KONDISI TERNAK KERBAU DI KAWASAN AGROPOLITAN DATARAN TINGGI BUKIT
Document Sample


Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi
KONDISI TERNAK KERBAU DI KAWASAN AGROPOLITAN
DATARAN TINGGI BUKIT BARISAN SUMATERA UTARA
LERMANSIUS HALOHO dan PRAMA YUFDI
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara
Jl. Karya Yasa No 20 Kotak Pos 1002, Medan 20143
ABSTRAK
Pada Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara (KADTBB SU) pemeliharaan
ternak kerbau sangat dominan, karena kondisi sumberdaya alam sangat mendukung. Adanya keterkaitan
yang kuat antara sistem pertanian dengan ternak kerbau; berfungsi sebagai alat transportasi pertanian,
hijauan/rumput yang ada disekitar lahan pertanian dan limbah pertanian sebagai pakan ternak, juga penghasil
daging, tabungan, dan kelengkapan pada acara adat tertentu, terutama bagi suku Tapanuli. Berdasarkan
populasi, ternak kerbau di KADTBB SU sebanyak 133.752 ekor (51%), diikuti jumlah pemotongan sebanyak
13.156 ekor (40%), dengan produksi daging 2.848 ton (40%). Status teknologi ternak kerbau, umumnya
dipelihara di padang alam dan di sekitar lahan pertanian, sehingga sumber pakan berasal dari padang alam
maupun dari limbah pertanian. Hijauan dari padang alam kekurangan protein dan mineral, tetapi hijauan dari
sekeliling lahan pertanian relatif mampu mencukupi kebutuhan nutrisi ternak Kerbau. Periode jarak beranak
yang terlalu panjang, perlunya pejantan unggul dan pemberian pakan tambahan. Peluang pengembangan
ternak kerbau di KADTBB sangat besar, karena keterkaitan dengan pertanian dan budaya sangat besar serta
di dukung agroekosistem yang sesuai, serta untuk memasok kebutuhan daging dalam rangka kecukupan
daging 2010.
Kata kunci: Kerbau, agropolitan, status teknologi, Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara
PENDAHULUAN Pembangunan di kawasan dataran tinggi ini
tertinggal dibandingkan wilayah Pantai Timur
yang lebih maju. Agar laju pembangunan di
Di Propinsi Sumatera Utara, Dataran daerah ini lebih cepat maka delapan pemkab
Tinggi Bukit Barisan merupakan suatu dan satu kota bersatu dalam Kawasan
kawasan yang terhampar dari Barat sampai
Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan
ke Timur, dengan agroekosistem yang relatif Sumatera Utara (KADTBB SU) untuk
sama. Ada delapan kabupaten yang termasuk meningkatkan koordinasi, kerjasama dan
daerah ini, yaitu Kabupaten Karo,
perencanaan pembangunan yang lebih terarah
Simalungun, Tapanuli Utara, Dairi, Toba dan saling mendukung. Salah satu kesepakatan
Samosir (TOBASA), Humbang Hasundutan yang diambil yaitu ditetapkan komoditas
(HUMBAHAS), Pakpak Barat dan Samosir.
unggulan dan pusat kawasan, pusat distrik,
Dataran tinggi ini mempunyai potensi sangat wilayah distrik, lokalitas (desa) agropolitan per
besar bagi pembangunan pertanian, masing-masing kabupaten dan kota
perkebunan, peternakan dan kehutanan serta (ANONIMOUS, 2003). KADTBB SU memiliki
sebagai daerah tujuan wisata. Sebagian banyak kesamaan dalam hal agroekologi, jenis
lahannya subur dan yang lainnya kurang
komoditas dan sosial budaya. Melalui
subur sehingga diperlukan pengolahan dan percepatan pembangunan dengan model
pemberian bahan organik. Di dataran tinggi KADTBB SU, ditargetkan pendapatan
ini masih dijumpai lahan kosong yang perlu
meningkat dari $ US 1.000 pada tahun 2003
dibuka dan diusahakan untuk pengembangan
menjadi $ US 3.000/kapita pada tahun 2013.
agribisnis sehingga kesejahteraan petani Pengoptimalan produksi komoditi utama
meningkat. Umumnya masyarakat bercocok
wilayah melalui industri pengolahan
tanam hortikultura sayuran dan buah,
berorientasi pasar serta pengembangan
tanaman pangan, perkebunan, peternakan integrated farming livestock berbasis siklus.
(ruminansia besar dan kecil serta unggas)
Sumber pendapatan diharapkan berasal dari on
dan perikanan tangkap dan budidaya.
farm (sektor pertanian, perkebunan, peternakan,
157
Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi
perikanan dan kehutanan), off farm dan non pertanian. Disamping itu, ternak kerbau juga
farm. Juga dari jasa, perdagangan, diperlukan untuk acara adat tertentu, terutama
agroindustri, wisata dan sumber bagi suku Tapanuli ternak kerbau merupakan
pertumbuhan lainnya. jenis ternak yang tertinggi dan biasa disebut
Kondisi peternakan di KADTBB SU Gaja Toba.
sudah menjadi bagian dari kehidupan dan Secara umum, sarana jalan ke lokasi sentra-
tidak terpisahkan dari sistem pertanian, sentra pertanian masih jalan tanah, yang relatif
walaupun masih bersifat tradisional dan sulit dilalui kendaraan roda empat, sehingga
sambilan yang sudah turun-temurun. peranan ternak kerbau sebagai pedati sangat
Pemeliharaan ternak apa adanya sehingga dibutuhkan petani. Bagi ternak kerbau yang
masukan teknologi belum begitu nyata sudah terlatih untuk menarik pedati harganya
dalam produksi ternak, otomatis akan jauh lebih tinggi, dibandingkan kerbau
produktivitas ternak masih rendah. Pada biasa. Dengan demikian, ternak kerbau sebagai
KADTBB SU, ternak yang dominan salah satu alat transportasi mempunyai peranan
dipelihara adalah kuda, kerbau, ayam buras, yang sangat penting dalam sistem pertanian di
babi, sapi, domba, itik dan kambing (Tabel dataran tinggi. Pada makalah ini akan
1). Khusus ternak kerbau sangat besar dipaparkan kondisi ternak kerbau di kawasan
peranannya pada sistem pertanian di Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan
KADTBB SU disamping sebagai penghasil Sumatera Utara, untuk diperoleh manfaat guna
daging, juga digunakan untuk menarik mengoptimalkan peranan ternak kerbau bagi
pedati mengangkut sarana produksi dan hasil kehidupan masyarakat di KADTBB.
Tabel 1. Populasi dan penyebaran ternak di kabupaten/kota KADTBB SU, tahun 20031)
Ayam
No Kabupaten Sapi Kerbau Kuda Kambing Domba Babi Itik
Buras
1 Tapanuli Utara 4.555 30.198 2.947 9.954 2.751 154.509 967.592 38.958
2 Toba Samosir 5.331 35.652 2.104 18.601 2.825 91.948 704.334 150.813
3 Simalungun 28.804 41.652 19 52.050 20.054 84.030 3.903.954 110.970
4 Dairi 1.785 7.994 91 7.715 1.163 25.493 1.150.067 17.190
5 Karo 28.225 18.095 225 11.032 2.326 10.252 1.872.622 12.625
6 H.Hasundutan2) 0 0 0 0 0 0 0 0
7 Pakpak Barat2) 0 0 0 0 0 0 0 0
8 Samosir2) 0 0 0 0 0 0 0 0
9 Pemat. Siantar 155 161 0 0494 140 741 265.173 3.664
Jumlah/ 68.855 133.752 5.386 53.001 29.259 291.346 8.863.742 218.876
Persentase 28 51 95 7 13 34 38 10
Total Sumut 248.673 261.374 5.668 712.566 232.391 849.240 23.118780 2.264.221
Sumber : DINAS PETERNAKAN PROPINSI SUMATERA UTARA 20032) (diolah)
Keterangan : 1) angka sementara
2)
masih bergabung dengan kabupaten induk
Populasi dan penyebaran ternak di yang ada di Sumatera Utara, diantaranya kuda
ADTBB SU (95%) dan kerbau (51%). Sedangkan ternak
yang lainnya di bawah 40%, yaitu ayam buras
Di KADTBB SU, populasi ternak (38%), nabi (34%), sapi (28%), domba (13%),
didominasi oleh ternak yang secara spesifik itik (10%) dan kambing (7%) (Tabel 1).
memang cocok dikembangkan di daerah Di lihat dari sisi penyebaran populasi, ternak
tersebut. Berdasarkan statistik peternakan besar seperti sapi didominasi oleh Kabupaten
ada dua jenis ternak yang persentase Simalungun 28.804 ekor dan Karo 28.225 ekor;
populasinya di atas 50% dari jumlah ternak kerbau oleh Kabupaten Simalungun 41.652
162 170
Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi
ekor, Toba Samosir 35.652 ekor dan ada dua kabupaten Toba Samosir 150.813 ekor
Tapanuli Utara 30.198 ekor; kuda ada dua dan Simalungun 110.970 ekor (Tabel 1).
kabupaten yakni Tapanuli Utara 2.947 ekor
dan Toba Samosir 2.104 ekor. Ternak kecil Pemotongan dan produksi daging ternak
meliputi: kambing di Kabupaten Simalungun kerbau
52.050 ekor dan Toba Samosir 18.601 ekor;
domba didominasi Kabupaten Simalungun Dalam rangka memenuhi kebutuhan daging
20.054 ekor; babi ada 3 kabupaten yaitu di Propinsi Sumatera Utara, pada tahun 1996
Tapanuli Utara 154.509 ekor, Toba Samosir mengimpor sapi potong sebanyak 11.500 ekor,
91.948 ekor dan Simalungun 84.030 ekor. pada tahun 1999 sebanyak 15.000 ekor dari luar
Ternak unggas: ayam buras ada 3 kabupaten propinsi. Padahal potensi Sumut untuk
yaitu Simalungun 3.903.954 ekor, Karo memenuhi kebutuhan lokal sangat besar
1.872.622 ekor dan Dairi 1.150.067 ekor; itik maupun sebagai pemasok ke luar Sumut, seperti
daerah Batam, Singapura, Jepang, dll.
Tabel 2. Populasi, pemotongan (ekor) dan produksi daging (ton) ternak kerbau per kabupaten/kota
di Propinsi Sumatera Utara, tahun 20031)
Total (ekor)
No Kabupaten/Kota Produksi daging (ton)
Populasi Pemotongan
1 Nias 1.383 90 19,45
2 Mandailing Natal 4.034 294 63,57
3 Tapanuli Selatan 54.585 1.072 232,02
4 Tapanuli Tengah 14.599 552 119,57
5 Tapanuli Utara 30.198 574 124,36
6 Toba Samosir 35.652 329 71,35
7 Labuhan Batu 2.350 2.220 480,46
8 Asahan 12.781 2.192 474,44
9 Simalungun 41.652 5.842 1.264,52
10 Dairi 7.994 806 174,52
11 Karo 18.095 1.203 260,33
12 Deli Serdang 29.761 1.066 230,71
13 Langkat 7.433 136 29,40
14 Nias Selatan2) 0 0 9,08
15 Humbang Hasundutan2) 0 0
16 Pakpak Barat2) 0 0
17 Samosir2) 0 0
18 Serdang Bedagai2) 0 0
19 Sibolga 0 0
20 Tanjung Balai 0 30 6,49
21 Pematang Siantar 161 4.402 952,92
22 Tebing Tinggi 297 274 59,45
23 Medan 271 10.927 2.365,00
24 Binjei 128 581 125,88
25 Padang Sidempuan 0 0 0
Jumlah 261.374 32.632 7.072,6
Total di KADTBB 133.752 13.156 2.848
Persentase 51 40 40
Sumber : DINAS PETERNAKAN PROPINSI SUMATERA UTARA (2003) (diolah)
Keterangan: 1) masih bergabung dengan kabupaten induk
2)
angka sementara
Tabel 2 menunjukkan bahwa populasi Total pemotongan ternak kerbau di
ternak kerbau di Sumatera Utara sebanyak KADTBB SU pada tahun 2003 sebanyak 13.156
261.374 ekor, sekitar 51% (133.752 ekor) ekor (40%), dengan produksi daging 2.848 ton
berada di KADTBB Sumatera Utara. atau sekitar 40% dari yang ada di Sumut. Ini
merupakan sumbangan yang cukup berarti bagi
175
Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi
kecukupan daging di KADTBB SU inseminasi buatan disertai pemberian pakan
khususnya dan Sumut umumnya. yang memadai (ROMJALI, 2005).
Puslitbang Peternakan bekerjasama dengan
Direktorat Perbibitan dan Budidaya Ruminansia
Status teknologi ternak kerbau Ditjen Peternakan telah menyelenggarakan
workshop “Rencana Tindak Program Menuju
Kondisi agroekosistem KADTBB Kecukupan Daging Sapi 2010 yang
SU sangat sesuai untuk pengembangan dilaksanakan pada tanggal 18-19 Mei 2006 di
peternakan termasuk kerbau, adanya lahan Bukittinggi, Sumatera Barat. Salah satu hasil
kosong dan lahan-lahan pertanian banyak rumusan yang diputuskan adalah revitalisasi
ditumbuhi rumput alam sehingga kebutuhan UPT Daerah dan Pusat, khusus bagi BPTU Si
hijauan pakan relatif tercukupi dan sebagai Borong-Borong yang melakukan program
tempat penggembalaan. Luas padang persilangan Kerbau Murrah dan lumpur di
pengembalaan/padang alam di Kabupaten BPTU ini harus segera dihentikan karena tidak
Karo adalah 6.699 ha, Dairi 2.308 ha, produktif. Peningkatan mutu genetik ternak
Simalungun 11.227 ha dan Tapanuli Utara kerbau di BPTU ini dapat dilakukan dengan
40.066 ha. Padang alam ini hanya ditumbuhi menjaring pejantan unggul dari daerah lain
rumput alam dan leguminosa lain serta (misalnya dari Banten).
dimanfaatkan secara terus menerus secara Padang alam yang ada juga sudah tidak
alami tanpa ada usaha perbaikan dengan dapat mendukung produksi ternak, hal ini
memasukkan hijauan unggul, tapi sejalan dengan hasil pengamatan IBRAHIM et.al.
peranannya sebagai tempat penggembalaan (1995) bahwa di Tapanuli Selatan dan Tapanuli
bagi kehidupan ternak sangat besar. Utara, ternak ruminansia umumnya dilepas di
Pemeliharaan ternak kerbau di KADTBB padang penggembalaan yang merupakan padang
SU berada pada ekosistem tanaman pangan rumput alam. Dengan asumsi bahwa semua
dan padang alam atau kombinasi keduanya, ternak ruminansia dipelihara dalam sistem
sistem pemeliharaan ekstensif (tradisionil), penggembalaan, rasio ternak persatuan luas
dengan tujuan pemeliharaan untuk ternak mencapai 1 : 4 satuan ternak perhektar. Tingkat
kerja, tabungan dan kebutuhan acara adat. penggunaan ini terlalu tinggi mengingat
Skala pemeliharaan berkisar 1-2 ekor, rendahnya daya dukung padang penggembalaan
tergantung kemampuan petani. Pada yang ada. Selanjutnya dinyatakan bahwa
pemeliharaan kerbau ini beberapa hal perlu kerbau yang digembalakan di Kecamatan
diperhatikan dan mendapat penanganan, Barumun Tengah dan Kabupaten Tapanuli
antara lain: periode jarak beranak yang Selatan masih kekurangan nutrisi dan mineral.
terlalu panjang. Salah satu penyebabnya Secara umum dapat dilaporkan bahwa status
menurut hasil penelitian adalah disebabkan nutrisi, mineral dan protein merupakan dua
pemenuhan nutrisi yang kurang memadai faktor pembatas utama bagi tingkat produksi
untuk mendukung proses reproduksi yang ternak kerbau di daerah tersebut. Pada kerbau
optimal. Oleh karena itu perlu penyuluhan jantan yang digembalakan, pemberian mineral
pemberian pakan ternak kerbau sesuai saja tidak cukup untuk menigkatkan
rekomendasi dari lembaga penelitian. Khusus pertambahan berat badan (PBB), tetapi
peternak kerbau di Tapanuli Utara dan penambahan pakan penguat meningkatkan PBB
Tobasa memanfaatkan susu kerbau menjadi kerbau sebesar 49%. Walaupun demikian
dadih atau susu kerbau (dali). Hal ini diduga, penambahan mineral ternyata sangat penting
mengakibatkan kebutuhan susu bagi anak pada saat nutrisi kerbau baik. Penambang
kerbau tidak tercukupi sehingga mineral dapat meningkatkan PBB sebesar 44%
pertumbuhan jadi lambat dan performans pada kerbau yang mendapat perlakuan pakan
kerbau semakin kerdil. Salah satu program penguat. Sedangkan untuk kerbau betina,
yang bisa ditempuh untuk meningkatkan penambahan mineral saja juga tidak
produktivitas kerbau lokal adalah berpengaruh nyata terhadap PBB, pemberian
mengadakan perkawinan silang dengan pakan penguat saja meningkatkan PBB menjadi
kerbau perah (kerbau Murrah) melalui 50 kg/3 bln atau sekitar 35% lebih tinggi
dibandingkan dengan kontrol. Penambahan
177
Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi
mineral terhadap pakan penguat hanya Peluang pengembangan ternak kerbau
meningkatkan PBB sebesar 14%. Pada
penelitian ini juga nampak bahwa Peternakan adalah salah satu bagian penting
pertambahan bobot jantan lebih cepat kehidupan masyarakat KADTBB SU, selain
dibandingkan dengan betina. Hasil penelitian pertanian. Pembangunan pertanian dan
ini juga memberikan satu indikasi bahwa peternakan saling mendukung dan menguntung-
padang penggembalaan yang ada di Barumun kan, sehingga sistem pertanian terpadu memberi
Tengah tidak mampu memberikan protein manfaat yang besar bagi keduanya. Di satu sisi,
dan mineral bagi kerbau. hasil pertanian seperti jagung, ubikayu, rumput-
Sementara hasil penelitian BATUBARA et rumputan, limbah pertanian dapat dimanfaatkan
al. (1992), menunjukkan bahwa pemberian sebagai pakan ternak sehingga ada nilai
pakan tambahan 0,5% dari bobot badan tambahnya. Secara tidak langsung kebutuhan
kerbau lumpur jantan memberikan pertam- pakan (hijauan dan konsentrat) bagi ternak
bahan efisiensi penggunaan pakan tertinggi dapat dipenuhi. Di sisi lain, pupuk kandang
atau dua kali lipat dibandingkan hanya yang sebagai limbah ternak sangat diperlukan sebagai
diberi rumput. Komposisi pakan yang sumber organik bagi tanaman guna menyubur-
diberikan adalah Bungkil Inti Sawit (BIS) kan tanah, sehingga produktivitas pertanian
sebanyak 91,50%, molases 7,15% dan meningkat. Populasi ternak bertambah, otomatis
mineral campuran 1,35%. produksi daging meningkat. Dampak berikutnya
yang secara langsung dirasakan petani adalah
peningkatan pendapatan dan kesejahteraannya.
Tabel 3. Perbandingan jantan dan betina ternak kerbau per kabupaten/kota di Propinsi Sumatera
Utara, tahun 20031)
No Kabupaten/Kota Jantan Betina
5 Tapanuli Utara 12.935 17.263
6 Toba Samosir 15.398 20.594
9 Simalungun 17.861 23.801
10 Dairi 3.424 4.570
11 Karo 7.751 10.347
15 Humbang Hasundutan2) 0 0
16 Pakpak Barat2) 0 0
17 Samosir2) 0 0
21 Pematang Siantar 69 92
Total di KADTBB 57.438 76.667
Persentase 51 51
Jumlah Sumatera Utara 112.100 149.634
Sumber : BUKU STATISTIK PETERNAKAN 2003 (diolah)
Keterangan: 1) masih bergabung dengan kabupaten induk
2)
angka sementara
Salah satu faktor yang menentukan dalam Dengan demikian, peluang pengembangan
peningkatan populasi kerbau adalah ternak kerbau di KADTBB SU sangat besar,
ketersediaan betina. Populasi kerbau betina karena keterkaitan dengan sistem pertanian dan
di KADTBB cukup besar yaitu sebanyak budaya yang sangat besar serta di dukung
76.667 ekor, 51% dari total populasi kerbau agroekosistem yang ada.
betina di Sumatera Utara. Ketersediaan betina
yang cukup tinggi merupakan modal besar
bagi peningkatan populasi kerbau di
KADTBB.
162 170
Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI hijauan pakan, pemberian pakan tambahan, dan
KEBIJAKAN introduksi bibit unggul.
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
1. Di KADTBB SU, ternak kerbau sangat ANONIMOUS. 2003. Master Plan Agropolitan
besar peranannya bagi kehidupan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit
masyarakat, disamping sebagai penghasil Barisan Sumatera Utara. BAPPEDA Sumatera
daging, juga digunakan sebagai alat Utara.
transportasi pertanian dan untuk acara
BATUBARA, L. P, MURSAL BOER dan SIMON ELIESER.
adat. 1990. Pemberian Bungkil Inti Sawit/Molasses
2. Populasi ternak kerbau di Sumatera Utara dengan/tanpa Mineral dalam Ransum Kerbau.
sebanyak 261.374 ekor, sedangkan di Jurnal Penelitian Peternakan Sungei Putih
KADTBB SU, sekitar 51% (133.752 (JPPS) Vol 1 (1), p.12-16. Sub Balai Penelitian
ekor), jumlah pemotongan sebanyak Ternak Sungei Putih.
13.156 ekor (40%), dengan produksi BATUBARA, L. P, MURSAL BOER dan SIMON ELIESER.
daging 2.848 ton (40%). 1990. Pemanfaatan Bungkil Inti Sawit (BIS)
3. Kerbau umumnya dipelihara di padang dan Molasses untuk Memenuhi Kebutuhan
alam, di sekitar lahan pertanian dan Protein dan Energi Kerbau. Jurnal Penelitian
limbah pertanian sebagai sumber pakan. Peternakan Sungei Putih (JPPS) Vol 1 (1),
Kebutuhan nutrisi dan mineral masih p.17-19. Sub Balai Penelitian Ternak Sungei
kurang, dan periode jarak beranak yang Putih.
terlalu panjang, sehingga perlu pejantan DINAS PETERNAKAN PROPINSI SUMATERA UTARA.
unggul dan pemberian pakan tambahan. 2003. Buku Statistik Peternakan Tahun 2003.
4. Peluang pengembangan ternak kerbau di Pemerintah Propinsi Sumatera Utara.
KADTBB SU sangat besar, karena ROMJALI, R. 2005. Agribisnis Peternakan Kawasan
keterkaitan dengan sistem pertanian dan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan
budaya sangat besar serta didukung Sumatera Utara. Prosiding Seminar Nasional.
agroekosistem yang sesuai. BPTP Sumatera Utara, Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, Departemen
Pertanian.
Implikasi kebijakan
IBRAHIM, T, L.P. BATUBARA, D. SIHOMBING, M.
Pengembangan ternak kerbau di DOLOKSARIBU, L. HALOHO dan P.M. HORNE.
1995. Produktivitas Ternak Ruminansia di
KADTBB SU sangat sesuai dan didukung Padang Penggembalaan Sumatera Utara.
oleh agroekosistem, sistem pertanian yang Prosiding Seminar Sehari Strategi dan
terintegrasi dengan peternakan dan keperluan Komunikasi Hasil Penelitian Peternakan
adat. Sejalan dengan hal di atas, maka Strategi Penelitian dan Pengembangan
inovasi teknologi untuk mendukung Peternakan dalam Menunjang Agribisnis di
pengembangan ternak kerbau perlu menjadi Sumatera Utara. Sub Balitnak Sei Putih. Badan
perhatian, sehingga produktivitasnya dapat Litbang Pertanian.
meningkat. Dukungan kebijakan sangat
dibutuhkan baik dalam peningkatan mutu
162 170
Related docs
Get documents about "