SESAMAMUSLIM SAT]DARA
f" F.': eon nt'ry-oi*r,,'r;.ir-o't u.fu *,'eI r,r;.* ty A +i; iil,iri ^t:;
i;;-'tiSX ,y, lqt et iht -f,.", tq, i:r$ U
504' "orang muslim adarah saud,ara orang musrim rainnya, tid,ak boteh menganiaya dan menerantarkannya. Barangsiapa memenuhi k,ebutuhan saud,aranya, maha Attah akan rnemenuhi kebutuhannya; barangsiapa menghilanghan hesusahan dari orong musrirn, maka Ailah akan menghilangkan hesusahan darinya dan kesusahan_kesusahan pad.a hari kiamat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari hiamat." Hadis nidi-takhrtj oleh Bukhan(2lgg),Abu Dawud (hadis no: 4g9B), Tirmidzi (uzGB), dan Ahmad (%gr) dari al-Laits, dari uqail, dari Ibnu syihab bahwa salim telah mengabarkan kepadanya, dari Abdulah ibn IJmar: Rasulullah s.a.w. bersabda: (Laru mengutip hadis di atas). Ini adalah susunan kalimat Bukhari, yang menurut Tirmidzi, ,Ini adalah hadis hasan sahih.', I(alimat yang pertama adalah versi Muslim (10-1vg) dan Tirmidzi (350/1)-yang kemudian dihasankannya-dari Abu Hurairah. Abu Daud juga meriwayatkan (4gr') seperti itu namun dengan redaksi SifsifahHadisSahih l ry
yang agak berbeda: "Al-mu'minu akhu al-mu'min...." Dengan redaksi yang seperti Muslim, Abu Daud (hadis no: 3356) juga meriwayatkandari Suwaid ibn Hanzhalah-, Tirmid,zi (21L83)-dari Amr ibn Ahwash-, dan Ahmad (\l2A7D-dari seorang dari Bani Sulaith. Catatan: Al-Mundziri mengutip hadis ini, dalam at-Targhtb (175/3), dari periwayatan Abu Dawud dan Tirmidzi saja, yang dari jalan Ibnu Umar. Tentunya, ini sebuah kecerobohan yang fatal. Sebab dia tidak menyadari bahwa hadis ini, sebenarnya, telah dimuat dalam As&Shah?.h Bukhari maupun Muslim. Dan celakanya lagi, as-Suyuthi mengutip hadis dengan redaksi versi Muslim dari al-Mundziri, dari periwayatan Abu Daud, dari jalan Suwaid ibn Hanzhalah. As-Suyuthi ceroboh bahwa redaksi seperti itu telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari para sahabat Nabi. Ini harus diperhatikan.
*..!.X**
I8
I
I
Silsilah Hadis Sahih
RUSAKNYA AMAL KEBAJIKAN
"Jab\i-o. o 9ul 7a;.,yry,trt& qt U 6tgl
J6 Uo6.rt \::- ,6 h:?
J z t t , 6 ..
Nr t4)6A;j fiW lA W.
.o
I
t
,
/
ilttr ,*::;4.tki !f d d" (r"#: ^ir;i4:
*i fu' 4 os:wVt t\
,SL. ,1: s(tt?l p;t,61
a54sr f:e.q;r* ri1?,,itl ;i5{r'b)'irh !,
505. "Sungguh, aku akan unghapkan kepada sekelompoh urnatku, yang kelak pada hari kiamat membawa amal kebajikan sebesar buhit Tihamah yang putih, tapi Allah melebur arnalan itu menjadi debu yang bertaburan sia sia. Tsauban berkata, Ya Rasulullah, beri kami gambaran tentang mereka, jelaskan siapa mereka itu, agar h,ami tidak termasuk golongan mereka tanpa hami menyadarinya.' Nabi menjelashan,'Mereka itu adalah saudara-saudara kalian, dari bangsa kalian, dan selalu menghabiskan malam (dengan beri.badah) seperti kalian, tapi hetika tidak terlihat orang mereka melanggar larangan-larangan Allah'." ole}r Ibnu Majah (hadis no: 4245): Isa ibn Yunus ar-Ramli menyampaikan hadis kepada kami, Uqbah ibn Alqamah ibn Khudaij al-Mu'afiri menyampaikan hadis kepada kami dari Arthah ibn al-Mundzir, dari Abu Amir al-Alhani, dari Nabi s.a.\M. (Lalu mengutip hadis dengan redaksi seperti di atas). Hadis ini di-tdkhrtj SilsilahHadisSahih I r,
Menurut penulis, hadis ini ber-sazad sahih, dan par4 perawi dalam sanad tersebut tsiqah. Sedangkan menurut al-Mundziri (31L78), "Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan para perawinya tsiqah." Al-Bushairi mengatakan dalam az-Zawd.'id (L/262), "Hadis ini sahih sanad-nya, dan para perawi dalam sanad tersebut tsiqah. Nama Abu Amir al-Alhani dalam sanad tersebut sebenarnva adalah Abdullah ibn Ghabir."
**x**
I s;uitot.Hodissahih
LARANGANMEMPERBANYAKTAWA
r=,iiir a',hstig o9','lnkst \# V
6z
!-o.1
506. "Jangan banyah tertawa, karena banyah tertawa dapat mematikan hati." Hadis ini di-tahhrtj ole}:.Ibnu Majah (hadis no: 4193) dari jalur Abdul Hamid ibn Ja'far, dari Ibrahim ibn Abdullah ibn Hunain, dari Abu Hurairah: Rasulullah s.a.w. bersabda, (Lalu mengutip hadis di atas). Menurut penulis, hadis ini bagus (jayyid) sanad-nya, dan semua perawinya tsiqah kecuali Abdul Hamid ibn Ja'far. Menurut at-Taqrtb, "Abdul Hamid (ibn Ja'far) seorang perawi yang shad0q, namun mungkin melakukan kesalahan riwayat hadis." Dalam az-Zawd.'id (L/258), al-Bushairi mengatakan, "Hadis ini bersanad sahih. Abubakar al-Hanafi di sini sebenarnya bernama Abdul Kabir ibn Abdul Majid al-Bashri. Menurut penulis, hadis ini memiliki sanad lain dari sumber Abu Hurairah. Juga, di-takhrtj oleh Tirmidzi (50/2), Ahmad (3U2), dan Ibnu Asakir (dalam Td.rthh Dimasyqa lI/247/91) dari sanad Ja'far ibn Sulaiman, dari Abu Thariq, dari al-Hasan. Penilaian Tirmidzi, "Hadis ini gharib. Kami hanya mengenalnya dari Ja'far ibn Sulaiman. Dan al-Hasan tidak pernah mendengar hadis seperti itu dari Abu Hurairah. Sementara, Abu llbaidah an-Naji meriwayatkan hadis ini dari al-Hasan
Silsilah Hadis Sahih I
yang dianggap sebagai ucapan al-Hasan, tidak dijelaskan adanya hubungan sanad dari Abu Hurairah, dari Nabi s.a.w. Masih menurut penulis, yang dimaksud Abu Thariq di sini adalah as-Sa'di, seorang perawi yang, menurut at-Taqrtb, tidak jelas statusnya. Hadis ini dari sumber Abu Hurairah juga pltnyasanadlain (ketiga) yang di-takhrij ole}, Ibnu Majah (hadis no: 4217), dari jalur Abu Raja', dari Burd ibn Sinan, dari Makhul, dari Watsilah ibn al-Asqa', dari Abu Hurairah. Menurut penulis, orang-orang dalam sanad ini tsiqah, kecuali Makhul dan Abu Raja'-yang sebenarnya bernama Muhriz ibn mudallis, dan bahkan pernah Abdullah al-Jazari-yang rrrenl)t'an'ankan hadis. Dari keterangan ini, Anda akan mengerti bahwa penilaian al-Bushairi, dalam az-Zawd.'id (260/I), "hadis ini sanadnya hasan", bukan mengacu kepada pengertian hasan yang sebenarnya, tetapi mengacu kepada pengertian hasun li ghairihi. Lebih jauh tentang matan dan tahhrtjnya akan dijelaskan di no. hadis 930.
**x**
sahih I slritot Hoais
SEKELT]MITETIKA RAST]LULLAH
,:., , ..? . qF iJ 6:l.i o-ta'"J.,'2 elJlp .:. , ?. ?. ?. t.
//
dJt J--,': a?
6-o . V
,*'et-: 1;,ro'iut u, Jh ap t1'a$t\ hj &
o l. z
.itr tf lr h J';i'#';, r.1 ;; j i.rrr.i lr '6,*, oe ayo€ 6$6lt'X ,p la,et,;t t4?i itl t'Ii .ryu'rtll4f 'f l\6iY-4*e"'t: o-fr,hr?ure6?'# -h)? !-e,a
o11 r ..o..t' . /.1 a "' ?' " r'.." .
507. "Rasulullah s.a.w. tidak pernah sehalipun memukul seorang pelayan ataupun istrinya dengan tangannya, dan tidak pernah pula memukul apapun dengan tangannya, hecuali (di saat) berjiha:d di jalan Allah; ketika dihadapkan pada dua pilihan, yang beliau pilih adalah yang paling mudah, kecuali dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya; tidak pernah mendendam terhadap sesuatu, hecuali jiha larangan-larangan Allah dilanggar, maka pada saat itulah beliau rnembalas." ini di-takhrtj oleh Ahmad (6/232): Abdul razzaq menyampaikan hadis kepada kami, Ma'mar menyampaikan hadis kepada kami dari az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah: (Lalu mengutip Hadis dengan redaksi seperti ini).
I
Sifsilah Hadis Sahih
I
zj
Menurut penulis, hadis ini bersanad sahih menurut kriteria asySyaikhani. Kemudian dikuatkan oleh hadi s (mutd.bi') yang diriwayatkan oleh Hisyam ibn urwah. Menurut Ahmad (6/229): Abu Mu'awiyah menyampaikan hadis kepada kami, Hisyam ibn Urwah menyampaikan hadis kepada kami, dari ayahnya dengan redaksi hadis seperti yang di atas. Namun menurut Muslim (7/80) dari sanad Ahmad yang kedua ini, tanpa kalimat "jika dihadapkan pada dua pilihan ....,, Sedang menurur al-Bukhari (a394), dafi sanad Ahmad yang pertama, tanpa menyebutkan kalimat "Rasulullah tidak pernah sekalipun memukul ....,'
,;uJt"€ u6t 6 J?t lt
,,. , *,2n2 og(;t3
^
508. "Umumkan tentang keruntuhan hemuliaan bangsa Arab! (tiga hali), satu hal yang paling ahu hhawatirkan d,ari kalian ad,alah riya, dan nafsu yang terpendam." Hadis ini di-tahhrtj oleh Thabrani (dalam al-MuJam al-Kabtr), Ibnu Adi (dalam al-Kd.mil, 12/2201), Abu Nu'aim (dalam al-Hilyah [t22/ 7l dan Ahhbdr Ashbahdn [GBlzD,dan al-Baihaqi (daram az-zuhd. I2l 37/21),dari jalur Abdullah ibn Budail ibn Warqa, al-Khuza,i, d.ari azZuhri, dari Ubbad ibn Tamim, dari pamannya secara marffi'. Menurut penulis, hadis ini ber-sanad hasan, yang para perawinya tsiqah, yakni para perawi imam Muslim, kecuali Abdullah ibn Budail ini. Menurut Ibnu Adi, dalam periwayatan Abdullah ibn Budail ada beberapa hal yang harus ditolak, karena ia suka menarnbahnambahkan matan (teks hadis) maupun sanad. (mata rantai periwayatan). Anehnya, tak ada komentar apapun dari kalangan pakar hadis terdahulu yang bisa saya jelaskan di sini. Masih menurut penulis, Ibnu Abi Hatim (1.s/2/2)meriwayatkannya dari Ibnu Ma'in yang menurutnya Abdullah ibn Budail ini "seorang yang bisa diterima (shd.lih)". Dan Ibnu Hibban memasukkan namanya ke dalam kitab ats-Tsiqdt. Dalam at-Taqrtb, ia dinilai sebagai "seorang perawi yang shadfiq, namun sering melakukan kesalahan". 24
I SilsilahHadis Sahih
Mengenai hadis yang diriwayatkannya, d.aram ar-Majrna' (6/-6sb), al-Haitsami mengatakan, "Thabrani meriwayatkannya dengan dua sanad, yang salah satunya terdiri dari para perawi yang dijadikan rujukan dalam ash-shahth, kecuari Abdullah ibn Budail ibn warqa,, tapi dia tsiqah. Dalam at -Targhtb ( 190/g), al-Mundziri mengatakan, ..Thabrani meriwayatkannya dengan dua sanad, yang salah satunya sahih." Catatan: Xata 1iU-1t1, d.alam at-Targhtb dan at-Majmo,, tertulis (6jJr). frt, ;sejumlah al-Mundziri, hafizh memperjelas penulisan r."t" i;,i;ii n"a" huruf ra' dan ya'-ttya.,, Menurut penulis, seperti itu pula keterangan daram setiap sumber yang menjadi rujukan kita. Dan seperti itu pula yang dikemukakan oleh Ibnul Atsir dalam an-Nihd,yah. Katanya, ,,Daram satu riwayat redaksinya, uyd,nu'!d.n aUArab", yang berasal dari akar kata (6f), yang artinya, mengurnumkan, memberitakan, d,an meratapi hematian seseorang. Menurut az-Zamakhsyari, kata (6lij) memiliki tiga pengertian. Pertama, sebagai jamak dari singutar (rrri), yang merupakan bentuk infinitiue, seperti kalo (!gib1, (ini adalah bentuk tunggal) dan jamaknya adalah (g.ribl. Kedua, sebagai bentuk jamak, seperti uata('z;-1)bentuk jamaknya (gJro. Ketiga, sebagai bentuk jamak dari kata ni'a (i13) yang merupakan isrn al_fi'l (uerbal noun). Maksudnya, "wahai orang-orang yang meratapi keruntuhan nama besar bangsa Arab, kini keruntuhan itu telah datang. Inilah waktu dan saatnya kalian (harus menangis)." Atau dengan kata lain, *Hai, kebesaran bangsa Arab telah runtuh!" Xata (OSjJt) merupakan bentuk infinitive dari kata(i#tl. Menurut satu pendapat, kata tersebut merupakan bentuk jamak dari (fg) sepetti kata ff,.lil ai mana bentuk jamaknya adalah
I
SilsilahHadisSahih
I
25
t
i.*x**
z6
I
Silsilah Hadis Sahih
ZINA MELEI\"YAPKAN IMAN
'gat ,ilbJg r$ osiiC;i ytf
&t ctrl-o.1
0,{}' flerw
t/
509. "Apabila seorang hamba berzina, maka keirnanan terah keruar dari dirinya, seperti an^anyang nxenxayunginya.Dan ketika hamba keluar dari payungan awan dimaksud, keimanan itu kembali h.epadanya." Hadis ini di-takhrij oleh Abu Dawud (hadis nomor: 690), Ibnu Jarir ath-Thabary (hal. 1409 dan 1410/18412),dan Hakim (2%!\ darir jalan said ibn Abi Maryam: Naf ibn Yazid mengabarkan kepada kami, Ibnul Had mengatakan kepada kami bahwa said ibn Abi said pernah mengatakan tentang dirinya yang mendengar langsung Abu Hurairah mengatakan, "Rasulullah s.a.w. bersabda: (Lalu mengutip hadis dengan redaksi seperti di atas)." Menurut Hakim, hadis ini sahih berdasarkan kriteria asysyaikhani, yang kemudian disepakati oleh adz-D zahabi. penilaian Hakim d.an adz-zahabi ini tepat, kecuali mengenai Nafi'. Bukhari mentakhrtj hadis yang diriwayatkan oleh Naf ini hanya sebagai ta'liq. Berarti ini hanya menurut kriteria Imam Muslim saja. Namun, alAsqalani menilai sahih sosok ini dalam al-Fath (SOILD. Kemudian Hakim juga men-/okhrtjnya, dari jalur lain, dari Abu Hurairah dengan redaksi: SilsilahHadisSahih I
27
"Barangsiapa berzina atau meminum khamr, maka Allah akan mencabut keimanan darinya seperti orang yang melepas pakaian dari arah kepalanya." Hanya saja sanad-nya dha'tf. Penjelasannya ada dalam osSilsilah adh-Dha'tfaft. (hadis n.o: 1214). Dalam at-Targhtb (191/3), al-Mundziri menisbatkan hadis ini kepada Tirmidzi. Dan ini merupakan kecerobohan al-Mundziri, yang terlalu longgar menilai hadis. Karena Tirmidzi (L0412) sendiri meriwayatkannya secara rnu'allaq dengan tanpa sanad-
. tt: tJ
a. -
a
4.r^?
o I o
) ,,t 6?3 o#i i;.6?'&, tAj a ,t- o l
,
ebjt
5L0. "Orang yang Allah lindungi dari keburukan organ di antara dua dagunya(maksudnya mulut) dan dari keburukan organ di antara kedua hakinya(maksudnya kemaluan), akan rnasuk sttrrga'" Hadis ini di-takhrij oLeh Tirmidzi (66/2) dan Ibnu Hibban dari jalur Ibnu Ajlan, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah: Rasulullah s.a.w. bersabda: (Lalu mengutip hadis dengan redaksi di atas). setelah itu, Tirmidzi memberikan penjelasan, "Hadis ini hasan ghartb. Nama sebenarnya dari Abu Hazim ini adalah salman, budak dal,i Azzah alAsyja'iyyah." Menurut penulis, Abu Hazim tsiqah dan dijadikart hujjah dalam ash-Shahthain, jtga seluruh perawinya. Kecuali Ibnu Ajlan yangMuslim ditakhrii dalam nama sebenarnya adalah Muhammad-oleh asy-Syawd.hid, di mana hadis yang diriwayatkannya hasan. Hadis ini memiliki hadis syd.hid,yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy'ary secara marfir" dan oleh Ibnu Abiddunya ditakhrij dalam ashshumt Qo/42) dengan sannd sahih. Hadis syahid yang lain diriwayatkan oleh Tamim ibn Yazid, seorang budak BaniZatrfah, dari seorang sahabat Rasulullah s.a.w. yang menjelaskan bahwa suatu hari Rasulullah berHrutbah dan kemudian mengatakan, (seperti kutipan hadis di atas). Hadis sydhid, ini di-takhrij oleh Ahmad (51362) dari utsman-ibn Hakim--dari Hakim. Para perawi Ahmad tsiqah, yang juga para perawi
z8
I
I
Silsilah Hadis Sahih
Muslim, kecuali Tamim ini. Dalam kitabnya, Ibnu Abi Hatim (442/UL) meriwayatkannya dari jalur Tamim, tapi tidak menjelaskan tentang tajr?.h maupun ta'dil. Juga, Ibnu Hibban dalam ats-Tsiqd.t (5/1), yang menyebut nama Anas ibn Malik, dan tidak menyebutkan seseorang yang dianggap sahabat Nabi. Selanjutnya, saya melihat hadis tersebut di-tahhrij oleh Hakim (4/357) dari jalur Abu Hurairah di atas, dan dari jalur Abu Waqid, dari Muhammad ibn Abdurrahman ibn Tsauban, dari Abu Hurairah, dari Nabi s.a.w.: "Barangsiapa menjaga organ yang ada di antara kedua dagu(maksudnya mulut) dan hedua kahinya(maksudnya hemaluan), akan masuk surga." Hakim juga menjelaskan bahwa hadis ini "sanadnya sahih. Dan nama sebenarnya dari Abu Waqid adalah Shaleh ibn Muhammad." Pendapat seperti ini disepakati oleh adz-Dzahabi. Menurut penulis, tentang nama Shaleh ini, telah dijelaskan oleh adz-Dzahabi, dalam al-Mtzd,n sebagai "orang yang tipis sekali batasnya antara tsiqah dan dha'tf." Setelah itu, ia mengutip sejumlah pendapat para tokoh yang rata-rata melemahkan sosok Shaleh ini, kecuali pendapat Ahmad, yang pernah ia kemukakan dalam adh-Dhu'afd.'. "Kata Ahmad,'Saya tidak pernah melihat sesuatu yang memberatkannya pada dirinya.' Sedangkan Daruquthni dan sekelompok ulama menyatakannya sebagai dha'if." Demikian pula penilaian dalam at-Taqrtb. Menurut penulis, hadis yang senada, insya Allah, menjadi syd.hid, bagi hadis tersebut.
**x *t
I
SilsilahHadisSahih
I
29
DOSASYIRIK DAN MEMBI.]NT]H
'rf,kP
.:ttl
.-"5i lr lf ttfrof ilr ,;-b t't 15-ot I r1r3;i ,yi".:i 6'i
6t
lLL. "Semoga Allah nxengaffLpunisemua dosa, kecuali (dosa) orang yang mati sebagai musyrik (rnenyekutukan Allah), atau seorang mukmin yang mem.bunuh sesanxa mukmin dengan sengaja." Hadis irri di-takhr?.j oleh Abu Dawud (hadis no: 4270), Ibnu Hibban (hadis no: 51), Hakim (35L/4), dan Ibnu Asakir (dalam Td'rthh Dirnasyqa 12/209/51) dari jalur Khalid ibn Duhqan, yang mengatakan, "Saat itu kami sedang berperang melawan kekuasaan Konstantinopel, di sebuah tempat bernama Dzuluqyah. Tiba-tiba datang seorang pemuka kaum dari wilayah Palestina, Yang oleh kaum muslimin sudah dikenal sebagai pemuka wilayah tersebut. Orang itu dikenal dengan nama Hani'ibn Kultsum ibn Syuraik al-Kannani. Pemuka kaum itu kemudian mengucapkan salam kepada Abdullah ibn Abi Zakariya, yang mengetahui apa yang harus ia lakukan padanya. Kemudian Khalid berkata kepada kami, "LaIu Abdullah ibn Abu Zakariya menyampaikan itu kepada kami, katanya, 'Saya pernah mendengar Ummu Darda'mengatakan, 'Saya mendengar Abu Darda' mengatakan, 'Saya mendengar Rasulullah bersabda: (Lalu mengutip hadis di atas)'." Ini adalah redaksi hadis versi Abu Dawud. Menurut Hakim, hadis ini "sanadnya sahih." Dan, disepakati oleh adz-Dzahabi.
I
30
|
SilsilahHadis Sahih
Para perawi (dalam sanad)nya tsiqah, dan tentang nama Khalid ini, kata adz-D zahabi, ia "seorang yang maqb0l", meski ada beberapa kekurangan, tapi tsiqah, berdasarkan penilaian Ibnu Ma'in dan lainnya. Demikian pula seperti ia nyatakan dalam at-Tahdztb. Al-Bazzar (3352/124/4) mentakhrij dari jalur yang berbeda dan memberikan penjelasan tambahan, "Khalid berkata,'Hani' ibn Kultsum menyampaikan kepadaku, dari Mahmud ibn ar:Rabi', dari tlbadah ibn ash-Shamit secara marfL'." Menurut penulis, sanad. ini sahih juga. Hadis ini memiliki hadis syrihid dari Mu'awiyah ibn Abu Sufyan secara rnarffi,'. Selain mereka, Nasa'i (163/2), Hakim, dan Ahmad (99/4) juga nentakhrij dari jalur Tsaur, dari Abu 'Aun, dari Abu Idris, yang mengatakan, "Saya telah mendengar Mu'awiyah berkhutbah ... (kemudian mengutip hadis dengan redaksi di atas)." Kata Hakim, "sanadnya sahih." Dan, ini diterima oleh adz-Dzahabi. ini hanya Ibnu Hibban yang Ibnu Abi Hatim (4L4-4L514) pernah menulis biografinya, namun tidak menyinggung kekurangan (jarh) dan kelebihanny a (ta' d.il). mentsiqahkannya. Pengertian hadis ini bertentangan dengan firman Allah swt: Menurut penulis, tentang Abu'Aun
o2i ,ei",F ,:lSi 6'-p-: oi'fr1 elri,1 ".'!H
"sesungguhrr"OU"Otid.akahan *"Lo*otrf
Nis6':48) Karena pembunuhan jelas-jelas bukan kemuysrikan, mungkinkah Allah tidak akan mengampuninya? Al-Manawi setuju-dan ini menjadi penguat bagi yang lain-dengan mengandaikan bahwa pesan dalam hadis tersebut tentang pembebasan dosa. Karena jika tidak diasumsikan demikian, maka fungsi hadis tersebut tak lebih hanya sekedar intimidasi saja. Dan tentunya, pendapat as-Sanady dalam Hd.syiyat as-Sanady 'ala an-Nasd'i, berikut lebih baik,
I
aoro sytfk, d.ai
An-
Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu ....'(QS.
SilsifahHadis Sahih
I
jt
"Sepertinya yang dimaksud di sini adalah bahwa setiap dosa itu, pada awalnya, bisa berharap untuk diampuni, selain dosa karena membunuh orangmukmin. Karena dosa semacam ini jika tidak dijatuhi sangsi (qishas) atas tindakan itu sebelumnya maka tidak akan diampuni. Berbeda dengan dosa kufur, yang secara prinsip tidak akan diampuni. Jika dosa membunuh itu bisa diampuni, tentunya, tidak bisa disamakan dengan dosa kufur (karena mengampuni tindakan yang haram sama halnya dengan kekufuran). Dan itu artinya, tak ada lagi bedanya antara dosa mengampuni pembunuhan dan dosa-dosa lain karena semua itu sama dengan kekufuran. Selanjutnya, hadis ini harus pula diasumsikan jika si pembunuh belum juga bertobat. Karena jika tidak diasumsikan demikian, maka orang yang sudah bertobat akan seperti orang yang tidak punya dosa. Coba bagaimana jika dua-duanya, baik yang membunuh maupun yang dibunuh, sama-sama masuk surga, karena si pembunuh yang dulunya kafir itu kemudian beriman dan terbunuh juga.
r'.*x*n
32
I slritot Hadis sahih