(instr)Level Transmitter Differential Transmitter by sparkunder23

VIEWS: 2,807 PAGES: 7

									                  (instr)Level Transmitter & Differential Transmitter

Manik


Rekan Migas,

Untuk mengukur Level dari sebuah tanki dengan transmitter, kenapa bisa digunakan differential
transmitter sebagai pengganti level transmitter?
Apa perbedaan dari kedua penggunaan alat tersebut, adakah pertimbangan tertentu dalam
penggunaan differential transmitter dalam mengukur level tanki, kenapa tidak pakai level
transmitter saja?
Cara pemasangan di tanki bagaimana antara diff. transmitter dan level transmitter, adakah
perbedaan?


Wikan Nugrahajaya


Pak Manik,

Pengukuran level dengan menggunakan DP transmitter adalah common untuk digunakan, bahkan
bisa disebut sebagai first choise untuk level transmitter, selain lebih murah dari type2 level
transmitter seperti displacer, radar wave dll, selain itu untuk instalasi lebih mudah.

Prinsip DP Transmitter itu sendiri adalah dari rumus tekanan hydostatik :
P = Pgh

Untuk open tank, untuk P yang high diconnectkan ke bagian bawah tanki, sedangkan untuk P yang
low, cukup atm saja, hal ini karena :
Phigh=Pgh+atm, Plow=atm
Sehingga untuk mengkompensasi atm, DP = Pgh+atm-atm
Didapatkan h.

Sedangkan untuk close tank, sama seperti open tank, tetapi untuk P low diconnectkan ke bagian
atas tanki, hal ini untuk mengkompensasi tekanan gas dari dalam tanki :
sehingga menjadi DP = Pgh+Pgas-Pgas, sehingga didapatkan h.

Pada pengukuran level menggunakan DP, kita harus mengetahui properti (P atau bisa juga SG)
fluida tersebut.

Untuk Closed tank ada dua macam instalasi yaitu :
1. Dry Leg : dimana untuk P low, transmitter kontak langsung dengan fluida, dalam hal ini adalah
gas fluida
2. Wet Leg : dimana untuk P low, transmitter diberi media fluida yang berbeda seperti (glycol /
silicone oil / water-common) untuk kompensasi dari kondensasi media fluida yang diukur (memakai
diapragm) atau karena suatu case tertentu (seperti fluida gas yang korosif)

Mungkin untuk basic prinsipnya Pak Manik bisa mengunjungi www.efunda.com.

Ato bapak2 yang lain ada yang menambahkan.

Maaf kl ada yang kurang atau salah.



ricky hardian <rickhardy12@ yahoo.com>


Pak Manik,

Untuk mengukur level kita bisa menggunakan d/p transmitter. Saya pikir d/p transmitter merupakan
instrument yg paling umum dugunakan untuk pengukuran level. Selain harganya lebih murah,
instalasinya pun lebih gampang dibandingkan level transmitter jenis lain.
Level transmitter sendiri banyak macamnya,seperti radar, ultrasonic, radioaktif, D/P, displacer, etc.
Jadi d/p transmitter itu sendiri juga bisa digunakan sebagai level transmitter. Yg membedakan
masing2 tipe level transmitter adalah prinsip kerjanya. Untuk d/p hanya menggunakan prinsip
tekanan hidrostatis yg rumusnya bisa kita lihat dibuku2 fisika dasar. Untuk di tangki, d/p transmitter
yg digunakan pun bermacam2 dengan cara installasi yg berbeda pula.
Untuk tangki yg terbuka kita bisa menggunakan flanged d/p transmitter dengan L side dibiarkan ke
ATM. Ini lebih efisien karena kita tidak perlu tubing untuk hook-up. Untuk tangki tertutup, kita bisa
menggunakan d/p type level transmitter dengan hook-up tubing.
Mungkin rekan2 yg lain bisa mengoreksi ato mungkin menambahkan.


Encep Y. Permana


Sekedar menambahkan saja,

1. Biasanya untuk menentukan suatu jenis level Instrument kita harus check atau melihat suatu
design tangki yang sudah di design oleh Process Eng. & Mechanical Eng. (apakah open tank atau
closed tanki) dan akan lebih baik kita juga harus mengecek untuk mengetahui process apakah
yang ada didalam tangki tersebut teramasuk jenis liquid/ media, press., temp. , SG, tinggi tanki dll.

2. Jika tangki tsb. open tank kita bisa select DP Level Transmitter karena tanki kondisi open/
atmosperic. hanya saja untuk DP level used Flanged Mounted position low level harus cross check
dengan vendornya mengenai jarak posisi yang tepat (dari jarak base plate tangki hingga DP Tx)
untuk install DP Tx, supaya mendapatkan jarak pengukuran yang ideal dan akurat. dan sebaiknya
diberikan drain valve diantara flanged sehingga jika terjadi plugging dalam process bisa kita
realease segera oleh oparator/ maintenance, juga diberikan manual valve di didepan drain valve
tersebut, ini untuk antisipasi jika suatu hari DP Level Tx Rusak dan mau diservice bisa kita tutup
valve tsb. lalu dengan mudah kita dapat melepasakan DP Level Tx tersebut.

3. Jika tangki tsb. close tank kita bisa select model guided wave radar used probe or horn,
capacitance, magnetic level gauge etc.. apalagi saat ini banyak dipasaran Jenis Level Magnetic
yang bisa complete one set clamp on mounted dengan Level Transmitter Magnetostrictive
sekaligus level switch tanpa harus banyak connection di posisi tangki (cukup 2 connection low and
High, tapi bisa mengcover 5 instrument sekaligus)

4. Mengenai pemasangan untuk radar biasanya Top mounted dan untuk DP Level Tx, Magnetic
Level Gauge, Floating type, Displacer type biasanya disamping tangki.


Gustiyanto


Dear Pak Permana Chepy,

Saya hanya pengen lebih dalam di point #3,

Memang saat ini banyak fabrikan yang mengeluarkan Level Magnetic yang 3 in 1, yaitu sudah
terdapat fungsi level transmitter, level switch dan level gauge. Tapi ada satu pertanyaan, yang
kadang membuat saya jadi menyibak suatu misteri. Secara efektif, mungkin memang bisa kita
gunakan level magnetic, selain complete item, juga bisa meminimalkan jumlah nozzle yang nempel
di vessel. Tapi kenapa ya masih banyak plant plant baru yang tetap menggunakan 3 field
instrument tsb tiap vesselnya. Apakah dari kacamata maintenance ini tidak menguntungkan atau
apa? Secara price, jelas level magnetic ini lebih murah disbanding akumulatif dari 3 field
instrument (level gauge, level transmitter, level switch).
Mohon masukkan dari para rekanz semua.. terima kasih.
Ok, thank you for your respond



"Waskita Indrasutanta"waskita@...

Rekans,
Kelihatannya berlebihan, tetapi dengan menggunakan 3 sets individual field instruments
kemungkinan terjadinya 'common fault' untuk LG, LT dan LS jauh lebih kecil dibandingkan dengan
satu field instrument yang berfungsi sebagai LG, LT dan LS.



"priyo_a_s" priyo_a_s@...

Rekan milis,

memang lebih baik dipisahkan fungsi2 dari instrument tersebut, untuk menghindari common fault.
juga apabila fungsi level switch (LS) itu terkait dengan fungsi interlocking trip atau hal2 yang kritis,
ada baiknya dipisah (ada 2 item instrument), antara LSHH dan LSLL.

Namun bilamana hanya sekedar alarm dan tetap membutuhkan acknowledge dari operator, bisa
tetap fungsi high dan low tersebut dalam satu instrument, namun pada sisi PLC/DCS, dibuatkan
fungsi alarm low dan high. jadi bisa ada second decision.


permana chepy


Pak Gusti,

Kalau menurut saya bahwa dengan dipasangnya 3-5 instrument (LG, LIT, LSHH, LSH, LSLL
sekaligus sbb:

1. Mengurangi jumlah nozzle itu sudah pasti secara siginificant, karena jika langsung direct
mounted ke 5 instrument tersebut akan sungguh banyak nozzle memenuhi tangki tsb.

2.Dengan system switch clamp on magnetic, switch akan lebih mudah dikalibrasi terutama untuk
setting pointnya karena hanya dengan menaik dan turunkan saja (digeser-geser), jika pake nozzle
sulit untuk merubah posisi setting level switch dan jika ingin merubah kita harus membuat nozzle
baru.

3. Transmitter bisa dengan mudah di install cukup dengan clamp on mounted saja pada chamber
level gauge, selain itu letak orientasi Transmitter bisa kita posisikan di bawah atau diatas sehingga
operator
bisa melihat dengan mudah karena stick./probe Transmitter tersebut biasanya panjang mengikuti
ukuran design chamber Level Gauge yang sudah di ukur secara center to center pada awal
design.

Secara over all bisa dengan mudah kita mainetance karena posisi di bawah chamber biasanya kita
siapkan sebuah drain sehingga kapan saja bisa kita realese jika ada endapan kotoran yang ada di
dalam chamber. tapi ini kembali ke user masing2.suka yang mana... karena kalau dilihat secara
cost lumayan competitive juga maksudnya tidak terlalu mahal, bila dibandingkan 5 instrument
(packages) dan 5 nozzle juga ditambah brand yang berbeda-beda, selain itu untuk support dari
vendor (level packages) juga bisa lebih mudah karena pada saat beli kan satu brand sehingga jika
ada problem di masing2 intrument support akan lebih mudah dari vendornya.

Untuk itu sebaiknya tugas dari level itu sendiri mempunyai tugas masing2 sehingga tidak over
laving contohnya: Level Transmitter sebagai monitor and recorder data saja, sementara Level
Switch (LSHH, LSH dan LSLL) untuk interlock ke pompa baik untuk mengatifkan pompa maupun
mematikan pompa.
sementara Level Gauge (LG) berfungsi sebagai monitor local sekaligus back up system jika
sysetem electronic gagal atau rusak, sehingga bisa dengan mudah Operator melihat indikasi on
site.
Gustiyanto

Ya, mungkin kembali ke user nya masing masing, terima kasih atas masukannya Pak Permana

Ok, thank you for your respond




"Gustiyanto"


Fluida yang digunakan untuk wet leg nya itu kita gunakan air (water) Pak..

Memang kita tidak menggunakan condensate pot. Dan transmitternya sendiri kita sudah kalibrasi
dan setting untuk ketinggian dan posisi transmitter itu sendiri, dan tubing nya pun tidak masalah
karena sudah kita buat slope.

Terima kasih..
Ok, thank you for your respond


Fajar

Pak Gusti,
1. Untuk wet contact, cairan apa yang digunakan?Air atau Glycerine atau material cair yang
sedang diukur?
2. Apakah cairan yang diukur di tangki mudah menguap? atau mudah berubah SGnya dengan
temperature siang dan malam?
3. Apakah Hook up instrument tubing dipasang condensate pot (CP) dan terpasang slope untuk
yang bagian atas tank yang terhubung dgn DPtx?

Wet cantact sebaiknya menggunakan air (SG=1) atau cairan yang tidak mudah menguap atau
SGnya tidak mudah berubah dengan adanya perubahan temperature.(cairan tsb tidak boleh
bereaksi dengan material yang ada di tangki) Condensate pot (CP) sebaiknya dipasang untuk dry
maupun wet contact, dan pipa/tubing yang terhubung dengan condensate pot ke tapping point di
tangki harus slope (kondensate pot lebih tinggi dari tapping point di tangki).
Pemasangan pipa/tubing ke CP dari DPtx untuk yang wet contact harus terkoneksi dengan bagian
paling bawah CP dan pipa/tubing dari tanki ke CP terkoneksi lebih tinggi kira-kira 1 inch dari
koneksi paling bawah sehingga cairan di CP tetap terjaga.
Untuk pemasangan pipa/tubing yang dry contact dari DPtx ke CP terkoneksi pada posisi paling
atas dari CP dan dari tangki ke CP dipasang pada posisi paling bawah CP dan terpasang slope
agar kondensasi yang terjadi cepat kembali ke tangki.

Kalau SGnya berubah antara siang dan malam maka harus menggunakan koreksi temperature
untuk menghitung level tangki, jika sudah ada temperature transmitternya jika tidak ada, lebih
effesien mengganti dengan type ultrasonic atau float atau yang lain.



Wikan Nugrahajaya noeg_project@yahoo.com


Apakah yang Pak Gusti maksud dari dry contact dan wet contact adalah dry leg dan wet leg pada
DP transmitter.

Untuk dry leg memang tidak direkomendasikan digunakan (tergantung pada service tanki juga),
karena ada beberapa kasus error yang terjadi pada Plow disebabkan kondensasi dan evaporasi
fluida dari tanki. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut dipakailah wet leg, mungkin kalau ada
gambarnya lebih jelas lagi.

Sebenarnya selain dry leg dan wet leg, ada juga beberapa hal yang harus diperhatikan pada
instalasi DP transmitter seperti zero suppresion sebagai kompensasi dari jarak pemasangan DP
transmitter dan zero elevation sebagai kompensasi dari instalasi wet leg (dimana pada Plow bisa
mendapat P lebih besar dari Phigh, karena tinggi dari wet leg bisa sama atau lebih tinggi dari level
tanki tersebut, sehingga hasil DP bisa menjadi negatif, karena itu saat kalibrasi dan set up
transmitter dibutuhkan positif bias agar pembacaan transmitter tidak - )

Maaf jika penjelasannya kurang mengena.



Dade_GMail kuswanto.rahayu@gmail.com


Mo ikutan sharing,

Pada dasarnya ada beberapa hal yg harus kita perhatikan agar LT/LIT kita dapat berfungsi dg baik
:

1. X-MTR kita harus benar2 sesuai dg apa yg dibutuhkan oleh tangki dan fluida/media didalamnya.

a. Range X-MTR.
b. SG fluida.

2. Mengikuti cara pemasangan sesuai dg instruction manual.

a. P-low
b. P-high

3. Mengikuti cara kalibrasi sesuai dg instruction manual.
a. Zero setting.
b. Low Range Value setting.
c. High Range Value setting.

Saya yakin X-MTR kita dapat berfungsi dg. Baik.

								
To top