Piping engineering (Design Flowchart) by hijuney4

VIEWS: 0 PAGES: 17

									                    Piping engineering (Design Flowchart)

Autumn Batara

Dear All,

Mohon bantuan pencerahan, bagaimana proses engineering design untuk piping system
(in plant dan pipeline), darimana proses engineering design dimulai? dan bagaimana
urutan-urutannya? Bagaimana korelasinya dengan Plant Lay out?. saya sangat
bersyukur jika ada diantara rekan milist yang bersedia memberi penjelasan plus
flowchartnya.

Terima kasih sebelumnya.


Dedy Suryana - IAOD

Wualah,.... puanjuang ini.
Biasanya dimulai dari pemetaan, kemudian penentuan arah mata angina berdasarkan plant serta
arah mata angin sesungguhnya. ( Biasanya ada PN atau Plant North dan TN atau True North)
Selanjutnya adalah tata letak peralatan utama yang disusun berdasarkan banyak kriteria
diantaranya FIFO atau LIFO, Transport raw material atau end produk, maupun kondisi - kondisi
lainnya. Piping selanjutnya didesain berdasarkan P&ID yang diterjemahkan kedalam Isometric
drawing serta top view dari yang paling tinggi hingga under ground berdasarkan tingkat level.
Selain unsur desain juga harus diperhatikan unsur estetika sehingga posisi ekspansi untuk setiap
ukuran pipa tampak seragam meskipun stress releaving berbeda. Unsur lain yang tak kalah
penting adalah adanya akses untuk operator serta maintenance. Untuk lebih lengkapnya bisa
dilihat di "Piping System Engineering”



Crootth Crootth

Sebenarnya ngga panjang juga sih...

Seorang process engineer biasanya mengerjakan (tapi tidak terbatas pada) langkah berikut :
1. Meminta data akurat kondisi process terlebih dahulu (komposisi (jika ada, jika tidak ada
adalah SG, MW, Cp/Cv, z factor), temperatur, tekanan, flowrate)
2. Melakukan simulasi untuk mendapatkan ukuran pipa yang optimum (pressure drop, erosional
velocity) dan tentu saja memperhitungkan ketersediaan kondisi pipa yang tersedia di pasar
(misalnya tidak umum menggunakan pipa dengan ukuran 14" di Indonesia)
3. Melengkapi piping system tersebut dengan complete safety system yang dibutuhkannya
(Process Control, Alarm System, Safety Interlock System, Relief System, Blowdown System dsb)
berikut dokumen yang menyertainya (Instrumentation, Control and Relief device spec sheet,
blowdown analysis, SIL verification, Flaring capacity calculation, SafeChart/Cause and Effect
Diagram, Safety Analysis Table, Hazardous Area Classification dsb)
4. Melihat lay out lokasi setempat, berikut code dan regulasi siting dan lay out setempat (hati
hati, kebanyakan Pabrik di Indonesia tidak dilengkapi dengan Plant Siting and Lay Out
Standards, gunakan standard yang sudah ada atau industrial code yang dianut)
5. Berkoordinasi dengan designer yang mengerti seluk beluk piping plan setempat untuk
merundingkan peletakan pipanya agar selain manis rupa juga memberikan kemungkinan bagi
modifikasi lebih lanjut di masa depan dan tentu saja ergonomis dan accesable buat crew
maintenance dan operator
6. Melakukan Mark-up piping plan dan isometric drawing (pengecekan kekuatan mekanik
biasanya dilakukan oleh Mechanical Engineer (Finite Element Analysis, Welding Criteria, Stress
Analysis dsb, Pak Hasanuddin lebih tahu soal ini)
7. Meninjau ulang safetynya (pada banyak kasus hanya Process Safety Review biasa atau jika
perlu PHA dan pada beberapa perusahaan malah melakukan Consequence Analysis (disinilah
Wind Map berguna)) yang biasanya dilakukan oleh sebuah tim multidisiplin
8. Cycling process jika hasil tinjau ulang safety menyatakan harus dilakuakn desain ulang....
9. Jika tinjau ulang telah dilaksanakan, dokumen jadi (PFD, P&ID, Piping Plan, Isometric, Plant
Layout, dst) segera diteruskan dengan menyusun Bill of Material, Material request dsb, yang
sudah memasuki fase Procurement yang umumnya sih bukan lagi scope Process Engineer

Catatan:
1. Penting kiranya untuk dengan sungguh sungguh melakukan risk assessment dengan terlebih
dahulu melakukan HAZID --> Hazard Evaluation --> Risk Analysis --> Risk Control
2. Menyusun Standard Operating Procedure, Specialized Working Procedure (misalnya berkaitan
dengnanTIe-in dan Commisioning), Safe Work Practices, Maintenance Planning dst.
3. Melengkapi dokumen Process Safety Information (at least MSDS termasuk untuk Paint dan
Insulasi yang digunakan)

Semoga bermanfaat

Dirman Artib@amec

Yth. Mas Crooth-crooth,
Saya minta izin untuk menggambarkan "process mapping" apa yang anda tulis pada point 1 s/d 8
untuk saya upload lagi di milis ini dalam hal contoh bagaimana sebuah proses direncanakan dan
ditetapkan dalam sebuah organisasi untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam ISO
9001:2000 khususnya mendesain piping system.

Bolehkah ?

Saya jamin nggak bakal dijual, tapi kalo ada yg menjiplak........anggap saja amal ilmu yg
bermanfaat (he..he..he..).



Crootth Crootth
Silahkan Mas Dirman,

Sepanjang untuk urusan ilmu, saya merelakannya toh itulah kurang lebih yang selama ini saya
jalani di VICO. Jadi teman teman di VICO pun lazim melakukannya...

Catatan: Medium Class Practice (saya masih malu menyebutnya sebagai Best Practice) yang saya
jalankan selama ini tentu saja masih jauh dari sempurna, mugnkin ada kawan-kawan lain yang
lebih promptly buat disadur.... silahkan kawan lain...



Alvin Alfiyansyah

Biar process mappingnya lebih OK dan lebih jelas buat Pak Dirman, izinkan saya menambahkan
sedikit tulisan Mas Gharonk.
Langkah yang sudah dituliskan sebelumnya sudah OK, tapi di point 2 bisa ditambahkan perlu
pula dipikirkan ukuran pipa berdasar inlet unit downstream yang akan menerima flow tersebut,
unit yang sudah terpasang sebelumnya mungkin bisa dijadikan acuan bila ada, ini juga bila
sesuai criteria dan erosional velocity tidak menghambat. Masih di point 2, simulasi utk
mendapatkan ukuran pipa yang optimum berdasar gas line criteria / liquid line criteria / mixed
flow criteria + erosional velocity, jadi Pressure drop adalah termasuk dalam criteria diatas.
Di point 4 mungkin salah satu praktis general yang ingin dicapai adalah mengantisipasi pocket
dan slope yang diinginkan (bila diperlukan gravity flow). Yah, setelah itu sama dengan yang
ditulis Mas Gharonk...identifikasi & analisa safety plus tie in procedure serta membuat dokumen
jadi dengan bantuan designer yang hafal totok daerahnya.

Semoga membantu atau menambah bingung, hehehe........



Dirman Artib@amec

Terima kasih.



esukardi@technip

Untuk menujang lebih OK, dibawah adalah list Deliverable dari Process dan Safety secara
umum;

          PROCESS

1.   Process Flow Diagrams (PFD)
2.   Piping and Instrumentation Diagrams (P&IDS)
3.   PFD and P&ID Legends and typicals, index sheet modifications
4.   Process Equipment Datasheets
5.   Process Instrument Data sheets
6.    Process Calculations      (Basic: Process Design Calculation Report / Equipment, Main
Instrument Sizing, Relief System, Main Process Line Sizing, Main Utility Line Sizing, Hydraulic
Calculations/Main circuits)
7. Process System Description (Basic: Process Simulation)
8. Process Control Philosophy (Basic: Process Basic Data, Process
Design Criteria, Process Operations, Emergency and Process Shutdown, Blowdown, Relief,
Open closed drain control)
9. Start-up and Shutdown Philosophy / Basic
10. Line List
11. Valve List
12. Fluid List / Basic
13. Technical Notes
14. Relief and Blowdown Summary / Basic
15. Cause and Effect Diagrams
16. Operating and Maintenance Philosophy
17. Tie-in Schedule



     SAFETY

1. HAZOP Reports
2. Hazardous Area Drawings
3. Escape Route Drawings
4. Safety Equipment and Signs Layout Drawings
5. Safety Equipment Specifications
6. Safety Equipment datasheets
7. General Safety Analysis
8. Fire Risk Analysis Report
9. F&G Cause and Effect Chart
10. F&G Layout
11. HSE Philosophy (Basic: Offshore Safety Concept, Environmental
Protection Philosophy, Waste Water Treatment Philosophy)
12. HSEMS Plan
13. Vent, Radiation and Dispersion Study
14. HAZID Report
15. Safety Equipment Requisition

Salam,
PS. Kalau ada yg minat dengan list discipline yg lain, atau content nya bisa lewat japri selama
filenya nga terlalu besar saya bisa share.

Ini juga bagian dari Process

      MATERIAL AND CORROSION

1.     Material Selection Report
2.     Material Selection Diagrams
Cahyo Hardo

Cuma nambahin dikit.

Jangan sampai:
desain pipa yang akan dibuat akan menjadi bottleneck di kemudian hari atau sehari setelah start-
up. Contoh kasus yang berkaitan dgn ini dan ada hubungannya dgn standard adalah keduluan
membeli pipa yang dirasa memenuhi standard internasional, akan tetapi ternyata berada di
bawah standard perusahaan. Kelihatannya sih acceptable sampai di kemudian hari ternyata ada
case operasi yang membutuhkan tekanan lebih tinggi dari biasanya dan pipa baru ini jadi
hambatannya karena setting PSHH yang terlalu mepet. Artinya adalah, mendesain sesuatu dari
sistem proses tanpa melihat keseluruhan dan kelakuan sistem yang ada adalah sangat tidak
disarankan.

Jangan sampai:



setelah pipa dipasang, ternyata banyak complain datang dari operator, bukan karena kecilnya
pressure drop dari pipa yang kebesaran, tetapi banyaknya partikel yang mengendap karena
"melanggar" prinsip "batas atas" mendesain pipa, yaitu minimum flow yang melewati pipa.
(Meski pada umumya hal ini sering juga "dilanggar pada buluh2 di alat pertukaran panas jenis
cangkang dan buluh (shell & tube).

Jangan sampai:
juga jika kita membeli pipa untuk pipeline dan dengan alasan hemat berlindung dibalik aturan
pipa gas B.31.8 yang menganut sistem class, sehingga kita membeli pipa untuk class yang lebih
tinggi dengan tebal yang lebih kecil. Namun pada suatu saat ketika dibutuhkan laju alir yang
lebih besar (dp meningkat) barulah kalang kabut karena dibatasi oleh MAOP pipeline yan
diijinkan untuk suatu class area tertentu. Kecuali kita punya energy dan waktu yang banyak
untuk bernegosiasi dgn penduduk yang semakin hari semakin banyak tinggal di perlintasan
pipeline kita.

Jangan sampai:
ketika kita mau tie-in pipa, kita lupa bahwa pipa yang akan disambung adalah yang sudah di de-
rating sehingga ada waktu yang terbuang ketika tie-in karena harus membuat transision piece.

Jangan sampai (kalau bisa):
Ketika mendesain pipa pipeline, pipa baru kita tergantung dari overpressure protection (say
PSV) di pipa existing di sebelahnya, karena jika pipa sebelah ini fail dan harus diisolasi, kita
kehilangan overpressure protection dan terpaksa harus ikut di shutdown operasi pipa yang baru
ini.

Jangan sampai:
ketika mendesain pipeline baru di samping pipa existing, kita lupa memberikan cross over valve
untuk keperluan flexibilitas. Harga cross over valve mungkin tidak menarik karena nilai
kebergunanannya      "tersembunyi"    sampai   pada   suatu   masa    kita   sadar   ternyata   kta
memerlukannya.

Jangan sampai:
kita terbalik menyambung pipa yang seharusnya berating sama, tetapi pada kenyatannya di
lapangan tidak sama!

Jangan sampai:
ketika mendesain pipeline, kita enggan memasang fasilitas pigging karena merasa tokh itu hanya
pipa untuk produced water! Sebab sekali ada bakteri, say SRB di sana, tidak ada treatment yang
efektif bias dilakukan sebelum didahului oleh pigging untuk menggerus "tameng bakteri" yang
melekat di dinding pipa.

Jangan sampai pula:
bahwa demi mengejar keekonomian pipa, kita harus mengorbankan (=menaikkan) energy
requirement untuk alat transportsai fluida, seperti kompresor atau pompa.

Jangan sampai pula lagi:
ketika mendesain pipa, kita lupa akan karakteristik fluida yang didalamnya , yg dalam
perjalanannya menuju tujuan berikutnya bias berubah fasa atau menjadi lebih dari satu fasa,
sehingga akan menaikkan hilang tekan yang pada akhirnya akan memperberat kerja alat2
transportasi fluida di upstreamnya.

Jangan sampai.....masih banyak lagi....

Intinya adalah, banyak faktor yang harus dilihat dan mungkin specific untuk setiap plant atau
facilitas dalam mendesain pipa. Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya.

Tiada maksud untuk menggurui



Dirman Artib@amec

(Mudah-mudahan subject-nya masih relevan.)

Dengan merujuk kepada clause 7.3.2 ISO 9001: 2000, yaitu walaupun sebuah karya
Design/engineering telah ditentukan requirement-requirementya spt :

* Functional requirements -> persyaratan fungsi produk yg didesain e.g. pipline untuk
mentransportasikan gas dari tempat A - B dengan efisien.
* Applicable Statutory and regulatory requirements -> persyaratan untuk memenuhi standar-
standar yg relevant e.g.. API, B 31.8, B 31.4, SNI XXXX, dll.
* Information derived from similar design -> Ini mungkin yg Mas Cahyo concern, sehingga
mungkin pengalaman beliau (baca : kesal kepada kontraktor) dalam menggunakan hasil design
yg menjadi latar belakang tulisannya.
* Other requirements essential for design - > nah ini bisa apa saja yg menjadi concern spt. safety,
reliability, maintainability, nggak over special budget (asal murah), pokoke jadi pipa aja lah,
gampang dijadiin proyek berikutnya , asal boss senang, (he..he..yg terakhir hanya bercanda
lho..!),

Di dalam mendesain/meng"engineering" , manusia bisa diasosiasikan dengan plant produksi di
sebuah pabrik/instalasi. Instalasinya hanya kecil di dalam tempurung kepala yaitu otak.
Makanya setiap engineer akan memproses pemenuhan (fulfilment) persyaratan pada bullet point
no. 3 & 4 dengan berbeda pula, karena memiliki pengalaman berbeda, concern yg berbeda,
kampus yang berbeda, kultur yg berbeda (Mungkin ini yg bikin Made in China v.s Made in
USA), asupan gizi yang berbeda (expat vs local), akses ke kantor yg berbeda (Tinggal di Aston
Hotel vs Tinggal di Tambun).

Lagi pula jika yg melakukan design adalah kontraktor, sangat jarang "feedback" dikirim oleh
customer (KPS) kepada kontraktor design-nya berkenaan dengan hasil design yg bermasalah saat
operasional, atau jarang sekali kontraktor mengumpulkan & menjaga bahkan menjadikannya
hal yang bernilai "valuable" yg dapat dijadikan pelajaran "lesson learned" untuk design-design
yang sama berikutnya. System untuk mengakomodir pengumpulan informasi "feedback' , jarang
ditetapkan pada kedua belah pihak. Lai hal dengan produk-produk non-design service spt.
consumer goods yg memasang customer service yg aktif menelepon ibu-ibu tentang susu
formula yg mereka produksi.
Hal lain lagi, umumnya personel di dalam kontraktor "some peoples come and go" jadi kutu
loncat, apalagi dipake "as per contract", ini juga menjadi sulit untuk membuat pemenuhan
efektif bullet point no 3 jika mau mengandalkan informasi "previous design" disimpan di kepala
personel/engineer saja.

Jika katakanlah informasi disimpan oleh Dept. Operation atau personel operator, maka apakah
ada system atau proses yang ditetapkan agar "learning" tsb. dikomunikasikan kepada Dept.
Procurement/Dept. Kontrak/Dept. Supply Chain         yg menjembatani pihak KPS dengan
Kontraktornya sewaktu penetapan requirements untuk tender ?

Ini lah mungkin sedikit saja nuansa di dalam seksi aktivitas Design/Engineering, dan merupakan
salah satu ruang yang potential untuk melakukan improvement mutu design/engineering.



Budhi, Swastioko (Jakarta)

Concern Mas Dirman mengenai "lesson learned" sebagian besar memang benar adanya. Tapi
jangan khawatir, sekarang sudah mulai trend adanya pembuatan lesson learned dari semua
disiplin. Contoh terakhir yang saya rasakan adalah pada project Belanak - ConocoPhillips. Semua
engineer memasukkan pengalaman mereka selama menjalankan project tersebut disertai solusi
yang telah dilakukan. Dan menurut boss saya di McDermott, hasil diskusi lewat telepon, lesson
learned ini telah diterapkan untuk project mendatang.

Bagus juga yah kalau prosedur ini dibakukan. Jadi kita sudah aware akan problem-problem yang
pernah terjadi dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
cahyo@migas-indonesia

Sebenarnya, di suatu proyek engineering dan desain, baisanya ada yang disebut sebagai PSR
atau project safety review. Mungkin memang di stress- kan pada safety, tetapi juga terbuka
peluang untuk membicarakan leasson learn setelah start-up. Ini bisa dilakukan di PSR fasa x,
operation.

Kelemahannya, hanya saja, jika yang mendesain adalah bukan menggunakan tenaga in-house,
maka akan kesulitan menerapkan apa yang telah dilakukan oleh Mas Budhi, kecuali hal ini
diharuskan oleh secara kontrak. Dan juga, fasa ke x dari PSR, ini biasanya memang tidak
melibatkan semua disiplin, hanya yang dianggap langsung berhubungan dengan operasi,
seperti I/E, process dan HSE. Jadi pertukaran informasi lesson learn tidak bisa maksimal.

Salah satu yang sering terlepas untuk dibakukan dalam suatu file tentang lesson learn adalah
pengalaman para jawara engineering yang akan keluar karena pension atau dgn alasan apapun.
Ini bisa menyebabkan putusnya pembelajaran "cara cepat" sehingga terkadang bisa juga
mendatangkan "bencana" di mana harus merekrut expatriate lagi guna mengisi posisi yang
sangat langka ini....

Jadi, para manager sebenarnya harus aware thp hal ini, karena efeknya bisa sangat luas. Jika
terpaksa harus menghire expatriate, berarti secara langsung akan merugikan Negara karena
berarti itu adalah ongkos lebih yang harus dibayar. Secara angka proyek mungkin tidak
significant, tetapi tetaplah ada yang keluar lebih, yang at the end, uang itu adalah uang dari
pajak kita2 ke negara! Jadi itu uang kita..



Efek samping yang juga tidak kalah serius adalah jika ternyata si key person/ atau jawara yang
jago engineering ini diganti dgn orang pribumi yang tidak mumpuni, meski dengan alas an
untuk mencegah expatriate masuk. Karena taruhannya adalah bisa langsung kepada safety
integrity dari proyek yang sedang berlangsung. Hal ini bisa diperluas tidak hanya untuk
kegiatan proyek semata, tetapi juga untuk departemen yang lain.

Salah satu tool dari management yang saya dapat digunakan sebagai antisipasi dari hal2 di atas,
adalah via analisa via business continuity, yang pada hakekatnya berupa risk assessement
sebuah organisasi. Sayangnya, saya tidak capable untuk menjelaskan lebih detail. Mungkin para
anggota milis yang sudah duduk di tingkat atas manajemen bisa menjelaskannya.



Autumn Batara

Mas Cahyo,

sebenarnya seberapa besar kira-kira efektivitas Project Safety Review dalam proses design? jarak
waktu antara PSR X dengan PSR Y yang lama kadang menjadi kendala dalam menjaga
continuitas informasi, belum lagi orang-orang yang terlibat kadang kala berbeda dari PSR X
dengan PSR Y.
sehingga pernah saya melihat PSR dilaksanakan hanya sekedar sebagai prosedur.



Dirman Artib@amec

Pak Batara dan rekan-rekan,
Saya tidak akan mengomentari tentang perlu atau tidaknya sebuah PSR atau sejenisnya
(terkadang pada beberapa perusahaan lain namanya bukan PSR), karena konsultasi kepada
publish code & standard yang diacu adalah tindakan yg paling tepat untuk menentukan perlu
atau tidak PSR (or equivalent).

Ada hal yang menarik sesuai minat saya yaitu bahwa Pak Batara mengatakan bahwa PSR
dilaksanakan hanya sesuai prosedur.....atau dengan kata lain bahwa PSR yg dilakukan sesuai
prosedur di waktu itu KURANG/TIDAK EFEKTIF.

Berulangkali saya menulis di milis ini bahwa sebuah prosedur akan merepresentasikan cara
sebuah organisasi dalam memenuhi sebuah persyaratan standar. Dan yang tidak kalah
pentingnya bahwa sebuah prosedur mewakili pengetahuan, methodology, technology dan
kesesuaian peoples di dalamnya dalam mengaplikasikan hal tersebut melalui organisasi tersebut.

Sebuah prosedur harus lah efektif sebagai sebuah cara praktis untuk mencapai sesuatu yang
didefinisikan di dalam prosedur tersebut. Berarti juga bahwa sebuah prosedur haruslah efektif
dalam kerangka system manajemen secara keseluruhan. Kalau sebuah prosedur dianggap atau
terbukti tidak efektif, maka prosedur tersebut tidaklah perlu ada atau dibuang ke tempat
sampah.

Lalu bagaimana mengukur apakah sebuah prosedur efektif ?

Untuk mengukur sebuah methodology seperti prosedur harus lah dilakukan dengan cara (Ref.
ISO 9004:2000)
1. Audit
2. Pemantauan realisasi produk/layanan.
3. Pemantauan proses

Pada tulisan ini saya hanya akan menerangkan point 1.
Sebuah audit harus lah memverifikasi tentang keefektifan dan keefisien-an system (termasuk
prosedur-prosedur) yang diimplementasikan. Sebuah audit yang sukses akan mampu
mengidentifikasi dan mendapatkan fakta-fakta bahwa system/prosedur adalah efektif dan/atau
efisien untuk sebuah tujuan baik umum maupun khusus. Begitu juga sebaliknya, bahwa audit
harus mampu meng-identifikasi dan mendapatkan fakta-fakta bahwa system/prosedur
TIDAKLAH EFEKTIF untuk mencapai tujuan yang umum dan tujuan yang khusus. Jadi audit
bukanlah hanya sekedar melakukan pengecekan bahwa prosedur telah dijalankan, tetapi apakah
prosedur itu efektif ? Efisien ?
Contoh : Jika cara-cara dan prosedur untuk memastikan bahwa design telah mempertimbangkan
"maintainability" dengan cara-cara yg "safely" telah diimplementasikan tetapi tetapi kemudian
diketahui di kemudian hari bahwa orang melakukan maintenance pada area resiko yang tidak
bisa dikendalikan, maka prosedur bisa dianggap tidak efektif, walaupun perlu diobservasi hal-
hal lainnya.

Bagaimana sebuah prosedur yang tidak efektif mampu bertahan bertahun-tahun dan digunakan
banyak orang dengan SEKEDAR MENJALANKAN PROSEDUR ?

Bisa disinyalir bahwa system pemantauan proses, termasuk proses manajemen audit-nya juga
tidak efektif. Karena hasil aktivitas audit itu sendiri juga harus diaudit lagi.



Crootth Crootth

Mas Dirman,

Prosedur itu tetap penting meskipun menurut saya pribadi inilah titik paling lemah dalam
konsep Layer of Protection, karena ketaatan pada prosedur sangat bergantung pada Human
Factor, yang sangat njelimet untuk dirumuskan (mungiin bisa di baca di The Indonesian Journal
of Process Safety edisi kedua, Desember 2004 (www.iips-online.com buka publication ) betapa
susah menetukan Factor Manusia ini, lebih jauh dari yang ditulis oleh Nir Keren dan Jaffee
Suardin, faktor manusia tergantung dengan feeling/mood, indah/kreatif, faktor warna/psikologis
lain dst yang kadang sulit dirumuskan.

Jika Mas Dirman telah membaca Layer of Protection Analysis, faktor prosedur umumnya Target
valuenya biasanya tidak dibuat susah, karena memang disadari sering dilanggar... jadi Layer
yang lain yang dioptimumkan... intinya kalau kata Hendershot, Amyotte, Faisal I Khan dan
kawan kawan Inherent Safer Design --> Proteksi Aktif --> Proteksi Pasif ---> Prosedural
Jadi prosedural diletakkan sebagai safeguard terakhir yang "perlu namun jangan diandalkan"

Perbedaan ISO/OHSAS dan API/OSHA/CCPS-AIChE/IEC dsb umumnya terletak disini... kalau
ISO/OHSAS menetapkan kepatuhan pada prosedur core attentionnya, sebaliknya yang terakhir
menekankan pada 3 layer utama..

Mana yang lebih baik, tentunya semua tergantung persepsi risk yang diyakininya bukan,
ALARP... kalau saya pribadi sih milih nekanin yang selain prosedural... (baca Performance
Based!)

Kalau audit itu juga sangat bergantung pada Human Factor juga mas Dirman... bayangkan suatu
perusahaan oleh salah satu auditor dinilai 98 (skala 100) namun oleh auditor lain dinilai cuman
78... kasus lain, pada aplikasi PSM (Process Safety Management) di Indonesia hasil audit di 3
perusahaan besar di Indoensia menunjukkan bahwa impelementasi Process Safety Management
masih di kisaran di bawah 1 (bayangkan, dari maksimal nilai 5 hanya mendapat nilai kurang dari
1 !!!!!!!!!!!!) padahal perusahaan perusahaan tersebut untuk pastinya mendapatkan sertifikasi ISO-
9001 (2 dari 3 perusahaan tadi) dan penilaian SMK3 nya di atas 90 oleh auditor pemerintah (ups!
kelepasan)... jadi saya pribadi tidak terlalu rely on audit... lihat dulu kemampuan auditornya
memahami safety, pengalamannya, daftar pertanyaannya, metode wawancaranya, bahkan
hingga kePDannya dst dst, tentunya ngga perlu saya sebut sebut lagi Petrowidada yang tahun
lalu meledak bukan...yang mendapatkan banyak penghargaan kelulusan
hasil audit SMK3 dan ISO-14000 (CMIIW) (sampai dapat senyum manis dan salaman dari
presiden Megawati waktu itu)

Kesimpulannya apa, sefektif dan efisien apapun prosedur itu dibuat, sangat bergantung pada
Human Factor... so?



Dirman Artib@amec

Mas DAM yg masih tergolek sakit,
Tentu yg anda maksud dengan ISO adalah ISO 9001, walaupun ISO juga mengeluarkan ribuan
standar-standar lainnya dari tahun 18-an.

Saya 100% setuju dengan apa yg anda tulis di bawah tentang procedural adalah layer terakhir
dari sebuah proteksi yang sistematis. Dan tidaklah benar bahwa ISO/OHSAS meletakkan core
attention kepada dokumen prosedur. Khususnya ISO 9001 versi 2000, hanya mewajibkan 6 buah
prosedur. Entah benar atau tidak ataukah ini hasil diskusi dengan Technical Committee
(TC/176)      badan standarisasi /asosiasi lain spt. API/OSHA/CCPS-AIChE/IEC yang
mengakibatkan procedur wajib yg dulunya 20 (versi 1994) dikurangi sehingga menjadi hanya 6.
Tetapi yg jelas saya akan mengemukakan bahwa standar ISO 9001 akan menjadi sebuah wadah
KOSONG bila tidak diisi dengan metodolgy lain spt. API/OSHA/CCPS-AIChE/IEC dan relevant
publish standar produk & service lainnya.

Kenapa ?
ISO 9001 (juga 14001, OHSAS 18001) itu kan standar untuk sebuah Sistem Manajemen yang
menyediakan kerangka acuan bagaimana Management (dan team-nya) sepakat menjalankan
fungsi-fungsi Perencanaan, Implementasi, Pemantauan dan Peningkatan (Baca : P_D_C_A).
Proses-proses beserta

persyaratan-persyaratan dalam mengeksekusi proses-proses tsb. harus didesain dan ditetapkan.
Nah ..dalam desain dan penetapan proses-proses beserta persyaratan-persyaratanya ini lah
metodolgy yg berkenaan juga ditetapkan.
Contoh : Kalau mau mendesain offshore platform maka harus sesuai dengan API RP 14 C.

So, sekarang apakah kita mau mengatakan bahwa platform yg didesain itu sesuai ISO 9001 atau
API ? Ini adalah pertanyaan yg tidak benar untuk diajukan. Jika benar diajukan maka ini sangat
berkaitan sekali dengan philosophy sang penanya. Karena kemajuan berfilsafat tidak hanya
dinilai dari jawab yang diberikan, tetapi lebih dari pertanyaan yang diajukan.
Karena posisinya adalah bahwa : Basic surface system dari platform itu didesain sesuai dengan
system manajemen mutu ISO 9001:2000 dan memenuhi persyaratan standar API RP 14 C
(Recommended Practice for Analysis, Design. Installation and Testing of Basic Surface Safety
System for Offshore Production Platform).

Itu baru benar !

Sama saja dengan posisi Auditor yg Mas DAM kemukakan. Jika seorang auditor system
manajemen diminta untuk memverifikasi methodology "Process Safety" , tentu lah tidak tepat.
Tetapi hal ini akan menjadi tepat jika di dalam sebuah organisasi menetapkan standar
kompetensi seorang auditor system manajemen yang harus memenuhi persyaratan spt. "mature"
dalam pengetahuan dan implementasi standar API XXXX, NACE XXXX, IEC XXX, ABCD XXX,
UVW XXX, dll. + Pernah bekerja sebagai seorang Superintendent di Offshore Platform minimal 4
tahun + lain-lain + ini dan itu.

Baru lah top.

Jangan kan Petrowidada yg punya ISO + OHSAS yg meledak tahun lalu, bahkan perusahaan yg
punya ISO + OHSAS saja banyak yg bangkrut habis. Lha...ini khan secara teori nggak bisa
toh?,........wong dalam ISO itu ada "clause Preventive Action". Gimana bisa bangkrut kalau
prosedur untuk mengantisipasi kerugian (loss prevention) saja harus punya. Tapi faktanya
"They were dying with ISO". So, what wrong ? Ya salah satunya ya itu tadi..........mungkin
punya prosedur sekedar untuk dapet sertifikat ISO, sekali lagi.......sekedar saja.

Nah ...nah kalo mau menyalahkan tabiat manusia "human error", khan ada clause khusus untuk
persyaratan kompetensi. Authorities, Responsibilities dan competencies of people harus
direncanakan, ditetapkan dan diimplementasikan. Tetapi kalau misalnya posisi kritikal jabatan
dipertimbangkan berdasarkan hanya kekerabatan,keponakan, teman deket, pacar baru saja,
tanpa kompetensi yg tepat......maka secara teori akan tunggu saja bangkrutnya. Kalau nggak
sekarang ya besok, bulan depan, tahun depan, pemilu depan, tergantung berapa persediaan fuel-
nya.



haris kurnianto

Pak Budhi, bisa dapat "lesson learned"-nya, pasti banyak gunanya buat "penonton" Jangan lupa
buat engineer piping-pipeline, cek lagi data-2 surveyor kalo mungkin pakai 2 surveyor kr kalau
sudah "ktelisut" pupus sudah gambar-2 enginering.



Administrator r

Sayang sekali, rasanya itu copy right-nya ConocoPhillips sebagai pemilik project. Dan sewaktu
saya meninggalkan McDermott, softcopy nya juga tidak saya bawa, hanya dokumen-dokumen
pribadi saja. Tapi sebagai gambaran umum adalah rangkuman pengalaman kita selama
mengerjakan project. Seperti contoh : untuk fluida yang mengandung partikel pasir, kita
mengganti turbine meter pada liquid outlet dengan coriolis meter karena partikel pasir dapat
mengakibatkan kerusakan pada blade turbine meter. Kemudian ada juga pergantian temperature
element c/w thermowell dengan skin type. Alasannya sama yaitu partikel pasir dapat
mengakibatkan erosi pada material thermowell.

Contohnya jangan banyak-banyak yah, nanti bisa di-klaim membocorkan rahasia perusahaan
lagi. Pokoknya seperti Rangkuman Diskusi di Milis Migas Indonesia deh. Tuh kan.... ternyata
Rangkuman Diskusi banyak manfaatnya. Ayo donk para Moderator KBK membuat rangkuman
diskusi pada bidang keilmuan yang anda pegang.
Untuk Mas Cahyo, karena saya bekerja di perusahaan engineering, maka tentu lesson learned
nya tidak sampai tahap operasi. Itu sih sudah scope of work nya KPS. Kecuali nanti yah kalau
pindah ke Premier Oil :).

Ada satu paragraf dari email Mas Cahyo yang menarik yaitu mengenai terputusnya transfer ilmu
dari sang jawara ke para yuniornya. Ini mengingatkan saya pada tahun 1991 sewaktu
mengerjakan Exor-I Project bersama dengan engineer Jepang dari JGC. Pada suatu kesempatan,
para engineer Jepang ini mengkritik kelas menengah Indonesia. Mereka berkata "Bangsa
Indonesia nggak akan maju kalau para engineernya sesudah sampai taraf senior lalu pindah ke
profesi management. Kita sampai pensiun pada usia 55 tahun masih saja pada posisi Instrument
& Control Engineer, akan tetapi pendapatan kita tidak berarti lebih rendah dari rekan-rekan kita
yang sudah manager".

That's why Milis Migas Indonesia are for.



Crootth Crootth

Sangat menarik menanggapi ulasan Cahyo yang tentang terputusnya transfer ilmu dari Senior ke
Junior...

Saya teringat kasus di VICO dimana dulu Nanan (kini di BP), Cahyo (kini PremierOil), I Made
Sukrajaya (kini BP), dan Indra Noorsyafandi (kini di UNOCAL) begitu menggebu belajar dari
Len K Schuster (kini kerja untuk BP dan Medco) secara informal dan formal (dari dokumen dan
hasil studi), seorang expert bule yang dulu kerja untuk Engineering and Construction
Department sehingga sedikit banyak beliau-beliau ini belakangan menjadi "juwara" di tempat
kerjanya yang baru... Transfer ilmu juga secara aktif didapatkan dari Pak Holland (kini Presiden
BP Vietnam) juga Dr. Maurice Stewart yang mostly pengalamannya didapatkan ketika dikontrak
eksklusif oleh VICO pada pertengahan 90an. Belakangan transfer ilmu ini dikembangkan lagi
dari Nanan dan Cahyo kepada Apriandy dan saya pribadi sehingga menjadi seperti sekarang
ini... bahkan Apriandy merupakan salah satu asset penting VICO karena expertisenya dalam hal
mengurusi simulasi Pipeline VICO yang sedikit banyak dikembangkannya dari Nanan dan
 Cahyo... Ketika tiba saatnya Len K Schuster pergi, Nanan, Cahyo, Indra, Made pergi,
pengalaman mereka bisa secara optimal terpindahkan... Belakangan, Mas Arief Rahman, Pak
Maman, dan Pak Tahzudin sukses mendidik Weby (kini Conocophillips) dan Arief Nurbudiman
(kini Total E&P Indonesie) di bidang Instrument dan Control...

Akan lebih baik person person yang saya sebut diatas membuat BUKU dari pengalamannya
kerja di KPS....gimana Cahyo? atau bahkan pak Holland di Vietnam sana?

Transfer ilmu membutuhkan kritisme dari Junior dan jiwa ngemong dan mendidik dari Senior,
kalau salah satu tidak ada, saya jamin tidak akan ada transfer ilmu.... budaya tranfer ilmu
membutuhkan juga kelapangan jiwa senior untuk membagi ilmunya dan kerendahan hati junior
untuk terus mau belajar...
Sering-sering browsing di Internet, berkunjung ke Perpustakaan Perusahaan, membaca mbaca
proyek yang lalu, meninjau ulang hasil HAZOP, dst juga merupakan upaya "swadaya" penting
bagi junior dalam mengejar ketertinggalan ilmu dari seniornya ...

Uraian di atas mohon tidak dianggap sebagai kesombongan dan promosi VICO, hanya sekedar
mengulas betapa pengalihan ilmu itu harus berjalan secara dua arah dan kalau perlu
dilembagakan (dengan seringnya melakukan studi, yang sayangnya hingga sekarang studi itu
sudah jauh berkurang di VICO Indonesia.... saknone rek)



cahyo@migas-indonesia

Darmawan,

tulisan anda terus terang membuka nostalgi masa lalu kami (saya dan Nanan) di Vico yang
menyenangkan. Kami perlu meluruskan bahwa hubungan kami ke Pak Leonard K Schuster
tidaklah seperti yang digambarkan. Ya betul kami memang pernah berdiskusi pada suatu masa
dgn beliau karena memang pada saat itu tepat untuk dilakukan. Terus terang, ketika kami
bekerja di Vico, kami mempunyai 4 mentor, 2 di Jakarta dan 2 di muara badak, dan semuanya
adalah pegawai nasional. Diantara mentor itu, adalah Pak Holland.

Pipeline Badak Bontang itu sebenarnya adalah buah karya Pak Holland yang dengan lihai bisa
menentukan spesifikasi sehingga laju konvergensi iterasi program hysys menjadi cepat tanpa
mengorbankan keakuratan hasil. Jadi kami hanya semata menggunakannya dan meng-up-date-
nya, dan tidak lebih dari itu....

Ketika saya pindah dari muara badak dan joint dengan premieroil di laut natuna sono, saya
menemukan kerangka pikir yang berbeda. Ketika di Vico, para senior kami tanpa diminta bisa
langsung memberikan pengarahan atau transfer knowledge, akan tetapi di tempat yang baru,
sangat berbeda kejadiannya, dan mungkin sebenarnya memang ituah yang harus dilakukan,
yaitu kitanya sendiri yang harus aktif, terlebih lagi jika berusaha mendapatkannya dari para
expatriat. Jadi tidak ada metoda disuapi, tetapi bertanya secara aktif.Dan juga yang penting
adalah, bagaimana bertanya yang benar. Syukur jika kita bertemu expat yang open dgn
pengetahuannya, meski sebenarnya bagi dia, ini berarti pisau bermata dua

(artinya beliau akan cepat dipulangkan he..he....) Dari sini, bias ditarik kesimpulan pendek,
beruntunglah bahwa anda masih di Vico
he..he..

Anyway, benang merah yang sama yang saya lihat adalah, bahwa knowledge yang di transfer,
sebenarnya adalah nothing dari sisi bisnis, selama tidak diaplikasikan. Jika hanya berupa teori
atau ide, maka nilai tambahnya tentunya dipertanyakan para bisnisman....Hal ini saya dapatkan
dari Vico ataupun PremierOil. Benar kata anda, bahwa membuka buku, melihat studi masa lalu,
melihat info di internet,adalah salah satu senjata ampuh untuk maju, akan tetapi tetaplah harus
diwujudkan dalam hal yang nyata. Ada yang bilang, jika mau pintar, banyak-banyaklah
membaca buku. Akan tetapi haruslah diingat pula, bahwa buku itu adalah guru yang tidak
pernah marah, ....kalau kita malas membacanya, sering melongkap-longkap alinea karena kita
pikir alinea berikut tidak penting, dst....Jadi buku atau informasi pasif yang lain tidak
mengajarkan kepada kita satu hal yang penting, yaitu attention to detail!

Kedua, buku atau informasi pasif yang lain juga tidak mengajarkan kepada kita, bagaimana
harus menyaringanya dgn benar. Hanya pengalaman-lah yang bisa membawa kita ke arah sana.
Dan untuk mendapat pengalaman, tentunya harus pernah melakukan sendiri. Dari situ kita akan
tahu, mana yang benar dan mana yang setengah benar. Atau paling tidak, kita akan pe-de,
bahwa benar bahwa membuka valve itu lumayan memerlukan tenaga jika ada perbedaan
tekanan yang besar di antara inlet-outletnya, atau paling tidak kita tahu bagaimana rasanya
membuka valve 42" untuk pertama kalinya (sekedar contoh saja..)

Dengan mencoba knowledge tadi, saya percaya bahwa kita akan mendapat tambahan
knowledge pula dalam menyaring informasi, termasuk menyaring informasi dari milis migas
indonesia ini, karena tidak semua yang ditulis disini adalah benar, persis seperti iklannya
permen Starbust....



Alvin Alfiyansyah

Wah....

Apa yang ditulis Pak Eki merupakan bahan yang biasa digodok di dapur process engineering
lho....? Semoga ngga menambah bingung Mas Autumm Batara yach...., but it is helpfull bagi
yang pingin tahu. Tapi yang nyambung sama piping engineering adalah dokumen2 yang
disebutkan Mas Gharonk sebelumnya. Terimakasih.

Salam dari Technip Balikpapan.

Crootth Crootth

Wah,

Bagus Bagus Bagus.... Mas Sukardi udah turun gelanggang... good input for Offshore or large
scale Hydrocarbon/Chemical/Petrochemical Facilities

Namun penting untuk diingat bahwa 80% perusahaan di indonesia adalah perusahaan kecil
yang tidak akan mampu buat membayar sebagian besar dokumen yang dilampirkan Mas
Sukardi dalam rangka instalasi dan pengembangan pabriknya. Bahkan P&ID pun terkadang
tidak ada...jadi musti ada batas minimum dokumen yang "bener-bener perlu"...

Sebagai seorang engineer di KPS tentu saja saya terbiasa untuk mencoret banyak dokumen yang
"Overlap" dan "berlebihan" yang diserahkan oleh kontraktor/konsultan (dan tentu saja harganya
Mahal Lhoo) kami... Saya pikir ini adalah hal yang umum agar efisiensi tanpa mengorbankan
safety dapat diperoleh... Yang memiliki tanggung jawab dan hak utnuk menentukan kebutuhan
dan spesifikasi dokumen yang diperlukannya seharusnya adalah owner....
Hendaknya setiap aplikasi safety juga memenuhi unsur "Operability" yang salah satu unsurnya
adalah "Cost per time make sense"

Cuman nambahin saja lho...



Dirman Artib@amec

Mas "crooth-crooth" DAM,
Selain kapabilitas "process safety" yg anda punyai, rupanya anda juga tepat menilai level
ekpektasi dan kebutuhan pasar "market needs & expectation" order-an Engineering di Indonesia.
Bahkan ada client (KPS) yang bilang "Jangan repot-repot pake HAZOP segala, yang penting
aman ".
Lha ini namanya apa ?
Mbayar Rp. 1500 kok mau selamat.

Tapi sebagian kontraktor akan menerima pesan itu sebagai sesuatu yang tetap dilakukan tetapi
biayanya dianggap sebagai discount (discount kok dalam urusan selamat). Jadi pesanan
deliverables-nya yg langsung bisa dibaca supervisor kontruksi di lapngan saja saja spt. Isometric,
Plant Lay-out, section kiri-kanan-depan-belakang. Kalau perlu, P & ID dibuat sangat compact
dan hanya diprint ukuran A3 (A3 in 1) , itupun lengkap untuk sebuah proses, jadi kagak
nyambung-nyambung ke lembaran lainnya.
Lalu harga ?
Mesti di bawah nilai batas tender, artinya nggak perlu "open tender" , cukup dengan nge-fax PO
kepada "strategic partners" konco-konco.

Tapi ada yang bilang bahwa, ini adalah sebuah cara yang efektif bukan kita-kita untuk bersaing
sama bule-bule, karena mereka nggak bakalan punya nyali lagi deket-deket plant yg kayak
begini + murahnya itu lho.....nggak bakal bisa bikin mereka tinggal di Hotel lagi selama project
....he..he..he...



BKC1385@cc.m-kagaku.co.jp

Men-quote dari emailnya Pak Buhdi

"........Kemudian ada juga




pergantian temperature element c/w thermowell dengan skin type. Alasannya sama yaitu
partikel pasir dapat mengakibatkan erosi pada material thermowell................"

Mohon pencerahanya....
Bagaimana kita memastikan sumber erosi adalah dari partikel pasir, bukan dari yang lain, jika
hanya terjadi di satu thermowell, padahal line sea waternya, material dan spek thermowell sama.
Apa dan bagaimana skin type disini, bagaimana pengaruhnya terhadap performance
pengukuran, misal akurasi, sensitifitas, dll

								
To top