I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang by cometjunkie44

VIEWS: 1,551 PAGES: 17

									           PERSPEKTIF PEMBERITAAN TENTANG TERORISME DI INDONESIA
          (ANALISIS WACANA KOMPARASI DI HARIAN UMUM REPUBLIKA DAN
                                 KOMPAS)

                                           Heri Budiyanto 1)
Abstract
Terrorism is the issue that becomes the public discourse after the bomb incident in
the several places in Indonesia. Islam related with the particular discourse, some
people relate islam pragmatism with the terror activities. The discourse cannot be
detached from the roles of the mass media as a mass communication channel. In
delivering the discouse about terrorism, media ideology one of the strong
determinant faktors in the process of messages construction.

Key words: terorisme and ideology media


I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
        Penggerebekan yang dilakukan Detasemen 88 Anti Teror Markas Besar
Polisi Republik Indonesia terhadap tersangka teroris yang akhirnya
menewaskan Dr. Azahari Bin Husin di sebuah villa di Kota Batu Malang Jawa
Timur pada Bulan Nopember 2005 lalu, kembali menarik minat media massa
untuk menyajikan dan memuat pemberitaan tentang terorisme. Terorisme
merupakan isu lama yang menjadi wacana publik setelah berbagai kejadian
pengeboman di berbagai tempat di Indonesia.
        Pelaku Bom Bali I dan II maupun Bom Kuningan mengaku bahwa apa
yang mereka lakukan adalah untuk menegakkan kebenaran dan membela
ajaran Islam. Hal ini jugalah yang menyebabkan wacana yang berkembang
bahwa teroris dikaitkan dengan Islam. Bahkan negara-negera luar seperti
Amerika Serikat, Australia, dan Inggris selalu memojokkan Indonesia dan
Islam walau kemudian dibantah dalam dengar pendapat antara Komisi I DPR
dengan Tiga Duta Besar yakni Amerika Serikat Lyn B. Pascoe, Dubes Inggris
Charles Humfrey, dan Dubes Australia David Ritchie1.
        Munculnya wacana tentang terorisme yang dikaitkan dengan Islam
tidak terlepas dari peran media massa sebagai saluran komunikasi bagi
khalayak luas.
    Media tidak hanya menyampaikan informasi tetapi yang paling penting
adalah media massa dapat membentuk image (citra) bagi objek yang
diberitakannya. Apa yang menjadi pemberitaan yang disiarkan maupun
disajikan oleh media massa tidaklah terlepas dari visi, misi, ideologi,
kepentingan ekonomi mapun politik dari media yang bersangkutan. Bahkan
media massa kerap dijadikan sarana pertikaian dan objek perebutan bagi
kelompok-kelompok tertentu dan penguasa. Pertama media memiliki

1
     Republika, Bahas Terorisme, Komisi I Panggil Tiga Dubes, Rabu 16 Nopember 2005.
1)
     Dosen Fikom, Universitas Mercu Buana
     (email: heribudiyanto@mercubuana.ac.id)
                                                                                    108
konsekuensi dan nilai ekonomi, serta merupakan objek persaingan untuk
memperebutkan kontrol dan akses. Kedua, media massa sering dipandang
sebagai alat kekuasaan yang efektif karena mampu untuk melakukan hal-hal
berikut: menarik dan mengarahkan perhatian, membujuk pendapat dan
anggapan, mempengaruhi pilihan dan sikap, memberikan status dan
legitimasi, mendefinisikan dan membentuk persepsi realitas (Eriyanto,
2005).
        Gejala-gejala yang terkandung dalam pemberitaan media massa
dapat diselidiki dan diketahui dengan beberapa metode, salah satu
diantaranya adalah analisis wacana kritis. Metode ini memandang bahwa
wacana yang mengemuka pada teks berita tidak bergantung hanya pada
masalah kebahasaan saja, tapi juga menghubungkannya dengan konteks
peristiwa yang melatarbelakangi pemberitaan tersebut. Konteks tersebut
adalah ideologi media dan kekuasaan. Hal inilah yang menjadi alasan penulis
dalam memilih analisis wacana kritis dalam penelitian ini.
        Harian Umum Republika dan Kompas merupakan dua media nasional
yang masih terus bertahan dan dapat dikategorikan eksis sampai hari ini.
Republika yang didirikan pada pada tahun 1993 oleh cendikiawan muslim di
bawah bendera ICMI dan Kompas didirikan tahun 1965 atas desakan Bung
Karno kepada Partai Katholik.
        Analisis ini akan dilakukan pada pemberitaan tentang terorisme pada
Harian Umum Republika dan Kompas periode Bulan Nopember 2005, karena
pada periode tersebut isu terorisme kembali mengemuka dengan tewasnya
Dr. Azahari Bin Husin yang disinyalir sebagai tokoh teroris di Indoensia dalam
sebuah penggerebekan di Kota Batu Malang Jawa Timur.

1.2. Perumusan Masalah
      Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan
permasalahan dalam penelitian ini adalah:
     1. Seperti apakah Harian Umum Republika dan Kompas memaknai
     realitas pemberitaan tentang terorisme di Indonesia?
     2. Apakah terdapat kelompok-kelompok yang termarjinalkan dalam
     pemberitaan Harian Umum Republika dan Kompas tentang terorisme?

1.3. Tujuan Penelitian
          Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:
     1. Untuk mengetahui cara yang dilakukan Harian Umum Republika dan
     Kompas dalam memaknai realitas dalam pemberitaan tentang terorisme
     di Indonesia.
     2. Untuk mengetahui adakah kelompok-kelompok tertentu yang
     termarjinalkan dalam pemberitaan tentang terorisme di Indonesia pada
     Harian Umum Republika dan Harian Umum Kompas.



Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006              Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme
109
II. TINJAUAN PUSTAKA
Politik Pemberitaan: Sosiologi Media
          Faktor yang sangat mempengaruhi media dalam pembentukan
wacananya adalah sosiologi media. Dari faktor ini terlihat jelas bahwa
proses pembentukan berita (news room), dipandang bukan sebagai ruang
yang hampa, netral yang seakan-akan hanya menyalurkan informasi yang di
dapat.
          Proses pembentukan berita adalah proses yang rumit dan banyak
faktor dan potensi yang dapat mempengaruhinya. Ruang pemberitaan
dipandang bukan sebagai ruang hampa, karena banyak kepentingan dan
pengaruh yang dapat mengintervensi media. Sehingga niscaya akan terjadi
pertarungan dalam memaknai realitas dalam presentasi media.
          Berdasarkan hal tersebut diatas, apa yang disajikan media, pada
dasarnya adalah akumulasi dari pengaruh yang beragam. Menurut pakar
sosiologi media Soemaker dan Reese (1991), ada lima faktor yang
mempengaruhi pengambilan keputusan dalam ruang pemberitaan yang
berdampak jelas pada kebijakan redaksi, antara lain:
          Pertama, faktor individual. Faktor ini berhubungan dengan latar
belakang potensial dari pengelola media. Latar belakang individu, jenis
kelamin, seperti jenis kelamin, umur, atau agama, sedikit banyak akan
mempengaruhi apa yang ditampilkan media.
          Kedua, faktor rutinitas media. Faktor ini berhubungan dengan
mekanisme dan proses penentuan berita. Setiap media umumnya
mempunyai ukuran tersendiri tentang apa yang disebut berita, apa ciri
berita yang baik, atau apa kriteria kelayakan berita. Ukuran tersebut adalah
rutinitas media yang berlangsung tiap hari dan menjadi prosedur standar
bagi pengelola media yang berada di dalamnya. Rutinitas media juga
berhubungan dengan mekanisme bagaimana berita dibentuk. Sebagai
mekanisme yang menjelaskan begaimana berita diproduksi, rutinitas media
karenanya mempengaruhi bagaimana wujud akhir sebuah berita.
          Ketiga, faktor organisasi. Pengelola media dan wartawan adalah
bukan orang yang tunggal yang ada dalam organisasi media, sebaliknya ia
adalah bagian kecil dari organisasi media. Setiap organisasi media, selain
mempunyai banyak elemen juga mempunyai tujuan dan filosofi organisasi
sendiri. Berbagai elemen tersebutlah yang pada akhirnya mempengaruhi
bagaimana seharusnya wartawan bersikap, dan bagaimana juga seharusnya
peristiwa disajikan dalam berita.
          Keempat, faktor ideologi. Ideologi dalam hal ini diartikan sebgai
kerangka berfikir atau referensi yang dipakai oleh individu untuk melihat
realitas dan bagaimana mereka menentukannya. Ideologi ini berhubungan
dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas. Dalam
faktor ini ideologi akan dilihat lebih kepada yang berkuasa di masyarakat
dan bagaimana media menentukan.
          Kelima, faktor ekstramedia. Faktor yang berhubungan dengan
lingkungan di luar media, meskipun berada di luar organisasi media, hal-hal
Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme           Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006
                                                                                     110
di luar organisasi media sedikit banyak mempengaruhi pemberitaan media
termasuk dalam lingkungan di luar media:
     1. Sumber berita, dalam hal ini sumber berita dipandang bukanlah
     sebagai pihak yang netral yang memberikan informasi apa adanya.
     2. Sumber penghasilan media. Sumber penghasilan media bisa dari
     iklan, bisa juga berupa pelanggan atau pembeli media.
     3. Pihak eksternal seperti pemerintah dan lingkungan bisnis. Pengaruh
     ini sangat ditentukan oleh warna dari masing-masing lingkungan
     eksternal media.

III. METODE PENELITIAN
        Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Wacana
yaitu sebuah metode penelitian yang termasuk kedalam paradigma kritis.
Sedangkan pendekatan yang digunakan metode analisis wacana model Roger
Fowler dkk, yang termasuk kedalam kategori analisis bahasa kritis atau
critical linguistic adalah melihat bagaimana gramatika bahasa membawa
posisi dan makna ideology tertentu. Dalam membangun model analisisnya,
Roger Fowler dkk berpijak pada penjelasan Halliday (1985), mengenai
struktur dan fungsi bahasa.

3.1. Rancangan Kategorisasi
          Rancangan kategorisasi yang digunakan dalam penelitian terdiri atas:
1). Kosa Kata
          1.     Membuat klasifikasi adalah bagaimana sebuah peristiwa yang
          begitu    kompleks,    disederhanakan     dan    suatu   peristiwa
          dikategorisasikan sebagai ini, dan akhirnya dibedakan dengan yang
          lainnya.
          2.      Membatasi pandangan adalah kosa kota pada dasarnya
          membatasi pandangan, kita diajak berfikir untuk memahami seperti
          itu, bukan yang lain. Kosa kata berpengaruh terhadap bagaimana kita
          memaknai suatu realitas. Hal ini karena khalayak tidak mengalami
          atau mengikuti suatu peristiwa secara langsung. Karena itu, ketika
          membaca kosa kata tertentu, akan dihubungkan dengan peristiwa
          tertentu.
          3.     Pertarungan wacana adalah kosa kata harus dipahami sebagai
          pertarungan wacana. Dalam suatu pemberitaan, setiap pihak
          mempunyai versi atau pendapat sendiri-sendiri atas suatu masalah.
          4.      Marjinalisasi adalah bagaimana peristiwa dan aktor yang
          terlibat dalam peistiwa tersebut dibahasakan.

2). Tata Bahasa
          1.                 Efek bentuk kalimat pasif: penghilangan
          pelaku. Dengan mengubah kalimat ke dalam bentuk pasif, seorang
Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006               Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme
111
          pelaku bukan hanya disembunyikan, tetapi dapat juga dihilangkan
          dalam pemberitaaan.
          2.                   Efek   nominalisasi: penghilangan   pelaku.
          Penghilangan pelaku dapat juga dihilangkan dengan cara membuat
          verba menjadi nomina. Artinya bukan lagi kegiatan atau tindakan
          yang ditekankan tetapi adalah peristiwa.

3.2. Populasi
        Populasi adalah merupakan serumpun atau sekelompok objek yang
menjadi sasaran penelitian. Populasi merupakan keseluruhan dari objek
penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuhan, udara, gejala,
nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya sehingga objek-objek tersebut
dapat dijadikan sumber data penelitian.
        Adapun populasi dalam penelitian ini adalah berita-berita tentang
terorisme selama bulan Nopember 2005 yang dimuat oleh Harian Umum
Republika yaitu sebanyak 11 berita dan Kompas sebanyak 15 berita.

3.3. Sampel
        Sampel adalah sebagian dari populasi. Dalam penelitian ini sampel
penelitian diambil dengan teknik total sampling, mengingat jumlah populasi
yang tergolong kecil. Adapun secara kongrit sampel dalam penelitian ini
disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 1. Harian Umum Republika

 No Edisi                                                  Judul Berita
                                     Kapolri: Dr. Azahari Tewas, Evakuasi jenazah akan
  1    Kamis, 10 Nop 2005
                                     dilangsungkan hari ini
  2    Jum’at, 11 Nop 2005 Azahari sudah saatnya hilang
                                     Tubuh Azahari diambil sample; Presiden berharap
  3    Minggu, 13 Nop 2005
                                     masyarakat kini bias tidur lebih tenang
                                     Polisi bidik gudang amunisi Azahari; Warga menuntut
  4    Senin, 14 Nop 2005            pembuktian informasi yang bersumber dari tersangka
                                     penipuan jual beli motor itu
  5    Senin, 14 Nop 2005            Polisi Bekasi periksa pendatang di perbatasan
  6    Senin, 14 Nop 2005            Bersilat lidah soal sidik jari Dr. Azahari
  7    Selasa, 15 Nop 2005           Polisi sinyalir ada rencana pengeboman saat Natal
  8    Rabu, 16 Nop 2005             Bahas Terorisme, Komisi I pangggil Tiga Dubes
  9    Rabu, 16 Nop 2005             VCD pengakuan pembom Bali akan disebarkan
  10 Rabu, 16 Nop 2005               Polwil Bogor gelar sweeping antisipasi terorisme
  11 Senin, 21 Nop 2005              Islam jadi korban Terorisme; Padahal korban bom di
Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme                            Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006
                                                                                                112
                                       Indonesia kebanyakan beragama Islam

Tabel 2. Harian Umum Kompas

  No                Edisi                                  Judul Berita
     1                                  Kepala Polri: Dr. Azahari Tewas: Para tersangka ter-
         Kamis, 10 Nop 2005
                                        oris sudah tiga bulan tinggal di Villa
     2                                  Teror bom pasca penggerebekan kelompok radikal
         Kamis, 10 Nop 2005
                                        makin aktif
     3   Kamis, 10 Nop 2005             Terorisme: Berakhirnya pelarian The Demolition Man
     4   Jum’at, 11 Nop 2005            Terorisme: Tewasnya Azahari tidak kurangi ancaman
     5   Jum’at, 11 Nop 2005            Dr. Azahari akhirnya tewas
     6   Jum’at, 11 Nop 2005            Teroris, tetangga yang baik hati
     7   Sabtu, 12 Nop 2005             Rumah Digerebek, ditemukan 50 butir peluru
     8   Sabtu, 12 Nop 2005             Tewasnya Dr. Azahari “Tragedi 911”
     9                                  Belum ada permintaan pemulangan jenazah:
         Sabtu, 12 Nop 2005
                                        Keluarga Dr. Azahari hanya bias pasrah
  10     Minggu, 13 Nop 2005            Bom rakitan Azahari ditemukan di hutan
  11     Senin, 14 nop 2005             Tewasnya Azahari: Pihak keluarga belum yakin
  12     Rabu, 16 Nop 2005              Keluarga azahari dipersilahan datang
  13                                    Keluraga Azahari minta maaf: Jenazah akan
         Kamis, 17 Nop 2005
                                        dimakamkan di Malaysia
  14     Jum’at, 18 Nop 2005            Pemakaman Azahari ditanggapi mendua
  15     Selasa, 29 Nop 2005            Dubes Malaysia bantah danai Noordin Top dan Azahari

3.4. Fokus Penelitian
        Penelitian menggunakan analisis wacana kritis dengan analisis bahasa
kritis. Objek yang diteliti adalah realitas tentang terorisme yang dimuat di
media massa. Oleh karena itu yang menjadi sorotan dlam penelitian ini
adalah perilaku media dalam memaknai realitas terorisme tersebut, yaitu
kecenderungan kosa kata dan tata bahasa yang dipilih oleh media dalam
menggambarkan tentang terorisme di Indonesia.
        Dengan demikian, maka pada analisis wacana berita pada penelitian
ini akan memfokuskan pada elemen-elemen dan fungsi kebahasaan seperti
pada Tabel 3 dibawah ini:

Tabel 3. Elemen-elemen dan Fungsi Kebahasaan

 No               Elemen                                     Indikator
 1       Kosa Kata                           •   Membuat klasifikasi
                                             •   Membatasi pandangan
                                             •   Pertarungan wacana
                                             •   Marjinalisasi
 2       Tata Bahasa                         •   Efek bentuk kalimat pasif

Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006                          Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme
113
                                           •   Efek nominalisasi

3.5. Analisis Data
         Analisis data dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut:
     1. Peneliti mengumpulkan semua data yang diperlukan sebagai bahan
     analisis. Kemudian menentukan unit analisis, kategorisasi, data fokus
     penelitian dengan menggunakan struktur Roger Fowler dkk.
     2. Membedah struktur teks berita sesuai dengan fakus penelitian yang
     telah ditetapkan yaitu menggunakan kerangka analisis Roger Fowler dkk
     yaitu melihat praktik pemakaian bahasa yang dipakai. Ada dua hal yang
     yang bisa diperhatikan menurut Roger Fowler dkk yaitu:
     Pertama: Level kata: Bagaimana peristiwa dan aktor-aktor yang terlibat
     dalam peristiwa tersebut hendak dibahasakan. Kata-kata di sini bukan
     hanya penandaan atau identitas tetapi dihubungkan dengan ideologi
     tertentu, makna apa yang diinginkan kepada khalayak. Pihak mana yang
     diuntungkan dengan pemakaian kata-kata tersebut dimana pihak atau
     kelompok mana yang dirugikan dan posisinya termarjinalkan.
     Kedua: Level susunan kata atau kalimat: Bagaimana kata-kata disusun ke
     dalam bentuk kalimat tertentu dimengerti dan dipahami bukan semata
     sebagai persoalan teknis kebahasaan, tetapi praktik bahasa. Yang
     ditekankan di sini bagaimana pola penggabungan, penyusunan tersebut
     menimbulkan efek tertentu: membuat posisi satu pihak lebih
     diuntungkan atau mempunyai citra positif dibandingkan dengan pihak
     lain.
     3. Dengan kerangka analisis Roger Fowler, penulis melakukan analisis
     dan menjabarkannya ke dalam hasil penelitian.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Terorisme di Indonesia
        Persoalan terorisme di Indonesia mulai mencuat ke permukaan ketika
terjadi peristiwa Bom Bali I yang terjadi pada Oktober 2002 yang
menghancurkan Paddy”s Café dan Sari Club Denpasar Bali yang menewaskan
ratusan orang temasuk warga negara asing. Selain itu berbagai peristiwa
teror serupa terjadi yakni JW. Mariot di Kuningan Jakarta yang dikenal
dengan Bom Kuningan 9 September 2003, berbagai Bom yang meledak di
beberapa gereja dan kedutaan besar Autralia, dan yang terakhir Jimbaran
Bali yang dikenal dengan Bom Bali II.
        Aksi teror di Tanah Air mendapat perhatian dunia internasional
terutama Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Hal itu tentu saja tidak
mengejutkan kita semua sebagai warga Indonesia, karena memang isu
terorisme memang mencuat ketika terjadi peristiwa World Trade Centre
(WTC) di Amerika Serikat yang menewaskan ribuan orang.
        Dunia Internasional dan termasuk Indonesia sepakat bahwa aksi
terror yang dilakukan oleh siapa pun di muka bumi ini adalah tindakan yang
Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme                       Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006
                                                                                           114
tidak dapat dibenarkan. Karena selain menimbulkan rasa tidak aman, korban
jiwa dalam jumlah besar sewaktu-waktu akan terjadi dengan adanya aksi
teror.
         Peristiwa 11 September di Amerika Serikat telah menggiring khalayak
luas dalam hal ini masyarakat dunia mempunyai pemikiran bahwa terorisme
atau aksi teror terkait dengan Agama Islam. Wacana ini berkembang terus-
menerus sampai ke Indoensia, walaupun berbagai kalangan Islam dunia
maupun di Indonesia membantah bahwa terorisme terkait dengan Islam,
apalagi terkait dengan ajaran-ajaran dalam Islam. Walaupun pelaku-pelaku
teror mengaku beragama Islam, dan mengklaim apa yang mereka lakukan
adalah benar, tetap saja ajaran Islam mengutuk adanya aksi-aksi kekerasan
apalagi pembunuhan.
         Di Indonesia, pelaku aksi teror mulai teridentifikasi ketika peristiwa
Bom Bali I Oktober 2002. Pihak kepolisian berhasil mengungkap pelaku-
pelaku teror diantaranya Iman Samudra, Amrozi, dan Ali Imron. Dari
Pengakuan Ali Imron diketahui bahwa peracik Bom Bali I adalah Dr. Azahari
Bin Husin seorang Doctoral yang pernah mengajar di University Of
Technology Malaysia. Sejak saat itu Dr. Azahari bersama Noordin M Top yang
juga berkebangsaaan Malaysia (keduanya merupakan tokoh penting Jamaah
Islamiyah di Asia) sebagai aktor atau otak berbagai peristiwa pengeboman di
Indonesia2.
         Sejak saat itu Dr. Azahari dan Noordin M Top dijadikan buronan oleh
Polisi Indonesia. Upaya pengejaran dan penangkapan terus di upayakan oleh
Polisi untuk menimbulkan rasa aman dimasyarakat. Tepat 9 Nopember 2005,
polisi berhasil menggerebek tempat persembunyian Dr. Azahari dan
kelompoknya yang berujung pada tewasnya sang doktor. Namun pelaku teror
lainnya Noordin M Top belum berhasil ditangkap sampai saat ini.
         Wacana mengenai terorisme kembali mengemuka atau mencuat di
media massa Indoensia ketika tokoh penting yang di sebut-sebut Ali Imron
sebagai peracik Bom Bali I Dr. Azahari tewas dalam sebuah penggerebekan
oleh Polisi di sebuah Villa di Jalan Flamboyan di Kota Batu Malang Jawa
Timur. Pemberitaan yang kembali marak tersebut memasuki babak baru bagi
pertarungan wacana di masyarakat yang disebarkan melalui media.
         Dr. Azahari yang identik dengan teroris. Di atas dijelaskan bahwa
nama Dr. Azahari, orang yang dituduh oleh kepolisian paling
bertanggungjawab akan terjadinya aksi terorisme di Indonesia. Kenyataan
tersebut sebenarnya bukanlah sebuah pengakuan Dr. Azahari sendiri, tetapi
nama Dr. Azahari muncul disebut-sebut oleh para eksekutor teror Bom yang
tertangkap oleh polisi. Dalam sebuah negara hukum, asas paraduga tak
bersalah harus dipegang teguh sebagai perangkat hukum sebelum men-
justifikasi seseorang atau kelompok orang bersalah.
         Peneliti menemukan setidaknya ada tiga wacana yang mengemuka
dari pemberitaan di media massa khususnya Harian Umum Republika dan
Kompas pada periode Nopember 2005 yaitu (1) isu terorisme yang dikaitkan
dengan Islam (isu lama), (2) tewasnya Dr. Azahari, orang yang diduga

2
    Kompas, Berakhirnya Pelarian “The Demolition Man”, Kamis, 10 Nopember 2006.

Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006                     Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme
115
sebagai gembong terorisme di Indonesia, dan (3) belum tertangkap dan
terungkapnya anggota kelompok teroris lainnya yaitu Noordin M Top dan
anggota lainnnya.
       Dalam penelitian ini peneliti hanya melihat dua wacana yang
mengemuka dalam pemberitaan media yaitu isu terorisme yang dikaitkan
dengan Islam dan tewasnya Dr. Azahari bin Husin.

4.2. Kosakata
1). Membuat Klasifikasi
      Berdasarkan analisa pada kategori ini tergambar seperti disajikan
pada Tabel 4 dan Tabel 5 berikut:

Tabel 4. Harian Umum Republika
                                                                Klasifikasi          Klasifikasi
         Edisi                             Judul
                                                                (Pro Islam)        (Kontra Islam)
 Kamis,                    Kapolri: Dr. Azahari Tewas       -                      -
 10 Nopember 2005          Evakuasi jenazah akan
                           dilangsungkan hari ini
 Jum’at,                   Azahari sudah saatnya hilang     Prihatin Stigma        -
 11 Nopember 2005                                           terhadap Islam
                                                            adalah teroris
 Minggu,                   Tubuh Azahari diambil            -                      -
 13 Nopember 2005          sample; Presiden berharap
                           masyarakat kini bias tidur
                           lebih tenang
 Senin,                    Polisi bidik gudang amunisi      -                      -
 14 Nopember 2005          Azahari; Warga menuntut
                           pembuktian informasi yang
                           bersumber dari tersangka
                           penipuan jual beli motor itu
 Senin,                    Polisi Bekasi periksa            -                      -
 14 Nopember 2005          pendatang di perbatasan
 Senin,                    Bersilat lidah soal sidik jari   -                      -
 14 Nopember 2005          Dr. Azahari
 Selasa,                   Polisi sinyalir ada rencana      -                      -
 15 Nopember 2005          pengeboman saat Natal
 Rabu,                     Bahas Terorisme, Komisi I        Terorisme bukan        -
 16 Nopember 2005          pangggil Tiga Dubes              gerakan Islam
 Rabu,                     VCD pengakuan pembom Bali        -                      -
 16 Nopember 2005          akan disebarkan
 Rabu,                     Polwil Bogor gelar sweeping      -                      -
 16 Nopember 2005          antisipasi terorisme
 Senin,                    Islam jadi korban Terorisme;     Islam jadi korban      -
 21 Nopember 2005          Padahal korban bom di            terorisme
                           Indonesia kebanyakan             Orang Islam jadi
                           beragama Islam                   korban terorisme
                                                            Pendeskreditan
                                                            terhadap Islam
                                                            Menggobok-obok
                                                            pesantren
Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme                           Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006
                                                                                                 116

Tabel 5. Harian Umum Kompas
                                                           Klasifikasi               Klasifikasi
     Edisi                         Judul
                                                           (Pro Islam)             (Kontra Islam)
 Kamis,            Kepala Polri: Dr. Azahari Tewas:    -                       -
 10 Nop 2005       Para tersangka teroris sudah tiga
                   bulan tinggal di Villa
 Kamis,            Teror bom pasca penggerebekan       Kelompok radikal
 10 Nop 2005       kelompok radikal makin aktif        yang dimanfaat-kan
                                                       jaringan in-telejen
                                                       negara industri
                                                       besar.
 Kamis,            Terorisme: Berakhirnya pelarian     -                       Terpesona dengan
 10 Nop 2005       The Demolition Man                                          revolusi Islam
                                                                               Mendalami Agama,
                                                                               dan belajar ke
                                                                               Mindanao dan
                                                                               Afganistan dan
                                                                               belajar agama di
                                                                               (MILF)
                                                                               Terlibat organisasi
                                                                               kumpulan muja-
                                                                               hidin Malaysia
 Jum’at,           Terorisme: Tewasnya Azahari         -                       -
 11 Nop 2005       tidak kurangi ancaman
 Jum’at,           Tajuk Rencana:Dr. Azahari           -                       -Disebut-sebut
 11 Nop 2005       akhirnya tewas                                              sumber gerakan dan
                                                                               tempat latihan di
                                                                               Afganistan dan
                                                                               Mindanao
 Jum’at,           Teroris, tetangga yang baik hati                            -Rajin Shalat dan
 11 Nop 2005                                                                   Tarawih
 Sabtu,            Rumah Digerebek, ditemukan 50                               -Ditemukan buku-
 12 Nop 2005       butir peluru                                                buku Islam
                                                                               -Ustadz “Mujayat”
 Sabtu,            Tewasnya Dr. Azahari “Tragedi       -                       -
 12 Nop 2005       911”
 Sabtu,            Belum ada permintaan                -                       -
 12 Nop 2005       pemulangan jenazah: Keluarga
                   Dr. Azahari hanya bisa pasrah
 Minggu,           Bom rakitan Azahari ditemukan       -                       Kalender bertulis-
 13 Nop 2005       di hutan                                                    kan Pondok Pesan-
                                                                               tren Al Islam Te-
                                                                               nggulun Lamongan
 Senin,            Tewasnya Azahari: Pihak             -                       Persis bulan puasa
 14 nop 2005       keluarga belum yakin
 Rabu,             Keluarga azahari dipersilahan       -                       “Munawar”Tidur di
 16 Nop 2005       datang                                                      Mushala
                                                                               Buku ttg Jihad
 Kamis,            Keluarga Azahari minta maaf:        -                       -
 17 Nop 2005       Jenazah akan dimakamkan di
                   Malaysia
 Jum’at,           Pemakaman Azahari ditanggapi        -                       Penderitaan
 18 Nop 2005       mendua                                                      Masyarakat muslim
 Selasa,           Dubes Malaysia bantah danai         -                       -


Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006                           Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme
117
 29 Nop 2005      Noordin Top dan Azahari
       Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan terhadap kosakata:
membuat klasifikasi bagaimana sebuah peristiwa yang begitu kompleks,
disederhanakan dan suatu peristiwa dikategorisasikan sebagai ini, dan
akhirnya dibedakan dengan yang lainnya. Dari tabel diatas terlihat bahwa
Harian Umum Republika dalam mengkonstruksikan pemberitaannya lebih
condong pada kategorisasi klasifikasi Pro Islam.
       Hal itu ditunjukkan dengan penggunaan kosakata “prihatin terhadap
stigma kepada Islam merupakan teroris” yang dimuat pada Edisi Jum’at, 11
Nopember 2005, dengan Judul Azahari sudah saatnya hilang. Kosakata yang
digunakan tersebut merupakan keprihatinan atas pertarungan wacana yang
berkembanga di masyarakat bahwa Islam dicap sebagai teroris. Bahkan
wacana yang dibangun oleh negara-negara Barat seperti Amerika Serikat,
Australia, dan Inggris pasca peristiwa 11 September di WTC sangatlah
menyudutkan Islam.
        Kemudian pada pemberitaan edisi Rabu, 16 Nopember 2005 dengan
judul Bahas Terorisme, Komisi I pangggil Tiga Dubes, Republika
menggunakan kosakata “terorisme bukan gerakan Islam”. Pada pemberitaan
ini Republika mengangkat Dengar Pendapat antara Komisi I DPR dengan tiga
duta besar yakni Amerika Serikat, Australia, dan Inggris tekait dengan isu
terorisme yang mendeskreditkan Islam.
       Lalu pada pemberitaan edisi Senin, 21 Nopember 2005 dengan Judul
Islam jadi korban Terorisme; Padahal korban bom di Indonesia kebanyakan
beragama Islam, tergambar sangat jelas konstruksi yang dilakukan oleh
Republika bahwa Islam merupakan korban terorisme, padahal di Indonesia
korban sangat banyak menimpa orang Islam. Hal ini menggambarkan bahwa
Republika dalam mengkonstruksikan pemberitaannya sangat sensitive
terhadap isu atau wacana yang berkembang di benak khalayak bahwa teroris
adalah Islam.
       Hal ini sangat berbeda dengan konstruksi pemberitaan yang dilakukan
oleh Harian Umum Kompas. Dari 15 pemberitaan tentang terorisme selama
bulan Nopember 2005 yang ada di Kompas, khususnya tentang tewasnya Dr.
Azahari Bin Husin orang yang diduga sebagai otak dibalik pengeboman di
sejumlah tempat di Indonesia. Berdasarkan analisis penulis bahwa sebagaian
besar pemberitaan mengandung kosakata yang membuat klasifikasi pada
kategori Kontra Islam.
       Hal itu terlihat dari pemberitaan-pemberitaan yang dikonstruksikan
memuat kosa-kata yang terkait dengan ajaran maupun istilah dalam Islam.
Misalnya terlihat pada pemberitaan Edisi Kamis, 10 Nopember 2005 dengan
Judul Terorisme: Berakhirnya pelarian The Demolition Man. Sebenarnya
pemberitaan tersebut secara garis besar mengupas tentang sosok dan
perjalanan seorang Dr. Azahari dari seorang Dosen di UTM Malaysia hingga
diburu-buru polisi Indonesia.
       Dari kosakata klasifikasi yang digunakan banyak sekali yang terkait
dengan istilah Islam misalnya “terpesona dengan revolusi Islam” atau
“mendalami Agama, dan belajar ke Mindanao dan Afganistan dan belajar
Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme          Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006
                                                                                                118
agama di Moro Islamic Liberation Front (MILF)”. Dari kosakata yang
digunakan tersebut menyiratkan bahwa terpesona dengan revolusi Islam
dapat menyebabkan seseorang menjadi teroris. Dan dari kosakata belajar
Agama di Afganistan dan Mindanao bias menyebabkan orang diduga sebagai
teroris. Seperti diketahui bahwa Afganistan adalah negara muslim yang
besar. Sedangkan Mindanao adalah suatu daerah di Filipina yang sampai saat
ini terus berjuang untuk menegakkan ajaran Islam di Filipina.
        Paling menarik pemberitaan yang ditulis oleh Kompas pada bulan
Nopember adalah Kompas menulis Tajuk Rencana terkait dengan tewasnya
Dr. Azahari dengan Judul “Dr. Azahari akhirnya tewas” edisi Jum’at, 11
Nopember 2005. Pada tajuk atau sikap Kompas ini kembali menggunakan
kosakata “Disebut-sebut sumber gerakan dan tempat latihan di Afganistan
dan Mindanao”, yang notabene klasifikasi yang digunakan dan dimaksud oleh
Kompas adalah basis Islam.
2). Pertarungan Wacana
    Kategori ini bermaksud melihat kosa kata harus dipahami sebagai
pertarungan wacana. Dalam suatu pemberitaan, setiap fihak mempunyai
versi atau pendapat sendiri-sendiri atas suatu masalah.

Tabel 6. Pertarungan Wacana

  Peristiwa                   Versi Republika                         Versi Kompas
                   Mengutip pendapat Ketua Umum PP         Sosok Azahari adalah lulusan S1
                   Muhammadyah Din Syamsuddin “            Enggenering di Adelaide Australia dan
                   Azahari dan Noordin M Top bukan         lulus 1979, dan pada tahun itu
                   dalang utama aksi teror di Indonesia.   banyak mahasiswa yang terpesona
                   Ia merasa ada pihak tertentu dibalik    dengan revolusi Islam. Sosok Azahari
                   ini semua. “Kita harus berfikir siapa   juga mendalami Agama, dan belajar
                   yang mendapat untung dari aksi teror    ke Mindanao dan Afganistan dan
                   tersebut. Saya yakin ada pihak yang     belajar agama di Moro Islamic
                   tidak ingin Indonesia bangkit dan       Liberation Front (MILF) dan terlibat
 Wacana            maju di masa mendatang”, kata Din.      organisasi    kumpulan      mujahidin
 Islam             (Edisi Jum’at, 11 Nopember 2005)        Malaysia. (Edisi Kamis, 10 Nopember
 terkait                                                   2005)
 Teroris           Dalam menangani kasus terorisme         Aksi teror kini telah berkembang
                   hendaknya berhati-hati, dan tidak       sebagai gerakan internasional. Aksi
                   membuat masalah baru dengan             teror Di Indonesia telah menjadi
                   memunculkan stigma terhadap ajaran      bagian     dari     jaringan    teror
                   tertentu.     Pemerintah,     jangan    internasional. Sering disebut-sebut
                   memberikan stigma terhadap umat         sumbernya sebagai gerakan dan
                   Islam,        apalagi      kemudian     tempat latihan, seperti Afhganistan
                   memunculkan anggapan bahwa ini          dan Mindanao. (Tajuk Rencana Edisi,
                   dilakukan oleh Veteran Afghanistan.     11 Nopember 2005)
                   (Edisi Jum’at, 11 Nopember 2005)
                   Islam jadi korban Terorisme; Padahal
                   korban bom di Indonesia kebanyakan
                   beragama Islam (Edisi Senin, 21
                   Nopember 2005)

Sumber: Analisis Peneliti

Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006                          Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme
119

        Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap peristiwa wacana Islam
terkait terorisme yang dikonstruksikan oleh Kompas dan Republika terdapat
perbedaan yang sangat signifikan. Harian Umum Republika mensinyalir
bahwa apa yang dilakukan oleh kelompok Azahari dan Noordin M Top dalam
melakukan aksi teror di Indoensia, ada pihak-pihak yang mendapatkan
untung dari aksi teror tersebut. Sebenarnya Kompas juga menulis hal yang
sama dalam menanggapi aksi teror yang dilakukan oleh kelompok Azahari
yakni pada pemberitaan Kompas edisi Kamis, 10 Nopember 2005 dengan
judul Pasca Penggerebekan Kelompok Radikal Makin Aktif. Pada pemberitaan
tersebut Kompas mengutip pernyataan Pengamat Intelejen AC, Manulang.
Menurutnya “dari segi organisasi akan muncul kelompok pimpinan baru.
Untuk menghentikan aksi teror yang bias saja ditunggangi jaringan intelejen
internasional dari negeri Industri, aparat harus mengontrol aksi aktor
intelektual intelejen asing di Indonesia.
        Analisa yang paling mendasar adalah pada wacana bahwa ada
keterkaitan alumni Afghanistan dan Mindanao dengan jaringan terorisme di
Indonesia. Republika secara tegas mengutip pernyataan Din Syamsudin
bahwa jangan ada stigma terhadap Islam dalam menangani masalah
terorisme, termasuk di dalamnya jangan ada yang manganggap veteran
Afghanistan dengan terorisme. Hal itu tentu saja sangat berbeda dengan
Kompas yang mengkonstruksikan lewat sikapnya yang ditulis pada Tajuk
Rencana yang mengetengahkan tulisan           bahwa aksi teror kini telah
berkembang sebagai gerakan internasional. Aksi teror Di Indonesia telah
menjadi bagian dari jaringan teror internasional. Sering disebut-sebut
sumbernya sebagai gerakan dan tempat latihan, seperti Afhganistan dan
Mindanao.

3). Marjinalisasi
       Kategorisasi marjinalisasi membahas bagaimana peristiwa dan aktor
yang terlibat dalam peistiwa tersebut dibahasakan. Berdasarkan analisis
yang dilakukan, terlihat pada Tabel 7 dibawah ini:

Tabel 7. Marjinalisasi
                                                Keterangan
    Jenis Harian                    Aktor                                 Peristiwa
                                                  Aktor
                           Dr. Azahari       Disebut-sebut otak     Pengeboman
 Republika                                   serangkaian aksi

                           Dr. Azahari       Gembong teroris        Pengeboman
                                             The Demolition         disejumlah tempat
 Kompas                                      Man
                                             Otak pelaku            Pengeboman
                           Sugiyanto alias   Ustadz Mujayat         Memburu teroris
                           Abu Madjid

Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme                   Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006
                                                                                  120
Sumber: Analisa Peneliti

        Berdasarkan analisa yang dilakukan bahwa aktor utama yang telibat
pada peristiwa terorisme di Indonesia adalah Dr. Azahari bin Husin seorang
berkebangsaan Malaysia. Pada pemberitaan Republika dan Kompas
sepanjang bulan Nopember 2005 nama Azahari mendominasi setiap berita.
Nama-nama lain seperti Noordin M Top, Cholily, Suwanji, Yahya (Orang-
orang yang diduga terlibat jaringan teroris), kemudian muncul juga nama-
nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kapolri Jenderal Polisi Sutanto,
AC Manulang (pengamat intelejen), Din Syamsudin (Ketua PP Muhammadya)
dan beberapa nama lain tapi orang-orang tersebut bukan aktor utama dalam
pemberitaan dan wacana terorisme di Indonesia.
        Dr. Azahari merupakan aktor utama yang di wacanakan oleh
Republika dan Kompas dalam pemberitaan mengenai isu terorisme pada
Bulan Nopember 2005. Peristiwa penggerebekan yang dilakukan Detasemen
88 Mabes Polri yang dilakukan di Batu Malang Jawa Timur menewaskan
Azahari dan seorang temannya yang disebut-sebut bernama Arman.
        Azahari disebut-sebut oleh Ali Imron sebagai peracik bom yang
meledakkan sari Club dan Paddy’s Café di Denpasar Bali yang dikenal dengan
peristiwa Bom Bali I. Sejak itu, nama Azahari banyak mewarnai pemberitaan
media massa termasuk Republika dan Kompas terkait isu teror bom di
Indonesia.
        Harian Umum Republika          dalam menulis keterangan pelaku
menggunakan kata “disebut-sebut otak serangkaian aksi”. Kata “disebut-
sebut” dikonstruksikan oleh Republika mengacu pada realitas bahwa yang
menyebutkan Azahari sebagai otak pelaku katerorisme di Indonesia adalah
kepolisian sebagai pihak yang bertanggungjawab pada keamanan. Harian
Umum Kompas sangat berbeda dalam mengkonstruksikan pemberitaan
mengenai aktor atau pelaku utama kasus terorisme di Indonesia. Azahari
dibahasakan sebagai “Gembong Teroris” paling dicari kepolisian, “The
Demolition Man” atau “Si Penghancur”, dan “Otak pelaku” pengeboman.
Pada pemberitaan Kompas juga memuat penggerebekan sebuah rumah di
Kompleks kaliwungu Kendal Jawa Tengah (Kompas, Edisi Sabtu 12 Nopember
2006) yang mengkonstruksikan pemilik rumah Sugianto alias Abu Madjid
dengan keterangan pelaku sengan kata “Ustadz Mujayat”.

4.3. Tata Bahasa
1). Efek Bentuk Kalimat Pasif
    Kategorisasi efek bentuk kalimat pasif adalah titik perhatian yang ingin
dikomunikasikan adalah objek bukan subjek. Berdasarkan analisa ditemukan
satu kalimat yang ditulis dalam headline pada Harian Umum Kompas Edisi
Sabtu 12 Nopember 2005 dengan judul Memburu Teroris: Rumah Digerebek,
Ditemukan 50 Butir Peluru. Pada kalimat yang tertera pada Tabel 8, Kompas
tidak mementingkan subjek (pelaku) atau pemilik rumah maupun tersangka
teroris tetapi lebih menekankan pada aspek objek yaitu kondisi rumah dan


Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006            Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme
121
keadaan disekeliling tempat kejadian perkara. Pada Tabel 8, peneliti
menebalkan (Bold) kata-kata “buku-buku Islam”.

Tabel 8. Efek Bentuk Kalimat Pasif
Jenis Harian                               Judul                    Kalimat
Republika               -                               -
Kompas                  Memburu     Teroris:  Rumah     Sebuah rumah di Kompleks Per-
                        Digerebek, Ditemukan 50 Butir   umahan     Kaliwungu     Indah,
                        Peluru                          Kendal Jawea Tengah, Jum’at
                                                        (11/11) pukul 14.30, digerebek
                                                        anggota Detasemen 88 Mabes
                                                        Polri. Dibawah tempat tidur di
                                                        rumah itu ditemukan 40 butir
                                                        peluru pistol. Ditemukan pula
                                                        buku-buku Islam, buku Imam
                                                        Samudra, buku merakit senjata
                                                        api, beberapa keping VCD, dan
                                                        tiga buah sangkur (Edisi Sabtu,
                                                        12 Nopember 2005)
Sumber: Analisa Peneliti

2). Efek Nominalisasi
        Kategorisasi ini bermaksud melihat gambaran suatu tindakan dan
partisipan dibentuk dalam kata benda, umumnya mengubah kata kerja
(verba) ke dalam kata benda (nomina).    Berdasarkan     analisa      yang
dilakukan untuk isu terorisme di Harian Umum Republika dan Kompas
peneliti tidak menemukan kalimat yang diubah berdasarkan kategorisasi ini.

V. KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan
1.               Kosakata: klasifikasi Harian Umum Republika mengandung
   kosakata yang membuat klasifikasi pada kategori Pro Islam. Sementara
   itu Harian Umum Kompas lebih condong kepada klasifikasi kontra Islam.
2.                Kosakata: membatasi pandangan Harian Umum Republika
   mengkonstruksikan kosakata perang yang lebih dominan menentang
   wacana yang menyebutkan bahwa aksi terorisme terkait dengan ajaran
   Islam. Sementara itu Kompas membatasi pandangan khalayak dengan
   menggunakan kosakata penghalusan “kelompok radikal” dan
   “radikalisme agama”.
3.                 Kosakata: pertarungan wacana terkait wacana Islam
   terkait terorisme yang dikonstruksikan oleh Kompas dan Republika
   terdapat perbedaan yang sangat signifikan. Harian Umum Republika
   mensinyalir bahwa apa yang dilakukan oleh kelompok Azahari dan
   Noordin M Top dalam melakukan aksi teror di Indonesia, tidaklah terkait
   pada ajaran Islam dan jangan mengkaitkan alumni alumni Afghanistan
Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme                    Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006
                                                                                   122
   dan Mindanao dengan jaringan terorisme di Indonesia. Hal itu tentu saja
   sangat berbeda dengan Kompas yang mengkonstruksikan lewat sikapnya
   yang ditulis pada Tajuk Rencana yang mengetengahkan tulisan bahwa
   aksi teror kini telah berkembang sebagai gerakan internasional. Aksi
   teror Di Indonesia telah menjadi bagian dari jaringan teror internasional.
   Sering disebut-sebut sumbernya sebagai gerakan dan tempat latihan,
   seperti Afhganistan dan Mindanao.
4.               Kosakata:    Marjinalisasi   Harian     Umum      Republika
   menggunakan kosakata yang tidak secara langsung memarjinalkan tokoh
   Azahari sebagai otak pelaku pengeboman di berbagai tempat di
   Indonesia. Republika menggunakan kosakata “disebut-sebut”. Sementara
   itu Harian Umum Kompas sangat berbeda dalam mengkonstruksikan
   pemberitaan mengenai aktor atau pelaku utama kasus terorisme di
   Indonesia yang lebih tegas dalam pemberitaannya.
5.                Tata Bahasa: efek kalimat pasif Harian Umum Republika
   tidak ditemukan kalimat pasif. Sementara pada Harian Umum Kompas
   terdapat satu edisi yang menggnakan kalimat pasif. Efek yang
   ditimbulkan dari kalimat tersebut selain penghilangan pelaku adalah
   adanya penekanan ditemukannya barang-barang dilokasi kejadian
   termasuk buku-buku ajaran Islam. Hal ini tentu saja membawa dampak
   pada citra negatife kepada Islam.
6.               Ideologi media sangat menentukan cara media tersebut
   dalam mengkonstruksikan pesannya. Harian Republika sangat menetang
   isu atau wacana yang menyatakan bahwa islam terkait dengan terorisme.
   Sementara itu Kompas memang tidak secara eksplisit menyatakan ada
   keterkaiatan antara Islam dengan aksi terorisme di Indonesia. Namun
   pada pemberitaannya terdapat kosakata dan kalimat yang
   dikonstruksikan yang memarjinalkan Islam.

5.2. Saran
Sebagai media nasional, hendaknya Harian Umum Republika dan Kompas
tidak terlalu berpihak pada sumber-sumber kekuatan dari luar media
maupun ideologi media sendiri. Objektifitas dan keseimbangan berita
menjadi sangat penting agar khalayak pembaca mendapatkan pemberitaan
yang baik dan benar.

VI. DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Prenada Media.
        Jakarta.
Eriyanto. 2005. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Cetakan ke-
         4. LKiS. Yogyakarta.
Pamela J. Shoemaker And Stephen D. Reese, 1991. Mediating The Message:
        Theories Of Influence On Mass Media Content, Longmann
        Publishing Group, New York And London.


Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006             Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme
123
Quail, Mc Dennis and Windahl Sven. 1993. Communications Models.
         Longman.
Quail, Mc Dennis. 1996. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Erlangga.
         Jakarta.
Republika, 2005. Bahas Terorisme, Komisi I Panggil Tiga Dubes, Rabu 16
         Nopember
Shoemaker, Pamela J. And Stephen D. Reese, 1991. Mediating The Message:
       Theories Of Influence On Mass Media Content, Longmann Publishing
       Group, New York And London.
Sudibyo, Agus. Politik Media dan Pertarungan Wacana. LKiS. Yogyakarta.
                                           -oOo-




Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme           Bulletin Penelitian No.10 Tahun 2006

								
To top