STUDI TENTANG INVESTASI SYARIAH DI PASAR MODAL INDONESIA

Document Sample
scope of work template
							  STUDI TENTANG INVESTASI SYARIAH
      DI PASAR MODAL INDONESIA




                   Oleh :

     Tim Studi Tentang Investasi Syariah
          Di Pasar Modal Indonesia




DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
     BADAN PENGAWAS PASAR MODAL
ROYEK PENINGKATAN EFISIENSI PASAR MODAL
          TAHUN ANGGARAN 2004
                               KATA PENGANTAR


          Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas
segala limpahan rahmatNya sehingga kami atas nama Tim Studi Investasi
Syariah di Pasar Modal Indonesia bisa menyelesaikan pembuatan laporan
hasil studi. Kami menyadari bahwa studi yang dilakukan ini hanya bertujuan
untuk memotret dan atau menginventarisir bentuk-bentuk kendala dan atau
hambatan pelaku pasar modal Indonesia dalam mengimplementasikan
transaksi produk syariah di pasar modal Indonesia masih jauh dari harapan
dan kesempurnaan, namun berkat kerjasama anggota tim serta bantuan
dari berbagai pihak yang berkompeten akhirnya studi ini dapat diselesaikan
dengan baik.


          Sebagai bentuk apresiasi yang layak, maka segenap anggota tim
menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan studi ini,
diantaranya adalah :

1. Pimpinan Proyek Peningkatan Efisiensi Pasar Modal beserta segenap
   jajarannya;
2. Pimpinan Dewan Syariah Nasional (DSN) beserta segenap jajarannya;
3. Direksi PT Bursa Efek Surabaya beserta segenap jajarannya;
4. Direksi PT Andalan Artha Advisindo Securities beserta segenap
   jajarannya;
5. Pengarah dan seluruh anggota Tim Studi Investasi Syariah di Pasar
   Modal Indonesia;
6. Pihak-pihak yang telah membantu Tim dalam rangka pelaksanaan studi
   ini;



                                      i
      Dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang ada, Tim berharap
semoga hasil studi ini bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak terkait khususnya
otoritas pasar modal Indonesia dalam mengambil kebijakan terutama yang
berkaitan dengan investasi syariah di pasar modal Indonesia.

      Akhirnya, semoga hasil studi ini dapat menjadi langkah awal untuk
melakukan studi lanjutan dimasa yang akan datang khususnya berkaitan
dengan investasi syariah di pasar modal Indonesia.




                              Jakarta,       Desember 2004




                              Tim Studi
                              Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia




                                    ii
                             DAFTAR ISI


                                                                      Hal

KATA PENGANTAR                                                           i

DAFTAR ISI                                                             iii

DAFTAR TABEL                                                            v

DAFTAR LAMPIRAN                                                       vii

EXECUTIVE SUMMARY                                                     viii

BAB I. PENDAHULUAN

   A. Latar Belakang                                                    1

   B. Tujuan Studi                                                      4

   C. Identifikasi Masalah                                              5

   D. Metodologi Studi                                                  6

   E. Obyek dan Wilayah Studi                                           7

   F. Sistematikan Penulisan Laporan Hasil Studi                        8

   G. Organisasi Studi                                                  9

   H. Waktu Studi                                                       9

BAB II. TINJAUAN INVESTASI SYARIAH DI PASAR MODAL INDONESIA

   A. Prinsip dan Kaidah Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia   10

   B. Perkembangan Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia         19

   C. Perkembangan Investasi Syariah di Pasar Modal Luar Negeri       23




                                  iii
BAB III. KENDALA PENGEMBANGAN INVESTASI SYARIAH DI PASAR
       MODAL INDONESIA

   A. Daftar Pertanyaan (Kuesioner)                      34

   B. Profil Responden                                   36

   C. Deskripsi dan Analisis Hasil Penelitian Lapangan   38

       1) Emiten/ Perusahaan Publik                      38

       2) Penjamin Emisi Efek (PEE)                      57

       3) Reksa Dana                                     72

BAB IV. KESIMPULAN

   KESIMPULAN                                            84

Daftar Pustaka

Lampiran-lampiran




                                   iv
                                Daftar Tabel

Nomor                                Perihal
Tabel 1    Perbandingan antara produk konvensional dengan syariah
Tabel 2    Komposisi jumlah responden
Tabel 3    Anggota JII periode Juli s.d. Desember 2004
Tabel 4    Penerbit obligasi syariah s.d. September 2004
Tabel 5    Perbandingan obligasi konvensional dengan syariah
Tabel 6    Penerbit Reksa Dana syariah
Tabel 7    Perbandingan NAB Reksa Dana konvensional dengan syariah
Tabel 8    Kapitalisasi pasar saham sesuai prinsip syariah di Malaysia
Tabel 9    Negara penerbit obligasi syariah per 31 Desember 2003
Tabel 10   Komposisi investor terhadap Global Bond di Malaysia
Tabel 11   Komposisi investor terhadap Global Bond di Qatar
Tabel 12   Komposisi investor terhadap Islamic Development Bank Bond
Tabel 13   Nilai kapitalisasi saham syariah di Bahrain s.d 2003
Tabel 14   Kapitalisasi saham syariah di Bahrain dan Malaysia
Tabel 15   Kapitalisasi pasar di bursa efek negara-negara islam per-2003
Tabel 16   Pertumbuhan Islamic Equity Fund secara Internasional
Tabel 17   Proporsi responden dan tingkat pengembalian kuesioner
Tabel 18   Responden terbagi dalam beberapa sektor bidang usaha
Tabel 19   Total aset responden emiten pada akhir tahun 2003
Tabel 20   Rencana penerbitan efek untuk responden emiten
Tabel 21   Tingkat pemahaman responden emiten
Tabel 22   Ketersediaan informasi PM syariah untuk responden emiten
Tabel 23   Jenis usaha untuk responden emiten
Tabel 24   Penggunaan dana hasil emisi untuk emiten
Tabel 25   Minat pemodal atas efek syariah untuk emiten
Tabel 26   Pra-proses penerbitan efek syariah untuk emiten
Tabel 27   Tingkat kemampuan PEE untuk emitan
Tabel 28   Tingkat kemampuan profesi penunjang untuk emiten
Tabel 29   Biaya yang dikeluarkan untuk emiten
Tabel 30   Mekanisme dan birokrasi untuk emiten
Tabel 31   Waktu dalam penerbitan efek syariah oleh emiten
Tabel 32   Ketersediaan kerangka peraturan untuk emiten
Tabel 33   Pola pengawasan lembaga terkait oleh emiten
Tabel 34   Kelembagaan dan institusi pengawas oleh emiten
Tabel 35   Pertanyaan tambahan untuk emiten
Tabel 36   Peraturan tentang penerbitan efek syariah oleh emiten
Tabel 37   Fungsi dan peran lembaga terkait oleh emiten
Tabel 38   Upaya sosialisasi peraturan oleh emiten
Tabel 39   Status perusahaan untuk Penjamin Emisi Efek (PEE)

                                      v
Tabel 40   Total aset perusahaan PEE
Tabel 41   Rencana penerbitan efek syariah untuk PEE
Tabel 42   Tingkat pengetahuan dan pemahaman untuk PEE
Tabel 43   Ketersediaan informasi untuk PEE
Tabel 44   Minat pemodal untuk PEE
Tabel 45   Pra-proses untuk PEE
Tabel 46   Tingkat kemampuan profesi penunjang untuk PEE
Tabel 47   Biaya yang dikeluarkan untuk PEE
Tabel 48   Mekanisme dan birokrasi untuk PEE
Tabel 49   Waktu proses penerbitan untuk PEE
Tabel 50   Fee yang diperoleh untuk PEE
Tabel 51   Kerangka peraturan untuk PEE
Tabel 52   Pola pengawasan untuk PEE
Tabel 53   Kelembagaan yang berwenang untuk PEE
Tabel 54   Peraturan penerbitan efek untuk PEE
Tabel 55   Fungsi dan peran lembaga yang berwenang untuk PEE
Tabel 56   Upaya sosialisasi peraturan untuk PEE
Tabel 57   Jumlah reksa dana yang dikelola untuk Manajer Investasi
           (MI)
Tabel 58   Total dana nasabah yang dikekola untuk MI
Tabel 59   Rencana penerbitan 5 tahun ke depan untuk MI
Tabel 60   Tingkat pengetahuan dan pemahaman untuk MI
Tabel 61   Ketersediaan informasi untuk MI
Tabel 62   Ketersediaan efek syariah untuk MI
Tabel 63   Tingkat return yang dihasilkan untuk MI
Tabel 64   Minat pemodal untuk MI
Tabel 65   Pra-proses penerbitan efek untuk MI
Tabel 66   Tingkat kemampuan profesi penunjang untuk MI
Tabel 67   Biaya yang dikeluarkan untuk MI
Tabel 68   Mekanisme dan birokrasi proses penerbitan untuk MI
Tabel 69   Waktu proses penerbitan untuk MI
Tabel 70   Kerangka peraturan untuk MI
Tabel 71   Pengawasan pengelolaan reksa dana untuk MI
Tabel 72   Kelembagaan atau institusi yang berwenang untuk MI
Tabel 73   Peraturan tentang penerbitan untuk MI
Tabel 74   Fungsi dan peran lembaga yang berwenang untuk MI
Tabel 75   Upaya sosialisasi peraturan untuk MI




                                    vi
                      DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran 1   : Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
               Nomor 181/KMK.1/2004 tentang Pembentukan Tim
               Studi Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia
Lampiran 2   : Surat Keputusan Ketua Pelaksana Tim Studi Investasi
               Syariah di Pasar Modal Indonesia Nomor Kep-
               01/PPEPM.1/2004 tentang Pengangkatan Anggota
               Pembantu Pelaksana dan Sekretariat Tim Studi
               Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia
Lampiran 3   : Kuesioner
Lampiran 4   : Daftar Responden




                               vii
                        EXECUTIVE SUMMARY


          Studi ini dilakukan dengan latar belakang bahwa ditengah
pertumbuhan kegiatan ekonomi syariah di Indonesia yang semakin
marak, perkembangan kegiatan investasi syariah di pasar modal
Indonesia masih dianggap belum mengalami kemajuan yang cukup
signifikan. Walaupun kegiatan investasi syariah telah mulai dan
diperkenalkan sejak pertengahan tahun 1997 melalui instrumen reksa
dana syariah dan sejumlah fatwa DSN-MUI berkaitan dengan kegiatan
investasi syariah di pasar modal juga telah diterbitkan, hingga saat ini
pihak-pihak yang melakukan kegiatan investasi syariah di pasar modal
masih tergolong minim.

          Dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia misalnya,
Indonesia terlihat begitu tertinggal dalam mengembangkan kegiatan
investasi syariah di pasar modal. Malaysia pertama kali mengembangkan
kegiatan pasar modal syariah sejak awal tahun 1990 dan saat ini telah
mengalami kemajuan yang cukup pesat. Sebagai contoh, data
menunjukkan hingga akhir tahun 2002 total Nilai Aktiva Bersih (NAB)
Reksa Dana Syariah mencapai 5% (lima per seratus) dari total NAB
industri Reksa Dana di Malaysia, sedangkan Indonesia baru mencapai
0,32% (nol koma tiga puluh dua per seratus) dari total NAB industri reksa
dana. Untuk obligasi syariah, di Malaysia hingga bulan September 2002
mencapai USD 15,52 miliar (43% dari total nilai obligasi yang tercatat di
pasar modal Malaysia), sementara di Indonesia hingga awal Desember
2004 baru mencapai Rp. 1,28 Triliun (USD 141,9 juta) atau 1,63% dari
total nilai emisi obligasi di Indonesia.




                                     viii
          Melihat kenyataan seperti ini, maka dilakukan studi yang secara
khusus membatasi ruang lingkup penelitian yang hanya membahas
tentang kendala dan masalah yang dianggap mempengaruhi lambannya
perkembangan kegiatan investasi di pasar modal Indonesia dengan
melibatkan berbagai pihak terutama para pelaku pasar modal di
Indonesia.
          Melalui     pembahasan      internal   anggota   tim    studi     dan
pembahasan dengan berbagai nara sumber, tim studi telah berhasil
mengidentifikasi sebanyak 12 hingga 14 masalah yang dianggap menjadi
kendala pengembangan kegiatan investasi syariah. Kemudian, hasil
identifikasi masalah tersebut dituangkan ke dalam bentuk kuesioner dan
disebarkan kepada 3 (tiga) kelompok responden yang dijadikan obyek
studi, yaitu Emiten/Perusahaan Publik, Penjamin Emisi Efek (PEE), dan
Manajer Investasi (MI), yang masing-masing mewakili sisi supply
(penawaran) efek syariah, sisi intermediari yang membantu proses
penerbitan efek syariah, dan sisi demand (permintaan) efek syariah.
          Secara umum, responden menyatakan bahwa ada beberapa
masalah      yang    memang    benar    menjadi    kendala,    yaitu:    tingkat
pengetahuan         dan   pemahaman     tentang    pasar      modal     syariah,
ketersediaan informasi tentang pasar modal syariah, minat pemodal,
kerangka peraturan tentang penerbitan efek syariah, pola pengawasan
(dari sisi syariah) oleh lembaga terkait, pra-proses (persiapan) penerbitan
efek syariah, dan kelembagaan atau institusi yang mengatur dan
mengawasi kegiatan pasar modal syariah di Indonesia.
          Beberapa identifikasi masalah lainnya yang semula dianggap
oleh tim sebagai kendala dalam pengembangan kegiatan investasi
syariah di pasar modal, ternyata ketiga kelompok responden menyatakan
hal tersebut bukan merupakan kendala, yaitu: tingkat kemampuan profesi


                                   ix
penunjang (Notaris, Konsultan hukum dan Akuntan publik) tentang pasar
modal syariah, biaya yang dikeluarkan dalam proses penerbitan efek
syariah, mekanisme dan birokrasi proses penerbitan efek syariah, waktu
(lama-tidaknya) dari proses penerbitan efek syariah.
         Kenyataan lain yang didapat dari studi ini adalah bahwa dalam
jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan akan terjadi kesenjangan antara
sisi permintaan efek syariah dan sisi penawarannya. Hal ini berdasarkan
pernyataan dari responden bahwa dalam 5 (lima) tahun ke depan
Emiten/Perusahaan Publik dan Penjamin Emisi Efek tidak memiliki
rencana untuk melakukan penerbitan atau membantu proses penerbitan
efek syariah sedangkan di sisi lain Manajer Investasi secara umum
menyatakan memiliki rencana untuk menerbitkan efek (reksa dana)
syariah. Sehingga yang akan terjadi adalah bahwa reksa dana akan
kekurangan efek syariah untuk dijadikan portofolionya.
         Studi juga mendapatkan masukan tentang beberapa hal yang
dianggap dapat mendorong dan mengembangkan kegiatan investasi
syariah di pasar modal, yaitu perlu dilakukannya antara lain: program
sosialisasi secara intensif tentang kegiatan investasi syariah di pasar
modal yang mencakup antara lain, prinsip-prinsip dasar, produk,
mekanisme transaksi, peraturan dan pola pengawasannya, penyusunan
kerangka peraturan yang lebih jelas dalam rangka penerbitan efek
syariah dan kegiatan investasi syariah di pasar modal, dan membentuk
pola kelembagaan (hubungan antara Bapepam, SROs, DSN, dan
Profesi) yang efisien dalam fungsi dan peran dalam mengatur, membina,
mengawasi, dan menjalankan kegiatan investasi syariah di pasar modal
Indonesia.




                                  x
                                   BAB I
                               PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

           Pasar modal secara umum dapat diidentikkan dengan sebuah
  tempat dimana modal diperdagangkan antara pihak yang memiliki
  kelebihan modal (investor) dengan orang yang membutuhkan modal
  (issuer) untuk mengembangkan investasi. Dalam Undang-Undang No. 8
  tahun 1995, pasar modal didefinisikan sebagai “kegiatan yang
  bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek,
  Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya,
  serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”.

           Keberadaan pasar modal di Indonesia merupakan salah satu
  faktor terpenting dalam ikut membangung perekonomian nasional,
  terbukti telah banyak industri dan perusahaan yang menggunakan
  institusi pasar modal ini sebagai media untuk menyerap investasi dan
  media untuk memperkuat posisi keuangannya. Secara faktual, pasar
  modal telah menjadi financial nerve centre (saraf finansial dunia) pada
  dunia ekonomi modern dewasa ini, bahkan perekonomian modern tidak
  akan mungkin bisa eksis tanpa adanya pasar modal yang tangguh dan
  berdaya saing global serta terorganisir dengan baik.
           Sebagai upaya dalam mendukung terwujudnya Pasar Modal
  Indonesia menjadi penggerak ekonomi nasional yang tangguh dan
  berdaya saing global sebagaimana tertuang dalam cetak biru pasar
  modal   Indonesia,   perlu    dilakukan   secara   terus   menerus   untuk
  menyempurnakan dan mengembangkan infrastruktur pasar modal
  menuju ke arah yang lebih baik lagi.
           Salah satu faktor bagi terciptanya pasar modal Indonesia yang
  tangguh dan berdaya saing global dimaksud adalah dengan tersedianya
  fasilitas dan instrumen pasar modal Indonesia yang mampu bersaing
  dengan instrumen pasar modal negara-negara lain. Sehubungan dengan


                                     1
itu, ditengah kemerosotan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional, yang
juga   berimbas    ke   sektor   pasar   modal      selaku    subsistem   dari
perekonomian nasional Indonesia, kini industri pasar modal Indonesia
mulai melirik pengembangan penerapan prinsip-prinsip syariah islam
sebagai alternatif instrumen investasi dalam kegiatan pasar modal di
Indonesia.
         Bangkitnya ekonomi Islam di Indonesia dewasa ini menjadi
fenomena yang menarik dan menggembirakan terutama bagi penduduk
Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Praktek kegiatan ekonomi
konvensional,     khususnya      dalam   kegiatan     pasar     modal     yang
mengandung unsur spekulasi sebagai salah satu komponennya
nampaknya masih menjadi hambatan psikologis bagi umat Islam untuk
turut aktif dalam kegiatan investasi terutama di bidang pasar modal.
         Perbedaan secara umum antara pasar modal konvensional
dengan pasar modal syariah dapat dilihat pada instrumen dan
mekanisme transaksinya, sedangkan perbedaan nilai indeks saham
syariah dengan nilai indeks saham konvensional terletak pada kriteria
saham emiten yang harus memenuhi prinsip-prinsip dasar syariah.
Secara umum konsep pasar modal syariah dengan pasar modal
konvensional tidak jauh berbeda meskipun dalam konsep pasar modal
syariah disebutkan bahwa saham yang diperdagangkan harus berasal
dari perusahaan yang bergerak dalam sektor yang memenuhi kriteria
syariah dan terbebas dari unsur ribawi, serta transaksi saham dilakukan
dengan menghindarkan berbagai praktik spekulasi.
         Langkah awal perkembangan pasar modal syariah di Indonesia
dimulai dengan diterbitkannya Reksa Dana Syariah pada 25 Juni 1997
diikuti dengan diterbitkannya obligasi syariah pada akhir 2002, kemudian
diikuti pula dengan hadirnya Jakarta Islamic Index (JII) pada Juli 2000.
Instrumen-instrumen investasi syariah tersebut kemudian mengalami




                                    2
perkembangan sejalan dengan maraknya pertumbuhan bank-bank
nasional yang membuka “window” syariah.
             Sebagai gambaran umum, hingga akhir September 2004
perbandingan            antara        jumlah     saham,      obligasi    dan   reksadana
konvensional dengan jumlah saham, obligasi dan reksadana syariah
dapat dilihat sebagaimana tabel berikut :


                                               Tabel 1
     Perbandingan antara produk konvensional dengan produk syariah
                                 Produk Konvensional                  Produk Syariah
 No        Instrumen           Jumlah          Nilai Emisi     Jumlah       Nilai Emisi
 1      Saham                  418        254.811 Trilyun       30 *      0,233 Trilyun
 2      Obligasi               145        75.055 Trilyun         10       1.117 Trilyun
 3      Reksadana              209        94.539 Trilyun          8       0,285 Trilyun
Sumber : data Bapepam & BEJ, diolah
* Saham-saham anggota JII.




             Dilihat dari kenyataannya, walaupun sebagian besar penduduk
Indonesia mayoritas beragama Islam namun perkembangan pasar
modal yang berbasis syariah dapat dikatakan sangat tertinggal jauh
terutama jika dibandingkan dengan Malaysia yang sudah bisa dikatakan
telah menjadi pusat investasi berbasis syariah di dunia, karena telah
menerapkan beberapa instrumen keuangan syariah untuk industri pasar
modalnya. Kenyataan lain yang dihadapi oleh pasar modal syariah kita
hingga saat ini adalah minimnya jumlah pemodal yang melakukan
investasi, terutama jika dibandingkan dengan jumlah pemodal yang ada
pada sektor perbankan.

             Pada sisi lain, harus diakui bahwa masih terdapat beberapa
permasalahan mendasar yang menjadi kendala berkembangnya pasar
modal yang berprinsip syariah di Indonesia. Kendala-kendala dimaksud
diantaranya adalah selain masih belum meratanya pemahaman dan atau


                                                3
  pengetahuan masyarakat Indonesia tentang investasi di pasar modal
  yang berbasis syariah, juga belum ditunjangnya dengan peraturan yang
  memadai tentang investasi syariah di pasar modal Indonesia serta
  adanya anggapan bahwa untuk melakukan investasi di pasar modal
  syariah dibutuhkan biaya yang relatif lebih mahal apabila dibandingkan
  dengan investasi pada sektor keuangan lainnya.

           Berkenaan dengan hal-hal tersebut di atas, tim studi investasi
  syariah perlu mempelajari secara seksama tentang jenis-jenis kendala
  baik yang bersifat teknis maupun non teknis berkaitan dengan kegiatan
  investasi syariah di pasar modal Indonesia. Hasil studi ini diharapkan
  dapat memberikan gambaran yang lebih jelas terhadap berbagai kendala
  dan atau hambatan yang melatarbelakangi investasi syariah di pasar
  modal Indonesia, serta menambah pemahaman dan sebagai bahan
  pertimbangan terutama bagi otoritas pasar modal dan institusi terkait
  lainnya dalam menfasilitasi infrastruktur kegiatan investasi syariah di
  pasar modal Indonesia.


B. Tujuan Studi
        Studi investasi syariah ini bertujuan untuk :
  1. Mempelajari perkembangan investasi syariah di pasar modal luar
     negeri;
  2. Mengetahui bentuk-bentuk hambatan dan kendala apa sajakah yang
     melatar belakangi berkembangnya investasi syariah di pasar modal
     Indonesia;
  3. Mencari format kelembagaan dan aspek pengaturan investasi syariah
     yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan pasar modal
     Indonesia.




                                     4
C. Identifikasi Masalah
        Untuk mempermudah penelaahan dan penganalisaan masalah,
  maka tim studi telah mengidentifikasi masalah berupa batasan masalah
  dan rumusan masalah antara lain :

  1). Batasan Masalah
     Agar kajian studi ini terfokus pada pokok permasalahan yang dituju,
     maka studi ini membatasi permasalahan seputar aspek-aspek
     kendala yang mungkin timbul dalam praktek kegiatan investasi
     syariah di pasar modal Indonesia. Untuk itu tim studi juga melakukan
     kajian terbatas melalui situs-situs internet dan referensi lain tentang
     praktek investasi syariah di pasar modal pada negara-negara di Asia,
     Timur Tengah dan Eropa/ AS.


  2). Rumusan Masalah
     Dalam studi ini, tim merumuskan beberapa masalah yang perlu
     mendapat perhatian serius, yaitu :
        Hal-hal apa saja yang menjadi kendala bagi perkembangan
        investasi syariah di pasar modal Indonesia;
        Hal-hal apa sajakah yang perlu disediakan otoritas pasar modal
        beserta institusi lainnya terkait dengan peraturan dan lan-lain
        dalam rangka kegiatan investasi syariah di pasar modal Indonesia;
        Hal-hal apa sajakah yang perlu dipersiapkan oleh para pelaku
        pasar modal di lapangan guna terselenggaranya kegiatan
        investasi syariah di pasar modal Indonesia;
        Bagaimana kemungkinan dan atau prospek perkembangan
        investasi syariah di pasar modal ke depan sebagai salah satu
        alternatif investasi masyarakat di Indonesia.




                                     5
D. Metodologi Studi
        Dalam rangka mendukung terlaksananya studi investasi syariah
  ini, tim studi menggunakan beberapa metode diantaranya adalah :

  1). Metode pengumpulan data
           Untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan, studi
     ini dilakukan dengan cara :
     a). Studi Kepustakaan
     Studi pustaka dilakukan dengan mempelajari beberapa literatur yang
     terkait dengan prinsip-prinsip pasar modal syariah dan atau investasi
     syariah di pasar modal termasuk yang diterapkan di Negara lain yang
     menjadi sumber kajian. Dalam mempelajari literatur, tim studi juga
     mengambil dan mempelajari tulisan serta artikel baik perorangan
     maupun kelembagaan terutama melalui situs-situs resmi milik institusi
     yang terkait dengan investasi syariah di pasar modal Indonesia.
     b). Studi Lapangan
     Studi lapangan ini dilakukan untuk memperoleh masukan secara
     langsung dari para pelaku pasar yang berkaitan dengan investasi
     syariah di pasar modal seperti emiten/ perusahaan publik, penjamin
     emisi efek dan reksa dana. Adapun metodenya antara lain adalah :
        Survey,   dengan    melakukan   penyebaran     kuesioner   kepada
        sejumlah responden yaitu emiten, penjamin emisi efek dan
        manajer investasi. Hal ini dilakukan untuk melihat potret dan
        gambaran nyata seputar bentuk dan jenis kendala yang selama ini
        menjadi ganjalan bagi para pelaku pasar modal Indonesia.
        Diskusi dengan para narasumber dan atau pihak-pihak yang
        dianggap berkompeten.
        Melakukan wawancara dengan beberapa pihak terutama manajer
        investasi dan penjamin emisi efek yang telah berpengalaman
        dalam menerbitkan efek syariah di pasar modal Indonesia.




                                    6
2). Metode dan teknik pengambilan sample
         Metode dan teknik sampling yang digunakan dalam studi ini
   adalah “Stratifield Random Sampling dengan sistem acak tak
   proporsional” dimana pengambilan sample dilakukan secara random
   atau acak/ serampangan dengan terlebih dahulu populasi dibagi ke
   dalam sub-sub populasi yang disebut strata/lapisan/kelompok yang
   lebih kecil, hal ini mengingat populasi sangat heterogin sehingga
   dengan mengelompokkan menjadi beberapa strata diharapkan tiap
   stratum menjadi relatif homogen.
         Adapun sample yang diambil dalam studi ini masing-masing
   kelompok    terdiri    dari   Emiten   dan   atau   Perusahaan     Publik,
   Perusahaan Efek yang melakukan kegiatan sebagai Penjamin Emisi
   Efek (PEE) dan Perusahaan Efek yang melakukan kegiatan sebagai
   Manajer Investasi (MI) selaku pengelola reksadana.
                                   Tabel 2
                         Komposisi jumlah responden

    No             Karakteristik             Populasi Sample Prosentase

     1    Emiten/ Perusahaan Publik             412       107       25,97

     2    Penjamin Emisis Efek (PEE)            112        80       71,42

     3    Manajer Investasi (MI)                100        56       56


3). Metode analisis data
         Tujuan studi sebagaimana telah disebutkan di atas diantaranya
adalah, untuk mempelajari perkembangan investasi syariah di pasar
modal luar negeri serta mengetahui bentuk-bentuk hambatan dan
kendala apa sajakah yang melatar belakangi berkembangnya investasi
syariah di pasar modal Indonesia. Untuk itu metode analisis yang paling
tepat digunakan dalam studi ini adalah metode “analisis deskriptif
dengan pendekatan kualitatif”.



                                     7
            Metode deskriptif kualitatif ini dilakukan melalui proses
  penyaringan informasi dari kondisi sewajarnya dalam kegiatan suatu
  obyek, dihubungkan dengan langkah pemikiran rasional baik dari sudut
  pandang teoritis maupun praktis. Setiap data dan atau informasi yang
  diperoleh selanjutnya dianalisis secara kualitatif untuk mengetahui
  keterkaitannya dengan permasalahan pokok sehingga pada akhirnya
  bisa ditarik suatu kesimpulan secara obyektif.


E. Obyek dan Wilayah Studi
            Sebagai objek (responden) dalam studi ini adalah beberapa
  pelaku pasar modal yang terkait langsung dengan praktek kegiatan
  investasi efek syariah di pasar modal Indonesia seperti : emiten,
  penjamin emisi efek dan manajer investasi.
            Adapun daerah yang akan menjadi obyek studi adalah meliputi
  2 (dua) kota besar yang selama ini dianggap bisa mewakili sebagian
  besar pelaku pasar modal di Indonesia yaitu DKI Jakarta dan Bandung
  Jawa Barat.


F. Sistematika Penulisan
            Laporan studi ini disusun dalam beberapa bab, dengan
  sistematika penulisan sebagai berikut :
  -   Bab I, merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang, tujuan
      studi, metodologi studi, obyek dan wilayah studi, sistematika
      penulisan dan organisasi studi serta waktu studi.
  -   Bab II, merupakan tinjauan pustaka yang memuat kerangka
      pemikiran berupa : prinsip dan kaidah investasi syariah di pasar
      modal Indonesia, perkembangan investasi syariah di pasar modal
      Indonesia dan perkembangan investasi syariah di pasar modal luar
      negeri yang antara lain meliputi Asia, Timur Tengah dan Eropa/
      Amerika.



                                     8
  -   Bab III, memuat hasil informasi dan data studi lapangan yang meliputi
      hasil survey terhadap : Emiten, Penjamin Emisi Efek dan Manajer
      Investasi serta hasil wawancara dari para nara sumber dari praktisi
      Pasar Modal. Dalam bab ini juga dianalisis mengenai praktek
      kegiatan investasi syariah di beberapa negara sebagai sumber kajian
      dan   beberapa    bentuk-bentuk       kendala   yang   melatarbelakangi
      perkembangan dan pertumbuhan investasi syariah di pasar modal
      Indonesia.
  -   Bab IV, merupakan penutup yang memuat kesimpulan dan saran/
      rekomendasi.


G. Organisasi Studi
  Pegawai Bapepam yang terlibat dalam penelitian ini terdiri dari :
  -   2 (dua) orang Pengarah;
  -   1 (satu) orang Ketua Tim merangkap anggota;
  -   9 (sembilan) orang Pelaksana;
  -   4 (empat) orang Pembantu Pelaksana;
  -   2 (dua) orang Staf Sekretariat.


H. Waktu Studi
            Lama studi mulai dari tahap persiapan hingga tahap pelaporan
  memerlukan waktu kurang lebih 1 (satu) tahun anggaran yaitu dari
  Januari sampai dengan Desember 2004.




                                        9
                                BAB II

   TINJAUAN INVESTASI SYARIAH DI PASAR MODAL INDONESIA

A. Prinsip dan Kaidah Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia

           Mencermati perkembangan industri perbankan syariah di
  Indonesia yang pada tahun-tahun terakhir ini begitu menggembirakan,
  ternyata membawa dampak positif pula terhadap perkembangan sistem
  investasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar syariah pada sektor
  pasar modal di Indonesia atau yang lebih dikenal dengan istilah pasar
  modal syariah. Pasar modal syariah dikembangkan dalam rangka
  mengakomodir kebutuhan umat Islam di Indonesia yang ingin melakukan
  investasi di produk-produk pasar modal yang sesuai dengan prinsip
  dasar syariah. Dengan semakin beragamnya sarana dan produk
  investasi di Indonesia, diharapkan masyarakat akan memiliki alternatif
  berinvestasi yang dianggap sesuai dengan keinginannya, disamping
  investasi yang selama ini sudah dikenal dan berkembang di sektor
  perbankan.
           Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia adalah merupakan
  sebuah negara dengan penduduk yang mayoritas beragama Islam, oleh
  karena itu sektor industri pasar modal diharapkan bisa mengakomodir
  dan sekaligus melibatkan peranserta warga muslim dimaksud secara
  langsung untuk ikut aktif menjadi pelaku utama pasar, tentunya adalah
  sebagai investor lokal di pasar modal Indonesia. Sebagai upaya dalam
  merealisasikan hal tersebut, maka sudah sewajarnya disediakan dan
  dikembangkan produk-produk investasi di pasar modal Indonesia yang
  sesuai dengan prinsip dasar ajaran agama Islam.
           Hal tersebut di atas menjadi penting mengingat masih adanya
  anggapan di kalangan umat Islam sendiri bahwa berinvestasi di sektor
  pasar modal di satu sisi adalah merupakan sesuatu yang tidak
  diperbolehkan (diharamkan) berdasarkan ajaran Islam, sementara pada


                                  10
      sisi yang lain bahwa Indonesia juga perlu memperhatikan serta menarik
      minat investor mancanegara untuk berinvestsi di pasar modal Indonesia.
      terutama investor dari negara-negara Timur Tengah yang diyakini
      merupakan investor potensial.
                   Dengan dikembangkannya produk-produk investasi syariah di
      pasar modal Indonesia, diharapkan bisa mewujudkan pasar modal
      Indonesia menjadi suatu market yang bisa menarik para investor yang
      ingin berinvestasi dengan memperhatikan kesesuaian produk dan atau
      instrumen yang sejalan dengan kaedah-kaedah ajaran islam. Hal ini
      tidak hanya terhadap investor lokal akan tetapi yang tidak kalah
      pentingnya adalah hal ini diharapkan pula bisa memberikan daya tarik
      tersendiri terhadap minat investor dari manca negara.
                   Dalam ajaran Islam, bahwa kegiatan berinvestasi                           dapat
      dikategorikan sebagai kegiatan ekonomi yang sekaligus kegiatan
      tersebut termasuk kegiatan muamalah yaitu suatu kegiatan yang
      mengartur hubungan antar manusia. Sementara itu berdasarkan kaidah
      Fikih1, bahwa hukum asal dari kegiatan muamalah itu adalah mubah
      (boleh) yaitu semua kegiatan dalam pola hubungan antar manusia
      adalah mubah (boleh) kecuali yang jelas ada larangannya (haram). Ini
      berarti ketika suatu kegiatan muamalah yang kegiatan tersebut baru
      muncul dan belum dikenal sebelumnya dalam ajaran Islam maka
      kegiatan tersebut dianggap dapat diterima kecuali terdapat implikasi dari
      Al Qur’an dan Hadist yang melarangnya secara implisit maupun
      eksplisit.2
                   Dalam beberapa literatur Islam klasik memang tidak ditemukan
      adanya terminologi investasi maupun pasar modal, akan tetapi sebagai
      suatu kegiatan ekonomi, kegiatan tersebut dapat diketegorikan sebagai
      kegiatan jual beli (al Bay). Oleh karena itu untuk mengetahui apakah
      kegiatan investasi di pasar modal merupakan sesuatu yang dibolehkan

1
    Fikih adalah salah satu cabang dari ajaran islam yang mengatur tentang ……..
2
    Training module on Comprehensive training on Sharia Banking, Karim Business Consulting


                                                    11
      atau tidak menurut ajaran Islam, kita perlu mengetahui hal-hal yang
      dilarang/ diharamkan oleh ajaran Islam dalam hubungan jual beli.

      1. Konsep dasar investasi syariah di Pasar Modal Indonesia
                      Apabila kita melihat dalam Al Qur’an dan Hadist sebagai
           sumber utama ajaran Islam maka kita dapat melihat beberapa
           ketentuan mengenai hal tersebut :
           “ …Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS
           2;275)
            “Hai orang yang beriman, jaunganlah kamu saling memakan harta
           sesamamu dengan jalan                       yang bathil, kecuali dengan jalan
           perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu…”
           (QS 4;29)
            “Hai orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu…” (QS 5;1)
            “ Rasulullah saw melarang jual beli (yang mengandung) gharar” (HR
           Al Baihaqi dari Ibnu Umar).
            “Tidak boleh menjual sesuatu hingga kamu memiliki” (HR Baihaqi
           dari Hukaim bin Hizam)
                   Berdasarkan Al-Qur’an, Hadist dan pendapat para ahli fiqh
           (ajaran islam), sesuatu yang dilarang atau diharamkan adalah 3:
           1) Haram karena bendanya (zatnya)
               Pelarangan kegiatan muamalah ini disebabkan karena benda atau
               zat yang menjadi objek dari kegiatan tersebut berdasarkan
               ketentuan al Qur’an dan Hadist telah dilarang/ diharamkan.
               Benda-benda tersebut, antara lain : 1. Babi, 2. Khamr (minuman
               keras), 3. Bangkai binatang, 4. Darah.
           2) Haram selain karena bendanya (zatnya)
               Pengertian dari pelarangan atas kegiatan ini adalah suatu kegiatan
               yang objek dari kegiatan tersebut bukan merupakan benda-benda
               yang diharamkan karena zatnya artinya benda-benda tersebut

3
    Basic Training: Fiqh and Instrument on Islamic Capital Market


                                                      12
            benda-benda yang dibolehkan (dihalalkan). Akan tetapi benda
            tersebut menjadi diharamkan disebabkan adanya unsur :
            a. Tadlis
            b. Taghrir/ Gharar
            c. Riba
            d. Terjadinya : Ikhtikar dan Bay Najash
        3) Tidak sahnya akadnya
            Seperti halnya dengan pengharaman disebabkan karena selain
            zatnya maka pada kegiatan ini benda yang dijadikan objeknya
            adalah benda yang berdasarkan zatnya dikategorikan halal
            (dibolehkan) tetapi benda tersebut menjadi haram disebabkan
            akad atau penjanjian yang menjadikan dasar atas transaksi
            tersebut dilarang/ diharamkan oleh ajaran Islam.
            Perjanjian-perjanjian tersebut, antara lain:
            1. Ta’aluq
            2. Terjadi suatu perjanjian dimana pelaku, objek dan periodenya
                sama.


        Bentuk-bentuk akad (perjanjian) dalam islam
                  Akad dalam bahasa Arab artinya perikatan atau perjanjian
        atau pemufakatan. Adapun pengertian berdasarkan fiqh maka Akad
        adalah pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan kabul
        (pernyataan menerima ikatan), sesuai dengan kehendak syariat yang
        berpengaruh pada objek perikatan.4 Berdasarkan pengertian tersebut
        maka akad adalah suatu perbuatan hukum yang melibatkan kedua
        belah pihak atau lebih, yang melakukan perjanjian. Ajaran Islam
        menekankan bahwa semua transaksi yang dilakukan oleh dua belah
        pihak atau lebih, tidak boleh menyimpang dan harus sejalan dengan
        kehendak syariat (hukum Islam).

4
 M Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam; Fidh Muamalah, Jakarta: Rajawali Pers,2003),
cetakan 1, hlm 101.


                                                 13
                     Oleh karena itu akad menurut ajaran Islam adalah sesuatu
           yang penting. Hal ini disebabkan akad boleh dikatakan akan terjadi
           dalam setiap kegiatan yang ada hubungan dengan muamalah. Kita
           akan menemukan penggunaan akad-akad yang sama di berbagai
           kegiatan ekonomi seperti perbankan, asuransi maupun pasar modal.
                     Akad yang sering dilakukan di masyarakat adalah : Al Bay
           (Jual Beli, perdagangan, perniagaan). Para Ulama mengistilahkan
           menjadi : tukar menukar harta atas dasar saling ridha5. Adapun yang
           menjadi objek dari pertukaran dapat berupa Ayn dan Dayn. Ayn
           adalah benda-benda yang berupa real asset berupa barang maupun
           termasuk pula jasa dan bisnis. Sedangkan pengertian dayn adalah
           financial asset yaitu berupa uang dan surat berharga.
                     Pertukaran antara ayn dengan ayn labih dikenal dengan
           istilah barter. Ajaran Islam mengatur bahwa barter dapat dibolehkan
           untuk benda-benda yang berlainan jenis, misalnya barter yang sering
           dilakukan oleh masyarakat pedesaan berupa beras dengan hasil
           pertanian       lain.    Sedangkan          bagi     benda       yang       sejenis   tidak
           diperbolehkan kecuali secara kasat mata benda tersebut sejenis
           tetapi memiliki mutu yang berbeda serta memuhi persyaratan
           tertentu.
           Sedangkan yang lazim dilakukan di masyarakat modern adalah
           pertukaran antara ayn dengan dayn. Beberapa akad yang terjadi dari
           pertukaran ini antara lain:
           1. Tunai/ Naqdan
           2. Murabahah
           3. Salam
           4. Istishna
           5. Ijarah
           6. Ju’alah


5
    Imam Santoso, Lc, Fiqh Muamalah, Jakarta:Pustaka Tarbiatuna, 2003), cetakan1, hlm 19.


                                                     14
                  Disamping kegiatan pertukaran, kita pun mengenal kegiatan
        percampuran. Pengertian dari percampuran andalah suatu akad
        antara dua atau lebih pihak yang bertujuan untuk bekerja sama
        melakukan suatu kegiatan bisnis dimana masing-masing pihak
        melakukan menyerahkan sejumlah dana atau jasa. Bentuk-bentuk
        akad untuk kegiatan percampuran tersebut adalah:
        1. Mudharabah
        2. Musyarakah
                  Akad-akad tersebut diatas, akan selalu kita temui dalam
        kegiatan investasi syariah di pasar modal. Hal tersebut dikarenakan
        selain terjadi pertukaran (al bay-jual-beli) di pasar modal pun kita
        mengenal suatu kegiatan percampuran misalnya yang terjadi di
        penerbitan saham suatu perusahaan.

    2. Fatwa DSN yang mengatur tentang kegiatan investasi syariah
                  Sebagaimana          telah    dijelaskan       diatas     bahwa      terdapat
        karekteristik tersendiri dalam melakukan investasi syariah, termasuk
        juga di sektor pasar modal. Batasan tersebut adalah berupa
        kesesuaian suatu produk investasi atas prinsip-prinsip ajaran Islam.
        Dewan Syariah Nasional (DSN) suatu lembaga dibawah MUI (Majelis
        Ulama Indonesia) yang dibentuk tahun 1999 telah megeluarkan
        ketentuan mengenai kegiatan investasi di pasar modal syariah.
        Ketentuan tersebut dituangkan kedalam beberapa fatwa MUI tentang
        kegiatan investasi yang sesuai syariah ke dalam produk-produk
        investasi di Pasar Modal Indonesia.
                  Fatwa DSN Nomor : 40/DSN-MUI/X/2003 tanggal 4 Oktober
        2003 tentang Pasar Modal Dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip
        Syariah Di Bidang Pasar Modal6, telah menentukan tentang kriterian
        produk-produk investasi yang sesuai dengan ajaran Islam. Pada
        intinya, produk tersebut harus mememuhi syarat, antara lain :
6
 Dewan Syariah Nasional, Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional, Jakarta (Bank Indonesia-Dewan
Syariah Nasional: 2003, Edisi 2) hlm 263.


                                               15
1)   Jenis Usaha, produk barang dan jasa yang diberikan serta cara
     pengelolaan perusahaan Emiten tidak merupakan usaha yang
     dilarang oleh prinsip-prinsip Syariah, antara lain :
     a. Usaha perjudian atau permaian yang tergolong judi atau
          perdagangan yang dilarang.
     b. Lembaga      Keuangan        konvensional     (ribawi),   termasuk
          perbankan dan asuransi konvensional.
     c. Produsen, distributor, serta         pedagang makanan dan
          minuman haram.
     d. Produsen, distributor, dan/ atau penyedia barang/ jasa yang
          merusak moral dan bersifat mudarat.
2)   Jenis Transaksi harus dilakukan menurut prinsip kehati-hatian
     serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi yang didalamnya
     mengandung unsur dharar, gharar, maysir, dan zhulm meliputi :
     najash, ba’i al ma’dun, insider trading, menyebarluaskan
     informasi yang menyesatkan untuk memperoleh keuntungan
     transaksi yang dilarang, melakukan investasi pada perusahaan
     yang pada saat transaksi tingkat (nisbah) hutang perusahaan
     kepada lembaga keaungan ribawi lebih dominan dari modalnya,
     margin trading dan ikhtikar.
          Berdasarkan   ketentuan      tersebut     maka    produk-produk
investasi di pasar Modal yang sesuai prinsip syariah tersebut dapat
berupa:

a)   Saham
          Produk investsi berupa Saham pada prinsipnya sudah sesuai
dengan ajaran Islam. Dalam teori percampuran, Islam mengenal akad
syirkah atau musyarakah yaitu suatu kerjasama antara dua atau lebih
pihak     untuk   melakukan   usaha     dimana      masing-masing    pihak
menyetorkan sejumlah dana, barang atau jasa.




                                16
       Adapun jenis-jenis syirkah yang dikenal dalam ilmu fikih yaitu:
‘inan, mufawadhah, wujuh, abdan, mudharabah. Pembagian tersebut
diadasarkan pada jenis setoran masing-masing pihak dan siapa
diantara pihak tersebut yang mengelola kegiatan usaha tersebut.
       Fatwa diatas telah menentukan bagaimana memilih saham-
saham yang sesuai dengan ajaran Islam. Dalam perkembangannya
telah banyak negara –negara yang telah menentukan batasan suatu
saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah. Misalnya
Malaysia, Amerika serikat melaui Dow Jones Islamic Index.
Sementara itu beberapa institusi keuangan dunia telah membuat pula
batasan-batasan untuk kategori saham syariah antara lain : Citi Asset
Management Group, Wellington Management Company, Islamic.com
dan sebagainya

b)   Obligasi
       Obligasi berdasarkan definisinya adalah suatu surat berharga
jangka panjang yang bersifat hutang yang dikeluarkan oleh emiten
kepada pemegang obligasi dengan kewajiban membayar bungan
pada periode tertentu dan melunasi pokok pada saat jatuh tempo
kepada pemegang obligasi.
       Berdasarkan definisi tersebut maka dapat dikatakan bahwa
obligasi adalah suatu produk yang tidak sesuai ajaran Islam. Menurur
ajaran Islam maka suatu hutang piutang termasuk kegiatan tabarru
(kebajikan), sehingga diharamkan untuk mendapatkan sesuatu dari
kegiatan   tersebut.   Misalnya    seseorang   meminjam   uang    Rp.
1.000.000,00 maka yang memberikan pinjaman tidak boleh meminta
kelebihan dana dari pinjaman tersebut.
       Pengertian ini sangat bertentangan dengan pengertian
obligasi yang kita kenal sekarang. Hal ini dikarenakan obligasi
biasanya digunakan untuk kegiatan usaha/ bisnis. Dalam ajaran Islam
kegiatan usaha/bisnis diketegorikan kegiatan tijarah. Secara logika


                              17
apabila seseorang meminjan dana untuk kegiatan bisnis maka pihak
yang meminjamkan berhak atas sebagian keuntungan atas usaha
tersebut.
        Sebagai solusi dari permasalahan tersebut maka DSN melalui
fatwa Nomor: 32/DSN-MUI/IX/2002 tanggal 14 September 2002
tentang Obligasi Syariah telah melakukan redifinisi dari pengertian
obligasi. Pengertian obligasi syariah dalam fatwa tersebut adalah
suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah
yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang obligasi syariah yang
mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang
obligasi syariah berupa bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali
dana obligasi pada saat jatuh tempo.
        Akad-akad yang dapat digunakan dalam penerbitan obligasi
syariah, antara lain:
1. Mudharabah
2. Murabahah
3. Salam
4. Istishna
5. Ijarah

c) Reksa Dana
        Reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk
menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya
diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Fatwa
DSN Nomor: 20/DSN-MUI/IX/2000 tanggal 18 April 2000 tentang
Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah telah
mendefiniskan tentang Reksa Dana Syariah adalah Reksa Dana yang
beroperasi menurut ketentuan dan prinsip Syariah Islam, baik dalam
bentuk akad antara pemodal sebagai milik harta (shahib al-mal/rabb
al-maal) dengan manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal,




                              18
       maupun antara Manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal dengan
       pengguna investasi.
              Berdasarkan hal tersebut maka batasan untuk produk-produk
       yang dapat dijadikan portofolio bagi Reksa Dana Syariah adalah
       produk-produk investasi sesuai dengan ajaran Islam.

B. Perkembangan Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia

             Sejak diluncurkannya reksadana syariah pertama kali yaitu
  reksadana Danareksa Syariah 25 Juni 1997, perkembangan instrumen
  syariah terus mengalami perkembangan walaupun lambat namun pasti,
  terlebih era tahun 2002 sampai dengan pertengahan tahun 2004,
  instrumen     syariah   baik   reksadana      maupun     obligasi   mengalami
  pertumbuhan yang cukup signifikan, yaitu reksadana sampai saat in
  berjumlah 10 reksadana (termasuk 2 reksadana yang tidak aktif/bubar)
  dan sebanyak 10 (sepuluh) emiten yang telah menerbitkan obligasi
  berbasis syariah.
             Hal-hal yang mempengaruhi perkembangan Pasar Modal
  Syariah adalah antara lain :
  pertama, Perkembangan macam instrumen pasar modal sesuai dengan
  syariah yang dikuatkan dengan fatwa DSN – MUI;
  kedua, Perkembangan transaksi sesuai syariah atas instrumen pasar
  modal syariah; dan
  ketiga, Perkembangan kelembagaan yang memantau macam dan
  transaksi pasar modal syariah (termasuk Bapepam Syariah, Lembaga
  Pemeringkat Efek Syariah dan Dewan Pengawas Islamic Market/Index).
             Dilihat dari tingkat hasil (potensi return) yang diperoleh, khusus
  industri   reksadana    syariah   terbilang    tinggi   dibanding   reksadana
  konvensional, yaitu reksadana syariah rata-rata memberikan return 13
  %, sementara reksadana konvensional rata-rata memberikan return 12
  %.     Merujuk kepada Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 32/DSN-



                                      19
MUI/IX/2002, "Obligasi Syariah adalah suatu surat berharga jangka
panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada
pemegang Obligasi Syari’ah yang mewajibkan Emiten untuk membayar
pendapatan    kepada    pemegang         Obligasi   Syari’ah    berupa   bagi
hasil/margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh
tempo". Sebagai tindak lanjut atas fatwa di atas, pada Oktober 2002 PT.
Indosat Tbk telah mengeluarkan obigasi syariah yang pertama kali di
pasar modal Indonesia dengan tingkat imbal hasil 16,75 %, suatu tingkat
imbal hasil (return) yang cukup tinggi dibanding rata return obligasi
dengan prinsip riba/konvensional.
         Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Karim Business
Consulting tahun 2003, mayoritas saham yang tercatat di Bursa Efek
Jakarta (BEJ) terdiri dari 333 saham emiten yang tercatat, diantaranya
236 saham sesuai dengan prinsip syariah dan layak untuk ditransaksikan
dalam pasar modal syariah. "Kesesuaian dalam prinsip tersebut
didasarkan kepada produk yang dihasilkan emiten dan transaksi
sahamnya di BEJ. Sedangkan sisanya 59 saham tergolong "haram" atau
tidak sesuai dengan prinsip syariah, seperti saham perbankan, consumer
product (minuman keras) dan rokok. Sisanya 34 saham tergolong subhat
seperti saham industri perhotelan dan 4 saham mudharat.
         Selanjutnya, pada tanggal 3 Juli 2000 PT Bursa Efek Jakarta
(BEJ) telah meluncurkan Jakarta Islamic Index (JII) merupakan
“Benchmark” bagi saham-saham yang berisikan saham-saham likuid dan
memenuhi prinsip syariah Islam. Tujuan pembentukan JII adalah untuk
meningkatkan kepercayaan investor untuk melakukan              investasi pada
saham berbasis syariah dan memberikan manfaat bagi pemodal dalam
menjalankan syariah Islam untuk melakukan investasi di Bursa. JII juga
diharapkan dapat mendukung          proses transparansi dan akuntabilitas
saham berbasis syariah di Indonesia. Anggota JII terdiri dari 30 saham
yang mewakili + 42% dari kapitalisasi pasar di BEJ dan anggota JII akan



                                    20
ditinjau kembali tiap 6 bulan sekali, tepatnya bulan Januari dan bulan
Juni pada tiap-tiap tahunnya.
          Berdasarkan lampiran Pengumuman BEJ No. Peng-175/BEJ-
DAG/U/06-2004 tanggal 25 Juni 2004, anggota JII Periode Juli 2004 s/d
Desember 2004, adalah sebagai berikut :


                                     Tabel 3
                    Anggota JII Periode Juli 2004 s.d. Desember 2004

No          Nama Emiten              No                  Nama Emiten
1.    Aneka Tambang (Persero)        16     Kawasan Industri Jababeka
2.    Astra Agro Lestari             17     Limas Stokhomindo
3.    Astra Graphia                  18     London Sumatera
4.    Bakrie & Brothers              19     Multipolar
5.    Barito Pacific Timber          20     Perusahaan Gas Negara (Persero)
6.    Bumi Resources                 21     Semen Cibinong
7.    Ciputra Development            22     Semen Gresik (Persero)
8.    Dankos Laboratories            23     Summarecon Agung
9.    Enseval Putra Megatrading      24     Tambang Batubara Bukit Asam
10.   Gajah Tunggal                  25     Telekomunikasi Indonesia
11.   Indocement Tunggal Prakasa 26         Tempo Scan Pacific
12.   Indofood Sukses Makmur         27     Timah
13.   Indosat                        28     Trias Sentosa
14.   International Nickel Ind       29     Unilever Indonesia
15.   Kalbe Farma                    30     United Tractors


          Adapun perkembangan instrumen dan transaksi pasar modal
sesuai dengan prinsip syariah s/d September 2004 adalah sebagaimana
data pada tabel berikut :




                                       21
                                        Tabel 4
                     Penerbit Obligasi Syariah s/d September 2004
No.           Instrumen inv. syariah           Efektif     Total (Rp.) Indikasi return %
1.    Indosat Syariah Mudharabah (2002)       30-Oct-02     175 m             16,75
2.    Bank Muamalat Syariah Subordinasi       30-Jun-03      200 m                17
3.    Cilindra Perkasa I Th. 2003             18-Sep-03       60 m                14
4.    Bukopin Syariah Mudharabah 2003         30-Jun-03       45 m                15
5.    Berlian Laju Tanker Mudharabah 2003     05-Dec-03       60 m                13
6.    BSM Mudharabah 2003                     22-Oct-03     200 m                 13
7.    Obligasi Syariah PTPN VII 2004          18-Mar-04       75 m              13,5
8.    Matahari Putra Prima Ijarah             28-Apr-04     150 m             13,80
9.    Sona Topas Tourism Ijarah               17-Jun-04       52 m           13,5 – 14,5
10.   Citra Sari Makmur Ijarah 2004           29-Jun-04     100 m            13,5 – 14,5
                           Total                              1.117 m


                                        Tabel 5
            Perbandingan Jumlah Obligasi Syariah vs Total Obligasi dan
       Perbandingan Nilai Emisi Obligasi Syariah vs Total Nilai Emisi Obligasi
         Perbandingan Jumlah Obligasi   Perbandingan Nilai Emisi Obligasi Syariah vs Total
         Syariah vs. Total Obligasi     Nilai Emisi Obligasi (Rp. Milyar)
Thn                            %                                              %
         Syariah    Obligasi                  Syariah          Obligasi
2000           0         91       0%                   0        28.787,40            0%
2001           0         94       0%                   0        31.662,40            0%
2002           0       100        0%                   0        37.812,40            0%
2003           6       135     4,44%              740,00        63.635,50         1,16%
2004         10        145     6,89%            1.117,00        75.055,30         1,48%


                                        Tabel 6
                           Penerbit Reksadana Syariah
  No.                   Reksadana                                Tgl. Efektif
   1.       Batasa Syariah                                   21 Juli 2003
   2.       Dompet Dhuafa Batasa Syariah                     20 Juli 2004
   3.       BNI Dana Plus Syariah                            21 April 2004
   4.       BNI Dana Syariah                                 21 April 2004
   5.       PNM Syariah                                      25 Mei 2000
   6.       Danareksa Syariah Berimbang                      24 Oktober 2000
   7.       AAA Syariah                                      12 Agustus 2004
   8.       PNM Amanah Syariah                               26 Agustus 2004
   9.       Danareksa Syariah (telah bubar)                  25 Juni 1997
   10.      Rifan Syariah (telah bubar)                      11 September 2002




                                         22
                                           Tabel 7
       Perbandingan Jumlah Reksa Dana Syariah vs Seluruh Reksa Dana
                          dan Perbandingan NAB
             Perbandingan Jumlah Reksa Dana
              Syariah vs. Seluruh Reksa Dana              Perbandingan NAB (Rp. Milyar)
   Tahun
            Syariah    Reksa Dana        %              Syariah     Reksa Dana     %
    2000         2              94      2,13%            25,26     5.515,95       0,46%
    2001         2             108      1,85%            25,96     8.003,77       0,32%
    2002         3             131      2,29%            29,47     46.613,83      0,06%
    2003         4             180      2,22%            66,94     69.455,22      0,10%
    2004       8*)             215      3,72%           285,59     94.539,45      0,30%
     Keterangan : *) tidak termasuk 2 (dua) reksadana syariah yang telah bubar.



C. Perkembangan Investasi Syariah di Pasar Modal Luar Negeri

             Sejarah perkembangan industri keuangan syariah yang meliputi
  perbankan, asuransi dan pasar modal pada dasarnya merupakan suatu
  proses sejarah yang sangat panjang. Lahirnya Agama Islam sekitar 15
  (lima belas) abad yang lalu meletakkan dasar penerapan prinsip syariah
  dalam industri keuangan, karena di dalam Islam dikenal                          kaedah
  muamalah yang merupakan kaedah hukum atas hubungan antara
  manusia yang di dalamnya termasuk hubungan perdagangan dalam arti
  yang luas. Namun demikian, perkembangan penerapan prinsip syaria
  mengalami masa surut selama kurun waktu yang relatif lama pada masa
  imperium negara-negara Eropa. Pada masa tersebut negara-negara di
  Timur Tengah serta negara-negara Islam lain hampir semuanya menjadi
  wilayah jajahan negara-negara Eropa.
             Dalam perkembangan selanjutnya, dengan banyaknya negara
  Islam yang terbebas dari penjajahan dan semakin terdidiknya generasi
  muda Islam, maka ajaran Islam mulai meraih masa kebangkitan kembali.
  Sekitar tahun 1960-an banyak cendekiawan moslem dari negara-negara
  Islam sudah mulai melakukan evaluasi ulang atas penerapan sistem
  hukum Eropa dalam industri keuangan dan memperkenalkan penerapan
  prinsip syariah islam dalam industri keuangan.


                                             23
          Pada saat-saat awal prinsip syariah diterapkan pada industri
perbankan yaitu ditandai dengan didirikannya bank Islam pertama di
Cairo pada sekitar tahun 1971 dengan nama “Nasser Social Bank” yang
operasionalnya berdasarkan sistem bagi hasil (tanpa riba). Berdirinya
Nasser Social Bank tersebut, kemudian diikuti dengan berdirinya
beberapa bank Islam lainnya seperti Islamic Development Bank (IDB)
dan the Dubai Islamic pada tahun 1975, Faisal Islamic Bank of Egypt,
Faisal Islamic Bank of Sudan dan Kuwait Finance House tahun 1977.
          Pada sektor di luar industri perbankan, penerapan prinsip
syariah   juga telah diterapkan pada industri asuransi (takaful) dan
industri Pasar Modal. Pada bidang Pasar Modal, prinsip syariah saat ini
diterapkan pada instrumen obligasi, saham dan fund (Reksa Dana).
          Adapun negara yang pertama kali mengintrodusir untuk
mengimplementasikan prinsip syariah     di sektor pasar modal adalah
“Jordan dan Pakistan”, karena kedua negara tersebut telah menysusun
dasar hukum penerbitan obligasi syariah. Selanjutnya pada tahun 1978,
Pemerintah Jordan melalui Law Nomor 13 tahun 1978 telah mengijinkan
Jordan Islamic Bank untuk menerbitkan Muqaradah Bond.               Ijin
penerbitan    Muqaradah Bond ini      kemudian ditindaklanjuti dengan
penerbitan Muqaradah Bond Act pada tahun 1981, sedangkan
pemerintah Pakistan pada pada tahun 1980 menerbitkan the Madarabas
Company dan Madarabas Ordinance.
          Walaupun pembentukan kerangka hukum instrumen obligasi
syariah   pertama kali dilakukan oleh Jordan dan Pakistan, namun
demikian sampai dengan saat ini di kedua negara tersebut belum ada
perusahaan yang menerbitkan obligasi syariah. Berdasarkan informasi
yang dimuat dalam IOSCO Report of The Islamic Capital Market Task
Force of The International Organization of Securities Commissions, bond
syariah yang pertama kali diterbitkan dan cukup sukses adalah obligasi
syariah yang diterbitkan oleh Pemerintah Malaysia pada tahun 1983,



                                 24
yaitu   the Government Investment Issue (GII). Pada awalnya the
Government Investment Issue diterbitkan berdasarkan konsep qardh
hasan yang      tidak dapat diperdangkan pada pasar sekunder, namun
dikemudian hari konsep qardh hasan the Government Investment Issue
dirubah menjadi      obligasi yang bersifat bai’ al-Inah sehingga the
Government       Investment   Issue     tersebut   dimungkinkan        untuk
diperdagangkan pada pasar sekunder. Secara umum perkembangan
data dan statistik pasar modal syariah tergambar sebagai berikut :


a. Malaysia

         Pasar Modal Syariah di Malaysia terbentuk pada awalnya
karena besarnya permintaan pasar pada awal tahun 90-an. Keberhasilan
penerapan perbankan syariah memicu investor untuk dapat berinvestasi
sesuai dengan kaidah-kaidah investasi secara islami.

         Pada tahun 1994 sebagai jawaban atas permintaan pasar di
atas, pemerintah Malaysia melalui Securities Commission Malaysia
membentuk Islamic Capital Market Unit (ICMU) dan Islamc Instrument
Stuy    Group    (IISG).   ICMU   ini   bertugas   melakukan   riset    dan
pengembangan produk Pasar Modal Islam dan melakukan analisa
terhadap semua efek yang tercatat di bursa-bursa Malaysia, disamping
itu ICMU juga berfungsi sebagai tenaga riset dan sekretariat bagi SAC.

         Dalam perkembangannya IISG kemudian berubah nama
menjadi Syariah Advisory Council (SAC) pada tahun 1996. SAC ini
bertugas memberikan masukan kepada Securities Commission atas
semua hal yang berhubungan dengan pengembangan Pasar                   Modal
Islam dan sebagai pusat referensi, disamping itu SAC juga melakukan
pengkajian efek-efek konvensional yang sudah ada dari perspektif
syaiah serta melakukan pengkajian dan pengembangan atas efek dan
instrument pasar modal lainnya. Sebagai hasil dari pengkajian tersebut,
SAC mengeluarkan daftar efek-efek yang telah sesuai dengan prinsip

                                   25
syariah. Selanjutnya daftar tersebut akan di up-date dua kali dalam
setahun dan disebarluaskan secara gratis.

           Saat ini, berbagai instrument pasar modal syariah telah
tersedia bagi investor antara lain Reksa Dana Syariah, Saham Syariah,
Index Syariah dan Obligasi Syariah. Reksa Dana Syariah pertama berdiri
pada tahun 1993. Data sampai dengan tahun 2002, Malaysia telah
mempunyai 36 (tiga puluh enam) Reksa Dana Syariah dari 174 (seratus
tujuh puluh empat) total Reksa Dana yang ada di Malaysia. Total
pemegang unit Reksa Dana Syariah sebanyak 288.132 investor. Total
Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana Syariah mencapai 5% (lima per
seratus) dari total NAB industri Reksa Dana di Malaysia.

           Pada pasar modal Malaysia, saham yang sesuai dengan
prinsip syariah sampai dengan tahun 2003 terlah tercatat sebanyak 684
(enam ratus delapan puluh empat) saham syariah perusahaan yang
terdiri dari 397 (tiga ratus sembila puluh tujuh) saham pada papan
utama, 277 (dua ratus tujuh puluh tujuh) saham pada papan kedua dan
10 (sepuluh) saham pada papan Mesdaq. Jumlah total saham tersebut
mencapai 79% dari total saham yang tercatat atau sekitar 60% dari total
kapitalisasi pasar di malaysia.

                                     Tabel 8

Kapitalisasi pasar saham yang sesuai dengan prinsip syariah di Malaysia

   Tahun         Kapitalisasi pasar Saham      % dari total kapitalisasi pasar
                   Syariah (juta USD)
    1998                   55.982,8                        56,00
    1999                      70.082,4                     48,00
    2000                      65.129,3                     54,70
    2001                      75.131,6                     59,20
    2002                      76.426,3                     57,55
    2003                    102.926,3                      57,70
Sumber : IOSCO Annual Report 2003



                                         26
         Adapun Index Syariah diluncurkan pertama kali oleh Kuala
Lumpur Stock Exchange pada tahun 1999. Index Syariah dimaksud
berfungsi untuk melihat kinerja saham-saham syariah yang tercatat pada
papan utama.

         Sedangkan    Obligasi   Syariah     di Malaysia   dibentuk   dan
direstrukturisasi berdasarkan kontrak-kontrak yang bernuansa islami.
Sampai dengan bulan September 2002 total nilai obligasi syariah di
Pasar Modal Malaysia mencapai USD 15,52 miliar (43% dari total nilai
obligasi yang tercatat di pasar modal Malaysia), selain itu terdapat
instrumen lain yaitu Islamic Unit Trust . Sampai dengan tahun 2002
terdapat 30 Islamic Unit Trust dimana 4 unit trust dikelola oleh
pemerintah dan 26 unit trust dikelola oleh swasta. Adapun nilai total
Islamic Unit Trust mencapai RM 3,2 milyar.

         Adapun faktor lain yang ikut memberikan kontribusi adalah,
perkembangan Labuan International Financial Exchange (LFX) ternyata
juga memicu peningkatan kegiatan Pasar Modal Syariah di Malaysia.
LFX menyediakan fasilitas pencatatan dan perdagangan instrumen
keuangan internasional. LFX mencatat Global Sukuk pertama di dunia
pada bulan Januari 2002 yang nilainya mencapai USD 150 juta. Hingga
akhir tahun 2002 tercatat instrumen dengan kapitalisasi pasar senilai
USD 1,6 miliar dimana 3 instrumen diantaranya adalah obligasi syariah.

         Kesuksesan Malaysia dalam menerbitkan instrumen obligasi
yang menerapkan prinsip syariah tersebut mendorong beberapa negara
Islam lain untuk menerbitkan instrumen serupa seperti the Central Bank
of Kuwait yang menerbitkan obligasi syariah untuk mendanai pembelian
aset-aset yang dikelola oleh negara selain Gulf Co-operation Council
states serta Iran yang menerbitkan instrumen obligasi yang berbasisikan
mudharabah. Secara umum tergambar dalam tabel berikut :




                                 27
                                Tabel 9
  Daftar negara penerbit obligasi syariah berdasarkan laporan IOSCO
                        per-31 Desember 2003
 No.          NEGARA PENERBIT                    NILAI (juta US$)
1.     Qatar                                               700
2.     Islamic Development Bank (Global)                   400
3.     Bahrain                                           1.000
4.     Malaysia                                         22.680
5.     Malaysia (Global)                                   600
6.     Guthrie Bhd (Global)                                150
7.     Indonesia                                           119
8.     Singapura                                            35
9.     Sudan                                              148
       Total                                           25.832

         Secara umum dapat disebutkan bahwa instrumen obligasi
syariah yang cukup dikenal dan diterima oleh para investor di Malaysia
adalah obligasi syariah yang berbasiskan ijarah. Hal ini dapat diketahui
dari tingkat berhasilnya obligasi yang berbasisiskan ijaraah yang
diterbitkan oleh pemerintah Malaysia dan Qatar, Guthrie Berhad maupun
organisasi multilateral seperti the Islamic Development Bank (IDB).
         Di lihat dari pendekatan geografi, para investor instrumen
obligasi syariah terutama yang diterbitkan oleh Malaysia, Qatar dan
Islamic Development Bank adalah sebagai berikut :
                                Tabel 10
1. Komposisi persentase investor terhadap Malaysia Global Bond
No.                  WILAYAH                         PERSENTASE
1.    Timur Tengah                                          51%
2.    Asia                                                  30%
3.    Eropa                                                 15%
4.    USA                                                    4%

                                Tabel 11
2. Komposisi persentase investor terhadap Qatar Global Bond
No.                  WILAYAH                         PERSENTASE
1.    Timur Tengah                                          72%
2.    Asia                                                  13%
3.    Eropa                                                 14%
4.    USA                                                    1%


                                  28
                                  Tabel 12
3. Komposisi persentase investor atas Islamic Development Bank Bond
No.                WILAYAH                              PERSENTASE
1.     Timur Tengah                                          70%
2.     Asia                                                  17%
3.     Eropa                                                 13%


b. Bahrain

            Bahrain mengembangkan Pasar Modal Syariah karena adanya
permintaan pasar yang cukup tinggi. Hal ini disambut baik oleh Kerajaan
Bahrain yang mempunyai cita-cita untuk mewujudkan Bahrain sebgai
basis terbesar keuangan dunia.

            Kegiatan ekonomi di Bahrain berada di bawah pengawasan
satu badan yaitu Bahrain Monetary Agency (BMA). Bahrain Monetary
Agency merupakan pihak regulator yang tidak hanya membidangi produk
perbankan, akan tetapi juga kegiatan pasar modal di Bahrain. Bahrain
Monetary Agency ini didirikan pada tahun 1973 dengan beberapa
direktorat ada di dalamnya, diantaranya adalah Executive Director
Financial Institution Suervision (EDFIS) yang berwenang mengawasi
kegiatan pasar modal. Kemudian di dalam EDFIS itu sendiri terdapat
suatu sub direktorat khusus yang mempunyai kewenangan terhadap
perkembangan produk keuangan syariah, adapun direktorat dimaksud
adalah Director Islamic Financial Institution (DIFI).

            Adapun secara umum data jenis saham-saham syariah yang
tercatat di Bahrain Stock Exchange sampai dengan tahun 2003
mencapai sekitar 6,5% (enam setengah per seratus) sebagaimana tabel
berikut :




                                    29
                                      Tabel 13
             Nilai kapitalisasi saham-saham syariah di Bahrain
            sampai dengan tahun 2003 adalah sebagai berikut :

                  Kapitalisasi pasar Saham           % dari total kapitalisasi
  Tahun
                     Syariah (juta USD)                       pasar
   1998                     411,8                              6,13
   1999                     462,7                              6,46
   2000                     647,3                              9,77
   2001                     612,9                              9,30
   2002                     603,2                              7,98
   2003                     621,2                              6,40
Sumber : IOSCO Annual Report 2003

           Bahrain Monetary Agency sebagai otoritas keuangan di
Bahrain terus melakukan pengkajian dan meluncurkan produk-produk
pasar modal yang inovatif dan modern. Sebagai hasil dari pengkajian
tersebut, pada bulan September 2001 pasar modal syariah di Bahrain
mulai mengalami peningkatan yang sangat tajam dimana untuk pertama
kalinya Bahrain Monetary Agency (BMA) meluncurkan produk syariah
berupa ijara sukuk (obligasi) . Kemudian pada tanggal 20 Juni 2004
Bahrain    Monetary        Agency     (BMA)      kembali   meluncurkan     Islamik
Internatinal Bonds yang pertama yaitu berupa ijara sukuk senilai USD
250 juta    sehingga total nilai obligasi syariah yang diluncurkan oleh
Bahrain Monetary Agency menjadi USD 1,03 miliar.

           Selanjutnya pada tanggal 20 Juli 2004, Bahrain Monetary
Agency mengaluarkan obligasi syariah yang mempunyai jatuh tempo
terpanjang yaitu 10 tahun. Obligasi tersebut senilai 40 juta Dinar Bahrain
atau senilai USD 106 juta sehingga total nilai obligasi syariah yang
diluncurkan Bahrain Monetary Agency menjadi USD 1,136 miliar.
Dengan      itu     maka    Bahrain    merupakan       negara    pertama     yang
mengeluarkan obligasi dengan nilai terbesar di dunia.

           Seperti halnya Malaysia, Bahrain juga menyediakan fasilitas
pencatatan dan perdagangan surat-surat berharga komersial berbasis


                                       30
islami internasional, yaitu melalui International Islamic Financial Market
(IIFM). International Islamic Financial Market terbentuk atas kerja sama
antara Islamic Development Bank, Bahrain Monetary Agency, The
Central Bank of Indonesia, The Labuan Offshore Financial Services
Authority Malaysia, The Central Bank of Sudan dan Ministry of Finance
of   Brunei      Darussalam.     International       Islamic   Financial     Market
menyediakan        suatu     bentuk   kerja      sama     untuk    meningkatkan
perkembangan       Islamic     Financial   Market      berbasis    syariah.    IIFM
beroperasi mulai bulan April 2002 dan hingga saat ini mempunyai 18
anggota termasuk Bank Muamalat Indonesia.

          Hingga saat ini terdapat banyak instrumen pasar modal yang
beredar di Bahrain, diantaranya saham dan obligasi. Disamping itu,
Bahrain Monetary Agency juga sedang memproses dan mengkaji Isamic
Repurchase        Agreement      (Repo)       yang      akan    dicatatkan     dan
diperdagangkan di Bahrain Stock Eexchange. Repo tersebut juga dapat
diperdagangkan d luar bursa antara bank-bank partisipan.

          Secara umum, penerapan prinsip syariah                  pada instrumen
saham dilakukan berdasarkan penilaian atas saham yang diterbitkan
oleh masing-masing perusahaan tesebut, karena instrumen saham
secara    natural telah sesuai dengan prinsip syariah mengingat sifat
saham dimaksud bersifat penyertaan. Para ahli fiqih berpendapat bahwa
suatu    saham dapat dikatergorikan memenuhi prinsip syariah apabila
kegiatan perusahaan yang menerbitkan saham tersebut tidak tercakup
pada hal-hal yang dilarang dalam syariah islam, seperti :
a. alkohol;
b. perjudian;
c. produksi yang bahan bakunya berasal dari babi;
d. pornografi;
e. jasa keuangan yang bersifat konvensional;
f. asuransi yang bersifat konvensional.


                                      31
           Penilaian kesyariahan suatu saham disamping dilihat dari
sektor kegiatan usaha oleh perusahaan yang bersangkutan, juga bisa di
dilihat dari sisi permodalan dari perusahaan dimaksud, seperti:
a. rasio atas utang dan ekuitas (debt to equity ratio);
b. cash and interest bearing securities to equity ratio;
c. rasio atas kas dan aset (cash to asset ratio).
           Di beberapa negara proses screening (penyaringan) atas
saham yang memenuhi prinsip syariah dilakukan oleh lembaga yang
berbeda. Di Malaysia proses screening kesyariahan suatu saham
dilakukan oleh Shariah Advisory Council (SAC) yang berada pada
Securities Commision, sedangkan di negara lain proses screening
kesariahan suatu saham dapat juga dilakukan oleh lembaga swasta.
Secara garis besar perkembangan kapitalisasi pasar atas saham yang
memenuhi prinsip syariah di beberapa negara islam adalah sbb :

                                         Tabel 14
       Kapitalisasi Pasar Saham Syariah di Bahrain dan Malaysia
                            BAHRAIN                                     MALAYSIA
  TH
         KAPITALISASI PASAR          % DARI TOTAL         KAPITALISASI          % DARI TOTAL
             (JUTA US$)              KAPITALISASI            PASAR              KAPITALISASI
                                        PASAR              (JUTA US$)              PASAR
1998               411.8                6.13%                   55,982.8           56.00%
1999               462.7                6.46%                   70,082.4           48.00%
2000               647.3                9.77%                   65,129.3           54.70%
2001               612.9                9.30%                  75,131.60           59,20%
2002               603.2                7.98%                  76,426.32           57.55%
2003               621.2                6.40%                 102,926.32           57.70%


                                         Tabel 15
    Kapitalisasi Pasar di Bursa Efek pada beberapa negara Islam
                           per Desember 2003
Des 2003            Malaysia Bahrain Oman Kuwait Saudi Qatar Jordan               UAE Egyp
                                                 Arabia
Listed Company
                    906       43       130        112    70      29      178      15     157
Kapitalisasi
Pasar (Juta US$)    165.0     28.7     4.7        57.8   151.7   25.7    10.7     13.5   21.0




                                             32
Reksa Dana Syariah (Islamic Fund)

         Reksa Dana Syariah (Islamic Fund) pada dasarnya juga
merupakan Reksa Dana biasa/ umum, hanya saja pengelolaannya
dilakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip syariah. Dalam melakukan
pengelolaan, agar Reksa Dana dimaksud senantiasa            selalu sesuai
dengan prinsip syariah,        maka biasanya Reksa Dana tersebut akan
membentuk Syariah Board.
         Beberapa bentuk        Islamic Equity fund yang dikenal saat ini
antara lain realty dan property fund, investment dan mudarabah fund,
commodit fund dan leasing (ijarah) fund. Dalam kurun waktu antara 1994
sampai dengan akhir 2001, diperkirakan telah diterbitkan sekitar 120
Islamic Fund, baik yang diterbitkan oleh institusi-institusi Islam maupun
oleh institusi konvensional.
         Sampai dengan tahun 2003 pertumbuhan Islamic equity fund
secara internasional adalah sebagai berikut :

                                  Tabel 16
        pertumbuhan Islamic equity fund secara internasional

NO.           TAHUN                ASET FUND (DALAM JUTA US$)
1.             1996                            800
2.             1997                           1200
3.             1998                           2000
4.             1999                           3000
5.             2000                           5000
6.             2001                           3800
7.             2002                           3200
8.             2003                           3600




                                    33
                                 BAB III

      KENDALA PENGEMBANGAN INVESTASI SYARIAH DI PASAR
                     MODAL INDONESIA

         Bab ini membahas hasil penelitian lapangan yang terfokus pada
kendala yang dihadapi pelaku pasar modal berkaitan dengan kegiatan
investasi syariah di pasar modal Indonesia. Disamping itu, bahwa dalam
bab ini juga dibahas hal-hal seperti : proses penyusunan daftar pertanyaan
(kuisioner), profil responden yang meliputi penentuan responden dan alasan
pemilihannya.
         Selanjutnya melakukan deskripsi dan analisis atas jawaban
responden yang didapat dari daftar pertanyaan yang telah dikirimkan,
dengan menitikberatkan kepada hal-hal yang bersifat kendala dan masalah
yang dihadapi pelaku pasar di lapangan. Untuk itu metode analisis yang
tepat digunakan dalam studi ini adalah metode “analisis deskriptif dengan
pendekatan kualitatif”, yaitu melakukan kegiatan yang dimulai dari proses
penyaringan informasi dari kondisi sewajarnya dalam kegiatan suatu obyek,
dihubungkan dengan langkah pemikiran rasional baik dari sudut pandang
teoritis maupun praktis.

A. Daftar Pertanyaan (Kuesioner)
            Sesuai dengan tujuan studi sebagaimana telah disebutkan di
   atas diantaranya adalah, untuk mengetahui bentuk-bentuk hambatan
   dan kendala apa sajakah yang dihadapi pelaku pasar di lapangan serta
   yang melatar belakangi tersendatnya perkembangan investasi syariah di
   pasar modal Indonesia. Disamping hal di atas, bahwa dalam rangka
   membatasi pokok pembahasan agar lebih terfokus, maka pembatasan-
   pembahasan dalam rangka proses penyusunan kuisioner dilakukan
   dengan identifikasi atas beberapa masalah yang dianggap menjadi
   kendala dalam mengembangkan pasar modal syariah di Indonesia.
            Sejalan dengan hal tersebut di atas, maka penyusunan
   kuesioner dimulai dengan : (a) mengumpulkan bahan dari berbagai


                                   34
media dan artikel tentang investasi syariah dari pakar keuangan islam
Indonesia, dan (b) dengan mengundang narasumber untuk memaparkan
permasalahan        dalam   mengembangkan              pasar   modal   syariah   di
Indonesia.
          Adapun      secara    garis    besar,    kuisioner    disusun   dengan
sistematika sebagai berikut :
I.    Gambaran       Umum      Data     Perusahaan,        dalam   kelompok      ini
      diharapkan dapat diperoleh informasi umum mengenai perusahaan
      yang dijadikan responden, sehingga tergambar profil responden.
II.   Rencana Penerbitan Efek Syariah, dalam kelompok ini diharapkan
      dapat diperoleh informasi mengenai rencana serta jenis efek syariah
      yang mungkin akan diterbitkan oleh responden.
III. Masalah dan Kendala, kelompok ini merupakan inti dari studi yang
      akan dilakukan, dan diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai
      apakah    terdapat    beberapa         kendala    dalam    mengembangkan
      investasi syariah di pasar modal Indonesia, serta jenis-jenis
      kendala dimaksud seperti yang telah dituangkan dalam isi
      kuesioner, yaitu :
      1. Tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang pasar modal
         syariah dari para pelaku pasar;
      2. Ketersediaan informasi tentang investasi syariah di pasar modal;
      3. Minat pemodal atas Efek syariah;
      4. Jenis usaha perusahaan dan penggunaan dana hasil emisi efek
         syariah;
      5. Proses penerbitan Efek syariah;
      6. Tingkat pemahaman profesi penunjang tentang pasar modal
         syariah;
      7. Biaya yang dikeluarkan dan/atau Fee yang diperoleh dalam
         proses penerbitan Efek syariah;
      8. Mekanisme atau birokrasi proses penerbitan Efek syariah;



                                        35
      9. Jangka waktu (lama-tidaknya) proses penerbitan Efek syariah;
     10. Kerangka peraturan tentang pasar modal syariah;
     11. Pola pengawasan (dari sisi syariah) oleh lembaga terkait;
     12. Kelembagaan atau Institusi yang mengatur dan mengawasi
         kegiatan investasi syariah di pasar modal Indonesia.
  IV. Harapan dan Saran, dalam kelompok ini diharapkan dapat diperoleh
      informasi tentang hal-hal yang perlu mendapat perhatian dan
      perbaikan menyangkut masalah-masalah yang menjadi kendala
      dalam pengembangan investasi syariah di pasar modal, terutama
      yang menyangkut antara lain: Kerangka Peraturan, Fungsi dan
      Peran lembaga yang mengatur dan mengawasi kegiatan pasar
      modal syariah, dan upaya sosialisasi peraturan dan mekanisme
      pengawasannya.

B. Profil Responden
           Dalam rangka mendapatkan informasi yang dapat dianggap
  mewakili seluruh bagian pelaku pasar modal, maka studi menetapkan 3
  (tiga) kelompok besar responden yang masing-masing mewakili, sisi
  supply (penawaran) efek syariah, sisi intermediari yang membantu
  proses penerbitan efek syariah, dan sisi demand (permintaan) efek
  syariah. Ketiga kelompok besar responden tersebut masing-masing
  diwakili oleh Perusahaan Publik/Emiten pada sisi supply atau penyedia
  efek syariah, Penjamin Emisi Efek sebagai intermediari dalam membantu
  proses penerbitan efek syariah, dan Manajer Investasi yang dianggap
  pada sisi demand atau pembeli efek syariah yang sekaligus juga dapat
  bertindak pada sisi supply dengan menawarkan efek reksa dana syariah
  kepada pemodal.
           Sebagai upaya dalam menyelaraskan penyebaran responden
  agar bisa mewakili seluruh strata yang ada dalam populasi, maka
  terlebih dahulu populasi dilakukan pengelompokkan ke dalam masing-




                                   36
masing kelompok yang lebih kecil atau kelompok tertentu dan
selanjutnya dilakukan pemilihan sample secara acak (random).
         Pengelompokkan       yang      dilakukan   terhadap   sample    dari
populasi perusahaan publik/emiten, yaitu pertama berdasarkan Sektor
Usaha dan kemudian berdasarkan besarnya Total Aset perusahaan per
akhir tahun 2003. Sedangkan pengelompokkan untuk Penjamin Emisi
Efek berdasarkan nilai modal perusahaan dan keaktifan dalam
melakukan kegiatan penjaminan emisi efek, selanjutnya untuk Manajer
Investasi dikelompokkan berdasarkan jumlah reksa dana yang dikelola
dan jumlah dana yang dikelolanya.
         Setelah pengelompokkan sebagaimana di atas, selanjutnya
ditentukan sample/ responden yang akan digunakan dalam studi ini yaitu
masing-masing adalah : emiten diambil 107 perusahaan dari total emiten
yang ada sebanyak 412 perusahaan, kemudiian untuk Penjamin Emisi
Efek (PEE) diambil sebanyak 80 perusahaan dari total 112 Perusahaan
Efek yang memiliki ijin sebagai PEE, serta untuk kelompok Manajer
Investasi (MI) diambil sebanyak 56 perusahaan dari total 100
Perusahaan Efek yang memiliki ijin sebagai Manajer Investasi (MI).
         Adapun tingkat jumlah pengembalian kuesioner oleh responden
adalah, masing-masing : 23 perusahaan emiten mengembalikan
kuesioner (21,5% dari total kuisioner yang disebar), 26 Penjamin Emisi
Efek mengembalikan kuesioner (32,5% dari total kuisioner yang disebar)
dan 24 Manajer Investasi mengembalikan kuesioner (42,9% dari total
kuisioner yang disebar/disitribusikan).

                                 Tabel 17
        Proporsi responden dan tingkat pengembalian kuesioner
No            Karakteristik             Populasi Sample Kembali         %
 1   Emiten/ Perusahaan Publik             412        107      23       21,5
 2   Penjamin Emisis Efek (PEE)            112         80      26       32,5
 3   Manajer Investasi (MI)                100         56      24       42,9


                                   37
C. Deskripsi dan Analisis Hasil Penelitian Lapangan
           Penelitian lapangan dalam studi ini dilakukan dengan antara
  lain, mengirimkan daftar pertanyaan (kuisioner) kepada responden yang
  notabene adalah para pelaku pasar modal yang dianggap berkompeten
  dan ditentukan berdasarkan beberapa kriteria untuk dijadikan responden
  dimaksud. Adapun pengelompokan responden berdasarkan jenis bidang
  usaha adalah sebagai berikut : Emiten/ Perusahaan Publik, Penjamin
  Emisi Efek, dan Manajer Investasi.
           Pada bagian ini pembahasan atas jawaban kuesioner dari para
  responden akan dilakukan sesuai dengan kelompok daftar pertanyaan
  masing-masing, dan selanjutnya melakukan deskripsi dan analisis atas
  jawaban responden yang didapat tersebut dengan menitikberatkan
  bahasan kepada hal-hal yang bersifat kendala dan masalah yang
  dihadapi pelaku pasar di lapangan.

           Adapun metode analisis yang dianggap tepat untuk digunakan
  dalam studi ini adalah metode “analisis deskriptif dengan pendekatan
  kualitatif”, yaitu melakukan kegiatan yang dimulai dari proses
  penyaringan informasi dari kondisi sewajarnya dalam kegiatan suatu
  obyek, dihubungkan dengan langkah pemikiran rasional baik dari sudut
  pandang teoritis maupun praktis. Setiap data dan atau informasi yang
  diperoleh selanjutnya dianalisis secara kualitatif untuk mengetahui
  keterkaitannya dengan permasalahan pokok sehingga pada akhirnya
  bisa ditarik suatu kesimpulan secara obyektif

  1. Emiten / Perusahaan Publik
     Berdasarkan kuesioner yang diterima kembali dapat diketahui bahwa
     sebanyak 23 perusahaan emiten mengembalikan kuesioner (21,5%)
     dari total 107 emiten yang dijadikan sample.        Berikut adalah
     rangkuman isi kuisioner dan jawaban dari responden untuk kategori
     Emiten /Perusahaan Publik.




                                    38
a. Gambaran Umum Perusahaan
  1. Bergerak di sektor apakah
  Perusahaan Saudara ?
                                 Tabel 18
                       Sektor                     Frequency     Percent
   1 (Pertanian)                                        2           8.7
   2 (Pertambangan)                                     0             0
   3 (Industri Dasar dan Kimia)                         2           8.7
   4 (Aneka Industri)                                   3          13.0
   5 (Industri Barang dan Konsumsi)                     2           8.7
   6 (Properti dan Real Estate)                         2           8.7
   7 (Transportasi dan Infrastruktur)                   1           4.3
   8 (Keuangan)                                         6          26.1
   9 (Perdagangan, Jasa dan Investasi)                  5          21.7
                       Total                            23        100.0
            Tabel di atas memperlihatkan bahwa, dari sembilan
  kategori sektor industri yang diambil sebagai sample ternyata
  hanya delapan         sektor yang terjaring atau mengembalikan
  kuisioner yang diajukan.       Sebagian terbesar dari Perusahaan
  Publik/Emiten yang menjadi responden tersebut bergerak pada
  masing-masing : sektor Keuangan sebanyak 6 perusahaan
  (26,1%), kemudian untuk sektor Perdagangan, Jasa, dan Investasi
  sebanyak      5   perusahaan       (21,7%)    sedangkan     sisanya     3
  perusahaan (13 %) pada sektor aneka industri, 2 perusahaan
  (8,7%) masing-masing pada sektor Pertanian, Industri Dasar dan
  Kimia, Industri Barang dan Konsumsi, Properti dan Real Estate,
  dan   1    perusahaan     (4,3%)    pada     sektor   Transportasi    dan
  Infrastruktur.
            Terdapat 1 (satu) responden yaitu perusahaan pada sektor
  Pertambangan yang tidak terjaring atau tidak mengembalikan
  kuesioner yang diajukan kepada Perusahaan Publik/Emiten pada
  industri tersebut.




                                39
  2. Berapakah Total Aset perusahaan Saudara pada akhir tahun
     2003 ?
                               Tabel 19


                Total Asset          Frequency        Percent
    ≥ Rp1 triliun                         11            47.83
    Rp 500 miliar – Rp999 miliar           3            13.04
    <Rp 500 miliar                         9            39.13
                  Total                   23            100.0

          Data pada tabel di atas memperlihatkan bahwa dari 23
  responden yang mengembalikan kuesioner,           11 responden
  (47,83%) menyatakan memiliki total aset diatas Rp 1 triliun dan 3
  responden (13,04%) memiliki total aset antara Rp 500 miliar s/d
  Rp 999 miliar, sedangkan 9 perusahaan (39,13%) memiliki total
  aset kurang dari Rp 500 miliar. Berdasarkan data di atas terlihat
  bahwa sebagian besar responden telah memiliki total aset di atas
  1 trilyun, dengan demikian dapat diasumsikan bahwa dari sisi
  permodalan sebagian besar responden nampaknya menganggap
  tidak menjadi sebuah kendala yang berarti.

b. Rencana Penerbitan Efek Syariah

  1. Apakah perusahaan Saudara mempunyai rencana untuk
     menerbitkan efek syariah dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke
     depan ?
                               Tabel 20


                  Jawaban             Frequency       Percent
    Ya                                    2               8.69
    Tidak                                 18             78.26
    Lain-lain                             3              13.04
                    Total                 23             100.0

          Tabel dari data jawaban responden terhadap pertanyaan
  ini, terlihat bahwa gairah untuk menerbitkan efek syariah masih


                              40
  sangat rendah dalam jangka waktu 5 tahun ke depan. Untuk efek
  saham tidak ada satu pun responden yang berniat akan
  menerbitkan saham syariah, sebagian besar responden, yaitu 21
  responden (91,30%) belum dan tidak memiliki rencana untuk
  menerbitkan efek syariah. Sementara dari 23 responden secara
  meyakinkan yaitu, sebanyak 18 responden (78,265) menyatakan
  sama sekali tidak berniat menerbitkan efek syariah, sedangkan 3
  responden (13,04%) sementara ini belum berniat menerbitkan efek
  tersebut.
         Sisanya yaitu hanya 2 responden (8,69%) menyatakan
  telah memiliki rencana untuk menerbitkan efek syariah pada
  jangka waktu 5 tahun ke depan dan kedua responden dimaksud
  juga sama ingin menerbitkan efek syariah dalam bentuk obligasi.

c. Kendala dan Masalah

  Jawaban responden terhadap pertanyaan yang berkaitan dengan
  kendala dan masalah sebagaimana tertuang dalam pertanyaan
  ”Menurut pendapat Saudara, apakah hal-hal di bawah ini menjadi
  kendala      dan     masalah   bagi   perusahaan       Saudara   dalam
  menerbitkan Efek syariah ?”, diantaranya adalah :

  1. Tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang pasar modal
     syariah di lingkungan perusahaan Saudara :

                                  Tabel 21
                 Jawaban                     Frequency       Percent
   Ya                                            13           56.52
   Tidak                                          8           34.78
   Lain-lain                                      2            8.70
                     Total                       23           100.0

         Terhadap pertanyaan apakah faktor pengetahuan dan
  pemahaman yang menjadi kendala dan masalah dalam penerbitan
  efek syariah, mayoritas responden yaitu 13 perusahaan (56,52%)


                                 41
menyatakan ya, dan 8 responden (34,78%) menyatakan faktor
tersebut bukan factor kendala dan masalah.           Terdapat 2
responden (8,7%) yang menyatakan belum mempelajari dan tidak
mendalami mengenai efek syariah sehingga masing-masing
menjawab tidak mengerti.
       Data pada tabel di atas terlihat bahwa ternyata tingkat
pengetahuan dan pemahaman tentang pasar modal syariah
menjadi sangat dominan sebagai salah satu faktor penghambat
ketertinggalan pasar modal syariah di Indonesia.

2. Ketersediaan informasi tentang pasar modal syariah :

                             Tabel 22


             Jawaban                Frequency       Percent
 Ya                                     13           56.52
 Tidak                                   8           34.78
 Lain-lain                               2            8.70
              Total                     23           100.0

       Ternyata terhadap pertanyaan apakah faktor ketersediaan
informasi tentang pasar modal syariah yang menjadi kendala dan
masalah dalam penerbitan efek syariah, responden menjawab
sama seperti jawaban pada pertanyaan sebelumnya, dimana
mayoritas responden yaitu 13 perusahaan (56,52%) menyatakan
ya, dan 8 responden (34,78%) menyatakan faktor tersebut bukan
faktor kendala dan masalah serta terdapat 2 responden (8,7%)
yang belum atau tidak mendalami mengenai efek syariah ini, yang
terlihat dari jawaban mereka masing-masing 1 responden
menyatakan belum mempelajari dan tidak mengerti.
       Berdasarkan hasil jawaban responden di atas, agaknya
sebagian besar responden kurang memahami dan atau kurang
memberikan respon bahkan terhadap isi dari pertanyaan yang



                           42
diajukan tim studi, hal ini terbukti dengan banyaknya jawaban yang
kurang tepat dengan pertanyaan.

3. Jenis usaha perusahaan Saudara (sesuai/tidak sesuai dengan
   prinsip syariah) :
                               Tabel 23


   Jawaban                    Frequency              Percent
 Ya                               4                   17.39
 Tidak                            12                  52.17
 Lain-lain                        7                   30.43
          Total                   23                  100.0

        Jawaban     responden      terhadap   pertanyaan   di    atas
memperlihatkan bahwa, ada 4 responden (17,39%) menyatakan
bahwa jenis usaha perusahaan mereka baik sesuai syariah
maupun    tidak,   dianggap    menjadi    kendala.   Sedangkan    12
responden (52,17%) menyatakan bahwa jenis usaha mereka baik
sesuai syariah maupun tidak, dianggap tidak menjadi kendala.
Sementara ada 7 responden (30,43%) menjawab lain-lain dengan
rincian : (5 responden/ 21,74% menjawab tidak mengerti apakah
jenis usaha mereka menjadi kendala ataupun tidak, dan 2
responden/ 8,70% lainnya tidak dapat memberikan jawaban).
        Dengan melihat jawaban responden sebagaimana data di
atas, hal ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar (52,17%)
terlepas dari jenis usaha yang selama ini di jalankan baik secara
syariah maupun tidak, dianggap bukan sebagai sebuah kendala.
Sedangkan sebagian kecilnya (17,39%) dianggap bahwa jenis
usaha yang selama ini dijalankan diyakini menjadi kendala dalam
mengimplementasikan investasi syariah di pasar modal Indonesia.
Sedangkan sebagian yang lainnya (21,74%) dianggap bahwa
belum dan atau kurang paham terhadap istilah investasi syariah di
pasar modal Indonesia.


                              43
4. Penggunaan dana hasil emisi yang harus sesuai dengan
   prinsip syariah :
                             Tabel 24


             Jawaban                 Frequency          Percent
 Ya                                      13              56.52
 Tidak                                    7              30.43
 Lain-lain                               3               13.04
                             Total       23              100.0

       Hasil tabel di atas memperlihatkan bahwa, mayoritas
responden yaitu 13 responden (56,52%) yang menganggap bahwa
keharusan penggunaan dana hasil emisi yang sesuai dengan
prinsip syariah menjadi faktor penyebab kendala atau tidak
berminatnya mereka menerbitkan efek syariah.        Sedangkan 7
responden (30,43%)     menyatakan tidak sebagai kendala dan 3
responden lainnya (13,04) menjawab lain-lain. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa penggunaan dana hasil emisi yang
harus sesuai dengan prinsip syariah, menurut      sebagian besar
responden untuk saat ini dianggap menjadi faktor kendala dan
atau hambatan dalam penerbitan efek syariah di pasar modal
Indonesia.

5. Minat pemodal atas efek syariah yang diterbitkan :

                             Tabel 25


             Jawaban                 Frequency          Percent
 Ya                                      10              43.48
 Tidak                                    6              26.09
 Lain-lain                               7               30.43
              Total                      23              100.0

       Hasil tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar
responden menyatakan bahwa minimnya minat pemodal atas efek
syariah, dianggap menjadi kendala dalam penerbitan efek syariah.


                           44
Responden yang menjawab hal tersebut mencapai 12 perusahaan
(52,17%) dimana 10 responden (43,48%) langsung menjawab ya
dan 2 responden (8,7%) menyatakan pada jawaban lain-lain yang
pada prinsipnya sama bahwa kurangnya minat pemodal menjadi
faktor kendala. Kemudian ada 1 responden (4,34%) menyatakan
jika reksadana syariah sudah cukup berkembang, maka ada
kemungkinan pasar obligasi syariah akan prospektif.
       Disamping hal di atas, terdapat 6 responden (26,09%)
yang menyatakan bahwa minat pemodal tidak menjadi kendala
dalam menerbitkan efek syariah, artinya responden beranggapan
bahwa minat pemodal dirasa cukup bagus dalam menyerap efek
syariah, sedangkan sisanya 5 responden (21,73%) dapat
disimpulkan tidak mengerti apakah faktor ini mempengaruhi
terhadap penerbitan efek syariah atau tidak.

6. Pra-proses (persiapan) penerbitan Efek syariah :

                               Tabel 26


             Jawaban                     Frequency      Percent
 Ya                                          9           39.13
 Tidak                                       10          43.48
 Lain-lain                                   4           17.39
                               Total         23          100.0

       Untuk pertanyaan apakah pra-proses dalam menerbitkan
efek syariah menjadi kendala bagi perusahaan Saudara dalam
menerbitkan efek syariah, jumlah responden yang menyatakan
bahwa (pra-proses) persiapan penerbitan Efek syariah menjadi
kendala dan yang menyatakan bahwa (pra-proses) persiapan
penerbitan Efek syariah tidak menjadi kendala hampir berimbang,
yaitu masing-masing 9 responden (39,13%) dan 10 responden
(43,48%). Sedangkan sisanya 4 responden (17,39%) menjawab
masing-masing    adalah    :    1      responden   menjawab   belum


                           45
mempelajari hal dimaksud, 1 responden menjawab belum ada
rencana, dan 2 responden menjawab secara terus terang belum
mengerti dan memahami seputar efek syariah.
       Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan
pra-proses dalam menerbitkan efek syariah dianggap tidak
berpengaruh besar terhadap rencana emiten untuk menerbitkan
efek syariah di masa yang akan datang.


7. Tingkat kemampuan Penjamin Emisi Efek (PEE) tentang pasar
   modal syariah :
                             Tabel 27
               Jawaban                  Frequency   Percent
 Ya                                         10       43.48
 Tidak                                       8       34.78
 Lain-lain                                  5        21.74
                             Total          23       100.0

       Tabel di atas memperlihatkan bahwa, atas pertanyaan
apakah tingkat kemampuan Penjamin Emisi Efek (PEE) tentang
pasar modal syariah menjadi kendala dan masalah bagi
perusahaan Saudara dalam menerbitkan Efek syariah, sebagian
besar responden yaitu 10 perusahaan (43,48%) menyatakan
benar bahwa tingkat kemampuan Penjamin Emisi Efek tentang
pasar modal syariah menjadi kendala dalam penerbitan efek
syariah.     Ini artinya 43,48% responden menganggap Penjamin
Emisi Efek pada saat ini tidak cukup mampu dalam hal
pengetahuan mengenai penjaminan dalam pasar modal syariah,
sedangkan 8 responden (34,78%) menyatakan sebaliknya,
sementara itu ada 5 responden (21,74%) menjawab lain-lain yang
dapat diasumsikan bahwa ke-5 responden dimaksud dianggap
tidak mengerti atau tidak tahu apakah faktor tersebut menjadi
kendala atau tidak.



                           46
8. Tingkat kemampuan profesi penunjang (Notaris, Konsultan
   hukum dan Akuntan publik) tentang pasar modal syariah :

                                Tabel 28
                 Jawaban               Frequency          Percent
 Ya                                           8            34.78
 Tidak                                       11            47.83
 Lain-lain                                   4             17.39
                  Total                      23            100.0

          Hasil tabel di atas memperlihatkan bahwa, mayoritas
responden emiten di atas tidak menganggap bahwa tingkat
kemampuan profesi penunjang (Notaris, Konsultan hukum dan
Akuntan publik) tentang pasar modal syariah menjadi kendala
dalam penerbitan efek syariah, terbukti mencapai 11 perusahaan
(47,83%) yang menyatakan tidak menjadi kendala, sedangkan
sisanya      8   perusahaan     (34,78%)     menyatakan    sebaliknya.
Sementara 4 responden (17,39%) menjawab lain-lain namun
dapat dismpulkan bahwa responden dimaksud dianggap belum
dan atau tidak mengerti akan hal seputar pasar modal syariah.

9. Biaya yang dikeluarkan dalam proses penerbitan efek syariah :
                                Tabel 29
                 Jawaban                   Frequency       Percent
 Ya                                            5            21.74
 Tidak                                         13           56.52
 Lain-lain                                     5            21.74
                  Total                        23           100.0

          Tabel di atas terlihat bahwa, sebagian besar responden
atau 13 perusahaan (56,52%) menyatakan bahwa biaya tidak
menjadi kendala dalam penerbitan efek syariah dan hanya 5
perusahaan (21,74%) yang menyatakan bahwa                 faktor biaya
sebagai kendala.          Sedangkan 5 (21,74%) perusahaan lainnya
dapat disimpulkan tidak mengerti apakah biaya menjadi faktor
kendala atau tidak.

                               47
        Dengan melihat data pada tabel di atas dapat disimpulkan
bahwa, ternyata biaya yang dikeluarkan dalam rangka penerbitan
efek syariah bukan merupakan kendala dan atau hambatan.

10. Mekanisme dan birokrasi proses penerbitan efek syariah :

                            Tabel 30


              Jawaban              Frequency        Percent
 Ya                                    7             30.43
 Tidak                                 10            43.48
 Lain-lain                             6             26.09
               Total                   23            100.0

        Data tabel di atas juga memperlihatkan bahwa atas
pertanyaan apakah mekanisme dan birokrasi proses penerbitan
efek syariah menjadi kendala bagi perusahaan dalam menerbitkan
efek syariah, ternyata mayoritas responden yaitu 10 perusahaan
(43,48%) menyatakan tidak ada masalah dalam hal mekanisme
dan birokrasi pada proses penerbitan efek syariah dan hanya 7
perusahaan (30,43%) yang menganggap mekanisme dan birokrasi
masih menjadi kendala bagi perusahaan dalam menerbitkan efek
syariah.     Sedangkan sisanya 6 responden (26,09%) lainnya
menjawab lain-lain.
        Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa
mekanisme dan birokrasi ternyata bukan merupakan hambatan
dan atau kendala dalam menerbitkan efek syariah di pasar modal
Indonesia.
11. Waktu (lama-tidaknya) proses penerbitan efek syariah :

                            Tabel 31


              Jawaban              Frequency        Percent
 Ya                                      8            34.78
 Tidak                                  9             39.13
 Lain-lain                              6             26.09
               Total                    23            100.0


                           48
       Hasil tabel di atas memperlihatkan bahwa, antara yang
menganggap waktu proses penerbitan efek syariah sebagai
sebuah kendala dengan yang menganggap tidak sebagai kendala,
hampir berimbang yaitu masing-masing 8 responden (34,78%) dan
9 responden (39,13%), sementara ada 6 responden (26,09%)
yang menjawab lain-lain.
       Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masalah
“waktu” dalam proses penerbitan efek syariah dianggap bukan
merupakan sebuah kendala yang berarti.

12. Kerangka peraturan tentang penerbitan efek syariah :
                             Tabel 32

             Jawaban                Frequency         Percent
 Ya                                     11             47.83
 Tidak                                   7             30.43
 Lain-lain                              5              21.73
              Total                     23             100.0

       Data pada tabel di atas terlihat bahwa, sebagian besar
responden yaitu 11 responden (47,83%) menyatakan bahwa salah
satu kendala dalam penerbitan efek syariah adalah kerangka
peraturan, sementara 7 responden (30,43%) mengangap bahwa
kerangka peraturan yang ada sekarang dirasa sudah cukup dan
tidak menjadi kendala. Sedangkan sisanya 5 responden (21,73%)
dapat disimpulkan tidak mengetahui akan pengaruh kerangka
peratuan dalam rangka penerbitan efek syariah.
13. Pola pengawasan (dari sisi syariah) oleh lembaga terkait :
                             Tabel 33

             Jawaban                Frequency         Percent
 Ya                                     9              39.13
 Tidak                                   8             34.78
 Lain-lain                              6              26.09
              Total                     23             100.0


                           49
          Untuk    pertanyaan        ini,     jawaban       responden     hampir
berimbang antara yang menganggap bahwa pola pengawasan
dari sisi syariah oleh lembaga terkait dianggap sebagai sebuah
kendala, bukan sebagai kendala atau yang dianggap kurang
memahami, yaitu masing-masing : 8 perusahaan (34,78%), 9
perusahaan (39,13%), dan 6 perusahaan (26,09%).


14. Kelembagaan atau Institusi yang mengatur dan mengawasi
    kegiatan pasar modal syariah di Indonesia :

                                 Tabel 34


              Jawaban                          Frequency             Percent
 Ya                                                8                  34.78
 Tidak                                             10                 43.48
 Lain-lain                                         5                  21.73
                  Total                            23                 100.0

          Tabel di atas memperlihatkan bahwa, sebanyak 10
responden (43,48%) menyatakan kelembagaan atau institusi yang
mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal syariah di
Indonesia dianggap tidak menjadi kendala atau hambatan,
sementara     8    responden     (34,78%)               menyatakan    sebaliknya.
Sedangkan sisanya 5 responden (21,73%) menyatakan tidak tahu
dan atau tidak mengerti tentang seputar investasi syariah di pasar
modal.
          Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa,
tentang    kelembagaan     atau             Institusi     yang   mengatur      dan
mengawasi kegiatan pasar modal syariah di Indonesia, dianggap
bukan merupakan sebuah kendala dan atau hambatan dalam
proses penerbitan efek syariah.




                                50
        Adapun hasil data tambahan berkaitan dengan pertanyaan
tidak bernomor, dapat disampaikan sebagai berikut :

Pertanyaan : Menurut pendapat Saudara, adakah hal-hal lain
               yang merupakan kendala dan masalah dalam
               penerbitan efek syariah, mohon dijelaskan jika ada :

Hasil Tabulasi atas pertanyaan di atas adalah sebagai berikut :

                               Tabel 35
               Jawaban                  Frequency             Percent
 memberikan jawaban                             10             43.48
 Tidak memberikan jawaban                       13             56.52
            Total                               23             100.0

        Data    yang      diperoleh     dari     23       responden     yang
mengembalikan kuesioner tersebut adalah : 10 responden (43%)
memberikan      jawaban     dan    13    responden         (56,52%)     tidak
memberikan      jawaban.     Adapun      dari        10   responden     yang
memberikan jawaban berkaitan dengan hal-hal lain yang menjadi
kendala dalam penerbitan efek syariah, diantaranya adalah
meliputi hal-hal sebagai berikut :
• kedudukan efek syariah tersebut bagaimana,
• aspek insentif dan perpajakan atas efek tsb belum mendapat
   perhatian pemerintah,
• pengetahuan masyarakat akan efek tersebut masih terbatas
   atau kurangnya sosialisasi mengenai investasi syariah si pasar
   modal Indonesia kepada pelaku pasar maupun masyarakat
   pada umumnya.
• peraturan yang mengatur efek syariah harus diperjelas
   demikian juga dengan ekanisme perdagangannya




                              51
d. Harapan dan Saran

         Menurut pendapat Saudara, hal-hal apa sajakah yang
  perlu diperbaiki atau diperjelas dalam rangka mendorong dan
  mengembangkan pasar modal syariah di masa mendatang ?

  1. Peraturan tentang penerbitan efek syariah :
                               Tabel 36

               Jawaban              Frequency        Percent
   Ya                                   20            86.96
   Tidak                                 1             4.34
   Lain-lain                             2             8.70
                Total                   23            100.0

          Tabel di atas memperlihatkan informasi yang meyakinkan
  dimana hampir semua responden atau 20 perusahaan (86,96%)
  menyatakan bahwa peraturan tantang penerbitan efek syariah
  perlu diperbaiki dan diperjelas sedangkan sisanya 3 responden
  (13,04) menyatakan tidak perlu dan tidak tahu.
          Berdasarkan data di atas hampir dapat dipastikan bahwa
  sebagian besar responden menginginkan adanya kejelasan
  peraturan berkaitan dengan investasi efek syariah di pasar modal
  Indonesia, hal ini tentunya juga akan dapat memberikan kepastian
  hukum bagi para pelaku pasar modal khususnya berkaitan dengan
  transaksi efek syariah.

  2. Fungsi dan peran lembaga yang mengatur dan mengawasi
     kegiatan pasar modal syariah (Bapepam, SRO, Dewan Syariah
     Nasional) :

                               Tabel 37

                Jawaban               Frequency       Percent
   Ya                                     21            91.30
   Tidak                                   0                0
   Lain-lain                               2             8.70
                   Total                  23            100.0


                             52
        Tabel di atas juga memberikan hasil yang hampir sama
seperti pada tabel sebelumnya, dimana 21 responden (91,30%)
menyatakan bahwa fungsi dan peran lembaga regulator dan
pengawas seperti Bapepam, SRO, dan Dewan Syariah Nasional
(DSN) perlu ditingkatkan dan hanya 2 responden (8,7%) yang
menyatakan tidak tahu serta tidak ada yang menyanggah
berkaitan dengan hal tersebut di atas.
        Berdasarkan     hal    di   atas,    terlihat   bahwa   aspek
kelembagaan yang berkaitan dengan investasi syariah di pasar
modal nampaknya mendapatkan perhatian yang serius dari para
pelaku pasar modal sehingga peran lembaga-lembaga dimaksud
diharapkan bisa lebih ditingkatkan lagi.

3. Upaya sosialisasi peraturan dan mekanisme pengawasan
   pasar modal syariah kepada seluruh pelaku pasar modal ?
                               Tabel 38

             Jawaban                      Frequency       Percent
 Ya                                          21          91.30
 Tidak                                        0              0
 Lain-lain                                    2           8.70
               Total                         23          100.0

        Tabel di atas juga menunjukkan hasil yang dominan
terhadap pertanyaan “perlunya upaya sosialisasi peraturan dan
mekanisme pengawasan pasar modal syariah kepada seluruh
pelaku pasar modal”, dimana 21 responden (91,30%) menyatakan
perlu dan tidak ada 1 (satu) respondenpun yang menyatakan tidak
perlu sedangkan 2 responden (8,70%) menyatakan tidak tahu.
        Denagan demikian dapat disimpulkan bahwa hampir
semua responden (91,30%) menyatakan bahwa upaya sosialisasi
peraturan dan mekanisme pengawasan pasar modal syariah
kepada seluruh pelaku pasar modal, perlu ditingkatkan.


                              53
   4. Lain-lain (jelaskan)
      Untuk pertanyaan lain-lain dalam kelompok harapan dan saran
      ini didapat hasil tabulasi sebagai berikut : Hanya terdapat 1
      responden yang memberikan sarannya yaitu : ”perlu dukungan
      pemerintah secara simultan atas pengembangan obligasi
      syariah, terutama dalam berbagai bentuk Peraturan Pemerintah
      yang kondusif”.


        Dengan melihat dan menelaah hasil data dari tabulasi serta
telah mendiskripsikannya dalam narasi pada kelompok responden
emiten/ perusahaan publik di atas, dengan ini dapat disimpulkan hal-
hal sebagai berikut :
a) Data dari Emiten menunjukkan sikap atau perilaku dari pelaku
   pasar modal pada sisi supply atau penyedia, dalam hal ini adalah
   sebagai penyedia dalam proses penerbitan efek syariah.
b) Jumlah Emiten yang terdaftar pada saat kuisioner dikirimkan
   adalah 412 Emiten. Untuk kepentingan penelitian telah ditentukan
   sejumlah 107 Emiten sebagai sample dengan kriteria yang telah
   dijelaskan dan telah dikirimkan kepada mereka kuisioner dengan
   sejumlah pertanyaan. Dari 107 Emiten tersebut hanya sebanyak
   23 Emiten atau 21,5% yang menjawab dan mengembalikan
   kuisioner.
c) Deskripsi tersebut diatas dan analisis dilakukan terhadap data
   jawaban dari 23 Emiten yang mengembalikan kuisioner.
d) Data Umum Perusahaan
   Sebagian besar meliputi 26,1% dan 21,7% masing-masing
   bergerak di bidang keuangan dan perdagangan, jasa, investasi.
   Sementara dari sisi aktiva, 47,83% memiliki aktiva lebih dari atau
   sama dengan Rp 1 triliun dan 39,13% kurang dari Rp 500 miliar.
   Ini artinya bahwa penelitian ini menunjukkan atau mewakili sikap



                              54
  Emiten yang memiliki modal aktiva cukup baik yaitu yang memiliki
  aktiva lebih dari Rp 1 triliun dan mewakili pula suara Emiten yang
  memiliki modal aktiva yang tidak besar yaitu hanya Rp 500 miliar
  atau kurang terhadap perkembangan pasar modal syariah atau
  investasi syariah di pasar modal.
e). Rencana penerbitan Efek syariah dalam jangka 5 tahun ke depan
  terlihat bahwa sebagian besar Emiten dalam jangka menengah
  tidak memiliki rencana untuk menerbitkan efek syariah mencapai
  91,3% ( jawaban tidak 78,26% ditambah lain-lain 13,04%).
  Sebanyak 8,69% yang memiliki rencana, Efek syariah yang
  diminati untuk drencanakan diterbitkan adalah obligasi syariah.
  Hal ini memang efek yang yang di pasar konvensional telah
  banyak diterbitkan dan belum sesuai dengan syariah adalah
  obligasi. Berbeda dengan saham yang memang secara syariah
  telah dimungkinkan untuk dikembangkan, tinggal core business-
  nya atau industri yang dikelola telah sesuai atau enggak dengan
  prinsip-prinsip syariah.
f). Kendala dan Masalah
  Terdapat 14 pertanyaan yang diidentifikasikan sebagai kelompok
  kendala atau masalah dalam penerbitan efek syariah yang telah
  disetting pada kuisioner. Adapun dari 14 kelompok kendala atau
  masalah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
  7 (tujuh) faktor yang ditanyakan yang diduga merupakan kendala
  dalam penerbitan efek syariah, responden Emiten membenarkan
  dengan tingkat pembenaran secara berurut-turut dari yang
  terbesar sebagai berikut :
  • Tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang pasar modal
     syariah (56,52%).
  • Ketersediaan informasi tentang pasar modal syariah (56,52%).




                               55
  • Penggunaan dana hasil emisi yang harus sesuai pula dengan
     prinsip syariah ( 56,52%)
  • Minat pemodal atas efek syariah yang diterbitkan (52,17%)
  • Kerangka peraturan tentang penerbitan efek syariah (47,83%)
  • Tingkat kemampuan Penjamin Emisi Efek tentang Pasar Modal
     Syariah (43,48%).
  • Pola pengawasan (dari sisi syariah) oleh lembaga terkait
     (39,13%)

         Sedangkan 7 (tujuh) pertanyaan lainnya yang semula
  diindikasikan sebagai kendala, ternyata responden emiten tidak
  menganggap hal itu sebagai sebuah kendala yaitu secara berurut
  dari yang terbanyak menjawabnya :
  • Biaya yang dikeluarkan dalam proses penerbitan efek syariah
     (56,52%)
  • Jenis Usaha sesuai atau tidak dengan prinsip syariah (52,17%).
  • Tingkat kemampuan profesi penunjang (Notaris, Konsultan
     hukum dan Akuntan publik) tentang pasar modal syariah
     (47,83%)
  • Pra-proses (persiapan) penerbitan Efek syariah (43,48%)
  • Kelembagaan atau Institusi yang mengatur dan mengawasi
     kegiatan pasar modal syariah di Indonesia (43,48%)
  • Mekanisme dan birokrasi proses penerbitan efek syariah
     (43,48%).
  • Waktu dari proses penerbitan efek syariah (39,13%).
g) Harapan dan Saran
  Jawaban mayoritas responden atas kesetujuan mereka bahwa
  sembilan pertanyaan pada poin 6 merupakan masalah             atau
  kendala dalam penerbitan efek syariah diwujudkan pula dalam
  harapan dan saran yang mereka berikan meliputi :



                             56
     • Upaya sosialisasi peraturan dan mekanisme pengawasan
        pasar modal syariah kepada seluruh pelaku pasar modal
        (91,30%).
     • Fungsi dan peran lembaga yang mengatur dan mengawasi
        kegiatan pasar modal syariah (Bapepam, SRO, Dewan Syariah
        Nasional) (91,30%)
     • Perbaikan dan pengembangan peraturan tentang penerbitan
        efek syariah (86,96%).
            Adapun untuk kelompok saran dan harapan, terdapat
     beberapa masukan yang antara lain :
     a. kedudukan efek syariah tersebut bagaimana
     b. mekanisme pasar modal syariah diatur oleh siapa
     c. aspek insentif dan perpajakan atas efek tsb belum mendapat
        perhatian pemerintah

2. Penjamin Emisi Efek
           Pada kelompok responden Penjamin Emisi Efek (PEE),
  berdasarkan kuesioner yang masuk dapat diketahui jawabannya yaitu
  sebanyak 26 responden (31,7%)          menjawab dan mengembalikan
  kuisioner. Berikut adalah rangkuman isi kuisioner dan jawaban dari
  responden untuk kategori Penjamin Emisi Efek.


  a. Gambaran Umum Perusahaan
     1. Status Perusahaan Saudara ?

                                 Tabel 39

    Status Perusahaan                 Frequency           Percent
   Nasional                               20               76.9
   Patungan                                6               23.1
            Total                         26              100.0




                                 57
      Tabel di atas memperlihatkan bahwa lebih dari separo
responden PEE yaitu 20 perusahaan (76,9%) yang manjawab PEE
dengan status perusahaan Nasional dan sisanya 6 PEE (23,1%)
berstatus perusahaan patunga dengan asing. Dengan demikian
terlihat pula bahwa ternyata secara status dan kepemilikan
perusahaan, nasional dan atau lokal masih lebih besar jika
dibandingkan asing.
2. Berapakah Total Asset perusahaan Saudara pada akhir tahun
   2003 ?
                                 Tabel 40


            Total Asset               Frequency       Percent
 ≥ Rp100 miliar                             13          50.0
 Rp50 miliar – Rp99 miliar                   6          23.1
 <Rp50 miliar                                7          26.9
               Total                        26         100.0

      Tabel data di atas menunjukkan bahwa 13 responden (50,0%)
memiliki aktiva di atas Rp 100 Milyar, sedangkan yang memiliki aktiva
di bawah Rp 50 Milyar dibandingkan dengan yang memiliki aktiva
antara Rp 50 Milyar s/d Rp 99 Milyar menunjukkan data yang
berimbang yaitu masing-masing 7 responden (26,9%) dan 6
responden (23,1%).
      Berdasarkan data di atas juga dapat di simpulkan bahwa
sebagian besar perusahaan efek Penjamin Emisi Efek (PEE) memiliki
total aktiva di atas Rp 100 Milyar.


b. Rencana Penerbitan Efek Syariah :

1. Apakah perusahaan Saudara mempunyai rencana untuk
   melakukan penjaminan emisi efek syariah dalam jangka waktu 5
   (lima) tahun ke depan ?



                                58
                               Tabel 41

             Jawaban                Frequency        Percent
 Ya                                     10            38.46
 Tidak                                  11            42.31
 Lain-lain                              5             19.23
              Total                     26            100.0

       Jawaban terhadap adanya rencana PEE untuk melakukan
penjaminan efek syariah hampir berimbang antara yang menjawab ya
dan yang menjawab tidak yaitu masing-masing 10 perusahaan
(38,46%) dan 11 perusahaan (42,31%), sedangkan sisanya 4
responden (15,38%) menjawab akan melakukan rencana dengan
syarat yaitu : syarat permodalan PEE terpenuhi dan kondisi pasar
mendukung, permintaan yang cukp signifikan dari para investor dan
para calon emiten, memahami mengenai konsep syariah, belum ada
mandat yang kami terima untuk melakukan emisi obligasi syariah.
Ada 1 perusahaan (3,85%) yang menjawab tidak tahu.

2. Jika jawaban nomor 3 di atas ya, efek syariah apakah yang akan
   Saudara jamin ?

       Ada 10 responden yang menjawab punya berencana untuk
 melakukan penjaminan syariah dalam jangka waktu 5 (lima) tahun
 ke depan, dan kesemuanya juga menjawab akan melakukan
 penjaminan efek syariah jenis obligasi.

c. Kendala dan Masalah :

Menurut pendapat Saudara, apakah hal-hal di bawah ini menjadi
kendala dan masalah bagi perusahaan Saudara dalam melakukan
penjaminan Efek syariah ?

1. Tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang pasar modal
  syariah di lingkungan perusahaan Saudara :




                              59
                               Tabel 42

             Jawaban                      Frequency        Percent
 Ya                                           21            80.77
 Tidak                                         4            15.38
 Lain-lain                                     1             3.85
              Total                           26            100.0

       Hasil tabel di atas menunjukkan bahwa lebih dari separo yaitu
22 PEE (84,62%) menganggap pengetahuan dan pemahaman
tentang pasar modal syariah masih menjadi kendala dimana 1
responden    menjawab    dalam     kolom    jawaban   lain-lain   namun
menunjukkan jawaban yang sama bahwa hal itu menjadi kendala.
Hanya 4 PEE (15,38%) yang menyatakan faktor tersebut tidak
menjadi kendala.


2. Ketersediaan informasi tentang pasar modal syariah :

                               Tabel 43

             Jawaban                  Frequency           Percent
 Ya                                       21               80.77
 Tidak                                     5               19.23
 Lain-lain                                 0                   0
              Total                       26               100.0

      Demikian pula data pada tabel di atas, terlihat bahwa faktor
ketersediaan informasi tentang pasar modal syariah dirasakan oleh
sebagian besar responden (kelompok PEE) masih menjadi sebuah
kendala, hal ini terbukti bahwa ada sebanyak 21 PEE (80,77%)
menyatakan hal tersebut, sedangkan 5 PEE (19.23%) lainnya
menyatakan hal itu tidak menjadi sebuah kendala.

3. Minat pemodal atas efek syariah yang diterbitkan :




                              60
                              Tabel 44

             Jawaban                 Frequency         Percent
 Ya                                      15            57.69
 Tidak                                    9            34.62
 Lain-lain                                2             7.69
              Total                      26            100.0

       Tabel di atas menunjukkan bahwa 15 responden (57,69%)
menyatakan bahwa minat pemodal atas efek syariah yang diterbitkan
masih menjadi kendala, hal ini juga didukung oleh jawaban dari 2
responden lainnya (7,69%) yang dianggap menyatakan hal yang
sama melalui jawaban pada kelompok lain-lain, dimana kedua
responden tersebut memberikan penekanan pada hal-hal seperti
keterbatasan informasi dan jumlah efek syariah yang ditawarkan serta
masih terbatasnya investor dan pasar obligasi syariah. Sedangkan
sisanya 9 responden (34,62%) menyatakan jawabannya bahwa hal-
hal di atas bukan merupakan sebuah kendala.

4. Pra-proses (persiapan) penerbitan Efek syariah :
                              Tabel 45

             Jawaban                 Frequency         Percent
 Ya                                      17             65.38
 Tidak                                    8             30.77
 Lain-lain                                1              3.85
              Total                      26             100.0

       Jawaban responden pada tabel di atas menunjukkan bahwa,
sebagian besar responden yaitu 17 PEE (65,38%) menyatakan
bahwa pra-proses (persiapan) penerbitan Efek syariah masih menjadi
kendala dan 8 responden (30,77%) menjawab hal itu tidak menjadi
masalah, sementara sisanya 1 responden lainnya (3,85%) menjawab
lain-lain yaitu baru format mudharobah dan ijarah yang telah terbit,
sehingga perlu waktu untuk melakukan berdasarkan format yang lain.



                              61
5. Tingkat kemampuan profesi penunjang (Notaris, Konsultan hukum
   dan Akuntan publik) tentang pasar modal syariah :

                              Tabel 46

             Jawaban                     Frequency     Percent
 Ya                                         14          53.84
 Tidak                                      11          42.31
 Lain-lain                                   1           3.85
              Total                         23          100.0

       Jawaban responden pada tabel di atas juga memperlihatkan
bahwa sebagian besar responden yaitu 14 PEE atau (53,85%)
menyatakan bahwa tingkat kemampuan profesi penunjang (Notaris,
Konsultan hukum dan Akuntan publik) tentang pasar modal syariah
masih menjadi kendala dan 11 PEE (42,31%), sebaliknya hanya 1
responden (3,85%) menjawab pada kelompok lain-lain dimana
menekankan jawaban dengan menyatakan bahwa aturan (regulasi
syariah masih belum populer sehingga manfaatnya belum tergali,


6. Biaya yang dikeluarkan dalam proses penerbitan efek syariah :

                              Tabel 47

              Jawaban                     Frequency     Percent
 Ya                                            8         30.77
 Tidak                                        15         57.69
 Lain-lain                                     3         11.54
               Total                          26         100.0

       Tabel di atas menunjukkan bahwa 15 responden (57,69%)
menyatakan biaya tidak menjadi faktor kendala dalam proses
penerbitan efek syariah sementara ada 8 respponden (30,77%) yang
menyatakan bahwa biaya menjadi faktor kendala sedangkan sisanya
3 responden (11,54%) menjawab pada kelompok lain-lain dimana 1
responden menjawab belum pernah, namun menurut kami biayanya
tidak jauh berbeda dengan penerbitan efek konvensional kecuali ada


                             62
penambahan biaya di DSN, sedangkan 1 responden lainnya
menjawab     masih    diperlukan     standar      yang    baku   yang   perlu
dijembatani oleh asosiasi-asosiasi profesi pasar modal dan 1
responden ( 3,85%) yang lainnya lagi tidak berpendapat.

7. Mekanisme dan birokrasi proses penerbitan efek syariah :
                                   Tabel 48

              Jawaban                            Frequency       Percent
 Ya                                                  14           53.85
 Tidak                                               10           38.46
 Lain-lain                                            2            7.69
                Total                                26           100.0
       Jawaban responden terlihat bahwa mayoritas yakni 14 PEE
(53,85%) menganggap bahwa mekanisme dan birokrasi masih
menjadi masalah dalam proses penerbitan efek syariah sedangkan
10 responden (38,46%) yang menyatakan tidak, sedangkan sisanya 2
responden ( 7,69%) yang menjawab lain-lain masing-masing adalah 1
responden menjawab belum pernah menjalani mekanisme dan
birokrasi di DSN dan 1 responden menjawab masih perlu sosialisasi.

8. Waktu (lama-tidaknya) proses penerbitan efek syariah

                                   Tabel 49

                Jawaban                            Frequency       Percent
 Ya                                                     9          34.62
 Tidak                                                 15          57.69
 Lain-lain                                              2           7.69
                 Total                                 26          100.0

       Jawaban       pada   tabel     terlihat    bahwa      sebagian   besar
responden yaitu 15 PEE (57,69%) menyatakan waktu tidak menjadi
kendala dalam proses penerbitan efek syariah dan hanya 9 (34,62%)
yang menyatakan bahwa lamanya waktu masih menjadi kendala,
sementara sisanya 2 responden (7,69%) menjawab lain-lain dengan
rincian 1 responden menjawab tergantung dari lamanya penerbitan

                                63
sertifikasi syariah dari DSN, sementara pada proses lembaga lainnya
hampir sama waktunya dan 1 responden yang lainnya menjawab
tidak berpendapat.

9. Fee yang diperoleh dari kegiatan penerbitan efek syariah

                                      Tabel 50
                     Jawaban          Frequency   Percent
 Ya                                       13       50.0
 Tidak                                    12      46.15
 Lain-lain                                 1       3.85
                 Total                    26      100.0
        Tabel di atas menunjukkan bahwa 13 responden (50%)
menyatakan bahwa Fee yang diperoleh dari kegiatan penerbitan efek
syariah memang merupakan sebuah kendala, sementara ada 12
responden (46,15%) sebaliknya yaitu menganggap bukan merupakan
sebuah kendala sementara 1 responden lainnya menjawab lain-lain
dengan menyatakan bahwa fee untuk PEE untuk saat ini dianggap
kurang       sehat    dan     perlu    pemikiran   solusinya   agar   tidak
membahayakan industri sekuritas, fee masih terlalu rendah untuk
saat ini.
10. Kerangka peraturan tentang penerbitan efek syariah :
                                      Tabel 51

                     Jawaban                       Frequency    Percent
 Ya                                                    19       73.08
 Tidak                                                  7       26.92
 Lain-lain                                              0           0
                      Total                            26       100.0

            Sebagian besar responden yaitu 19 perusahaan ( 73,08%)
yang menganggap bahwa kerangka peraturan tentang penerbitan
efek syariah masih menjadi kendala dan hanya 7 PEE (26,92%) yang
tidak menganggap kerangka peraturan sebagai kendala dalam
penerbitan efek syariah.


                                      64
11. Pola pengawasan (dari sisi syariah) oleh lembaga terkait :

                               Tabel 52
              Jawaban                     Frequency      Percent
 Ya                                           15          57.69
 Tidak                                         9          34.62
 Lain-lain                                     2           7.69
               Total                          26          100.0

       Sebanyak 15 PEE (57,69%) yang menyatakan bahwa pola
pengawasan dari sisi syariah oleh lembaga terkait menjadi masalah
dalam penerbitan efek syariah.       Hanya 9 PEE (34,62%) yang
berpendapat sebaliknya.    Sisanya 2 PEE (7,69%) lain-lain dimana
satu tidak tahu dan 1 pengawasan dikomandoi Bapepam.


12. Kelembagaan atau Institusi yang mengatur dan mengawasi
    kegiatan pasar modal syariah di Indonesia

                               Tabel 53


               Jawaban                     Frequency      Percent
 Ya                                           15            57.69
 Tidak                                         9            34.62
 Lain-lain                                     2             7.69
                 Total                        26            100.0

       Sebanyak 15 PEE (57,69%) yang menyatakan bahwa
kelembagaan atau institusi yang mengatur dan mengawasi kegiatan
pasar modal syariah di Indonesia menjadi masalah dalam penerbitan
efek syariah. Hanya 9 PEE (34,62%) yang berpendapat sebaliknya.
Sisanya 2 PEE (7,69%) lain-lain dimana satu tidak menjawab dan 1
menjawab disamping DSN perlu kiranya wali amant yang khusus
untuk efek syariah




                               65
        Adapun jawaban-jawaban atas 1 pertanyaan tambahan,
dapat dijelaskan sebagai berikut :


Pertanyaan :
“Menurut pendapat Saudara, adakah hal-hal lain yang merupakan
kendala dan masalah dalam penerbitan efek syariah, mohon
dijelaskan jika ada “.


Jawaban      :
Terdapat 9 responden yang memberikan jawaban dengan masing-
masing jawaban sebagai berikut : Instrumen efek syariah tidak
banyak terdapat di market, pasar tidak lkuid, partisipan tidak banyak,
kurangnya informasi efek-efek yang dapat dikategorikan dalam efek
syariah, potensi buyer masih terbatas, sosialisai terhadap pemodal
masih terbatas, emiten masih belum familiar terhadap produk syariah,
sisi akuntansi belum ada ketentuan yang jelas, kualitas emiten agar
benar-benar bagus, belum banyak tersedia di pasar sekunder
walaupun peminatnya banyak, harus dilakukan sosialisasi tentang
tingkat keamanan investasi, pengenaan produk, dan regulasi maupun
keutamaannya masih sedikit masyarakat kita yang mengetahui,
Responden menjawab kepastian hukum efek syariah berkaitan
dengan perubahan bidang usaha utama Emiten atau adanya
perubahan penggunaan dana hasil emisi Emiten,

d. Harapan dan Saran

Menurut pendapat Saudara, hal-hal apa sajakah yang perlu diperbaiki
atau diperjelas dalam rangka mendorong dan mengembangkan pasar
modal syariah di masa mendatang ?




                               66
1. Peraturan tentang penerbitan efek syariah :

                              Tabel 54


             Jawaban                 Frequency         Percent
 Ya                                     24              92.30
 Tidak                                   1               3.85
 Lain-lain                               1               3.85
                 Total                  26              100.0

       Hampir semua yaitu 25 (96,15%) manyatakan perlunya
peraturan tentang penerbitan efek syariah dimana 24 langsung
menjawab ya dan 1 PEE menjawab di kolom lain-lain namun
esensinya adalah sama yaitu mendukung perlunya peraturan
tersebut. Hanya 1 PEE (3,85%) yang menyatakan tidak.


2. Fungsi dan peran lembaga yang mengatur dan mengawasi
   kegiatan pasar modal syariah (Bapepam, SRO, Dewan Syariah
   Nasional) :

                              Tabel 55


                 Jawaban                                Percent
                                         Frequency
 Ya                                         23          88.46
 Tidak                                       3          11.54
 Lain-lain                                   0              0
                   Total                    23          100.0

       Mayoritas responden yaitu 23 PEE (88,46%) menyatakan
perlunya perbaikan Fungsi dan peran lembaga yang mengatur dan
mengawasi kegiatan pasar modal syariah (Bapepam, SRO, Dewan
Syariah Nasional).


3. Upaya sosialisasi peraturan dan mekanisme pengawasan pasar
   modal syariah kepada seluruh pelaku pasar modal ?



                              67
                               Tabel 56


               Jawaban                    Frequency      Percent
 Ya                                          25         96.15
 Tidak                                        1          3.85
 Lain-lain                                    0             0
                Total                        26         100.0

        Hampir seluruh responden yaitu 25 PEE (96,15%) yang
menyatakan bahwa perlu peningkatan supaya sosialisasi peraturan
dan mekanisme pengawasan pasar modal syariah kepada seluruh
pelaku pasar modal dan hanya 1 PEE (3,85%) yang menganggap hal
itu tidak perlu peningkatan.


         Dengan melihat dan menelaah hasil data dari tabulasi serta
telah mendiskripsikannya dalam narasi pada kelompok responden
Perusahaan Efek Penjamin Emisi Efek (PEE) di atas, dengan ini
dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
a) Data dari Penjamin Emisi Efek (PEE) menunjukkan sikap atau
   perilaku dari pelaku pasar modal pada sisi intermediari atau
   perantara, dalam hal ini adalah sebagai perantara dalam proses
   penerbitan efek syariah.
b) Jumlah Penjamin Emisi Efek (PEE) yang terdaftar pada saat
   kuisioner dikirimkan adalah 140 PEE.         Untuk kepentingan
   penelitian telah ditentukan sejumlah 82 PEE sebagai sample
   dengan kriteria yang telah dijelaskan dan telah dikirimkan kepada
   mereka kuisioner dengan sejumlah pertanyaa.        Dari 82 PEE
   tersebut hanya sebanyak 26 PEE atau 31,7% yang menjawab dan
   mengembalikan kuisioner.
c) Deskripsi tersebut diatas dan analisis dilakukan terhadap data
   jawaban dari 26 PEE yang mengembalikan kuisioner.
d) Data Umum Perusahaan



                               68
  Sebagian besar meliputi 76,9% adalah PEE Nasional dan 73,1%
  adalah PEE yang memiliki aktiva Rp 50 miliar atau lebih.             Ini
  artinya bahwa penelitian ini dapat menunjukkan atau mewakili
  sikap PEE yang memiliki peluang kelangsungan usaha cukup baik
  yaitu dimungkinkan memiliki MKBD diatas Rp 25 miliar dan
  mewakili PEE nasional terhadap perkembangan pasar modal
  syariah atau investasi syariah di pasar modal.
e) Rencana penerbitan Efek syariah dalam jangka 5 tahun ke depan
  Meski dari jawaban terlihat jumlah PEE yang memiliki rencana
  untuk melakukan penjaminan efek syariah hampir berimbang
  antara    yang   menjawab    ya     dan     tidak   masing-masing    10
  perusahaan       (38,46%)    dan       11     perusahaan     (42,31%).
  Sesungguhnya terbuka potensi PEE yang memiliki rencana
  penerbitan efek syariah melebihi yang tidak memiliki rencana
  mencapai 53,84%, yaitu adanya tambahan sisa 4 responden
  (15,38%) yang menjawab akan melakukan rencana dengan syarat
  yaitu: syarat permodalan PEE terpenuhi dan kondisi pasar
  mendukung, permintaan yang cukp signifikan dari para investor
  dan para calon emiten, memahami mengenai konsep syariah,
  belum ada mandat yang kami terima untuk melakukan emisi
  obligasi syariah. Efek syariah yang diminati untuk direncanakan
  diterbitkan adalah obligasi syariah.


f) Kendala dan Masalah
  Total pertanyaan dalam kelompok kendala dan masalah yang
  telah disetting pada kuisioner ini ada 12 pertanyaan.          Dari 12
  pertanyaan tersebut dapat dijelaskan di bawah ini.
  Terdapat sembilan faktor yang ditanyakan yang diduga merupakan
  kendala    dalam    penerbitan     efek     syariah,   responden    PEE
  membenarkan dengan tingkat jawaban lebih dari 50% yang



                              69
meliputi hal-hal berikut (berurut dari jumlah responden yang
membenarkan ) :
• Tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang pasar modal
   syariah (84,62%).
• Ketersediaan informasi tentang pasar modal syariah (80,77%).
• Kerangka peraturan tentang penerbitan efek syariah (73,08%)
• Pra-proses (persiapan) penerbitan Efek syariah (65,38%)
• Minat pemodal atas efek syariah yang diterbitkan (57,69%)
• Pola pengawasan (dari sisi syariah) oleh lembaga terkait
   (57,69%)
• Kelembagaan atau Institusi yang mengatur dan mengawasi
   kegiatan pasar modal syariah di Indonesia (57,69%)
• Tingkat kemampuan profesi penunjang (Notaris, Konsultan
   hukum dan Akuntan publik) tentang pasar modal syariah
   (53,84%)
• Mekanisme dan birokrasi proses penerbitan efek syariah
   (53,84%).


Pada satu faktor yang diduga merupakan kendala ternyata
berimbang masing-masing 50% yang menjadikan kendala dan
yang tidak yaitu pada faktor fee yang diperoleh dari kegiatan
penerbitan efek syariah.


Sementara pada dua faktor yang diduga merupakan kendala,
ternyata justru responden tidak menjadikan itu sebagai kendala
dengan tingkat ketidaksetujuan mencapai lebih dari 50%, yaitu,
faktor-faktor :
• Biaya yang dikeluarkan dalam proses penerbitan efek syariah
   (57,69%)




                           70
  • Waktu      (lama-tidaknya)        proses   penerbitan   efek   syariah
      (57,69%)


g) Harapan dan Saran
  Jawaban responden atas kesetujuan mereka bahwa sembilan
  pertanyaan pada poin 9 merupakan masalah atau kendala dalam
  penerbitan efek syariah diwujudkan pula dalam harapan dan saran
  yang mereka berikan yang meliputi :
  • Perbaikan peraturan tentang penerbitan efek syariah (96,15%).
  • Upaya sosialisasi peraturan dan mekanisme pengawasan
      pasar modal syariah kepada seluruh pelaku pasar modal
      (96,15%).
  • Fungsi dan peran lembaga yang mengatur dan mengawasi
      kegiatan pasar modal syariah (Bapepam, SRO, DSN) (88,46%)
          Terdapat juga saran dan harapan lainnya dari responden
  yaitu meliputi (jawaban 7 responden yang memberikan saran )
  sebagai berikut :
  •    DSN perlu lebih mensosialisasikan perannya agar para
       pelaku lebih familiar dengan cara kerja dan fungsi DSN
  •    investasi syariah di pasar modal perlu diberikan insentif
       misalnya perpajakan, kemudahan infrastruktur legal aspek
       yang memadai dan sosialisasi dari semua pihak dan investor
  •    jika mau digalakkan harus ada kegiatan nyata dan terpadu,
       kesan saat ini pengembangkan produk syariah di PM masih
       setengah-setengah, produk lain seperti KOS sudah kelihatan
       ada upaya nyata namun untuk produk syariah nampaknya
       belum
  •    kurangnya sosialisasi apa itu investasi syariah
  •    perlu adanya peraturan yang lebih detail dari Bapepam
       mengenai penerbitan dan pengawasan efek syariah


                                 71
      •    sosialisasi secara rutin kepada pelaku bursa mengenai
           prosedur, tata cara penerbitan efek syariah beserta manfaat
           dan kewajiban yang harus dipenuhi
      •    diperlukan roadshow ke daerah-daerah/akademik untuk lebih
           memperkenalkan diri


3. Manajer Investasi

          Berdasarkan lembaran kuesioner yang telah diterima oleh tim
studi dapat diketahui jawaban responden terhadap pertanyaan yang
diajukan tim studi.    Pada Manajer Investasi terdapat sebanyak 24
responden (46,2% dari total kuisioner yang disebar) yang menjawab dan
mengembalikan kuisioner.      Berikut adalah adalah rangkuman isi
kuesioner dan jawaban dari responden untuk kategori Manajer Investasi.


a. Gambaran Umum Data Perusahaan

1. Berapakah jumlah reksa dana yang dikelola oleh perusahaan
  Saudara sampai dengan saat ini ?

                                 Tabel 57


          Jumlah Reksa Dana             Frequency        Percent
                  1                         7             29.2
                 2-5                       11             45.8
                 >5                         6              25.0
                Total                      24             100.0

          Sebanyak 29,5% responden hanya mengelola 1 reksa dana,
45,8% responden diantaranya mengelola 2 – 5 reksa dana dan sisanya
25% responden mengelola lebih dari 5 reksa dana.
2. Berapakah total dana nasabah reksa dana yang dikelola oleh
   perusahaan Saudara sampai dengan akhir bulan Juni tahun 2004?




                                 72
                                    Tabel 58

                                                                Cumulative
Total Dana Nasabah Reksa Dana Frequency              Percent
                                                                 Percent
 > Rp1 trilyun                                8        33.3        33.3
 Rp100 miliar – Rp1 trilyun                   8        33.3        66.7
 <Rp100 miliar                                8        33.3       100.0
               Total                         24       100.0

         Jumlah dana yang dikelola oleh Manajer Investasi memiliki
proporsi yang sama yaitu antara yang berjumlah kurang dari Rp 100
miliar, lebih dari Rp 100 miliar s/d Rp 1 triliun dan lebih dari Rp 1 triliun
masing-masing 33,2%.


b. Rencana Penerbitan Efek Syariah :


1. Apakah perusahaan Saudara mempunyai rencana untuk menerbitkan
   reksa dana syariah dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan ?

                                    Tabel 59


                                                               Cumulative
             Jawaban               Frequency      Percent
                                                                Percent
 Ya                                     12         50.0          50.0
 Tidak                                   6          25.0          75.0
 Lain-lain                              6           25.0         100.0
              Total                     24         100.0

         Berdasarkan hasil kuisioner, terdapat hal yang patut disyukuri
bahwa ternyata sebanyak 50% responden telah berencana untuk
menerbitkan reksa dana berbasis syariah dalam jangka waktu 5 tahun
kedepan dan hanya 25% responden yang mengatakan tidak memiliki
rencana tersebut.
         Hal yang patut dicermati adalah bahwa sebanyak 25%
responden sisanya diantaranya berpendapat belum memiliki rencana
menerbitkan reksa dana syariah dalam jangka 5 tahun kedepan, namun


                                   73
tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk menerbitkan reksa dana
syariah jika perkembangan dan potensi reksa dana syariah semakin baik
dengan jumlah instrumen dan tingkat permintaan yang semakin
meningkat.


Adapun dari 12 responden yang berencana menerbitkan reksa dana
syariah dimaksud, terbagi dalam efek sebagai berikut :
4 responden akan menerbitkan reksa dana saham
2 responden akan menerbitkan reksa dana campuran
5 responden akan menerbitkan reksa dana Pendapatan Tetap
5 responden akan menerbitkan reksa dana Pasar Uang

          Reksa dana syariah dana campuran dan pendapatan tetap
masih    merupakan      pilihan   bagi    responden     yang   nantinya    akan
menerbitkan reksa dana syariah.

c. Kendala dan Masalah

      Menurut pendapat Saudara, apakah hal-hal di bawah ini menjadi
kendala dan masalah bagi perusahaan Saudara dalam menerbitkan
reksa dana syariah?

1. Tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang pasar modal syariah
   di lingkungan perusahaan Saudara :

                                      Tabel 60

               Jawaban                       Frequency           Percent
 Ya                                              17              70.83
 Tidak                                            3               12.5
 Lain-lain                                        4              16.67
                Total                            24              100.0

        Berdasarkan     hasil   kuisioner,   sebanyak    70,83%    responden
menyatakan bahwa yang menjadi kendala dan masalah dalam
menerbitkan reksa dana syariah bagi adalah disebabkan karena tingkat


                                     74
pengetahuan dan pemahaman responden tentang pasar modal syariah
sedangkan 12,5% responden menyatakan bahwa tingkat pengetahun
dan pemahaman tentang pasar modal syariah bukan sebagai kendala
atau masalah dalam menerbitkan reksa dana syariah. Hal yang cukup
menggembirakan bahwa sebanyak 16,67% responden menyatakan
bahwa untuk mengatasi kendala, pengetahuan dan pemahaman tentang
pasar modal syariah perlu dilakukannya sosialisasi yang lebih mendalam
baik   dalam   hal   peraturan,   produk     investasi,   dan    mekanisme
pengawasannya yang dituangkan dalam sebuah blue print pasar modal
syariah.
2. Ketersediaan informasi tentang pasar modal syariah :
                                  Tabel 61

                Jawaban                      Frequency            Percent
   Ya                                            17              70.83
   Tidak                                          6                 25
   Lain-lain                                      1               4.17
                 Total                           24              100.0

       Tabel di atas memperlihatkan data bahwa, 17 responden 70,83%
menyatakan bahwa faktor ketersediaan informasi tentang pasar modal
syariah dianggap sebagai kendala dan masalah bagi penerbitan reksa
dana syariah, sedangkan 6 responden (25%) menyatakan hal itu tidak
menjadi kendala dan masalah. Sementara ada 1 responden (4,17%)
menyatakan bahwa efek dan informasi pasar modal syariah yang
tersedia masih terbatas.

3. Ketersediaan efek syariah yang dapat dijadikan portofolio :

                                  Tabel 62

               Jawaban                     Frequency            Percent
Ya                                             23               95.83
Tidak                                           1                4.17
Lain-lain                                       0                   0
                Total                          24               100.0


                                  75
        Data pada tabel di atas juga memperlihatkan bahwa sebanyak 23
responden (95,83%) menyatakan ketersediaan efek syariah yang dapat
dijadikan portofolio masih menjadi kendala dan masalah dalam
penerbitan reksa dana syariah dan hanya 1 responden (4,17%) yang
menyatakan tidak.

4. Tingkat total return yang dihasilkan reksa dana syariah

                                   Tabel 63

                 Jawaban                        Frequency             Percent
 Ya                                                 9                37.50
 Tidak                                             13                54.17
 Lain-lain                                          2                 8.33
                  Total                            26                100.0

          Tabel di atas juga memperlihatkan informasi yang cukup
menggembirakan dimana sebanyak 13 responden (54,17%) menyatakan
bahwa tingkat total return yang dihasilkan reksa dana syariah bukan
menjadi kendala dan masalah dalam menerbitkan reksa dana syariah
dan hanya 9 responden (37,5%) yang menyatakan ya sebagai kendala,
sedangkan 2 responden lainnya (8,33%) masing-masing menyatakan
bahwa belum menetapkan target return dari reksa dana syariah yang
ada atau yang akan diterbitkan dan yang lainnya menyatakan besarnya
total   return    dari    reksa   dana        syariah   tergantung   dari   Manajer
Investasinya, namun apabila produk-produk syariah bertambah banyak
maka akan lebih baik.

5. Minat pemodal atas reksa dana syariah :
                                   Tabel 64

                 Jawaban                          Frequency            Percent
 Ya                                                  20               83.33
 Tidak                                                4               16.67
 Lain-lain                                            0                   0
                  Total                              23               100.0


                                         76
         Tabel di atas memperlihatkan bahwa 20 responden (83.33%)
menyatakan bahwa minat dari pemodal untuk menginvestasikan
dananya di reksa dana syariah dapat menjadi kendala dan masalah
dalam penerbitan efek reksa dana syariah, sedangkan 4 responden
(16,67%) menyatakan sebaliknya atau tidak menjadi sebuah kendala.

6. Pra-proses (persiapan) penerbitan reksa dana syariah:
                              Tabel 65
             Jawaban                     Frequency         Percent
 Ya                                          12            50.00
 Tidak                                       11            45.83
 Lain-lain                                    1             4.17
              Total                          24            100.0

         Data hasil tabel di atas juga menunjukkan informasi bahwa
berkaitan dengan proses penerbitan efek reksa dana syariah, sebanyak
12 responden (50%) menyatakan bahwa hal tersebut dapat menjadi
kendala dalam menerbitkan        efek reksa dana syariah walaupun
sebenarnya proses penerbitan reksa dana syariah tersebut tidak terlalu
berbeda dengan proses penerbitan reksa dana biasa, sedangkan 11
responden (45,83%) menyatakan bahwa proses penerbitan efek reksa
dana syariah bukan menjadi kendala dalam menerbitkan reksa dana
syariah. Sementara ada 1 responden (4,17%) menyatakan bahwa belum
ada contoh konkret proses penerbitan reksa dana syariah.

7. Tingkat kemampuan profesi penunjang (Notaris, Konsultan hukum dan
   Akuntan publik) tentang pasar modal syariah :

                              Tabel 66


             Jawaban                     Frequency         Percent
 Ya                                           7            29.17
 Tidak                                       16            66.66
 Lain-lain                                    1             4.17
              Total                          24            100.0


                                 77
         Data pada tabel di atas juga memperlihatkan informasi bahwa
berkaitan dengan tingkat kemampuan profesi penunjang pasar modal
tentang pasar modal syariah, 16 responden (66,66%) menyatakan
bahwa hal tersebut bukan merupakan kendala dalam penerbitan reksa
dana syariah, sedangkan 7 responden (29,17%) menyatakan bahwa
tingkat kemampuan profesi penunjang tentang pasar modal syariah
dapat menjadi kendala dalam penerbitan reksa dana syariah. Sedangkan
1 responden (4,17%) lainnya menyatakan bahwa Bank Kustodian yang
ada saat ini tidak ada yang berbasis syariah sehingga pemahaman
mereka akan reksa dana syariah tidak ada.

8. Biaya yang dikeluarkan dalam proses penerbitan reksa dana syariah

                             Tabel 67


             Jawaban                    Frequency       Percent
 Ya                                          7          29.17
 Tidak                                      16          66.66
 Lain-lain                                   1           4.17
              Total                         24          100.0

         Data pada tabel di atas juga memperlihatkan bahwa dalam hal
biaya yang akan dikeluarkan dalam proses penerbitan reksa dana
syariah, hanya 7 responden (29,17%) yang menyatakan bahwa hal
tersebut menjadi kendala dalam penerbitan reksa dana syariah
sementara 16 responden (66,66%) sisanya menyatakan bahwa biaya
yang akan dikeluarkan tidak menjadi kendala dalam penerbitan reksa
dana syariah. Ada 1 responden (4,17%) yang menyatakan tidak tahu
besarnya biaya penerbitan efek reksa dana syariah.

9. Mekanisme dan birokrasi proses penerbitan reksa dana syariah




                                78
                              Tabel 68

               Jawaban                   Frequency           Percent
 Ya                                          10              41.67
 Tidak                                       14              58.33
 Lain-lain                                    0                  0
                Total                        24              100.0

         Adapun data pada tabel di atas menyajikan informasi bahwa
ada 10 responden (41,67%) masih menganggap bahwa mekanisme dan
birokrasi masih menjadi kendala dalam peneribitan reksa dana syariah,
sementara 14 responden (58,33%) menyatakan bahwa hal tersebut
bukan merupakan sebuah kendala.

10. Waktu (lama-tidaknya) proses penerbitan efek syariah :
                              Tabel 69
               Jawaban                   Frequency            Percent
 Ya                                         11               45.83
 Tidak                                      13               54.17
 Lain-lain                                   0                   0
                Total                       24               100.0

         Tabel di atas memperlihatkan bahwa dalam hal waktu proses
penerbitan efek syariah, sebanyak 11 responden (45,83%) menyatakan
hal tersebut dapat menjadi sebuah kendala dalam proses penerbitan
reksa dana syariah sedangkan 13 responden (54,15%) lainnya
menganggap bahwa hal tersebut bukan merupakan sebuah kendala.

11. Kerangka peraturan tentang pengelolaan reksa dana syariah:

                              Tabel 70


                Jawaban                   Frequency           Percent
   Ya                                        16              66.67
   Tidak                                      8              33.33
   Lain-lain                                  0                  0
                 Total                       24              100.0



                                79
         Tabel di atas menginformasikan bahwa terkait dengan
kerangka peraturan tentang pengelolaan reksa dana syariah, ada 16
responden (66,67%) menyatakan bahwa hal tersebut dapat menjadi
kendala dalam penerbitan reksa dana syariah sementara hanya 8
responden (33,33%) yang menyatakan bahwa hal tersebut tidak menjadi
sebuah masalah.


12. Pengawasan pengelolaan reksa dana syariah :

                             Tabel 71


             Jawaban                     Frequency    Percent
 Ya                                          15        62.5
 Tidak                                        9        37.5
 Lain-lain                                    0           0
              Total                          24       100.0

         Data pada tabel di atas memperlihatkan bahwa pengawasan
pengelolaan reksa dana syariah sepertinya masih menjadi perhatian
utama dimana sebanyak 15 responden (62,5%) menyatakan bahwa
faktor pengawasan dapat menjadi kendala dalam penerbitan reksa dana
syariah sementara hanya 9 responden (37,5%) menyatakan bahwa hal
itu bukan merupakan sebuah kendala.


13. Kelembagaan atau Institusi yang mengatur dan mengawasi kegiatan
    pasar modal syariah di Indonesia :


                             Tabel 72


             Jawaban                     Frequency     Percent
 Ya                                          15        62.5
 Tidak                                        9        37.5
 Lain-lain                                    0           0
              Total                          24       100.0




                                80
           Tabel di atas juga memperlihatkan data bahwa disamping
faktor pengawasan, faktor kelembagaan atau institusi yang mengatur
dan mengawasi kegiatan pasar modal syariah di Indonesia masih
dianggap merupakan sebuah kendala. Hal ini terbukti ada 15 responden
(62,5%) yang menyatakan hal tersebut, sementara hanya 9 responden
(37,5%) yang menyatakan hal dimaksud bukan merupakan sebuah
kendala.

           Adapun jawaban-jawaban atas 1 pertanyaan tambahan, dapat
dijelaskan sebagai berikut :

Pertanyaan      :
“Menurut pendapat Saudara, adakah hal-hal lain yang merupakan
kendala dan masalah dalam penerbitan reksa dana syariah, mohon
dijelaskan jika ada “.

Jawaban :

Terdapat 7 responden yang memberikan jawaban sebagai berikut :
(a) bahwa basis pemodal reksa dana bias belum luas, banyak kalangan
menengah masih ragu-ragu dan tidak teredukasi dengan benar tentang
investasi reksa dana biasa apalagi reksa dana syariah,
(b) bahwa efek yang masih terbatas, dana sponsor, minat masyarakat,
sosialisasi,
(c) bahwa instrumen obligasi syariah masih terbatas,
(d) bahwa masalah terpenting adalah keterbatasan efek hutang syariah
serta peraturan tentang investasi yang sesuai dengan syariah Islam,
(e) bahwa perlunya efek pemerintah (SUN) berbasis syariah,
(f) bahwa potfolio masih terbatas,
(g) bahwa tidak ada masalah yang material dalam penerbitan reksa dana
syariah, hanya consern dari pengelola untuk benar-benar mengelola
secara syariah, jangan sampai ada MI yang mengelola reksa dana
syariah dengan menghalalkan segala cara dalam pengelolaannya.


                                     81
d. Harapan dan Saran

          Menurut pendapat Saudara, hal-hal apa sajakah yang perlu
diperbaiki     atau     diperjelas      dalam       rangka     mendorong     dan
mengembangkan reksa dana syariah di masa mendatang ?


1. Peraturan tentang penerbitan efek syariah :

                                     Tabel 73

               Jawaban                        Frequency          Percent
 Ya                                               22             91.67
 Tidak                                             2              8.33
 Lain-lain                                         0                 0
                Total                             24             100.0

          Data pada tabel di atas memperlihatkan bahwa, dalam rangka
mendorong dan mengembangkan reksa dana syariah di masa
mendatang perlunya kesempurnaan peraturan, hal ini terlihat dimana
jawaban 22 responden (91,67%) menyatakan perlu adanya perbaikan
dan penyempurnaan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan
penerbitan efek syariah sementara hanya sebanyak 2 responden
(8,33%)      yang   menyatakan        tidak     perlu   ada   perbaikan-perbaikan
peraturan tentang penerbitan efek syariah.

2. Fungsi dan peran lembaga yang mengatur dan mengawasi kegiatan
   pasar modal syariah (Bapepam, SRO, DSN) :

                                     Tabel 74

               Jawaban                            Frequency           Percent
 Ya                                                   20              83.33
 Tidak                                                 4              16.67
 Lain-lain                                             0                  0
                Total                                 24              100.0

          Data pada tabel di atas memperlihatkan bahwa selain
perbaikan peraturan sebagaimana tabel sebelumnya, ada sebanyak 20


                                       82
responden (83,33%) responden menyatakan bahwa perlu adanya
penjelasan tentang fungsi dan peran lembaga yang mengatur dan
mengawasi kegiatan pasar modal syariah, sedangkan 4 responden
lainnya (16,67%) menyatakan bahwa hal tersebut tidak diperlukan.

3. Upaya sosialisasi peraturan dan mekanisme pengawasan pasar
   modal syariah kepada seluruh pelaku pasar modal ?

                             Tabel 75

             Jawaban                    Frequency         Percent
 Ya                                        22            91.67
 Tidak                                      2             8.33
 Lain-lain                                  0                0
              Total                        26            100.0

         Data pada tabel di atas memperlihatkan perlu adanya upaya
perbaikan sosialisasi peraturan dan mekanisme pengawasan pasar
modal syariah kepada pelaku pasar modal, hal ini terlihat bahwa 22
responden (91.67%) menyatakan setuju bahwa upaya sosialisasi
tersebut perlu diperbaiki, sementara 2 responden lainnya (8,33%)
menyatakan tidak perlu.




                                83
                                    BAB IV
                              KESIMPULAN


Kesimpulan

              Sebagaimana   telah    diutarakan   dalam   tujuan   studi   ini
  diantaranya adalah untuk mengetahui bentuk-bentuk hambatan dan
  kendala apa sajakah yang melatar belakangi berkembangnya investasi
  syariah di pasar modal Indonesia. Untuk itu, berdasarkan uraian pada
  bab-bab sebelumnya, dengan ini dapat disimpulkan hal-hal sebagai
  berikut :

              Perkembangan kegiatan investasi syariah di pasar modal
  Indonesia masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan kemajuan hal
  sama yang telah dicapai oleh sektor perbankan. Kenyataan lain adalah
  bahwa hingga saat ini, jumlah pemodal yang melakukan investasi di
  pasar modal khususnya yang berbasis syariah masih tergolong minim,
  walaupun kegiatan investasi syariah dimaksud telah lama diperkenalkan
  di Indonesia yaitu dengan diterbitkannya instrumen reksa dana syariah
  pada pertengahan tahun 1997. Disamping itu Majelis Ulama Indonesia
  (MUI) melalui organnya yaitu Dewan Syariah Nasional (DSN) juga telah
  mengeluarkan sejumlah fatwa DSN-MUI berkaitan dengan kegiatan
  investasi syariah di pasar modal Indonesia.

              Hal lain yang kurang menggembirakan juga tergambar bahwa,
  jika dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia misalnya, maka
  Indonesia terlihat sangat jauh tertinggal dalam mengembangkan
  kegiatan investasi syariah di pasar modal. Malaysia pertama kali
  mengembangkan kegiatan pasar modal syariahnya sejak awal tahun
  1990 dan sejak saat itu terus mengalami kemajuan yang cukup pesat.

              Data lain menunjukkan pula bahwa, sejak diperkenalkannya
  instrumen reksa dana syariah di Malaysia pada tahun 1993, terbukti


                                      84
hingga akhir tahun 2002 telah tercatat 36 (tiga puluh enam) Reksa Dana
Syariah dari 174 (seratus tujuh puluh empat) total Reksa Dana yang ada
di Malaysia. Kemudian Total Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana
Syariah mencapai 5% (lima per seratus) dari total NAB industri Reksa
Dana yang ada di Malaysia. Sementara Indonesia yang memulai hal
yang sama pada pertengahan tahun 1997, hingga awal November 2004
baru memiliki 10 (sepuluh) reksa dana syariah dari total 223 (duaratus
dua puluh tiga) reksa dana yang ada, dengan NAB sebesar 0,32% (nol
koma tiga puluh dua per seratus) dari total NAB industri reksa dana yang
ada di Indonesia.

         Selain hal di atas, untuk instrumen obligasi juga terlihat bahwa
total nilai obligasi syariah di Pasar Modal Malaysia sampai dengan bulan
September 2002 mencapai USD 15,52 miliar (43% dari total nilai obligasi
yang tercatat di pasar modal Malaysia), sementara di Indonesia hingga
awal Desember 2004 baru mencapai Rp. 1,28 Triliun (USD 141,9 juta)
atau 1,63% dari total nilai emisi obligasi di Indonesia.

         Lambatnya perkembangan investasi syariah di pasar modal
Indonesia tersebut dikarenakan masih adanya beberapa permasalahan
mendasar yang menjadi kendala. Kendala-kendala sebagaimana yang
telah teridentifikasi diantaranya adalah selain masih belum meratanya
pemahaman dan atau pengetahuan masyarakat Indonesia tentang
investasi di pasar modal yang berbasis syariah, juga adanya anggapan
bahwa untuk melakukan investasi di pasar modal syariah dibutuhkan
biaya yang relatif lebih mahal apabila dibandingkan dengan investasi
pada sektor keuangan lainnya.
         Hasil studi investasi syariah di pasar modal Indonesia
sebagaimana     terurai   pada   bab-bab     sebelumnya,   telah   berhasil
mengidentifikasi sebanyak 12 hingga 14 permasalahan mendasar yang
dianggap menjadi kendala dan atau hambatan dalam pengembangan




                                   85
kegiatan investasi syariah di pasar modal Indonesia. Adapun kendala
dan atau hambatan dimaksud diantaranya adalah :
1. Tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang pasar modal syariah ;
2. Ketersediaan informasi tentang pasar modal syariah ;
3. Minat pemodal atas efek syariah ;
4. Kerangka peraturan tentang penerbitan efek syariah ;
5. Pola pengawasan (dari sisi syariah) oleh lembaga terkait ;
6. Pra-proses (persiapan) penerbitan Efek syariah ;
7. Kelembagaan atau Institusi yang mengatur dan mengawasi kegiatan
     pasar modal syariah di Indonesia ;

         Disamping hal di atas, pada sisi lain terlihat pula bahwa
Emtien/Perusahaan Publik selaku responden terbesar dalam studi ini,
secara khusus menyatakan bahwa kewajiban penggunaan dana yang
dibatasi hanya untuk kegiatan yang sesuai dengan prinsip syariah juga
merupakan hal yang menghambat/ menjadi kendala. Sementara
responden lainnya yaitu Penjamin Emisi Efek (PEE) menyatakan bahwa
tingkat kemampuan Penjamin Emisi Efek juga merupakan kendala dalam
pengembangan kegiatan investasi syariah di pasar modal. Sedangkan
pada sisi permintaan (Demand) yang diwakili oleh responden kelompok
Manajer Investasi, secara khusus menyatakan bahwa ketersediaan efek
yang terbatas untuk dijadikan portofolio merupakan sebuah kendala dan
atau hambatan.
         Beberapa identifikasi masalah lainnya yang semula tim studi
menganggap sebagai sebuah kendala dalam pengembangan kegiatan
investasi syariah di pasar modal, ternyata dari ketiga kelompok
responden menyatakan bahwa hal tersebut bukan merupakan sebuah
kendala dan atau hambatan, yaitu :
1.   Tingkat kemampuan profesi penunjang (Notaris, Konsultan hukum
     dan Akuntan publik) tentang pasar modal syariah.
2.   Biaya yang dikeluarkan dalam proses penerbitan efek syariah.


                                 86
3.   Mekanisme dan birokrasi proses penerbitan efek syariah.
4.   Waktu (lama-tidaknya) dari proses penerbitan efek syariah.
         Ada pendapat lain yaitu bahwa Manajer Investasi selaku salah
satu kelompok responden dalam studi ini menyatakan secara khusus,
bahwa tingkat pengembalian hasil (return) juga bukan merupakan
sebuah kendala. Namun demikian pada sisi intermediari yang diwakili
responden lainnya yaitu Penjamin Emisi Efek, menyatakan bahwa
tingkat kemampuan profesi penunjang (Notaris, Konsultan hukum dan
Akuntan publik) serta mekanisme dan birokrasi proses penerbitan efek
syariah dianggap sebuah kendala.
         Sejalan dengan kenyataan yang ada bahwa sebagian besar
identifikasi permasalahan yang ditetapkan oleh tim studi memang
merupakan kendala dalam pengembangan kegiatan investasi syariah di
pasar modal Indonesia, maka dalam studi ini juga tergambar bahwa
dalam 5 (lima) tahun ke depan Emiten/Perusahaan Publik dan Penjamin
Emisi Efek tidak memiliki rencana untuk melakukan penerbitan atau
membantu proses penerbitan efek syariah. Namun demikian, Manajer
Investasi tetap merasa optimis dan secara umum memiliki rencana untuk
menerbitkan efek (reksa dana) syariah.
         Kenyataan di atas memperlihatkan bahwa dalam jangka waktu
5 (lima) tahun ke depan akan terjadi kesenjangan antara sisi permintaan
dan penawaran efek syariah. Dalam hal ini Manajer Investasi
menyatakan      sangat   kekurangan    efek    syariah   untuk    dijadikan
portofolionya, dikarenakan emiten masih belum berminat menerbitkan
efek syariah.
         Selain hal-hal di atas, ketiga kelompok responden juga
menyarankan dan mengharapkan bahwa dalam rangka mendorong dan
mengembangkan kegiatan investasi syariah di pasar modal Indonesia,
perlu dilakukannya hal-hal sebagai berikut :




                                  87
1.   Penyusunan kerangka peraturan yang lebih jelas dalam rangka
     penerbitan efek syariah dan kegiatan investasi syariah di pasar
     modal ;
2.   Membentuk pola kelembagaan (hubungan antara Bapepam, SROs,
     DSN, dan Profesi) yang efisien dalam fungsi dan peran untuk
     mengatur,   membina,     mengawasi,     terhadap   pelaku   dalam
     menjalankan kegiatan investasi syariah di pasar modal ;
3.   Meningkatkan secara intensif program sosialisasi tentang kegiatan
     investasi syariah di pasar modal yang mencakup antara lain :
     prinsip-prinsip dasar, produk, mekanisme transaksi, peraturan dan
     pola pengawasannya.
         Dengan dilakukannya hal-hal tersebut di atas, maka diharapkan
dapat memacu semua pihak, baik pemodal maupun pelaku aktif
melakukan kegiatan investasi di pasar modal sehingga dapat menjadi
alternatif solusi untuk mendorong sisi penawaran (supply) melakukan
penerbitan efek syariah.




                                 88
                      DAFTAR KEPUSTAKAAN



1.   Republik Indonesia, Undang-Undang tentang Pasar Modal Nomor 8
     Tahun 1995
2.   IOSCO Annual Report 2003
3.   M Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam; Fidh
     Muamalah, Jakarta: Rajawali Pers,2003), cetakan 1, hlm 101.
4.   Imam Santoso, Lc, Fiqh Muamalah, Jakarta:Pustaka Tarbiatuna,
     2003), cetakan1, hlm 19
5.   Fatwa DSN Nomor: 20/DSN-MUI/IX/2000 tanggal 18 April 2000
     tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah
     telah
6.   Fatwa DSN Nomor: 32/DSN-MUI/IX/2002 tanggal 14 September
     2002
7.   Fatwa DSN Nomor: 40/DSN-MUI/X/2003 tanggal 4 Oktober 2003
     tentang Pasar Modal Dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip
     Syariah Di Bidang Pasar Modal
8.   Training module on Comprehensive training on Sharia Banking,
     Karim Business Consulting
9.   Basic Training : Fiqh and Instrument on Islamic Capital Market
10. Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional, Jakarta (Bank Indonesia-
    Dewan Syariah Nasional: 2003, Edisi 2) hlm 263.
11. Pengumuman BEJ No. Peng-175/BEJ-DAG/U/06-2004 tanggal 25
    Juni 2004, tentang anggota JII Periode Juli 2004 s/d Desember
    2004.
      DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
                        BADAN PENGAWAS PASAR MODAL
                   STUDI INVESTASI SYARIAH DI PASAR MODAL INDONESIA


Petunjuk pengisian Kuisioner:
1.   Beri tanda √ atau X pada jawaban Saudara
2.   Jika dianggap perlu, jawaban Saudara dapat dijelaskan pada kertas tambahan

                 Kuisioner untuk Emiten/Perusahaan Publik
Data Perusahaan:

1.   Bergerak di sektor manakah Perusahaan Saudara (pilih salah satu)?
     □     Pertanian
     □     Pertambangan
     □     Industri Dasar dan Kimia
     □     Aneka Industri
     □     Industri Barang Konsumsi
     □     Properti dan Real Estate
     □     Transportasi dan Infrastruktur
     □     Keuangan
     □     Perdagangan, Jasa, dan Investasi

2.   Berapakah Total Aset perusahaan Saudara pada akhir tahun 2003?
     □     Sama atau lebih dari Rp. 1 trilyun
     □     Rp. 500 Milyar s.d. Rp. 999 Milyar
     □     Kurang dari Rp. 500 Milyar

Rencana Penerbitan Efek Syariah:

3.   Apakah perusahaan Saudara mempunyai rencana untuk menerbitkan efek syariah dalam jangka waktu 5
     (lima) tahun ke depan?
     □      Ya
     □      Tidak
     □      Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
4.   Jika jawaban nomor 3 di atas Ya, efek syariah apakah yang akan Saudara terbitkan?
     □    Obligasi
     □    Efek lain, mohon disebutkan: ……………………………………………….
          ……………………………………………………………………………….
          ……………………………………………………………………………….
Kendala dan Masalah:

Menurut pendapat Saudara, apakah hal-hal di bawah ini menjadi kendala dan masalah bagi perusahaan Saudara
dalam menerbitkan Efek syariah?

5.   Tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang pasar modal syariah di lingkungan perusahaan Saudara:
     □     Ya
     □     Tidak
     □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
           ……………………………………………………………………………….
           ……………………………………………………………………………….
6.   Ketersediaan informasi tentang pasar modal syariah:
      □      Ya
      □      Tidak
      □      Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
             ……………………………………………………………………………….
             ……………………………………………………………………………….
7.    Jenis usaha perusahaan Saudara (sesuai/tidak sesuai dengan prinsip syariah):
      □    Ya
      □    Tidak
      □    Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
           ……………………………………………………………………………….
           ……………………………………………………………………………….
8.    Penggunaan dana hasil emisi yang harus sesuai dengan prinsip syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
9.    Minat pemodal atas efek syariah yang diterbitkan:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
10.   Pra-proses (persiapan) penerbitan Efek syariah:
      □    Ya
      □    Tidak
      □    Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
           ……………………………………………………………………………….
           ……………………………………………………………………………….
11.   Tingkat kemampuan Penjamin Emisi Efek tentang pasar modal syariah:
      □    Ya
      □    Tidak
      □    Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
           ……………………………………………………………………………….
           ……………………………………………………………………………….
12.   Tingkat kemampuan profesi penunjang (Notaris, Konsultan hukum dan Akuntan publik) tentang pasar
      modal syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
13.   Biaya yang dikeluarkan dalam proses penerbitan efek syariah:
      □   Ya
      □   Tidak
      □   Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
          ……………………………………………………………………………….
          ……………………………………………………………………………….
14.   Mekanisme dan birokrasi proses penerbitan efek syariah:
      □    Ya
      □    Tidak
      □    Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
           ……………………………………………………………………………….
15.   Waktu (lama-tidaknya) proses penerbitan efek syariah:
      □    Ya
      □    Tidak
      □    Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
           ……………………………………………………………………………….
           ……………………………………………………………………………….
16.   Kerangka peraturan tentang penerbitan efek syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

17.   Pola pengawasan (dari sisi syariah) oleh lembaga terkait:
      □    Ya
      □    Tidak
      □    Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
           ……………………………………………………………………………….
           ……………………………………………………………………………….
18.   Kelembagaan atau Institusi yang mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal syariah di Indonesia:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
Menurut pendapat Saudara, adakah hal-hal lain yang merupakan kendala dan masalah dalam penerbitan efek
syariah, mohon dijelaskan jika ada:
…………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………


Harapan dan Saran

Menurut pendapat Saudara, hal-hal apa sajakah yang perlu diperbaiki atau diperjelas dalam rangka mendorong
dan mengembangkan pasar modal syariah di masa mendatang?

19.   Peraturan tentang penerbitan efek syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan:
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

20.   Fungsi dan peran lembaga yang mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal syariah (Bapepam, SRO,
      Dewan Syariah Nasional):
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan:
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

21.   Upaya sosialisasi peraturan dan mekanisme pengawasan pasar modal syariah kepada seluruh pelaku
      pasar modal?
      □     Ya
  □   Tidak
  □   Lain-lain, mohon dijelaskan:
      ……………………………………………………………………………….
      ……………………………………………………………………………….
      ……………………………………………………………………………….

22. Lain-lain (jelaskan)
…………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………


      TERIMA KASIH ATAS KESEDIAAN SUADARA UNTUK MENGISI DAN
          MENYAMPAIKAN KEMBALI KUISIONER INI KEPADA KAMI



                                        ………, ………………….2004




                                        Nama
                                        Jabatan
      DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
                        BADAN PENGAWAS PASAR MODAL
                   STUDI INVESTASI SYARIAH DI PASAR MODAL INDONESIA


Petunjuk pengisian Kuisioner:
1. Beri tanda √ atau X pada jawaban Saudara
2. Jika dianggap perlu, jawaban Saudara dapat dijelaskan pada kertas tambahan

                Kuisioner untuk Penjamin Emisi Efek (PEE)
Data Perusahaan:

1.    Status Perusahaan Saudara?
      □     Nasional
      □     Patungan

2.    Berapakah Total Aset perusahaan Saudara pada akhir tahun 2003?
      □     Sama atau lebih dari Rp. 100 Milyar
      □     Rp. 50 Milyar s.d. Rp. 99 Milyar
      □     Kurang dari Rp. 50 Milyar


Rencana Penerbitan Efek Syariah:

3.    Apakah perusahaan Saudara mempunyai rencana untuk melakukan penjaminan emisi efek syariah dalam
      jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan?
      □      Ya
      □      Tidak
      □      Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
             ……………………………………………………………………………….
             ……………………………………………………………………………….
             ……………………………………………………………………………….
4.    Jika jawaban nomor 3 di atas Ya, efek syariah apakah yang akan Saudara jamin?
      □     Obligasi
      □     Efek lain, mohon disebutkan: ……………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

Kendala dan Masalah:

Menurut pendapat Saudara, apakah hal-hal di bawah ini menjadi kendala dan masalah bagi perusahaan Saudara
dalam menerbitkan Efek syariah?

5.    Tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang pasar modal syariah di lingkungan perusahaan Saudara:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
6.    Ketersediaan informasi tentang pasar modal syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

7.    Minat pemodal atas efek syariah yang diterbitkan:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

8.    Pra-proses (persiapan) penerbitan Efek syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

9.    Tingkat kemampuan profesi penunjang (Notaris, Konsultan hukum dan Akuntan publik) tentang pasar
      modal syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

10.   Biaya yang dikeluarkan dalam proses penerbitan efek syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

11.   Mekanisme dan birokrasi proses penerbitan efek syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….



12.   Waktu (lama-tidaknya) proses penerbitan efek syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

13.   Fee yang diperoleh dari kegiatan penerbitan efek syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

14.   Kerangka peraturan tentang penerbitan efek syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

15.   Pola pengawasan (dari sisi syariah) oleh lembaga terkait:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

16.   Kelembagaan atau Institusi yang mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal syariah di Indonesia:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

Menurut pendapat Saudara, adakah hal-hal lain yang merupakan kendala dan masalah dalam penerbitan efek
syariah, mohon dijelaskan jika ada:
…………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………



Harapan dan Saran
Menurut pendapat Saudara, hal-hal apa sajakah yang perlu diperbaiki atau diperjelas dalam rangka mendorong
dan mengembangkan pasar modal syariah di masa mendatang?

17.   Peraturan tentang penerbitan efek syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan:
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

18.   Fungsi dan peran lembaga yang mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal syariah (Bapepam, SRO,
      Dewan Syariah Nasional):
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan:
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

19.   Upaya sosialisasi peraturan dan mekanisme pengawasan pasar modal syariah kepada seluruh pelaku
      pasar modal?
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan:
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

20. Lain-lain (jelaskan)
…………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………



              TERIMA KASIH ATAS KESEDIAAN SUADARA UNTUK MENGISI DAN
                  MENYAMPAIKAN KEMBALI KUISIONER INI KEPADA KAMI




                                                           ………, ………………….2004




                                                           Nama
                                                           Jabatan
      DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
                           BADAN PENGAWAS PASAR MODAL
                    STUDI INVESTASI SYARIAH DI PASAR MODAL INDONESIA


Petunjuk pengisian Kuisioner:
1. Beri tanda √ atau X pada jawaban Saudara
2. Jika dianggap perlu, jawaban Saudara dapat dijelaskan pada kertas tambahan


          Kuisioner untuk Manajer Investasi (Manajer Investasi)
Data Perusahaan :

1.    Berapakah jumlah reksa dana yang dikelola oleh perusahaan Saudara sampai dengan saat ini?
      □     1
      □     2-5
      □     Lebih dari 5

2.    Berapakah total dana nasabah reksa dana yang dikelola oleh perusahaan Saudara sampai dengan akhir
      bulan Juni tahun 2004:
      □     Lebih dari Rp.1 trilyun
      □     Rp. 100 milyar s.d. Rp. 1 trilyun
      □     Kurang dari Rp. 100 milyar

Rencana Penerbitan Efek Syariah :

3.    Apakah perusahaan Saudara mempunyai rencana untuk menerbitkan reksa dana syariah dalam jangka
      waktu 5 (lima) tahun ke depan?
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan:
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

4.    Jika jawaban nomor 3 di atas Ya, reksa dana apakah yang akan Saudara terbitkan?
      □     Saham
      □     Campuran
      □     Pendapatan Tetap
      □     Pasar Uang

Kendala dan Masalah :

Menurut pendapat Saudara, apakah hal-hal di bawah ini menjadi kendala dan masalah bagi perusahaan Saudara
dalam menerbitkan reksa dana syariah?

5.    Tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang pasar modal syariah di lingkungan perusahaan Saudara:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
6.    Ketersediaan informasi tentang pasar modal syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

7.    Ketersediaan efek syariah yang dapat dijadikan portofolio:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

8.    Tingkat total return yang dihasilkan reksa dana syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

9.    Minat pemodal atas reksa dana syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….


10.   Pra-proses (persiapan) penerbitan reksa dana syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

11.   Tingkat kemampuan profesi penunjang (Notaris, Konsultan hukum dan Akuntan publik) tentang pasar
      modal syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
12.   Biaya yang dikeluarkan dalam proses penerbitan reksa dana syariah:
      □   Ya
      □   Tidak
      □   Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
          ……………………………………………………………………………….
          ……………………………………………………………………………….
          ……………………………………………………………………………….
13.   Mekanisme dan birokrasi proses penerbitan reksa dana syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

14.   Waktu (lama-tidaknya) proses penerbitan efek syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

15.   Kerangka peraturan tentang pengelolaan reksa dana syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

16.   Pengawasan pengelolaan reksa dana syariah:
      □    Ya
      □    Tidak
      □    Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
           ……………………………………………………………………………….
           ……………………………………………………………………………….
           ……………………………………………………………………………….
17.   Kelembagaan atau Institusi yang mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal syariah di Indonesia:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan: ………………………………………………..
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

Menurut pendapat Saudara, adakah hal-hal lain yang merupakan kendala dan masalah dalam penerbitan reksa
dana syariah, mohon dijelaskan jika ada:
…………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………

Harapan dan Saran
Menurut pendapat Saudara, hal-hal apa sajakah yang perlu diperbaiki atau diperjelas dalam rangka mendorong
dan mengembangkan reksa dana syariah di masa mendatang?

18.   Peraturan tentang penerbitan efek syariah:
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan:
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

19.   Fungsi dan peran lembaga yang mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal syariah (Bapepam, SRO,
      Dewan Syariah Nasional):
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan:
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

20.   Upaya sosialisasi peraturan dan mekanisme pengawasan reksa dana syariah kepada seluruh pelaku pasar
      modal?
      □     Ya
      □     Tidak
      □     Lain-lain, mohon dijelaskan:
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….
            ……………………………………………………………………………….

21. Lain-lain (jelaskan)
…………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………
……………………………………………………………………………….…………



              TERIMA KASIH ATAS KESEDIAAN SUADARA UNTUK MENGISI DAN
                  MENYAMPAIKAN KEMBALI KUISIONER INI KEPADA KAMI




                                                           ………, ………………….2004




                                                           Nama
                                                           Jabatan
                                 DAFTAR RESPONDEN


Emiten/Perusahaan Publik :
1.    PT. Cipendawa Agroindustri Tbk.
2.    PT. Multibreeder Adirama Ind. Tbk.
3.    PT. Dharma Samudera Fishing Ind. Tbk.
4.    PT. Anugrah Tambak Perkasindo Tbk
5.    PT. PP London Sumatra Tbk.
6.    PT. Inco Tbk.
7.    PT. Medco Energi Internasional Tbk.
8.    PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk.
9.    PT. Bukit Asam Tbk
10.   PT. Citra Tubindo Tbk.
11.   PT. Lionmesh Prima Tbk.
12.   PT. Surya Toto Indonesia Tbk.
13.   PT. Indal Aluminium Industry Tbk.
14.   PT. Asahimas Flat Glass Co. Ltd. Tbk.
15.   PT. Betonjaya Manunggal Tbk.
16.   PT. Astra International Tbk.
17.   PT. Bayer Indonesia Tbk.
18.   PT. Dankos Laboratories Tbk.
19.   PT. Tempo Scan Pacific Tbk.
20.   PT. Kimia Farma Tbk.
21.   PT. Sari Husada Tbk.
22.   PT. Aqua Golden Mississippi Tbk.
23.   PT. Ultra Jaya Milk Tbk.
24.   PT. Mayora Indah Tbk.
25.   PT. Sekar Laut Tbk.
26.   PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.
27.   PT. Davomas Abadi Tbk.
28.   PT. Siantar Top Tbk.
29.   PT. Procter & Gamble Indonesia Tbk.
30.   PT. Unilever Indonesia Tbk.
31.   PT. Mustika Ratu Tbk.
32.   PT. Kedaung Indah Can Ind. Ltd. Tbk.
33.   PT. Sumarecon Agung Tbk.
34.   PT. Duta Anggada Realty Tbk.
35.   PT. Lippo Land Development Tbk.
36.   PT. Modernland Realty Tbk.
37.   PT. Panca Wiratama Sakti Tbk.
38.   PT. Ciputra Development Tbk.
39.   PT. Indonesia Prima Property Tbk.
40.   PT. Duta Pertiwi Tbk.
41.   PT. Kawasan Industri Jababeka Tbk.
42.   PT. Bakrieland Development Tbk.
43.   PT. Lippo Karawaci Tbk.
44.   PT. Bukit Sentul Tbk.
45.   PT. Ciputra Surya Tbk.
46.   PT. Lamicitra Nusantara Tbk.
47.   PT. Bukaka Teknik Utama Tbk.
48.   PT. Rig Tenders Indonesia Tbk.
49.   PT. Berlian Laju Tankers Tbk.
50.   PT. Steady Safe Tbk.
51.   PT. Indosat Tbk.
52.   PT. Citra Marga Nusapala Persada Tbk.
53.    PT. Humpuss Intermoda Transp. Tbk.
54.    PT. Samudra Indonesia Tbk.
55.    PT. Indocitra Finance Tbk.
56.    PT. Bank Permata Tbk.
57.    PT. BFI Finance Tbk.
58.    PT. Sinar Mas Multiartha Tbk.
59.    PT. Makindo Tbk.
60.    PT. Trimegah Securities Tbk.
61.    PT. Bank Mega Tbk.
62.    PT. Bank Central Asia Tbk.
63.    PT. Bank Buana Indonesia Tbk.
64.    PT. Bank Nusantara Parahyangan Tbk.
65.    PT. Kresna Graha Sekurindo Tbk
66.    PT. Bank Bumiputra Indonesia Tbk
67.    PT Trust Finance Indonesia Tbk
68.    PT. Artha Pacific Securities Tbk
69.    PT. Hero Supermarket Tbk.
70.    PT. United Tractors Tbk.
71.    PT. Great River International Tbk.
72.    PT. Multipolar Corporation Tbk.
73.    PT. Astra Graphia Tbk.
74.    PT. Metrodata Electronics Tbk.
75.    PT. Toko Gunung Agung Tbk.
76.    PT. Matahari Putra Prima Tbk.
77.    PT. Fast Food Indonesia Tbk.
78.    PT. Tira Austenite Tbk.
79.    PT. Enseval Putera Megatrading Tbk.
80.    PT. Aneka Kimia Raya Tbk.
81.    PT. Tunas Ridean Tbk.
82.    PT. Bimantara Citra Tbk.
83.    PT. Jakarta Setibudi Property Tbk.
84.    PT. Siloam Healthcare Tbk.
85.    PT. Alfa Retailindo Tbk.
86.    PT. Tempo Intimedia Tbk.
87.    PT. Indosiar Visual Mandiri Tbk.
88.    PT Tunas Financindo Sarana
89.    PT Wahana Otorita Multimedia
90.    PT Pegadaian
91.    PT Federal International Finance
92.    Bank Mandiri
93.    Bank BRI
94.    PT Asiana International Tbk
95.    PT Dynaplast Tbk
96.    PT Ever Shine Tex Tbk
97.    PT Gajah Tunggal Tbk
98.    PT Goodyear Indonesia Tbk
99.    PT Hanson Industri Utama Tbk
100.   PT Karwell Indonesia Tbk
101.   PT Komatsu Indonesia Tbk
102.   PT Pan Brothers Tbk
103.   PT Sepatu Bata Tbk
104.   PT Trias Sentosa Tbk
105.   PT PT Surya Dumai Industri Tbk
106.   PT Tirta Mahakam Plywood Ind. Tbk
107.   PT Jembo Cable Company Tbk
Penjamin Emisi Efek

1.    PT ABN AMRO Asia Securities Ind.
2.    PP Aldiracita Corpotama
3.    PT Alpha Sekuritas Indonesia
4.    PT Andalan Artha Advisindo Sek
5.    PT Antaboga Delta Sekuritas Ind.
6.    PT Arab Malaysian Capital Ind.
7.    PT Artha Securities Tbk.
8.    PT Artha Pacific Securities Tbk
9.    PT Asia Kapitalindo Securities Tbk.
10.   PT Bahana Securities
11.   PT Bhakti Capital Indonesia Tbk.
12.   PT Bapindo Bumi Sekuritas
13.   PT Batavia Prosperindo Sekuritas
14.   PT BNI Securities
15.   PT BNP Paribas Peregrine
16.   PT Bumiputera Capital Indonesia
17.   PT Brent Securities
18.   PT CIMB Niaga Securities
19.   PT Ciptadana Sekuritas
20.   PT Ciptamahardhika Mandiri
21.   PT Citigroup Securities Indonesia
22.   PT CLSA Indonesia
23.   PT Credit Suisse First Boston Ind.
24.   PT Danareksa Sekuritas
25.   PT Danasakti Securities
26.   PT Danpac Sekuritas
27.   PT DBS Vickers Securities Indonesia
28.   PT Deutsche Securities Ind.
29.   PT Dongsuh Kolibindo Sec.
30.   PT Dhanawibawa Artha Cemerlang
31.   PT Eficorp Sekuritas
32.   PT Eurocapital Peregrine Securities
33.   PT Equity Development Securities
34.   PT Financorpindo Nusa
35.   PT G.K. Goh Indonesia
36.   PT Hortus Danavest Tbk
37.   PT HSBC Securities Indonesia
38.   PT Inovasi Utama Sekurindo
39.   PT Indokapital Sekuritas
40.   PT Indo Premier Securities
41.   PT ING Securities Indonesia
42.   PT Interasia Securitindo
43.   PT Inti Fikasa Securindo
44.   PT Investindo Nusantara Sek.
45.   PT Jp Morgan Securities Indonesia
46.   PT Kapita Sekurindo
47.   PT Kim Eng Securities
48.   PT Kresna Graha Sekurindo Tbk.
49.   PT Madani Securities
50.   PT Mahanusa Securities
51.   PT Makindo Securities
52.   PT Makinta Securities
53.   PT Mandiri Sekuritas
54.   PT Meridian Capital Indonesia
55.   PT Mega Capital Indonesia
56.   PT Mega Akses Securities
57.   PT Merrill Lynch Indonesia
58.   PT Millenium Atlantic Sec.
59.   PT Mitra Investdana Sekurindo
60.   PT Namalatu Cakrawala Securities
61.   PT Nikko Securities Indonesia
62.   PT Nisp Sekuritas
63.   PT Nusadana Capital Indonesia
64.   PT Okansa Capital Tbk
65.   PT Panin Sekuritas Tbk.
66.   PT Pratama Penaganarta
67.   PT Reliance Securities
68.   PT Rifan Financindo Sekuritas
69.   PT Samuel Sekuritas Indonesia
70.   PT Sarijaya Permana Sekuritas
71.   PT Sinarmas Sekuritas
72.   PT Sucorinvest Central Gani
73.   PT Suprasurya Danawan Sekuritas
74.   PT Treasure Fund Indonesia
75.   PT Tiga Pilar Sekuritas
76.   PT Topas Multi Securities
77.   PT Transpacific Securindo
78.   PT Trimegah Securities Tbk.
79.   PT United Capital Indonesia Tbk.
80.   PT Ubs Securities Indonesia


MANAJER INVESTASI
1.    PT ABN AMRO Manajemen Investasi
2.    PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas
3.    PT Bahana TCW Investment Management
4.    PT BATASA Capital
5.    PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen
6.    PT Bhakti Asset Management
7.    PT BNI Securities
8.    PT Brahma Capital
9.    PT Ciptadana Aset Manajemen
10.   PT Citigroup Securities Indonesia
11.   PT Corfina Capital
12.   PT Danareksa Investment Management
13.   PT Danatama Makmur Sekuritas
14.   PT Dhanawibawa Artha Cemerlang
15.   PT Eficorp Sekuritas
16.   PT Eko Kapital
17.   PT Equity Development Securities
18.   PT EVERGREEN CAPITAL
19.   PT First State Investments Indonesia
20.   PT Gani Aset Manajemen
21.   PT GK Goh Indonesia
22.   PT Indo Premier Securities
23.   PT Intru Nusantara
24.   PT Jisawi Finas Fund Management Company
25.   PT Kresna Graha Sekurindo
26.   PT Kuo Capital Raharja
27.   PT Mahanusa Investment Management
28.   PT Mandiri Sekuritas
29.   PT Manulife Aset Manajemen Indonesia
30.   PT MAsindo Artha Securities
31.   PT Meespierson Finas Investment Management
32.   PT Mega Capital Indonesia
33.   PT MLC Investment Indonesia
34.   PT Natpac Asset Management
35.   PT Niaga Aset Manajemen
36.   PT Nikko Securities Indonesia
37.   PT NISP Sekuritas
38.   PT Optima Kharya Capital Management
39.   PT Panca Global Sekuritas
40.   PT Panin Sekuritas
41.   PT Paramitra Alfa Sekuritas
42.   PT Pentasena Arthatama
43.   PT Platinum Assets Management
44.   PT PNM Investment Management
45.   PT Prudence Asset Management
46.   PT Rifan Financindo Asset Management
47.   PT Samuel Aset Manajemen
48.   PT Schroder Investment Management Indonesia
49.   PT Sinarmas Sekuritas
50.   PT Tiga Pilar Sekuritas
51.   PT Trimegah Securities Tbk

						
Related docs