I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Document Sample
scope of work template
							                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



                                       I. PENDAHULUAN


1.      Latar Belakang


        Program pembangunan pertanian yang berorientasi pada sistem dan
usaha agribisnis, pada pokoknya harus dikembangkan agar sesuai dengan
proses pergeseran mendasar dari masyarakat tradisional/ subsisten menjadi
masyarakat modern berbasis pertanian yang merupakan rangkaian upaya untuk
memfasilitasi, melayani dan mendorong berkembangnya usaha pertanian secara
komersial untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani.
Upaya-upaya          pembangunan            pertanian       tersebut      dilaksanakan   dengan
pendekatan sistem dan usaha agribisnis yang berarti mencakup upaya-upaya
pada keseluruhan subsistem agribisnis yang meliputi subsistem hulu yang
termasuk di dalamnya adalah sarana produksi pertanian (agrokimia, sarana alsin
pertanian, perbenihan/ pembibitan); subsistem produksi pertanian ( budidaya
tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan); dan subsistem
hilirnya yang termasuk diantaranya pengolahan, pemasaran dan distribusi hasil
pertanian serta sub sistem jasa pendukungnya
        Penerapan dan pengembangan sarana alat mesin pasca panen dalam
mendukung pembangunan agroindustri dan agribisnis mempunyai peranan yang
sangat penting dalam rangka meningkatkan efisiensi, produktivitas dan
perbaikan mutu hasil pertanian. Sarana alat mesin pasca panen merupakan
salah satu masukan teknologi yang mendukung pengembangan sistem dan
usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan
terdesentralisasi, dimana keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat
tani di pedesaan.
        Peranan sarana alat dan mesin pasca panen adalah meningkatkan nilai
tambah dan mutu hasil pertanian dengan memperbaiki penanganan pasca
panen hasil pertanian.
        Sarana alat dan mesin pasca panen kini telah menjadi kebutuhan dasar
dalam mendukung keberhasilan pembangunan agroindustri dan agribisnis


Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian            1
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



nasional. Hal tersebut terkait dengan upaya peningkatan produksi, menurunkan
kehilangan hasil dan meningkatkan efisiensi usaha agribisnisnya. Dalam rangka
akselerasi pengembangan alat dan mesin pasca panen tersebut, pemerintah
telah mengembangkan berbagai kebijakan yang mendukung, salah satu
diantaranya melalui pengembangan Usaha Pelayanan Jasa Alat Mesin (UPJA) di
bidang pasca panen dan Lumbung Desa Modern (LDM)
        Pelayanan jasa alat mesin pasca panen (UPJA/LDM) sebagai suatu
usaha bisnis sangat terkait dengan peningkatan kinerja usaha agribisnis,
terutama dalam hal kelancaran penyediaan sarana, bahan baku dan mutu hasil
pertanian.       Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan suatu bentuk
pengembangan usaha jasa alat mesin pasca panen yang melibatkan
perusahaan/ industri pengolahan pangan guna menjalin kerjasama yang sinergis
dalam meningkatkan kinerja usaha pelayanan jasa alat mesin pasca panen dan
perbengkelan. Bila memungkinkan atau bila tidak terdapat UPJA/ LDM di sekitar
perusahaan/ industri pengolahan pangan, maka perusahaan tersebut dapat
mengembangkan usaha jasa alat mesin dan bengkel secara mandiri.
        Kemitraan antara perusahaan/ industri pengolahan pangan dengan usaha
pelayanan jasa alat mesin pasca panen perlu dilakukan untuk mendorong
pengembangan dan mengoptimalkan kinerja usaha jasa alat mesin melalui
penyediaan peralatan dan mesin, perbaikan alat dan suku cadang serta
bimbingan teknis dan manajemen usaha jasa alat mesin pasca panen di suatu
wlayanh/ daerah. Dengan berkembangnya usaha jasa alat mesin pasca panen
diharapkan dapat mempercepat alih teknologi kepada masyarakat tani,
menciptakan        lapangan       kerja,     meningkatkan         nilai    tambah,   memperbaiki
penanganan panen dan pasca panen, menurunkan kehilangan hasil dan
perbaikan mutu hasil yang pada akhirnya akan berdampak kepada peningkataan
kinerja dari perusahaan/ industri pengolahan pangan serta terbentuknya proses
industrialisasi dalam menunjang pembangunan agroindustri di pedesaan.




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian             2
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



2.      Pengertian


        Untuk menyamakan persepsi, dalam pedoman pengelolaan UPJA/ LDM,
digunakan beberapa istilah antara lain :
a.      Sarana alat mesin pasca panen
        Adalah peralatan dan mesin yang dioperasionalkan dengan motor
        penggerak maupun tanpa motor penggerak untuk kegiatan penanganan
        pasca panen yaitu mulai saat panen sampai dengan menyiapkan bahan
        baku untuk industri.
b.      UPJA pasca panen/ LDM
        Adalah suatu unit usaha yang mengusahakan pelayanan jasa alat mesin
        pasca panen seperti alat pemanen (reaper), alat perontok (thrseser), alat
        pengering (dryer), penggilingan padi (RMU), dan lain-lain. Fungsi UPJA/
        LDM      adalah      melakukan        kegiatan      ekonomi       dalam      bentuk   usaha
        penyewaan jasa alat mesin pasca panen. UPJA/ LDM sebagai lembaga
        ekonomi pedesaan harus melaksanakan optimalisasi penggunaan alat
        mesin tersebut guna mendapatkan keuntungan usaha, dan dikelola
        berdasarkan skala ekonomi yang berorientasi pasar dan didukung oleh
        sumberdaya manusia yang professional.
c.      Asosiasi UPJA/ LDM
        Merupakan perkumpulan pengusaha-pengusaha UPJA/ LDM yang
        bersifat sosial untuk meningkatkan kinerja anggotanya menuju ke arah
        hasil guna dalam pengelolaan sarana alat mesin pasca panen sehingga
        dapat meningkatkan pendapatan daan kesejahteraan para anggotanya.
d.      UPJA/ LDM Profesional
        Adalah UPJA/ LDM dan kelembagaannya yang dikelola oleh manajer
        UPJA/       LDM      secara      professional       dengan       memperhatikan        prinsip
        profesionalisme yang dicirikan dengan berorientasi bisnis yang sehat
        secara teknis, ekonomi dan sosial layak, menguntungkan, berkelanjutan
        serta berdasarkan pada prinsip kemitraan yang saling membutuhkan,
        saling memperkuat dan saling menguntungkan.


Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian                 3
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



e.      Jenis alat mesin pasca panen
        Jenis-jenis alat mesin pasca panen yang dapat dioperasionalkan oleh
        UPJA/ LDM Padi adalah sebagai berikut :
        1.       Alat mesin pemanen (reaper)
        2.       Alat mesin perontok (thresher)
        3.       Alat mesin pembersih (cleaner)
        4.       Alat mesin penggilingan padi (RMU)
        5.       Alat mesin pengering (drier)
        6.       Alat mesin pemisah (grader)
        7.       Alat mesin pengarungan (bag closer)
        8.       Alat mesin pengemas
        9.       dan lain-lain


3.      Manfaat
        Diharapkan Pedoman Umum Pengelolaan Usaha Pelayanan Jasa Alat
Mesin Pasca Panen ini dapat menjadi acuan bagi petani/ kelompok tani atau
gabungan kelompok tani, dan pengusaha UPJA/ LDM dalam pengelolaan jasa
alat mesin pasca panen sehingga terjadi penurunan kehilangan hasil dan
peningkatan jumlah maupun mutu hasil melalui pemanfaatan jasa sarana alat
mesin pasca panen yang optimal, efektif dan efisien.


II.     PEMBENTUKAN UPJA/ LDM


        Model yang diterapkan adalah dengan menggunakan perusahaan UPJA/
LDM yang dibina oleh Direktorat Penanganan Pasca Panen, Direktorat Jenderal
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Jakarta dan Dinas Pertanian
Propinsi/ Kabupaten/ Kota, sebagai pusat atau titik awal dari pengembangaan
agribisnis perberasan di daerah. UPJA/ LDM ini disamping sebagai penyedia
sarana alat mesin pasca panen juga diharapkan dapat menyediakan suku
cadang dan melakukan perawatan alat mesin pasca panen tersebut. Sehingga
diharapkan berfungsi sebagai motor penggerak kelembagaan UPJA/ LDM di


Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   4
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



daerah. Disamping itu juga berfungsi sebagai penghubung dengan pihak
lembaga keuangan/ bank (pemilik modal) untuk mendapatkan modal kerja/
kredit. UPJA/ LDM diharapkan dapat bermitra dengan petani/ kelompok tani
sebagai pengguna jasa alat mesin pasca panen dalam kawasan agribisnis.
UPJA/ LDM ini diharapkan dapat berkembang menjadi usaha yang berbadan
hukum seperti Badan Usaha Milik Petani (BUMP), Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD), Koperasi atau Perusahaan Persero (PT).


III.    OPERASIONALISASI UPJA/ LDM


        Jenis dan jumlah sarana alat mesin pasca panen pada setiap UPJA/ LDM
sangat tergantung pada kemampuan dari pengelola dan kebutuhan sarana alat
mesin pasca panen tersebut di suatu wilayah/ daerah. Jenis sarana alat mesin
pasca panen yang diperlukan oleh pengusaha UPJA/ LDM disesuaikan dengan
kondisi dan kebutuhan wilayah/ daerah setempat. Sedangkan jumlah sarana alat
mesin pasca panen yang akan dikelola oleh UPJA/ LDM diarahkan agar
mencapai skala ekonomi yang optimum. Operasionalisasi UPJA/ LDM dilakukan
melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut :


1.      Persiapan


a.      Identifikasi
        Dalam rangka menumbuhkembangkan UPJA/ LDM, harus diawali dengan
        identifikasi untuk mengumpulkan data-data sebagai dasar dari kegiatan
        selanjutnya. Identifikasi UPJA/ LDM dan kelembagaan pendukung,
        meliputi identifikasi tentang :
        1)       Luas wilayah, produksi dan kondisi spesifik lokasi penumbuhan/
                 pengembangan
        2)       Populasi sarana (jenis dan jumlah sarana alat mesin pasca panen)
                 yang ada (masih operasional).




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   5
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



        3)       Jumlah UPJA/ LDM yang ada dan rencana pembentukan UPJA/
                 LDM baru
        4)       Jumlah bengkel (jenis usaha bengkel, kepemilikan asset)
        5)       Jumlah petani/ kelompoktani/ gabungan kelompok tani/ kecamatan
                 pasca panen pengguna sarana alat mesin pasca panen
        6)       Pola tanam dan panen serta jumlah produksinya
        7)       Pemasaran


b.      Penyusunan Pedoman Kerja UPJA/ LDM
        Penyusunan Pedoman Kerja UPJA/ LDM disusun untuk menentukan
        rencana kerja pelayanan UPJA/ LDM kepada kelompok tani/ petani
        pengguna alat mesin pasca panen di suatu wilayah/ daerah.


c.      Koordinasi Kelembagaan
        Koordinasi kelembagaan dilakukan dengan mengadakan pertemuan yang
        dihadiri petani/ kelompoktani, manajer UPJA/ LDM, pemilik bengkel,
        lembaga permodalan/ bank dan penyuluh/ petugas pertanian setempat
        serta diikuti dengan penyiapan petunjuk pelaksanaan, pelatihan atau
        bimbingan teknis dan manajemen serta penyediaan sarana permodalan/
        bank dan lain-lain.


2.      Penetapan Kriteria


a.      Lokasi
        1)       Dipilih kabupaten/ kecamatan sentra produksi pertanian
        2)       Dari kabupaten/ kecamatan bersangkutan dipilih desa (wilayah
                 sentra) yang memiliki populasi alat mesin pasca panen yang
                 terbanyak
        3)       Harus memiliki bengkel/ pengrajin alat mesin pasca panen.




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   6
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



b.      Kelembagaan UPJA/ LDM
        1)       Memiliki sarana alat mesin pasca panen sesuai kebutuhan.
        2)       Telah memiliki pelayanan jasa alat mesin pasca panen di lokasi
                 tersebut
        3)       Memiliki organisasi, minimal ada seorang pemilik (manajer) dan
                 ada operator yang mengoperasikan alat mesin pasca panen yang
                 bersangkutan
        4)       Manajer dan operator memiliki sikap untuk memajukan UPJA/ LDM
                 tersebut.


c.      Kelembagaan Pendukung
        1)       Terdapat       bengkel       yang      dapat      berfungsi         sebagai   tempat
                 memproduksi/ merakit sarana alat mesin pasca panen, perawatan
                 dan perbaikan alat mesin pasca panen di lokasi bersangkutan.
                 Bengkel/ pengrajin alat mesin tersebut dapat berupa bengkel milik
                 BUMN/ BUMD atau BUMP (Badan Usaha Milik Petani), koperasi
                 maupun bengkel / pengrajin swasta.
        2)       Terdapat lembaga permodalan/ bank minimal di kabupaten yang
                 bersangkutan
        3)       Terdapat penyuluh/ petugas pertanian di lokasi bersangkutan
                 sebagai pendamping/ pembina lapangan.


3.      Pelatihan


        Pelatihan dan uji coba dilakukan setelah peralatan mesin pasca panen
diterima oleh pengelola UPJA/ LDM baik yang berasal dari bantuan dana
dekonsentrasi, APBD maupun yang dibeli langsung oleh kelompok UPJA/ LDM
sendiri. Pada tahap ini peran Dinas Pertanian Propinsi dan Kabupaten/ Kota
sangat menentukan keberhasilan pengelolaan sarana alat mesin pasca panen
oleh UPJA/ LDM. Melalui pelatihan ini diharapkan dapat dihasilkan SDM UPJA/
LDM yang profesional.


Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian                  7
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM




        Tujuan Pelatihan/ workshop UPJA/ LDM ini adalah untuk meningkatkan
kemampuan dan keterampilan peserta pelatihan (manajer dan operator UPJA/
LDM) dimana materi pelatihan meliputi kelompok teknis operasional, bisnis dan
manajemen usaha serta pengoperasian alat mesin pasca panen secara bisnis,
dengan rincian sebagai berikut :


a.      Kelompok teknis operasional
        1)       Teknis pengoperasian sarana alat mesin pasca panen
        2)       Cara-cara perawatan dan perbaikan sarana alat mesin pasca
                 panen


b.      Kelompok bisnis
        1)       Analisis ekonomi penggunaan sarana alat mesin pasca panen
        2)       Pembukuan usaha jasa sarana alat mesin pasca panen
        3)       Sumber permodalan usaha
        4)       Promosi jasa sarana alat mesin pasca panen


c.      Kelompok manajemen usaha
        1)       Perencanaan usaha jasa sarana alat mesin pasca panen
        2)       Pengorganisasian usaha
        3)       Kerjasama usaha/ kemitraan usaha
        4)       Kewirausahaan


d.      Pengoperasian alat mesin pasca panen secara bisnis
                 Dalam pelaksanaan usaha pelayanan jasa alat mesin pasca panen
        perlu dilakukan melalui penerapan sistem manajemen usaha secara
        benar.      Setiap kelompok UPJA/ LDM harus berusaha untuk mencapai
        kapasitas kerja optimal dengan cara bekerjasama/ bermitra dengan
        petani/ kelompok tani/ Forum Kecamatan Pasca Panen di daerah.




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   8
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



        Peserta pelatihan adalah operator, kelompok tani/ petani pengguna dan
pengelola UPJA/ LDM, dengan perincian sebagai berikut :


a.      Operator :
        1)       Operator sarana alat mesin pasca panen pada UPJA/ LDM dan
                 pemilik bengkel yang ada di lokasi setempat meskipun terdapat
                 jenis     bengkel        yang      beragam,         bengkel         tersebut     dapat
                 dikelompokkan untuk dilatih/ di bimbing.
        2)       Materi pelatihan utama adalah cara penggunaan yang benar,
                 perawatan dan perbaikan alat mesin pasca panen.
        3)       Jika ada kesempatan, pemilik bengkel ini                      dilatih untuk dapat
                 merakit/ membuat alat mesin pasca panen sendiri.


b.    Kelompok UPJA
      1)     Tujuan pelatihan adalah untuk meningkatkan kemampuan dan
             keterampilan SDM pengelola UPJA/ LDM
      2)     Peserta pelatihan adalah manajer dan operator
      3)     Materi pelatihan meliputi bidang teknis, ekonomis, manajemen usaha
             alat mesin pasca panen


c.    Kelompok tani/ petani :
      1)     Semua kelompok tani/ petani yang ada di lokasi setempat perlu
             diberikan       pengetahuan         tentang       pentingnya       arti    penggunaan/
             pemanfaatan alat mesin pasca panen.
      2)     Materi      yang     diberikan      antara     lain   adalah      analisis    rugi    laba
             penggunaan alat mesin pasca panen dalam mendukung operasional
             usaha agribisnisnya




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian                    9
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



4.      Penumbuhan UPJA/LDM


        Untuk menumbuhkan UPJA/ LDM, maka perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
a.      Bila di lokasi terpilih belum ada UPJA/ LDM, maka perlu dibentuk UPJA/
        LDM baru
b.      Bila di lokasi terpilih telah ada UPJA/ LDM maka alokasi alat mesin pasca
        panen diarahkan kepada UPJA/ LDM yang telah ada dengan menambah
        alat mesin pasca panen tambahan agar sejauh mungkin jumlah alat mesin
        dapat memenuhi kebutuhannya baik jumlah maupun kapasitasnya.
c.      Penetapan UPJA/ LDM yang dipilih berdasarkan pada jumlah alat mesin
        pasca panen yang sudah ada untuk lokasi tersebut dan juga disesuaikan
        dengan luas hamparan atau produksi di lokasi yang terpilih.
d.      Bila di lokasi hamparan atau sentra produksi yang terpilih kurang
        memadai, maka pembentukan UPJA/ LDM disesuaikan dengan kondisi
        lapangan.


IV. KELEMBAGAAN UPJA/ LDM


        Dalam operasionalisasinya, koordinasi kelembagaan UPJA/ LDM adalah
sebagai berikut :
f.      Melakukan pertemuan secara berkala yang dihadiri petani/ kelompok tani,
        manajer UPJA/ LDM, pemilik bengkel dan penyuluh/ petugas pertanian
        setempat
g.      Menyiapkan petunjuk pelaksanaan
h.      Memberi pelatihan dan pembinaan/ pendampingan
i.      Memfasilitasi permodalan melalui lembaga keuangan (bank, koperasi,
        perusahaan swasta dan sebagainya).


        Kekuatan kelembagaan di dalam sistem pengelolaan UPJA/ LDM harus
berorientasi pada :


Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   10
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM




a.      Profesionalisme dalam pengelolaan usaha yang harus benar-benar
        dilandasi ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan dan sikap mental
        para pengelola
b.      Skala ekonomi menjadi pertimbangan guna mendapatkan keuntungan
        usaha yang layak guna menjamin keberlanjutan usahanya
c.      Berorientasi pasar dalam usahanya
d.      Tumbuh dari bawah (bottom up) karena tuntutan pasar
e.      Berkembang secara mandiri serta mampu beradaptasi dengan kondisi
        sosial setempat.


        Kelembagaan UPJA/ LDM dapat diwujudkan menjadi pelaku ekonomi
yang kuat di daerah, sebagai pilar penopang dan sekaligus sebagai motor
penggerak pembangunan agribisnis dan agroindustri di daerah. Untuk itu
kelembagaan UPJA/ LDM dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
a.      Kelembagaan dalam pelayanan jasa alsin pasca panen
        Dalam bentuk operasional kelembagaan ini adalah adanya seorang yang
        bertanggung jawab dalam mengelola alat mesin pasca panen hasil
        pertanian, dalam hal ini disebut manajer yang dalam pengelolaannya
        dibantu oleh beberapa operator.                  Apabila usaha pelayanan jasa alat
        mesin pasca panen ini sudah berkembang, maka UPJA/ LDM dapat
        dilengkapi dengan tenaga mekanik, petugas yang mengatur urusan
        keuangan usaha atau kerjasama kemitraan dengan bengkel alat mesin
        pasca panen yang terdekat.
b.      Kelembagaan dalam penyediaan sarana alat mesin pasca panen
        Dalam hal ini yang perlu dikembangkan adalah :
        1)       Produsen/ pabrikan sarana alat mesin pasca panen
        2)       Usaha perbengkelan sarana alat mesin pasca panen
        3)       Dealer sarana alat mesin pasca panen dan suku cadang yang
                 diperlukan




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian       11
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



c.      Kelembagaan dalam penggunaan jasa sarana alat mesin pasca panen
        Dalam hal ini yang dikembangkan adalah unit-unit usaha yang dipimpin
        oleh petani selaku manajer usaha. Fungsi utama kelembagaan ini adalah
        memanfaatkan seoptimal mungkin jasa sarana alat mesin dari UPJA/ LDM
        dalam melakukan kegiatan usahanya baik dalam panen dan pasca panen.


d.      Kelembagaan permodalan
        Kelembagaan ekonomi yang terkait dalam UPJA/ LDM memerlukan
        permodalan untuk kelangsungan usahanya.                         Sumber modal tersebut
        dapat berasal dari lembaga perbankan atau lembaga keuangan non bank
        atau dari hasil setoran UPJA/ LDM tersebut. Lembaga keuangan tersebut
        dalam beroperasinya dapat melayani kebutuhan petani/ kelompok tani,
        pengrajin/ bengkel alat mesin pasca panen, dealer maupun pengusaha
        pelayanan jasa alat mesin pasca panen secara komersial


e.      Kelembagaan pembinaan dan pengendalian
        Lembaga ini merupakan keikutsertaan aparatur pemerintah (Pemda) baik
        di tingkat pusat, propinsi maupun kabupaten/ kota yang bertanggung
        jawab dalam penyuluhan/ pembinaan/ pendampingan sesuai dengan
        fungsi dan tugas pokoknya


A.      Indikator Keberhasilan UPJA/ LDM


        Keberhasilan         dalam       pengembangan            UPJA/      LDM      dapat   diukur
berdasarkan indikator sebagai berikut :
a.      Kegiatan panen dan pasca panen di seluruh daerah/ wilayah hamparan
        selalu menggunakan dan memanfaatkan alat mesin pasca panen yang
        dikelola oleh UPJA/ LDM
b.      Bertambahnya konsumen/ pelanggan pengguna alat mesin pasaca panen
        yang dipunyai oleh UPJA/ LDM
c.      Meningkatnya modal kerja UPJA/ LDM


Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian                12
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



d.      Bertambahnya asset yang dimiliki UPJA/ LDM
e.      Tertibnya sistem pencatatan dan pelaporan arus uang dan barang di
        dalam UPJA/ LDM
f.      Terjalinnya kerjasama kemitraan yang baik diantara subsistem -
        subsistem dalam pelaksanaan UPJA/ LDM yang meliputi bengkel/
        pengrajin, perbankan, petani/ kelompoktani, dan pabrikan/ perusahaan
        alat mesin pasca panen dan lain-lain.


V.      ANALISA EKONOMI PENGGUNAAN SARANA ALAT MESIN
        PASCA PANEN.


        Analisa ekonomis usaha jasa alat mesin pasca panen, dapat dibagi dalam
beberapa tahap perhitungan seperti :


1.      Biaya
        Komponen biaya terdiri dari :
        a.       Biaya Tetap (Fix Cost)
        b.       Biaya Tidak Tetap (Variable Cost)


2.      Finansial
        Indikator finansial terdiri dari :
        a.       Titik Impas (Break Even Point = BEP)
        b.       Nilai bersih sekarang (Net Present Value = NPV)
        c.       Tingkat laba intern (Internal Rate of Return = IRR)
        d.       Perbandingan untung dan biaya bersih (Net Benefit – Cost Ratio =
                 Net B/C Ratio)


3.      Estimasi kebutuhan alat mesin pasca panen.


        Tahap-tahap analisa ekonomi penggunaan alat mesin pasca panen,
secara rinci adalah sebagai berikut :


Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   13
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM




1.      Biaya


                 Biaya pokok penggunaan alat dan mesin pasca panen sangat
        ditentukan oleh empat faktor, yaitu : a) biaya tetap, b) biaya operasional,
        c) jam penggunaan per tahun, dan d) kapasitas atau kemampuan kerja
        alat dan mesin pasca panen.
                 Disamping komponen biaya tetap ini, maka biaya resiko, margin
        dan over head perlu pula ditambah dalam struktur biaya pokok
        penggunaan alat dan mesin pasca panen. Umur ekonomis alat dan mesin
        pasca panen sangat penting dalam perhitungan biaya pokok dimana mutu
        dan desain alat dan mesin, perbaikan dan pemeliharaan yang teratur,
        operator yang baik dan terampil sangat diperlukan untuk efisiensi operasi
        alat dan mesin pasca panen.
                 Besarnya nilai biaya pokok penggunaan alat dan mesin pasca
        panen dapat dihitung dengan rumus matematika sederhana sebagai
        berikut :


                          BP = ( AN / X + B ) x KAP


      Dimana :
      BP         =        biaya pokok penggunaan alat mesin pasca panen per unit
      AN         =        biaya tetap per tahun (Rp/th)
      X          =        jumlah jam kerja per tahun (jam/th)
      B          =        biaya operasional per jam (Rp/jam)
      KAP        =        kapasitas kerja (jam/unit)


        a.       Biaya Tetap


                 Biaya tetap adalah biaya yang tidak tergantung dari sistem
        pemakaian alat mesin tersebut. Dengan kata lain bahwa biaya tetap


Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   14
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



          perjam tidak berubah dengan perubahan jam kerja tiap tahun dari
          pemakaian alat dan mesin pasca panen tersebut. Ini berarti bahwa biaya
          ini tetap dihitung sebagai pengeluaran walaupun alat dan mesin itu tidak
          dipergunakan.
                   Unsur-unsur biaya tetap yang termasuk ke dalam komponen ini
          adalah :
          1)       Biaya penyusutan
          2)       Biaya bunga modal investasi
          3)       BiBaya asuransi
          4)       Biaya pajak
          5)       Biaya (beban) garasi atau gudang
          6)       Biaya dan sosial, sumbangan dan lain-lain


                   Selanjutnya nilai atau biaya penyusutan dihitung dengan nilai
          bunga berbunga hingga diperoleh rumus sebagai berikut :


                          AN = Crf x (Harga beli – Nilai akhir)




                                                   n              n
                          Crf = IN x ( 1 + IN) / (( 1 + IN ) - 1)


      Dimana :
      AN =         biaya penyusutan pertahun (Rp/thn)
      Crf =        faktor konversi pengembalian modal atau capital recovery faktor
      IN =         bunga modal pertahun (%/th)
      n        =   umur ekonomis alat dan mesin pasca panen (tahun)


                   Biaya bunga modal dan asuransi dapat dihitung dengan persamaan
          berikut :




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   15
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM




                                   I x P ( N + 1)
                          I = ------------------------
                                         2N


             Dimana :
             I = biaya bunga modal dan asuransi (Rp/tahun)
             i = tingkat bunga modal dan persen asuransi (%)
             P = harga awal alat (Rp)
             N = umur ekonomis alat (tahun)


                 Biaya pajak yang dikenakan adalah sebesar dua persen (2%) dari
        harga awal alat (pajak ini selalu berubah sesuai dengan peraturan dari
        pemerintah).


                                           BP = Pp x P


             Dimana :
             Bp =         biaya untuk pajak (Rp/th)
             Pp =         persen biaya pajak (2% atau 0.02)
             P =          harga awal alat (Rp)


                 Biaya garasi atau bangunan untuk alat dan mesin pertanian dapat
        dihitung dengan menggunakan rumus berikut :


                                           Bg = Pg x P


             Dimana :
             Bg =         biaya garasi (Rp/tahun)
             Pg =         persen biaya garasi (1% atau 0.01)
             P     =      harga awal alat (Rp)



Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   16
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



        b.       Biaya tidak tetap


                 Biaya tidak tetap adalah biaya yang saling berhubungan erat
        dengan penggunaan sarana alat dan mesin pasca panen. Dengan kata
        lain biaya tidak tetap adalah biaya operasi yang dikeluarkan untuk
        berbagai keperluan yang diperlukan untuk menjaga kelancaran operasi
        alat dan mesin pasca panen tersebut. Biaya operasi ini baru ada bila alat
        dan mesin pasca panen dioperasikan dan besarnyapun berbeda-beda
        tergantung pada jam operasi, jenis pekerjaan serta usia penggunaan alat
        dan mesin pasca panen tersebut tersebut.


                 Biaya operasi atau biaya tidak tetap, terdiri dari :
        1)       Biaya bahan bakar
        2)       Biaya pelumas
        3)       Biaya perawatan
        4)       Biaya reparasi/ perbaikan
        5)       Biaya operator
        6)       Biaya pihak ke tiga (calo)


                 Biaya bahan bakar merupakan biaya yang dikeluarkan untuk
        pemakaian bahan bakar pada waktu operasi dan dapat dihitung dengan
        menggunakan persamaan berikut :


                                   Bb = Kb x Hb




             Dimana :
             Bb =         biaya bahan bakar (Rp/jam)
             Kb =         konsumsi bahan bakar (liter/jam)
             Hb =         harga bahan bakar (Rp/liter)




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   17
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



                 Biaya pelumasan (oli dan gemuk) dari alat dan mesin pasca panen
        dapat dihitung dengan persamaan berikut :


                                   Bp = Kp x Hp


             Dimana :
             Bp =         biaya pelumasan (Rp/jam)
             Kp =         konsumsi pelumas (liter/jam)
             Hp =         harga pelumas (Rp/liter)


                 Biaya pemeliharaan adalah biaya perbaikan dan perawatan alat
        dan mesin pasca panen selama operasi, biaya perawatan dapat dihitung
        dengan persamaan berikut :




                                    1,2 %
                          Br = --------------- x ( P – 0,1 P)
                                    100 jam


             Dimana :
             Br = biaya pemeliharaan ( Rp/jam)
             V = harga awal alat mesin pertanian ( Rp)


                 Biaya operator dihitung berdasarkan pada penerimaan operator per
        hari dibandingkan dengan jumlah jam kerja alat mesin pengolahan per
        hari, dan dihitung dengan persamaan berikut :


                                                      1 hari
                                   Bo = U x ---------------- x Jo
                                                         Jk




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   18
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



             Dimana :
             Bo =         biaya operator alat mesin pasca panen (Rp/jam)
             U     =      upah kerja orang per hari (Rp/ hari)
             Jk =         jam kerja (jam/hari)
             Jo =         jumlah operator (orang)


2.      Indikator Finansial.


a.      Titik impas (Break Even Point = BEP)


                 Analisis titik impas (BEP) merupakan suatu indikator di dalam
        perencanaan pemasaran suatu alat mesin pasca panen. Hal ini penting
        untuk dapat menilai apakah biaya investasi yang akan dilakukan memang
        dapat diandalkan. Dengan perencanaan pemasaran suatu alat mesin
        pasca panen berdasarkan hasil dari biaya investasi dapat menutupi
        sekalian biaya tetap dan biaya tidak tetapnya. Jika hanya memiliki biaya
        tidak tetap saja maka analisis titik impas ini tidak ada manfaatnya sama
        sekali. Selanjutnya perlu di tekankan disini dalam menganalisis titik impas
        haruslah secara jelas dibedakan antara biaya tetap dan biaya tidak tetap.
        Untuk menentukan titik impas dapat digunakan beberapa pendekatan
        sebagai berikut :


        1)       Pendekatan persamaan
                 Pendekatan pertama untuk menghitung titik impas adalah metode
                 persamaan. Pendekatan persamaan dapat dinyatakan dalam
                 bentuk persamaan berikut :




                          Penjualan – (Btt – Bt) = Pendapatan bersih




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   19
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM




                       Penjualan = Btt + Bt + Pendapatan bersih




                 Dimana :
                 Btt = biaya tidak tetap
                 Bt = biaya tetap


        2)       Pendekatan marginal (Metode Contribution Margin/ CM)
                 CM = Penjualan – Btt
                 CM per unit = Harga jual per unit – Btt per unit


                                     Bt + Pendapatan bersih yang diinginkan
                            X =    ----------------------------------------------------------
                                                        CM per unit


                 Dimana :
                 CM =              pendekatan marginal
                 Btt    =          biaya tidak tetap
                 Bt     =          biaya tetap
                 X      =          BEP (dalam unit yang dijual)
                 BEP =             Break Even Point


        3)       Pendekatan grafis
                 Dengan asumsi bahwa fungsi dari penjualan dan fungsi dari biaya-
                 biaya adalah linier, maka fungsi-fungsi tersebut dapat digambarkan
                 seperti pada terlihat pada gambar 3. Rumus titik impas (BEP)
                 adalah :




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian              20
                                Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM




                              Dalam unit kuantitas


                                                                    Bt
                                    BEP = -------------------------------------------------
                                                 Harga jual per unit – Btt per unit


                              Dalam nilai (Rupiah)


                                                                    Bt
                                    BEP = -----------------------------------------------
                                                    1 – Btt / Hasil penjualan




                 Rp                                                   Pendapatan



                                                                               Biaya pokok



                      H                         BEP

                                                                      Biaya operasi

                    Bt                                                         Biaya tetap




                          0                         Q                                Unit

                                     Gambar 2. Analisis grafis titik impas




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian            21
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM




b.      Nilai bersih sekarang (Net Present Value = NPV)


                 NPV adalah nilai sekarang dari sejumlah uang yang akan diterima
        dimasa yang akan datang dan dikonversikan kemasa sekarang dengan
        mengunakan tingkat bunga yang terpilih, persamaannya adalah :


                                          n     Xn
                           NPV =       ∑      -----------
                                          0    (1 + i)n


                 Dimana :
                 Xn = Jumlah pendapatan dengan pengeluaran setiap tahun
                 n       = Umur ekonomis alat mesin (tahun operasi)
                 I       = Bunga uang pertahun (discount rate)


                 Dengan metode Nilai Bersih Sekarang ini, maka produk yang
        memberikan          nilai   yang      positif       merupakan     investasi     yang    dapat
        dilaksanakan dan yang memberikan nilai negatif harus ditolak, atau tidak
        layak untuk diusahakan. Persamaan NPV adalah :


                                CF1            CF2                      CFn          Vn
             NPV = -C + --------- + ---------- + ……… + ---------- + -----------
                                (1 + k)       (1 + k)2                  (1 + k)n     (1 + k)n


             Dimana :
             C       =     biaya pengeluaran
             CF =          pendapatan
             n       =     umur ekonomis alat mesin (tahun operasi)
             Vn =          nilai akhir alat mesin diakhir umur ekonomis
             K       =     bunga bank



Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian                  22
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



                 Untuk menghitung besarnya nilai bersih kini dapat digunakan
        rumus berikut :


                                        n          Bt - Ct
                       NPV =        ∑       -----------------
                                        t=0       (1 + I)n


             Dimana :
             Bt =         pendapatan pada tahun ke t
             Ct =         biaya pengeluaran pada tahun ke t
             i    =       bungan bank pertahun (discount rate)
             n    =       Umur ekonomis (tahun)


c.      Tingkat laba internal (Internal Rate of Return = IRR)


                 Tingkat laba internal dihitung dengan mencari tingkat bunga yang
        menyamakan nilai sekarang dari sistem pembukuan yang akan datang
        dengan biaya investasi. Metode ini mencari suatu tingkat bunga yang
        membuat nilai sekarang (present value) dari pemasukan akan sama
        dengan nilai pengeluaran saat sekarang (Karnadi, 1989).


             Persamaan IRR, adalah sebagai berikut :


                               CF1             CF2                      CFn            Vn
             IRR ; C = --------- + ---------- + …….. + ---------- + -----------
                             (1 + r)          (1 + r)2                 (1 + r)n      (1 + r)n


             Dimana :
             C     =      biaya pengeluaran
             CF =         pendapatan
             n    =       umur ekonomis



Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian              23
                                Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



             Vn =         nilai akhir dari alat mesin pada akhir umur ekonomis
              r     =     tingkat bunga yang dicari, yaitu IRR yang membuat present
                         value dari pendapatan sama dengan pengeluaran (= C)


                  Untuk menghitung besarnya tingkat laba internal (IRR) dapat
        digunakan rumus berikut :


                            n          Bt - Ct
                           ∑        ----------------- = 0 = NPV
                         t=0          (1 + IRR)n


                  Dimana :
                  Bt = pendapatan pada tahun ke t
                  Ct = biaya pengeluaran pada tahun ke t


                  Dengan mencoba-coba nilai bunga (r) sehingga diperoleh nilai NPV
        positif dan nilai NPV negatif, maka untuk mencari nilai IRR yang membuat
        nilai NPV sama dengan nol (0), rumus yang digunakan adalah sebagai
        berikut :


                                                             NPV1
                          IRR = i1 + (i2 – i1) x ------------------------
                                                         (NPV1 – NPV2)


             Dimana :
             i1 =         bunga yang mendapatkan nilai NPV1 (positif)
             i2 =         bunga yang mendapaykan nilai NPV2 (negatif)


                  Usulan hasil usaha yang memilki tingkat bunga pengembalian
        (IRR) yang lebih tinggi dari pada bunga modal yang diminta merupakan
        hasil-hasil yang dapat dipilih, sedangkan hasil dengan internal rate of



Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian    24
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



        return (IRR) yang lebih rendah dari pada bunga modal harus ditolak.
        Sebab jika hasil usaha yang disebutkan tadi diterima maka untuk
        memaksimalisasi nilai tambah bagi pemiliknya tidak akan tercapai.


d.      Perbandingan untung dan biaya bersih (Net Benefit Cost Ratio = Net
        B/C Ratio)


                 Perbandingan keuntungan dan biaya dapat ditentukan sebagai
        perbandingan nilai keuntungan ekuivalen terhadap nilai biaya ekuivalen.
        Dalam teori ekonomi, nilai-nilai ekuivalen biasanya adalah annual worths
        atau nilai tahunan (A.W.s) atau Present Worths atau nilai sekarang
        (P.W.s), tetapi bisa juga Future Worths atau nilai yang akan datang
        (F.W.s). Persamaan dari dari perbandingan untung dan biaya adalah :


                                                  A.W. (pendapatan)
                                   B/C = --------------------------------------
                                               A.W. (biaya bersih total)


                                                             B
                                   B/C = ---------------------------------------
                                                    C.R.     + (O + M)


             Dimana :
             A.W.      = nilai tahunan
             B         = nilai tahunan keuntungan bersih (keuntungan kotor dikurangi
                         biaya-biaya) untuk pemakai
             C.R.     = biaya pemulihan modal atau biaya tahunan ekuivalen dari
                         nilai investasi permulaan, termasuk setiap nilai jual lagi.
             O + M = biaya operasional bersih tahunan seragam dan pembayaran
                         pemeliharaan.




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian     25
                               Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



                 Metode Cost Benefit Ratio Index ini mencari hasil dalam bentuk
        ratio dengan cara membagi nilai sekarang dari seluruh pendapatan, dan
        dari suatu usaha secara membungakannya dengan bunga dibagi dengan
        biaya usaha.
                 Hasil-hasil yang segera didapat kemudian dipertimbangkan untuk
        dipilih adalah yang cost benefit ratio atau probability indexnya sama atau
        lebih besar dari satu ( >1 ), sebab cost benefit ratio yang kuang dari satu (
        < 1 ) menggambarkan nilai sekarang dari pendapatan adalah lebih rendah
        dari pengeluarannya, dan hasil-hasil yang seperti itu harus di tolak.




                               CF1           CF2                       CFn             Vn
                              ---------- + --------- + …….. + ---------- + ----------
                              (1 + k)      (1 + k)2                   (1 + k)n       (1 + k)n
                 CBR = -------------------------------------------------------------------
                                                             C


                 Dimana :
                 CBR =             cost benefit ratio
                 C        =        biaya pengeluaran
                 CF       =        pendapatan pada tahun ke n
                 n        =        masa hidup ekonomis dari pada usaha
                 Vn       =        nilai akhir dari pada hasil pada akhir masa
                 ekonomisnya
                 k        =        bunga bank (discount rate)


                 Perhitungan         perbandingan        untung      dan     biaya      bersih   dapat
        dipergunakan rumus berikut :




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian                   26
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM




                                                             X
                                   Net B/C Ratio = -------
                                                             Y


             Dimana :
             X =          nilai kini dari semua pendapatan
             Y =          nilai kini dari semua biaya


3.      Estimasi Kebutuhan Alat Mesin Pasca Panen


                  Pendekatan matematik untuk menentukan jumlah kebutuhan
        potensial      alat    dan      mesin      pengolahan        disuatu         wilayah/   daerah
        menggunakan formula sebagai berikut :


                                              Ls - Lg
                                   UT = ------------------- x cf
                                                 KAP


             Dimana :
             UT       = Jumlah kebutuhan (unit) alat dan mesin pasca panen di
                         suatu wilayah/daerah.
             Ls       = Luas lahan hamparan atau produksi yang tersedia untuk
                          digarap/ diolah oleh alat mesin pasca panen.
             Lg       = Luas lahan hamparan atau produksi yang dapat digarap/
                         diolah oleh sumber tenaga (manusia dan hewan serta alat
                         mesin pasca panen) yang ada di daerah tersebut
             KAP       = kapasitas kerja sarana alat dan mesin pasca panen yang
                         akan diintroduksikan untuk digunakan.
             Cf       = Coefisien faktor yang dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan
                         sosial.


Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian                   27
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



                 Formula di atas merupakan pendekatan untuk menghindari
        pergeseran tenaga kerja yang ada di pedesaan yang didasari oleh
        kepentingan socio-engineering.


VI.     PEMBINAAN DAN MONITORING


        Pembinaan terhadap UPJA/ LDM dilakukan oleh Kelompok Kerja (POKJA)
Pengembangan Alat Mesin Pasca Panen baik itu di tingkat Pusat, Propinsi
maupun Kabupaten/ Kota. Secara umum tugas-tugasnya adalah :
a.      Tingkat Pusat
        1)       Menyusun perencanaan kebutuhan alat mesin pasca panen di
                 suatu wilayah/ daerah
        2)       Menyusun pedoman umum/ panduan pengelolaan alat mesin
                 pasca panen
        3)       Melakukan pelatihan/ bimbingan teknis dan manajemen terhadap
                 petugas/ penyuluh pertanian propinsi dan kabupaten/ kota dalam
                 pendayagunaan dan pengembangan alat mesin pasca panen
                 melalui UPJA/ LDM
        4)       Mengadakan temu usaha dan pameran/ gelar sarana dan teknololgi
                 pasca panen
        5)       Sebagai fasilitator antara produsen/ pabrikan, bengkel, pihak
                 perbankan sebagai penyedia dana, dan pengguna alat mesin
                 pasca panen baik petani/ kelompok tani maupun UPJA/ LDM.


b.      Tingkat Propinsi
        1)       Menyusun petunjuk pelaksanaan pendayagunaan, pengembangan
                 dan pengelolaan alat mesin pasca panen sebagai penjabaran dari
                 pedoman umum yang dibuat Pokja pengembangan sarana alat
                 mesin pasca panen pusat.




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   28
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



        2)       Mengawasi           operasinalisasi          dari      petunjuk     pelaksanaan
                 pendayagunaan, pengembangan dan pengelolaan alat mesin
                 pasca panen.
        3)       Memantau dan mengevaluasi serta melaporkan pelaksanaan
                 pengembangan alat mesin pasca panen pada UPJA/ LDM di
                 kabupaten/ kota.
        4)       Menyusun rencana kebutuhan sarana alat mesin pasca panen di
                 suatu wilayah/ daerah
        5)       Mengadakan pembinaan serta bimbingan teknis dan manajemen
                 terhadap petugas Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota dalam
                 pengembangan sarana alat                mesin pasca panen melalui UPJA/
                 LDM.
        6)       Melakukan koordinasi dengan instansi terkait


c.      Tingkat Kabupaten/ Kota
        1)       Menyusun petunjuk teknis pengembangan dan pengelolaan sarana
                 alat mesin pasca panen sebagai penjabaran dari petunjuk
                 pelaksanaan yang disusun oleh Pokja pengembangan sarana alat
                 mesin pengolahan tingkat propinsi melalui UPJA/ LDM.
        2)       Membina dan membimbing kelompok UPJA/ LDM, kelompok tani
                 pengguna jasa sarana alat mesin pasca panen untuk bekerjasama
                 dengan bengkel pengrajin setempat.
        3)       Mengadakan          pelatihan,      penyuluhan/         bimbingan   teknis   dan
                 manajemen serta pertemuan konsultasi dengan kelompok UPJA/
                 LDM, petani/ kelompok tani pengguna jasa sarana alat mesin
                 pasca panen dan bengkel/ pengrajin menyangkut aspek teknis,
                 sosial dan ekonomis.
        4)       Menyampaikan dan menjelaskan petunjuk praktis yang telah dibuat
                 oleh Dinas Pertanian Propinsi kepada UPJA/ LDM, petani/
                 kelompoktani pengguna jasa sarana alat mesin pasca panen dan
                 bengkel.



Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian              29
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



        5)       Memantau dan melakukan supervisi terhadap kegiatan UPJA/ LDM
                 dan petani/ kelompokt ani pengguna jasa sarana alsin pengolahan
                 serta mengajak bekerjasama dengan bengkel/ pengrajin di
                 wilayahnya
        6)       Mengambil langkah konkrit dalam penanganan permasalahan
                 UPJA/ LDM di wilayahnya berdasarkan atas hasil temuan supervisi
                 dan atau saran dari pihak lain
        7)       Menjalin kerjasama dengan instansi terkait di wilayahnya untuk
                 mencari peluang usaha pada UPJA/ LDM.
        8)       Melaporkan perkembangan pendayagunaan dan pengembangan
                 alat mesin pasca panen di suatu wilayah/ daerah.


        Pembinaan         terhadap       UPJA/      LDM      dilakukan       untuk   meningkatkan
pengetahuan, keterampilan dan sikap positif terhadap pengembangan UPJA/
LDM. Sasarannya dilakukan secara terpadu terhadap aparatur (penyuluh dan
petugas), petani/ kelompok tani, pengelola UPJA/ LDM (manajer dan operator),
serta pengusaha alat mesin pasca panen dan suku cadang (bengkel, pengrajin,
dealer, produsen).


        Materi pembinaan (khusus di tingkat lapangan), dititik beratkan pada :
a.      Materi teknis yang meliputi teknis pengoperasian alat mesin pasca panen,
        perbaikan kerusakan, perawatan/ pemeliharaan dan sebagainya
b.      Materi       manajemen          meliputi      antara      lain     perencanaan     usaha,
        pengorganisasian usaha, koordinasi, pengendalian usaha dan sebagainya
c.      Materi bisnis meliputi antara lain perhitungan ekonomi usaha jasa alat
        mesin pasca panen, promosi, kerjasama kemitraan usaha, pembukuan
        sederhana, pelaporan secara berkala dan sebagainya




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian              30
                              Pedoman Umum Pengembangan UPJA dan LDM



VII. PENUTUP


        Pengembangan UPJA/ LDM akan dapat memberikan hasil yang sesuai
dengan yang diharapkan bila dikelola dengan prinsip bisnis yang sehat, melalui
pertimbangan yang cermat dengan memperhatikan kelayakan teknis, sosial, dan
ekonomis, sehingga pengembangan UPJA/ LDM akan tumbuh dan berkembang
secara profesional dan mandiri.               Pengembangan UPJA/ LDM ini diharapkan
mampu memberikan andil dalam menumbuhkembangkan lembaga ekonomi di
daerah dan pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
petani beserta keluarganya.




Informasi lebih lanjut hubungi :

Subdit Pasca Panen Tanaman Pangan
Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Pertanian, Departemen Pertanian
Alamat : Kanpus Departemen Pertanian, Gedung D, Lantai 3
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (12550)
Telpon/ Fax : (021) 78833938, 7816382.




Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian   31

						
Related docs
Other docs by cometjunkie44