DRAF KARYA ILMIAH

Document Sample
DRAF KARYA ILMIAH Powered By Docstoc
					          PENGEMBANGAN PARIWISATA
    BERWAWASAN BUDAYA DI YOGYAKARTA
Disusun Untuk memenuhi Tugas mata kuliah Sejarah Dan Pariwisata

        Dosen Pengampu : HY Agus Murdiatomo M.Hum,




                        Disusun Oleh:




      Ag. Danish Singgih P              (07406244044)




              PENDIDIKAN SEJARAH
 FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
   UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

                            2009




                               1
                                         BAB I
                                  PENDAHULUAAN


A. Latar Belakang
       Pengembangan pariwisata membawa pengaruh positif bagi masyarakat, yaitu
meningkatnya taraf perekonomian masyarakat. Namun, pengembangan sektor pariwisata
juga membawa pengaruh lain, yaitu terancamnya lingkungan kebudayaan masyarakat
kita. Padahal, kemajuan sektor pariwisata sedikit banyak ditentukan oleh kualitas
kebudayaan masyarakat. Lingkungan budaya ini yang menjadi daya tarik terbesar dunia
pariwisata. Jika hal tersebut tidak segera diatasi, lama kelamaan dua sektor tersebut akan
sama-sama mengalami kemerosotan. Sektor pariwisata akan mengalami kemerosotan
karena lingkungan budaya tidak menarik lagi. Sektor kebudayaan akan mengalami
kemerosotan karena masyarakat terpengaruh oleh budaya lain/budaya barat.
       Solusinya adalah mengembangkan pariwisata yang berwawasan lingkungan
budaya. Untuk menciptakan pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan ada lima
hal yang dapat ditempuh. Pertama, pembangunan fisik memperhatikan kekhasan
Yogyakarta. Kedua, menghidupkan wisata budaya tradisional. Ketiga, memberikan
pendidikan budaya pada generasi muda. Keempat, penghargaan terhadap warisan nenek
moyang. Dan kelima, pengalokasian dana untuk pengembangan kebudayaan. Jika
berhasil diciptakan pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan budaya,
tercapailah simbiosis mutualisma antara sektor pariwisata dan sektor lingkungan budaya.


B. Rumusan Masalah
   1. Bagaimana Kedudukan Lingkungan Budaya dalam Pariwisata?
   2. Bagaimana      Pentingnya     Pelestarian   Kebudayaan     dalam    Pengembangan
       Yogyakarta?
   3. Bagaimana solusi Pengembangan Pariwisata Berorientasi Pelestarian Budaya?




                                            2
                                        BAB II
                                   PEMBHASAAN
I.     Kedudukan Lingkungan Budaya dalam Pariwisata
       Pengembangan pariwisata meliputi berbagai bidang. Di antaranya adalah
pengembangan wisata alam (pantai, gunung, gua) dan pengembangan wisata budaya
(upacara tradisional, pakaian tradisional, tari). Kedua bidang tersebut sama-sama
memiliki daya tarik khusus bagi para wisatawan. Namun, jika kita mau mencoba
mencermati kecenderungan para wisatawan khususnya wisatawan mancanegara, bidang
yang menjadi daya tarik utama adalah bidang kebudayaan. Pariwisata alam tampaknya
hanya menjadi “tempat beristirahat” bagi para wisatawan1.
       Ketertarikan wisatawan pada bidang budaya dapat diketahui dari berbagai
indikator. Pertama, banyaknya wisatawan yang mengunjungi Kraton Yogyakarta.
Keingintahuan wisatawan terhadap Kraton Yogyakarta dilandasi oleh keingintahuan akan
pusat kebudayaan Jawa. Kedua, banyaknya wisatawan yang tertarik membeli benda-
benda tradisional khas. Ketiga, banyaknya wisatawan yang tertarik mempelajari budaya
khas seperti menari dan membatik. Keempat, banyaknya wisatawan yang tertarik dengan
keramahtamahan kita dalam menanggapi mereka. Dalam jangka panjang, bidang
kebudayaan tampaknya akan lebih mendominasi motivasi wisatawan. Hal ini berkaitan
erat dengan semakin langkanya nuansa tradisional di negara-negara maju.       Karena
kelangkaan tersebut, banyak orang ingin mengetahui bentuk-bentuk budaya asli nenek
moyang mereka.
       Dalam hubungannya dengan kecenderungan pengembangan pariwisata budaya,
Yogyakarta bisa dipandang sebagai kota yang kaya akan potensi pariwisata kebudayaan
baik fisik maupun nonfisik. Yang dimaksud potensi pariwisata kebudayaan fisik adalah
bangunan-bangunan yang menjadi simbol keluhuran budaya nenek moyang. Obyek
pariwisata kebudayaan jenis ini misalnya Kraton, Water Castle, Prambanan, dan
Pakaulaman. Sedangkan yang dimaksud potensi pariwisata kebudayaan nonfisik adalah



       1
           Kartodirdjo, Suyatno. 1992. “Tranformasi Budaya dalam Pembangun” dalam
Tantangan Kemanusian Universal. Yogyakarta : Kanisius Hlm. 144



                                           3
berbagai jenis permainan, batik, jathilan, kerajinan tradisional, dan berbagai jenis tari
tradisional.
         Jika sektor pariwisata budaya ini benar-benar dikelola oleh pemerintah,
Yogyakarta akan mampu bersaing dengan negara-negara lain yang maju dan mempunyai
komitmen untuk mengembangkan priwisata budaya seperti Korea dan Jepang. Namun,
jika sektor ini justru tidak terperhatikan, dan fokus pengembangan hanya pada pariwisata
alam, lama kelamaan para wisatawan akan bosan karena pada dasarnya pariwisata alam
bersifat statis dan sekali datang.
         Namun demikian, jika pengembangan pariwisata budaya ini dikembangkan
dengan sembarangan, pengembangan pariwisata ini bisa menjadi bumerang atas
kebudayaan itu sendiri. Eksploitasi besar-besaran terhadap pariwisata budaya akan
mengakibatkan budaya tersebut kehilangan kualitasnya. Akibatnya, kebudayaan hanya
sekedar simbol-simbol mati, tanpa makna. Pembisnisan budaya yang berlebihan juga
akan mengaburkan hakikat dari kebudayaan itu sendiri. Pada akhirnya, kebudayaan
tercabut dari asal-usulnya, yaitu masyarakat.
         Pada sektor lain, pengembangan kebudayaan yang hanya diorientasikan pada
pariwisata juga akan mengakibatkan para pelakunya terlalu “bisnis oriented”. Bisnis
oriented dalam bidang budaya atau komersialisasi budaya sebenarnya merupakan efek
samping terjadinya transformasi budaya dalam proses pembangunan suatu negara.
Menurut Suyatno Kartodirdjo, ada empat masalah yang timbul sebagai akibat tranformasi
budaya, yaitu masalah ketahanan budaya dan konflik nilai, masalah komersialisasi
budaya, masalah materialisme dan konsumerisme, dan masalah konflik sosial2.
         Akibatnya, motivasi utamanya bukan lagi menunjukkan keluhuran budaya yang
dimilikinya melainkan pada pertimbangan bisnis semata. Jika hal itu terjadi, kebudayaan
bisa dimanipulasi demi kepentingan bisnis. Bahkan jika tidak diperhatikan secara
sungguh-sungguh hal itu akan mengakibatkan munculnya budaya baru yang tidak berakar
pada kepribadian dan identitas bangsa. Transoformasi yang tidak berakar pada kedua hal
tersebut akan menghasilkan budaya modern yang pada gilirannya akan menelan jenis




2
    Ibid. Hlm. 145


                                            4
budaya-budaya (tradisional) yang mempunyai nilai-nilai pencerminan kepribadian bangsa
dan identitas bangsa3.
         Dalam    hubungannya    dengan    transformasi   kebudayaan     sebagai   akibat
pengembangan sektor pariwisata, ada baiknya disimak pendapat dari Sutan Takdir
Alisahbana4. Beliau mengatakan bahwa transformasi budaya yang disebabkan oleh
penerapan teknologi maju yang terlepas dari perspektif budaya bangsa akan
mengakibatkan manusia dikuasai teknologi, dan bukan sebaliknya.


II.      Pentingnya Pelestarian Kebudayaan dalam Pengembangan Yogyakarta
         Pengembangan berbagai sektor kehidupan masyarakat Yogyakarta membawa
pengaruh cukup besar dalam diri masyarakat. Pengaruh tersebut langsung menyentuh
pada identitas dasar masyarakat, yaitu sisi kebudayaan. Secara perlahan-lahan tetapi pasti
masyarakat terpengaruh oleh kebudayaan pendatang yang mereka anggap lebih maju.
Kebudayaan pendatang tersebut bukan saja berasal dari luar negeri yang dibawa oleh
wisatawan asing, melainkan juga dari dalam negeri yang dibawa oleh wisatawan dalam
negeri maupun para pelajar dari berbagai daerah.
         Menurut Soedjatmoko perkembangan modernisasi yang seperti itu membawa
masalah tersendiri ketika masyarakat telah kehilangan nilai-nilai lama dan cara lama
sementara nilai lama dan cara baru belum mencapai kristalisasinya. Hal ini akan
menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya krisis identitas kepribadian dalam diri
masyarakat5.
         Dalam kaitannya dengan perkembangan modernisasi di Yogyakarta, apabila tidak
segera mendapat respon, dapat dimungkinkan terjadi krisis identitas dalam diri
masyarakat terutama penduduk asli Yogyakarta yang selama bertahun-tahun memegang
teguh nilai-nilai kebudayaan tradisional.. Derasnya pengaruh luar baik kebudayaan asing
maupun kebudayaan daerah lain akan menimbulkan tranformasi budaya yang pada

3
    Ibid. Hlm. 146
            4
              Roem, Mohamad, dkk. 1982. Tahta Untuk Rakyat : Celah-celah Kehidupan
Sultan Hamengkubuwono IX. Jakarta : PT. Gramedia. Hlm. 141

5
    Soedjatmoko. 1988. Etika Pembebasan. Jakarta : LP3ES. Hlm 44



                                            5
akhirnya akan menghasilkan generasi-generasi yang multikultur. Menurut Suyatno
Kartodirdjo (1992:145), ada empat masalah yang timbul sebagai akibat tranformasi
budaya tersebut, yaitu masalah ketahanan budaya dan konflik nilai, masalah
komersialisasi budaya, masalah materialisme dan konsumerisme, dan masalah konflik
sosial6.
           Dalam kaitannya dengan pengembangan pariwisata di Yogyakarta, masalah
komersialisasi budaya akan menjadi masalah penting. Pemikiran-pemikiran berbagai
pihak hanya difokuskan pada bagaimana memperoleh keuntungan finansial dari sektor
kebudayaan. Akibatnya, motivasi utamanya bukan lagi memelihara dan melestarikan
kebudayaan budaya yang dimilikinya melainkan pada pertimbangan bisnis semata. Jika
hal itu terjadi, kebudayaan bisa dimanipulasi demi kepentingan bisnis. Bahkan jika tidak
diperhatikan secara sungguh-sungguh hal itu akan mengakibatkan munculnya budaya
baru yang tidak berakar pada kepribadian dan identitas bangsa. Menurut Kartodirjo
transformasi yang tidak berakar pada kepribadian dan identitas bangsa akan
menghasilkan budaya modern yang cenderung akan menelan jenis budaya-budaya
tradisional yang telah terbukti mempunyai nilai-nilai pencerminan kepribadian bangsa
dan identitas bangsa.7
           Jika krisis sektor kebudayaan ini secara terus menerus dialami oleh masyarakat,
dapat dipastikan bahwa tidak akan ada lagi pewarisan kebudayaan dari generasi tua
kepada generasi muda. Kalaupun ada, kebudayaan yang diwariskan tersebut akan
mengalami reduksi yang cukup hebat. Bisa jadi bentuk fisik kebudayaannya terwariskan
tetapi roh-nya sudah hilang. Misalnya saja dari segi berpakaian. Mungkin saja generasi
muda terlihat gagah ketika mengenakan pakaian adat Jawa. Namun perilaku dan unggah-
ungguhnya tidak ada.
           Upaya pelestarian kebudayaan ini menjadi sangat penting untuk dilakukan karena
fakta di lapangan menunjukkan bahwa para wisatawan sangat tertarik dengan bidang
budaya. Ketertarikan wisatawan pada bidang budaya dapat diketahui dari berbagai
indikator. Pertama, banyaknya wisatawan dan para pelajar yang melakukan studi wisata
yang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Keingintahuan wisatawan terhadap Kraton



6
    Op. Cit. Kartodirdjo, Suyatno. 1992. Hlm 145


                                              6
Yogyakarta dilandasi oleh keingintahuan akan pusat kebudayaan Jawa. Sementara itu
keinginan para pelajar untuk melakukan studi wisata di Yogyakarta sedikit banyak
didasari oleh informasi dalam pembelajaran di mana Kraton Yogyakara merupakan
bagian dari sejarah kerajaan yang sampai sekarang masih eksis keberadaannya.
         Kedua, banyaknya wisatawan yang tertarik membeli benda-benda tradisional
khas. Benda-benda khas yang mencerminkan kebudayaan Jawa seperti keris, kain batik,
blangkon, kuda kepang sangat digemari oleh para wisatawan khususnya wisatawan
mancanegara. Ketertarikan untuk membeli ini kemungkinan besar dilandasi oleh
keingintahuan lebih lanjut akan kebudayaan Jawa8.
         Dalam jangka panjang, jika masih tetap ingin eksis dalam berbagai bidang, sektor
kebudayaan perlu mendapat perhatian lebih dalam pembangunan Yogyakarta. Sektor
pendidikan juga akan ditentukan oleh kemampuan masyarakat Yogyakarta dalam
mempertahankan keramahtamahan dan etika kehidupan bermasyarakat. Jika pada
akhirnya masyarakat Yogyakarta hanya terjebak pada masalah keuntungan bisnis, tingkat
kenyamanan dan keamanan para pelajar terusik. Dan pada akhirnya secara perlahan-lahan
banyak orangtua yang akan berpikir panjang untuk menyekolahkan anaknya di
Yogyakarta. Sektor pariwisata pada akhirnya sangat ditentukan oleh aset budaya yang
dapat ditawarkan pada para wisatawan. Fasilitas yang lengkap, promosi yang gencar, dan
pengalokasian dana untuk membangunan sarana fisik pariwisata akan terkesan sia-sia
ketika Yogyakarta tidak lagi memiliki aset kebudayaan sebagai andalan utama obyek
pariwisata.
         Berhubung sektor kebudayaan merupakan sektor yang sangat penting dalam
pengembangan pariwisata di Yogyakarta, penyelamatan dan pelestarian budaya lokal
perlu dilakukan. Jika penyelamatan dan pelestarian budaya lokal ini dapat dilakukan,
Yogyakarta akan mampu bersaing dengan negara-negara lain yang maju dan mempunyai
komitmen untuk mengembangkan pariwisata budaya seperti Bali, Korea, Cina, dan
Jepang. Namun, jika sektor ini justru tidak terperhatikan, dan fokus pengembangan hanya




7
    Ibid. Hlm. 146
8
    Ibid. Hlm. 147


                                            7
pada pembangunan sarana dan prasarana fisik, lama kelamaan para wisatawan akan
bosan untuk berkunjung ke Yogyakarta9.


III.      Solusi Pengembangan Pariwisata Berorientasi Pelestarian Budaya
          Salahsatu jalur untuk memperbaiki mentalitas generasi muda itu adalah melalui
pendidikan. Slamet Sutrisna mengatakan bahwa perubahan kebudayaan, (termasuk di
dalamnya adalah mentalitas manusia, tidak hanya melibatkan sistem normatif tetapi juga
melibatkan sistem kognitif. Dalam hubungannya dengam masyarakat Indonesia yang
sedang membangun, budaya keilmuan harus dikembangkan sebagaimana mestinya.
Dengan demikian, pengembangan dan pelestarian budaya perlu dihubungkan dengan
proses pendidikan bagi generasi penerusnya10.
          Cara yang paling efektif untuk pembinaan kebudayaan generasi muda dalam
kerangka otonomi daerah adalah dengan memasukkan muatan pendidikan kebudayaan
khas Yogyakarta dalam kurikulum pendidikan di Yogyakarta. Muatan lokal semacam ini
akan menghasilkan efek berantai yang positif yang pada akhirnya akan menguntungkan
sektor pariwisata dan sektor pelestarian kebudayaan. Para siswa yang berasal dari
Yogyakarta akan memiliki sikap positif terhadap kebudayaannya sendiri. Sikap positif ini
akan menghasilkan daya tahan untuk tidak begitu saja terpengaruh oleh budaya asing.
Sedangkan para siswa yang berasal dari luar Yogyakarta akan memiliki pengetahuan
tentang      kebudayaan     local   dan   dapat    diyakini   bahwa     mereka     akan
mengkomunikasikannya pada teman-temannya di daerah asalnya. Maka dalam jangka
panjang sektor pariwisata akan berkembang dan kebudayaan lokal akan terpelihara11.




9
  Tnunay, Tontje. 1991. Yogyakarta Potensi Wisata. Klaten :CV. Sahabat. Hlm 89
10
   Op. Cit. Sutrisna, Slamet. 1992. Hlm 147
11
   Desky, M.A. 2001. Manajemen Perjalanan Wisata. Yogyakarta : Adicita Karya
Nusa. Hlm 45


                                            8
                                            BAB III
                                          PENUTUP
Kesimpulan
       Solusi yang sekiranya paling bijaksana adalah membangun simbiosis mutualisma
antara pariwisata dan budaya. Artinya, sambil mengembangkan sektor pariwisata, kita
juga turut serta melestarikan lingkungan budaya kita. Sambil melestarikan kebudayaan
kita, kita mengemas pelestarian tersebut dengan berorientasi pada pariwisata. Jika hal itu
dapat teruwujud, semaju apapun negara kita, kebudayaan tradisional akan tetap
terpelihara tanpa mengabaikan pengembangan pariwisata.




                                            9
                                  Daftar Pustaka


Desky, M.A. 2001. Manajemen Perjalanan Wisata. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa.


Kartodirdjo, Suyatno. 1992. “Tranformasi Budaya dalam Pembangun” dalam Tantangan
      Kemanusian Universal. Yogyakarta : Kanisius


Roem, Mohamad, dkk. 1982. Tahta Untuk Rakyat : Celah-celah Kehidupan Sultan
      Hamengkubuwono IX. Jakarta : PT. Gramedia.


Sutrisna, Slamet. 1992. “Budaya Keilmuan dan Situasinya di Indonesia” dalam
      Tantangan Kemanusiaan Universal. Yogyakarta : Kanisius.


Suwarno, P.J. 1992. “Belajar dari Sejarah Yogyakarta untuk Memasuki Era Globalisasi”
      dalam Tantangan Kemanusiaan Universal. Yogyakarta : Kanisius.


Soedjatmoko. 1988. Etika Pembebasan. Jakarta : LP3ES.

Tnunay, Tontje. 1991. Yogyakarta Potensi Wisata. Klaten :CV. Sahabat.




                                         10