LATAR BELAKANG KEJAHATAN PEMBUNUHAN
W
Shared by: cometjunkie44
Categories
-
Stats
- views:
- 11016
- posted:
- 12/25/2009
- language:
- Indonesian
- pages:
- 162
Document Sample


LATAR BELAKANG KEJAHATAN PEMBUNUHAN
YANG DILAKUKAN WANITA SERTA CARA PEMBINAANNYA
DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KLAS I A
SEMARANG
(Studi Kasus di Kota Semarang)
Skripsi
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Universitas Negeri Semarang
Oleh
Sista Agastyasti
NIM: 3450401029
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN
2006
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini telah di setujui oleh Pembimbing untuk diajukan kesidang panitia skripsi
ujian skripsi pada:
Hari :
Tanggal:
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Abdul Rasyid W. M.Ag Drs. Suhadi, M.Si
NIP: 130607620 NIP: 132067383
Mengetahui
Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan
Drs. Eko Handoyo,M.Si
NIP: 131764048
ii
PENGESAHAN KELULUSAN
Skripsi ini telah dipertahankan didepan panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Sosial,
Universitas negeri Semarang pada:
Hari :
Tanggal:
Penguji Skripsi
Anggota I Anggota II
Drs. Abdul Rasyid W, M.Ag Drs. Suhadi M.Si
NIP: 130607620 NIP : 132067383
Mengetahui
Dekan
Drs. Sunardi
NIP: 130367998
PERNYATAAN
iii
Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil
karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau
seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip
atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Semarang
Waspiah
NIM. 3450401068
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
iv
“Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari
kebenaran” ( QS. Ali Imron:135 )
“Orang yang arif bijaksana itu suka memaafkan kesalahan orang lain. Karena ia
insyaf bahwa setiap yang berakal selalu mencari kebenaran. Dan setiap orang selalu
mencari kebenaran, maka dalam hidup dan kehidupannya pasti ia menemui kesulitan.
Jika ia menghadapi kesulitan tentu orang lainpun akan demikian juga halnya. Maka
sudah pada tempatnyalah orang yang bersalah itu dimaafkan” ( Avicenna )
Skripsi ini ku persembahkan untuk:
Ayah dan Bunda tercinta
Kakak-kakakku dan adik-adikku tersayang
Ketiga ponakanku ( Ara, Bintang, Zaki ) yang lucu-lucu
Sahabat-sahabatku yang setia dalam suka maupun duka ( Yuli dan Sista )
Angkatan 2001
Almamaterku
PRAKATA
v
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas Rahmat, hidayah,
dan RidhoNya, sehingga penulisan skripsi dengan judul Pembinaan Narapidana
Melalui Sistem Pemasyarakatan Kaitannya Dengan Hak-Hak Narapidana Di Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang, dapat diselesaikan.
Selesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari peran beberapa pihak. Pada
kesempatan ini, Penulis menyampaikan terima kasih atas bimbingan, arahan dan
bantuan kepada:
1. DR. H. AT. Soegito, SH. MM, Rektor Universitas Negeri Semarang
2. DRS. Sunardi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang
3. DRS. Eko Handoyo, M.Si, Ketua jurusan Hukum dan Kewarganegaraan
Universitas Negeri Semarang
4. Drs. Addul Rasyid W. M.Ag, Dosen Pembimbing I yang membantu dan
membimbing sehingga selesainya penulisan skripsi ini
5. Drs. Suhadi, M.Si Dosen pembimbing II yang membantu dan sabar dalam
membimbing penulisan skripsi ini
6. F. Sutomo Rahardjo, Bc. IP, S.ip. MM Koordinator Urusan Pemasyarakatan
Departemen Kehakiman dan HAM Jawa Tengah
7. Widiatiningrum Bc. IP. SH Kepala Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas
IIA Semarang
8. Susana Tri Agustin Bc. IP Kepala Subseksi BIMPAS di Lembaga
Pemastarakatan Wanita Klas IIA Semarang.
9. Segenap karyawan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang
10. Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang
vi
11. Ayah Bunda, kakak-kakakku serta adik-adikku tersayang yag telah
memberikan kasih sayang kepadaku.
12. Semua pihak yang telah membantu demi selesainya skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas budi dan bantuan serta bimbingan yang
telah diberikan dalam penulisan skripsi ini. Dengan kerendahan hati, penulis terbuka
menerima saran dan kritik yang membangun, yang akan memperbaiki skripsi ini
menjadi lebih sempurna.
Harapan penulis, semoga skripsi ini berguna bagi para pebaca yang
budiman.
Semarang, 2006
Penyusun
vii
SARI
Waspiah 2006. Pembinaan Narapidana Kaitannya dengan Hak-Hak Narapidana Di
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Halaman: 92
Kata Kunci: Pola Pembinaan, Narapidana Wanita, Hak-Hak Narapidana
Hak-hak narapidana Wanita sebagai warga Negara Indonesia yang hilang
kemerdekaannya karena melakukan tindak pidana, haruslah dilakukan sesuai dengan
Hak Asasi Manusia. Sering dijumpai dalam Lembaga Pemasyarakatan bahwa hak
narapidana belum diberikan sesuai dengan hak mereka sebagai warga Negara. Hal ini
desebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kurang dipahaminya peraturan
mengenai hak-hak narapidana yang tertuang dalam undang-undang oleh petugas
Lembaga Pemasyarakatan atau bahkan oleh para narapidana sendiri.
Permasalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah ( 1 ) bagaimanakah praktek
penyelenggaraan pembinaan narapidana wanita menurut Undang-Undang no. 12
tahun 1995 mengenai Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA
Semarang. (2) Bagaimanakah perlindungan yang diberikan oleh Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Semarang Klas IIA Semarang terhadap narapidana wanita.
Penelitian ini bertujuan ( 1 ) untuk mengetahui informasi tentang pelaksanaan
pembinaan narapidana sesuai dengan undang-undang No.12 tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan. (2) untuk memperoleh informasi tentang pembinaan narapidana
berkaitan dengan hak-haknya di Lembaga Pemasyarakatan wanita Kelas IIA
Semarang. Penelitain ini menggunakan metode penelitian kualitatif . Lokasi dalam
penelitian ini adalah Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Alat
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, observasi dan
wawancara. Data ini dikumpulkan dengan menggunakan metode analisis interaktif
dan disajikan dalam bentuk data yang bersifat deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hak-hak narapidana diberikan dengan
adanya pembatasan-pembatasan pada hak-hak tertentu. Adapun untuk kegiatan
pembinaan dalam lembaga meliputi pendidikan agama, rekreasi, ketrampilan dan olah
raga. Untuk kegiatan diluar lembaga meliputi cuti menjelang bebas dan pembebasan
bersyarat. Secara umum para narapidana merespon kegiatan pembinaan dan
memandang bahwa kegiatan tersebut masih diperlukan agar mereka mempunyai bekal
baik mental, fisik, maupun sosial yang baik.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan secara umum praktek
penyelenggaraan pembinaan narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Klas IIA Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang
pemasyarakatan, secara khusus ada beberapa hal yang kurang sesuai antara lain
dibatasinya informasi khususnya dari majalah dan koran. Secara umum perlindungan
hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA
Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang
pemasyarakatan secara khusus ada hal-hal yang tertentu yang dalam prakteknya
dibatasi seperti dibatasinya tontonan televisi yang hanya pada acara-acara tertentu
saja, kurangnya bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan.
Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan pentingnya mensosialisasikan kegiatan
pembinaan narapidana pada masyarakat, sebagai salah satu unsur partisipasi
masyarakat dengan mengikutsertakan seluruh kemampuan dan dana masyarakat untuk
ikut peduli terhadap kegiatan pembinaan narapidana, misalnya dengan cara
viii
masyarakat berperan sebagai penyelenggara pemeran untuk memasarkan karya
ketrampilan para narapidana. Pentingnya peran kalangan swasta sebagai pihak ketiga
untuk ambil bagian dalam proses pembinaan narapidana dengan mengadakan kerja
sama dalam proses pemasyarakatan narapidana, misalnya pihak swasta membantu
menyediakan sarana ketrampilan dan sebagai timbal baliknya para narapidana
dipekerjakan pihak swasta tersebut.
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..................................................................................i
PERSETUJUAN ....................................................................................... ii
PENGESAHAN ...................................................................................... iii
PERNYATAAN .......................................................................................iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN.............................................................v
PRAKATA................................................................................................vi
SARI ...................................................................................................... viii
DAFTAR ISI..............................................................................................x
DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xii
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................1
A. Latar Belakang .........................................................................1
B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah......................................5
C. Perumusan Masalah .................................................................7
D. Tujuan Penelitian .....................................................................7
E. Kegunaan Penelitian ................................................................8
F. Sistematika Penulisan Skripsi ..................................................8
BAB II LANDASAN TEORI..................................................................10
A. Pengertian Tindak Kejahatan.................................................10
B. Sistem Pemasyarakatan.........................................................11
C. Lembaga Pemasyarakatan Wanita .........................................13
D. Hak dan Kewajiban Narapidana ............................................14
E. Pembinaan Narapidana ..........................................................18
x
BAB III METODE PENELITIAN ..........................................................26
A. Metode Penelitian ..................................................................26
B. Lokasi Penelitian....................................................................26
C. Fokus Penelitian.....................................................................27
D. Sumber Data Penelitian..........................................................27
E. Alat dan Tehnik Pengumpulan Data .....................................29
F. Pemeriksaan Keabsahan data.................................................33
G. Metode Analisis Data.............................................................34
H. Prosedur Penelitian ................................................................37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.........................39
A. Hasil Penelitian ......................................................................39
B. Pembahasan............................................................................83
BAB V PENUTUP ..................................................................................89
A. Kesimpulan ............................................................................89
B. Saran ......................................................................................89
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................91
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
xi
Gambar 1 Proses Analisis Data
xii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum, sehingga setiap
kegiatan manusia atau masyarakat yang merupakan aktivitas hidupnya harus
berdasarkan pada peraturan yang ada dan norma-norma yang berlaku dalam
masyarakat. Hukum tidak lepas dari kehidupan manusia karena hukum
merupakan aturan untuk mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupannya
karena tanpa adanya hukum kita tidak dapat membayangkan akan seperti apa
nantinya negara kita ini. Kejahatan akan terus bertambah dengan cara yang
berbeda-beda bahkan dengan peralatan yang semakin canggih dan modern
sehingga kejahatan akan semakin meresahkan masyarakat.
Kejahatan dapat timbul di mana saja dan kapan saja. Bahkan dapat
dikatakan bahwa kejahatan itu terjadi hampir pada setiap masyarakat. Namun
karena sifatnya yang merugikan, maka adalah wajar pula bilamana setiap
masyarakat berusaha untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kejahatan.
Namun demikian hampir setiap hari masyarakat, dihadapkan pada berita dan
pembicaraan yang menyangkut masalah kriminalitas.
Berdasarkan informasi berbagai mass media, baik media cetak maupun
elektronik, bahwa akhir-akhir ini tingkat kriminalitas menunjukkan adanya
kecenderungan untuk terus meningkat. Berbagai usaha untuk menghapuskan
1
2
kejahatan ini telah dicoba oleh negara-negara di dunia, namun demikian usaha
tersebut sampai saat ini baru berhasil mengurangi intensitas dan kualitasnya saja.
Lombrosso berpendapat bahwa yang namanya penjahat itu mempunyai
tipe-tipe tertentu, misalnya: wajahnya seram, dan matanya merah menakutkan
(Step Han Hurwits 1986 : 40). Namun demikian kenyataannya tidak selalu yang
dibayangkan orang. Bahkan belakangan ini tidak jarang dijumpai adanya pria
tampan yang menjadi penghuni suatu Lembaga Pemasyarakatan karena terlibat
dalam berbagai macam kejahatan. Tidak hanya itu kaum wanita pun yang
sesungguhnya lebih banyak berperan sebagai makhluk pembawa kebaikan,
ternyata juga banyak yang meninggalkan sifat keibuannya, dengan melakukan
berbagai macam kejahatan.
Namun demikian,apabila dibandingkan baik secara kuantitatif,maupun
secara kualitatif,kejahatan yang dilakukan oleh kaum wanita, rata-rata masih
lebih rendah daripada yang dilakukan oleh kaum pria. (Step han Hurwitz 1986 :
100).
Step Han Hurwits (1986:100) seperti penulis kutip dalam buku
kriminologi saduran Ny. Moeljatno mengemukakan bahwa kejahatan wanita
secara kualitatif maupun kuantitatif lebih rendah daripada yang dilakukan kaum
pria, hal ini disebabkan karena:
1. Biologik
Menurut pendapat ini bahwa, wanita secara fisik kurang kuat atau
lemah, dan karena ada kelainan-kelainan psikis yang khas yang berhubung
fungsinya sebagai jenis kelamin lain, sehingga kriminalitas berkurang.
2. Sosiologik lebih realistis
a. Wanita lebih terlindung oleh lingkungan karena tempat bekerja di rumah
dengan tanggung jawab hanya mengenai rumah tangga .
b. Kurang minum-minuman keras.
3
Kejahatan yang dilakukan wanita biasanya kejahatan yang tergolong
dalam kejahatan ringan dan tidak profesional. serta dilakukan dalam keadaan
terpaksa yang didorong suatu keadaan dan kepentingan yang amat sangat serta
dilakukan secara mendadak .
Salah satu kejahatan sering terjadi, dan sangat meresahkan dewasa ini
adalah kejahatan pembunuhan. Biasanya kejahatan ini dilakukan oleh kaum pria,
walaupun ada juga wanita yang melakukan pembunuhan, bahkan berdasarkan
informasi dari berbagai media, ada juga pembunuhan yang dilakukan oleh wanita
lebih kejam dari pada yang dilakukan oleh pria.
Kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh kaum wanita, disebabkan
oleh berbagai faktor.Adapun faktor-faktor yang menyebabkan wanita melakukan
kejahatan yaitu :
“Faktor sosial ekonomi seperti sistem ekonomi, perubahan harga pasar, krisis,
gaji, atau upah, pengangguran dan juga dapat dipengaruhi faktor-faktor mental
(agama), bacaan-bacaan harian, film (termasuk TV), serta faktor pisik seperti
iklim, tidak luput faktor-faktor pribadi (umur), peminum (alkohol)”. (Hurwitz
1986:86-101)
Senada dengan pernyataan diatas, R. Soesilo dalam bukunya yang
berjudul kriminologi (pengetahuan tentang sebab-sebab kejahatan) menyebutkan
sebagai berikut:
“Dari pengalaman sehari-hari kita ketahui, bahwa orang yang dipidana itu
sebagian besar terdiri dari orang pria. Hanya sebagian kecil saja wanita masuk di
dalam Lembaga Pemasyarakatan. Rumah-rumah penjara, tempat-tempat
penahanan di kantor-kantor polisi dan lain sebagainya sebagian besar dibangun
terutama bagi kaum pria. Adanya Lembaga Pemasyarakatan dan rumah-rumah
tahanan wanita hanya satu dua saja . Kaum wanita lebih kecil kemungkinannyaa
untuk berbuat kejahatan”.(Soesilo 1985:58)
4
Kemudian R. Soesilo (1985 : 59) menyebutkan bahwa kaum wanita yang
dipidana karena melakukan kejahatan jumlahnya lebih kecil dari jumlah orang-
orang terpidana.
Perlu juga disimak pendapat yang dikemukakan oleh Kartini Kartono
(2000:60) yang mengatakan sebagai berikut :
“...perbuatan kriminal yang dilakukan oleh beberapa anak gadis yang
disebabkan oleh emosi-emosi yang sangat kuat. Emosi yang sangat kuat itu
karena rasa rindu akan orang tua dan kampung halamannya di desa. Oleh
karena emosi yang sangat kuat tersebut timbullah konflik-konflik batin dan
ketegangan-ketegangan yang sangat tinggi sehingga anak gadis tersebut
melakukan tindak kriminal berupa pembunuhan atau bunuh diri”.
Berdasarkan uraian tersebut, maka peran para penegak hukum sangat
penting terhadap penanganan kejahatan, khususnya kejahatan pembunuhan.
Proses penegakan hukum ini dimulai dari proses penyidikan dan penyelidikan di
kepolisian, setelah itu kejakasaan dan dilanjutkan di Pengadilan, dan sebagai
lembaga penegakan hukum terakhir adalah Lembaga Pemasyarakatan.
Untuk itulah peran lembaga pemasyarakatan sangat diperlukan sebagai
upaya pencegahan atau penanggulangan kejahatan, di samping rehabilitasi
narapidana yang telah menjalani pidana dapat kembali ke jalan yang benar dan
nantinya dapat diterima masyarakat demi pengayoman masyarakat dan negara.
Lembaga Pemasyarakatan menurut Undang-Undang nomor 12 tahun
1995 pasal 1 adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan bagi Narapidana. Di
lembaga ini mereka akan dibina supaya setelah selesai proses pemidanaannya,
dapat kembali serta dapat diterima di tengah-tengah masyarakat serta
keluargannya.
5
Sebagai lembaga pembinaan bagi narapidana, pasal 4 Undang-undang
nomor 12 tahun 1995 mengatur bahwa Lembaga Pemasyarakatan ini didirikan di
setiap ibukota kabupaten/kota, serta dalam rangka pembinaan Lembaga
Pemasyarakatan digolongkan atas dasar: umur, jenis kelamin, serta lama
pemidanaan.
Seperti halnya dengan lembaga pemasyarakatan wanita di
Semarang,lembaga pemasyarakatan ini bukanlah suatu tempat pemidanaan
belaka, tetapi mempunyai fungsi sosial. Sistem pemasyarakatan merupakan era
baru dalam proses pembinaan narapidana. Sehingga diharapkan narapidana yang
menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan ini dapat dibimbing dan dituntun
untuk menjadi warga negara yang baik, bukan sebagai anggota masyarakat yang
dirampas kemerdekaannnya serta mendapat pengayoman.
Pembinaan narapidana wanita penting artinya bagi negara kita, salah
satunya adalah bagi pembangunan. Masalah pembinaan narapidana wanita masih
memerlukan perhatian yang serius baik fisik maupun non fisik. Sebab wanita
mempunyai rasa tanggung jawab dan berperan aktif terhadap keluarganya (suami
dan anak-anaknya), masyarakat serta negara. Setelah keluar dari lembaga
pemasyarakatan mereka diharapkan dapat menunaikan tugas dan kewajibannya
seperti sediakala. Karena dalam lembaga pemasyarakatan itu mereka telah
mendapatkan pembinaan, ketrampilan, ceramah agama, PKK, serta senam
kesegaran jasmani, hal ini sesuai dengan salah satu tujuan lembaga
pemasyarakatan yaitu, memulihkan kembali kesatuan hubungan antara terpidana
dengan masyarakat.
6
Berdasarkan uraian mengenai latar belakang kejahatan pembunuhan serta
pembinaan narapidana di Lembaga Pemasayarakatan diatas, maka penulis tertarik
untuk mengetahui :
“LATAR BELAKANG KEJAHATAN PEMBUNUHAN YANG
DILAKUKAN OLEH WANITA SERTA CARA PEMBINAANNYA DI
LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA BULU SEMARANG” (Studi
kasus di kota Semarang)
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Sebelum penulis melangkah lebih jauh, maka terlebih dahulu perlu
membatasi ruang lingkup pembahasannya. Adapun ruang lingkup
pembahasannya, akan berkisar pada masalah latar belakang pembunuhan, yaitu
faktor yang menyebabkan seorang wanita melakukan kejahatan pembunuhan.
Latar belakang kejahatan terbagi atas dua, yaitu latar belakang biologik
dan latar belakang secara sosiologik, namun yang akan penulis kaji lebih dalam
khususnya mengenai latar belakang secara sosiologik, yaitu mengenai faktor
ekonomi, faktor mental khususnya mengenai penghayatan agama, faktor
pembelaan diri serta faktor harga diri.
Sedangkan pada proses pembinaan di lembaga Pemasyarakatan terdapat
dua proses pembinaan, yakni pembinaan didalam lembaga, yang meliputi
pendidikan agama, ketrampilan, olahraga, serta kesenian, serta pembinaan di luar
lembaga antara lain bimbingan selama narapidana mendapat pidana bersyarat.
7
Dalam hal ini penulis akan mengkaji lebih dalam mengenai proses
pembinaan intra mural (pembinaan di dalam lembaga).
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan atas latar belakang masalah tersebut diatas, maka
permasalahan yang timbul adalah sebagai berikut:
1. Apakah yang menjadi latar belakang wanita melakukan kejahatan
pembunuhan, khususnya penghuni lembaga pemasyarakatan wanita klas IIA
Semarang?
2. Bagaimana sistem pembinaan narapidana wanita di lembaga pemasyarakatan
Wanita klas IIA Semarang khususnya dalam kejahatan pembunuhan?
D. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1. Tujuan Penelitian
Pada dasarnya tujuan penelitian dapat dibagi menjadi dua tujuan pokok,yaitu:
a. Tujuan Obyektif
1) Untuk mengetahui latar belakang wanita melakukan kejahatan
pembunuhan khususnya penghuni lembaga pemasyarakatan wanita
Bulu Semarang.
2) Untuk mengetahi sistem pembinaan narapidana wanita di lembaga
pemasyarakatan wanita Bulu Semarang khususnya bagi pelaku
kejahatan pembunuhan.
8
b. Tujuan Subyektif
1) Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan sebagai bahan untuk
penulisan skripsi dimana sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
sarjana hukum pada Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Semarang.
2) Untuk menambah wawasan penulis baik secara langsung maupun tidak
langsung mengenai latar belakang kejahatan pembunuhan yang
dilakukan oleh wanita serta cara pembinaannya di Lembaga
Pemasyarakatan Wanita.
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Praktis: Penelitian ini diharapkan dapat mamberikan masukkan
bagi peningkatan pembinaan narapidana di lembaga pemasyarakatan Bulu
Semarang, sehingga diharapkan setelah masa pemidanaan selesai, mereka
dapat diterima kembali dan berguna bagi keluarganya dan masyarakat.
b. Manfaat Teoritis: diharapkan penelitian ini memberikan wawasan
mengenai latar belakang kejahatan yang dilakukan wanita khususnya
kejahatan pembunuhan.
E. PENEGASAN ISTILAH
1. Wanita
Wanita adalah seseorang yang telah dikodratkan oleh Tuhan, berjenis
kelamin biologis (seks) sebagai perempuan yang berciri-ciri menyusui, haid,
9
dan melahirkan serta memiliki rahim tidak dapat berubah, dipertukarkan, dan
berlaku sepanjang masa. (Kementrian Pemberdayaan Perempuan 2002 : 8).
2. Lembaga Pemasyarakatan
Menurut Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang sistem
kemasyarakatan yang dimaksud dengan sistem kemasyarakatan sesuai pasal 1
ayat 2 adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan
warga binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan
antara pembina, yang dibina, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas
warga binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri,
dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh
lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat
hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.
Tentang sistem pemasyarakatan itu sendiri, Bambang Poernomo, S.H.
(1982 : 183) berpendapat sebagai berikut:
“Suatu elemen yang berinteraksi yang membentuk satu kesatuan yang
integral, berbentuk konsepsi tentang perlakuan terhadap orang yang
melanggar hukum pidana di atas dasar pemikiran rehabilitasi, resosialisasi
yang berisi unsur edukatif, korektif, defensif dan yang beraspek pada individu
dan sosial.”
Peran lembaga pemasyarakatan memudahkan pengintegrasian dan
penyesuaian diri dengan kehidupan masyarakat. Tujuannya : “Agar mereka
dapat merasakan bahwa sebagai pribadi dan warga negara Indonesia yang
mampu berbuat sesuatu untuk kepentingan bangsa dan negara seperti pribadi
10
dan warga negara Indonesia lainnya serta mereka mampu menciptakan opini
dan citra pemasyarakatan yang baik”. (Departemen Kehakiman RI,11)
3. Pembinaan Di Lembaga Pemasyarakatan
Pembinaan adalah suatu proses dimana narapidana wanita itu pada
waktu masuk di dalam Lembaga Pemasyarakatan Wanita sudah dalam
kondisi tidak harmonis pada masyarakat sekitarnya. Adapun penyebabnya
karena narapidana tersebut telah melakukan tindak pidana yang secara
langsung atau tidak langsung dapat merugikan masyarakat. (Harsono 1995:
24)
Bentuk pembinaan bagi narapidana menurut pola pembinaan
narapidana /tahanan adalah sebagai berikut:
a. Pembinaan berupa interaksi langsung sifatnya kekeluargaan antara
pembina dengan yang dibina
b. Pembinaan yang bersifat persuasif
c. Pembinaan berencana, terus menerus dan sistematis
d. Pembinaan kepribadian.(Harsono 1995: 24)
Pembinaan narapidana menurut sistem kemasyarakatan terdiri dari
pembinaan didalam lembaga, yang meliputi pendidikan agama, pendidikan
umum, kursus ketrampilan, olahraga, kesenian, kepramukaan. Sedangkan
pembinaan di luar lembaga antara lain bimbingan selama terpidana mendapat
pidana bersyarat.
11
Jadi berdasarkan setiap uraian dalam penegasaan istilah yang telah
penulis kemukakan tersebut, penulis ingin mengadakan penelitian mengenai
latar belakang wanita melakukan kejahatan pembunuhan khususnya penghuni
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Bulu Semarang, serta pembinaan.
F. SISTEMATIKA SKRIPSI
Agar lebih mengarahkan jalan pikiran penulis, maka dalam penulisan
skripsi akan dilakukan dengan berpedoman pada sitematika penulisan sebagai
berikut :
BAB I : Pendahuluan. Pendahuluan berisi lima sub pokok pembahasan,
masing-masing latar belakang masalah, identifikasi masalah,
kemudian perumusan masalah, berikutnya adalah tujuan dan manfaat
penelitian, kemudian penegasan istilah, dan yang terakhir adalah
membuat sistematika penulisan skripsi
BAB II : Landasan Teori Berisi Mengenai Latar belakang kejahatan
pembunuhan yang dilakukan oleh wanita serta cara pembinaannya di
Lembaga Pemasyarakatan Wanita. Penulis membagi bab ini menjadi
dua sub bab yaitu sub bab pertama menjelaskan mengenai latar
belakang kejahatan pembunuhan yang dilakukan wanita. Terbagi
menjadi tiga pokok pembahasan, yaitu penulis akan membahas
mengenai kejahatan secara umum, kemudian mengenai kejahatan
pembunuhan, dan dilanjutkan dengan pengertian wanita secara umum.
Kemudian sub bab kedua pada bab dua adalah mengenai pembinaan
12
narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan wanita, terbagi
menjadi dua pokok pembahasan, yang pertama penulis akan
membahas mengenai Lembaga pemasyarakatan dan kemudian
dilanjutkan dengan pokok pembahasan yang kedua yakni mengenai
pembinaannya di Lembaga Pemasyarakatan.
BAB III : Metode penelitian yang terdiri atas lima pokok pembahasan yaitu
mengenai Lokasi Penelitian, responden, sumber data, kemudian
mengenai Metode Pengumpulan Data, dan terakhir penulis akan
membahas mengenai Metode Analisa Data.
BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan, pada bab ini penulis membagi
menjadi dua sub bab, yaitu yang pertama mengenai hasil penelitian,
dan yang kedua mengenai pembahasan hasil penelitian.
BAB V : Penutup adalah merupakan penutup dari skripsi ini. Berisi kesimpulan
dari uraian bab-bab terdahulu. Mengakhiri dari bab ini adalah saran-
saran yang dipandang perlu sehubungan adanya perbandingan antara
teori dan prakteknya di lapangan.
Demikian sistematika penulisan yang penulis susun dalam skripsi ini.
13
BAB II
LANDASAN TEORI
A. KEJAHATAN PEMBUNUHAN
1. Pengertian Kejahatan
Kejahatan adalah suatu “nama” atau “cap” yang diciptakan oleh
orang, untuk menilai perbuatan-perbuatan tertentu, sebagai perbuatan
kejahatan (Bawengan 1974 : 20). Si pelaku disebut penjahat. Oleh karena
penilaian itu berasal dari alam nilai, maka kejahatan memiliki pengertian
yang relatif , yaitu tergantung kepada manusia untuk memberikan penilaian
itu. Secara yuridis formal, ukuran tentang pelaku kejahatan, belum
dicantumkan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Jadi apa
yang disebut kejahatan belum berarti selalu harus diakui oleh pihak-pihak
lain sebagai kejahatan pula. Hal ini sangat erat kaitannya dengan situasi dan
dinamika masyarakat.
Bawengan membedakan 3 jenis kejahatan menurut penggunaan
(Bawengan 1974 : 21), yaitu :
a. Pengertian secara praktis
Kejahatan dalam “arti Praktis” adalah suatu pengertian yang timbul dari
dan ditimbulkan oleh anggota masyarakat, atau sesuatu kelompok.
b. Pengertian secara religius
Kejahatan dalam arti “religius” sering dikaitkan dengan pengertian
kejahatan sebagai dua faktor yang saling bertentangan. Sebaliknya
13
14
dipercayai pula bahwa apa yang disebut kebaikan itu datangnya dari
Allah (Tuhan), sedangkan apa yang disebut kejahatan itu berasal dari roh
jahat atau iblis atau setan.
Pada bidang peradilan, orang tidak akan puas dengan kepercayaan bahwa
segala jenis kejahatan harus dipertanggungjawabkan kepada iblis. Jika
demikian, maka tidak ada seorangpun yang bakal dapat dihukum. Oleh
karena itu, maka di bidang peradilan, yang menjadi dasar adalah Undang-
undang.
Kejahatan dalam arti religius itu mengidentikan arti kejahatan dengan
dosa. Dan setia dosa terancam dengan hukuman api di neraka terhadap
jiwa yang berdosa.
c. Pengertian secara yuridis
Kejahatan dalam arti yuridis dapat dibaca misalnya di dalam sistem Kitab
Undang-undang Hukum Pidana. Kitab Undang-undang Hukum Pidana
membedakan antara perbuatan-perbuatan yang tergolong dengan dalam
kejahatan dan pelanggaran.
Kejahatan adalah segala perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan-
ketentuan dari buku kedua KUHP. Jadi tidak semua perbuatan dapat
dikategorikan kejahatan.
Menurut Bambang Pernomo S.H. kejahatan menurut hukum dapat
dinyatakan sebagai perilaku yang merugikan terhadap kehidupan sosial
(social injury), atau perilaku yang bertentangan dengan ikatan sosial (anti
sosial), atau perilaku yang tidak sesuai dengan pedoman hidup bermasyarakat
15
(non conformist) (Nico Ngani 1985 : 36-37).
Perbuatan-perbuatan pidana menurut sistem KUHP, terbagi atas
kejahatan (Misdrijven) dan pelanggaran (overtredingen). Pembagian dalam
dua jenis ini, tidak ditentukan dengan nyata-nyata dalam suatu pasal KUHP
tetapi sudah dianggap demikian adanya, dan ternyata antara lain dari pasal 4,
5, 39, 45 & 53 buku I. Buku II adalah melulu tentang kejahatan dan buku III
tentang pelanggaran.
Menurut M.v.T. (Smidt I hal. 63 dan seterusnya) pembagiaan atas dua
jenis tadi didasarkan atas perbedaan prinsipil. Dikatakan bahwa kejahatan
adalah “rechtsdeliten”, yaitu perbuatan-perbuatan yang meskipun tidak
ditentukan dalam undang-undang, sebagai perbuatan pidana, telah dirasakan
sebagai onrecht, sebagai perbuatan pidana, yang bertentangan dengan tata
hukum. (Moeljatno 1966: 61 )
Sedangkan Nico Ngani dalam bukunya yang berjudul “Psikologi
Kriminal dalam Teori dan Praktek Hukum Pidana”menyebutkan Perbedaan
antara kejahatan dengan pelanggaran, sebagaimana digariskan atau
ditegaskan dalam MVT adalah perbedaan antara delik hukum dan delik
undang-undang. Kejahatan dikatakan termasuk delik hukum, sedangkan
pelanggaran disebut delik undang-undang. Delik hukum adalah kejadian-
kejadian yang berlawanan atau antagonistis dengan dasar-dasar atau asas-asas
hukum yang hidup di dalam keyakinin manusia dan tidak terlepas dari
undang-undang itu setiap peristiwa yang untuk kepentingan umum
dinyatakan undang-undang sebagai hal terlarang. ( Nico Ngani 1985 37 )
Jadi kejahatan adalah kepentingan atau perbuatan karena karakter atau
16
sifatnya antagonistis dengan ketertiban hukum; sedangkan pelanggaran ialah
perbuatan yang oleh undang-undang di cap sebagai suatu perbuatan yang
antagonistis dengan ketertiban umum. (Utrecht 82-84)
Sedangkan Stephen Schafer, seperti penulis kutip dalam buku
berjudul “Analisa Kriminologi tentang Kejahatan-Kejahatan Kekerasan”
karya Mulyana W. Kusuma, dalam suatu studinya mengenai kejahatan-
kejahatan kekerasan di Florida mendasarkan rumusannya pada batasan
kelompok International Para Ahli PBB yang beranggapan bahwa kejahatan-
kejahatan kekerasan yang utama adalah pembunuhan, penganiayaan berat,
serta perampokan dan pencurian berat. (Mulyana 1982 : 24)
Sedangkan David Gordon secara kriminologi menunjukkan bahwa
struktur dasar dari pranata-pranata sosial dan ekonomi dalam masyarakat
mana pun secara mendasar membentuk perilaku individu-individu dalam
masyarakat yang bersangkutan dan oleh karenanya tidak dapat dipahami
tanpa pertama-tama mengerahui secara cukup stuktur-struktur kesempatan
yang dirumuskan secara melembaga di mana anggota-anggota golongan-
golongan ekonomi tertentu terkungkung.
Dengan demikian, Gordon melihat bahwa kejahatan adalah
merupakan usaha pelanggar untuk hidup dalam suatu situasi ekonomi tidak
menentu yang terbentuk dalam tatanan sosial tertentu. (Mulyana 1982 : 28)
Unsur-unsur kejahatan menurut pendapat Sutherland dalam buku
Hurwitz (1986: 136) adalah sebagai berikut :
1. Suatu nilai yang dijunjung oleh suatu golongan yang secara politis
mempunyai kedudukan penting ;
2. Anggota-anggota golongan yang cenderung membahayakan nilai
17
tersebut;
3. Untuk melindungi nilai tersebut golongan 1 harus menerapkan
paksaan sampai batas tertentu terhadap golongan 2.
Berdasar hal yang telah dikemukakan diatas, maka pembunuhan
merupakan suatu peristiwa yang bertentangan atau antagonistis dengan
asas-asas hukum. Dengan kata lain, terjadilah suatu delik hukum.
a. Latar belakang Kejahatan
Latar belakang orang melakukan kejahatan sebagaimana
dikemukakan oleh Step Han Hurwitz terdiri atas latar belakang
biologik serta latar belakang sosiologik.
1) Latar Belakang Secara Biologik
Menurut Kinberg, dalam buku karya Stephan Horwicz,
keturunan dan kejahatan pembawaan dan keadaan / pembawaan =
kecenderungan watak seorang yang secara biologik ditentukan,
tergantung faktor-faktor keturunan agar menghasilakan reaksi
tertentu terhadap perangsang-perangsang tertentu. (Hurwitz
1986:35)
Sedangkan Step Han Hurwitz (Hurwitz 1986:35)
berpendapat bahwa seluruh pembawaan keturunan tidak diwaris
tanpa perubahan dari satu generasi ke generasi/keturunan yang
lain. Tapi dari setiap garis keturunan diwariskan sejumlah gene-
gene yang disusun dalam gabungan yang berbeda untuk tiap
makhluk baru.
Menurut Hurwitz (1986 : 49) latar belakang biologik dari
kejahatan antara lain
18
a) Genotype dan Phenotype
Genotype ialah warisan sesungguhnya, phenotype ialah
pembawaan yang berkembang. Apa yang diteruskan seseorang
sebagai pewarisan kepada generasi yang berikutnya tergantung
dari genotype, apa yang ditampakkan dari luar adalah
penotype, yaitu hasil dari pembawaan yang diwaris dari orang
tuanya dengan pengaruh-pengaruh dari luar.
b) Pembawaan dan Kepribadian
Menurut peristilahan teori keturunan, pembawaan
berarti potensi yang diwariskan saja dan kepribadian berarti
propensiti/ bakat-bakat yang dikembangkan.
c) Lingkungan
Seperti halnya pembawaan, lingkungan merupakan
suatu faktor yang potensial, artinya mengandung suatu
kemungkinan untuk memberi pengaruh dan terwujudnya
kemungkinan ini, tergantung susunan pembawaan dan
lingkungan.
d) Epilepsi
Menurut Lombrosso dalam buku karya Hurwits
(1986:47), Epilepsi dan kejahatan merupakan gejala yang erat
berhubungan Hal ini diperkuat oleh kesimpulan Exner bahwa
berdasar pengamatannya mengenai terjadinya kriminalitas
pada sanak keluarga (relatives) orang epileptik yaitu bahwa
19
keturunan epileptik, lebih banyak meliputi orang-orang yang
terutama mempunyai kecenderungan ke arah kejahatan yang
mengandung kekerasan dan kejahatan seks.
e) Psikopati (penyimpangan kepribadian)
Exner dalam Hurwits (1986:49) berpendapat bahwa
ada bukti nyata tentang adanya korelasi yang di warisi antara
psikopati dan kejahatan, bahwa residivis punya derajad/nilai
cacat psikopatik yang tinggi dan langsung.
2) Latar Belakang secara Sosiologik
Stephan Hurwitz berpendapat: Ada hubungan timbal balik
antara faktor-faktor umum sosial politik dan bangunan
kebudayaan dengan jumlah kejahatan dalam lingkungan itu baik
dalam lingkungan kecil maupun besar. (Hurwitz 1986:86)
Menurutnya latar belakang kejahatan dari segi sosiologis
dapat dilihat dari tinjauan-tinjauan sebagai berikut: (Hurwitz
1986: 86-102)
a) Faktor-faktor ekonomi; Sistem ekonomi;
Menurut Step Han Hurwitz (1996 : 112) berikut ini :
”Faktor-faktor sungguhnya dari terjadinya kejahatan adalah :
Kondisi-kondisi ekonomi buruk pada golongan rakyat yang
status sosial dan ekonominya rendah dan biasanya
mempunyai banyak anak. Hal ini disebabkan kurang
mendapatkan ketrampilan, lebih sering ganti pekerjaan, lebih
tinggi angka pengangguran, lebih rendah upahnya, lebih buruk
keadaan perumahan, lebih banyak kesukaran ekonomi karena
tidak sesuai penghasilan dan pengeluaran dan lain-lain”
20
b) Faktor-faktor mental : agama;
Menurut Step Han Hurwits (1986:93) faktor mental
khususnya agama memang merupakan faktor yang
berpengaruh terhadap terjadinya kejahatan, hal ini dapat
dilihat dari pendapat Hurwits sebagai berikut :
”...memang merupakan fakta bahwa norma-norma etis yang
secara teratur diajarkan oleh bimbingan agama dan khusus
bersambung pada keyakinan keagamaan yang sungguh,
membangunkan secara khusus dorongan-dorongan yang kuat
untuk melawan kecenderungan-kecenderungan kriminil”.
c) Faktor-faktor pribadi : Umur;
Menurut Step Han Hurwitz bahwa faktor umur
merupakan faktor yang menyebabkan seseorang berbuat
kejahatan dapat dilihat seperti dalam kutipan berikut ini :
”Kecenderungan untuk berbuat anti sosial bertambah selama
masih sekolah dan memuncak antara umur 20 sampai 25,
menurun perlahan-lahan sampai umur 40, lalu meluncur
dengan cepat untuk berhenti sama sekali pada hari tua.
Kurve/garisnya tidak berbeda dari garis aktivitas lain yang
tergantung dari irama kehidupan manusia” (Step han Hurwits
1986 : 99)
d) Pendidikan;
Menurut Hurwits (1986:117), faktor pendidikan berpengaruh
terhadap terjadinya kejahatan, sebagaimana pendapatnya
berikut ini :
”Ditinjau dari sudut kriminologi, faktor positif dari sekolah
adalah: Setiap sekolah yang baik membuat anak-anak jadi
tertib bersekolah sehingga secara langsung dan tidak langsung
membentuk pribadinya”.
21
e) Ancaman atau takut pada suami
Faktor ancaman terkait dengan rasa takut menurut tuntutan
hidup berdasarkan pendapat Hurwits (1986) adalah :
”seseorang melakukan kejahatan bukan karena kehendaknya
sendiri, tetapi menurut tuntutan hidup dapat disebabkan oleh :
karena neigung/ inclination/ kecenderungan; karena weakness/
kelemahan; karena passion/ nafsu/ gelora/ cinta; karena
honour/ kehormatan; karena destituation/ kekurangan”.
b. Faktor-faktor Penyebab Kejahatan
Mengenai faktor-faktor penyebab melakukan kejahatan ini,
sudah sejak lama orang melakukan penelitian. Bahkan sudah banyak
sarjana menguraikannya, masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan. Sehingga tidak didapatkan suatu kesepakatan yang bulat.
Mengenai hal ini hanyalah didapatkan kesepakatan, bahwa kejahatan
atau tindak pidana itu disebabkan oleh berbagai faktor yang saling
berkaitan.
W.A. Bonger (1982 : 73-142), dalam bukunya yang berjudul
“Pengantar Tentang Kriminologi”, membagi penyebab terjadinya
kejahatan itu atas empat mashab menurut perkembangan sejarahnya,
yaitu :
Mashab Itali atau mashab Antropologi, adalah aliran yang
mempelajari tentang penyebab terjadinya kejahatan dari keadaan fisik
si pelaku.
1) Mashab Perancis atau mashab lingkungan, adalah aliran yang
22
mempelajari penyebab terjadinya kejahatan dari keadaan
lingkungan si pelaku.
2) Mashab Bio-Sosiologis, adalah aliran yang mempelajari penyebab
terjadinya kejahatan atau tindak pidana dari unsur-unsur yang
terdapat dalam individu, masyarakat dan keadaan fisik.
3) Mashab Spiritualis atau Mashab Neo-Spiritualis, dalah aliran yang
mempelajari tentang penyebab terjadinya kejahatan dari unsur
agama, unsur kerohanian punya arti penting dalam terjadinya
kejahatan.
Pendapat mengenai penyebab terjadinya kejahatan juga
diuraikan oleh beberapa pakar hukum, yang memiliki beraneka ragam
pendapat tentang penyebab terjadinya kejahatan, sebagaimana yang
diungkapkan oleh Moelyo (1992 : 144) :
1) Sutherland : berpendapat bahwa, kejahatan berakar pada
organisasi masyarakat dan adalah suatu expresi atau
pencerminan organisasi masyarakat itu sendiri.
2) William Healily : menyatakan, bahwa konflik jiwa merupakan
sumber dari adanya kejahatan.
3) Plato : berpendapat, bahwa kekayaan yang belimpah atau
kemiskinan merupakan bahaya bagi moral dan kesusilaan.
4) Mashab Perancis : menyatakan bahwa, kejahatan timbul dari
faktor kemasyarakatan, faktor iklim dan faktor sosial.
Berdasarkan mashab-mashab tersebut, bahwa kejahatan
dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor.
Kejahatan merupakan tingkah laku manusia sebagai perbuatan
yang tidak disukai atau perbuatan jahat. Kejahatan adalah suatu gejala
masyarakat yang nyata, dan kejahatan harus diterima sebagai suatu
kenyataan.
23
A. Schaffenburg menggolongkan faktor terjadinya kejahatan atau
tindak pidana disebabkan, karena:
1) Pelakunya kebetulan mempunyai kesempatan.
2) Kejahatan itu telah direncanakan.
3) Kejahatan merupakan suatu pencaharian
Tentang faktor-faktor penyebab terjadinya kejahatan
sebenarnya banyak dikemukakan oleh para pakar hukum, yaitu kaum
mashab. Seperti halnya kaum mashab lingkungan. Menurut kaum
mashab lingkungan dinyatakan bahwa :
1. Lingkungan memberikan kesempatan akan adanya kejahatan,
2. Lingkungan pergaulan memberikan contoh atau teladan,
3. Lingkungan ekonomi (kemiskinan dan kesengsaraan) juga
mempunyai pengaruh,
4. Demikian juga dengan lingkungan pergaulan yang berbeda-beda.
Bonger di dalam buku Step han Hurwits (1986: 22) dalam
penelitiannya mengumpulkan 7 faktor lingkungan sebagai penyebab
kejahatan, antara lain:
1. Terlantarnya anak-anak
2. Kesengsaraan
3. Nafsu ingin memiliki
4. Demoralisasi sexuil
5. Alkoholisme
6. Kurangnya peradaban
7. Perang.
Faktor lingkungan memang tidak hanya apa yang
dikemukakan oleh Bonger, masih banyak lagi dan juga ada yang
menyanggah pendapat tersebut. Sebab-sebab kejahatan tidak hanya
24
faktor lingkungan, tapi juga faktor biologi yang melekat pada pribadi
seseorang baik itu psikologis, atau kejiwaan.
1. Kelompok yang bersifat primair: pada umumnya mereka sangat
impulsif, reaksinya cepat dan amat peka terhadap penghinaaan-
penghinaan, mereka sering tidak bisa menahan diri terhadap
gejolak jiwa dan keinginan-keinginan yang mendadak. Amat sukar
menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang rutin atau menjemukan,
oleh karena itu mereka sering berganti pekerjaan. Malahan sering
tanpa pekerjaan dan hidup dalam kemiskinan. Mereka selalu
merasa kosong hati, lalu cenderung mencari perangsang-
perangsang yang kuat seperti minum-minuman keras, berjudi, dan
melakukan perbuatan-perbuatan yang banyak mengambil resiko
dan berbahaya. Mereka ini merupakan golongan tipe yang
dikuasai die Souveranitat des Augenbliks.
2. Type pemilik kecenderungan-kecenderungan egoistis yang hebat:
Mereka merupakan kelompok penjahat yang kejam, kepala dingin
dengan dipikir dan dirancang terlebih dahulu.
3. Type yang sentimentil dan memiliki kecenderungan-
kecenderungan yang altruistis: karena perasaan yang meluap-luap
dan motif yang emosionil mereka melakukan kemaksiatan dan
pembunuhan. Misalnya pembunuhan keluarga, anak istri atau
suami karena cita-citanya hendak membebaskan keluarganya dari
kemiskinan atau kehancuran mengancam mereka. Emosinya
25
sangat besar, hingga sering mereka itu amat takut bayangan-
bayangan dan pikirannya sendiri. Contoh-contoh lain ialah
penjahat-penjahat yang suka membakar karena dorongan perasaan
hati yang sunyi rasa kerinduan. Oleh aktivitasnya yang amat
sedikit dan perasaannya yang berlebih-lebihan hal ini membuat
mereka tidak pernah berani mengatasi segala kesukaran dalam
hidupnya, dan tidak mampu mencari jalan keluar. Dalam keputus-
asaan dan kebinasaan, lalu mereka melakukan kejahatan-
kejahatan.
4. Tipe yang neverous : mereka sering bertingkah laku yang histeris,
selalu gelisah dan dikejar-kejar oleh macam-macam dorongan
perasaan. Dalam golongan ini termasuk pembunuh-pembunuh
yang tidak mempunyai belas kasih pada sesama hidup. (Kartini
Kartono 1974 :50-151)
Dalam ilmu jiwa dapat dipelajari berbagai type manusia,
khususnya yang berhubungan dengan kejahatan atau yang mengarah
kepada suatu kejahatan. Misalnya type manusia yang cepat marah,
akan difitnah dan sebagainya. Hal tersebut karena dorongan jiwa,
seperti juga kejahatan pembunuhan, misalnya pembunuhan bayi (anak
kandungnya sendiri) hal tersebut akibat perasaan yang gelisah, takut,
pemalu lebih-lebih perasaan kalut. Di dalam faktor-faktor yang
menimbulkan terjadinya kejahatan atau tindak pidana telah banyak
sarjana yang menguraikannya sesuai dengan bidang keahliannya
masing-masing.Jadi dalam mencari sebab-sebab terjadinya kejahatan
26
akan dijumpai berbagai macam faktor,dimana suatu faktor tertentu
dapat menimbulkan suatu kejadian tertentu, sedangkan faktor lain
menimbulkan jenis kejahatan yang lain pula.
Sebab-sebab terjadinya kejahatan ini adalah sangat komplek.
Dalam hal ini terlihat banyak sekali faktor-faktornya dimana faktor
yang satu dengan faktor yang lainnya saling pengaruh-
mempengaruhi.Secara umum dapatlah disebutkan bahwa faktor-faktor
yang menimbulkan kejahatan dibagi dalam 2 bagian, (Hari Saherodji
1980:35) yaitu:
a. Faktor Intern (faktor-faktor yang terdapat pada individu).
Faktor ini dilihat khusus dari individu-individu serta dicari
hal-hal yang mempunyai hubungan dengan kejahatan.Hal ini
dapat ditinjau dari sifat-sifat umum dan sifat-sifat khusus dari
individu.
b. Faktor Extern (faktor-faktor yang berada di luar individu).
Faktor-faktor extern ini bepokok pangkal pada lingkungan.
Faktor-faktor extern inilah menurut para sarjana merupakan faktor
yang menentukan atau yang mendominir perbuatan individu ke
arah suatu kejahatan.
Masalah faktor extern ini meliputi:
a. Waktu kejahatan
b. Tempat kejahatan
c. Keadaan keluarga dalam hubungannya dengan kejahatan
27
2. Pembunuhan
a. Pengertian Pembunuhan
Seperti diketahui bahwa pembunuhan, merupakan suatu
kesengajaan menghilangkan nyawa orang lain. Pembunuhan merupakan
suatu perbuatan atau tindakan yang tidak manusiawi dan atau suatu
perbuatan yang tidak berperikemanusiaan, karena pembunuhan
merupakan suatu tindak pidana terhadap nyawa orang lain tanpa
mempunyai rasa kemanusiaan. Pembunuhan juga merupakan suatu
perbuatan jahat yang dapat mengganggu keseimbangan hidup, keamanan,
ketentraman, dan ketertiban dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Oleh
karena itu, pembunuhan merupakan suatu perbuatan yang tercela, ataupun
tidak patut.
Pengertian pembunuhan menurut Kamus Umum Bahasa
Indonesia, adalah perkara membunuh ; perbuatan (hal dan sebagainya)
membunuh. (Poerwadarminta 1976 : 169).
Pembunuhan secara yuridis diatur dalam pasal 338 KUHP, yang
mengatakan bahwa:
“Barang siapa dengan sengaja menhilangkan nyawa orang lain, karena
bersalah telah melakukan “pembunuhan” dipidana dengan pidana penjara
selama-lamanya lima belas tahun”.
Dikatakan melakukan tindak pidana pembunuhan dengan
kesengajaan, adalah apabila orang tersebut memang menghendaki
perbuatan tersebut, baik atas kelakuan maupun akibat atau keadaan yang
timbul karenanya. Namun juga mungkin tidak dikehendaki sama sekali
28
oleh pelakunya.
Kesengajaan menghilangkan nyawa orang lain itu oleh Kitab
Undang-undang Hukum Pidana yang berlaku dewasa ini, telah disebut
“pembunuhan”. (Lamintang 1985:10).
b. Jenis-jenis Pembunuhan
Tindak pidana pembunuhan merupakan kejahatan terhadap
nyawa. Pembunuhan terdiri dari beberapa jenis, diantaranya :
1) Pembunuhan biasa (“Doodslag”).
Pembunuhan biasa ini sebagaimana biasa diatur dalam pasal
338 KUHP, yang pada pokoknya berbunyi :
“Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain,
dihukum karena makar mati dengan hukuman penjara selama-lamanya
lima belas tahun”
Menurut R.Soesilo, dalam bukunya yang berjudul Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana beserta komentar-komentarnya
lengkap pasal demi pasal, mengatakan bahwa :
a) Kejahatan ini dinamakan “makar mati” atau “pembunuhan”
(doodslag). Di sini diperlukan perbuatan yang mengakibatkan
kematian orang lain, sedangkan kematian itu disengaja , artinya
dimaksud , termasuk dalam niatnya.
b) Pembunuahan itu harus dilakukan dengan segera sesudah timbul
maksud untuk membunuh tidak dengan dipikir-pikir lebih panjang.
(Soesilo 1996: 240)
2) Pembunuhan yang direncanakan lebih dahulu (“Moord”).
Kejahatan ini diatur dalam pasal 340 KUHP, yang pada pokok
isinya adalah sebagai berikut :
”Barang siapa yang dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu
29
merampas nyawa orang lain diancam karena pembunuhan dengan
rencana (“moord”), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur
hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.”
Adapun yang menjadi unsur-unsur dari kejahatan yang
direncanakan terlebih dahulu (“moord”) ialah :
a) Perbuatan dengan sengaja ;
b) Perbuatan tersebut harus dilakukan dengan direncanakan terlebih
dahulu ;
c) Perbuatan tersebut dimaksud untuk menimbulkan matinya orang
lain.
Maksud direncanakan di sini, adalah antara timbulnya maksud
untuk membunuh dengan pelaksanaan itu, masih ada tempo bagi si
pembuat untuk dengan tenang memikirkan dengan cara bagaimanakah
pembunuhan itu dilaksanakan.
Dari kedua pasal tersebut, yaitu pasal 338 KUHP dan pasal 340
KUHP tersebut dapat ditarik kesimpulan , bahwa yang dimaksud
dengan pembunuhan, adalah perbuatan sengaja yang dilakukan orang
terhadap orang lain dengan maksud untuk menghilangkan nyawa
tersebut.
Setelah penulis menguraikan tentang tindak pidana
pembunuhan, maka sekarang tiba saatnya penulis membahas tentang
bentuk-bentuk tindak pidana pembunuhan.
c. Bentuk-bentuk kejahatan Pembunuhan
Bentuk-bentuk kejahatan pembunuhan secara yuridis diatur dalam
Buku II, Bab XIX Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Karena
30
banyaknya bentuk-bentuk tindak pidana pembunuhan, maka yang akan
penulis bahas adalah bentuk-bentuk tindak pidana pembunuhan yang ditur
dalam pasal 338, 340, 341, dan pasal 342 Kitab Undang-undang Hukum
Pidana.
1) Berdasarkan Pasal 338 KUHP
Aturan dalam pasal 338 KUHP ini disebut juga dengan
“kejahatan Pembunuhan dalam Bentuk Pokok”.
Diatas telah dijelaskan bahwa tindak pidana pembunuhan
dalam bentuk pokok ataupun yang oleh pembentuk Undang-undang
telah disebut dengan kata “doodslag” itu, diatur dalam pasal 338
KUHP. Sesuai dengan rumusannya yang asli dalam bahasa Belanda,
ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 338 KUHP ini berbunyi :
“Hij die opzettelijk een ander van het leven beroft, als schulding aan
doodslag, gestraft met gevengenis starf van ten hoogste vijftien
jaren”.(Lamintang 1985:24).
Yang artinya:
“Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain
karena bersalah telah melakukan “pembunuhan” dipidana dengan
pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun “.
Dari rumusan ketentuan pidana mengenai kejahatan
pembunuhan yang diatur dalam pasal 338 KUHP diatas, orang dapat
mengetahui bahwa tindak pidana pembunuhan yang oleh pembentuk
undang-undang telah disebut dengan kata doodslag itu mempunyai
unsur-unsur sebagai berikut:
a) “Pzetelijk” atau dengan sengaja.
b) “Beroven” atau menghilangkan.
31
c) “Het leven” atau nyawa.
d) “Een ander” atau orang lain. (Lamintang 1985:24).
Tindak pidana pembunuhan merupakan suatu tindak pidana
materiil atau “materiil delict”, yaitu suatu tindak pidana yang baru
dianggap sebagai suatu tindak pidana apabila telah selesai
dilakukannya perbuatan yang dimaksud dan timbullah akibat itu,
dilarang atau tidak dikehendaki oleh undang-undang.
a) Unsur kesengajaan
Unsur kesengajaan ini adalah kesalahan dari tindak pidana
pembunuhan. Seperti kita ketahui bahwa dalam ilmu pengetahuan
hukum pidana, kesalahan itu ada 2 bentuk, yaitu:
(1) Kesalahan dalam bentuk kesengajaan (“opzet atau dolus”);
(2) Kesalahan dalam bentuk kelalaian (“culpa”).
Tentang arti kesengajaan, tidak ada keterangan sama sekali
dalam KUHP. Lain halnya dengan KUHP Swiss, dimana dalam
pasal 18-nya dengan tegas dikatakan, bahwa :
“Barang siapa melakukan perbuatan dengan mengetahui dan
menghendakinya, maka dia melakukan perbuatan itu dengan
sengaja”.(Moeljatno 1987:171).
Definisi kesengajaan dalam Memori Van Toelicting
adalah:
“Pidana pada umumnya hendaknya dijatuhkan hanya pada barang
siapa melakukan perbuatan yang dilarang dengan dikehendaki dan
diketahui”.(Moeljatno 1987 :171).
32
Apabila dihubungkan dengan rumusan pembunuhan, maka
kesengajaan ini baru dianggap ada apabila telah ada maksud
termasuk di dalam unsur niat, dan pembunuhan itu harus
dilakukan dengan sengaja sesudah timbul niat untuk membunuh
tersebut, tidak dipikir-pikir panjang, serta mengetahui atau
menyadari akan akibat yang akan timbul dari perbuatan tersebut.
Unsur kesengajaan dalam pembunuhan ini juga merupakan
kesengajaan yang ditujukan pada perbuatannya, yaitu perbuatan
lahiriyah sebagai penjelmaan dari kehendak. Misalnya, perbuatan
menembak, bahkan dapat berupa diam saja dalam hal seorang
wajib bertindak, seperti tidak memberi makan bayinya. Disamping
itu kesengajaan harus ditujukan pula pada akibat dari perbuatan
itu, yaitu hilangnya nyawa orang lain yang dibunuh itu. Akibat
hilangnya nyawa orang lain, inilah yang dilarang dan diancam
dengan undang-undang. Karena akibat yang dilarang dan diancam
oleh undang-undang, maka tindak pidana pembunuhan ini
merupakan tindak pidana material.
Dalam teori ada 3 corak kesengajaan yang berlaku bagi
tindak pidana pembunuhan, ketiga corak tersebut adalah:
1) Kesengajaan sebagai maksud untuk mencapai suatu tujuan
(yang dekat) ; (“dolus directus atau opzet al oogmerk”)
2) Kesengajaan dengan sadar kemungkinan (“dolus eventualis
atau voorwaardelijk opzet”)
33
3) Kesengajaan dengan sadar kepastian (“opzet wet zekerheit
sbewuszijn atau noodzaheidwustzijn”).
Untuk kesengajaan sebagai maksud, si pelaku memang
benar-benar menghendaki perbuatan dan akibatnya.
Kesengajaan dengan sadar kepastian ini, baru dianggap
ada apabila si pelaku dengan perbuatannya, tidak bertujuan untuk
mencapai akibat yang menjadi dasar dari tindak pidana tersebut,
tetapi ia tahu bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatan
tersebut. Dalam hal perbuatan mempunyai akibat yaitu:
1. Akibat yang memang dituju pelaku.
2. Akibat yang tidak diinginkan tetapi merupakan suatu
keharusan untuk mencapai tujuan, akibat ini pasti timbul.
Sedangkan kesengajaan dengan sadar kemungkinan, adalah
keadaan tertentu yang semula mungkin terjadi, kemudian
benar-benar terjadi ini.
b) Unsur menghilangkan nyawa orang lain
Dalam pengertian menghilangkan nyawa orang lain
terdapat 2 unsur, yaitu :
1) Adanya orang mati ;
2) Adanya perbuatan yang menyebabkan kematian itu.
Adanya orang mati secara misterius itu, harus dibuktikan
hubungan kausalnya dengan perbuatan orang lain yang
menyebabkan kematian itu. Hal ini penting untuk menentukan
34
tindak pidananya.
2) Berdasarkan Pasal 340 KUHP
Pasal 340 KUHP ini disebut juga dengan “pembunuhan dalam
bentuk yang memberatkan”. Bentuk-bentuk pembunuhan yang
memberatkan ini diatur dalam pasal 340 KUHP. Faktor yang
menyebabkan pembunuhan yang diatur dalam pasal 340 KUHP ini
menjadi lebih berat ancaman pidananya dari pembunuhan pokoknya,
ialah karena pelaksanaannya dilakukan dengan direncanakan terlebih
dahulu, dan juga adanya tempo bagi si pelaku untuk dengan tenang
memikirkannya. Misalnya dengan cara bagaimanakah pembunuhan
itu dilakukan yang sebenarnya, tempo itu dapat dipergunakan untuk
membatalkan niatnya, tetapi tidak dipergunakan.
Pasal 340 KUHP :
“ Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas
nyawa orang lain diancam karena pembunuhan dengan rencana
(moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau
selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun”.
Dari rumusan ketentuan tindak pidana pembunuhan dengan
direncanakan lebih dahulu diatas dapat diketahui bahwa tindak pidana
pembunuhan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 340 KUHP itu
mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :
a. unsur dengan sengaja ;
b. unsur menghilangkan nyawa seseorang ;
c. unsur direncanakan terlebih dahulu.
35
Direncanakan lebih dahulu, diartikan antara timbulnya maksud
untuk membunuh dengan pelaksanaannya itu masih ada tempo bagi si
pelaku untuk dengan tenang memikirkannya, misalnya dengan cara
bagaimanakah pembunuhan itu dilakukan. Tempo ini tidak perlu lama,
yang penting ialah apakah didalam tempo itu si pelaku dengan tenang
masih dapat berpikir, yang sebenarnya masih ada kesempatan untuk
membatalkan niatnya tetapi tidak dipergunakan.
Menurut Wiryono Prodjodikoro (1986:69), dinyatakan bahwa :
Unsur perencanaan atau perancangan ini tidak perlu ada tenggang
waktu terlalu lama antara waktu perencanaan dan waktu melakukan
perbuatan pembunuhan. Sebaliknya meskipun ada tenggang waktu itu
yang tidak begitu pendek, belum tentu dapat dikatakan ada rancangan
terlebih dahulu secara tenang. Ini semua tergantung dari keadaan
konkrit dari setiap peristiwa.
Dalam buku “Delik-delik khusus” , karangan P.A.F Lamintang
(1985:44) dikatakan adanya kenyataan, bahwa :
“Antara waktu penyusunan suatu rencana dengan waktu
pelaksanaannya itu terdapat suatu jangka waktu tertentu ‘tidak berarti’
bahwa dalam hal ini selalu terdapat suatu unsur direncanakan lebih
dahulu karena dalam jangka waktu tersebut mungkin saja pelakunya
tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk mempertimbangkan
secara tenang mengenai apa yang telah ia rencanakan”.
Menurut profesor Simon, Pertimbangan secara tenang itu
bukan hanya diisyaratkan bagi pelaku pada waktu ia “menyusun
rencana” dan “mengambil keputusannya” , melainkan juga pada
waktu ia melakukan kejahatannya.(Lamintang 1985:45).
Pembunuhan yang terdapat pada pasal 340 ini, dinamakan
pembunuhan yang direncanakan terlebih dahulu atau disebut juga
36
“moord”.
Menurut P.A.F. Lamintang dalam bukunya “Delik-delik
khusus” ditegaskan, bahwa ada perbandingan antara tindak pidana
yang diatur dalam pasal 338 KUHP dengan pasal 340 KUHP, bahwa
secara formal perbedaannya terletak pada ada dan tidak adanya unsur
direncanakan terlebih dahulu.
Untuk mengetahui sebenarnya tentang perbedaan antara
“doodslag” dan “moord” seperti yang dimaksud dalam kitab undang-
undang kita, perlu kiranya kita mengetahui pendapat Mr. Moderman
yang pada waktu KUHP kita dibentuk menjabat sebagai Menteri
Kehakiman Belanda:
“Perbedaan antara doodslag dan moord sama sekali bukan
terletak pada jangka waktu tertentu, yang terdapat antara “waktu
pengambilan keputusan” dengan “waktu pelaksanaannya”, melainkan
terdapat dalam sikap kejiwaan atau pemikiran tentang perilaku
selanjutnya dari si pelaku setelah pada dirinya timbul maksud untuk
melakukan sesuatu”.(Lamitang 1985 :48)
Dikatakan selanjutnya oleh Mr. Moodderman, bahwa :
“Suatu jangka waktu tertentu itu dapat marupakan petunjuk yang
berharga tentang ada atau tidak adanya suatu “perencanaan terlebih
dahulu”, akan tetapi ia bukan merupakan bukti tentang kenyataannya.
Barang siapa dengan segala ketenangan memutuskan untuk
membunuh orang lain dan setelah mempertimbangkannya, maka ia
adalah seorang pembunuh yang telah merencanakan terlebih dahulu
kejahatannya. Barang siapa karena terdorong oleh kemarahan telah
memutuskan untuk membunuh orang lain dan tidak pernah kembali
pada suatu suasana tenang untuk mempertimbangkannya kembali
dengan tenang melainkan dengan segera melaksanakan keputusannya
37
itu, maka ia adalah seorang pembunuh biasa, walaupun munkin benar
bahwa jangka waktu antara ia membuat keputusannya dengan jangka
waktu ia melaksanakan keputusannya itu adalah lebih lama dari
jangka waktu antara waktu membuat keputusan dengan waktu
pelaksanaannya”. (Lamintang 1985:49).
Menurut penulis yang paling pokok perbedaan antara pasal
338 dan pasal 340 KUHP, adalah terletak pada unsur direncanakan
terlebih dahulu dan adanya niat untuk melaksanakannya.
3) Berdasarkan Pasal 341 KUHP
Pasal 341 KUHP ini disebut dengan “pembunuhan dalam
bentuk yang lebih ringan dari bentuk pokoknya”. Faktor yang
menyebabkan pembunuhan yang diatur dalam pasal ini menjadi
ringan ancaman pidananya daripada pembunuhan dalam bentuk
pokoknya, adalah keadaan batin si pelaku, yaitu si ibu yang
melakukan pembunuhan terhadap anaknya sendiri. Anak yang
menjadi obyek pembunuhan itu biasanya adalah anak yang didapat
dari berzina atau hubungan kelamin yang tidak sah. Seorang wanita
yang hamil diluar perkawinan yang sah, akan menerima beban
psikologis berupa cemoohan dan ejekan. Semakin lama ia akan
semakin mengalami konflik-konflik batin dan ketegangan-ketegangan
jiwa yang sangat tinggi, sehingga untuk mengatasi konflik-konflik dan
ketegangan-ketegangan jiwanya ini dia ia akan menghilangkan nyawa
anaknya yang dilahirkan atau kelak dilahirkan.
Jadi konflik batin dan ketegangan jiwa yang begitu kuat
dirasakan oleh si ibu atau wanita tersebut telah membuat dia
menderita, maka ancaman pidana untuk si ibu atau wanita yang
38
melakukan tindak pidana pembunuhan yang diatur dalam pasal 341
KUHP ini, lebih ringan dari pada pembunuhan dalam bentuk pokok,
yaitu yang diatur dalam pasal 338 Kitab Undang-undang Hukum
Pidana.
Pasal 341 KUHP :
Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada
saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja
merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri,
dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Dari rumusan pasal 341 KUHP ini, kita dapat menemukan
klasifikasinya, yaitu pembunuhan anak (kinderdoodslag).
Unsur-unsur dari tindak pembunuhan anak yang diatur dalam
pasal 341 KUHP adalah sebagai berikut :
a) Unsur dengan sengaja ;
b) Unsur lainnya, yaitu :
(1) Seorang ibu
(2) Menghilangkan nyawa anaknya
(3) Pada saat dilahirkan atau tiada lama setelah dilahirkan
(4) Karena takut akan diketahui bahwa ia melahirkan anak.
Syarat terpenting dari pembunuhan ini adalah bahwa
pembunuhan anak itu dilakukan oleh ibunya dan didorong oleh
perasaan takut akan diketahui kelahiran anak tersebut. Apabila syarat
tidak ada, maka perbuatan ini dikenakan sebagai pembunuhan biasa.
Satu hal yang perlu diingat yaitu bahwa anak yang menjadi obyek
tindakan pembunuhan itu biasanya anak yang didapat karena berzina
39
atau hubungan kelamin diluar perkawinan.
4) Berdasarkan Pasal 342 KUHP
Pasal 342 KUHP ini disebut dengan “tindak pidana
pembunuhan anak dengan direncanakan terlebih dahulu”, yang
berbunyi :
Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena
takut akan ketahuan bahwa akan melahirkan anak, pada saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya,
diancam karena melakukan pembunuuhan anak sendiri dengan
rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Dari rumusan ini pun dapat kita dapatkan, bahwa
klasifikasinya adalah pembunuhan anak sendiri dengan rencana
(kindermoord), dan mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :
a) Unsur dengan sengaja ;
b) Unsur lainnya, yaitu :
(1) Seorang ibu,
(2) Menghilangkan nyawa anaknya,
(3) Direncanakan terlebih dahulu,
(4) Pada saat anak dilahirkan atau tiada berapa lama sesudah
dilahirkan atau tiada lama kemudian daripada itu,
(5) Karena takut ketahuan bahwa ia tidak berapa lama lagi akan
melahirkan anak.
Jika kita teliti lebih jelas, kelihatan bahwa unsur-unsur dari
pada pasal 341 dan pasal 342 KUHP ini hampir sama, kedua pasal ini
berbeda dalam hal saat pembentukan niat. Niat menghilangkan nyawa
40
anaknya pada pasal 342 KUHP terjadi atau timbul sebelum anaknya
lahir (tidak berapa lama lagi). Jadi, dalam pasal 342 KUHP ada unsur
direncanakan terlebih dahulu.
Sedangkan pada pasal 341 KUHP, niat untuk menghilangkan
nyawa anaknya ini tidak pernah ada. Keputusan untuk membunuh
anaknya datang secara tiba-tiba, bertepatan dengan saat kelahiran
anaknya atau tidak berapa lama sesudah itu, keputusan diambil karena
adanya perasaan takut akan ketahuan melahirkan anak.
Jadi suatu perbuatan menghilangkan nyawa seorang anak baru
diancam dengan ketentuan pasal 342 KUHP ini, jika
a) Pembunhan tersebut dilakukan oleh seorang ibu terhadap anaknya
sendiri
b) Anak itu sedang dilahirkan atau tidak berapa lama sesudah
dilahirkan,
c) Dengan alasan ibu dari anak itu didorong oleh perasaan takut akan
ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak,
d) Niat untuk melakukan tindakan itu telah ada sebelum anaknya
dilahirkan (telah direncanakan terlebih dahulu).
Dalam ketentuan ini pun syarat yang terpenting, yakni
pembunuhan itu dilakukan oleh ibunya dan didorong oleh perasaan
takut, serta niat untuk melaakukan tindakan itu telah ada sebelum
anaknya lahir. Anak yang menjadi obyek pembunuhan sesuai dengan
pasal 342 KUHP, ini pun biasanya anak yang didapat dari berzina
41
atau hubungan kelamin yang tidak sah.
Sebenarnya antara pasal 342 dan pasal 340 KUHP, terdapat
suatu persamaan. Persamaannya yaitu dalam kedua pasal tersebut,
pembunuhan itu dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu.
Meskipun dalam kedua pasal ini mengandung persamaan, namun
kedua pasal ini pun juga mengandung perbedaan, yaitu dalam hal
pembentukan niat untuk menghilangkan nyawa itu. Adapun
perbedaan antara pasal 342 KUHP dan pasal 340 KUHP, adalah
sebagai berikut :
a) Dalam ketentuan pasal 342 KUHP, adalah :
Pembentukan niat dalam pasal ini, untuk menghilangkan nyawa
karena perasaan takut, yaitu takut ketahuan melahirkan anak atau
denagan kata lain bahwa niat atau kehendak untuk menghilangkan
nyawa timbul dalam keadaan tenang namun ada perasaan takut.
b) Sedangkan dalam ketentuan pasal 340 KUHP, adalah :
Pembentukan niat dalam pasal ini direncanakan dalam keadaan
tenang, dipikir-pikir terlebih dahulu untuk menghilangkan nyawa
orang lain.
Demikianlah uraian mengenai bentuk-bentuk tindak pidana
pembunuhan yang terdapat dalam pasal 338, 340, 341 dan pasal 342
Kitab Undang-undang Hukum Pidana.
42
3. Pengertian Wanita
Wanita adalah seseorang yang telah dikodratkan oleh Tuhan, berjenis
kelamin biologis (seks) sebagai perempuan yang berciri-ciri menyusui, haid,
dan melahirkan serta memiliki rahim tidak dapat berubah, dipertukarkan, dan
berlaku sepanjang masa. (Kementrian Pemberdayaan Perempuan 2002 : 8).
Wanita merupakan kaum yang secara fisik kurang kuat dibandingkan
kaum pria, dan secara psikologis lebih banyak menggunakan perasaan dan
lemah lembut penuh kasih sayang, oleh karena itu kejahatan yang dilakukan
oleh kaum wanita, biasanya dilakukan karena keterpaksaan.
Sedangkan sebab-sebab kejahatan yang dilakukan oleh wanita secara
kuantitatif lebihrendah daripada yang dilakukan oleh kaum pria,menurut
pendapat Stephan Hurwitz adalah:
1. Secara biologik:
Karena wanita secara pisik kurang kuat, dan karena ada kelainan-kelainan
pisikyang khas yang berhubungan fungsi-fungsinya sebagai kelamin
lain,sehingga kriminalitasnya berkurang.
2. Secara sosiologik :
1) Lebih terlindung oleh lingkungan karena tempat bekerja di rumah
dengan tanggung jawab hanya mengenai rumah tangga.
2) Kurang minum,minuman keras. (Hurwitz 1986 :100).
Para pelaku kejahatan akan dipidana sesuai dengan kejahatan yang
telah dilakukan dan akan memperoleh pembinaan serta bimbingan di
Lembaga Pemasyarakatan, begitu pula terhadap wanita yang melakukan
kejahatan.
43
B. PEMBINAAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA BULU
SEMARANG
1. Pembinaan
Pembinaan terhadap narapidana dengan sistem pemasyarakatan
sebagai misi kemanusiaan dan pekerjaan besar dalam politik kriminal, perlu
sekali pemikiran yang mendalam terhadap kesan-kesan seperti itu agar
menjadi langkah awal dukungan yang diharapkan dari masyarakat dan syarat
pokok untuk menyelenggarakan konsepsi “Community treatment” dalam
pemasyarakatan. (Bambang poernomo 1993 : 225)
Tetapi di jaman modern sekarang ini perkembangan pembinaan
narapidana sudah cukup manusiawi, sehat, bersifat realitas dan progresif. Hal
ini sudah tertuang dalam usul rencana kitab undang-undang hukum pidana
baru dari Badan Pembina Hukum Nasional tahun 1987 dalam pasal 47,
dimana tujuan pemidanaan adalah:
a. Pemidanaan bertujuan untuk:
1) Mencegah dilakukannnya tindak pidana dengan menegakkan norma
hukum demi pengayoman masyarakat.
2) Memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan,
sehingga menjadikannnya orang yang baik dan berguna.
3) Menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana,
memulihkan keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam
masyarakat.
44
b. Pembinaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan tidak
diperkenankan merendahkan martabat manusia. (Bambang Poernomo
1988:33).
Hal ini dipertegas dengan undang-undang Nomor 12 tahun 1995
tentang sistem kemasyarakatan pasal 5 bab II mengenai pembinaan, bahwa
sistem pembinaan pemasyarakatan dilaksanakan berdasarkan asas :
a. pengayoman;
b. persamaan perlakuan dan pelayanan;
c. pendidikan;
d. pembimbingan;
e. penghormatan harkat dan martabat manusia;
f. kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan;
g. terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang-
orang tertentu.
Tahap-tahap pembianaan narapidana, menurut Bambang Poernomo
mulai periode institusi ( intra mural) dan terus beralih pada periode non
institusi (ekstra mural ) sampai pada akhir proses pembinaan diliputi oleh
kegiatan yang penuh resiko. Namun demikian arah pembinaan narapidana di
luar tembok adalah rasional. Pembinaan secara rasional harus berusaha
keras untuk memperkecil kesan Lembaga Pemasyarakatan merupakan
kehidupan masyarakat mini yang ditata dengan pola autoriter. ( Bambang
Poernomo 1993 : 225)
45
Menurut Undang-undang Nomor 12 tahun1995, penjelasan pasal 6
pembinaan secara ekstra mural yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan
disebut asimilasi, yaitu proses pembinaan warga binaan masyarakat
(narapidana) yang telah memenuhi persyaratan tertentu dengan membaurkan
mereka ke dalam kehidupan masyarakat. Pembinaan secara ekstra mural juga
dilakukan oleh BAPAS ( Badan Pemasyarakatan) yang disebut integrasi,
yaitu proses pembibingan warga binaan pemasyarakatan yang telah
memenuhi persyaratan tertentu untuk hidup dan berada kembali di tengah-
tengah masyarakat dengan bimbingan dan pengawasan BAPAS.
Sedangkan berdasarkan penjelasan pasal 7 ayat (2) Undang-Undang
Nomor 12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan. Pembinaan dan
pembimbingan Warga binaan Pemasyarakatan meliputi program pembinaan
dan bimbingan yang berupa kegiatan pembinaan kemandirian. Pembinaan
kepribadian diarahkan pada pembinaan mental dan watak agar agar Warga
Binaan Pemasyarakatan menjadi manusia seutuhnya, bertaqwa, dan
bertanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Sedangkan
pembinaan bakat dan ketrampilan agar Warga Binaan Pemasyarakatan dapat
kembali berperan sebagai anggota masyarakat yang bebas dan bertanggung
jawab.
Demikian juga pembinaan terhadap narapidana wanita yang sedang
menjalankan pidananya mempunyai arti penting bagi kehidupan mendatang,
untuk itulah lembaga pemasyarakatan diperlukan untuk perawatan phisik atau
non phisik. Untuk berhasilnya pembinaan terpidana diperlukan perlengkapan-
46
perlengkapan terutama bermacam-macam bentuk atau bidang yang sesuai
dengan tingkat pengembangan semua segi kehidupan terpidana dan tenaga-
tenaga pembina yang cukup cakap dan penuh pengabdian.
Berdasarkan UU No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, pasal 7
bahwa pembinaan dan pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan
diselenggarakan oleh Menteri dan dilaksanakan oleh Petugas pemasyarakatan
yang berdasarkan pasal 8 petugas pemasyarakatan merupakan pejabat
fungsional penegak hukum yang melaksanakan tugas di bidang pembinaan,
pengamanan, dan pembimbingan warga Binaan Pemasyarakat.
Sedangkan metode pembinaan narapidana menurut Drs. C.I. Harsono
merupakan cara dalam penyampaian materi pembinaan , agar dapat secara
efektif dan efisien diterima oleh narapidana dan dapat menghasilkan
perubahan dalam diri narapidana, baik perubahan dalam berperilaku, atau
dalam bertingkah laku. (Harsono 1995 :341)
Salah satu metode pembinaan menurut Harsono adalah metode
pembinaan berdasarkan situasi, dalam pembinaan berdasarkan situasi
(Situational treatment method) yaitu pembina harus dapat merubah cara
berpikir narapidana, untuk tidak tergantung kepada situasi yang menyertai
dalam pembinaan, tetapi harus menguasai situasi tersebut, sehingga
pembinaan dapat diterima dengan baik, lengkap dan dapat dipahami secara
sempurna. Dengan menguasai situasi dalam pembinaan , maka petugas atau
pembina dapat memberikan dua pendekatan kepada narapidana, yaitu
(Harsono 1995 : 344-350):
47
a. Pendekatan dari atas (Top down approach)
b. Pendekatan dari bawah (Bottom up approach)
Perlu diperhatikan juga kapasitas maksimum dari sebuah penjara
sebab hal ini akan sangat mempengaruhi terhadap bentukan karakter
selanjutnya. seperti yang dikatakan Mr. R.A. Koeshoen :
Seorang narapidana didalam kamar bersama dengan sendirinya akan
hilang rasa susilanya, rasa malunya, rasa halusnya, “sehingga dalam keadaan
yang sepi (menyendiri) tersebut akan memberikan kesempatan bagi
narapidana wanita tersebut merenung dan berusaha untuk menganalisa apa-
apa yang telah dilakukan sehingga akan timbul rasa penyesalan yang dalam
dan berusaha memperbaiki segala apa yang telah diperbuatnya. (Koeshoen
1961:150).
Selanjutnya untuk menghapuskan rasa bosan yang tanpa pengharapan
tersebut, diperlukan latihan keahlian yang sesuai dengan minat dan bakatnya.
Pula pendidikan, yang didukung dengan adanya perpustakaan, sarana
hiburan, pelajaran rohani yang diadakan secara berkala dan teratur. Memang
sangat penting memberikan pandangan-pandangan dan menimbulkan rasa
optimis bagi narapidana di lembaga pemasyarakatan.
2. Lembaga Pemasyarakatan
Ilmu kriminologi bukan saja digunakan untuk mengetahui sebab-
sebab seseorang melakukan kejahatan, tapi juga dapat digunakan dalam
pencegahan dan penanggulangan kejahatan serta pengawasan kejahatan,
48
dengan demikian kuantitas kejahatan dapat ditekan jumlahnya. Dalam hal ini
ada dua metode pencegahan:
a. Pencegahan umum (general prevention) dengan program yang umum dan
luas untuk menghindarkan orang-orang supaya tidak melakukan suatu
perbuatan yang melanggar hukum. Dalam hal ini sangat tergantung dari
politik suatu negara dalam hal memperkembangkan kesejahteraan
rakyatnya. Metode ini bersifat preventif. (pengertian pencegahan umum
dalam batas yang luas).
b. Pencegahan khusus yaitu suatu usaha untuk mengurangi atau menekan
jumlah kejahatan dan berusaha melakukan atau berbuat sesuatu kejahatan.
Metode ini bersifat represif.(Sanusi 1977:34)
Dalam hal ini pula Bonger menghendaki pencegahan yang
diutamakan menurutnya mencegah kejahatan adalah lebih baik dari pada
mendidik menjadi orang baik kembali.(Bonger 1962:192)
Untuk itulah penegakan hukum dan keadilan sangat diperlukan
ditengah-tengah masyarakat. Ada tiga komponen atau tiga unsur/syarat yang
memungkinkan hukum dan keadilan ditegakkan:
Pertama: Diperlukan adanya peraturan hukum yang sesuai dengan aspirasi
masyarakat
Kedua : Adanya aparat penegak hukum yang profesional dan bermental
tangguh atau memiliki integritas yang terpuji
Ketiga : Adanya kesadaran hukum masyarakat yang memungkinkan
dilaksanakannya penegakan hukum. (Baharudin Lopa 1987 :4)
49
Dengan adanya pencegahan tersebut, yaitu yang bersifat preventif
atau represif diharapkan dapat mengurangi atau menekan jumlah kejahatan
baik yang dilakukan seseorang atau bekas narapidana laki-laki atau wanita.
Pencegahan terjadinya kejahatan sangat penting dan harus diutamakan
karena perbuatan kejahatan atau tindak pidana akan mengganggu
perkembangan sektor-sektor sosial ekonomi atau menganggu kesejahteraan
sosial pada umumnya dalam pengertian yang luas. Untuk itulah perlu
dilakukan upaya pencegahan terhadap pelaku kejahatan atau tindak pidana.
Sumber dasar pemikiran reaksi pidana berpola pada (1) ajaran
menuntut balas (revindicative) dan (2) ajaran hukuman (punitieve). Pola yang
kedua muncul karena alasan untuk menyempurnakan kelemahaan dari pola
yang pertama. Selanjutnya untuk memperbaiki kelemahan yang terdapat
dalam pola yang kedua juga dikembangkan berbagai variasi teori pidana,
antara lain berupa teori prevensi umum, teori prevensi khusus, memperbaiki
kerugian masyarakat, mengasingkan si pembuat yang berbahaya dan lain-
lain. (Bambang Poernomo 1982 : 29-30)
Menurut pendapat Bambang Poernomo (1993 : 119) dalam bukunya
yang berjudul Pola Dasar Teori-Asas Umum Hukum Acara Pidana &
Penegakkan Hukum Pidana bahwa pembaharuan pelaksanaan pidana penjara
yang dikembangkan secara internasional mempunyai konsepsi dasar atas dua
prinsip tujuan pidana dengan beberapa alternative variasinya :
a. Upaya pelaksanaan pidana penjara yang didasarkan perikemanusiaan
dengan cara memperluas usaha kelonggaran pidana untuk menjauhkan
50
pengaruh buruk tembok penjara.. Berbagai alternative dari upaya baru
tersebut berupa bentuk pidana bersyarat, pelepasan bersyarat, cuti
bersyarat, serta peningkatan remisi, asimilasi, integrasi/orientasi sosial
lainnya sampai bentuk pidana penjara ditempay terbuka (open prison)
b. Perlakuan cara baru terhadap narapidana dengan pendekatan pembinaan di
dalam masyarakat serta lingkungannya. Berbagai usaha pembinaan yang
mengandung unsur bimbingan dan ketrampilan yang bersifat edukatif,
korektif dan defensif serta mencakup aspek individu dan sosial
Kedua prinsip pembaharuan pelaksanaan pidana penjara tersebut
merupakan suatu kebijaksanaan yang ditempuh oleh masyarakat
internasional untuk terpidana agar terhindar dari bahan tiruan kejahatan yang
dipelajari di dalam tembok diantara sesama narapidana, dan disamping itu
mengurangi stigma sosial, prisonisasi serta residivis.
Sistem pemasyarakatan sebagai sub sistem penegakkan hukum pidana
harus mengandung tiga dimensi teori tujuan pidana secara terpadu. Dengan
demikian konsekuensinya adalah perlu diusahakan pelayanan hukum sebagai
bagian penegakkan hukum yang diperluas untuk membantu pelaksanaan
pidana penjara dan menopang peranan dari petugas hukum di Lembaga
Pemasyarakatan. (B.Poernomo 1993 : 120)
Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang
sistem kemasyarakatan yang dimaksud dengan sistem kemasyarakatan sesuai
pasal 1 ayat 2 adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembin
warga binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan
51
antara pembina, yang dibina, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas
warga binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri,
dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh
lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat
hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.
Pengertian Lembaga Pemasyarakatan sesuai pasal 1 ayat 3 Undang-
undang nomor 12 tahun 1995 adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan
narapidana
Sementara itu pada pasal 14 ayat 1 disebutkan tentang hak-hak narapidana
yaitu:
a. Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya;
b. Mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun perawatan
jasmani;
c. Mendapatkan pendidikan dan pengajaran;
d. Mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak;
e. Menyampaikan keluhan;
f. Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya
yang tidak dilarang;
g. Mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan;
h. Menerima kunjungan keluarga, Penasihat Hukum atau orang tertentu
lainnya;
i. Mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi);
j. Mendapatkan kesempatan ber asimilasi, termasuk cuti mengunjungi
52
keluarganya;
k. Mendapatkan pembebasan bersyarat;
l. Mendapatkan cuti menjelang bebas;
m. Mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Disini peran lembaga pemasyarakatan memudahkan pengintegrasian
dan penyesuaian diri dengan kehidupan masyarakat. Tujuannya: “Agar
mereka dapat merasakan bahwa sebagai pribadi dan warga negara Indonesia
yang mampu berbuat sesuatu untuk kepentingan bangsa dan negara seperti
pribadi dan warga negara Indonesia lainnya serta mereka mampu
menciptakan opini dan citra pemasyarakatan yang baik”. (Departemen
Kehakiman RI,11)
Tentang sistem pemasyarakatan itu sendiri, Bambang Poernomo
(1982:183), berpendapat sebagai berikut:
“Suatu elemen yang berinteraksi yang membentuk satu kesatuan yang
integral, berbentuk konsepsi tentang perlakuan terhadap orang yang
melanggar hukum pidana di atas dasar pemikiran rehabilitasi, resosialisasi
yang berisi unsur edukatif, korektif, defensif dan yang beraspek pada individu
dan sosial.”
Seperti dalam pemasyarakatan tersebut, dinamakan stelsel progresip,
sehingga bentuk kejahatan itu sendiri akan mempunyai klasifikasi sendiri,
menurut jenis, motif, dan cara.
Pengertian progresip menurut Bahroedin adalah sebagai berikut:
Arti progresip adalah kemajuan dengan setingkat demi setingkat yang
terkandung di dalamnya adalah pemberian perbaikan nasib kepada orang-
53
orang terpenjara yang bersangkutan dengan secara menungkat seimbang
dengan tingkatan kemajuan dalam memperbaiki kelakuannya, disertai dengan
bertambah besarnya tanggung jawab atas kelakuannya sendiri.(Bahroedin
1966:28).
Dengan demikian dapatlah diketahui betapa pesatnya perkembangan
yang telah terjadi dalam perlakuan kepada narapidana. Koesnoer melihat
asas kepenjaraan jaman dahulu seperti dibawah ini:
Mencegah prinsip kepenjaraan pada waktu itu ialah melindungi
masyarakat terhadap penjahat selama ia masih dalam rumah penjara”.
Sehingga peugas penjara pada semua bagian akan melakukan tugas
pembinaan dengan latar belakang yang menjurus kepada agar narapidana
menjadi takut dan jera untuk melakukan kejahatan lagi serta menjadi
peringatan bagi masyarakat lain untuk tidak melakukan kejahatan. Hal ini
berakibat petugas yang berada di penjara akan melakukan/ melaksanakan
tugasnya dengan sewenang-wenang tanpa perikemanusiaan. (Koesnoen
1952: 16).
3. Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Pembaharuan pidana penjara bukanlah menghapus jenis tindakan
pidana penjara tapi merupakan usaha pergantian dari kepenjaraan menjadi
sistem pemasyarakatan. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa
kepenjaraan sudah tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang
dalam kehidupan sehari-hari selalu berpedoman dan berlandaskan Pancasila.
Bentuk perlakuan dituangkan dalam usaha Lembaga Pemasyarakatan
untuk membina narapidana, untuk mengenal diri sendiri, beriman dan
54
bertakwa, mendapatkan ketrampilan, serta berguna bagi keluarga dan
masyarakat serta tidak lagi melakukan kejahatan.
Berbagai upaya telah dilakukan Lembaga Pemasyarakatan dala rangka
mewujudkan pelaksanaan pidana yang efektif dan efisien agar narapidana
dapat mengenal diri sendiri. Usaha itu berupa pembagian Lembaga
Pemasyarakatan menurut kategori, baik usia maupun jenis kelamin. (Harsono
1995 : 80)
Lembaga Pemasyarakatan khusus wanita di Indonesia antara lain
terdapat di kota Malang, Semarang, Tangerang, serta Medan. Hal tersebut
diatur di dalam Undang-undang Pemasyarakatan Nomor 12 tahun 1995, pasal
12 ayat 1, yang berbunyi :
“Dalam rangka pembinaan terhadap narapidana di lembaga pemasyarakatan
(LAPAS) dilakukan penggolongan atas dasar: a. umur ; b. jenis kelamin ; c.
lama pidana yang dijatuhkan ; d. jenis kejahatan ; dan e. kriteria lain yang
sesuai dengan kebutuhan atau perkembangan pembinaan.”
Sedangkan dalam ayat 2 menyebutkan bahwa :
“Pembinaan narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS)
dilakasanakan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita”
Tujuan didirikan Lembaga Pemasyarakatan Wanita adalah untuk
memisahkan antara narapidana laki-laki dan narapidana wanita demi faktor
keamanan dan faktor psikologi. Cara pembinaan narapidana wanita tidak jauh
berbeda dengan Lembaga Pemasyarakatan pada umumnya, hanya sedikit
kekhususan dimana di dalam LP Wanita diberikan pembinaan ketrampilan
seperti menjahit, menyulam, mengkristek, dan memasak bahkan dalam LP
Wanita diberikan cuti haid yang merupakan salah satu pelaksanaan
55
pembinaan dan dalam hal pekerjaanpun terdapat kekhususan yaitu pada
narapidana wanita sifat pekerjaannya tidak begitu berat, sedangkan pada
narapidana laki-laki sifat pekerjaannya agak berat.
Pembinaan di dalam LP Wanita disesuaikan dengan kemampuan
serta kebutuhan wanita, serta dibekali ketrampilan serta pekerjaan yang
diharapkan dapat berguna setelah ia kembali ke masyarakat serta
keluarganya.
4. Sistem Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan
Pembinaan narapidana adalah sebuah sistem. Sebagai suatu sistem,
maka pembinaan narapidana memiliki beberapa komponen yang bekerja
saling berkaitan untuk mencapai suatu tujuan. (Harsono 1995 : 5). Beberapa
komponen-komponen tersebut antara lain; falsafah, pendekatan sistem,
klasifikasi, perlakuan terhadap narapidana, dan orientasi pembinaan.
Falsafah pembinaan lembaga pemasyarakatan adalah Pancasila.
Kesepakatan nasional menggunakan Pancasila sebagai falsafah dari semua
segi dan pandangan hidup bangsa Indonesia, sangat mendasari penggunaan
falsafah ini. Sedangkan tujuan pembinaan adalah pembinaan dan bimbingan,
dengan tahap-tahap admisi/orientasi, pembinaan dan asimilasi. Tahap
admisi/orientasi dimaksudkan, agar narapidana mengenal cara hidup,
peraturan dan tujuan dari pembinaan atas dirinya. Dalam tahap pembinaan,
narapidana dibina, dibimbing agar tidak melakukan tindak pidana di
kemudian hari apabila keluar dari Lembaga Pemasyarakatan. Asimilasi
dimaksudkan upaya penyesuaian diri, agar narapidana tidak menjadi
56
canggung bila keluar dari Lembaga Pemasyarakatan, apabila telah habis
pidananya atau bila mendapat pelepasan bersyarat, cuti menjelang bebas, atau
pembebasan karena mendapat remisi. (Harsono 1995: 17)
Pada pendekatan sistem, dalam sistem pemasyarakatan menurut
Harsono (1995-14 ) adalah security aprroach, artinya pendekatan keamanan
masih merupakan bagian yang penting, sebab itu narapidana diklasifikasikan
menurut berat / ringannya tindak pidana yang dilakukan, menurut lama
pidana yang dijatuhkan oleh Pengadilan. Kemudian narapidana digolongkan
menjadi B-I, B-II-a, B-II-b, dan B-III. Klasifikasi narapidana dapat dilihat
dari tabel berikut ini :
Tabel 1 Klasifikasi narapidana menurut lamanya pidana
Klasifikasi Lama Pidana
B-I > 1 tahun
B-II-a 4 bulan sampai 12 bulan
B-II-b 1 bulan sampai 3 bulan
B-III Pidana kurungan 1 bulan
Kalsifikasi B-I terdiri atas: residivis, pembunuhan berencana,
perampokan, pencurian dengan kekerasan ataupun narapidana yang dianggap
berbahaya atau membahayakan Lembaga Pemasyarakatan. Dalam sistem
klasifikasi tersebut, hanya berpengaruh terhadap sistem pengawasan
pemasyarakatan yang terbagi kedalam tiga sistem klasifikasi, yaitu maximum
security, medium security serta minimum security. Maximum security
diberikan kepada narapidana klasifikasi B-I, sedangkan medium security
57
diberikan kepada narapidana yang lebih ringan pidananya atau masuk dalam
kategori berat, tetapi telah mendapat pembinaan dan menunjukkan sikap serta
tingkah laku yang baik selama di Lembaga Pemasyarakatan, sedangkan
mereka yang masuk kedalam minimum security adalah narapidana yang telah
mendapat pembinaan secara khusus dan telah dinyatakan laik untuk
mendapatkan pengawasan ringan.
Pada sistem perlakuan terhadap narapidana, konsepsi pemasyarakatan
telah menempatkan narapidana bukan hanya sebagai obyek, melainkan
memperlakukannya sebagai subyek. Narapidana didudukkan sejajar dengan
manusia lain serta harga diri mereka lebih dibangkitkan. Perlakuan dan
pengaturan yang keras dikendorkan dan narapidana dibina, agar kelak setelah
keluar tidak lagi mengulangi perbuatannya dan bisa beradaptasi dengan
masyarakat.
Sedangkan pada sistem orientasi pembinaan, sifatnya adalah bottom
up approach. Sebagai bottom up approach maka pembinaan terhadap seorang
narapidana disesuaikan dengan bakat serta minat seorang narapidana.
Sedangkan pada sifat pemberian pekerjaan kepada seorang narapidana
adalah lebih bersifat pemberian pembinaan dengan melatih bekerja bagi
narapidana, agar kelak keluar dari Lembaga Pemasyarakatan dapat
menerapkan kepandaiannya sebagai bekal hidup dan tidak lagi melakukan
tindak pidana. Namun kendala yang dihadapi adalah setelah narapidana
tersebut keluar ternyata banyak perusahaan yang sulit menerima mereka
bekerja di perusahaan, hal ini dikarenakan perusahaan tersebut tidak mau
mengambil resiko yang mungkin timbul akibat memperkerjakan seorang
58
mantan narapidana. Apalagi tenaga lain yang bukan narapidana cukup
tersedia di masyarakat.
Komponen lain dalam pembinaan narapidana adalah sarana, dan salah
satu sarana yang terpenting adalah bangunan, khususnya bentuk bangunan.
Dalam sistem pemasyarakatan, semua bentuk bangunan penjara masih tetap
digunakan, hanya namanya saja yang diubah menjadi Lembaga
Pemasyarakatan.
Fasilitas serta sarana di Lembaga Pemasyarakatan berasal dari
Departemen Kehakiman dan HAM, yang diajukan oleh Kalapas dengan
menggunakan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja, untuk kemudian
diajukan melalui Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Kehakiman dan
HAM.
Sedangkan elemen-elemen yang terkait dengan pembinaan di
Lembaga Pemasyarakatan meliputi:
a. Pemerintah / petugas
b. Narapidana
c. Masyarakat/ keluarga
Pada sistem pemasyarakatan, narapidana diperlakukan sebagai subyek
pembinaan dan diperlakukan secara manusiawi. Tujuannya tidak lagi sebagai
pembalasan dan penjeraan, tetapi sebagain pembinaan. Sebagai subyek
narapidana, diberi kesempatan untuk membina dirinya sendiri. (Harsono
1995: 36)
Instansi pemerintah yang terkait dengan pembinaan adalah
Departemen Agama, Departemen Pertanian, Departemen Pendidikan di
59
Lingkungan dan kebudayaan , Departemen Perindustrian, dan Pemerintah
Daerah.
Dalam sistem pemayarakatan dimunculkan pentingnya hubungan
narapidana dan masyarakat. Narapidana lebih diberi kesempatan untuk
berhubungan dengan keluarga dan masyarakat. Sedangkan Petrus Irwan
Panjaitan (1995 : 41-42) :
“Unsur masyarakat adalah adalah sesuatu yang rasional dan tepat mengingat
beberapa hal bahwa narapidana adalah anggota masyarakat yang telah
melanggar hukum serta narapidana adalah narapidana juga nantinya setelah
lepas menjalani hukuman akan kembali ke masyarakat. Hali ini berarti bahwa
pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan tidak cukup. Pembinaan
hanyalah sebatas masa hukuman. Oleh karena itu, lanjutan pembinaan ada di
masyarakat. Implikasinya masyarakat bertanggung jawa atas kelangsungan
kehidupan sosial ekonomi bekas narapidana.
Selain itu, dalam pembinaan, pihak swasta juga dilibatkan menurut
Petrus Panjaitan (1995: 277) peranan swasta meliputi:
a. Penyediaan tenaga profesional yang ahli seperti psikolog atau pekerja
sosial.
b. Penyediaan tenaga pelatih (instruktur) dan peralatan kerja untuk bengkel
kerja sebagai pusat pendidikan ketrampilan bagi narapidana sampai
kepada penyediaan bahan baku serta pelemparan barang-barang hasil
produksi narapidana.
c. Pihak swasta diharapkan dapt menerima para narapidana setelah
menjalani proses pidana, bagi narapidana yang memnuhi syarat.
d. Penyediaan sebagian dana untuk pembiayaan narap idana selama
menjalani hukuman.
60
C. KERANGKA TEORI / KERANGKA PIKIR
Gambar 1. Kerangka Teori
WANITA SEBAGAI PEMBAWA
F. BIOLOGIK KEBAIKAN DENGAN SIFAT KEIBUAN F.SOSIOLOGIK
Latar belakang
Biologik / Sosiologik
Kejahatan Pembunuhan
Penanganan Penegak Hukum
Polisi (Sebagai Penyidik) Kejaksaan Pengadilan Lembaga Pemasyarakatan
wanita
Pembinaan dan Pembimbingan
Bertaqwa, Berkepribadian, Bakat dan
Ketrampilan, Bertanggung jawab
DAPAT DITERIMA, DAN BERPERAN BAGI
KELUARGA DAN MASYARAKAT
61
Wanita secara fisik merupakan kaum yang lemah lembut, begitu pula
secara sosiologik, wanita lebih realistik dan lebih banyak menggunakan
perasaan, sehingga wanita merupakan kaum penuh kasih sayang, serta lebih
banyak berperan sebagai makhluk pembawa kebaikan dengan sifat
keibuannya, namun ada juga wanita yang melakukan kejahatan.
Namun demikian apabila dibandingkan secara kuantitatif, kejahatan
yang dilakukan wanita, rata-rata masih lebih rendah daripada yang dilakukan
kaum pria. Tentang hal ini tepat kiranya apabila dikemukakan pendapat Step
han Hurwitz berikut ini :
a. Pendapat Biologik
Menurut pendapat ini, bahwa secara fisik wanita itu kurang kuat,
dan karena ada kelainan-kelainan fisik yang khas berhubungan fungsi-
fungsi sebagai kelamin lain, sehingga kriminalitasnya berkurang.
b. Pendapat Sosiologik
Pendapat ini dipandang lebih realistik, karena wanita itu :
c. Lebih terlindung oleh lingkungan, karena tempat bekerja di rumah,
dengan tanggung jawab hanya mengenai rumah tangga.
d. Kurang minum-minuman keras ( Step han Hurwitz 1986 : 100)
Salah satu kejahatan yang paling meresahkan bagi masyarakat adalah
kejahatan pembunuhan, meskipun banyak dilakukan oleh kaum pria, namun
banyak juga wanita yang melakukan kejahatan tersebut bahkan ada yang
lebih kejam daripada yang dilakukan oleh kaum pria.
62
Peran Lembaga Pemasyarakatan sebagai salah satu lembaga
penagakkan hukum, sangat dibutuhkan sebagai upaya pencegahan atau
penaggulangan kejahatan, disamping tempat rehabilitasi bagi narapidana.
Begitu pula di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang, lembaga
pemasyarakatan ini selain sebagai tempat pemidanaan, juga sebagai tempat
yang memiliki fungsi sosial. Sehingga diharapkan narapidana yang menjadi
penghuni Lembaga Pemasyarakatan ini, dapat memperoleh pembinaan,
pembimbingan, dan dituntun untuk menjadi warga negara yang baik.
Menurut Undang-undang Nomor 12 tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan penjelasan pasal 7 ayat 2, Pembinaan dan Pembimbingan
narapidana di Lembaga Pemasyarakatan meliputi program pembinaan dan
bimbingan berupa kegiatan pembinaan kepribadian, dan kegiatan pembinaan
kemandirian. Pembinaan kepribadian diarahkan pada pembinaan mental dan
watak agar menjadi manusia seutuhnya, bertaqwa dan bertanggung jawab
kepada diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Sedangkan pembinaan
kemandirian diarahkan pada pembinaan bakat dan ketrampilan.Sehingga
diharapkan setelah masa pemidanaan selesai dari Lembaga Pemasyarakatan ,
mereka memiliki bakat dan ketrampilan, serta menjadi manusia yang bebas
serta bertanggung jawab, dan diterima serta berperan bagi kelurga serta
masyarakat.
63
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam usaha mencari bahan-bahan yang berhubungan dengan materi
skripsi ini, penulis melaksanakan serangkaian metode penelitian sebagai berikut:
A. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di suatu Lembaga pemasyarakatan khusus wanita
Semarang. Dari lembaga pemasyarakatan ini penulis memperoleh data yang
sangat berguna untuk menyelesaikan penulisan hukum yang didapat dari
wawancara dengan narapidana dan petugas atau pembimbing lembaga
pemasyarakatan.
B. Responden
Responden yang dapat memberikan informasi serta data yang penulis
butuhkan serta menunjang penulisan skripsi ini adalah:
1. Narapidana di Lembaga pemasyarakatan wanita Semarang, khususnya bagi
pelaku kejahatan pembunuhan
2. Petugas atau pengawas yang berada di lembaga pemasyarakatan Bulu,
Semarang.
Berikut ini daftar nama responden Narapidana serta Petugas LP Wanita kelas IIA
Semarang
64
64
Tabel 2 Daftar responden narapidana
No Nama Usia Agama
1 Cornelia 38 Katholik
2 Lina Mayasari 24 Islam
3 Mistiayah 25 Islam
4 Sutri 30 Islam
5 Supriyati 37 Islam
6 Chasmuni 24 Islam
7 Zamronah 22 Islam
8 Mitun Jayanti 27 Islam
Sumber : wawancara dengan ke 8 orang narapidana
Tabel 3 Daftar Responden Petugas
No Nama Jabatan
1 Suzana Tri Agustin, Bc.IP Kasubsi Bimpas
2 Sri Utami, Sst Staf bagian bimpas
3 Sri Utami, S H Staf bagian registrasi
C. Sumber Data
1. Data Primer
Besumber pada data yang didengar langsung selama mengadakan
penelitian dengan cara wawancara/interview langsung dengan narapidana,
juga dengan petugas yang berstatus pegawai biasa dan sebagai pembina di
Lembaga Pemasyarakatan Bulu di Semarang.
Wawancara penulis dengan petugas adalah mengenai latar belakang
masing-masing narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan serta
pembinaan yang meliputi proses tahapan pembinaan serta kegiatan-kegiatan
65
bagi narapidana khususnya narapidana yang melakukan kejahatan
pembunuhan.
Sedangkan wawancara penulis dengan narapidana yang melakukan
kejahatan pembunuhan, yaitu mengenai latar belakang mereka melakukan
kejahatan pembunuhan, serta pembinaan-pembinaan yang mereka dapatkan
selama menjalani proses pemidanaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita
kelas II A Semarang.
2. Data Sekunder
Data yang dipelajari dari berbagai literatur yang berhubungan dengan
materi penelitian dan segala peraturan-peraturan, serta yang berkaitan
dengan penelitian ini, serta juga putusan pengadilan yang telah berkekuatan
hukum tetap.
D. Metode Pengumpulan Data
1. Studi Kepustakaan
a. Bahan Hukum Primer menurut Burhan Ashshofa S.H adalah bahan yang
isinya mengikat karena dikeluarkan oleh Pemerintah (Ashshofa
1996:103). Dan dalam penelitian ini penulis menggunakan peraturan
perundangan yang terkait dengan lembaga pemasyarakatan, serta putusan
pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
b. Bahan Hukum Sekunder
Data yang dipelajari dari berbagai literatur yang berhubungan dengan
materi penelitian dan literatur karangan para sarjana hukum terkemuka,
66
dan tulisan-tulisan ilmiah populer baik yang dalam surat kabar maupun
mass media lainnya, termasuk tulisan-tulisan dalam internet.
c. Bahan Hukum Tersier
1) Kamus Umum Bahasa Indonesia
2) Kamus hukum
2. Studi Lapangan dengan mengadakan penelitian secara lengkap pada obyek
yang diteliti, untuk memperoleh data yang diperukan meliputi :
a. Wawancara/interview, yaitu proses tanya jawab dimana dua orang atau
lebih berhadap-hadapan secara fisik dan merupakan alat pengumpulan
informasi, dengan berpedoman pada pertanyaan yang telah dirinci.
Sedangkan menurut Burhan Ashshofa, S.H., interview merupakan cara
yang digunakan untuk memperoleh keterangan, secara lisan guna
mencapai tujuan tertentu. Dan menurutnya, jenis-jenis pertanyaan dalam
interview antara lain:
1) Pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku atau pengalaman
informan,
2) Pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat atau nilai,
3) Pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan atau situasi emosi
informan,
4) Pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan (informasi faktual)
5) Pertanyaan yang berkaitan dengan alat-alat perasa,
6) Pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakan demografi informan,
67
7) Pertanyaan yang berkaitan dengan urutan kegiatan. (ashshofa
1996:54)
Interview akan dilakukan terhadap responden, yaitu narapidana,
serta petugas lembaga pemasyarakatan. Pada teknik pelaksanaannya,
penulis menggunakan metode wawancara tidak berencana, menurut
Ashsofa, dalam bukunya yang berjudul metode penelitian hukum,
menyatakan bahwa metode wawancara tidak berencana (tidak
berpatokan), tidak berarti bahwa peneliti tidak mempersiapkan dulu
pertanyaan yang akan diajukan, tetapi peneliti tidak terlampau terikat
pada aturan-aturan yang ketat. Alat yang digunakan adalah pedoman
wawancara yang memuat pokok-pokok yang ditanyakan. (Ashsofa 1996:
96)
Pada pelaksanaan wawancara (interview) ini, terdapat beberapa
hal yang sangat mendukung hingga terlaksananya proses wawancara
antara penulis dengan para responden, hal-hal yang mendukung tersebut
antara lain :
a) Dukungan dari para petugas Lembaga Pemasyarakatan yang
memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan interview
kepada para narapidana khususnya narapidana yang melakukan
kejahatan pembunuhan. Selain itu dukungan tersebut juga berbentuk
respon positif dari para petugas dalam membantu penulis
mendapatkan informasi serta data yang penulis butuhkan selama
melaksanakan penelitian.
68
b) Narapidana bersifat kooperatif selama menjalani proses wawancara.
Namun selain dukungan-dukungan tersebut, terdapat juga
beberapa hambatan selama menjalani proses interview, hambatan-
hambatan tersebut antara lain :
a) Pada proses recording, seringkali para narapidana merasa tidak
nyaman dan merasa curiga kepada penulis, karena mereka tidak
mengetahui tujuan sebenarnya dari proses recording tersebut.
b) Pada proses pencatatan langsung, terkadang penulis lebih
berkonsentrasi untuk menulis jawaban dari para responden, sedangkan
responden menjawab (berbicara) terlalu cepat. Hal ini dapat
menghambat proses interview.
c) Pada pertanyaan-pertanyaan yang sensitif/peka, khususnya kepada
narapidana, yaitu ketika penulis bertanya mengenai alasan yang
melatar belakangi hingga mereka melakukan pembunuhan, mereka
dapat tersinggung, karena mengingatkan mereka akan masa lalu.
Hal-hal yang penulis sebutkan diatas itulah, yang merupakan
hambatan-hambatan dalam proses interview antara penulis dengan para
responden. Kekurangan-kekurangan maupun hambatan-hambatan ini
diharapkan mampu diperbaiki, sehingga pelaksanaan wawancara dapat
berlangsung lancar serta efisien dengan hasil maksimal seperti yang
diharapkan.
b. Observasi dengan pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap
obyek penelitian untuk memperoleh gambaran secara umum tentang
69
obyek penelitian. Penulis melakukan observasi mengenai :Proses
pembinaan narapidana khususnya bagi narapidana yang melakukan
kejahatan pembunuhan, serta kegiatan-kegiatan yang harus dijalani para
narapidana selama menjalani proses pemidanaan di Lembaga
Pemasyarakatan Wanita kelas IIA Semarang.
Observasi yang penulis lakukan di LP wanita klas IIA Semarang
ini meliputi :
1) Pengamatan terhadap pelaksanaan pembinaan yang dilaksanakan di
Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA.
2) Pengamatan terhadap antusias para narapidana terhadap kegiatan-
kegiatan yang merupakan proses pembinaan di LP Wanta Klas IIA
Semarang.
3) Pengamatan terhadap hasil dari pembinaan, seperti hasil kerajinan
ketrampilan para narapidana.
4) Pengamatan terhadap ucapan serta ekspresi muka serta gerak tubuh
para narapidana selama penulis melakukan interview, khusunya
terhadap pertanyaan-pertanyaan yang peka.
Observasi yang penulis lakukan antara lain :
1) Pada tanggal 27 September 2005.
2) Pada tanggal 3 Oktober 2005
3) Pada tanggal 6 Oktober 2005
4) Pada tanggal 10 Oktober 2005
5) Pada tanggal 12 Oktober 2005
70
6) Pada tanggal 14 Oktober 2005
7) Pada tanggal 5 Januari 2006.
Selama melaksanakan observasi, penulis tidak menghadapi
hambatan yang berarti, hanya penulis tidak dapat mendokumentasikan
kegiatan-kegiatan yang dijalani oleh para narapidana, hal ini sebagai
langkah pihak Lembaga Pemasyarakatan untuk melindungi privaci para
narapidana.
c. Studi Dokumentasi, yaitu cara penyelidikan untuk memperoleh
keterangan atau informasi dari tata usaha atau catatan-catatan tentang
gejala atau peristiwa masa lalu. Pada penyelidikan ini penulis meneliti
dokementasi identitas narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan
di bagian registrasi serta dokumen-dokumen mengenai kegiatan para
narapidana.
Pada proses ini, penulis mempelajari denah Lembaga
Pemasyarakatan serta mendatangi bagian registrasi untuk, memeriksa
dokumen-dokumen para narapidana yang melakukan kejahatan
pembunuhan, dari dokumen ini, penulis mengetahui identitas lengkap
para narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan.
E. Metode Analisa Data dan Pengolahan Data
Untuk mendapatkan data yang objektif, penulis menggunakan jenis
metode triangulasi untuk menguji objektivitas data dengan metode observasi,
interviev (wawancara), serta studi dokumentasi.
71
Triangulasi sebagai taknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan
sumber, metode, penyelidikan dan teori. Teknik triangulasi yang banyak
digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber lainnya. Permeiksaan keabsahan
data melalui triangulasi dengan sumber data dapat dicapai dengan jalan:
1. Membandingkan data hasil pengamtan dengan data hasil wawancara.
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dan yang
dikatakan secara psibadi.
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang sewaktu diteliti dengan sepanjang
waktu
4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat
pandangan orang sepserti rakyat biasa, pejabat pemerintah, orang
berpendidika, orang yangberbeda
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan
(Moleong 2000:178)
Namun dalam penelitian ini, penulis hanya menggunakan jalan
membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara penulis dengan
para responden . Hal ini khusunya terkait dengan proses pembinaan di Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.
Selain hal tersebut, penulis juga membandingkan hasil wawancara
kepada responden yaitu para narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan
dan para petugas, serta membandingkan dengan isi suatu dokumen yang
berkaitan, yaitu terkait dengan latar belakang wanita melakukan kejahatan
pembunuhan. Pada proses ini penulis membandingkan keterangan para
narapidana mengenai identitas pribadi mereka dari hasil wawancara serta isi
dokumen yang memuat identitas mereka dari bagian registrasi.
72
Sedangkan pada tahap analisis data, penulis menggunakan metode
kualitatif deskriptif yaitu mulai dari pengumpulan hal ikhwal yang berhubungan
dengan latar belakang dan penyebab wanita melakukan kejahatan pembunuhan,
cara-cara mereka melakukan tindak pidana pembunuhan tersebut, serta cara
pembinaan narapidana wanita di lembaga pemasyarakatan Bulu Semarang, yang
bersumber dari keterangan-keterangan responden, yakni narapidana serta
pengawas di Lembaga Pemasyarakatan.
Langkah selanjutnya dalam menganalisis dan menginterpretasi data
kualitatif adalah merumuskan pernyataan-pernyataan, kemudian memeriksa
apakah data yang telah dikumpulkan tersebut dapat mendukung teori yang telah
dirumuskan. (Ashshofa 1966: 66 ). Kemudian menguraikan secara terperinci hal-
hal tersebut, sehingga dalam penyajian ini para pembaca dengan mudah dapat
memperoleh gambaran tentang isi skripsi.
Akhirnya berdasarkan uraian yang dikemukakan, maka akan ditarik
kesimpulan secara induktif secara keseluruhan, sebagai jawaban atas
permasalahan yang disoroti.
Berikut ini adalah bagan metode penelitian seperti yang penulis kutip
dalam buku karya Miles dan Huberman (1999: 120):
Bagan Penelitian :
Pengumpulan Penyajian Data
Reduksi Data
Penarikan
Kesimmpulan
verivikasi
73
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. Gambaran Umum Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang terletak di jalan M.G.R.
Soegijopranoto nomor 59 Kecamatan Semarang Tengah kota Semarang,
Propinsi Jawa Tengah. LP Wanita Semarang atau LP kelas II A Semarang ini,
sebelumnya bernama “Penjara Wanita Bulu” penjara seluas 13.975 m2 ini
didirikan pada tahun 1894, yang merupakan warisan peninggalan Belanda.
Tepatnya pada tanggal 27 April 1964, penjara wanita Bulu berganti
nama menjadi “Lembaga Wanita kelas II A Semarang”, perubahan nama ini
berkaitan dengan perubahan sistem kepenjaraan di Indonesia, khususnya
mengenai sistem pembinaan narapidana yang dikenal dengan nama
pemasyarakatan yang mulai dikenal pada tahun 1964 ketika dalam konferensi
dinas kepenjaraan di Lembang, tanggal 27 April 1964, Dr. Sahardjo,S.H
melontarkan gagasan perubahan tujuan pembinaan narapidana dari sistem
kepenjaraan menjadi sistem pemasyarakatan. Pada saat itu Lembaga
Pemasyarakatan Wanita kelas II A Semarang ini berada di bawah Direktorat
Jenderal Bina Tuna Warga. Perubahan terakhir hingga sekarang, LP Wanita
kelas II A Semarang ini berada dibawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Seperti telah penulis kemukakan diatas, perubahan nama ini tidaklah sekedar
pergantian nama saja, melainkan lebih jauh merupakan perubahan terhadap
74
sistem perlakuan terhadap narapidana, dimana narapidana bukan hanya
sebagai obyek, tetapi juga sebagai subyek. Bentuk bangunan pun mengalami
perubahan, yaitu pada sistem sebelumnya bentuk bangunan menyerupai
penjara, namun pada sistem pemasyarakatan bentuk bangunan perlu
dirancang secara khusus, serta memperlakukan narapidana dengan cara yang
manusiawi serta bermartabat sesuai dengan falsafah pemasyarakatan baru,
yaitu Pancasila.
Lembaga Pemasyarakatan Wanita kelas II A Semarang merupakan
Lembaga Penegakan Hukum terakhir, pada proses hukum. LP ini sesuai
tujuannya ialah sebagai tempat pembinaan serta tempat pembimbingan bagi
para pelanggar hukum yang telah resmi menerima vonis pengadilan.
Pembinaan narapidana meliputi pembinaan kepribadian yang diantaranya
terdiri atas perbaikan segi mental dan rohani, pembinaan kesadaran berbangsa
bernegara, pembinaan kemampuan intelektual, seperti kejar paket A, serta
pembinaan kesadaran hukum. Kemudian meliputi juga pembinaan
kemandirian yang terdiri atas ketrampilan kerajinan tangan seperti ;
menyulam, menjahit, mengkristek, ketrampilan kecantikan seperti salon, serta
ketrampilan yang mendukung usaha-usaha industri, seperti masak-memasak.
Selain itu LP Wanita Semarang juga mengadakan pembinaan yang bersifat
rekreasi, seperti olahraga, kesenian, bahkan kepramukaan.
Lembaga Pemasyarakatan Semarang sebagai salah satu LP kelas II A
karena memenuhi kriteria sebagai berikut :
75
a. Kapasitas Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang yang dapat
menampung hingga 465 orang narapidana.
b. Lokasi Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang terletak di Ibukota
Jawa Tengah , Semarang.
c. LP Wanita Semarang mengadakan pembekalan kerja dan memiliki jenis
kegiatan yang dapat meningkatkan ketrampilan, seperti menjahit,
menyulam, ketrampilan masak-memasak, dsb.
2. Kondisi Fisik Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang ini dibangun di atas
tanah seluas 16.226 m2 dengan luas 13.975 m2 yang terdiri dari : (Data
sekunder LP Wanita Semarang)
a. Rumah dinas : 1 buah
b. Kantor : 13 ruang
c. Ruang kunjungan : 1 ruang
d. Ruang ketrampilan : 1 ruang
e. Gereja : 1 ruang
f. Ruang kelas : 1 ruang
g. Mushola : 1 buah
h. Ruang karantina (sell) : 1 blok
i. Kamar tahanan : 1 blok
j. Kamar narapidana : 8 blok
k. Salon : 1 ruang
76
l. Koperasi / kantin : 1 ruang
m. Ruang perpustakaan : 1 ruang
n. Ruang makan WBP : 1 ruang
o. Balai pertemuan : 1 buah
p. pos jaga : 3 tempat
q. Sumur : 11 buah
r. Gudang : 4 ruang
s. Kamar mandi / WC : 4 ruang
t. Dapur : 1 buah
Secara umum kondisi LP Wanita Semarang dalam keadaan baik dan
terawat, dan didukung oleh kondisi tanah yang baik, hal ini sangat
mendukung terlaksananya kegiatan berkebun serta tanaman hias di lokasi ini.
3. Pola Organisasi LP Wanita Semarang
Lembaga Pemsyarakatan Wanita Semarang dalam menjalankan
pembinaan dan pembimbingan terhadap narapidana sesuai UU nomor 12
tahun 1995 pasal 7 ayat 1 diselenggarakan oleh Menteri dan dilaksanakan
oleh petugas pemasyarakatan. Berikut ini ialah struktur organisasi LP Wanita
Semarang;
77
Gambar 2 Struktur organisasi LP Wanita Kelas II A SMG
Berdasarkan Keputusan Menteri No.M.1.PR.7.3.85 tentang
Organisasi Tata Kerja LP kelas II A
KEPALA
KA KPLP
Ka. Sub Bag TU
Ka. Sksi Bimbingan Ka Seksi Kegiatan Ka. Seksi Administrasi
Napi/Anak Didik kerja Keamanan dan Tatip
Ka. Ur. Umum Ka Ur. Kepeg
Kesautuan Keu
Pengamanan
Ka. Sub Seksi Ka. Sub Seksi
Keamanan Pelaporan DanTatib
Ka. Sub Seksi Bim. Ka. Sub seksi
Kemasyarakatan dan Sarana kerja
keperawatan
Ka. Sub Sekdi Bimb.
Ka. Sub Seksi Kerja & Pengelolaan
Registrasi Hasil Kerja
Sumber: SK Menteri Kehakiman RI No. M01 PR.07.03 tahun 1985
78
Adapun tugas masing-masing bidang adalah sebagai berikut :
a. Sub Bagian Tata Usaha
Sub Bagian Tata Usaha dipimpin oleh seorang KASUBAG Tata
Usaha, sub bagian ini mempunyai tugas untuk melaksanakan urusan
ketatausahaan dan rumah tangga Lembaga Pemasyarakatan. Sub Bagian
ini terdiri dari:
Urusan Kepegawaian dan Keuangan, sub bagian ini dipimpin oleh
seorang kepala urusan kepegawaian dan keuangan. Sub bagian ini
memiliki tugas melaksanakan urusan kepegawaian dan keuangan.
Urusan umum dipimpin oleh seorang kepala urusan umum, sub
bagian ini memiliki tugas mengurusi surat menyurat serta mengurusi
perlengkapan rumah tangga.
b. Seksi Bimbingan Narapidana / Anak Didik (ANDIK)
Seksi ini dipimpin oleh seorang Kepala Seksi (KASI) Bimbingan
Narapidana dan Anak Didik. Tugas seksi Binadik adalah memberikan
bimbingan pemasyarakatan kepada narapidana/anak didik. Bagian ini
terbagi menjadi dua sub seksi, yaitu:
1) Sub seksi Registrasi
Sub seksi ini, dipimpin oleh seorang Kasubsi Registrasi dan
mempunyai tugas melaksanakan pencatatan dan membuat statistik
serta mendokumentasikan foto, identitas serta sidik jari narapidana.
79
2) Sub seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan
Sub seksi ini dipimpin oleh seorang Kasubsi Bimbingan
Kemsyarakatan dan perawatan.
Tugas bagian ini adalah memberikan bimbingan dan
penyuluhan rohani, memberikan pelatihan olah raga, pengurusan
perpustakaan, menangani pemberantasan Buta Huruf, melayani
riset/kunjungan, menangani kantin, melayani kegiatan-kegiatan
narapidana, mengurusi surat menyurat, membuat SK asimilasi, cuti
penglepasan serta mengurusi kesehatan dan memberikan perawatan
bagi narapidana.
c. Seksi Kegiatan Kerja
Bagian ini dipimpin oleh Kasi Kegiatan Kerja, dan memiliki tugas
memberikan pembekalan ketrampilan serta pembimbingan kerja,
mempersiapkan sarana prasarana dan mengelola ketrampilan hasil kerja.
Bagian ini terdiri atas dua bagian:
1) Sub seksi Bimbingan Kerja dan Pengolahan Hasil Kerja
Sub seksi ini dipimpin oleh seorang kasubsi Bimbingan dan
lolahker, dan memiliki tugas memberikan petunjuk seta bimbingan
latihan kerja serta mengelola hasil kerja narapidana.
2) Sub seksi Sarana Kerja
Sub seksi ini dipimpin oleh seorang Kasubsi Sarana Kerja dan
memiliki tugas mempersiapkan sarana prasarana serta memfasilitasi
sarana kerja.
80
d. Seksi Administrasi Keamanan dan Tata tertib
Bagian ini di pimpin oleh seorang Kasi Administrasi Kamtib dan
bidang ini, empunyai tugas mengatur jadwal tugas, penggunaan
perlengkapan dan pembagian tugas pengamanan, menerima laporan
harian dan berita acara dari satuan pengamanan yang bertugas serta
menyusun laporan berkala di bidang keamanan dan menegakkan tata
tertib. Bidang ini terdiri dari:
1) Sub seksi Keamanan
sub seksi keamanan dipimpin oleh seorang Kasubsi keamanan
dan bertugas mengatur jadwal tugas, penggunaan perlengkapan dan
pembagian tugas keamanan.
2) Sub seksi Pelaporan dan Tata Tertib
Sub seksi ini dipimpin oleh seorang Kasubsi Pelaporan dan
Tatib dan memiliki tugas menerima laporan harian dan berita acara
dari satuan pengamanan yang bertugas serta mempersiapkan laporan
berkala di bidang keamanan dan menegakkan tata tertib.
e. Kesatuan Pengamanan LAPAS (KPLP)
KPLP dipimpin oleh seorang kepala dan membawahi petugas
pengamanan LAPAS. Kedudukan kepala KPLP berada di bawah Kepala
Lapas dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Lapas.
Tugas KPLP adalah:
1) Melakukan penjagaan dan pengawasan terhadap narapidana.
2) Melakukan pengawalan keamanan dan ketertiban.
81
3) Melakukan pengawalan penerimaan. Penempatan, dan pengeluaran
narapidana.
4) Melakukan pemeriksaan terhadap pelanggaran keamanan.
5) Membuat laporan harian dan berita acara pelaksanaan pengamanan.
4. Koordinasi Kerja
Lembaga Pemasyarakatan dipimpin oleh seorang Kepala Lembaga
Pemasyarakatan (Kalapas), dalam menjalankan tugasnya, lembaga ini terdiri
atas bagian-bagian yang memiliki tugas serta kewenangan masing-masing.
Bagian-bagian tersebut masih dibagi ke dalam sub bagian atau sub seksi yang
bertujuan mewujudkan efektivitas kerja.
Pembagian sub seksi atau sub bagian ini berdasarkan kesamaan tugas
serta kewenangannya. Sub bagian Tata Usaha terdiri atas urusan kepegawaian
serta urusan umum. Bagian ini memiliki tugas melaksanakan urusan ke tata
usahaan. Kemudian Seksi Bimbingan Narapidana / Anak Didik yang dibagi
ke dalam sub seksi registrasi serta sub seksi Bimbingan Kemsyarakatan dan
Perawatan. Selanjutnya adalah bagian Kegiatan Kerja yang memiliki fungsi
meemberikan pembekalan ketrampilan serta pembimbingan kerja serta
mempersiapkan sarana prasarana kerja, terbagi kedalam dua sub bagian,
yakni sub seksi bimbingan kerja dan pengolahan kerja serta sub seksi sarana
kerja. Kemudian adalah seksi Administrasi Keamanan dan Tata tertib, yang
dibagi kedalam sub seksi keamanan dan sub seksi pelaporan dan tata tertib.
Serta satu bagian khusus yang memiliki tugas dibidang keamanan, yaitu
82
Kesatuan Pengamanan Lapas, bagian ini berada di bawah kepala Lapas serta
bertanggung jawab langsung kepada kepala Lapas.
Bagian-bagian ini dalam menjalankan tugasnya, saling berkoordinasi.
Sedangkan Kalapas sendiri memiliki tugas-tugas sebagai berikut:
a. Membentuk serta membuat program pembinaan pengamanan dan
pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan serta perawatan tahanan
dalam melaksanakan sistem pemasyarakatan.
b. Memberikan penilaian terhadap pelaksanaan program pembinaan,
pengamanan dan pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan.
c. Penerimaan keluhan dan pengaduan dari Narapidana untuk diteruskan
kepada UPT.
d. Mengambil tindakan cepat terhadap disiplin dan pelanggaran hukum oleh
narapidana/WBP (wawancara dengan Sri Utami, staf bagian bimpas
4 Januari 2006).
Pada proses sidang TPP, Kalapas dilibatkan dalam pemberian
disposisi, sebagai bahan yang akan dibahas dalam sidang TPP tersebut.
Sedangkan pada peberian asimilasi Kalapas mendapat delegasi dari Menteri
Hukum dan HAM untuk memberikan Surat Keputusan (SK) dalam hal izin
kerja bakti, olah raga, upacara dengan masyarakat dan bimbingan latihan di
luar LP. Pertimbangan dikeluarkannya SK ini harus didasarkan dari hasil
Penelitian Masyarakat (Litmas) yang dilakukan oleh Badan Pemasyarakatan
atau Bapas, sedangkan usulan asimilasi terhadap salash satu narapidana
berasal dari pihak LP sendiri. Proses Litmas sendiri, melibatkan keluarga
83
narapidana serta masyarakat di sekitar tempat tinggal keluarga narapidana,
dengan jalan mengadakan wawancara apakah mereka siap menerima kembali
Narapidana tersebut. Hasil dari penelitian tersebut kemudian oleh Bapas
diserahkan oleh pihak LP.
Lembaga Pemasyarakatan dalam menjalankan tugas pembinaan
kepada narapidana bukan hanya dilakukan oleh para petugas lemaba
pemasyarakatan, namun juga melibatkan masyarakat. Seperti kutipan
wawancara penulis dengan salah satu staf bagian Bimpas :
”....dalam pembinaan, masyarakat juga terlibat...” (wawancara dengan Suzana
Tri Agustin, kasubsi Bimpas tanggal 4 Januari 2006).
Peran petugas pemerintah serta kelompok masyarakat, sangat besar
pengaruhnya dalam pembinaan narapidana. Petugas pemerintah tersebut
berasal dari berbagai instansi, antara lain Departemen Agama, Departemen
Sosial, Departemen Kesehatan, Departemen Tenaga kerja, dan sebagainya
(wawancara dengan Susana Tri Agustin tanggal 4 Januari 2006).
Selain dengan instansi pemerintah, LP juga mengadakan kerjasama
dengan LSM-LSM serta psikolog, maupun pemuka agama, dan hal ini
didasarkan atas permintaan pihak LP, apabila mereka memandang perlu
untuk menggunakan jasa mereka dalam mendukung proses pembinaan di
Lembaga Pemasyarakatan.
Pihak luar yang juga terlibat dalam proses pembinaan adalah hakim
Pengawas dan Pengamat (wasmat). Hakim Wasmat adalah hakim yang
ditunjuk oleh UPT Pengadilan Negeri. Hakim wasmat memiliki tugas pokok
84
melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap putusan pengadilan,
apakah vonis / keputusan pengadilan telah dilaksanakan sebagai mana
mestinya.
Berdasarkan petikan wawancara penulis dengan Suzana Tri A.
Mengenai hakim wasmat adalah :
”Hakim wasmat ini, datang secara berkala, mereka akan
mengumpulkan narapidana dan mengadakan wawancara (interview) kepada
para narapidana satu persatu mengenai pembinaan serta pembimbingan
selama mereka berada di dalam LP, penelitian ini merupakan bagian dari
pengawasan terhadap putusan atau vonis pengadilan”. (wawancara tanggal 4
Januari 2006).
Pengawasan hakim wasmat ini bukan hanya terhadap narapidana yang
masih menjalani pemidanaan di LP, namun juga terhadap narapidana yang
dijatuhi pidana bersyarat dalam upaya mengawasi dan mengamati putusan
pidana serta mengetahui tingkah laku narapidana, dan hakim wasmat dapat
meminta0 Kalapas untuk memberi informasi mengenai tingkah laku
narapidana.
5. Latar Belakang Wanita Melakukan Kejahatan Pembunuhan
Ada beberapa faktor yang telah dapat penulis kumpulkan berdasarkan
hasil penelitian di lapangan, yaitu Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Semarang. Sebelum penulis uraikan satu persatu tentang latar belakang dan
penyebab wanita melakukan kejahatan pembunuhan, terlebih dahulu perlu
diketahui bahwa narapidana yang berada di LP Wanita Semarang sampai saat
ini berjumlah.48 Dari 48 orang narapidana tersebut, terdapat 8 orang yang
melakukan kejahatan pembunuhan.
Adapun jenis kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh ke-8
narapidana tersebut, mereka telah melanggar ketentuan peraturan perundang-
85
undangan sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum
Pidana yaitu melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP.
Dari hasil penelitan penulis, diperoleh informasi bahwa yang menjadi
korban dari kejahatan pembunuhan ini meliputi orang dewasa dan anak (anak
kandung sendiri). Pada kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh wanita
dewasa ini, status wanita tersebut berada dalam ikatan perkawinan.
Pembunuhan yang dilakukan oleh wanita terhadap anak, pada
umumnya dilakukan oleh mereka karena suaminya tidak memperhatikan serta
tidak bertanggung jawab menafkahi.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan petugas dan para
narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang, maka berikut ini
adalah hasil penelitian penulis mengenai latar belakang wanita melakukan
kejahatan pembunuhan.
a. Lemahnya Penghayatan terhadap Agamanya
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan di Lembaga
Pemasyarakatan Semarang, ternyata semua narapidana yang melakukan
kejahatan pembunuhan adalah beragama. Daftar agama yang dipeluk oleh
para narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan dapat dilihat
dalam tabel berikut ini ;
86
Tabel 4 Daftar Agama narapidana pelaku kejahatan pembunuhan
No. Agama Jumlah
1. Islam 7 orang
2 Katholik 1 orang
Jumlah 8 orang
Sumber : wawancara dengan ke 8 orang narapidana pelaku pembunuhan
Dari 8 orang narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan,
yang mengaku beragama Islam adalah 7 orang. Sedangkan yang mengaku
beragama Kristen hanya 1 orang saja. Berikut petikan wawancara penulis
dengan seorang narapidana berinisial Z yang berasal dari Purwodadi,
yang mengatakan bahwa :
“Sebelum masuk ke LP Semarang ini, saya tidak pernah menjalankan
perintah agama, shalat saja tidak bisa, apalagi mengaji”(wawancara
penulis dengan Z, pada tanggal 12 Oktober 2005).
Sedangkan petikan wawancara penulis dengan narapidana yang
lain, yang berinisial L adalah sebagai berikut :
“Dulu saya beragama Nasrani, Kristen, tetapi sekarang agama saya Islam,
karena dulu saya nikah secara Islam” (wawancara penulis dengan L
tanggal 6 Oktober 2005).
b. Faktor Umur
Bardasarkan hasil penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Kelas II A Semarang, faktor umur seseorang ternyata juga sangat
berpengaruh terhadap terjadinya kejahatan pembunuhan. Hal ini
disebabkan karena umur seseorang sangat berpengaruh terhadap emosi
serta kekuatan fisik seseorang.
Berikut ini adalah daftar umur narapidana yang melakukan
kejahatan pembunuhan :
87
Tabel 5 Daftar umur narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan
Umur Jumlah
17-27 5
28-38 2
39-49 1
jumlah 8
Sumber : wawancara dengan ke 8 orang narapidana
Berdasarkan dari hasil penelitian tersebut dapatlah disimpulkan,
bahwa kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan oleh narapidana wanita
yang berumur kurang dari 27 tahun, yakni yang berumur 17 sampai 38
tahun lebih tinggi daripada narapidana yang berumur 39 tahun keatas.
Sedangakan narapidana yang berumur antara 17 hingga 27 tahun,
menunjuka angka tertinggi. Hal ini disebabkan, karena keadaan fisik
seseorang pada usia tersebut sangat kuat, sehingga kejahatan itu cenderung
dilakukan oleh mereka yang berumur antara 17 sampai dengan 27 tahun.
Hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancara penulis dengan
narapidana berinisial C, yang berumur 25 tahun berikut ini :
”...saya udah ngga bisa menahan kejengkelan saya yang saya pendam
selama ini melihat suami saya tidak pernah memperhatikan saya, padahal
saya lagi hamil, dia lebih memperhatikan adik kandungnya yang duduk
di kelas 1 SD, karena kejengkelan itulah saya sendiri menjemput adik
ipar saya itu dari sekolah, lalu saya ajak ke sungai, di sungai itulah saya
tenggelamkan kepalanya dengan tangan saya, hingga meninggal...”.
(wawancara penulis dengan C tanggal 6 Oktober 2005).
c. Faktor Pendidikan
Dari hasil penelitian penulis diperoleh informasi mengenai daftar
pendidikan terakhir narapidana yang melakukan kejahatan
88
pembunuhan,yang dapat dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel 6 Daftar pendidikan narapidana pelaku kejahatan pembunuhan
No Pendidikan Jumlah
1. SD 6 orang
2. SMP 2 orang
3 SMA 0
Jumlah 8 orang
Sumber : wawancara dengan ke 8 orang narapidana
Berdasarkan tabel, sebanyak 8 orang narapidana yang melakukan
kejahatan pembunuhan, 6 diantaranya adalah tidak tamat Sekolah Dasar,
bahkan 1 orang narapidana buta huruf, sedangkan yang mencapai tingkat
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, adalah sebanyak 2 orang narapidana
dan satu orang diantaranya tidak tamat. Dan tidak ada satupun narapidana
yan melakukan kejahatan pembunuhan yang pendidikan terakhirnya
mencapai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.
Terkait dengan faktor pendidikan, berikut petikan wawancara
penulis dengan narapidana berinisial Cn, berikut ini :
”Saya hanya bersekolah hingga kelas 2 SD, tapi cukup untuk bisa
membaca dan menulis...”
Sedangkan menurut narapidana yang lain yang berinisial C yang
mengaku buta huruf, karena hanya bersekolah hingga bangku kelas 1 SD,
mengatakan bahwa ia tidak tahu bahwa membunuh merupakan kejahatan
yang melanggar hukum, berikut ini petikan wawancara penulis dengan C
pada tanggal 6 Oktober 2005 :
89
“Saya tidak tahu kalau membunuh orang itu akan dijatuhi hukuman,
tahu-tahu ada polisi yang mencari-cari saya setelah kejadian itu”
(wawancara dengan C tanggal 6 Oktober 2005).
d. Faktor Ekonomi
Dari hasil penelitian penulis di Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Semarang, terkait dengan faktor ekonomi, penulis menggunakan istilah
pekerjaan atau mata pencaharian dan berdasarkan pekerjaan para
narapidana, menurut hemat penulis bahwa dari 8 narapidana yang
melakukan kejahatan pembunuhan, 1 orang mempunyai status ekonomi
menengah. Sedangkan sisanya yaitu 7 orang narapidana mempuntai status
ekonomi rendah.
Berikut ini adalah daftar mata pekerjaan narapidana yang
melakukan kejahatan pembunuhan :
Tabel 7 Daftar pekerjaan narapidana yang melakukan kejahatan
pembunuhan
No Pekerjaan Jumlah
1 Pedagang 1
2 Petani 3
3 Kuli bangunan 2
4 Pembantu 1
5 Tidak bekerja 1
Jumlah 8
Sumber : wawancara dengan ke 8 orang narapidana
Berikut ini merupakan petikan wawancara penulis dengan
narapidana yang berinisial M, berusia 27 tahun:
90
“Suami saya tidak lagi memperhatikan saya, ia malah pergi, dan tidak
menafkahi saya, sedangkan saya sendiri tidak bekerja, jadi saya nekad
membuang bayi yang baru saya lahirkan”.
e. Faktor Dendam atau Jengkel
Berdasarkan penelitian penulis, dari 8 orang narapidana yang
melakukan kejahatan pembunuhan terdapat 3 orang narapidana yang
melakukan kejahatan pembunuhan dikarenakan faktor jengkel atau
dendam.
Seperti petikan wawancara penulis dengan salah satu narapidana
yang berinisial C, berikut ini :
”...saya nekad membunuh adik ipar saya dikarenakan saya jengkel sama
dia karena suami saya lebih memperhatikan dan menyayanginya...”.
(wawancara penulis dengan C tanggal 6 Oktober 2005).
Sedangkan narapidana yang lain yang berinisial S, menyatakan
bahwa ia tega membunuh bayi yang baru saja dilahirkannya, karena
merasa jengkel pada suami yang tidak bertanggung jawab padanya,
namun untuk melampiaskan kejengkelannya pada si suami, S tega
menyakiti bahkan membunuh anak kandungnya itu.
Berikut petikan wawancara penulis dengan S pada tanggal 6
Oktober 2005 :
”Saya sebal sama suami yang ngga mau peduli pada saya, dia malah
nikah lagi di rumah saya, setelah itu dia lebih peduli sama istri keduanya,
untuk itulah saya menusuk anak saya yang baru lahir hingga
meninggal...” (wawancara penulis dengan S tanggal 6 Oktober 2005)
f. Faktor Ancaman Atau Takut Pada Suami
Berdasarkan penelitian penulis terhadap ke 8 orang narapidana,
terdapat seorang narapidana yang mengaku nekad melakukan
91
pembunuhan karena takut akan ancaman suami, berikut ini merupakan
petikan wawancara penulis dengan narapidana berisial Z yang berusia 22
tahun berikut ini :
“Saya tidak membunuh, tapi cuma membantu memegangi, dan suami
sayalah yang melaksanakan pembunuhan tersebut, saya melakukan hal
tersebut karena suami saya memaksa dan saya takut akan ancamannya,
sekarang suami saya berada di LP Kedung pane” (wawancara Z dengan
penulis tanggal 6 Oktober 2005).
g. Faktor Harga Diri
Faktor lain yang menyebabkan seorang wanita melakukan
kejahatan pembunuhan, adalah karena perasaan harga diri. Dimana
menurut hasil penelitian penulis diperoleh informasi, bahwa faktor harga
diri, pada umumnya merupakan suatu faktor wanita melakukan kejahatan
pembunuhan yang dapat diancam dengan ketentuan dalam pasal 341
KUHP.
Salah satu unsur dalam pasal 341 KUHP menyebutkan bahwa
mereka yang melakukan kejahatan pembunuhan ini, adalah wanita yang
tidak terikat dalam suatu perkawinan, tentu saja yang dimaksudkan adalah
perkawinan yang sah menurut hukum nasional.
Berdasarkan wawancara penulis dengan 8 orang narapidana yang
melakukan kejahatan pembunuhan terdapat 2 orang yang mengaku bahwa
ia melakukan pembunuhan terhadap anak kandungnya yang baru saja ia
lahirkan, disebabkan karena ia hanya menikah dibawah tangan, dan sang
suami tidak bertanggung jawab terhadap bayi yang dilahirkan
berdasarkan perkawinan tersebut.
92
Berikut merupakan kutipan wawancara penulis dengan seorang
narapidana yang berinisial M pada tanggal 6 Oktober 2005 :
” ...saya membuang bayi yang baru saya lahirkan, karena anak itu
merupakan anak saya dengan suami kedua saya yang menikah dengan
saya secara siri, apalagi dia ngga pernah memperhatikan saya dan ngga
menafkahi saya lagi...” .(wawancara penulis dengan M tanggal 6 Oktober
2005)
h. Faktor Membela Diri
Berdasarkan hasil penelitian penulis diperoleh informasi, bahwa
terdapat seorang narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan ini
karena faktor membela diri. Seperti tergambar dalam petikan wawancara
penulis dengan seorang narapidana berisial MS berikut ini:
“Mertua saya suka sekali mencampuri urusan keluarga saya dan suami,
selain itu dia juga sangat mudah marah, seperti kejadian malam itu
sebenarnya dia yang menyerang saya terlebih dahulu, saya hanya
membela diri…” (Wawancara penulis dengan MS tanggal 12 Oktober
2005).
i. Faktor Kejiwaan
Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan di LP Wanita
Semarang, selain faktor-faktor yang telah penulis sebutkan di atas,
ternyata terdapat faktor yang dapat melatar belakangi seorang wanita
melakukan kejahatan pembunuhan, yaitu faktor kejiwaan atau psikologis.
Faktor kejiwaan ini, dapat menyebabkan seseorang secara tidak
sadar melakukan pembunuhan terhadap orang lain, bahkan menyakiti diri
sendiri.
Seperti hasil wawancara penulis dengan seorang narapidana yang
berisial CR berikut ini :
93
“Saya tidak sadar melakukan pembunuhan terhadap anak saya, padahal
saya sangat menyayangi anak saya, tahu-tahu saat bangun tidur, saya
sudah memegang pisau, dan anak saya berlumuran darah, bahkan sampai
sekarang saya tidak tahu makam anak saya, kalau mengingat itu hati saya
sangat sedih, bahkan haki sempat menyarankan saya untuk mengikutu
penyembuhan di Rumah sakit Jiwa…” (wawancara penulis dengan CR
tanggal 12 Oktober 2005).
Kemudian CR juga mengungkapkan bahwa dirinya bahkan pernah
melakukan percobaan bunuh diri, sebelum masuk ke LP Wanita
Semarang, akibat perasaan menyesal tersebut.
6. Pembinaan Narapidana Yang Melakukan Kejahatan Pembunuhan Di
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang
Menurut sistem pemasyarakatan dewasa ini, narapidana tidak hanya
dipandang sebagai individu saja, melainkan harus dipandang sebagai
makhluk sosial dan sekaligus anggota masyarakat. Oleh karena itu harus
diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaannya. Sedangkan
pidana yang dijatuhkan kepadanya bukanlah dianggap sebagai pembalasan
dendam, akan tetapi merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindarkan
sebagai akibat dari perbuatan yang telah dilakukannya.
Dalam pembinaan narapidana tersebut, semua petugas yang berada
dalam Lembaga Pemasyarakatan terlibat di dalamnya. Keterlibatan para
petugas Lembaga Pemasyarakatan meliputi bidang teknik dan pengawasan.
Guna berhasilnya pembinaan menurut sistem pemasyarakatan dewasa
ini, tidak bergantung pada narapidananya saja, akan tetapi disamping itu juga
diperlukan adanya petugas pembina yang cukup dan penuh rasa pengabdian
94
serta dilengkapi dengan sarana-sarana yang memadai. Salah satu hal yang
paling penting yaitu peranan masyarakat dalam rangka menerima kembali
bekas narapidana yang telah selesai menjalani pidananya. Sebagai warga
masyarakat diharapkan turut serta membantu para narapidana yang telah
selesai manjalani pidananya dalam menempuh hidup barunya.
Adapun dasar pemikiran pembinaan narapidana berpatokan pada “10
Prinsip Pemasyarakatan” yaitu : (Data sekuder LP Wanita Semarang)
1. Ayomi dan berikan bekal hidup agar mereka dapat menjalankan
peranannya sebagai warga masyarakat yang baik dan berguna.
2. Penjatuhan pidana tidak lagi didasari oleh latar belakang pembalasan,
sehingga tidak boleh ada penyiksaan terhadap narapidana dan anak didik
pada umumnya baik berupa tindakan, perlakuan, ucapan, cara perawatan
ataupun penempatannya. Satu-satunya derita yang dialami oleh napi dan
anak didik hanya dibatasi kemerdekaannya untuk bergerak dalam
masyarakat bebas.
3. Berikan bimbingan (bukan penyiksaan) supaya mereka bertobat. Berikan
kepada mereka pengertian mengenai norma-norma hidup dan kegiatan-
kegiatan sosial untuk menumbuhkan rasa hidup kemasyarakatannya.
4. Negara tidak berhak membuat mereka menjadi lebih buruk atau lebih
jahat daripada sebelum dijatuhi pidana. Salah satu diantaranya agar tidak
mencampur narapidana dengan anak didik yang melakukan tindak pidana
berat dengan yang ringan dan sebagainya.
5. Selama kehilangan (dibatasi) kemerdekaan bergeraknya para napi dan
anak didik tidak boleh diasingkan dari masyarakat. Perlu ada kontrak
dengan masyarakat yang terjelma dalam bentuk kunjungan hiburan ke
lapas dan rutan / cubrutan oleh anggota masyarakat bebas dan kesempatan
yang lebih banyak untuk berkumpul bersama sahabat dan keluarga.
6. Pekerjaan yang diberikan kepada napi dan anak didik tidak boleh bersifat
sekedar pengisi waktu. Juga tidak boleh diberikan pekerjaan untuk
memenuhi keperluan jawatan atau kepentingan negara kecuali pada waktu
tertentu saja. Pekerjaan yang terdapat di masyarakat dan yang menunjang
pembangunan seperti meningkatkan industri kecil dan produksi pangan.
7. Pembinaan dan pembimbingan yang diberikan kepada napi dan anak
didik adalah berdasarkan Pancasila. Hal ini berarti bahwa kepada mereka
harus ditanamkan semangat kekeluargaan dan toleransi disamping
meningkatkan pemberian rohani kepada mereka diserta dorongan untuk
menunaikan ibadah sesuai dengan kepercayaan agama yang dianutnya.
8. Narapidana atau anak didik bagaikan orang sakit yang perlu diobati agar
mereka sadar bahwa pelanggaran hukum yang pernah dilakukannya
95
adalah merusak dirinya, keluarganya, dan lingkungannya, sehingga perlu
dibina / dibimbing ke jalan yang benar. Selain itu mereka harus
diperlakukan sebagai manusia biasa yang memiliki harga diri agar
tumbuh kembali kepribadiannya yang percaya akan kekuatan sendiri.
9. Narapidana dan anak didik hanya dijatuhi pidana berupa membatasi
kemerdekaannya dalam jangka waktu tertentu.
10. Untuk pembinaan dan pembimbingan para napi dan anak didik maka
disediakan sarana yang diperlukan.
Sepuluh Prinsip Pemasyarakatan tersebut, menjadi dasar pemberian
pembinaan kepada napi di Lembaga Pemasyarakatan agar kelak ia dapat
kembali diterima serta bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarganya serta
masyarakat, serta tidak akan mengulangi perbuatannya dahulu.
a. Tahap Pembinaan
Tahapan Pembinaan Bagi Narapidana Dapat Dilihat Dari Skema
Berikut Ini:
96
Gambar 3 PROSES PEMASYARAKATAN
landasan hukum
1.
2. Pancasil
Pancasila a 12 1995
5. UU. No. 5. UU. No. 12 1995 9. Kep Menteri
3.
2. UUD 194
UUD 1945 5 12 1997
6. UU. No. 6. UU. No. 12 1997 10. Peraturan Menteri
4.
3. KUHP
KUHP 7. Kep.
7. Kep. PemerintahPemerintah 11. Kep. Dirjen Pemas
5.
4. KUHAP
KUHAP 8. PP 8. PP
Tahap Awal Tahap lanjutan Tahap Akhir
1 1 2 2
/3 Masa pidana /3 – ½ Masa Pidana ½ - /3 Masa Pidana /3 Sampai Bebas
M A. Admisi Orientasi A. Pembinaan Kepribadian Asimulasi Integrasi M Tujuan :
A Masa pengamatan dan Lanjutan DALAM LAPA S TERBUKA A 1. Tidak
S pengenalan dan penelitian Program pembinaan ini (Open Camp) - PB Bebas S melanggar
Y lingkungan, paling lama 1 tahun. merupakan lanjutan tahap awal. - CB Sesunhhunya Y hukum
LUAR LAPAS
A B. Pembinaan Keprbadian B. Pembinaan Kemandirian - BAPAS A 2. dapat berperan
(Half Way House/Work)
R 1. Pembinaan kesadaran 1. Keterampilan untuk R aktif dalam
A beragama TTP mendukng usaha mandir TTP Melanjukan A pembangunan
K 2. Pembinaan kesadaran 2. Ketrampilan untuk Sekolah K 3. hidup bahagia
A berbangsa dan bernegara mendukung usaha-usaha A di dunia dan
Kerja mandiri Olahraga akhirat
T 3. Pembinaan Kemampuan industri kecil T
intelektual 3. Ketrampilan yang Kerja pada Cuti Mengunju
4. Pembnaan kesadaran hukum dikembangkan sesuai pihak lain keluarga
bakatnya beribadah
4. Keterampilan untuk
mendukung usaha industri /
Maximum Security pertanian/perkebunan dengan
teknoloogi madya tingi Medium Securty Minimum Securty
KERJASAMA ANTAR INSTANSI
Instanasi Penegak Hukum Instanasi Hukum Swasta
1. Polri 1. Depkes 5. Depdiknas 1. Perorangan
2. Kejaksaan Negeri 2. Depnaker 6. Pemda 2. Kelompok
3. Pengadilan Negeri 3. Dependeg 7. DII 3. LSM
4. Depag 4. Perusahaan
Sumber : Data sekunder LP Kelas IIA Semarang
98
Berdasarkan hal di atas, maka pembinaan narapidana di dalam
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang ini dibagi menjadi 4 tahap
pembinaan seperti yang terlihat dalam skema berikut ini :
Pembinaan narapidana yang meliputi empat tahap tersebut adalah
meliputi :
1) Tahap Pertama
Tahap pertama, yaitu tahap admisi orientasi. Berdasarkan hasil
wawancara penulis dengan Sri Utami S.st, bahwa tahap pertama yaitu:
“Pada tahap ini merupakan tahap permulaan bagi narapidana yang
memasuki 1/3 masa pemidanaannya, pada tahap ini kami mengamati
serta meneliti atau yang disingkat mapenaling bakat dan minat yang
dimiliki oleh narapidana, tujuannya adalah supaya kami dapat
mengarahkan bakat yang mereka miliki tersebut. Selain itu pada tahap
ini pengawasan terhadap mereka sangat ketat atau dalam tahap
maximum security. Pada tahap juga merupakan tahap pengenalan
lingkungan atau yang disebut orientasi. (Wawancara penulis dengan Sri
Utami S.st pada tanggal 12 Oktober 2005).
Jadi tahap ini, merupakan tahap pembinaan permulaan bagi
narapidana yang dilaksanakan sekurang-kurangnya 1/3 dari masa
pidana yang sebenarnya. Pada tahap ini, aparat atau petugas
mengadakan suatu pengamatan serta penelitian terhadap bakat serta
minat narapidana untuk nantinya akan diarahkan sesuai dengan bakat
yang dimilikinya tersebut. Selain hal tersebut tahap ini juga merupakan
tahap orientasi pengenalan lingkungan Lembaga Pemasyarakatan
kepada para narapidana.
2) Tahap Kedua
Tahap kedua yaitu merupakan tahap pembinaan lanjutan.
Menurut penjelasan dari Sri Utami, staf bagian Bimpas, bahwa tahap
99
kedua yaitu :
“Pada tahap ini atau tahap pembinaan lanjutan, kami akan mengarahkan
para narapidana kepada bidang yang mereka minati serta meningkatkan
ketrampilan sesuai bakat mereka masing-masing, tahap ini pengawasan
mulai memasuki medium security. Ketrampilan terebut misalnya
menjahit, menyulam dan sebagainya. Selain itu kami juga mulai
memberikan tanggung jawab kepada mereka, misalnya ; menjaga
kebersihan ligkungan sekitarnya. (wawancara tanggal 12 Oktober
2005).
Tahap pembinaan lanjutan ini, diberikan kepada narapidana
yang sudah mengalami masa pidana diatas 1/3 sampai sekurang-
kurangnya ½ dari masa pidana yang sebenarnya. Dalam tahap ini,
aparat atau petugas mulai mengarahkan bakat serta minat yang mereka
miliki pada ketrampilan tertentu. Selain itu mereka juga mulai diberikan
tanggung jawab sebagai anggota masyarakat yang berada di lingkungan
Lembaga Pemasyarakatan Wanita.
3) Tahap Ketiga
Tahap ketiga merupakan tahap asimilasi. Berdasarkan petikan
wawancara dengan Sri Utami, tahap ini adalah :
“Tahap ini atau tahap asimilasi diberikan kepada mereka yang telah
menjalani ½ dari masa pemidanaannya, tahap ini seorang narapidana
boleh melewati pintu ketiga tanpa harus dikawal, dan pengawasan
kami lebih longgar dibanding dua tahapan sebelumnya karena mulai
memasuki tahapan minimum security. (wawancara tanggal 12 Oktober
2005).
Tahap ketiga merupakan tahap asimilasi atau tahap pembinaan
lanjutan diberikan kepada narapidana yang telah menjalani proses ½
sampai sekurang-kurangnya 2/3 dari masa pidana yang sebenarnya.
100
4) Tahap Keempat
Tahap keempat yaitu tahap integrasi. Berdasarkan wawancara
penulis dengan Sri Utami, S.st, tahap keempat ini ialah :
“Tahap pembinaan yang diberlakukan kepada para napi yang sudah
menjalani pidananya diatas 2/3 masa pemidanaan. Tahap ini para napi
sudah boleh mengunjungi keluarganya pada hari-hari tertentu, seperti
Lebaran, Natal dan sebagainya. Pada tahap ini kami juga memberikan
pelepasan bersyarat serta cuti menjelang bebas” (wawancara tanggal 12
Oktober 2005).
Pada tahap keempat ini merupakan tahap integrasi atau tahap
pembinaan lanjutan yang hanya boleh diberlakukan kepada para
narapidana yang telah menjalani lebih atau diatas 2/3 masa pidana yang
sebenarnya sampai akhir masa pidana. Pada tahap ini narapidana telah
diizinkan untuk mengunjungi keluarganya pada hari-hari tertentu
seperti hari raya. Serta pada tahap integrasi ini mereka juga diberikan
pembebasan bersyarat serta cuti menjelang bebas.
Berdasarkan wawancara penulis dengan Sri Utami bahwa pada
setiap akhir tahapan pembinaan, diadakan suatu sidang yang dinamakan
sidang TPP (Tim Pengamat Pemasyarakatan). Sidang ini bertujuan
mengevaluasi perkembangan napi selama pemberian pembinaan serta
pembimbingan pada tahap tertentu dan untuk menentukan kegiatan kerja
yang akan diikuti napi pada tahap pembinaan selanjutnya. Perkembangan
napi selama mengikuti pembinaan diberikan penilaian serta dimasukkan
dalam buku Laporan Penilaian Perkembangan Napi. Buku laporan
tersebut dipegang oleh masing-masing wali napi dan diisi setiap 3 bulan
sekali (triwulan) kemudian diajukkan dalam sidang pada akhir tahap
pembinaan tersebut. (wawancara tanggal 12 Oktober 2005).
101
b. Kegiatan Pembinaan
Kegiatan pembinaan terhadap narapidana di lembaga
pemasyarakatan wanita Semarang sangat beragam, kegiatan ini meliputi :
1) Pendidikan mental / agama:
Dengan tujuan untuk semakin memperteguh serta menambah
iman seseorang, meliputi :
a) Bagi Narapidana yang beragama Islam, kegiatan keagamaan
meliputi:
(1). Kegiatan penyuluhan-penyuluhan agama yang diadakan
Seminggu tiga kali.
(2). Mengadakan shalat berjamaah.
(3). Pelajaran shalat bagi narapidana yang belum dapat
melaksanakan shalat.
(4). Mengadakan kegiatan iqra, yaitu pendidikan baca tulis Al
Quran serta membaca ayat-ayat suci Al Quran.
(5). Melaksanakan kegiatan-kegiatan kerohanian pada saat bulan
suci Ramadhan, seperti :
(a) Mengadakan tarawih serta tadarus;
(b) Mengadakan pesantren ;
(c) Mengadakan pengajian.
(6). Melaksanakan perayaan hari besar keagamaan antara lain ;
Nuzulul Al Qur’an, Idul Fitri, Idul Adha, Isra Mi raj serta
Maulud Nabi Muhammad SAW.
102
b) Bagi narapidana yang beragama Kristen Protestan/ Katholik :
1) Pelaksanaan Kebaktian di Gereja.
2) Pelaksanaan Misa.
3) Mengadakan hari besar keagamaan antara lain Natal serta
Paskah.
Kegiatan pembinaan serta pembimbingan keagamaan ini ternyata
sangat dirasakan manfaatnya oleh para narapidana, yaitu dapat menambah
pengetahuan serta wawasan di bidang kerohanian, seperti hasil petikan
wawancara penulis dengan Narapidana yang berinisial Z berikut ini :
“Sebelum masuk LP Wanita Semarang, saya tidak bisa shalat, jadi saya
tidak pernah melaksanakan shalat 5 waktu. Tetapi setelah masuk LP, dan
diajarkan cara-cara serta bacaan-bacaan shalat, saya jadi bisa
melaksanakan shalat”. (Wawancara tanggal 12 Oktober 2005).
Hasil positif pembinaan keagamaan juga dirasakan oleh
Narapidana yang berinisial CS, yang sebelum masuk lembaga
pemasyarakatan Semarang ia belum bisa baca tulis Al Quran, berikut ini :
“Sebelum ini, saya tidak bisa mengaji, tetapi setelah berada di LP Wanita
Semarang ini, sedikit-sedikit saya mulai bisa membaca Al Quran,
walaupum masih Iqra 6” (wawancara tanggal 3 Oktober 2005).
Selain dapat meningkatkan wawasan keagamaan, ternyata
pembinaan keagamaan juga dapat sebagai penyejuk jiwa bagi para
narapidana, seperti yang dikemukakan olh Narapidana berinisial CN, asal
NTT berikut ini :
“Di lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang ini, setiap mengingat
masa lalu, hati saya menjadi sedih, kadang sampai menangis, dan setiap
seperti itu cepat-cepat saya mendatangi gereja, dan mengingat Tuhan,
103
pada Tuhanlah saya selalu berkeluh kesah. Setelah itu hati menjadi
damai”.(Wawancara tanggal 6 Oktober 2005)
Kegiatan-kegiatan keagamaan ini, dilaksanakan oleh aparat atau
petugas Lembaga Pemasyarakatan dan didukung oleh para pihak yang
terkait, yaitu pihak yang bergerak di bidang keagamaan / kerohanian,
seperti Departeman Agama, Gereja Advent, Pantekosta, yayasan Cinta
Kasih Bangsa, Alfa Omega.
Sedangkan kegiatan bimbingan dan penyuluhan mental meliputi :
(wawancara dengan Sri Utami, staf bagian bimpas)
1. Pemberian pelajaran budi pekerti, serta sopan santun dalam
bertingkah laku.
2. Pemberian penyuluhan hukum serta pengenalan norma-normanorma
hukum.
3. Mengadakan sharing (membagi pengalaman pribadi) dengan
dibimbing oleh psikolog di lingkungan LP, serta konseling psikologi
yang diadakan setiap hari Rabu oleh LSM terkait. (wawancara tanggal
12 Oktober 2005).
Kegiatan pembinaan mental juga sangat dirasakan manfaatnya
bagi para narapidana seperti yang diutarakan oleh seorang narapidana
berinisial MY, berikut ini :
“Kalau ada masalah, Ibu-ibu petugas LP, selalu bersedia mendengarkan
setiap keluhan, serta selalu memberikan saran-saran kepada saya”.
(wawancara tanggal 6 Oktober 2005).
Berdasarkan pengamatan penulis, antusias para narapidana dalam
menyimak konseling juga terlihat pada saat pelaksanaan konseling
psikologi oleh salah satu LSM, yang diadakan setiap hari Rabu pagi di
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang.
104
2) Pendidikan Umum serta Kejuruan.
Pendidikan umum serta kejuruan yang diadakan oleh LP Wanita
Semarang meliputi :
a) Memberikan pelajaran kejar paket A bagi narapidana yang buta huruf
setiap hari Kamis.
b) Mengadakan kegiatan Pramuka setiap hari Senin.
Pembinaan pendidikan umum, khususnya kejar paket A, ternyata
sangat bermanfaat bagi narapidana, seperti petikan wawancara penulis
dengan narapidana berinisial CS berikut ini :
“Sebelum masuk LP Semarang ini, saya tidak bisa membaca dan menulis,
karena saya sekolah hanya sampai kelas 2 SD, setelah masuk LP ini,
ternyata diajarkan membaca dan menulis huruf-huruf, sekarang saya
mulai dapat membaca dan menulis”. (wawancara tanggal 3 Oktober
2005).
Sedangkan kegiatan kepramukaan juga sangat dirasakan
manfaatnya oleh seorang narapidana berinisial MT yang berpendidikan
terakhir kelas empat sekolah dasar, seperti yang ia ungkapkan kepada
penulis :
“Sejak masuk LP ini, saya mulai mengenal kegiatan pramuka dan ternyata
sangat menyenangkan” (wawancara tanggal 6 Oktober 2005).
Bahkan untuk meningkatkan wawasan narapidana mengenai
pengetahuan umum, selain menyediakan perpustakaan dengan berbagai
koleksi buku, LP Wanita Semarang mengadakan kerjasama dengan
Perpustakaan Wilayah, dalam pengadaan Perpustakaan Keliling, yang
setiap satu minggu sekali mendatangi LP Wanita Semarang. Keberadaan
105
perpustakaan di lingkungan LP, serta kehadiran perustakaan keliling ini,
ternyata sanagat dirasakan manfaatnya bagi para narapidana, seperti
pendapat seorang narapidana yang berinisial L berikut ini :
“Dengan adanya perpustakaan keliling yang hadir di LP Wanita
Semarang, kami bisa mendapatkan dan membaca buku-buku yang tidak
ada di perpustakaan LP” (wawancara tanggal 3 Oktober 2005).
Berdasarkan hemat penulis, kegiatan pendidikan umum sangat
besar manfaatnya bagi para narapidana karena dapat meningkatkan
kemampuan intelektualitasnya.
3) Pembinaan Kemandirian
Pembinaan kemadirian diarahkan pada pembinaan bakat dan
ketrampilan, supaya para narapidana setelah selesai masa pemidanaannya
dapat kembali berperan sebagai anggota masyarakat yang produktif,
kreatif, serta mandiri.
Adapun jenis ketrampilan yang diajarkan dalam pembinaan bakat
dan ketrampilan berdasarkan hasil wawancara penulis dengan narapidana
kejahatan pembunuhan adalah sebagai berikut :
a) Menjahit, meliputi pembuatan bed cover, sarun bantal, celemek,
pakaian seragam untuk petugas, serta seragam bagi para narapidana
serta seragam pramuka.
b) Kristik, meliputi pembuatan serbet makanan, bed cover, taplak meja
serta hiasan dinding.
c) Menyulam meliputi pembuatan sarung bantal, sarung guling, seprei,
sapu tangan, serta taplak meja.
106
d) Masak memasak.
e) Salon, meliputi kegiatan-kegiatan kecantikan, seperti potong rambut,
cuci, creambath,dan didukung dengan peralatan yang memadai, serta
terbuka untuk umum.
f) Kegiatan berkebun, meliputi pegelolaan tanaman hias / green house.
g) Ketrampilan tangan yang lain, seperti pembuatan boneka hias, bunga-
bunga hias dan sebagainya.
Pengajar atau pembimbing dalam kegiatan ketrampilan kerja ini
adalah petugas dari seksi kegiatan kerja. Kegiatan ketrampilan merupakan
kegiatan positif yang sangat efektif dalam membekali narapidana. Serta
mendapat respon yang positif bagi narapidana, salah satunya adalah
seperti yang dirasakan oleh narapidana berisial MY, berdasarkan kutipan
wawancara dengan penulis pada tanggal 12 Oktober 2005 :
“Di sini waktu terasa cepat, karena kegiatan yang bermacam-macam, di
LP ini saya jadi bisa menjahit, menyulam, serta mengkristek” (wawancara
tanggal 12 Oktober 2005).
Dalam hal ini, narapidana diizinkan mengikuti salah satu kegiatan
ketrampilan yang sesuai dengan bakat dan minatnya, yang ditentukan
melalui sidang Tim Pengamat pemasayarakatan (TPP). Hasil ketrampilan
tersebut akan dipajang dan dipamerkan di ruang pameran ketrampilan,
dan apabila karyanya tersebut terjual, maka narapidana akan mendapatkan
insentif, beupa premi.
107
4) Pembimbingan Latihan Olahraga / Kesegaran jasmani (Pembinaan Fisik /
Jasmani)
Kegiatan ini berada dibawah bimbingan seksi binadik, yang meliputi :
a) Kegiatan olahraga, meliputi ; olahraga volley yang diadakan setiap
Senin sore, Rabu sore, serta Jumat pagi, dan cabang olahraga yang
lain seperti tenis meja, bulutangkis dan kasti.
b) Kegiatan senam, dan berdasarkan keterangan Sri Utami, bahwa LP
Wanita Semarang memiliki kurang lebih 12 jenis senam kesegaran
jasmani, hal ini bertujuan menghindari kejenuhan narapidana.
c) Mengadakan olahraga/permainan secara rutin dalam rangka
memperingati Proklamasi RI.
Kegiatan ini dirasa sangat berguna bagi narapidana, sepert
kutipan wawancara penulis dengan narapidana yang berisial CN berikut
ini :
“Saya ikut olahraga volley serta dapat berlatih tenis meja, olahraga bisa
mengurangi kejenuhan” (wawancara tanggal 6 Oktober 2005).
Berdasarkan penelitian, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa
kegiatan olahraga di LP Wanita Semarang sangat baik karena ditunjang
dengan fasilitas yang lengkap. Dan seperti halnya kegiatan pembinaan
yang lain, kegiatan olahraga merupakan suatu hal yang positif bagi
pembinaan narapidana, karena selain dapat meningkatkan kesehatan fisik
bagi narapidana, juga secara rohani atau kejiwaan dapat menjadi suatu
hiburan tersendiri di tengah masa pemidanaan. Selain itu kegiatan
pembinaan jasmani juga dapat meningkatkan semangat, prestasi serta
pengalaman para narapidana di bidang olahraga.
108
5) Pembinaan Bidang Kesenian
Pembinaan di bidang seni disesuaikan dengan bakat serta minat
masing-masing narapidana. Pembinaan ini meliputi : (Data sekunder
Jadwal kegiatan WBP LP Wanita Semarang)
a) Kegiatan musik, yaitu pelatihan olah vokal (olah suara), paduan suara
serta pelatihan band yang diadakan secara bergiliran baik peserta
maupun pemula, pada hari Senin, Selasa, Rabu serta Jumat.
b) Kegiatan karawitan, yaitu diadakan setiap satu minggu sekali pada
hari Kamis.
c) Kegiatan qasidah, yaitu suatu kegiatan seni musik bernafaskan Islami
yang diadakan setiap hari Jumat.
d) Kegiatan tari atau drama, diadakan pada Sabtu siang.
Kegiatan kesenian ini untuk nantinya akan dipentaskan di suatu
pentas seni, seperti pada tanggal 12 oktober 2005, LP Wanita Semarang
mendapat kunjungan dari salah satu LSM dari kota Semarang untuk
menyaksikan pentas wayang orang yang diperankan oleh anak didik
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang.
6) Pelayanan di bidang Kemasyarakatan
Selain memberikan pembinaan dan pembimbingan bagi
narapidana, LP wanita Semarang juga mengadakan pelayanan-pelayanan
terhadap narapidana, yang meliputi :
109
a) Pelayanan terhadap narapidana yang ingin melaksanakan syrat
menyurat kepada pihak keluarga, kerabat, teman, dan sebagainya.
Pelayanan ini meliputi pemeriksaan terhadap surat yang masuk
maupun yang keluar, serta pemberian paraf terhadap surat-surat
tersebut.
b) Mengusulkan asimilasi bagi narapidana yang telah mencapai ½ dari
masa pemidanaan serta telah memenuhi syarat-syarat tertentu.
c) Mengusulkan pembebasan bersyarat (pb) serta cuti menjelang bebas
(cmb) bagi narapidana yang sekurang-kurangnya telah mencapai 2/3
dari masa pidana sebenarnya.
7) Pelayanan Kesehatan dan Perawatan Narapidana
Pelayanan di bidang ini dilaksanakan oleh seksi binadik, yang
meliputi pelayanan :
a) Pelayanan kesehatan di dalam lingkungan lp, yang ditunjang dengan
adanya dokter serta perawat supaya narapidana yang jatuh sakit segera
mendapatkan pertolongan. Selain itu ditunjang pula dengan adanya
perawatan serta ruang medik yang memadai. Bagi narapidana yang
mengalami sakit parah, serta dipandang perlu mendapatkan perawatan
intensif, lp juga menyediakan mobil ambulance, supaya narapidana
segera mendapatkan pertolongan.
b) Pengadaan makanan yang bergizi serta penyediaan menu makan yang
disesuaikan dengan menu makanan yang telah tercantum di daftar
menu.
110
c) Mengadakan penyuluhan-penyuluhan kesehatan, setiap hari senin,
seperti upaya pencegahan hiv / aids yang dilaksanakan oleh yayasan
wahana bakti (semarang), seperti yang diungkapkan oleh sri utami
pada penulis pada wawancara tanggal 12 oktober 2005 berikut ini :
“Setiap hari Senin, kami bekerjasama dengan yayasan Wahana Bakti
melaksanakan penyuluhan-penyuluhan kesehatan kepada para napi,
seperti misalnya mengenai HIV…” (wawancara tanggal 12 Oktober
2005).
Selain pembinaan yang telah penulis sebutkan diatas, sesuai pasal
ayat UU nomor 12 tahun 1995 mengenai hak-hak narapidana,
narapidana di LP Wanita Semarang juga berhak mendapatkan hiburan
dari televisi serta radio, namun khusus untuk program kriminalitas,
petugas melarang para narapidana untuk menyaksikan tayangan tersebut,
karena ditakutkan akan mempengaruhi kondisi kejiwaan para narapidana.
B. PEMBAHASAN
1. Latar Belakang Kejahatan Pembunuhan Yang Dilakukan Wanita
Pembunuhan yang dilakukan oleh wanita di wilayah Semarang dari
hasil penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang, sebagaimana
wilayah hukum lainnya di Indonesia oleh masyarakat maupun pemerintah
digolongkan sebagai kejahatan atau norma hukum yang ditafsirkan atau patut
ditafsiskan sebagai perbuatan yang sangat merugikan, menjengkelkan, dan
tidak boleh dibiarkan.
Karena akibat yang sangat merugikan dan dilakukan pula oleh
anggota masyarakat, secara keseluruhan menjadi kewajiban dan tanggung
111
jawab secara bersama-sama dengan badan yang berwenang untuk
menanggulanginya seefisien mungkin.
Dalam kaitannya dengan peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh
wanita, maka perlu mengetahui terlebih dahulu tentang latar belakang dan
penyebab terjadinya pembunuhan itu. Setelah mengetahui latar belakang dan
penyebabnya, maka kitab dapat mengetahui sekaligus menentukan cara
pemecahannya.
Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh wanita yang terjadi di
wilayah Semarang tentunya dilatar belakangi oleh faktor-faktor penyebab
yang berbeda satu dengan lainnya. Demikian juga dapat dikatakan, bahwa
jumlah pembunuhan yang terjadi ditunjang oleh banyaknya faktor yang saling
mengkait dan berpengaruh pada faktor satu sama lainnya. Misalnya, faktor
ekonomi berpengaruh pada faktor pendidikan dan sebaliknya. Sebaliknya,
faktor pendidikan berpengaruh pada faktor ekonomi, dan masih banyak lagi
faktor lain yang dapat menimbulkan kejahatan.
Ada beberapa faktor yang telah dapat penulis kumpulkan berdasarkan
hasil penelitian di lapangan, yaitu Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Semarang, maka pada berikut ini akan penulis jelaskan dan uraikan satu per
satu mengenai latar belakang dan penyebab wanita melakukan kejahatan
pembunuhan. Dengan harapan, bahwa penjelasan tersebut dapat memberikan
gambaran yang lebih jelas, dan sekaligus dapat dipahami oleh seluruh
kalangan yang tertarik untuk membaca skripsi yang penulis susun ini.
Seperti yang telah penulis uraikan sebelumnya, bahwa kejahatan itu
112
disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, demikian juga dengan
kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh wanita, tentunya juga
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Seperti pendapat dari Dra. Kartini
Kartono yang mengatakan.
“...perbuatan kriminal yang dilakukan oleh beberapa anak gadis yang
disebabkan oleh emosi-emosi yang sangat kuat. Emosi yang sangat kuat itu
karena rasa rindu akan orang tuaa dan kampung halamannya di desa. Oleh
karena emosi yang sangat kuat tersebut timbullah konflik-konflik batin dan
ketegangan-ketegangan yang sangat tinggi sehingga anak gadis tersebut
melakukan tindak kriminal berupa pembunuhan atau bunuh diri”.
Kejahatan yang dilakukan wanita itu banyak faktor yang
menyebabkan, yaitu:
“Faktor sosial ekonomi seperti sistem ekonomi, perubahan harga pasar,
krisis, gaji, atau upah, pengangguran dan juga dapat dipengaruhi faktor-
faktor mental (agama), bacaan-bacaan harian, film (termasuk TV), serta
faktor pisik seperti iklim, tidak luput faktor-faktor pribadi (umur), peminum
(alkohol)”. (Hurwitz 1986:86-101)
Sedangakan berdasarkan hasil penelitian penulis di Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Semarang, faktor-faktor yang melatar-belakangi dan
faktor-faktor yang menyebabkan wanita melakukan kejahatan pembunuhan,
adalah :
1. Lemahnya penghayatan agamanya ;
2. Faktor umur ;
3. Faktor pendidikan ;
4. Faktor ekonomi ;
5. Faktor dendam dan jengkel ;
6. Faktor Harga Diri
7. Faktor ancaman atau takut pada suami ;
8. Faktor membela diri, dan
9. Faktor kejiwaan. (Hasil wawancara dengan ke-7 narapidana yang
melakukan kejahatan pembunuhan tanggal 6 Oktober 2005 dan tanggal 12
Oktober2005).
113
Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis kemukakan
sebelumnya, maka penulis akan uraikan satu persatu latar belakang wanita
melakukan kejahatan pembunuhan.
a. Lemahnya Penghayatan Pada Agamanya
Setiap agama yang ada di dunia ini, niscaya mempunyai
keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agama itu selalu
mengutamakan sifat-sifat kebaikan dan kebajikan, menjauhi kejahatan
atau kemunafikan. Agama juga membukakan hati manusia kepada
pengertian-pengertian cinta terhadap sesama manusia dan melarang orang
melakukan kejahatan. Sehingga, jika manusia benar-benar mendalami dan
menghayati makna agama diharapkan ia menjadi manusia yang baik,
dalam arti tidak berbuat hal-hal yang merugikan atau menyinggung
perasaan orang lain.
Pemahaman agama seharusnya dilakukan sejak dini oleh orang
tua supaya seseorang dapat melaksanakan serta menjalankan agama
sebaik-baiknya, karena agama merupakan petunjuk dari Tuhan supaya
manusia selalu menjalankan kebaikan serta menghindari kejahatan.
Kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama, menyebabkan jiwa
seseorang mudah berbuat kejahatan.
Apabila setiap pemeluk agama itu benar-benar mendalami,
menghayati agamanya, serta melaksanakan perintah agamanya dalam
kehidupannya sehari-hari, maka ia akan dapat menjadi manusia yang baik
dan tidak akan melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan
agamanya.
114
Berdasarkan hasil penelitian diatas, bahwa seluruh narapidana
yang melakukan kejahatan pembunuhan adalah memeluk suatu agama
namun, mereka delapan orang narapidana yang melakukankejahatan
pembunuhan mengakui bahwa sebelum berada di Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Semarang mereka tidak memahami ajaran agama
serta menjalankan ibadah dengan baik sesuai dengan agama serta
keyakinannya.
Menurut Step Han Hurwits faktor mental khususnya agama
memang merupakan faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya
kejahatan, hal ini dapat dilihat dari pendapat Hurwits sebagai berikut :
”...memang merupakan fakta bahwa norma-norma etis yang secara teratur
diajarkan oleh bimbingan agama dan khusus bersambung pada keyakinan
keagamaan yang sungguh, membangunkan secara khusus dorongan-
dorongan yang kuat untuk melawan kecenderungan-kecenderungan
kriminil”. (Hurwitz 1986 : 93)
Berdasarkan uraian tersebut diatas, penulis dapat menarik
kesimpulan, bahwa jika seseorang tidak mendalami dan menghayati
ajaran agamanya, akan mengakibatkan mental seseorang tersebut menjadi
lemah dan imannya akan menjadi mudah goyah. Sehingga, mereka akan
mudah tergelincir, hanya menuruti hawa nafsu saja, termasuk melakukan
suatu kejahatan pembunuhan. Untuk mengatasi mental yang lemah dan
iman yang mudah goyah ini, maka Lembaga Pemasyarakatan Semarang,
memberikan pendidikan agama, dengan jalan mendatangkan guru agama
dari luar Lembaga, selain itu Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang
juga mengadakan bimbingan agama dengan bekerja sama dengan
Departemen Agama. Jadi, dengan demikian betapa pentingnya agama
bagi seseorang untuk dijadikan pedoman hidupnya.
115
b. Faktor Umur
Faktor umur, ternyata juga merupakan suatu faktor timbulnya
kejahatan, karena seseorang dari kecil hingga dewasa selalu mengalami
perubahan-perubahan jasmani dan rohani. Dengan adanya perubahan-
perubahan ini, maka tiap-tiap masa manusia dapat berbuat jahat, sesuai
dengan perkembangan alam pikiran serta keadaan-keadaan lainnya yang
ada di sekitarnya. Dalam kaitannya dengan faktor umur, sebagai latar
belakang timbulnya kejahatan, dari hasil penelitian penulis di Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Semarang, faktor ini sangat besar pengaruhnya
terhadap timbulnya kejahatan.
Berdasarkan dari hasil penelitian dapatlah disimpulkan, bahwa
dari 8 orang narapidana yang melakukan kejahatan terhadap nyawa,
jumlah terbesar yaitu yang dilakukan oleh narapidana wanita yang
berumur antara 17 hingga 27 tahun. Hal ini disebabkan, karena keadaan
fisik seseorang pada usia tersebut sangat kuat, sehingga kejahatan itu
cenderung dilakukan oleh mereka yang berumur antara 17 sampai dengan
27 tahun. Sehingga narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan
berdasar faktor umur dapat disimpulkan adalah sejumlah 5 orang.
Hal ini terkait dengan pendapat Thorsten Sellin, seperti penulis
kutip dalam buku kriminologi, karya Step Han Hurwits yang disadur oleh
Ny. Moeljatno sebagai berikut :
”Kecenderungan untuk berbuat anti sosial bertambah selama masih
sekolah dan memuncak antara umur 20 sampai 25, menurun perlahan-
lahan sampai umur 40, lalu meluncur dengan cepat untuk berhenti
sama sekali pada hari tua. Kurve/garisnya tidak berbeda dari garis
aktivitas lain yang tergantung dari irama kehidupan manusia” (Step
han Hurwits 1986 : 99)
116
Jadi, semakin tua umur manusia, semakin menurunlah
kecenderungan untuk melakukan suatu kejahatan. Karena, pada umur
yang semakin tua ini, makin melemahlah kekuatan fisik seseorang.
Walaupun kekuatan fisik ini, bukanlah syarat untuk melakukan suatu
kejahatan. Demikian juga dengan kejahatan pembunuhan.
c. Faktor Pendidikan
Pendidikan, sebagai salah satu faktor penyebab wanita melakukan
kejahatan pembunuhan. Pendidikan disini dimaksudkan, adalah
pendidikan formal, yaitu pendidikan di sekolah. Sejak kecil seseorang
sudah dipersiapkan untuk menjadi manusia yang baik, berguna bagi nusa
dan bangsa. Di sekolah mereka dibekali ilmu Pengetahuan, guna bekal
kehidupan di kemudian hari. Bangku sekolah tidak sekedar dipergunakan
untuk tempat mempelajari ilmu pengetahuan belaka, tetapi watak dan
kehidupan emosional akan banyak dipengaruhi pula kehidupan di
sekolah.
Seperti kita ketahui, bahwa faktor pendidikan sangat besar
pengaruhnya terhadap terjadinya kejahatan. Hal ini dikarenakan,
pendidikan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Karena makin
tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin baik kehidupannya.
Tetapi sebaliknya, apabila seseorang berpendidikan rendah, maka akan
berkurang pendapatannya serta penghidupannya.
Jadi, karena mereka tidak berpendidikan atau hanya yang sedikit
berpendidikan menengah, dalam hal ini mereka melakukan suatu
117
perbuatan yang tidak menggunakan akal sehatnya. Mereka hanya
menuruti emosinya saja. Bahkan banyak narapidana yang umumnya
kurang mengerti akibat dari perbuatannya itu.
Dari hasil penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Semarang, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa makin tingginya
pendidikan seseorang, makin sedikit kejahatan yang dilakukan. Atau
dengan kata lain, karena rendahnya pendidikan seseorang, akan
merupakan penyebab dari timbulya kejahatan. Demikian pula dengan
kejahatan pembunuhan. Walaupun pendidikan itu, kenyataannya bukan
merupakan faktor utama dalam melakukan kejahatan pembunuhan.
Karena, tidak jarang kejahatan juga dilakukan oleh orang yang
berpendidikan tinggi. Mengingat faktor pendidikan ini, maka di Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Semarang, juga diberikan pendidikan, sebagai
pembinaan bagi para narapidana tersebut. Untuk narapidana yang tidak
bisa membaca diajarkan mengikuti kejar paket A.
Faktor pendidikan merupakan faktor terbesar yang menyebabkan
seseorang melakukan kejahatan pembunuhan. Tentu saja pendidikan yang
dimaksud disini adalah pendidikan formal, yaitu pendidikan di sekolah.
Karena di bangku sekolah, mereka dibekali ilmu pengetahuan serta
ketrampilan, yang kelak menjadi bekal dikemudian hari. Selain
memberikan ilmu pengetahuan, sekolah juga membentuk watak serta
emosi seseorang.
118
Hal ini diperkuat oleh pendapat Step Han Hurwitz, mengenai
faktor pendidikan yang merupakan faktor pembentuk pribadi seseorang,
Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut ini:
”Ditinjau dari sudut kriminologi, faktor positif dari sekolah adalah: Setiap
sekolah yang baik membuat anak-anak jadi tertib bersekolah sehingga
secara langsung dan tidak langsung membentuk pribadinya”. (Step han
Hurwits 1986:117)
Berdasarkan penelitian penulis di Lembaga Wanita Semarang,
bahwa sebagian besar pelaku kejahatan pembunuhan adalah mereka yang
mengenyam pemdidikan hingga bangku Sekolah Dasar, bahkan ada yang
buta huruf. Pendidikan sangat berkaitan dengan faktor ekonomi, dimana
semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin baik
kehidupannya, begitu pula sebaliknya.
d. Faktor Ekonomi
Sebagaimana telah penulis kemukakan, bahwa faktor ekonomi
dapat menjadikan penyebab terjadinya kejahatan pembunuhan, maka
yang penulis maksudkan di sini adalah kondisi ekonomi seseorang,
sehingga sampai seorang wanita melakukan perbuatan yang melanggar
norma hukum tersebut.
Seperti petikan wawancara penulis dengan salah seorang
narapidana yang mengaku membunuh anak yang baru ia lahirkan
disebabkan karena ia tidak bekerja, sedangkan suaminya
meninggalkannya dan tidak menafkahi.
Dalam membahas faktor ekonomi, penulis memakai istilah
pekerjaan. Karena dengan istilah pekerjaan, penulis dapat memakai
119
ukuran tingkat dan status ekonomi seseorang. Sebagai contoh, dengan
status ekonomi yang tinggi tidak mungkin seseorang akan bekerja sebagai
kuli bangunan. Sebaliknya dengan status ekonomi rendah, mustahil
seseorang mempunyai pekerjaan sebagai seorang pengusaha di bidang
tertentu. Oleh karena itu, penulis menilai bahwa status ekonomi cukup
memenuhi persyaratan untuk mengetahui mampu atau tidaknya seseorang
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Faktor ekonomi berhubungan erat
dengan faktor pendidikan, karena ada kemungkinan saling menunjang.
Misalnya, seorang yang sudah berpendidikan tinggi (SMA atau perguruan
tinggi) sedikit sekali kemungkinan untuk menjadi buruh atau pembantu
rumah tangga.
Dari hasil penelitian penulis di Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Semarang, bahwa dari 8 narapidana yang melakukan kejahatan
pembunuhan, 1 orang mempunyai status ekonomi menengah. Sedangkan
sisanya yaitu 7 orang narapidana mempunyai status ekonomi rendah.
Berdasar hal tersebut, narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan
yang dilatar belakangi oleh faktor ekonomi adalah berjumlah 8 orang.
Mengenai faktor ekonomi yang merupakan faktor terbesar yang
melatar belakangi seorang melakukan kejahatan pembunuhan, diperkuat
oleh pendapat Step Han Hurwitz (Hurwitz 1996 : 112) berikut ini :
”Faktor-faktor sungguhnya dari terjadinya kejahatan adalah :
kondisi-kondisi ekonomi buruk pada golongan rakyat yang status sosial
dan ekonominya rendah dan biasanya mempunyai banyak anak. Hal ini
disebabkan kurang mendapatkan ketrampilan, lebih sering ganti
pekerjaan, lebih tinggi angka pengangguran, lebih rendah upahnya, lebih
buruk keadaan perumahan, lebih banyak kesukaran ekonomi karena tidak
sesuai penghasilan dan pengeluaran dan lain-lain”
120
Penulispun tidak menyangkal, bahwa masih banyak faktor lain
sebagai penyebab terjadinya kejahatan pembunuhan, baik faktor itu
berdiri sendiri maupun faktor yang secara bersama-sama mempengaruhi
terjadinya pembunuhan tersebut.
e. Faktor Dendam atau Jengkel
Kaum wanita yang sesungguhnya lebih banyak berperan sebagai
makhluk pembawa kebaikan, ternyata juga banyak melakukan suatu
kejahatan. Wanita yang mempunyai perangai lembut, dan berperasaan
halus juga mempunyai perasaan mudah marah dan emosi. Di sini ia
tampil sebagai manusia yang lemah, akan tetapi juga sebagai manusia
yang perkasa dengan kekuatan penuh.
Bagi seorang wanita, kejahatan yang dilakukan sering disertai
dengan dorongan emosi yang sangat tinggi, mereka jarang menggunakan
akal sehatnya. Dari sekian banyak faktor penyebab, wanita melakukan
kejahatan pembunuhan karena dendam atau jengkel inilah yang paling
dominan. Mereka menjadi dendam atau jengkel, karena sering mendapat
perlakuan yang kurang baik dari suaminya. Suami kurang memperhatikan
dirinya dan lebih memperhatikan orang lain, bahkan serong dengan
wanita lain. Sebelumnya si wanita sudah berusaha untuk bersabar dan
menerima perlakuan suaminya, akan tetapi rupanya si suami tidak mau
sadar juga. Bahkan tambah menjadi-jadi, sehingga hilanglah
kesabarannya.
121
Dr.Kartini Kartono mengemukakan pendapatnya dalam buku
Hygiene mental berikut ini :
”Jiwa yang senantiasa diliputi rasa benci, dendam, iri, curiga, sehingga
jiwanya menjadi gelisah, tegang, penuh ketakutan, lalu menjadi kacau
balau, serta diliputi bayangan fikiran dan perasaan kegilaan. Terjadilah
kemudian desintegrasi dan disorganisasi kepribadian, tanpa memiliki
rasa sosial dan rasa kemanusiaan yang wajar” (Kartini Kartono 2000 :
92).
Berdasarkan pendapat Dr.Kartini Kartono tersebut, karena hilang
rasa kemanusiannya, maka dengan nekad ia melakukan kejahatan
pembunuhan tersebut.
Seperti hasil penelitian penulis, diperoleh informasi bahwa dari 8
orang narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan, karena faktor
dendam dan jengkel terdapat 3 orang narapidana. Jadi, untuk
melampiaskan rasa dendam kesumatnya atau perasaanjengkelnya, mereka
melakukan kejahatan pembunuhan kepada orang-orang yang
bersangkutan.
Hal ini diperkuat oleh pendapat Von Liszt, seperti penulis kutip
dalam buku karangan Hurwitz berikut ini:
”....mengenai kejahatan tertentu atau pada umumnya terutama
mengenai motif-motif sehubungan dengan perbuatan nyata seperti
pembedaan yang diadakan antara motif-motif terdorong ekonomi,
hasrat seksual, balas dendam, membenci, kasihan, dan sebagainya...”
(Hurwitz 1986:148).
Jadi, faktor dendam atau jengkel ini pun, merupakan faktor
penyebab wanita melakukan kejahatan pembunuhan. Akan tetapi masih
banyak faktor lain, yang dapat menyebabkan terjadinya kejahatan
tersebut. Timbulnya faktor dendam ini, diakibatkan oleh emosi yang
122
sangat hebat, sehingga dapat menghilangkan kontrol diri seseorang. Oleh
karena itu, sebagai insan yang beragama harus bisa menahan diri dan
mengendalikan emosi.
f. Faktor Ancaman Atau Takut Pada Suami
Salah satu faktor wanita melakukan kejahatan pembunuhan, adalah
karena perasaan takut pada suami. Menurut hasil penelitian penulis,
diperoleh informasi bahwa karena takut akan ancaman suami maka
seorang wanita nekad melakukan pembunuhan.
Seorang narapidana menyatakan bahwa ia tega membunuh
seseorang karena takut akan ancaman suaminya, sebenarnya ia tidak
memiliki permasalahan dengan korban, melainkan suminya yang
memiliki masalah pribadi dengan korban, ia hanya membantu melakukan
pembunuhan tersebut, karena si suami tidak dapat menjalankan
rencananya itu sendiri.
Mengenai hal ini, tepat kiranya apabila penulis mengutip pendapat
Hans W. Gruhle mengenai kejahatan yang dilakukan bukan atas dasar
kehendak si penjahat, melainkan karena tuntutan hidup (conduct of life),
yang terdapat dalam buku Kriminologi karya Hurwitz ( Hurwitz
1986:149) berikut ini:
”seseorang melakukan kejahatan bukan karena kehendaknya sendiri,
tetapi menurut tuntutan hidup dapat disebabkan oleh :
karena neigung/ inclination/ kecenderungan; karena weakness/
kelemahan; karena passion/ nafsu/ gelora/ cinta; karena honour/
kehormatan; karena destituation/ kekurangan”.
123
Berdasarkan hal diatas, seorang wanita akan nekad melakukan
pembunuhan dikarenakan faktor ancaman atau takut pada suami, hal ini
tentu saja tidak dapat dipisahkan dari faktor lain, dimana tidak mungkin
seorang wanita akan tega melakukan pembunuhan, apabila ia tahu akibat
yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Hal ini sangat berkaitan dengan
faktor pendidikan serta faktor penghayatan terhadap agama. Seorang yang
berpendidikan tinggi pasti lebih memilih mengacuhkan ancaman
suaminya daripada harus melakukan kejahatan pembunuhan. Serta tentu
saja hal ini tidak dapat dilepaskan dari faktor penghayatan agama dimana
orang yang mampu mendalami serta menjalankan ajaran agama dengan
baik, pasti akan selalu berusaha menjalankan perintah Tuhan dan
menghindari larangannya, termasuk pembunuhan, karena hal ini
merupakan salah satu dosa besar.
g. Faktor Harga Diri
Faktor lain yang menyebabkan seorang wanita melakukan
kejahatan pembunuhan, adalah karena perasaan harga diri. Dimana
menurut hasil penelitian penulis diperoleh informasi, bahwa faktor harga
diri, pada umumnya merupakan suatu faktor wanita melakukan kejahatan
pembunuhan yang dapat diancam dengan ketentuan dalam pasal 341
KUHP.
Salah satu unsur dalam pasal 341 KUHP menyebutkan bahwa
mereka yang melakukan kejahatan pembunuhan ini, adalah wanita yang
tidak terikat dalam suatu perkawinan, tentu saja yang dimaksudkan adalah
124
perkawinan yang sah menurut hukum nasional. Jadi ia hamil di luar
perkawinan yang sah. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan 2
orang, dari 8 narapidana yang melakukan pembunuhan dikarenakan faktor
harga diri.
Seperti hasil wawancara penulis dengan salah seorang narapidana
yang tega membunuh bayi yang baru saja ia lahirkan, karena bayi
tersebut, merupakan hasil perkawinan di bawah tangan, suaminya tersebut
tidak menikahinya secara sah menurut Hukum perkawinan nasional,
selain itu suaminya pun tidak bertanggung jawab menafkahi keluarganya.
Sikap masyarakat yang tidak membenarkan seseorang hamil di luar
perkawinan yang sah, inilah yang menyebabkan serta mendorong seorang
wanita untuk menghilangkan nyawa anak yang dilahirkan atau kelak akan
dilahirkan.
Jadi, tujuan dari perbuatan itu adalah sebagai usaha untuk
menutupi perasaan malu atau untuk mempertahankan harga diri wanita
tersebut.
h. Faktor Membela Diri
Tidak ada seorang pun yang akan menerima begitu saja apabila
dirinya mendapat serangan, pasti ia akan mengadakan suatu perlawanan
untuk mempertahankan dirinya. Menurut pasal 49 (1) KUHP, yang
berbunyi:
Barang siapa terpaksa melakukan perbuatan untuk pembelaan,
karena ada serangan atau ancaman serangan ketika itu yang melawan
hukum, terhadap diri sendiri maupun orang lain; terhadap kehormatan
kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain tidak dipidana.
125
Pasal ini dikenal dengan istilah pembelaan terpaksa. Dalam
pembelaan terpaksa ini ada dua hal pokok, yaitu:
1. Ada serangan, tidak semua serangan dapat diadakan pembelaan,
melainkan pada serangan yang memenuhi syarat sebagai berikut :
a) Seketika.
b) Yang langsung mengancam.
c) Melawan hukum.
d) Sengaja ditujukan pada badan, peri-kesopanan dan harta benda.
2. Ada pembelaan yang perlu diadakan terhadap serangan itu.
Tindakan pembelaan harus memenuhi syarat:
a) Pembelaan harus dan perlu diadakan.
b) Pembelaan harus menyangkut kepentingan-kepentingan yang
disebut dengan Undang-undang peri-kesopanan dan harta benda
kepunyaan sendiri atau orang lain. (Sudarto 1990: 59)
Pasal 49 (2) KUHP, yang berbunyi :
“Pembelaan terpaksa yang melampui batas, yang langsung disebabkan
karena kegoncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman
serangan itu, tidak dipidana”.
Pasal 49 ayat 2 KUHP ini lebih dikenal dengan sebutan
“pembelaan terpaksa yang melampui batas”. Yakni merupakan perbuatan
yang dilarang, tetapi karena perbuatan tersebut sebagai akibat dari suatu
goncangan rasa yang disebabkan oleh serangan, misal naik darah, maka
perbuatan tersebut dapat dimaafkan oleh Undang-undang. Jadi, untuk
adanya tindakan ini harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Kelampauan batas yang diperlukan.
b. Pembelaan dilakukan sebagai akibat yang langsung dari kegoncangan
jiwa yang hebat (suatu perasaan hati yang panas).
c. Kegoncangan jiwa yang hebat itu disebabkan karena adanya serangan
dengan kata lain : antara kegoncangan kausal. (Sudarto 1990:61).
Seperti halnya hasil penelitian penulis diperoleh informasi, bahwa
erdapat seorang narapidana yang mengaku tidak sengaja melakukan
pembunuhan, karena berniat mengadakan pembelaan diri terhadap
126
serangan korban. Ia mengakui bahwa korban adalah mertuanya sendiri
yang suka mencampuri urusan rumah tangganya.
Tetapi menurut penulis, membela diri menurut pengertian mereka
bukanlah merupakan membela diri dalam arti yuridis seperti yang penulis
uraikan di atas. Karena pada kejadian tersebut, ia masih dapat
menghindari serangan tersebut tanpa harus melakukan pembunuhan.
Sehingga bagi narapidana tersebut, ketentuan pasal 49 ayat 1 dan 2 KUHP
tidaklah berlaku, sehingga mereka tetap dipidana.
Jadi, menurut hemat penulis, narapidana itu melakukan kejahatan
pembunuhan karena adanya unsur perasaan dendam atau jengkel yang
dipendam, sehingga pada waktu terjadi pertengkaran, mereka dengan
emosi yang meluap melampiaskan perasaan dendam atau jengkelnya
tersebut, maka terjadilah kejahatan pembunuhan.
Jadi, menurut penulis, narapidana tersebut di atas melakukan
kejahatan pembunuhan, bukan hanya karena faktor membela diri,
melainkan juga karena faktor dendam atau jengkel.
i. Faktor Kejiwaan
Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan di LP Wanita
Semarang, selain faktor-faktor yang telah penulis sebutkan di atas,
ternyata terdapat faktor yang dapat melatar belakangi seorang wanita
melakukan kejahatan pembunuhan, yaitu faktor kejiwaan atau psikologis.
Dari hasil penelitian terdapat satu orang narapidana yang melakukan
pembunuhan dikarenakan faktor kejiwaan
Salah satu faktor kejiwaan yang menyebabkan seseorang
melakukan kejahatan pembunuhan adalah disebabkan karena kekalutan
127
jiwa, hal ini terkait dengan pendapat Dr. Kartini Kartono dalam bukunya
yang berjudul Hygiene Mental, yang menyebutkan bahwa:
“Kekalutan jiwa ini kemudian memanifestasikan diri dalam tingkah
laku yang tertutup (autis), atau berwujud perilaku melarikan diri dari
kenyataan hidup, dan ingin tetap tinggal dalam dunia ilusi, fantasi, dan
halusinasi. Dapat juga dalam bentuk agresi hebat ditujukan keluar
kepada orang lain, dengan berbuat kejam-sadis, menyerang atau
membunuh atau dalam bentuk agresi ke dalam, yaitu berusaha
melakukan bunuh diri”. (Kartini Kartono 2000:41).
Jadi seorang yang mengalami kekalutan jiwa ini dapat bersikap
menyerang orang lain ataupun membunuh, serta menyakiti diri sendiri
atau bahkan melakukan bunuh diri. Seorang narapidana mengakui bahwa
ia tidak sadar telah melakukan pembunuhan terhadap anak kandungnya,
dan ia baru sadar saat berada di Rumah Sakit keesokan paginya, dan
setelah kejadian pembunuhan tersebut, ia sempat melakukan percobaan
bunuh diri.
Sehingga menurut hemat penulis, berdasarkan pendapat Dr. Kartini
Karono, serta berdasarkan hasil wawancara, faktor kejiwaan
menyebabkan seseorang dapat mengalami kekalutan jiwa, sehingga tanpa
sadar seseorang dapat melakukan agresi atau penyerangan yang dapat
membahayakan jiwa orang lain. Kemudian akibat perasaan menyesal
tersebut dapat menyebabkan jiwa seseorang semakin tertekan sehingga ia
akan nekad menyakiti diri sendri ataupun percobaan bunuh diri.
Faktor kejiwaan dapat dilatar belakangi oleh berbagai macam
faktor, dan faktor ekonomi merupakan faktor terbesar dimana seseorang
dapat mengalami depresi maupun kekalutan jiwa.
128
Menurut penulis upaya penyembuhan terhadap penyakit kejiwaan
tersebut adalah dengan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan
berusaha mendalami serta menghayati ajaran agama.
Apabila penulis amati dari hasil penelitian di Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Semarang, faktor yang paling dominan wanita
melakukan kejahatan pembunuhan, adalah karena faktor dendam atau
jengkel. Faktor-faktor lainnya adalah faktor ekonomi, rendahnya
pendidikan, harga diri, faktor takut akan ancaman suami, umur jyga
sangat mempengaruhi, faktor penghayatan agama, faktor pembelaan diri,
serta faktor kejiwaan.
Berdasarkan hal-hal yang telah penulis kemukakan diatas
mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi seorang wanita melakukan
kejahatan pembunuhan, maka hemat penulis, bahwa faktor-faktor tersebut
adalah saling berhubungan serta tidak dapat dipisahkan satu sama lain,
faktor satu menyebabkan terjadinya faktor yang lain. Seperti akibat faktor
lemahnya penghayatan agama menyebabkan jiwa seseorang labil,
sehingga ia mudah emosi. Selain itu faktor pendidikan sangat
berpengaruh terhadap keadaan ekonominya, begitulah seterusnya.
2. Pembinaan Narapidana Kejahatan Pembunuhan Di Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Kelas Iia Semarang
Menurut sistem pemasyarakatan dewasa ini, narapidana tidak hanya
dipandang sebagai individu saja, melainkan harus dipandang sebagai
129
makhluk sosial dan sekaligus anggota masyarakat. Oleh karena itu harus
diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaannya.
Guna berhasilnya pembinaan menurut sistem pemasyarakatan dewasa
ini, tidak bergantung pada narapidananya saja, akan tetapi disamping itu juga
diperlukan adanya petugas pembina yang cukup dan penuh rasa pengabdian
serta dilengkapi dengan sarana-sarana yang memadai. Salah satu hal yang
paling penting yaitu peranan masyarakat dalam rangka menerima kembali
bekas narapidana yang telah selesai menjalani pidananya. Sebagai warga
masyarakat diharapkan turut serta membantu para narapidana yang telah
selesai manjalani pidananya dalam menempuh hidup barunya.
Adapun dasar pemikiran pembinaan narapidana berpatokan pada “10
Prinsip Pemasyarakatan” yaitu : (Data sekuder LP Wanita Semarang)
a. Ayomi dan berikan bekal hidup agar mereka dapat menjalankan
peranannya sebagai warga masyarakat yang baik dan berguna.
b. Penjatuhan pidana tidak lagi didasari oleh latar belakang pembalasan,
sehingga tidak boleh ada penyiksaan terhadap narapidana dan anak didik
pada umumnya baik berupa tindakan, perlakuan, ucapan, cara perawatan
ataupun penempatannya. Satu-satunya derita yang dialami oleh napi dan
anak didik hanya dibatasi kemerdekaannya untuk bergerak dalam
masyarakat bebas.
c. Berikan bimbingan (bukan penyiksaan) supaya mereka bertobat. Berikan
kepada mereka pengertian mengenai norma-norma hidup dan kegiatan-
kegiatan sosial untuk menumbuhkan rasa hidup kemasyarakatannya.
d. Negara tidak berhak membuat mereka menjadi lebih buruk atau lebih
jahat daripada sebelum dijatuhi pidana. Salah satu diantaranya agar tidak
mencampur narapidana dengan anak didik yang melakukan tindak pidana
berat dengan yang ringan dan sebagainya.
e. Selama kehilangan (dibatasi) kemerdekaan bergeraknya para napi dan
anak didik tidak boleh diasingkan dari masyarakat. Perlu ada kontrak
dengan masyarakat yang terjelma dalam bentuk kunjungan hiburan ke
lapas dan rutan / cubrutan oleh anggota masyarakat bebas dan kesempatan
yang lebih banyak untuk berkumpul bersama sahabat dan keluarga.
f. Pekerjaan yang diberikan kepada napi dan anak didik tidak boleh bersifat
sekedar pengisi waktu. Juga tidak boleh diberikan pekerjaan untuk
130
memenuhi keperluan jawatan atau kepentingan negara kecuali pada waktu
tertentu saja. Pekerjaan yang terdapat di masyarakat dan yang menunjang
pembangunan seperti meningkatkan industri kecil dan produksi pangan.
g. Pembinaan dan pembimbingan yang diberikan kepada napi dan anak
didik adalah berdasarkan Pancasila. Hal ini berarti bahwa kepada mereka
harus ditanamkan semangat kekeluargaan dan toleransi disamping
meningkatkan pemberian rohani kepada mereka diserta dorongan untuk
menunaikan ibadah sesuai dengan kepercayaan agama yang dianutnya.
h. Narapidana atau anak didik bagaikan orang sakit yang perlu diobati agar
mereka sadar bahwa pelanggaran hukum yang pernah dilakukannya
adalah merusak dirinya, keluarganya, dan lingkungannya, sehingga perlu
dibina / dibimbing ke jalan yang benar. Selain itu mereka harus
diperlakukan sebagai manusia biasa yang memiliki harga diri agar
tumbuh kembali kepribadiannya yang percaya akan kekuatan sendiri.
i. Narapidana dan anak didik hanya dijatuhi pidana berupa membatasi
kemerdekaannya dalam jangka waktu tertentu.
j. Untuk pembinaan dan pembimbingan para napi dan anak didik maka
disediakan sarana yang diperlukan.
Sepuluh Prinsip Pemasyarakatan tersebut, menjadi dasar pemberian
pembinaan kepada napi di Lembaga Pemasyarakatan agar kelak ia dapat
kembali diterima serta bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarganya serta
masyarakat, serta tidak akan mengulangi perbuatannya dahulu.
Berdasarkan hal di atas, maka pembinaan narapidana di dalam
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang ini dibagi menjadi 4 tahap
pembinaan, yaitu :
a. Tahap Pembinaan
1) Tahap Pertama
Tahap ini, merupakan tahap pembinaan permulaan bagi
narapidana yang dilaksanakan sekurang-kurangnya 1/3 dari masa
pidana yang sebenarnya. Tahap ini bertujuan supaya aparat atau
petugas mengetahui bakat serta minat narapidana untuk nantinya akan
131
diarahkan sesuai dengan bakat yang dimilikinya tersebut. Selain hal
tersebut tahap ini juga merupakan tahap orientasi pengenalan
lingkungan Lembaga Pemasyarakatan kepada para narapidana.
2) Tahap Kedua atau tahap pembinaan lanjutan.
Tahap pembinaan lanjutan ini, diberikan kepada narapidana
yang sudah mengalami masa pidana diatas 1/3 sampai sekurang-
kurangnya ½ dari masa pidana yang sebenarnya. Dalam tahap ini,
mereka diarahkan sesuai bakat serta minat yang mereka miliki pada
ketrampilan tertentu. Selain itu mereka juga mulai diberikan tanggung
jawab sebagai anggota masyarakat yang berada di lingkungan
Lembaga Pemasyarakatan Wanita.
3) Tahap Ketiga atau tahap asimilasi.
Tahap ketiga merupakan tahap asimilasi atau tahap pembinaan
lanjutan diberikan kepada narapidana yang telah menjalani proses ½
sampai sekurang-kurangnya 2/3 dari masa pidana yang sebenarnya.
4) Tahap Keempat atau tahap integrasi.
Pada tahap keempat ini merupakan tahap pembinaan lanjutan
yang hanya boleh diberlakukan kepada para narapidana yang telah
menjalani lebih atau diatas 2/3 masa pidana yang sebenarnya sampai
akhir masa pidana. Pada tahap ini narapidana telah diizinkan untuk
mengunjungi keluarganya pada hari-hari tertentu seperti hari raya.
Serta pemberian pembebasan bersyarat serta cuti menjelang bebas.
Setiap akhir tahapan pembinaan, diadakan suatu sidang yang
dinamakan sidang TPP (Tim Pengamat Pemasyarakatan). Sidang ini
132
bertujuan mengevaluasi perkembangan napi selama pemberian
pembinaan serta pembimbingan pada tahap tertentu dan untuk
menentukan kegiatan kerja yang akan diikuti napi pada tahap
pembinaan selanjutnya.
b. Kegiatan Pembinaan
Kegiatan pembinaan terhadap narapidana di lembaga
pemasyarakatan wanita Semarang sangat beragam, kegiatan ini meliputi :
1) Pendidikan mental / agama.
Pendidikan mental / agama bertujuan memperteguh serta
menambah iman seseorang. Pembinaan di bidang agama ini meliputi
berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan agama serta keyakinan
para narapidana.
2) Pendidikan Umum serta Kejuruan.
Pembinaan di bidang pendidikan ini bertujuan untuk
meningkatkan wawasan, pengetahuan, serta intelektualitas
narapidana.
3) Pembinaan Kemandirian
Pembinaan kemadirian diarahkan pada pembinaan bakat dan
ketrampilan, supaya para narapidana setelah selesai masa
pemidanaannya dapat kembali berperan sebagai anggota masyarakat
yang produktif, kreatif, serta mandiri.
4) Pembimbingan Latihan Olahraga / Kesegaran jasmani (Pembinaan
Fisik / Jasmani)
133
Kegiatan olahraga merupakan suatu hal yang positif bagi
pembinaan narapidana, karena selain dapat meningkatkan kesehatan
fisik bagi narapidana, juga secara rohani atau kejiwaan dapat menjadi
suatu hiburan tersendiri di tengah masa pemidanaan. Selain itu
kegiatan pembinaan jasmani juga dapat meningkatkan semangat,
prestasi serta pengalaman para narapidana di bidang olahraga.
5) Pembinaan Bidang Kesenian
Pembinaan di bidang seni disesuaikan dengan bakat serta
minat masing-masing narapidana.
6) Pelayanan di bidang Kemasyarakatan
Selain memberikan pembinaan dan pembimbingan bagi
narapidana, LP wanita Semarang juga mengadakan pelayanan-
pelayanan terhadap narapidana, yang meliputi :
Pelayanan terhadap narapidana yang ingin melaksanakan surat
menyurat serta mengusulkan asimilasi bagi narapidana yang telah
mencapai ½ dari masa pemidanaan serta telah memenuhi syarat-syarat
tertentu. Pelayan juga meliputi pengusulkan pembebasan bersyarat
(PB) serta cuti menjelang bebas (CMB) bagi narapidana yang
sekurang-kurangnya telah mencapai 2/3 dari masa pidana sebenarnya.
7) Pelayanan Kesehatan dan Perawatan Narapidana
Pelayanan di bidang ini bertujuan supaya narapidana yang
kondisinya sedang sakit, akan memperoleh pengobatan serta
penanganan secara cepat.
134
Berdasarkan hal-hal yang telah penulis kemukakan diatas mengenai
tahap-tahap pembinaan serta kegiatan-kegiatan pembinaan yang diadakan di
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang, bahwa pembinaan terhadap
seluruh narapidana adalah sama, dan tidak ada perbedaan, termasuk bagi
narapidana yang melakukan kejahatan pembunuhan. Perbedaan hanya
terletak pada pengawasan yang menyesuaikan lama masa pemidanaanmasing-
masing narapidana.
Menurut hemat penulis, pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan
Wanita Semarang sangat baik, namun sayangnya masih terdapat sedikit
hambatan serta kendala, khususnya terhadap hasil pekerjaan narapidana.
Hambatan-hambatan tersebut antara lain :
1) Tidak adanya suatu wadah di luar lingkungan Lembaga Pemasyarakatan
yang khusus menampung serta menyalurkan hasil-hasil pekerjaan serta
ketrampilan narapidana. Hasil-hasil pekerjaan tersebut hanya dipajang dan
dipamerkan serta di pasarkan terbatas di lingkungan Lembaga
Pemasyarakatan , serta tidak dipasarkan secara profesional padahal hasil
pekerjaan para narapidana ini, tidak kalah mutu dengan yang dihasilkan
oleh masyarakat.
2) Kurang terlibatnya pihak swasta dalam proses pembinaan. Hal ini terlihat
dari masih minimnya para pengusaha yang menjadi instruktur pada saat
proses pembinaan ketrampilan serta pembinaan kerja. Instruktur ataupun
tenaga pengajar berasal dari pihak intern Lembaga Pemasyarakatan ataupun
para LSM, dan sangat jarang dari para pengusaha ataupun kalangan yang
berasal dari suatu perusahaan swasta.
135
3) Kurangnya pemberian modal usaha yang menunjang pekerjaan para
narapidana. Bahan baku serta peralatan kerja berasal dari pihak intern
Lembaga Pemasyarakatan dan kurang ditunjang dengan jumlah modal yang
besar.
4) Kurangnya promosi terhadap hasil kerja para narapidana di masyarakat,
sehingga masyarakat kurang antusias bahkan tidak mangenal hasil kerja
para narapidana.
136
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis membahas latar belakang kejahatan pembunuhan yang
dilakukan oleh wanita serta pembinaannya di Lembaga Pemasyarakatan
Semarang seperti yang telah penulis uraikan dalam bab-bab sebelumnya, maka
pada bagian akhir skripsi ini adalah penutup dari pada penulisan skripsi ini. Pada
bagian akhir dari skripsi ini akan penulis kemukakan beberapa kesimpulan dan
saran-saran.
Dari uraian bab-bab yang terdahulu penulis memperoleh kesimpulan
sebagai berikut :
1. Latar belakang kejahatan wanita melakukan kejahatan pembunuhan tentunya
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan atau berhubungan.
Faktor tersebut merupakan gabungan dari faktor-faktor yang meliputi :
a. Lemahnya penghayatan kepada agamanya ;
b. Pengaruh umur ;
c. Faktor pendidikan ;
d. Faktor ekonomi ;
e. Faktor dendam atau jengkel ;
f. Faktor takut kepada suami ;
g. Faktor harga diri ;
h. Faktor membela diri ;
i. Faktor kejiwaan.
136
137
2. Upaya-upaya pembinaan bagi para narapidana wanita dilakukan dalam
berbagai tahap, yaitu : tahap admisi dan orientasi pada 1/3 masa pidana,
dilanjutkan dengan tahap yang kedua yakni tahap pembinaan lanjutan pada
1/3 sampai dengan ½ masa pidana, tahap ketiga adalah tahap asimlasi yaitu
pada saat menjalani ½ hingga 2/3 masa pidana, serta yang terakhir ialah tahap
integrasi yaitu bagi narapidana yang telah menjalani 2/3 masa pidana hingga
bebas.
Upaya pembinaan bagi narapidana wanita antara satu dengan yang lain
adalah sama sesuai dengan hak-hak narapidana yang telah diatur dalam
Undang-undang nomor 12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan, tak terkecuali
bagi yang melakukan kejahatan pembunuhan. Kegiatan-kegiatan ini
meliputi:
a. Pembinaan mental / agama ;
b. Pendidikan umum serta kejuruan ;
c. Pembinaan kemandirian yaitu meliputi pembinaan bakat dan ketrampilan;
d. Pembinaan dan latihan olahraga dan kesegaran jasmani ;
e. Pembinaan di bidang kesenian ;
f. Pelayanan di bidag kemasyarakatan ;
g. Pelayanan kesehatan dan perawatan narapidana.
3. Kendala serta hambatan-hambatan dalam proses pembinaan di Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Semarang, antara lain :
a. Tidak adanya suatu wadah di luar Lembaga Pemasyarakatan yang
menampung hasil kerja para narapidana.
138
b. Kurang terlibatnya pihak swasta dalam proses pembinaan di Lembaga
Pemasyarakatan.
c. Kurangnya pemberian modal usaha yang menunjang pekerjaan
narapidana.
d. Kurangnya promosi terhadap hasil kerja para narapidana di masyarakat.
B. Saran-saran
Setelah penulis mengemukakan kesimpulan tentang penyebab wanita
melakukan kejahatan pembunuhan serta pembinaannya di Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Semarang, akhirnya penulis dapatlah memberikan saran-
saran yang merupakan sumbangan pikiran terhadap masalah tersebut, yaitu :
1. Perlu adanya suatu wadah di luar Lembaga Pemasyarakatan yang
menampung hasil produksi atau hasil kerja narapidana.
2. Perlu ditingkatkan keterlibatan pihak swasta, khususnya dalam proses
pembinaan atau latihan kerja
3. Perlu adanya perhatian lebih khusus terutama mengenai masalah permodalan
usaha atau produksi.
4. Perlu adanya suatu pengenalan produk atau promosi untuk mengenalkan hasil
produksi kepada khalayak luas.
139
LATAR BELAKANG KEJAHATAN PEMBUNUHAN
YANG DILAKUKAN WANITA SERTA CARA PEMBINAANNYA
DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KLAS I A
SEMARANG
(Studi Kasus di Kota Semarang)
Skripsi
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Universitas Negeri Semarang
Oleh
Sista Agastyasti
NIM: 3450401029
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN
2006
140
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini telah di setujui oleh Pembimbing untuk diajukan kesidang panitia skripsi
ujian skripsi pada:
Hari :
Tanggal:
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Abdul Rasyid W. M.Ag Drs. Suhadi, M.Si
NIP: 130607620 NIP: 132067383
Mengetahui
Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan
Drs. Eko Handoyo,M.Si
NIP: 131764048
ii
141
PENGESAHAN KELULUSAN
Skripsi ini telah dipertahankan didepan panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Sosial,
Universitas negeri Semarang pada:
Hari :
Tanggal:
Penguji Skripsi
Anggota I Anggota II
Drs. Abdul Rasyid W, M.Ag Drs. Suhadi M.Si
NIP: 130607620 NIP : 132067383
Mengetahui
Dekan
Drs. Sunardi
NIP: 130367998
iii
142
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil
karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau
seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip
atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Semarang
Waspiah
NIM. 3450401068
iv
143
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari
kebenaran” ( QS. Ali Imron:135 )
“Orang yang arif bijaksana itu suka memaafkan kesalahan orang lain. Karena ia
insyaf bahwa setiap yang berakal selalu mencari kebenaran. Dan setiap orang selalu
mencari kebenaran, maka dalam hidup dan kehidupannya pasti ia menemui kesulitan.
Jika ia menghadapi kesulitan tentu orang lainpun akan demikian juga halnya. Maka
sudah pada tempatnyalah orang yang bersalah itu dimaafkan” ( Avicenna )
Skripsi ini ku persembahkan untuk:
Ayah dan Bunda tercinta
Kakak-kakakku dan adik-adikku tersayang
Ketiga ponakanku ( Ara, Bintang, Zaki ) yang lucu-lucu
Sahabat-sahabatku yang setia dalam suka maupun duka ( Yuli dan Sista )
Angkatan 2001
Almamaterku
v
144
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas Rahmat,
hidayah, dan RidhoNya, sehingga penulisan skripsi dengan judul Pembinaan
Narapidana Melalui Sistem Pemasyarakatan Kaitannya Dengan Hak-Hak Narapidana
Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang, dapat diselesaikan.
Selesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari peran beberapa pihak. Pada
kesempatan ini, Penulis menyampaikan terima kasih atas bimbingan, arahan dan
bantuan kepada:
1. DR. H. AT. Soegito, SH. MM, Rektor Universitas Negeri Semarang
2. DRS. Sunardi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang
3. DRS. Eko Handoyo, M.Si, Ketua jurusan Hukum dan Kewarganegaraan
Universitas Negeri Semarang
4. Drs. Addul Rasyid W. M.Ag, Dosen Pembimbing I yang membantu dan
membimbing sehingga selesainya penulisan skripsi ini
5. Drs. Suhadi, M.Si Dosen pembimbing II yang membantu dan sabar dalam
membimbing penulisan skripsi ini
6. F. Sutomo Rahardjo, Bc. IP, S.ip. MM Koordinator Urusan Pemasyarakatan
Departemen Kehakiman dan HAM Jawa Tengah
7. Widiatiningrum Bc. IP. SH Kepala Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas
IIA Semarang
8. Susana Tri Agustin Bc. IP Kepala Subseksi BIMPAS di Lembaga
Pemastarakatan Wanita Klas IIA Semarang.
9. Segenap karyawan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang
vi
145
10. Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang
11. Ayah Bunda, kakak-kakakku serta adik-adikku tersayang yag telah
memberikan kasih sayang kepadaku.
12. Semua pihak yang telah membantu demi selesainya skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas budi dan bantuan serta bimbingan yang
telah diberikan dalam penulisan skripsi ini. Dengan kerendahan hati, penulis terbuka
menerima saran dan kritik yang membangun, yang akan memperbaiki skripsi ini
menjadi lebih sempurna.
Harapan penulis, semoga skripsi ini berguna bagi para pebaca yang
budiman.
Semarang, 2006
Penyusun
vii
146
SARI
Waspiah 2006. Pembinaan Narapidana Kaitannya dengan Hak-Hak Narapidana Di
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Halaman: 92
Kata Kunci: Pola Pembinaan, Narapidana Wanita, Hak-Hak Narapidana
Hak-hak narapidana Wanita sebagai warga Negara Indonesia yang hilang
kemerdekaannya karena melakukan tindak pidana, haruslah dilakukan sesuai dengan
Hak Asasi Manusia. Sering dijumpai dalam Lembaga Pemasyarakatan bahwa hak
narapidana belum diberikan sesuai dengan hak mereka sebagai warga Negara. Hal ini
desebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kurang dipahaminya peraturan
mengenai hak-hak narapidana yang tertuang dalam undang-undang oleh petugas
Lembaga Pemasyarakatan atau bahkan oleh para narapidana sendiri.
Permasalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah ( 1 ) bagaimanakah
praktek penyelenggaraan pembinaan narapidana wanita menurut Undang-Undang no.
12 tahun 1995 mengenai Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas
IIA Semarang. (2) Bagaimanakah perlindungan yang diberikan oleh Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Semarang Klas IIA Semarang terhadap narapidana wanita.
Penelitian ini bertujuan ( 1 ) untuk mengetahui informasi tentang pelaksanaan
pembinaan narapidana sesuai dengan undang-undang No.12 tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan. (2) untuk memperoleh informasi tentang pembinaan narapidana
berkaitan dengan hak-haknya di Lembaga Pemasyarakatan wanita Kelas IIA
Semarang. Penelitain ini menggunakan metode penelitian kualitatif . Lokasi dalam
penelitian ini adalah Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Alat
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, observasi dan
wawancara. Data ini dikumpulkan dengan menggunakan metode analisis interaktif
dan disajikan dalam bentuk data yang bersifat deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hak-hak narapidana diberikan dengan
adanya pembatasan-pembatasan pada hak-hak tertentu. Adapun untuk kegiatan
pembinaan dalam lembaga meliputi pendidikan agama, rekreasi, ketrampilan dan
olah raga. Untuk kegiatan diluar lembaga meliputi cuti menjelang bebas dan
pembebasan bersyarat. Secara umum para narapidana merespon kegiatan pembinaan
dan memandang bahwa kegiatan tersebut masih diperlukan agar mereka mempunyai
bekal baik mental, fisik, maupun sosial yang baik.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan secara umum praktek
penyelenggaraan pembinaan narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Klas IIA Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang
pemasyarakatan, secara khusus ada beberapa hal yang kurang sesuai antara lain
dibatasinya informasi khususnya dari majalah dan koran. Secara umum perlindungan
hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA
Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang
pemasyarakatan secara khusus ada hal-hal yang tertentu yang dalam prakteknya
dibatasi seperti dibatasinya tontonan televisi yang hanya pada acara-acara tertentu
saja, kurangnya bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan.
Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan pentingnya mensosialisasikan
kegiatan pembinaan narapidana pada masyarakat, sebagai salah satu unsur partisipasi
masyarakat dengan mengikutsertakan seluruh kemampuan dan dana masyarakat
viii
147
untuk ikut peduli terhadap kegiatan pembinaan narapidana, misalnya dengan cara
masyarakat berperan sebagai penyelenggara pemeran untuk memasarkan karya
ketrampilan para narapidana. Pentingnya peran kalangan swasta sebagai pihak ketiga
untuk ambil bagian dalam proses pembinaan narapidana dengan mengadakan kerja
sama dalam proses pemasyarakatan narapidana, misalnya pihak swasta membantu
menyediakan sarana ketrampilan dan sebagai timbal baliknya para narapidana
dipekerjakan pihak swasta tersebut.
ix
148
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................. i
PERSETUJUAN ....................................................................................... ii
PENGESAHAN ...................................................................................... iii
PERNYATAAN....................................................................................... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................ v
PRAKATA............................................................................................... vi
SARI....................................................................................................... viii
DAFTAR ISI............................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xii
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................ 1
B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah ..................................... 5
C. Perumusan Masalah ................................................................ 7
D. Tujuan Penelitian .................................................................... 7
E. Kegunaan Penelitian ............................................................... 8
F. Sistematika Penulisan Skripsi ................................................. 8
BAB II LANDASAN TEORI ................................................................. 10
A. Pengertian Tindak Kejahatan ................................................ 10
B. Sistem Pemasyarakatan........................................................ 11
C. Lembaga Pemasyarakatan Wanita ........................................ 13
D. Hak dan Kewajiban Narapidana............................................ 14
x
149
E. Pembinaan Narapidana ......................................................... 18
BAB III METODE PENELITIAN ......................................................... 26
A. Metode Penelitian ................................................................. 26
B. Lokasi Penelitian................................................................... 26
C. Fokus Penelitian .................................................................... 27
D. Sumber Data Penelitian......................................................... 27
E. Alat dan Tehnik Pengumpulan Data .................................... 29
F. Pemeriksaan Keabsahan data ................................................ 33
G. Metode Analisis Data............................................................ 34
H. Prosedur Penelitian ............................................................... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................ 39
A. Hasil Penelitian ..................................................................... 39
B. Pembahasan........................................................................... 83
BAB V PENUTUP.................................................................................. 89
A. Kesimpulan ........................................................................... 89
B. Saran...................................................................................... 89
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 91
LAMPIRAN-LAMPIRAN
xi
150
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Proses Analisis Data
xii
151
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran : 1. Struktur Organisasi Lembaga Pemasyarakatan
2. Jadual Warga Binaan
3. Daftar Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Per September 2005
4. Daftar Responden dan Informan
5. Daftar Pemberian Ransum atau Menu
6. Daftar tata tertib, kewajiban dan hak bagi narapidana di Lembaga
Pemasyarakatan.
7. Pedoman Wawancara
8. Surat Permohonan Izin Penelitian
9. Surat Permohonan Izin Penelitian Dari Departemen Kehakiman Dan
HAM Jawa tengah
10. Surat keterangan telah melaksanakan penelitian
xiii
Related docs
Other docs by cometjunkie44
Get documents about "