sabha, sala, prapa, and (a) ranga. Vastusastra disebut juga sebagai: "a collection of rules which attempt to facilitate the translation of theological concepts into architectural form." (Vini Nathan, 2002).

Jadi Vastusastra merupakan sekumpulan aturan yang berusaha untuk memfasilitasi penerjemahan konsep-konsep teologis (agama) ke dalam bentuk arsitektur. Akan tetapi hukum proporsi dan ritmik dalam mengatur elemenelemen bangunan tidak hanya ditemukan ekspresinya secara sempurna dan penuh pada bangunan candi mapun kuil, akan tetapi dapat pula diperluas pada rumah tinggal maupun perancangan perkotaan. Keluasan cakupan pengaruh dari Vastusastra ini tidak hanya berkenaan dengan pengaturan aktivitas dalam bangunan untuk memenuhi kebutuhan budaya pergaulan lingkungan saja, akan tetapi jauh lebih dari itu. Vastusastra merupakan ilmu atau pengetahuan yang berisi ajaran untuk membangun tempat tinggal yang baik dan menguntungkan bagi manusia dan para Dewa. Vastusastra merupakan sistem perencanaan dan Arsitektur India kuno yang didasarkan pada ajaran yang ada di Kitab Suci Veda. Jadi teoridalam suatu

teorinya masih mempunyai kaitan yang cukup erat dengan ajaran agama Hindu. Vastusastra ini sendiri berada dalam Kitab Manasara Silpasastra, yakni Kitab yang berisi pedoman pendirian bangunan suci umat Hindu. Vastu Shastra menjadi pedoman pendirian bangunan yang bersumber dari Kitab Veda (Agama Hindu) dan merupakan ilmu yang mempelajari tentang aturan dalam menciptakan bangunan yang baik yang akan mempengaruhi dan membawa kebahagiaan bagi penghuninya karena rumah yang dirancang dengan baik akan dapat mempengaruhi kebahagiaan, kekayaan, kesehatan, dan kemakmuran.

b. Konsep Kosmologi Hindu Konsep kosmologi mendasari Vastusastra dan penerapannya dalam perancangan bangunan serta implikasinya dalam penentuan bentuk

arsitektural. Kosmologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani : cosmos artinya alam semesta; dunia, dan logos artinya ilmu. (Dagun, 1997:537-538). Jadi kosmologi dapat diartikan sebagai serangkaian keyakinan dan pandangan universal yang tersistematis mengenai manusia dan alam semesta. Kosmologi Hindu merupakan pengetahuan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam semesta menurut filsafat Hindu. Dalam ajaran kosmologi Hindu, alam semesta dibangun dari lima unsur, yakni: tanah (zat padat), air (zat cair), udara (zat gas), api (plasma), dan ether. Kelima unsur tersebut disebut Pancamahabhuta atau lima unsur materi. Secara umum, Vastusastra bisa dikatakan juga sebagai ilmu pengetahuan kuno yang berfungsi untuk membantu hidup selaras dengan lima elemen dan hukumhukum lain yang ada di alam. Dengan demikian diharapkan bisa memanfaatkan pengaruh positif dari alam dan menghindar dari pengaruhnya yang negatip. Tujuannya adalah menyelaraskan bentuk dan tata letak suatu bangunan dengan unsur alam - prithivi/tanah (earth), agni/api (fire), tej (cahaya) (light), vayu/angin (wind) dan akash/angkasa (ether), dan menyeimbangkan antara manusia dan material. Bidang-bidang magnet bumi yaitu kutub utara dan selatan serta sinar matahari. (Kramrisch, 1981 : 36). Jadi Vastusastra merupakan ilmu konsep energi inheren. Energi tak dapat dilihat dengan mata telanjang, tapi dapat dirasakan dan dilihat aplikasinya dalam bentuk dan gaya yang berbeda. Pengetahuan yang berasal dari pikiran

disebut ilmu, dan yang diluar pikiran disebut spiritualitas, oleh karena itu Vastusastra tidak hanya merupakan ilmu akan tetapi merupakan jembatan yang menghubungkan antara manusia dan alam. Elemen-elemen dasar ini hanya ditemukan di bumi sehingga bumi menjadi pendukung alam dan kehidupan seluruh alam semesta. Diyakini dalam Vastusastra, jika rumah tinggal dan bangunan komersial dibangun dengan mempertimbangkani lima elemen tersebut, maka akan mendatangkan keberuntungan karena tiap-tiap elemen dasar akan memberikan kekuatan yang berharga untuk mendapatkan kekuatan alam yang tanpa batas. Di dalam kosmologi Hindu, permukaan bumi berbentuk segi empat, suatu bentuk yang paling fundamental dari seluruh bentuk dalam Hindu, di mana empat sudutnya mengacu pada 4 arah mata angin : Utara, Selatan, Timur dan Barat (disebut Chaturbuhuji/empat sudut) yang diujudkan dalam bentuk simbolis Mandala. Mandala berasal dari bahasa Sansekerta: manda, yang berarti bundaran, bentuk berpusat; daerah terbatas, yang diartikan sebagai lambang kosmos berbentuk garis-garis konsentrasi dan gambar-gambar dewa (Dagun, 1997:611). Terkait dengan pengertian mandala Kramrisch (1981:17) juga menjelaskan sebagai berikut: The surface of the earth, in traditional Indian cosmology, is regarded as area demarcated by sunrise and sunset, by the point where the sun apparently emerges above and sinks below the horizon; by the East and West, and also by the North and South Points. It is therefore represented by mandala of a square. Jadi permukaan bumi di dalam kosmologi Hindu dipandang sebagai area yang dibatasi oleh terbit dan terbenamnya matahari dan oleh titik di mana matahari muncul di atas dan terbenam di bawah cakrawala, oleh timur dan

barat dan juga oleh utara dan selatan. Oleh karena itu bumi diujudkan dalam bentuk mandala segi empat. Segi empat ini bukan merupakan garis penampang bentuk bumi, akan tetapi merupakan garis penghubung titik–titik di mana matahari terbit dan terbenam di timur dan barat, serta utara dan selatan. Ajaran Brahmana menerapkan konsepsi penataan alam semesta secara makrokosmos. Dalam ajaran tersebut dinyatakan bahwa alam semesta berbentuk pipih seperti pringan cakram, ditengah sebagai pusat adalah Gunung Mahameru, yaitu gunung kosmos yang sangat tinggi menjulang. Mahameru berdiri di tengah benua tempat tinggal manusia yang dinamakan Jambudvipa. Di lerengnya yang berhutan lebat tinggal kaum Brahmana serta para pertapa dan kaum agamawan yang sudah menjauhkan diri dari dunia ramai. Adapun di puncak Mahameru terdapat kota tempat tinggal dewa-dewa yang dinamakan sudarsana dengan Indra sebagai penguasa tertinggi di sana. Di setiap arah dari Gunung Mahameru (delapan mata angin) dijaga oleh dewa-dewa penjaga (Lokapala). Karena berjumlah delapan, seringkali disebut sebagai dewa-dewa Astadikpalaka. (Geldern, 1972:4-6, Dumarcay, 1986:89-91, dalam Munandar 2008:79). Gambaran makrokosmos seperti itu kemudian direpresentasikan lagi dalam berbagai penataan terutama dalam penataan bangunan candi. Teks-teks kuno Vastusastra menyebutkan bahwa ada berbagai dewa dalam mitologi Hindu yang menetapkan lokasi kedudukan mereka dalam suatu bangunan. Rumah harus diperlakukan seperti manusia, seperti teman baik yang memberi

kenyamanan dan perlindungan. Rumah juga diberi nama manusia . Dalam Ilmu Vastusastra dikenal sebagai Vastu Purusha yang disebut sebagai the spirit of the

site (roh dari suatu tempat). Digambarkan dalam Ilmu Vastusastra sebagai seorang pria yang terbaring dalam posisi kepala menghadap ke timur, dengan postur membentuk segi empat. Vastu Purusha menandai pentingnya suatu area dengan menempatkan kepalanya di posisi Timur laut yang melambangkan keseimbangan pikir dan badan bawahnya di posisi Barat daya yang melambangkan kestabilan dan kekuatan. Pusarnya diposisi sentral dari area, melambangkan kesadaran kosmik dan tangannya di posisi Barat Laut dan Tenggara, melambangkan gerakan dan energi.

Gambar.1 Vastu Purusha Mandala (Acharya, 1981 : 2)

Gambar 1. Vastu Purusha Mandala Sumber: Acharya (1981 : 132) Menurut legenda Hindu, Vastu Purusha merupakan makhluk tanpa bentuk. Brahma (sang pencipta alam semesta), bersama dewa yang lain terpaksa

mengurungnya di tanah. Insiden ini dinyatakan secara grafis disebut Vastu Purusha Mandala dengan alokasi porsi yang hierarkis untuk masing-masing posisi kedudukan dewa yang didasarkan atas konstribusi dan posisi masingmasing dalam menjalankan perannya. Brahma berada di posisi sentral yang disebut Brahmasthana, sementara dewa-dewa tersebar disekelilingnya dalam pola yang memusat. (Acharya, 1981: 245). Menurut Kramrisch (1981: 35), berdasarkan kalkulasi astrologis, garis batas dari Vastu Purusha Mandala dibagi menjadi 32 segi empat yang lebih kecil, yang disebut nakshatras. Naksatras ini berhubungan dengan peta bintang atau rumah matahari yang dilewati oleh bulan sebulan sekali. Jumlah 32 secara geometris merupakan perulangan hasil pembagian dari tiap bagian kotak, melambangkan empat waktu dalam delapan posisi di dunia: timur, tenggara, selatan barat daya, barat, barat laut, utara, timur laut. Segi empat yang berjumlah 32 merupakan simbol dari siklus kemunculan kembali bulan. Tiaptiap nakshatras diatur oleh mempengaruhi Mandala. Diluar Mandala terdapat empat arah yang melambangkan pertemuan dari surga dan bumi, juga melambangkan perputaran matahari dari timur ke barat dan rotasinya ke arah utara dan selatan dari hemispheres. Pusat mandala disebut tempat kedudukan Brahma, merupakan awal mula dan pusat dari susunan alam semesta. Disekitar Brahma merupakan tempat dari 12 kesatuan yang suatu kesatuan yang mulia, disebut deva yang

dikenal sebagai putra Aditi, yang membantu pengelolaan alam semesta. Adanya kotak-kotak kosong melambangkan akkasa atau ruang murni. Vastu-purushamandala yang komplet, membentuk sejenis peta diagram pengaruh astrologi

yang mendasari susunan alam semesta dan takdir hidup manusia .

c. Pedoman Pendirian Bangunan dalam Vastusastra Pada awalnya Vastusastra diperuntukkan sebagai pedoman dalam pendirian candi-candi dan kuil-kuil pemujaan dewa, dimana banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum bangunan didirikan, seperti dijelaskan oleh Acharya (1981:36-37) antara lain meliputi: ―examination of soil (Bhü-paraksha), selection of site (bhümi-samgraha), the erection of gnomon, selecting the ground plan and the offerings‖. Jadi harus melalui proses pengujian tanah, pemilihan site (lokasi), penentuan titik pusat bangunan dengan pendirian gnomon, dan pemilihan bentuk tapak bangunan serta sesaji-sesaji yang dipersiapkan untuk persembahan bagi para dewa dalam upacara sebelum pendirian bangunan tersebut. 1) Pengujian Tanah (examinaton of soil). Hal yang paling penting dalam mendirikan candi dan kuil adalah menentukan lokasi dimana candi akan didirikan. Tanah di lahan yang dipilih harus melalui berbagai pengujian yang dilaksanakan oleh seorang sthapati: A square hole of one cubit deep should be dug on the selected site and be filled with water. After twenty four hours the chief architect (sthapati) should mark the condition of water in the hole. If all the water be dried up by this time, the earth must be very bad. But if , on the other hand, there remains some water in the hole, the selected plot of land would be fit for any building purposes.(Acharya, 1981:36). Pengujian dilakukan dengan cara membuat lubang berbentuk bujursangkar berukuran 1 kubik persegi di tanah dan diisi air. Setelah 24 jam sang kepala arsitek harus mengamati keadaan air di dalam lubang. Jika seluruh air menjadi

kering, berarti tanahnya sangat buruk, tapi sebaliknya jika masih tersisa air di dalam lubang berarti tanah yang dipilih tersebut sesuai untuk membangun segala jenis bangunan. Jadi dalam hal ini tanah yang bersifat porous (terlalu cepat menyerap air dan tidak dapat menyimpan air) harus dihindari. Jika plot tanah telah sesuai dengan persyaratan baru dapat ditentukan akan dibangun untuk perkampungan, benteng istana, candi, kuil, atau rumah tinggal.

2) Pemilihan Lokasi Lahan (site) Vastusastra mengatur mengenai penentuan site dalam pendirian bangunan maupun candi, seperti diungkapkan oleh Acharya (1982): ―Vastusastra describes various criteria which determine the choice of a site‖. Jadi dalam penentuan dan pemilihan lokasi dimana bangunan akan didirikan, banyak kriteria yang harus dipenuhi. Selain pengujian tanah, pemilihan lahan juga sangat penting, dan hal ini berkaitan dengan lokasi dimana kuil dan candi didirikan. Kuil untuk berziarah dan menyembah dewa di India tersebar diseluruh penjuru disebut Tirtha karena berada dekat dengan sumber air seperti sungai, pantai atau danau, karena air bersifat menyucikan dan menyuburkan semua unsur yang ada. Akan tetapi para dewa tidak hanya menetap di Tirtha (di dekat bendungan sungai, pantai, pertemuan dua sungai, dan muara), tapi juga di puncak-puncak pegunungan, di lereng gunung, di dalam hutan, dan taman-taman, di pertapaan, di dalam perkampungan, kota, atau di tempat-tempat indah lainnya, berdasarkan penjelasan Kramrisch (1946:5) sebagai berikut:

The gods are installed not only in Tirtha-on the banks of rivers, lakes, and on the seashore, at the confluence of rivers and estuaries- but also on hill-tops and mountains-slopes, in forests, groves and gardens, near the abodes of blest or hermitages, in villages, towns, and cities or in other lovely place.

3) Pendirian gnomon untuk menentukan Titik Pusat Menurut petunjuk dalam Vastusastra, sebelum suatu kuil didirikan, terlebih dahulu harus ditentukan titik tengah bangunan dengan cara menancapkan semacam pasak di tanah yang menyimbolkan sebagai axis (poros) utama dari alam semesta yang disebut dengan istilah yantra garbha, ada pula yang menyebutnya sebagai gnomon (Sanku-sthapana-vidhana). Mengenai bahan yang digunakan sebagai gnomon, dijelaskan oleh Acharya (1981:37) sebagai berikut: The gnomon is made of the wood of certain trees. It maybe 24, 18, or 12 angulas in lenght, an the width at the base should be respectively 6,5, and 4 angulas. It tapers from the bottom towards the top. Jadi gnomon terbuat dari bahan kayu pohon tertentu, yang tingginya 24, 18, atau 12 angula dan ukuran landasan dasar lebarnya dari 6, 5, dan 4 angula. Angula adalah satuan ukuran yang menggunakan ukuran tubuh manusia, dari ujung jari tangan hingga siku. Bentuk gnomon ini meruncing dari bawah ke atas. Cara menentukan titik tengah bangunan dijelaskan pula oleh Acharya (1981:37) sebagai berikut: For the purpose of ascertaining the cardinal points, a gnomon of 12, 18, 24 or angulas is erected from the center of the water place (salila-sthala) and a circle is desribed with the bottom of the gnomon as its centre and with a radius twice its lenght. Two points are marked where the shadow (of the gnomon) after and before noon meets the circumference of the circle. The line joining theses two points is the east-west line. From each of these east and west points, are the north and the south points.

Untuk menentukan titik pusat bangunan, gnomon didirikan dari

pusat

sumber air dan kemudian dibuatlah lingkaran dengan gnomon berada di titik pusat dengan jari-jari dua kali panjangnya. Dua itik ditandai dari bayangan gnomon setelah dan sebelum tengah hari dan dibuat lingkaran yang mempertemukan kedua titik tersebut. Garis yang menghubungkan dua titik tersebut merupakan garis timur-barat. Dari masing-masing titik timur-barat tersebut terdapat titik utara-selatan. 4) Penentuan Orientasi Arah Hadap Bangunan Orientasi berasal dari kata orient atau timur, dan berarti mencari mana ufuk timur (dan lawannya barat). (Mangunwijaya, 1988). Kata ini kemudian menjadi kiblat karena pada awalnya orang mendasarkan pada pengalaman sehari-hari terhadap darimana matahari terbit dan ke arah mana matahari tenggelam sebagai sumber kiblatnya. Namun kemudian, manusia juga mendapatkan persepsi arah selain timur dan barat, yaitu utara dan selatan. Persepsi sumbu timur-barat serta utara-selatan melahirkan pemahaman akan centrality, titik pusat yang terjadi akibat adanya perpotongan di antara kedua sumbu tersebut. Penetapan arah hadap bangunan serta benda-benda pengisi ruang juga diatur dalam Vastusastra seperti disebutkan Acharya (1981 : 23) sebagai berikut: Vastusastra prescribes desirable characteristics for site and building based on flow of energy. Many of the rules are attributed to cosmological considerations – the sun’s path, the rotation of the earth, magnetic field, etc. The morning sun is considered especially beneficial and purifiying and hence the East is a treasured direction. The body is considered a magnet with the head, the heaviest and most important part, being considered the North Pole and the feet the South pole.

Jadi Vastusastra menentukan karakteristik untuk site atau lokasi dan bangunan berdasarkan aliran energi. Banyak aturan yang didasarkan atas pertimbangan kosmologis, seperi lintasan matahari, rotasi bumi, medan magnet dan sebagainya. Matahari pagi membawa manfaat dan bersifat memurnikan, sehingga arah timur merupakan arah yang paling baik dan berharga. Kepala yang merupakan bagian paling penting dari badan, diibaratkan sebagai kutub utara dan kaki ibarat kutub selatan. Disebutkan dalam Kramrisch (1981: 36) bahwa Vastu mempelajari tentang arah tata letak dengan mengabungkan 5 (lima) unsur atau elemen alam yaitu: prithvi/tanah (earth), agni/api (fire), tej (cahaya) (light), vayu/angin (wind) and akash/angkasa (ether), dan menyeimbangkan antara manusia dan material. Bidang-bidang magnet bumi yaitu kutub utara dan selatan serta sinar matahari dan berusaha sebanyak mungkin untuk memanfaatkan pengaruh positif dari sinar matahari dan menghindari pengaruhnya yang negatif. Hal yang sama dijelaskan pula oleh Narasingha (2007) sebagai berikut: The temple itself should always face east as that is considered the most auspicious direction-the place of origin of the sun. From the east appears the rising sun, the destroyer of darkness. The sun is the giver of life. It brings joy and happiness and is the watchful eye of the "Cosmic Being." The vastu shastra states that a building with improper proportions and wrong orientation will create an environment which is conducive to disturbances like disease, death and destruction.(Narasingha dalam http://www.paramaartha-journal.com, 2007). Bangunan candi sendiri harus menghadap ke timur, yang merupakan arah yang paling menguntungkan karena merupakan arah datangnya cahaya matahari. Dari timur matahari muncul menghalau kegelapan, memberi kehidupan, pembawa kebahagiaan. Vastusastra menyatakan bahwa bangunan

yang proporsi dan orientasinya salah akan menciptakan suasana yang kondusif untuk datangnya penyakit, kerusakan dan kematian, dan dapat Pembangunan rumah maupun candi menurut Vastusastra bagaikan kelahiran seorang manusia, di mana lahirnya berada di bawah pengaruh astrologi tertentu sepanjang hidupnya, tergantung waktu dan tempat kelahirannya. Waktu pendirian, tempat dan posisi struktur-strukturnya merupakan faktor yang penting bagi masa depan bangunan tersebut. Oleh karena itu Vastusastra meyakini bahwa seluruh struktur bangunan harus didirikan sesuai dengan perhitungan astrologi yang menguntungkan untuk memastikan kesuksesan, panjang umur dan kesejahteraan selamanya bagi penghuni. Mengenai sangat pentingnya ketepatan pemilihan orientasi arah hadap bangunan juga dijelaskan oleh Bangalore (2007) sebagai berikut : The ancient masters of Vastusastra or Vedic Architecture highlighted importance of proper orientation. Orientation of a layout, site or building (residence or business) influences the dwellers in terms of living, education, physical and mental health, family relationships, finances and general welfare. Para ahli Vastusastra kuno menitikberatkan pada ketepatan dalam penentuan orientasi hadap bangunan karena akan mempengaruhi kehidupan, pendidikan, kesehatan fisik dan mental, hubungan keluarga, keuangan dan kemakmuran secara umum. Mengenai hal ini Bangalore (2007) juga menambahkan sebagai berikut: It is said that the magnetic field runs north-south through the globe and the Sun gives life to the electromagnetic field in the east-west orientation. The ancients considered geographical orientation, primarily based on the movement of the Sun. The need for the creative and beneficial solar energies of the morning appears to be the basis for many of the temples to be oriented to the east. The ancient Vastusastra masters felt that proper orientation interfaced the powerful and subtle energies of

humans, animals and buildings (pindanda) with the extensive energies coming from millions of universes (brahmanda). Medan magnet membentang dari utara ke selatan permukaan bumi dan matahari memberi kehidupan pada medan elektromagnetik di arah timur-

barat. Orang jaman dahulu mempertimbangkan arah geografis berdasarkan pergerakan matahari. Kebutuhan untuk mendapatkan manfaat dari energi matahari di waktu pagi inilah yang menyebabkan candi-candi dan kuil-kuil menghadap ke timur. Para master Vastusastra kuno merasakan bahwa ketepatan arah hadap menghubungkan energi manusia, binatang dan bangunan (pindanda) yang sangat kuat dan tak terlihat dengan dengan energi tak terbatas dari alam semesta (brahmanda). Akan tetapi tidak semua pertimbangan orientasi hadap bangunan didasarkan atas pergerakan matahari, seperti dijelaskan Bangalore (2007) sebagai berikut: Temples were also oriented based on their proximity to mountains, lakes and roads. It is not uncommon to find a few temples of Siva, Vishnu and the mother goddess facing south, north and west, with lakes and mountains nearby. Jadi pembangunan kuil dan candi dapat juga berorientasi hadap berdasarkan posisinya terhadap gunung, sumber air (danau) dan jalan. Tidak jarang ditemukan candi Siwa, dan Wisnu yang dekat dengan gunung dan danau menghadap ke utara, selatan atau barat, tergantung posisi lokasinya terhadap gunung dan danau atau sumber air tersebut.

5) Titik Pusat Bangunan Merupakan Tempat Paling Suci/Utama Bangunan yang didirikan ibarat mandala, dan pusat dari mandala merupakan tempat kedudukan Brahma dan merupakan tempat yang paling

suci. Brahma dianggap sebagai makhluk pertama dan menjadi arsitek susunan alam semesta. Disekeliling Brahma adalah tempat 12 dewa lain yang disebut Putra Aditi yang membantu mengelola alam semesta, seperti dijelaskan oleh Narasingha (2009) sebagai berikut: The center of the mandala is called the station of Brahma, the first of beings and the engineer of universal order. Surrounding Brahma are the places of twelve other entities known as the sons of Aditi, who assist in the affairs of universal management.

Dalam vastusastra, titik sentral merupakan titik suci, ibarat pusat alam semesta seperti diungkapkan oleh Sinha (1998) sebagai berikut: The first thing to be said of the traditional sacred cities is that they are understood to be at the "center" of the world. Its importance as a center, however, is rather in that it is at the center of the ordered cosmos.

Gambar 2. Vastu Purusha Mandala Sumber: Acharya (1981 : 132)

Tempat

kedudukan

Brahma

tersebut

disebut

Brahmastana,

yang

merupakan lokasi paling penting di dalam bangunan candi, terletak di tengah Vastu Purusha Mandala, seperti penjelasan dari Narasingha(2009):

The brahmasthana is said to be the principal location in a temple since it is here that the seat of Godhead will eventually be placed. At the base of the foundation of the brahmasthana, located at the station of Brahma on the vastu-purusha-mandala.
Kota-kota suci tradisional di Asia dianggap sebagai pusat dunia. Pusat suci ini tidak dimaksudkan sebagai pusat dari politik atau ekonomi, bukan pula merupakan pusat jalur perdagangan atau kekuasaan, akan tetapi lebih sebagai pusat dari susunan alam semesta, dan menariknya lagi, tempat ini bukan sebuah kota dalam arti biasa, akan tetapi sebuah gunung, Gunung Meru atau Semeru, yang berada pada pusat kosmologi India tradisional, baik Hindu maupun Budha. Tapi letak gunung tersebut bukan berada di pusat dalam arti geografis, melainkan suatu gambaran imajinatif dari dunia yang disebut mandala dengan Gunung Meru

sebagai pancangnya, seperti pendapat dibawah ini:

The first thing to be said of the traditional sacred cities of Asia is that they are understood to be at the "center" of the world. The sacred center may not be a center in any economic or political sense; it may not be the crossroads of trade routes or the seat of power. Its importance as a center, however, is rather in that it is at the center of the ordered cosmos. Interestingly, it is not a "city" in the ordinary sense, but a mountain, Mt. Meru or Sumeru, which is at the center of traditional Indian Asian cosmology, both Hindu and Buddhist. And it is not at the "center," in a geographic sense, of any of Asia's great cultures. This imaginative vision of the world is a maṇḍala-world if there ever was one. Directly above Mt. Meru is the Pole Star. (Bardwell Smith, 1987:4).

6) Penerapan Bentuk Meru Gunung Meru dalam kosmologi Hindu bukanlah sebuah gunung biasa dalam berbagai hal. Mengacu pada pengukuran tradisional, bentuknya persegi, dengan empat sisinya menghadap ke empat arah mata angin, dengan warna yang berbedabeda. Bagi dunia mistis Asia, Meru adalah gunung kosmis, yang berakar di tanah dan puncaknya di kahyangan. Merupakan sumbu (axis) gunung sekaligus sumbu kota, dan gunung ini dijadikan sebagai contoh bagi kota kerajaan di bumi. (Smith, 1987:4). Banyak pusat kota-kota suci di Asia yang secara nyata meniru Gunung Meru dalam struktur bangunan mereka, dengan bentuk menara yang tengahnya tinggi, dengan lima teras-teras tinggi dan menara, merupakan duplikat dari bentuk Meru, dengan pusat dan empat arahnya. Stupa Budha berada di pusat yang suci di Asia tenggara juga dibuat berdasarkan kosmologi Meru sebagai pusat, sebagaimana pada candi-candi Hindu di India.

Many of the sacred centers of Asia have explicitly duplicated Mt. Meru in their structure. Its high central tower, with five high terraces and towers, duplicates Meru, with its center and four directions. Buddhist stūpas in the sacred centers of South and Southeast Asia are built upon the design of a Meru-centered cosmology, as are Hindu temples in India. (Smith, 1987:5). Penerapan bentuk meru ini selalu digunakan dalam penentuan bentuk bangunan suci maupun rumah tinggal. Mandala melambangkan eksistensi total, sehubungan dengan kepercayaan bahwa pusat alam semesta adalah Gunung Meru yang di sekelilingnya tersusun benua, pulau dan lain-lain. Pusat persegi candi (square sanctum) berada di luar mandala, berada pada bentuk Wimana, yaitu di puncak yang merupakan simbolisasi Gunung Meru. Titik sentral dari mandala

bentuk persegi adalah posisi ikon, dan dewa masuk ke dalam candi melalui puncak mandala tersebut. The term mandala symbolizes the totality of existence. Associated with this is the belief that the center of the Universe is the mythical Mount Meru around which all the continents, islands etc. are arranged.In the temple, the square sanctum is the outermandala, the vimAna on top symbolizes Mount Meru. The central point of the square mandala is the position of the Icon. When a devotee enters a temple, he actually enters into a mandala. 6) Penentuan Bentuk Dasar Bangunan Dalam penentuan bentuk dasar bangunanyang tepat dalam prinsip Vastusastra, menurut Acharya (1981: 21), disebutkan bahwa: ―Vastusastra describes various criteria which determine the choice of a site. The most exalted shape for a site is square, however rectangale is also acceptable‖. Jadi bentuk segi empat juga disebut sebagai bentuk dasar yang sebangun dengan tubuh manusia, dan bentuk utama yang lain adalah bentuk lingkaran. Bentuk-bentuk segi empat yang berulang pada Vastu purusha mandala menentukan lokasi ruang dalam rumah atau bangunan dalam suatu kota. Sisten pengukuran ini digunakan digunakan berdasarkan tubuh manusia,

sebagaimana pendapat Amita Sinha (1998) sebagai berikut: The basic unit, the square, is congruent with the human body and other shapes, particularly the circle. The recursive division of the square in the vaastumandala determines the location of spaces whether they are rooms in a building or buildings in a city. The system of measurement used is based upon the human body. Dalam penentuan bentuk rumah yang tepat dalam prinsip Vastusastra, menurut Acharya (1981: 21) diijelaskan bahwa: The most exalted shape for a site is square, however rectangale is also acceptable. Jadi Vastusastra menjelaskan mengenai berbagai kriteria dalam menentukan pilihan site lokasi tempat di

mana bangunan akan didirikan. Bentuk bangunan yang paling baik adalah bentuk bujur sangkar, tetapi bentuk persegi juga dapat diterima. Acharya (1981 : 22) juga menyebutkan bahwa : ―the shape of the vastu for Gods and Brahmamnas is prescribed as square, the fundamental form of Indian architecture‖. Jadi bentuk rumah yang terbaik untuk dewa dan para brahmana adalah bujur sangkar, yaitu bentuk dasar dalam arsitektur India. Disebutkan pula bahwa bentuk terbaik berikutnya adalah persegi panjang dengan catatan, panjangnya tidak boleh melebihi dua kali lebarnya. Bentuk ini mengacu pada figur Vastu Purusha Mandala dan menjadi bentuk umum untuk candi.

The architect or Sthapati begins by drafting a square. The square is literally the fundamental form of sacred architecture in India. It is considered the essential and perfect form. It presupposes the circle and results from it. Expanding energy shapes the circle from the center; it is established in the shape of the square. The circle and curve belong to life in its growth and movement. The square is the mark of order, the finality to the expanding life, life's form and the perfection beyond life and death. From the square all requisite forms can be derived: the triangle, hexagon, octagon, circle etc. The architect calls this square the vastu-purusha-mandala— vastu the manifest, purusha the Cosmic Being, and mandala, in this case, the polygon. Arsitek atau sthapati mulai dengan menggambar sebuah bentuk persegi. Bentuk persegi merupakan bentuk fundamental dari bentuk arsitektur bangunan suci di India, yang melambangkan bentuk yang sempurna dan utama. Bentuk persegi ini dihasilkan oleh bentuk lingkaran. Berkembangnya energi membentuk lingkaran dari tengah, dan ditetapkan dalam bentuk persegi. Bentuk lingkaran dan lengkung adalah milik kehidupan dalam pertumbuhan dan pergerakannya. Bentuk persegi melambangkan keteraturan, batas dari luasnya kehidupan, bentuk kehidupan dan kesempurnaan hidup dan mati. Dari bentuk persegi segala bentuk yang diinginkan dapat diperoleh,

seperti bentuk segitiga, segienam, segisepuluh, lingkaran, dan sebagainya. Arsitek menyebut bentuk persegi ini vastu-purusha-mandala—vastu adalah jelmaan, purusha adalah makhluk kosmos, dan mandala, dalam hal ini adalah segi banyak. 7) Susunan Ruang Dalam arsitektur India, semua bangunan adalah bangunan suci. Rumah

disebut sebagai manushyalaya, yang artinya kuil manusia. Jadi rumah tidak hanya dijadikan sebagai tempat berteduh dan memenuhi kebutuhan makan dan minum. Oleh karena itu konsep dibalik perancangan rumah sama dengan perancangan kuil dan candi, dan rumah dianggap sebagai tempat yang suci dan bersifat spiritual, seperti diungkapkan dalam pernyataan berikut ini:

In Indian architecture, the dwelling is itself a shrine. A home is called manushyalaya, literally, "human temple". It is not merely a shelter for human beings in which to rest and eat. The concept behind house design is the same as for temple design, so sacred and spiritual are the two spaces. (http://www.jyotish.com). Di dalam Vastusastra, legenda Vastu Purusha dan penaklukannya oleh para dewa merupakan kiasan untuk menggambarkan bagaimana mendesain sebuah rumah, dengan berdasarkan bentuk mandala yang terdiri atas 81 bujursangkar. Sistem halaman terbuka (the open courtyard) dalam perancangan rumah merupakan ciri khas rumah India sebelum datangnya pengaruh model dari Barat. Susunan ruang memperhitungkan terciptanya suasana spiritual yang dibutuhkan oleh penghuni rumah untuk menikmati kemakmuran dan kesejahteraan material dan spiritual, seperti pendapat berikut: The "open courtyard" system of house design was the national pattern in India before Western models were introduced. The order introduced into the "built space" accounts

for the creation of spiritual ambience required for the indweller to enjoy spiritual wellbeing and material welfare and prosperity. (http://www.jyotish.com). Gambar di bawah ini merupakan layout khas dari susunan ruang dalam bangunan yang berbentuk persegi, dengan grid 9x9=81 persegi, dengan penetapan fungsi ruang berdasarkan kedudukan dewa-dewa penguasanya.

VAYU

SOMA

SIWA

disebut Brahmastana, berarti medan energi. Disarankan untuk tetap tidak didirikan bangunan atau terbuka ke langit sehingga tetap memiliki hubungan dengan ruang luar (akasha). Halaman tengah ini ibarat paru-paru bagi tubuh manusia. Ruang sentral ini tidak dipergunakan untuk aktivitas yang bersifat keduniawian, akan tetapi diperuntukkan bagi aktivitas yang bersifat relijius dan budaya, seperti upacara yajna (ritual penyembahan dewa api). Deretan persegi di sekeliling

VARUNA
NAIRITYA YAMA AGNI

Gambar 3. Susunan ruang dalam rumah yang mengacu Vastu Purusha Mandala. Sumber: http://www.jyotish.com

Pada gambar di atas, ruang di area sentral yang berukuran 3x3=9 persegi

INDRA

Brahmastana adalah berupa gang. Sudut ruang berukuran 2x2=4 persegi, adalah ruang dengan fungsi khusus. Arah timur laut disebut Isana, arah tenggara Agni, Baratdaya Niruthi, dan Barat Laut Vayu, seperti penjelasan berikut ini:

At right is a typical layout of a square building, with a grid of 9x9=81 squares, meant for family persons.The space occupied by the central 3x3=9 squares is called Brahmasthanam, meaning the "nuclear energy field". It should be kept unbuilt and open to the sky so as to have contact with the outer space (akasha). This central courtyard is likened to the lungs of the human body. It is not for living purposes. Religious and cultural events can be held here--such as yajna (fire rituals). The row of squares surrounding the Brahmasthanam is the walkway. The corner spaces, occupying 2x2=4 squares, are rooms with specific purposes. The northeast quarter is called Isana, the southeast Agni, the southwest Niruthi and northwest Vayu. (http://www.jyotish.com). Posisi dari dewa-dewa tersebut dalam mandala merupakan dasar dalam menentukan susunan ruang-ruang. Sebagai contoh, Dewa Agni (Dewa Api) menguasai sudut Tenggara, sehingga merupakan tempat yang ideal untuk dapur, Timur Laut dikuasai oleh Dewa Siwa/Isa dan digunakan sebagai tempat ibadah, Barat daya dikuasai oleh Dewa Nairitya dan difungsikan sebagai ruang tidur utama dan arah Barat laut dikuasai oleh Dewa Vayu/Dewa Angin difungsikan sebagai tempat penyimpanan dan lumbung. Ruang-ruang yang terletak di antara sudutsudut tersebut berukuran 2x5=10 persegi yaitu utara, timur, selatan dan barat dapat digunakan untuk berbagai fungsi, seperti penjelasan berikut:

Accordingly--with due respect to ecological friendliness with the subtle forces of the spirit--those spaces (quarters) are assigned as follows: northeast for the home shrine, southeast for the kitchen, southwest for the master bedroom and northwest for the storage of grains. The spaces lying between the corner zones, measuring 2x5=10 squares, are those of the north, east, south and west. They are meant for multi purposes. (http://www.jyotish.com). Sementara itu, di posisi barat dikuasai Dewa Varuna/Dewa Air, digunakan sebagai ruang belajar dan ruang makan, posisi Utara dikuasai Dewa Soma/Kubera,

digunakan sebagai ruang duduk dan penyimpanan harta, posisi timur dikuasai Dewa Indra/Dewa Matahari, digunakan sebagai kamar mandi dan penyimpanan makanan, posisi selatan dikuasai Dewa Yama, digunakan sebagai ruang tidur, seperti dijelaskan dalam tabel berikut ini:

Arah Utara Timur laut Timur Tenggara Selatan

Dewa yang Mengatur Soma/Kubera (Dewa kekayaan) Shiwa Indra/Aditya /Surya (Dewa Matahari) Agni (Dewa Api) Yama (Dewa Kematian)

Ruang Ruang duduk, ruang penyimpanan Ruang keluarga, ruang pemujaan Kamar mandi, penyimpanan makanan Dapur/pantry Ruang Penyimpanan Kamar Tidur Utama, Ruang simpan Ruang Tidur anak-anak, ruang belajar , ruang makan Kandang, lumbung

Barat Daya Nairitya Barat Barat Laut Varuna (Dewa Air) Vayu/ Vayavva

Tabel 1. Susunan Ruang berdasarkan Dewa pengaturnya


				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:1319
posted:1/2/2010
language:Indonesian
pages:25
Dwi Retno Sri Ambarwati, M.Sn Dwi Retno Sri Ambarwati, M.Sn Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS UNY
About I am the lecturer of Visual Art Department of Yogyakarta state University in Yogyakarta Indonesia. I'm interested in studying about traditional culture, especially about temples, and the traditional houses from Java. I have already made some researches about Joglo, the traditional Javaneese house.