Docstoc

Anak Terlantar dan Gereja

Document Sample
Anak Terlantar dan Gereja Powered By Docstoc
					RINGKASAN BEBERAPA WACANA BAHAN DISKUSI MENGENAI PENANGANAN ANAK JALANAN / ANAK TERLANTAR 1. Untuk memahami mereka, kita perlu mengenali dulu hal-hal mengenai anak jalanan/ terlantar, metode yang umum untuk mengetahuinya adalah dengan menggali secara langsung secara berurutan “Si-A-Di-De-Men-Ba-Bi” yaitu : a. Siapa (who). Kenali dengan baik siapa mereka ? Siapa saja yang termasuk anak terlantar itu ? b. Apa (what). Apa yang dimaksud anak terlantar itu ? Apa gejala-gejala atau ciri yang khas pada anak terlantar ? Sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial, apa saja kode etik yang berlaku antar anak jalanan ? Apa saja nilai dan norma umum yang ada pada mereka ? c. Dimana (where). Dimana saja mereka tinggal atau berada, dimana dan berapa banyak sebarannya pada masing-masing wilayah ? Perlu dibuat pendataan secara periodik (misalnya setahu sekali) dan dipetakan secara cermat menggunakan peta dasar wilayah medan kerja anda, kemudian disertai diagram (batang, lingkaran, atau cara deskripsi yang mudah terbaca sebagai bahan analisis). d. Dengan siapa (with whom) atau dengan apa (by what). Untuk mengkaji hubungan-hubungan segala sesuatu yang berkaitan dengan anak terlantar serta keberadaan mereka, perlu diketahui hal-hal seperti dengan siapa saja mereka tinggal (kelompoknya), dengan apa mereka bertahan hidup ? dengan siapa saja mereka memiliki hubungan kekerabatan ? e. Mengapa (why) mereka menjadi anak terlantar ? Apa yang membuat mereka menjadi anak terlantar ? f. Bagaimana (how). Bagaimana mereka menjadi anak terlantar, dalam kajian suatu proses akan terlihat suatu trend (pattern) yang khas pada setiap kondisi berdasarkan waktu (era tertentu, dengan event/peristiwa tertentu yang mempengaruhi, mis; situasi politik, pertumbuhan industri, kejadian penggusuran suatu wilayah slums atau ghetto, inflasi atau PHK besar-besaran, etc), tempat tinggal (wilayah tertentu, dengan kekhasan tertentu mis: ghetto, slums, kawasan industri, lokalisasi, dll), latar belakang anak/ orang tua, g. Bilamana atau kapan (when) mereka mulai menjadi anak terlantar ? Sudah berapa lama mereka menjadi anak terlantar ? 2. Kegiatan di atas perlu dilakukan sebagai kerangka kegiatan awal. Memang diperlukan waktu dan biaya, untuk itu bisa dihemat jika bekerja sama (mutlak) dengan anak jalanan yang sudah ada hubungan. Namun keterangan/ informasi tersebut besar manfaatnya, antara lain legitimasi LSM, agar lebih memiliki wibawa. Hasilnya baik untuk dipublikasikan, untuk mengangkat wacana mengenai anak terlantar agar beroleh perhatian, misalnya dalam situasi kampanye atau program kerja eksekutif/ legislatif daerah. 3. Data di atas diperlukan untuk perencanaan program atau kegiatan yang dijadikan misi dalam rangka pencapaian visi (untuk mewujudkan visi). Dengan diketahuinya “medan tempur” anda, dapat secara jelas dan sistematis menentukan tindakan, urutan prioritas tindakan, tidakan apa yang realistis dapat
1

4.

5.

6.

7.

dilakukan (sesuai dengan sumber daya yang ada), diketahui pula apa kekurangan sendiri dan bantuan atau hal apa saja yang diperlukan, dalam perencanaan ini ditentukan bagian mana dari sistem yang sejalan dan sesuai, layak diikuti atau tidak, atau mungkin kelemahan sistem yang perlu diperbaiki (sebagai suatu kritik terhadap otoritas yang berperan). Perbedaan data antara pemerintah (Dinas Sosial, dll) dengan anda sebagai LSM adalah hal yang wajar, karena bisa saja sudut pandang atau sistematika pendataan berbeda sesuai kepentingan institusi. Untuk itu saling konfirmasi perlu. Sebagai catatan, banyak daerah (BPS) yang belum memasukkan data anak terlantar pada Buku Statistik wilayah. Sebagai data pendukung, dapat diminta di Dinas Sosial setempat. Sedangkan data bantu lainnya yaitu data mengenai statistik kriminal yang dilakukan anak-anak, dan peta kerawanan kriminal (data Police Hazard) dari kepolisian. Mr. W.A. Bonger (1962) seorang guru besar Ilmu Kriminologi di Universitas Amsterdam, dalam bukunya Pengantar Tentang Kriminologi, menempatkan permasalahan “Terlantarnya anakanak” dalam urutan pertama kajiannya perihal Aetiologi (ilmu tentang sebab musabab) dari sosiologi kriminal. Ia menyatakan bahwa :”Kejahatan anak-anak dan pemuda-pemuda sudah merupakan bagian yang besar dalam kejahatan, lagipula kebanyakan penjahat-penjahat yang sudah dewasa umumnya sudah semenjak mudanya menjadi penjahat sudah merosot kesusilaannya sejak kecil... “. Selanjutnya dijelaskan bahwa :”Terutama pertumbuhan perindustrian menyebabkan adanya banyak sekali kejahatan anak-anak,” Juga dijelaskan :”Hampir di semua negara-negara yang sudah tinggi peradabannya pencegahan dan pemberantasan kejahatan anak-anak mendapat perhatian yang terbesar”. Ia juga menyimpulkan bahwa :”Terlantarnya anakanak merupakan suatu unsur dalam semua kejahatan, karena itu merupakan unsur umum”. Secara skematis, peran Gereja dalam menangani keluarga - anak terlantar - kriminal (Narapidana dalam kaitannya dengan anak terlantar) sebagai berikut :

2

LA YAN

4. BINA NAPI ANAK: MENCEGAH TINDAK KRIMINAL BERULANG

3. KEL, GERJ, MASY, BINA ANAK TERLANTAR : MENCEGAH ANAK TERLANTAR BERTINDAK KRIMINAL

2. (KELUARGA DAN GEREJA ) MEMBINA ANAK : MENCEGAH ANAK MENELANTARKAN DIRI

1. (GEREJA ) MEMBINA KELUARGA : MENCEGAH KELUARGA MENELANTARKAN ANAK

Dalam hal ini, secara mendasar yayasan/LSM Penanganan Anak terlantar menduduki piramid tingkat ke tiga, dimana anak terlantar yang duitangani adalah sebagai akibat dari sejumlah kondisi pada piramid 1 dan 2, dan diupayakan untuk kembali normal (memiliki nilai dan norma normal)serta mencegah untuk menuju piramid ke empat. Penjelasan skema di atas secara berurutan : a. Peran Gereja dalam hal ini adalah membina keluarga, mulai dari pembinaan pra-remaja, remaja – pemuda, konseling pranikah, hingga pembinaan keluarga. Berawal dari keberadaan keluargalah terbentuknya anak atau terlantarnya anak. Hal terlantarnya anak bukan hanya kerap terjadi pada keluarga yang tidak utuh, namun dalam bentuk pengabaian (neglect) anak, lebih banyak terjadi pada keluarga yang utuh (dalam pengertian adanya bapak dan ibu), namun terjadi pengabaian anak. b. Pada sejumlah kasus, keluarga berbentuk utuh dan terdapat pembinaan dari gereja, namun sang anak menghindari keluarga, terdorong oleh situasi dan kondisi tertentu (walau dalam jumlah relatif kecil) anak melepaskan diri dari orang tua/ keluarga/ perwalian. c. Yayasan/ LSM/ Gereja/ Dinas Sosial/ atau institusi lain yang menangani anak terlantar, pada dasarnya memiliki konsep untuk berupaya menyiapkan anak agar mencapai kemandirian hidup dalam kondisi layak ; jika gagal,
3

berlawanan dengan ini maka kondisi terbanyak yang terjadi adalah kedekatan dengan kriminalitas. d. Dalam pembinaan narapidana tindak kriminal, hampir selalu terkait dengan kondisi terlantarnya atau terabaikannya pelaku semasa kanak-kanak. Pembinaan narapidana lebih diarahkan pada upaya agar tindak kriminal tidak berulang. Walaupun dalam skop yang lebih luas lagi, sering kali diistilahkan, merubah diri, memperbaiki perilaku dan sikap, atau berbagai istilah lainnya yang merujuk pada perbaikan perilaku (behaviour) dan sikap (attitude). e. Setelah semuanya itu, pada saat si mantan Napi bermasyarakat, menjadi jemaat biasa maka pembinaan kembali dilakukan gereja. 8. Sebagai catatan tambahan, pada usia empat tahun pertama, separuh kapasitas kecerdasan manusia sudah mulai terbentuk. Sampai usia delapan tahun, sekitar 80% kapasitas kecerdasan manusia terpenuhi. Selanjutnya, pada usia 13 tahun kecerdasan itu sudah penuh hingga 100%. Anak jalanan umumnya telah memiliki keterampilan hidup (survive), kecakapan dan kesanggupan yang tinggi jauh melebih anak rumahan (jika itu istilah yang kita gunakan untuk lawan kata anak jalanan), kecuali dalam hal pengetahuan yang dihasilkan dari pendidikan formal. Secara instingtif, kemampuan untuk bertahan hidup sebagai individu dan secara sosial pada anak jalanan lebih terasah. 9. Sangat ironis kondisi yang banyak diberitakan saat ini, dimana penerimaan siswa, atau biaya pendidikan yang mahal, komersialisasi pendidikan, dan sebagainya dibanding dengan kondisi dan keberadaan anak jalanan. Alangkah baiknya apabila kita bisa melakukan sesuatu untuk anak-anak terlantar. Mungkin bisa dimulai dengan mengadakan suatu seminar yang membicarakan thema “Penanganan/Pelayanan Bagi Anak Jalanan” dengan mengundang pembicara yang berkompeten dari perguruan tinggi (dari disiplin ilmu jiwa, kriminologi,dll), institusi pemerintah yang terkait, Gereja/LSM/Yayasan yang menangani anak jalanan, dan badan lain yang berkepentingan. Hal ini perlu untuk : a. Menggali apa program pemerintah b. Menggali pengetahuan mengenai hal-hal yang perlu diketahui dalam upaya penanganan anak jalanan c. Menjalin hubungan atau bahkan kerjasama dengan institusi lainnya d. Menarik perhatian pemerintah, gereja, dan kepekaan sosial para tokoh atau lembaga-lembaga terhadap keberadaan anak jalanan e. Publikasi untuk mengangkat dan menarik perhatian publik terhadap anak jalanan 10.Setelah itu, tidak perlu membuang waktu lagi; pihak gereja harus segera bertindak. 11.Program kerjasama dengan Dinas Pariwisata (Pelatihan Anak Jalanan Menjadi Pramuwisata), Disnakertrans (Pelatihan Keterampilan Anak Jalanan, Diknas (Program Pendidikan Luar Sekolah), Polda (Pembinaan Masyarakat), Dinas Kesehatan (Pendidikan Kesehatan masyarakat), Dinas Sosial (Pembinaan Anak Jalanan), Departemen Kehutanan (Bina Kepecintaalaman),dll.

4


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:616
posted:12/22/2009
language:Indonesian
pages:4