LATAR BELAKANG KEJAHATAN PEMBUNUHAN

W
Document Sample
scope of work template
							     LATAR BELAKANG KEJAHATAN PEMBUNUHAN

YANG DILAKUKAN WANITA SERTA CARA PEMBINAANNYA

  DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KLAS I A

                           SEMARANG

                 (Studi Kasus di Kota Semarang)



                               Skripsi

 Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Universitas Negeri Semarang



                                 Oleh

                            Sista Agastyasti

                           NIM: 3450401029




                   FAKULTAS ILMU SOSIAL

      JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN

                                 2006
                         PERSETUJUAN PEMBIMBING



Skripsi ini telah di setujui oleh Pembimbing untuk diajukan kesidang panitia skripsi

ujian skripsi pada:

       Hari     :

       Tanggal:




Pembimbing I                                                      Pembimbing II




Drs. Abdul Rasyid W. M.Ag                                         Drs. Suhadi, M.Si
NIP: 130607620                                                    NIP: 132067383




                                     Mengetahui
                      Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan




                               Drs. Eko Handoyo,M.Si
                                  NIP: 131764048
                                ii
                         PENGESAHAN KELULUSAN



Skripsi ini telah dipertahankan didepan panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Sosial,

Universitas negeri Semarang pada:

Hari   :

Tanggal:



                                    Penguji Skripsi




Anggota I                                                      Anggota II




Drs. Abdul Rasyid W, M.Ag                                      Drs. Suhadi M.Si

NIP: 130607620                                                 NIP : 132067383




                                     Mengetahui

                                        Dekan



                                     Drs. Sunardi

                                    NIP: 130367998

                                 PERNYATAAN
                                   iii
       Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil

karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau

seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip

atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.




                                                               Semarang



                                                               Waspiah

                                                               NIM. 3450401068




                     MOTTO DAN PERSEMBAHAN
                               iv
“Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari

kebenaran” ( QS. Ali Imron:135 )
“Orang yang arif bijaksana itu suka memaafkan kesalahan orang lain. Karena ia

insyaf bahwa setiap yang berakal selalu mencari kebenaran. Dan setiap orang selalu

mencari kebenaran, maka dalam hidup dan kehidupannya pasti ia menemui kesulitan.

Jika ia menghadapi kesulitan tentu orang lainpun akan demikian juga halnya. Maka

sudah pada tempatnyalah orang yang bersalah itu dimaafkan” ( Avicenna )




                                                Skripsi ini ku persembahkan untuk:

                                                          Ayah dan Bunda tercinta

                                         Kakak-kakakku dan adik-adikku tersayang

                            Ketiga ponakanku ( Ara, Bintang, Zaki ) yang lucu-lucu

            Sahabat-sahabatku yang setia dalam suka maupun duka ( Yuli dan Sista )

                                                                   Angkatan 2001

                                                                     Almamaterku




                                    PRAKATA
                                     v
       Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas Rahmat, hidayah,

dan RidhoNya, sehingga penulisan skripsi dengan judul Pembinaan Narapidana

Melalui Sistem Pemasyarakatan Kaitannya Dengan Hak-Hak Narapidana Di Lembaga

Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang, dapat diselesaikan.
        Selesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari peran beberapa pihak. Pada

kesempatan ini, Penulis menyampaikan terima kasih atas bimbingan, arahan dan

bantuan kepada:

   1. DR. H. AT. Soegito, SH. MM, Rektor Universitas Negeri Semarang

   2. DRS. Sunardi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

   3. DRS. Eko Handoyo, M.Si, Ketua jurusan Hukum dan Kewarganegaraan

        Universitas Negeri Semarang

   4. Drs. Addul Rasyid W. M.Ag, Dosen Pembimbing I yang membantu dan

        membimbing sehingga selesainya penulisan skripsi ini

   5. Drs. Suhadi, M.Si Dosen pembimbing II yang membantu dan sabar dalam

        membimbing penulisan skripsi ini

   6.    F. Sutomo Rahardjo, Bc. IP, S.ip. MM Koordinator Urusan Pemasyarakatan

        Departemen Kehakiman dan HAM Jawa Tengah

   7. Widiatiningrum Bc. IP. SH Kepala Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas

        IIA Semarang

   8. Susana Tri Agustin Bc. IP Kepala             Subseksi BIMPAS di Lembaga

        Pemastarakatan Wanita Klas IIA Semarang.

   9. Segenap karyawan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang

   10. Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang
                                    vi
   11. Ayah Bunda, kakak-kakakku serta adik-adikku tersayang yag telah

        memberikan kasih sayang kepadaku.

   12. Semua pihak yang telah membantu demi selesainya skripsi ini.

            Semoga Allah SWT membalas budi dan bantuan serta bimbingan yang

telah diberikan dalam penulisan skripsi ini. Dengan kerendahan hati, penulis terbuka
menerima saran dan kritik yang membangun, yang akan memperbaiki skripsi ini

menjadi lebih sempurna.

           Harapan   penulis, semoga skripsi ini berguna bagi para pebaca yang

budiman.




                                                         Semarang,     2006



                                                         Penyusun




                                   vii
                                      SARI
Waspiah 2006. Pembinaan Narapidana Kaitannya dengan Hak-Hak Narapidana Di
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.           Halaman: 92
Kata Kunci: Pola Pembinaan, Narapidana Wanita, Hak-Hak Narapidana
        Hak-hak narapidana Wanita sebagai warga Negara Indonesia yang hilang
kemerdekaannya karena melakukan tindak pidana, haruslah dilakukan sesuai dengan
Hak Asasi Manusia. Sering dijumpai dalam Lembaga Pemasyarakatan bahwa hak
narapidana belum diberikan sesuai dengan hak mereka sebagai warga Negara. Hal ini
desebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kurang dipahaminya peraturan
mengenai hak-hak narapidana yang tertuang dalam undang-undang oleh petugas
Lembaga Pemasyarakatan atau bahkan oleh para narapidana sendiri.
        Permasalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah ( 1 ) bagaimanakah praktek
penyelenggaraan pembinaan narapidana wanita menurut Undang-Undang no. 12
tahun 1995 mengenai Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA
Semarang. (2) Bagaimanakah perlindungan yang diberikan oleh Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Semarang Klas IIA Semarang terhadap narapidana wanita.
Penelitian ini bertujuan ( 1 ) untuk mengetahui informasi tentang pelaksanaan
pembinaan narapidana sesuai dengan undang-undang No.12 tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan. (2) untuk memperoleh informasi tentang pembinaan narapidana
berkaitan dengan hak-haknya di Lembaga Pemasyarakatan wanita Kelas IIA
Semarang. Penelitain ini menggunakan metode penelitian kualitatif . Lokasi dalam
penelitian ini adalah Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Alat
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, observasi dan
wawancara. Data ini dikumpulkan dengan menggunakan metode analisis interaktif
dan disajikan dalam bentuk data yang bersifat deskriptif.
        Hasil penelitian menunjukkan bahwa hak-hak narapidana diberikan dengan
adanya pembatasan-pembatasan pada hak-hak tertentu. Adapun untuk kegiatan
pembinaan dalam lembaga meliputi pendidikan agama, rekreasi, ketrampilan dan olah
raga. Untuk kegiatan diluar lembaga meliputi cuti menjelang bebas dan pembebasan
bersyarat. Secara umum para narapidana merespon kegiatan pembinaan dan
memandang bahwa kegiatan tersebut masih diperlukan agar mereka mempunyai bekal
baik mental, fisik, maupun sosial yang baik.
        Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan secara umum praktek
penyelenggaraan pembinaan narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Klas IIA Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang
pemasyarakatan, secara khusus ada beberapa hal yang kurang sesuai antara lain
dibatasinya informasi khususnya dari majalah dan koran. Secara umum perlindungan
hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA
Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang
pemasyarakatan secara khusus ada hal-hal yang tertentu yang dalam prakteknya
dibatasi seperti dibatasinya tontonan televisi yang hanya pada acara-acara tertentu
saja, kurangnya bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan.
    Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan pentingnya mensosialisasikan kegiatan
pembinaan narapidana pada masyarakat, sebagai salah satu unsur partisipasi
masyarakat dengan mengikutsertakan seluruh kemampuan dan dana masyarakat untuk
ikut peduli terhadap kegiatan pembinaan narapidana, misalnya dengan cara
                                        viii
masyarakat berperan sebagai penyelenggara pemeran untuk memasarkan karya
ketrampilan para narapidana. Pentingnya peran kalangan swasta sebagai pihak ketiga
untuk ambil bagian dalam proses pembinaan narapidana dengan mengadakan kerja
sama dalam proses pemasyarakatan narapidana, misalnya pihak swasta membantu
menyediakan sarana ketrampilan dan sebagai timbal baliknya para narapidana
dipekerjakan pihak swasta tersebut.




                                  ix
                                                      DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ..................................................................................i

PERSETUJUAN ....................................................................................... ii

PENGESAHAN ...................................................................................... iii

PERNYATAAN .......................................................................................iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN.............................................................v

PRAKATA................................................................................................vi

SARI ...................................................................................................... viii

DAFTAR ISI..............................................................................................x

DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xii

DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................1

           A. Latar Belakang .........................................................................1

           B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah......................................5

           C. Perumusan Masalah .................................................................7

           D. Tujuan Penelitian .....................................................................7

           E. Kegunaan Penelitian ................................................................8

           F. Sistematika Penulisan Skripsi ..................................................8

BAB II LANDASAN TEORI..................................................................10

           A. Pengertian Tindak Kejahatan.................................................10

           B. Sistem Pemasyarakatan.........................................................11

           C. Lembaga Pemasyarakatan Wanita .........................................13

           D. Hak dan Kewajiban Narapidana ............................................14

           E. Pembinaan Narapidana ..........................................................18
                                        x
BAB III METODE PENELITIAN ..........................................................26

         A. Metode Penelitian ..................................................................26

         B. Lokasi Penelitian....................................................................26

         C. Fokus Penelitian.....................................................................27

         D. Sumber Data Penelitian..........................................................27

         E. Alat dan Tehnik Pengumpulan Data .....................................29

         F. Pemeriksaan Keabsahan data.................................................33

         G. Metode Analisis Data.............................................................34

         H. Prosedur Penelitian ................................................................37

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.........................39

         A. Hasil Penelitian ......................................................................39

         B. Pembahasan............................................................................83

BAB V PENUTUP ..................................................................................89

         A. Kesimpulan ............................................................................89

         B. Saran ......................................................................................89

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................91

LAMPIRAN-LAMPIRAN




                                            DAFTAR GAMBAR
                                               xi


       Gambar 1 Proses Analisis Data
xii
                                                                          1



                                  BAB I

                             PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG MASALAH

        Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum, sehingga setiap

  kegiatan manusia atau masyarakat yang merupakan aktivitas hidupnya harus

  berdasarkan pada peraturan yang ada dan norma-norma yang berlaku dalam

  masyarakat. Hukum tidak lepas dari kehidupan manusia karena hukum

  merupakan aturan untuk mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupannya

  karena tanpa adanya hukum kita tidak dapat membayangkan akan seperti apa

  nantinya negara kita ini. Kejahatan akan terus bertambah dengan cara yang

  berbeda-beda bahkan dengan    peralatan yang semakin canggih dan modern

  sehingga kejahatan akan semakin meresahkan masyarakat.

        Kejahatan dapat timbul di mana saja dan kapan saja. Bahkan dapat

  dikatakan bahwa kejahatan itu terjadi hampir pada setiap masyarakat. Namun

  karena sifatnya yang merugikan, maka adalah wajar pula bilamana setiap

  masyarakat berusaha untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kejahatan.

  Namun demikian hampir setiap hari masyarakat, dihadapkan pada berita dan

  pembicaraan yang menyangkut masalah kriminalitas.

        Berdasarkan informasi berbagai mass media, baik media cetak maupun

  elektronik, bahwa akhir-akhir ini tingkat kriminalitas menunjukkan adanya

  kecenderungan untuk terus meningkat. Berbagai usaha untuk menghapuskan




                                     1
                                                                                 2



kejahatan ini telah dicoba oleh negara-negara di dunia, namun demikian usaha

tersebut sampai saat ini baru berhasil mengurangi intensitas dan kualitasnya saja.

        Lombrosso berpendapat bahwa yang namanya penjahat itu mempunyai

tipe-tipe tertentu, misalnya: wajahnya seram, dan matanya merah menakutkan

(Step Han Hurwits 1986 : 40). Namun demikian kenyataannya tidak selalu yang

dibayangkan orang. Bahkan belakangan ini tidak jarang dijumpai adanya pria

tampan yang menjadi penghuni suatu Lembaga Pemasyarakatan karena terlibat

dalam berbagai macam kejahatan. Tidak hanya itu kaum wanita pun yang

sesungguhnya lebih banyak berperan sebagai makhluk pembawa kebaikan,

ternyata juga banyak yang meninggalkan sifat keibuannya, dengan melakukan

berbagai macam kejahatan.

        Namun demikian,apabila dibandingkan baik secara kuantitatif,maupun

secara kualitatif,kejahatan yang dilakukan oleh kaum wanita, rata-rata masih

lebih rendah daripada yang dilakukan oleh kaum pria. (Step han Hurwitz 1986 :

100).

        Step Han Hurwits (1986:100) seperti penulis kutip dalam buku

kriminologi saduran Ny. Moeljatno mengemukakan bahwa kejahatan wanita

secara kualitatif maupun kuantitatif lebih rendah daripada yang dilakukan kaum

pria, hal ini disebabkan karena:

1. Biologik
           Menurut pendapat ini bahwa, wanita secara fisik kurang kuat atau
    lemah, dan karena ada kelainan-kelainan psikis yang khas yang berhubung
    fungsinya sebagai jenis kelamin lain, sehingga kriminalitas berkurang.
2. Sosiologik lebih realistis
   a. Wanita lebih terlindung oleh lingkungan karena tempat bekerja di rumah
       dengan tanggung jawab hanya mengenai rumah tangga .
   b. Kurang minum-minuman keras.
                                                                               3



       Kejahatan yang dilakukan wanita biasanya       kejahatan yang tergolong

dalam kejahatan ringan dan tidak profesional. serta dilakukan dalam keadaan

terpaksa yang didorong suatu keadaan dan kepentingan yang amat sangat serta

dilakukan secara mendadak .

        Salah satu kejahatan sering terjadi, dan sangat meresahkan dewasa ini

adalah kejahatan pembunuhan. Biasanya kejahatan ini dilakukan oleh kaum pria,

walaupun ada juga wanita yang melakukan pembunuhan, bahkan berdasarkan

informasi dari berbagai media, ada juga pembunuhan yang dilakukan oleh wanita

lebih kejam dari pada yang dilakukan oleh pria.

       Kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh kaum wanita, disebabkan

oleh berbagai faktor.Adapun faktor-faktor yang menyebabkan wanita melakukan

kejahatan yaitu :

“Faktor sosial ekonomi seperti sistem ekonomi, perubahan harga pasar, krisis,
gaji, atau upah, pengangguran dan juga dapat dipengaruhi faktor-faktor mental
(agama), bacaan-bacaan harian, film (termasuk TV), serta faktor pisik seperti
iklim, tidak luput faktor-faktor pribadi (umur), peminum (alkohol)”. (Hurwitz
1986:86-101)

       Senada dengan pernyataan diatas, R. Soesilo dalam bukunya yang

berjudul kriminologi (pengetahuan tentang sebab-sebab kejahatan) menyebutkan

sebagai berikut:

“Dari pengalaman sehari-hari kita ketahui, bahwa orang yang dipidana itu
sebagian besar terdiri dari orang pria. Hanya sebagian kecil saja wanita masuk di
dalam Lembaga Pemasyarakatan. Rumah-rumah penjara, tempat-tempat
penahanan di kantor-kantor polisi dan lain sebagainya sebagian besar dibangun
terutama bagi kaum pria. Adanya Lembaga Pemasyarakatan dan rumah-rumah
tahanan wanita hanya satu dua saja . Kaum wanita lebih kecil kemungkinannyaa
untuk berbuat kejahatan”.(Soesilo 1985:58)
                                                                            4



       Kemudian R. Soesilo (1985 : 59) menyebutkan bahwa kaum wanita yang

dipidana karena melakukan kejahatan jumlahnya lebih kecil dari jumlah orang-

orang terpidana.

       Perlu juga disimak pendapat yang dikemukakan oleh Kartini Kartono

(2000:60) yang mengatakan sebagai berikut :

 “...perbuatan kriminal yang dilakukan oleh beberapa anak gadis yang
   disebabkan oleh emosi-emosi yang sangat kuat. Emosi yang sangat kuat itu
   karena rasa rindu akan orang tua dan kampung halamannya di desa. Oleh
   karena emosi yang sangat kuat tersebut timbullah konflik-konflik batin dan
   ketegangan-ketegangan yang sangat tinggi sehingga anak gadis tersebut
   melakukan tindak kriminal berupa pembunuhan atau bunuh diri”.

       Berdasarkan uraian tersebut, maka peran para penegak hukum sangat

penting terhadap penanganan kejahatan, khususnya kejahatan pembunuhan.

Proses penegakan hukum ini dimulai dari proses penyidikan dan penyelidikan di

kepolisian, setelah itu kejakasaan dan dilanjutkan di Pengadilan, dan sebagai

lembaga penegakan hukum terakhir adalah Lembaga Pemasyarakatan.

       Untuk itulah peran lembaga pemasyarakatan sangat diperlukan sebagai

upaya pencegahan atau penanggulangan kejahatan, di samping rehabilitasi

narapidana yang telah menjalani pidana dapat kembali ke jalan yang benar dan

nantinya dapat diterima masyarakat demi pengayoman masyarakat dan negara.

       Lembaga Pemasyarakatan menurut Undang-Undang nomor 12 tahun

1995 pasal 1 adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan bagi Narapidana. Di

lembaga ini mereka akan dibina supaya setelah selesai proses pemidanaannya,

dapat kembali serta dapat diterima di tengah-tengah masyarakat serta

keluargannya.
                                                                          5



      Sebagai lembaga pembinaan bagi narapidana, pasal 4 Undang-undang

nomor 12 tahun 1995 mengatur bahwa Lembaga Pemasyarakatan ini didirikan di

setiap ibukota kabupaten/kota, serta dalam rangka pembinaan Lembaga

Pemasyarakatan digolongkan atas dasar: umur, jenis kelamin, serta lama

pemidanaan.

      Seperti   halnya   dengan    lembaga    pemasyarakatan    wanita    di

Semarang,lembaga pemasyarakatan ini bukanlah suatu tempat pemidanaan

belaka, tetapi mempunyai fungsi sosial. Sistem pemasyarakatan merupakan era

baru dalam proses pembinaan narapidana. Sehingga diharapkan narapidana yang

menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan ini dapat dibimbing dan dituntun

untuk menjadi warga negara yang baik, bukan sebagai anggota masyarakat yang

dirampas kemerdekaannnya serta mendapat pengayoman.

      Pembinaan narapidana wanita penting artinya bagi negara kita, salah

satunya adalah bagi pembangunan. Masalah pembinaan narapidana wanita masih

memerlukan perhatian yang serius baik fisik maupun non fisik. Sebab wanita

mempunyai rasa tanggung jawab dan berperan aktif terhadap keluarganya (suami

dan anak-anaknya), masyarakat serta negara. Setelah keluar dari lembaga

pemasyarakatan mereka diharapkan dapat menunaikan tugas dan kewajibannya

seperti sediakala. Karena dalam lembaga pemasyarakatan itu mereka telah

mendapatkan pembinaan, ketrampilan, ceramah agama, PKK,         serta senam

kesegaran jasmani, hal ini sesuai dengan salah satu tujuan lembaga

pemasyarakatan yaitu, memulihkan kembali kesatuan hubungan antara terpidana

dengan masyarakat.
                                                                                6



         Berdasarkan uraian mengenai latar belakang kejahatan pembunuhan serta

  pembinaan narapidana di Lembaga Pemasayarakatan diatas, maka penulis tertarik

  untuk mengetahui :

  “LATAR        BELAKANG           KEJAHATAN          PEMBUNUHAN          YANG

  DILAKUKAN OLEH WANITA SERTA CARA PEMBINAANNYA DI

  LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA BULU SEMARANG” (Studi

  kasus di kota Semarang)



B. IDENTIFIKASI MASALAH

         Sebelum penulis melangkah lebih jauh, maka terlebih dahulu perlu

  membatasi     ruang    lingkup     pembahasannya.   Adapun     ruang    lingkup

  pembahasannya, akan berkisar pada masalah latar belakang pembunuhan, yaitu

  faktor yang menyebabkan seorang wanita melakukan kejahatan pembunuhan.

         Latar belakang kejahatan terbagi atas dua, yaitu latar belakang biologik

  dan latar belakang secara sosiologik, namun yang akan penulis kaji lebih dalam

  khususnya mengenai latar belakang secara sosiologik, yaitu mengenai faktor

  ekonomi, faktor mental khususnya mengenai penghayatan agama, faktor

  pembelaan diri serta faktor harga diri.

         Sedangkan pada proses pembinaan di lembaga Pemasyarakatan terdapat

  dua proses pembinaan, yakni pembinaan didalam lembaga, yang meliputi

  pendidikan agama, ketrampilan, olahraga, serta kesenian, serta pembinaan di luar

  lembaga antara lain bimbingan selama narapidana mendapat pidana bersyarat.
                                                                                7



         Dalam hal ini penulis akan mengkaji lebih dalam mengenai proses

  pembinaan intra mural (pembinaan di dalam lembaga).



C. RUMUSAN MASALAH

         Berdasarkan atas latar belakang masalah tersebut diatas, maka

  permasalahan yang timbul adalah sebagai berikut:

  1. Apakah yang menjadi latar belakang wanita melakukan kejahatan

     pembunuhan, khususnya penghuni lembaga pemasyarakatan wanita klas IIA

     Semarang?

  2. Bagaimana sistem pembinaan narapidana wanita di lembaga pemasyarakatan

     Wanita klas IIA Semarang khususnya dalam kejahatan pembunuhan?



D. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian

     Pada dasarnya tujuan penelitian dapat dibagi menjadi dua tujuan pokok,yaitu:

     a. Tujuan Obyektif

         1) Untuk mengetahui latar belakang wanita melakukan kejahatan

            pembunuhan khususnya penghuni lembaga pemasyarakatan wanita

            Bulu Semarang.

         2) Untuk mengetahi sistem pembinaan narapidana wanita di lembaga

            pemasyarakatan wanita     Bulu    Semarang khususnya bagi pelaku

            kejahatan pembunuhan.
                                                                                8



       b. Tujuan Subyektif

          1) Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan sebagai bahan untuk

             penulisan skripsi dimana sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

             sarjana hukum pada Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Ilmu Sosial

             Universitas Negeri Semarang.

          2) Untuk menambah wawasan penulis baik secara langsung maupun tidak

             langsung    mengenai latar belakang kejahatan pembunuhan yang

             dilakukan oleh wanita serta cara pembinaannya di Lembaga

             Pemasyarakatan Wanita.



  2.   Manfaat Penelitian

       a. Manfaat Praktis: Penelitian ini diharapkan dapat mamberikan masukkan

          bagi peningkatan pembinaan narapidana di lembaga pemasyarakatan Bulu

          Semarang, sehingga diharapkan setelah masa pemidanaan selesai, mereka

          dapat diterima kembali dan berguna bagi keluarganya dan masyarakat.

       b. Manfaat Teoritis: diharapkan penelitian ini memberikan wawasan

          mengenai latar belakang kejahatan yang dilakukan wanita khususnya

          kejahatan pembunuhan.



E. PENEGASAN ISTILAH

  1. Wanita

              Wanita adalah seseorang yang telah dikodratkan oleh Tuhan, berjenis

       kelamin biologis (seks) sebagai perempuan yang berciri-ciri menyusui, haid,
                                                                              9



  dan melahirkan serta memiliki rahim tidak dapat berubah, dipertukarkan, dan

  berlaku sepanjang masa. (Kementrian Pemberdayaan Perempuan 2002 : 8).



2. Lembaga Pemasyarakatan

         Menurut Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang sistem

  kemasyarakatan yang dimaksud dengan sistem kemasyarakatan sesuai pasal 1

  ayat 2 adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan

  warga binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan

  antara pembina, yang dibina, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas

  warga binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri,

  dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh

  lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat

  hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.

         Tentang sistem pemasyarakatan itu sendiri, Bambang Poernomo, S.H.

  (1982 : 183) berpendapat sebagai berikut:

  “Suatu elemen yang berinteraksi yang membentuk satu kesatuan yang
  integral, berbentuk konsepsi tentang perlakuan terhadap orang yang
  melanggar hukum pidana di atas dasar pemikiran rehabilitasi, resosialisasi
  yang berisi unsur edukatif, korektif, defensif dan yang beraspek pada individu
  dan sosial.”

         Peran lembaga pemasyarakatan memudahkan pengintegrasian dan

  penyesuaian diri dengan kehidupan masyarakat. Tujuannya : “Agar mereka

  dapat merasakan bahwa sebagai pribadi dan warga negara Indonesia yang

  mampu berbuat sesuatu untuk kepentingan bangsa dan negara seperti pribadi
                                                                        10



  dan warga negara Indonesia lainnya serta mereka mampu menciptakan opini

  dan citra pemasyarakatan yang baik”. (Departemen Kehakiman RI,11)



3. Pembinaan Di Lembaga Pemasyarakatan

           Pembinaan adalah suatu proses dimana narapidana wanita itu pada

  waktu masuk di dalam Lembaga Pemasyarakatan Wanita sudah dalam

  kondisi tidak harmonis pada masyarakat sekitarnya. Adapun penyebabnya

  karena narapidana tersebut telah melakukan tindak pidana yang secara

  langsung atau tidak langsung dapat merugikan masyarakat. (Harsono 1995:

  24)

           Bentuk pembinaan bagi narapidana menurut pola pembinaan

  narapidana /tahanan adalah sebagai berikut:

  a. Pembinaan berupa interaksi langsung sifatnya kekeluargaan antara

        pembina dengan yang dibina

  b. Pembinaan yang bersifat persuasif

  c. Pembinaan berencana, terus menerus dan sistematis

  d. Pembinaan kepribadian.(Harsono 1995: 24)

           Pembinaan narapidana menurut sistem kemasyarakatan terdiri dari

  pembinaan didalam lembaga, yang meliputi pendidikan agama, pendidikan

  umum, kursus ketrampilan, olahraga, kesenian, kepramukaan. Sedangkan

  pembinaan di luar lembaga antara lain bimbingan selama terpidana mendapat

  pidana bersyarat.
                                                                                      11



               Jadi berdasarkan setiap uraian dalam penegasaan istilah yang telah

      penulis kemukakan     tersebut, penulis ingin mengadakan penelitian mengenai

      latar belakang wanita melakukan kejahatan pembunuhan khususnya penghuni

      Lembaga Pemasyarakatan Wanita Bulu Semarang, serta pembinaan.



F. SISTEMATIKA SKRIPSI

          Agar lebih mengarahkan jalan pikiran penulis, maka dalam penulisan

  skripsi akan dilakukan dengan berpedoman pada sitematika penulisan sebagai

  berikut :

  BAB I       : Pendahuluan. Pendahuluan berisi lima sub pokok pembahasan,

               masing-masing      latar   belakang   masalah,    identifikasi   masalah,

               kemudian perumusan masalah, berikutnya adalah tujuan dan manfaat

               penelitian, kemudian penegasan istilah, dan yang terakhir adalah

               membuat sistematika penulisan skripsi

  BAB II : Landasan       Teori     Berisi   Mengenai    Latar    belakang      kejahatan

               pembunuhan yang dilakukan oleh wanita serta cara pembinaannya di

               Lembaga Pemasyarakatan Wanita. Penulis membagi bab ini menjadi

               dua sub bab yaitu sub bab pertama menjelaskan mengenai latar

               belakang kejahatan pembunuhan yang dilakukan wanita.              Terbagi

               menjadi tiga pokok pembahasan, yaitu penulis akan membahas

               mengenai kejahatan secara umum, kemudian mengenai kejahatan

               pembunuhan, dan dilanjutkan dengan pengertian wanita secara umum.

               Kemudian sub bab kedua pada bab dua adalah mengenai pembinaan
                                                                            12



           narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan wanita, terbagi

           menjadi dua pokok pembahasan, yang pertama penulis akan

           membahas mengenai Lembaga pemasyarakatan dan kemudian

           dilanjutkan dengan pokok pembahasan yang kedua yakni mengenai

           pembinaannya di Lembaga Pemasyarakatan.

BAB III : Metode penelitian yang terdiri atas lima pokok pembahasan yaitu

           mengenai Lokasi Penelitian, responden, sumber data, kemudian

           mengenai Metode Pengumpulan Data, dan terakhir penulis akan

           membahas mengenai Metode Analisa Data.

BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan, pada bab ini penulis membagi

           menjadi dua sub bab, yaitu yang pertama mengenai hasil penelitian,

           dan yang kedua mengenai pembahasan hasil penelitian.

BAB V : Penutup adalah merupakan penutup dari skripsi ini. Berisi kesimpulan

           dari uraian bab-bab terdahulu. Mengakhiri dari bab ini adalah saran-

           saran yang dipandang perlu sehubungan adanya perbandingan antara

           teori dan prakteknya di lapangan.

Demikian sistematika penulisan yang penulis susun dalam skripsi ini.
                                                                               13



                                     BAB II

                            LANDASAN TEORI



A. KEJAHATAN PEMBUNUHAN

  1. Pengertian Kejahatan

            Kejahatan adalah suatu “nama” atau “cap” yang diciptakan oleh

     orang, untuk menilai perbuatan-perbuatan tertentu, sebagai perbuatan

     kejahatan (Bawengan 1974 : 20). Si pelaku disebut penjahat. Oleh karena

     penilaian itu berasal dari alam nilai, maka kejahatan memiliki pengertian

     yang relatif , yaitu tergantung kepada manusia untuk memberikan penilaian

     itu. Secara yuridis formal, ukuran tentang pelaku kejahatan, belum

     dicantumkan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Jadi apa

     yang disebut kejahatan belum berarti selalu harus diakui oleh pihak-pihak

     lain sebagai kejahatan pula. Hal ini sangat erat kaitannya dengan situasi dan

     dinamika masyarakat.

            Bawengan membedakan 3 jenis kejahatan menurut penggunaan

     (Bawengan 1974 : 21), yaitu :

     a. Pengertian secara praktis

        Kejahatan dalam “arti Praktis” adalah suatu pengertian yang timbul dari

        dan ditimbulkan oleh anggota masyarakat, atau sesuatu kelompok.

     b. Pengertian secara religius

        Kejahatan dalam arti “religius” sering dikaitkan dengan pengertian

        kejahatan sebagai dua faktor yang saling bertentangan. Sebaliknya

                                     13
                                                                        14



   dipercayai pula bahwa apa yang disebut kebaikan itu datangnya dari

   Allah (Tuhan), sedangkan apa yang disebut kejahatan itu berasal dari roh

   jahat atau iblis atau setan.

   Pada bidang peradilan, orang tidak akan puas dengan kepercayaan bahwa

   segala jenis kejahatan harus dipertanggungjawabkan kepada iblis. Jika

   demikian, maka tidak ada seorangpun yang bakal dapat dihukum. Oleh

   karena itu, maka di bidang peradilan, yang menjadi dasar adalah Undang-

   undang.

   Kejahatan dalam arti religius itu mengidentikan arti kejahatan dengan

   dosa. Dan setia dosa terancam dengan hukuman api di neraka terhadap

   jiwa yang berdosa.

c. Pengertian secara yuridis

   Kejahatan dalam arti yuridis dapat dibaca misalnya di dalam sistem Kitab

   Undang-undang Hukum Pidana. Kitab Undang-undang Hukum Pidana

   membedakan antara perbuatan-perbuatan yang tergolong dengan dalam

   kejahatan dan pelanggaran.

   Kejahatan adalah segala perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan-

   ketentuan dari buku kedua KUHP. Jadi tidak semua perbuatan dapat

   dikategorikan kejahatan.

       Menurut Bambang Pernomo S.H. kejahatan menurut hukum dapat

dinyatakan sebagai perilaku yang merugikan terhadap kehidupan sosial

(social injury), atau perilaku yang bertentangan dengan ikatan sosial (anti

sosial), atau perilaku yang tidak sesuai dengan pedoman hidup bermasyarakat
                                                                          15



(non conformist) (Nico Ngani 1985 : 36-37).

       Perbuatan-perbuatan pidana menurut sistem KUHP, terbagi atas

kejahatan (Misdrijven) dan pelanggaran (overtredingen). Pembagian dalam

dua jenis ini, tidak ditentukan dengan nyata-nyata dalam suatu pasal KUHP

tetapi sudah dianggap demikian adanya, dan ternyata antara lain dari pasal 4,

5, 39, 45 & 53 buku I. Buku II adalah melulu tentang kejahatan dan buku III

tentang pelanggaran.

       Menurut M.v.T. (Smidt I hal. 63 dan seterusnya) pembagiaan atas dua

jenis tadi didasarkan atas perbedaan prinsipil. Dikatakan bahwa kejahatan

adalah “rechtsdeliten”, yaitu perbuatan-perbuatan yang meskipun tidak

ditentukan dalam undang-undang, sebagai perbuatan pidana, telah dirasakan

sebagai onrecht, sebagai perbuatan pidana, yang bertentangan dengan tata

hukum. (Moeljatno 1966: 61 )

       Sedangkan Nico Ngani dalam bukunya yang berjudul “Psikologi

Kriminal dalam Teori dan Praktek Hukum Pidana”menyebutkan Perbedaan

antara kejahatan dengan pelanggaran, sebagaimana digariskan atau

ditegaskan dalam MVT adalah perbedaan antara delik hukum dan delik

undang-undang. Kejahatan dikatakan termasuk delik hukum, sedangkan

pelanggaran disebut delik undang-undang. Delik hukum adalah kejadian-

kejadian yang berlawanan atau antagonistis dengan dasar-dasar atau asas-asas

hukum yang hidup di dalam keyakinin manusia dan tidak terlepas dari

undang-undang itu setiap peristiwa yang untuk kepentingan umum

dinyatakan undang-undang sebagai hal terlarang. ( Nico Ngani 1985 37 )

       Jadi kejahatan adalah kepentingan atau perbuatan karena karakter atau
                                                                            16



sifatnya antagonistis dengan ketertiban hukum; sedangkan pelanggaran ialah

perbuatan yang oleh undang-undang di cap sebagai suatu perbuatan yang

antagonistis dengan ketertiban umum. (Utrecht 82-84)

       Sedangkan Stephen Schafer, seperti penulis kutip dalam buku

berjudul “Analisa Kriminologi tentang Kejahatan-Kejahatan Kekerasan”

karya Mulyana W. Kusuma, dalam suatu studinya mengenai kejahatan-

kejahatan kekerasan di Florida mendasarkan rumusannya pada batasan

kelompok International Para Ahli PBB yang beranggapan bahwa kejahatan-

kejahatan kekerasan yang utama adalah pembunuhan, penganiayaan berat,

serta perampokan dan pencurian berat. (Mulyana 1982 : 24)

       Sedangkan David Gordon secara kriminologi menunjukkan bahwa

struktur dasar dari pranata-pranata sosial dan ekonomi dalam masyarakat

mana pun secara mendasar membentuk perilaku individu-individu dalam

masyarakat yang bersangkutan dan oleh karenanya tidak dapat dipahami

tanpa pertama-tama mengerahui secara cukup stuktur-struktur kesempatan

yang dirumuskan secara melembaga di mana anggota-anggota golongan-

golongan ekonomi tertentu terkungkung.

       Dengan    demikian,   Gordon    melihat   bahwa   kejahatan   adalah

merupakan usaha pelanggar untuk hidup dalam suatu situasi ekonomi tidak

menentu yang terbentuk dalam tatanan sosial tertentu. (Mulyana 1982 : 28)

       Unsur-unsur kejahatan menurut pendapat Sutherland dalam buku

Hurwitz (1986: 136) adalah sebagai berikut :

       1. Suatu nilai yang dijunjung oleh suatu golongan yang secara politis
          mempunyai kedudukan penting ;
       2. Anggota-anggota golongan yang cenderung membahayakan nilai
                                                                        17



      tersebut;
   3. Untuk melindungi nilai tersebut golongan 1 harus menerapkan
      paksaan sampai batas tertentu terhadap golongan 2.

       Berdasar hal yang telah dikemukakan diatas, maka pembunuhan

merupakan suatu peristiwa yang bertentangan atau antagonistis dengan

asas-asas hukum. Dengan kata lain, terjadilah suatu delik hukum.

a. Latar belakang Kejahatan

           Latar belakang orang melakukan kejahatan sebagaimana

   dikemukakan oleh Step Han Hurwitz terdiri atas latar belakang

   biologik serta latar belakang sosiologik.

   1) Latar Belakang Secara Biologik

              Menurut Kinberg, dalam buku karya Stephan Horwicz,

       keturunan dan kejahatan pembawaan dan keadaan / pembawaan =

       kecenderungan watak seorang yang secara biologik ditentukan,

       tergantung faktor-faktor keturunan agar menghasilakan reaksi

       tertentu terhadap perangsang-perangsang tertentu. (Hurwitz

       1986:35)

              Sedangkan        Step   Han   Hurwitz   (Hurwitz     1986:35)

       berpendapat bahwa seluruh pembawaan keturunan tidak diwaris

       tanpa perubahan dari satu generasi ke generasi/keturunan yang

       lain. Tapi dari setiap garis keturunan diwariskan sejumlah gene-

       gene yang disusun dalam gabungan yang berbeda untuk tiap

       makhluk baru.

              Menurut Hurwitz (1986 : 49) latar belakang biologik dari

       kejahatan antara lain
                                                            18



a) Genotype dan Phenotype

          Genotype ialah warisan sesungguhnya, phenotype ialah

   pembawaan yang berkembang. Apa yang diteruskan seseorang

   sebagai pewarisan kepada generasi yang berikutnya tergantung

   dari genotype, apa yang ditampakkan dari luar adalah

   penotype, yaitu hasil dari pembawaan yang diwaris dari orang

   tuanya dengan pengaruh-pengaruh dari luar.

b) Pembawaan dan Kepribadian

          Menurut peristilahan teori keturunan, pembawaan

   berarti potensi yang diwariskan saja dan kepribadian berarti

   propensiti/ bakat-bakat yang dikembangkan.

c) Lingkungan

          Seperti halnya pembawaan, lingkungan merupakan

   suatu faktor yang potensial, artinya mengandung suatu

   kemungkinan untuk memberi pengaruh dan terwujudnya

   kemungkinan ini, tergantung susunan pembawaan dan

   lingkungan.

d) Epilepsi

          Menurut Lombrosso dalam buku karya Hurwits

   (1986:47), Epilepsi dan kejahatan merupakan gejala yang erat

   berhubungan Hal ini diperkuat oleh kesimpulan Exner bahwa

   berdasar pengamatannya mengenai terjadinya kriminalitas

   pada sanak keluarga (relatives) orang epileptik yaitu bahwa
                                                                   19



      keturunan epileptik, lebih banyak meliputi orang-orang yang

      terutama mempunyai kecenderungan ke arah kejahatan yang

      mengandung kekerasan dan kejahatan seks.

  e) Psikopati (penyimpangan kepribadian)

              Exner dalam Hurwits (1986:49) berpendapat bahwa

      ada bukti nyata tentang adanya korelasi yang di warisi antara

      psikopati dan kejahatan, bahwa residivis punya derajad/nilai

      cacat psikopatik yang tinggi dan langsung.

2) Latar Belakang secara Sosiologik

           Stephan Hurwitz berpendapat: Ada hubungan timbal balik

  antara    faktor-faktor   umum   sosial   politik   dan   bangunan

  kebudayaan dengan jumlah kejahatan dalam lingkungan itu baik

  dalam lingkungan kecil maupun besar. (Hurwitz 1986:86)

           Menurutnya latar belakang kejahatan dari segi sosiologis

  dapat dilihat dari tinjauan-tinjauan sebagai berikut: (Hurwitz

  1986: 86-102)

  a) Faktor-faktor ekonomi; Sistem ekonomi;

             Menurut Step Han Hurwitz (1996 : 112) berikut ini :

      ”Faktor-faktor sungguhnya dari terjadinya kejahatan adalah :
      Kondisi-kondisi ekonomi buruk pada golongan rakyat yang
      status      sosial dan ekonominya rendah dan biasanya
      mempunyai banyak anak. Hal ini disebabkan kurang
      mendapatkan ketrampilan, lebih sering ganti pekerjaan, lebih
      tinggi angka pengangguran, lebih rendah upahnya, lebih buruk
      keadaan perumahan, lebih banyak kesukaran ekonomi karena
      tidak sesuai penghasilan dan pengeluaran dan lain-lain”
                                                                  20



b) Faktor-faktor mental : agama;

           Menurut Step Han Hurwits (1986:93) faktor mental

   khususnya       agama   memang      merupakan     faktor      yang

   berpengaruh terhadap terjadinya kejahatan, hal ini dapat

   dilihat dari pendapat Hurwits sebagai berikut :

   ”...memang merupakan fakta bahwa norma-norma etis yang
     secara teratur diajarkan oleh bimbingan agama dan khusus
     bersambung pada keyakinan keagamaan yang sungguh,
     membangunkan secara khusus dorongan-dorongan yang kuat
     untuk melawan kecenderungan-kecenderungan kriminil”.

c) Faktor-faktor pribadi : Umur;

           Menurut Step Han Hurwitz bahwa faktor umur

   merupakan faktor yang menyebabkan seseorang berbuat

   kejahatan dapat dilihat seperti dalam kutipan berikut ini :

   ”Kecenderungan untuk berbuat anti sosial bertambah selama
   masih sekolah dan memuncak antara umur 20 sampai 25,
   menurun perlahan-lahan sampai umur 40, lalu meluncur
   dengan cepat untuk berhenti sama sekali pada hari tua.
   Kurve/garisnya tidak berbeda dari garis aktivitas lain yang
   tergantung dari irama kehidupan manusia” (Step han Hurwits
   1986 : 99)

d) Pendidikan;

   Menurut Hurwits (1986:117), faktor pendidikan berpengaruh

   terhadap terjadinya kejahatan, sebagaimana pendapatnya

   berikut ini :

   ”Ditinjau dari sudut kriminologi, faktor positif dari sekolah
   adalah: Setiap sekolah yang baik membuat anak-anak jadi
   tertib bersekolah sehingga secara langsung dan tidak langsung
   membentuk pribadinya”.
                                                                        21




       e) Ancaman atau takut pada suami

             Faktor ancaman terkait dengan rasa takut menurut tuntutan

             hidup berdasarkan pendapat Hurwits (1986) adalah :

             ”seseorang melakukan kejahatan bukan karena kehendaknya
             sendiri, tetapi menurut tuntutan hidup dapat disebabkan oleh :
             karena neigung/ inclination/ kecenderungan; karena weakness/
             kelemahan; karena passion/ nafsu/ gelora/ cinta; karena
             honour/ kehormatan; karena destituation/ kekurangan”.

b. Faktor-faktor Penyebab Kejahatan

             Mengenai faktor-faktor penyebab melakukan kejahatan ini,

   sudah sejak lama orang melakukan penelitian. Bahkan sudah banyak

   sarjana menguraikannya, masing-masing mempunyai kelebihan dan

   kekurangan. Sehingga tidak didapatkan suatu kesepakatan yang bulat.

   Mengenai hal ini hanyalah didapatkan kesepakatan, bahwa kejahatan

   atau tindak pidana itu disebabkan oleh berbagai faktor yang saling

   berkaitan.

             W.A. Bonger (1982 : 73-142), dalam bukunya yang berjudul

   “Pengantar Tentang Kriminologi”, membagi penyebab terjadinya

   kejahatan itu atas empat mashab menurut perkembangan sejarahnya,

   yaitu :

             Mashab Itali atau mashab Antropologi, adalah aliran yang

   mempelajari tentang penyebab terjadinya kejahatan dari keadaan fisik

   si pelaku.

   1) Mashab Perancis atau mashab lingkungan, adalah aliran yang
                                                                   22



  mempelajari     penyebab    terjadinya   kejahatan   dari   keadaan

  lingkungan si pelaku.

2) Mashab Bio-Sosiologis, adalah aliran yang mempelajari penyebab

  terjadinya kejahatan atau tindak pidana dari unsur-unsur yang

  terdapat dalam individu, masyarakat dan keadaan fisik.

3) Mashab Spiritualis atau Mashab Neo-Spiritualis, dalah aliran yang

  mempelajari tentang penyebab terjadinya kejahatan dari unsur

  agama, unsur kerohanian punya arti penting dalam terjadinya

  kejahatan.

       Pendapat mengenai penyebab terjadinya kejahatan juga

diuraikan oleh beberapa pakar hukum, yang memiliki beraneka ragam

pendapat tentang penyebab terjadinya kejahatan, sebagaimana yang

diungkapkan oleh Moelyo (1992 : 144) :

  1) Sutherland : berpendapat bahwa, kejahatan berakar pada
     organisasi masyarakat dan adalah suatu expresi atau
     pencerminan organisasi masyarakat itu sendiri.
  2) William Healily : menyatakan, bahwa konflik jiwa merupakan
     sumber dari adanya kejahatan.
  3) Plato : berpendapat, bahwa kekayaan yang belimpah atau
     kemiskinan merupakan bahaya bagi moral dan kesusilaan.
  4) Mashab Perancis : menyatakan bahwa, kejahatan timbul dari
     faktor kemasyarakatan, faktor iklim dan faktor sosial.

         Berdasarkan mashab-mashab tersebut, bahwa kejahatan

  dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor.

       Kejahatan merupakan tingkah laku manusia sebagai perbuatan

yang tidak disukai atau perbuatan jahat. Kejahatan adalah suatu gejala

masyarakat yang nyata, dan kejahatan harus diterima sebagai suatu

kenyataan.
                                                                      23



A. Schaffenburg menggolongkan faktor terjadinya kejahatan atau

tindak pidana disebabkan, karena:

  1) Pelakunya kebetulan mempunyai kesempatan.
  2) Kejahatan itu telah direncanakan.
  3) Kejahatan merupakan suatu pencaharian

        Tentang    faktor-faktor    penyebab      terjadinya    kejahatan

sebenarnya banyak dikemukakan oleh para pakar hukum, yaitu kaum

mashab. Seperti halnya kaum mashab lingkungan. Menurut kaum

mashab lingkungan dinyatakan bahwa :

1. Lingkungan memberikan kesempatan akan adanya kejahatan,

2. Lingkungan pergaulan memberikan contoh atau teladan,

3. Lingkungan ekonomi          (kemiskinan dan kesengsaraan) juga

   mempunyai pengaruh,

4. Demikian juga dengan lingkungan pergaulan yang berbeda-beda.

        Bonger di dalam buku Step han Hurwits (1986: 22) dalam

penelitiannya mengumpulkan 7 faktor lingkungan sebagai penyebab

kejahatan, antara lain:

   1.   Terlantarnya anak-anak
   2.   Kesengsaraan
   3.   Nafsu ingin memiliki
   4.   Demoralisasi sexuil
   5.   Alkoholisme
   6.   Kurangnya peradaban
   7.   Perang.

        Faktor    lingkungan    memang    tidak     hanya      apa   yang

dikemukakan oleh Bonger, masih banyak lagi dan juga ada yang

menyanggah pendapat tersebut. Sebab-sebab kejahatan tidak hanya
                                                                  24



faktor lingkungan, tapi juga faktor biologi yang melekat pada pribadi

seseorang baik itu psikologis, atau kejiwaan.

1. Kelompok yang bersifat primair: pada umumnya mereka sangat

   impulsif, reaksinya cepat dan amat peka terhadap penghinaaan-

   penghinaan, mereka sering tidak bisa menahan diri terhadap

   gejolak jiwa dan keinginan-keinginan yang mendadak. Amat sukar

   menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang rutin atau menjemukan,

   oleh karena itu mereka sering berganti pekerjaan. Malahan sering

   tanpa pekerjaan dan hidup dalam kemiskinan. Mereka selalu

   merasa kosong hati, lalu cenderung mencari perangsang-

   perangsang yang kuat seperti minum-minuman keras, berjudi, dan

   melakukan perbuatan-perbuatan yang banyak mengambil resiko

   dan berbahaya. Mereka ini merupakan golongan tipe yang

   dikuasai die Souveranitat des Augenbliks.

2. Type pemilik kecenderungan-kecenderungan egoistis yang hebat:

   Mereka merupakan kelompok penjahat yang kejam, kepala dingin

   dengan dipikir dan dirancang terlebih dahulu.

3. Type     yang    sentimentil    dan    memiliki   kecenderungan-

   kecenderungan yang altruistis: karena perasaan yang meluap-luap

   dan motif yang emosionil mereka melakukan kemaksiatan dan

   pembunuhan. Misalnya pembunuhan keluarga, anak istri atau

   suami karena cita-citanya hendak membebaskan keluarganya dari

   kemiskinan atau kehancuran mengancam mereka. Emosinya
                                                                  25



   sangat besar, hingga sering mereka itu amat takut bayangan-

   bayangan dan pikirannya sendiri. Contoh-contoh lain ialah

   penjahat-penjahat yang suka membakar karena dorongan perasaan

   hati yang sunyi rasa kerinduan. Oleh aktivitasnya yang amat

   sedikit dan perasaannya yang berlebih-lebihan hal ini membuat

   mereka tidak pernah berani mengatasi segala kesukaran dalam

   hidupnya, dan tidak mampu mencari jalan keluar. Dalam keputus-

   asaan dan kebinasaan, lalu mereka melakukan kejahatan-

   kejahatan.

4. Tipe yang neverous : mereka sering bertingkah laku yang histeris,

   selalu gelisah dan dikejar-kejar oleh macam-macam dorongan

   perasaan. Dalam golongan ini termasuk pembunuh-pembunuh

   yang tidak mempunyai belas kasih pada sesama hidup. (Kartini

   Kartono 1974 :50-151)

       Dalam ilmu jiwa dapat dipelajari berbagai type manusia,

khususnya yang berhubungan dengan kejahatan atau yang mengarah

kepada suatu kejahatan. Misalnya type manusia yang cepat marah,

akan difitnah dan sebagainya. Hal tersebut karena dorongan jiwa,

seperti juga kejahatan pembunuhan, misalnya pembunuhan bayi (anak

kandungnya sendiri) hal tersebut akibat perasaan yang gelisah, takut,

pemalu lebih-lebih perasaan kalut. Di dalam faktor-faktor yang

menimbulkan terjadinya kejahatan atau tindak pidana telah banyak

sarjana yang menguraikannya sesuai dengan bidang keahliannya

masing-masing.Jadi dalam mencari sebab-sebab terjadinya kejahatan
                                                                     26



akan dijumpai berbagai macam faktor,dimana suatu faktor tertentu

dapat menimbulkan suatu kejadian tertentu, sedangkan faktor lain

menimbulkan jenis kejahatan yang lain pula.

       Sebab-sebab terjadinya kejahatan ini adalah sangat komplek.

Dalam hal ini terlihat banyak sekali faktor-faktornya dimana faktor

yang   satu    dengan   faktor   yang    lainnya    saling   pengaruh-

mempengaruhi.Secara umum dapatlah disebutkan bahwa faktor-faktor

yang menimbulkan kejahatan dibagi dalam 2 bagian, (Hari Saherodji

1980:35) yaitu:

a. Faktor Intern (faktor-faktor yang terdapat pada individu).

           Faktor ini dilihat khusus dari individu-individu serta dicari

   hal-hal yang mempunyai hubungan dengan kejahatan.Hal ini

   dapat ditinjau dari sifat-sifat umum dan sifat-sifat khusus dari

   individu.

b. Faktor Extern (faktor-faktor yang berada di luar individu).

           Faktor-faktor extern ini bepokok pangkal pada lingkungan.

   Faktor-faktor extern inilah menurut para sarjana merupakan faktor

   yang menentukan atau yang mendominir perbuatan individu ke

   arah suatu kejahatan.

   Masalah faktor extern ini meliputi:

   a. Waktu kejahatan

   b. Tempat kejahatan

   c. Keadaan keluarga dalam hubungannya dengan kejahatan
                                                                             27



2. Pembunuhan

  a. Pengertian Pembunuhan

            Seperti    diketahui    bahwa    pembunuhan,      merupakan    suatu

     kesengajaan menghilangkan nyawa orang lain. Pembunuhan merupakan

     suatu perbuatan atau tindakan yang tidak manusiawi dan atau suatu

     perbuatan      yang   tidak   berperikemanusiaan,   karena    pembunuhan

     merupakan suatu tindak pidana terhadap nyawa orang lain tanpa

     mempunyai rasa kemanusiaan. Pembunuhan juga merupakan suatu

     perbuatan jahat yang dapat mengganggu keseimbangan hidup, keamanan,

     ketentraman, dan ketertiban dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Oleh

     karena itu, pembunuhan merupakan suatu perbuatan yang tercela, ataupun

     tidak patut.

            Pengertian     pembunuhan       menurut   Kamus    Umum       Bahasa

     Indonesia, adalah perkara membunuh ; perbuatan (hal dan sebagainya)

     membunuh. (Poerwadarminta 1976 : 169).

            Pembunuhan secara yuridis diatur dalam pasal 338 KUHP, yang

     mengatakan bahwa:

     “Barang siapa dengan sengaja menhilangkan nyawa orang lain, karena
     bersalah telah melakukan “pembunuhan” dipidana dengan pidana penjara
     selama-lamanya lima belas tahun”.

              Dikatakan melakukan tindak pidana pembunuhan dengan

     kesengajaan, adalah apabila orang tersebut memang menghendaki

     perbuatan tersebut, baik atas kelakuan maupun akibat atau keadaan yang

     timbul karenanya. Namun juga mungkin tidak dikehendaki sama sekali
                                                                     28



   oleh pelakunya.

          Kesengajaan menghilangkan nyawa orang lain itu oleh Kitab

   Undang-undang Hukum Pidana yang berlaku dewasa ini, telah disebut

   “pembunuhan”. (Lamintang 1985:10).

b. Jenis-jenis Pembunuhan

            Tindak pidana pembunuhan merupakan kejahatan terhadap

   nyawa. Pembunuhan terdiri dari beberapa jenis, diantaranya :



   1) Pembunuhan biasa (“Doodslag”).

              Pembunuhan biasa ini sebagaimana biasa diatur dalam pasal

      338 KUHP, yang pada pokoknya berbunyi :

      “Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain,
      dihukum karena makar mati dengan hukuman penjara selama-lamanya
      lima belas tahun”

              Menurut R.Soesilo, dalam bukunya yang berjudul Kitab

      Undang-Undang Hukum Pidana            beserta komentar-komentarnya

      lengkap pasal demi pasal, mengatakan bahwa :

      a) Kejahatan ini dinamakan “makar mati” atau “pembunuhan”
         (doodslag). Di sini diperlukan perbuatan yang mengakibatkan
         kematian orang lain, sedangkan kematian itu disengaja , artinya
         dimaksud , termasuk dalam niatnya.
      b) Pembunuahan itu harus dilakukan dengan segera sesudah timbul
         maksud untuk membunuh tidak dengan dipikir-pikir lebih panjang.
         (Soesilo 1996: 240)

   2) Pembunuhan yang direncanakan lebih dahulu (“Moord”).

              Kejahatan ini diatur dalam pasal 340 KUHP, yang pada pokok

      isinya adalah sebagai berikut :

      ”Barang siapa yang dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu
                                                                      29



      merampas nyawa orang lain diancam karena pembunuhan dengan
      rencana (“moord”), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur
      hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.”

                Adapun yang menjadi unsur-unsur dari kejahatan yang

      direncanakan terlebih dahulu (“moord”) ialah :

      a) Perbuatan dengan sengaja ;

      b) Perbuatan tersebut harus dilakukan dengan direncanakan terlebih

        dahulu ;

      c) Perbuatan tersebut dimaksud untuk menimbulkan matinya orang

        lain.

            Maksud direncanakan di sini, adalah antara timbulnya maksud

     untuk membunuh dengan pelaksanaan itu, masih ada tempo bagi si

     pembuat untuk dengan tenang memikirkan dengan cara bagaimanakah

     pembunuhan itu dilaksanakan.

            Dari kedua pasal tersebut, yaitu pasal 338 KUHP dan pasal 340

     KUHP tersebut dapat ditarik kesimpulan , bahwa yang dimaksud

     dengan pembunuhan, adalah perbuatan sengaja yang dilakukan orang

     terhadap orang lain dengan maksud untuk menghilangkan nyawa

     tersebut.

            Setelah    penulis   menguraikan    tentang   tindak   pidana

     pembunuhan, maka sekarang tiba saatnya penulis membahas tentang

     bentuk-bentuk tindak pidana pembunuhan.

c. Bentuk-bentuk kejahatan Pembunuhan

         Bentuk-bentuk kejahatan pembunuhan secara yuridis diatur dalam

   Buku II, Bab XIX Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Karena
                                                                      30



banyaknya bentuk-bentuk tindak pidana pembunuhan, maka yang akan

penulis bahas adalah bentuk-bentuk tindak pidana pembunuhan yang ditur

dalam pasal 338, 340, 341, dan pasal 342 Kitab Undang-undang Hukum

Pidana.

1) Berdasarkan Pasal 338 KUHP

          Aturan dalam pasal 338 KUHP ini disebut juga dengan

   “kejahatan Pembunuhan dalam Bentuk Pokok”.

          Diatas telah dijelaskan bahwa tindak pidana pembunuhan

   dalam bentuk pokok ataupun yang oleh pembentuk Undang-undang

   telah disebut dengan kata “doodslag” itu, diatur dalam pasal 338

   KUHP. Sesuai dengan rumusannya yang asli dalam bahasa Belanda,

   ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 338 KUHP ini berbunyi :

   “Hij die opzettelijk een ander van het leven beroft, als schulding aan
   doodslag, gestraft met gevengenis starf van ten hoogste vijftien
   jaren”.(Lamintang 1985:24).
   Yang artinya:
   “Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain
   karena bersalah telah melakukan “pembunuhan” dipidana dengan
   pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun “.

          Dari     rumusan   ketentuan   pidana   mengenai     kejahatan

   pembunuhan yang diatur dalam pasal 338 KUHP diatas, orang dapat

   mengetahui bahwa tindak pidana pembunuhan yang oleh pembentuk

   undang-undang telah disebut dengan kata doodslag itu mempunyai

   unsur-unsur sebagai berikut:

   a) “Pzetelijk” atau dengan sengaja.

   b) “Beroven” atau menghilangkan.
                                                                    31



c) “Het leven” atau nyawa.

d) “Een ander” atau orang lain. (Lamintang 1985:24).

       Tindak pidana pembunuhan merupakan suatu tindak pidana

materiil atau “materiil delict”, yaitu suatu tindak pidana yang baru

dianggap sebagai suatu tindak pidana apabila telah selesai

dilakukannya perbuatan yang dimaksud dan timbullah akibat itu,

dilarang atau tidak dikehendaki oleh undang-undang.

a) Unsur kesengajaan

             Unsur kesengajaan ini adalah kesalahan dari tindak pidana

   pembunuhan. Seperti kita ketahui bahwa dalam ilmu pengetahuan

   hukum pidana, kesalahan itu ada 2 bentuk, yaitu:

   (1) Kesalahan dalam bentuk kesengajaan (“opzet atau dolus”);

   (2) Kesalahan dalam bentuk kelalaian (“culpa”).

             Tentang arti kesengajaan, tidak ada keterangan sama sekali

   dalam KUHP. Lain halnya dengan KUHP Swiss, dimana dalam

   pasal 18-nya dengan tegas dikatakan, bahwa :

   “Barang siapa melakukan perbuatan dengan mengetahui dan
   menghendakinya, maka dia melakukan perbuatan itu dengan
   sengaja”.(Moeljatno 1987:171).

             Definisi kesengajaan dalam Memori Van Toelicting

   adalah:

   “Pidana pada umumnya hendaknya dijatuhkan hanya pada barang
   siapa melakukan perbuatan yang dilarang dengan dikehendaki dan
   diketahui”.(Moeljatno 1987 :171).
                                                              32



       Apabila dihubungkan dengan rumusan pembunuhan, maka

kesengajaan ini baru dianggap ada apabila telah ada maksud

termasuk di dalam unsur niat, dan pembunuhan itu harus

dilakukan dengan sengaja sesudah timbul niat untuk membunuh

tersebut, tidak dipikir-pikir panjang, serta mengetahui atau

menyadari akan akibat yang akan timbul dari perbuatan tersebut.

       Unsur kesengajaan dalam pembunuhan ini juga merupakan

kesengajaan yang ditujukan pada perbuatannya, yaitu perbuatan

lahiriyah sebagai penjelmaan dari kehendak. Misalnya, perbuatan

menembak, bahkan dapat berupa diam saja dalam hal seorang

wajib bertindak, seperti tidak memberi makan bayinya. Disamping

itu kesengajaan harus ditujukan pula pada akibat dari perbuatan

itu, yaitu hilangnya nyawa orang lain yang dibunuh itu. Akibat

hilangnya nyawa orang lain, inilah yang dilarang dan diancam

dengan undang-undang. Karena akibat yang dilarang dan diancam

oleh undang-undang, maka tindak pidana pembunuhan ini

merupakan tindak pidana material.

       Dalam teori ada 3 corak kesengajaan yang berlaku bagi

tindak pidana pembunuhan, ketiga corak tersebut adalah:

1) Kesengajaan sebagai maksud untuk mencapai suatu tujuan

   (yang dekat) ; (“dolus directus atau opzet al oogmerk”)

2) Kesengajaan dengan sadar kemungkinan (“dolus eventualis

   atau voorwaardelijk opzet”)
                                                                    33



   3) Kesengajaan dengan sadar kepastian (“opzet wet zekerheit

      sbewuszijn atau noodzaheidwustzijn”).

          Untuk kesengajaan sebagai maksud, si pelaku memang

   benar-benar menghendaki perbuatan dan akibatnya.

          Kesengajaan dengan sadar kepastian ini, baru dianggap

   ada apabila si pelaku dengan perbuatannya, tidak bertujuan untuk

   mencapai akibat yang menjadi dasar dari tindak pidana tersebut,

   tetapi ia tahu bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatan

   tersebut. Dalam hal perbuatan mempunyai akibat yaitu:

   1. Akibat yang memang dituju pelaku.

   2. Akibat yang tidak diinginkan tetapi merupakan suatu

      keharusan untuk mencapai tujuan, akibat ini pasti timbul.

      Sedangkan kesengajaan dengan sadar kemungkinan, adalah

      keadaan tertentu yang semula mungkin terjadi, kemudian

      benar-benar terjadi ini.

b) Unsur menghilangkan nyawa orang lain

          Dalam pengertian menghilangkan nyawa orang lain

   terdapat 2 unsur, yaitu :

   1) Adanya orang mati ;

   2) Adanya perbuatan yang menyebabkan kematian itu.

          Adanya orang mati secara misterius itu, harus dibuktikan

   hubungan     kausalnya      dengan   perbuatan   orang   lain   yang

   menyebabkan kematian itu. Hal ini penting untuk menentukan
                                                                   34



      tindak pidananya.

2) Berdasarkan Pasal 340 KUHP

          Pasal 340 KUHP ini disebut juga dengan “pembunuhan dalam

   bentuk yang memberatkan”. Bentuk-bentuk pembunuhan yang

   memberatkan ini diatur dalam pasal 340 KUHP. Faktor yang

   menyebabkan pembunuhan yang diatur dalam pasal 340 KUHP ini

   menjadi lebih berat ancaman pidananya dari pembunuhan pokoknya,

   ialah karena pelaksanaannya dilakukan dengan direncanakan terlebih

   dahulu, dan juga adanya tempo bagi si pelaku untuk dengan tenang

   memikirkannya. Misalnya dengan cara bagaimanakah pembunuhan

   itu dilakukan yang sebenarnya, tempo itu dapat dipergunakan untuk

   membatalkan niatnya, tetapi tidak dipergunakan.

   Pasal 340 KUHP :

   “ Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas
   nyawa orang lain diancam karena pembunuhan dengan rencana
   (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau
   selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun”.

          Dari rumusan ketentuan tindak pidana pembunuhan dengan

  direncanakan lebih dahulu diatas dapat diketahui bahwa tindak pidana

  pembunuhan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 340 KUHP itu

  mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :

  a. unsur dengan sengaja ;

  b. unsur menghilangkan nyawa seseorang ;

  c. unsur direncanakan terlebih dahulu.
                                                                    35



       Direncanakan lebih dahulu, diartikan antara timbulnya maksud

untuk membunuh dengan pelaksanaannya itu masih ada tempo bagi si

pelaku untuk dengan tenang memikirkannya, misalnya dengan cara

bagaimanakah pembunuhan itu dilakukan. Tempo ini tidak perlu lama,

yang penting ialah apakah didalam tempo itu si pelaku dengan tenang

masih dapat berpikir, yang sebenarnya masih ada kesempatan untuk

membatalkan niatnya tetapi tidak dipergunakan.

Menurut Wiryono Prodjodikoro (1986:69), dinyatakan bahwa :

Unsur perencanaan atau perancangan ini tidak perlu ada tenggang
waktu terlalu lama antara waktu perencanaan dan waktu melakukan
perbuatan pembunuhan. Sebaliknya meskipun ada tenggang waktu itu
yang tidak begitu pendek, belum tentu dapat dikatakan ada rancangan
terlebih dahulu secara tenang. Ini semua tergantung dari keadaan
konkrit dari setiap peristiwa.

       Dalam buku “Delik-delik khusus” , karangan P.A.F Lamintang

(1985:44) dikatakan adanya kenyataan, bahwa :

“Antara waktu penyusunan suatu rencana dengan waktu
pelaksanaannya itu terdapat suatu jangka waktu tertentu ‘tidak berarti’
bahwa dalam hal ini selalu terdapat suatu unsur direncanakan lebih
dahulu karena dalam jangka waktu tersebut mungkin saja pelakunya
tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk mempertimbangkan
secara tenang mengenai apa yang telah ia rencanakan”.

       Menurut profesor Simon, Pertimbangan secara tenang itu

bukan hanya diisyaratkan bagi pelaku pada waktu ia “menyusun

rencana”   dan “mengambil keputusannya” , melainkan juga pada

waktu ia melakukan kejahatannya.(Lamintang 1985:45).

       Pembunuhan yang terdapat pada pasal 340 ini, dinamakan

pembunuhan yang direncanakan terlebih dahulu atau disebut juga
                                                                36



“moord”.

       Menurut P.A.F. Lamintang dalam bukunya “Delik-delik

khusus” ditegaskan, bahwa ada perbandingan antara tindak pidana

yang diatur dalam pasal 338 KUHP dengan pasal 340 KUHP, bahwa

secara formal perbedaannya terletak pada ada dan tidak adanya unsur

direncanakan terlebih dahulu.

       Untuk mengetahui sebenarnya tentang perbedaan antara

“doodslag” dan “moord” seperti yang dimaksud dalam kitab undang-

undang kita, perlu kiranya kita mengetahui pendapat Mr. Moderman

yang pada waktu KUHP kita dibentuk menjabat sebagai Menteri

Kehakiman Belanda:

       “Perbedaan antara doodslag dan moord sama sekali bukan

terletak pada jangka waktu tertentu, yang terdapat antara “waktu

pengambilan keputusan” dengan “waktu pelaksanaannya”, melainkan

terdapat dalam sikap kejiwaan atau pemikiran tentang perilaku

selanjutnya dari si pelaku setelah pada dirinya timbul maksud untuk

melakukan sesuatu”.(Lamitang 1985 :48)

Dikatakan selanjutnya oleh Mr. Moodderman, bahwa :

“Suatu jangka waktu tertentu itu dapat marupakan petunjuk yang
berharga tentang ada atau tidak adanya suatu “perencanaan terlebih
dahulu”, akan tetapi ia bukan merupakan bukti tentang kenyataannya.
Barang siapa dengan segala ketenangan memutuskan untuk
membunuh orang lain dan setelah mempertimbangkannya, maka ia
adalah seorang pembunuh yang telah merencanakan terlebih dahulu
kejahatannya. Barang siapa karena terdorong oleh kemarahan telah
memutuskan untuk membunuh orang lain dan tidak pernah kembali
pada suatu suasana tenang untuk mempertimbangkannya kembali
dengan tenang melainkan dengan segera melaksanakan keputusannya
                                                                     37



   itu, maka ia adalah seorang pembunuh biasa, walaupun munkin benar
   bahwa jangka waktu antara ia membuat keputusannya dengan jangka
   waktu ia melaksanakan keputusannya itu adalah lebih lama dari
   jangka waktu antara waktu membuat keputusan dengan waktu
   pelaksanaannya”. (Lamintang 1985:49).

          Menurut penulis yang paling pokok perbedaan antara pasal

   338 dan pasal 340 KUHP, adalah terletak pada unsur direncanakan

   terlebih dahulu dan adanya niat untuk melaksanakannya.

3) Berdasarkan Pasal 341 KUHP

          Pasal 341 KUHP ini disebut dengan “pembunuhan dalam

   bentuk yang lebih ringan dari bentuk pokoknya”. Faktor yang

   menyebabkan pembunuhan yang diatur dalam pasal ini menjadi

   ringan ancaman pidananya daripada pembunuhan dalam bentuk

   pokoknya, adalah keadaan batin si pelaku, yaitu si ibu yang

   melakukan pembunuhan terhadap anaknya sendiri. Anak yang

   menjadi obyek pembunuhan itu biasanya adalah anak yang didapat

   dari berzina atau hubungan kelamin yang tidak sah. Seorang wanita

   yang hamil diluar perkawinan yang sah,           akan menerima beban

   psikologis berupa cemoohan dan ejekan. Semakin lama ia akan

   semakin mengalami konflik-konflik batin dan ketegangan-ketegangan

   jiwa yang sangat tinggi, sehingga untuk mengatasi konflik-konflik dan

   ketegangan-ketegangan jiwanya ini dia ia akan menghilangkan nyawa

   anaknya yang dilahirkan atau kelak dilahirkan.

          Jadi konflik batin dan ketegangan jiwa yang begitu kuat

   dirasakan oleh si ibu atau wanita tersebut telah membuat dia

   menderita, maka ancaman pidana untuk si ibu atau wanita yang
                                                                  38



melakukan tindak pidana pembunuhan yang diatur dalam pasal 341

KUHP ini, lebih ringan dari pada pembunuhan dalam bentuk pokok,

yaitu yang diatur dalam pasal 338 Kitab Undang-undang Hukum

Pidana.

Pasal 341 KUHP :

Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada
saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja
merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri,
dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

          Dari rumusan pasal 341 KUHP ini, kita dapat menemukan

klasifikasinya, yaitu pembunuhan anak (kinderdoodslag).

       Unsur-unsur dari tindak pembunuhan anak yang diatur dalam

pasal 341 KUHP adalah sebagai berikut :

a) Unsur dengan sengaja ;

b) Unsur lainnya, yaitu :

  (1) Seorang ibu

  (2) Menghilangkan nyawa anaknya

  (3) Pada saat dilahirkan atau tiada lama setelah dilahirkan

  (4) Karena takut akan diketahui bahwa ia melahirkan anak.

          Syarat terpenting dari pembunuhan ini adalah bahwa

pembunuhan anak itu dilakukan oleh ibunya dan didorong oleh

perasaan takut akan diketahui kelahiran anak tersebut. Apabila syarat

tidak ada, maka perbuatan ini dikenakan sebagai pembunuhan biasa.

Satu hal yang perlu diingat yaitu bahwa anak yang menjadi obyek

tindakan pembunuhan itu biasanya anak yang didapat karena berzina
                                                                         39



   atau hubungan kelamin diluar perkawinan.

4) Berdasarkan Pasal 342 KUHP

          Pasal 342 KUHP ini disebut dengan “tindak pidana

   pembunuhan anak dengan direncanakan terlebih dahulu”, yang

   berbunyi :

   Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena
   takut akan ketahuan bahwa akan melahirkan anak, pada saat anak
   dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya,
   diancam karena melakukan pembunuuhan anak sendiri dengan
   rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

          Dari   rumusan       ini   pun   dapat   kita   dapatkan,   bahwa

   klasifikasinya adalah pembunuhan anak sendiri dengan rencana

   (kindermoord), dan mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :

   a) Unsur dengan sengaja ;

   b) Unsur lainnya, yaitu :

      (1) Seorang ibu,

      (2) Menghilangkan nyawa anaknya,

      (3) Direncanakan terlebih dahulu,

      (4) Pada saat anak dilahirkan atau tiada berapa lama sesudah

          dilahirkan atau tiada lama kemudian daripada itu,

      (5) Karena takut ketahuan bahwa ia tidak berapa lama lagi akan

          melahirkan anak.

          Jika kita teliti lebih jelas, kelihatan bahwa unsur-unsur dari

   pada pasal 341 dan pasal 342 KUHP ini hampir sama, kedua pasal ini

   berbeda dalam hal saat pembentukan niat. Niat menghilangkan nyawa
                                                                 40



anaknya pada pasal 342 KUHP terjadi atau timbul sebelum anaknya

lahir (tidak berapa lama lagi). Jadi, dalam pasal 342 KUHP ada unsur

direncanakan terlebih dahulu.

       Sedangkan pada pasal 341 KUHP, niat untuk menghilangkan

nyawa anaknya ini tidak pernah ada. Keputusan untuk membunuh

anaknya datang secara tiba-tiba, bertepatan dengan saat kelahiran

anaknya atau tidak berapa lama sesudah itu, keputusan diambil karena

adanya perasaan takut akan ketahuan melahirkan anak.

       Jadi suatu perbuatan menghilangkan nyawa seorang anak baru

diancam dengan ketentuan pasal 342 KUHP ini, jika

a) Pembunhan tersebut dilakukan oleh seorang ibu terhadap anaknya

   sendiri

b) Anak itu sedang dilahirkan atau tidak berapa lama sesudah

   dilahirkan,

c) Dengan alasan ibu dari anak itu didorong oleh perasaan takut akan

   ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak,

d) Niat untuk melakukan tindakan itu telah ada sebelum anaknya

   dilahirkan (telah direncanakan terlebih dahulu).

       Dalam ketentuan ini pun syarat yang terpenting, yakni

pembunuhan itu dilakukan oleh ibunya dan didorong oleh perasaan

takut, serta niat untuk melaakukan tindakan itu telah ada sebelum

anaknya lahir. Anak yang menjadi obyek pembunuhan sesuai dengan

pasal 342 KUHP, ini pun biasanya anak yang didapat dari berzina
                                                                 41



atau hubungan kelamin yang tidak sah.

       Sebenarnya antara pasal 342 dan pasal 340 KUHP, terdapat

suatu persamaan. Persamaannya yaitu dalam kedua pasal tersebut,

pembunuhan itu dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu.

Meskipun dalam kedua pasal ini mengandung persamaan, namun

kedua pasal ini pun juga mengandung perbedaan, yaitu dalam hal

pembentukan niat untuk menghilangkan nyawa itu. Adapun

perbedaan antara pasal 342 KUHP dan pasal 340 KUHP, adalah

sebagai berikut :

a) Dalam ketentuan pasal 342 KUHP, adalah :

   Pembentukan niat dalam pasal ini, untuk menghilangkan nyawa

   karena perasaan takut, yaitu takut ketahuan melahirkan anak atau

   denagan kata lain bahwa niat atau kehendak untuk menghilangkan

   nyawa timbul dalam keadaan tenang namun ada perasaan takut.

b) Sedangkan dalam ketentuan pasal 340 KUHP, adalah :

   Pembentukan niat dalam pasal ini direncanakan dalam keadaan

   tenang, dipikir-pikir terlebih dahulu untuk menghilangkan nyawa

   orang lain.

       Demikianlah uraian mengenai bentuk-bentuk tindak pidana

pembunuhan yang terdapat dalam pasal 338, 340, 341 dan pasal 342

Kitab Undang-undang Hukum Pidana.
                                                                           42



3. Pengertian Wanita

          Wanita adalah seseorang yang telah dikodratkan oleh Tuhan, berjenis

   kelamin biologis (seks) sebagai perempuan yang berciri-ciri menyusui, haid,

   dan melahirkan serta memiliki rahim tidak dapat berubah, dipertukarkan, dan

   berlaku sepanjang masa. (Kementrian Pemberdayaan Perempuan 2002 : 8).

          Wanita merupakan kaum yang secara fisik kurang kuat dibandingkan

   kaum pria, dan secara psikologis lebih banyak menggunakan perasaan dan

   lemah lembut penuh kasih sayang, oleh karena itu kejahatan yang dilakukan

   oleh kaum wanita, biasanya dilakukan karena keterpaksaan.

          Sedangkan sebab-sebab kejahatan yang dilakukan oleh wanita secara

   kuantitatif lebihrendah daripada yang dilakukan oleh kaum pria,menurut

   pendapat Stephan Hurwitz adalah:

   1. Secara biologik:
      Karena wanita secara pisik kurang kuat, dan karena ada kelainan-kelainan
      pisikyang khas yang berhubungan fungsi-fungsinya sebagai kelamin
      lain,sehingga kriminalitasnya berkurang.
   2. Secara sosiologik :
      1) Lebih terlindung oleh lingkungan karena tempat bekerja di rumah
          dengan tanggung jawab hanya mengenai rumah tangga.
      2) Kurang minum,minuman keras. (Hurwitz 1986 :100).

          Para pelaku kejahatan akan dipidana sesuai dengan kejahatan yang

   telah dilakukan dan akan memperoleh pembinaan serta bimbingan di

   Lembaga Pemasyarakatan, begitu pula terhadap wanita yang melakukan

   kejahatan.
                                                                              43



B. PEMBINAAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA BULU

  SEMARANG

  1. Pembinaan

           Pembinaan terhadap narapidana dengan sistem pemasyarakatan

    sebagai misi kemanusiaan dan pekerjaan besar dalam politik kriminal, perlu

    sekali pemikiran yang mendalam terhadap kesan-kesan seperti itu agar

    menjadi langkah awal dukungan yang diharapkan dari masyarakat dan syarat

    pokok untuk menyelenggarakan konsepsi “Community treatment” dalam

    pemasyarakatan. (Bambang poernomo 1993 : 225)

           Tetapi di jaman modern sekarang ini perkembangan pembinaan

    narapidana sudah cukup manusiawi, sehat, bersifat realitas dan progresif. Hal

    ini sudah tertuang dalam usul rencana kitab undang-undang hukum pidana

    baru dari Badan Pembina Hukum Nasional tahun 1987 dalam pasal 47,

    dimana tujuan pemidanaan adalah:

    a. Pemidanaan bertujuan untuk:

       1) Mencegah dilakukannnya tindak pidana dengan menegakkan norma

           hukum demi pengayoman masyarakat.

       2) Memasyarakatkan       terpidana   dengan    mengadakan     pembinaan,

           sehingga menjadikannnya orang yang baik dan berguna.

       3) Menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana,

           memulihkan keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam

           masyarakat.
                                                                          44



b. Pembinaan      tidak     dimaksudkan   untuk   menderitakan    dan   tidak

   diperkenankan merendahkan martabat manusia. (Bambang Poernomo

   1988:33).

       Hal ini dipertegas dengan undang-undang Nomor 12 tahun 1995

tentang sistem kemasyarakatan pasal 5 bab II mengenai pembinaan, bahwa

sistem pembinaan pemasyarakatan dilaksanakan berdasarkan asas :

a. pengayoman;

b. persamaan perlakuan dan pelayanan;

c. pendidikan;

d. pembimbingan;

e. penghormatan harkat dan martabat manusia;

f. kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan;

g. terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang-

   orang tertentu.

       Tahap-tahap pembianaan narapidana, menurut Bambang Poernomo

mulai periode institusi ( intra mural) dan terus beralih pada periode non

institusi (ekstra mural )    sampai pada akhir proses pembinaan diliputi oleh

kegiatan yang penuh resiko. Namun demikian arah pembinaan narapidana di

luar tembok adalah rasional. Pembinaan secara rasional harus berusaha

keras untuk memperkecil kesan Lembaga Pemasyarakatan merupakan

kehidupan masyarakat mini yang ditata dengan pola autoriter. ( Bambang

Poernomo 1993 : 225)
                                                                       45



         Menurut Undang-undang Nomor 12 tahun1995, penjelasan pasal 6

pembinaan secara ekstra mural yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan

disebut asimilasi, yaitu proses pembinaan warga binaan masyarakat

(narapidana) yang telah memenuhi persyaratan tertentu dengan membaurkan

mereka ke dalam kehidupan masyarakat. Pembinaan secara ekstra mural juga

dilakukan oleh BAPAS ( Badan Pemasyarakatan) yang disebut integrasi,

yaitu proses pembibingan warga binaan pemasyarakatan yang telah

memenuhi persyaratan tertentu untuk hidup dan berada kembali di tengah-

tengah masyarakat dengan bimbingan dan pengawasan BAPAS.

         Sedangkan berdasarkan penjelasan pasal 7 ayat (2) Undang-Undang

Nomor      12   tahun   1995   tentang   pemasyarakatan.   Pembinaan   dan

pembimbingan Warga binaan Pemasyarakatan meliputi program pembinaan

dan bimbingan yang berupa kegiatan pembinaan kemandirian. Pembinaan

kepribadian diarahkan pada pembinaan mental dan watak agar agar Warga

Binaan Pemasyarakatan menjadi manusia seutuhnya, bertaqwa, dan

bertanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Sedangkan

pembinaan bakat dan ketrampilan agar Warga Binaan Pemasyarakatan dapat

kembali berperan sebagai anggota masyarakat yang bebas dan bertanggung

jawab.

         Demikian juga pembinaan terhadap narapidana wanita yang sedang

menjalankan pidananya mempunyai arti penting bagi kehidupan mendatang,

untuk itulah lembaga pemasyarakatan diperlukan untuk perawatan phisik atau

non phisik. Untuk berhasilnya pembinaan terpidana diperlukan perlengkapan-
                                                                      46



perlengkapan terutama bermacam-macam bentuk atau bidang yang sesuai

dengan tingkat pengembangan semua segi kehidupan terpidana dan tenaga-

tenaga pembina yang cukup cakap dan penuh pengabdian.

       Berdasarkan UU No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, pasal 7

bahwa pembinaan dan pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan

diselenggarakan oleh Menteri dan dilaksanakan oleh Petugas pemasyarakatan

yang berdasarkan pasal 8 petugas pemasyarakatan merupakan pejabat

fungsional penegak hukum yang melaksanakan tugas di bidang pembinaan,

pengamanan, dan pembimbingan warga Binaan Pemasyarakat.

       Sedangkan metode pembinaan narapidana menurut Drs. C.I. Harsono

merupakan cara dalam penyampaian materi pembinaan , agar dapat secara

efektif dan efisien diterima oleh narapidana dan dapat menghasilkan

perubahan dalam diri narapidana, baik perubahan dalam berperilaku, atau

dalam bertingkah laku. (Harsono 1995 :341)

       Salah satu metode pembinaan menurut Harsono adalah metode

pembinaan berdasarkan situasi, dalam pembinaan berdasarkan situasi

(Situational treatment method) yaitu pembina harus dapat merubah cara

berpikir narapidana, untuk tidak tergantung kepada situasi yang menyertai

dalam pembinaan, tetapi harus menguasai situasi tersebut, sehingga

pembinaan dapat diterima dengan baik, lengkap dan dapat dipahami secara

sempurna. Dengan menguasai situasi dalam pembinaan , maka petugas atau

pembina dapat memberikan dua pendekatan kepada narapidana, yaitu

(Harsono 1995 : 344-350):
                                                                           47



  a. Pendekatan dari atas (Top down approach)

  b. Pendekatan dari bawah (Bottom up approach)

         Perlu diperhatikan juga kapasitas maksimum dari sebuah penjara

  sebab hal ini akan sangat mempengaruhi terhadap bentukan karakter

  selanjutnya. seperti yang dikatakan Mr. R.A. Koeshoen :

         Seorang narapidana didalam kamar bersama dengan sendirinya akan

  hilang rasa susilanya, rasa malunya, rasa halusnya, “sehingga dalam keadaan

  yang sepi (menyendiri) tersebut akan memberikan kesempatan bagi

  narapidana wanita tersebut merenung dan berusaha untuk menganalisa apa-

  apa yang telah dilakukan sehingga akan timbul rasa penyesalan yang dalam

  dan berusaha memperbaiki segala apa yang telah diperbuatnya. (Koeshoen

  1961:150).

         Selanjutnya untuk menghapuskan rasa bosan yang tanpa pengharapan

  tersebut, diperlukan latihan keahlian yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

  Pula pendidikan, yang didukung dengan adanya perpustakaan, sarana

  hiburan, pelajaran rohani yang diadakan secara berkala dan teratur. Memang

  sangat penting memberikan pandangan-pandangan dan menimbulkan rasa

  optimis bagi narapidana di lembaga pemasyarakatan.



2. Lembaga Pemasyarakatan

         Ilmu kriminologi bukan saja digunakan untuk mengetahui sebab-

  sebab seseorang melakukan kejahatan, tapi juga dapat digunakan dalam

  pencegahan dan penanggulangan kejahatan serta pengawasan kejahatan,
                                                                         48



dengan demikian kuantitas kejahatan dapat ditekan jumlahnya. Dalam hal ini

ada dua metode pencegahan:

a. Pencegahan umum (general prevention) dengan program yang umum dan

   luas untuk menghindarkan orang-orang supaya tidak melakukan suatu

   perbuatan yang      melanggar hukum. Dalam hal ini sangat tergantung dari

   politik suatu negara dalam hal memperkembangkan kesejahteraan

   rakyatnya. Metode ini bersifat preventif. (pengertian pencegahan umum

   dalam batas yang luas).

b. Pencegahan khusus yaitu suatu usaha untuk mengurangi atau menekan

   jumlah kejahatan dan berusaha melakukan atau berbuat sesuatu kejahatan.

Metode ini bersifat represif.(Sanusi 1977:34)

       Dalam hal ini pula Bonger menghendaki pencegahan yang

diutamakan menurutnya mencegah kejahatan adalah lebih baik dari pada

mendidik menjadi orang baik kembali.(Bonger 1962:192)

       Untuk itulah penegakan hukum dan keadilan sangat diperlukan

ditengah-tengah masyarakat. Ada tiga komponen atau tiga unsur/syarat yang

memungkinkan hukum dan keadilan ditegakkan:

Pertama: Diperlukan adanya peraturan hukum yang sesuai dengan aspirasi

          masyarakat

Kedua : Adanya aparat penegak hukum yang profesional dan bermental

          tangguh atau memiliki integritas yang terpuji

Ketiga : Adanya kesadaran hukum masyarakat yang memungkinkan

          dilaksanakannya penegakan hukum. (Baharudin Lopa 1987 :4)
                                                                             49



       Dengan adanya pencegahan tersebut, yaitu yang bersifat preventif

atau represif diharapkan dapat mengurangi atau menekan jumlah kejahatan

baik yang dilakukan seseorang atau bekas narapidana laki-laki atau wanita.

       Pencegahan terjadinya kejahatan sangat penting dan harus diutamakan

karena perbuatan kejahatan atau tindak pidana akan mengganggu

perkembangan sektor-sektor sosial ekonomi atau menganggu kesejahteraan

sosial pada umumnya dalam pengertian yang luas. Untuk itulah perlu

dilakukan upaya pencegahan terhadap pelaku kejahatan atau tindak pidana.

       Sumber dasar pemikiran reaksi pidana berpola pada (1) ajaran

menuntut balas (revindicative) dan (2) ajaran hukuman (punitieve). Pola yang

kedua muncul karena alasan untuk menyempurnakan kelemahaan dari pola

yang pertama. Selanjutnya untuk memperbaiki kelemahan yang terdapat

dalam pola yang kedua juga dikembangkan berbagai variasi teori pidana,

antara lain berupa teori prevensi umum, teori prevensi khusus, memperbaiki

kerugian masyarakat, mengasingkan si pembuat yang berbahaya dan lain-

lain. (Bambang Poernomo 1982 : 29-30)

       Menurut pendapat Bambang Poernomo (1993 : 119) dalam bukunya

yang berjudul Pola Dasar Teori-Asas Umum Hukum Acara Pidana &

Penegakkan Hukum Pidana bahwa pembaharuan pelaksanaan pidana penjara

yang dikembangkan secara internasional mempunyai konsepsi dasar atas dua

prinsip tujuan pidana dengan beberapa alternative variasinya :

a. Upaya pelaksanaan pidana penjara yang didasarkan perikemanusiaan

  dengan cara memperluas usaha kelonggaran pidana untuk menjauhkan
                                                                          50



  pengaruh buruk tembok penjara.. Berbagai alternative dari upaya baru

  tersebut berupa bentuk pidana bersyarat, pelepasan bersyarat, cuti

  bersyarat, serta peningkatan remisi, asimilasi, integrasi/orientasi sosial

  lainnya sampai bentuk pidana penjara ditempay terbuka (open prison)

b. Perlakuan cara baru terhadap narapidana dengan pendekatan pembinaan di

  dalam masyarakat serta lingkungannya. Berbagai usaha pembinaan yang

  mengandung unsur bimbingan dan ketrampilan yang bersifat edukatif,

  korektif dan defensif serta mencakup aspek individu dan sosial

       Kedua prinsip pembaharuan pelaksanaan pidana penjara tersebut

merupakan     suatu   kebijaksanaan     yang    ditempuh   oleh    masyarakat

internasional untuk terpidana agar terhindar dari bahan tiruan kejahatan yang

dipelajari di dalam tembok diantara sesama narapidana, dan disamping itu

mengurangi stigma sosial, prisonisasi serta residivis.

       Sistem pemasyarakatan sebagai sub sistem penegakkan hukum pidana

harus mengandung tiga dimensi teori tujuan pidana secara terpadu. Dengan

demikian konsekuensinya adalah perlu diusahakan pelayanan hukum sebagai

bagian penegakkan hukum yang diperluas untuk membantu pelaksanaan

pidana penjara dan menopang peranan dari petugas hukum di Lembaga

Pemasyarakatan. (B.Poernomo 1993 : 120)

       Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang

sistem kemasyarakatan yang dimaksud dengan sistem kemasyarakatan sesuai

pasal 1 ayat 2 adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembin

warga binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan
                                                                     51



antara pembina, yang dibina, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas

warga binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri,

dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh

lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat

hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.

         Pengertian Lembaga Pemasyarakatan sesuai pasal 1 ayat 3 Undang-

undang nomor 12 tahun 1995 adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan

narapidana

Sementara itu pada pasal 14 ayat 1 disebutkan tentang hak-hak narapidana

yaitu:

a. Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya;

b. Mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun perawatan

   jasmani;

c. Mendapatkan pendidikan dan pengajaran;

d. Mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak;

e. Menyampaikan keluhan;

f. Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya

   yang tidak dilarang;

g. Mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan;

h. Menerima kunjungan keluarga, Penasihat Hukum atau orang tertentu

   lainnya;

i. Mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi);

j. Mendapatkan kesempatan ber asimilasi, termasuk cuti mengunjungi
                                                                           52



   keluarganya;

k. Mendapatkan pembebasan bersyarat;

l. Mendapatkan cuti menjelang bebas;

m. Mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan yang berlaku.

       Disini peran lembaga pemasyarakatan memudahkan pengintegrasian

dan penyesuaian diri dengan kehidupan masyarakat. Tujuannya: “Agar

mereka dapat merasakan bahwa sebagai pribadi dan warga negara Indonesia

yang mampu berbuat sesuatu untuk kepentingan bangsa dan negara seperti

pribadi dan warga negara Indonesia lainnya serta mereka mampu

menciptakan opini dan citra pemasyarakatan yang baik”. (Departemen

Kehakiman RI,11)

       Tentang sistem pemasyarakatan itu sendiri, Bambang Poernomo

(1982:183), berpendapat sebagai berikut:

“Suatu elemen yang berinteraksi yang membentuk satu kesatuan yang

integral, berbentuk konsepsi tentang perlakuan terhadap orang yang

melanggar hukum pidana di atas dasar pemikiran rehabilitasi, resosialisasi

yang berisi unsur edukatif, korektif, defensif dan yang beraspek pada individu

dan sosial.”

       Seperti dalam pemasyarakatan tersebut, dinamakan stelsel progresip,

sehingga bentuk kejahatan itu sendiri akan mempunyai klasifikasi sendiri,

menurut jenis, motif, dan cara.

Pengertian progresip menurut Bahroedin adalah sebagai berikut:

Arti progresip adalah kemajuan dengan setingkat demi setingkat yang
terkandung di dalamnya adalah pemberian perbaikan nasib kepada orang-
                                                                          53



  orang terpenjara yang bersangkutan dengan secara menungkat seimbang
  dengan tingkatan kemajuan dalam memperbaiki kelakuannya, disertai dengan
  bertambah besarnya tanggung jawab atas kelakuannya sendiri.(Bahroedin
  1966:28).

         Dengan demikian dapatlah diketahui betapa pesatnya perkembangan

  yang telah terjadi dalam perlakuan kepada narapidana. Koesnoer melihat

  asas kepenjaraan jaman dahulu seperti dibawah ini:

         Mencegah prinsip kepenjaraan pada waktu itu ialah melindungi

  masyarakat terhadap penjahat selama ia masih dalam rumah penjara”.

  Sehingga peugas penjara pada semua bagian akan melakukan tugas

  pembinaan dengan latar belakang yang menjurus kepada agar narapidana

  menjadi takut dan jera untuk melakukan kejahatan lagi serta menjadi

  peringatan bagi masyarakat lain untuk tidak melakukan kejahatan. Hal ini

  berakibat petugas yang berada di penjara akan melakukan/ melaksanakan

  tugasnya dengan sewenang-wenang tanpa perikemanusiaan. (Koesnoen

  1952: 16).



3. Lembaga Pemasyarakatan Wanita

         Pembaharuan pidana penjara bukanlah menghapus jenis tindakan

  pidana penjara tapi merupakan usaha pergantian dari kepenjaraan menjadi

  sistem pemasyarakatan. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa

  kepenjaraan sudah tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang

  dalam kehidupan sehari-hari selalu berpedoman dan berlandaskan Pancasila.

         Bentuk perlakuan dituangkan dalam usaha Lembaga Pemasyarakatan

  untuk membina narapidana, untuk mengenal diri sendiri, beriman dan
                                                                         54



bertakwa, mendapatkan ketrampilan, serta berguna bagi keluarga dan

masyarakat serta tidak lagi melakukan kejahatan.

       Berbagai upaya telah dilakukan Lembaga Pemasyarakatan dala rangka

mewujudkan pelaksanaan pidana yang efektif dan efisien agar narapidana

dapat mengenal diri sendiri. Usaha itu berupa pembagian Lembaga

Pemasyarakatan menurut kategori, baik usia maupun jenis kelamin. (Harsono

1995 : 80)

       Lembaga Pemasyarakatan khusus wanita di Indonesia antara lain

terdapat di kota Malang, Semarang, Tangerang, serta Medan. Hal tersebut

diatur di dalam Undang-undang Pemasyarakatan Nomor 12 tahun 1995, pasal

12 ayat 1, yang berbunyi :

“Dalam rangka pembinaan terhadap narapidana di lembaga pemasyarakatan
(LAPAS) dilakukan penggolongan atas dasar: a. umur ; b. jenis kelamin ; c.
lama pidana yang dijatuhkan ; d. jenis kejahatan ; dan e. kriteria lain yang
sesuai dengan kebutuhan atau perkembangan pembinaan.”

Sedangkan dalam ayat 2 menyebutkan bahwa :

“Pembinaan narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS)
dilakasanakan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita”

       Tujuan didirikan Lembaga Pemasyarakatan Wanita adalah untuk

memisahkan antara narapidana laki-laki dan narapidana wanita demi faktor

keamanan dan faktor psikologi. Cara pembinaan narapidana wanita tidak jauh

berbeda dengan Lembaga Pemasyarakatan pada umumnya, hanya sedikit

kekhususan dimana di dalam LP Wanita diberikan pembinaan ketrampilan

seperti menjahit, menyulam, mengkristek, dan memasak bahkan dalam LP

Wanita diberikan cuti haid yang merupakan salah satu pelaksanaan
                                                                          55



   pembinaan dan dalam hal pekerjaanpun terdapat kekhususan yaitu pada

   narapidana wanita sifat pekerjaannya tidak begitu berat, sedangkan pada

   narapidana laki-laki sifat pekerjaannya agak berat.

          Pembinaan di dalam LP Wanita disesuaikan         dengan kemampuan

   serta kebutuhan wanita, serta dibekali ketrampilan serta pekerjaan yang

   diharapkan dapat berguna setelah ia kembali ke masyarakat serta

   keluarganya.



4. Sistem Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan

          Pembinaan narapidana adalah sebuah sistem. Sebagai suatu sistem,

   maka pembinaan narapidana memiliki beberapa komponen yang bekerja

   saling berkaitan untuk mencapai suatu tujuan. (Harsono 1995 : 5). Beberapa

   komponen-komponen tersebut antara lain; falsafah, pendekatan sistem,

   klasifikasi, perlakuan terhadap narapidana, dan orientasi pembinaan.

          Falsafah pembinaan lembaga pemasyarakatan adalah Pancasila.

   Kesepakatan nasional menggunakan Pancasila sebagai falsafah dari semua

   segi dan pandangan hidup bangsa Indonesia, sangat mendasari penggunaan

   falsafah ini. Sedangkan tujuan pembinaan adalah pembinaan dan bimbingan,

   dengan tahap-tahap admisi/orientasi, pembinaan dan asimilasi. Tahap

   admisi/orientasi dimaksudkan, agar narapidana mengenal cara hidup,

   peraturan dan tujuan dari pembinaan atas dirinya. Dalam tahap pembinaan,

   narapidana dibina, dibimbing agar tidak melakukan tindak pidana di

   kemudian hari apabila keluar dari Lembaga Pemasyarakatan. Asimilasi

   dimaksudkan upaya penyesuaian diri, agar narapidana tidak menjadi
                                                                         56



canggung bila keluar dari Lembaga Pemasyarakatan, apabila telah habis

pidananya atau bila mendapat pelepasan bersyarat, cuti menjelang bebas, atau

pembebasan karena mendapat remisi. (Harsono 1995: 17)

          Pada pendekatan sistem, dalam sistem pemasyarakatan menurut

Harsono (1995-14 ) adalah security aprroach, artinya pendekatan keamanan

masih merupakan bagian yang penting, sebab itu narapidana diklasifikasikan

menurut berat / ringannya tindak pidana yang dilakukan, menurut lama

pidana yang dijatuhkan oleh Pengadilan. Kemudian narapidana digolongkan

menjadi B-I, B-II-a, B-II-b, dan B-III. Klasifikasi narapidana dapat dilihat

dari tabel berikut ini :

Tabel 1 Klasifikasi narapidana menurut lamanya pidana

  Klasifikasi              Lama Pidana

  B-I                      > 1 tahun

  B-II-a                   4 bulan sampai 12 bulan

  B-II-b                   1 bulan sampai 3 bulan

  B-III                    Pidana kurungan 1 bulan



          Kalsifikasi B-I terdiri atas: residivis, pembunuhan berencana,

perampokan, pencurian dengan kekerasan ataupun narapidana yang dianggap

berbahaya atau membahayakan Lembaga Pemasyarakatan. Dalam sistem

klasifikasi tersebut, hanya berpengaruh terhadap sistem pengawasan

pemasyarakatan yang terbagi kedalam tiga sistem klasifikasi, yaitu maximum

security, medium security serta minimum security. Maximum security

diberikan kepada narapidana klasifikasi B-I, sedangkan medium security
                                                                        57



diberikan kepada narapidana yang lebih ringan pidananya atau masuk dalam

kategori berat, tetapi telah mendapat pembinaan dan menunjukkan sikap serta

tingkah laku yang baik selama di Lembaga Pemasyarakatan, sedangkan

mereka yang masuk kedalam minimum security adalah narapidana yang telah

mendapat pembinaan secara khusus dan telah dinyatakan laik untuk

mendapatkan pengawasan ringan.

       Pada sistem perlakuan terhadap narapidana, konsepsi pemasyarakatan

telah menempatkan narapidana bukan hanya sebagai obyek, melainkan

memperlakukannya sebagai subyek. Narapidana didudukkan sejajar dengan

manusia lain serta harga diri mereka lebih dibangkitkan. Perlakuan dan

pengaturan yang keras dikendorkan dan narapidana dibina, agar kelak setelah

keluar tidak lagi mengulangi perbuatannya dan bisa beradaptasi dengan

masyarakat.

       Sedangkan pada sistem orientasi pembinaan, sifatnya adalah bottom

up approach. Sebagai bottom up approach maka pembinaan terhadap seorang

narapidana disesuaikan dengan bakat serta minat seorang narapidana.

       Sedangkan pada sifat pemberian pekerjaan kepada seorang narapidana

adalah lebih bersifat pemberian pembinaan dengan melatih bekerja bagi

narapidana, agar kelak keluar dari Lembaga Pemasyarakatan dapat

menerapkan kepandaiannya sebagai bekal hidup dan tidak lagi melakukan

tindak pidana. Namun kendala yang dihadapi adalah setelah narapidana

tersebut keluar ternyata banyak perusahaan yang sulit menerima mereka

bekerja di perusahaan, hal ini dikarenakan perusahaan tersebut tidak mau

mengambil resiko yang mungkin timbul akibat memperkerjakan seorang
                                                                           58



mantan narapidana. Apalagi tenaga lain yang bukan narapidana cukup

tersedia di masyarakat.

       Komponen lain dalam pembinaan narapidana adalah sarana, dan salah

satu sarana yang terpenting adalah bangunan, khususnya bentuk bangunan.

Dalam sistem pemasyarakatan, semua bentuk bangunan penjara masih tetap

digunakan,   hanya    namanya     saja    yang     diubah   menjadi   Lembaga

Pemasyarakatan.

       Fasilitas serta sarana di Lembaga Pemasyarakatan berasal dari

Departemen Kehakiman dan HAM, yang diajukan oleh Kalapas dengan

menggunakan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja, untuk kemudian

diajukan melalui Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Kehakiman dan

HAM.

       Sedangkan elemen-elemen yang terkait dengan pembinaan di

Lembaga Pemasyarakatan meliputi:

a. Pemerintah / petugas

b. Narapidana

c. Masyarakat/ keluarga

       Pada sistem pemasyarakatan, narapidana diperlakukan sebagai subyek

pembinaan dan diperlakukan secara manusiawi. Tujuannya tidak lagi sebagai

pembalasan dan penjeraan, tetapi sebagain pembinaan. Sebagai subyek

narapidana, diberi kesempatan untuk membina dirinya sendiri. (Harsono

1995: 36)

       Instansi   pemerintah    yang     terkait   dengan   pembinaan   adalah

Departemen Agama, Departemen Pertanian, Departemen Pendidikan di
                                                                        59



Lingkungan dan kebudayaan , Departemen Perindustrian, dan Pemerintah

Daerah.

       Dalam sistem pemayarakatan dimunculkan pentingnya hubungan

narapidana dan masyarakat. Narapidana lebih diberi kesempatan untuk

berhubungan dengan keluarga dan masyarakat. Sedangkan Petrus Irwan

Panjaitan (1995 : 41-42) :

“Unsur masyarakat adalah adalah sesuatu yang rasional dan tepat mengingat
beberapa hal bahwa narapidana adalah anggota masyarakat yang telah
melanggar hukum serta narapidana adalah narapidana juga nantinya setelah
lepas menjalani hukuman akan kembali ke masyarakat. Hali ini berarti bahwa
pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan tidak cukup. Pembinaan
hanyalah sebatas masa hukuman. Oleh karena itu, lanjutan pembinaan ada di
masyarakat. Implikasinya masyarakat bertanggung jawa atas kelangsungan
kehidupan sosial ekonomi bekas narapidana.

       Selain itu, dalam pembinaan, pihak swasta juga dilibatkan menurut

Petrus Panjaitan (1995: 277) peranan swasta meliputi:

a. Penyediaan tenaga profesional yang ahli seperti psikolog atau pekerja

   sosial.

b. Penyediaan tenaga pelatih (instruktur) dan peralatan kerja untuk bengkel

   kerja sebagai pusat pendidikan ketrampilan bagi narapidana sampai

   kepada penyediaan bahan baku serta pelemparan barang-barang hasil

   produksi narapidana.

c. Pihak swasta diharapkan dapt menerima para narapidana setelah

   menjalani proses pidana, bagi narapidana yang memnuhi syarat.

d. Penyediaan sebagian dana untuk pembiayaan narap idana selama

   menjalani hukuman.
                                                                                    60



              C. KERANGKA TEORI / KERANGKA PIKIR

                  Gambar 1. Kerangka Teori


                                      WANITA SEBAGAI PEMBAWA
F. BIOLOGIK                        KEBAIKAN DENGAN SIFAT KEIBUAN               F.SOSIOLOGIK




                                            Latar belakang
                                         Biologik / Sosiologik



                                        Kejahatan Pembunuhan




                                      Penanganan Penegak Hukum




  Polisi (Sebagai Penyidik)         Kejaksaan                Pengadilan   Lembaga Pemasyarakatan
                                                                                  wanita




                                      Pembinaan dan Pembimbingan




                                    Bertaqwa, Berkepribadian, Bakat dan
                                     Ketrampilan, Bertanggung jawab




                                  DAPAT DITERIMA, DAN BERPERAN BAGI
                                      KELUARGA DAN MASYARAKAT
                                                                        61



       Wanita secara fisik merupakan kaum yang lemah lembut, begitu pula

secara sosiologik, wanita lebih realistik dan lebih banyak menggunakan

perasaan, sehingga wanita merupakan kaum penuh kasih sayang, serta lebih

banyak berperan sebagai makhluk pembawa kebaikan dengan sifat

keibuannya, namun ada juga wanita yang melakukan kejahatan.

       Namun demikian apabila dibandingkan secara kuantitatif, kejahatan

yang dilakukan wanita, rata-rata masih lebih rendah daripada yang dilakukan

kaum pria. Tentang hal ini tepat kiranya apabila dikemukakan pendapat Step

han Hurwitz berikut ini :

a. Pendapat Biologik

           Menurut pendapat ini, bahwa secara fisik wanita itu kurang kuat,

   dan karena ada kelainan-kelainan fisik yang khas berhubungan fungsi-

   fungsi sebagai kelamin lain, sehingga kriminalitasnya berkurang.

b. Pendapat Sosiologik

   Pendapat ini dipandang lebih realistik, karena wanita itu :

c. Lebih terlindung oleh lingkungan, karena tempat bekerja di rumah,

   dengan tanggung jawab hanya mengenai rumah tangga.

d. Kurang minum-minuman keras ( Step han Hurwitz 1986 : 100)

       Salah satu kejahatan yang paling meresahkan bagi masyarakat adalah

kejahatan pembunuhan, meskipun banyak dilakukan oleh kaum pria, namun

banyak juga wanita yang melakukan kejahatan tersebut bahkan ada yang

lebih kejam daripada yang dilakukan oleh kaum pria.
                                                                       62



      Peran Lembaga Pemasyarakatan sebagai salah satu lembaga

penagakkan hukum, sangat dibutuhkan sebagai upaya pencegahan atau

penaggulangan kejahatan, disamping tempat rehabilitasi bagi narapidana.

Begitu pula di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang, lembaga

pemasyarakatan ini selain sebagai tempat pemidanaan, juga sebagai tempat

yang memiliki fungsi sosial. Sehingga diharapkan narapidana yang menjadi

penghuni Lembaga Pemasyarakatan ini, dapat memperoleh pembinaan,

pembimbingan, dan dituntun untuk menjadi warga negara yang baik.

      Menurut    Undang-undang     Nomor     12   tahun   1995     tentang

Pemasyarakatan penjelasan pasal 7 ayat 2, Pembinaan dan Pembimbingan

narapidana di Lembaga Pemasyarakatan meliputi program pembinaan dan

bimbingan berupa kegiatan pembinaan kepribadian, dan kegiatan pembinaan

kemandirian. Pembinaan kepribadian diarahkan pada pembinaan mental dan

watak agar menjadi manusia seutuhnya, bertaqwa dan bertanggung jawab

kepada diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Sedangkan pembinaan

kemandirian diarahkan pada pembinaan bakat dan ketrampilan.Sehingga

diharapkan setelah masa pemidanaan selesai dari Lembaga Pemasyarakatan ,

mereka memiliki bakat dan ketrampilan, serta menjadi manusia yang bebas

serta bertanggung jawab, dan diterima serta berperan bagi kelurga serta

masyarakat.
                                                                                 63



                                     BAB III

                        METODOLOGI PENELITIAN



          Dalam usaha mencari bahan-bahan yang berhubungan dengan materi

   skripsi ini, penulis melaksanakan serangkaian metode penelitian sebagai berikut:

A. Lokasi Penelitian

          Penelitian dilakukan di suatu Lembaga pemasyarakatan khusus wanita

   Semarang. Dari lembaga pemasyarakatan ini penulis memperoleh data yang

   sangat berguna untuk menyelesaikan penulisan hukum yang didapat dari

   wawancara dengan narapidana dan petugas atau pembimbing lembaga

   pemasyarakatan.



B. Responden

         Responden yang dapat memberikan informasi serta data yang penulis

   butuhkan serta menunjang penulisan skripsi ini adalah:

   1. Narapidana di Lembaga pemasyarakatan wanita Semarang, khususnya bagi

      pelaku kejahatan pembunuhan

   2. Petugas atau pengawas yang berada di lembaga pemasyarakatan Bulu,

      Semarang.

   Berikut ini daftar nama responden Narapidana serta Petugas LP Wanita kelas IIA

   Semarang




                                     64
                                                                             64



  Tabel 2 Daftar responden narapidana
    No Nama                     Usia                    Agama
    1     Cornelia              38                      Katholik
    2     Lina Mayasari         24                      Islam
    3     Mistiayah             25                      Islam
    4     Sutri                 30                      Islam
    5     Supriyati             37                      Islam
    6     Chasmuni              24                      Islam
    7     Zamronah              22                      Islam
    8     Mitun Jayanti         27                      Islam
  Sumber : wawancara dengan ke 8 orang narapidana

  Tabel 3 Daftar Responden Petugas
    No Nama                             Jabatan
    1     Suzana Tri Agustin, Bc.IP     Kasubsi Bimpas
    2     Sri Utami, Sst                Staf bagian bimpas
    3     Sri Utami, S H                Staf bagian registrasi



C. Sumber Data

  1. Data Primer

           Besumber pada data yang didengar langsung selama mengadakan

        penelitian dengan cara wawancara/interview langsung dengan narapidana,

        juga dengan petugas yang berstatus pegawai biasa dan sebagai pembina di

        Lembaga Pemasyarakatan Bulu di Semarang.

           Wawancara penulis dengan petugas adalah mengenai latar      belakang

        masing-masing narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan serta

        pembinaan yang meliputi proses tahapan pembinaan serta kegiatan-kegiatan
                                                                             65



     bagi     narapidana   khususnya   narapidana   yang   melakukan   kejahatan

     pembunuhan.

        Sedangkan wawancara penulis dengan narapidana yang melakukan

     kejahatan pembunuhan, yaitu mengenai latar belakang mereka melakukan

     kejahatan pembunuhan, serta pembinaan-pembinaan yang mereka dapatkan

     selama menjalani proses pemidanaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita

     kelas II A Semarang.

  2. Data Sekunder

        Data yang dipelajari dari berbagai literatur yang berhubungan dengan

     materi     penelitian dan segala peraturan-peraturan, serta yang berkaitan

     dengan penelitian ini, serta juga putusan pengadilan yang telah berkekuatan

     hukum tetap.



D. Metode Pengumpulan Data

  1. Studi Kepustakaan

     a. Bahan Hukum Primer menurut Burhan Ashshofa S.H adalah bahan yang

        isinya mengikat karena dikeluarkan oleh Pemerintah (Ashshofa

        1996:103). Dan dalam penelitian ini penulis menggunakan peraturan

        perundangan yang terkait dengan lembaga pemasyarakatan, serta putusan

        pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

     b. Bahan Hukum Sekunder

        Data yang dipelajari dari berbagai literatur yang berhubungan dengan

        materi penelitian dan literatur karangan para sarjana hukum terkemuka,
                                                                            66



      dan tulisan-tulisan ilmiah populer baik yang dalam surat kabar maupun

      mass media lainnya, termasuk tulisan-tulisan dalam internet.

   c. Bahan Hukum Tersier

      1) Kamus Umum Bahasa Indonesia

      2) Kamus hukum

2. Studi Lapangan dengan mengadakan penelitian secara lengkap pada obyek

   yang diteliti, untuk memperoleh data yang diperukan meliputi :

   a. Wawancara/interview, yaitu proses tanya jawab dimana dua orang atau

      lebih berhadap-hadapan secara fisik dan merupakan alat pengumpulan

      informasi, dengan berpedoman pada pertanyaan yang telah dirinci.

      Sedangkan menurut Burhan Ashshofa, S.H., interview merupakan cara

      yang digunakan untuk memperoleh keterangan, secara lisan guna

      mencapai tujuan tertentu. Dan menurutnya, jenis-jenis pertanyaan dalam

      interview antara lain:

      1) Pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku atau pengalaman

          informan,

      2) Pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat atau nilai,

      3) Pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan atau situasi emosi

          informan,

      4) Pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan (informasi faktual)

      5) Pertanyaan yang berkaitan dengan alat-alat perasa,

      6) Pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakan demografi informan,
                                                                                67



7) Pertanyaan yang berkaitan dengan urutan kegiatan. (ashshofa

      1996:54)

         Interview akan dilakukan terhadap responden, yaitu narapidana,

serta petugas lembaga pemasyarakatan. Pada teknik pelaksanaannya,

penulis menggunakan metode wawancara tidak berencana, menurut

Ashsofa, dalam bukunya yang berjudul metode penelitian hukum,

menyatakan        bahwa      metode      wawancara     tidak    berencana    (tidak

berpatokan), tidak berarti bahwa peneliti tidak mempersiapkan dulu

pertanyaan yang akan diajukan, tetapi peneliti tidak terlampau terikat

pada aturan-aturan yang ketat. Alat yang digunakan adalah pedoman

wawancara yang memuat pokok-pokok yang ditanyakan. (Ashsofa 1996:

96)

         Pada pelaksanaan wawancara (interview) ini, terdapat beberapa

hal yang sangat mendukung hingga terlaksananya proses wawancara

antara penulis dengan para responden, hal-hal yang mendukung tersebut

antara lain :

a) Dukungan dari para petugas Lembaga Pemasyarakatan yang

      memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan interview

      kepada para narapidana khususnya narapidana yang melakukan

      kejahatan pembunuhan. Selain itu dukungan tersebut juga berbentuk

      respon     positif   dari   para   petugas     dalam     membantu     penulis

      mendapatkan informasi serta data yang penulis butuhkan selama

      melaksanakan penelitian.
                                                                          68



   b) Narapidana bersifat kooperatif selama menjalani proses wawancara.

          Namun selain dukungan-dukungan tersebut, terdapat juga

   beberapa hambatan selama menjalani proses interview, hambatan-

   hambatan tersebut antara lain :

   a) Pada proses recording, seringkali para narapidana merasa tidak

      nyaman dan merasa curiga kepada penulis, karena mereka tidak

      mengetahui tujuan sebenarnya dari proses recording tersebut.

   b) Pada    proses   pencatatan    langsung,   terkadang   penulis   lebih

      berkonsentrasi untuk menulis jawaban dari para responden, sedangkan

      responden menjawab (berbicara) terlalu cepat. Hal ini dapat

      menghambat proses interview.

   c) Pada pertanyaan-pertanyaan yang sensitif/peka, khususnya kepada

      narapidana, yaitu ketika penulis bertanya mengenai alasan yang

      melatar belakangi hingga mereka melakukan pembunuhan, mereka

      dapat tersinggung, karena mengingatkan mereka akan masa lalu.

          Hal-hal yang penulis sebutkan diatas itulah, yang merupakan

   hambatan-hambatan dalam proses interview antara penulis dengan para

   responden. Kekurangan-kekurangan maupun hambatan-hambatan ini

   diharapkan mampu diperbaiki, sehingga pelaksanaan wawancara dapat

   berlangsung lancar serta efisien dengan hasil maksimal seperti yang

   diharapkan.

b. Observasi dengan pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap

   obyek penelitian untuk memperoleh gambaran secara umum tentang
                                                                      69



obyek penelitian. Penulis melakukan observasi mengenai :Proses

pembinaan narapidana khususnya bagi narapidana yang melakukan

kejahatan pembunuhan, serta kegiatan-kegiatan yang harus dijalani para

narapidana       selama   menjalani   proses   pemidanaan   di   Lembaga

Pemasyarakatan Wanita kelas IIA Semarang.

        Observasi yang penulis lakukan di LP wanita klas IIA Semarang

ini meliputi :

1) Pengamatan terhadap pelaksanaan pembinaan yang dilaksanakan di

    Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA.

2) Pengamatan terhadap antusias para narapidana terhadap kegiatan-

    kegiatan yang merupakan proses pembinaan di LP Wanta Klas IIA

    Semarang.

3) Pengamatan terhadap hasil dari pembinaan, seperti hasil kerajinan

    ketrampilan para narapidana.

4) Pengamatan terhadap ucapan serta ekspresi muka serta gerak tubuh

    para narapidana selama penulis melakukan interview, khusunya

    terhadap pertanyaan-pertanyaan yang peka.

Observasi yang penulis lakukan antara lain :

1) Pada tanggal 27 September 2005.

2) Pada tanggal 3 Oktober 2005

3) Pada tanggal 6 Oktober 2005

4) Pada tanggal 10 Oktober 2005

5) Pada tanggal 12 Oktober 2005
                                                                                    70



          6) Pada tanggal 14 Oktober 2005

          7) Pada tanggal 5 Januari 2006.

                 Selama melaksanakan observasi, penulis tidak menghadapi

          hambatan yang berarti, hanya penulis tidak dapat mendokumentasikan

          kegiatan-kegiatan yang dijalani oleh para narapidana, hal ini sebagai

          langkah pihak Lembaga Pemasyarakatan untuk melindungi privaci para

          narapidana.

      c. Studi Dokumentasi, yaitu cara penyelidikan untuk memperoleh

          keterangan atau informasi dari tata usaha atau catatan-catatan tentang

          gejala atau peristiwa masa lalu. Pada penyelidikan ini penulis meneliti

          dokementasi identitas narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan

          di bagian registrasi serta dokumen-dokumen mengenai kegiatan para

          narapidana.

                 Pada    proses     ini,    penulis     mempelajari   denah   Lembaga

          Pemasyarakatan serta mendatangi bagian registrasi untuk, memeriksa

          dokumen-dokumen         para     narapidana     yang   melakukan    kejahatan

          pembunuhan, dari dokumen ini, penulis mengetahui identitas lengkap

          para narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan.



E. Metode Analisa Data dan Pengolahan Data

          Untuk mendapatkan data yang objektif, penulis menggunakan jenis

   metode triangulasi untuk menguji objektivitas data dengan metode observasi,

   interviev (wawancara), serta studi dokumentasi.
                                                                          71



       Triangulasi sebagai taknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan

sumber, metode, penyelidikan dan teori. Teknik triangulasi yang banyak

digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber lainnya. Permeiksaan keabsahan

data melalui triangulasi dengan sumber data dapat dicapai dengan jalan:

1. Membandingkan data hasil pengamtan dengan data hasil wawancara.
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dan yang
   dikatakan secara psibadi.
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang sewaktu diteliti dengan sepanjang
   waktu
4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat
   pandangan orang sepserti rakyat biasa, pejabat pemerintah, orang
   berpendidika, orang yangberbeda
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan
   (Moleong 2000:178)
       Namun dalam penelitian ini, penulis hanya menggunakan jalan

membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara penulis dengan

para responden . Hal ini khusunya terkait dengan proses pembinaan di Lembaga

Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.

       Selain hal tersebut, penulis juga membandingkan hasil wawancara

kepada responden yaitu para narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan

dan para petugas, serta membandingkan dengan isi suatu dokumen yang

berkaitan, yaitu terkait dengan latar belakang wanita melakukan kejahatan

pembunuhan. Pada proses ini penulis membandingkan keterangan para

narapidana mengenai identitas pribadi mereka dari hasil wawancara serta isi

dokumen yang memuat identitas mereka dari bagian registrasi.
                                                                                 72



       Sedangkan pada tahap analisis data, penulis menggunakan metode

kualitatif deskriptif yaitu mulai dari pengumpulan hal ikhwal yang berhubungan

dengan latar belakang dan penyebab wanita melakukan kejahatan pembunuhan,

cara-cara mereka melakukan tindak pidana pembunuhan tersebut, serta cara

pembinaan narapidana wanita di lembaga pemasyarakatan Bulu Semarang, yang

bersumber dari keterangan-keterangan responden, yakni narapidana serta

pengawas di Lembaga Pemasyarakatan.

       Langkah selanjutnya dalam menganalisis dan menginterpretasi data

kualitatif adalah merumuskan pernyataan-pernyataan, kemudian memeriksa

apakah data yang telah dikumpulkan tersebut dapat mendukung teori yang telah

dirumuskan. (Ashshofa 1966: 66 ). Kemudian menguraikan secara terperinci hal-

hal tersebut, sehingga dalam penyajian ini para pembaca dengan mudah dapat

memperoleh gambaran tentang isi skripsi.

       Akhirnya berdasarkan uraian yang dikemukakan, maka akan ditarik

kesimpulan   secara   induktif   secara     keseluruhan,   sebagai    jawaban   atas

permasalahan yang disoroti.

       Berikut ini adalah bagan metode penelitian seperti yang penulis kutip

dalam buku karya Miles dan Huberman (1999: 120):

Bagan Penelitian :

                Pengumpulan                          Penyajian Data



                                 Reduksi Data



                                Penarikan
                              Kesimmpulan
                               verivikasi
                                                                              73



                                  BAB IV

                       HASIL DAN PEMBAHASAN



A. HASIL

  1. Gambaran Umum Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang

            Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang terletak di jalan M.G.R.

     Soegijopranoto nomor 59 Kecamatan Semarang Tengah kota Semarang,

     Propinsi Jawa Tengah. LP Wanita Semarang atau LP kelas II A Semarang ini,

     sebelumnya bernama “Penjara Wanita Bulu” penjara seluas 13.975 m2 ini

     didirikan pada tahun 1894, yang merupakan warisan peninggalan Belanda.

            Tepatnya pada tanggal 27 April 1964, penjara wanita Bulu berganti

     nama menjadi “Lembaga Wanita kelas II A Semarang”, perubahan nama ini

     berkaitan dengan perubahan sistem kepenjaraan di Indonesia, khususnya

     mengenai sistem pembinaan narapidana yang dikenal dengan nama

     pemasyarakatan yang mulai dikenal pada tahun 1964 ketika dalam konferensi

     dinas kepenjaraan di Lembang, tanggal 27 April 1964, Dr. Sahardjo,S.H

     melontarkan gagasan perubahan tujuan pembinaan narapidana dari sistem

     kepenjaraan menjadi sistem pemasyarakatan. Pada saat itu Lembaga

     Pemasyarakatan Wanita kelas II A Semarang ini berada di bawah Direktorat

     Jenderal Bina Tuna Warga. Perubahan terakhir hingga sekarang, LP Wanita

     kelas II A Semarang ini berada dibawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

     Seperti telah penulis kemukakan diatas, perubahan nama ini tidaklah sekedar

     pergantian nama saja, melainkan lebih jauh merupakan perubahan terhadap
                                                                         74



sistem perlakuan terhadap narapidana, dimana narapidana bukan hanya

sebagai obyek, tetapi juga sebagai subyek. Bentuk bangunan pun mengalami

perubahan, yaitu pada sistem sebelumnya bentuk bangunan menyerupai

penjara, namun pada sistem pemasyarakatan bentuk bangunan perlu

dirancang secara khusus, serta memperlakukan narapidana dengan cara yang

manusiawi serta bermartabat sesuai dengan falsafah pemasyarakatan baru,

yaitu Pancasila.

       Lembaga Pemasyarakatan Wanita kelas II A Semarang merupakan

Lembaga Penegakan Hukum terakhir, pada proses hukum. LP ini sesuai

tujuannya ialah sebagai tempat pembinaan serta tempat pembimbingan bagi

para pelanggar hukum yang telah resmi menerima vonis pengadilan.

Pembinaan narapidana meliputi pembinaan kepribadian yang diantaranya

terdiri atas perbaikan segi mental dan rohani, pembinaan kesadaran berbangsa

bernegara, pembinaan kemampuan intelektual, seperti kejar paket A, serta

pembinaan    kesadaran   hukum.    Kemudian     meliputi    juga   pembinaan

kemandirian yang terdiri atas ketrampilan kerajinan tangan seperti ;

menyulam, menjahit, mengkristek, ketrampilan kecantikan seperti salon, serta

ketrampilan yang mendukung usaha-usaha industri, seperti masak-memasak.

Selain itu LP Wanita Semarang juga mengadakan pembinaan yang bersifat

rekreasi, seperti olahraga, kesenian, bahkan kepramukaan.

       Lembaga Pemasyarakatan Semarang sebagai salah satu LP kelas II A

karena memenuhi kriteria sebagai berikut :
                                                                      75



   a. Kapasitas Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang yang dapat

      menampung hingga 465 orang narapidana.

   b. Lokasi Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang terletak di Ibukota

      Jawa Tengah , Semarang.

   c. LP Wanita Semarang mengadakan pembekalan kerja dan memiliki jenis

      kegiatan yang dapat meningkatkan ketrampilan, seperti menjahit,

      menyulam, ketrampilan masak-memasak, dsb.



2. Kondisi Fisik Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang

          Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang ini dibangun di atas

   tanah seluas 16.226 m2 dengan luas 13.975 m2 yang terdiri dari : (Data

   sekunder LP Wanita Semarang)

   a. Rumah dinas                 : 1 buah

   b. Kantor                      : 13 ruang

   c. Ruang kunjungan             : 1 ruang

   d. Ruang ketrampilan           : 1 ruang

   e. Gereja                      : 1 ruang

   f. Ruang kelas                 : 1 ruang

   g. Mushola                     : 1 buah

   h. Ruang karantina (sell)      : 1 blok

   i. Kamar tahanan               : 1 blok

   j. Kamar narapidana            : 8 blok

   k. Salon                       : 1 ruang
                                                                            76



   l. Koperasi / kantin           : 1 ruang

   m. Ruang perpustakaan          : 1 ruang

   n. Ruang makan WBP             : 1 ruang

   o. Balai pertemuan             : 1 buah

   p. pos jaga                    : 3 tempat

   q. Sumur                       : 11 buah

   r. Gudang                      : 4 ruang

   s. Kamar mandi / WC            : 4 ruang

   t. Dapur                       : 1 buah

          Secara umum kondisi LP Wanita Semarang dalam keadaan baik dan

   terawat, dan didukung oleh kondisi tanah yang baik, hal ini sangat

   mendukung terlaksananya kegiatan berkebun serta tanaman hias di lokasi ini.



3. Pola Organisasi LP Wanita Semarang

          Lembaga Pemsyarakatan Wanita Semarang dalam menjalankan

   pembinaan dan pembimbingan terhadap narapidana sesuai UU nomor 12

   tahun 1995 pasal 7 ayat 1 diselenggarakan oleh Menteri dan dilaksanakan

   oleh petugas pemasyarakatan. Berikut ini ialah struktur organisasi LP Wanita

   Semarang;
                                                                                                                                      77



                                         Gambar 2 Struktur organisasi LP Wanita Kelas II A SMG
                                         Berdasarkan Keputusan Menteri No.M.1.PR.7.3.85 tentang
                                                    Organisasi Tata Kerja LP kelas II A


                                                         KEPALA




KA KPLP
                                                                                                                     Ka. Sub Bag TU
                Ka. Sksi Bimbingan       Ka Seksi Kegiatan                  Ka. Seksi Administrasi
                 Napi/Anak Didik               kerja                         Keamanan dan Tatip

                                                                                                                Ka. Ur. Umum    Ka Ur. Kepeg
 Kesautuan                                                                                                                      Keu
Pengamanan
                                                                     Ka. Sub Seksi            Ka. Sub Seksi
                                                                      Keamanan             Pelaporan DanTatib
                    Ka. Sub Seksi Bim.        Ka. Sub seksi
                    Kemasyarakatan dan        Sarana kerja
                       keperawatan


                                               Ka. Sub Sekdi Bimb.
                      Ka. Sub Seksi            Kerja & Pengelolaan
                       Registrasi                   Hasil Kerja




             Sumber: SK Menteri Kehakiman RI No. M01 PR.07.03 tahun 1985
                                                                                78




Adapun tugas masing-masing bidang adalah sebagai berikut :

a. Sub Bagian Tata Usaha

             Sub Bagian Tata Usaha dipimpin oleh seorang KASUBAG Tata

     Usaha, sub bagian ini mempunyai tugas untuk melaksanakan urusan

     ketatausahaan dan rumah tangga Lembaga Pemasyarakatan. Sub Bagian

     ini terdiri dari:

             Urusan Kepegawaian dan Keuangan, sub bagian ini dipimpin oleh

     seorang kepala urusan kepegawaian dan keuangan. Sub bagian ini

     memiliki tugas melaksanakan urusan kepegawaian dan keuangan.

             Urusan umum dipimpin oleh seorang kepala urusan umum, sub

     bagian ini memiliki tugas mengurusi surat menyurat serta mengurusi

     perlengkapan rumah tangga.

b.   Seksi Bimbingan Narapidana / Anak Didik (ANDIK)

             Seksi ini dipimpin oleh seorang Kepala Seksi (KASI) Bimbingan

     Narapidana dan Anak Didik. Tugas seksi Binadik adalah memberikan

     bimbingan pemasyarakatan kepada narapidana/anak didik. Bagian ini

     terbagi menjadi dua sub seksi, yaitu:

     1) Sub seksi Registrasi

                  Sub seksi ini, dipimpin oleh seorang Kasubsi Registrasi dan

         mempunyai tugas melaksanakan pencatatan dan membuat statistik

         serta mendokumentasikan foto, identitas serta sidik jari narapidana.
                                                                         79




   2) Sub seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan

              Sub seksi ini dipimpin oleh seorang Kasubsi Bimbingan

      Kemsyarakatan dan perawatan.

              Tugas bagian ini adalah memberikan bimbingan dan

      penyuluhan rohani, memberikan pelatihan olah raga, pengurusan

      perpustakaan, menangani pemberantasan Buta Huruf, melayani

      riset/kunjungan, menangani kantin, melayani kegiatan-kegiatan

      narapidana, mengurusi surat menyurat, membuat SK asimilasi, cuti

      penglepasan serta mengurusi kesehatan dan memberikan perawatan

      bagi narapidana.

c. Seksi Kegiatan Kerja

          Bagian ini dipimpin oleh Kasi Kegiatan Kerja, dan memiliki tugas

   memberikan     pembekalan     ketrampilan   serta   pembimbingan   kerja,

   mempersiapkan sarana prasarana dan mengelola ketrampilan hasil kerja.

   Bagian ini terdiri atas dua bagian:

   1) Sub seksi Bimbingan Kerja dan Pengolahan Hasil Kerja

              Sub seksi ini dipimpin oleh seorang kasubsi Bimbingan dan

      lolahker, dan memiliki tugas memberikan petunjuk seta bimbingan

      latihan kerja serta mengelola hasil kerja narapidana.

   2) Sub seksi Sarana Kerja

              Sub seksi ini dipimpin oleh seorang Kasubsi Sarana Kerja dan

      memiliki tugas mempersiapkan sarana prasarana serta memfasilitasi

      sarana kerja.
                                                                      80




d. Seksi Administrasi Keamanan dan Tata tertib

           Bagian ini di pimpin oleh seorang Kasi Administrasi Kamtib dan

   bidang ini, empunyai tugas mengatur jadwal tugas, penggunaan

   perlengkapan dan pembagian tugas pengamanan, menerima laporan

   harian dan berita acara dari satuan pengamanan yang bertugas serta

   menyusun laporan berkala di bidang keamanan dan menegakkan tata

   tertib. Bidang ini terdiri dari:

   1) Sub seksi Keamanan

               sub seksi keamanan dipimpin oleh seorang Kasubsi keamanan

       dan bertugas mengatur jadwal tugas, penggunaan perlengkapan dan

       pembagian tugas keamanan.

   2) Sub seksi Pelaporan dan Tata Tertib

               Sub seksi ini dipimpin oleh seorang Kasubsi Pelaporan dan

       Tatib dan memiliki tugas menerima laporan harian dan berita acara

       dari satuan pengamanan yang bertugas serta mempersiapkan laporan

       berkala di bidang keamanan dan menegakkan tata tertib.

e. Kesatuan Pengamanan LAPAS (KPLP)

           KPLP dipimpin oleh seorang kepala dan membawahi petugas

   pengamanan LAPAS. Kedudukan kepala KPLP berada di bawah Kepala

   Lapas dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Lapas.

   Tugas KPLP adalah:

   1) Melakukan penjagaan dan pengawasan terhadap narapidana.

   2) Melakukan pengawalan keamanan dan ketertiban.
                                                                           81




      3) Melakukan pengawalan penerimaan. Penempatan, dan pengeluaran

          narapidana.

      4) Melakukan pemeriksaan terhadap pelanggaran keamanan.

      5) Membuat laporan harian dan berita acara pelaksanaan pengamanan.



4. Koordinasi Kerja

          Lembaga Pemasyarakatan dipimpin oleh seorang Kepala Lembaga

   Pemasyarakatan (Kalapas), dalam menjalankan tugasnya, lembaga ini terdiri

   atas bagian-bagian yang memiliki tugas serta kewenangan masing-masing.

   Bagian-bagian tersebut masih dibagi ke dalam sub bagian atau sub seksi yang

   bertujuan mewujudkan efektivitas kerja.

          Pembagian sub seksi atau sub bagian ini berdasarkan kesamaan tugas

   serta kewenangannya. Sub bagian Tata Usaha terdiri atas urusan kepegawaian

   serta urusan umum. Bagian ini memiliki tugas melaksanakan urusan ke tata

   usahaan. Kemudian Seksi Bimbingan Narapidana / Anak Didik yang dibagi

   ke dalam sub seksi registrasi serta sub seksi Bimbingan Kemsyarakatan dan

   Perawatan. Selanjutnya adalah bagian Kegiatan Kerja yang memiliki fungsi

   meemberikan pembekalan ketrampilan serta pembimbingan kerja serta

   mempersiapkan sarana prasarana kerja, terbagi kedalam dua sub bagian,

   yakni sub seksi bimbingan kerja dan pengolahan kerja serta sub seksi sarana

   kerja. Kemudian adalah seksi Administrasi Keamanan dan Tata tertib, yang

   dibagi kedalam sub seksi keamanan dan sub seksi pelaporan dan tata tertib.

   Serta satu bagian khusus yang memiliki tugas dibidang keamanan, yaitu
                                                                       82




Kesatuan Pengamanan Lapas, bagian ini berada di bawah kepala Lapas serta

bertanggung jawab langsung kepada kepala Lapas.

       Bagian-bagian ini dalam menjalankan tugasnya, saling berkoordinasi.

Sedangkan Kalapas sendiri memiliki tugas-tugas sebagai berikut:

a. Membentuk serta membuat program pembinaan pengamanan dan

   pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan serta perawatan tahanan

   dalam melaksanakan sistem pemasyarakatan.

b. Memberikan penilaian terhadap pelaksanaan program pembinaan,

   pengamanan dan pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan.

c. Penerimaan keluhan dan pengaduan dari Narapidana untuk diteruskan

   kepada UPT.

d. Mengambil tindakan cepat terhadap disiplin dan pelanggaran hukum oleh

   narapidana/WBP (wawancara dengan Sri Utami, staf bagian bimpas

   4 Januari 2006).

       Pada proses sidang TPP, Kalapas dilibatkan dalam pemberian

disposisi, sebagai bahan yang akan dibahas dalam sidang TPP tersebut.

Sedangkan pada peberian asimilasi Kalapas mendapat delegasi dari Menteri

Hukum dan HAM untuk memberikan Surat Keputusan (SK) dalam hal izin

kerja bakti, olah raga, upacara dengan masyarakat dan bimbingan latihan di

luar LP. Pertimbangan dikeluarkannya SK ini harus didasarkan dari hasil

Penelitian Masyarakat (Litmas) yang dilakukan oleh Badan Pemasyarakatan

atau Bapas, sedangkan usulan asimilasi terhadap salash satu narapidana

berasal dari pihak LP sendiri. Proses Litmas sendiri, melibatkan keluarga
                                                                        83




narapidana serta masyarakat di sekitar tempat tinggal keluarga narapidana,

dengan jalan mengadakan wawancara apakah mereka siap menerima kembali

Narapidana tersebut. Hasil dari penelitian tersebut kemudian oleh Bapas

diserahkan oleh pihak LP.

       Lembaga Pemasyarakatan dalam menjalankan tugas pembinaan

kepada narapidana bukan hanya dilakukan oleh para petugas lemaba

pemasyarakatan, namun juga melibatkan masyarakat. Seperti kutipan

wawancara penulis dengan salah satu staf bagian Bimpas :

”....dalam pembinaan, masyarakat juga terlibat...” (wawancara dengan Suzana
Tri Agustin, kasubsi Bimpas tanggal 4 Januari 2006).


       Peran petugas pemerintah serta kelompok masyarakat, sangat besar

pengaruhnya dalam pembinaan narapidana. Petugas pemerintah tersebut

berasal dari berbagai instansi, antara lain Departemen Agama, Departemen

Sosial, Departemen Kesehatan, Departemen Tenaga kerja, dan sebagainya

(wawancara dengan Susana Tri Agustin tanggal 4 Januari 2006).

       Selain dengan instansi pemerintah, LP juga mengadakan kerjasama

dengan LSM-LSM serta psikolog, maupun pemuka agama, dan hal ini

didasarkan atas permintaan pihak LP, apabila mereka memandang perlu

untuk menggunakan jasa mereka dalam mendukung proses pembinaan di

Lembaga Pemasyarakatan.

       Pihak luar yang juga terlibat dalam proses pembinaan adalah hakim

Pengawas dan Pengamat (wasmat). Hakim Wasmat adalah hakim yang

ditunjuk oleh UPT Pengadilan Negeri. Hakim wasmat memiliki tugas pokok
                                                                          84




   melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap putusan pengadilan,

   apakah vonis / keputusan pengadilan telah dilaksanakan sebagai mana

   mestinya.

          Berdasarkan petikan wawancara penulis dengan Suzana Tri A.

   Mengenai hakim wasmat adalah :

          ”Hakim wasmat ini, datang secara berkala, mereka akan
   mengumpulkan narapidana dan mengadakan wawancara (interview) kepada
   para narapidana satu persatu mengenai pembinaan serta pembimbingan
   selama mereka berada di dalam LP, penelitian ini merupakan bagian dari
   pengawasan terhadap putusan atau vonis pengadilan”. (wawancara tanggal 4
   Januari 2006).

          Pengawasan hakim wasmat ini bukan hanya terhadap narapidana yang
   masih menjalani pemidanaan di LP, namun juga terhadap narapidana yang
   dijatuhi pidana bersyarat dalam upaya mengawasi dan mengamati putusan
   pidana serta mengetahui tingkah laku narapidana, dan hakim wasmat dapat
   meminta0 Kalapas untuk memberi informasi mengenai tingkah laku
   narapidana.


5. Latar Belakang Wanita Melakukan Kejahatan Pembunuhan

          Ada beberapa faktor yang telah dapat penulis kumpulkan berdasarkan

   hasil penelitian di lapangan, yaitu Lembaga Pemasyarakatan Wanita

   Semarang. Sebelum penulis uraikan satu persatu tentang latar belakang dan

   penyebab wanita melakukan kejahatan pembunuhan, terlebih dahulu perlu

   diketahui bahwa narapidana yang berada di LP Wanita Semarang sampai saat

   ini berjumlah.48 Dari 48 orang narapidana tersebut, terdapat 8 orang yang

   melakukan kejahatan pembunuhan.

          Adapun jenis kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh ke-8

   narapidana tersebut, mereka telah melanggar ketentuan peraturan perundang-
                                                                        85




undangan sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum

Pidana yaitu melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP.

       Dari hasil penelitan penulis, diperoleh informasi bahwa yang menjadi

korban dari kejahatan pembunuhan ini meliputi orang dewasa dan anak (anak

kandung sendiri). Pada kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh wanita

dewasa ini, status wanita tersebut berada dalam ikatan perkawinan.

       Pembunuhan yang dilakukan oleh wanita terhadap anak, pada

umumnya dilakukan oleh mereka karena suaminya tidak memperhatikan serta

tidak bertanggung jawab menafkahi.

       Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan petugas dan para

narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang, maka berikut ini

adalah hasil penelitian penulis mengenai latar belakang wanita melakukan

kejahatan pembunuhan.

a. Lemahnya Penghayatan terhadap Agamanya

           Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan di Lembaga

   Pemasyarakatan Semarang, ternyata semua narapidana yang melakukan

   kejahatan pembunuhan adalah beragama. Daftar agama yang dipeluk oleh

   para narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan dapat dilihat

   dalam tabel berikut ini ;
                                                                       86




   Tabel 4 Daftar Agama narapidana pelaku kejahatan pembunuhan

    No. Agama                           Jumlah
    1.    Islam                         7 orang
    2     Katholik                      1 orang
          Jumlah                        8 orang
   Sumber : wawancara dengan ke 8 orang narapidana pelaku pembunuhan

          Dari 8 orang narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan,

   yang mengaku beragama Islam adalah 7 orang. Sedangkan yang mengaku

   beragama Kristen hanya 1 orang saja. Berikut petikan wawancara penulis

   dengan seorang narapidana berinisial Z yang berasal dari Purwodadi,

   yang mengatakan bahwa :

   “Sebelum masuk ke LP Semarang ini, saya tidak pernah menjalankan
   perintah agama, shalat saja tidak bisa, apalagi mengaji”(wawancara
   penulis dengan Z, pada tanggal 12 Oktober 2005).
          Sedangkan petikan wawancara penulis dengan narapidana yang

   lain, yang berinisial L adalah sebagai berikut :

   “Dulu saya beragama Nasrani, Kristen, tetapi sekarang agama saya Islam,
   karena dulu saya nikah secara Islam” (wawancara penulis dengan L
   tanggal 6 Oktober 2005).

b. Faktor Umur

          Bardasarkan hasil penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Wanita

   Kelas II A Semarang, faktor umur seseorang ternyata juga sangat

   berpengaruh terhadap terjadinya kejahatan pembunuhan. Hal ini

   disebabkan karena umur seseorang sangat berpengaruh terhadap emosi

   serta kekuatan fisik seseorang.

          Berikut ini adalah daftar umur narapidana yang melakukan

   kejahatan pembunuhan :
                                                                           87




   Tabel 5 Daftar umur narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan

                Umur                       Jumlah
                17-27                        5
                28-38                        2
                39-49                        1
                jumlah                       8
   Sumber : wawancara dengan ke 8 orang narapidana

         Berdasarkan dari hasil penelitian tersebut dapatlah disimpulkan,

  bahwa kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan oleh narapidana wanita

  yang berumur kurang dari 27 tahun, yakni yang berumur 17 sampai 38

  tahun lebih tinggi daripada narapidana yang berumur 39 tahun keatas.

  Sedangakan narapidana yang berumur antara 17 hingga 27 tahun,

  menunjuka angka tertinggi. Hal ini disebabkan, karena keadaan fisik

  seseorang pada usia tersebut sangat kuat, sehingga kejahatan itu cenderung

  dilakukan oleh mereka yang berumur antara 17 sampai dengan 27 tahun.

         Hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancara penulis dengan

  narapidana berinisial C, yang berumur 25 tahun berikut ini :

   ”...saya udah ngga bisa menahan kejengkelan saya yang saya pendam
   selama ini melihat suami saya tidak pernah memperhatikan saya, padahal
   saya lagi hamil, dia lebih memperhatikan adik kandungnya yang duduk
   di kelas 1 SD, karena kejengkelan itulah saya sendiri menjemput adik
   ipar saya itu dari sekolah, lalu saya ajak ke sungai, di sungai itulah saya
   tenggelamkan kepalanya dengan tangan saya, hingga meninggal...”.
   (wawancara penulis dengan C tanggal 6 Oktober 2005).

c. Faktor Pendidikan

          Dari hasil penelitian penulis diperoleh informasi mengenai daftar

   pendidikan      terakhir   narapidana    yang     melakukan      kejahatan
                                                                     88




pembunuhan,yang dapat dilihat dari tabel berikut ini :

Tabel 6 Daftar pendidikan narapidana pelaku kejahatan pembunuhan

 No     Pendidikan                       Jumlah

 1.     SD                               6 orang

 2.     SMP                              2 orang

 3      SMA                              0

        Jumlah                           8 orang

Sumber : wawancara dengan ke 8 orang narapidana


        Berdasarkan tabel, sebanyak 8 orang narapidana yang melakukan

kejahatan pembunuhan, 6 diantaranya adalah tidak tamat Sekolah Dasar,

bahkan 1 orang narapidana buta huruf, sedangkan yang mencapai tingkat

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, adalah sebanyak 2 orang narapidana

dan satu orang diantaranya tidak tamat. Dan tidak ada satupun narapidana

yan melakukan kejahatan pembunuhan yang pendidikan terakhirnya

mencapai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.

        Terkait dengan faktor pendidikan, berikut petikan wawancara

penulis dengan narapidana berinisial Cn, berikut ini :

”Saya hanya bersekolah hingga kelas 2 SD, tapi cukup untuk bisa
membaca dan menulis...”

        Sedangkan menurut narapidana yang lain yang berinisial C yang

mengaku buta huruf, karena hanya bersekolah hingga bangku kelas 1 SD,

mengatakan bahwa ia tidak tahu bahwa membunuh merupakan kejahatan

yang melanggar hukum, berikut ini petikan wawancara penulis dengan C

pada tanggal 6 Oktober 2005 :
                                                                       89




         “Saya tidak tahu kalau membunuh orang itu akan dijatuhi hukuman,
         tahu-tahu ada polisi yang mencari-cari saya setelah kejadian itu”
         (wawancara dengan C tanggal 6 Oktober 2005).

d. Faktor Ekonomi

           Dari hasil penelitian penulis di Lembaga Pemasyarakatan Wanita

   Semarang, terkait dengan faktor ekonomi, penulis menggunakan istilah

   pekerjaan atau mata pencaharian dan berdasarkan pekerjaan para

   narapidana, menurut hemat penulis bahwa dari 8 narapidana yang

   melakukan kejahatan pembunuhan, 1 orang mempunyai status ekonomi

   menengah. Sedangkan sisanya yaitu 7 orang narapidana mempuntai status

   ekonomi rendah.

           Berikut ini adalah daftar mata pekerjaan narapidana yang

   melakukan kejahatan pembunuhan :

   Tabel 7 Daftar pekerjaan narapidana yang melakukan kejahatan

   pembunuhan

    No              Pekerjaan               Jumlah
     1     Pedagang                            1
     2     Petani                              3
     3     Kuli bangunan                       2
     4     Pembantu                            1
     5     Tidak bekerja                       1
           Jumlah                              8
              Sumber : wawancara dengan ke 8 orang narapidana
           Berikut ini merupakan petikan wawancara penulis dengan

   narapidana yang berinisial M, berusia 27 tahun:
                                                                           90




   “Suami saya tidak lagi memperhatikan saya, ia malah pergi, dan tidak
   menafkahi saya, sedangkan saya sendiri tidak bekerja, jadi saya nekad
   membuang bayi yang baru saya lahirkan”.

e. Faktor Dendam atau Jengkel

          Berdasarkan penelitian penulis, dari 8 orang narapidana yang

   melakukan kejahatan pembunuhan terdapat 3 orang narapidana yang

   melakukan kejahatan pembunuhan dikarenakan faktor jengkel atau

   dendam.

          Seperti petikan wawancara penulis dengan salah satu narapidana

   yang berinisial C, berikut ini :

   ”...saya nekad membunuh adik ipar saya dikarenakan saya jengkel sama
   dia karena suami saya lebih memperhatikan dan menyayanginya...”.
   (wawancara penulis dengan C tanggal 6 Oktober 2005).

          Sedangkan narapidana yang lain yang berinisial S, menyatakan

   bahwa ia tega membunuh bayi yang baru saja dilahirkannya, karena

   merasa jengkel pada suami yang tidak bertanggung jawab padanya,

   namun untuk melampiaskan kejengkelannya pada si suami, S tega

   menyakiti bahkan membunuh anak kandungnya itu.

          Berikut petikan wawancara penulis dengan S pada tanggal 6

   Oktober 2005 :

   ”Saya sebal sama suami yang ngga mau peduli pada saya, dia malah
   nikah lagi di rumah saya, setelah itu dia lebih peduli sama istri keduanya,
   untuk itulah saya menusuk anak saya yang baru lahir hingga
   meninggal...” (wawancara penulis dengan S tanggal 6 Oktober 2005)

f. Faktor Ancaman Atau Takut Pada Suami

          Berdasarkan penelitian penulis terhadap ke 8 orang narapidana,

   terdapat   seorang    narapidana   yang   mengaku     nekad    melakukan
                                                                        91




   pembunuhan karena takut akan ancaman suami, berikut ini merupakan

   petikan wawancara penulis dengan narapidana berisial Z yang berusia 22

   tahun berikut ini :

    “Saya tidak membunuh, tapi cuma membantu memegangi, dan suami
   sayalah yang melaksanakan pembunuhan tersebut, saya melakukan hal
   tersebut karena suami saya memaksa dan saya takut akan ancamannya,
   sekarang suami saya berada di LP Kedung pane” (wawancara Z dengan
   penulis tanggal 6 Oktober 2005).

g. Faktor Harga Diri

           Faktor lain yang menyebabkan seorang wanita melakukan

   kejahatan pembunuhan, adalah karena perasaan harga diri. Dimana

   menurut hasil penelitian penulis diperoleh informasi, bahwa faktor harga

   diri, pada umumnya merupakan suatu faktor wanita melakukan kejahatan

   pembunuhan yang dapat diancam dengan ketentuan dalam pasal 341

   KUHP.

           Salah satu unsur dalam pasal 341 KUHP menyebutkan bahwa

   mereka yang melakukan kejahatan pembunuhan ini, adalah wanita yang

   tidak terikat dalam suatu perkawinan, tentu saja yang dimaksudkan adalah

   perkawinan yang sah menurut hukum nasional.

           Berdasarkan wawancara penulis dengan 8 orang narapidana yang

   melakukan kejahatan pembunuhan terdapat 2 orang yang mengaku bahwa

   ia melakukan pembunuhan terhadap anak kandungnya yang baru saja ia

   lahirkan, disebabkan karena ia hanya menikah dibawah tangan, dan sang

   suami tidak bertanggung jawab terhadap bayi yang dilahirkan

   berdasarkan perkawinan tersebut.
                                                                          92




              Berikut merupakan kutipan wawancara penulis dengan seorang

   narapidana yang berinisial M pada tanggal 6 Oktober 2005 :

   ” ...saya membuang bayi yang baru saya lahirkan, karena anak itu
   merupakan anak saya dengan suami kedua saya yang menikah dengan
   saya secara siri, apalagi dia ngga pernah memperhatikan saya dan ngga
   menafkahi saya lagi...” .(wawancara penulis dengan M tanggal 6 Oktober
   2005)

h. Faktor Membela Diri

              Berdasarkan hasil penelitian penulis diperoleh informasi, bahwa

   terdapat seorang narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan ini

   karena faktor membela diri. Seperti tergambar dalam petikan wawancara

   penulis dengan seorang narapidana berisial MS berikut ini:

   “Mertua saya suka sekali mencampuri urusan keluarga saya dan suami,
   selain itu dia juga sangat mudah marah, seperti kejadian malam itu
   sebenarnya dia yang menyerang saya terlebih dahulu, saya hanya
   membela diri…” (Wawancara penulis dengan MS tanggal 12 Oktober
   2005).

i. Faktor Kejiwaan

              Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan di LP Wanita

   Semarang, selain faktor-faktor yang telah penulis sebutkan di atas,

   ternyata terdapat faktor yang dapat melatar belakangi seorang wanita

   melakukan kejahatan pembunuhan, yaitu faktor kejiwaan atau psikologis.

              Faktor kejiwaan ini, dapat menyebabkan seseorang secara tidak

   sadar melakukan pembunuhan terhadap orang lain, bahkan menyakiti diri

   sendiri.

              Seperti hasil wawancara penulis dengan seorang narapidana yang

   berisial CR berikut ini :
                                                                            93




     “Saya tidak sadar melakukan pembunuhan terhadap anak saya, padahal
     saya sangat menyayangi anak saya, tahu-tahu saat bangun tidur, saya
     sudah memegang pisau, dan anak saya berlumuran darah, bahkan sampai
     sekarang saya tidak tahu makam anak saya, kalau mengingat itu hati saya
     sangat sedih, bahkan haki sempat menyarankan saya untuk mengikutu
     penyembuhan di Rumah sakit Jiwa…” (wawancara penulis dengan CR
     tanggal 12 Oktober 2005).

             Kemudian CR juga mengungkapkan bahwa dirinya bahkan pernah

     melakukan percobaan bunuh diri, sebelum masuk ke LP Wanita

     Semarang, akibat perasaan menyesal tersebut.



6. Pembinaan Narapidana Yang Melakukan Kejahatan Pembunuhan Di

  Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang

         Menurut sistem pemasyarakatan dewasa ini, narapidana tidak hanya

  dipandang sebagai individu saja, melainkan harus dipandang sebagai

  makhluk sosial dan sekaligus anggota masyarakat. Oleh karena itu harus

  diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaannya. Sedangkan

  pidana yang dijatuhkan kepadanya bukanlah dianggap sebagai pembalasan

  dendam, akan tetapi merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindarkan

  sebagai akibat dari perbuatan yang telah dilakukannya.

         Dalam pembinaan narapidana tersebut, semua petugas yang berada

  dalam Lembaga Pemasyarakatan terlibat di dalamnya. Keterlibatan para

  petugas Lembaga Pemasyarakatan meliputi bidang teknik dan pengawasan.

         Guna berhasilnya pembinaan menurut sistem pemasyarakatan dewasa

  ini, tidak bergantung pada narapidananya saja, akan tetapi disamping itu juga

  diperlukan adanya petugas pembina yang cukup dan penuh rasa pengabdian
                                                                         94




serta dilengkapi dengan sarana-sarana yang memadai. Salah satu hal yang

paling penting yaitu peranan masyarakat dalam rangka menerima kembali

bekas narapidana yang telah selesai menjalani pidananya. Sebagai warga

masyarakat diharapkan turut serta membantu para narapidana yang telah

selesai manjalani pidananya dalam menempuh hidup barunya.

       Adapun dasar pemikiran pembinaan narapidana berpatokan pada “10

Prinsip Pemasyarakatan” yaitu : (Data sekuder LP Wanita Semarang)

1. Ayomi dan berikan bekal hidup agar mereka dapat menjalankan
   peranannya sebagai warga masyarakat yang baik dan berguna.
2. Penjatuhan pidana tidak lagi didasari oleh latar belakang pembalasan,
   sehingga tidak boleh ada penyiksaan terhadap narapidana dan anak didik
   pada umumnya baik berupa tindakan, perlakuan, ucapan, cara perawatan
   ataupun penempatannya. Satu-satunya derita yang dialami oleh napi dan
   anak didik hanya dibatasi kemerdekaannya untuk bergerak dalam
   masyarakat bebas.
3. Berikan bimbingan (bukan penyiksaan) supaya mereka bertobat. Berikan
   kepada mereka pengertian mengenai norma-norma hidup dan kegiatan-
   kegiatan sosial untuk menumbuhkan rasa hidup kemasyarakatannya.
4. Negara tidak berhak membuat mereka menjadi lebih buruk atau lebih
   jahat daripada sebelum dijatuhi pidana. Salah satu diantaranya agar tidak
   mencampur narapidana dengan anak didik yang melakukan tindak pidana
   berat dengan yang ringan dan sebagainya.
5. Selama kehilangan (dibatasi) kemerdekaan bergeraknya para napi dan
   anak didik tidak boleh diasingkan dari masyarakat. Perlu ada kontrak
   dengan masyarakat yang terjelma dalam bentuk kunjungan hiburan ke
   lapas dan rutan / cubrutan oleh anggota masyarakat bebas dan kesempatan
   yang lebih banyak untuk berkumpul bersama sahabat dan keluarga.
6. Pekerjaan yang diberikan kepada napi dan anak didik tidak boleh bersifat
   sekedar pengisi waktu. Juga tidak boleh diberikan pekerjaan untuk
   memenuhi keperluan jawatan atau kepentingan negara kecuali pada waktu
   tertentu saja. Pekerjaan yang terdapat di masyarakat dan yang menunjang
   pembangunan seperti meningkatkan industri kecil dan produksi pangan.
7. Pembinaan dan pembimbingan yang diberikan kepada napi dan anak
   didik adalah berdasarkan Pancasila. Hal ini berarti bahwa kepada mereka
   harus ditanamkan semangat kekeluargaan dan toleransi disamping
   meningkatkan pemberian rohani kepada mereka diserta dorongan untuk
   menunaikan ibadah sesuai dengan kepercayaan agama yang dianutnya.
8. Narapidana atau anak didik bagaikan orang sakit yang perlu diobati agar
   mereka sadar bahwa pelanggaran hukum yang pernah dilakukannya
                                                                       95




    adalah merusak dirinya, keluarganya, dan lingkungannya, sehingga perlu
    dibina / dibimbing ke jalan yang benar. Selain itu mereka harus
    diperlakukan sebagai manusia biasa yang memiliki harga diri agar
    tumbuh kembali kepribadiannya yang percaya akan kekuatan sendiri.
9. Narapidana dan anak didik hanya dijatuhi pidana berupa membatasi
    kemerdekaannya dalam jangka waktu tertentu.
10. Untuk pembinaan dan pembimbingan para napi dan anak didik maka
    disediakan sarana yang diperlukan.
        Sepuluh Prinsip Pemasyarakatan tersebut, menjadi dasar pemberian

pembinaan kepada napi di Lembaga Pemasyarakatan agar kelak ia dapat

kembali diterima serta bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarganya serta

masyarakat, serta tidak akan mengulangi perbuatannya dahulu.

a. Tahap Pembinaan

          Tahapan Pembinaan Bagi Narapidana Dapat Dilihat Dari Skema

   Berikut Ini:
                                                                                                                                                                                            96



                                                                                Gambar 3 PROSES PEMASYARAKATAN

                                                                                                  landasan hukum
                                                                       1.
                                                                       2.     Pancasil
                                                                            Pancasila a              12 1995
                                                                                          5. UU. No. 5. UU. No. 12 1995   9. Kep Menteri
                                                                       3.
                                                                       2.     UUD 194
                                                                            UUD 1945 5               12 1997
                                                                                          6. UU. No. 6. UU. No. 12 1997   10. Peraturan Menteri
                                                                       4.
                                                                       3.     KUHP
                                                                            KUHP                     7. Kep.
                                                                                          7. Kep. PemerintahPemerintah    11. Kep. Dirjen Pemas
                                                                       5.
                                                                       4.     KUHAP
                                                                            KUHAP         8. PP      8. PP




                Tahap Awal                                                                  Tahap lanjutan                                                           Tahap Akhir
                1                                          1                                                                 2                          2
                    /3 Masa pidana                             /3 – ½ Masa Pidana                                         ½ - /3 Masa Pidana                /3 Sampai Bebas
M   A. Admisi Orientasi                              A. Pembinaan Kepribadian                                    Asimulasi                                     Integrasi           M      Tujuan :
A      Masa pengamatan dan                              Lanjutan                                          DALAM LAPA S TERBUKA                                                     A      1. Tidak
S      pengenalan dan penelitian                        Program pembinaan ini                                  (Open Camp)                        -   PB             Bebas         S         melanggar
Y      lingkungan, paling lama 1 tahun.                 merupakan lanjutan tahap awal.                                                            -   CB             Sesunhhunya   Y         hukum
                                                                                                                LUAR LAPAS
A   B. Pembinaan Keprbadian                          B. Pembinaan Kemandirian                                                                     -   BAPAS                        A      2. dapat berperan
                                                                                                       (Half Way House/Work)
R      1. Pembinaan kesadaran                           1. Keterampilan untuk                                                                                                      R         aktif dalam
A          beragama                       TTP              mendukng usaha mandir           TTP         Melanjukan                                                                  A         pembangunan
K      2. Pembinaan kesadaran                           2. Ketrampilan untuk                           Sekolah                                                                     K      3. hidup bahagia
A          berbangsa dan bernegara                         mendukung usaha-usaha                                                                                                   A         di dunia dan
                                                                                                       Kerja mandiri       Olahraga                                                          akhirat
T      3. Pembinaan Kemampuan                              industri kecil                                                                                                          T
           intelektual                                  3. Ketrampilan yang                            Kerja pada          Cuti Mengunju
       4. Pembnaan kesadaran hukum                         dikembangkan sesuai                         pihak lain          keluarga
                                                           bakatnya                                    beribadah
                                                        4. Keterampilan untuk
                                                           mendukung usaha industri /
      Maximum Security                                     pertanian/perkebunan dengan
                                                           teknoloogi madya tingi                      Medium Securty                                       Minimum Securty


                                                     KERJASAMA ANTAR INSTANSI



         Instanasi Penegak Hukum                        Instanasi Hukum                                   Swasta
      1. Polri                                  1.   Depkes       5. Depdiknas                   1.   Perorangan
      2. Kejaksaan Negeri                       2.   Depnaker 6. Pemda                           2.   Kelompok
      3. Pengadilan Negeri                      3.   Dependeg 7. DII                             3.   LSM
                                                4.   Depag                                       4.   Perusahaan
                                                                                                                                                        Sumber : Data sekunder LP Kelas IIA Semarang
                                                                        98



        Berdasarkan hal di atas, maka pembinaan narapidana di dalam

Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang ini dibagi menjadi 4 tahap

pembinaan seperti yang terlihat dalam skema berikut ini :

       Pembinaan narapidana yang meliputi empat tahap tersebut adalah

meliputi :

1) Tahap Pertama

             Tahap pertama, yaitu tahap admisi orientasi. Berdasarkan hasil

   wawancara penulis dengan Sri Utami S.st, bahwa tahap pertama yaitu:

   “Pada tahap ini merupakan tahap permulaan bagi narapidana yang
   memasuki 1/3 masa pemidanaannya, pada tahap ini kami mengamati
   serta meneliti atau yang disingkat mapenaling bakat dan minat yang
   dimiliki oleh narapidana, tujuannya adalah supaya kami dapat
   mengarahkan bakat yang mereka miliki tersebut. Selain itu pada tahap
   ini pengawasan terhadap mereka sangat ketat atau dalam tahap
   maximum security. Pada tahap juga merupakan tahap pengenalan
   lingkungan atau yang disebut orientasi. (Wawancara penulis dengan Sri
   Utami S.st pada tanggal 12 Oktober 2005).

             Jadi tahap ini, merupakan tahap pembinaan permulaan bagi

   narapidana yang dilaksanakan sekurang-kurangnya 1/3 dari masa

   pidana yang sebenarnya. Pada tahap ini, aparat atau petugas

   mengadakan suatu pengamatan serta penelitian terhadap bakat serta

   minat narapidana untuk nantinya akan diarahkan sesuai dengan bakat

   yang dimilikinya tersebut. Selain hal tersebut tahap ini juga merupakan

   tahap orientasi pengenalan lingkungan Lembaga Pemasyarakatan

   kepada para narapidana.

2) Tahap Kedua

             Tahap kedua yaitu merupakan tahap pembinaan lanjutan.

   Menurut penjelasan dari Sri Utami, staf bagian Bimpas, bahwa tahap
                                                                       99



  kedua yaitu :

  “Pada tahap ini atau tahap pembinaan lanjutan, kami akan mengarahkan
  para narapidana kepada bidang yang mereka minati serta meningkatkan
  ketrampilan sesuai bakat mereka masing-masing, tahap ini pengawasan
  mulai memasuki medium security. Ketrampilan terebut misalnya
  menjahit, menyulam dan sebagainya. Selain itu kami juga mulai
  memberikan tanggung jawab kepada mereka, misalnya ; menjaga
  kebersihan ligkungan sekitarnya. (wawancara tanggal 12 Oktober
  2005).

         Tahap pembinaan lanjutan ini, diberikan kepada narapidana

  yang sudah mengalami masa pidana diatas 1/3 sampai sekurang-

  kurangnya ½ dari masa pidana yang sebenarnya. Dalam tahap ini,

  aparat atau petugas mulai mengarahkan bakat serta minat yang mereka

  miliki pada ketrampilan tertentu. Selain itu mereka juga mulai diberikan

  tanggung jawab sebagai anggota masyarakat yang berada di lingkungan

  Lembaga Pemasyarakatan Wanita.

3) Tahap Ketiga

         Tahap ketiga merupakan tahap asimilasi. Berdasarkan petikan

  wawancara dengan Sri Utami, tahap ini adalah :

  “Tahap ini atau tahap asimilasi diberikan kepada mereka yang telah
  menjalani ½ dari masa pemidanaannya, tahap ini seorang narapidana
  boleh melewati pintu ketiga tanpa harus dikawal, dan pengawasan
  kami lebih longgar dibanding dua tahapan sebelumnya karena mulai
  memasuki tahapan minimum security. (wawancara tanggal 12 Oktober
  2005).

         Tahap ketiga merupakan tahap asimilasi atau tahap pembinaan

  lanjutan diberikan kepada narapidana yang telah menjalani proses ½

  sampai sekurang-kurangnya 2/3 dari masa pidana yang sebenarnya.
                                                                     100



4) Tahap Keempat

         Tahap keempat yaitu tahap integrasi. Berdasarkan wawancara

  penulis dengan Sri Utami, S.st, tahap keempat ini ialah :

  “Tahap pembinaan yang diberlakukan kepada para napi yang sudah
  menjalani pidananya diatas 2/3 masa pemidanaan. Tahap ini para napi
  sudah boleh mengunjungi keluarganya pada hari-hari tertentu, seperti
  Lebaran, Natal dan sebagainya. Pada tahap ini kami juga memberikan
  pelepasan bersyarat serta cuti menjelang bebas” (wawancara tanggal 12
  Oktober 2005).

         Pada tahap keempat ini merupakan tahap integrasi atau tahap

  pembinaan lanjutan yang hanya boleh diberlakukan kepada para

  narapidana yang telah menjalani lebih atau diatas 2/3 masa pidana yang

  sebenarnya sampai akhir masa pidana. Pada tahap ini narapidana telah

  diizinkan untuk mengunjungi keluarganya pada hari-hari tertentu

  seperti hari raya. Serta pada tahap integrasi ini mereka juga diberikan

  pembebasan bersyarat serta cuti menjelang bebas.

       Berdasarkan wawancara penulis dengan Sri Utami bahwa pada

setiap akhir tahapan pembinaan, diadakan suatu sidang yang dinamakan

sidang TPP (Tim Pengamat Pemasyarakatan). Sidang ini bertujuan

mengevaluasi perkembangan napi selama pemberian pembinaan serta

pembimbingan pada tahap tertentu dan untuk menentukan kegiatan kerja

yang akan diikuti napi pada tahap pembinaan selanjutnya. Perkembangan

napi selama mengikuti pembinaan diberikan penilaian serta dimasukkan

dalam buku Laporan Penilaian Perkembangan Napi. Buku laporan

tersebut dipegang oleh masing-masing wali napi dan diisi setiap 3 bulan

sekali (triwulan) kemudian diajukkan dalam sidang pada akhir tahap

pembinaan tersebut. (wawancara tanggal 12 Oktober 2005).
                                                                            101



b. Kegiatan Pembinaan

          Kegiatan        pembinaan     terhadap    narapidana     di   lembaga

   pemasyarakatan wanita Semarang sangat beragam, kegiatan ini meliputi :

   1) Pendidikan mental / agama:

             Dengan tujuan untuk semakin memperteguh serta menambah

     iman seseorang, meliputi :

     a) Bagi Narapidana yang beragama Islam, kegiatan keagamaan

         meliputi:

         (1). Kegiatan     penyuluhan-penyuluhan      agama      yang   diadakan

             Seminggu tiga kali.

         (2). Mengadakan shalat berjamaah.

         (3). Pelajaran     shalat    bagi   narapidana   yang    belum    dapat

             melaksanakan shalat.

         (4). Mengadakan kegiatan iqra, yaitu pendidikan baca tulis Al

             Quran serta membaca ayat-ayat suci Al Quran.

         (5). Melaksanakan kegiatan-kegiatan kerohanian pada saat bulan

             suci Ramadhan, seperti :

             (a) Mengadakan tarawih serta tadarus;

             (b) Mengadakan pesantren ;

             (c) Mengadakan pengajian.

         (6). Melaksanakan perayaan hari besar keagamaan antara lain ;

             Nuzulul Al Qur’an, Idul Fitri, Idul Adha, Isra Mi raj serta

             Maulud Nabi Muhammad SAW.
                                                                      102



  b) Bagi narapidana yang beragama Kristen Protestan/ Katholik :

      1) Pelaksanaan Kebaktian di Gereja.

      2) Pelaksanaan Misa.

      3) Mengadakan hari besar keagamaan antara lain Natal serta

         Paskah.

       Kegiatan pembinaan serta pembimbingan keagamaan ini ternyata

sangat dirasakan manfaatnya oleh para narapidana, yaitu dapat menambah

pengetahuan serta wawasan di bidang kerohanian, seperti hasil petikan

wawancara penulis dengan Narapidana yang berinisial Z berikut ini :

“Sebelum masuk LP Wanita Semarang, saya tidak bisa shalat, jadi saya
tidak pernah melaksanakan shalat 5 waktu. Tetapi setelah masuk LP, dan
diajarkan cara-cara serta bacaan-bacaan shalat, saya jadi bisa
melaksanakan shalat”. (Wawancara tanggal 12 Oktober 2005).

       Hasil positif pembinaan keagamaan juga dirasakan oleh

Narapidana yang berinisial CS, yang sebelum masuk lembaga

pemasyarakatan Semarang ia belum bisa baca tulis Al Quran, berikut ini :

“Sebelum ini, saya tidak bisa mengaji, tetapi setelah berada di LP Wanita

Semarang ini, sedikit-sedikit saya mulai bisa membaca Al Quran,

walaupum masih Iqra 6” (wawancara tanggal 3 Oktober 2005).

       Selain dapat meningkatkan wawasan keagamaan, ternyata

pembinaan keagamaan juga dapat sebagai penyejuk jiwa bagi para

narapidana, seperti yang dikemukakan olh Narapidana berinisial CN, asal

NTT berikut ini :

“Di lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang ini, setiap mengingat
masa lalu, hati saya menjadi sedih, kadang sampai menangis, dan setiap
seperti itu cepat-cepat saya mendatangi gereja, dan mengingat Tuhan,
                                                                  103



pada Tuhanlah saya selalu berkeluh kesah. Setelah itu hati menjadi
damai”.(Wawancara tanggal 6 Oktober 2005)

       Kegiatan-kegiatan keagamaan ini, dilaksanakan oleh aparat atau

petugas Lembaga Pemasyarakatan dan didukung oleh para pihak yang

terkait, yaitu pihak yang bergerak di bidang keagamaan / kerohanian,

seperti Departeman Agama, Gereja Advent, Pantekosta, yayasan Cinta

Kasih Bangsa, Alfa Omega.

       Sedangkan kegiatan bimbingan dan penyuluhan mental meliputi :

(wawancara dengan Sri Utami, staf bagian bimpas)

1. Pemberian pelajaran budi pekerti, serta sopan santun dalam
   bertingkah laku.
2. Pemberian penyuluhan hukum serta pengenalan norma-normanorma
   hukum.
3. Mengadakan sharing (membagi pengalaman pribadi) dengan
   dibimbing oleh psikolog di lingkungan LP, serta konseling psikologi
   yang diadakan setiap hari Rabu oleh LSM terkait. (wawancara tanggal
   12 Oktober 2005).

       Kegiatan pembinaan mental juga sangat dirasakan manfaatnya

bagi para narapidana seperti yang diutarakan oleh seorang narapidana

berinisial MY, berikut ini :

“Kalau ada masalah, Ibu-ibu petugas LP, selalu bersedia mendengarkan
setiap keluhan, serta selalu memberikan saran-saran kepada saya”.
(wawancara tanggal 6 Oktober 2005).

       Berdasarkan pengamatan penulis, antusias para narapidana dalam

menyimak konseling juga terlihat pada saat pelaksanaan konseling

psikologi oleh salah satu LSM, yang diadakan setiap hari Rabu pagi di

Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang.
                                                                       104



2) Pendidikan Umum serta Kejuruan.

         Pendidikan umum serta kejuruan yang diadakan oleh LP Wanita

  Semarang meliputi :

  a) Memberikan pelajaran kejar paket A bagi narapidana yang buta huruf

      setiap hari Kamis.

  b) Mengadakan kegiatan Pramuka setiap hari Senin.

         Pembinaan pendidikan umum, khususnya kejar paket A, ternyata

  sangat bermanfaat bagi narapidana, seperti petikan wawancara penulis

  dengan narapidana berinisial CS berikut ini :

  “Sebelum masuk LP Semarang ini, saya tidak bisa membaca dan menulis,
  karena saya sekolah hanya sampai kelas 2 SD, setelah masuk LP ini,
  ternyata diajarkan membaca dan menulis huruf-huruf, sekarang saya
  mulai dapat membaca dan menulis”. (wawancara tanggal 3 Oktober
  2005).

         Sedangkan      kegiatan   kepramukaan    juga   sangat   dirasakan

  manfaatnya oleh seorang narapidana berinisial MT yang berpendidikan

  terakhir kelas empat sekolah dasar, seperti yang ia ungkapkan kepada

  penulis :

  “Sejak masuk LP ini, saya mulai mengenal kegiatan pramuka dan ternyata
  sangat menyenangkan” (wawancara tanggal 6 Oktober 2005).


         Bahkan untuk meningkatkan wawasan narapidana mengenai

  pengetahuan umum, selain menyediakan perpustakaan dengan berbagai

  koleksi buku, LP Wanita Semarang mengadakan kerjasama dengan

  Perpustakaan Wilayah, dalam pengadaan Perpustakaan Keliling, yang

  setiap satu minggu sekali mendatangi LP Wanita Semarang. Keberadaan
                                                                      105



  perpustakaan di lingkungan LP, serta kehadiran perustakaan keliling ini,

  ternyata sanagat dirasakan manfaatnya bagi para narapidana, seperti

  pendapat seorang narapidana yang berinisial L berikut ini :

  “Dengan adanya perpustakaan keliling yang hadir di LP Wanita
  Semarang, kami bisa mendapatkan dan membaca buku-buku yang tidak
  ada di perpustakaan LP” (wawancara tanggal 3 Oktober 2005).

          Berdasarkan hemat penulis, kegiatan pendidikan umum sangat

  besar manfaatnya bagi para narapidana karena dapat meningkatkan

  kemampuan intelektualitasnya.

3) Pembinaan Kemandirian

          Pembinaan kemadirian diarahkan pada pembinaan bakat dan

  ketrampilan, supaya para narapidana setelah selesai masa pemidanaannya

  dapat kembali berperan sebagai anggota masyarakat yang produktif,

  kreatif, serta mandiri.

          Adapun jenis ketrampilan yang diajarkan dalam pembinaan bakat

  dan ketrampilan berdasarkan hasil wawancara penulis dengan narapidana

  kejahatan pembunuhan adalah sebagai berikut :

  a) Menjahit, meliputi pembuatan bed cover, sarun bantal, celemek,

      pakaian seragam untuk petugas, serta seragam bagi para narapidana

      serta seragam pramuka.

  b) Kristik, meliputi pembuatan serbet makanan, bed cover, taplak meja

      serta hiasan dinding.

  c) Menyulam meliputi pembuatan sarung bantal, sarung guling, seprei,

      sapu tangan, serta taplak meja.
                                                                    106



d) Masak memasak.

e) Salon, meliputi kegiatan-kegiatan kecantikan, seperti potong rambut,

   cuci, creambath,dan didukung dengan peralatan yang memadai, serta

   terbuka untuk umum.

f) Kegiatan berkebun, meliputi pegelolaan tanaman hias / green house.

g) Ketrampilan tangan yang lain, seperti pembuatan boneka hias, bunga-

   bunga hias dan sebagainya.

       Pengajar atau pembimbing dalam kegiatan ketrampilan kerja ini

adalah petugas dari seksi kegiatan kerja. Kegiatan ketrampilan merupakan

kegiatan positif yang sangat efektif dalam membekali narapidana. Serta

mendapat respon yang positif bagi narapidana, salah satunya adalah

seperti yang dirasakan oleh narapidana berisial MY, berdasarkan kutipan

wawancara dengan penulis pada tanggal 12 Oktober 2005 :

“Di sini waktu terasa cepat, karena kegiatan yang bermacam-macam, di
LP ini saya jadi bisa menjahit, menyulam, serta mengkristek” (wawancara
tanggal 12 Oktober 2005).

       Dalam hal ini, narapidana diizinkan mengikuti salah satu kegiatan

ketrampilan yang sesuai dengan bakat dan minatnya, yang ditentukan

melalui sidang Tim Pengamat pemasayarakatan (TPP). Hasil ketrampilan

tersebut akan dipajang dan dipamerkan di ruang pameran ketrampilan,

dan apabila karyanya tersebut terjual, maka narapidana akan mendapatkan

insentif, beupa premi.
                                                                           107



4) Pembimbingan Latihan Olahraga / Kesegaran jasmani (Pembinaan Fisik /

  Jasmani)

  Kegiatan ini berada dibawah bimbingan seksi binadik, yang meliputi :

  a) Kegiatan olahraga, meliputi ; olahraga volley yang diadakan setiap

       Senin sore, Rabu sore, serta Jumat pagi, dan cabang olahraga yang

       lain seperti tenis meja, bulutangkis dan kasti.

  b) Kegiatan senam, dan berdasarkan keterangan Sri Utami, bahwa LP

       Wanita Semarang memiliki kurang lebih 12 jenis senam kesegaran

       jasmani, hal ini bertujuan menghindari kejenuhan narapidana.

  c) Mengadakan        olahraga/permainan      secara    rutin   dalam   rangka

       memperingati Proklamasi RI.

           Kegiatan ini dirasa sangat berguna bagi narapidana, sepert

   kutipan wawancara penulis dengan narapidana yang berisial CN berikut

   ini :

   “Saya ikut olahraga volley serta dapat berlatih tenis meja, olahraga bisa
   mengurangi kejenuhan” (wawancara tanggal 6 Oktober 2005).

           Berdasarkan penelitian, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa

   kegiatan olahraga di LP Wanita Semarang sangat baik karena ditunjang

   dengan fasilitas yang lengkap. Dan seperti halnya kegiatan pembinaan

   yang lain, kegiatan olahraga merupakan suatu hal yang positif bagi

   pembinaan narapidana, karena selain dapat meningkatkan kesehatan fisik

   bagi narapidana, juga secara rohani atau kejiwaan dapat menjadi suatu

   hiburan tersendiri di tengah masa pemidanaan. Selain itu kegiatan

   pembinaan jasmani juga dapat meningkatkan semangat, prestasi serta

   pengalaman para narapidana di bidang olahraga.
                                                                      108



5) Pembinaan Bidang Kesenian

          Pembinaan di bidang seni disesuaikan dengan bakat serta minat

   masing-masing narapidana. Pembinaan ini meliputi : (Data sekunder

   Jadwal kegiatan WBP LP Wanita Semarang)

  a) Kegiatan musik, yaitu pelatihan olah vokal (olah suara), paduan suara

      serta pelatihan band yang diadakan secara bergiliran baik peserta

      maupun pemula, pada hari Senin, Selasa, Rabu serta Jumat.

   b) Kegiatan karawitan, yaitu diadakan setiap satu minggu sekali pada

      hari Kamis.

   c) Kegiatan qasidah, yaitu suatu kegiatan seni musik bernafaskan Islami

      yang diadakan setiap hari Jumat.

   d) Kegiatan tari atau drama, diadakan pada Sabtu siang.

          Kegiatan kesenian ini untuk nantinya akan dipentaskan di suatu

   pentas seni, seperti pada tanggal 12 oktober 2005, LP Wanita Semarang

   mendapat kunjungan dari salah satu LSM dari kota Semarang untuk

   menyaksikan pentas wayang orang yang diperankan oleh anak didik

   Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang.


6) Pelayanan di bidang Kemasyarakatan

          Selain    memberikan    pembinaan   dan    pembimbingan    bagi

   narapidana, LP wanita Semarang juga mengadakan pelayanan-pelayanan

   terhadap narapidana, yang meliputi :
                                                                       109



   a) Pelayanan terhadap narapidana yang ingin melaksanakan syrat

      menyurat kepada pihak keluarga, kerabat, teman, dan sebagainya.

      Pelayanan ini meliputi pemeriksaan terhadap surat yang masuk

      maupun yang keluar, serta pemberian paraf terhadap surat-surat

      tersebut.

   b) Mengusulkan asimilasi bagi narapidana yang telah mencapai ½ dari

      masa pemidanaan serta telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

   c) Mengusulkan pembebasan bersyarat (pb) serta cuti menjelang bebas

      (cmb) bagi narapidana yang sekurang-kurangnya telah mencapai 2/3

      dari masa pidana sebenarnya.


7) Pelayanan Kesehatan dan Perawatan Narapidana

          Pelayanan di bidang ini dilaksanakan oleh seksi binadik, yang

   meliputi pelayanan :

  a) Pelayanan kesehatan di dalam lingkungan lp, yang ditunjang dengan

      adanya dokter serta perawat supaya narapidana yang jatuh sakit segera

      mendapatkan pertolongan. Selain itu ditunjang pula dengan adanya

      perawatan serta ruang medik yang memadai. Bagi narapidana yang

      mengalami sakit parah, serta dipandang perlu mendapatkan perawatan

      intensif, lp juga menyediakan mobil ambulance, supaya narapidana

      segera mendapatkan pertolongan.

  b) Pengadaan makanan yang bergizi serta penyediaan menu makan yang

      disesuaikan dengan menu makanan yang telah tercantum di daftar

      menu.
                                                                             110



        c) Mengadakan penyuluhan-penyuluhan kesehatan, setiap hari senin,

            seperti upaya pencegahan hiv / aids yang dilaksanakan oleh yayasan

            wahana bakti (semarang), seperti yang diungkapkan oleh sri utami

            pada penulis pada wawancara tanggal 12 oktober 2005 berikut ini :

            “Setiap hari Senin, kami bekerjasama dengan yayasan Wahana Bakti
            melaksanakan penyuluhan-penyuluhan kesehatan kepada para napi,
            seperti misalnya mengenai HIV…” (wawancara tanggal 12 Oktober
            2005).

                Selain pembinaan yang telah penulis sebutkan diatas, sesuai pasal

         ayat     UU nomor 12 tahun 1995 mengenai hak-hak narapidana,

         narapidana di LP Wanita Semarang juga berhak mendapatkan hiburan

         dari televisi serta radio, namun khusus untuk program kriminalitas,

         petugas melarang para narapidana untuk menyaksikan tayangan tersebut,

         karena ditakutkan akan mempengaruhi kondisi kejiwaan para narapidana.



B. PEMBAHASAN

  1. Latar Belakang Kejahatan Pembunuhan Yang Dilakukan Wanita

            Pembunuhan yang dilakukan oleh wanita di wilayah Semarang dari

     hasil penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang, sebagaimana

     wilayah hukum lainnya di Indonesia oleh masyarakat maupun pemerintah

     digolongkan sebagai kejahatan atau norma hukum yang ditafsirkan atau patut

     ditafsiskan sebagai perbuatan yang sangat merugikan, menjengkelkan, dan

     tidak boleh dibiarkan.

            Karena akibat yang sangat merugikan dan dilakukan pula oleh

     anggota masyarakat, secara keseluruhan menjadi kewajiban dan tanggung
                                                                       111



jawab secara bersama-sama dengan badan yang berwenang untuk

menanggulanginya seefisien mungkin.

       Dalam kaitannya dengan peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh

wanita, maka perlu mengetahui terlebih dahulu tentang latar belakang dan

penyebab terjadinya pembunuhan itu. Setelah mengetahui latar belakang dan

penyebabnya, maka kitab dapat mengetahui sekaligus menentukan cara

pemecahannya.

       Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh wanita yang terjadi di

wilayah Semarang tentunya dilatar belakangi oleh faktor-faktor penyebab

yang berbeda satu dengan lainnya. Demikian juga dapat dikatakan, bahwa

jumlah pembunuhan yang terjadi ditunjang oleh banyaknya faktor yang saling

mengkait dan berpengaruh pada faktor satu sama lainnya. Misalnya, faktor

ekonomi berpengaruh pada faktor pendidikan dan sebaliknya. Sebaliknya,

faktor pendidikan berpengaruh pada faktor ekonomi, dan masih banyak lagi

faktor lain yang dapat menimbulkan kejahatan.

       Ada beberapa faktor yang telah dapat penulis kumpulkan berdasarkan

hasil penelitian di lapangan, yaitu Lembaga Pemasyarakatan Wanita

Semarang, maka pada berikut ini akan penulis jelaskan dan uraikan satu per

satu mengenai latar belakang dan penyebab wanita melakukan kejahatan

pembunuhan. Dengan harapan, bahwa penjelasan tersebut dapat memberikan

gambaran yang lebih jelas, dan sekaligus dapat dipahami oleh seluruh

kalangan yang tertarik untuk membaca skripsi yang penulis susun ini.

       Seperti yang telah penulis uraikan sebelumnya, bahwa kejahatan itu
                                                                         112



disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, demikian juga dengan

kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh wanita, tentunya juga

dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Seperti pendapat dari Dra. Kartini

Kartono yang mengatakan.

“...perbuatan kriminal yang dilakukan oleh beberapa anak gadis yang
disebabkan oleh emosi-emosi yang sangat kuat. Emosi yang sangat kuat itu
karena rasa rindu akan orang tuaa dan kampung halamannya di desa. Oleh
karena emosi yang sangat kuat tersebut timbullah konflik-konflik batin dan
ketegangan-ketegangan yang sangat tinggi sehingga anak gadis tersebut
melakukan tindak kriminal berupa pembunuhan atau bunuh diri”.

        Kejahatan   yang   dilakukan   wanita   itu   banyak   faktor   yang

menyebabkan, yaitu:

“Faktor sosial ekonomi seperti sistem ekonomi, perubahan harga pasar,
krisis, gaji, atau upah, pengangguran dan juga dapat dipengaruhi faktor-
faktor mental (agama), bacaan-bacaan harian, film (termasuk TV), serta
faktor pisik seperti iklim, tidak luput faktor-faktor pribadi (umur), peminum
(alkohol)”. (Hurwitz 1986:86-101)

        Sedangakan berdasarkan hasil penelitian penulis di Lembaga

Pemasyarakatan Wanita Semarang, faktor-faktor yang melatar-belakangi dan

faktor-faktor yang menyebabkan wanita melakukan kejahatan pembunuhan,

adalah :

1.   Lemahnya penghayatan agamanya ;
2.   Faktor umur ;
3.   Faktor pendidikan ;
4.   Faktor ekonomi ;
5.   Faktor dendam dan jengkel ;
6.   Faktor Harga Diri
7.   Faktor ancaman atau takut pada suami ;
8.   Faktor membela diri, dan
9.   Faktor kejiwaan. (Hasil wawancara dengan ke-7 narapidana yang
     melakukan kejahatan pembunuhan tanggal 6 Oktober 2005 dan tanggal 12
     Oktober2005).
                                                                         113



      Berdasarkan    hasil   penelitian   yang   telah   penulis   kemukakan

sebelumnya, maka penulis akan uraikan satu persatu latar belakang wanita

melakukan kejahatan pembunuhan.

a. Lemahnya Penghayatan Pada Agamanya

          Setiap agama yang ada di dunia ini, niscaya mempunyai

   keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agama itu selalu

   mengutamakan sifat-sifat kebaikan dan kebajikan, menjauhi kejahatan

   atau kemunafikan. Agama juga membukakan hati manusia kepada

   pengertian-pengertian cinta terhadap sesama manusia dan melarang orang

   melakukan kejahatan. Sehingga, jika manusia benar-benar mendalami dan

   menghayati makna agama diharapkan ia menjadi manusia yang baik,

   dalam arti tidak berbuat hal-hal yang merugikan atau menyinggung

   perasaan orang lain.

           Pemahaman agama seharusnya dilakukan sejak dini oleh orang

   tua supaya seseorang dapat melaksanakan serta menjalankan agama

   sebaik-baiknya, karena agama merupakan petunjuk dari Tuhan supaya

   manusia selalu menjalankan kebaikan serta menghindari kejahatan.

   Kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama, menyebabkan jiwa

   seseorang mudah berbuat kejahatan.

          Apabila setiap pemeluk agama itu benar-benar mendalami,

   menghayati agamanya, serta melaksanakan perintah agamanya dalam

   kehidupannya sehari-hari, maka ia akan dapat menjadi manusia yang baik

   dan tidak akan melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan

   agamanya.
                                                                           114



       Berdasarkan hasil penelitian diatas, bahwa seluruh narapidana

yang melakukan kejahatan pembunuhan adalah memeluk suatu agama

namun, mereka delapan orang narapidana yang melakukankejahatan

pembunuhan      mengakui     bahwa     sebelum     berada    di   Lembaga

Pemasyarakatan Wanita Semarang mereka tidak memahami ajaran agama

serta menjalankan ibadah dengan baik sesuai dengan agama serta

keyakinannya.

       Menurut Step Han Hurwits faktor mental khususnya agama

memang merupakan faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya

kejahatan, hal ini dapat dilihat dari pendapat Hurwits sebagai berikut :

”...memang merupakan fakta bahwa norma-norma etis yang secara teratur
diajarkan oleh bimbingan agama dan khusus bersambung pada keyakinan
keagamaan yang sungguh, membangunkan secara khusus dorongan-
dorongan yang kuat untuk melawan kecenderungan-kecenderungan
kriminil”. (Hurwitz 1986 : 93)

       Berdasarkan uraian tersebut diatas, penulis dapat menarik

kesimpulan, bahwa jika seseorang tidak mendalami dan menghayati

ajaran agamanya, akan mengakibatkan mental seseorang tersebut menjadi

lemah dan imannya akan menjadi mudah goyah. Sehingga, mereka akan

mudah tergelincir, hanya menuruti hawa nafsu saja, termasuk melakukan

suatu kejahatan pembunuhan. Untuk mengatasi mental yang lemah dan

iman yang mudah goyah ini, maka Lembaga Pemasyarakatan Semarang,

memberikan pendidikan agama, dengan jalan mendatangkan guru agama

dari luar Lembaga, selain itu Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang

juga mengadakan bimbingan agama dengan bekerja sama dengan

Departemen Agama. Jadi, dengan demikian betapa pentingnya agama

bagi seseorang untuk dijadikan pedoman hidupnya.
                                                                      115



b. Faktor Umur

          Faktor umur, ternyata juga merupakan suatu faktor timbulnya

   kejahatan, karena seseorang dari kecil hingga dewasa selalu mengalami

   perubahan-perubahan jasmani dan rohani. Dengan adanya perubahan-

   perubahan ini, maka tiap-tiap masa manusia dapat berbuat jahat, sesuai

   dengan perkembangan alam pikiran serta keadaan-keadaan lainnya yang

   ada di sekitarnya. Dalam kaitannya dengan faktor umur, sebagai latar

   belakang timbulnya kejahatan, dari hasil penelitian penulis di Lembaga

   Pemasyarakatan Wanita Semarang, faktor ini sangat besar pengaruhnya

   terhadap timbulnya kejahatan.

          Berdasarkan dari hasil penelitian dapatlah disimpulkan, bahwa

   dari 8 orang narapidana yang melakukan kejahatan terhadap nyawa,

   jumlah terbesar yaitu yang dilakukan oleh narapidana wanita yang

   berumur antara 17 hingga 27 tahun. Hal ini disebabkan, karena keadaan

   fisik seseorang pada usia tersebut sangat kuat, sehingga kejahatan itu

   cenderung dilakukan oleh mereka yang berumur antara 17 sampai dengan

   27 tahun. Sehingga narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan

   berdasar faktor umur dapat disimpulkan adalah sejumlah 5 orang.

          Hal ini terkait dengan pendapat Thorsten Sellin, seperti penulis

   kutip dalam buku kriminologi, karya Step Han Hurwits yang disadur oleh

   Ny. Moeljatno sebagai berikut :

      ”Kecenderungan untuk berbuat anti sosial bertambah selama masih
      sekolah dan memuncak antara umur 20 sampai 25, menurun perlahan-
      lahan sampai umur 40, lalu meluncur dengan cepat untuk berhenti
      sama sekali pada hari tua. Kurve/garisnya tidak berbeda dari garis
      aktivitas lain yang tergantung dari irama kehidupan manusia” (Step
      han Hurwits 1986 : 99)
                                                                         116



          Jadi,     semakin     tua   umur   manusia,   semakin   menurunlah

   kecenderungan untuk melakukan suatu kejahatan. Karena, pada umur

   yang semakin tua ini, makin melemahlah kekuatan fisik seseorang.

   Walaupun kekuatan fisik ini, bukanlah syarat untuk melakukan suatu

   kejahatan. Demikian juga dengan kejahatan pembunuhan.

c. Faktor Pendidikan

         Pendidikan, sebagai salah satu faktor penyebab wanita melakukan

   kejahatan      pembunuhan.     Pendidikan   disini   dimaksudkan,   adalah

   pendidikan formal, yaitu pendidikan di sekolah. Sejak kecil seseorang

   sudah dipersiapkan untuk menjadi manusia yang baik, berguna bagi nusa

   dan bangsa. Di sekolah mereka dibekali ilmu Pengetahuan, guna bekal

   kehidupan di kemudian hari. Bangku sekolah tidak sekedar dipergunakan

   untuk tempat mempelajari ilmu pengetahuan belaka, tetapi watak dan

   kehidupan emosional akan banyak dipengaruhi pula kehidupan di

   sekolah.

         Seperti kita ketahui, bahwa faktor pendidikan sangat besar

   pengaruhnya terhadap terjadinya kejahatan. Hal ini dikarenakan,

   pendidikan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Karena makin

   tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin baik kehidupannya.

   Tetapi sebaliknya, apabila seseorang berpendidikan rendah, maka akan

   berkurang pendapatannya serta penghidupannya.

         Jadi, karena mereka tidak berpendidikan atau hanya yang sedikit

   berpendidikan menengah, dalam hal ini mereka melakukan suatu
                                                                  117



perbuatan yang tidak menggunakan akal sehatnya. Mereka hanya

menuruti emosinya saja. Bahkan banyak narapidana yang umumnya

kurang mengerti akibat dari perbuatannya itu.

      Dari hasil penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Wanita

Semarang, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa makin tingginya

pendidikan seseorang, makin sedikit kejahatan yang dilakukan. Atau

dengan kata lain, karena rendahnya pendidikan seseorang, akan

merupakan penyebab dari timbulya kejahatan. Demikian pula dengan

kejahatan pembunuhan. Walaupun pendidikan itu, kenyataannya bukan

merupakan faktor utama dalam melakukan kejahatan pembunuhan.

Karena, tidak jarang kejahatan juga dilakukan oleh orang yang

berpendidikan tinggi. Mengingat faktor pendidikan ini, maka di Lembaga

Pemasyarakatan Wanita Semarang, juga diberikan pendidikan, sebagai

pembinaan bagi para narapidana tersebut. Untuk narapidana yang tidak

bisa membaca diajarkan mengikuti kejar paket A.

      Faktor pendidikan merupakan faktor terbesar yang menyebabkan

seseorang melakukan kejahatan pembunuhan. Tentu saja pendidikan yang

dimaksud disini adalah pendidikan formal, yaitu pendidikan di sekolah.

Karena di bangku sekolah, mereka dibekali ilmu pengetahuan serta

ketrampilan, yang kelak menjadi bekal dikemudian hari. Selain

memberikan ilmu pengetahuan, sekolah juga membentuk watak serta

emosi seseorang.
                                                                           118



          Hal ini diperkuat oleh pendapat Step Han Hurwitz, mengenai

   faktor pendidikan yang merupakan faktor pembentuk pribadi seseorang,

   Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut ini:

   ”Ditinjau dari sudut kriminologi, faktor positif dari sekolah adalah: Setiap
   sekolah yang baik membuat anak-anak jadi tertib bersekolah sehingga
   secara langsung dan tidak langsung membentuk pribadinya”. (Step han
   Hurwits 1986:117)

          Berdasarkan penelitian penulis di Lembaga Wanita Semarang,

   bahwa sebagian besar pelaku kejahatan pembunuhan adalah mereka yang

   mengenyam pemdidikan hingga bangku Sekolah Dasar, bahkan ada yang

   buta huruf. Pendidikan sangat berkaitan dengan faktor ekonomi, dimana

   semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin baik

   kehidupannya, begitu pula sebaliknya.

d. Faktor Ekonomi

          Sebagaimana telah penulis kemukakan, bahwa faktor ekonomi

   dapat menjadikan penyebab terjadinya kejahatan pembunuhan, maka

   yang penulis maksudkan di sini adalah kondisi ekonomi seseorang,

   sehingga sampai seorang wanita melakukan perbuatan yang melanggar

   norma hukum tersebut.

          Seperti petikan wawancara penulis dengan salah seorang

   narapidana yang mengaku membunuh anak yang baru ia lahirkan

   disebabkan     karena     ia    tidak    bekerja,   sedangkan     suaminya

   meninggalkannya dan tidak menafkahi.

          Dalam membahas faktor ekonomi, penulis memakai istilah

   pekerjaan. Karena dengan istilah pekerjaan, penulis dapat memakai
                                                                       119



ukuran tingkat dan status ekonomi seseorang. Sebagai contoh, dengan

status ekonomi yang tinggi tidak mungkin seseorang akan bekerja sebagai

kuli bangunan. Sebaliknya dengan status ekonomi rendah, mustahil

seseorang mempunyai pekerjaan sebagai seorang pengusaha di bidang

tertentu. Oleh karena itu, penulis menilai bahwa status ekonomi cukup

memenuhi persyaratan untuk mengetahui mampu atau tidaknya seseorang

dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Faktor ekonomi berhubungan erat

dengan faktor pendidikan, karena ada kemungkinan saling menunjang.

Misalnya, seorang yang sudah berpendidikan tinggi (SMA atau perguruan

tinggi) sedikit sekali kemungkinan untuk menjadi buruh atau pembantu

rumah tangga.

      Dari hasil penelitian penulis di Lembaga Pemasyarakatan Wanita

Semarang, bahwa dari 8 narapidana yang melakukan kejahatan

pembunuhan, 1 orang mempunyai status ekonomi menengah. Sedangkan

sisanya yaitu 7 orang narapidana mempunyai status ekonomi rendah.

Berdasar hal tersebut, narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan

yang dilatar belakangi oleh faktor ekonomi adalah berjumlah 8 orang.

      Mengenai faktor ekonomi yang merupakan faktor terbesar yang

melatar belakangi seorang melakukan kejahatan pembunuhan, diperkuat

oleh pendapat Step Han Hurwitz (Hurwitz 1996 : 112) berikut ini :

”Faktor-faktor sungguhnya dari terjadinya kejahatan adalah :
kondisi-kondisi ekonomi buruk pada golongan rakyat yang status sosial
dan ekonominya rendah dan biasanya mempunyai banyak anak. Hal ini
disebabkan kurang mendapatkan ketrampilan, lebih sering ganti
pekerjaan, lebih tinggi angka pengangguran, lebih rendah upahnya, lebih
buruk keadaan perumahan, lebih banyak kesukaran ekonomi karena tidak
sesuai penghasilan dan pengeluaran dan lain-lain”
                                                                      120



           Penulispun tidak menyangkal, bahwa masih banyak faktor lain

   sebagai penyebab terjadinya kejahatan pembunuhan, baik faktor itu

   berdiri sendiri maupun faktor yang secara bersama-sama mempengaruhi

   terjadinya pembunuhan tersebut.

e. Faktor Dendam atau Jengkel

           Kaum wanita yang sesungguhnya lebih banyak berperan sebagai

   makhluk pembawa kebaikan, ternyata juga banyak melakukan suatu

   kejahatan. Wanita yang mempunyai perangai lembut, dan berperasaan

   halus juga mempunyai perasaan mudah marah dan emosi. Di sini ia

   tampil sebagai manusia yang lemah, akan tetapi juga sebagai manusia

   yang perkasa dengan kekuatan penuh.

           Bagi seorang wanita, kejahatan yang dilakukan sering disertai

   dengan dorongan emosi yang sangat tinggi, mereka jarang menggunakan

   akal sehatnya. Dari sekian banyak faktor penyebab, wanita melakukan

   kejahatan pembunuhan karena dendam atau jengkel inilah yang paling

   dominan. Mereka menjadi dendam atau jengkel, karena sering mendapat

   perlakuan yang kurang baik dari suaminya. Suami kurang memperhatikan

   dirinya dan lebih memperhatikan orang lain, bahkan serong dengan

   wanita lain. Sebelumnya si wanita sudah berusaha untuk bersabar dan

   menerima perlakuan suaminya, akan tetapi rupanya si suami tidak mau

   sadar    juga.   Bahkan   tambah   menjadi-jadi,   sehingga   hilanglah

   kesabarannya.
                                                                    121



      Dr.Kartini Kartono mengemukakan pendapatnya dalam buku

Hygiene mental berikut ini :

”Jiwa yang senantiasa diliputi rasa benci, dendam, iri, curiga, sehingga
jiwanya menjadi gelisah, tegang, penuh ketakutan, lalu menjadi kacau
balau, serta diliputi bayangan fikiran dan perasaan kegilaan. Terjadilah
kemudian desintegrasi dan disorganisasi kepribadian, tanpa memiliki
rasa sosial dan rasa kemanusiaan yang wajar” (Kartini Kartono 2000 :
92).

      Berdasarkan pendapat Dr.Kartini Kartono tersebut, karena hilang

rasa kemanusiannya, maka dengan nekad ia melakukan kejahatan

pembunuhan tersebut.

      Seperti hasil penelitian penulis, diperoleh informasi bahwa dari 8

orang narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan, karena faktor

dendam dan jengkel terdapat 3 orang narapidana. Jadi, untuk

melampiaskan rasa dendam kesumatnya atau perasaanjengkelnya, mereka

melakukan       kejahatan   pembunuhan     kepada   orang-orang    yang

bersangkutan.

      Hal ini diperkuat oleh pendapat Von Liszt, seperti penulis kutip

dalam buku karangan Hurwitz berikut ini:

   ”....mengenai kejahatan tertentu atau pada umumnya terutama
   mengenai motif-motif sehubungan dengan perbuatan nyata seperti
   pembedaan yang diadakan antara motif-motif terdorong ekonomi,
   hasrat seksual, balas dendam, membenci, kasihan, dan sebagainya...”
   (Hurwitz 1986:148).

      Jadi, faktor dendam atau jengkel ini pun, merupakan faktor

penyebab wanita melakukan kejahatan pembunuhan. Akan tetapi masih

banyak faktor lain, yang dapat menyebabkan terjadinya kejahatan

tersebut. Timbulnya faktor dendam ini, diakibatkan oleh emosi yang
                                                                       122



   sangat hebat, sehingga dapat menghilangkan kontrol diri seseorang. Oleh

   karena itu, sebagai insan yang beragama harus bisa menahan diri dan

   mengendalikan emosi.



f. Faktor Ancaman Atau Takut Pada Suami

         Salah satu faktor wanita melakukan kejahatan pembunuhan, adalah

   karena perasaan takut pada suami. Menurut hasil penelitian penulis,

   diperoleh informasi bahwa karena takut akan ancaman suami maka

   seorang wanita nekad melakukan pembunuhan.

         Seorang narapidana menyatakan bahwa ia tega membunuh

   seseorang karena takut akan ancaman suaminya, sebenarnya ia tidak

   memiliki permasalahan dengan korban, melainkan suminya yang

   memiliki masalah pribadi dengan korban, ia hanya membantu melakukan

   pembunuhan tersebut, karena si suami tidak dapat menjalankan

   rencananya itu sendiri.

         Mengenai hal ini, tepat kiranya apabila penulis mengutip pendapat

   Hans W. Gruhle mengenai kejahatan yang dilakukan bukan atas dasar

   kehendak si penjahat, melainkan karena tuntutan hidup (conduct of life),

   yang terdapat dalam buku Kriminologi karya Hurwitz ( Hurwitz

   1986:149) berikut ini:

   ”seseorang melakukan kejahatan bukan karena kehendaknya sendiri,
   tetapi menurut tuntutan hidup dapat disebabkan oleh :
    karena neigung/ inclination/ kecenderungan; karena weakness/
   kelemahan; karena passion/ nafsu/ gelora/ cinta; karena honour/
   kehormatan; karena destituation/ kekurangan”.
                                                                        123



         Berdasarkan hal diatas, seorang wanita akan nekad melakukan

   pembunuhan dikarenakan faktor ancaman atau takut pada suami, hal ini

   tentu saja tidak dapat dipisahkan dari faktor lain, dimana tidak mungkin

   seorang wanita akan tega melakukan pembunuhan, apabila ia tahu akibat

   yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Hal ini sangat berkaitan dengan

   faktor pendidikan serta faktor penghayatan terhadap agama. Seorang yang

   berpendidikan tinggi pasti lebih memilih mengacuhkan ancaman

   suaminya daripada harus melakukan kejahatan pembunuhan. Serta tentu

   saja hal ini tidak dapat dilepaskan dari faktor penghayatan agama dimana

   orang yang mampu mendalami serta menjalankan ajaran agama dengan

   baik, pasti akan selalu berusaha menjalankan perintah Tuhan dan

   menghindari larangannya, termasuk pembunuhan, karena hal ini

   merupakan salah satu dosa besar.

g. Faktor Harga Diri

         Faktor lain yang menyebabkan seorang wanita melakukan

   kejahatan pembunuhan, adalah karena perasaan harga diri. Dimana

   menurut hasil penelitian penulis diperoleh informasi, bahwa faktor harga

   diri, pada umumnya merupakan suatu faktor wanita melakukan kejahatan

   pembunuhan yang dapat diancam dengan ketentuan dalam pasal 341

   KUHP.

         Salah satu unsur dalam pasal 341 KUHP menyebutkan bahwa

   mereka yang melakukan kejahatan pembunuhan ini, adalah wanita yang

   tidak terikat dalam suatu perkawinan, tentu saja yang dimaksudkan adalah
                                                                           124



   perkawinan yang sah menurut hukum nasional. Jadi ia hamil di luar

   perkawinan yang sah. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan 2

   orang, dari 8 narapidana yang melakukan pembunuhan dikarenakan faktor

   harga diri.

          Seperti hasil wawancara penulis dengan salah seorang narapidana

   yang tega membunuh bayi yang baru saja ia lahirkan, karena bayi

   tersebut, merupakan hasil perkawinan di bawah tangan, suaminya tersebut

   tidak menikahinya secara sah menurut Hukum perkawinan nasional,

   selain itu suaminya pun tidak bertanggung jawab menafkahi keluarganya.

          Sikap masyarakat yang tidak membenarkan seseorang hamil di luar

   perkawinan yang sah, inilah yang menyebabkan serta mendorong seorang

   wanita untuk menghilangkan nyawa anak yang dilahirkan atau kelak akan

   dilahirkan.

          Jadi, tujuan dari perbuatan itu adalah sebagai usaha untuk

   menutupi perasaan malu atau untuk mempertahankan harga diri wanita

   tersebut.

h. Faktor Membela Diri

          Tidak ada seorang pun yang akan menerima begitu saja apabila

   dirinya mendapat serangan, pasti ia akan mengadakan suatu perlawanan

   untuk mempertahankan dirinya.      Menurut pasal 49 (1) KUHP, yang

   berbunyi:

          Barang siapa terpaksa melakukan perbuatan untuk pembelaan,

   karena ada serangan atau ancaman serangan ketika itu yang melawan

   hukum, terhadap diri sendiri maupun orang lain; terhadap kehormatan

   kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain tidak dipidana.
                                                                     125



      Pasal ini dikenal dengan istilah pembelaan terpaksa. Dalam

pembelaan terpaksa ini ada dua hal pokok, yaitu:

1. Ada serangan, tidak semua serangan dapat diadakan pembelaan,
   melainkan pada serangan yang memenuhi syarat sebagai berikut :
   a) Seketika.
   b) Yang langsung mengancam.
   c) Melawan hukum.
   d) Sengaja ditujukan pada badan, peri-kesopanan dan harta benda.
2. Ada pembelaan yang perlu diadakan terhadap serangan itu.
   Tindakan pembelaan harus memenuhi syarat:
   a) Pembelaan harus dan perlu diadakan.
   b) Pembelaan harus menyangkut kepentingan-kepentingan yang
      disebut dengan Undang-undang peri-kesopanan dan harta benda
      kepunyaan sendiri atau orang lain. (Sudarto 1990: 59)

Pasal 49 (2) KUHP, yang berbunyi :

“Pembelaan terpaksa yang melampui batas, yang langsung disebabkan
karena kegoncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman
serangan itu, tidak dipidana”.

      Pasal 49 ayat 2 KUHP ini lebih dikenal dengan sebutan

“pembelaan terpaksa yang melampui batas”. Yakni merupakan perbuatan

yang dilarang, tetapi karena perbuatan tersebut sebagai akibat dari suatu

goncangan rasa yang disebabkan oleh serangan, misal naik darah, maka

perbuatan tersebut dapat dimaafkan oleh Undang-undang. Jadi, untuk

adanya tindakan ini harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Kelampauan batas yang diperlukan.
b. Pembelaan dilakukan sebagai akibat yang langsung dari kegoncangan
   jiwa yang hebat (suatu perasaan hati yang panas).
c. Kegoncangan jiwa yang hebat itu disebabkan karena adanya serangan
   dengan kata lain : antara kegoncangan kausal. (Sudarto 1990:61).

      Seperti halnya hasil penelitian penulis diperoleh informasi, bahwa

erdapat seorang narapidana yang mengaku tidak sengaja melakukan

pembunuhan, karena berniat mengadakan pembelaan diri terhadap
                                                                      126



   serangan korban. Ia mengakui bahwa korban adalah mertuanya sendiri

   yang suka mencampuri urusan rumah tangganya.

          Tetapi menurut penulis, membela diri menurut pengertian mereka

   bukanlah merupakan membela diri dalam arti yuridis seperti yang penulis

   uraikan di atas. Karena pada kejadian tersebut, ia masih dapat

   menghindari serangan tersebut tanpa harus melakukan       pembunuhan.

   Sehingga bagi narapidana tersebut, ketentuan pasal 49 ayat 1 dan 2 KUHP

   tidaklah berlaku, sehingga mereka tetap dipidana.

         Jadi, menurut hemat penulis, narapidana itu melakukan kejahatan

   pembunuhan karena adanya unsur perasaan dendam atau jengkel yang

   dipendam, sehingga pada waktu terjadi pertengkaran, mereka dengan

   emosi yang meluap melampiaskan perasaan dendam atau jengkelnya

   tersebut, maka terjadilah kejahatan pembunuhan.

         Jadi, menurut penulis, narapidana tersebut di atas melakukan

   kejahatan pembunuhan, bukan hanya karena faktor membela diri,

   melainkan juga karena faktor dendam atau jengkel.

i. Faktor Kejiwaan

         Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan di LP Wanita

   Semarang, selain faktor-faktor yang telah penulis sebutkan di atas,

   ternyata terdapat faktor yang dapat melatar belakangi seorang wanita

   melakukan kejahatan pembunuhan, yaitu faktor kejiwaan atau psikologis.

   Dari hasil penelitian terdapat satu orang narapidana yang melakukan

   pembunuhan dikarenakan faktor kejiwaan

         Salah satu faktor kejiwaan yang menyebabkan seseorang

   melakukan kejahatan pembunuhan adalah disebabkan karena kekalutan
                                                                       127



jiwa, hal ini terkait dengan pendapat Dr. Kartini Kartono dalam bukunya

yang berjudul Hygiene Mental, yang menyebutkan bahwa:

   “Kekalutan jiwa ini kemudian memanifestasikan diri dalam tingkah
   laku yang tertutup (autis), atau berwujud perilaku melarikan diri dari
   kenyataan hidup, dan ingin tetap tinggal dalam dunia ilusi, fantasi, dan
   halusinasi. Dapat juga dalam bentuk agresi hebat ditujukan keluar
   kepada orang lain, dengan berbuat kejam-sadis, menyerang atau
   membunuh atau dalam bentuk agresi ke dalam, yaitu berusaha
   melakukan bunuh diri”. (Kartini Kartono 2000:41).

      Jadi seorang yang mengalami kekalutan jiwa ini dapat bersikap

menyerang orang lain ataupun membunuh, serta menyakiti diri sendiri

atau bahkan melakukan bunuh diri. Seorang narapidana mengakui bahwa

ia tidak sadar telah melakukan pembunuhan terhadap anak kandungnya,

dan ia baru sadar saat berada di Rumah Sakit keesokan paginya, dan

setelah kejadian pembunuhan tersebut, ia sempat melakukan percobaan

bunuh diri.

      Sehingga menurut hemat penulis, berdasarkan pendapat Dr. Kartini

Karono,       serta   berdasarkan   hasil   wawancara,   faktor   kejiwaan

menyebabkan seseorang dapat mengalami kekalutan jiwa, sehingga tanpa

sadar seseorang dapat melakukan agresi atau penyerangan yang dapat

membahayakan jiwa orang lain. Kemudian akibat perasaan menyesal

tersebut dapat menyebabkan jiwa seseorang semakin tertekan sehingga ia

akan nekad menyakiti diri sendri ataupun percobaan bunuh diri.

      Faktor kejiwaan dapat dilatar belakangi oleh berbagai macam

faktor, dan faktor ekonomi merupakan faktor terbesar dimana seseorang

dapat mengalami depresi maupun kekalutan jiwa.
                                                                           128



           Menurut penulis upaya penyembuhan terhadap penyakit kejiwaan

     tersebut adalah dengan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan

     berusaha mendalami serta menghayati ajaran agama.

           Apabila penulis amati dari hasil penelitian di Lembaga

     Pemasyarakatan Wanita Semarang, faktor yang paling dominan wanita

     melakukan kejahatan pembunuhan, adalah karena faktor dendam atau

     jengkel. Faktor-faktor lainnya adalah faktor ekonomi, rendahnya

     pendidikan, harga diri, faktor takut akan ancaman suami, umur jyga

     sangat mempengaruhi, faktor penghayatan agama, faktor pembelaan diri,

     serta faktor kejiwaan.

           Berdasarkan hal-hal yang telah penulis kemukakan diatas

     mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi seorang wanita melakukan

     kejahatan pembunuhan, maka hemat penulis, bahwa faktor-faktor tersebut

     adalah saling berhubungan serta tidak dapat dipisahkan satu sama lain,

     faktor satu menyebabkan terjadinya faktor yang lain. Seperti akibat faktor

     lemahnya penghayatan agama menyebabkan jiwa seseorang labil,

     sehingga ia mudah emosi. Selain itu faktor pendidikan sangat

     berpengaruh terhadap keadaan ekonominya, begitulah seterusnya.



2. Pembinaan    Narapidana      Kejahatan     Pembunuhan       Di    Lembaga

  Pemasyarakatan Wanita Kelas Iia Semarang

        Menurut sistem pemasyarakatan dewasa ini, narapidana tidak hanya

  dipandang sebagai individu saja, melainkan harus dipandang sebagai
                                                                         129



makhluk sosial dan sekaligus anggota masyarakat. Oleh karena itu harus

diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaannya.

       Guna berhasilnya pembinaan menurut sistem pemasyarakatan dewasa

ini, tidak bergantung pada narapidananya saja, akan tetapi disamping itu juga

diperlukan adanya petugas pembina yang cukup dan penuh rasa pengabdian

serta dilengkapi dengan sarana-sarana yang memadai. Salah satu hal yang

paling penting yaitu peranan masyarakat dalam rangka menerima kembali

bekas narapidana yang telah selesai menjalani pidananya. Sebagai warga

masyarakat diharapkan turut serta membantu para narapidana yang telah

selesai manjalani pidananya dalam menempuh hidup barunya.

       Adapun dasar pemikiran pembinaan narapidana berpatokan pada “10

Prinsip Pemasyarakatan” yaitu : (Data sekuder LP Wanita Semarang)

a. Ayomi dan berikan bekal hidup agar mereka dapat menjalankan
   peranannya sebagai warga masyarakat yang baik dan berguna.
b. Penjatuhan pidana tidak lagi didasari oleh latar belakang pembalasan,
   sehingga tidak boleh ada penyiksaan terhadap narapidana dan anak didik
   pada umumnya baik berupa tindakan, perlakuan, ucapan, cara perawatan
   ataupun penempatannya. Satu-satunya derita yang dialami oleh napi dan
   anak didik hanya dibatasi kemerdekaannya untuk bergerak dalam
   masyarakat bebas.
c. Berikan bimbingan (bukan penyiksaan) supaya mereka bertobat. Berikan
   kepada mereka pengertian mengenai norma-norma hidup dan kegiatan-
   kegiatan sosial untuk menumbuhkan rasa hidup kemasyarakatannya.
d. Negara tidak berhak membuat mereka menjadi lebih buruk atau lebih
   jahat daripada sebelum dijatuhi pidana. Salah satu diantaranya agar tidak
   mencampur narapidana dengan anak didik yang melakukan tindak pidana
   berat dengan yang ringan dan sebagainya.
e. Selama kehilangan (dibatasi) kemerdekaan bergeraknya para napi dan
   anak didik tidak boleh diasingkan dari masyarakat. Perlu ada kontrak
   dengan masyarakat yang terjelma dalam bentuk kunjungan hiburan ke
   lapas dan rutan / cubrutan oleh anggota masyarakat bebas dan kesempatan
   yang lebih banyak untuk berkumpul bersama sahabat dan keluarga.
f. Pekerjaan yang diberikan kepada napi dan anak didik tidak boleh bersifat
   sekedar pengisi waktu. Juga tidak boleh diberikan pekerjaan untuk
                                                                        130



     memenuhi keperluan jawatan atau kepentingan negara kecuali pada waktu
     tertentu saja. Pekerjaan yang terdapat di masyarakat dan yang menunjang
     pembangunan seperti meningkatkan industri kecil dan produksi pangan.
g.   Pembinaan dan pembimbingan yang diberikan kepada napi dan anak
     didik adalah berdasarkan Pancasila. Hal ini berarti bahwa kepada mereka
     harus ditanamkan semangat kekeluargaan dan toleransi disamping
     meningkatkan pemberian rohani kepada mereka diserta dorongan untuk
     menunaikan ibadah sesuai dengan kepercayaan agama yang dianutnya.
h.   Narapidana atau anak didik bagaikan orang sakit yang perlu diobati agar
     mereka sadar bahwa pelanggaran hukum yang pernah dilakukannya
     adalah merusak dirinya, keluarganya, dan lingkungannya, sehingga perlu
     dibina / dibimbing ke jalan yang benar. Selain itu mereka harus
     diperlakukan sebagai manusia biasa yang memiliki harga diri agar
     tumbuh kembali kepribadiannya yang percaya akan kekuatan sendiri.
i.   Narapidana dan anak didik hanya dijatuhi pidana berupa membatasi
     kemerdekaannya dalam jangka waktu tertentu.
j.   Untuk pembinaan dan pembimbingan para napi dan anak didik maka
     disediakan sarana yang diperlukan.


        Sepuluh Prinsip Pemasyarakatan tersebut, menjadi dasar pemberian

pembinaan kepada napi di Lembaga Pemasyarakatan agar kelak ia dapat

kembali diterima serta bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarganya serta

masyarakat, serta tidak akan mengulangi perbuatannya dahulu.

        Berdasarkan hal di atas, maka pembinaan narapidana di dalam

Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang ini dibagi menjadi 4 tahap

pembinaan, yaitu :

a. Tahap Pembinaan

     1) Tahap Pertama

              Tahap ini, merupakan tahap pembinaan permulaan bagi

       narapidana yang dilaksanakan sekurang-kurangnya 1/3 dari masa

       pidana yang sebenarnya. Tahap ini bertujuan supaya aparat atau

       petugas mengetahui bakat serta minat narapidana untuk nantinya akan
                                                                     131



  diarahkan sesuai dengan bakat yang dimilikinya tersebut. Selain hal

  tersebut tahap ini juga merupakan tahap orientasi pengenalan

  lingkungan Lembaga Pemasyarakatan kepada para narapidana.

2) Tahap Kedua atau tahap pembinaan lanjutan.

          Tahap pembinaan lanjutan ini, diberikan kepada narapidana

  yang sudah mengalami masa pidana diatas 1/3 sampai sekurang-

  kurangnya ½ dari masa pidana yang sebenarnya. Dalam tahap ini,

  mereka diarahkan sesuai bakat serta minat yang mereka miliki pada

  ketrampilan tertentu. Selain itu mereka juga mulai diberikan tanggung

  jawab sebagai anggota masyarakat yang berada di lingkungan

  Lembaga Pemasyarakatan Wanita.

3) Tahap Ketiga atau tahap asimilasi.

          Tahap ketiga merupakan tahap asimilasi atau tahap pembinaan

  lanjutan diberikan kepada narapidana yang telah menjalani proses ½

  sampai sekurang-kurangnya 2/3 dari masa pidana yang sebenarnya.

4) Tahap Keempat atau tahap integrasi.

          Pada tahap keempat ini merupakan tahap pembinaan lanjutan

  yang hanya boleh diberlakukan kepada para narapidana yang telah

  menjalani lebih atau diatas 2/3 masa pidana yang sebenarnya sampai

  akhir masa pidana. Pada tahap ini narapidana telah diizinkan untuk

  mengunjungi keluarganya pada hari-hari tertentu seperti hari raya.

  Serta pemberian pembebasan bersyarat serta cuti menjelang bebas.

          Setiap akhir tahapan pembinaan, diadakan suatu sidang yang

  dinamakan sidang TPP (Tim Pengamat Pemasyarakatan). Sidang ini
                                                                            132



     bertujuan mengevaluasi perkembangan napi selama pemberian

     pembinaan serta pembimbingan pada tahap tertentu dan untuk

     menentukan kegiatan kerja yang akan diikuti napi pada tahap

     pembinaan selanjutnya.

b. Kegiatan Pembinaan

          Kegiatan      pembinaan       terhadap   narapidana    di    lembaga

   pemasyarakatan wanita Semarang sangat beragam, kegiatan ini meliputi :

   1) Pendidikan mental / agama.

             Pendidikan mental / agama bertujuan memperteguh serta

      menambah iman seseorang. Pembinaan di bidang agama ini meliputi

      berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan agama serta keyakinan

      para narapidana.

   2) Pendidikan Umum serta Kejuruan.

             Pembinaan di bidang pendidikan ini bertujuan untuk

      meningkatkan        wawasan,      pengetahuan,     serta   intelektualitas

      narapidana.

   3) Pembinaan Kemandirian

             Pembinaan kemadirian diarahkan pada pembinaan bakat dan

      ketrampilan,      supaya   para    narapidana    setelah   selesai   masa

      pemidanaannya dapat kembali berperan sebagai anggota masyarakat

      yang produktif, kreatif, serta mandiri.

   4) Pembimbingan Latihan Olahraga / Kesegaran jasmani (Pembinaan

     Fisik / Jasmani)
                                                                    133



          Kegiatan olahraga merupakan suatu hal yang positif bagi

   pembinaan narapidana, karena selain dapat meningkatkan kesehatan

   fisik bagi narapidana, juga secara rohani atau kejiwaan dapat menjadi

   suatu hiburan tersendiri di tengah masa pemidanaan. Selain itu

   kegiatan pembinaan jasmani juga dapat meningkatkan semangat,

   prestasi serta pengalaman para narapidana di bidang olahraga.

5) Pembinaan Bidang Kesenian

          Pembinaan di bidang seni disesuaikan dengan bakat serta

   minat masing-masing narapidana.

6) Pelayanan di bidang Kemasyarakatan

          Selain memberikan pembinaan dan pembimbingan bagi

   narapidana, LP wanita Semarang juga mengadakan pelayanan-

   pelayanan terhadap narapidana, yang meliputi :

          Pelayanan terhadap narapidana yang ingin melaksanakan surat

   menyurat serta mengusulkan asimilasi bagi narapidana yang telah

   mencapai ½ dari masa pemidanaan serta telah memenuhi syarat-syarat

   tertentu. Pelayan juga meliputi pengusulkan pembebasan bersyarat

   (PB) serta cuti menjelang bebas (CMB) bagi narapidana yang

   sekurang-kurangnya telah mencapai 2/3 dari masa pidana sebenarnya.

7) Pelayanan Kesehatan dan Perawatan Narapidana

          Pelayanan di bidang ini bertujuan supaya narapidana yang

   kondisinya sedang sakit, akan memperoleh pengobatan serta

   penanganan secara cepat.
                                                                            134



       Berdasarkan hal-hal yang telah penulis kemukakan diatas mengenai

tahap-tahap pembinaan serta kegiatan-kegiatan pembinaan yang diadakan di

Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang, bahwa pembinaan terhadap

seluruh narapidana adalah sama, dan tidak ada perbedaan, termasuk bagi

narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan. Perbedaan hanya

terletak pada pengawasan yang menyesuaikan lama masa pemidanaanmasing-

masing narapidana.

       Menurut hemat penulis, pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan

Wanita Semarang sangat baik, namun sayangnya masih              terdapat sedikit

hambatan serta kendala, khususnya terhadap hasil pekerjaan narapidana.

Hambatan-hambatan tersebut antara lain :

1) Tidak adanya suatu wadah di luar lingkungan Lembaga Pemasyarakatan

  yang khusus menampung serta menyalurkan hasil-hasil pekerjaan serta

  ketrampilan narapidana. Hasil-hasil pekerjaan tersebut hanya dipajang dan

  dipamerkan    serta   di   pasarkan     terbatas   di   lingkungan   Lembaga

  Pemasyarakatan , serta tidak dipasarkan secara profesional padahal hasil

  pekerjaan para narapidana ini, tidak kalah mutu dengan yang dihasilkan

  oleh masyarakat.

2) Kurang terlibatnya pihak swasta dalam proses pembinaan. Hal ini terlihat

  dari masih minimnya para pengusaha yang menjadi instruktur pada saat

  proses pembinaan ketrampilan serta pembinaan kerja. Instruktur ataupun

  tenaga pengajar berasal dari pihak intern Lembaga Pemasyarakatan ataupun

  para LSM, dan sangat jarang dari para pengusaha ataupun kalangan yang

  berasal dari suatu perusahaan swasta.
                                                                    135



3) Kurangnya pemberian modal usaha yang menunjang pekerjaan para

  narapidana. Bahan baku serta peralatan kerja berasal dari pihak intern

  Lembaga Pemasyarakatan dan kurang ditunjang dengan jumlah modal yang

  besar.

4) Kurangnya promosi terhadap hasil kerja para narapidana di masyarakat,

  sehingga masyarakat kurang antusias bahkan tidak mangenal hasil kerja

  para narapidana.
                                                                                136



                                      BAB V

                                   PENUTUP



A. Kesimpulan

         Setelah penulis membahas latar belakang kejahatan pembunuhan yang

  dilakukan oleh wanita serta pembinaannya di Lembaga Pemasyarakatan

  Semarang seperti yang telah penulis uraikan dalam bab-bab sebelumnya, maka

  pada bagian akhir skripsi ini adalah penutup dari pada penulisan skripsi ini. Pada

  bagian akhir dari skripsi ini akan penulis kemukakan beberapa kesimpulan dan

  saran-saran.

         Dari uraian bab-bab yang terdahulu penulis memperoleh kesimpulan

  sebagai berikut :

  1. Latar belakang kejahatan wanita melakukan kejahatan pembunuhan tentunya

     dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan atau berhubungan.

     Faktor tersebut merupakan gabungan dari faktor-faktor yang meliputi :

     a. Lemahnya penghayatan kepada agamanya ;

     b. Pengaruh umur ;

     c. Faktor pendidikan ;

     d. Faktor ekonomi ;

     e. Faktor dendam atau jengkel ;

     f. Faktor takut kepada suami ;

     g. Faktor harga diri ;

     h. Faktor membela diri ;

     i. Faktor kejiwaan.

                                    136
                                                                            137



2. Upaya-upaya pembinaan bagi para narapidana wanita dilakukan dalam

   berbagai tahap, yaitu : tahap admisi dan orientasi pada 1/3 masa pidana,

   dilanjutkan dengan tahap yang kedua yakni tahap pembinaan lanjutan pada

   1/3 sampai dengan ½ masa pidana, tahap ketiga adalah tahap asimlasi yaitu

   pada saat menjalani ½ hingga 2/3 masa pidana, serta yang terakhir ialah tahap

   integrasi yaitu bagi narapidana yang telah menjalani 2/3 masa pidana hingga

   bebas.

       Upaya pembinaan bagi narapidana wanita antara satu dengan yang lain

   adalah sama sesuai dengan hak-hak narapidana yang telah diatur dalam

   Undang-undang nomor 12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan, tak terkecuali

   bagi yang melakukan        kejahatan pembunuhan. Kegiatan-kegiatan ini

   meliputi:

   a. Pembinaan mental / agama ;

   b. Pendidikan umum serta kejuruan ;

   c. Pembinaan kemandirian yaitu meliputi pembinaan bakat dan ketrampilan;

   d. Pembinaan dan latihan olahraga dan kesegaran jasmani ;

   e. Pembinaan di bidang kesenian ;

   f. Pelayanan di bidag kemasyarakatan ;

   g. Pelayanan kesehatan dan perawatan narapidana.

3. Kendala serta hambatan-hambatan dalam proses pembinaan di Lembaga

   Pemasyarakatan Wanita Semarang, antara lain :

   a. Tidak adanya suatu wadah di luar Lembaga Pemasyarakatan yang

      menampung hasil kerja para narapidana.
                                                                               138



      b. Kurang terlibatnya pihak swasta dalam proses pembinaan di Lembaga

          Pemasyarakatan.

      c. Kurangnya      pemberian    modal   usaha   yang   menunjang    pekerjaan

          narapidana.

      d. Kurangnya promosi terhadap hasil kerja para narapidana di masyarakat.



B. Saran-saran

          Setelah penulis mengemukakan kesimpulan tentang penyebab wanita

   melakukan     kejahatan   pembunuhan      serta   pembinaannya   di   Lembaga

   Pemasyarakatan Wanita Semarang, akhirnya penulis dapatlah memberikan saran-

   saran yang merupakan sumbangan pikiran terhadap masalah tersebut, yaitu :

   1. Perlu adanya suatu wadah di luar Lembaga Pemasyarakatan yang

      menampung hasil produksi atau hasil kerja narapidana.

   2. Perlu ditingkatkan keterlibatan pihak swasta, khususnya dalam proses

      pembinaan atau latihan kerja

   3. Perlu adanya perhatian lebih khusus terutama mengenai masalah permodalan

      usaha atau produksi.

   4. Perlu adanya suatu pengenalan produk atau promosi untuk mengenalkan hasil

      produksi kepada khalayak luas.
                                                                         139




     LATAR BELAKANG KEJAHATAN PEMBUNUHAN

YANG DILAKUKAN WANITA SERTA CARA PEMBINAANNYA

  DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KLAS I A

                           SEMARANG

                 (Studi Kasus di Kota Semarang)



                               Skripsi

 Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Universitas Negeri Semarang



                                 Oleh

                            Sista Agastyasti

                           NIM: 3450401029




                   FAKULTAS ILMU SOSIAL

      JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN

                                 2006
                                                                                  140



                          PERSETUJUAN PEMBIMBING



Skripsi ini telah di setujui oleh Pembimbing untuk diajukan kesidang panitia skripsi

ujian skripsi pada:

       Hari     :

       Tanggal:




Pembimbing I                                                      Pembimbing II




Drs. Abdul Rasyid W. M.Ag                                         Drs. Suhadi, M.Si
NIP: 130607620                                                    NIP: 132067383




                                     Mengetahui
                      Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan




                               Drs. Eko Handoyo,M.Si
                                  NIP: 131764048




                                     ii
                                                                               141



                         PENGESAHAN KELULUSAN



Skripsi ini telah dipertahankan didepan panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Sosial,

Universitas negeri Semarang pada:

Hari   :

Tanggal:



                                    Penguji Skripsi




Anggota I                                                       Anggota II




Drs. Abdul Rasyid W, M.Ag                                      Drs. Suhadi M.Si

NIP: 130607620                                                 NIP : 132067383




                                     Mengetahui

                                        Dekan



                                     Drs. Sunardi

                                 NIP: 130367998


                                      iii
                                                                               142



                                 PERNYATAAN



       Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil

karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau

seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip

atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.




                                                               Semarang



                                                               Waspiah

                                                               NIM. 3450401068




                                     iv
                                                                              143



                       MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari

kebenaran” ( QS. Ali Imron:135 )



“Orang yang arif bijaksana itu suka memaafkan kesalahan orang lain. Karena ia

insyaf bahwa setiap yang berakal selalu mencari kebenaran. Dan setiap orang selalu

mencari kebenaran, maka dalam hidup dan kehidupannya pasti ia menemui kesulitan.

Jika ia menghadapi kesulitan tentu orang lainpun akan demikian juga halnya. Maka

sudah pada tempatnyalah orang yang bersalah itu dimaafkan” ( Avicenna )




                                               Skripsi ini ku persembahkan untuk:

                                                          Ayah dan Bunda tercinta

                                        Kakak-kakakku dan adik-adikku tersayang

                            Ketiga ponakanku ( Ara, Bintang, Zaki ) yang lucu-lucu

           Sahabat-sahabatku yang setia dalam suka maupun duka ( Yuli dan Sista )

                                                                   Angkatan 2001

                                                                    Almamaterku




                                    v
                                                                                   144



                                     PRAKATA

        Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas Rahmat,

hidayah, dan RidhoNya, sehingga penulisan skripsi dengan judul Pembinaan

Narapidana Melalui Sistem Pemasyarakatan Kaitannya Dengan Hak-Hak Narapidana

Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang, dapat diselesaikan.

        Selesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari peran beberapa pihak. Pada

kesempatan ini, Penulis menyampaikan terima kasih atas bimbingan, arahan dan

bantuan kepada:

   1. DR. H. AT. Soegito, SH. MM, Rektor Universitas Negeri Semarang

   2. DRS. Sunardi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

   3. DRS. Eko Handoyo, M.Si, Ketua jurusan Hukum dan Kewarganegaraan

        Universitas Negeri Semarang

   4. Drs. Addul Rasyid W. M.Ag, Dosen Pembimbing I yang membantu dan

        membimbing sehingga selesainya penulisan skripsi ini

   5. Drs. Suhadi, M.Si Dosen pembimbing II yang membantu dan sabar dalam

        membimbing penulisan skripsi ini

   6.    F. Sutomo Rahardjo, Bc. IP, S.ip. MM Koordinator Urusan Pemasyarakatan

        Departemen Kehakiman dan HAM Jawa Tengah

   7. Widiatiningrum Bc. IP. SH Kepala Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas

        IIA Semarang

   8. Susana Tri Agustin Bc. IP Kepala             Subseksi BIMPAS di Lembaga

        Pemastarakatan Wanita Klas IIA Semarang.

   9. Segenap karyawan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang


                                          vi
                                                                                145



   10. Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang

   11. Ayah Bunda, kakak-kakakku serta adik-adikku tersayang yag telah

       memberikan kasih sayang kepadaku.

   12. Semua pihak yang telah membantu demi selesainya skripsi ini.

           Semoga Allah SWT membalas budi dan bantuan serta bimbingan yang

telah diberikan dalam penulisan skripsi ini. Dengan kerendahan hati, penulis terbuka

menerima saran dan kritik yang membangun, yang akan memperbaiki skripsi ini

menjadi lebih sempurna.

           Harapan   penulis, semoga skripsi ini berguna bagi para pebaca yang

budiman.




                                                              Semarang,      2006



                                                              Penyusun




                                      vii
                                                                               146




                                     SARI
Waspiah 2006. Pembinaan Narapidana Kaitannya dengan Hak-Hak Narapidana Di
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.          Halaman: 92
Kata Kunci: Pola Pembinaan, Narapidana Wanita, Hak-Hak Narapidana
        Hak-hak narapidana Wanita sebagai warga Negara Indonesia yang hilang
kemerdekaannya karena melakukan tindak pidana, haruslah dilakukan sesuai dengan
Hak Asasi Manusia. Sering dijumpai dalam Lembaga Pemasyarakatan bahwa hak
narapidana belum diberikan sesuai dengan hak mereka sebagai warga Negara. Hal ini
desebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kurang dipahaminya peraturan
mengenai hak-hak narapidana yang tertuang dalam undang-undang oleh petugas
Lembaga Pemasyarakatan atau bahkan oleh para narapidana sendiri.
        Permasalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah ( 1 ) bagaimanakah
praktek penyelenggaraan pembinaan narapidana wanita menurut Undang-Undang no.
12 tahun 1995 mengenai Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas
IIA Semarang. (2) Bagaimanakah perlindungan yang diberikan oleh Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Semarang Klas IIA Semarang terhadap narapidana wanita.
Penelitian ini bertujuan ( 1 ) untuk mengetahui informasi tentang pelaksanaan
pembinaan narapidana sesuai dengan undang-undang No.12 tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan. (2) untuk memperoleh informasi tentang pembinaan narapidana
berkaitan dengan hak-haknya di Lembaga Pemasyarakatan wanita Kelas IIA
Semarang. Penelitain ini menggunakan metode penelitian kualitatif . Lokasi dalam
penelitian ini adalah Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Alat
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, observasi dan
wawancara. Data ini dikumpulkan dengan menggunakan metode analisis interaktif
dan disajikan dalam bentuk data yang bersifat deskriptif.
        Hasil penelitian menunjukkan bahwa hak-hak narapidana diberikan dengan
adanya pembatasan-pembatasan pada hak-hak tertentu. Adapun untuk kegiatan
pembinaan dalam lembaga meliputi pendidikan agama, rekreasi, ketrampilan dan
olah raga. Untuk kegiatan diluar lembaga meliputi cuti menjelang bebas dan
pembebasan bersyarat. Secara umum para narapidana merespon kegiatan pembinaan
dan memandang bahwa kegiatan tersebut masih diperlukan agar mereka mempunyai
bekal baik mental, fisik, maupun sosial yang baik.
        Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan secara umum praktek
penyelenggaraan pembinaan narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Klas IIA Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang
pemasyarakatan, secara khusus ada beberapa hal yang kurang sesuai antara lain
dibatasinya informasi khususnya dari majalah dan koran. Secara umum perlindungan
hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA
Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang
pemasyarakatan secara khusus ada hal-hal yang tertentu yang dalam prakteknya
dibatasi seperti dibatasinya tontonan televisi yang hanya pada acara-acara tertentu
saja, kurangnya bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan.
    Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan pentingnya mensosialisasikan
kegiatan pembinaan narapidana pada masyarakat, sebagai salah satu unsur partisipasi
masyarakat dengan mengikutsertakan seluruh kemampuan dan dana masyarakat
                                     viii
                                                                              147



untuk ikut peduli terhadap kegiatan pembinaan narapidana, misalnya dengan cara
masyarakat berperan sebagai penyelenggara pemeran untuk memasarkan karya
ketrampilan para narapidana. Pentingnya peran kalangan swasta sebagai pihak ketiga
untuk ambil bagian dalam proses pembinaan narapidana dengan mengadakan kerja
sama dalam proses pemasyarakatan narapidana, misalnya pihak swasta membantu
menyediakan sarana ketrampilan dan sebagai timbal baliknya para narapidana
dipekerjakan pihak swasta tersebut.




                                     ix
                                                                                                                   148



                                                      DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL.................................................................................. i

PERSETUJUAN ....................................................................................... ii

PENGESAHAN ...................................................................................... iii

PERNYATAAN....................................................................................... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................ v

PRAKATA............................................................................................... vi

SARI....................................................................................................... viii

DAFTAR ISI............................................................................................. x

DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xii

DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1

           A. Latar Belakang ........................................................................ 1

           B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah ..................................... 5

           C. Perumusan Masalah ................................................................ 7

           D. Tujuan Penelitian .................................................................... 7

           E. Kegunaan Penelitian ............................................................... 8

           F. Sistematika Penulisan Skripsi ................................................. 8

BAB II LANDASAN TEORI ................................................................. 10

           A. Pengertian Tindak Kejahatan ................................................ 10

           B. Sistem Pemasyarakatan........................................................ 11

           C. Lembaga Pemasyarakatan Wanita ........................................ 13

           D. Hak dan Kewajiban Narapidana............................................ 14

                                                         x
                                                                                                             149



         E. Pembinaan Narapidana ......................................................... 18



BAB III METODE PENELITIAN ......................................................... 26

         A. Metode Penelitian ................................................................. 26

         B. Lokasi Penelitian................................................................... 26

         C. Fokus Penelitian .................................................................... 27

         D. Sumber Data Penelitian......................................................... 27

         E. Alat dan Tehnik Pengumpulan Data .................................... 29

         F. Pemeriksaan Keabsahan data ................................................ 33

         G. Metode Analisis Data............................................................ 34

         H. Prosedur Penelitian ............................................................... 37

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................ 39

         A. Hasil Penelitian ..................................................................... 39

         B. Pembahasan........................................................................... 83

BAB V PENUTUP.................................................................................. 89

         A. Kesimpulan ........................................................................... 89

         B. Saran...................................................................................... 89

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 91

LAMPIRAN-LAMPIRAN




                                                    xi
                                       150



                       DAFTAR GAMBAR



Gambar 1 Proses Analisis Data




                                xii
                                                                             151



                           DAFTAR LAMPIRAN



Lampiran : 1. Struktur Organisasi Lembaga Pemasyarakatan

           2. Jadual Warga Binaan

           3. Daftar Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Per September 2005

           4. Daftar Responden dan Informan

           5. Daftar Pemberian Ransum atau Menu

           6. Daftar tata tertib, kewajiban dan hak bagi narapidana di Lembaga

              Pemasyarakatan.

           7. Pedoman Wawancara

           8. Surat Permohonan Izin Penelitian

           9. Surat Permohonan Izin Penelitian Dari Departemen Kehakiman Dan

              HAM Jawa tengah

           10. Surat keterangan telah melaksanakan penelitian




                                  xiii