Dasar-dasar Perencanaan Partisipatif by klutzfu61

VIEWS: 10,396 PAGES: 16

									               DASAR-DASAR PERENCANAAN PARTISIPATIF


a. Macam-macam Perencanaan Partisipatif
           Mengingat sifat pengelolaan pembangunan desa itu meliputi banyak aspek dan
   memiliki keterkaitan dengan banyak pihak, maka tidak dapat dihindari bilamana metode
   perencanaan partisipatif yang diperkenalkan di tingkat desa juga banyak jenisnya.
   Diluncurkannya berbagai macam metode atau cara perencanaan partisipatif seperti itu sangat
   dipengaruhi oleh masing-masing pihak, baik instansi pemerintah maupun lembaga lainnya,
   sesuai dengan kepentingannya.
         Berbagai metode perencanaan partisipatif yang langsung melibatkan peran
   masyarakat, telah banyak dikenal. Berikut beberapa metode perencanaan partisipatif.
   1) Metode ZOPP, yakni perencanaan proyek yang berorientasi kepada tujuan.
      ZOOP, adalah singkatan dari kata-kata :
      -    Ziel, tujuan,
      -    Orienterte, berarti berorientasi,
      -    Projekt, berarti proyek, dan
      -    Planung, berarti perencanaan.
      Perencanaan partisipatif melalui metode ZOOP ini dilakukan dengan menggunakan
      empat alat kajian dalam rangka mengkaji keadaan desa.
      -    Kajian permasalahan; dimaksudkan untuk menyidik masalah-masalah yang terkait
           dengan suatu keadaan yang ingin diperbaiki melalui suatu proyek pembangunan.
      -    Kajian tujuan; untuk meneliti tujuan-tujuan yang dapat dicapai sebagai akibat dari
           pemecahan masalah-masalah tersebut.
      -    Kajian alternatif (pilihan-pilihan); untuk menetapkan pendekatan proyek yang paling
           memberi harapan untuk berhasil.
      -    Kajian peran; untuk mendata berbagai pihak (lembaga, kelompok masyarakat, dan
           sebagainya) yang terkait dengan proyek selanjutnya mengkaji kepentingan dan
           potensi.
            Melalui penggunaan alat kajian itu maka metode ZOPP bertujuan untuk
      mengembangkan rancangan proyek yang taat azas dalam suatu kerangka logis.
            Metode ZOPP, dalam penerapannya dapat dikenali dari ciri-ciri utamanya.
      Dibawah ini tertera ciri-ciri utama metode ZOPP.
      a)    Adanya kerja kelompok; bahwa perencanaan dilakukan oleh semua pihak yang
            terkait dengan proyek (mencirikan keterbukaan)
      b)    Adanya peragaan; pada setiap tahap dalam perencanaan direkam secara serentak
            dan lengkap serta dipaparkan agar semua pihak selalu mengetahui perkembangan
            perencanaan secara jelas (mencirikan keterbukaan).
   c)    Adanya kepemanduan; yakni kerjasama dalam penyusunan perencanaan diperlancar
         oleh orang atau sekelompok orang yang tidak terkait dengan proyek, tetapi
         membantu untuk mencapai mufakat (mencirikan kepemanduan)
         Perencanaan dengan metode ZOPP mempunyai kegunaan untuk meningkatkan
   kerjasama semua pihak yang terkait, mengetahui keadaan yang ingin diperbaiki melalui
   proyek, merumuskan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang
   diinginkan dan sebagai dasar pelaksanaan proyek.
          Mutu hasil perencanaan itu sangat tergantung pada informasi yang tersedia dan
   yang diberikan.


2) Metode Participatory Rural Appraisal (PRA); dimaksudkan sebagai metode
   pendekatan belajar tentang kondisi dan kehidupan pedesaan dari, dengan, dan oleh
   masyarakat desa sendiri. Pengertian belajar disini mempunyai arti luas, karena meliputi
   juga kegiatan mengkaji, merencanakan dan bertindak
           Tujuan utama dari metode PRA ini adalah untuk menghasilkan rancangan
   program yang lebih sesuai dengan hasrat dan keadaan masyarakat. Lebih dari itu, PRA
   juga bertujuan memberdayakan masyarakat, yakni dengan pengembangan kemampuan
   masyarakat dalam mengkaji keadaan mereka sendiri, kemudian melakukan perencanaan
   dan tindakan.
         Prinsip kerja metode PRA hampir sama dengan metode ZOPP. Dalam metode ini
   masyarakat juga dilibatkan secara langsung dalam tahap perencanaan dan pelaksanaan
   pembangunan, menggunakan alat kajian, dan adanya pemandu.
           Metode PRA tekanannya bukanlah pada kemampuan teknik-teknik PRA dalam
   partisipasi pengumpulan data, penggunaan alat kajian dan prinsip kepemanduan.
   Penekanannya justru pada proses belajar masyarakat dan tujuan praktis untuk
   pengembangan program. Sebab penerapan metode PRA adalah untuk mendorong
   masyarakat turut serta meningkatkan dan mengkaji pengetahuan mereka mengenai
   kehidupan dan kondisi mereka sendiri, agar mereka dapat menyusun rencana dan
   tindakan. Metode PRA juga bersifat terbuka untuk menerima cara-cara dan metode baru
   yang dianggap cocok.


3) Metode Rapid Rural Appraisal (RRA); merupakan metode yang digunakan sebagai
   langkah awal untuk memahami situasi setempat. Sebagai pelaksanaanya dilakukan oleh
   suatu tim dan dilaksanakan dalam waktu singkat, sekitar 4 hari sampai 3 minggu.
   Metode ini dilaksanakan dengan menggali informasi terhadap hal yang telah terjadi,
   kemudian mengamati dan melakukan wawancara langsung. Semua informasi tersebut
   diolah oleh tim untuk kemudian diumpanbalikkan kepada masyarakat sebagai dasar
   perencanaan.
            Metode RRA ini lebih berfungsi sebagai perencanaan dari penelitian lebih lanjut,
      atau sebagai pelengkap penelitian yang lain, atau sebagai kaji-tindak untuk
      menyelaraskan antara keinginan masyarakat dan penentu kebijakan.
              Berdasarkan pengalaman di lapangan selama ini, pada prinsipnya ketiga jenis
      metode perencanaan partisipasif tersebut, mempunyai tujuan yang sama, yakni
      memberdayakan masyarakat dan kelembagaan desa serta menumbuhkan partisipasi
      masyarakat. Dengan metode ini diharapkan sasaran-sasaran pembangunan desa lebih
      terarah dan berhasil guna. Namun, metode perencanaan partisipatif yang telah ada ini,
      kiranya perlu diramu sedemikian rupa dengan mendasarkan prinsip musyawarah gotong-
      royong yang telah hidup berurat-berakar di masyarakat pedesaan


b. Makna Perencanaan Partisipatif
           Kodrat bagi setiap orang, laki-laki maupun wanita, siapapun mereka, hakekatnya
   ingin diakui keberadaannya dan ingin dihargai kemampuann, harkat dan martabatnya. Dari
   kenyataan tersebut maka seluruh lapisan masyarakat perlu diajak berperanserta atau
   berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pembangunan.        Cara ini merupakan wujud
   penghargaan terhadap kemampuan, harkat dan martabat mereka.
          Jika kegiatan pembangunan itu selalu diawali dengan proses perencanaan, maka
   dengan sendirinya juga diperlukan suatu metode pendekatan perencanaan partisipatif.
   Metode atau cara yang dimaksud mensyaratkan masyarakat untuk diikutsertakan dalam
   proses perencanaan. Dengan demikian perencanaan yang dilakukan dapat lebih didasarkan
   pada kajian-kajian terhadap masalah yang mereka hadapi serta potensi yang tersedia di dalam
   masyarakat.
           Melalui metode perencanaan partisipatif diharapkan akan ada hubungan yang erat
   antara masyarakat dengan kelembagaan masyarakat secara terus menerus. Masyarakat diberi
   kesempatan untuk menyatakan masalah yang dihadapi dan gagasan-gagasan sebagai
   masukan untuk berlangsungnya proses perencanaan berdasarkan kemampuan warga
   masyarakat desa itu sendiri. Itulah makna perencanaan partisipatif, penghargaan terhadap
   partisipasi yang layak diberikannya.

          Dengan demikian, perencanaan partisipatif yang melibatkan seluruh warga
    masyarakat dalam pembangunan desanya, merupakan metode atau cara
    perencanaan yang memfungsikan kelembagaan masyarakat secara nyata di dalam
    menyusun perencanaan pembangunan. Dengan cara ini diharapkan masyarakat
    mau dan mampu melaksanakan, memelihara, dan menindak-lanjuti hasil-hasil
    pembangunan.

          Dengan berlangsungnya metode pendekatan perencanaan partisipatif tersebut
   diharapkan akan dapat menampung semua permasalahan dan potensi yang ada di desa.
   Dengan metode ini dapat diperoleh suatu gambaran umum mengenai keadaan dan situasi
   desa serta aspek-aspek kehidupan masyarakat yang perlu mendapat perhatian khusus dalam
   melaksanakan pembangunan di desa.
          Lebih lanjut, bilamana proses perencanaan partisipatif itu dapat berlangsung, maka
   diharapkan akan mampu meningkatkan peranserta masyarakat, yang berarti pula
   memberdayakan masyarakat dalam pembangunan desanya.


c. Unsur Yang Berpartisipasi
          Dalam perencanaan partisipatif, semua warga atau kelompok dalam masyarakat pada
   dasarnya berhak untuk berperan di dalamnya agar dapat mengungkapkan permasalahan dan
   kebutuhan mereka.
          Kemungkinan yang muncul dari perencanaan seperti itu adalah adanya masyarakat
   yang tidak mau mendukung dan tidak mau berpartisipasi dalam suatu program atau kegiatan
   pembangunan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal.
   1) Masyarakat tidak diikutsertakan sejak penyusunan perencanaan.
   2) Masyarakat kurang diberi kesempatan, peluang dan penghargaan terhadap partisipasi
      yang layak diberikannya.
   3) Pemeran atau pelaku partisipasi dicurigai akan mengambil keuntungan pada proses
      kegiatan pembangunan.
   4) Tingkat kehidupan dan penghidupan masyarakat yang terbatas, sehingga tidak mampu
      memberikan hasil yang diharapkan dalam pelaksanaan pembangunan.
   5) Tata nilai dan adat budaya masyarakat yang masih perlu dibenahi.
           Oleh karenanya, dengan metode pendekatan perencanaan partisipatif, masyarakat atau
   kelompok masyarakat diberi kesempatan untuk berperan aktif sebagai upaya mengangkat
   harkat dan martabatnya.


d. Ciri Khusus Perencanaan Partisipatif
          Ciri khusus perencanaan partisipatif dapat dilihat dari adanya peran serta masyarakat
   dalam proses pembangunan desa. Adapun ciri-ciri perencanaan partisipatif antara lain
   sebagai berikut :
   1) Adanya hubungan yang erat antara masyarakat dengan kelembagaan secara terus-
      menerus.
   2) Masyarakat atau kelompok masyarakat diberi kesempatan untuk menyatakan
      permasalahan yang dihadapi dan gagasan-gagasan sebagai masukan berharga.
   3) Proses berlangsungnya berdasarkan kemampuan warga masyarakat itu sendiri.
   4) Warga masyarakat berperan penting dalam setiap keputusan.
   5) Warga masyarakat mendapat manfaat dari hasil pelaksanaan perencanaan.
                ARTI, PELUANG DAN MANFAAT MANAJEMEN STRATEGIK



LATAR BELAKANG

Untuk merealisasikan suatu perencanaan yang baik perlu adanya dukungan dari aspek-aspek
pelaksanaan, pengawasan, struktur organisasi, sistem informasi dan komunikasi, motivasi, iklim
kerja, sistem penggajian dan budaya organisasi.
Kelemahan perencanaan strategik biasanya bersifat ritual dan mekanis, sifatnya rutin dan
sering berpegang pada asumsi-asumsi yang tidak realitis sehingga menyebabkan tidak
termonitornya pelaksanaan dan pengendalian dari rencana-rencana yang telah dibuat.


Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan perencanan strategik diatas maka pada tahun 1980-an
muncullah suatu model yang namanya Manajemen Strategik. Model ini mengkombinasikan pola
berpikir strategis dalam proses mamajemen. Segala sesuatu yang strategik tidak hanya
berhenti pada proses perencanaan saja tetapi juga dilanjutkan pada tingkat operasional dan
pengawasan.


Manajemen Strategik juga mencakup trend baru, yaitu:
1. Peralihan dari perencanaan menjadi keunggulan bersaing
   Pembuatan strategi lebih didasarkan pada konsep keunggulan bersaing yang memiliki lima
   karakteristik, yaitu:
   a. Kompetensi khusus
       Keunggulan bersaing merupakan hal khusus yang dimiliki atau dilakukan suatu
       organisasi yang memberinya kekuatan untuk menghadapi pesaing. Kompetensi ini bisa
       berwujud opini atau merek yang mempunyai persepsi kualitas tinggi. ( misalnya; opini:
       Pengelolaan administrasi yang rapi, terkenal bersih atau bebas KKN/Korupsi Kolusi
       Nepotisme, Tepat waktu. Merek: Coca cola, IBM, BMW, Mc Donald’s).


   b. Menciptakan persaingan tidak sempurna
       Dalam persaingan sempurna semua organisasi menghasilkan produk yang serupa
       sehingga bebas keluar masuk ke dalam pasar. Suatu organisasi dapat memperoleh
       keunggulan bersaing dengan menciptakan persaingan tidak sempurna yaitu dengan
       cara memberikan kualitas yang tinggi di aspek-aspek tertentu.




   c. Berkesinambungan
       Keunggulan bersaing harus bersifat berkesinambungan bukan sementara dan tidak
       mudah ditiru oleh para pesaing.


   d. Kesesuaian dengan lingkungan internal
       Keunggulan bersaing dapat diraih dengan menyesuaikan kebutuhan atau permintaan
       pasar. Karena lingkungan eksternal bisa berupa ancaman dan peluang, sehingga
       perubahan pasar dapat meningkatkan keunggulan atau kelemahan suatu organisasi.


   e. Keuntungan yang tinggi daripada keuntungan rata-rata
       Sasaran utama keunggulan bersaing adalah mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi
       daripada keuntungan rata-rata orrganisasi-organisasi lainnya


2. Peralihan dari Elitism menjadi Egalitarianism
   Berpikir strategik dalam Manajemen Strategik tidak hanya dilakukan oleh para kelompok elit
   perencana saja, tetapi juga ditanamkan kepada setiap anggota organisasi. Dalam
   Manajemen Strategik orang yang melakukan perencanaan adalah setiap pihak yang juga
   akan mengimplementasikan rencana tersebut.


3. Peralihan dari perhitungan (kalkulasi) menjadi kreativitas
   Dalam Manajemen Strategik, strategi-strateginya tidak hanya terfokus pada faktor-faktor
   yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur saja, tetapi juga mempertimbangkan perspektif
   yang lebih kualitatif. Strategi lebih banyak tergantung pada aspek perasaan (senses)
   daripada analisis sehingga dalampenyusunan strategi sangat diperlukan kreatifitas.


4. Peralihan dari sifat kaku menjadi fleksibel
   Manajemen strategik lebih bersifat lentur/fleksibel karena manggabungkan pandangan dan
   tindakan, menyeimbangkan pengendalian dan learning, serta mengelola stabilitas dan
   perubahan. Strategi yang dibangun merupakan strategi yag adaptif dan fleksibel dalam
   menghadapi perubahan dan kondisi pasar yang penuh ketidakpastian.




ARTI MANAJEMEN STRATEGIK
“Manajemen strategik adalah suatu seni dan ilmu dari pembuatan (formulating), penerapan
(implementing) dan evaluasi (evaluating0 keputusan-keputusan strategis antar fungsi-fungsi
yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai tujuan-tujuan masa datang.”
Dari definisi tersebut terdapat dua hal penting yang dapat disimpulkan, yaitu:
1. Manajemen Strategik terdiri atas tiga proses:
   a. Pembuatan Strategi, yang meliputi pengembnagan misi dan tujuan jangka panjang,
       mengidentifiksikan peluang dan ancaman dari luar serta kekuatan dan kelemahan
       organisasi, pengembangan alternatif-alternatif strategi dan penentuan strategi yang
       sesuai untuk diadopsi.
   b. Penerapan strategi meliputi penentuan sasaran-sasaran operasional tahunan, kebijakan
       organisasi, memotovasi anggota dan mengalokasikan sumber-sumber daya agar
       strategi yang telah ditetapkan dapat diimplementasikan.
   c. Evaluasi/Kontrol strategi, mencakup usaha-usaha untuk memonitor seluruh hasil-hasil
       dari pembuatan dan penerapan strategi, termasuk mengukur kinerja individu dan
       organisasi serta mengambil langkah-langkah perbaikan jika diperlukan.


2. Manajemen      Strategik     memfokuskan    pada    penyatuan/penggabungan    aspek-aspek
   pemasaran, riset dan pengembangan, keuangan/akuntansi, operasional/produksi dari
   sebuah organisasi.


Strategik selalu “memberikan sebuah keuntungan”, sehingga apabila proses manajemen yang
dilakukan oleh organisasi gagal menciptakan keuntungan bagi organisasi tersebut maka dapat
dikatakan proses manajemen tersebut bukan manajemen strategik.


PERBEDAAN STRATEGI DAN TAKTIK
Untuk memudahkan pengertian antara strategi dan taktik, kita bisa menggunakan kata tanya
“apa” dan “bagaimana”.
Jika kita akan memutuskan “apa” yang seharusnya kita lakukan maka kita akan memutuskan
suatu strategi. Jika kita akan memutuskan “bagaimana”        untuk mengerjakan sesuatu maka
itulah yang dinamakan taktik. Menurut Drucker, strategi adalah mengerjakan sesuatu yang
benar (doing the right things) dan taktik adalah mengerjakan sesuatu dengan benar (doing the
things right). Sedangkan menurut Karl Van Clausewits, strategi merupakan suatu seni
menggunakan pertempuran untuk memenangkan suatu perang, sedangkan taktik adalah seni
menggunakan tentara dalam sebuah pertempuran.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa taktik merupakan penjabaran operasional jangka pendek
dari strategi agar strategi tersebut dapat diterapkan. Karena strategi merupakan alat untuk
mencapai tujuan suatu organisasi, maka strategi memiliki beberapa sifat, yaitu :
    1. Menyatu (unified) : menyatukan seluruh bagian-bagian dalam organisasi.
    2. Menyeluruh (comprehensif): mencakup seluruh aspek dalam organisasi.
    3. Integral (integrated) : seluruh strategi akan cocok/sesuai untuk seluruh tingkatan
        (corporate, business and functional)




MANFAAT MANAJEMEN STRATEGIK
Dengan menggunakan manajemen strategik sebagai suatu kerangka kerja (frame work) untuk
menyelesaikan setiap masalah strategis di dalam organisasi terutama berkaitan dengan
persaingan, maka peran manajer diajak untuk berpikir lebih kreatif atau berpikir secara
strategik.
Pemecahan masalah dengan menghasilkan dan Mempertimbangkan lebih banyak alternatif
yang dibangun dari suatu analisa yang lebih teliti akan lebih menjanjikan suatu hasil yang
menguntungkan.
Ada bebarapa manfaat yang diperoleh organisasi jika mereka menerapkan manajemen
strategik, yaitu:
    1. Memberikan arah jangka panjang yang akan dituju.
    2. Membantu organisasi beradaptasi pada perubahan-perubahan yang terjadi.
    3. Membuat suatu organisasi menjadi lebih efektif
    4. Mengidentifikasikan keunggulan komparatif suatu organisasi dalam lingkungan yang
        semakin beresiko.
    5. Aktifitas pembuatan strategi akan mempertinggi kemampuan perusahaan untuk
        mencegah munculnya masalah di masa datang.
    6. Keterlibatan anggota organisasi dalam pembuatan strategi akan lebih memotivasi
        mereka pada tahap pelaksanaannya.
    7. Aktifitas yang tumpang tindih akan dikurangi
    8. Keengganan untuk berubah dari karyawan lama dapat dikurangi.




RESIKO MANAJEMEN STRATEGIK
Keterlibatan para manajer dalam proses perencanaanstrategik akan menimbulkan beberapa
resiloyang perlu diperhitungkan sebelum melakukan proses manajemen strategik, yaitu:
    1. Waktu yang digunakan para manajer dalam proses manajemen strategik uingkin
        mempunyai pengaruh negatif pada tanggung jawab operasional.
   2. Apabila para pembuat strategi tidak dilibatkan secara langsung dalam penerapannya
      maka mereka dapat mengelak tanggung jawab           pribadi untuk keputusan-keputusan
      yang diambil dalam proses perencanaan.
   3. Akan timbul kekecewan dari para bawahan yang berpartisipasi dalampenerapan strategi
      karena tidak tercap[ainya tujuan dan harapan mereka.


Untuk mengatasi resiko-resiko tersebut para manajer perlu dilatih mengamankan atau
memperkecil timbulnya resiko dengan cara:
   1. Melakukan penjadwalan kewajiban-kewajiban para manajer agar mereka dapat
      mengalokasikan waktu yang lebih efisien.
   2. Membatasi para manajer pada proses perencanaan untuk mebuat janji-janji mereka
      terhadap   kinerja   yang   benar-benar    dapat   dilaksananakan   oleh   mereka   dan
      bawahannya.
   3. Mengatisipasi dan menanggapi keinginan-keinginan bawahan, misalnya usulan atau
      peningkatan dalam ganjaran.
                             PERENCANAAN STRATEGIS DESA
                                      PERUMUSAN VISI


Pengertian:
      Mimpi desa ke depan yang dapat dipenuhi (diadakan), bukan fantasi
      Gambaran keberhasilan ideal bagaimana desa akan diarahkan untuk tahun-tahun
       mendatang.
      Mimpi keberhasilan tersebut didasarkan pada nilai-nilai yang diyakini desa
      Mimpi keberhasil;an mengarah langsung pada tujuan dasar desa
      Dilandasi kesejatian, kejujuran, kesungguhan dan keikhlasan.


Ciri-ciri Pernyataan Visi Yang Efektif:
      Mengilhami kerja-kerja desa
      Menjadi titik dasar desa bergerak ke depan
      Membantu mengarahkan kemana arah desa bekerja
      Membantu mengambil keputusan tentang apa yang akan dan tidak akan dilakukan desa
      Memungkinkan desa menyusun petunjuk kerja yang benar
      Membantu desa dalam menilai dan mengukur perkembangan dalam waktu yang
       panjang
      Rumusan singkat, tegas dan lugas
      Mudah dipahami siapapun


                                      PERUMUSAN MISI
Misi menggambarkan:
      Pandangan dasar desa dimana segala sumber daya dan gerak diorientasikan
      Apa yang akan digarap oleh desa . (mengapa desa perlu eksist)
      Siapa yang akan diuntungkan oleh kerja-kerja desa (siapa yang akan dilayani)
      Metode/kegiatan utama yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dasar.


Pernyataan Misi Yang Efektif:
      Dapat memberikan petunjuk
      Ringkas/singkat dan bermakna
      Mudah dipahami dan dapat dikomunikasikan kepada siapapun
      Mengandung motivasi dan membantu orang lain dapat memahami tujuan daar desa
      Mengidentifikasikan pada tujuan utama desa
      Mengekspresikan nilai-nilai/prinsip-prinsip desa.
Pertanyaan Diskusi:
      Mengapa desa perlu eksist?
      Siapa yang akan dilayani?
      Pelayanan apa yang kan dilakukan?
      Bagaimana pelayanan itu akan diberikan?


ANALISIS SWOT
Analisis SWOT adalah salah satu teknik analisis untuk mengkaji desa dalam suatu lingkungan
secara keseluruhan.
Untuk mengkaji suatu organisasi perlu dilakukan analisis dengan melihat faktor internal (yang
muncul dari dalam desa) dan faktor eksternal (yang ada atau datang dari luar desa).


Faktor-faktor internal yang dapat dianalisis yaitu:
      Kekuatan (Strengths) dan
      Kelemahan (Weaknesses)
Pertanyaan kunci untuk menganalisis faktor-faktor internal:
      Bagaimana kinerja desa selama ini? (penjelasan keberhasilan baik kuantitas maupun
       kualitasnya) (deskripsi dan penilaian)
      Sumber daya apa yang dimiliki dan dapat mendukung keberhasilan desa? (penjelasan
       kuantitas dan kualitas tentang tenaga kerja, tenaga alhi, relawan, dana, informasi,
       peralatan, jaringan kerja, pengalaman keberhasilan, perangkat dll) (deskripsi dan
       penilaian)
      Sistem manajemen, kebijakan dan strategi apa yang dijalankan untuk mendayagunakan
       sumber daya yang ada? (deslripsi dan penilaian)
      Apakah kekuatan-kekuatan yang dimiliki desa?
      Apakah kelemahan-kelamahan yang dimiliki desa?


Sedangkan faktor-faktor eksternal, yaitu:
      Peluang (Opportunities) dan
      Ancaman (Threats)
Pertanyaan kunci untuk menganalisis faktor-faktor eksternal:
      Apa kecenderungan umum mengenai situasi dan kondisi ekonomi, politik, budaya,
       lingkungan yang menjadi masalah daar?
      Apa akar penyebabnya? Termasuk kebijakan-kebijakan yang baik di tingkat lokal,
       nasional ataupun internasional yang mempengaruhi.
      Siapakah pelaku-pelaku yang turut mempengaruhi masalah tersebut?
      Adakah pengalaman yang berguna untuk mengatasi masalah tersebut baik pengalaman
       lokal, nasional maupun internasional?
      Apakah ancaman-ancaman (dampak negatif) yang ditimbulkan waktu lalu, sekarang dan
       masa mendatang?
      Apakah peluang-peluang (dampak pesitif) yang ditimbulkan pada waktu lalu, sekarang
       dan masa mendatang?


Contoh analisis SWOT:
1. Strengths (Kekuatan):
      Sumber daya keuangan yang memadai.
      Sumber daya manusia dengan keahlian yang tinggi
      Infrastruktur perdesaaan yang cukup lengkap
      Jumlah keanggotaan yang besar
      And lain-lain
2. Weaknesses (Kelemahan)
      Tidak memiliki arah perencanaan strategi yang jelas
      Penggunaan fasilitas administrasi yang kurang memadai
      Tidak mempunyai kompetensi manajerial yang baik
      Terbelakang dalam penelitian dan pengembangan
      Pelayanan kepada masyarakat masih kurang
      Dan lain-lain
3. Opportunities (Peluang)
      Mengembangkan program-program penguatan sumber daya manusia
      Banyak lembaga-lembaga yang siap untuk bekerja sama
      Melakukan diversifikasi program kegiatan (mengembangkan program yang berbeda dari
       yang sudah ada)
      Dan lain-lain
4. Threats (Ancaman)
      Pertumbuhan organisasi yang lamban
      Intervensi negatif terhadap lembaga.
      Turunnya dukungan anggota terhadap orgasisasi
      Setiap musim kemarau kekurangan air bersih
      Dan lian-lain.
MENENTUKAN STRATEGI-STRATEGI BERDASARKAN HASIL ANALISIS SWOT


Setelah hasil analisis SWOT dilakukan yang menghasilkan faktor-faktor internal (Kekuatan /
Strengths dan Kelamahan / Weaknesses ) dan eksternal ( Peluang / Opportunities dan
Ancaman / Threats ), maka berdasarkan hasil tersebut digunakan untuk menentukan strategi-
strategi, yaitu:
    1. Startegi SO dengan mengembangkan suatu strategi dalam memanfaatkan kekuatan (S)
        untuk mengambil manfaat dari peluang (O) yang ada.
    2. Strategi WO yaitu mengembangkan suatu strategi dalam memanfaatkan peluang (O)
        untuk mengatasi kelemahan (W) yang ada.
    3. Strategi ST yaitu dengan mengembangkan suatu strategi dalam memanfaatkana
        kekuatan (S) untuk menghindari ancaman (T).
    4. Strategi WT yaitu dengan mengembangkan suatu strategi dalam mengurangi
        kelemahan (W) dan menghindari ancaman (T).


    Berdasarkan hasil analisis faktor-faktor SWOT diatas ditetapkan strategi-strategi seperti di
    bawah ini:

         FAKTOR-                                                           (W) Weaknesses /
                                  (S) Strengths/Kekuatan.
 FAKTOR                                                                    Kelemahan

               INTERNAL


  FAKTOR-FAKTOR
    (O) Opportunities/
     EKSTERNAL                        Strategi SO:                    Strategi WO:
        Peluang                  mengembangkan     suatu        mengembangkan            suatu
                                 strategi             dalam     strategi                dalam
                                 memanfaatkan      kekuatan     memanfaatkan           peluang
                                 (S)    untuk    mengambil      (O)    untuk       mengatasi
                                 manfaat dari peluang (O)       kelemahan (W) yang ada.
                                 yang ada.
                                       Strategi ST:                   Strategi SO:
    (T) Threats/Ancaman
                                 mengembangkan    suatu         mengembangkan       suatu
                                 strategi        dalam          strategi dalam mengurangi
                                 memanfaatkana kekuatan         kelemahan      (W)    dan
                                 (S) untuk menghindari          menghindari ancaman (T).
                                 ancaman (T).
MERUMUSKAN ISU-ISU STRATEGIS:
Fokus utama atau pilihan kebijakan dasar yang akan dijalankan untuk mempengaruhi
perkembangan desa ke depan.


                                                        Apa pilihan kebijakan dasar?
                                 Isu
                                 Strategis                 Besar tidak pengaruhnya?

                    Goal/Tujuan             Indikato
Apa fokus
                    Strategis                                Kondisi yang harus ada
utama yang
akan dituju?
                                            r                dan sungguh penting?

                                                          Bisa tidak kita melakukan?
 Tepat tidak momentumnya?




Pertanyaan Diskusi:
      Apakah pilihan-pilihan kebijakan mendasar (eksternal dan internal) yang kan dilakukan
       tahun-tahun mendatang?
      Apakah goal/tujuan strategis masing-masing pilihan kebijakan?
      Apakah indikator keberhasilan masing-masing pilihan kebijakan?


Yang harus diperhatikan:
      Apakah pilihan kebijakan tresebut mamiliki dampak positif yang luas bila dilakukan?
       Demikian sebaliknya.
      Apakah pilihan kebijakan tersebut bisa menjadi landasan/tahapan untuk memperluas
       pengaruh dimasa-masa mendatang?
      Apakah pilihan kebijakan tersebut memiliki dasar-dasar pengalaman (pengetahuan,
       informasi, jaringan kerja) sehingga organisasi benar-benar mampu melakukannya?
      Apak pilihan kebijakan tersebut memungkinkan dilakukan dan tepat momentumnya?


MENYUSUN STRATEGI ORGANISASI
Gambaran tahapan/langkah di titik mana kita sekarang dan darimana tindakan harus dimulai
untuk mencapai perkembangan dimasa mendatang.
Berisi rumusan tujuan spesifik, hasil yang akan dicapai dan program yang dilakukan untuk
mencapai tujuan.
                           Tujuan Spesifik




              Hasil yang                     Program yang akan
              diharapkan                     dilakuakan




Pertanyaan Diskusi:
       Apakah tujuan-tujuan spesifik yang harus ditetapkan untuk mengantarkan tercapainya
        tujuan strategis (goal)?
       Apakah hsil konkrit yang diharapkan untuk masing-masing tujuan tersebut yang
        menggambarkan terciptanya kondisi baru?
       Apakah bentuk kegiatan (progra) yang harus dilakukan?

       Catatan: Setiap pilihan strategi harus menunjukkan kerangka logis dan
       mengarah pada pencapaiangoal, visi, misi dan tujuan dasar organisasi.



Skema strategi:
RENCANA KERJA
Uraian detail yang menjabarkan setiap strategi-strategi kedalam tindakan-tindakan praktis



                                    Apa, Siapa,
                Rencana             Kapan, Output,
                 Kerja              Indikator
                                    keberhasilan,
                                    Asumsinya


     Catatan: Rencana kerja untuk menetapkan tujuan seharusnya SMART:
         Specific (Spesifik)
         Measurable (Dapat diukur)
         Achievable (Dapat dicapai)
         Realistic (Dapat dimengerti)
         Time Bond (Jelas batas waktunya)

								
To top