Melakukan Riset Tentang Hukum Islam di Dua Negara Beberapa
Document Sample


Melakukan Riset Tentang Hukum Islam di Dua Negara:
Beberapa Catatan Penghampiran1
Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad2
Mahasiswa La Trobe University, Melbourne, Australia
Peneliti Aceh Justice Resource Centre, Banda Aceh
***
Satu hari ketika saya menemukan banyaknya kajian studi Islam atapun hukum
Islam di perpustakaan pribadi yang selalu selalu melakukan penelitian melalui cara
studi kawasan (area studies). Model kajian seperti ini memang sudah begitu lama
berkembang dalam ilmu-ilmu social, seperti kajian sosiologi dan anthropologi. Saya
kemudian terpaku pada karya-karya M.B. Hooker, dimana dia sudah memulai
mengkaji hukum Islam dalam konteks Asia Tenggara. Buku-bukunya kemudian
banyak dirujuk, sehingga tidak ada kajian hukum Islam yang tidak merujuk pada
tulisan Hooker. Karya terbaru yang agak serius dalam melakukan riset hukum Islam
yaitu Khairuddin Nasution, dimana dia menulis disertasi studi terhadap kedudukan
perempuan di Asia Tenggara.
Setelah membaca karya tersebut, pada tahun 2004, saya benar-benar teringat
bahwa di Malaysia sedang hangat-hangatnya membicarakan tentang isu hukum Islam.
Pada saat yang sama, saya juga teringat Aceh ketika begitu gencar-gencarnya promosi
Syari’at Islam. Lebih dari tiga tahun saya berada di Malaysia, walaupun belum pernah
ke Kelantan, namun buku dan tulisan tentang pemberlakuan hukum Islam di Kelantan,
Aceh Research Training
1Makalah disampaikan dalam Pelatihan Metodologi Penelitian ARTI
Insititute Tahap II, Unsyiah, 4 – 15 Februari 2008 di Kantor ARTI/PLPISB Unsyiah –Darussalam, Banda Aceh.
2Penulis adalah Mahasiswa La Trobe University, Melbourne Australia. ruzza_170978@yahoo.com.au
selalu saya kumpulkan. Sebab, suatu hari saya berniat untuk melakukan riset tentang
hukum Islam. Pada saat yang sama, saya pun mengumpulkan bahan-bahan tentang isu
hukum Islam. Sehingga, perpustakaan saya, penuh dengan buku sejarah Aceh, konflik
Aceh, dan karya-karya tentang Aceh dalam bahasa Inggris. Namun, sebelum saya
melangkah lebih jauh, saya kemudian menulis satu artikel tentang Kontribusi Aceh dalam
Perkembangan Hukum Islam di Indonesia yang diterbitkan oleh jurnal Al-Jami’ah (1999)
yang seterusnya dimuat dalam buku saya Islam Historis (2002). Pada saat sama, saya
pun kembali meminat kajian Asia Tenggara, dengan lebih melihat isu-isu terorisme dan
radikalisme. Sehingga data yang awalnay saya ingin buat penelitian tentang hukum
Islam, malah menghasilkan beberapa buku dan artikel saya pada tahun-tahun
berikutnya. Disamping itu, niat saya mencari duit, karena persoalan keuangan pun
semakin meningkat. Sehingga, selama tahun 2001-2002, saya mencari informasi
sebanyak mungkin bagaimana caranya menulis proposal dan ‘menjualnya’ ke lembaga-
lembaga yang mendanai penelitian. Makalah singkat ini, ingin menceritakan
pengalaman pribadi saya yang memulai karir sebagai peneliti lepas hingga saya
terdampar di beberapa Negara di Asia Tenggara. Jadi, pengalaman ini adalah murni
pengalaman pribadi, dan tanpa saya sadari, ternyata menjadi pengalaman akademik
yang cukup membingungkan jika misalnya ada pertanyaan: dimana kamu bekerja?
Siapa yang membayar kamu? Bagaimana kamu bisa di Thailand Selatan? Mengapa
kamu bisa sekolah di Australia? Kepada siapa kamu bekerja. Inilah sekian pertanyaan
yang saya terima setelah 5 tahun bekerja di belakangan computer mengutak-atik
bacaan tentang Asia Tenggara.
***
Latar belakangan keilmuan saya adalah Fakultas Syari’ah dengan jurusan
Perbandingan Mazhab dan Hukum. Jadi, sejak awal saya lebih banyak dididik untuk
melakukan perbandingan pemikiran hukum. Sehingga dalam melakukan
perbandingan ini, satu aspek yang selalu ditekankan adalah kekritisan dan selalu
melakukan kritik terhadap apa yang dibaca. Sehingga nalar yang terpikirkan dan nalar
tak terpikirkan – mengutip bahasa Mohammed Arkoun – menjadi sangat penting. Inti
dari pemikiran ini sesungguhnya menciptakan satu acuan berpikir bahwa sesuatu yang
menjadi konsep berpikir sesungguhnya tidak boleh diabaikan sama sekali. Dalam
melakukan riset pun, kami selalu diarah untuk meneliti dua kasus yang berlainan,
selain untuk mencari persamaan dan perbedaan, juga diajak untuk melihat satu kasus
dari berbagai cara pandang. Pengalaman inilah kemudian yang mengantarkan saya
untuk menulis skripsi tentang Mohammad Natsir dan Abu al-A’la al-Maududi yang
kemudian diterbitkan pada tahun 2001. Skripsi ini kemudian sering dijadikan sebagai
ajuan oleh dosen dan mahasiswa ketika mereka melakukan penelitian. Langkah awal
ketika saya meneliti model ini adalah dengan membaca karya Yusril Ihza Mahendra
dimana dia mengupas secara sistematik tentang perkembangan partai Masyumi yang
dilihat sebagai representasi Modernis dan Partai Jama’ati-i-Islami sebagai wakil
Fundamentalisme. Kerangka yang dibangun oleh Yusril ini memang cukup menarik,
sebab dia seperti memegang pembaca dan menggirin dalam dunia penelitian yang
sudah dia lakukan. Sehingga salah satu buku yang habis saya baca adalah karya Yusril.
Disamping tulisan Yusril, buku lain yang cukup menarik untuk melihat perbandingan
dan analisa pemikiran adalah karya Greg Barton yang merupakan disertasinya yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1999. Untuk memperkuat
pemahaman saya terhadap isu-isu perbandingan, maka buku lain yang saya terpesona
adalah Azyumardi Azra, dimana dalam buku saya terakhir, Wajah Baru Islam di
Indonesia (2004), bagaimana keunikan kehidupan dia, khususnya ketika dia menulis
disertasi tentang Sejarah Sosial Pemikiran Reformisme Islam dengan diwakili oleh tiga
pemikir besar yaitu Nurdin Ar-Raniry, Abdur Rauf al-Singkili, dan Yusuf al-Makassari.
Saat membaca buku dia, saya pun kemudian bertemu dengan tulisan Naquib Al-Attas
tentang dunia Melayu, ketika mengupas beberapa aspek pemikiran Nurdin Ar-Raniri.
Tamasya intelektual ini saya lakukan tanpa ada yang menyuruh dan memaksa.
Sehingga keasyikan inilah yang membuat saya punya modal, ketika saya menulis
proposal penelitian. Artinya, saya tidak ingin menulis satu proposal, jika saya belum
memahami betul duduk perkara yang akan saya teliti. Pengalaman inilah yang
menyebabkan saya untuk tertarik melakukan penelitian demi penelitian selanjutnya
memakai kerangka perbandingan, namun masih dalam koridor hukum Islam. Ada
beberapa buku atau tulisan ketika hendak melakukan penelitian ini, seperti saya
bertemu dengan tulisan Hooker, Tim Lindsey, Greg Fealy, Atho Mudzhar, dan juga
beberapa tulisan sarjana terkemuka seperti Wael B. Hallaq, David S. Power, Elizabeth
Mayer, Schacht, Goldziher. Modal yang sedikit inilah kemudian yang menyebabkan
saya untuk menulis proposal untuk membandingkan dua Negara, termasuk beberapa
penelitian dan proyek workshop yang belakangan saya kembangkan.
***
Tahap menyusun proposal adalah tahap yang paling menegangkan, bagi sebuah
penelitian yang melibatkan dua Negara. Sebab, ketika menulis proposal, harus
dipastikan bahwa persoalan yang akan diteliti adalah benar-benar dikuasai secara
mendetail, sehingga ketika tahap penyusunan proposal, saya menganggap seperti
sedang melamar seorang gadis yang masih perawan. Jadi, proposal saya harus
mewakili keinginan saya untuk menarik hati si gadis pujaan saya. Sehingga, bahasa
yang saya gunakan adalah bahasa yang sangat sederhana, agar mudah dipahami oleh
para pembacara. Kemudian, saya juga melakukan kajian pustaka terhadap kajian apa
saja yang telah dilakukan dalam prospek penelitian saya ini. Lalu, saya juga melihat
metode apa yang paling menarik untuk melakukan penelitian komparasi. Sehingga
sebelum menulis proposal, biasanya saya menghabiskan waktu selama 4-5 bulan
melakukan penelitian kecil-kecilan secara pribadi, untuk melihat sejauh mana sudah isu
ini berkembang dalam tingkat Asia Tenggara. Siapa yang paling banyak mendapat
duit, dengan isu ini. Bagaimana dia menyusun proposal, sehingga funding tertarik
dengan proposal dia. Kemudian, saya juga membaca proposal-proposal yang gagal,
supaya saya bisa tahu bagaimana menampilkan kelebihan proposal saya. Sehingga,
bagi saya, sebagaimana ditegaskan di atas, melamar seorang gadis, tentu kita harus
punya kelebihan dibandingkan dengan calon lainnya.
Jadi, saya sarankan sebelum menulis atau mengkaji satu penelitian, alangkah
baiknya untuk melakukan studi pendahuluan dan betul-betul menguasai bagaimana
menulis proposal dengan baik. Dalam hal ini, factor bahasa menjadi hal yang cukup
sensitive, sebab proposal saya akan dibaca oleh mereka yang tidak mengerti bahasa
Indonesia. Karena itu, salah satu strategi yang saya lakukan adalah lebih menekankan
pada substansi ide yang harus saya jelaskan. Apa sebenarnya yang ingin dituju dari
proposal saya ini. Kemudian apakah bahasanya sudah cukup sederhana. Banyak orang
yang menyuruh untuk membaca proposal kepada orang lain, namun tidak saya
lakukan, mengingat kadang si pembaca malah menjadikan proposal ini menjadi
‘miliknya.’
Salah satu strategi lain yang saya lakukan adalah dengan membuat bank
proposal sebanyak mungkin. Ini adalah dalam rangka jika setiap ada ‘call for proposal’
atau ‘call for abstract’ saya sudah siap dengan proposal berikut dengan data-data yang
diperlukan. Dalam hal ini, tidak sedikit yang mengatakan bahwa mengirim proposal
ibarat seperti mengail ikan dalam sebuah kolam atau sungai. Jadi, kegagalan adalah hal
yang sudah lumrah. Namun keberhasilan adalah satu spirit tersendiri. Jadi selama saya
menyusun proposal, saya selalu mengirimnya, walaupun kadangkala saya harus
ditolak, karena proposal jelek sekali, belum doktor, atau berasal dari Negara
berkembang, tidak punya kawan sebagai satu tim, dan tidak memiliki lembaga sendiri.
Karena itu, suka duka menulis proposal dan mengirimnya adalah hal yang
memberikan kesan tersendiri, bagi saya, ketika misalnya menemukan bahwa AMAN
membuka peluang peneliti muda untuk melakukan pengkajian Islam di Asia Tenggara.
Sampai sekarang ada beberapa proposal yang sudah diterima seperti proposal
untuk AMAN dimana saya memperoleh biaya penelitian beberapa ribu dollar.
Demikian pula, proposal untuk API dimana saya diberikan biaya siswa penelitian di
Malaysia selama 4 bulan. Ada juga proposal lain yang juga saya buat dengan kawan
karib untuk membuat konferensi internasional atau workshop untuk tingkat Eropa dan
Asia Tenggara yang didanai oleh Asia Europe Foundation, The Japan Foundation, The
Rockefeller Foundation, Kedutaan Belanda di Bangkok, dan beberapa lembaga riset di
Thailand. Semua proposal ini saya lakukan dengan metode komparasi atau studi
kawasan untuk isu tertentu. Disamping itu, sebagai dosen di Walailak University, saya
juga pernah mendapatkan kesempatan melakukan penelitian di Malaysia dan juga dari
The Thailand Research Council, semacam lembaga bergengsi di Thailand.
Dalam menyusun proposal, salah satu hal yang cukup penting adalah mengikuti
petunjuk atau disebuat guidelines. Saran saya adalah jangan pernah menulis proposal
diluar petunjuk yang diinginkan oleh calon pemberi dana. Kesan saya, setiap lembaga
asing pasti menerima ratusan bahkan ribuan proposal penelitian setiap tahun. Jadi
mereka akan mereview hal-hal yang menjadi tujuan atau isi dari petunjuk pembuatan
proposal tersebut. Pengalaman di AMAN, pada tahun 2006, saya menemukan lebih
dari 70 proposal yang masuk yang diseleksi oleh komite regional. Mereka harus
menyaring untuk memilih lima yang terbaik. Kebetulan, saya sempat melihat proposal
tersebut, hampir semuanya sangat bagus dan ditulis secara baik oleh calonnya, namun
mereka kadang ‘terlalu bagus’ menulis, namun tidak mengikuti petunjuk atau tujuan
yang diinginkan oleh calon donor.
Ada juga strategi lain yang diwajibkan ketika menulis proposal yaitu partner
atau institusi yang akan menjadi tuan rumah (host) ketika kita meneliti. Dalam hal ini,
saya lebih menyarankan untuk mencari partner yang sudah diakusi reputasinya secara
internasional, sehingga fundings dapat melihat langsung kualitas calon dan jaringan
yang dimilikinya. Ketika saya melakukan penelitian, sarjana di kawasan Asia Tenggara
yang terkemukan saya dekati melalui pertemuan dalam beberapa forum internasional
atau karena ada perjumpaan yang tidak disengaja. Mereka akhir menjadi mitra saya
ketika saya memerlukan mereka untuk memberikan bantuan sebagai patner dalam
proyek penelitian saya. Jadi model mencari jaringan adalah salah satu strategi yang
cukup penting dalam melakukan penelitian antar Negara.
Hal lain yang cukup penting dalam menulis atau mempersiapkan proposal
adalah menyusun budget secara realistic dan tidak ‘mengada-ada.’ Banyak mereka
yang gagal dalam melakukan penelitian komparasi karena menulis budget diluar
dugaan, sehingga donor memandang ini tidak realistic. Akibatnya ditolak dan kadang
malah dianggap berlebihan. Donor dalam setiap program mereka telah melakukan
semacam need assessment untuk budget penelitian. Untuk ukuran Asia Tenggara, uang
5000 dollar adalah tidak banyak, namun cukup untuk melakukan penelitian di salah
satu Negara. Namun, ada juga donor yang memberikan puluhan ribu dollar untuk satu
proyek, untuk membuat si peneliti merasa ‘nyaman’ selama di lapangan. Selain uang
riset, mereka juga diberikan asuransi kesehatan yang menjadi hal yang cukup penting
dalam melakukan penelitian komparasi. Jadi, saran saya sebelum melakukan penelitian
di luar negeri, hendaklah si peneliti menanyakan atau mencari informasi harga-harga
tiket, akomodasi, living allowance dan sebagainya. Karena setelah menyusun budget,
ada isu lain yang cukup penting yaitu justifikasi budget, dimana setiap angka yang
ditulis harus diberikan alasan. Pengalaman saya, ada dana yang hendak dibatalkan
untuk diberikan kepada salah satu proyek penelitian saya, namun karena saya mampu
memberikan alasannya, maka dana tersebut berhasil saya dapatkan. Jadi, saran saya
adalah bagaimana anda menulis budget dalam wajah yang cukup realistic dan tidak
terlalu fantastik. Trik yang mungkin dilakukan adalah dengan rajin bertanyan pada
peserta sebelumnya bagaimana budget. Sebab kadang kala lembaga asing tidak
memberikan batas yang wajar, namun mereka punya standar yang menjadi rujukan,
sehingga, salah satu cara lain adalah membandingkan petunjuk antara masing-masing
funding yang mendanai penelitian komparasi.
Setelah proposal siap, maka tempatkankan dalam satu folder di computer anda,
supaya siap jual. Trik-trik di atas adalah hanya sekelumit pengalaman pribadi saya,
yang mungkin tidak bermanfaat. Namun yang paling pasti adalah anda betul-betul
mempersiapkan proposal dan belajar menulis proposal selama berbulan-bulan. Karena
itu, saran saya adalah jangan pernah putus asa dengan kegagalan ketika memasukkan
proposal penelitian. Pengalaman saya mungkin telah begitu banyak ditolak dan bahkan
tidak pernah mendapat respon dari lembaga donor, tentu dengan berbagai alasan di
atas, namun saya tetap yakin suatu saat pasti proposal saya ini bermanfaat. Makanya,
ketika saya mengetahui proposal saya ditolak, maka saya langsung merevisi dengan
memulai pada tahap awal lagi, dimana mungkin penelitian saya sudah pernah
dilakukan atau didanai oleh lembaga lain, sehingga mereka menolak proposal saya.
***
Di dunia ini, kalau ingin menjadi peneliti terkenal, maka rajin-rajin lah mengaji di
depan google atau sering jalan-jalan ke berbagai pusat penelitian. Sebab lalulintas uang
selalu bersumber pada dua hal tersebut. Bagi saya, google sudah menjadi ‘Tuhan’
nomor dua, dalam dunia ini, sebab hampir semua berita bisa diperoleh.
Trik mencari fundings: Pertama, salah satu persoalan yang paling mendasar adalah
mengamati situasi global, terutama jika ada perubahan scenario global setiap 10-15
tahun sekali. Lembaga-lembaga donor, apapun nama dan asal uang mereka, selalu
menjadi perantara kepentingan global. Kita ambil contoh, penelitian tentang Khomeini
dan Revolusi Iran, begitu mencuat sejak awal tahun 1980-an. Lembaga yang meneliti
tentang budaya dan sub-kultur menjadi satu trend begitu menggema sejak paska-2001.
Awal tahun ini, penelitian demi penelitian yang mengarah pada kajian Cina dan India,
sudah menunjukkan tanda-tanda ke permukaan. Jadi, ketika anda menyusun proposal,
khususnya yang terkait dengan penelitian antar bangsa, usahakan untuk mengaitkan
dengan isu global yang sedang berkembang.
Kedua, Funding yang baik adalah funding yang mendanai peneliti pemula, dimana
mereka ingin menciptakan satu jaringan dan jalinan di satu kawasan. Dia Asia
Tenggara, misalnya, ada AMAN yang didanai oleh Rockeffeler Foundation; API (Asia
Public Intellectual) yang didanai oleh The Nippon Foundation, dan Asian Scholar
Foundation yang dibiayai oleh Ford Foundation. Kebanyakan dari agenda kerja
funding ini adalah mendanai riset yang dilakukan oleh peneliti pemula antar bangsa.
Contoh lain yang selalu menjadi rebutan adalah SEASREP yang dibiayai oleh The
Toyota Foundation. Menurut kawan yang mengelola dana-dana tersebut, setiap tahun,
proposal yang paling banyak masuk adalah proposal yang berasal dari Indonesia,
khususnya Jakarta dan Yogyakarta. Jadi, pada intinya lembaga-lembaga ini kemudian
mewajibkan para peneliti untuk melakukan studi perbandingan. Namun orang
Indonesia selalu menjadi barisan pertama yang menjadi pengirim proposal yang
terbanyak.
Ketiga, usahakan membuat daftar funding dan deadline mereka, sehingga anda
punya waktu untuk menyusun proposal atau setidaknya untuk ikut ronde selanjutnya.
Harus diakui untuk tingkat Asia Tenggara, program penelitian antar bangsa selalu
dibuka setiap tahun. Jadi, janganlan ‘menanam lada, ketika pesawat baru sampai.’
***
Ketika proposal anda diterima, maka harus dipikirkan beberapa isu penting
yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya ketika saya menulis proposal.
Misalnya, saya harus mendapatkan izin melakukan penelitian di satu Negara atau visa
tertentu. Pengalaman di Malaysia, untuk mengurus izin penelitian, diperlukan waktu 6
bulan lebih dan kadang kala menguras tenaga, emosi dan uang yang tidak sedikit. Jadi
usahakan untuk konteks Malaysia anda harus betul hapal bagaimana sirkulasi
pendaftaran visa dan permit lainnya. Masing-masing Negara punya aturan tersendiri,
bahkan untuk riset yang cukup sensitive, maka izin tidak didapatkan sama sekali. Ada
pengalaman saya ketika beberapa kali melakukan penelitian di Malaysia, izin hanya
diberikan pada beberapa negeri tertentu. Karena itu, kadang saya tidak dibolehkan
untuk melakukan di tempat yang kita inginkan. Bahkan ada kawan yang mendapatkan
dana sekian besar, namun penelitiannya terpaksa digagalkan, karena dia tidak bisa
mendapatkan izin dari pemerintah. Ada isu seperti terorisme dan isu perbatasan yang
selalu sulit sekali untuk mendapatkan izin. Kadang lembaga partner sudah siap, namun
aspek keamanan menjadi hal lain yang tidak pernah terbayangkan oleh kita. Jadi cara
yang paling aman adalah mengikuti semua aturan dan sedikit melakukan zig zag.
Ada juga isu yang cukup menarik yaitu kepada siapa saya harus bertanyan dan
dimana saya harus memulai untuk melakukan riset. Proses ini kadang kala
membutuhkan waktu yang berbulan-bulan, terlebih bagi mereka yang melakukan
penelitian ethnograpi. Isu ini juga ditambah dengan persoalan dimana kita harus
tinggal dan siapa yang harus kita percayai selama penelitian. Jadi, janganlah
memandang bahwa begitu mendapatkan uang penelitian, maka semuanya akan
berjalan dengan mulus. Pengalaman saya misalnya, untuk melakukan penelitian di
Malaysia, saya harus menghubungi partner di salah satu kampur ternama disana.
Setelah itu, saya harus melakukan revisi proposal supaya isu-isu sensitive tidak ada
didalamnya. Kemudian, saya harus melakukan hal-hal lain yang bersifat administrative
sehingga ini semua kadang kala menyulitkan sekali.
Ketika saya ke lapangan, saya menghubungi beberapa kawan di kampus
Universitas Malaya untuk mengatakan bahwa saya sedang melakukan penelitian.
Mereka lalu memberikan kontak person di Kelantan dan siapa saja yang harus
dihubungi. Lalu saya juga sempat ke kantor PAS untuk bertanya beberapa isu penting
yang menjadi perhatian dalam proyek penelitian saya. Dalam melakukan hal ini,
komunikasi atau gaya bertutur menjadi sangat penting. Untuk hal yang pertama saya
lakukan selama satu bulan adalah melakukan studi kepustakaan tentang isu yang saya
teliti serta mewawancarai beberapa orang yang menjadi informan saya. Bagi saya, ke
Kelantan adalah hal yang cukup penting, namun aspek keamanan dan izin riset adalah
hal lain yang perlu saya perhatikan. Karena itu, akses pada informasi adalah hal yang
paling urgen. Saya tidak banyak menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, namun setiap
hari mencari dan memburu data yang saya perlukan.
Hingga disini penelitian saya memang harus bertarung dengan waktu, karena
waktu dan kesibukan lain yang cukup menyita. Akhirnya untuk menyelamatkan waktu
yang tersisa saya pun akhir menulis setiap apa yang temui di lapangan, sebab dari cara
ini saya bisa membuat laporan tengah dan akhir. Ini karena menyangkut dengan
pengiriman dana penelitian yang dikirim secara bertahap-tahap, sehingga jika peneliti
tidak memiliki perkembangan yang cukup signifikan, maka funding akan
membatalkan transferan uang berikutnya. Karena itu, melakukan penelitian dengan
lembaga asing adalah bagaimana memberikan komitmen kepada mereka, setelah
mereka memberikan uang. Jadi belajar dari komitmen inilah yang membuat saya sangat
serius ketika saya melakukan penelitian di Kelantan dan Aceh.
Saya memulai dengan menulis sejarah kedua negeri ini, dengan melihat
persamaan dan perbedaan sejarah. Serta beberapa isu-isu penting yang mencuat,
seperti administrasi hukum Islam di kedua negeri ini, menjadi perhatian saya ketika
menulis laporan. Demikian pula, saya melihat aspek social dan politik yang mengitari
isu hukum Islam. Perbandingan ini kemudian menghasilkan satu laporan yang akan
diterbitkan Silkworm di Thailand. Analisa dan kesimpulan agaknya bukanlah yang
paling penting, namun inilah yang saya ingin tekankan ketika menulis laporan. Apakah
kita mampu menguasai masalah dan bisa menjawab setiap persoalan yang diangkat
dalam tulisan tersebut. Jadi saya berusaha untuk menulis laporan secara total dan mau
membuat asal-asalan. Karena itu, beberapa bagian dari isi penelitian ini kemudian saya
presentasikan. Bahkan untuk menulis laporan akhir, saya mendapat kesempatan untuk
melakukan visiting research di Walailak University, Thailand, dimana pada beberapa
bulan berikutnya saya menjadi dosen disana. Jadi inilah berkah tersembunyi dari awak
kegiatan akademik saya yang kemudian saya terdampar di Melbourne untuk studi
program S3.
***
Akhirnya, makalah ini hanya sebagai pengantar yang mungkin masih jauh dari
harapan peserta ini. Namun sedikit pengalaman saya ini akan menjadi catatan awal
bahwa untuk melakukan penelitian komparasi, apalagi dua negara, ternyata begitu
panjang prosesnya. Paparan di atas, mulai kegiatan saya mencari bahan, duit, informasi
tentang bagaimana melakukan prosedur izin, serta akibat dari penelitian tersebut,
agaknya menjadi semacam masukan awal peserta dan pembaca untuk memikirkan
harus memulai darimana proses tersebut, termasuk dengan melihat kelebihan dan
kelemahan kita masing-masing dalam melakukan penelitian komparasi ini.
Darussalam, 14 Februari 2008
Related docs
Get documents about "