MENGENAL PENDEKATAN SENSORY INTEGRATION by pharmphresh23

VIEWS: 2,650 PAGES: 10

									             MENGENAL PENDEKATAN SENSORY INTEGRATION
                 Kursus Pengenalan “Sensory Integration”
                               5 Agustus 2001
                          dr. Dewi K. Utama, Sp. A.
              Pediatric Therapy Clinic, Bandung, 022-2012015




PENDAHULUAN :
        Sensory Integration (= S.I.) adalah suatu pendekatan untuk menilai dan
melakukan terapi pada anak-anak yang menunjukan kesulitan belajar dan/atau masalah
perilaku. Pendekatan ini berasal dari teori yang dikembangkan melalui berbagai
penelitian pada anak-anak di Amerika Serikat dan Kanada, oleh DR.Ayres beserta rekan-
rekannya. Istilah Sensory Integration ini sengaja tidak saya terjemahkan, untuk
menekankan bahwa ini adalah teori dan cara pendekatan yang khusus mengacu pada
kerangka pemikiran DR.Ayres. Teory Sensory Integration adalah suatu teori yang
menjelaskan proses biologis pada otak untuk mengolah berbagai informasi sensorik,
dan mempergunakannya dengan baik.
        Setiap saat disekitar kita selalu ada input sensorik yang sampai di alat-alat indera
dan disampaikan ke otak melalui serabut-serabut syaraf. Disamping input-input sensorik
yang sengaja kita cari, seperti petunjuk guru, denah di papan tulis dsb.; selalu ada input
lain misalnya aliran udara yang meniup ke kulit kita, gesekan dari baju yang kita pakai,
suara-suara lain di sekeliling kita, benda-benda yang terlihat, arah gravitasi terhadap titik
tumpu tubuh kita, dsb. Mudah dibayangkan betapa membingungkannya bila otak tidak
mempunyai suatu mekanisme untuk mengatur semua input sensorik ini.
        Proses Sonsory Integration di dalam otak, bekerja untuk menerima berbagai
input sensorik, memilih mana yang dapat diabaikan, mana yang perlu diperhatikan,
kemudian memproses, mengartikan, merencanakan aksi terhadap input ybs., apakah akan
disimpan dalam memory, atau akan melakukan suatu tindakan. Semua proses ini terjadi
secara automatis, tanpa kita sadari.
        Setiap bagian dari tubuh perlu oksigen dan nutrisi agar dapat berfungsi dengan
baik. Tetapi bagi otak, selain diperlukan oksigen dan nutrisi, agar otak dapat berfungsi
dengan baik, diperlukan pula berbagai stimuli sensorik. Bagi anak-anak, selain untuk
mempertahankan fungsi otak, berbagai stimuli sensorik diperlukan pula untuk
perkembangan otak anak-anak yang sedang berkembang memerlukan berbagai
rangsangan sensorik untuk membangun sistem Sensory Integration, yang merupakan
fondasi yang sangat diperlukan untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang
diperlukan anak dalam kehidupan sehari-hari.
        Anak dengan otak yang dapat mengintegrasikan berbagai input sensonik dengan
baik, yaitu anak-anak yang tidak mempunyai masalah S.I. akan menunjukan perilaku
yang dapat menunjang keberhasilan dalam berperan sebagai anak seusianya, anggota
keluarga di rumah, teman anak-anak sebayanya, murid di sekolah, dan dirinya sendiri.
        Pada kebanyakan anak, perkembangan dari proses S.I. ini terjadi secara ilmiah
ketika anak-anak ini melakukan berbagai aktifitas sehari-hari sejak masa bayi samapi dia
siap untuk bersekolah. bila proses S.I. ini berfungsi dengan baik, maka otak dapat
berkembang dengan baik, sehingga pada usia sekolah, si anak akan mempu :
    memberikan reaksi yang baik terhadap berbagai informasi sensorik yang biasa
    diterima oleh anak sekolah.
    menunjukan tingkat perkembangan sensori-motor, kognitif, emosi, dan sosialisasi
    yang sesuai dengan umurnya.
    menghadapi berbagai tuntutan akademis yang selalu bertambah sejalan dengan
    bertambahnya umur anak.
        Dilain pihak, anak-anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan Sensory
Integration, dengan perkataan lain mengalami masalah Sensory Integration biasanya
menunjukan berbagai masalah dalam belajar dan/atau perilaku. Anak-anak ini mungkin
memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala dibawah ini :

   hambatan prestasi sekolah
   kurang percaya diri
   masalah emosi dan/atau sosialisasi
   tampak terlalu aktif ataupun terlalu pendiam
   perhatiannya mudah teralih
   kurang dapat mengontrol diri
   terlalu peka atau kurang peka terhadap sentuhan, gerakan, suara, dsb.
   gerakannya tampak kikuk tidak luwes atau tampak serampangan
    hambatan pada perkembangan keterampailan motorik , bicara, dan/atau pengertian
    bahasa,
   kadang-kadang tamapak tidak perduli pada orang sekitarnya.


REGISTRASI DAN MODULASI

        Tahapan pertama dalam mengolah input-input sensorik adalah menerima input
tersebut. dalam penerimaan input, sensorik tersebut, tercakup mekanisme registrasi dan
modulasi.
        Registrasi adalah suatu mekanisme yang mempersiapkan otak untuk menerima
suatu input sensorik. Ini adalah tahap awal dari setiap proses pengolahan suatu input.
Anak yang mengalami gangguan registrasi seringkali tidak bereaksi terhadap suatu input.
Misalnya : sering tidak mendengar bila orang berbicara kepadanya, kurang peka terhadap
suatu input, diperlukan suatu tingkat keterbangkitan yang optimal, dan kemampuan untuk
dapat memusatkan perhatian dengan baik.
        Modulasi adalah kemampuan otak untuk bereaksi dengan intensitas yang
sebanding dengan intensitas dari input sensorik yang memberikan stimulasi…Bila fungsi
ini baik, maka intensitas yang dirasakan daridari suatu input sensorik, akan sesuai dengan
intensitas input yang masuk. Seorang anak yang mengalami gangguan dalam proses
modulasi mungkin menunjukan perilaku hipersensitif terhadap input sensorik tertentu.
Anak yang mengalami masalah dalam modulasi sensasi auditori sering sekali tampak
terganggu oleh bunyi-bunyi yang tidak menimbulkan masalah bagi anak-anak lain.
Misalnya bunyi air mengguyur kloset, bunyi hair dryer, iklan tertentu di t.v., suara adzan,
bunyi blender, dsb.
        Proses registrasi dan modulasi ini memegang peranan yang besar dalam proses
belajar dan perilaku anak. Selain fungsi di atas, proses registrasi dan modulasi yang baik,
memungkinkan seorang anak untuk memberi perhatian yang sesuai pada hal-hal yang
penting. Misalnya petunjuk guru yang diberikan pada murid-murid di kelas, pengarahan
dari orang tua, ataupun peringatan akan adanya suatu bahaya. selain itu, juga
memungkinkan seorang anak untuk mengalih-alihkan fokus perhatian, dalam waktu
singkat, dengan tepat dan mudah. contohnya : memusatkan perhatian pada kalimat yang
sedang ditulis, kemudian bersiap-siap untuk mendengarkan kalimat berikutnya yang akan
dibacakan guru.


ALAT INDERA KHUSUS

        Selain dari alat-alat indera yang berhubungan dengan suara, rasa makan, cahaya,
bau-bauan, dan rabaan; sistem syaraf kita juga menerima informasi sensorik dari gerakan
tubuh, gaya tarik bumi (gravitasi), dan posisi dari bagian-bagian tubuh kita.
        Sel-sel syaraf pada kulit, yaitu reseptor indera taktil, akan menyampaikan
informasi tentang sentuhan halus, temperatur, tekanan dan rasa sakit. Suatu struktur
khusus di dalam telinga tengah, yaitu reseptor indera vestibuler, menerima informasi
dari gerakan dan perubahan posisi kepala. Bagian tertentu dari otat dan sendi
memberikan informasi tentang posisi dari bagian-bagian tubuh kita ini adalah reseptor
indera proprio-septif.
        Meskipun indera taktil, vestibuler dan proprioseptif ini kurang dikenal dan
fungsinyapun kurang disadari, ketiga indera khusus ini memegang peranan yang sangat
penting pada perkembangan anak. ( lihat penjelasan selanjutnya ). ketiga indera ini
merupakan sistem indera yang mengalami pematangan lebih dini dari indera lain seperti
penglihatan dan pendengaran. Pada waktu bayi baru dilahirkan; sistem proprioseptif ,
vestibular dan taktil telah berfungsi dengan baik, dan memegang peran penting dalam
perkembangan bayi tsb. Fungsi yang baik dari ketiga sistem indera yang saling berkaitan
ini, akan menjaga keteraturan siklus fisiologis bayi, seperti bangun, tidur, dan minum
dengan baik, juga menunjang berkembangnya keakraban antara bayi dengan orang yang
memelihara dan mengasuhnya. selanjutnya, pada masa balita kemampuan Sensory
integration yang baik, akan membantu anak untuk melakukan eksplorasi yang bermakna
terhadap lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial, dan
mengembangkan kemampuan sensori-motor, emosi, dan kognitif.


PERANAN INDERA KHUSUS DALAM MASALAH BELAJAR DAN PERILAKU
SISTEM VESTIBULER :

        Reseptor dari indera vestibuler terletak di dalam telinga tengah. Reseptor ini
menerima stimulasi dari gerakan kepala, dan gaya tarik bumi. Pusat penerimaan input
vestibuler yang terletak di batang otak, menerima juga input-input dari indera-indera
lain, terutama dari indera proprioseptif dan visual. Indera vestibuler memberikan
informasi tentang posisi tubuh kita di dalam ruangan. Maka yang bergerak. Juga
memberikan informasi mengenai arah dan kecepatan tubuh kita bergerak.
        Anak yang mempunyai masalah dalam mengintegrasikan input sensorik dari
indera vestibuler, biasanya sulit menguasai posisi tubuh di dalam ruang, terlihat kikuk,
koordinasi motorik dan keseimbangan kurang baik, dan mungkin pula mendapat
kesulitan di bawah ini :
    sulit menaksir jarak di antara benda-benda
     waktu menulis, sulit menjaga jarak dan ukuran huruf yang rata di dalam garis, huruf
    atau angka mungkin terbalik-balik, ada huruf yang hilang atau tertukar tempatnya
    sulit menentukan arah dan membedakan kiri dan kanan
    sulit melakukan aktifitas motorik halus yang memerlukan ketepatan, misalnya
    mengguntaing, mengaris, atau menempel
        Seorang anak yang memiliki sistem vestibuler kurang peka terhadap stimulasi
yang diperoleh dari aktifitas sehari-hari, seringkali menunjukan perilaku sebagai berikut :
    tidak bisa duduk dengan tenang, banyak bergerak (hiperkinetik)
    senang sekali bergerak bergoyang, berayun, meloncat, dsb
    perlu bergerak untuk mempertahankan fungsi yang optimal, misalnya untuk
    memusatkan perhatian pada suatu tugas
    tidak cepat pusing bila berputar atau berayun.
        Sebaliknya, bila seorang anak mempunyai sistem vestibuler yang terlalu peka
terhadap berbagai stimulasi vestibuler yang biasa, maka anak akan menunjukan perilaku :
    takut bergerak, naik turun tangga gamang, bila membuka/memakai pakaian perlu
    bertopang
    mudah menjadi mabuk bila naik mobil
    tidak suka naik ayunan
    tidak suka pada posisi dengan kepala dibawah, misalnya ketika harus memungut
    sesuatu benda di lantai.
        Selain itu sistem vestibuler ini, berpengaruh pula pada berbagai fungsi otak
    lainnya :
 Ikut berperan dalam mempertahankan tonus otot (kekencangan otot). Tonus otot
    mempunyai pengaruh pada postur tubuh. Tonus otat yang kurang baik akan membuat
    anak terlihat loyo, sulit untuk mempertahankan posisi duduk dengan tegak dan mudah
    cape.
 Memberi input pada sistem arousal dibatang otak. Sistem aurosal ini berperan
    penting dalam menjaga agar anak dapat menerima informasi dengan baik dan
    menyaring stimulasi yang tidak relevan.
 Membantu agar gerakan kedua sisi tubuh serasi dan terkoordinasi dengan baik. anak
    yang mempunyai gangguan pada fungsi vestibulernya, sering kali sulit melakukan
    tugas yang memerlukan kerjasama kedua tangannya. Contoh : ketika menggunting
    dengan tangan yang dominan, tangan lainnya tidak segera menahan kertas atau buku
    agar tidak bergeser.
 Mengatur gerakan mata. Tonus otot-otot di leher yang kurang baik dan posisi kepala
    yang kurang stabil, akan mempengaruhi perkembangan gerakan mata yang baik dan
    lancar. Untuk dapat mengikuti huruf dalam baris horisontal pada waktu membaca,
    anak harus dapat mengkoordinasikan gerakan kedua matanya dengan gerakan leher
    untuk mengatur posisi kepala. Demikian juga waktu menyalin dari papan tulis.
 membantu perkembangan berbahasa. Kerena ada hubungan antara berbagai serabut
    syaraf dalam otak, sistem vestibuler membantu memproses kata-kata yang terdengar.
 Antara vestibuler di batang otak dengan sistem limbik yang merupakan pusat
  pengaturan emosi, terdapat hubungan yang penting. maka sistem vestibuler ini
  memang peranan pula dalam perkembangan emosi anak. Bila terdapat gangguan pada
  hubungan antara sistem vestibuler dengan sistem limbik, dapat timbul kesulitan pada
  pengontrolan rasa takut, rasa tidak aman, emosi, dsb. anak jadi mudah sedih, atau
  frustasi, juga mudah jadi marah untuk alasan-alasan yang sepele. Mungkin pula anak
  ini tampak murung dan menarik diri.


SISTEM PROPRIOSEPTIF

    Reseptor-reseptor indera proprioseptif terletak dalam otot-otot dan persendian. Indera
ini memberikan informasi pada otak mengenai posisi bagian-bagian tubuh kita. Otak kita
menerima input proprioseptif dapat mempengaruhi sistem arousal kita. Contohnya :
meloncat-loncat dapat menyegarkan seorang anak yang sedang mengantuk. menggigit
permen karet yang liat dan keras dapat memberikan pengaruh menenangkan.
    anak yang mengalami gangguan pada sistem proprioseptif, mungkin
memperlihatkan salah satu dari perilaku di bawah ini :
 gerakannya kikuk dan tidak terkoordinasi
 sering tersandung atau terjatuh
 tidak dapat mengerjakan sesuatu tanpa melihatnya
 sulit memperkirakan kekuatan yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas.
    Contohnya : ketika menulis, tekanannya terlalu kuat, misalnya jalan dengan berjinjit,
    menghentakan kaki dengan kuat, senang menarik atau mendorong benda berat,
    misalnya lemari, dsb.

SISTEM TAKTIL

        Reseptor taktil pada kulit dan beberapa lokasi selaput lendir, memberikan
informasi mengenai kualitas benda-benda yang diraba, keras, halus, licin, dsb, juga
informasi mengenai lokasi dari input tsb. (= fungsi deskriminatif). selain itu sistem taktil
ini, juga menerima rasa raba, rasa nyeri, dan temperatur (= fungsi proktektif).
        Seorang anak dengan sistem taktil yang kurang peka, mungkin memperlihatkan
salah satu dari perilaku di bawah ini :
 tidak menyadari kalau barang yang sedang dipegangnya terjatuh
 kurang merasa kalau terluka
 tidak dapat membdakan benda yang dipegangnya tanpa melihat,
 hambatan dalam perkembangan motorik halus
 penghayatan tubuh kurang baik
 sulit menguasi keterampilan praksis (lihat penjelasan selanjutnya)
 tidak sadar kalau bajunya terletak miring dibadan.
        Sebaiknya bila seorang anak mempunyai sistem taktil yang terlalu peka dapat
timbul salah satu atau beberapa dari masalah-masalah di bawah ini :
 menunjukan reaksi negatif bila disentuh secara tiba-tiba
 menolak untuk berbaris bersama anak-anak lain
 sering memukul teman karena tidak mau berdekatan
 tidak menyukai aktifitas yang „kotor‟. misalnya main tanah liat, memegang lem,
    mempergunakan cat dengan jari, telanjang kaki jalan dirumput, pasir, dsb.
 tidak suka memakai baju dengan tekstur tertentu
 tidak suka diseka mukanya, disisir rambutnya, ataupun dicukur
 kadang-kadang tampak sangat “pembersih”, bila makan bolak balik melap mulutnya
    agar selalu bersih.
       Selain hal-hal diatas, sistem taktil memegang pegangan yang penting dalam
perkembangan kemampuan penghayatan tubuh. Seorang anak harus mempunyai
pemahaman yang baik mengenai tubuhnya, sebelum dia datap memahami hubungan
antara dia dengan benda-benda disekelilingnya. Kemampuan penghayatan tubuh yang
baik diperlukan pula untuk menunjang berkembangnya kemampuan praktis yaitu
kemampuan untuk melakukan serangkaian gerakan yang kompleks secara lancar dan
otomatis. Bila hal ini mengalami gangguan, anak harus berusaha lebih keras dan
memerlukan enersi lebih banyak dalam melakukan berbagai aktifitas. Contohnya :
memungut pinsil yang terjatuh, loncat tali, naik sepeda, mengayun dirinya sendiri di
ayunan, mengatur meja belajarnya, dsb.



PENYEBAB GANGGUAN SENSORY INTEGRATION

        Bila seorang anak menunjukan beberapa gejala gangguan sensory integration
seperti yang telah diuraikan di atas, seringkali orang tuanya menanyakan mengenai
penyebabnya. Pada saat ini penyebab gangguan sensory integration pada seorang anak
tertentu biasanya sulit untuk ditujukan dengan pasti.
        Pada umumnya masalah sensory integration ditemukan pada anak-anak yang
mengalami masalah perkembangan seperti ADHC, Gangguan Perkembangan Pervasif
(meliputi Autisme, Sindroma Asperger, dan Multi System Developmental Disorder),
Gangguan Belajar, Gangguan perkembangan bahasa, dsb. Pada anak-anak tersebut,
masalah sensory integration ditemukan menyertai masalah perkembangan yang utama
(yang mendapat diagnosa medik). Pada anak-anak dibawah tiga tahun kadang-kadang
ditemukan sekumpulan masalah perilaku yang sangat erat kaitannya dengan kemampuan
otak anak ybs. untuk memproses input-input sensorik. Oleh kelompok Zerotothree,
masalah ini disebut Regulatory Disorders.
        Berbagai penelitian menemukan beberapa faktor, yang mungkin berperan dalam
menimbulkan gangguan pada otak, sehingga otak kurang mampu memproses informasi
sensorik dengan baik. faktor-faktor tersebut adalah :
1. Waktu anak masih dikandung : mungkin ibu mengalami kekurangan gizi, kenaikan
    tekanan darah, menderita penyakit infeksi baik infeksi akut maupun kronik, atau
    mempunyaikebiasaan merokok, meminum minuman yang beralkohol atau
    menyalahgunakan pemakaian obat-obatan.
2. Pada waktu lahir mungkin mengalami kesulitan atau perlu pertolongan khusus,
    misalnya lahir dengan alat, dengan operasi, ataupun lahir spontan, tapi anak tidak
    segera menangis.
3. setelah lahir, mungkin anak menjadi kuning pada empat minggu pertama, mengalami
    demam tinggi ataupun kejang, dan berbagai kejadian lain yang dapat menggangu
    otak.
4. Faktor keturunan atau ginetik.
        Biasanya tidak ada gunanya mencari penyebab kelainan ini. pada umumnya
penyebab tersebut telah lama lewat dan tidak menimbulakan kerusakan lebih lanjut
lagi pada otak. selain itu mungkin saja penyebabnya malahan bukan salah satu dari yang
disebutkan di atas, mungkin ada hal-hal yang belum ditemukan oleh para ahli.


PENILAIAN MASALAH SENSORY INTEGRATION

        Masalah pada fungsi sensory integration yang dialami pada seorang anak, dapat
menimbulakn berbagai kesulitan dan dapat berakibat buruk pada kehidupan si anak dan
keluarganya. Seorang anak yang diduga mengalami masalah sensory integration, perlu
diperiksa dengan cermat. Hasil pemeriksaan akan menunjukan apakah dia mengalami
masalah sensory integration, dan bagaimana anak ini memproses berbagai informasi
sensorik.
        Pemeriksaan sensory integration terdiri dari test khusus dan observasi dari
respons anakterhadap stimulasi sensorik, keseimbangan dan postur tubuh, koordinasi
gerakan bagian-bagian tubuh, gerakan mata, keterampilan motorik kasar dan halus, juga
kemampuan praksis. Kadang-kadang perlu juga untuk melihat anak pada waktu bermain,
atau waktu belajar di sekolah. Selain itu orang tua perlu memberikan keterangan
mengenai perkembangan anak dan pola perilaku anak sehari-hari dan dalam situasi-
situasi tertentu. Pemeriksaan yang lengkap biasanya memerlukan waktu sekitar 1-2 jam.
Para orang tua sebaiknya menanyakan dimana pemeriksaan mendapatkan pendidikan
atau pelatihan mengenai masalah sensory integration ini.
        Hasil pemeriksaan sensory integration ini, kemudian dianalisa bersama-sama
dengan keterangan dari orang tua dan hasil pemeriksaan para ahli lainnya, seperti
psikologis, dokter neurolohis, psikiater, ahli pendidikan, dsb. Setelah melakukan analisa
tersebut, mungkin anak tersebut akan disarankan untuk mengikuti program terapi sensory
integration. Saran tersebut didasarkan atas beratnya masalah sensory integration, dan
hasil penelitian mengenai jenis kesulitan yang dapat ditanggulangi dengan pendekatan
terapi Sensory Integration.



TERAPY SENSORY INTEGRATION

        Bila berbagai pemeriksaan menunjukan bahwa masalah belajar dan perilaku dan
seorang anak sangat mungkin berkaitan dengan masalah sensory integration, maka
anak tsb : akan disarankan untuk mendapatkan terapi sensory integration. Dalam terapi
ini, anak akan dibimbing untuk melakukan berbagai aktifitas yang akan memberinya
berbagai input sensorik secara aktif. Terapi ini dirancang untuk memberikan
perangsangan vestibuler, propioseptif, taktil auditory, visual, dsb. sesuai dengan
kebutuhan individual anak. Dalam terapi ini, diusahakan agar anak tidak dapat
memberika reaksi yang baik terhadap perangsangan yang diberikan, secara otomatis. Jadi
dalam terapi ini anak tidak dituntut untuk memberikan suatu reaksi tertentu, melainkan
dibimbing sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan tingkat perkembangannya. Sedikit
demi sedikit, akan diberikan aktifitas yang lebih sulit, agar anak dapat mengembangkan
proses pengolahan informasi sensorik yang lebih baik, atau dengan perketaan lain
memperbaiki proses sensory integration-nya.
        Terapi sensory integration biasanya diberikan satu atau dua kali seminggu, tiap
kali kira-kira satu jam, tergantung dari kebutuhan anak dan tersedianya sarana terapi.
Lamanya terapi berkisar dari 6 bulan sampai 2 tahun. Kadang-kadang ada anak yang
memerlukan terapi secara periodik; misalnya 6-9 bulan, lalu diulangi lagi beberapa waktu
kemudian. dari waktu ke waktu para terapis selalu melakukan penilaian, atas kemajuan
anak dan keberhasilan terapi, sehingga dapat dinilai apakah terapi ini cocok untuk
kebutuhannya atau diperlukan cara pendekatannya. Kadang-kadang seorang anak perlu
mendapatkan terapi lain sementara sementara terapi sensory integration ini.
        Ruangan untuk melakukan terapi sensory integration, tampak seperti ruangan
tempat bermain, dan terapi ini tampak seperti suatu permainan saja. Menciptakan suasana
bermain pada waktu terapi sangat penting. Terapi sensory integration, tidak bermanfaat
apabila anak tidak terlibat secara aktif memproses input-input sensorik yang diberikan.
Maka berbagai input yang diberikan perlu dikemas sebagai suatu permainan yang dapat
menarik minat anak, agar dia mau mengikutinya secara aktif.
        Seorang terapis yang terampil akan menawarkan permainan yang dapat
mendorong anak-anak untuk melakukan berbagai aktifitas khusus yang penting dan
sesuai dengan kebutuhannya, untuk memperbaikai fungsi sensory integration pada
otaknya. Dengan bimbingan terapis, anak akan memperoleh berbagai perangsangan yang
tidak dapat dari aktifitas yang dilakukan mereka sehari-hari. Juga disini mereka akan
mendapatkan kepuasan dari keberhasilan mereka melakukan berbagai aktifitas yang
dirancang umtuk memberikan tantangan yang tepat.



HASIL DARI TERAPI SENSORY INTEGRATION

        Terapi sensory integration ini tidak menyembuhkan diagnosa medik utama seperti
ADHD, Autisme. dsb. akan tetapi terapi ini dapat memperbaiki fungsi otak anak-anak ini,
sehingga perilaku anak-anak tersebut jadi membaik dan lebih adaptif. Dengan demikian
gejala gangguan perilaku yang ditunjukan oleh anak-anak tersebut menjadi berkurang
hingga sangat mminimal. Sehingga terapi sensory integration ini berhasil, anak dapat
memproses berbagai informasi sensorik yang kompleks dengan lebih baik. Hal ini akan
memberikan pengaruh yang besar bagi kemampuan anak dalam melakukan berbagai
aktifitas sehari-hari.
        Anak-anak yang mempunyai masalah registrasi input sensorik, sulit memahami
hal-hal yang terjadi, karena otaknya dari waktu ke waktu tidak dapat meregister input
sensorik yang diterima oleh alat-alat inderanya. Dengan terapi sensory integration anak-
anak ini akan dibantu untuk dapat meregister, memproses dan memahami berbagai input
sensorik, sehingga dia akan lebih mengerti apa-apa yang terjadi di sekitarnya, dan
bagaimana dia harus memberikan reaksi yang sesuai. Pada anak-anak di bawah 3 tahun,
terapi sensory integration membuat mereka dapat melakukan eksplorasi dengan lebih
bermakna; baik dalam lingkungan fisik maupun terhadap lingkungan sosial. Hal ini
dimungkinkan karena dia jadi mampu melakukan analisa terhadap input-input sensorik
yang dihadapinya, dengan lebih tepat. Hal ini berkaitan pula denga masalah modulasi
yang sering disertai dengan masalah dalam memustakan perhatian. Setelah mengikuti
sensory integration, anak-anak yang perhatiannya mudah teralih dan sulit untuk
memusatkan perhatian akan menunjukan peningkatan kemampuan untuk memusatkan
perhatian. Maka dia lebih mampu menyimak , mencerna dan memahami hal-hal yang ada
disekitarnya.
        Perbaikan dalam koordinasi motorik, akan memperbaiki kemampuan motorik
anak. maka dia akan lebih terampil, baik dalam melakukan aktiftas yang mencakup
keterampilan motorik kasar maupun motorik halus. Anak yang mempunyai masalah
terlalu peka atau kurang peka terhadap suatu stimulasi sensorik, akan dapat bereaksi
dengan lebih baik. Hal ini akan menunjang kemampuan anak untuk menyesuaikan diri,
mengontrol emosinya, dan memperbesar rasa percaya dirinya.
        Setelah anak lebih mampu mengamati dan memahami lingkungannya, minat
untuk bersosialisasi akan timbul pula. Beberapa anak menimbulkan perkembangan
kemampuan berbahasa setelah terapi ini. Anak yang lain mungkin menunjukan perbaikan
dalam prestasi sekolahnya; karena adanya perbaikan dari sistem sensory integration,
maka otaknya jadi dapat menerima dan memproses berbagai input yang diterimanya
dengan lebih baik, sehingga dapat bekerja dengan lebih baik pula.
        Perlu diketahui, bahwa terapi sensory integration ini hanya merupakan sebagian
dari pendekatan terapi okupasi. Seorang terapis okupasi, berperan dalam mengevaluasi
dan memberi terapi, bila seseorang tidak dapat melakukan tugas sehari-hari dengan baik.
Pada anak-anak occupation untuk mereka mencakup : kemandirian, kemampuan untuk
mengikuti perkembangan anak, dan kemampuan untuk mendapatkan kegembiraan,
kepuasan dan pengembangan diri, dari aktifitas bermain, dan semua hal tersebut
diperhitungkan sesuai dengan umur anak yang bersangkutan. Maka beberapa pendekatan
lainnya dalam terapi okupasi, biasa pula disertakan dalam memberikan terapi sensory
integration pada anak-anak.




Daftar Kepustakaan :
1. Ayres A.J. (1997) : Sensory Integration and the child, Los Angles, Western
   Pshychological Services.
2. Fiher A.G. et. al. (1991) : Sensory Integration Theory and Practice, Philadelphia, F A
   Davies Company.
3. Gilberg C. (1995) : Clinical Child Neuropsychiatry, Cambridge, University Press
   Cambridge.
4. Koomar J. et. al (1999) : Making Sense of Sensory Integration, Colorado, Belle Curve
5. Parham L.D dan Malioux Z. (1996) dalam Pediatric Occupational Therapy, editor
   Case Smith J. et. al, St.Louis, Mosby-Year Book Inc.

								
To top