Jiwa Manusia dan Potensi-potensi yang dimilikinya (Tinjauan Tasawuf) by klutzfu51

VIEWS: 3,193 PAGES: 17

									            Jiwa Manusia dan Potensi-potensi yang dimilikinya
                               (Tinjauan Tasawuf)
                                    By : M.Subekhi


Muqadimah


       Tuhan menciptakan jiwa sebelum benda materi. Jiwa berada di dunia yang lebih
halus. Sebuah dunia yang lebih dekat dengan Tuhan. Disini sejatinya tidak ada tabir
antara jiwa dengan Tuhan. Manusia telah wujud selama satu millenium lebih di dunia
yang halus, duduk di dekat kaki Tuhan, bermandikan cahaya Tuhan dan Tuhan bertanya
kepada jiwa, "Apakah Aku Tuhan Kalian?" Suara Tuhan menjadi akar dari semua
musik yang menyentuh hati, menyemangati dan membahagiakan jiwa. Jiwa mengetahui
bahwa Tuhan telah menciptakan mereka. Mereka selaras dengan kehendak tuhan dan
mereka bersemangat berada di dalam hadirat-Nya.
       Tuhan kemudian mengirim jiwa individual tersebut ke dunia material, ia pun
terbenam di dalam masing-masing dari empat elemen ciptaan. Pertama, ia melewati air
dan menjadi basah, lalu melewati tanah dan menjadi lumpu. Kemudian, ia melwati
udara dan menjadi tanah liat. Kemudian, ia melewati api sehingga menjadi tanah liat
panggang. Dengan demikian, jiwa non-materi melewati seluruh elemen dasar materi
yang menghasilkan dunia materi dan cahaya menjadi tersimpan di dalam wadah tanah
liat - yakni tubuh.
       Selanjutnya jiwa tidak hanya mengikutsertakan tubuh material, tetapi emosi,
pikiran dan tenaga. Tingkat perwujudan yang beragam ini dirangkum oleh keempat
elemen dasar materi tersebut. Jiwa tersebut masih bersifat sempurna, suci dan dekat
dengan Tuhannya, namun kini telah tertabiri dan tersembunyi.
       Sayangnya, begitu kita terwujud dalam bentuk materi, kita menjadi buta
terhadap rahasia di dalam diri kita tersebut. Sebagai makhluk materi, kita tidak dapat
mewujudkan sifat-sifat ketuhanan tersebut, kita tertarik pada benda-benda duniawi.
       Namun, Tuhan juga memberi pelbagai alat untuk kembali pad atingkat
kesadaran azali kita, untuk keluar dari wadah tanah liat. Alat -alat tersebut adalah akal
dan kehendak yang merupakan potensi-potensi yang dimiliki oleh jiwa manusia, yang
akan kami bahas dalam makalah ini.
A- Mengenal Nafs, sifat -sifat dan karakteristiknya
           Kalimat nafs menurut bahasa Arab berarti jiwa atau roh....1'. Dalam al-Qur'an
      kalimat nafs bisa berarti macam-macam 2:
      1. Nafs, sebagai diri atau seseorang , seperti dalam surat 'Ali: Imaran : 61 Q.s. Adz-
           Dzariyat : 21


      2. Nafs, sebagai Tuhan, seperti dalam surat Al-An'am : 12 dan 54 :


      3. Nafs, sebagai person sesuatu , seperti dalam surat al-Furqan : 3 I 4. Nafs, sebagai
           roh, seperti dalam surat al-An'am : 93


      5. Nafs sebagai jiwa, seperti dalam surat al-Syams : 7 dan s. al-Fajr : 27


      6. Nafs sebagai totalitas manusia, seperti dalam surat al-Maidah : 32 dan S. al-
        Qashas : 19


      7. Nafs sebagai sisi dalam diri manusia yang melahirkan tingkah laku, seperti dalam
           surat al-Ra'du : 11


               Arti- arti nafs tersebut jika dirangkai setiap artinya akan mewujudkan
      pengertian nafs yang utuh.
               Term nafs yang sedang dibahas adalah membatasi arti totalitas manusia juga
      sesuatu yang didalam diri manusia yang mempengaruhi perbuatannya, atau nafs
      sebagai sisi dalam manusia sebagai lawan dari sisi luarnya.


1. Nafs sebagai Totalitas Manusia
             Kata nafs untuk menyebut totalitas manusia, artinya manusia sebagai makhluk
    yang hidup di dunia maupun yang hidup di akhirat. Sebagaimana yang sudah menjadi
    lazimnya pemahaman umum bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dua
1
 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir, Kamus Arab- Indonesia, Pustaka progressif, Yogyakarta,
1984. hal. 1446
2
    Dr. Achmad Mubarok, M.A, Jiwa dalam Al-Qur'an, Paramadina, Jakarta, 2000, hal. 44
     dimenasi, yaitu jiwa dan raga. tanpa jiwa- dengan fungsi-fungsinya – manusia
     dipandang tidak sempurna, dan tanpa jasad/raga, jiwa tidak menjalankan fimgsi-
     fungsinya. Jadi hubungan keduanya adalah saling membutuhkan keberadannya.
            Dalam term totalitas manusia berarti manusia sebagai makhluk dunia sekaligus
     harus mempertanggungjawabkan perbuatannya nanti diakhirat. Dan kehidupan yang
     hakiki sebenarnya adalah kehidupan nanti di akhirat kelak, karena ada yang
     berpendapat bahwa kehidupan di dunia adalah kehidupan yang semu *)


Selanjutnya bagaimana mengenai wujud kehidupan nafs di akhirat kelak ?
          Menurut al-Qur'an, di alam akhirat nanti, nafs akan dipertemukan dengan
badannya. ( Q.s. At-Takwir :7)




          Kebanyakan tafsir, misalnya tafsir al-Maraghi menafsirkan kalimat zuwwijat
dengan arti "dipertemukan dengan badannya" Penafsiran ini menunjukkan pada ayat
lain yang mengisyaratkan bahwa di akhirat nanti manusia juga memiliki anggota badan.
Seperti yang diisyaratkan oleh surat Yasin : 65 dimana semua anggota badan manusia,
tangan, mata, kaki dan lainnya akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah
diperbuatnya di alam dunianya.
          Jika nafs di akhirat nanti akan dipertemukan dengan badannya, pertanyaan yang
timbul apakah badan yang lama, yang telah hancur menjadi tanah atau badan yang sama
sekali baru yang akan dirancang untuk hidup dialam rohani?
          Dintinjau   dari   kekuasaan      Tuhan,     maka     dengan      sifat   qudrat    Allah
mempertemukan nafs dengan bdannya bukanlah masalah. Karena seperti yang

*)
  Seperti pandangannya Syekh Siii Jenar tentang kematian dan kehidupan. Dia menganggap bahwa "
dunia ini adalah kematian" manusia yang hidup di dunia ini adalah mayyit. Mati. Kehidupan sekarang
ini bukan kehidupan sejati. Siti Jenar nampaknya memahami ayat" Innaka mayyitun wainnahum
Mayyituun (Q.s. 23:15 &37). Yang ditonjolkan oleh dia adalah sifat mati atau sebagai mayyit. Artinya
orang yang hidup di dunia ini dalam posisi terkena kematian. Hidup sejati, menurut Siti Jenar, tak
tersentuh kematian. Jadi orang hidup sekarang hanyalah untuk menyiapkan diri memasuki kehidupan
yang sebenarnya. (Lih. A. Chojim : Syekh Siti Jenar, Makna Kematian , Serambi, Jakarta, 2004, hal. 22
dan Sri Muryanto, Aj'aran Manunggaling Kawula Gusti, Kreasi Wacana , Yogyakarta, 2004, hal. 22)

Kemudian Syekh siti Jenar menawarkan cara menjemput kematian dengan tujuh langkah untuk
mengeluarkan nyawa dari raganya. mulai dari kaki-lutut-pusar-jantung-kerongkongan-muka- dan di titik
"ajna" dengan Wirid Hidayat Jati (lih. A.Chojim, Ibid, hal. 246-247)
dipaparkan dalam surat Yasin : 79. Allah berkuasa membangkitkan jasad-jasad yang
mati sebagaimana Allah berkuasa menghidupkan kali pertama. Selanjutnya hal ini
kembali kepada keimanan dan keyakinan .*)


2. Nafs sebagai Sisi Dalam Manusia
          Dalam surat al-Ra'du : 10 mengisyaratkan bahwa manusia memiliki sisi dalam
     dan sisi luar. Jika sisi luar manusia dapat dilihat pada perbuatan lahiriyahnya, maka
     sisi dalam sebagai penggeraknya adalah nafs.
          Dan mengisyaratkan bahwa nafs merupakan wadah bagi suatu potensi, dan
     sesuatu itu sangat besar peranannya bagi perbuatan manusia. Apa yang tersembunyi
     dalam nafs - dan dari sana lahir perbuatan-perbuatan manusia secara lahiriyah. Karena
     itu dalam term ini nafs berfungsi sebagai "wadah" yang didalamnya terdapat aneka
     fasilitas. la meupakan ruang dalam/rohani manusia yang sangat luas yang menampung
     aneka fasilitas. Ibarat ruang besar memiliki kamar-kamar yang banyak . yang setiap
     kamar mempunyai fungsi dan tugasnya masing-masing untuk mengeluarkan isinya.
          Dengan memunculkan yang tersembunyi dalam, maka manusia dikenal. Dan
     bagi Allah baik yang dimunculkan maupun yang tersembunyi di dalam tetap
     diketahui. Selanjutnya masing-masing jiwa itu memiliki potensi yang seyogyanya
     harus dioptimalkan potensi yang ada sehingga ia dapat menjalankan tugasnya
     sebagaimana yang dikehendaki sang pembuatjiwa.


C. Jiwa-jiwa yang dimiliki manusia dan Potensi-potensinya (tinjauan suflstik)
            Menurut tradisi sufi, manusia memiliki tujuh jiwa. Masing-masing mewakili
      tingkat evolusi dan potensi yang berbeda. Dengan tujuh jiwa ini manusia berbeda
      dengan makhluk lainnya (tumbuhan dan hewan) walaupun sebagian jiwa yang
      dimiliki oleh manusia dimiliki juga oleh tumbuhan dan hewan. Ketujuh jiwa
      tersebut adalah *) :


*)
   Menurut Siti Jenar, nyawa ketika keluar dari jasad manusia akan menuju ke tempat persemayamannya
sementara (di Baitul Makmur) hingga datangnya hari Qiyamat. Ketika kiyamat sudah tiba nyawa akan
kembali diturunkan untuk dipertemukan dengan jasadnya (lih. A.Chojim. Ibid. hal. 247)
*)
  Robert Frager, Ph.D. Hati Dili dan Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi, Get. II Serambi, Jakarta,
2003, hal. 145-189
                       Jiwa       Tern pat           Sistem Tubuh        Perilaku           Sisi Positif
                     Mineral      Tulang belakang System kerangka        Terlalu kaku       Dukungan
                                                                                            batiniyah
  Jiwa ini
                     Nabati       hati               System pencernaan     Kemalasan,       Kesehatan tubuh,
dimiliki juga
    oleh                                                                   aktifitas        penyembuhan,
 tumbuhan                                                                  berlebihan,      pemberian gisi
 dan hewan                                                                 kekurangan gizi
                     Hewani       jantung              System    peredaran Amarah,           Motivasi
                                                       darah               ketakutan, naluri
                                                                           kesenangan
                     Pribadi      otak                 System syaraf       Egois, ego lemah Kecerdasan, ego
                                                                                             yang sehat
  Jiwa ini           Insani       Hati spiritual       -                   sentimentalis     Belas      kasih,
    haya                                                                                     kretivitas
dimiliki oleh        rahasia      Lubb           (hati -                   Penolakan dunia Kebebasan penuh,
  manusia                         spiritual      -hati                                       kearifan
                                  lebih dalam)
                     Maha         Hati       spiritual                     Tidak ada         Kesatuan dengan
                     rahasia      (lubuk         hati-                                       Tuhan
                                  terdalam)

        1) Jiwa Mineral (an-Nafs maddani)
                       Dunia mineral sangatlah dekat dengan Tuhan. Dia tidak pernah
                memberontak kepada kehendak Tuhan. la merupakan wadah percikan ilahi yang
                suci di dalam diri manusia.ia berfungsi sebagai dasar/fondasi yang kuat untuk
                mendukung kita di dalam kehidupan.ibarat suatu bangunan ia adalah kerangkanya
                yang senantiasa harus ada.


        2) Jiwa tutnbuhan (an-nafs nabati)
                       Jiwa tumbuhan berfungsi untuk membantu manusia menjaga kesehatan dan
                kekuatan tubuh, jika tidak seimbang dia menjadi sumber kemalasan dan sikap
                hiperaktif. Jiwa tumnbuhan mengatur pertumbuhan dan asimilasi dari bahan-bahan
                makanan. Jika kita kekurangan vitamin ataupun mineral, maka kita perlahan akan
                menjadi lemah dan mungkin jatuh sakit. Jiwa nabati segera mengetahui kekurangan
                tersebut, dan efeknya ia memberitahu kepada kita.
                       Di waktu kita berada di dalam rahim, kita sepenuhnya berfungsi sebagai jiwa
                tumbuhan. Kita dihubungkan pada rahim pada rahim ibu kita dengan tali pusar,
                yang berfungsi sebagai penyalur makanan. Namun jiwa tumbuhan masih ada hinnga
       jasad kita mati/rusak .




3) Jiwa hewani (an-nafs al-hayawuni)
               Jiwa hewani bertujuan untuk memberikan kepada manusia hasrat dan
       dorongan untuk melaksanakan pelayanan-pelayanan yang bermanfaat di dalam
       dunia ini. Ketika tidak seimbang jiwa hewani akan mendorong manusia bersikap
       buruk dengan amarah, ketamakan dan nafsu birahi


4) Jiwa Pribadi (an-nafs nafsani)
             Jiwa pribadi merupakan tempat ego. Manusia memiliki ego negative dan ego
     pdsitif. Mulai tingkat jiwa ini dan tingkat selanjutnya, hanya dimiliki oleh manusia
     tidak dimiliki oleh tunibuhan, kalau jiwa jiwa sebelumnya dimiliki juga oleh binatang.
     Jiwa pribadi bertujuan untuk membina manusia, menyediakan kecerdasan untuk
     memahami diri kita dan dunia di sekeliling kita. Jika tidak seimbang akan
     menyesatkan manusia melalui keangkuhan dan egoisme.


5) Jiwa insani (an-nafs - al insani)
             Jiwa insani terletak di dalam qalb. la adalah Jiwa insani berguna untuk
     memberikan belas kasihan dan kecerdasan yang mendalam, tempat keimanan serta
     kreatifitas dari hati. Jika tidak seimbang, maka ia akan membuat manusia bodoh
     dengan ras belas kasihan tidak pada tempatnya.


6) Jiwa Rahasia (an-nafs-al sirri)
             Jiwa rahasia adalah bagian dari diri manusia untuk mengingat Allah. Jiwa
     rahasia terletak di dalam hati batiniah. Jiwa rahasia dapat memunculkan kearifan
                        *)
     batiniyah sejati        . Namun jika tidak seimbang, mak aia dapat membuat mahusia
     menolak dunia dan melakukan pemisahan antara halhal spiritual dan material dan
     menjadi penghambat dari kesatuan yang utuh dengan Allah dan dia berda di dalam
     kegelapan selamanya.



*)
     Jiwa rahasia memunculkan kesadaran batiniyah untuk selalu mencari, mencintai dan mengenal Allah.
7) Jiwa maha rahasia (an-nafs sirr al-asrar)
            Jlwa rahasia merupakan sesuatu yang benar-benar trensendent, ia adalah jiwa
     azali (ruh) yang ditiupkan oleh Tuhan ke dalam diri manusia - ia adalah inti kita.
Ketika manusia meninggal dunia, keempat jiwa pertama akan mengikuti tubuh
jasmaniyah manusia dan keempat jiwa selanjutnya akan meninggalkan tubuh dan
mereka tidak binasa dan akan kembali kepada Tuhannya*)
          Dari pembagian ketujuh nafs tersebut, memerlukan keseimbangan, menurut
model sufi, perkembangan spiriutual bukanlah semata berkenaan dengan meningkatkan
jiwa yang lebih tinggi dan mengabaikan atau melemahkan yang lebih rendah. Tiap jiwa
memiliki potensi yang berharga.
          Keselarasan komponen dan potensi -potensi ketujuh jiwa itu dimetamorfosikan
                            *)
bagai "Kereta Kuda"              Semua komponen-komponen dalatn kereta kuda harus sehat
                                                    *)
dan kuat. tidak ada yang merasa berkuasa                 agar berfungsi dan dapat menggerakkan

*)
   'Jika manusia memihak pada mater, maka sulit bagi jiwa insani dan jiwa rahasia untuk pergi saai
kematian. Pengalaman ini digambarkan bagaikan menarik duri melalui saraf-saraf. Orang semacam ini
terpaut pada kesenangan dan kehidupan tubuh, hasrat, ego untuk tubuh. Tetapi jika manusia memihak
jiwa insani dan jiwa rahasia, dikatakan bahwa ia keluar dari tubuh seperti selernbar rambut yang^ditarik
dari mentega Manusia semacam itu tidak terikat pada kehidupan dunia.
*)
  Menurut sufi kuno menyamakan jiwa -jiwa tersebut dengan sebuah kereta kuda Jiwa mineral adalah
rangka atau as. Jiwa tumbuhan adalah badan dan keretanya, iiwa hewan adalah kudanya. Dan iiwa
pribadi adalah pengendaranya. Jiwa insani dipadu dengan iiwa rahasia dan iiwa maharahasia, adalah si
pemilik yang duduk di dalam kereta kuda tersebut

Seluruh jiwa tersebut haruslah sehat dan bekerjasama agar kereta dapat berfungsi dengan baik. Kerangka
dan badan haruslah kokoh. Roda-roda dan as haruslah kuat. Jika badan kereta kuda rusak maka
perjalanan tidak dapat dilanjutkan. Kuda-kuda, satu hitam mdan satu putih, haruslah sehat. Kuda hitam
mewakili amarah dan rasa takut, kuda putih mewakili hasrat. Karena, tanpa kekuatan motivasi dari
mereka, kereta kuda tidak akan pergi kemanapun.

Sang Pergendara haruslah cukup kuat dan cukup terlatih untuk mengarahkan kuda-kuda tersebut dan
…………….ita kuda tersebut dengan benar. Mungkin yang paling utama adalah sanga pengendara harus ,
mengikuti petunjuk sang pemilik

Sang pemilik haruslah kuat dan sehat, serta mampu melakukan komunikasi sehingga sang pengendara
dapat me, puusan ying tepat. Bagi sebagian orang, tabung komunikasi antara pengendara dan pemilik
tersumbat akibat pemaKaian ytang jarang. Sang pengendara. sang pengendara bahkan lupa ada sang
pemilik yang berada di dalam kuda tersebut, dan ia telah mengambil alih kekuasaan. (Lih. Robert Frager,
Op.Cit. hal. 175-177)

*)
  Jika kereta kuda berkuasa, maka tidak akan ada perjalanan. Tidak ada yang bergerak, sebab tidak ada
motivasi untuk pergi kemanapun. Jika kuda-kuda tersebut berkuasa, maka mereka akan membawa
kereta kuda tersebut ke ladang rumput dan kuda itu akan berhenti selamanya di tempat itu. Jika Sang
pengendara tidak memiliki kemampuan untuk menunjukkan tujuan yang benar, tak peduli seberapa baik
ia dapat mengendarainya melewati liku-liku jalan dan rintangan-rintangan. Kecerdasan pribadi adalah
alat yang baik, namun terbatas dan berpusat pada dirinya sendiri. Maka kita memerlukan jiwa insani,
kereta kuda itu hingga sampai pada tujuan akhirnya.
            Selanjutnya jiwa-jiwa tersebut memunculkan tingkatan-tingkatan nafs. Jika
ditinjau dari segi tasawuf nafs yang suci dapat menyatu dengan Tuhan karena nafs
berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya
B. Tingkatan -tingkatan Nafs (tinjauan sufistik)
               Banyak penulis - kaum sufi membagi nafs dalam tujuh tingkat perkembangan
        nafs yang merupakan adopsi dari al-Qur'an. Setiap tingkatan menuju tingkatan
        berikutnya merupakan hubungan hierarki. Semakin keatas tingkatannya semakin
        baik sifat dan potensinya. Sesuai dengan kondisi dan keadaan nafsnya, manusia
        dapat digolongkan kedalam tingkatan yang terendah sampai ke puncak tingkatan
        tertinggi tersebut. Ketujuh tingkatan itu dijelaskan oleh Syekh Safer Dal 3, pimpinan
        kelompok Halveti-Jerrahi Kelompok darwis India) dan al-Ghazali 4 serta Al-Hakim
                        5
        at-Turmudzi         yang merupakan saduran dari pendapat para sufi Islam sebagai
        berikut:


           No Tingkatan NAfs                         Nama Tuhan
           1       Nafs Tirani                       Lailaha illa Allah*)
           2       Nafs penuh penyesalan             Allah*)
           3       Nafs ilhami                       Hu*)
           4       Nafs tentram                      Haqq (kebenaran)*)

jiwa rahasia dan maha rahasia untuk mengarahkan kereta itu k arah tujuannya. (ibid, hal 177)
3
 Robert Frager, Ph.D. Hati Diri dan Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi, Cet. II Serambi, Jakarta,
2003 , hal. 85-121
4
     AI-Ghazali, Majmu ar-Rasail al-Ghazali, ft Misykat al-Anwar, Bairut. Libanon.t.t. hal. 281-284
5
 Lih. Abi Abdullah Muhammad bi All Al-Hakim al-Turmudzi, Sayan a/-Farq bain al Ashadr wa alQalb
wa alFuad waalLubb, Maktabah al-kulliyah al-Azhar, Kairo, tt, hal. 80-83
*)
   Kalimat La llaha lla Allah, separuh bagian pertamanya adalah pengingkaran dan separuh bagian
lainnya adalah penegasan. Berarti masih adanya unsure tuhan selain Tuhan yang suci
*)
     Allah artinya hanya Allahlah yang layak disembah
.
*)
     Hu sebutan untuk Tuhan tanpa sifat, sebuah cara yang lebih intim dalam menyapa Tuhan
*)
  Haqq bermakne kebenaran dan Tuhan adalah kebenaran yang tidak berubah-ubah. Seluruh kebenaran
yang lain dapat berubah- dan menjadi tidak valid ketika segala sesuatu selain Tuhan telah berubah.
Ketentraman nafs ketika berasal dari pencarian terhadap Tuhan, bukannya terhadap hal-hal duniawi yang
terbatas dan berubah-ubah. Dan disitu merupakan awal pengetahuan nafs tentang kebenaran
       5     Nafs radhiyyah                     Hayy (maha hidup)*)
       6     Nafs mardhiyyah                    Qayyum ( maha kekal)*)
       7     Nafs sufiyyah                      Qahhar ( maha memaksa)*)




1) Nafsu Tirani
           Nqfs tirani merupakan nafs yang sifatnya selalu menyuruh kepada pada
     berbuat kejahatan. Nafsu tirani berusaha untuk mendominasi dan mengendalikan
     pikiran serta tindakan manusia. Sebagian orang yang didominasi oleh nafs tirani ini
     mungkin saja melakukan amalan-amalan keagamaan, namun hanya berupa pameran
     belaka yang dirancang untuk mendapatkan penghargaan orang lain ("riya dalam
     ibadah")
           Pada situasi ini, umumnya aspek luar nafs lebih dipentingkan dari aspek
     dalamnya. la bertindak berbeda ketika sedang berhadapan dengan orang lain dan
     ketika sedang dalam keadaan sendiri. Sifat ini dapat dihilangkan dengan jalan
     ketulusan.
           Ketika Allah memerintah untuk berbuat baik, orang yang bernqfs tirani ini ada
     sesuatu yang mendorong untuk berbuat sebaliknya, mengingkarinya.
           Pada kondisi ini, orang tersebut diperintah oleh akal kecerdasan. Cirinya
     adalah Kecerdasan yang tidak disertai dengan keimanan dan aqidah yang kokoh.
     Tidak ada cinta terhadap Tuhan, tidak ada pengendalian batiniah bahkan
     perasaan     dosa,   yang    menjadi     tujuannya     adalah     tercapainya     kepentingan
                                                                         *)
     penumpukkan harta, kekuasaaan dan kepuasan egoisme                       Karena orang-orang



*)
  Hayy bermakna hidup .segala sesuatu yang wujud merupakan bagian dari sifat Tuhan ini, Tuhan adalah
sumber tehidupan dan sumber keberadaan segala sesuatu. Mereka yang merasakan Tuhan sebagai Hayy
di dalam diri setiap orang dan di dalam segala sesuatu telah mencapai tingkat nafs Radhiyyah ini
*)
   Qayyum adalah kekal. Keberadaaan Tuhan tidaklah bergantung kepada segala seuatu yang lain-Nya.
Segaka seuatu di alam semesta ini, selain Tuhan, bergantung pada seuatu atau seseorang diluar dirinya
untuk mampu bertahan, Hanya Tuhanlah yang kekal dan tidak membutuhkan seuatu apapun . ketika alam
semesta dijalani sebagai bukan seuatu diluar Tuhan, maka seorang telah mencapai tingkatan nafs
mardhiyyah
*)
   Qahhar bermakna Maha Kuat atau Maha memaksa,. Merujuk kepada kekuatan Tuhan yang tak dapat
dihentan ataupun ditolak, yang seutuhnay melenyapkan segala hambatan. Untuk mencapai tinkatan ini,
seluruh perasaan akan "Aku" yang terpisah haruslah dileburkan dengan Tuhan
*)
   Kebanyakan yang berada ditingkat ini adalah budak-budak kesenangan pribadi mereka.
       semacam ini tidak terdapat didalam jiwanya moral batiniyyah.
              Nafs secara terus menerus terobsesi dengan ...pendapat yang baik dari orang
       lain, tanpa peduli apakah Tuhan mungkin saja tidak meridhoinya. Hasilnya adalah
       meningkatkan rasa kepemilikan dan kebanggaan terhadap diri sendiri, keangkuhan,
       merasa penting dan sikap memandang rendah.. ia menghindarai apa yang pun yang
       tidak disukai orang lain, walaupun Tuhan menyenangi hal-hal tersebut.
              Nafs juga secara terus menerus mengingat jasa kebaikan-kebaikannya walau
       sekecil apapun, merenungkannya dengan puas dan kagum.. ia menganggap penting
       hal-hal kecil yang ia lakukan untuk orang lain, Namun sebesar apapun bantuan yang
       diberikan orang lain untuknya, ia tidak menganggapnya penting dan melupakannya
       dengan cepat. Orang-orang bernafs tirani ini menjadi budak-budak kepuasan pribadi
       walaupun disaat yang sama ia menjadi hamba Allah.
              Kita mungkin saja tidak akan pernah sepenuhnya menihilkan pengaruh nafs
       tirani di dalam diri kita, mereka akan selalu ada, bahkan pada tingkat-tingkat nafs
       yang terbaik sekalipun. Yang terbaik yang mampu kita lakukan adalah
       mengendalikan mereka dan membuat mereka tertidur.*)
            Secara dramatis, Rumi mengingatkan kita untuk tidak meremehkan nafs tirani
kita. Kita bisa saja merasa bahwa kita telah mampu menguasai amarah, kesombongan,
dan lainnya. Namun situasi tak terduga dapat membangunkan mereka kembali. Jalan
keluar satu-satunya hanyalah membiarkan mereka tertidur dan dalam saat yang sama
kita melakukan transformasi nafs.
            Mentransformasikan diri artinya mengubah ego negatif ke dalam ego positif
dalam satu waktu; contohnya kekikiran menjadi kedermawanan, kemunafikan menjadi
keikhlasan, keserakahan menjadi ke-qana'ahan. Jalan untuk mentranformasikan diri
adalah melalui praktik melepaskan diri dari dunia dan mengingat kepada Allah, yang
akan memancarkan cahaya hati dan membuat kita peka terhadap kerja nafs
Karakteristik dan pengendali nafs tirani6

*)
   Menurut Rumi (tokoh Sufi) gambaran nafsu tirani bagaikan "seekor naga yang buas yang
membeku", tubuhnya kedinginan oleh salju, ketika matahari secara perlahan menghangatkan tubuhnya ,
iapun mulai terbangun dan menbunuh setiap orang yang dijumpainya. Maka kendalinya adalah biarkan
naga dalam dirimu tertidur.Jika dibangunkan ia akan melahapmu (lih. Hasrat Inayat Khan, The Heart Of
Sufisme, (terj, Andi Haryadi. Remaja Rosdakarya, Bandung, hal. 187)
6
     Al-Hakim at-Turmudzi, Op.Cit. hal.80 dan Robert Frager, Op.Cit. hal. 88-89
Sifat orang yang ber nafs tirani Penawarnya

     •  Hubb al-dunya              Ikhlas
     •  Suka dipuji                Iklhas
     •  Riya dalam beribadah
     •  Tidak Ikhlas
     •  Menganggap dirinya
        penting
     • Iri hari                    Qona'ah
     • Rasionalis*)
                                   Ikhlas
     • Munafik
     Tergesa-gesa                  Sabar
Menarik rohani turun ke alam
materi yang lebih rendah


         Orang yang sudah didominasi oleh nafsu tirani, secara umum bekerja diluar
kesadaran (ia tidak tahu jati dirinya sebagi hamba). la sepertinya berbicara dengan suara
hatinya dan mengungkapkan hasrat yang terdalam, sehingga kita jarang melawannya.


2) Nafs Penuh Penyesalan
             Diatas nafs tirani adalah nafs penuh penyesalan. Pada tingkat ini orang yang
     memiliki nafs penyesalan ,mulai memahami dampak negatif pendekatan egois kita
     terhadap dunia, walaupun kita tidak memiliki kemampuan untuk merubahnya.
     Amalan buruk kita saat ini mulai terasa menjijikkan bgi kita. Kita memasuki
     lingkaran berbuat dosa, menyesali perbuatan tersebut, kemudian kembali berbuat
     dosa.
             Gambaran orang yang mempunyai nafs penyesalan ini diilustrasikan oleh
     Jalaludiin Ar-Rumi bagaikan orang yang masuk ke dalam kamar yang gelap, pada
     titik tertentu ia berubah menyalakan (menyesal), karena ia melihat isi ruang kamar
     tersebut dipenuhi oleh kotoran keladai, kambing dan segala sesuatu yang buruk.
     Setelah mengamati situasi tersebut ia berusaha membersihkan kotoran tersebut dan
     mengusir binatang-binatang itu dari kamar, yang didukung dengan berdzikir kepada
     Allah dan perasaan berdosa yang mendalam.7

*)
   Kebenaran hanya diukur dengan Kebenaran rasionya, tanpa diimbangi dengan keimanan akhirnya ia
menjadi kering batinnya
7
  Jalaludin ar-Rumi, Yang mengenal dirinya Yang mengenal Allah, (terj, Sukardi) Rmeja Rosda karya,
Karakter orang yang memiliki nafs ini dan pengendaliannya
Sifat     orang    yang    bernafs    Penawarnya
penuh penyesalan
• Ujub                               Ikhlas
• munafiq                            Ikhlas
• ketakutan beragama                 Taubat
• hubb aldunya                       Hubb     al   -akhirah   wa
                                     hubbullah


         Para penguasa ditingkat ini masih berupa kepandaian duniawi. Perdana
mentrinya adalah egoisme . namun sifat-sifatnya lebih lembut dari nafs tirani.
Manusia yang diliputi nafs penuh penyesalan dalam beribadah tampak seakan-akan
ta'at, suci saeh dan lurus. Namun dicemari oleh keangkuhan, egoisme. dengki, ambisi,
ketidaktulusan - dan hal-hal yang merusaknya,


3) Nafs Ilhami
            Pada tingkat ketiga ini, orang mulai merasakan kesenangan sejati di dalam
   shalat, berdo'a dan beribadah lainnya. la mulai mengalami sendiri kebenaran
   spiritual yang selama ini hanya ia dengar atau ia baca. la mulai merasakan cinta
   hakiki kepada Allah dan kepada ciptannya. Tingkat ini juga merupakan awal dari
   praktik tasawwuf yang sejati. Karena pada tingkat sebelumnya ini, yang terbaik
   yang diproleh adalah pemahaman palsu dan pemujaan ritual semu.
            Ketika seseorang memulai mendengar suara nurani mereka. la mulai
   terilhami untuk mengetahui petunjuk kebenaran , maka nafs terilhami dan mendapat
   cahaya kebenaran, ia marnpu membedakan antara yang benar dan salah. (Lih. Q.s.
   Asy-Syams : 7)


Bahaya nafs yang terilhami
         Walaupun keburukan-keburukan nafs tirani dan nafs penuh penyesalan sudah
berlalu. Namun orang yang memiliki nafs ilhami belumlah berada ditempat yang aman.

Bandung, 2002, haM 18
Egoisme masih sangat utuh dan dapat medapat membawa ia ke jalan yang salah, dan
kemunafikan masih merupakan hal yang sangat berbahaya pada tingkat ini
        Tingkat ini dapat menjadi tingkat pertumbuhan nafs yang sangat berbahaya.
Untuk pertama kalinya ia mampu merasakan pengalaman dan pengetahuan spiritual
yang sejati. Namun jika pengalaman dan pengetahuan ini disaring oleh ego,maka ia
akan melambung dengan dahsyatnya. Seperti halnya ibarat para seniman, penulis
pemusik dan ilmuwan yang kreatif. Orang-orang ini mungkin saja merasakan terobosan
dan menemukan inspirasi yang kreatif. Bahayanya mereka mungkin saja mengira
bahwa mereka sendirilah sumber dari inspirasi tersebut


Karakter dan pengendalinya
Sifat Orang yang mempunyai nafs                  Penawarnya
Ilhami
    •    Kedemawanan                             Jauhkan       dari
    •    Qana'ah                                 sifat
    •    Tawakkal                                munafik

    •    Taubat                                  dalam
                                                 beribadah 8

• Sifat egonya masih kuat




4) Nafs Tenteram (nafs Muthmainnah)
             Pada tingkat ini, ia sudah mencapai ketentraman. Ketentraman yang
    dimaksud jauh berbeda dari keadaan yang biasa kita alami9 .Ketentraman disini
    adalah pencapaian sepiritual yang sejati yang merasa puas dengan masa sekarang,
    dengan segala yang ada, dengan yang segala Allah berikan kepada kita.
    Ketentraman dan kepuasan ini berakar pada cinta kepada Allah .
             Nafs yang tentram diterangi oleh cahaya hati sedemikiian rupa, sehinga ia
    mengusir seluruh sifat-sifat buruk dan menjadi disifati oleh sifat-sifat mulia dan

8
 Said Hawa, Tazkiyatun Nafsi, Intirasi Ihya Ulumuddin, (terj. Abdul Amin, Lc) Pena, Jakarta, 2006, hal.
221
9
 Mungkin kita tentram karena uang banyak, segala kebutuhan tercukupi dan hal yang berusuan dengan
kebutuhan duniawi
       sepenuhnya memusatkan perhatiannya pada hati dan menemaninya dalam
       perjalanan menuju wilayah kesucian, sementara dibersihkan dari dosa-dosa dan
       tekun dalam pengabdiannya
                Karakteristik dan penawarnya
Seorang yang mempunyai nafs tentram                     Penawarnya
       •   Keyakinan kuat terhadap Allah                Mengurangi perasaan terpisah dengan
       •   Kenikmatan spiritual                         Tuhan
       •   Rasa syukur
       •   Kepuasan hati
       •   pemujaan


           Pada tingkatan keempat ini, orang yang memilki nafs tentram ini belum aman
dari pengrusakan besar ego negative, ego negative masih mempengaruhi kita, walaupun
hanya sementara dan pengaruhnya mulai melemah karena ego tidak dapat dilihat lagi
sebagai pemusatan jiwa. Para penguasa nafs ini adalah kearifan dan perdana
menterinya adalah cinta


5). Nafs Radliyyah
                Pada tingkatan nafs Radliyyah, oang yang memiliki nafs ini tidak hanya puas
       terhadap taqdir Allah . Iajuga mera puas terhadap segala kesulitan dan ujian
       kehidupan, yang juga berasal dari Allah*). Kondisi orang yang memiliki nafs Ridla
       ini sangatlah berbeda dengan cara biasa yang biasa kita lakukan di dalam
       kehidupandi dunia ini.
                Ketika raa syukur dan cinta kepada Allah demikian besarnya, raa sakit tidak
       dirasakan bahkan yang pahit pun terasa manis, segala keburukan menjadi kebaikan
       yang indah. Maka kondisi ini sudah mencapai stasiun nafs ridha.
                Ciri- ciri lain orang yang memiliki nafs ridha adalah kejaiban, kebebasan*),
       ketulusan, perenungan dan ingat kepada Allah.
                NAmun orang yang memiliki nafs ridha ini belum lepas dari dualisme antara
*)
  Orang daam rtingkatan nafs ridha berkeyakinan bahwa kebaikan ataupun keburukan yang ditimpakan
kepadanaya berasal darai Allah. Karena mereka yakin bahwa kehendak dari Allah adalah yang terbaik
untukny,asal Allah ridha dengan dirinya dia merasa puas
*)
     kebebasan muncul karena tidak lagi tergoda oleh sesuatu apapundi dunia ini selain Allah
   "Aku " dan "Dia" yang mempengaruhi jiwanya.
            Karakter dan penawarnya
Karakter                                     Penawarnya
   •   syukur
   •   Ikhlas
   •   Cinta Allah
   •   Maih ada ego namun kecil




6) Nafs Mardhiyyah
           PAda tingkat ini,orang memiliki nafs mardiyyah merasakan dunia sebagai satu
 kesatuan yang utuh. Dia menjadi manusia yang sejati. Karena dalam tingkat ini adalah
 tingkat pernikahan antara batiniyyah dan roh. Orang yang memiliki nafs ini tidak lagi
 terpisah antara hasrat materi dia dan hasrata akan selalu bersama Allah
           Sehingga ia selalu memilih kondisi apapun yang Allah pilihkan untuk dirinya
 dan menempatkan di dalamnya. Pada tingkat ini, orang yang memiliki nafs
 mardyiyyah menyadari bahwa seluruh kekuatan untukbertindak dating darai Allah, dia
 tidak melakukansesuatu apapun dengan sendirinya. Dia tidak merasa takut terhadap
 segala sesuatu atau meminta seuatu apapun
           Dalam tingkat ini ego sudah melebur dengan roh. Dia tidak mengenal
 dirinya. Dan mengatakkan bahwa "milikku" adalah syirik yang tersembunyi yang
 ingin melenyapkan dari dirinya. Orang tingkatan nafs mardyiyyah sudah dalam
 tingkatan kondisi fana' fillah


7) Nafs Suci
            Segelintir orang yang mencapai tingkatan ini, hanya para nabi dan wali
 Allah, orang yang mencapai tingkatan nafsu suci telah melampaui diri secara utuh.
 Tidak ada lagi ego ataupundiri. Yang tinggal hanyalah kesatuan dengan Tuhan
            Jalaluddin ar-Rumi menggambarkan, orang yang mencapai tingkatan nafs
 ini, tidak ada lagi perasaanb diri yang terpisah atau identitas terpisah. Tak ada batas
 jelas antara diri dan Tuhan, ia telah menjadi garam yang larut dalam lautan; yang a da
 hanyalah Tuhan
Kesimpulan
   1) Bahwa manusia dibekali oleh Allah jasad dan nafs sepanjang hidup. Tanpa jasad
      manusia tidak hidup dan tanpa nafs jasad tidak hidup.
   2) BAhwa nafs tidaklah mati, yang rusak jasad, ia akan tetap sampai di akhirta
      untuk dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatannya ketika masih
      hidup di dunia
   3) Ada tiga nafs yang dimiliki manusia ……………….
   4) Dalam kalangan sufi, nafs yang dimiliki manusia ada tujuh tingkatan beserta
      masing-masing Tuhannya, dan karakter-karakter yang dimilikinya serta penawar
      dari karakter negatifnya. Tingkatan terendah adalah tingkatan paling hina yang
      dimiliki oleh manusia sehingga perlu manusia memasuki tingkatan-tingkatan
      selanjutnya, yaitu :
      No Tingkatan NAfs                 Nama Tuhan
      1    Nafs Tirani                  Lailaha illa Allah
      2    Nafs penuh penyesalan        Allah
      3    Nafs ilhami                  Hu
      4    Nafs tentram                 Haqq (kebenaran)
      5    Nafs radhiyyah               Hayy (maha hidup)
      6    Nafs mardhiyyah              Qayyum ( maha kekal0
      7    Nafs sufiyyah                Qahhar ( maha memaksa)




5) Jalan keluar satu-satunya dari ego negative hanyalah membiarkan mereka tertidur
   dan dalam saat yang sama kita melakukan transformasi nafs (dari ego negative ke
   ego positif)
                                    Daftar Pustaka


Abi Abdullah Muhammad bi All Al-Hakim al-Turmudzi, Sayan a/-Farq bain al Ashadr
             wa alQalb wa alFuad waalLubb, Maktabah al-kulliyah al-Azhar, Kairo,
             tt
AI-Ghazali, Majmu ar-Rasail al-Ghazali, ft Misykat al-Anwar, Bairut. Libanon.t.t.
Al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Juz IV,Dar al-Fikr, Beirut, tt
Al-Ghazali, Ma'ariju al-Quds fi madarij Ma'rifah al-NAfs, MAktabah al-jundy, Kairo,
             1986
Amin Syukur Prof. Dr. dan Drs. H. Masyharuddin, MA. Intelektualisme Tasawuf al-
            Ghazali, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003
ar-Rumi, Jalaludin, Yang mengenal dirinya Yang mengenal Allah, (terj, Sukardi)
              Remaja Rosda karya, Bandung, 2002
Chojim , Ahmad : Syekh Siti Jenar, Makna Kematian , Serambi, Jakarta, 2004
Depag RI, Al-Qur'an dan terjemahnya. Toha putra, Semarang, 1998
Frager, Robert, Ph.D. Hati Dili dan Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi, Get. II
              Serambi, Jakarta, 2003
Hawa, Said, Tazkiyatun Nafsi, Intirasi Ihya Ulumuddin, (terj. Abdul Amin, Lc) Pena,
             Jakarta, 2006
Inayat Khan, Hasrat The Heart Of Sufisme, (terj, Andi Haryadi. Remaja Rosdakarya,
             Bandung, 2002
Mubarok, Achmad , Dr. M.A, Jiwa dalam Al-Qur'an, Paramadina, Jakarta, 2000
Mulkhan , Abdul Munir, Syekh Siti Jenar : Ajaran dan Jalan Kematian, Bentang,
            Yogyakarta, 2001
Muryanto, Sri, Aj'aran Manunggaling Kawula Gusti, Kreasi Wacana , Yogyakarta,
              2004
W. Bayazid, The Philosophi of Sufisme, Kaniqahi, Ni'matullah Publication,New York,
             1992
Warson Munawwir, Ahmad,      Al-Munawwir, Kamus Arab- Indonesia, Pustaka
          progressif, Yogyakarta, 1984.

								
To top