Kehidupan di sebuah PonPes (Pondok Pesantren), Jawa Timur

Document Sample
Kehidupan di sebuah PonPes (Pondok Pesantren), Jawa Timur Powered By Docstoc
					Kehidupan di sebuah PonPes (Pondok Pesantren), Jawa Timur
Ditulis oleh Louise Blair

Pada Juli 2005 saya ke Jawa Timur sebagai seorang pelatih guru selama 18 bulan dengan
ISELP (Islamic Schools English Language Program). Program ini dibawa direksi AVI
(Australian Volunteers International) dengan dukung dari AusAID. Selama waktu ini
saya tinggal dengan suami saya di rumah yang terletak di desa kecil di samping pondok
pesantren. Kami bekerja di dua pondok pesantren (ponpes), jaraknya di antara ponpes ini
berdua kira-kira 15km. Sasaran dari proyek ialah untuk meningkatkan kwalitasnya
pendidikan dasar di sekolah-sekolah di Jawa Timur, terutama di tingkat junior secondary
school, i.e. MTs (Madrasah Tsanawyiah) dan SMP (Sekolah Menengah Pertama). Tugas
kami sebagai pelatih guru termasuk empat objek utama:

   1. Meningkatkan kemampuan bahasa Inggris para guru di ponpes
   2. Mempertinggi kemampuan para guru untuk mengajarkan kurikulum bahasa
      Inggeris yang baru, khususnya ketrampilan berbicara dan mendengarkan.
   3. Memperkenalkan metode mengajar yang lebih aktif
   4. Meningkatkan pertukaran antar budaya Indonesia dan Australia melalui bahasa
      Inggris.




      Ibu Ulfa (guru bahasa Inggris dari PonPes) memberi presentasi kepada para
                    pendamping yang ikut salah satu lokakarya kami.


Di ponpes ada dua sistem sekolah:
   1. yang ikut kurikulum Depdiknas (Departmen Pendidikan Nasional) – yaitu SD
      (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), dan SMA (Sekolah
      Menengah Atas)
   2. yang ikut kurikulum DepAg (Departmen Agama) – yaitu SDI (Sekolah Dasar
      Islam), MTs (Madrasah Tsanawiyah), dan MA (Madrasah Aliyah)

Perbedaan antara sistem dua ini ialah isinya kurikulum MTs dan MA lebih berfokus pada
pelajaran agama. Setiap sekolah punya seorang kepala sekolah, jadi di ponpes itu ada
sedikitnya enam orang kepala sekolah. Sebuah ponpes biasanya didirikan oleh seorang
kyai (seorang yang ialah pemimpin agama). Pendidikan di Indonesia terlalu mahal bagi
banyak orang yang miskin, tapi sistem pondok pesantren menyediakan pendidikan yang
lebih murah. Kebanyakan santri tinggal di kampus, tapi ada yang pulang setiap hari,
kalau rumahnya dekat. Beberapa ponpes juga mendirikan kampus bagi universitas atau
program pendidikan penjuruan. Waktu kami berangkat Indonesia, panitia ponpes sudah
punya rencana untuk menambahkan program sama ini.




 Di kamar guru SMP dengan (dari kiri) kepala sekolah, Pak Solihin; suami saya, Dean;
  saya; penasihat dari IALF Bali, Caroline; guru Bahasa Inggris, Ibu Yuli; dan wakil
       kepala sekolah, Pak Taufan. Silakan minum – Teh Botol atau Fruit Tea!

Biasanya kelas-kelas di ponpes dipisah supaya ada kelas perempuan dan kelas laki-laki.
Akan tetapi, kadang-kadang ada suatu kelas yang bercampur kalau jumlah siswa-siswi
(yang disebut santri) kurang atau kelas itu untuk santri yang pandai sekali. Santri masuk
sekolah 6 hari seminggu – Sabtu sampai Kamis, dan berlibur pada hari Jum’at. Kelas
mulai pada jam 6:45 pagi dan selesai pada jam 1:00 siang. Ada program tambahan (kelas
sore) bagi santri yang tinggal di pondok, termasuk pelajaran agama dan pelajaran elektif
lain. Selama waktu Ramadan, hari sekolah dikurangi (selesai pada jam 10:00) karena
kebanyakan santri dan guru berpuasa dari waktu matahari terbit sampai waktu matahari
terbenam.
  MTs Kelas 2C (sama kelas 7 di Australia) dengan guru bahasa Inggris, Ibu Fenny.
               Jumlah santri di satu kelas biasanya kurang lebih 40.




 Santri di MTs Kelas 1E – mereka berpakaian seragam pramuka (sekali seminggu). Di
kelas ini, harus lepaskan sepatu sebelum masuk. Hanya ada meja rendah, supaya harus
                                    duduk di lantai.
  Santri di MTs Kelas 2A melakukan aktivitas “running dictation” selama kelas bahasa
 Inggris. Aktivitas-aktivitas seperti ini diperkenalkan kepada para guru sebagai secara
mengajar yang lebih aktif. Aktivitas ini juga mudah menyiapkan dan murah – tidak perlu
   fotokopi. Dua santri bekerja bersama-sama: satu ialah penulis, dan yang lagi ialah
  “runner”. Dia harus membaca bacaan (yang terletak pada dinding di dalam atau di
luar ruang kelas – lihat foto di atas), lalu mengucapkan yang dibaca kepada teman yang
                           harus menulis (lihat foto di bawah).
Aktivitas seperti ini baru untuk sistem pesantren karena santri biasanya belajar bahasa
Inggris secara “rote” dan menterjemakan bacaan saja. Guru itu duduk di depan kelas dan
santri duduk juga – jarang meninggalkan kursi. Saya ingat waktu pertama kami
menjelaskan bagaimana melakukan “running dictation” kepada santri – mereka kurang
pasti kalau boleh meninggalkan kursinya, dan malu sekali! Tapi, sesudah beberapa
menit, mereka mulai dan menyenangkan. Walaupun, beberapa santri sedikit nakal dan
coba menipu – “runner” itu menulis kata-kata pada tangannya, lalu teman menkopi aja!
Nggak boleh! Harus mengingat kata-kata, lalu bicara.




 Aktivitas lain yang mudah bagi guru-guru menyediakan ialah bacaan “jigsaw”. MTs
            kelas 1E melakukan aktivitas ini selama kelas bahasa Inggrisnya.
  Di MTs Kelas 1D pemainan seperti “dominoes” sangat populer dengan santri. Salah
satu tugas kami ialah membuat “bank of resources” yang bisa dipakai guru-guru supaya
                         mendukung program mengajarnya.




                  Para guru bekerja bersama-sama selama lokakarya.

Semua guru di ponpes sangat senang berkesempatan mengikuti ISELP karena mereka
ingin tahu tentang metode mengajar yang baru, dan mau meningkatkan kemampuan
bahasa Inggris. Juga mereka senang kalau bertemu dan bekerja bersama dengan guru
dari ponpes lain. Jarang ada kesempatan seperti ini untuk “professional development”
yang sama di Australia. Banyak guru di ponpes adalah bekas santri dari sistem
pendidikan ini. Pada pendapatnya, mereka senang belajar di sistem ini, dan sering bilang
“suasana di pondok pesantren seperti keluarga besar”.