PENGARUH PEMIKIRAN ISLAM INTERNASIONAL TERHADAP PERKEMBANGAN HUKUM
W
Document Sample


PENELITIAN II
PENGARUH PEMIKIRAN ISLAM INTERNASIONAL TERHADAP
PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA
Oleh :
Wati Rahmi Ria
ABSTRAK
Pertumbuhan dan perkembangan hukum Islam di dunia sudah mengalami beberapa
periode yang telah mengukir historis tersendiri. Diawali dengan lahirnya Islam di sebuah
kawasan yang masyarakatnya hidup pada kondisi jahiliyah hingga akhirnya mengalami
puncak keemasannya. Walau bukan sebagai negara yang terkatagori lebih dahulu
mengenal Islam, namun realitanya kini Indonesia merupakan sebuah negara dengan
kwantitas muslim terbesar di dunia. Salah satu faktor penyebabnya adalah adanya
kontribusi pemikiran Islam internasional terhadap perkembangan hukum Islam di
Indonesia.
KESIMPULAN/PENUTUP
Apabila kita melakukan analisis mengenai fenomena interaksi pemikiran kajian ke-
Islaman sebagaimana digambarkan di atas, termasuk kajian tentang Hukum Islam, maka
nampak bahwa pengaruh pemikiran Islam Internasional sangatlah berpengaruh terhadap
perkembangan Hukum Islam di Indonesia, baik pemikiran yang bersumber dari Timur
Tengah maupun yang bersumber dari negara Barat. Pengaruh tersebut kemudian
melahirkan polarisasi pemikiran yang terkandung mengesankan adanya konflik yang
cukup tajam. Namun demikian, perkembangan pemikiran Hukum Islam di Indonesia
secara katagorisasi dapat dibedakan antara:
1. Pola pemahaman keIslaman yang normatif-tekstual, dan
2. Pola pemahaman keIslaman yang empirik-kontekstual.
Pola pemikiran yang bersifat normatif-tekstual banyak dipengaruhi oleh pemikiran Islam
yang berasal dari Timur Tengah, karena model pemikiran yang dikembangkan antara lain
ditandai oleh adanya upaya idealisasi terhadap realitas sosio-kultural masyarakat
berdasarkan petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam Al-Quran dan Al-Sunnah. Realitas
sosio-kultural masyarakat yang sangat beragam di dunia ini harus didekatkan dengan
“Pola Ilahi”, sehingga tingkat toleransi terhadap realitas tersebut relatif rendah dan tidak
jarang muncul kemudian jurang antara idealitas Islam dan realitas umat Islam.
Pola pemikiran yang bersifat empirik-kontekstual, banyak dipengaruhi oleh pemikiran
Islam dari negara Barat, yang memiliki kekhasannya dalam menganalisis masalah hukum
Islam dan pemeluk Islam. Islam lebih didekati dari segi bagaimana Islam yang
mensejarah, sesuai dengan fakta historis yang ditemukan secara empiris dalam kehidupan
masyarakat Islam. Kajian semacam ini kemudian mencoba memahami tuntunan Al-
Quran dan Al-Sunnah secara kontekstual dengan melakukan reinterpretasi ajaran,
sehingga “Pola Ilahi” secara aktual dapat diimplementasikan dalam realitas sosio-kultural
masyarakat Islam yang mempunyai kadar heterogenitas yang tidak bisa dipungkiri.
Dalam melihat pola pemikiran pemahaman mengenai perkembangan Hukum Islam di
Indonesia, tentunya kita tidak bisa menggambarkannya secara hitam putih, tetapi diantara
dua pola pemikiran tersebut diatas, terdapat nuansa-nuansa pemikiran yang tidak
sepenuhnya normatif-tekstual dan tidak juga sepenuhnya empirik-kontekstual. Pola
pemikiran seperti ini kalau boleh dikatakan sebagai buah dari proses konvergensi antara
kedua pola besar pemikiran yang telah berinteraksi secara intens dalam masyarakat Islam
di Indonesia. Pola pemikiran tersebut misalnya tergambar dalam berbagai pemikiran
Hazairin mengenai Hukum Islam.
Terlepas pola mana yang kita nilai lebih ideal dalam rangka memahami perkembangan-
perkembangan pemikiran dan kehidupan umat Islam di Indonesia, nampaknya hal ini
menuntut kita untuk secara kritis mencermati perkembangan kontemporer yang terjadi di
kalangan umat, tanpa kita harus secara terburu-buru memposisikan diri pada salah satu
diantara pola pemikiran tersebut. Sikap posisional yang kaku tentunya akan mempersulit
diri sendiri dalam berkomunikasi secara intens dengan perkembangan kehidupan global
yang serba cepat dan kompleks.
Masing-masing pola pemikiran tentunya memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri,
sehingga muncul persoalan apakah kita memang harus memilih ataukah sebaiknya kita
bersikap apresiatif terhadap semuanya. Walaupun sekiranya kita harus memilih, maka
dalam proses pemilihan pola yang dapat memperkaya khazanah pemahaman kita
terhadap Hukum Islam, sepatutnya kearifan dan kemampuan toleransi yang tinggi
menjadi semacam prasyarat, sehingga secara mental kita siap untuk sepakat jika memang
harus sepakat, dan sebaliknya kita siap untuk berbeda jika memang pada akhirnya harus
berbeda, “agree in agreement and in disagreement”. Yang terpenting dan harus digaris
bawahi semua perbedaan pendapat maupun pemikiran yang nantinya lahir dan beragam,
tidak dalam perbedaan pada konteks aqidah, karena untuk hal yang satu ini di belahan
dunia manapun berada semua pemeluk ajaran Islam memiliki pemahaman, pemikiran,
tujuan dan pelaksanaan yang sama dan itu wajib hukumnya.
DATA PENULIS
Hj. Wati Rahmi Ria, SH.MH. Dilahirkan di Jakarta tanggal 9 April 1965. Pendidikan S1
pada Universitas Lampung (1988), S2 pada Universitas Indonesia (2000) sebagai lulusan
tercepat dengan nilai Cum Laude. Pernah menerima hibah penulisan buku teks dari
Dirjen Dikti Depdiknas. Menjadi staf pengajar di fakultas Hukum Universitas Lampung
sejak tahun 1990. Selain mengajar juga banyak melakukan penyuluhan hukum dan
melakukan penelitian. Beberapa artikel penulis telah diterbitkan oleh Jurnal Hukum
Fakultas Hukum Unila, Jurnal Hukum Universitas Indonesia serta Surat Kabar Lampung
Post. 4 buah judul buku sudah diselesaikan oleh penulis.
Related docs
Other docs by cometjunkie44
Get documents about "