Docstoc

TELKOM dalam tinjauan CSR dan Etika Bisnis

Document Sample
TELKOM dalam tinjauan CSR dan Etika Bisnis Powered By Docstoc
					TELKOM : Dalam Tinjauan Etika Bisnis dan Corporate Social Responsibility By : Sugeng Yunainto Corporate Social Responsibility telah mengalami berbagai masa transformasinya dari yang semula dianggap sebagai beban biaya bagi suatu perusahaan menjadi sumber daya yang sangat penting. Proses tersebut tidak terjadi secara instan melainkan dalam sebuah hitungan dekade dan terus mengalami perkembangan baik dari segi teoritis maupun praktikal. Jika dahulu banyak perusahaan mengamini pendapat Friedman (1970) bahwa memasukkan tanggung jawab lain bagi perusahaan merupakan kesalahan, „kewajiban tradisional‟ perusahaan dalam mencari laba sebanyak-banyaknya menjadi prioritas utama. Perkembangan dewasa ini konsep tersebut telah bergeser setelah teori pemangku kepentingan yang diperkenalkan oleh Edward Freeman semakin populer dimana dalam teori tersebut dikatakan bahwa semakin banyak pemangku kepentingan yang dipuaskan oleh suatu perusahaan, maka kemungkinan untuk sukses bagi perusahaan tersebut akan semakin besar. Tokoh-tokoh populer lainnya seperti Philip Kotler, Michael Porter juga turut memberikan dorongan dalam perkembangan CSR melalui teori-teori manajerialnya. Perkembangan CSR di Indonesia memang belum bisa disejajarkan dengan USA atau Jerman yang bisa dikatakan sudah dalam taraf „sadar‟ CSR dimana prosentase perusahaan yang melaksanakan CSR melebihi prosentase yang tidak melaksanakan CSR. CSR di Indonesia berkembang dengan berbagai kompleksitasnya yang berbenturan dengan konstrain-konstrain yang ada. Salah satunya adalah regulasi yang tidak kondusif terutama bagi perusahaan yang menyandang status sebagai BUMN. Berbicara dengan kacamata yang lebih mikro, PT Telkom Tbk (Telkom) sebagai salah satu BUMN terbesar di Indonesia juga mengalami dilema yang sama dimana tuntutan untuk melaksanakan CSR terkendala berbagai regulasi „luar biasa‟ berupa aturan yang dikeluarkan oleh Menteri Megara BUMN yaitu berupa kewajiban melaksanakan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Namun ternyata Telkom bisa dinilai sukses dalam melaksanakan program CSRnya tanpa menyalahi regulasi yang mengikat tersebut.

Regulasi CSR BUMN Sudah banyak polemik berkembang mengenai CSR apakah menjadi sesuatu yang

„wajib‟atau „sukarela‟. Munculnya sebuah regulasi yang mengatur mengenai CSR berdasar pada ketidakpercayaan bahwa perusahaan akan melakukan CSR jika tidak „dipaksa‟. Pihak yang pro terhadap keberadaan regulasi menyatakan bahwa belum semua perusahaan melakukan CSR sehingga perlu adanya payung hukum dan standar dalam implementasinya. Sedangkan pihak yang kontra lebih menganggap CSR bersifat discretionary yang jika tidak dilakukan perusahaan yang akan mengalami kerugian akibat dampak sosial yang muncul sehingga regulasi tidak diperlukan. Dalam sebuah artikel di lingkar studi CSR jalal mengemukakan bahwa pada kenyataannya berbagai regulasi yang mengatur kinerja sosial dan lingkungan perusahaan adalah berasal dari upaya kolektif perusahaan, kumpulan perusahaan, pemerintah, organisasi masyarakat sipil dan juga organisasi multilateral. Namun konsultasi publik yang minim menjadikan regulasi CSR sulit diterima karena tidak memenuhi pengetahuan dasar yang benar. Dalam pasar 2 UU Nomor 19/2003 dinyatakan, secara hukum BUMN memiliki tujuan pendirian bukan saja untuk mengejar keuntungan, melainkan juga “ turut aktif memberikan bimbingan danbantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat”. Lebih detail lagi dicantumkan dalam Kep-236/MBU/2003 yang menyatakan BUMN wajib menjalankan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang biayanya diperoleh dari penyisihan sebagian laba bersih perusahaan. Regulasi tersebut membuat realisasi CSR arus utama menjadi semakin sulit bagi perusahaan BUMN karena tidak sejalan dengan bisnis inti perusahaan. PKBL juga tidak bisa serta merta dianggap sebagai CSR secara holistik karena beberapa hal, menurut beberapa pakar, entitas perusahaan dianggap melakukan CSR dengan baik apabila terlebih dahulu mengupayakan minimalisasi dampak negatif dan dilanjutkan memaksimalkan dampak positif (manajemen dampak), sedangkan aturan pelaksanaan PKBL tidak menyinggung mengenai hal tersebut. PKBL juga hanya ditujukan pada bagian kecil pemangku kepentingan eksternal padahal seharusnya CSR ditujukan inside-out dengan memperhatikan kepentingan para pemangku kepentingan internal terlebih dahulu. Selain

beberapa hal tersebut, dasar pengeluaran dana PKBL oleh BUMN adalah laba bersih yang dibukukan tahun sebelumnya, cara pandang after profit tersebut menyalahi karakteristik CSR yang benar dimana aktifitas CSR seharusnya before profit sehingga CSR harus dilaksanakan terlepas dari untung atau tidaknya fase modal perusahaan.

Telkom menyikapi regulasi CSR BUMN Regulasi yang tidak kondusif sebagaimana dipaparkan sebelumnya memberikan kesulitan bagi beberapa perusahaan BUMN untuk bisa menjalankan CSR yang sesuai dengan bisnis inti perusahaan. Alasan mengapa CSR harus sejalan dengan bisnis inti sangatlah jelas yaitu terkait dengan manajemen dampak. Best practice dan pengalaman dalam jangka waktu yang panjang bisa meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul, dengan pendekatan yang sama pula dampak positif yang ada juga bisa lebih dimaksimalkan. Telkom yang sudah menjadi pemain lama dalam bisnis telekomunikasi tentu saja lebih ahli dalam menangani CSR di bidang tersebut. Kembali kepada manajemen dampak, dampak negatif operasional Telkom yang nyata adalah adanya kesenjangan digital (digital divide). Kesenjangan digital terjadi karena beberapa hal. Salah satunya adalah biaya telekomunikasi yang masih tergolong mahal. Meskipun saat ini sudah terjadi pergeseran kebutuhan telekomunikasi menjadi basic needs, namun tidak semua lapisan masyarakat bisa mendapatkan akses tersebut. Masyarakat yang berada di perkotaan misalnya, meskipun sudah berada dalam kawasan yang terjangkau jaringan telekomunikasi, namun tidak semua lapisan bisa memanfaatkannya karena tingginya pengorbanan biaya untuk bisa menikmatinya. Hal lainnya adalah kondisi geografis di negara Indonesia yang menyebabkan penggelaran infrastruktur

telekomunikasi bukanlah hal yang murah dan mudah sehingga tidak semua daerah bisa terjangkau dan mendapatkan akses telekomunikasi. Upaya yang dilakukan Telkom dalam menjembatani kesenjangan digital tersebut sebagai bentuk CSR yang selaras dengan bisnis inti antara lain tertuang dalam komitmen laporan berkelanjutan 2008 sebagai berikut “Melalui program CSR-nya, Telkom berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan kepada masyarakat umum, menambah akses untuk

mendapatkan layanan informasi melalui internet dan menciptakan masyarakat berbasis

informasi yang tidak hanya mendukung pertumbuhan dan perkembangan negeri ini, tapi juga meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia secara berkelanjutan.”. Untuk itu Telkom mengembangkan dua program yaitu : (1) Mewujudkan masyarakat digital dan (2)Mendukung perkembangan masyarakat yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan masyarakat digital beberapa program tingkat nasional dilakukan oleh Telkom antara lain program Akses internet dan Indigo Ceative. Program akses internet yang dilakukan Telkom antara lain : a) Internet Goes to School (IGTS) b) Education for Tomorrow (E4T) c) Desa Digital d) Broadband Learning Centre Internet Goes to School adalah upaya Telkom untuk menumbuhkan komunitas internet dengan cara memberikan fasilitas internet ke Sekolah dan melakukan pelatihan internet sehingga bisa merapatkan kesejangan digital. Sedangkan Education for tomorrow adalah program penyiapan metode pendidikan masa depan dengan menggunakan teknologi informasi untuk seluruh aktifitas pendidikan di sekolah. Desa digital adalah bentuk program yang serupa hanya saja sasarannya ditujukan ke daerah pedesaan, sedangkan broadband learning centre ditujukan untuk pembelajaran ke komunitas. Program Indigo kependekan dari Indonesian Digital Community adalah program untuk membantu industri kreatif di Indonesia, fokusnya untuk meneliti dan menyalurkan kemampuan wirausaha dalam bidang GAME (Game, Animation, Music, Edutainment). Dengan program-program tersebut diharapkan bisa mewujudkan masyarakat dan mengembangkan masyarakat digital di Indonesia. Upaya mendukung perkembangan masyarakat berkelanjutan Telkom berinisiatif melakukan kegiatan filantrofik maupun pelayanan. Disinilah Telkom memposisikan dirinya sebagai BUMN yang memiliki kewajiban melaksanakan PKBL sesuai dengan regulasi yang berlaku. Berikut ini beberapa contoh kegiatan yang dilakukan di berbagai bidang : a) Pendidikan : Melalui Yayasan Pendidikan Telkom (YPT) Telkom mendirikan Institut Teknologi Telkom (ITT), Institut Manajemen Telkom (IMT),Pltek Telkom, program Co-Op dan magang Industri.

b) Kesehatan : melalui sumbangan fasilitas kesehatan di berbagai daerah. c) Kebudayaan dan Olah Raga : Sponsor Tour ISSI (Ikatan Sepeda Seluruh Indonesia). d) Kemitraan : Bantuan dan dukungan financial bagi UKM melalui pinjaman lunak, pelatihan serta dukungan pemasaran. e) Bina Lingkungan : Penghijauan dan penanaman kembali, perbaikan fasilitas umum, teknologi ramah lingkungan. Itulah beberapa hal yang berkaitan dengan CSR Telkom, dalam implementasinya kebijakan CSR berada dibawah kendali korporat dan operasionalnya berada di regional di bawah divisi Community Development Center. Konklusi Telkom bisa dikatakan berhasil dalam implementasi CSR dengan membuat program yang sesuai dengan bisnis inti sehingga hasil yang didapat bisa maksimal, selain itu konsep pembangunan berkelanjutan dan tripple bottom line berhasil diadopsi dengan baik sehingga membawa dampak nyata bagi citra positif perusahaan di dunia bisnis. Namun hal ini bukan berarti regulasi yang tidak kondusif sama sekali tidak memberikan hambatan maupun dampak negatif. BUMN lain mungkin sangat kesulitan menjalankan CSR arus utama dengan adanya regulasi tersebut dan bisa jadi terjerat dalam praktek greenwashing. Dalam entitas yang lebih besar yaitu negara, regulasi seharusnya dibuat dengan itikad baik untuk mendukung perkembangan CSR di Indonesia sehingga bisa dibuat lebih adaptif sesuai dengan konsep CSR sendiri yang sampai saat ini terus mengalami evolusi sesuai dengan perkembangan jaman.

Daftar Pustaka http://e4t.belajarbersama.net/ www.csrindonesia.com Rahman, Reza. 2009 Corporate Social Responsibility : antara teori dan kenyataan. Medpress www.telkom-indonesia.com