IDENTIFIKASI POLA PERKAWINAN SAPI POTONG DI WILAYAH SENTRA by cometjunkie45

VIEWS: 1,824 PAGES: 8

									                           Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006




   IDENTIFIKASI POLA PERKAWINAN SAPI POTONG DI
  WILAYAH SENTRA PERBIBITAN DAN PENGEMBANGAN
            (Identifiying Mating Patterns of Beef Farming at the Center
                               and Developing Areas)
                 PENI WAHYU PRIHANDINI, W.C. PRATIWI, D.PAMUNGKAS dan L. AFFANDHY

                      Loka Penelitian Sapi Potong, Jl. Pahlawan No. 2 Grati, Pasuruan 67184


                                                 ABSTRACT

    The proper mating management should be conducted to anticipate high repeated mating and the long
calving interval, especially in the cow-calf operation. The survey which held on small holder farming
(invloving 400 respondents) at four provinces (East Java, Central Java, DIY and Bali), aimed to identify
mating pattern in beef farming at the center and developing areas. Respondent were kept as purposive random
sampling based on regimes, cow possesion and the level of AI acceptors (beginner or advance). The data was
performed descriptively. Result showed that farmer in the center area’s used the bull (natural mating) as of
51.7% (Bali); 4.3% (DIY); 5.0% (Central Java) and 17.6% (East Java). Meanwhile, farmer used AI as much
as 91.4% (DIY), 45.8% (East Java), 45.0% (Central Java) and 20.7% (Bali). Service per conception (S/C) of
AI in DIY showed the highest (2.5) followed by Central Java (2.0), East Java (1.7) and Bali (1.3). S/C of
natural mating in Central Java and Bali showed the lowest which was 1,4. In East Java and DIY were 1,6 and
2.3, respectively. Most of farmers declared using combination AI and natural mating which were 50%
(Central Java), 36.6% (East Java), 27.6% (Bali) and 4.3% (DIY). In developing areas, natural mating mostly
occured in Bali (72.7%). Meanwhile, the combination of AI-natural mating mostly happened in DIY (91,7%).
This pattern was conducted by farmers regarding to the failed of AI (over four times inseminating). It can be
concluded that mating pattern of beef farming either in central or developing areas was dominated by AI
which was over 20.7%. However in developing area’s of Bali, the natural mating was predominantly.
Key Words: Cow, Mating Patterns, Central and Developing Areas


                                                  ABSTRAK

     Managemen perkawinan yang tepat merupakan salah satu faktor yang harus dilakukan guna
mengantisipasi tingginya kawin berulang dan selang beranak yang panjang, utamanya dalam cow-calf
operation di usaha peternakan rakyat. Suatu survei terhadap 400 responden yang tersebar di empat propinsi
(Jatim, Jateng, DIY dan Bali) bertujuan untuk mengidentifikasi pola perkawinan sapi potong di wilayah
sentra perbibitan dan pengembangan telah dilakukan. Responden diambil secara purposive random sampling
berdasarkan kriteria wilayah, kepemilikan induk dan tingkat kelompok akseptor IB (pemula/lanjutan). Data
yang diperoleh disajikan secara deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa peternak di wilayah sentra
menggunakan pejantan (kawin kawin alam) sebesar 51,7% (Bali); 4,3% (DIY); 5,0% (Jateng) dan 17,6%
(Jatim). Namun demikian peternak yang menggunakan jasa IB sebanyak 91,4% (DIY), 45,8% (Jatim), 45,0%
(Jateng) dan 20,7% (Bali). Service per conception (S/C) dengan menggunakan IB di Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) tampak paling tinggi (2,5) diikuti Jateng (2,0), Jatim (1,7) dan Bali (1,3). Sedangkan S/C
hasil kawin alam di Jateng dan Bali menunjukkan paling rendah yakni 1,4; di Jatim 1,6 dan di DIY 2,3.
Sebagian peternak menyatakan menggunakan kombinasi IB-kawin kawin alam, yakni 50% (Jateng), 36,6%
(Jatim), 27,6% (Bali) dan 4,3% (DIY). Di wilayah pengembangan, pola kawin alam banyak terdapat di Bali
(72,7%); sedangkan pola kombinasi IB-kawin alam banyak dilakukan oleh peternak di DIY (91,7%). Pola
kombinasi tersebut dilakukan oleh peternak mengingat gagalnya IB sampai maksimal 4 kali inseminasi.
Disimpulkan bahwa pola perkawinan sapi potong diwilayah sentra maupun pengembangan didominasi >
20,7% IB, tetapi di Bali di wilayah pengembangan didominasi oleh kawin alam.
Kata Kunci: Sapi Potong, Pola Perkawinan, Wilayah Sentra dan Pengembangan




168
                        Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006




             PENDAHULUAN                                  Penelitian    ini    bertujuan     untuk
                                                      mengidentifikasi perbedaan pola perkawinan
    Penurun produktivitas dan populasi sapi           yang terdiri dari cara perkawinan dan
potong merupakan permasalahan pada                    gambaran akseptor IB antara wilayah sentra
penanganan reproduksi sapi potong. Penurunan          perbibitan dan pengembangan sapi potong
tersebut dapat disebabkan oleh faktor                 sebagai langkah strategis penentu kebijakan,
managemen dan perkawinan yang kurang tepat            terkait dengan managemen perkawinan sapi
sehingga akan berdampak pada terlambatnya             potong dalam usaha cow-calf operation.
umur beranak pertama, rendahnya angka
konsepsi (S/C >) serta panjangnya jarak
                                                                 MATERI DAN METODE
beranak (> 15 bulan). Managemen perkawinan
yang tepat merupakan salah satu faktor yang
harus dilakukan guna mengantisipasi tingginya             Kegiatan diawali dengan melakukan
kawin berulang dan selang beranak yang                inventarisasi dan identifikasi kendala dan
panjang, utamanya kawin alam cow-calf                 permasalahan aktivitas reproduksi serta
                                                      dinamika pelaksanaan kawin secara IB dan
operation di usaha peternakan rakyat.
                                                      kawin alam dalam kerangka managemen
    Dalam rangka mewujudkan managemen
perkawinan yang tepat tersebut, identifikasi          perkawinan sapi potong di wilayah sentra bibit
                                                      (populasi induk tertinggi dan kebijakan instansi
pola perkawinan termasuk didalamnya
                                                      setempat) dan wilayah pengembangan
pengamatan S/C dan pengalaman peternak
sebagai akseptor IB perlu dilakukan sebagai           (populasi induk rendah dan adanya rencana
                                                      untuk dijadikan daerah perbibitan).
langkah awal antisipasi.
                                                          Data dikumpulkan melalui metode survei
    Pola perkawinan yang sering dilakukan di
wilayah sentra perbibitan dan pengembangan            dan wawancara dengan pengisian kuisioner
                                                      secara terbuka dan terstruktur. Lokasi penelitian
sapi potong adalah kawin alam, kawin suntik
                                                      di kawasan sentra (Jatim: Tuban, Malang –
(IB) dan kombinasi keduanya (kawin alam dan
IB). Wilayah sentra bibit adalah wilayah yang         Singosari, Pasuruan – Nguling, Lumajang;
mempunyai populasi induk tertinggi dan ada            Jateng: Blora-Jepon; DIY: Bantul; Bali:
                                                      Tabanan) dan kawasan pengembangan sapi
kebijakan dari instansi setempat sebagai daerah
bibit, sedangkan wilayah pengembangan adalah          potong (Jatim: Situbondo, Malang – Wajak,
wilayah yang mempunyai populasi induk                 Pasuruan – Wonorejo, Lumajang); Jateng:
                                                      Blora – Tunjungan; DIY: Sleman; Bali: Tegal
rendah dan adanya rencana dari dinas terkait
untuk dijadikan daerah perbibitan.                    Saka). Responden pada masing-masing lokasi
    Kawin alam banyak diminati para peternak          minimal 100 peternak yang mempunyai sapi
yang berada di wilayah terpencil yang jauh dari       potong induk. Beberapa key persons adalah:
jangkauan dan pengawasan petugas IB. Kawin            ketua kelompok, perangkat desa, petugas
                                                      inseminator/mantri hewan dan staf dinas
suntik sering dilakukan oleh para peternak
yang modern, skala besar dan dekat dengan             peternakan setempat. Sample diambil dengan
wilayah petugas kawin suntik. Sementara itu,          teknik purposive dan proporsional random
                                                      terhadap peternak yang menggunakan kawin:
kombinasi kawin alam dan suntik banyak
dilakukan oleh peternak yang karena kawinnya          IB, kawin alam dan kombinasi IB-kawin alam.
berulang mereka mencoba untuk kawin suntik            Data yang diperoleh diolah dan disajikan
                                                      secara diskriptif.
supaya cepat bunting begitu juga sebaliknya.
    Ada beberapa faktor lingkungan dan
sosiologi yaitu pengetahuan peternak dalam                     HASIL DAN PEMBAHASAN
deteksi birahi, perilaku peternak dalam
memutuskan untuk mengawinkan sapinya                  Profil peternak
secara IB/kawin alam, pengalaman peternak
dalam memelihara sapi, keahlian inseminator,          Identifikasi pola perkawinan di wilayah sentra
kualitas straw yang disuntikkan, daya jangkau         dan     pengembangan      dilakukan    dengan
wilayah dari inseminator yang dapat                   wawancara kepada 400 responden masing-
mempengaruhi pola perkawinan di wilayah               masing wilayah (Jawa Timur, Jawa Tengah, DI
sentra dan pengembangan sapi potong.                  Yogyakarta dan Bali) adalah 100 responden




                                                                                                   169
                           Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006




yang mempunyai sapi betina sudah pernah                      Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian
beranak dan dikawinkan secara IB, kawin alam             besar tingkat pendidikan peternak kooperator
atau kombinasi keduanya (IB-kawin alam).                 di empat wilayah (Jawa Timur, Jawa Tengah,

Tabel 1. Profil peternak koperator
                                                                     Lokasi survei
 Uraian
                                            Jawa Timur       Jawa Tengah     DI Yogyakarta    Bali
 Daerah sentra
   Pendidikan (%)
    Non SD                                     20,44             40,91                4,35    10,34
    SD                                         73,48             45,45                34,78   62,07
    SLP                                        3,87              11,36                34,78   6,90
    SLA                                        2,21              2,27                 26,09   13,79
    Perguruan Tinggi                             0                 0                    0      6,9
   Umur (%)
    Belum produktif (1 - 20 tahun)             1,10                0                    0     3,45
    Produktif (21 – 60 tahun)                  91,16             88,64                95,65   82,76
    Tidak produktif (61 – 100 tahun)           7,72              11,36                4,35    13,79
   Kepemilikan sapi (%)
    Pedet                                      21,64             11,27                5,13    19,70
    Dara                                       4,61              7,04                 2,56    1,52
    Induk belum bunting                        0,80              2,82                 10,26   3,03
    Induk bunting                              34,87             30,99                48,72   45,45
    Induk laktasi                              17,84             18,31                5,13    13,64
    Induk kering                               12,22             21,13                25,64   6,06
    Jantan                                     8,02              8,45                 2,56    10,61
   Unit Ternak (UT)                             1,98              1,61                1,61     2,28
   Pengalaman beternak (%)
    1 – 10 tahun                               69,61             64,29                95,83   58,82
    11 – 20 tahun                              24,86             33,33                4,17    17,65
    21 tahun atau lebih                        5,52              2,38                   0     23,53
 Daerah pengembangan
   Pendidikan (%)
     Non SD                                    20,79             18,18                8,33    13,64
     SD                                        70,30             77,27                29,17   40,91
     SLP                                       5,94              1,52                  50     13,64
     SLA                                       0,99              1,52                 12,5    27,27
     Perguruan Tinggi                          1,98              1,52                   0     4,55
   Umur (%)                                                        0
     Belum produktif (1 - 20 tahun)            0,99              88,06                  0       0
     Produktif (21 – 60 tahun)                 91,09             11,94                95,83   90,91
     Tidak produktif (61 – 100 tahun)          7,92                                   4,17    9,09
   Kepemilikan sapi (%)                                          7,19
    Pedet                                      11,33             6,47                 5,56    2,38
    Dara                                       3,45              5,76                 8,33       0
    Induk belum bunting                        7,88              30,22                30,56   9,52
    Induk bunting                              34,98             12,23                5,56    42,86
    Induk laktasi                              14,29             30,94                2,78    35,71
    Induk kering                               25,12             7,19                 38,89   4,76
    Jantan                                     2,96                                   8,33    4,76
   Unit Ternak (UT)                             1,79             1,38                 1,88     1,92
   Pengalaman beternak (%)
     1 – 10 tahun                              62,38             83,33                79,17   45,45
     11 – 20 tahun                             25,74             12,12                8,33    18,18
     21 tahun atau lebih                       11,88             4,55                 12,50   36,36




170
                          Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006




DI Yogyakarta dan Bali) adalah tamat SD                 memberikan pakan berupa jerami padi kering.
masing-masing (73,48; 45,45; 34,78; 62,07%)             Pemberian pakan berupa jerami yang terlalu
dan sisanya tidak tamat SD, tamat SLP, SLA              lama akan menghambat pertumbuhan sapi.
dan Perguruan Tinggi. Hal yang demikian
tidak menunjukkan rendahnya kemampuan
peternak dalam memelihara sapi, mengingat               Pola perkawinan
peternak di keempat wilayah tersebut > 80%
                                                            Persentase hasil masing-masing komponen
masih dalam kategori usia produktif (21 – 60
                                                        cara perkawinan di keempat wilayah sentra dan
tahun) dan telah berpengalaman dalam
                                                        pengembangan disajikan pada Tabel 2. Pada
merawat ternak, khususnya sapi potong.
                                                        penelitian ini ternyata bahwa untuk wilayah
    Persentase kepemilikan sapi bunting
                                                        sentra pembibitan, cara perkawinan IB yang
peternak kooperator paling tinggi di wilayah
                                                        tertinggi adalah DI Yogyakarta (91,4%) dan
sentra maupun pengembangan. Pada umumnya
                                                        terendah Bali (20,7%); Kawin alam yang
peternak kooperator adalah peternak kecil yang
                                                        tertinggi adalah di Bali (51,7%) dan terendah
jumlah pemeliharaannya juga relatif kecil
                                                        DIY (4,3%); IB-Kawin alam tertinggi Jawa
(Tabel 1). Rataan jumlah pemeliharaan sapi
                                                        Tengah (50%) dan terendah DI Yogyakarta
potong di daerah sentra berkisar antara 1,61
                                                        (4,3%); untuk wilayah pengembangan, cara
UT – 2,28 UT. Sementara itu, daerah
                                                        perkawinan IB tertinggi Jawa Timur (27%) dan
pengembangan berkisar antara 1,38 UT – 1,92
                                                        terendah Bali (4,6%); Kawin alam tertinggi
UT. Jumlah pemeliharaan yang relatif kecil ada
                                                        Bali (72,7%) dan terendah DI Yogyakarta
keterkaitan dengan sistem penyediaan pakan.
                                                        (0%); IB-Kawin alam tertinggi DI Yogyakarta
HASTONO et al. (2000) mengemukakan bahwa
                                                        (91,7%) dan terendah Bali (22,7%).
pakan merupakan salah satu faktor yang
                                                            Dengan hasil tersebut diatas menunjukkan
menentukan kecepatan laju pertumbuhan sapi.
                                                        bahwa di wilayah sentra pembibitan (DIY)
Pertumbuhan sapi akan terhambat apabila
                                                        para peternaknya sudah mulai sadar akan
pakan tidak diperhatikan dengan baik dari
                                                        pentingnya cara perkawinan secara IB,
jumlah     maupun     kualitasnya.    Apabila
                                                        walaupun S/C di DIY tertinggi (Tabel 3). Cara
pertumbuhan sapi terhambat maka akan sangat
                                                        perkawinan secara IB mempunyai beberapa
mempengaruhi waktu birahi pertama sapi
                                                        kebaikan apabila peternak tahu secara tepat
sehingga memperlambat perkawinan untuk
                                                        faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
meghasilkan keturunan.
                                                        keberhasilan IB, sehingga dapat mengantisipasi
    Pengadaan hijauan pakan berkualitas di
                                                        terlambatnya     umur      beranak   pertama,
wilayah sentra maupun wilayah pengembangan
                                                        rendahnya angka konsepsi (S/C >2) serta
terkadang menjadi permasalahan yang berarti
                                                        panjangnya jarak beranak (> 15 bulan).
terutama saat musim kemarau. Pada saat
                                                        AFFANDHY et al. (2005) menyatakan bahwa
musim kemarau peternak terkadang hanya
                                                        faktor-faktor yang mempengaruhi cara

Tabel 2. Cara perkawinan sapi potong di peternak wilayah sentra perbibitan dan pengembangan sapi potong
         di Jatim, Jateng, DIY dan Bali
                                                                  Lokasi survei
 Parameter
                                         Jawa Timur      Jawa Tengah    DI Yogyakarta       Bali
 Daerah sentra
   IB (%)                                    45,8              45               91,4        20,7
   IB-kawin alam(%)                          36,6              50                4,3        27,6
   Kawin alam (%)                            17,6              5                 4,3        51,7
 Daerah pengembangan
   IB (%)                                    27,0              19                8,3         4,6
   IB-kawin alam(%)                          33,3              36               91,7        22,7
   Kawin alam (%)                            39,7              45                    0      72,7




                                                                                                   171
                          Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006




perkawinan IB di wilayah sentra dan                     sapi hasil IB; belum berfungsi secara penuh
pengembangan         sapi    potong      adalah         petugas ATR yang dikarenakan tidak
pengetahuan peternak, sikap peternak dan                memperoleh       laporan   dan     kurangnya
persepsi peternak tentang IB. Faktor                    komunikasi dengan petugas pemeriksa
pengetahuan, sikap dan persepsi peternak yang           kebuntingan (PKB)/inseminator.
terkait dengan keberhasilan program IB sangat               Jumlah inseminator yang kurang dapat
ditentukan oleh pemahaman tentang manfaat               menjadi masalah apabila didasarkan target
IB itu sendiri, yaitu bahwa IB telah dirasakan          semua sapi induk di Jawa Timur harus kawin
oleh peternak untuk menanggulangi kekurangan            IB. Selain itu, permasalahan internal layanan
pejantan dan anak hasil IB telah terbukti               pada program IB sapi potong yang secara nyata
mempunyai sifat pertumbuhan lebih cepat.                telah menekan kinerja hasil program IB sapi
    S/C yang tinggi di DI Yogyakarta                    potong di Jawa Timur adalah ketersediaan
disebabkan oleh beberapa faktor seperti yang            kontainer straw semen beku di tingkat
telah dikemukan oleh YUSRAN et al. (2001)               inseminator yang kurang dan berkualitas
bahwa masalah internal peternak pada program            rendah (banyak yang bocor); kelengkapan
IB sapi potong yang secara nyata telah                  peralatan untuk inseminasi yang kurang
menekan kinerja hasil program IB sapi potong            sempurna dalam jumlah maupun kualitas.
di Jawa Timur.
    Masalah internal tersebut adalah skor
kondisi tubuh induk rendah; daya beli peternak          Kondisi reproduksi induk sapi potong
untuk straw-straw berkualitas tinggi (elite
straw) rendah; rendahnya kualitas nutrisi                   Kondisi reproduksi induk sapi potong pada
ransum untuk sapi-sapi hasil IB setelah lepas           peternak di wilayah sentra perbibitan maupun
sapih atau setelah umur 4 bulan; masih adanya           di wilayah pengembangan sapi potong
sapi-sapi jantan dewasa yang berfungsi sebagai          menunjukkan bahwa status reproduksinya
pejantan untuk kawin alam (pemacek) di                  normal, yaitu tidak mengalami keguguran,
wilayah IB; sapi-sapi hasil IB tidak seragam            distosia, dan telah mengalami beranak, namun
performance-nya; kurangnya pengadaan serta              S/C dari induk-induk tersebut baik pada
disiplinnya pengisian kartu IB untuk setiap sapi        perkawinan secara kawin alam (menggunakan
akseptor IB dan tidak adanya pencatatan                 pejantan setempat) maupun IB tampaknya
individu sapi (sistem recording) untuk sapi-            lebih dari dua kali kawin.

Tabel 3. Kondisi reproduksi induk sapi potong di peternak wilayah sentra perbibitan dan pengembangan sapi
         potong di Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Bali
                                                                  Lokasi survei
 Parameter
                                         Jawa Timur      Jawa Tengah    DI Yogyakarta         Bali
 Daerah sentra
   Normal (%)                                100              100                100          100
   Tidak normal (%)                            0                0                    0          0
   S/C
         IB                                1,7 ± 0,3        2,0 ± 1,0         2,5 ± 0,9     1,3 ± 0,3
         Kawin alam                        1,6 ± 0,3        1,4 ± 0,6         2,3 ± 0,6     1,4 ± 0,4
 Daerah pengembangan
   Normal (%)                                100              100                100          100
   Tidak normal (%)                            0                0                    0          0
   S/C
      IB                                   2,0 ± 0,6        1,9 ± 1,2         2,2 ± 0,6     1,2 ± 0,4
      Kawin alam                           1,8 ± 0,3        1,9 ± 1,6         2,3 ± 0,6     1,3 ± 0,5

S/C = Service per conception




172
                                     Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006




    Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa kondisi                               Hasil S/C IB dan kawin alam di wilayah sentra
reproduksi induk (normal/tidak normal, S/C) di                             dan pengembangan adalah sama yaitu tertinggi
empat wilayah (Jawa Timur, Jawa Tengah, DI                                 DIY dan terendah Bali. Hasil S/C dipengaruhi
Yogyakarta dan Bali) cara perkawinan secara                                oleh beberapa hal antara lain adalah kualitas
kawin alam (menggunakan pejantan setempat)                                 pejantan atau straw yang disuntikkan, keahlian
maupun IB tampaknya lebih dari dua kali                                    inseminator, dan deteksi birahi yang tepat.
kawin sampai ternak tersebut bunting. Dengan
demikian kondisi induk di peternak apabila
dipandang dari keabnormalan reproduksinya                                  Akseptor IB
masih dalam batas sehat/normal. Hal ini
dikarenakan induk sapi pernah beranak                                          Pada Gambar 1 dan 2 tentang tingkat
sehingga dapat diartikan bahwa induk memiliki                              kelompok akseptor IB di wilayah sentra yang
aktivitas reproduksi yang normal. Namun S/C                                banyak pemulanya di DI Yogyakarta (47,8%)
yang masih tinggi akan sangat mempengaruhi                                 tertinggi, Jawa Tengah (2,4%) terendah dan
calving interval yang berkepanjangan.                                      lanjutan di Jawa Tengah (97,6%) tertinggi, DI
    Servis per konsepsi (S/C) yang lebih dari                              Yogyakarta (52,2%) terendah. Pada wilayah
1,6 kali dan saat mulai mengawinkan sapi                                   pengembangan yang banyak pemulanya adalah
perah induk yang lebih dari 50 hari setelah                                Jawa Timur (35,9%) tertinggi, DI Yogyakarta
beranak akan berakibat pada jarak beranak                                  (4,2%) terendah dan lanjutan di DI Yogyakarta
(calving interval) yang lebih panjang dari 365                             (95,8%) tertinggi, Jawa Timur (64,1%)
hari (SORI dan RAYS, 1992). Tingginya kawin                                terendah.
berulang baik melalui kawin kawin alam atau                                    Pada kedua wilayah tersebut yaitu sentra
                                                                           dan pengembangan tingkat kelompok akseptor
IB dan angka kebuntingan < 60% dapat
                                                                           IB sangat tergantung pada kondisi lingkungan
menyebabkan panjangnya calving interval
                                                                           masing-masing wilayah.
(AFFANDHY et al., 2004; YUSRAN et al., 2001).

       100
         90
                                                                                                       Jatim
         80                                                                                            Jateng
                                                      97.6




                                                                                                       DIY
         70                                                                                            Bali
                                                                    78.6




         60
         50
                                               62.4




         40
                                                             52.2




         30
                              47.8
                37.6




         20
                                      21.4
                        2.4




         10
          0
                       Pemula                     Mainded


Gambar 1. Akseptor IB sapi potong di peternak wilayah sentra perbibitan sapi potong di Jawa Timur,
          Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Bali




                                                                                                                     173
                                        Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006




       100
        90                                                                                            Jatim
                                                                                                      Jateng
        80                                                                                            DIY
                                                                                                      Bali




                                                            95.8
        70
        60




                                                     83.8



                                                                   83.3
        50
        40


                                             64.1
        30
             35.9




        20
                           4.2
                    16.2




        10
                                 16.7




         0
                    Pemula                          Mainded




Gambar 2. Akseptor IB sapi potong di peternak wilayah pengembangan sapi potong di Jawa Timur,
          Jawa Tengah DI Yogyakarta dan Bali


        KESIMPULAN DAN SARAN                                                           DAFTAR PUSTAKA

   Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas,                              AFFANDHY, L., D. PAMUNGKAS, P.W. PRIHANDINI,
                                                                              W.C. PRATIWI, D.B. WIJONO, P. SITUMORANG,
dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
                                                                              T. SUSILOWATI, HARTATI. 2005. Peningkatan
1.    Pola perkawinan sapi potong diwilayah                                   Produktivitas Sapi Potong Melalui Efisiensi
      sentra maupun pengembangan didominasi                                   Reproduksi. Laporan Penelitian. Loka
                                                                              Penelitian Sapi Potong.
      > 20,7% IB, tetapi di Bali di wilayah
      pengembangan didominasi oleh kawin                                  AFFANDHY, L., D. PAMUNGKAS. MARIYONO dan
      alam. Namun demikian S/C di kedua                                       P. SITUMORANG. 2004. Efisiensi Penggunaan
      wilayah tersebut tidak menunjukkan                                      Semen Cair Melalui Suplementasi Mineral Zn
                                                                              dan Vitamin E pada Sapi Potong. Laporan
      perbedaan.
                                                                              Penelitian. Loka Penelitian Sapi Potong.
2.    Pola perkawinan di wilayah sentra dan                               HASTONO, I-W. MATHIUS, E. HANDIWIRAWAN, I-
      pengembangan dipengaruhi oleh faktor                                    GEDE PUTU dan P. SITUMORANG. 2000.
      internal    peternak      dan eksternal                                 Penampilan Anak Sapi Keturunan Brang-Bal
      (inseminator/dinas terkait).                                            di NTB. Pros. Seminar Nasional Peternakan
                                                                              dan Veteriner. Bogor, 18 – 19 September
                                                                              2000.    Puslitbang  Peternakan,   Bogor.
                           SARAN                                              hlm. 80 – 85.
                                                                          SORI, B. dan .K. RAYS. 1992. Dampak Jarak
    Guna meminimalkan tingginya kawin                                          Beranak api Perah Induk Terhadap
berulang dan selang beranak, perlu adanya                                      Pendapatan Peternak Sapi Perah. J. Ilmu dan
pemantapan program IB secara teknis yang                                       Peternakan. Balai Penelitian Ternak.
disesuaikan dengan kondisi agroekosistem dan
                                                                          YUSRAN, M.A., L. AFFANDHY dan SUYAMTO. 2001.
sosial budaya baik di wilayah sentra maupun                                   Pengkajian Keragaan, Permasalahan dan
pengembangan.                                                                 Alternatif Solusi Program IB Sapi Potong di
                                                                              Jawa Timur. Pros. Seminar Nasional Teknologi
                                                                              Peternakan dan Veteriner. Bogor, 17 – 18
                                                                              September 2001. Puslitbang Peternakan,
                                                                              Bogor. hlm. 155 – 167.




174
                        Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005




                                              DISKUSI

Pertanyaan:

Bagaimana penerapan studi ini dengan rencana Dirjen untuk meningkatkan IB?

Jawaban:

Perlu diperbaiki infrastrukturnya supaya program IB dapat berhasil seperti yang diharapkan oleh
Dirjen.




                                                                                           175

								
To top